Anda di halaman 1dari 10

LONG CASE

Epistaksis Anterior et causa Hipertensi

DisusunOleh:

Merina Selvira Y

H1AP12017

Pembimbing : dr. Afif Rahmawan, Sp.THT-KL

KEPANITERAAN KLINIK

BAGIAN TELINGA HIDUNG TENGGOROKAN-KEPALA LEHER

RSUD DR. M. YUNUS BENGKULU FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU


KESEHATAN UNIVERSITAS BENGKULU

2018
BAB I
PENDAHULUAN

Epistaksis merupakan masalah yang sangat lazim, sehingga tiap dokter harus siap
menangani kasus tersebut. Kunci menuju pengobatan yang tepat adalah aplikasi tekanan pada
pembuluh yang berdarah.
Epistaksis merupakan perdarahan hidung, bukanlah merupakan suatu penyakit,
melainkan sebagai gejala dari suatu kelainan. Perdarahan bisa ringan sampai serius dan bila
tidak segera ditolong dapat berakibat fatal. Sumber perdarahan biasanya berasal dari bagian
depan atau bagian belakang hidung. Epistaksis banyak dijumpai sehari-hari baik pada anak-
anak maupun pada usia lanjut.
Seringkali epistaksis timbul spontan tanpa dapat diketahui penyebabnya, kadang-
kadang jelas disebabkan karena trauma. Epistaksis dapat disebabkan oleh kelainan lokal pada
hidung ataupun juga dapat disebabkan oleh kelainan sistemik. Penyebab tersebut diantaranya
trauma, infeksi, neoplasma, kelainan kongenital, penyakit kardiovaskular, kelainan darah,
infeksi sistemik, gangguan endokrin, perubahan tekanan atmosfer.
Epistaksis anterior berasal dari pleksus Kiesselbach atau a.etmoidalis anterior.
Perdarahan biasanya ringan, mudah diatasi dan dapat berhenti sendiri. Sedangkan epistaksis
posterior umumnya berat sehingga sumber perdarahan seringkali sulit dicari. Umumnya
berasal dari a.sfenopalatina dan a.etmoidalis posterior.

1
BAB II
STATUS PASIEN

II.1. IDENTITAS PASIEN


 Nama : Tn.T
 Usia : 63 tahun
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Alamat : Sukarami RT 08 RW 02
 Pekerjaan : Petani
 Agama : Islam

II.2. ANAMNESIS
• Keluhan Utama : Keluar darah dari hidung kir sejak 3 hari SMRS
• Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke Poli RSMY dengan keluhan keluar darah dari lubang
hidung kiri sejak 3 hari RSMY. Darah yang keluar cukup banyak, berwarna merah
segar, dan encer. Keluhan keluar darah dari hidung terjadi saat pasien tengah bekerja
di ladang . Darah yang keluar dari hidung biasanya sulit berhenti sendiri walaupun
sudah dipencet hidungnya dalam jangka waktu lama. Darah yang keluar hanya akan
berhenti jika sudah di pasang tampon hidung dengan daun sirih. Pasien menyangkal
adanya nyeri kepala, pusing, dan riwayat adanya trauma pada kepala dan hidung.
Pasien juga menyangkal adanya demam dan bintik-bintik merah pada kulit, gusi
berdarah. Pasien juga tidak merasakan adanya nyeri pada hidung dan adanya benjolan
pada hidung.
 Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien menyangkal pernah sakit sebelumnya. Pasien mengaku tidak pernah berobat ke
dokter/RS sebelumnya. Jika sakit hanya demam biasa dan pasien hanya akan berobat
ke bidan dekat rumah saja.
 Riwayat Pengobatan
Tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan antikoagulan seperti aspirin, dan belum
pernah diobati ke dokter
 Riwayat Penyakit Keluarga:
Dikeluarga tidak ada yang seperti ini.

2
II.3. PEMERIKSAAN FISIK
Status generalisata
 Kesadaran : Compos mentis
 Tanda Vital :
TD : 160/110 mmHg
N : 90 x/min
S : 36.7oC
RR : 20x/min
 Status gizi : Baik

Status lokalis (THT)


KEPALA DAN LEHER
• Kepala : normocefali
• Wajah : simetris
• Leher : pembesaran kelj.limfe (-)

TELINGA
Bagian Auricula Dextra Sinistra
Bentuk normal, Bentuk normal
Auricula nyeri tarik (-) nyeri tarik (-)
nyeri tragus (-) nyeri tragus (-)
Bengkak (-) Bengkak (-)
Pre auricular nyeri tekan (-) nyeri tekan (-)
fistula (-) fistula (-)
Bengkak (-) Bengkak (-)
Retro auricular
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Bengkak (-) Bengkak (-),
Mastoid
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Serumen (+) Serumen (+)
CAE hiperemis (-) hiperemis (-)
Sekret (-) Sekret (-)
Membran Intak Intak
timpani putih mengkilat putih mengkilat

3
refleks cahaya (+) refleks cahaya (+)

HIDUNG DAN SINUS PARANASAL


Luar: Kanan Kiri
Bentuk Normal Normal
Sinus Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Inflamasi/tumor (-) (-)

Rhinoskopi Anterior Kanan Kiri


Sekret (-) (-)
Mukosa hiperemis (-) hiperemis (+)
edema (-) edema (-)
basah (-) basah (-)
pucat (-) pucat (-)
Konka Media hipertrofi (-) hipertrofi (-)
hiperemis (-) hiperemis (-)
Konka Inferior hipertrofi (-) hipertrofi (-)
hiperemis (-) hiperemis (-)
Tumor (-) (-)
Septum Deviasi (-)
Massa (-) (-)

TENGGOROKAN
Lidah Ulcus (-) Stomatitis (-)
Uvula Bentuk normal, di tengah, hiperemis (-)
Tonsil Dextra Sinistra
Ukuran T1 T1
Permukaan Rata Rata
Warna Hiperemis (-) Hiperemis (-)
Kripte Melebar (-) Melebar (-)
Detritus (-) (-)

4
Faring  Mukosa hiperemis (-), dinding rata, granular (-)

THORAKS
Paru
Inspeksi : Hemitorak simetris kanan dan kiri dalam keadaan statis dan dinamis
Palpasi : Fremitus simetris kanan dan kiri
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : Vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Jantung : Dalam batas normal
Auskultasi : Bunyi jantung I-II reguler, murmur (-), gallop (-)

ABDOMEN
Inspeksi : Abdomen simetris kiri dan kanan, datar, striae (-)
Palpasi : Nyeri tekan (+) kuadran kanan bawah, tidak teraba massa, hepar dan
lien tak teraba.
Perkusi : Timpani di semua regio abdomen
Auskultasi : Bising usus normal

EKSTREMITAS
Tidak tampak deformitas
Akral hangat pada keempat ekstremitas
Tidak terdapat udem pada keempat ekstremitas

II.4. RINGKASAN
o Anamnesis
o Epistaksis (+), pada lubang hidung kiri, darah yang keluar cukup banyak,
berhenti dengan melakukan tekanan pada hidung
o Seperti ini baru pertama kali
o Trauma hidung (-), demam (-), gusi berdarah (-), bintik-bintik merah pada
kulit(-).
o Riw konsumsi obat-obatan seperti aspirin (-)

5
o Pemeriksaan Fisik
o Pada pemeriksaan hidung, pada hidung kiri mukosa hidung ditemukan
kelainan, tidak ditemukan darah pada hidung.

II.6. DIAGNOSIS
 Epistaksis anterior et causa hipertensi

II.7. DIAGNOSIS BANDING


 Epistaksis posterior

II.8. TERAPI:
 Nonmedikamentosa
o Jika masih keluar darah dari hidung hendaknya memencet hidung dan
menundukkan kepala kebawah
o Pasang tampon
 Medikamentosa
o Amlodipin 3x10 mg

II.9. EDUKASI
 Segera hubungi dokter apabila terjadi mimisan kembali
 Rutin memeriksakan tekanan darah dan meminum obat hipertensi secara teratur

II.10. PROGNOSA:
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad sanam : dubia ad bonam
Quo ad fungsionales : dubia ad bonam

6
BAB III
PEMBAHASAN

Pasien datang ke Poli RSMY dengan keluhan keluar darah dari lubang hidung kiri
sejak 3 hari RSMY. Darah yang keluar cukup banyak, berwarna merah segar, dan encer.
Keluhan keluar darah dari hidung terjadi saat pasien tengah bekerja di ladang . Darah yang
keluar dari hidung biasanya sulit berhenti sendiri walaupun sudah dipencet hidungnya dalam
jangka waktu lama. Darah yang keluar hanya akan berhenti jika sudah di pasang tampon
hidung dengan daun sirih. Pasien menyangkal adanya nyeri kepala, pusing, dan riwayat
adanya trauma pada kepala dan hidung. Pasien juga menyangkal adanya demam dan bintik-
bintik merah pada kulit, gusi berdarah. Pasien juga tidak merasakan adanya nyeri pada
hidung dan adanya benjolan pada hidung. Riwayat penyakit dahulu sebelumnya tidak pernah
seperti ini, HT, DM, dan penyakit kelainan darah (-), riwayat trauma pada wajah/hidung (-).
Riwayat pengobatan tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan seperti aspirin, dan belum
pernah diobati ke dokter. Riwayat Penyakit Keluarga dikeluarga tidak ada yang seperti ini
Pemeriksaan hidung tidak ditemukan darah. Maka dari hasil anamnesis dan
pemeriksaan fisik, maka dapat diambil diagnosis sementara yaitu epistaksis anterior.
Pasien diberikan terapi berupa :
 Non medikamentosa
o Jika masih keluar darah dari hidung hendaknya memencet hidung dan
menundukkan kepala kebawah agar darah tidak turun ke tenggorokan.
o Pasang tampon
 Medikamentosa
o Amlodipin 3x10 mg
Amlodipine adalah obat untuk mengatasi hipertensi atau tekanan
darah tinggi. Amlodipine bekerja dengan cara melemaskan dinding dan
melebarkan diameter pembuluh darah. Efeknya akan memperlancar aliran
darah menuju jantung dan mengurangi tekanan darah dalam pembuluh. Obat
ini juga menghalangi kadar kalsium yang masuk ke sel otot halus di dinding
pembuluh darah jantung. Kalsium akan membuat otot dinding pembuluh darah
berkontraksi. Dengan adanya penghambatan kalsium yang masuk, dinding
pembuluh darah akan menjadi lebih lemas.

HUBUNGAN EPISTAKSIS DENGAN HIPERTENSI

7
Menurut Herkner dkk, ada dua hipotesis yang menerangkan kenapa epistaksis dapat
terjadi pada pasienpasien dengan hipertensi.

1. Pasien dengan hipertensi yang lama memiliki kerusakan pembuluh darah yang kronis. Hal
ini berisiko terjadi epistaksis terutama pada kenaikan tekanan darah yang abnormal

2. Pasien epistaksis dengan hipertensi cenderung mengalami perdarahan berulang pada


bagian hidung yang kaya dengan persarafan autonom yaitu bagian pertengahan posterior
dan bagian diantara konka media dan konka inferior.

Knopfholz dkk mengatakan hipertensi tidak berhubungan dengan beratnya epistaksis


yang terjadi. Tetapi hipertensi terbukti dapat membuat kerusakan yang berat pada pembuluh
darah di hidung (terjadi proses degenerasi perubahan jaringan fibrous di tunika media) yang
dalam jangka waktu yang lama merupakan faktor risiko terjadinya epistaksis.

PENATALAKSANAAN EPISTAKSIS DENGAN HIPERTENSI

Menurut Massick, penatalaksanaan epistaksis dengan hipertensi secara umum sama


dengan kasus epistaksis lainnya. Penilaian pertama yang harus dilakukan adalah menilai
stabilitas hemodinamik pasien. Kehilangan darah yang banyak serta diperhatikan tanda-tanda
terjadinya syok hipovelemik. Salah satu manifestasi klinis yang tersering adalah epistaksis
yang berulang hingga memerlukan transfusi darah. Bila perlu dengan pemasangan suatu
tampon hidung anterior atau posterior dan transfusi plasma kriopresipitat, faktor VIII atau
faktor pembekuan lain.

Menurut Schwartzbauer dkk (2003), ligasi terhadap arteri sfenopalatina dan nasalis
posterior dengan menggunakan metode endoskopi berhasil menghentikan epistaksis yang
berulang. Herkner dkk mengatakan hal yang tidak kalah pentingnya dalam penanganan
epistaksis dengan hipertensi ini adalah penanganan lanjutan untuk hipertensinya setelah
mereka mendapatkan pengobatan di unit gawat darurat. Herkner mendapatkan lebih sepertiga
pasien epistaksis dengan hipertensi yang berobat di unit gawat darurat tidak mendapatkan
pengobatan yang adekuat untuk hipertensinya selama di rumah.

DAFTAR PUSTAKA

8
o Dewar HA. Epistaxis in Hypertension. British Medical Journal 1959; 5115: 169-70.
o Herkner H, Laggner AN, Muller M, Formanek M, Bur A et al. Hypertension in Patients
Presenting With Epistaxis. Annals of Emergency Medicine 2000; 35(2): 126-30.
o Knopfholz J, Lima JE, Neto DP, Faria NJR. Association between Epistaxis and
Hypertension: A one year Follow-up After an Index Episode of Nasal Bleeding in
Hypertension Patients. International Journal of Cardiology 2009; 134: 107-9
o Massick D, Tobin EJ. Epistaxis. In: Cummings CW, Flint DW, Harker LA et al editors.
Cumming’s Otolaryngology Head & Neck Surgery, 4th Ed Vol 2. Philadelphia : Elsevier
Mosby, 2005. 942-61.