Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. DEFINISI GOVERNANCE, GOOD GOVERNANCE DAN GOOD


CORPORATE GOVERNANCE

Terkait dengan istilah “governance” kita mengenal dua kata berbeda yang memiliki
keterhubungan makna yaitu “governance” dengan “government”. Keduanya berasal dari
kata dasar “govern”, tetapi governance memiliki makna yang lebih tinggi dari government.
Secara umum istilah government dipahami sebagai “pemerintah” yaitu lembaga publik
beserta aparaturnya yang mempunyai tanggung jawab untuk mengurusi negara dan
menjalankan kehendak rakyat. Government adalah institusi yang dibentuk untuk
melaksanakan berbagai fungsi pemerintah seperti menjaga pertahanan keamanan,
memberikan pelayanan publik, dan menjamin persamaan perlakuan di depan hukum.

Governance memiliki makna yang lebih luas, dan memiliki beberapa makna seperti
urusan penyelenggaraan/pelaksanaan kekuasaan atau distribusi wewenang. Memahami
governance dapat dipahami dengan memahami lawan katanya, yaitu: anarki, atau tidak
adanya keteraturan. Penggunaan kata governance saat ini telah sangat luas, meliputi tidak
hanya kepemerintahaan (sektor publik), tetapi juga sektor swasta dan masyrakat sipil
(kelompok dan individu), sistem, proses dan prosedur perencanaan, pengelolaan, dan
pengambilan keputusan.

Konsep corporate governance dapat didefinisikan sebagai serangkaian mekanisme yang


mengarahkan dan mengendalikan suatu perusahaan agar operasional perusahaan berjalan
sesuai dengan harapan para pemangku kepentingan (stakeholders). Definisi paling awal
dikemukakan oleh Komite Cadburry, Good Corporate Governance (GCG) adalah prinsip
yang mengarahkan dan mengendalikan perusahaan agar mencapai keseimbangan antara
kekuatan serta kewenangan perusahaan dalam memberikan pertanggung jawabannya kepada
para shareholders khususnya, dan stakeholders pada umumnya. Selanjutnya, definisi yang
paling banyak menjadi referensi adalah definisi GCG menurut Organisation for Economic
Cooperation and Development (OECD). Khususnya untuk penerapan GCG di BUMN, dalam
Peraturan Menteri negara BUMN Nomor: PER-01/MBU/2011 tentang Penerapan Tata Kelola
Perusahaan yang Baik pada BUMN sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Negara BUMN Nomor: PER-09/MBU/2012, Menteri Negara BUMN juga mendefinisikan
GCG atau Tata Kelola Perusahaan yang baik. Definisi governnace yang dikemukakan oleh
berbagai sumber tersebut diuraikan lebih lanjut sebagai berikut:

1. Komite Cadburry
Definisi palig awal dikemukakan oleh Komite Cadburry, GCG adalah prinsip yang
mengarahkan dan mengendalikan perusahaan agar mencapai keseimbangan antara
kekuatan serta kewenangan perusahaan dalam memberikan pertanggungjawabannya
kepada para shareholders khusunya, dan stakeholders pada umumnya.
2. CIDA (1997)
Menurut Canadian International Development Agency (CIDA), Governance adalah
cara melaksanakan kekuasaan dalam mengelola sumber daya sosial dan ekonomi
suatu negara.
3. UNDP (1999)
Menurut United Nations Development Programme (UNDP), Governance adalah
pelaksanaan kewenangan ekonomi, politik, dan administratif untuk menangani
persoalan suatu negara, yang terdiri dari mekanisme, proses, dan institusi tempat
warga negara dan lembaga masyarakat mengutarakan pendapat mereka,
mengggunakan hak hukum mereka, memenuhi kewajibannya, dan menangani
perbedaan pendapat di antara mereka.
Good Governance oleh UNDP juga diartikan sebagai suatu proses pengelolaan yang
baik, dengan melibatkan stakeholders, terhadap berbagai kegiatan perekonomian,
sosial politik, dan pemanfaatan bberagam sumbe daya alam, keuangan, dan manusia
bagi kepentingan rakyat banyak yang dilaksanakan dengan menganut asas-asas
keadilan, pemerataan, persamaan, efisiensi, transparency, dan akuntanbilitas.
4. World Bank
Menurut World Bank, Governance adalah tradisi dan institusi tempat kewenangan
sebuah negara dilaksanakan yaitu:
1) Proses pemerintahan dipilih, dimonitor, dan diganti;
2) Kemampuan pemerintah untuk merancang dan melaksanakan suatu
kebijakan secara efektif; dan
3) Rasa hormat warga negara dan pemerintah terhadap institusi yang
mengontrol interaksi ekonomi dan sosial diantara mereka

World Bank juga menyebutkan bahwa Good Governance adalah pelayanan publik
yang efisien, sistem yang handal serta pemerintahan yang akuntanbel terhadap publik.
Dengan demikian pengertian Good Govrnance menyangkut aspek kehidupan yang
luas mulai dari aspek hukum, politik, ekonomi, dan sosial serta terkait erat dengan
tugas pokok dan fungsi lembaga penyelenggara kekuasaan negara baik eksekutif,
leglislatif, dan yudikatif.

5. OECD
Menurut Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD)
“Corporate governance is the system by which a business corporation (or a non-
profit organisation) is directed and controlled, at its senior level, in order to achieve
its senior level, in order to achieve its objectives, perfomance and financial
management, but also accountability, integrity and opennes”. Beberapa peneliti
mendefinisikan tata kelola perusahaan sebagai hubungan antara pemegang saham,
dewan komisaris, direksi, dan manajer senior. Pengaturan tata kelola perusahaan
adalah upaya untuk memastikan bahwa para pengelola bertindak sesuai dengan tujuan
yang ditetapkan dan melindungi kepentingan pemiliknya. Good Governance pada
sektor publik diartikan OECD sebagai penyelenggaraan manajemen pembangunan
yang bertanggung jawab, dengan menerapkan demokrasi, kedaulatan hukum, dan
mekanisme pasar yang efisien, pencegahan korupsi, disiplin anggaran, dan penciptaan
iklim yang kondusif bagi tumbuhnya dunia usaha.
6. ANAO
Australian National Audit Office (ANAO) mendefinisikan governance di sektor publik
(Public Sector Governance) mencakup hal yang sangat luas, termasuk di dalamnya
bagaimana suatu organisasi mengelola badan usaha dan berbagai struktur lainnya,
mengelola kebijakan dan strateginya, dan bagaimana organisasi tersebut memiliki
kesepakatan dengan berbagai stakeholdernya. Konsep Public Sector Governance
diarahkan pada kondisi dimana organisasi sektor publik enunaikan tanggung
jawabnya terhadap amanah yang diberikan kepadanya secara terbuka, akuntabel, dan
hati-hati dalam pengambilan keputusan, dalam rangka menyediakan advis kebijakan,
dan dalam mengelola serta melaksanakan berbagai programnya.
Dari definisi tersebut dapat disebutkan bahwa Public Sector Governance difokuskan
pada:
1) Perfomance : organisasi mengimplementasikan governance untuk
mengkontribusikan pada kinerja organisasi secara keseluruhan dalam pelayanan
prima yang terkait dengan penyediaan produk maupun jasa bagi publik.
2) Conformance : organisasi memanfaatkan governance agar dapat melaksanakan
tugas pokok dan fungsinya dalam koridor peraturan perundangan yang berlaku,
standar yang telah ditetapkan dan disepakati bersama, dan ekspektasi pemberi
amanah secara akuntabel dan terbuka.

Good Governance diartikan sebagai “tata kelola yang baik” yang meliputi komponen :

1) Tata kelola pemerintahan yang baik (Good Public Governance), yang digynakan
untuk penggunaan di lingkungan pemerintahan.
2) Tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) yang digunakan
untuk penggunaan di lingkungan perusahaan (corporate).
3) Tata kelola masyarakat yang baik (Good Civil Society) yang digunakan untuk
penggunaan di lingkungan masyarakat.
7. KEMENTRIAN BUMN RI
Kementrian BUMN RI sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik
Negara Nomor: PER-01/MBU/2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang
Baik (Good Corporate Governance) pada badan Usaha Milik Negara sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara nomor :
PER-09/MBU/2012 mendefinisikan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (GCG),
sebagai prinsip-prinsip yang mendasari suatu proses dan mekanisme pengelolaan
perusahaan berlandaskan peraturan perundang-undangan dan etika berusaha.
8. KNKG (Komite Nasional Kebijakan Governance) Indonesia
KNKG, dalam bukunya berjudul Pedoman Umum Good Corporate Governance
Indonesia, tahunn 2006, menjelaskan bahwa GCG merupakan satu pilar sistem
ekonomi pasar. GCG berkaitan erat dengan kepercayaan terhadap perusahaan yang
melaksanakannya maupun terhadap iklim usaha di suatu negara. Penerapan GCG
mendorong terciptanya persaingan sehat dan iklim usaha yang kondusif. Oleh karena
itu, diterapkannya GCG oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia sangat penting
untuk menunjang pertumbuhan dan stabilitas ekonomi yang berkesinambungan.
Penerapan GCG juga diharapkan dapat menunjang upaya pemerintah dalam
menegakkan good governance.

B. TEORI DASAR CORPORATE GOVERNANCE

Dikenal 2 teori yang pada awalnya mendasari GC, yaitu pertama stewardship theory
yang dikemukakan oleh Jansen dan Meckling (1976), yang mengasumsikan bahwa manusia
memiliki sifat dapat dipercaya, tanggung jawab, dan memiliki integritas dan kejujuran.
Hubungan ini selanjutnya terutang dalam tanggung jawab fidusia antara pengelola
perusahaan dengan para pemegang saham. Stewardship theory memandang manajemen
sebagai pihak yang dapat dipercaya untuk bertindak dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan
publik maupun stakeholders.

Kedua adalah teori yang dilandasi dengan kondisi adanya informasi asimetri, yaitu
bahwa manajemen dan pemilik memiliki informasi yang berbeda. Manajemen memiliki akses
informasi yang lebih banyak atas operasional. Agency theory yang memandng bahwa
pengelola perusahaan sebagai “agents” bagi para pemegang saham, akan cenderung bertindak
bagi kepentingan sendiri (bukan sebagai pihak yang bijaksana serta adil terhadap pemegang
saham seperti dalam stewardship theory) sehingga memunculkan konflik kepentingan.
Agency theory diterima secara lebih luas karena dianggap lebih mencerminkan kenyataan.
Perbedaan kepentingan antara manajemen (agent) dengan pemegang saham (shareholders)
ini yang mendasari kebutuhan GCG.

C. PRINSIP GOVERNANCE

Aktualisasi konsep Governance merupakan aktualisasi prinsip atau norm-norma yang


dirujuk dari berbagai kehidupan bermasyarakat dan bernegara, seperti bidang huku, politik,
ekonomi, dan sosial budaya. Berbagai rujukan Governance minimal mencakup empat prinsip
utama yaitu keterbukaan (transparency), pertanggunggugatan (accountability), keadilan
(fairness), dan pertanggungjawaban(responsbility). Seperti halnya dengan begitu banyak
definisi Governance, demikian pula terdapat berbagai pendapat mengenai prinsip Governance

1. UNDP
Dalam penyelenggaraan kepemerintahan yang baik, UNDP mengidentifikasikan
adanya sembilan prinsip Good Governance yaitu :
1) Participation (Partisipasi);
2) Rule of Law (Kerangka Hukum);
3) Transparency (Transparasi);
4) Responsiveness (Responsif);
5) Consensus Orientation (Berorientasi pada Kosensus);
6) Equity (Keadilan);
7) Effectiveness and Efficiency (Efisien dan Efektif);
8) Accountability (Akuntanbilitas);
9) Strategic Vision (Visi yang Strategis).
2. UNESCAP menguraikan delapan karakteristik Good Governance yaitu :
1) Participation (Partisipasi);
2) Rule of Law (Kerangka Hukum);
3) Transparency (Transparasi);
4) Responsiveness (Responsif);
5) Consensus Orientation (Berorientasi pada Kosensus);
6) Equity (Keadilan);
7) Effectiveness and Efficiency (Efisien dan Efektif);
8) Accountability (Akuntanbilitas);
3. Undang-Undang RI Nomor 28 Tahun 1999
UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan bebas
dari Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme dalam Pasal 3 menyantumkan tujuh asas Umum
Penyelenggaraan Negara yang meliputi :
1) Asas Kepastian Hukum;
2) Asas Tertib Penyelenggaraan Negara;
3) Asas Kepentingan Umum;
4) Asas Keterbukaan;
5) Asas Proposionalitas;
6) Asas profesionalitas
7) Asas Akuntanbilitas.
4. KEMENTRIAN BUMN RI
Kementrian BUMN RI sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik
Negara Nomor: PER-01/MBU/2011 Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang
Baik (Good Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor:
PER-09/MBU/2012 mendefinisikan prinsip-prinsip GCG meliputi:
1) Transparency (keterbukaan informasi), yaitu keterbukaan dalam
melaksanakan proses pengambilan dan keterbukaan dalam mengemukakan
informasi materiil dan relevan mengenai perusahaan. Transparency
menunjukan kesungguhan organ perusahaan untuk menyampaikan informasi
tentang perusahaan secaratepat waktu dan akurat, termasuk informasi tentang
proses merumuskan, mengimplementasikan, serta mengevaluasi strategi yang
dilakukannya;
2) Accountability (akuntanbilitas) yaitu kejelasan fungsi, struktur, sistem, dan
pertanggungjawaban organ perusahaan. akuntanbilitas menunjukkan
kesungguhan organ perusahaan dalam mempertanggungjawablan seluruh
proses pencapaian kinerja secara transparan dan wajar, termasuk
mempertanggungjawabkan seluruh proses dalam merumuskan,
mengimplementasikan serta mengevaluasi strategi;
3) Responsibility (pertanggungjawaban), yaitu kesesuaian (kepatuhan) di dalam
pengelolaan perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan
perundangan yang berlaku. Responsibilitas menunjukkan kesungguhan organ
perusahaan dalam menjamin terlaksananya perturan perundang-undangan dan
tanggungjawab terhadap masyarakat dan lingkungan, termasuk dalam
menjamin terlaksananya proses perumusan, implementasi serta evaluasi
strategi secara bertanggung jawab;
4) Independency (kemandirian), yaitu suatu keadaan dimana perusahaan dikelola
secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari
pihak lain yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat. Independensi menunjukkan
kesungguhan organ perusahaan dalam menjamin tidak adanya dominasi atau
intervensi dari suatu partisipan terhadap partisipan tertentu.
5) Fairness (kesetaraan dan kewajaran), yaitu perlakuan yang adil dan setara di
dalam memenuhi hak-hak stakeholders yang timbul berdasarkan perjanjian
serta peraturan perundangan yang berlaku. Keadilan yang menunjukkan
kesungguhan organ perusahaan dalam memperhatikan kepentingan pemegang
saham (shareholders).
5. KNKG (Komite Nasional Kebijakan Governance) Indonesia
1) Transparasi (Transparency)
Untuk menjaga obyektivitas dalam menjalankan bisinis, perusahaan harus
menyediakan informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah
diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan. Perusahaan harus
mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak hanya masalah yang
disyaratkan peraturan perundang-undangan, tetapi juga hal yang penting untuk
pengambilan keputusan oleh pemegang saham, kreditur dan pemangku
kepentingan lainnya.
2) Akuntanbilitas (Accountanbility)
Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara
transparan dan wajar. Untuk itu perussahaan harus dikelola secara benar,
terukur dan sesuai dengan kepentingan perusahaan dengan tetap
memperhitungkan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan
lain. Akuntanbilitas merupakan prasyarat yang diperlakukan untuk mencapai
kinerja yang berkesinambungan.
3) Responsibilitas (Responsibility)
Perusahaan harus memenuhi peraturan perundang-undangan serta
melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga
dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat
pengakuan sebagai good corporate citizen.
4) Independensi (Independency)
Untuk melancarkan pelaksanaan aas GCG, perusahaan harus dikelola secara
independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling
mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.
5) Kewajaran dan Kesetaraan (Fairness)
Dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa
memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan
lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan.
BAB II

PENERAPAN GCG DI INDONESIA

A. PERKEMBANGAN PENERAPAN GCG DI INDONESIA

Kesadaran terhadap pentinngnya penerapan GCG di Indonesia diawali sejak krisis


ekonomi yang berdampak luas di Indonesia. Kajian yang dilakukan oleh Asian development
Bank (ADB) menunjukkn faktor-faktor yang memberi kontribusi pada krisis di indonesia
adalah: (i) kontraksi kepemilikan perusahaan yang tinggi; (ii) tidak efektifnya fungsi
pengawasan dewan komisaris; (iii) inefisiensi dan rendahnya Transparency mengenai
prosedur pengendalian merger dan akuisisi perusahaan; (iv) terlalu tingginya ketergantungan
pada pendanaan eksternal; dan (v) tidak memadainya pengawasan oleh para kreditor.

Pengaturan penerapan GCG di indonesia tertuang dalam beberapa undang-undang dan


peraturan, sehingga implementasi prinsip-prinsip GCG di Indonesia telah didorong oleh
semangat kepatuhan terhadap regulasi. Kondisi ini sejalan dengan survei atas penerapan GCG
di Indonesia oleh Institute of Corporate Directorship (IICD) yang menyebutkan industri yang
teregulasi memiliki implementasi GCG yang lebih baik.

Di indonesia, National Committee on Corporate Governance (NCGG) atau Komite


Nasional Kebijakan Governance (KNKG) menguraikan bahwa implementasi GCG
didasarkan atas 2 (dua) pendekatan yaitu ethics-based approach dan regulatory-bassed
approach. Dorongan dari etika (ethical driven) datang dari kesadaran individu-individu
pelaku bisnis untuk menjalankan praktik bisnis yang mengutamakan kelangsungan hidup
perusahaan, kepentingan stakholders, dan menghindari cara-cara menciptakan keuntungan
sesaat. Dorongan peraturan (regulatory driven) “memaksa” perusahaan untuk patuh trhadap
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Beberapa produk hukum dan perturan yang mengatur pelaksanaan GCG di Indonesia
yaitu Undang-Undang Perseroan Terbatas (UU PT) Nomor 40 Tahun 2007 yang telah
memprhatikan perkembangan terkini dunia usaha dan juga memperhatikan praktik GCG
sebagai niai dan konsep yang terkandung dalam undang-undang tersebut.

Struktur corporate governance di indonesia sebagaimana diatur dalam UU PT yaitu


mekanisme dual board system, dimana dikenal 2 organ perusahaan yaitu Dewan Komisaris
(Boards of Commissioner) dan Direksi (Board of Directors). Struktur governance di
Indonesia memberi batas yang jelas antara komisaris dan direksi. Dewan komisaris tidak
memiliki kekuatan eksekutif dan dibatasi tugasnya dalam hal pengaasan dan pembinaan.
Dewan komisaris tidak memimpin operasional pengelolaan perusahaan namun lebih bersifat
pengawasan strategis. Sementara direksi tugasnya juga sudah sangat jelas yaitu memimpin
perusahan dengan mengemban tugas pengelolaan perusahaan untuk tujuan dan kepentingan
perusahaan.

Untuk perusahaan yang telah go-public, pelaksanaann GCG tunduk pada aturan
BAPEPAM-LK (sekarang Otoritas Jasa Keuangan/OJK) dan peraturan bursa saham. Selain
itu, untuk perusahaan BUMN, menerbitkan Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor: PER-
01/MBU/2011 tentang Penerapan Menteri Negara BUMN Nomor: PER-09/MBU/2012.
Untuk industri lembaga keuangan dan perbankan, Bank Indonesia juga mengeluarkan
berbagai peraturan untuk memperkuat governance bank secara kelembagaan maupun dari sisi
jasa perbakan itu sendiri. Beberapa aturan yang sudah keluar antara lain pedoman manajemen
resiko, pedoman pengendalian internal, penilaian kesehatan bank dan pedoman GCG bagi
perbankan. Bank Indonesia telah mempunyai Peratura Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006
tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance di Bank Umum, serta Peraturan Bank
Indonesia 8/14/2006 tentang Perubahan atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/4/PBI/2006.

B. PERSEPSI ATAS PENERAPAN GOOD CORPORATE GOVERNANCE

Sejak tahun 2005 WEF menggunakan GCI sebagai basis analisis daya saing
mendefinisikan daya saing (competitiveness) sebagai “the set of instituations, policies, and
factor that determine the level of productivity of a country.” Sedangkan pengertian tingkat
produktivitas adalah “the level of prosperity that can be earned by an economy”. Indonesia,
dilihat dari tahap pembangunan daya saing - yaitu factor driven, innovation driven, dan
innovation driven – masuk tahap ketiga, yaitu efficiency driven. Dari sekian banyak indikator
untuk menilaidaya saing, terlihat beberapa poin merupakan indikator yang erat hubungannya
dengan GCG yaitu perilaku etis, audit, keaktifan peran dewan komisaris, dan perlindungan
pemegang saham minioritas. Seluruh kriteria GCG dalam GCI tersebut dianggap masih
dipraktikkan dengan kurang memadai yaitu mendapatkan nilai dibawah 5 dari maksimal nilai
10. Diuraikan oleh WWF, pRaktek suap dan biaya siluman yang dilakukan oleh pebisnis
kepada aparat pemerintah menurunkan peringkat daya saing global Indonesia. Indikator yang
erat hubungannya dengan GCG untuk menilai daya saing, yaitu :

No Indikator 𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 ∗ Ranking


1 Ethical Behavior of Firms 3.6 96
2 Strength of Auditing and Reporting Standard 4.4 87
3 Efficacy of Corporate Boards 4.6 62
4 Protection of Miniority Shareholders’ Interest 4.3 62
5 Strength of Investor Protection 6.0 39

C. MANFAAT PENERRAPAN GCG

Kementrian BUMN RI sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik
Negara Nomor: PER-01/MBU/2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik
(Good Corporate Governance) pada badan Usaha Milik Negara sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara nomor : PER-09/MBU/2012
mendefinisikan bahwa penerapan GCG pada BUMN ditujukan untuk memberi manfaat
sebagai berikut:

1. Mengoptimalkan nilai BUMN agar perusahaan memiliki daya saing yang kuat, baik
secara nasional maupun internasional, sehingga mampu mempertahankan
keberdaannya dan hidup berkelanjutan untuk mencapai maksud dan tujuan BUMN;
2. Mendorong pengelolaan BUMN secara profesional, efisien, dan efektif, serta
memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandiian Organ Persereo/Organ Perum;
3. Mendorong agar Organ Presereo/Organ Perum dalam membuat keputusan dan
menjalankna tindajan dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap
peraturan perundang-undangan, serta kesadaran akan adanya tanggungjawab sosial
BUMN terhadap Pemangku Kepentingan maupun kelestarian lingkungan di sekitar
BUMN;
4. Meningkatkan kontribussi BUMN dalam perekonomian nasional;
5. Meningkatkan iklim yang kondusif bagi perkembangan investasi nasional.

Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia tahun 2002 menyebutkan tujuan
perusahaan melaksanakan GCG adalah untuk:

a. Mendorong tercapainya kesinambungan perusahaan melalui pengelolaan yang


didasarkan pada asas transparasi, akuntanbilitas, responsibilitas, independensi serta
kewajaran dan kesetaraan.
b. Mendorong pemberdayaan fungsi dan kemandirian masing-masing organ perusahaan,
yaitu Dewan Komisaris, Direksi, dan Rapat Umum Pmegang Saham.
c. Mendorong pemegang saham, anggota Dewan Komisaris dan anggota Direksi agar
dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakannya dilandasi oleh nilai moral
yang tinggi dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
d. Mendorong timbulnya kesadaran dan tanggungjawab sosial perusahaan terhadap
masyarakat dan kelestarian llingkungan terutama di sekitar perusahaan.
e. Mengoptimalkan nilai perusahaan bagi pemegang dengan tetap memperhatikan
pemngku kepentingan lainnya.
f. Meningaktkan dya saing perushaan secara nasional maupun internasional, sehingga
meningkatkan kepercayaan pasar yang mendorong arus nvestasi dan pertumbuhan
ekonomi nasional yang berkesinambungan.

D. PROSES GCG

Proses GCG dalam arti sempit adalah peran RUPS, Dewan Komisaris, dan Direksi. Dewan
Komisaris mengarahkan dan memberikan pengawasan kepada Direksi dalam menetapkan
tujuan strategis menetapkan tingkat risiko yang sesuai, sistem pengendalian intern berjalan
efektif, pemantauan kinerja, dan transparasi dan yang lengkap, jelas, dan tepat waktu kepada
stakeholders.

Proses GCG dapat dikelompokkan ke dalam:

1. Board Governance Practices


Proses dan praktik GCG yang ada di Dewan Komisaris sangat penting penguatan
GCG, termasuk juga peran Komite Audit yang berada di bawah tanggung jawab
Dewan Komisaris. Fungsi Dewan Komisaris dalam memberikan arahan dan masukan
atas bagaimana leadership dalam menata kelola perusahaan dalam pengambilan
keputusan, pelaksanaan rapat, kejelasan hubungan dan tata kerja antara Direksi dan
Komisaris, dan konflik kepentingan, aspek manajemen resiko, teknologi infromasi,
manajemen kinerja dan pengendalian internal.
2. Organization Governance Practices
Proses yang ada dalam tata kelola pada tingkat organisasi menjadi tanggungjawab
Direksi dan level di bawah Direksi. Intisari dari beberapa artikel menyimpulkan
beberapa area yang menjadi proses tata kelola pada tingkat ini antara lain yaitu:
a. Penegakan etika dan perilaku
b. Kepatuhan perusahaan
c. Perencanaan strategis
d. Manajemen risiko dan pengendalian
e. Penetapan pengukuran kinerja dan pemantaunya
f. Pelaksanaan sistem komunikasi dan teknologi informasi
g. Pelaksanaan audit
h. Pelaksanaan kebijakan mutu dan kebijakan terkait pelanggan
i. Kebijakan SDM, antara lain: pendidikan dan peltihan, pengembangan, pola karir,
reward and punishment
j. Kebijakan pengelolaan stakeholders

E. MODEL ISHIKAWA DIAGRAM UNTUK MEMAHAMI PROSES GCG

Ishikawa Diagram merupakan pendekatan grafik yang dipakai untuk mengeksplorasi


kondisi tentang berbagai proses yang terjadi dalam perusahaan. diagram ini juga dikenal
sebagai Cause-and-Effect atau Fishbone Diagram. Tujuan penggunaannya untuk
mengidentifikasi permasalahan yang menyebabkan terjadinya akibat yaitu menggambarkan
hubungan dan kemungkinan dari setiap hubungan serta kontribusi kepada akibat.

Untuk memahami kuat atau lemahnya struktur governance dapat melalui perspektif
struktur dan proses yaitu melihat proses itu sendiri apakah sudah cukup kuat untuk
menciptakan suatu governance dan melihat bagaimana prinsip-prinsip GCG diadopsi oleh
perusahaan dalam pengelolaannya. Dengan pendekatan struktur dan proses dapat
diidentifikasi ke dalam Diagram Ishikawa untuk menilai titik lemah (possible cause) yang
perlu mendapat perhatian. Kategori yang menjadi penyebab bagi lemahnya governance dibgi
dalam empat perspektif yaitu: Integritas dan Komitmen, Pemegang Saham, Komisaris, dan
Direksi.

Weak Corporate Goverrnance sebagai akibat dari lemahnya empat kategori yaitu
“Pemegang Saham”, “Komisaris”, “Direksi” dan “Komitmen & Integritas” setiap kategori
dikaji dan diberi nilai atas tingkat efektivitasnya terdiri dari beberapa cabanag yang harus
diperbaiki. Dalam model Ishikawa tergambar jelas bahwa tercapainya tata kelola yang baik di
perusahaan merupakan proses yang saling terkait. Komitmen dan Integritas memang sangat
penting namun tidak cukup dapat mengelola perusahaan bila tidak diikuti oleh kompetensi
dan sistem yang mendukung.
BAB III
PENERAPAN GCG PADA BUMN

Penerapan GCG pada BUMN diatur berdasarkan Peraturan Menteri Negara Badan Usaha
Milik Negara Nomor: Per-01/MBU/2011 Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang
Baik Pada Badan Usaha Milik Negara sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor: PER-09/MBU/2012 dengan pokok-pokok
ketentuan sebagai berikut:
A. KETENTUAN UMUM
 BUMN adalah bada usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh
Negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang
dipisahkan
 Persero adalah BUMN yang berbentuk perseroa terbatas yang modalnya terbagi
dalam saham yang seluruh atau paling sedikit 51% sahamnya dimiiki oleh Negara
Republik Indonesia yang tujuan utamanya mengejar keuntungan.
 Organ persero adalah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), dewan komisaris, dan
direksi
 Dalam rangka penerapan GCG, direksi wajib menyusun GCG manual yang
diantaranya memuat: - board manual
- Manajemen risiko manual
- Sistem pengendalian intern
- Sistem pengawasan intern
- Mekanisme pelaporan atas dugaan penyimpangan
- Tata kelola teknologi informasi
- Pedoman perilaku etika (code of conduct)

B. PRINSIP DAN TUJUAN


Prinsip-prinsip GCG yang dimaksud dalam peraturan ini, meliputi:
1. Transparansi (transparency). Yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses
pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengungkapkan informasi material
dan relevan mengenai perusahaan
2. Akuntabilitas (accountability), yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan dan
pertanggungjawaban organ sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara efektif
3. Pertanggungjawaban (responsibility), yaitu kesesuaian di dalam pengelolaan
perusahaan terhadap pertaturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip korporasi
yang sehat
4. Kemandirian (independency), yaitu keadaan dimana perusahaan dikelola secara
profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manapun
yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip korporasi
yang sehat.
5. Kewajaran (fairness), yaitu keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak
pemangku kepentingan (stakeholders) yang timbul berdasarkan perjanjia dan
peraturan perundang-undangan

C. PEMEGANG SAHAM/PEMILIK MODAL


BUMN harus melindungi hak pemegang saham.pemilik modal yang terdiri dari:
1. Mengambil keputusan tertinggi pada Perum, khusus bagi pemilik modal Perum
2. Memperroleh informasi material mengenai BUMN, secara tepat waktu, terukur, dan
teratur
3. Mengahdiri dan memberikan suara dalam suatu RUPS
4. Menerima pembagian dari keutungan BUMN yang diperuntukkan bagi pemegang
saham/pemilik modal dalam bentuk dividen, dan sisa kekayaan hasil likuidasi,
sebanding dengan jumlah saham/modal yang dimiliknya
5. Hak lainnya berdasarkan anggaran dasar dan pertauran perundang-undangan
Setiap pemegang saham berhak memperoleh penjelasa lengkap dan informasi akurat
berkenaan dengan penyelenggaran RUPS.
Pemegang saham yang memiliki saham degan klasifikasi yang sama harus diperlakukan
setara (equal treatment)

D. DEWAN KOMISARIS/DEWAN PENGAWAS


 Dewan komisaris/dewan pengawas harus memantau dan memastikan bahwan GCG
tekah diterapkan secara efektif dan berkelanjutan
 Dewan komisaris/dewan pengawas bertanggungjawab dan berwenang melakukan
pengawasan
 Dalam komposisi dewan komisaris/dewan pengawas, paling sedikit 20% merupakan
anggota dewan komisaris/dewan pengawas independen yang ditetapkan dalam
kepuutusan pengangkatannya
 Rapat dewan komisaris/dewan pengawas harus diadakan secara berkala
 Dewan komisaris/dewan pengawas wajib menyampaikan laporan triwulan
perkembangan realisasi indikator pencapaian kinerja kepada para pemegang
sahaam/menteri
 Organ pendukung dewan komisaris/dewan pengawas, terdiri dari:
- Sekretariat dewan komisaris/dewan pengawas, jika diperlukan
- Komite audit
- Komite lainnya, jika diperlukan

E. DIREKSI
1. direksi harus melaksanakan tugasnya dengan itikad baik untuk kepentingan BUMN dan
sesuai dengan maksud dan tujuan BUMN
2. direksi wajib menyiapkan rencana jangka panjang (RJP) yang merupakan rencana
strategis yang memuat sasaran dan tujuan yang hendak dicapai dalam jangka waktu 5
tahun
3. direksi wajib menyiapkan rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) sebagai
penjabaran tahunan dari RJP
4. untuk memenuhi syarat akuntabilitas, keterbukaan, dan tertib administrasi, direksi wajib:
 membuat daftar pemegang saham, daftar khusus, risalah RUPS dan Risalah Rapat
Direksi
 membuat laporan tahunan dan dokumen keuangan perusahaan
 memelihara seluruh daftar, risalah, dan dokumen keuangan perusahaan dan
dokumen lainnya
 menyimpan di tempat kedudukan perusahaan, seluruh daftar, risalah, dokumen
keuangan perusahaan, dan dokumen lainnya.
5. Para anggota direksi dilarang melakukan tindakan yang mempunyai benturan
kepentingan, dan mengambil leuntungan pribadi
6. Rapat direksi harus diadakan secara berkala
7. Direksi, dalam setiap pengambilan keputusan/tindakan, harus mempertimbangkan risiko
harus
8. Direksi wajib membangun dan melaksanakan program manajemen risiko korporasi
secara terpadu yang merupakan bagian dari pelaksanaan program GCG
9. Direksi harus menetapkan suatu sistem pengendalian intern yang efektif untuk
mengamankan investasi dan aset perusahaan
10. Sistem pengendalian intern, antara lain mencakup hal-hal sebagai berikut:
 Lingkungan pengendalian intern dalam perusahaan yang dilaksanakan dengan
disiplin dan terstruktur, yang terdiri dari:
- Integritas, nilai etika dan kompetensi karyawan
- Filosofi dan gaya manajemen
- Cara yang ditempuh manajemen dalam melaksanakan kewenangan dan
tanggung jawabnya
- Pengorganisasian dan pengembangan sumber daya manusia
- Perhatian dan arahan yang dilakukan oleh direksi
 Pengkajian terhadap pengelolaan risiko usaha (risk assessment)
 Aktivitas pengendalian
 Sistem informasi dan komunikasi
 Monitoring
11. Direksi menyusun ketentuan yang mengatur mekanisme pelaporan atas dugaan
penyimpangan pada BUMN yang bersangkutan
12. Direksi wajib menyelenggarakan pengawasan intern
13. Fungsi penawaran intern mencakup:
 Evaluasi atas efektivitas pelaksanaan pengendalian intern, manajemen risiko, dan
proses tata kelola perusahaan
 Pemeriksaan dan penilaian atas efisiensi dan efektivitas di bidang keuangan,
operasioanl, sdm, TI, dan kegiatan lainnya
14. Direksi wajib menyelenggarakan fungsi sekretaris perusahaan
15. Fungsi sekretaris adalah:
 Memastikan bahwa BUMN mematuhi peraturan
 Memberikan informasi yang dibutuhkan direksi dan dewan komisaris/dewan
pengawas
 Sebagai penghubung (liaision officer)
 Menatausahakan serta menyimpan dokumen perusahaan
16. Direksi dapat menetapkan tata kelola teknologi informasi yang efektif

F. AUDITOR EKSTERNAL
1. Laporan keuangan tahunan BUMN diaudit oleh auditor eksternal yang ditunjuk oleh
RUPS/menteri
2. Dewan komisaris/dewan pengawas melalui komite audit melakukan proses penunjukan
calon auditor ekternal sesuai dengan ketentuan pengadaan barang dan jasa masing-
masing BUMN
3. Auditor eksternal tersebut harus bebas dari pengaruh dewan komisaris/dewan pengawas,
direksi dan pihak yang berkepentingan di BUMN (stakeholders)

G. INFORMASI
1. Dewan komisaris/dewan pengawas dan direksi bertanggungjawab kepada perusahaan
untuk menjaga kerahasiaan informasi perusahaan sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan atau ketentuan perusahaan.
2. BUMN wajib mengungkapkan informasi penting dalam laporan tahunan dan laporan
keuangan BUMN sesuai dengan peraturan perundang-undangan

H. KESELAMATAN DAN KESEMPATAN KERJA SERTA PELESTARIAN


LINGKUNGAN
1. Direksi wajib memastikan bahwa aset dan lokasi usaha serta fasilitas BUMN lainnya,
memenuhi peraturan perundang-undangan berkenaan dengan kesehatan dan keselamatan
kerja serta pelestarian lingkungan
2. Direksi harus mempekerjakan, menetapkan gaji serta seluruh keadaan khusus lainnya
yang dilindungi oleh peraturan perundang-undangan

I. HUBUNGAN DENGAN PEMANGKU KEPENTINGAN


BUMN harus menghormati hak pemangku kepentingan yang timbul berdasarkan peraturan
perundang-undangan atau perjanjian yang dibuat oleh BUMN dengan stakeholders

J. ETIKA BERUSAHA, ANTI KORUPSI DAN DONASI


1. Dilarang memberi atau menerima sesuatu yang berharga kepada atau dari pelanggan atau
seorang pejabat pemerintah untuk mempengaruhi atau sebagai imbalan
2. BUMN wajib membuat suatu pedoman tentang perilaku etika
3. Direksi wajib menandatangani pakta integritas
4. Wajib menyampaikan laporan harta kekayaan

K. PROGRAM PENGENALAN BUMN


Kepada anggota dewan komisaris/dewan pengawas dan anggota direksi yang diangkat untuk
pertama kalinya wajib diberikan program pengenalan mengenai BUMN yang bersangkutan.

L. PENGUKURAN TERHADAP GCG


Dalam bentuk
a) Penilaian (assessment)
b) Evaluasi (review)

M. KETENTUAN LAIN
1. Pemberlakukan peraturan menteri ini terhadap persero yang tidak semua sahamnya
dimiliki oleh negara dan perseroan terbatas yang sebagian sahamnya dimiliki oleh negara
dan anak perusahaan anak BUMN
2. Bagi BUMN yang sahamnya telah memiliki oleh masyarakat atau telah melakukan go
public , maka segala ketentuan dalam peraturan menteri ini berlaku sepanjang tidak
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.

BAB IV
ETIKA

A. PENGERTIAN ETIKA
Kata “etika” berasal dari bahasa Yunani kuno, ethos, yang memiliki beberapa arti, yaitu:
kebiasaan, adat: akhlak, watakl; perasaan, sikap, cara berpikir. Etika dapat diartikan sebagai
ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Kata yang cukup
dekat dengan etika adalah “moral” yang berasal dari bahasa latin mos (jamak: mores) yang
berarti juga:kebiasaan atau adat. Jadi etimologi kata “etika” sama dengan etimologi kata
“moral”.
Secara keilmuan, etika merupakan bagian dari filosofi moral, yang ruang lingkupnya
mencakup: mensistematiskan, mempertahankan, dan merekomendasikan konsep-konsep
perilaku yang benar dan salah. Secara umum teori etika yang dikemukakan oleh para filusuf
dalam bidang etika, dikelompokan dalam tiga kategori, yaitu: Meta-etika, etika normatif dan
etika terapan.
Keberadaan aturan etika dalam suatu organisasi atau masyarakat bernegara diharapkan dapat
memberi manfaat:
 Menuntun manajer dalam memutuskan apa yang harus dilakukan pada berbagai
situasi
 Membantu anggota organisasi dalam menentukan respon moral terhadap suatu situasi
atau tindakan.
 Membantu manajer dalam memutuskan bagaimana merespon tuntutan sebagai
stakeholders
 Merupakan faktor kunsi dalam peningkatan kualitas governance
 Menciptakan dan memlihara kepercayaan publik
 Etika dijadikan sebagai dasar penyusunan tata tertib, SOP, peraturan dan hukum
 Adanya monitoring yang efektif

B. ATURAN ETIKA SEKTOR PUBLIK DI INDONESIA


Aturan etika terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tanggal 18 Oktober
2004. PP no.42/2004 menetapkan nilai-nilai dasar yang harus dijunjung tinggi oleh PNS,
meliputi:
 Ketaqwaan kepada Tuhan YME
 Kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila dan UUD 1945
 Semangat nasionalisme
 Mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan
 Tidak diskriminatif
 Penghormatan terhadap HAM
 Semangat jiwa korps
 Profesionalisme, netralitas, dan bermoral tinggi
Dalam pelaksanaan tugas kedinasan dan kehidupan sehari-hari setiap Pegawai Negeri Sipil
wajib bersikap dan berpedoman pada etika dalam bernegara, dalam penyelenggaraan
Pemerintahan, dalam berorganisasi, dalam bermasyarakat, serta terhadap diri sendiri dan
sesama pegawai negeri sipil yang diatur dalam peraturan pemerintah ini.
Sejak tahun 2006 Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara berinisitaif menyusun
Draft Rancangan UU Etika Penyelenggara Negara yang menimbang amanat dari TAP MPR
No VI/MPR/2001. Draft rancangan UU etika Penyelenggara Negara tersebut mengusulkan
delapan prinsip etika sebagai berikut:
1. Kejujuran
2. Teapt janji
3. Transparansi
4. Taat aturan
5. Keadilan
6. Kewajaran dan kepatuhan
7. Tanggung jawab
8. Kehati-hatian
Tahun 2004 DPR RI mengajukan usul inisiatif RUU etika penyelenggara Negara.etika
mengaktualisasikan nilai-nilai agama dan budaya luhur bangsa dalam kehidupan pribadi,
keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara melalui pendidikan formal, non formal, dan
pemberian contoh keteladanan oleh para pemimpin negara, pemimpin bangsa, dan pemimpin
masyarkat. Adaun beberapa contoh perilaku penyelenggara negara yang kurang beretika
anatara lain:
1. Penyelenggara negara seringkai bersikap dan bertindak yang dapat mempengaruhi
penyelesaian perkara di lembaga peradilan
2. Sanksi yang dikenakan kepada pelanggar kode etik kurang efektif dan tidak
menimbulkan efek jera
3. Penyelenggara negara membuat kebijakan dan program kegiatan yang tidak
memperhitungkan efisiensi penggunaan sumberdaya.
Krisis kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara negara harus dijwab dan diantisipasi
dengan membuat perencanaan politik hukum negara dalam bentuk undang-undang yang
responsif.
Berbagai pokok pikiran yang mengemuka dalam penyusunan kode etik penyelenggara negara
adalah sebagai berikut:
Hak-hak umum penyelenggara negara yang perlu dipertimbangkan:
1. Menerima gaji, tunjangan,dan fasilitas lainnya sesuai dengan ketentuan peranturan
perudang-undangan.
2. Mengajukan pembelaan jika diduga melakukan pelanggaran kode etik
3. Mendapatkan pemulihan nama baik dan hak-haknya jika tidak terbukti melanggar
kode etik.
4. Memperoleh penghargaan dari negara jika telah menunjukkan kesetiaan, etika, kerja,
dan prestasi kerja yang baik.
Hak-hak tersebut berkonsekuensi timbulnya kewajiban yang harus dilakukan dan larangan-
larangan yang harus dipatuhi. Kewajiban yang harus dilaksanakan penyelenggara negara
adalah:
1. Transparansi terhadap harta kekayaan sebeblum dan sesudah memangku jabatan
2. Meningkatkan akuntabilitas dalam mengelola kekayaan negara secara transparan,
bersih, dan bebas dari penyalah gunaan kekuasaan.
3. Meningkatkan efektivitas pengawasan intenal dan fungsional penyelenggara negara
4. Melaksanakan prinsip-prinsip penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas KKN
Sedangkan larangan-larangan yang harus dipatuhi penyelenggara negara adalah:
1. Menerima hadiah atau sesuatu, dimana pemberian tersebut bersangkutan dengan
jabatannya
2. Menyalahkan wewenang dan barang-barang, atau fasilitas milik negara
3. Melakukan pungutan-pungutan yang tidak sah
4. Memasuki tempat-tempat yang dapat mencemarkan kehormatan martabat sebagai
penyelenggara negara
5. Melakukan pembohongan kepada publik
C. ETIKA DALAM PROFESI AUDIT INTERNAL
Kode etik audit internal terdiri dari:
 Principles, yaitu prinsip-prinsip etika yang relevan
 Rules of Conduct, yaitu aturan perilaku
STRUKTUR KODE ETIK AUDIT INTERNAL
 Pendahuuan
 Penerapan dan penegakan
 Prinsip-prinsip
 Aturan perilaku
PRINSIPLES (PRINSIP-PRINSIP)
Auditor internal dan lembaga yang memberikan jasa audit internal harus menerapkan dan
menegakkan prinsip-prinsip berikut:
1. Integrity (integritas)
2. Objectivity (objektivitas)
3. Confideantiality (kerahasiaan)
4. Competency (kompetensi)
Dan pengalaman yang diperlukan dalam memberikan jasa audit internal
RULES OF CONDUCT (ATURAN PERILAKU)
1. Integritas
 Harus melaksanakan pekerjaannya dengan jujur, hati-hati dan bertanggung
jawab
 Harus selalu patuh pada hukum
 Tidak boleh terlibat dalam kegiatan ilegal
 Harus menghormati dan mendukung tujuan organisasi yang sah dan etis
2. Objektivitas
 Tidak boleh berpartisipasi dalam kegiatan atau hubungan apapun yang dapat
atau patut diduga dapat mempengaruhi penilaian auditor internal yang adil dan
mempengaruhi pendapat profesionalnya
 Harus mengungkapkan semua fakta material yang diketahuinya
3. Kerahasiaan
 Harus punden dalam menggunakan dan menjaga informasi yang diperoleh
selama tugas
 Tidak boleh menggunakan informasi untuk memperoleh keuntungan pribadi
4. Kompetensi
 Hanya memberikan jasa, yang sesuai pengetahuan, keterampilan dan
pengalaman yang dimilikinya
 Harus melaksanakan jasanya sesuai dengan standar profesi audit internal
 Harus senantiasa meningkatkan keahlian, efektivitas dan kualitas jasa yang
diberikan secara berkelanjutan.