Anda di halaman 1dari 3

Hukum Asal Menikah adalah Sunnah

https://farisna.wordpress.com/2011/06/18/hukum-asal-menikah-adalah-s

Hukum Asal Menikah adalah Sunnah

Hukum Asal Menikah adalah Sunnah Fuqaha menyebutkan bahwa pada nikah diberlakukan hukum yang

Fuqaha menyebutkan bahwa pada nikah diberlakukan hukum yang lima. Sehingga

bisa jadi dalam satu keadaan hukumnya wajib, pada keadaan lain hukumnya

mustahab/sunnah atau hanya mubah, bahkan terkadang makruh atau haram.

Hukumnya Sunnah

Adapun hukum asal menikah adalah sunnah menurut pendapat Abu Hanifah,

Malik, Asy-Syafi’i, dan riwayat yang masyhur dari mazhab Al-Imam Ahmad.

Sebagaimana hal ini merupakan pendapat mayoritas ulama, menyelisihi pendapat

mazhab Zhahiriyyah yang mengatakan wajib.

Nikah ini merupakan sunnah para rasul, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala

berfirman:

ً ﺔﱠﻳ ﺭ ِّ ُ ﺫ ﻭ ﺎﺟﺍً

َ

ﻭﺯْ َ ﺃ ﻢ ﻬ ﻟ ﺎَﻨ ﻠ ﻌ ﺟ َ ﻭ ﻚَ ﻠْﺒِ َﻗ ﻦْ

َ

َ

ْ ُ

ْ

َ

َ

َ

ﻣِ ً ﻼﺳُ ﺭُ ﺎَﻨ ﻠ ﺳﺭْ َ ﺃ ْﺪَﻘ ﻟ

ْ

َ

َ

“Sungguh Kami telah mengutus para rasul sebelummu dan Kami jadikan untuk

mereka istri-istri dan anak turunan.” (Ar-Ra’d: 38)

Utsman bin Mazh’un radhiyallahu ‘anhu, seorang dari sahabat Rasulullah

Shallallahu ‘alaihi wa sallam, berkata, “Seandainya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi

wa sallam mengizinkan kami, niscaya kami akan mengebiri diri kami (agar tidak

memiliki syahwat terhadap wanita sehingga tidak ada kebutuhan untuk menikah,

Hukum Asal Menikah adalah Sunnah

https://farisna.wordpress.com/2011/06/18/hukum-asal-menikah-adalah-s

pent.). Akan tetapi beliau melarang kami dari hidup membujang (tidak menikah).” (HR. Al-Bukhari no. 5073 dan Muslim no. 3390)

Hukumnya Wajib

Bagi seseorang yang mengkhawatirkan dirinya akan jatuh dalam perbuatan zina bila tidak menikah, maka hukum nikah baginya beralih menjadi wajib karena syahwatnya yang kuat. Ditambah lagi bila di negerinya bebas melakukan hubungan zina. Hukum nikah baginya menjadi wajib untuk menolak mafsadat tersebut. Karena meninggalkan zina hukumnya wajib, dan kewajiban tersebut tidak akan sempurna penunaiannya kecuali dengan nikah.

Hukumnya Mubah

Hukumnya mubah bagi orang yang tidak bersyahwat namun ia memiliki kecukupan harta. Mubah baginya karena tidak ada sebab-sebab yang mewajibkannya.

Hukumnya Makruh

Adapun orang yang tidak bersyahwat dan ia fakir, nikah dimakruhkan baginya. Karena ia tidak punya kebutuhan untuk menikah dan ia akan menanggung beban yang berat. Namun terkadang pada orang yang lemah syahwat atau tidak memiliki syahwat ini, karena usia tua atau karena impoten misalnya, diberlakukan hukum makruh tanpa membedakan ia punya harta atau tidak. Karena ia tidak dapat memberikan nafkah batin kepada istrinya, sehingga pada akhirnya dapat memudaratkan si istri.

Hukumnya Haram

Dan haram hukumnya bila orang itu benar-benar tidak dapat menunaikan perkara- perkara yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga. Karena, menikah disyariatkan semata-mata untuk memberikan maslahat. Kalau ada tindakan aniaya seperti ini, akan hilanglah maslahat yang diharapkan, terlebih lagi jika dia berbuat dosa dan melakukan perkara-perkara yang diharamkan.

Haram pula bagi seseorang yang sudah memiliki istri, kemudian ia ingin menikah lagi namun dikhawatirkan tidak dapat berlaku adil di antara istri-istrinya. Allah

Hukum Asal Menikah adalah Sunnah

Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ًﺓَﺪﺣﺍِ ﻮَﻓ ﺍﻮ ﻟﺪِﻌْ َﺗ ﱠ ﻻ َ

ُ

َ

ﺃ ﻢُﺘ ﻔﺧِ ﻥْ ِ ﺈَﻓ

ْ

ْ

https://farisna.wordpress.com/2011/06/18/hukum-asal-menikah-adalah-s

“Maka apabila kalian khawatir tidak dapat berlaku adil (bila memiliki lebih dari

satu istri) maka menikahlah dengan seorang wanita saja.” (An-Nisa`: 3) [1]

[1] Bada`i’ush Shana`i’, 3/331-335, Al-Ikmal 4/524, Al-Majmu’, 17/204-205, Al-

Mughni, kitab An-Nikah, fashl Al-Ashl fi Masyru’iyatin Nikah Al-Kitabu was-

Sunnah wal Ijma’, Al-Ahkamusy Syar’iyyah fil Ahwalisy Syakhshiyyah, 1/36, Asy-

Syarhul Mumti’, 12/6-9.

Maroji’ :

1. Majalah Asy Syaria’h Vol. IV/No. 39/1429 H/2008 dengan judul Mewujudkan

Pernikahan Islami artikel “Menikah dengan Aturan Islam” karya Al Ustadz Abu

Ishaq Muslim hafizhahullah.

Posted on Juni 18, 2011 at 1:10 am in Hukum

| RSS feed You can skip to the end and leave a reply.