Anda di halaman 1dari 8

NAMA : DESY NATA ARISTINA

NIM : 155020300111007
KELAS : CD TEORI AKUNTANSI KEUANGAN

TEORI AKUNTANSI NORMATIF – KASUS PERUBAHAN HARGA

Current Purchasing Power Accounting (CPPA)

CPPA Sering disebut juga daya beli akuntansi yang berlaku umum atau akuntansi tingkat harga umum atau
akuntansi tingkat dolar konstan. Konsep ini menilai uang menurut daya belinya pada barang dan jasa secara
umum. Tujuan konsep ini untuk mempertahankan nilai modal menurut harganya yang tetap, dengan ukuran
indeks harga. Nilai harta, hutang dan modal yang terpengaruh oleh perubahan harga disesuaikan dengan
faktor indeks harga, sehingga dapat dinyatakan dengan nilai uang yang sama.

Konsep ini digunakan pada saat kenaikan harga, jika suatu entitas mendistribusikan keuntungan yang
disesuaikan berdasarkan harga perolehan hasilnya bisa menjadi penurunan nilai riil dari suatu entitas.
Dimana secara riil entitas bisa mengambil risiko mendistribusikan sebagian dari modal. Saat menerapkan
konsep ini maka indeks harga dibutuhkan. Indeks harga adalah rata-rata tertimbang dari harga saat barang
dan jasa yang berhubungan dengan rata-rata tertimbang harga dalam periode sebelumnya (periode dasar).
Indeks harga yang digunakan dalam konsep ini dapat indeks harga umum maupun indeks harga khusus.

Namun konsep Current Purchasing Power Accounting (CPPA) tidak terlepas dari kekurangan. Beberapa
kekurangan dari CCPA yaitu Perubahan dalam harga barang dan jasa yang termasuk dalam indeks harga
umum mungkintidak merefleksikan barang dan jasa di industri yang berbeda. Ini membuat tingkat
perbandingan antar industri menjadi berkurang dan prediksi atau penilaian yang dilakukan menjadi tidak
valid. Kekurangan berikutnya yaitu pengguna akan mengira nilai yang disesuaikan adalah asset tertentu,
padahal semua asset menggunakan indeks yang sama sehingga hal ini akan membuat pengguna menjadi
bingung. Dengan semua kekurangan tersebut maka banyak yang menganggap bahwa data yang disajikan
CPPA tidak relevan terhadap pengambilan keputusan.

Current Cost Accounting (konsep akuntansi nilai sekarang )

Konsep dimana menyatakan nilai pos-pos laporan keuangan dengan harga perolehan sekarang yaitu dengan
harga perolehan dari pos yang mempunyai umur dan kapsitas yang sama.

Kelebihan :

 Current cost menunjukan jumlah yang seharusnya dibayar oleh perusahaan dalam periode berjalan
untuk memperoleh aktiva atau jasa.
 Current cost memungkinkan identifikasi dari penyimpangan laba atau rugi,sehingga mencerminkan
hasil-hasil keputusan manajmen asset dan dampak dari lingkungan atas perusahaan yang tidak
tercermin dalam transaksi rutin.
 Current cost menggambarkan nilai aktiva pada perusahaan jika perusahaan melanjutkan untuk
memperoleh aktiva tersebut dan jika nilainya belum ditambah aktiva tersebut.
 Penjumlahan aktiva yang dinyatakan dalam nilai sekarang lebih bearti dari pada penambahan biaya
historis yang terjadi pada periode yang berbeda.
 Current cost memungkinkan pelaporan current operating profit,yang dapat digunakan untuk
meramalkan arus kas masa depan.

Kelemahan :

 Pengguna current cost adalah subyektif karena sangat sulit menentukan harga perolehan sekarang
yang pasti setiap saat.

Masalah utama yang dihadapi dalam pelaksanaan Akuntansi Nilai Sekarang adalah pengukuran dari nilai
sekarang (current value) itu sendiri. Menurut Martin A. Miller ada dua metode yang paling sering digunakan
dalam perhitungan yaitu : Sistem Nilai Masukan (Entry Value System) dari Sistem Nilai Keluaran (Exit
Value System).

Entry Value System didasarkan atas dasar harga pokok penggantian (Replacement Cost) atau harga pokok,
untuk memproduksi (Reproduksi Cost). Yang dimaksud dengan Replacement Cost adalah estimasi biaya
yang harus dikeluarkan untuk memperoleh aktiva baru atau ekuivalennya pada harga sekarang (current
prices) setelah disesuaikan dengan depresiasi. Sedangkan Reproduction Cost dimaksud sebagai estimasi
biaya yang harus dikeluarkan untuk memproduksi aktiva baru atau ekuivalennya pada harga sekarang
setelah diasumsikan dengan depresiasinya.

Exit Value Sistem biasanya didasarkan atas nilai bersih yang dapat direalisasi (Net Realizable Value) dalam
keadaan usaha yang biasa atau kadang-kadang berdasarkan atas Discounted Cash Flow. Yang dimaksudkan
dengan Net Realizable Value adalah estimasi harga penjualan atas aktiva setelah didukungi biaya-biaya yang
dikeluarkan untuk menjual aktiva tersebut. Sedangkan Discounted Future Cash Flow dimaksudkan sebagai
nilai sekarang (present value) dari estimasi pemasukan kas (Cash Inflow) atau cast saving yang dijual pada
tingkat bunga yang sesuai.

Elemen-Elemen Moneter dan Non Moneter

Dalam current cost accounting elemen-elemen di neraca perlu juga dibedakan dalam elemen moneter dan
non moneter.

Elemen non moneter adalah semua elemen yang bukan merupakan elemen moneter. Seperti juga halnya
dengan elemen moneter, elemen non moneter juga dibagi kedalam aktiva dan kewajiban non moneter. Untuk
elemen non moneter umumnya ditetapkan kembali untuk menghadapi perubahan harga sekarang (changes in
current value).

Dalam menerapkan metode ini kesimpulan atas aktiva moneter dan non moneter adalah sebgai berikut:

Karena aktiva moneter telah ditetapkan dalam jumlah uang yang tetap, mereka itu menggambarkan sejumlah
uang yang diharapkan untuk direalisasikan dalam waktu dekat, oleh karenanya aktiva moneter secara efektif
telah ditetapkan kembali untuk current value financial statement (laporan keuangan dengan nilai sekarang).
Namun aktiva non moneter tidak ditetapkan dalam sejumlah uang yang tetap dan karena itu menggambarkan
Net Realizables Value mereka. Oleh karena itu, aktiva non moneter harus ditetapkan kembali untuk disajikan
pada Current Value.

Holding Gain Or Losses

Holding gain dan losser timbul dikarenakan adanya perbedaan antara perbedaan antara harga pokok historis
atau aktiva dengan harga pokoknya sekarang.

Holding gain terdiri atas dua komponen yaitu :

a) Realized Holding Gains yang dihasilkan dari penyelesaian (disposal) aktiva, apakah aktiva itu
dijual/digunakan dalam suatu periode akuntansi.
b) Unrealized Holding Gains yang dihasilkan dari penambahan dalam nilai sekarang (current value)
suatu aktiva dalam suatu periode akuntansi dimana aktiva tersebut masih ditahan oleh perusahaan.

Langkah-langkah yang diperlukan dalam pengungkapan Akuntansi Kos Sekarang adalah sebagai berikut :
(Smith-Skousen: 1991:566)

a) Tetapkan jumlah nilai berjalan persediaan, harta tak bergerak, pabrik, dan peralatan.
b) Terapkan “tes jumlah yang dapat diganti kembali” ke jumlah nilai berjalan dan pilih yang lebih
rendah.
c) Berdasarkan hasil langka b), hitunglah harga pokok penjualan, penyusutan dan amortisasi.
d) Tetapkan perubahan dalam nilai berjalan persediaan dan harta tak bergerak, pabrik, dan peralatan
menurut jumlah nominal dan juga rupiah konstan.

Bila perusahaan beranggapan bahwa perubahan nilai sekarang (current cost) atau persediaan, harta tak
gerak, pabrik, dan peralatan tidaklah besar dan tidak memberikan pengaruh yang berarti atas laporan
keuangan, maka pengungkapan atas current cost ini tidak perlu dibuat, namun dalam catatan informasi
tambahan perlu disebutkan alasan yang mendukung.

Continuously Contemporary Accounting (CoCoA)

Menurut Continuously Contemporary Accounting (CoCoA), daya beli uang tidak konstan, tapi saat ini dan
terus berubah. Mengingat lingkungan yang berkembang di mana perusahaan dan bisnis beroperasi, menurut
model, nilai uang atau nilai realisasi bersih dari bisnis adalah setara kas saat ini aset. Ini adalah sistem
akuntansi yang mengukur aktiva dan kewajiban pada harga tunai mereka saat ini, misalnya, nilai realisasi
bersih dari aset jika dijual dalam kondisi bisnis saat ini.

Sistem Akuntansi Adaptive

Sesuai Continuously Contemporary Accounting (COCOA): bisnis, untuk bertahan hidup, harus beradaptasi
dengan ekosistem yang terus berubah di mana mereka beroperasi, dan oleh karena itu harus jadi praktek
akuntansi mereka. Untuk perusahaan, adaptasi menyiratkan penjualan aset dianggap tidak layak dan akuisisi
aset lebih cocok dengan lingkungan baru. Oleh karena itu, tujuan akuntansi harus untuk menawarkan harga
tunai saat aset untuk pembantu suatu perusahaan dalam pengambilan keputusan yang lebih baik.
Continuously Contemporary Accounting (CoCoA) menegaskan, laporan keuangan bisnis harus mencakup
harga jual prediksi saat ini setiap aset dan karenanya keuntungan harus dihitung sebagai perubahan modal
adaptif perusahaan selama periode tersebut.

Kekuatan dari Model Akuntansi

Continuously Contemporary Accounting (CoCoA) adalah model mudah bagi akuntan untuk mempekerjakan
dalam mengembangkan neraca dan laporan keuangan. Laporan terus menyarankan perusahaan atas aset
yang diperlukan untuk menjual dan membeli dan, karena itu, membantu badan untuk bertahan hidup dalam
lingkungan bisnis yang kompetitif. Berbeda dengan sistem biaya historis, di mana ada tingkat error lebih
besar, memprediksi biaya mengalokasikan untuk depresiasi jauh lebih sederhana dan lebih akurat di bawah
Continuously Contemporary Accounting (CoCoA). Karena neraca Continuously Contemporary Accounting
(CoCoA) memperkirakan apa yang perusahaan akan menerima jika dijual setiap aset pada tanggal saat ini,
laporan adalah panduan yang berguna bagi pemegang saham untuk menilai risiko investasi dan manfaat.

Kelemahan dari Model Akuntansi

Continuously Contemporary Accounting (CoCoA) menuntut perubahan mendasar dalam praktik akuntansi,
dari sistem berbasis biaya untuk keluar dari sistem harga, sehingga kebanyakan bisnis masih enggan untuk
menggunakan Continuously Contemporary Accounting (CoCoA). Aset mungkin memiliki harga jual rendah
di pasar, tapi mungkin nilai tinggi dalam perusahaan.Neraca Continuously Contemporary Accounting
(CoCoA) gagal untuk memperhitungkan nilai internal aset dan hanya mengukur dengan nilai harga keluar di
pasar. Sementara Continuously Contemporary Accounting (CoCoA) menekankan pada perlunya suatu
entitas untuk beradaptasi dengan lingkungannya, gagal untuk memperhitungkan pengaruh suatu entitas
mungkin pada lingkungan, misalnya, aset kinerja tinggi dalam perusahaan dapat lembur menaikkan harga
jual di pasar .
TEORI AKUNTANSI NORMATIF - KERANGKA KONSEPTUAL

Kerangka Kerja Konseptual

Kerangka Konseptual adalah :

Suatu sistem yang koheren antara tujuan dan landasan-landasan yang saling terkait dan diharapkan
mengarah kepada suatu standar yang konsisten. (Statement of Financial Accounting Concepts No. 1:
Objectives of Financial Reporting by Business Enterprises 1978)

Tujuan kerangka konseptual adalah untuk memberikan teori akuntansi yang terstruktur.

Dasar pemikiran adanya Kerangka Konseptual :

 Untuk mengembangkan praktik pelaporan keuangan yang logis dan konsisten, sehingga perlu
mengatasi isu-isu, seperti
a. Apa yg kita maksud tentang laporan keuangan dan apa saja yg seharusnya dicakup dalam lap.
Keuangan
b. Organisasi seperti apa yang harus menyusun Lap. Keuangann
c. Tujuan Pelaporan Keuangan
d. Karakteristik kualitatif yang harus dimiliki oleh informasi akuntansi
e. Elemen-elemen Laporan Keuangan
f. Cara penghitungan yang digunakan
 Perlunya kesepakatan mengenai masalah – masalah akuntansi sehingga tidak selalu mengadakan
kesepakatan secara add hoc
 Jika tidak ada kerangka konseptual maka konsistensi menjadi terbatas.

Sejarah Perkembangan Kerangka Kerja Konseptual

Kerangka Kerja Konseptual telah dikembangkan di berbagai Negara seperti Amerika Serikat,
Inggris, Kanada, Australia, New Zealand, dll. Namun, hingga saat ini belum ada penyusun standar yang
telah mengembangkan Kertas Kerja Konseptual secara lengkap . Perkembangannya pun terbatas dalam
tahun-tahun terakhir ini.

Perkembangan Kerangka Kerja Konseptual di Amerika

Pada Tahun 1961 dan 1962 Moonitz, dan Moonitz dan Sprouse, menentukan bahwa praktik
akuntansi harus didasarkan pada current value, bukan historical cost. Namun hal ini mendapat banyak
kritikan karena dianggap terlalu ekstrim. Pada 1965, Grady mengembangkan teori yang didasarkan pada
deskripsi praktik yang ada (mendasari munculnya APB Statement No. 4). Namun juga mendapat kritikan.
Pada 1971 dibentuk Trueblood Committee yang menghasilkan Laporan Trueblood di tahun 1973.
Lapoarn ini berisi 12 tujuan akuntansi dan 7 karakteristik kualitatif informasi keuangan yang harus dimiliki.
Kemudian tahun 1974 APB digantikan oleh FASB yang kemudian memulai proyek pembuatan Kerangka
Kerja Konseptual. Hasilnya, tahun pada 1978-1985, dirilis 6 Statement of Financial Accounting Concept.

Perkembangan Kerangka Kerja Konseptual di Australia

Tingkat perkembangan yang lambat dan sampai saat ini hanya 4 SAC yang telah dirilis. SAC
kelima, yang berkaitan dengan masalah pengukuran, belum dirilis. Tahun 2005 , Australia mengadopsi
Kerangka Kerja IASB, karena Australia memutuskan untuk menggunakan IFRS.

Perkembangan Kerangka Kerja Konseptual di Inggris

Pada tahun 1976, Inggris mengembangkan panduan yang berkaitan dengan tujuan dan identifikasi
pengguna Laporan Keuangan (peduli dengan hak-hak masyarakat untuk mendapatakan akses terhadap
informasi keuangan) dan disebut The Corporate Report. Namun hal tersebut ternyata tidak diterima secara
luas oleh profesi akuntansi di Inggris.

Pada tahun1991, ASB mulai mengembangkan Kerangka Kerja Konseptual dan mengadopsi
Kerangka Kerja Konseptualnya IASC. Tahun 2005 IASB dan FASB mulai bekerja sama mengembangkan
kerangka kerja yang dapat diterima oleh keduanya, “Convergent Project”.

“Building Blok” Kerangka Kerja Konseptual.

Komponen Kerangka Kerja Konseptual :


1. definisi entitas pelapor
2. Tujuan umum pelaporan keuangan (Laporan Keuangan)
3. Pengguna Laporan Keuangans
4. karakteristik kualitatif Laporan Keuangan
5. Unsur-unsur laporan keuangan
6. Pendekatan yang digunakan terkait pengakuan dan pengukuran

Definisi Entitas Pelapor

Tidak semua entitas digolongkan sebagai entitas pelaporan. Faktor indikasi dari entitas pelapor (SAC 1):

1. Pemisahan manajemen dari orang-orang dengan kepentingan ekonomi dalam entitas


2. pentingnya ekonomi atau politik / pengaruh entitas / pada pihak lain
3. karakteristik keuangan entitas

Tujuan Umum Pelaporan Keuangan

 Tujuan “tradisional” adalah untuk memungkinkan orang luar untuk menilai kepengurusan manajemen.
 Tujuan terakhir pelaporan keuangan adalah untuk membantu membuat keputusan ekonomi bagi
pengguna laporan, misalnya :

Tujuan menurut FASB, menyediakan informasi yang berguna untuk ivestor sekarang, potensial (calon)
investor, dan kreditor, dan pengguna lain dalam membuat investasi, kredit, dan keputusan lainnya.

Tujuan menurut IASB, menyediakan informasi tentang posisi keuangan, performance, dan perubahan
posisi keuangan perusahaan, yang bermanfaat secara luas bagi pengguna untuk membuat keputusan-
keputusan ekonomi.

Pengguna Laporan Keuangan

SAC No. 2 mengidentifikasi tiga kelompok pengguna utama untuk Laporan Keuangan:
1. penyedia sumber daya
(karyawan, kreditur, pemasok, investor)
2. penerima barang dan jasa
(pelanggan dan penerima manfaat )
3. pihak yang melakukan reviu atau fungsi pengawasan
(parlemen, pemerintah, lembaga regulator, analis, serikat buruh, kelompok pengusaha, media dan
kelompok kepentingan khusus)

Perspektif internasional pada pengguna Laporan Keuangan :


 IASB
Penggunan Lap. Keuangan : investor, tenaga kerja, pemberi pinjaman, supplier, konsumen,
pemerintah,.
 US SFAC 1:
fokus utama adalah investor potensial dan pengguna lain dengan baik kepentingan keuangan secara
langsung atau terkait dengan orang-orang yang mempunyai kepentingan keuangan secara langsung
 UK. The Corporate Report
semua kelompok yang terkena dampak operasi organisasi memiliki hak atas informasi mengenai
entitas pelaporan, tidak selalu berhubungan dengan keputusan alokasi sumber daya

Unsur-unsur Laporan Keuangan


1. Aset :

... Manfaat ekonomi masa depan dikendalikan oleh entitas sebagai akibat transaksi masa lalu dan
peristiwa masa lalu lainnya (IASB framework paragraph 49(a))
Tiga karakteristik kunci:
1. harus menjadi manfaat ekonomis masa depan
2. entitas pelaporan harus mengontrol manfaat ekonomi masa depan
3. transaksi atau peristiwa masa lalu lainnya menimbulkan kontrol pelaporan entitas harus terjadi.
2. Kewajiban :
…Kewajiban kini perusahaan yang timbul dari peristiwa masa lalu, penyelesaian yang diharapkan dapat
mengakibatkan arus keluar sumber daya dari perusahaan sumber daya dan manfaat ekonomi. ((IASB
framework paragraph 49(a))
Tiga karakteristik kunci:
1. harus berupa pengeluaran/transfer di masa mendatang kepada entitas lain.
2. Merupakan kewajiban masa kini/sekarang
3. Akibat dari transaksi masa lalu.

3. Ekuitas:
... Nilai sisa dari aset suatu entitas setelah dikurangi dengan semua kewajiban (IASB framework
paragraph 49(c))
4. Income
… kenaikan keuntungan ekonomi selama periode akuntansi dalam bentuk kas masuk, atau
penambahan aset, atau penurunan kewajiban, yang menyebabkan kenaikan ekuitas, namun bukan
merupakan penambahan kontribusi (modal) oleh pemilik (IASB framework paragraph 70(a))
5. Biaya
... Penurunan keuntungan ekonomi selama periode akuntansi dalam bentuk kas keluar, atau
pengurangan aset, atau peningkatan kewajiban yang menyebabkan penurunan ekuitas, namun bukan
dalam berupa pembagian kepada pemilik (IASB framework paragraph 70(b))

Hal-hal yang terkait dengan kerangka kerja konseptual


1. Standar akuntansi harus lebih konsisten dan logis
2. standar-setter harus lebih bertanggung jawab atas keputusan mereka
3. komunikasi antara standar-setter dan konstituen mereka harus ditingkatkan
4. Pengembangan standar akuntansi harus lebih ekonomis
5. Terkait isu tertentu, mungkin dapat mengurangi kebutuhan pengembangan standar tambahan
6. menekankan peran keputusan kegunaan laporan keuangan daripada kekhawatiran untuk membatasi
pengelolaan