Anda di halaman 1dari 20

MINI-CEX

ABORTUS INKOMPLIT
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu
Syarat Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter
Bagian Ilmu Kandungan dan Kebidanan RSI Sultan Agung Semarang

Disusun oleh:
Fania Apriska
30101206627

Pembimbing:
dr. Rini Aryani, Sp.OG

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2018
ABORTUS INKOMPLIT

A. DEFINISI

Abortus adalah pengeluaran buah kehamilan sebelum janin dapat


hidup di luar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu
atau berat janin kurang dari 500 gram.

Abortus yang berlangsung tanpa tindakan disebut abortus spontan, sedangkan


abortus yang terjadi dengan sengaja dilakukan tindakan disebut abortus
provokatus. Abortus provokatus ini dibagi menjadi 2 kelompok yaitu abortus
provokatus medisinalis (karena indikasi medik) dan abortus provokatus
kriminalis.

Berdasarkan jenisnya, abortus juga dibagi menjadi abortus imminens, abortus


insipien, abortus inkompletus, abortus kompletus dan missed abortion.

Abortus inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan


sebelum 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram dengan sebagian
jaringan hasil konsepsi masih tertinggal di dalam uterus. Abortus inkomplit
sendiri merupakan salah satu bentuk klinis dari abortus spontan maupun sebagai
komplikasi dari abortus provokatus kriminalis ataupun medisinalis
B. ETIOLOGI
Mekanisme pasti yang menyebabkan abortus tidak selalu jelas, tetapi pada
bulan bulan awal kehamilan, ekspulsi ovum secara spontan hampir selalu
didahului oleh kematian mudigah atau janin. Karena itu, pertimbangan
etiologis pada abortus dini antara lain mencakup pemastian kausa kematian
janin (apabila mungkin).
 Faktor janin.
Kelainan yang paling sering dijumpai pada abortus adalah
pertumbuhan zigot, embrio, janin atau plasenta. Kelainan tersebut
biasanya menyebabkan abortus pada trimester pertama, yaitu:
 Kelainan telur, telur kosong (blighted ovum), kerusakan embrio
atau kelainan kromosom.
 Abnormalitas pembentukan plasenta (hipoplasi trofoblas).
 Endarteritis dapat terjadi dalam villikorealis dan menyebabkan
oksigenasi plasenta terganggu, sehingga menyebabkan gangguan
pertumbuhan dan kematian janin. Keadaan ini bisa terjadi sejak
kehamilan muda misalnya karena hipertensi menahun.
 Faktor maternal
 Infeksi
Infeksi maternal dapat membawa resiko bagi janin yang
berkembang, terutama pada akhir trimester pertama atau awal
trimester kedua. Tidak diketahui penyebab kematian janin secara
pasti, apakah janin yang menjadi terinfeksi ataukah toksin yang
dihasilkan oleh mikroorganisme penyebabnya.
 Penyakit maternal
Nefritis kronis dan gagal jantung dapat mengakibatkan anoksia
janin, kesalahan pada metabolisme asam folat yang diperlukan
untuk perkembangan janin akan mengakibatkan kematian janin.
 Kelainan endokrin
Abortus spontan dapat terjadi bila produksi progesteron tidak
mencukupi atau pada penyakit disfungsi tiroid dan defisiensi
insulin. Penurunan sekresi progesteron diperkirakan sebagai
penyebab terjadinya abortus pada usia kehamilan 10-12 minggu,
yaitu saat plasenta mengambil alih fungsi korpus luteum dalam
produksi hormon.
 Faktor imunologis, ketidakcocokan (inkompatibilitas) sistem HLA
(Human Leukocyte Antigen)
Banyak perhatian ditujukan pada sistem imun sebagai faktor
penting dalam kematian janin berulang.
 Trauma
Trauma terjadi bisa karena hubungan seksual khususnya kalau
terjadi orgasme, dapat menyebabkan abortus pada ibu dengan
riwayat keguguran yang berkali-kali. Kasusnya jarang terjadi,
umumnya abortus terjadi segera satelah trauma tersebut,
misalnya trauma akibat pembedahan :
 pengangkatan ovarium yang mengandung korpus luteum
gravidaditatum sebelum minggu ke-8
 pembedahan intraabdominal dan operasi pada saat hamil.
 Kelainan uterus
Abnormalitas uterus yang mengakibatkan kelainan kavum uteri
atau adanya halangan terhadap pertumbuhan dan pembesaran
uterus, misalnya fibroid, malformasi kongenital, prolaps atau
retroversio uteri. Kelainan uterus diantaranya : hipoplasia uterus,
mioma (terutama submukosa), serviks inkompeten. Serviks
inkompeten ditandai oleh pembukaan serviks tanpa nyeri pada
trimester kedua, atau mungkin awal trimester ketiga, disertai
prolaps atau menggembungnya selaput ketuban ke dalam vagina,
diikuti oleh pecahnya selaput ketuban dan ekspulsi janin immatur.
Apabila tidak diterapi secara efektif, rangkaian ini akan berulang
setiap kehamilan
 Faktor eksternal
 Radiasi
pada kehamilan 9 minggu pertama dapat merusak janin dan dosis
yang lebih tinggi dapat menyebabkan keguguran.
 Obat-obatan, antagonis asam folat, antikoagulan, dan lain lain
 Psikomatik
Stres dan emosi yang kuat diketahui dapat memprngaruhi fungsi
uterus lewat sistem hipotalamus-hipofise. Banyak yang
melaporkan kasus-kasus abortus spontan dengan riwayat stres.

C. MACAM- MACAM ABORTUS


Abortus dapat diklasifikasikan menjadi:

1. Abortus Spontan
Yaitu abortus yang terjadi tanpa disengaja, tidak memakai obat-obatan
maupun alat-alat, semata-mata disebabkan oleh faktor-faktor alamiah.

Abortus spontan terdiri dari:

a. Abortus Iminens
Abortus tingkat permulaan dan merupakan ancaman terjadinya
abortus, ditandai perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup
dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan.
Diagnosis abortus iminens biasanya diawali dengan keluhan
perdarahan pervaginam pada umur kehamilan kurang dari 20 minggu.
Penderita mengeluh mulas sedikit atau tidak ada keluhan sama sekali
kecuali perdarahan pervaginam. Ostium uteri masih tertutup besarnya
uterus masih sesuai dengan umur kehamilan dan tes kehamilan urin
masih positif. Untuk menentukan prognosis abortus iminens dapat
dilakukan dengan melihat kadar hormon hCG pada urin dengan cara
melakukan tes urin kehamilan menggunakan urin tanpa pengenceran
dan pengencaran 1/10. Bila hasil tes urin masih positif keduanya
maka prognosisnya adalah baik. Bila pengenceran 1/10 hasilnya
negatif maka prognosisnya dubia at malam. Pengelolaan penderita ini
sangat bergantung pada informed consent yang diberikan. Bila ibu
masih menghendaki kehamilan tersebut maka pengelolaan harus
maksimal untuk mempertahankan kehamilan ini. Pemeriksaan USG
diperlukan untuk mengetahui pertumbuhan janin yang ada dan
mengetahui keadaan plasenta apakah sudah terjadi pelepasan atau
belum. Diperhatikan ukuran kantung getasi janin apakah sesuai
dengan umur kehamilan berdasarkan HPHT. Denyut jantung janin dan
gerakan janin diperhatikan disamping ada tidaknya hematoma
retroplasenta atau pembukaan kanalis servikalis.
Penderita diminta untuk melakukan tirah baring sampai perdarahan
berhenti. Bisa diberikan spasmolitik agar uterus tidak berkontraksi
atau diberi tambahan hormon progesteron dan derivatnya untuk
mencegah terjadinya abortus. Penderita boleh dipulangkan setelah
tidak terjadi perdarahan dengan pesan khusus tidak boleh
berhubungan seksual kurang lebih 2 minggu.
b. Abortus Insipien
Abortus yang sedang mengancam yang ditandai dengan serviks
telah mendatar dan ostium uteri telah membuka, akan tetapi hasil
konsepsi masih dalam kavum uteri dan dalam proses pengeluaran.
Penderita akan merasa mulas karena kontraksi yang sering dan
kuat, perdarahanya bertambah sesuai dengan pembukaan serviks
uterus dan umur kehamilan. Besarnya uterus masih sesuai dengan
umur kehamilan dan tes urin kehamilan masih positif. Pada
pemeriksaan USG akan didapati pembesaran uterus yang masih sesuai
dengan umur kehamilan, gerak janin dan gerak jantung janin masih
jelas walau mungkin sudah mulai tidak normal, biasanya terlihat
penipisan serviks uterus atau pembukaannya. Perhatikan pula ada
tidaknya pelepasan plasenta dari dinding uterus.
Pengelolaan penderita ini harus memperhatikan keadaan umum
dan perubahan keadaan hemodinamik yang terjadi dan segera
dilakukan tindakan evakuasi/ pengeluaran hasil konsepsi disusul
dengan kuretase bila perdarahan banyak.pada umur kehamilan 12
minggu, uterus biasanya besarnya sudah melebihi telur angsa tindakan
evakuasi dan kuretasi harus hati-hati untuk mencegah terjadinya
perforasi pada dinding uterus. Pasca tindakan perlu perbaikan keadaan
umum , pemberian uterotonika dan antibiotik profilaksis .
c. Abortus Kompletus
Seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri pada
kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500
gram
Senua hasil konsepsi telah dikeluarkan, ostium uteri telah menutup,
uterus sudah mengecil sehingga perdarahan sedikit. Besarnya uterus
tidak sesuai dengan umur kehamilan. Pemeriksaan USG tidak perlu
dilakukan bila pemeriksaan secara klinis sudah memadai. Pada
pemeriksaan urin tes biasanya masih positif sampai 7- 10 hari setelah
abortus. Pengelolaan penderita tidak memerlukan tindakan khusus
ataupun pengobatan . biasanya hanya diberi roborensia atau
hematenik bila keadaan pasien memerlukan, uterotonika tidak perlu
diberikan.
d. Abortus Inkompletus
Sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri dan masih
ada yang tertinggal. Batasan ini juga masih terpancang pada umur
kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500
gram. Sebagian jaringan hasil konsepsi masih tertinggal didalam
uterus dimana pada pemeriksaan vagina, kanalis servikalis masih
terbuka dan teraba jaringan dalam cavum uteri atau menonjol pada
ostium uteri eksterna. Perdarahan biasanya masih terjadi jumlahnya
pun bisa banyak atau sedikit bergantung pada jaringan yang tersisa,
yang menyebabkan sebagian plasenta site masih terbuka sehingga
perdarahan berjalan terus. Pasien dapat terjatuh dalam keadaan
anemia atau syok hemorargik sebelum sisa jaringan konsepsi
dikeluarkan. Pengelolaan pasien diawali dengan perhatian terhadap
keadaan umum dan mengatasi gangguan pada hemodinamik yang
terjadi kemudian disiapkan tindakan kuretase. Pemeriksaan USG
hanya dilakukan bila ragu dengan diagnosis klinis. Besarnya uterus
sudah lebih kecil dari umur kehamilan dan kantung gestasi sudah
sulit dikenali, dicavum uteri tampak masa hiperekoik yang bentuknya
tidak beraturan.
Bila terjadi perdarahan hebat, dianjurkan segera melakukan
pengeluaran sisa hasil konsepsi secara manual agar jaringan yang
mengganjal terjadinya kontraksi uterus segera dikeluarkan, kontraksi
uterus dapat berlangsung baik dan perdarahan bisa berhenti.
Selanjutnya dilakukan tindakan kuretase. Pasca tindakan perlu
diberikan uterotonika parenteral ataupun peroral dan antibiotika
e. Missed Abortion
Abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus telah meninggal
dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi
seluruhnya masih tertahan dalam kandungan.
Penderita missed abortion biasanya tidak merasakan keluhan
apapun kecuali merasakan pertumbuhan kehamilannya tidak seperti
yang diharapkan. Bila kehamilan diatas 14 minggu sampai 20 minggu
penderitas justru merasakan rahimnya semakin mengecil dengan
tanda-tanda kehamilan sekunder pada payudara mulai menghilang.
Kadangkala missed abortion juga diawali dengan abortus iminens
yang kemudian merasa sembuh, tetapi pertumbuhan janin terhenti.
Pada pemeriksaan tes urun kehamilan biasanya negatif setalah 1
minggu dari terhentinya pertumbuhan kehamilan. Pada pemeriksaan
USG akan didapatkan yang mengecil, kantung gestasi yang mengecil
dan bentuknya tidak beraturan disertai gambaran fetus yang tidak ada
tanda-tanda kehidupan. Bila missed abortion berlangsung lebih dari 4
minggu harus diperhatikan kemungkinan terjadinya gangguan
penjendalan darah oleh karena hipofibrinogenemia sehingga perlu
diperiksa koagulasi sebelum tindakan evakuasi dan kuretase.
Pada umur kehamilan kurang dari 12 minggu tindakan evakuasi
dapat dilakukan secara langsung dengan melakukan dilatasi dan
kuretase bila serviks uterus memungkinkan. Bila umur kehamilan
diatas 12 minggu atau kurang dari 20 minggu dengan keadaan serviks
uterus yang masih kaku dianjurkan untuk melakukan induksi terlebih
dahulu untuk mengeluarkan janin atau mematangkan kanalis
servikalis. Setelah janin atau jaringan konsepsi berhasil keluar dengan
induksi dilanjutkan dengan tindakan kuretase sebersih mungkin.
Pada dekade belakangan ini banyak tulisan yang telah
menggunakan prostaglandin atau sintesinya untuk melakukan induksi
pada missed abortion. Salah satu cara yang banyak disebutkan adalah
dengan pemberian misoprostol secara sublingual sebanyak 400 mg
yang dapat diulang 2 kali dengan jarak enam jam. Dengan obat ini
akan terjadi pengeluaran hasil konsepsi atau terjadi pembukaan
ostium serviks sehingga tindakan evakuasi dan kuretase dapat
dikerjakan untuk mengosongkan cavum uteri.

2. Abortus Provokatus (induced abortion)


Yaitu abortus yang disengaja, baik dengan memakai obat-obatan maupun
alat-alat. Abortus ini terbagi lagi menjadi:

a. Abortus medisinalis (therapeutica abortion)


Adalah pengakhiran kehamilan sebelum janin menjadi viabel dengan
tujuan untuk melindungi ibu.

b. Abortus kriminalis
Adalah abortus yang terjadi karena tindakan-tindakan yang tidak legal
atau tidak bersadarkan indikasi medis yakni tidak berdasar gangguan
kesehatan ibu maupun penyakit pada janin.

3. Abortus Infeksiosa atau septik


Adalah abortus yang disertai infeksi genital. Abortus septik adalah abortus
disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman atau toksinnya ke dalam
perdaran darah atau peritoneum.2,3

D. PATOGENESIS
Abortus inkomplit dapat terjadi secara spontan, maupun sebagai komplikasi
dari abortus provokatus, atau dari abortus imminens yang tidak ditangani dengan
baik. Proses terjadinya abortus berawal dari perdarahan pada desidua basalis yang
kemudian diikuti oleh proses nekrosis pada jaringan sekitar daerah yang
mengalami perdarahan itu. Dengan demikian konseptus terlepas sebagian atau
seluruhnya dari tempat implantasinya. Konseptus yang telah lepas dari
perlekatannya merupakan benda asing di dalam uterus dan merangsang rahum
untuk berkontraksi. Rangsangan yang terjadi semakin lama semakin bertambah
kuat dan terjadilah his yang memeras isi rahim keluar.

Pada keguguran yang terjadi sebelum kehamilan kurang dari 8 minggu


pelepasannya dapat terjadi sempurna sehingga terjadi abortus kompletus oleh
karena villi koreales belum tumbuh terlalu mendalam ke dalam lapisan desidua.
Pada kehamilan antara 8 minggu sampai 14 minggu villi koriales menembus
desidua lebih dalam sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna oleh
karena villi koriales telah tumbuh dan menembus lapisan desidua jauh lebih tebal
sehingga ada bagian yang terisa melekat pada dinding rahim dan terjadilah abortus
inkomplit. yang dapat menyebabkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih
dari 14 minggu umumnya yang mula-mula dikeluarkan setelah ketuban pecah
adalah janin, disusul kemudian oleh plasenta yang telah lengkap terbentuk. Sisa
abortus yang tertahan didalam mengganggu kontraksi rahim yang menyebabkan
pengeluaran darah yang lebih banyak. Perdarahan tidak banyak jika plasenta
segera terlepas dengan lengkap
E. MANIFESTASI KLINIK ABORTUS INKOMPLIT
Manifestasi klinik untuk mengetahui terjadinya abortus antara lain:
1) Perdarahan pervaginam pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu
2) Mulas atau nyeri perut pada bagian bawah atau kadang tidak disertai keluhan
sama sekali
3) Nyeri punggung belakang yang semakin hari bertambah buruk
4) Pemeriksaan fisik yang terdiri dari: keadaan umum tampak lemah, tekanan
darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, dan
suhu badan normal atau meningkat,
5) Pemeriksaan ginekologi meliputi inspeksi vulva dengan melihat perdarahan
pervaginam, tidak terdapat nyeri goyang serviks atau adneksa
6) Perdarahan dari kavum uteri, ostium uteri tertutup, tidak ada jaringan keluar
dari ostium
7) Colok vagina dapat ditemukan porsio terbuka, perdarahan, dan ditemukannya
sisa jaringan

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1) Tes kehamilan akan menunjukkan hasil positif
2) Pemeriksaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup,
pertumbuhan janin yang ada danmengetahui keadaan plasenta apakah sudah
terjadi pelepasan atau belum.

G. PENATALAKSANAAN
Penatalaksaan abortus inkomplit harus diawali dengan evaluasi terhadap
keadaan umum pasien serta gangguan hemodinamik yang terjadi. Bila terjadi
perdarahan yang hebat, sebaiknya segera dilakukan pengeluaran sisa hasil
konsepsi, sehingga uterus dapat berkontraksi dengan baik dan perdarahan dapat
dihentikan.1Selanjutnya penatalaksaan abortus dapat dilakukan dengan tindakan
pembedahan maupun medikamentosa melalui beberapa teknik. Tanpa penyakit
sistemik pada ibu, tindakan penatalaksanaan abortus tidak mengharuskan pasien
untuk dirawat inap.

Teknik pembedahan meliputi dilatasi serviks yang diikuti dengan


pengosongan isi uterus baik dengan cara kuretase, aspirasi vakum, dilatasi dan
evakuasi, dilatasi dan ekstraksi, induksi haid, atau laparotomi.

Pada teknik dilatasi dan kuretase serviks dibuka terlebih dahulu (didilatasi)
dan kemudian sisa jaringan dikeluarkan dengan cara mengerok keluar secara
mekanis (kuretase tajam), dengan menghisap (kuretase hisap), atau kombinasi
keduanya. Dilatasi serviks dilakukan untuk mempermudah dan mempercepat
kuretase maupun aspirasi, serta mengurangi resiko terjadinya laserasi serviks dan
perforasi uterus. (Guideline). Namun pada kasus abortus inkomplit, dilatasi
serviks sebelum tindakan kuretase sering tidak diperlukan karena tidak sulit untuk
memasukkan kanul melalui ostium uteri internum. Beberapa ahli hanya
mengerjakan teknik ini pada keadaan tertentu, seperti pada usia kehamilan
trimester satu akhir (12-14 minggu), remaja dan dewasa muda, nulipara, serta
adanya jaringan parut pada serviks.

Kemungkinan terjadinya penyulit dalam menggunakan teknik ini meningkat


setelah trimester pertama, sehingga baik kuretase tajam maupun hisap sebaiknya
dilakukan sebelum usia kehamilan 14-15 minggu. Langkah-langkah dalam
melakukan teknik dilatasi dan kuretase adalah sebagai berikut
1. Persiapan alat-alat kuretase, pasien, dan penolong.
2. Kandung kencing dikosongkan, selanjutnya dapat diberikan anestesi jika
diperlukan.
3. Pemeriksaan ginekologik untuk menentukan besar dan posisi uterus.
4. Tindakan asepsis dan antisepsis pada genitalia eksterna, vagina, dan serviks.
5. Pasang spekulum vagina dan selanjutnya serviks dipresentasikan dengan
tenakulum.
6. Sonde uterus dimasukkan ke dalam kavum uteri untuk menentukan besar dan
arah uterus.
7. Kanula dimasukkan ke dalam kavum uteri sampai fundus uteri, kemudian
dihubungkan dengan aspirator. Dalam memilih ukuran kanula yang sesuai
diperlukan pertimbangan; kanula yang kecil memiliki resiko tersisanya
jaringan intrauterus pasca pembedahan, sementara kanula dengan ukuran besar
memiliki resiko terjadinya cedera uterus dan rasa tidak nyaman yang lebih
besar.
8. Setelah mencapai tekanan 60 cm Hg pada aspirator listrik atau -0,6 atmosfir
pada vakum ekstraktor dan syringe, kanula digerakkan perlahan-lahan dari
atas ke bawah dan sebaliknya, sambil diputar 360o.
9. Bila kavum uteri sudah bersih dari jaringan konsepsi, akan terasa dan
terdengar gerakan kanula dengan miometrium yang kasar, sedangkan dalam
botol penampung jaringan akan timbul gelembung udara.
10. Setelah tindakan, tanda-tanda vital harus diawasi selama 15-30 menit pada
pasien tanpa anestesi. Sedangkan pada pasien dengan anestesi, pengawasan
pasca tindakan harus dilakukan selama 1-2 jam.
11. Pemeriksaan lanjutan dapat dilakukan 1-2 minggu kemudian.

Teknik dilatasi dan evakuasi merupakan teknik pengosongan uterus yang


dilakukan pada usia kehamilan 10-16 minggu.14 Teknik ini dilakukan dalam 2
tahap, yaitu dilatasi dan evakuasi. Tahap dilatasi dilakukan dengan pemasangan
batang laminaria ke dalam kanalis servikalis, 8-24 jam sebelum evakuasi.
Selanjutnya dilakukan evakuasi dengan anestesi umum. Mula-mula jaringan
konsepsi yang besar yaitu janin dan plasenta dikeluarkan dengan abortus tang,
kemudian dilakukan kuretase untuk membersihkan uterus.

Dalam beberapa keadaan, tindakan laparotomi untuk penatalaksanaan


abortus lebih diindikasikan dibandingkan tindakan kuretase atau dengan
medikamentosa, seperti pada wanita yang menginginkan terminasi kehamilan dan
sterilisasi, adanya penyakit uterus yang signifikan, serta kegagalan induksi medis
pada trimester kedua.

Sedangkan teknik medikamentosa dapat menggunakan beberapa preparat


antara lain oksitosin intravena, cairan hiperosmotik intra-amnion (salin 20% atau
urea 30%), prostaglandin E2, F20, E1, dan analog-analognya. Kontraindikasi untuk
penatalaksanaan abortus secara medis antara lain adanya alergi spesifik terhadap
obat, adanya alat kontrasepsi dalam rahim, anemia berat, koagulopati atau
pemakaian antikoagulan, dan penyakit medis signifikan, misalnya penyakit hati,
kardiovaskular, dan penyakit kejang yang tidak terkontrol.

H. KOMPLIKASI
1. Perdarahan

Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil


konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena
perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.

2. Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam
posisi hiperretrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini, penderita pelu diamati
dengan teliti. Jika ada tanda bahaya, perlu segera dilakukan laparotomi, dan
tergantung dari luas dan bentuk perforasi, penjahitan luka perforasi atau perlu
histerektomi.
Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh orang awam
menimbulkan persolan gawat karena perlukaan uterus biasanya luas, mungkin
pula terjadi perlukaan pada kandung kemih atau usus. Dengan adanya dugaan
atau kepastian terjadinya perforasi, laparotomi harus segera dilakukan untuk
menentukan luasnya cedera, untuk selanjutnya mengambil tindakan-tindakan
seperlunya guna mengatasi komplikasi.
3. Infeksi
Infeksi dalam uterus atau sekitarnya dapat terjadi pada tiap abortus, tetapi
biasanya ditemukan pada abortus inkompletus dan lebih sering pada abortus
buatan yang dikerjakan tanpa memperhatikan asepsis dan antisepsis. Apabila
infeksi menyebar lebih jauh, terjadilah peritonitis umum atau sepsis, dengan
kemungkinan diikuti oleh syok.
4. Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan
infeksi berat (syok endoseptik).

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG

A. IDENTITAS
1. Nama penderita : Ny. D
2. Umur : 41 tahun
3. Jenis kelamin : Perempuan
4. No. RM : 01102283
5. Agama : Islam
6. Pendidikan : SMA
7. Pekerjaan : swasta
8. Status : Menikah
9. Alamat : Tambakrejo Gayamsari Semarang
10. Tanggal Masuk : 31 Desember 2017
11. Ruang : Baitunnissa II
12. Kelas :2

B. ANAMNESA
Anamnesa dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 1 Januari 2018

1. Keluhan Utama
keluar darah merah segar dari jalan lahir
2. Riwayat penyakit sekarang
Pasien G4P2A1 gravida 12 minggu datang dari IGD RSISA dengan
mengeluh keluar flek-flek merah dari jalan lahir sejak 1 minggu yang lalu,
keluar darah prongkolan disangkal. Pasien juga mengeluh sakit di perut
bagian bawah. Riwayat trauma (-), konsumsi obat-obatan / jamu (-), pijat
(-), aktivitas berlebih (-).
3. Riwayat Haid
- HPHT : 9 Oktober 2017
- Menarche : umur 13 tahun
- Siklus haid : 26 hari, teratur
- Lama haid : 6 hari
- Dismenore : (-)

4. Riwayat Pernikahan
Pasien menikah yang pertama kali dengan suami sekarang.
Usia pernikahan 18 tahun.
5. Riwayat Obstetri
G4P2A1 hamil 8 minggu 2 hari
G1 abortus tahum 2001
G2 laki-laki, 15 tahun, aterm, 3000 gr, sc partus macet
G3 perempuan, 8 tahun, aterm, 3100 gr, sc
G4 hamil ini
6. Riwayat ANC
ANC dilakukan 2 kali di bidan, tidak ada pesan-pesan khusus.
7. Riwayat KB
(-)

8. Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat Hipertensi : disangkal
Riwayat Penyakit Jantung : disangkal
Riwayat Penyakit Paru : astma +, obat diminum apabila
terdapat serangan asma
Riwayat DM : disangkal
9. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat Hipertensi : disangkal
Riwayat Penyakit Jantung : disangkal
Riwayat Penyakit Paru : ibu menderita asma +
Riwayat DM : disangkal

10. Riwayat Sosial Ekonomi

Pasien adalah seorang ibu rumah tangga, suami pasien bekerja


karyawan swasta. Biaya pengobatan ditanggung BPJS

C. PEMERIKSAAN FISIK
a. Status Present

Keadaan Umum : Tampak sakit

Kesadaran : Compos mentis

Vital Sign :

TD : 90/60 mmHg

Nadi : 80 x/menit TB : 162 cm

RR : 20 x/menit BB : 69 Kg

Suhu : 36,5 0C

b. Status Internus

- Mata : Conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)


- Mulut : Bibir sianosis (-), bibir kering (-), lidah kotor (-)
- Tenggorokan : Faring hiperemis (-), pembesaran tonsil (-)
- Leher : Simetris, pembesaran kelenjar limfe (-),
pembesaran tiroid (-)
- Kulit : Turgor baik, ptekiae (-)
- Mammae : Simetris, benjolan abnormal (-), hiperpigmentasi
areola (+), puting menonjol (+).
- Pulmo
 Inspeksi : Pergerakan hemithorax dextra dan sinistra
simetris
 Palpasi : Stem fremitus dextra dan sinistra sama,
nyeri tekan (-)
 Perkusi : Sonor seluruh lapang paru
 Auskultasi : Suara dasar vesikuler, suara tambahan (-)

- Cor
 Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
 Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
 Perkusi : tidak dilakukan.
 Auskultasi : suara tambahan (-)
- Abdomen
 Inspeksi : Datar, pembesaran uterus tidak terlihat,
striae gravidarum (-), linea nigra (+), bekas operasi (-).
 Auskultasi : bising usus (+), DJJ (-)
 Perkusi : Timpani (+)
 Palpasi : Nyeri tekan perut bawah (+),
TFU tidak terlihat,
leopold tidak dilakukan.
- Extremitas
Superior Inferior

Oedem -/- -/-

Varises -/- -/-


Reflek fisiologis +/+ +/+

Reflek patologis -/- -/-

- Genitalia
 Inspeksi Eksterna : Darah segar (+), flek-flek (-), jaringan (-)
 VT : jaringan (-), Handscoen : darah (+), lendir
(+), OUE menutup
 Inspikulo : tidak dilakukan

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
A. Pemeriksaan Laboratorium Darah
1. Hb : 12,6 g/dL
2. Hematokrit : 37.7%
3. Leukosit : 9.280 /uL (High)
4. Trombosit : 263.000 /uL
5. GDS : 92
6. HbsAg : Non Reaktif
7. Gologan Darah: A (+)
B. Pemeriksaan USG

Cenderung gambaran abortus inkomplit

E. RESUME
Pasien G4P2A1 gravida 12 minggu datang dari IGD RSISA dengan mengeluh
keluar flek-flek merah dari jalan lahir sejak 1 minggu yang lalu, keluar darah
prongkolan disangkal. Pasien juga mengeluh sakit di perut bagian bawah.
Riwayat trauma (-), konsumsi obat-obatan / jamu (-), pijat (-), aktivitas
berlebih (-).
Riwayat Kehamilan

HPHT : 20 september 2017

HPL : 27 juni 2018

Tanggal kedatangan ke RS : 17 november 2017

Umur Kehamilan : 8 minggu 2 hari

Status Present :
Keadaan Umum : Tampak sakit

Vital Sign : TD : 90/60 mmHg

Nadi : 80 x/menit

RR : 20 x/menit

Suhu : 36,

Status Obstetri
- Abdomen
 Inspeksi :Perut datar, linea nigra (+) striae gravidarum (-)
 Palpasi :Nyeri tekan (+) di regio supra pubis, leopold tidak
dilakukan, TFU tidak terlihat.
- Genitalia
 Eksterna
Flek (+), Darah merah segar (+) sedikit, prongkolan (-), vulva
oedem (-), pus(-), ulkus(-)
 Interna (VT)
terdapat perdarahan darah merah segar disekitar vulva (+) sedikit
Dinding vagina licin dalam batas normal, massa (-).
Porsio licin, kenyal, pembukaan OUE (+), teraba sisa jaringan (+),
nyeri goyang (-)
Corpus uteri antefleksi, bentuk dan konsistensi sesuai umur
kehamilan 8 minggu (sebesar telur bebek).
Adneksa paramaetrium dalam batas normal, massa (-), nyeri tekan

F. DIAGNOSA
Pasien 41 tahun G4P2A1 gravida 12 minggu dengan abortus inkomplit

G. SIKAP
1. Pasien di rawat inap
2. Pengawasan: KU, Vital Sign, PPV
3. Lengkapi Laborat dan konsul radiologi USG
4. Terapi medicamentosa
 Infuse RL 20 tpm
 Cefadroxyl 2x1
 Uterogeston 2 x 200 mg pervaginam
 Fermia 1x1
 Premed :Ceftriaxone 2x1 gr iv
 Pro curetage
H. PROGNOSA
Kehamilan : ad malam

I. EDUKASI
1. Rawat inap dan tirah baring
2. Memberitahu tujuan terapi serta kemungkinan terjadinya komplikasi
3. Memberi tahu untuk kontrol satu minggu setelah keluar dari RS.

DAFTAR PUSTAKA

1. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Bagian Kebidanan dan


Kandungan. Jakarta: balai penerbit FK UI
2. Obstetri Williams, Edisi 20. Jakarta: EGC. Cunningham G.F et.al. 2005