Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

“PEDOMAN UMUM EJAAN BAHASA INDONESIA (PUEBI)”


Diajukan Sebagai
Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia

Oleh :
Lukmannil Hakim 1507115719
Nidya Nur Syafiqoh 1507115285
Rahendra 1507115516

Dosen Pengampu :
Roza Afifah, S.Pd., M.Hum

PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2018
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan karunia, rahmat dan hidayah-Nya. Shalawat beserta salam tidak lupa
penulis sanjungkan kepada junjungan umat, Rasulullah SAW. Penulis merasa
bersyukur karena telah menyelesaikan makalah mengenai “Pedoman Umum Ejaan
Bahasa Indonesia (PUEBI)” sebagai tugas mata kuliah Bahasa Indonesia. Di dalam
makalah ini, penulis menjelaskan mengenai pengertian, ruang lingkup, penulisan
huruf, dan mengenai beberapa penulisan kata (dasar, berimbuhan, dan bentuk
ulang) sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Roza Afifah, S.Pd., M.Hum
selaku dosen mata kuliah Bahasa Indonesia atas bimbingan yang diberikan dalam
pengerjaan tugas makalah ini. Tidak lupa pula penulis berterima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca khususnya dalam
pembelajaran berbahasa Indonesia secara baik dan benar. Penulis menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan kritik dan saran
sebanyak-banyaknya dari pembaca.

Pekanbaru, 3 Maret 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI
JUDUL .......................................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iii
DAFTAR TABEL ........................................................................................ iv
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................. 2
1.3 Tujuan................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN .............................................................................. 3
2.1 Pengertian PUEBI .............................................................................. 3
2.2 Ruang Lingkup ................................................................................... 3
2.3 Pemakaian Huruf ................................................................................ 3
2.3.1 Huruf Abjad ....................................................................................... 3
2.3.2 Huruf Vokal ....................................................................................... 4
2.3.3 Huruf Konsonan ................................................................................. 5
2.3.4 Huruf Diftong ..................................................................................... 7
2.3.5 Gabungan Huruf Konsonan................................................................ 7
2.3.6 Huruf Kapital ..................................................................................... 8
2.3.7 Huruf Miring ...................................................................................... 12
2.3.8 Huruf Tebal ........................................................................................ 13
2.4 Penulisan Kata .................................................................................... 13
2.4.1 Kata Dasar .......................................................................................... 13
2.4.2 Kata Berimbuhan ................................................................................ 14
2.4.3 Bentuk Ulang...................................................................................... 15
BAB III PENUTUP ...................................................................................... 16
3.1. Simpulan............................................................................................. 16
3.2. Saran ................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 17
LAMPIRAN

iii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Huruf abjad berdasarkan PUEBI......................................................... 4


Tabel 2.2 Huruf vokal dan contoh pemakaiannya dalam kata ............................ 5
Tabel 2.3 Huruf konsonan dan contoh pemakaiannya dalam kata...................... 6
Tabel 2.4 Huruf diftong dan contoh pemakaiannya dalam kata ......................... 7
Tabel 2.5 Gabungan huruf konsonan dan contoh pemakaiannya dalam kata ..... 7

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bahasa Indonesia memiliki fungsi dan kedudukan sebagai bahasa nasional
dan bahasa resmi negara Indonesia. Dalam berbahasa Indonesia, tentu tidak lepas
dari kaidah dan aturan penggunaan bahasa yang baik dan benar. Kriteria yang
diperlukan dalam kaidah kebahasaan tersebut antara lain tata bunyi, tata bahasa,
kosakata, ejaan, makna, dan kelogisan. Bahasa Indonesia yang baik dan benar
mengacu pada ragam bahasa yang memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran,
dan bahasa yang baik dan benar adalah bahasa yang sesuai kaidah baku, baik tertulis
maupun lisan (Murtiani et al, 2016).
Sebelum tahun 1900, Indonesia yang sebagian besar penduduknya
berbahasa Melayu, masih belum memiliki sistem ejaan yang dapat digunakan. Lalu
seorang ahli bahasa dari Belanda, Prof. Charles van Ophuijsen bersama dua orang
pakar bahasa, Engkoe Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Thaib Sutan
Ibrahim membuat ejaan bahasa Melayu dengan menggabungkan dasar-dasar ejaan
Latin dan ejaan Belanda. Ejaan van Ophuijsen dianggap kurang berhasil
dikarenakan kesulitan dalam memelayukan tulisan beberapa kata dari bahasa Arab
yang memiliki warna bunyi bahasa khas. Namun, oleh van Ophuijsen, kesulitan
tersebut terus diperbaiki dan disempurnakan, sehingga pada tahun 1926, sistem
ejaan menjadi bentuk yang tetap. Semenjak itu sistem ejaan terus berkembang dan
disempurnakan, muncul Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi, kemudian Ejaan
Pembaharuan, Ejaan Melindo, lalu Ejaan Baru, Ejaan Rumi Bersama, dan Ejaan
yang Disempurnakan (EYD).
Pada 26 November 2015, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia mengubah Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan (PUEYD)
menjadi Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) sebagai pedoman
penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Perubahan tersebut bukanlah
sesuatu yang tidak biasa, sebagaimana pendapat Chaer (2007) bahwa bahasa
bersifat dinamis (as cited in Yanti, 2016). Bahasa tidak pernah lepas dari berbagai
aspek kehidupan manusia semenjak keberadaan manusia sebagai makhluk yang

1
berbudaya dan bermasyarakat. Kehidupan manusia akan terus berubah dan tidak
tetap, karena eratnya keterkaitan dan keterikatan manusia dengan bahasa, maka
bahasa pun akan terus ikut berubah, tidak tetap, dan tidak statis.
Bahasa Indonesia terus mengalami perkembangan, terutama yang berkaitan
dengan ejaan. Ejaan adalah kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata,
kalimat, dan sebagainya) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan
tanda baca (Rahmadi, 2017). Ejaan bahasa Indonesia yang digunakan saat ini
menganut tulisan fonemis. Sistem tulisan fonemis merupakan sistem tulisan yang
menggunakan satu lambang atau satu huruf saja untuk satu fonem secara konsisten.
Perubahan bahasa dapat terjadi pada seluruh tingkatan, baik fonologi,
morfologi, sintaksis, semantik, ataupun leksikon. Perubahan pada tingkat semantik
dan leksikon yang paling terlihat, sebab hampir setiap saat muncul kata-kata baru
sebagai akibat dari perubahan ilmu dan budaya, atau juga kemunculan kata-kata
lama dengan makna yang baru. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
serta kebudayaan terus terjadi, secara otomatis pula akan bermunculan konsep-
konsep baru yang disertai wadah penampungnya, yaitu kata-kata dan istilah-istilah
baru. Jika kelahiran konsep tersebut belum disertai dengan wadahnya, maka
manusia sendiri yang akan menciptakan istilahnya (Chaer, 2007, as cited in Yanti,
2016).

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah pengertian dari Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
(PUEBI)?
2. Apa saja ruang lingkup dari PUEBI?
3. Bagaimanakah aturan penulisan huruf berdasarkan PUEBI?
4. Bagaimanakah aturan penulisan kata berdasarkan PUEBI?

1.3 Tujuan
1. Mendeskripsikan pengertian dari PUEBI.
2. Mendeskripsikan ruang lingkup dari PUEBI.
3. Mendeskripsikan aturan penulisan huruf berdasarkan PUEBI.
4. Mendeskripsikan aturan penulisan kata berdasarkan PUEBI.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)


Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) adalah tata bahasa dalam Bahasa Indonesia
yang mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai dari pemakaian
huruf, penulisan kata, penulisan unsur serapan, serta penggunaan tanda baca
(Murtiani et al, 2016). Dalam menulis berbagai karya ilmiah, diperlukan aturan tata
bahasa yang menyempurnakannya sebab karya tersebut memerlukan tingkat
kesempurnaan yang mendetail. Karya ilmiah tersebut dapat berupa artikel, resensi,
profil, karya sastra, jurnal, skripsi, tesis, disertasi, dan sebagainya. Sehingga PUEBI
dapat diartikan sebagai suatu ketentuan dasar secara menyeluruh yang berisi acuan
penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar.

2.2 Ruang Lingkup


Salah satu letak perbedaan antara PUEBI dengan PUEYD adalah adanya
penambahan ruang lingkup. Pada PUEYD hanya terdapat tiga ruang lingkup, yaitu
pemakaian huruf, penulisan kata, dan pemakaian tanda baca. Sementara pada
PUEBI ditambahkan satu bagian ruang lingkup yaitu penulisan unsur serapan. Pada
makalah ini, penulis hanya membahas dua bagian ruang lingkup yaitu pemakaian
huruf dan penulisan kata.

2.3 Pemakaian Huruf


2.3.1 Huruf Abjad
Huruf adalah tanda aksara dalam tata tulis yang melambangkan bunyi
bahasa, sementara abjad merupakan kumpulan atau sistem aksara itu sendiri
berdasarkan urutan yang umum dan baku dalam bahasa tertentu. Ejaan Bahasa
Indonesia terdiri dari 26 huruf abjad, yaitu sebagai berikut.

3
Tabel 2.1 Huruf abjad berdasarkan PUEBI

2.3.2 Huruf Vokal


Huruf vokal merupakan huruf yang pelafalan bunyinya dihasilkan oleh arus
udara yang tidak mengalami rintangan dan kualitasnya ditentukan oleh tiga faktor:
tinggi-rendahnya posisi lidah, bagian lidah yang dinaikkan, dan bentuk bibir pada
pembentukan vokal itu. Huruf-huruf vokal pada bahasa Indonesia terdiri dari lima
huruf, yaitu a, e, i, o, dan u.

4
Tabel 2.2 Huruf vokal dan contoh pemakaiannya dalam kata
Contoh Pemakaian dalam Kata
Huruf Vokal
Posisi Awal Posisi Tengah Posisi Akhir
a asli kari busa
e* elak perak pare
empang nenek -
elang pecah tipe
i ipar sikat pari
o oli bola saldo
u uang suka baru
Keterangan :
∗ Huruf e mewakili dua fonem, yaitu /e/ dan /ə/ beserta alofonnya. Fonem /e/
memiliki dua alofon, yaitu [e] dan [ɛ]. Fonem /e/ dilafalkan [e] jika terdapat
pada suku kata buka dan tidak diikuti suku kata yang mengandung alofon [ɛ]
(Alwi et al, 2008). Fonem /e/ dilafalkan [ɛ] jika terdapat pada suku kata tutup
akhir. Fonem /ə/ hanya memiliki satu alofon, yaitu [ə]. Pada PUEBI, digunakan
tiga diakritik yang mewakili fonem beserta alofon dari huruf e sebagai panduan
pengucapan yang benar apabila suatu ejaan kata menimbulkan keraguan.
a. Diakritik (é) dilafalkan [e].
Misalnya:
Masakan Ibu sangat enak (énak).
b. Diakritik (è) dilafalkan [ɛ].
Misalnya:
Ayah saya senang memelihara bebek (bèbèk).
c. Diakritik (ê) dilafalkan [ə].
Misalnya:
Akibat perkatannya, timbul pertanyaan di benak (bênak) Adi.

2.3.3 Huruf Konsonan


Huruf konsonan adalah huruf yang pelafalan bunyinya dihasilkan dengan
menghambat aliran udara pada salah satu tempat di saluran suara di atas glotis. Pada
pelafalan konsonan, ada tiga faktor yang terlibat: keadaan pita suara, penyentuhan

5
atau pendekatan berbagai alat ucap, dan cara alat ucap itu bersentuhan atau
berdekatan (Alwi et al, 2008). Huruf-huruf konsonan pada bahasa Indonesia
dilambangkan oleh 21 huruf yaitu b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x y,
dan z.
Tabel 2.3 Huruf konsonan dan contoh pemakaiannya dalam kata
Contoh Pemakaian dalam Kata
Huruf Konsonan
Posisi Awal Posisi Tengah Posisi Akhir
b benda rebut akrab
c cari kecap -
d diri adab akad
f foto lafal huruf
g gurita lega analog
h halal suhu kerah
j jimat sajak mikraj
k kita laksa tegak
l lepas malas bekal
m merah kemah suram
n nila pena tangan
p perang siapa setiap
q* quran iqra -
r rata beras bubur
s sampah kasar ringkas
t tarik mentah adat
v voli lava molotov
w warna awan takraw
x* xenon - -
y yakin sayur -
z zat rezim juz
Keterangan :
∗ Huruf q dan x khusus digunakan untuk nama diri dan keperluan ilmu
pengetahuan. Huruf x pada posisi awal kata dilafalkan [s].

6
2.3.4 Huruf Diftong
Huruf diftong merupakan huruf vokal yang berubah kualitasnya pada saat
pengucapannya dan dalam sistem tulisannya dilambangkan oleh dua huruf vokal.
Kedua huruf vokal tersebut tidak dapat dipisahkan karena tergolong dalam satu
suku kata. Diftong berbeda dengan deretan vokal (Alwi et al, 2008), karena setiap
huruf vokal pada deretan vokal mendapat hembusan yang sama atau hampir sama,
dan kedua huruf vokal tersebut berada dalam dua suku kata yang berbeda. Contoh
huruf diftong dalam bahasa Indonesia adalah ai, au, ei, dan oi.
Tabel 2.4 Huruf diftong dan contoh pemakaiannya dalam kata
Contoh Pemakaian dalam Kata
Huruf Diftong
Posisi Awal Posisi Tengah Posisi Akhir
ai - balairung rantai
au aura saudara imbau
ei eigendom geiser survei
oi - boikot tomboi

2.3.5 Gabungan Huruf Konsonan


Gabungan huruf konsonan kh, ng, ny, dan sy dalam bahasa Indonesia
melambangkan satu bunyi konsonan. Gabungan huruf (ny) dan (sy) melambangkan
konsonan palatal, sedangkan konsonan velar dilambangkan oleh gabungan huruf
(ng) dan (kh).
Tabel 2.5 Gabungan huruf konsonan dan contoh pemakaiannya dalam kata
Gabungan Contoh Pemakaian dalam Kata
Huruf Konsonan Posisi Awal Posisi Tengah Posisi Akhir
kh khasiat akhir syekh
ng ngilu angka belang
ny nyeri minyak -
sy syair isya arasy

7
2.3.6 Huruf Kapital
Huruf kapital merupakan huruf yang memiliki bentuk khusus dan berukuran
lebih besar dari huruf biasa. Berikut adalah ketentuan-ketentuan penggunaan huruf
kapital.
1. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama pada setiap awal kalimat.
Misalnya:
Mengapa kita harus rajin belajar?
Dia menyelesaikan tugas itu tepat waktu.
2. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama setiap unsur nama seseorang,
termasuk julukan.
Misalnya:
Gorys Keraf
Pangeran Diponegoro
Catatan:
a. Huruf kapital tidak digunakan sebagai huruf pertama nama orang yang
merupakan nama jenis atau satuan ukuran.
Misalnya:
15 newton
ikan mujair
b. Huruf kapital tidak digunakan untuk menuliskan huruf pertama kata
yang bermakna ‘anak dari’, seperti bin, binti, boru, dan van, atau huruf
pertama kata tugas (di, ke, dan, dari, yang, dan untuk).
Misalnya:
Ibrahim Aziz bin Muaz
Esther boru Simanjuntak
3. Huruf kapital digunakan pada awal kalimat di dalam petikan langsung.
Misalnya:
“Apa gunanya?” tanya Tom kepada Ella.
“Katakan kepadanya,” kata Shira kepadaku, “lebih baik jujur saja.”
4. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama pada setiap kata nama agama,
kitab suci, dan Tuhan, termasuk sebutan dan kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya:

8
Islam, Kristen, Hindu, Buddha, dan Katolik adalah lima agama yang diakui
di Indonesia.
Ya Tuhan, tolong ampuni kami.
5. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama setiap unsur nama gelar
kehormatan, keturunan, keagamaan, atau akademik yang diikuti nama orang,
termasuk gelar akademik yang mengikuti nama orang.
Misalnya:
Nabi Muhammad SAW
Raden Mas Soewardi Soerjaningrat
6. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama setiap unsur nama gelar
kehormatan, keturunan, keagamaan, profesi, serta nama jabatan dan
kepangkatan yang dipakai sebagai sapaan.
Misalnya:
Silakan duduk, Yang Mulia.
Terima kasih, Dokter.
7. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama setiap unsur nama jabatan dan
pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama
orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya:
Wakil Presiden Jusuf Kalla
Gubernur Riau
8. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan
bahasa.
Misalnya:
bahasa Indonesia
suku Dayak
Catatan:
Nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang digunakan sebagai bentuk
dasar kata turunan tidak ditulis dengan huruf awal kapital.
Misalnya:
pengindonesiaan kata asing
kebali-balian

9
9. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan
hari raya atau hari besar keagamaan.
Misalnya:
bulan Juni tahun Masehi
hari Selasa hari Nyepi
10. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama setiap unsur nama peristiwa
sejarah.
Misalnya:
Agresi Militer Belanda II
Perjanjian Renville
11. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama nama geografi.
Misalnya:
Kepulauan Seribu Sungai Siak
Kecamatan Tampan Jalan Utama
Catatan:
a. Huruf pertama nama geografi yang bukan nama diri tidak ditulis dengan
huruf kapital.
Misalnya:
menyeberangi jalan
mendaki gunung
b. Huruf pertama nama diri geografi yang digunakan sebagai nama jenis
tidak ditulis dengan huruf kapital.
Misalnya:
terong belanda (Solanum betaceum)
kacang arab (Cicer arietinum)
Nama yang disertai nama geografi dan merupakan nama jenis dapat
dikontraskan atau disejajarkan dengan nama jenis lain dalam
kelompoknya.
Misalnya:
Ada beberapa jenis salak di Indonesia, antara lain salak ambarawa,
salak bali, salak banjarnegara, salak bongkok, salak hutan, dan salak
pondoh.

10
Contoh berikut bukan nama jenis.
Pada mata pelajaran Seni Budaya hari ini, para murid diajak
menyanyikan lagu daerah Riau, lagu daerah Sumatera Barat, dan
lagu daerah Aceh.
12. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua
unsur bentuk ulang sempurna) dalam nama negara, lembaga, badan, organisasi,
atau dokumen, kecuali kata tugas.
Misalnya:
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Komisi Pemberantasan Korupsi
13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata (termasuk unsur kata
ulang sempurna) di dalam judul buku, karangan, artikel, makalah, nama
majalah, dan surat kabar, kecuali kata tugas, yang tidak terletak pada posisi
awal.
Misalnya:
Majalah Bobo memberikan informasi yang bermanfaat bagi anak-anak.
Dia sedang membaca novel Dusta di Balik Penjelajahan Columbus.
14. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar,
pangkat, atau sapaan.
Misalnya:
S.T. sarjana teknik
Nn. nona
15. Huruf kapital digunakan sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan
kekerabatan, seperti bapak, ibu, kakak, dan paman, serta kata atau ungkapan
lain yang dipakai dalam penyapaan atau pengacuan.
Misalnya:
“Wajah Kakak terlihat pucat, apa Kakak sakit?” tanya Raisa.
Ibu berkata kepadaku, “Tolong bersihkan sayuran itu, Nak.”
Catatan:
a. Istilah kekerabatan berikut bukan merupakan penyapaan atau
pengacuan.
Misalnya:

11
Ibu saya memiliki satu orang kakak dan tiga orang adik.
Sejak kecil, dia sudah tinggal bersama dengan neneknya.
b. Kata ganti Anda ditulis dengan huruf awal kapital.
Misalnya:
Bagaimana Anda bisa menyelesaikan pekerjaan itu dengan baik?
Saya tidak tahu kalau Anda juga suka bermain basket.

2.3.7 Huruf Miring


Huruf miring merupakan huruf yang letaknya miring, tetapi tidak sama
dengan tulisan tangan pada kursif. Berikut adalah ketentuan-ketentuan penggunaan
huruf miring.
1. Huruf miring digunakan untuk menuliskan judul buku, nama majalah, atau
nama surat kabar yang dikutip dalam tulisan, termasuk dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata terdiri atas novel Laskar
Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov.
Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Pedoman Umum Pembentukan
Istilah. Jakarta: Balai Pustaka.
2. Huruf miring digunakan untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian
kata, kata, atau kelompok kata dalam kalimat.
Misalnya:
Penulisan kata yang benar adalah dekret, bukan dekrit.
Jelaskan maksud dari peribahasa esa hilang dua terbilang!
3. Huruf miring digunakan untuk menuliskan kata atau ungkapan dalam bahasa
daerah atau bahasa asing.
Misalnya:
Go Gek Cap Lak (upacara bakar tongkang) adalah ritual tahunan
masyarakat di Bagansiapiapi yang sudah terkenal hingga di mancanegara.
Ora et labora memiliki makna ‘berdoa dan bekerja’.
Catatan:
a. Nama diri, seperti nama orang, lembaga, atau organisasi, dalam bahasa
asing atau bahasa daerah tidak ditulis dengan huruf miring

12
b. Dalam naskah tulisan tangan atau mesin tik (bukan komputer), bagian
yang akan dicetak miring ditandai dengan garis bawah.
c. Kalimat atau teks berbahasa asing atau berbahasa daerah yang dikutip
secara langsung dalam teks berbahasa Indonesia ditulis dengan huruf
miring.

2.3.8 Huruf Tebal


Huruf tebal adalah huruf yang dicetak tebal atau vet. Berikut adalah
ketentuan-ketentuan penggunaan huruf tebal.
1. Huruf tebal digunakan untuk menegaskan bagian tulisan yang telah ditulis
dengan huruf miring.
Misalnya:
Kata yang memiliki akhiran -is adalah kata sifat. Contohnya akhiran -is pada
kata ekonomis yang berarti ‘bersifat ekonomi (hemat)’.
Kata sativa pada nama ilmiah padi yaitu Oryza sativa menunjukkan species.
2. Huruf tebal dapat digunakan untuk menegaskan bagian-bagian karangan,
seperti judul buku, bab, atau subbab.
Misalnya:
BAB I PENDAHULUAN
BAB II PEMBAHASAN
BAB III PENUTUP

2.4 Penulisan Kata


2.4.1 Kata Dasar
Kata adalah satuan unit terkecil dari bahasa yang dapat berdiri sendiri dan
tersusun dari morfem tunggal. Kata merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan
pikiran yang digunakan dalam berbahasa, baik diucapkan maupun dituliskan. Kata
dasar dapat diartikan sebagai suatu kata yang menjadi dasar bentukan kata yang
lebih besar dan bahkan menjadikan kata tersebut memiliki makna yang berbeda.
Misalnya:
Kakek itu sangat kurus.
Dia pergi ke pasar

13
2.4.2 Kata Berimbuhan
Kata berimbuhan atau kata turunan adalah kata-kata yang sudah berubah
bentuk dan makna disebabkan pemberian imbuhan berupa awalan (afiks), akhiran
(sufiks), sisipan (infiks), atau awalan-akhiran (konfiks). Kata berimbuhan terbagi
menjadi:
1. Imbuhan yang ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.
Misalnya:
bersalah
tarikan
kemilau
persembahan
Catatan:
Imbuhan yang diserap dari unsur asing seperti -isme, -man, -wan, atau -wi,
ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.
Misalnya:
patriotisme
budiman
sejarawan
manusiawi
2. Bentuk terikat ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
Misalnya:
adikuasa
antarnegara
dwibahasa
prakarya
Catatan:
a. Bentuk terikat yang diikuti oleh kata yang berhuruf awal kapital atau
singkatan yang berupa huruf kapital dirangkaikan dengan tanda hubung
(-).
Misalnya:
non-Asia
pan-Amerika

14
pro-Pemerintah
b. Bentuk maha yang diikuti kata turunan yang mengacu pada nama atau
sifat Tuhan ditulis terpisah dengan huruf awal kapital.
Misalnya:
Puji dan syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih
dan Penyayang.
c. Bentuk maha yang diikuti kata dasar yang mengacu kepada nama atau
sifat Tuhan, kecuali kata esa, ditulis serangkai.
Misalnya:
Tuhan Yang Mahatahu apa yang terbaik bagi kita.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa terus melindungi kalian semua.

2.4.3 Bentuk Ulang


Bentuk ulang adalah kata dasar yang mengalami pengulangan (reduplikasi),
hingga membentuk makna yang berbeda (Murtiani et al, 2016). Bentuk ulang ditulis
dengan menggunakan tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya. Berdasarkan
pendapat Badudu (1983), kata ulang menurut bentuknya ada beberapa macam,
yaitu:
a. Kata ulang dengan mengulang seluruh morfem: kuda-kuda, sakit-sakit, berapa-
berapa, perubahan-perubahan.
b. Kata ulang berimbuhan: berjalan-jalan, gigi-geligi, anak-anakan.
c. Kata ulang yang mengalami perubahan bunyi: bolak-balik, serta-merta, serba-
serbi.
d. Kata ulang dwipurwa: lelaki, tetamu, leluhur, tetanaman.
Catatan:
Bentuk ulang gabungan kata ditulis dengan mengulang unsur pertama.
Misalnya:
buku pelajaran → buku-buku pelajaran
mobil mewah → mobil-mobil mewah

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
1. Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) adalah tata bahasa dalam Bahasa
Indonesia yang mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan,
mulai dari pemakaian huruf, penulisan kata, penulisan unsur serapan,
serta penggunaan tanda baca.
2. Ruang lingkup PUEBI adalah pemakaian huruf, penulisan kata,
pemakaian tanda baca, dan penulisan unsur serapan.
3. Huruf adalah tanda aksara dalam tata tulis yang melambangkan bunyi
bahasa. Pemakaian huruf yang diatur dalam PUEBI antara lain: huruf
abjad, huruf vokal, huruf konsonan, huruf diftong, gabungan huruf
konsonan, huruf kapital, huruf miring, dan huruf tebal.
4. Kata adalah satuan unit terkecil dari bahasa yang dapat berdiri sendiri
dan tersusun dari morfem tunggal. Kata merupakan perwujudan
kesatuan perasaan dan pikiran yang digunakan dalam berbahasa, baik
diucapkan maupun dituliskan. Pedoman penulisan kata yang diatur oleh
PUEBI adalah kata dasar, kata berimbuhan, bentuk ulang, dan lain-lain.

3.2 Saran
Setelah membaca makalah ini, penulis menyarankan agar pembaca:
1. Memahami PUEBI dan menerapkannya dalam berbahasa Indonesia
yang baik dan benar.
2. Menjadikan PUEBI sebagai patokan dalam menulis berbagai karya
ilmiah.

16
DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, dkk. 2008. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. edisi ketiga. Jakarta:
Balai Pustaka.
Badudu, J.S. 1983. Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta: PT. Gramedia.
Murtiani, Anjar, dkk. 2016. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Yogyakarta:
Araska.
Permendikbud Nomor 50 Tahun 2015. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.
Jakarta: Kemendikbud.
Rahmadi, Duwi. 2017. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia & Kesalahan
Berbahasa. Solo: Genta Smart Publisher.
Yanti, Prima Gusti, dkk. 2016. Bahasa Indonesia Konsep Dasar dan Penerapan.
Jakarta: PT. Grasindo.

17
LAMPIRAN