Anda di halaman 1dari 16

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<

11.2016.213 – Tressy A. Padahana

A. HPV
Human papilloma virus merupakan virus yang menyebabkan penyakit menular seksual dan juga
keganasan pada organ reproduksi wanita. HPV terdiri dari berbagai tipe, namun yang paling
dikenal adalah HPV tipe 6 dan 11 yang menyebabkan kondiloma akuminata pada pria dan wanita,
dan HPV tipe 16 dan 18 yang menyebabkan keganasan pada serviks.
1. Kondiloma akuminata
Merupakan infeksi menular seksual yang paling sering ditemukan. Penyebab utamanya
adalah HPV tipe 6 dan 11. Kondiloma akuminata ditemukan pada usia 20 – 30 tahun. Lesi
kondiloma akuminata dapat muncul di daerah anus dan genital seperti vulva, vagina,
perineum, penis, meatus uretra, skrotum, dan anus. Lesinya berupa tonjolan yang
menyerupai kembang kol.
Umumnya pasien datang dengan keluhan ada kutil di daerah kemaluan atau dubur yang
kadang terasa gatal. Kutil tersebut awalnya muncul seukuran kacang hijau, sewarna dengan
kulit dan kemudian bertambah banyak dan berbenjol-benjol seperti kembang kol.
Penanganan kondiloma akuminata dapat dilakukan dengan terapi obat maupun tindakan
bedah. Terapi obat dapat dilakukan aplikasi tingtura podifilin 10 – 20%, emulsi podofilotoksin
0,25 – 0,5%, solusio TCA 80 – 90%, dan krim imikuimod. Sedangkan terapi bedah dapat
dilakukan dengan bedah beku, bedah listrik, laser, dan eksisi.
2. Kanker serviks
Merupakan suatu keganasan pada serviks dan merupakan kanker pembunuh wanita nomor
dua di dunia setelah kanker payudara. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kanker
serviks antara lain, usia reproduksi, hubungan seks pada usai muda, tingkat pendidikan,
riwayat kanker serviks pada anggota keluarga, dan berganti-ganti pasangan seksual.
Gejala yang dapat ditemukan seperti perdarahan setelah koitus, perdarahan di luar waktu
haid dan pasca menopause. Jika tumornya membesar, dapat terjadi infeksi dan menyebabkan
cairan yang berbau keluar dari vagina. Bila sudah lanjut, dapat timbul nyeri panggul. Diagnosis
kanker serviks ditegakkan dengan skrining seperti tes IVA dan pap smear. Kanker serviks dapat
dicegah dengan melakukan vaksin HPV dan menggunakan kondom saat berhubungan seks.

B. Rupture Uteri
Adalah kejadian robeknya dinding rahim pada saat kehamilan atau dalam masa persalinan dengan
atau tanpa robeknya perioneum visceral. Penyebabnya adalah partus lama, presentasi abnormal,
dan adanya riwayat pembedahan terhadap fundus ataupun korpus uterus.
Gejala rupture uteri yaitu nyeri hebat pada perut bawah saat kontraksi memuncak; hilangnya rasa
nyeri saat kontraksi terhenti; perdarahan per vaginam; ada tanda dan gejala syok, denyut nadi
meningkat, tekanan darah turun, dan nafas pendek; bagian presentasi dapat digerakkan di atas
panggul; janin dapat tereposisi secara dramatis dalam perut ibu. Dapat terjadi muntah, nyeri
tekan di seluruh lapang perut, kontraksi uterus hipotenik, hematuria, kadang terjadi perdarahan
per vaginam.
Penanganan dapat dilakukan dengan mengatasi syok terlebih dulu kemudian dilanjutkan dengan
tindakan pembedahan seperti histerektomi total ataupun sebagian, histerorafia, konservatif
dengan menggunakan tampon dan pemberian antibiotic.

C. Resiko Kehamilan Usia Muda dan Usia Tua


1. Usia Muda
a. Masalah kesehatan reproduksi
Belum siapnya alat reproduksi untuk menerima kehamilan dan dapat meningkatkan
kemungkinan terjadi komplikasi.
b. Masalah psikologis
Keadaan psikologis yang belum matang, membuat sulit untuk menghadapi keadaan
baru dalam hidupnya
c. Masalah social ekonomi
Belum mapan secara social ekonomi sehingga masih bergantung pada orang tua
ataupun keluarga.
d. Abortus
Akibat dari belum matang secara psikologis sehingga timbul ketakutan untuk
menghadapi dan akhirnya mencari jalan untuk menghilangkan kehamilannya dengan
cara menggugurkan kandungan.
e. Persalinan premature
f. Kematian ibu
Dapat terjadi akibat adanya tekanan psikologis yang membuat seseorang mengambil
jalan pintas untuk mengakhiri kehamilannya yang juga membahayakan diri sendiri.
2. Usia Tua
Adanya penyulit kehamilan seperti preeclampsia dan eclampsia; DM; plasenta previa;
ketuban pecah dini; kelainan letak janin; partus lama; perdarahan post partum; dan
kematian ibu.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<

11.2016.238 – Tristi Lukita Wening

1. Atonia uteri kegagalan uterus berkontraksi secara adekuat setelah pelahiran merupakan
penyebab tersering pendarahan obstetri. Uterus yang mengalami distensi berlebihan rentan
menjadi hipotonus setelah pelahiran. Jadi, perempuan dengan janin besar, multiple atau
hiroamnion rentan mengalami atonia uterus. Paritas tinggi merupakam faktor resiko atonia
uterus. Resiko lain adalah jika perempuan tersebut pernah mengalami pendarahan pascapartum.
Terakhir, upaya untuk mempercepat pelahiran plasenta dapat mrencetuskan atonia. Pemijatan
dan peremasan tanpa henti uterus yang telah berkontraksi mungkin menghambat mekanisme
fisiologis pelepasan plasenta, menyebabkan pelepasan plasenta inkomplet dan bertambahnya
pendarahan.
2. Blighted ovum terjadi saat sel telur yang dibuahi di dalam rahim namun tidak berkembang
menjadi embrio. Hal ini juga disebut sebagai kehamilan anembryonic (tidak ada embrio) dan
merupakan penyebab utama kegagalan kehamilan dini atau keguguran. Seringkali terjadi begitu
awal sehingga Anda bahkan tidak tahu bahwa Anda hamil.Blighted ovum menyebabkan sekitar
satu dari dua keguguran pada trimester pertama kehamilan. Keguguran adalah saat kehamilan
berakhir dengan sendirinya dalam 20 minggu pertama. Saat seorang wanita hamil, telur yang
dibuahi menempel ke dinding rahim. Pada sekitar lima sampai enam minggu kehamilan, embrio
harus ada. Pada sekitar waktu ini, kantung kehamilan - di mana janin berkembang - berukuran
sekitar 18 milimeter. Dengan sel telur yang blighted, kantung kehamilan terbentuk dan tumbuh,
namun embrio tidak berkembang. Itu sebabnya blighted ovum juga disebut anembryonic
pregnancy. Apa Penyebab Bumum Bahaya? Keguguran dari blighted ovum sering terjadi karena
masalah pada kromosom, struktur yang membawa gen. Ini mungkin berasal dari sperma atau
telur berkualitas rendah. Atau, hal itu bisa terjadi karena pembelahan sel abnormal. Apapun,
tubuh Anda menghentikan kehamilan karena mengenali kelainan ini.Penting untuk dipahami
bahwa Anda tidak melakukan apa pun untuk menyebabkan keguguran ini dan Anda hampir pasti
tidak dapat mencegahnya. Bagi kebanyakan wanita, sel telur yang blighted hanya terjadi satu kali.

3. Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim demikian rupa
sehingga menutupi seluruh atau sebagian dari ostium uteri intenum. Sejalan dengan bertambah
membesarnya rahim dan meluasnya segmen bawah rahim ikut berpindah mengikuti perluasan
segmen bawah rahim seolah plasenta tersebut bermigrasi. Ostium uteri yang secara dinamik
mendatar dan meluas dalam persalinan kala satu bisa mengubah luas pembukaan serviks yang
tertutup oleh plasenta. Klasifikasi : 1. Plasenta previa totalis atau komplit adalah plasenta yang
menutupi seluruh ostium uteri internum; 2. Plasenta previa parsialis adalah plasenta yang
menutupi sebagian ostium uteri internum; 3. Plasenta previa marginalis adalah plasenta yang
tepinya berada pada pinggir ostium uteri iternum; 4. Plasenta letak rendah adalah plasenta yang
berimplantasi pada segmen bawah rahim demikian rupa sehingga tepi bawahnya berada pada
jarak lebih kurang 2 cm dari ostium uteri internum. Jarak yang lebih dari 2 cm dianggap plasenta
letak normal. Gambaran klinik adalah pendarahan uterus keluar melalui vagina tanpa rasa nyeri.
Pendarahan biasanya baru terjadi pada akhie trimester kedua keatas pendarahan pertama tidak
begitu banyak kadang berhenti sendiri kemudian pendarahan lagi tanpa sebab yang jelas dan
terulang lagi bahkan seperti mengalir. Pada plasenta letak rendah pendarahan baru saja terjadi
pada waktu mulai persalinan, pendarahan bisa sedikit bahkan sampai banyak seperti solutio
plasenta. Pendarahan diperhebat berhubung segmen bawah rahim tidak mampu berkontraksi
sekuat segmen atas rahim. Dengan demikian pendarahan bisa berlangsung sampai pasca
persalinan.

4. Solutio plasenta terdapat istilah yaitu solutio placenta, abruptio placentae, ablatio placentae, dan
accidental hemorrhage. Bila terjadi pada kehamilan dibawah 20minggu gejala kliniknya serupa
dengan iminens. Secara definitif diagnosisnya baru bisa ditegakan setelah partus jika terdapat
hematoma pada permukaan maternal placenta. Solusio placenta sebenarnya lebih bahaya
daripada plasenta previa bagi ibu hamil dan janinnya. Pada pendarahan tersembunyi (concealed
hemorrhage) yang luas di mana pendarahan retroplasenta yang banyak dapat mengurangi
sirkulasi uteroplasenta dan menyebabkan hipoksia jaringan. Solutio placenta ringan luas plasenta
yang terlepas tidak sampai 25% atau ada yang menyebutkan kurang dari 1/6 bagian. Jumlah darah
yang keluar biasanya kurang dari 250ml. Tumpahan darah yang keluar sepeti haid komplikasi
terhadap ibu dan janin belum ada.solusio Plasenta sedang luas plasenta yang terlepas melebihi
25% tetapi belum mencapai separuhnya (50%) jumlah darah yang keluar lebih banyak dari 250 ml
tetapi belum mencapai 1000 ml. Gejala-gejala dan tabda yang sudah jelas seperti rasa nyeri pada
perut yang terus menerus denyut jantung janin cepat hipotensi dan takikardi. Solusio plasenta
berat luas plasenta yang terlepas sudah melebihi 50% dan jumlah darah yang keluar mencapai
1000ml. Keadaan umum penderita buruk disertai syok, hampir suemua janinnya menginggal.
Komplikasi koagulopati dan gagal ginjal pada oliguri biasanya telah ada. Ketidaksesuaian Cephalo-
pelvis ada saat kapasitas panggul tidak memadai untuk memungkinkan janin menegosiasikan
jalan lahir. Hal ini mungkin disebabkan oleh panggul kecil, formasi pelvis nongynecoid, janin besar,
orientasi janin yang tidak menguntungkan, atau kombinasi dari faktor-faktor ini. Kondisi medis
tertentu dapat merusak tulang panggul, seperti rakhitis atau fraktur panggul, dan menyebabkan
CPD.Pengukuran diagonal melintang telah diusulkan sebagai metode prediktif

5. Janin besar bisa menjadi satu kasus CPD. Janin besar bisa disebabkan oleh diabetes gestasional,
kehamilan postterm, faktor genetik, dan multiparitas.Bentuk panggul juga bisa menjadi penyebab
CPD. Pelvis mungkin terlalu kecil, atau bentuk pelvis mungkin salah bentuk. Diagnosis P2KB dapat
dilakukan bila terjadi kegagalan dalam kemajuan, namun tidak semua kasus persalinan yang
berkepanjangan adalah hasil P2KB. Penggunaan ultrasound untuk mengukur ukuran janin di
rahim kontroversial, karena metode ini seringkali tidak akurat dan dapat menyebabkan bagian
caesar yang tidak perlu; Percobaan persalinan sering direkomendasikan meski ukuran janin
diperkirakan besar Secara teoritis, pelvimetri dapat mengidentifikasi disproporsi cephalo-pelvis.
Namun, pelvis seorang wanita mengendur sebelum lahir (dengan bantuan hormon). Tinjauan
Cochrane pada tahun 2017 menemukan bahwa ada terlalu sedikit bukti untuk menunjukkan
apakah pelvimetri bermanfaat dan aman saat bayi dalam presentasi cephalic. Secara teoritis,
pelvimetri bisa masuk disproporsi cephalo-pelvis. Namun, pelvis seorang wanita mengendur
sebelum lahir (dengan bantuan hormon). Studi Cochrane pada tahun 2017 menemukan ada
terlalu sedikit bukti untuk menunjukkan apakah pelvimetri bermanfaat dan aman saat bayi dalam
presentasi cephalic.
Diagnosis CPD (cephalopelvic disporpotion) adalah keadaan dimana kepala bayi dianggap terlalu
besar untuk melewati panggul wanita itu. CPD ini disebabkan oleh panggul sempit, janin yang
besar ataupun kombinasi keduanya, Panggul dengan ukuran normal tidak akan mengalami
kesukaran kelahiran pervaginam pada janin dengan berat badan yang normal. Ukuran panggul
dapat menjadi lebih kecil karena pengaruh gizi, lingkungan atau hal lain sehingga menimbulkan
kesulitan pada persalinan pervaginam. Panggul sempit yang penting pada obstetric bukan sempit
secara anatomis namun panggul sempit secara fungsional artinya perbandingan antara kepala
dan panggul. Selain panggul sempit dengan ukuran yang kurang dari normal, juga terdapat
panggul sempit lainnya. Panggul ini digolongkan menjadi empat, yaitu:
a. Kelainan karena gangguan pertumbuhan intrauterine: panggul Naegele, panggul Robert,
split pelvis, panggul asimilasi.
b. Kelainan karena kelainan tulang dan/ sendi: rakitis, osteomalasia, neoplasma, fraktur,
atrofi, nekrosis, penyakit pada sendi sakroiliaka dan sendi sakrokoksigea.
c. Kelainan panggul karena kelainan tulang belakang: kifosis, skoliosis, spondilolistesis.
d. Kelainan panggul karena kelainan pada kaki: koksitis, luksasio koksa, atrofi atau
kelumpuhan satu kaki.

Setiap penyempitan pada diameter panggul yang mengurangi kapasitas panggul dapat menyebabkan
distosia saat persalinan. penyempitan dapat terjadi pada pintu atas panggul, pintu tengah panggul, pintu
bawah panggul, atau panggul yang menyempit seluruhnya.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<

11.2017.010 – Robby Darmawan Pangestu

Disproporsi kepala panggul (Cephalopelvic Disproportion / CPD)


Definisi : hambatan lahir yang diakibatkan oleh disparitas ukuran kepala janin dan pelvis maternal

Diagnosis

- Terhentinya kemajuan pembukaan serviks & penurunan kepala walaupun his adekuat. Terjadi
akibat janin terlalu besar dan atau panggul ibu kecil.
- Waspadai CPD terutama pada keadaan:
o Arkus pubis <90 derajat
o Teraba promontorium, spina iskhiadika, linea innominate
o Pada primigravida bagian terbawah tidak masuk ke pintu atas panggul pada usia >36
minggu

Tata laksana : Bila janin hidup, lakukan seksio sesarea

Pada kasus bayi mati, embriotomi / kraniotomi dapat dilakukan jika : pembukaan serviks >7 cm, ketuban
sudah pecah, jalan lahir normal, tidak ada tanda ruptur uteri

Infertilitas
- Infertilitas primer : sebelumnya pasangan suami istri belum pernah mengalami kehamilan.
- Infertilitas sekunder : jika pasangan suami istri gagal untuk memperoleh kehamilan setelah satu
tahun pasca persalinan atau pasca abortus tanpa menggunakan kontrasepsi apapun
Faktor penyebab infertilitas

- Faktor lelaki (impotensi, ejakulasi dini, abnormalitas jumlah, motilitas, dan atau morfologi
sperma)
- Disfungsi ovulasi (ovulasi jarang atau tidak ada ovulasi)
- Idiopatik

Faktor yang mempengaruhi kehamilan

- Usia : usia subur, kemungkinan hamil lebih besar


- Frekuenai senggama : angka kehamilan mencapai puncaknya jika hubungan seksual dilakukan 2-
3 kali seminggu
- Pola hidup :
o Alkohol (menurunkan kualitas sperma pria)
o Merokok (menurunkan fertilitas perempuan dan laki-laki)
o BB imt >29 cenderung mengalami keterlambatan hamil.
- Masalah vagina
o Dispareunia (rasa tidak nyaman atau rasa nyeri pada saat melakukan senggama)
o Vaginismus (terjadinya spasmus otot vagina 1/3 bagian luar dan sekitarnya)
o Vaginitis
- Masalah uterus
o Faktor serviks (servisitis, trauma serviks)
o Faktor cavum (kelainan anatomi, endometriosis)
o Faktor miometrium (adenomiosis)
- Masalah tuba : kerusakan / sumbatan tuba menyebabkan risiko infertilitas lebih tinggi
- Masalah ovarium : sindrom ovarium polikistik, kista ovarium, endometriosis

Pemerikaaan laboratorium

- Pada wanita : pemeriksaan kadar hormon LH, FSH, TSH, Prolaktin, testosteron, serologi rubella,
pap smear
- Pada laki-laki : analisis sperma

Preeklampsia dan eklampsia


Pre-eklampsia dalam kehamilan adalah apabila dijumpai tekanan darah 140/90 mmHg setelah
kehamilan 20 minggu (akhir triwulan kedua sampai triwulan ketiga) atau bisa lebih awal terjadi.
Sedangkan pengertian eklampsia adalah apabila ditemukan kejang-kejang pada penderita pre-eklampsia,
yang juga dapat disertai koma.

Penyebab pre-eklampsia belum diketahui secara jelas. Penyakit ini dianggap sebagai
“maladaptation syndrome” akibat penyempitan pembuluh darah secara umum yang mengakibatkan
iskemia plasenta (ari – ari) sehingga berakibat kurangnya pasokan darah yang membawa nutrisi ke janin.
Faktor Risiko :

- Kehamilan pertama
- Riwayat keluarga dengan pre-eklampsia atau eklampsia
- Pre-eklampsia pada kehamilan sebelumnya
- Ibu hamil dengan usia kurang dari 16 tahun atau lebih dari 35 tahun
- Wanita dengan gangguan fungsi organ (diabetes, penyakit ginjal, migraine, dan tekanan darah
tinggi)
- Kehamilan kembar

Deteksi dini :

Menyaring semua kehamilan primigravida (kehamilan pertama), ibu menikah dan langsung hamil,
dan semua ibu hamil dengan risiko tinggi terhadap pre-eklampsia dan eklampsia. Pemeriksaan kehamilan
secara teratur sejak awal triwulan satu kehamilan

Pre-eklampsia ringan

Tanda dan gejala :

1. Kenaikan tekanan darah sistole 140 mmHg sampai kurang dari 160 mmHg; diastole 90 mmHg
sampai kurang dari 110 mmHg
2. Proteinuria : didapatkannya protein di dalam pemeriksaan urin (air seni)
3. Edema (penimbunan cairan) pada betis, perut, punggung, wajah atau tangan

Tatalaksana pre eklampsia ringan dapat secara :

Pengelolaan secara rawat jalan

- Tidak mutlak harus tirah baring, dianjurkan perawatan sesuai keinginannya


- Makanan dan nutrisi seperti biasa, tidak perlu diet khusus
- Vitamin
- Tidak perlu pengurangan konsumsi garam
- Tidak perlu pemberian antihipertensi
- Kunjungan ke rumah sakit setiap minggu

Pengelolaan secara rawat inap

Pre eklampsia ringan dirawat inap apabila mengalami hipertensi yang menetap selama lebih dari
2 minggu, proteinuria yang menetap selama lebih dari 2 minggu, hasil tes laboratorium yang abnormal,
adanya gejala atau tanda 1 atau lebih pre eklampsia berat. Pemeriksaan
dan monitoring teratur pada ibu : tekanan darah, penimbangan berat badan, dan pengamatan gejala pre-
eklampsia berat dan eklampsia seperti nyeri kepala hebat di depan atau belakang kepala, gangguan
penglihatan, nyeri perut bagian kanan atas, nyeri ulu hati. Pemeriksaan kesejahteraan janin berupa
evaluasi pertumbuhan dan perkembangan janin di dalam rahim
Pre-eklampsia Berat

Pre eklampsia berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya tekanan
darah tinggi 160/110 mmHg atau lebih disertai proteinuria dan/atau edema pada kehamilan 20 minggu
atau lebih. Tanda dan gejala pre-eklampsia berat :

- Tekanan darah sistolik > 160 mmHg


- Tekanan darah diastolik > 110 mmHg
- Peningkatan kadar enzim hati dan atau ikterus (kuning)
- Trombosit < 100.000/mm3
- Oliguria (jumlah air seni < 400 ml / 24 jam)
- Proteinuria (protein dalam air seni > 3 g / L)
- Nyeri ulu hati
- Gangguan penglihatan atau nyeri kepala bagian depan yang berat
- Perdarahan di retina (bagian mata)
- Edema (penimbunan cairan) pada paru
- Koma

Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala pre-eklampsia berat selama perawatan,
maka perawatan dibagi menjadi :

- Perawatan aktif yaitu kehamilan segera diakhiri dan ditambah pemberian obat-obatan.
Perawatan aktif dilakukan apabila usia kehamilan 37 minggu atau lebih, adanya ancaman
terjadinya impending eklampsia, kegagalan terapi dengan obat-obatan, adanya tanda kegagalan
pertumbuhan janin di dalam rahim, adanya “HELLP syndrome” (Haemolysis, Elevated Liver
enzymes, and Low Platelet).
- Perawatan konservatif yaitu kehamilan tetap dipertahankan ditambah pemberian obat-
obatan.Perawatan konservatif dilakukan apabila kehamilan kurang dari 37 minggu tanpa disertai
tanda-tanda impending eklampsia serta keadaan janin baik. Perawatan konservatif pada pasien
pre eklampsia berat yaitu :
o Segera masuk rumah sakit
o Tirah baring
o Infus
o Diet cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam
o Pemberian obat anti kejang : magnesium sulfat
o Anti hipertensi, diuretikum diberikan sesuai dengan gejala yang dialami
o Penderita dipulangkan apabila penderita kembali ke gejala-gejala / tanda-tanda pre-
eklampsia ringan (diperkirakan lama perawatan 1-2 minggu)
Eklampsia

Eklampsia adalah kelainan pada masa kehamilan, dalam persalinan, atau masa nifas yang ditandai dengan
timbulnya kejang (bukan timbul akibat kelainan saraf) dan / atau koma dimana sebelumnya sudah
menunjukkan gejala-gejala pre-eklampsia.

Gejala dan Tanda

- Nyeri kepala hebat pada bagian depan atau belakang kepala yang diikuti dengan peningkatan
tekanan darah yang abnormal. Sakit kepala tersebut terus menerus dan tidak berkurang dengan
pemberian aspirin atau obat sakit kepala lain
- Gangguan penglihatan pasien akan melihat kilatan-kilatan cahaya, pandangan kabur, dan
terkadang bisa terjadi kebutaan sementara
- Iritabel ibu merasa gelisah dan tidak bisa bertoleransi dengan suara berisik atau gangguan lainnya
- Nyeri perut nyeri perut pada bagian ulu hati yang kadang disertai dengan muntah
- Tanda-tanda umum pre eklampsia (hipertensi, edema, dan proteinuria)
- Kejang-kejang dan / atau koma

Tatalaksana

Tujuan pengobatan :

- Untuk menghentikan dan mencegah kejang


- Mencegah dan mengatasi penyulit, khususnya krisis hipertensi
- Sebagai penunjang untuk mencapai stabilisasi keadaan ibu seoptimal mungkin
- Mengakhiri kehamilan dengan trauma ibu seminimal mungkin

Pengobatan Konservatif

- Sama seperti pengobatan pre eklampsia berat kecuali bila timbul kejang-kejang lagi maka dapat
diberikan obat anti kejang (MgSO4).

Pengobatan Obstetrik

Sikap dasar : Semua kehamilan dengan eklampsia harus diakhiri dengan atau tanpa memandang umur
kehamilan dan keadaan janin. Setelah persalinan, dilakukan pemantauan ketat untuk melihat tanda-tanda
terjadinya eklampsia. 25% kasus eklampsia terjadi setelah persalinan, biasanya dalam waktu 2 – 4 hari
pertama setelah persalinan. Tekanan darah biasanya tetap tinggi selama 6 – 8 minggu. Jika lebih dari 8
minggu tekanan darahnya tetap tinggi, kemungkinan penyebabnya tidak berhubungan dengan pre-
eklampsia.

Pencegahan

- Diet rendah garam dan kaya vitamin C


- Toxoperal (vitamin E)
- Beta caroten
- Minyak ikan (eicosapen tanoic acid)
- Zinc
- Magnesium
- Diuretik
- Anti hipertensi
- Aspirin dosis rendah
- Kalium

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<

11.2016.290 – Luciana

1. Vaksinasi Tetanus Toksoid


Vaksinasi adalah cara baik untuk memberikan kekebalan bagi manusia. Ada pertimbangan
pemberian vaksin pada ibu hamil mulai dari risiko dan keuntungan perlindungan pada situasi
tertentu. Ada tiga macam vaksinasi selama kehamilan yaitu yang direkomendasikan aman, tidak
aman selama kehamilan dan rekomendasi khusus. Vaksin yang direkomendasikan aman adalah
vaksin tetanus toksoid, difteri, hepatitis B, influenza, meningococcal dan rabies. Vaksin yang tidak
direkomendasikan adalah vaksin dari mikroorganisme hidup yang dilemahkan. Hal tersebut
disebabkan mikroorganisme tersebut dapat tumbuh pada inangnya. Vaksin tersebut adalah BCG,
measles, mumps, rubella dan varicella. Vaksin yang direkomendasikan khusus digunakan untuk
daerah-daerah endemik atau wanita hamil yang berpergian ke tempat endemik penyakit tersebut
yaitu antrax, hepatitis A, Japanese Encephalitis, pneumococcal, polio (IPV), typhoid vaccine dan
yellow fever.
Angka kejadian tetanus neonatorum di Indonesia masih sangat tinggi dan masih banyak persalinan
bukan dilakukan oleh tenaga kesehatan namun ditolong oleh dukun beranak sehingga persalinan
tidak bersih dan steril yang sangat risiko tinggi infeksinya. Oleh karena itu, pemberian vaksin
tetanus toksoid (TT) dimulai pada saat wanita usia subuh dan pada saat berlangsungnya kehamilan.
Manfaat vaksin TT adalah melindungi bayi baru lahir dari tetanus neonatorum dan juga melindungi
ibu terhadap kemungkinan tetanus apabila terluka.
Pemberian tetanus toksoid rutin direkomendasikan bagi wanita hamil, dengan pemberian
diberikan pada trimester kedua dalam kehamilan, sebaiknya diberikan sebelum kehamilan 8 bulan
untuk mendapatkan imunisasi TT lengkap. Dosis pemberian imunisasi TT yaitu 0,5 cc diinjeksikan
secara intramuskuler/subkutan dalam. Wanita hamil yang tidak mendapat vaksin TT dalam waktu
10 tahun terakhir sebaiknya dilakukan booster sedangkan wanita hamil yang tidak diimunisasi atau
tidak lengkap, sebaiknya melengkapi imunisasi dasar.
Jadwal vaksinasi TT pada wanita usia subur (WUS) dan ibu hamil yang sebelumnya belum pernah
divaksin TT, Td dan DTP yaitu sebanyak 5 kali vaksin. Vaksin pertama (TT1) diberikan segera setelah
terluka atau segera sedini mungkin pada saat hamil. Pemberian TT2 minimal 4 minggu setelah
pemberian yang pertama, pemberian TT3 minimal 6 bulan setelah pemberian yang kedua,
pemberian TT4 minimal setahun setelah pemberian yang ketiga dan pemberian TT5 minimal
setahun setelah pemberian yang keempat. Apabila ibu yang sedang hamil memiliki riwayat vaksin
yang jelas sewaktu usia bayi, anak-anak atau remaja, maka pemberian TT terbagi menjadi 2 dosis
dengan interval minimal 4 minggu setelah pemberian TT pertama.
Efek samping setelah pemberian imunisasi TT ini biasanya hanya gejala-gejala ringan saja seperti
nyeri, kemerahan dan pembengkakkan pada tempat suntikkan. TT adalah antigen yang sangat
aman pada ibu hamil dan tidak berbahaya pada janin. Belum ada bukti bahwa TT bersifat
teratogenik. Efek samping tersebut berlangsung 1-2 hari, akan sembuh sendiri dan tidak diperlukan
tindakan/pengobatan.

2. Intrauterine Growth Restriction/IUGR


IUGR atau pertumbuhan janin terhambat (PJT) yaitu bayi mempunyai berat badan di bawah 10
persentil dari kurva berat badan yang normal. Hal tersebut mempunyai arti anak tersebut telah
mengalami gangguan pertumbuhan intrauterin. Berat lahir tidak sesuai yaitu kurang bila
dibandingkan dengan lamanya kehamilan. Etiologi dari PJT yaitu
 Faktor ibu
o Penyakit hipertensi (kelainan vaskuler ibu)
o Kelainan uterus
o Kehamilan kembar
o Ketinggian tempat tinggal
 Faktor anak
o Kelainan kongenital
o Kelainan genetik
o Infeksi janin, misalnya penyakit TORCH (toxoplasma, rubella, cytomegalovirus dan
herpes)
 Faktor plasenta
Hal tersebut berkaitan dengan insufisiensi plasenta. Faktor plasenta dapat dikembalikan
kepada faktor ibu namun ada beberapa kelainan plasenta yang khas misalnya seperti
tumor plasenta.

PJT memiliki berbagai jenis yaitu PJT tipe 1 atau tipe simetris, PJT tipe 2 atau tipe asimetris dan PJT
tipe 3.

PJT tipe 1 atau tipe simetris terjadi pada kehamilan 0-20 minggu. Timbul gangguan potensi tubuh
janin untuk memperbanyak sel (hiperplasia), ukuran badan secara proporsional kecil, umumnya
karena kelainan kromosom atau infeksi janin. Tipe ini memiliki prognosis yang buruk.

PJT tipe 2 atau tipe asimetris terjadi pada kehamilan 28-40 minggu. Timbul gangguan potensi tubuh
janin untuk memperbesar sel (hiperrofi), ukuran badan tidak proporsional, misalnya pada
hipertensi dalam kehamilan yang disertai insufisiensi plasenta. Tipe ini memiliki prognosis yang
baik.

PJT tipe 3 terjadi pada kehamilan 20-28 minggu. Timbul gangguan potensi tubuh kombinasi antara
gangguan hyperplasia dan hipertrofi sel akibat misalnya malnutrisi ibu, kecanduan obat atau
keracunan. Pada tipe ini prognosis dubia.

Diagnosis PJT:

o Dalam kehamilan, pemantauan dilakukan menggunakan gravidogram. Namun dapat


diduga PJT dari besar tinggi fundus dan lingkaran perut dibandingkan dengan usia
kehamilan. Berat badan ibu yang hanya sedikit meningkat atau malah tidak sama sekali
dapat juga memperkuat dugaan kita. Suspek PJT jika terdapat lebih dari sama dengan 1
tanda-tanda berikut: TFU 3 cm atau lebih dibawah normal, pertambahan berat badan ibu
< 5 kg pada usia kehamilan 24 minggu atau < 8 kg pada usia kehamilan 32 minggu (untuk
indeks massa tubuh < 30), estimasi berat badan < 10 persentil, HC (Head
Circumference)/AC (Abdominal circumference) > 1, AFI (Amniotic Fluid Index) kurang dari
sama dengan 5 cm, sebelum usia kehamilan 34 minggu, plasenta grade 3, ibu merasa
gerakkan janin berkurang.
o Setelah lahir, bayi terlihat kurus dan panjang, berkulit kering, lapisan lemaknya tipis dan
ototnya hipotrofis. Berat badannya kurang dari seharusnya menurut usia kehamilan. Bayi
dengan PJT dibandingkan dengan bayi lahir kurang bulan memperlihatkan sifat-sifat
berikut pengaturan suhu badan lebih baik, terutama pada PJT tipe 2, ikterus biasanya tidak
ada dan edema jarang terjadi, kehilangan berat badan setelah lahir hanya sedikit dan
gangguan pernafasan pun lebih jarang terjadi.
Terapi yang dapat diusahakan ialah mengindari/menogbati penyebabnya bila diketahui,
meminta ibu beristirahat rebah agar fungsi plasenta membaik, memperbaiki gizi ibu jika perlu
dan mengakhiri kehamilan dengan induksi persalinan atau seksio sesarea.

3. Abortus
Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin berkembang sepenuhnya dan dapat
hidup di luar kandungan dan sebagai ukuran digunakan kehamilan kurang dari 20 minggu atau
berat janin kurang dari 500 gram. Abortus dapat dibagi atas dua golongan yaitu menurut terjadinya
abortus dan menurut gambaran klinis. Menurut terjadinya dibedakan atas abortus spontan yaitu
abortus yang terjadi dengan sendirinya tanpa disengaja dan tanpa menggunakan tindakan apa-apa
sedangkan abortus provokatus adalah abortus yang disengaja, baik dengan memakai obat-obatan
maupun dengan alat-alat. Abortus provokatus dibagikan lagi menjadi abortus medisinalis atau
abortus therapeutica dan abortus kriminalis. Pada abortus medisinalis, abortus yang terjadi adalah
karena tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan, dapat membahayakan jiwa
ibu (berdasarkan indikasi medis). Abortus kriminalis adalah abortus yang terjadi oleh karena
tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis dan biasanya dilakukan
secara sembunyi-sembunyi oleh tenaga tradisional.

Menurut gambaran klinis abortus dapat dibedakan kepada:

a) Abortus imminens yaitu abortus tingkat permulaan (threatened abortion) dimana terjadi
perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam
kandungan.
b) Abortus insipiens (inevitable abortion) yaitu abortus yang sedang mengancam dimana serviks telah
mendatar dan ostium uteri telah membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri.
c) Abortus inkomplit (incomplete abortion) yaitu jika hanya sebagian hasil konsepsi yang dikeluarkan,
yang tertinggal adalah desidua atau plasenta.
d) Abortus komplit (complete abortion) artinya seluruh hasil konsepsi telah keluar (desidua atau
fetus), sehingga rongga rahim kosong.
e) Missed abortion adalah abortus dimana fetus atau embrio telah meninggal dalam kandungan
sebelum kehamilan 20 minggu, akan tetapi hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam
kandungan selama 6 minggu atau lebih.
f) Abortus habitualis (recurrent abortion) adalah keadaan terjadinya abortus tiga kali berturut-turut
atau lebih.
g) Abortus infeksius (infectious abortion) adalah abortus yang disertai infeksi genital.
h) Abortus septik (septic abortion) adalah abortus yang disertai infeksi berat dengan penyebaran
kuman ataupun toksinnya kedalam peredaran darah atau peritoneum

Patogenesis

Abortus dimulai dari perdarahan ke dalam decidua basalis yang diikuti dengan nekrosis jaringan
disekitar perdarahan. Jika terjadi lebih awal, maka ovum akan tertinggal dan mengakibatkan
kontraksi uterin yang akan berakir dengan ekpulsi karena dianggap sebagai benda asing oleh tubuh.
Apabila kandung gestasi dibuka, biasanya ditemukan fetus maserasi yang kecil atau tidak adanya
fetus sama sekali dan hal ini disebut blighted ovum.

Pada abortus yang terjadi lama, beberapa kemungkinan boleh terjadi. Jika fetus yang tertinggal
mengalami maserasi, yang mana tulang kranial kolaps, abdomen dipenuhi dengan cairan yang
mengandung darah, dan degenarasi organ internal. Kulit akan tertanggal di dalam uterus atau
dengan sentuhan yang sangat minimal. Bisa juga apabila cairan amniotik diserap, fetus akan
dikompress dan mengalami desikasi, yang akan membentuk fetus compressus. Kadang-kadang,
fetus boleh juga menjadi sangat kering dan dikompres sehingga menyerupai kertas yang disebut
fetus papyraceous.

Pada kehamilan di bawah 8 minggu, hasil konsepsi dikeluarkan seluruhnya, karena vili korialis
belum menembus desidua terlalu dalam; sedangkan pada kehamilan 8-14 minggu, vili korialis telah
masuk agak dalam, sehingga sebagian keluar dan sebagian lagi akan tertinggal. Perdarahan yang
banyak terjadi karena hilangnya kontraksi yang dihasilkan dari aktivitas kontraksi dan retraksi
miometrium.

Gambaran klinis
Gejala abortus berupa amenorea, sakit perut kram, dan mules-mules. Perdarahan pervaginam bisa
sedikit atau banyak dilihat dari pads atau tampon yang telah dipakai, dan biasanya berupa darah
beku tanpa atau desertai dengan keluarnya fetus atau jaringan. Ini penting untuk melihat progress
abortus. Pada abortus yang sudah lama terjadi atau pada abortus provokatus sering terjadi infeksi
yang dilihat dari demam, nadi cepat, perdarahan, berbau, uterus membesar dan lembek, nyeri
tekan,dan luekositosis. Pada pemeriksaan dalam untuk abortus yang baru saja terjadi didapati
serviks terbuka, kadang-kadang dapat diraba sisa-sisa jaringan dalam kanalis servikalis atau kavum
uteri, serta uterus berukuran kecil dari seharusnya. Pada pemeriksaan USG, ditemukan kantung
gestasional yang tidak utuh lagi dan tiada tanda-tanda kehidupan dari janin.

Pemeriksaan Fisis

Bercak darah diperhatikan banyak, sedang atau sedikit. Palpasi abdomen dapat memberikan idea
keberadaan hasil konsepsi dalam abdomen dengan pemeriksaan bimanual. Yang dinilai adalah
uterus membesar sesuai usia gestasi, dan konsistensinya. Pada pemeriksaan pelvis, dengan
menggunakan spekulum keadaan serviks dapat dinilai samaada terbuka atau tertutup, ditemukan
atau tidak sisa hasil konsepsi di dalam uterus yang dapat menonjol keluar, atau didapatkan di liang
vagina.

Pemeriksaan fisik pada kehamilan muda dapat dilihat dari table di bawah ini:

Perdarahan Serviks Uterus Gejala dan tanda Diagnosis


Bercak sedikit Tertutup Sesuai dengan Kram perut Abortus
hingga sedang usia gestasi bawah, uterus imminens
lunak
Tertutup/terbuka Lebih kecil dari Sedikit/tanpa Abortus
usia gestasi nyeri perut komplit
bawah,riwayat
ekspulsi hasil
konsepsi
Sedang Terbuka Sesuai dengan Kram atau nyeri Abortus
sehingga masif usia kehamilan perut bawah, insipien
belum terjadi
ekspulsi hasil
konsepsi
Kram atau nyeri Abortus
perut bawah, incomplit
ekspulsi
sebahagian hasil
konsepsi
Terbuka Lunak dan lebih Mual/muntah, Abortus mola
besar dari usia kram perut
gestasi bawah, sindroma
mirip PEB, tidak
ada janin, keluar
jaringan seperti
anggur

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<