Anda di halaman 1dari 7

PERILAKU CUCI TANGAN PAKAI SABUN DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN

PERNAFASAN AKUT PADA ANAK USIA SEKOLAH


(Di SDN Plandi 2 Jombang)

Jeni Lupita*Inayatur Rosyidah**Dwi Prasetyaningati***

ABSTRAK

Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) merupakan penyakit akut yang menyerang salah
satu bagian atau lebih dari saluran pernafasan mulai dari hidung hingga alveoli, sinus
rongga telinga tengah dan pleura yang di sebabkan oleh salah satunya bakteri genus
streptokokus yang berlangsung kurang lebih 14 hari, bakteri tersebut menyerang tubuh pada
anak melalui tangan, perilaku cuci tangan pakai sabun salah satu cara mencegah terjadinya
ISPA. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan perilaku cuci tangan pakai
sabun dengan kejadian ISPA pada anak usia sekolah di SDN Plandi 2 Jombang. Desain
penelitian yang digunakan adalah analytic correlation dengan pendekatan cross sectional,
variabel independen perilaku cuci tangan pakai sabun dan variabel dependen kejadian ISPA.
Populasi semua siswa kelas 1,2 dan 3 yang berjumlah 58 dan besar sampel sebagian siswa
kelas 1,2 dan 3 sejumlah 46 siswa. Teknik sampel Proporsional Random Sampling.
Pengumpulan data dengan kuesioner. Pengolahan data dengan proses editing, coding,
scoring dan tabulating dengan uji analisis chi square. Hasil penelitian didapatkan perilaku
cuci tangan pakai sabun sebagian besar negatif adalah 42 siswa (91,3%), dan positif 4
(8,7%), sedangkan kejadian ISPA adalah terjadi 42 (91,3%), tidak terjadi 4 (8,7%) dengan
nilai p-value 0,000<0,05 yang artinya H1 di terima. Kesimpulan penelitian ini adalah ada
hubungan perilaku cuci tangan pakai sabun dengan kejadian ISPA di SDN Plandi 2
Jombang.

Kata kunci : Anak, Infeksi Saluran Pernafasan Akut, Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun

WASTE BEHAVIOR HANDLING BEHAVIOR WITH INFECTION EVALUATION


OF ACTIVITIES OF ACUTE FEVER ON CHILDREN AGE OF SCHOOL
(In SDN Plandi 2 Jombang)

Jeni Lupita * Inayatur Rosyidah ** Dwi Prasetyaningati ***

ABSTRACT

Acute respiratory infection (ARI) is an acute disease that attacks one or more of the
respiratory tract from the nose to the alveoli, the sinus of the middle ear and pleural cavity
caused by one of the bacteria streptococcus genus lasting approximately 14 days, the bacteria
Attack the body in children through hands, handwashing behavior with soap one way to
prevent the occurrence of ARI. The purpose of this study was to analyze the relationship of
handwashing with soap with ARI occurrence in school age children at SDN Plandi 2
Jombang. The research design used was analytic correlation with cross sectional approach,
independent variable of handwashing behavior with soap and dependent variable of ARI
occurrence. The population of all the students of grades 1,2 and 3 totaling 58 and the sample
size of some students in grades 1,2 and 3 of 46 students. Technique sample Proportional
Random Sampling. Data collection with questionnaires. Data processing with editing,
coding, scoring and tabulating with chi square test. The result of the research shows that
handwashing behavior with soap mostly negative is 42 students (91,3%), and positive 4
(8,7%), whereas ARI occurrence is 42 (91,3%), not 4 (8, 7%) with p-value 0.000 <0,05
which means H1 received. The conclusion of this research is there is relationship of
handwashing behavior with soap with ARI occurrence at SDN Plandi 2 Jombang.

Keywords: Children, Acute Respiratory Infections, Handwashing with Soap Behavior

PENDAHULUAN penting. Hal serupa juga ditemukan pada


daerah Jawa Timur yang menjadi urutan ke
ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) lima untuk penderita penyakit ini (28,3%).
masih merupakan masalah kesehatan yang Departemen Kesehatan (Depkes) Jombang
penting karena masih tingginya angka tahun (2013) juga menyebutkan bahwa
kejadian ISPA terutama pada anak – anak infeksi saluran pernafasan akut (ISPA)
dan balita. Infeksi saluran pernafasan akut merupakan urutan pertama dari sepuluh
adalah penyakit yang cara penulurannya masalah kesehatan di Jombang. Riskesdas
melalui udara tanpa kontak langsung 2013 proporsi pada umur >- 10 tahun yang
dengan penderita salah satunya batuk melakukan cuci tangan dengan benar
(Rasmaliah, 2004, 1). 46,7%.

Kuman penyakit baik berbentuk virus atau Masalah kesehatan pada anak usia sekolah
bakteri tidak terlihat secara kasat mata sebenarnya dapat dicegah dengan
sehingga sering diabaikan dan tanpa kebiasaan cuci tangan pakai sabun.
disadari tangan seringkali menjadi agent Perilaku mencuci tangan harus dilatih
yang membawa kuman dan menyebabkan sejak dini pada anak agar anak memiliki
pathogen berpindah dari satu orang ke kebiasaan mencuci tangan, sehingga
orang lain, baik dengan kontak langsung dibutuhkan peran perilaku kesehatan untuk
ataupun tidak langsung (Kamaruddin, memberikan informasi kepada anak usia
2009, 149). Tangan adalah salah satu sekolah mengenai perilaku cuci tangan
penghantar utama masuknya kuman pakai sabun agar terhindar dari penyakit
penyakit. Perilaku mencuci tangan ISPA. Dari permasalahan tentang perilaku
menggunakan sabun yang tidak benar cuci tangan pakai sabun dengan kejadian
masih tinggi ditemukan pada anak usia ISPA pada usia anak sekolah memerlukan
sekolah, pentingnya mencuci tangan pakai pengkajian secara mendalam. Berdasarkan
sabun dapat diterapkan dalam kehidupan materi dan studi pendahuluan dari latar
sehari – hari. Anak-anak merupakan belakang di atas penulis tertarik untuk
kelompok yang paling rentan terhadap meneliti perilaku cuci tangan pakai sabun
penyakit sebagai perilaku yang tidak sehat. dengan kejadian
Kuman ada di mana pun mencuci tangan
merupakan salah satu cara untuk Setelah dilakukan studi pendahuluan di
menghilangkan kuman dan untuk SDN Plandi 2 Jombang dari 10 siswa
menghindari penularan infeksi saluran tercatat ada 2 orang siswa yang sakit batuk,
pernapasan akut (Endang dan Mega, 2013, pilek. Saat berada di sekolah, hanya
55). delapan orang siswa yang mencuci tangan
3 dari 8 orang siswa, mencuci tangan
Menurut Riset Kesehatan Dasar dengan air yang mengalir. Berdasarkan
(Riskesdas, 2013, 149) period prevalence latar belakang diatas, maka peneliti tertarik
ISPA di Indonesia adalah 25,% ingin mengetahui tentang bagaimana
sDirektorat Jendral pengendalian penyakit hubungan perilaku cuci tangan pakai
dan penyehatan Lingkungan Kemkes RI sabun dengan kejadian ISPA pada anak
(2013) menyebutkan hanya 18,5% usia sekolah di SDN Plandi 2 Jombang.
masyarakat Indonesia yang mencuci Tujuan penelitian ini adalah mengenalisis
tangan dengan sabun di lima waktu hubungan perilaku cuci tangan pakai
sabun dengan kejadian ISPA pada anak Berdasarkan tabel 2 menunjukan sebagian
usia sekolah di SDN Plandi 2 Jombang. besar responden berjenis kelamin laki-laki
sejumlah 27 siswa (58,7%).
BAHAN DAN METODE PENELITIAN
Tabel 3 Distribusi frekuensi responden
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis berdasarkan kelas
perilaku cuci tangan pakai sabun dengan No Kelas Frekuensi Persentase
kejadian infeksi saluran pernafasan akut (%)
pada anak usia sekolah. Penelitian ini 1. 1 12 26,1
menggunakan desain analytic correlation 2. 2 11 23,9
dengan pendekatan cross sectional, dimana 3. 3 23 50
penelitian untuk mengetahui hubungan Total 46 100
Sumber: Data primer Mei 2017
antara dua variabel dependen dan
independen hanya satu kali pada suatu Berdasarkan tabel 3 menunjukkan
saat. setengah responden kelas 3 sejumlah 23
orang (50%).
Populasi dan Sampel
Tabel Tabel 4 Distribusi frekuensi
Populasi dalam penelitian ini adalah responden berdasarkan mendapatkan
semua siswa kelas 1, 2 dan 3 di SDN informasi
Plandi 2 Jombang sejumlah 58 siswa. No. Pernah Frekuensi Persentase
Sampel dalam penelitian ini adalah diajarkan (%)
sebagian siswa kelas 1,2 dan 3 di SDN CTPS
Plandi 2 Jombang sejumlah 46 siswa. 1. Ya 46 100%
2. Tidak 0 0%
HASIL PENELITIAN Total 46 100%
Sumber: Data primer Mei 2017
Data Umum
Berdasarkan tabel 4 menunjukan seluruh
Tabel 1 Distribusi frekuensi responden responden pernah diajarkan cuci tangan
berdasarkan umur pakai sabun sejumlah 46 siswa ( 100%).
No Umur Frekuensi Persentase(%)
1. 6-7 11 23,9 Tabel 5 Distribusi frekuensi responden
2. 8-9 29 63 berdasarkan mendapatkan informasi
3. 10-12 6 13 N Mendapatkan Frekuensi Persentase
o Informasi (%)
Total 46 100
1. Petugas 15 32,6%
Sumber: Data primer Mei 2017
kesehatan
2. Guru 14 30,4%
Berdasarkan tabel 1 menunjukan sebagian
3. Keluarga 17 37%
besar responden berumur 8-9 tahun,
Total 46 100%
sejumlah 29 siswa (63%). Sumber: Data primer Mei 2017

Berdasarkan tabel 5 menunjukkan hampir


Tabel 2 Distribusi frekuensi responden
dari setengah responden mendapatkan
berdasarkan jenis kelamin
informasi dari keluarga sejumlah 17 siswa
No Jenis Frekuensi Persentase
kelamin (%) (37%).
1. Laki-laki 27 58,7
2. Perempuan 19 41,3
Total 46 100
Sumber: Data primer Mei 2017
Data Khusus tangan pakai sabun sebanyak 42 orang
siswa dan siswi (91,3%) dan hampir
Tabel 6 Distribusi frekuensi karakteristik seluruhnya mengalami kejadian ISPA
responden berdasarkan perilaku cuci sebanyak 42 orang siswa dan siswi
tangan pakai sabun. (91,3%). Hasil analisis dengan
No. Kategori Frekuensi Persentase (%) menggunakan bantuan program SPSS 20,
1. Positif 4 8,7% di dapatkan hasil analisis uji chi square
2. Negatif 42 91,3% 0,00 menunjukan bahwa nilai p<0,05 maka
Total 46 100% H0 di tolak dan H1 di terima yaitu ada
Sumber: Data primer Mei 2017 hubungan perilaku cuci tangan pakai sabun
dengan kejadian infeksi saluran pernafasan
Berdasarkan tabel 6 menunjukan bahwa akut pada anak usia sekolah di SDN Plandi
dari 46 responden, sebagian besar 2 Jombang.
mempunyai perilaku negatif sebanyak 42
responden (91,3%). PEMBAHASAN

Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun


Tabel 7 Distribusi frekuensi karakteristik
responden berdasarkan kejadian ISPA Berdasarkan tabel 5.6 di dapatkan hasil
No. Kejadian Frekuensi Persentase sebagaian besar memiliki perilaku cuci
ISPA (%) tangan pakai sabun negatif sebanyak 42
1. Ya 42 91,3% orang anak usia sekolah (91,3%).
2. Tidak 4 8,7% Menurut peneliti seseorang yang
Total 46 100% mempunyai perilaku cuci tangan pakai
Sumber: Data primer Mei 2017 sabun yang negatif dapat juga di pengaruhi
dari aspek cara melakukan cuci tangan
Berdasarkan tabel 7 menunjukan bahwa pakai sabun yang benar. Hal tersebut
dari 46 responden, seluruh responden didasarkan pada nilai indikator rata-rata
pernah mengalami ISPA sebanyak 42 terendah pada parameter aspek cara
responden (91,3%). melakukan cuci tangan pakai sabun yang
benar dengan inti dari pernyataan
Tabel 8 Distribusi tabulasi silang kuesioner mencuci tangan cukup dengan
hubungan perilaku cuci tangan pakai sabun air saja. Hasil data yang sudah terkumpul
dengan kejadian ISPA pada anak usia dari jawaban responden dapat
sekolah di SDN Plandi 2 Jombang. dikategorikan berdasarkan jawaban
responden adalah, tidak pernah terhadap
Total pernyataan yang diberikan berdasarkan
Kejadian ISPA parameter cara melakukan cuci tangan
Perilaku Tidak Ya pakai sabun yang benar. Hal tersebut
menunjukan sebagian besar anak usia
N % N % N % sekolah tidak mengetahui dan memahami
cara melakukan cuci tangan pakai sabun
Positif 4 100 0 0 4 100 yang benar adalah untuk menghilangkan
kotoran dan kuman. Berdasarkan kategori
Negatif 0 0 42 42 100 dari jawaban responden menunjukan aspek
100 cara melakukan cuci tangan pakai sabun
Total 4 8,7 42 32 100 yang benar yang dimiliki anak usia
91,3 sekolah tentang cara melakukan cuci
Sumber: Data primer Mei 2017 tangan pakai sabun yang benar tersebut
rendah, maka akan menimbulkan perilaku
Berdasarkan tabel 8 menunjukan dari negatif terhadap cara melakukan cuci
46 responden sebagian besar mempunyai tangan pakai sabun yang benar.
perilaku negatif terhadap perilaku cuci
Perilaku cuci tangan pakai sabun Menurut peneliti hampir seluruh anak
merupakan salah satu tindakan mendasar usia sekolah mengalami ISPA tentang
dalam menjaga kebersihan dari diri kita kejadian ISPA yang didasarkan pada
sendiri yang di mana manfaatnya untuk pernyataan dari parameter batuk dalam
menjaga kesehatan kita serta mencegah waktu 2 bulan terakhir. Hal tersebut
timbulnya penyakit, misalnya diare, ISPA, didasarkan pada nilai indikator rata-rata
Flu burung dan kecacingan perilaku juga terendah pada parameter bersin dan
terdiri dari dari komponen-komponen : kongesti nasal (hidung tersumbat) dengan
langkah-langkah cuci tangan pakai sabun inti dari pernyataan kuesioner apakah anda
yang benar, tujuan cuci tangan pakai sabu, pernah bersin- bersin (hidung tersumbat)
manfaat cuci tangan pakai sabun dan disertai pusing, bibit penyakit yang di
waktu yang dianjurkan cuci tangan pakai tularkan melalui udara seperti batuk dan
sabun (Depkes RI, 2009, 2). bersin- bersin di sertai pusing dapat
Berdasarkan tabel 5.3 menunjukkan mengganggu sistem imun tubuh pada
setengah responden anak usia sekolah individu tersebut, jika sistem imun tubuh
kelas 3 di SDN Plandi 2 jombang adalah lemah maka akan mudah terkena infeksi
sebanyak 23 anak usia sekolah (50%). virus dan bakteri. Hal tersebut
Menurut peneliti semakin tinggi tingkatan menunjukkan bahwa anak usia sekolah
pendidikan atau kelas maka individu kurang dalam menjaga kebersihan diri
tersebut akan semakin mudah menerima salah satunya mencuci tangan pakai sabun
informasi yang di berikan maka akan yang baik dan benar. Jika hal tersebut
bertambah pula pengetahuan yang di tidak dilakukakan dengan benar kuman
dapatkan siswa dan siswi tersebut. Dengan dan bakteri yang ada di tangan tidak
bertambahnya pengetahuan tersebut akan hilang, ketika tangan kotor tersebut secara
berdampak pada perilaku siswa dan siswi tidak sadar memegang mulut atau hidung
tersebut. Apabila pengetahuan yang di bisa mengakibatkan penyakit ISPA.
dapatkan tidak di terapkan dalam Mengalami kejadian ISPA pada anak
kehidupan sehari – hari mencuci tangan usia sekolah, terkait kuesioner dengan
pakai sabun siswa dan siswi akan parameter pernah batuk lebih dari satu
berperilaku yang negatif. minggu dalam kurun waktu 2 bulan
Perilaku atau kebiasaan cuci tangan terakhir. Berdasarkan jawaban responden
pakai sabun bukanlah kebiasaan sejak dari kuesioner tersebut dapat di
kecil. Kebiasaan cuci tangan pakai sabun kategorikan ya pernah mengalami kejadian
tidak timbul begitu saja, tetapi harus di ISPA. Hal tersebut di karenakan infeksi
biasakan sejak kecil. (Batanoa, J, 2013, saluran pernafasan akut (ISPA) adalah
98). penyakit infeksi saluran pernafasan akut
Salah faktor yang mempengaruhi yang menyerang sistem pernafasan atas
perilaku adalah keluarga salah satunya atau bawah yang dapat menimbulkan tanda
pola asuh orang tua adalah bagian penting dan gejala seperti salah satunya batuk,
dan mendasar, perlakuan yang di berikan hidung tersumbat,dan demam. Jika tidak
orang tua yaitu mendidik, membimbing memahami cara pencegahannya maka
dan mengajarkan tingkah laku yang umum angka kejadian ISPA semakin meningkat.
dilakukan (Nuryanti, Lusi, 2008, 20). Infeksi saluran pernafsan akut dapat
ditularkan melalui udara yang kurang
Kejadian infeksi saluran pernafasan bersih, bibit penyakit masuk ke dalam
aku pada anak usia sekolah tubuh melalui pernafasan, oleh karena itu
penyakit ISPA ini termasuk golongan Air
Berdasarkan tabel 5.7 menunjukkan Borne Disease. Penularan udara
hampir seluruhnya anak usia sekolah dimaksudkan adalah cara penularan yang
pernah mengalami kejadian ISPA adalah terjadi tanpa kontak dengan penderita
sebanyak 42 orang anak usia sekolah maupun dengan benda terkontaminasi.
(91,3%). (WHO, 2007, 10)
pakai sabun tidak benar,maka kuman
Hubungan perilaku cuci tangan pakai penyakit akan mudah ditularkan melalui
sabun dengan kejadian ISPA pada anak tangan yang tidak bersih. Hal tersebut
usia sekolah di SDN Plandi 2 Jombang akan mudah tertular penyakit penyakit
salah satunya infeksi saluran pernafsan
Berdasarkan tabel 8 menunjukan dari akut (Depkes, 2009, 3).
46 responden sebagian besar mempunyai
perilaku negatif terhadap perilaku cuci
tangan pakai sabun sebanyak 42 orang SIMPULAN DAN SARAN
siswa dan siswi (91,3%) dan hampir
seluruhnya mengalami kejadian ISPA Simpulan
sebanyak 42 orang siswa dan siswi
(91,3%). Hasil analisis dengan Hasil penelitian yang sudah dilakukan
menggunakan bantuan program SPSS 20, dapat disimpulkan sebagai berikut:
di dapatkan hasil analisis uji chi square
0,00 menunjukan bahwa nilai p<0,05 maka 1. Perilaku cuci tangan pakai sabun pada
H0 di tolak dan H1 di terima yaitu ada anak usia sekolah di SDN Plandi 2
hubungan perilaku cuci tangan pakai sabun Jombang sebagian besar mempunyai
dengan kejadian infeksi saluran pernafasan perilaku negatif.
akut pada anak usia sekolah di SDN Plandi 2. Kejadian infeksi saluran pernafasan akut
2 Jombang. pada anak usia sekolah di SDN Plandi 2
Menurut peneliti perilaku cuci tangan Jombang hampir seluruhnya
dan kejadian ISPA mempunyai hubungan,
mengalami ISPA.
karena invidu yang mempunyai perilaku
yang negatif dalam melakukan cuci tangan 3. Ada hubungan perilaku cuci tangan
pakai sabun yang kurang baik dan benar pakai sabun dengan kejadian infeksi
maka kejadian ISPA akan semakin tinggi. saluran pernafasan akut pada anak usia
Hal tersebut terjadi karena bibit penyakit sekolah di SDN Plandi 2 Jombang.
yang di tularkan melalui udara seperti
batuk dan bersin - bersin di sertai pusing Saran
dapat mengganggu sistem imun tubuh
pada individu tersebut, jika sistem imun 1. Bagi siswa
tubuh lemah maka akan mudah terkena Agar lebih memperhatikan cara hidup
infeksi virus dan bakteri salah satunya bersih dan sehat dengan tindakan
penyakit ISPA. Hal tersebut bisa terjadi mencuci tangan pakai sabun (CTPS),
karena kurangnya dalam menjaga agar dapat mencegah penyakit infeksi
kebersihan diri salah satunya dalam saluran pernafasan akut (ISPA),
melakukan cuci tangan pakai sabun maka biasakan untuk mencuci tangan pakai
semakin tinggi tingkat kejadian ISPA sabun dengan baik dan benar.
demikian sebaliknya apabila melakukan 2. Bagi Guru SDN Plandi 2 Jombang
tindakkan mencuci tangan pakai sabun Hendaknya kepada guru untuk
dengan cara yang benar dalam melakukan
aktifitas yang mengharuskan untuk meningkatkan informasi dengan
mencuci tangan pakai sabun maka akan melakukan penyuluhan tentang
semakin rendah tingkat kejadian ISPA pentingnya cuci tangan pakai sabun
pada anak usia sekolah. dengan baik dan benar salah satu
Aktifitas mencuci tangan dengan sabun tindakan pencegahan penyakit dan
merupakan gambaran individu terhadap mempraktekannya. Selain itu
dirinya dalam menjaga kesehatan dan
memberikan fasilitas cuci tangan pakai
kebersihan serta mencegah timbulnya
penyakit salah satunya infeksi saluran sabun di sekolah dengan air mengalir
pernafasan akut, apabila perilaku 3 Bagi kepala sekolah
seseorang dalam melakukan cuci tangan
Hendaknya menyediakan fasilitas yang WHO. 2007. “Pencegahan dan
memadai untuk memenuhi perilaku Pengendalian Infeksi Saluran
hidup bersih dan sehat dalam Pernapasan Akut (ISPA) Yang
Cenderung Menjadi Epidemi dan
melakukan cuci tangan pakai sabun.
Pandemi di Fasilitas Pelayanan
4. Kepada peneliti selanjutnya Kesehatan” Pedoman Interim WHO.
Bagi peneliti selanjutnya di sarankan Alih Bahasa: Trust Indonesia.
Jakarta.
untuk melakukan penelitian tentang http://apps.who.int/iris/bitstream/10
perilaku cuci tangan pakai sabun 665/69707/14/WHO_CDS_EPR_20
07.6_ind.pdf. Diakses pada tanggal
misalnya : kebiasaan siswa, lingkungan. 7 agustus 2017.

KEPUSTAKAAN

Batanoa, J. 2013. Kebiasaan cuci


tangan dengan kejadian diare.
Vol.2, No 3
Endang & Mega. 2013 “Perilaku
Mencuci Tangan Pada Anak SD
Negeri 3 Gagak Sipat Boyolali”
Jurnal Akademi Kebidanan Citra
Medika Surakarta. Vol.2,
Kamaruddin. 2009 “Penerapan Cuci
Tangan Pakai Sabun Di SDN II
Kota Karang Bandar Lampung”
Jurnal Poltekkes Tanjungkarang.
Vol.7, No 1
Depkes RI. 2009 “ Panduan
Penyelenggaraan Hari Cuci Tangan
Pakai Sabun Sedunia (CTPS) 15
oktober 2009” Jakarta : Departemen
Kesehatan RI. Vol.1, No.1
Nuryanti, Lusi. 2008. ”Psikologi Anak”
Jakarta: PT Indeks
Riskesdas. 2013 “Penerapan Cuci
Tangan Pakai Sabun Di SDN II
Kota Karang Bandar Lampung”
Jurnal Poltekkes Tanjungkarang.
Vol.7, No 1
Rasmaliah. 2004 “ Faktor- faktor Yang
Berhubungan Dengan Kejadian
ISPA Berulang Pada Balita Usia 36-
59 Bulan Di Puskesmas Salotungo
Watan Soppeng” skripsi Fakultas
Kedokteran Program Studi Ilmu
Keperawatan Universitas
Hasanuddin Makasar.
https://www.scribd.com/doc/901605
87/1-Faktor2-b-d-Kejdian-ISPA-by-
Radhyt