Anda di halaman 1dari 15

BAB I

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
- Nama : Tn. R
- Jenis kelamin : Laki - laki
- Umur : 65 Tahun
- Alamat : Ds. Ladaka
- Status Perkawinan : Menikah
- Tanggal Pemeriksaan : 26 Februari 2018

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama :
Bercak kemerahan pada seluruh tubuh

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang ke RS dengan keluhan muncul bercak merah pada hampir seluruh
tubuh secara tiba- tiba sejak 1 bulan yang lalu yang dirasakan setelah mandi di
pantai dekat rumah pasien dan keluhan semakin memberat sejak 3 hari sebelum
masuk RS. Awalnya timbul bercak berwarna merah pada tangan kemudian
keseluruh tubuh kemudian muncul bagian putih diantara bercak merah. Pasien
tidak merasakan gatal , nyeri pada bercak – bercak maupun mati rasa pada
kemerahan yang timbul. Namun pada kaki dan tangan pasien merasa kram sejak
timbulnya bercak kemerahan . Satu minggu setelah timbulnya bercak kemerahan
pasien sempat demam namun sembuh setelah meminum obat. Keluhan ini baru
pertama kali dirasakan pasien dan belum pernah di obati. Sebelumnya pasian
tidak pernah memakai kosmetik apapun ataupun cream wajah, pasien juga tidak
mengkonsumsi obat atau jamu.

1
Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien mengaku baru mengalami keluhan seperti ini untuk pertamakalinya, dan
belum pernah diobati, riwayat hipertensi tidak ada, riwayat diabetes mellitus tidak
ada, riwayat asam urat tidak ada, riwayat alergi makanan tidak ada, riwayat alergi
obat juga tidak diketahui.

Riwayat Keluarga :
Dalam keluarga tidak ada yang menderita keluhan yang sama, namun pasien
mengaku di lingkungan tempat tinggal ada tetangga yang mengalami keluhan
yang sama dengan pasien.

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. Status Generalisata
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis
Status Gizi : Gizi Baik

B. Vital Sign
TD : 130/90 mmHg, N : 72 x/menit, P : 22 x/menit, S: 36,6oC

C. Ujud Kelainan kulit


- Kepala : tidak ada ujud kelinan kulit
- Wajah : tampak makula eritema dan skuama
- Telinga : tidak ada ujud kelainan kulit.
- Leher : tampak makula eritema dan skuama
- Dada : tampak makula eritema, palaque dan skuama
- Punggung : tampak makula eritema, plaque dan skuama
- Perut : tampak makula eritema, plaque dan skuama

2
- Genetalia : tidak ada ujud kelainan kulit.
- Inguinal : tampak macula eritema dan skuama
- Bokong : tampak makula eritema dan skuama
- Ekstremitas atas : tampak makula eritema dan skuama
- Ekstremitas bawah :tampak makula eritema, makula hipopigmentasi
dan skuama
D. Pemeriksaan Khusus
a. Pemeriksaan Sensorik dan Motorik Saraf Perifer
 Nervus Ulnaris : tidak terdapat gangguan sensibilitas dan motorik dan
deformitas
 Nervus Medianus : tidak terdapat gangguan sensibilitas, motorik dan
deformitas
 Nervus Radialis : tidak terdapat gangguan sensibilitas, motorik dan
deformitas
 Nervus Poplitea Lateralis : tidak terdapat gangguan sensibilitas, motorik dan
deformitas
 Nervus tibialis posterior : tidak terdapat gangguan sensibilitas, motorik dan
deformitas
 Nervus fasialis : tidak terdapat gangguan sensibilitas, motorik dan
deformitas
 Nervus Trigeminus : tidak terdapat gangguan sensibilitas, motorik dan
deformitas
 Nervus auricularis magnus : tidak terdapat gangguan sensibilitas, nyeri
perabaan dan deformitas

b. Pemeriksaan Sensibilitas
Hipoanastesi pada bagian lesi

3
IV. DOKUMENTASI KASUS

4
5
6
V. RESUME
Pasien laki – laki usia 65 tahun masuk RS dengan keluhan muncul bercak merah
hampir seluruh tubuh secara tiba- tiba sejak 1 bulan yang lalu yang semakin
memberat sejak 3 hari sebelum MRS. Tampak makula eritema, plaque dan
squama ukuran lesi plakat dan bentuk lesi tidak teratur yang penyebarannya
universalis. Pada pemeriksaan neurologis tidak ditemukan adanya kelainan
neurologis namun ditemukan hipoanastesi pada bagian lesi.

VI. DIAGNOSIS KERJA


Morbus Hansen Type MB

VII. DIAGNOSIS BANDING


DKA
ENL
Psoriasis

VIII. ANJURAN PEMERIKSAAN


Pemeriksaan BTA
Pemeriksaan Bakterioskopik ( kerokan jaringan kulit)
Pemeriksaan Histopatologik

IX. PENATALAKSANAAN
1. Non-medikamentosa
Istirahat yang cukup (Tirah baring)
Menjaga kebersihan tubuh dan pakaian
2. Medikamentosa
IUVD RL 20 tpm
Ceftriaxon 1 gram/12 jam/IV
Neurodex 1 amp/hari/IV

7
Prednisolon 3 x 5 mg
Desoxymethason 0,25 % cream 2 x1

I. PROGNOSIS
a. Qua ad vitam : dubia ad bonam
b. Qua ad functionam : dubia ad bonam
c. Qua ad sanationam : dubia ad bonam
d. Qua ad cosmetikam : dubia ad bonam

BAB II

8
DISKUSI KASUS

Diagnosis pada kasus ini yaitu Morbus Hansen tipe Mid borderline (Multibasiler)
yang ditegakan berdasarkan anamesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Dari anamnesis didapatkan keluhan muncul bercak merah pada hampir seluruh
tubuh secara tiba- tiba sejak 1 bulan yang lalu dan keluhan semakin memberat sejak 3
hari sebelum masuk RS. Awalnya timbul bercak berwarna merah pada tangan
kemudian keseluruh tubuh kemudian muncul bagian putih diantara bercak merah.
Pasien tidak merasakan gatal , nyeri pada bercak – bercak maupun mati rasa pada
kemerahan yang timbul. Namun pada kaki dan tangan pasien merasa kram sejak
timbulnya bercak kemerahan . Satu minggu setelah timbulnya bercak kemerahan
pasien sempat demam namun sembuh setelah meminum obat. Keluhan ini baru
pertama kali dirasakan pasien dan belum pernah di obati. Sebelumnya pasian tidak
pernah memakai kosmetik apapun ataupun cream wajah, pasien juga tidak
mengkonsumsi obat atau jamu.
Diagnosis penyakit morbus Hansen didasarkan gambaran klinis, bakterioskopis,
dan histopatologis. Di antara ketiganya, diagnosis secara klinislah yang terpenting dan
paling sederhana. Diagnosis klinik seseorang harus didasarkan hasil pemeriksaan
kelainan klinis seluruh tubuh orang tersebut.Sebaliknya jangan hanya didasarkan
pemeriksaan sebagian tubuh saja, sebab ada kemungkinan diagnosis klinis di wajah
berbeda dengan di tubuh, lengan, tungkai, dan sebagainya.bahkan pada satu lesi pun
dapat berbeda tipenya.
Dimulai dengan inspeksi, palpasi, lalu dilakukan pemeriksaan yang
menggunakan alat sederhana.18 Kelainan kulit pada penyakit kusta tanpa komplikasi
dapat hanya berbentuk makula saja, infiltrat saja, atau keduanya. Kalau secara inspeksi
mirip penyakit lain, ada tidaknya anastesia sangat banyak membantu penentuan
diagnosis, meskipun tidak selalu jelas. Hal ini dengan mudah dilakukan dengan
menggunakan jarum terhadap rasa nyeri, kapas terhadap rasa raba, dan kalu masih
belum jelas pula dengan kedua cara tersebut barulah pengujian terhadap rasa suhu,

9
yaitu panas dan dingin. Mengenai saraf perifer yang perlu diperhatikan ialah
pembesaran, konsistensi, dan nyeri atau tidak. Hanya beberapa saraf superfisial yang
dapat dan perlu diperiksa, yaitu N. fasialis, N. aurikularis magnus, N. radialis, N.
ulnaris, N. medianus, N. politea lateralis, dan N. tibialis posterior. Bagi tipe ke arah
lepromatosa kelainan saraf biasanya bilateral dan menyeluruh, sedang bagi tipe
tuberkuloid, kelainan sarafnya lebih terlokalisasi mengikuti tempat lesinya.
WHO membagi klasifikasi Morbus Hansen berdasarkan jumlah lesi dan hasil
pemeriksaan bakterioskopik pada kulit, yaitu Pausi Basiler (PB) dengan jumlah satu –
lima lesi dan hasil pemeriksaan bakteri negatif. Sedangkan Multi Basiler (MB) dengan
jumlah lebih dari lima lesi dan hasil pemeriksaan bakteri positif.

Tabel 1. Bagan Diagnosis Klinis Menurut WHO (1995)


PB MB
- Lesi kulit (Makula datar, - 1-5 lesi - > 5 lesi
papul yang meninggi, - Hipopigmentasi/eritema, - Distribusi lebih
nodus) - Distribusi tidak simetris simetris
- Hilangnya sensasi yang - Hilangnya sensasi
jelas kurang jelas
- Kerusakan saraf - Hanya satu cabang saraf - Banyak cabang saraf
(menyebabkan hilangnya
sensasi/kelemahan otot
yang dipersarafi oleh
saraf yang terkena

Tabel 2. Gambaran Klinis, Bakteriologik, dan Imunologik Morbus Hansen Tipe MB


SIFAT LEPROMATOSA BORDERLINE MID
(LL) LEPROMATOSA BORDERLINE
(BL) (BB)

10
Lesi
- Bentuk Makula, Infiltrat difus, Makula, Plakat, Plakat, Dome-
Papul, Nodus Papul shaped (kubah),
punched – out
- Jumlah Tidak terhitung, Dapat dihitung.
praktis tidak ada kulit Sukar dihitung, Kulit sehat jelas ada
- Distribusi sehat masih ada kulit sehat Asimetris
- Permukaan Simetris Hampir simetris Agak kasar, agak
Halus berkilat Halus berkilat berkilat
- Batas Agak jelas
- Anastesia Tidak jelas Agak jelas Lebih jelas
Biasanya tidak jelas Tak jelas
BTA
- Lesi kulit Banyak (ada globus) Banyak Agak banyak
- Sekret hidung Banyak (ada globus) Biasanya negatif Negatif
Tes Lepromin Negatif Negatif Negatif

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang sehingga diagnosis


pada kasus ini yaitu morbus Hansen atau yang lebih sering di dengar dengan kusta
dengan tanda cardinal yaitu kelainan kulit yang mati rasa meskipun pemeriksaan BTA
pada pasien ini belum memiliki hasil dan penebalan saraf tidak ditemukan

Pada kasus ini didiagnosis banding dengan dermatitis kontak alergi karena
memiliki lesi eritema akan tetapi pada pasien ini tidak ada riwayat penggunaan bahan
kimia, kemudian untuk diagnosis banding ENL karena gejala klinis yang ditimbulkan
hampir sama berupa nodus eritema namun pada pasien tidak terdapat nyeri dengan
tempat predileksi dilengan dan tungkai. Untuk diagnosis psoriasis gambran klinis
berupa plak eritematosa diliputi skuama putih disertai titik perdarahan bila skuama
dilepas serta disertai adanya rasa gatal namun pada pasien tidak ditemukan adanya rasa
gatal pada lesi

11
Tujuan utama pengobatan kusta, yaitu memutuskan mata rantai penularan
untuk menurunkan insiden penyakit, mengobati dan menyembuhkan penderita, serta
mencegah timbulnya penyakit. Regimen pengobatan yang dapat diberikan sebagai
antikusta MDT tipe multibasilar, yaitu Dapson, Rifampisin, Lamprene (Klofazimin).

Regimen pengobatan kusta disesuaikan dengan yang direkomendasikan oleh


WHO/DEPKES RI (1981). Untuk itu klasifikasi kusta disederhanakan menjadi:
1. Pausi Basiler (PB)
2. Multi Basiler (MB)
Dengan memakai regimen pengobatan MDT/= Multi Drug Treatment.
Kegunaan MDT untuk mengatasi resistensi Dapson yang semakin meningkat,
mengatasi ketidakteraturan penderita dalam berobat, menurunkan angka putus obat
pada pemakaian monoterapi Dapson, dan dapat mengeliminasi persistensi kuman kusta
dalam jaringan.3,4
Regimen Pengobatan Kusta tersebut (WHO/DEPKES RI).PB dengan lesi
tunggal diberikan ROM (Rifampicin Ofloxacin Minocyclin). Pemberian obat sekali
saja langsung RFT/=Release From Treatment. Obat diminum di depan petugas. Anak-
anak Ibu hamil tidak di berikan ROM. Bila obat ROM belum tersedia di Puskesmas
diobati dengan regimen pengobatan PB lesi (2-5).Bila lesi tunggal dgn pembesaran
saraf diberikan: regimen pengobatan PB lesi (2-5).

Tabel 3. Regimen pengobatan kusta dengan lesi tunggal (ROM) menurut


WHO/DEPKES RI

Rifampicin Ofloxacin Minocyclin

Dewasa 600 mg 400 mg 100 mg

(50-70 kg)

12
Anak 300 mg 200 mg 50 mg

(5-14 th)

PB dengan lesi 2 – 5. Lama pengobatan 6 dosis ini bisa diselesaikan selama (6-
9) bulan. Setelah minum 6 dosis ini dinyatakan RFT (Release From Treatment) yaitu
berhenti minum obat.

Tabel 4. Regimen MDT pada kusta Pausibasiler (PB)

Rifampicin Dapson

Dewasa 600 mg/bulan 100 mg/hr diminum di


rumah
Diminum di depan
petugas kesehatan
Anak-anak 450 mg/bulan 50 mg/hari diminum di
rumah
(10-14 th) Diminum di depan
petugas kesehatan

MB (BB, BL, LL) dengan lesi > 5 .Lama pengobatan 12 dosis ini bisa
diselesaikan selama 12-18 bulan. Setelah selesai minum 12 dosis obat ini, dinyatakan
RFT/=Realease From Treatment yaitu berhenti minum obat. Masa pengamatan setelah
RFT dilakukan secara pasif untuktipe PB selama 2 tahun dan tipe MB selama 5 tahun.

Tabel 5. Regimen MDT pada kusta Multibasiler (MB)

Rifampicin Dapson Lamprene

13
Dewasa 600 mg/bulan 100 mg/hari diminum 300 mg/bulan
diminum di depan di rumah diminum di depan
petugas kesehatan petugas kesehatan
dilanjutkan dgn 50
mg/hari diminum di
rumah

Anak-anak 450 mg/bulan 50 mg/hari diminum 150 mg/bulan


diminum di depan di rumah diminum di depan
(10-14 th)
petugas petugas kesehatan
dilanjutkan dg 50 mg
selang sehari
diminum di rumah

14
DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda, S. Hamzah, M. Aisah, S. editor. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi
Keenam, Cetakan Kedua. Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia : Jakarta. 2011.

2. Siregar, R.S. Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi Kedua, Cetakan
Pertama. EGC : Jakarta. 2005.

3. Depkes RI. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2006. Departemen Kesehatan


Republik Indonesia : Jakarta. 2008.

4. WHO. Guide to Eliminate Leprosy as A Public Health Problem. First Edition.


World Health Organization : USA. 2000. Accessed on February 20, 2013.
Available at : http://www.who.int/lep/resources/Guide_Int_E.pdf

5. ILEP. How to Diagnose and Treat Leprosy. The International Federation of Anti-
Leprosy Association : London. 2002. Accessed on February 20, 2013. Available
athttp://www.ilep.org.uk/fileadmin/uploads/Documents/Learning_Guides/lg1eng.
pdf

6. Wolff, K. Goldsmith, L.A. Katz, S.I. Gilchrest, B.A. Paller, A.S. Leffel, D.J.
editors. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. Seventh Edition.
McGraw-Hill : New York. 2008.

15