Anda di halaman 1dari 12

HIDROLOGI HUTAN

LONGSOR DUSUN JEMBLUNG, DESA SAMPANG,


KECAMATAN KARANGKOBAR,

KABUPATEN BANJARNEGARA

Anggota Kelompok:

1. Febrian Wahyu P. 15/381039/KT/08008


2. Angga Pambudi 15/382831/KT/08033
3. Gita Nabila P. 15/382879/KT/08081
4. Siti Hudaiyah 15/382926/KT/08128
5. Nita Safitri R.A. 16/393972/KT/08209
6. Ega Eminda K. 16/398296/KT/08291

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGYAKARTA

2018
1. PENDAHULUAN

Di penghujung 2014, terjadi longsor dan gerakan tanah jenis lainnya


di Karangkobar dan sekitarnya, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Gerakan tanah Karangkobar terjadi di lebih dari empat lokasi dan tidak terjadi
secara bersamaan. Salah satunya, terjadi di Dusun Jemblung, Desa Sampang,
Kecamatan Karangkobar pada koordinat 109° 43’ 15,3912” BT dan 7° 16’
52,5828” LS (Kristanto dkk., 2015). Bencana ini terjadi pada hari Jumat, 12
Desember 2014 pada jam 17.30 WIB (Naryanto, 2017).
Lahan di lokasi kejadian secara umum ditempati oleh kebun campuran
diselingi pohon besar pada bagian bukit yang longsor, sedangkan di bagian
yang rendah terdapat kebun palawija dan pesawahan. Pemukiman berada di
antara kebun palawija dan persawahan di bagian selatan sungai, sedangkan di
bagian utara sungai berkembang di sekitar perbukitan (Kristanto dkk., 2015).
Seminggu setelah kejadian utama, gerakan tanah di Dusun Jemblung
mengakibatkan 88 korban meninggal dunia dan 14 orang luka-luka. Selain
itu, 1308 orang mengungsi, dan 40 rumah, sawah dan kebun milik penduduk
tertimbun bahan rombakan (Kristanto dkk., 2015). Bencana tanah longsor ini
juga mengakibatkan tertimbunnya jalan utara Banjarnegara-Dieng sepanjang
1 km (Naryanto, 2017).
2. PETA SITUASI
3. DOKUMENTASI KEJADIAN

Sumber: http://www.iagi.or.id/iagi-mgei-care-bantuan-korban-longsor-dusun-
jemblung-karangkobar-banjarnegara-1.html

Sumber: https://ekliptika.wordpress.com/2014/12/16/longsor-dahsyat-
jemblung-dan-takdir-kebumian-banjarnegara/
Sumber:
https://ekliptika.files.wordpress.com/2014/12/banjarnegara_jemblung-
perkiraan-arah-gerakan.jpg

Sumber: https://pbs.twimg.com/media/B4v7o5dCIAAJKyq.jpg
4. FAKTOR PENYEBAB
a. Fisik
1) Morfologi
Secara umum, geomorfologi terbentuk oleh perbukitan di
sedang sampai terjal. Di bagian bawah perbukitan ini terdapat
geomorfologi perbukitan bergelombang sedang yang dipergunakan
sebagai tempat pemukiman penduduk, pesawahan, dan perkebunan.
Kemiringan lereng yang diamati pada daerah bukit Telagalele yang
merupakan tebing sangat terjal bagian selatan (daerah awal
terjadinya longsor) sekitar 75° dari puncak mahkota longsor.
2) Batuan
Batuan penutup berupa soil di bagian atas, berasal dari
pelapukan batuan breksi vulkanik. Breksi vulkanik banyak
mengandung tufa dan material lain yang mudah mengalami
pelapukan, sehingga bisa membentuk soil dengan ketebalannya lebih
dari 5 meter. Di bagian bawah material lapuk (soil) yang berupa
batuan breksi vulkanik, terdapat bidang batas antara batuan lunak
dan batuan keras yang berfungsi sebagai bidang gelincir longsor
apabila terjadi kejenuhan akibat masuknya air ke dalam pori-pori
tanah.
3) Rekahan Batuan
Dijumpai adanya rekahan di atas bukit yang longsor sebagai
pertanda terjadinya ketidakstabilan lereng. Rekahan ini
menyebabkan air hujan yang jatuh dapat lebih mudah untuk meresap
ke dalam tanah dan mempermudah terjadinya kejenuhan tanah.
4) Curah Hujan
Curah hujan harian yang terjadi sebelum terjadi longsor
sudah mencapai di atas 100 mm. Menurut informasi warga setempat,
hujan lebat tersebut telah terjadi mulai dari hari Rabu sampai Jumat
(10–12 Desember 2014) secara berturut-turut.
Penjelasan: Stasiun geofisika kelas III Banjarnegara
yang dioperasikan oleh BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi
dan Geofisika) mencatat curah hujan sepanjang Kamis 11
Desember 2014 mencapai 112,7 milimeter, sehari kemudian curah
hujannya masih sebesar 101,8 milimeter. Dalam dua hari saja
intensitas hujan yang mengguyur seluruh wilayah Banjarnegara telah
sebesar 214,5 milimeter. Di waktu-waktu sebelumnya, pada
umumnya curah hujan sebanyak itu membutuhkan waktu sebulan
penuh. Curah hujan sepanjang 11–12 Desember 2014 di
Banjarnegara berkualifikasi hujan sangat deras atau hujan ekstrim.
5) Mata air
Curah hujan yang ekstrim yang terjadi terus-menerus
menyebabkan debit mata air tersebut juga membesar, sehingga soil
hasil pelapukan batuan yang dilaluinya menjadi semakin cepat jenuh.

b. Sosial

Faktor manusia seringkali menjadi faktor kunci terjadinya bencana,


termasuk untuk bencana tanah longsor. Ketidakseimbangan tanah akibat salah
pengelolaan budidaya manusia yang secara kumulatif dapat memicu terjadi
longsor. Mayoritas warga mempunyai mata pencaharian bertani. Mulai dari padi
sawah, jagung, sengon, rumput gajah, kopi, bambu, dan lain-lain. Mereka
bertani di sekitar rumahnya dan rata-rata bukan petani penggarap melainkan
mereka bertani di lahan milik mereka sendiri.

Aktivitas bertani mereka juga bukan tanpa ilmu yang tidak


mempertimbangkan konservasi air dan tanah. Terlihat dari pembuatan
sengkedan/ terasering pada lahan miring, adanya irigasi, dan pembuatan DAM.
Semangat bertani yang menyesuaikan dengan keadaan alam sangat nampak
pada keseharian mereka. Namun faktor litologi yang membuat cara melakukan
konservasi air dan tanah yang mereka lakukan kurang sempurna.
Di bagian bawah perbukitan ini terdapat geomorfologi
perbukitan bergelombang sedang yang dipergunakan sebagai tempat
pemukiman penduduk, pesawahan, dan perkebunan.
c. Biotik
1) Pola Budidaya Pertanaman/Vegetasi
Meskipun merupakan perbukitan dengan kelerengan yang
tergolong curam hingga sangat curam, perbukitan di sekitar lokasi
kejadian bencana longsor telah dimanfaatkan untuk budidaya
tanaman. Dari segi aspek konservasi tanah, lahan dengan kelerengan
> 45% (sangat curam) tidak cocok untuk budidaya tanaman dan
harus merupakan kawasan konservasi/lindung.

5. MEKANISME KEJADIAN

Lokasi longsor berada di cerukan yang sisi-sisinya berupa tebing


curam. Kondisi lapangan tersusun oleh batuan breksi vulkanik yang
membentuk perbukian yang sangat curam. Batuan tersebut telah membentuk
soil atau tanah hasil pelapukan batuan yang sangat tebal. Dijumpai adanya
rekahan/retakan di atas bukit yang longsor sebagai pertanda ketidakstabilan
lereng. Rekahan ini menyebabkan air hujan yang jatuh dapat lebih mudah
untuk meresap ke dalam tanah. Pemicu utama dari kejadian bencana tanah
longsor tersebut adalah curah hujan ekstrim yang telah terjadi selama tiga hari
berturut-turut. Dari data BMKG diketahui bahwa jumlah hari hujan pada tiga
hari terakhir sebelum terjadinya tanah longsor sangat tinggi, yaitu rata-rata
lebih dari 100 mm/hari.
Mata air muncul di bagian tubuh longsor atau di bagian atas dan
tengah, akibat curah hujan yang tinggi maka air yang berasal dari mataair
tersebut masuk ke dalam batuan. Debit mata air tersebut menjadi semakin
besar dengan semakin tingginya curah hujan yang terjadi, sehingga
munculnya mataair ini sangat mempengaruhi terhadap peningkatan kejenuhan
soil yang dilaluinya. Hujan yang menerus mengakibatkan sebagian air
tertahan di bagian atas dan tengah tubuh longsor dan membentuk kejenuhan
yang luar biasa pada tanah (soil). Air semakin lancar masuk ke dalam pori-
pori tanah sampai batas kontak dengan batuan dasarnya. Pada saat beban
massa tanah sudah lewat maka kestabilan lereng terganggu dan longsor
dahsyat terjadi.
6. FAKTOR UTAMA PENYEBAB

Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya tanah longsor,


tetapi dari hasil analisis faktor-faktor utama yang berpengaruh terhadap
bencana tanah longsor di Banjarnegara ada tiga adalah:

a. Hujan deras/ekstrim selama 3 hari berturut turut pada hari Rabu sampai
Jumat dengan curah hujan harian > 100 mm.
b. Morfologi pada sumber terbentuknya tanah longsor mempunyai
kelerengan curam (75o).
c. Batuan breksi vulkanik yang mudah lapuk yang membentuk soil hasil
pelapukan sangat tebal (lebih dari 5 meter), mempunyai sifat menyerap
air sangat tinggi sehingga mudah jenuh dan membuat ketidakstabilan
lereng.

7. REKOMENDASI MITIGASI

Upaya mitigasi longsor dapat dilakukan berdasarkan pendekatan


faktor penyebab:

a. Faktor fisik
1) Merehabilitasi sistem terasering
2) Membuat Saluran Pembuangan Air (SPA)
3) Membangun perusahaan air bersih
4) Apabila ditemukan retakan, segera tutup dan padatkan
5) Tidak boleh memotong tebing secara tegak lurus
6) Pemetaan zona rawan longsor
7) Pembuatan jalur evakuasi
8) Penerapan EWS (Early Warning System)
b. Faktor sosial
1) Melarang adanya pemukiman di area rawan longsor
2) Relokasi pemukiman warga ke daerah yang lebih aman
3) Mitigasi bencana longsor bersama masyarakat
c. Faktor biotik
1) Tidak boleh membangun kolam dan sawah di lereng bukit
2) Penanaman vegetasi yang mempunyai perakaran dalam, mengikat
tanah, dan tajuk ringan, contoh: kemiri, laban, bungur, mindi, johar,
lamtoro merah, ampupu, dan petai cina
DAFTAR PUSTAKA

Kristanto, Y.D. Triana, dan A. Nursalim. 2015. Longsor Besar di Karangkobar.


http://geomagz.geologi.esdm.go.id/longsor-besar-di-karangkobar/ Diakses
pada tanggal 1 Maret 2018 pukul 11.00 WIB.

Naryanto, Heru Sri. 2014. Analisis Kejadian Bencana Tanah Longsor Tanggal
12 Desember 2014 di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan
Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah.
Jurnal Alami 1(1).

Rahman, Amni Zarkasyi. 2015. Kajian Mitigasi Bencana Tanah Longsor di


Kabupaten Banjarnegara. Jurnal Manajemen dan Kebijakan Publik
1(1).

BNPB. 2014. Peta Lokasi Bencana Tanah Longsor di Kabupaten


Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Banjarnegara: BNPB.