Anda di halaman 1dari 47

LAPORAN PRAKTIKUM KE -1

HARI/TANGGAL : Senin, 09 September 2013

JUDUL : Pengenalan Peralatan

TUJUAN :

 Mahasiswa mengenal alat-lat sederhana yang umum dipergunakan dalam


identifikasi dan deteksi Kesehatan Lingkungan
 Mahasiswa memahami kegunaan serta cara menggunakan secara benar.

METODE : Pengamatan

DASAR TEORI :

Sebelum melakukan praktikum, terlebih dahulu kita harus mengenal atau


mengetahui tentang alat-alat yang digunakan dalam melakukan praktikum tersebut. Hal ini
berguna untuk mempermudah kita dalam melaksanakan percobaan, sehingga resiko
kecelakaan di laboratorium dapat ditanggulangi. Kebersihan dan kesempurnaan alat sangat
penting untuk bekerja di laboratorium. Pada dasarnya setiap alat memiliki nama yang
menunjukkan kegunaan alat, prinsip kerja atau proses yang berlangsung ketika alat
digunakan. Beberapa kegunaan alat dapat dikenali berdasarkan namanya.Penamaan alat-
alat yang berfungsi mengukur biasanya diakhiri dengan kata meter seperti
thermometer,hygrometer dan spektrofotometer, dll. Alat-alat pengukur yang disertai
dengan informasi tertulis, biasanya diberi tambahan “graph” seperti thermograph,
barograph. (http://hestcassie.wordpress.com/2013/03/12/laporan-praktikum-mikrobiologi-
pengenalan-alat-alat/)

ALAT DAN BAHAN

Alat

1. pH meter
2. Turbimeter
3. Spectrophometer digital
4. Spectrophometer
5. High volume sampler
6. Gas detector
7. Microbiological air sampler
8. Aqua meter
HASIL PENGAMATAN
1. Air
a. Secara Fisik
No Nama Alat Fungsi Cara Pakai
1. pH meter Mengukur derajat  Celupkan elektroda
keasaman atau pada larutan yang akan
akalinitas pada diukur pHnya
suatu larutan  Sebelum dan sesudah
dipakai elektroda
dibilas dengan aquades

2. Turbidimeter Pengujian  Hand proof


kekeruhan air disambungkan
dengan sipat optic  Tekan tobol-tombol
akibat dipersi pada turbidimeter
sinar dan dapat  Hand proof dimasukan
dinyatakan kedalam sampel dengan
sebagai cara memegang kabel
perbandingan dari tabung kacil
cahaya yang di  Skala pengukuran
pantulkan dibaca
(satuannya NTU)
3. Aqua Meter Mengukur pH,
TDS, kekeruhan
air, salinitas
(parameter fisik)
dan daya hantar
listrik.
b. Secara Kimia
No Nama Alat Fungsi Cara Pakai
1. Spectrophometer Mengukur  Masukan sampel
parameter kimia kedalam kuvet
dalam air  Baca panjang
gelombang
 Hitung kosentrasi
sampel dengan
runus :
A=Ebe
2. Spectrophometer Digital Mengukur kadar  Masukan sampel
kimia dalam air kedalam kuvet
 Masukan kedalam
spectrophotometer
 Baca nilai absorban
 Hitung kosentrasi
sampel dengan
rumus :
A=Ebe

2. Udara
a. Parameter mikrobiologi
No Nama Alat Fungsi Cara Pakai
1. Microbiologikal Air Sample Mengetahui  Setting alat
kandungan  Hidupkan Alat
mikroba yang ada  Tunggu sampai
diudara (cfu/M3) berhenti
2. Gas Detektor Mengukur gas
udara dengan
menggunakan

3. High Volume Sampler Mengetahui kadar


debu total yang
ada diudara dalam
satuan PPM

KESIMPULAN

Dapat disimpulkan terdapat berbagai macam alat laboratorium dengan


kegunaannya masing-masing.
LAPORAN PRAKTIKUM KE 2

HARI/TANGGAL : Senin, 16 September 2013

JUDUL : Observasi masalah kuantitas penyediaan air

TUJUAN :

 Mahasiswa terampil melakukan identifikasi dan deteksi masalah penyediaan air


 Mahasiswa terampil menghitung kuantitas air

METODE : Observasi

DASAR TEORI :

Sumber air adalah wadah air yang terdapat di atas dan di bawah permukaan tanah,
termasuk dalam pengertian ini akuifer, mata air, sungai, rawa, danau, situ, waduk, dan
muara dan dapat berasal dari sumber air permukaan, cekungan air tanah dan/atau air hujan
yang memenuhi baku mutu tertentu sebagai air baku untuk minum. (Peraturan Menteri
Negara Lingkungan Hidup Nomor 03 Tahun 2010 Tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi
Kawasan Industri Menteri Negara Lingkungan Hidup)
Secara kuantitatif jumlah kebutuhan air untuk rumah tangga berbeda tergantung
wilayah dibedakan yaitu :
 Pedesaan dengan kependudukan 3000 s/d 20.000 jiwa dengan kebutuhan
45liter/kapita/hari
 Kota kecil dengan penduduk 20.000 s/d 100.000 jiwa kebutuhan 60 liter/kapita/hari
 Kota sedang dengan penduduk 100.000 s/d 500.000 jiwa kebutuhan 90
liter/kapita/hari
 Kota besar dengan penduduk 500.000 s/d 1 juta jiwa kebutuhan 100 liter/kapita/hari
 Metropolitan dengan penduduk > 1 juta jiwa kebutuhan 120 liter/kapita/hari
(Direktorat Jendral cipta karya Departemen Pekerjaan)
ALAT DAN BAHAN

 Alat  Bahan
- Gelas ukur 1000 mL - Air
- Ember dan Gayung
- Stopwatch
LANGKAH KETJA

1. Mempersiapkan peralatan yang akan digunakan


2. Letakan ember tepat dibawah keran air dan
mempersiapkan stopwatch
3. Nyalakan keran bersamaan dengan dimulainya
perhitungan waktu
4. Menghentikan aliran kran selama 60 detik
5. Langkah terakhir adalah mengukur kuantitas air yang
diperoleh selama 60 detik dengan gelas ukur. Lalu lakukan langkah-langkah
tersebut pada 3 tempat yang berbeda kemudian catat hasil percobaan.

HASIL PENGAMATAN

Tempat Jumlah Jiwa K. Tempat Waktu Kapasitas Debit


Air
Kost 1 8 Orang 500 Liter 60 Detik 6,51 Liter 0,108 L/s
Kost 2 16 Orang 250 Liter 60 Detik 9,27 Liter 0,157 L/s
Kost 3 5 Orang 1000 Liter 60 Detik 7,82 Liter 0,130 L/s

Kost 1 Kost 2 Kost 3


 Jumlah air yang  Jumlah air yang  Jumlah air yang
diperlukan diperlukan : diperlukan :

8 jiwa × 90 = 720 16 jiwa × 90 = 1440 L/hari. 5 jiwa x 90 = 450 L/hari


L/hari
250 – 1440 = -1190 1000 – 450 = 550
 Kapasitas penyediaan
(kapasitas tempat air – Maka kost 2 dalam Penyediaan air yang
jumlah air yang penyediaan air memenuhi kebutuhan
 diperlukan) kuantitatifnya belum responden tiap harinya.
memenuhi kebutuhan
500 – 700 = -220 responden, maka upaya
yang dilakukan adalah
Maka kost 1 dalam pengisian tempat
penyediaan air, kuantitas penyimpanan air 5x
yang diperlukan belum pengisian setiap harinya.
memenuhi kebutuhan. Jadi
upaya pemenuhan kebutuhan
yang meski dilakukan adalah
pengisian 44% kapasitas air
setiap harinya.

PEMBAHASAN

Jika ditinjau dari tempat yang diobservasi dapat ditentukan bahwa tempat observasi
digolongkan kepada kota sedang penduduk antara 100.000 s/d 500.000 jiwa dengan
kebutuhan air mencapai 90 liter/jiwa/hari.

KESIMPULAN

Dapat disimpulkan bahwa kuantitas penyediaan air pada kost 1 dan kost 2 kurang
memenuhi air setiap orang per hari, sedangkan pada kost 3 penyediaan air telah memenuhi
kebutuhan setia orang perhari.
LAPORAN PRAKTIKUM 3

HARI/TANGGAL : Senin, 23 September 2013

JUDUL : Observasi masalah kualitas penyediaan air

TUJUAN :

 Mahasiswa terampil melaukan identifikasi dan deteksi masalah penyediaan air


 Mahasiswa mampu melakukan identifikasi dan deteksi kualitas penyediaan air

METODE : Observasi

DASAR TEORI :

Sumber air adalah wadah air yang terdapat diatas dan dibawah permukaan
tanah, termasuk dalam pengertian ini akuifer, mata air, sungai, rawa, danau, situ,
waduk, dan muara ( Permenkes Negara Lingkungan Hidup No. 03 Tahun 2010 ). Air
minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang
memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.

Sistem penyediaan air bersih harus aman, higienis, tidak berbau, tidak berwarna,
tidak mengandung zat berbahaya, untuk itu air yang dapat dikonsumsi harus memenuhi
persyaratan-persyaratan kualitas air bersih (secara fisis)

1. Persyaratan Fisis
Kualitas fisis yang harus dipenuhi perlu dilihat dari segi kesehatan,
kenyamanan, estetika dan penerimaan masyarakat batasan kualitas fisis air
bersih antara lain :
 Air tidak berbau
 Tidak berasa
 Temperatur 10-25⁰C
 Tidak berwarna
 Rasa segar dan tidak memberikan rasa lain
 Kekeruhan turbidity 1 mg/ 1 SiO₂

2. Persyaratan Kimiawi
Kadar dan kandungan konsentrasi tertentu yang tidak mengandung unsur-
unsur yang dapat mengganggu kesehatan.

3. Persyaratan Bakteriologi
Batasan jumlah bakteri (E.coli) dan kuman penyakit.

ALAT DAN BAHAN

Alat Bahan
- ATK  AIR
- Meteran

LANGKAH KERJA

1. Menuju tempat yang akan diteliti


2. Memeriksa karakter fisik air
3. Menghiting jarak sumber air dengan sumber pencemar (septic tank,
pembuangan sampah, kandang hewan)
4. Mencatat dan menggambar hasil pengamatan
DATA PENGAMATAN

Jarak Sumber Pencemar


Sumber Pembua Kedalaman Keadaan
NO Tempat Septic Kandang Kandang Penggunaan air
Air ngan sumur fisik
tank Kuda Ayam
sampah
1
- Air minum -Tidak
1
- cuci piring berbau
Kost
1 1 Sumur 20 m 1 km 10 m 60 m
- mencuci baju -tidak
1
-mandi keruh
1
-tidak
-cuci piring
berbau
Kost 2 Sumur 1,5 km -cuci baju
-tidak
-mandi
keruh
-tidak
-cuci piring
berbau
Kost 3 Sumur 80 m -cuci baju
-tidak
-mandi
keruh
Keterangan :

 kost 1: Meskipun terletak jauh dari sumber pencemar, namun terdapat limbah
pertanian limbah pertanian berbentuk liquid mengalir tepat di atas pertanian
berbentuk liquid mengalir tepat di atas penutup air sumur
 kost 2: septictank diangkut fesesnya dan diolah kembali setiap satu tahun

PEMBAHASAN

 Pada kost 1 terjadi permasalahan pada sumber air yang biasanya dipergunakan untuk
beraktifitas, masalah yang terjadi adalah adanya limbah pertanian yang mengalir
tepat diatas sumber air yang secara fisik air tersebut semi keruh. Hal ini
dikhawatirkan merembes dan mengkontaminasi sumber air.
 Septictank pada kost 2 menggunakan septictank komunal yang dikelola oleh Dinas
Kesehatan Daerah untuk satu RW yang biasa diangkut dan dikuras setiap satu tahun
sekali. Penggunaan septictank komunal dikarenakan tidak adanya lahan yang bisa
dipergunakan untuk septictank pribadi.

KESIMPULAN

Dapat disimpulkan dari hasil observasi bahwa kualitas air di kost 1,2 dan 3
memenuhi syarat sehingga layak dipakai.
LAPORAN PRAKTIKUM 4

HARI/TANGGAL : Senin, 30 septmber 2013

JUDUL : Observasi masalah jentik

TUJUAN :

 Mahasiswa terampil melakukan identifikasi dan deteksi masalah vector


 Mahasiswa mampu menganalisa tempat yang memungkinkan adanya Vector

METODE :

DASAR TEORI :

Family cullicidae (nyamuk) adlah suatu kelompokserangga yang penting, besar,


banyak, dan tekenal, nyamuk mengalami 2 tingkatan pokok yaitu aquatic stadium yang
dapat ditemui di berbagai macam genangan air. Kebanyakan larva memakan alga dan
kotoran organic, tetapi beberapa bersifat pemangsa dan memakan larva nyamuk lainnya.
Nyamuk yang penting didalam pengetahuan kesehatan. subfamily culicidae terdiri dari
tribus :

1. Tribus Anophelini, gen Toxorynchus


2. Tribus Toxorynchitini, gen Toxorynchus dengan moncong (proboscis) membengkak,
dengan cirri-ciri lebih besar, tidak menggigit
3. Tribus Culicini dari general Aedes, Cullex, dan Mansonia

TABEL PERBEDAAAN LARVA NYAMUK

Anopheles Aedes Cullex Mansonia


Alat pernafasan Sepasang Siphon Siphon (panjang Siphon dengan
keeping (cembung atau dan ramping) kutub penembus
spirakel pada gemuk) dan tajam
ujung posterium seperti kail
tubuh
Kebiasaan Sudut 0° Membentuk Membentuk Membentuk
mengambil (sejajar dengan sudut sudut sudut dan
oksigen permukaan air) menancap pada
akar tanaman
air
Berkas rambut - Satu batas Lebih dari satu -
berkas
Habitat Cenderung air Air bersih Cenderung air Cenderung air
kotor kotor kotor

ALAT DAN BAHAN :

1. Senter
2. ATK

LANGKAH KERJA

1. Mencari tempat-tempat dimana jentik berhabitat


2. Menemukan tempat yang terdapat jentik khususnya tempat yang terdapat genangan air
(ban bekas, bak mandi, selokan, dll)
3. Memeriksa genangan air dengan menggunakan senter
4. Menemukan jentik dan identifikasi cirri-ciri jentik tersebut (menurut habitatnya dan
keadaan istirahatnya)
5. Catat hasil pengamatan

DATA PENGAMATAN :
KETERANGAN :

 Indoor : Tidak ditemukan larva nyamuk


 Outdoor : A. Tempat 1 (kolam)
- Habitat jentik : - Air kotor
- Tidak beralaskan tanah
B. Tempat 2 (ban bekas)
- Habitat jentik : - Air kotor
- Tidak beralaskan tanah

C. Tempat 3 (kolam) : - Tidak ditemukan larva nyamuk

PEMBAHASAN :

 Tempat 1
Hipotesis awal mengenai jentik yang hidup dan berkembang ditempat ini
adalah jentik nyamuk cullex, karena ditinjau dari habitatnya. Jentik ini hidup di
air yang cenderung kotor, tidak beralaskan tanah, dan berkembang di alam
bebas (outdoor), serta perilaku saat mengambil oksigen yang membentuk sudut
dengan permukaan air.
 Tempat 2
Hipotesis awal mengenal jentik yang hidup dan berkembang di tempat ini
adalah cullex seperti tempat 1.

KESIMPULAN :

Dapat disimpulkan dari hasil observasi diluar ruangan (outdoor) wilayah kampus gizi
terdapat larva cullex pada kolam 1 dan ban bekas, sedangkan pada tempat lainnya bebas
dari larva nyamuk.
LAPORAN PRAKTIKUM KE-5

HARI/TANGGAL : Senin, 07 Oktober 2013

JUDUL : Observasi masalah keberadaan tikus

TUJUAN :

 Mahasiswa terampil melakukan identifikasi dan deteksi masalah binatang


pengganggu (tikus)
 Mahasiswa mampu mengetahui tanda keberadaan tikus pada suatu tempat

METODE : Observasi

DASAR TEORI :

Tikus adalah binatang pengerat paling terkenal dan paling banyak tersebar di
seluruh dunia. Binatang yang termasuk ordo Rodentia family muridae merupakan hama
yang merugikan di dalam rumah maupun di ladang. Pes merupakan penyakit endemikpada
manusia dan tikus. Pes ditularkan oleh tikus melalui pinjal yang hidup pada kulit atau
rambut tikus.

Salah satu jenis tikus adalah tikus rumah (Rattus rattus) yaitu hewan pengerat biasa
yang mudah dijumpai di rumah-rumah dengan ekor panjang dan pandai memanjat dan
melompat. Biasanya tikus rumah mempunyai rambut berwarna hitam atau coklat terang,
putih dan loreng.

Ada beberapa tanda yang dapat digunakan untuk mengetahui adanya tikus antara lain:

1. Feses atau kotoran


- Bentuk dan ukuran feses dapat digunakan untuk menentukan spesies tikus.
- Apabila fesesnya masih basah kemungkinan tikus masih berada disekitar
tempat tersebut.
- Apabila fesesnya kering maka tikus kemungkinan sudah pergi menjauh.
2. Kerusakan
Kerusakan yang timbul biasanya berhubungan dengan pertumbuhan gigi
serinya yang terus menerus sehingga perlu dikurangi.
3. Tanda atau noda olesan (runaway)
Sesuai dengan perilaku tikus yang selalu berjalan pada jalur yang sama
(runaway) pada jalur jalan tersebut tanpa bekas sentuhan badan tikus dengan
dinding atau benda yang dilaluinya berupa bercak kotor dan jejak kaki (foot print)
di lantai.
4. Sarang
- Jika sarang tersebut ditutupi jaring laba-laba di pintu masuknya maka sarang
tersebut sudah tidak bisa digunakn lagi.
- Jika sarang tikus ditutupi gundukan tanah namun jika keesokan harinya
gundukan tanah itu berlubang artinya sarang tersebut masih digunakan (aktif).
5. Bau
Kehadiran tikus tidak dapat diketahui dalam waktu singkat karena bau khas
tikus dapat diketahui jika tikus tersebut sudah lama menghuni suatu tempat.
6. Tikus hidup atau mati
- Jika populasi tikus sangat tinggi, siang haripun dapat dijumpai tikus yang aktif
mencari pakan.
- Bangkai tikus yang masih segar mencirikan infestasi tikus masih ada.
- Bangkai tikus yang sudah kering (kaku) mencirkan keadaan infestasi tikus
sudah tidak ada.
7. Suara tikus

Sumber :
Priyambodo, Swastiko.1997.Pengendalian Hama Tikus Terpadu.Cetakan ke
2.Yogjakarta:Pt Penebar Syadaya
Adalah.blog.spot.com/2010/10/tikus.html.
Hariyanti, Rasana dan De Becker Genevieve.2007.Atlas Binatang Mamalia 2.
Cetakan 1. Solo. Tiga serangkai Pustaka Mandiri.
Books.google.co.id

ALAT DAN BAHAN

- Alat:
1. Senter
2. ATK

LANGKAH KERJA
1. Menyiapkan alat-alat yang akan digunakan.
2. Mencari lokasi pengamatan.
3. Mendeteksi keberadaan tikus dengan melihat tanda-tanda keberadaannya.
4. Mencatat hasil pengamatan.

PEMBAHASAN

 Tempat 2
Hasil observasi menemukan jalur-jalur (runway) dan tumpukan barang ditempat
tersebut serta menemukan tikus hidup yang berkeliaran. Maka dinyatakan tempat
tersebut ada tikus.
 Tempat 4
Hasil observasi yang bertepatan di ruang yang cukup padat barang ditemukan feses
berbentuk gelendong. Maka dapat dinyatakan tempat tersebut terdapat tikus spesies
R. Norvegicus.
 Tempat 6
Hasil observasi ditempat yang lembah ditemukan feses tikus yang ada tersebar dan
bentuknya seperti sosis dan adanya tikus hidup yang berkeliaran. Maka dapat
dinyatakan tempat tersebut terdapat tikus berspesies R. Rattus

KESIMPULAN

Dapat disimpulkan dari hasil observasi ke enam tempat yang terdapat tikus. Karena
pada tempat tersebut ada tumpukan barang yang disukai tikus. Secara kesehatan tempat
tersebut kurang sehat.
LAPORAN PRAKTIKUM KE-6

HARI/TANGGAL : Senin, 18 November 2013

JUDUL : Observasi masalah penyehatan makanan dan minuman

TUJUAN :

 Mahasiswa terampil melakukan identifikasi masalah penyehatan makanan dan


minuman

METODE : Observasi

DASAR TEORI :

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 942/MENKES/SK/VII/2003
TENTANG
PEDOMAN PERSYARATAN HYGIENE SANITASI MAKANAN JAJANAN

MEMUTUSKAN :
Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN TENTANG PEDOMAN
PERSYARATAN HYGIENE SANITASI MAKANAN JAJANAN.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan :
1) Makanan jajanan adalah makanan dan minuman yang diolah oleh pengrajin
makanan di tempat penjualan dan atau disajikan sebagai makanan siap santap untuk
dijual bagi umum selain yang disajikan jasa boga, rumah makan/restoran, dan hotel.
2) Penanganan makanan jajanan adalah kegiatan yang meliputi pengadaan,
penerimaan bahan makanan, pencucian, peracikan, pembuatan, pengubahan bentuk,
pewadahan, penyimpanan, pengangkutan, penyajian makanan atau minuman.

BAB II
PENJAMAH MAKANAN
Pasal 2
Penjamah makanan jajanan dalam melakukan kegiatan pelayanan penanganan makanan
jajanan harus memenuhi persyaratan antara lain :

a. tidak menderita penyakit mudah menular misal : batuk, pilek, influenza, diare,
penyakit perut sejenisnya;
b. menutup luka (pada luka terbuka/ bisul atau luka lainnya);
c. menjaga kebersihan tangan, rambut, kuku, dan pakaian;
d. memakai celemek, dan tutup kepala;
e. mencuci tangan setiap kali hendak menangani makanan.
f. menjamah makanan harus memakai alat/ perlengkapan, atau dengan alas tangan;
g. tidak sambil merokok, menggaruk anggota badan (telinga, hidung, mulut atau
bagian lainnya);
h. tidak batuk atau bersin di hadapan makanan jajanan yang disajikan dan atau tanpa
menutup mulut atau hidung.
BAB III
PERALATAN
Pasal 3
1) Peralatan yang digunakan untuk mengolah dan menyajikan makanan jajanan harus
sesuai dengan peruntukannya dan memenuhi persyaratan hygiene sanitasi.
2) Untuk menjaga peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) :
a. peralatan yang sudah dipakai dicuci dengan air bersih dan dengan sabun;
b. lalu dikeringkan dengan alat pengering/lap yang bersih
c. kemudian peralatan yang sudah bersih tersebut disimpan di tempat yang bebas
pencemaran.
3) Dilarang menggunakan kembali peralatan yang dirancang hanya untuk
sekali pakai.
BAB IV
AIR, BAHAN MAKANAN, BAHAN TAMBAHAN DAN PENYAJIAN
Pasal 4

1) Air yang digunakan dalam penanganan makanan jajanan harus air yang memenuhi
standar dan Persyaratan Hygiene Sanitasi yang berlaku bagi
air bersih atau air minum.
2) Air bersih yang digunakan untuk membuat minuman harus dimasak sampai
mendidih.
Pasal 5
1) Semua bahan yang diolah menjadi makanan jajanan harus dalam
keadaan baik mutunya, segar dan tidak busuk.
2) Semua bahan olahan dalam kemasan yang diolah menjadi makanan
jajanan harus bahan olahan yang terdaftar di Departemen Kesehatan,
tidak kadaluwarsa, tidak cacat atau tidak rusak.
Pasal 6
Penggunaan bahan tambahan makanan dan bahan penolong yang digunakan dalam
mengolah makanan jajanan harus sesuai dengan ketentuan perundang-undangan
yang berlaku.
Pasal 7
1) Bahan makanan, serta bahan tambahan makanan dan bahan penolong makanan
jajanan siap saji harus disimpan secara terpisah
2) Bahan makanan yang cepat rusak atau cepat membusuk harus disimpan dalam
wadah terpisah.
Pasal 8
Makanan jajanan yang disajikan harus dengan tempat/alat perlengkapan yang
bersih, dan aman bagi kesehatan.
Pasal 9
1) Makanan jajanan yang dijajakan harus dalam keadaan terbungkus dan
atau tertutup.
2) Pembungkus yang digunakan dan atau tutup makanan jajanan harus
dalam keadaan bersih dan tidak mencemari makanan.
3) Pembungkus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilarang ditiup.
Pasal 10
1) Makanan jajanan yang diangkut, harus dalam keadaan tertutup atau terbungkus
dan dalam wadah yang bersih.
2) Makanan jajanan yang diangkut harus dalam wadah yang terpisah dengan
bahan mentah sehinggga terlindung dari pencemaran.
Pasal 11
Makanan jajanan yang siap disajikan dan telah lebih dari 6 (enam) jam apabila masih
dalam keadaan baik, harus diolah kembali sebelum disajikan.
BAB V
SARANA PENJAJA
Pasal 12

1) Makanan jajanan yang dijajakan dengan sarana penjaja konstruksinya harus dibuat
sedemikian rupa sehingga dapat melindungi makanan dari pencemaran.
2) Konstruksi sarana penjaja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi
persyaratan yaitu antara lain :
a. mudah dibersihkan;
b. tersedia tempat untuk :
1. air bersih;
2. penyimpanan bahan makanan;
3. penyimpanan makanan jadi/siap disajikan;
4. penyimpanan peralatan;
5. tempat cuci (alat, tangan, bahan makanan);
6. tempat sampah.
3) Pada waktu menjajakan makanan persyaratan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) harus dipenuhi, dan harus terlindungi dari debu,
dan pencemaran.

BAB VI
SENTRA PEDAGANG
Pasal 13

1) Untuk meningkatkan mutu dan hygiene sanitasi makanan jajanan, dapat ditetapkan
lokasi tertentu sebagai sentra pedagang makanan jajanan.
2) Sentra pedagang makanan jajanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) lokasinya
harus cukup jauh dari sumber pencemaran atau dapat menimbulkan pencemaran
makanan jajanan seperti pembuangan sampah terbuka, tempat pengolahan limbah,
rumah potong hewan, jalan yang ramai dengan arus kecepatan tinggi.
3) Sentra pedagang makanan jajanan harus dilengkapi dengan fasilitas
sanitasi meliputi :
a. air bersih;
b. tempat penampungan sampah;
c. saluran pembuangan air limbah;
d. jamban dan peturasan;
e. fasilitas pengendalian lalat dan tikus;
4) Penentuan lokasi sentra pedagang makanan jajanan ditetapkan oleh
pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 1096/MENKES/PER/VI/2011
TENTANG HIGIENE SANITASI JASABOGA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : PERATURAN MENTERI KESEHATAN TENTANG


HIGIENE SANITASI JASABOGA.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan :


1. Jasaboga adalah usaha pengelolaan makanan yang disajikan di luar tempat usaha
atas dasar pesanan yang dilakukan oleh perseorangan atau badan usaha.
2. Pengelolaan makanan adalah rangkaian kegiatan yang meliputi penerimaan bahan
mentah atau makanan terolah, pembuatan, pengubahan bentuk, pengemasan,
pewadahan, pengangkutan dan penyajian.
3. Bahan makanan adalah semua bahan baik terolah maupun tidak yang digunakan
dalam pengolahan makanan, termasuk bahan tambahan makanan.
4. Higiene sanitasi adalah upaya untuk mengendalikan faktor risiko terjadinya
kontaminasi terhadap makanan, baik yang berasal dari bahan makanan, orang,
tempat dan peralatan agar aman dikonsumsi.
5. Sertifikat Laik Higiene Sanitasi Jasaboga adalah bukti tertulis yang dikeluarkan
oleh lembaga yang berwenang terhadap jasaboga yang telah memenuhi persyaratan
sesuai ketentuan peraturan perundangundangan.
6. Penjamah Makanan adalah orang yang secara langsung mengelola makanan.
7. Kantor Kesehatan Pelabuhan, yang selanjutnya disingkat KKP adalah unit
pelaksana teknis Kementerian Kesehatan di wilayah pelabuhan, bandara dan pos
lintas batas darat.
8. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
kesehatan.

LAMPIRAN
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 1096/MENKES/PER/VI/2011
TENTANG
HIGIENE SANITASI JASABOGA

BAB II
PERSYARATAN TEKNIS HIGIENE DAN SANITASI

A. BANGUNAN
1. Lokasi
Lokasi jasaboga tidak berdekatan dengan sumber pencemaran seperti tempat
sampah umum, WC umum, pabrik cat dan sumber pencemaran lainnya.
a. Halaman
1) Terpampang papan nama perusahaan dan nomor Izin Usaha serta nomor
Sertifikat Laik Higiene Sanitasi.
2) Halaman bersih, tidak bersemak, tidak banyak lalat dan tersedia tempat
sampah yang bersih dan bertutup, tidak terdapat tumpukan barangbarang
yang dapat menjadi sarang tikus.
3) Pembuangan air limbah (air limbah dapur dan kamar mandi) tidak
menimbulkan sarang serangga, jalan masuknya tikus dan dipelihara
kebersihannya.
4) Pembuangan air hujan lancar, tidak terdapat genangan air.
b. Konstruksi
Konstruksi bangunan untuk kegiatan jasaboga harus kokoh dan aman. Konstruksi
selain kuat juga selalu dalam keadaan bersih secara fisik dan bebas dari barang-
barang sisa atau bekas yang ditempatkan sembarangan.
c. Lantai
Kedap air, rata, tidak retak, tidak licin, kemiringan/kelandaian cukup dan mudah
dibersihkan.
d. Dinding
Permukaan dinding sebelah dalam rata, tidak lembab, mudah dibersihkan dan
berwarna terang. Permukaan dinding yang selalu kena percikan air, dilapisi bahan
kedap air setinggi 2 (dua) meter dari lantai dengan permukaan halus, tidak menahan
debu dan berwarna terang. Sudut dinding dengan lantai berbentuk lengkung (conus)
agar mudah dibersihkan dan tidak menyimpan debu/kotoran.
2. Langit-langit
a. Bidang langit-langit harus menutupi seluruh atap bangunan, terbuat dari bahan
yang permukaannya rata, mudah dibersihkan, tidak menyerap air dan berwarna
terang.
b. Tinggi langit-langit minimal 2,4 meter di atas lantai.
3. Pintu dan jendela
a. Pintu ruang tempat pengolahan makanan dibuat membuka ke arah luar dan
dapat menutup sendiri (self closing), dilengkapi peralatan anti serangga/lalat
seperti kassa, tirai, pintu rangkap dan lain-lain.
b. Pintu dan jendela ruang tempat pengolahan makanan dilengkapi peralatan anti
serangga/lalat seperti kassa, tirai, pintu rangkap dan lain-lain yang dapat dibuka
dan dipasang untuk dibersihkan.
4. Pencahayaan
a. Intensitas pencahayaan harus cukup untuk dapat melakukan pemeriksaan dan
pembersihan serta melakukan pekerjaan-pekerjaan secara efektif.
b. Setiap ruang tempat pengolahan makanan dan tempat cuci tangan intensitas
pencahayaan sedikitnya 20 foot candle/fc (200 lux) pada titik 90 cm dari lantai.
c. Semua pencahayaan tidak boleh menimbulkan silau dan distribusinya
sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan bayangan.
d. Cahaya terang dapat diketahui dengan alat ukur lux meter (foot candle meter)
1) Mengukur 10 fc dengan lux meter pada posisi 1x yaitu pada angka 100,
atau pada posisi 10x pada angka 10. Catatan : 1 skala lux = 10, berarti 1
foot candle = 10 lux.
2) Untuk perkiraan kasar dapat digunakan angka hitungan sebagai berikut :
- 1 watt menghasilkan 1 candle cahaya atau
- 1 watt menghasilkan 1 foot candle pada jarak 1 kaki (30 cm) atau
- 1 watt menghasilkan 1/3 foot candle pada jarak 1 meter atau
- 1 watt menghasilkan 1/3 x ½ = 1/6 foot candle pada jarak 2 meter
atau
- 1 watt menghasilkan 1/3 x 1/3 = 1/9 foot candle pada jarak 3 meter.
- lampu 40 watt menghasilkan 40/6 atau 6,8 foot candle pada jarak 2
meter atau 40/9 = 4,5 foot candle pada jarak 3 meter.
5. Ventilasi/penghawaan/lubang angin
a. Bangunan atau ruangan tempat pengolahan makanan harus dilengkapi dengan
ventilasi sehingga terjadi sirkulasi/peredaran udara.
b. Luas ventilasi 20% dari luas lantai, untuk :
1) Mencegah udara dalam ruangan panas atau menjaga kenyamanan dalam
ruangan.
2) Mencegah terjadinya kondensasi/pendinginan uap air atau lemak dan
menetes pada lantai, dinding dan langit-langit.
3) Membuang bau, asap dan pencemaran lain dari ruangan.
6. Ruang pengolahan makanan
a. Luas tempat pengolahan makanan harus sesuai dengan jumlah karyawan yang
bekerja dan peralatan yang ada di ruang pengolahan.
b. Luas lantai dapur yang bebas dari peralatan minimal dua meter persegi (2 m2)
untuk setiap orang pekerja.
Contoh : Luas ruang dapur (dengan peralatan kerja) 4 m x 5 m = 20 m2. Jumlah
karyawan yang bekerja di dapur 6 orang, maka tiap pekerja mendapat luas
ruangan 20/6 = 3,3 m2, berarti luas ini memenuhi syarat (luas 2 m2 untuk
pekerja dan luas 1,3 m2 perkiraan untuk keberadaan peralatan ) Luas ruangan
dapur dengan peralatan 3 m x 4 m = 12 m2. Jumlah karyawan di dapur 6 orang,
maka tiap karyawan mendapat luas ruangan 12/6 = 2 m2, luas ini tidak
memenuhi syarat karena dihitung dengan keberadaan peralatan di dapur.
c. Ruang pengolahan makanan tidak boleh berhubungan langsung dengan
toilet/jamban, peturasan dan kamar mandi.
d. Peralatan di ruang pengolahan makanan minimal harus ada meja kerja, lemari/
tempat penyimpanan bahan dan makanan jadi yang terlindung dari gangguan
serangga, tikus dan hewan lainnya.
B. FASILITAS SANITASI
1. Tempat cuci tangan
a. Tersedia tempat cuci tangan yang terpisah dari tempat cuci peralatan maupun
bahan makanan dilengkapi dengan air mengalir dan sabun, saluran pembuangan
tertutup, bak penampungan air dan alat pengering.
b. Tempat cuci tangan diletakkan pada tempat yang mudah dijangkau dan dekat
dengan tempat bekerja.
c. Jumlah tempat cuci tangan disesuaikan dengan jumlah karyawan dengan
perbandingan sebagai berikut :
Jumlah karyawan 1 - 10 orang : 1 buah tempat cuci tangan.
11 - 20 orang : 2 buah tempat cuci tangan Setiap ada penambahan karyawan
sampai dengan 10 orang, ada penambahan 1 (satu) buah tempat cuci tangan.
2. Air bersih
a. Air bersih harus tersedia cukup untuk seluruh kegiatan penyelenggaraan
jasaboga.
b. Kualitas air bersih harus memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan yang
berlaku.
3. Jamban dan peturasan (urinoir)
a. Jasaboga harus mempunyai jamban dan peturasan yang memenuhi syarat
higiene sanitasi.
b. Jumlah jamban harus cukup, dengan perbandingan sebagai berikut :
1) Jumlah karyawan : 1 - 10 orang : 1 buah
11 - 25 orang : 2 buah
26 - 50 orang : 3 buah
Setiap ada penambahan karyawan sampai dengan 25 orang, ada
penambahan 1 (satu) buah jamban.
2) Jumlah peturasan harus cukup, dengan perbandingan sebagai berikut :
Jumlah karyawan : 1 - 30 orang : 1 buah
31 - 60 orang : 2 buah
Setiap ada penambahan karyawan sampai dengan 30 orang, ada
penambahan 1 (satu) buah peturasan.
4. Kamar mandi
a. Jasaboga harus mempunyai fasilitas kamar mandi yang dilengkapi dengan air
mengalir dan saluran pembuangan air limbah yang memenuhi persyaratan
kesehatan.
b. Jumlah kamar mandi harus mencukupi kebutuhan, paling sedikit tersedia :
Jumlah karyawan : 1 - 30 orang : 1 buah
Setiap ada penambahan karyawan sampai dengan 20 orang, ada penambahan 1
(satu) buah kamar mandi.
5. Tempat sampah
a. Tempat sampah harus terpisah antara sampah basah (organik) dan sampah
kering (an organik).
b. Tempat sampah harus bertutup, tersedia dalam jumlah yang cukup dan
diletakkan sedekat mungkin dengan sumber produksi sampah, namun dapat
menghindari kemungkinan tercemarnya makanan oleh sampah.

C. PERALATAN
Tempat pencucian peralatan dan bahan makanan
a. Tersedia tempat pencucian peralatan, jika memungkinkan terpisah dari tempat
pencucian bahan pangan.
b. Pencucian peralatan harus menggunakan bahan pembersih/deterjen.
c. Pencucian bahan makanan yang tidak dimasak atau dimakan mentah harus dicuci
dengan menggunakan larutan Kalium Permanganat (KMnO4) dengan konsentrasi
0,02% selama 2 menit atau larutan kaporit dengan konsentrasi 70% selama 2 menit
atau dicelupkan ke dalam air mendidih (suhu 80°C-100°C) selama 1 – 5 detik.
d. Peralatan dan bahan makanan yang telah dibersihkan disimpan dalam tempat yang
terlindung dari pencemaran serangga, tikus dan hewan lainnya.

D. KETENAGAAN

Tenaga/karyawan pengolah makanan


1. Memiliki sertifikat kursus higiene sanitasi makanan.
2. Berbadan sehat yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter.
3. Tidak mengidap penyakit menular seperti tipus, kolera, TBC, hepatitis dan lain-lain
atau pembawa kuman (carrier).
4. Setiap karyawan harus memiliki buku pemeriksaan kesehatan yang berlaku.
5. Semua kegiatan pengolahan makanan harus dilakukan dengan cara terlindung dari
kontak langsung dengan tubuh.
6. Perlindungan kontak langsung dengan makanan dilakukan dengan menggunakan
alat :
a. Sarung tangan plastik sekali pakai (disposal)
b. Penjepit makanan
c. Sendok garpu
7. Untuk melindungi pencemaran terhadap makanan menggunakan :
a. Celemek/apron
b. Tutup rambut
c. Sepatu kedap air
8. Perilaku selama bekerja/mengelola makanan:
a. Tidak merokok
b. Tidak makan atau mengunyah
c. Tidak memakai perhiasan, kecuali cincin kawin yang tidak berhias (polos)
d. Tidak menggunakan peralatan dan fasilitas yang bukan untuk keperluannya
e. Selalu mencuci tangan sebelum bekerja, setelah bekerja dan setelah keluar dari
toilet/jamban
f. Selalu memakai pakaian kerja dan pakaian pelindung dengan benar
g. Selalu memakai pakaian kerja yang bersih yang tidak dipakai di luar tempat
jasaboga
h. Tidak banyak berbicara dan selalu menutup mulut pada saat batuk atau bersin
dengan menjauhi makanan atau keluar dari ruangan
i. Tidak menyisir rambut di dekat makanan yang akan dan telah diolah

E. MAKANAN
Makanan yang dikonsumsi harus higienis, sehat dan aman yaitu bebas dari
cemaran fisik, kimia dan bakteri.
1. Cemaran fisik seperti pecahan kaca, kerikil, potongan lidi, rambut, isi staples, dan
sebagainya Dengan penglihatan secara seksama atau secara kasat mata
2. Cemaran kimia seperti Timah Hitam, Arsenicum, Cadmium, Seng, Tembaga,
Pestisida dan sebagainya Melalui pemeriksaan laboratorium dan hasil pemeriksaan
negatif
3. Cemaran bakteri seperti Eschericia coli (E.coli) dan sebagainya Melalui
pemeriksaan laboratorium dan hasil pemeriksaan menunjukkan angka kuman E.coli
0 (nol)

ALAT DAN BAHAN :

- Alat :
1. ATK
2. Kamera

LANGKAH KETJA :

1. Menuju tempat observasi


2. Mengamati keadaan :
a. Tempat pengolahan bahan makanan
b. Tempat penyimpanan bahan makanan
c. Tempat penyajian makanan
3. Mengambil gambar atau mendokumentasikan tempat-tempat tersebut
4. Mencatat hasil pengamatan

HASIL PENGAMATAN :

1. Tempat 1 “Rumah Makan Ibu Senyum”


a. Tempat penyimpanan bahan makanan memiliki kondisi :
- Bahan makanan disimpan diruangan terbuka
- Terdapat kardus dan barang-barang bekas disekitarnya
- Bahan makanan yang akan diolah dalam keadaan segar, dan tidak busuk.
b. Tempat pengolahan bahan makanan memiliki kondisinya
- Ventilasi cukup baik
- Lantai bersih
- Tempat cuci piring dan bahan makanan bersih
- Alat-alat masak : bersih, digantung di dinding
- Tempat mengolah bahan makanan ; kompor dan sekitarnya bersih
- Jarak tempat memasak dengan tempat sampah 120 cm
- Tempat penyimpanan bumbu masak kotor dan berdebu
- Penjamah bersih dan rapih
- Pencahayaan cukup
c. Tempat penyajian makanan memiliki kondisi
- Ventilasi baik
- Tempat penyajian bersih namun terbuka sehingga terdapat lalat hinggap dikaca
etalase
- Tempat penyimpanan air tertutup
- Terdapat lilin yang menyala, guna mengusir lalat
- Terdapat tempat sampah didekat etalase
- Alat-alat penyajian seperti piring, gelas, dan sebagainya bersih
2. Tempat 2 “Tempat Jajan di RT 01/06”
a. Tempat penyimpanan bahan makanan memiliki kondisi
- Diluar ruangan terbuka
- Bahan makanan yang akan diolah masih terlihat bagus dan segar.
b. Tempat pengolahan bahan makanan memiliki kondisi
- Dapur dalam keadaan bersih
- Pencahayaan cukup
- Lantai bersih
- Tempat penyimpanan bumbu masak rapih , bersih dan digantung
- Tempat penyimpanan air tertutup dan bersih
- Lap yang digunakan kotor
c. Tempat penyajian makanan memiliki kondisi
- Terbuka tanpa etalase hanya ditutupi lap bersih
- Tempat penyajian makanan (piring, dsb) bersih
3. Tempat 3 : “Tempat jajanan RT 01/06”
a. Tempat pengolahan bahan makanan
- Dibawah tempat memasak ada kolong yang kotor sekali terdapat barang-barang
bekas
- Tempat pengolahan (kompor dan sekitarnya) bersih
- Alat masak disimpan dilemari
- Dilemari terdapat sepatu-sepatu bekas
- Ukuran tempat pengolahan bahan makanan (dapur) sempit sekali
- Lantai lembab
- Ventilasi sangat kurang (gelap)
b. Tempat penyimpanan bahan makanan
- Bahan makanan disimpan di etalase tertutup
- Terdapat tempat sampah didekat tempat penyimpanan bahan makanan
c. Tempat penyajian makanan
- Tertutup menggunakan etalase
- Tempat bersih

DATA PENGAMATAN

Tempat 1
Tempat 2

Tempat 3
KESIMPULAN :

Dari hasil pengamatan Tempat 1 tergolong kurang bersih dan sehat karena pada
observasi kami menemukan 19 lalat dalam waktu 5 menit, itu membuktikan bahwa tempat
1 tidak memenuhi syarat hygiene sanitasi makanan yang sesuai dengan KEPUTUSAN
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR
942/MENKES/SK/VII/2003 TENTANG PEDOMAN PERSYARATAN HYGIENE
SANITASI MAKANAN JAJANAN “Makanan jajanan yang dijajakan dengan sarana
penjaja konstruksinya harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat melindungi makanan
dari pencemaran.” (BAB V Pasal 12 ayat 1)
Tempat 2 tergolong bersih dan sehat karena sesuai dengan KEPUTUSAN
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR
942/MENKES/SK/VII/2003 TENTANG PEDOMAN PERSYARATAN HYGIENE
SANITASI MAKANAN JAJANAN.
Tempat 3 tergolong kurang bersih dan sehat karena tidak memiliki kategori tempat
penyimpanan alat pengolahan bahan makanan yang sesuai dengan KEPUTUSAN
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR
942/MENKES/SK/VII/2003 TENTANG PEDOMAN PERSYARATAN HYGIENE
SANITASI MAKANAN JAJANAN“Untuk menjaga peralatan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) : (c). kemudian peralatan yang sudah bersih tersebut disimpan di tempat
yang bebas pencemaran.” (BAB III Pasal 3 ayat 2)
LAPORAN PRAKTIKUM KE-7

Hari/Tanggal : Senin, 02 Desember 2013

JUDUL : Observasi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

TUJUAN :

- Mahasiswa terampil melakukan identifikasi masalah analisis mengenai dampak


lingkungan , UPL dan UKL .
- Mahasiswa terampil menganalisis dampak lingkungan menggunakan teori
simpul.

METODE : Observasi

DASAR TEORI :

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK


INDONESIA
NOMOR 05 TAHUN 2012
TENTANG
JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB MEMILIKI
ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang


Nomor 32
Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup,
perlu menetapkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik
Indonesia tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib
Memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup;
Mengingat : Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5059);
MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP


REPUBLIK INDONESIA TENTANG JENIS RENCANA USAHA
DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB MEMILIKI ANALISIS
MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP.
Pasal 1

Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:


1. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, yang selanjutnya disebut
Amdal, adalah kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan/atau
kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi
proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau
kegiatan.
2. Usaha dan/atau Kegiatan adalah segala bentuk aktivitas yang dapat
menimbulkan perubahan terhadap rona lingkungan hidup serta
menyebabkan dampak terhadap lingkungan hidup.
3. Dampak Penting adalah perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar
yang diakibatkan oleh suatu Usaha dan/atau Kegiatan.
4. Upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan
hidup, yang selanjutnya disebut UKL-UPL, adalah pengelolaan dan
pemantauan terhadap Usaha dan/atau Kegiatan yang tidak berdampak
penting terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses
pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan Usaha dan/atau Kegiatan.
5. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di
bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Pasal 2

1. Setiap Usaha dan/atau Kegiatan yang berdampak penting terhadap


lingkungan hidup wajib memiliki Amdal.
2. Jenis rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib memiliki Amdal
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran I yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
3. Untuk menentukan rencana Usaha dan/atau Kegiatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), pemrakarsa melakukan penapisan sesuai dengan
tata cara penapisan sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang
merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
4. Terhadap hasil penapisan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), instansi
lingkungan hidup Pusat, provinsi, atau kabupaten/kota menelaah dan
menentukan wajib tidaknya rencana Usaha dan/atau Kegiatan memiliki
Amdal.

Pasal 3

1. Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang dilakukan:


a. di dalam kawasan lindung; dan/atau
b. berbatasan langsung dengan kawasan lindung, wajib memiliki Amdal.
2. Kawasan lindung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam
Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini.
3. Jenis rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang berbatasan langsung dengan
kawasan lindung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, meliputi
rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang:
a. batas tapak proyek bersinggungan dengan batas kawasan lindung;
dan/atau
b. dampak potensial dari rencana Usaha dan/atau Kegiatan diperkirakan
mempengaruhi kawasan lindung terdekat.
4. Kewajiban memiliki Amdal sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
dikecualikan bagi rencana Usaha dan/atau Kegiatan:
a. eksplorasi pertambangan, minyak dan gas bumi, dan panas bumi;
b. penelitian dan pengembangan di bidang ilmu pengetahuan;
c. yang menunjang pelestarian kawasan lindung;
d. yang terkait kepentingan pertahanan dan keamanan negara yang tidak
berdampak penting terhadap lingkungan hidup;
e. budidaya yang secara nyata tidak berdampak penting terhadap
lingkungan hidup; dan
f. budidaya yang diizinkan bagi penduduk asli dengan luasan tetap dan
tidak mengurangi fungsi lindung kawasan dan di bawah pengawasan
ketat.

Pasal 4

1. Jenis rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang:


a. memiliki skala/besaran lebih kecil daripada yang tercantum dalam
Lampiran I; dan/atau
b. tidak tercantum dalam Lampiran I tetapi mempunyai dampak penting
terhadap lingkungan hidup, dapat ditetapkan menjadi jenis rencana
Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib memiliki Amdal di luar Lampiran
I.
2. Jenis rencana Usaha dan/atau Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) ditetapkan oleh Menteri berdasarkan:
a. pertimbangan ilmiah mengenai daya dukung dan daya tampung
lingkungan; dan
b. tipologi ekosistem setempat diperkirakan berdampak penting terhadap
lingkungan hidup.
3. Jenis rencana Usaha dan/atau Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diusulkan secara tertulis kepada Menteri, oleh:
a. kementerian dan/atau lembaga pemerintah nonkementerian;
b. gubernur;
c. bupati/walikota; dan/atau
d. masyarakat.
4. Jenis rencana Usaha dan/atau Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diusulkan setelah dilakukan telaahan sesuai kriteria sebagaimana
tercantum dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan
dari Peraturan Menteri ini.
Pasal 5

1. Jenis rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib memiliki Amdal dapat
ditetapkan menjadi rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang tidak wajib
memiliki Amdal, apabila:
a. dampak dari rencana Usaha dan/atau Kegiatan tersebut dapat
ditanggulangi berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi; dan/atau
b. berdasarkan pertimbangan ilmiah, ,tidak menimbulkan dampak penting
terhadap lingkungan hidup.
2. Jenis rencana Usaha dan/atau Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) ditetapkan oleh Menteri.
3. Jenis rencana Usaha dan/atau Kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diusulkan secara tertulis kepada Menteri, oleh:
a. kementerian dan/atau lembaga pemerintah nonkementerian;
b. gubernur;
c. bupati/walikota; dan/atau
d. masyarakat.
4. Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
wajib memiliki UKL-UPL atau surat pernyataan kesanggupan pengelolaan
dan pemantauan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-
undangan mengenai jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib
memiliki UKL-UPL atau surat pernyataan kesanggupan pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup

Pasal 6

1. Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor 11 tahun 2006 tentang Jenis Rencana Usaha
dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 7

1. Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.


2. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik
Indonesia.

ALAT DAN BAHAN :

- Alat :
1. ATK
2. Kamera

LANGKAH KETJA :

1. Menuju tempat observasi


2. Mengamati keadaan tempat
3. Mengambil gambar atau mendokumentasikan tempat-tempat tersebut
4. Mencatat hasil pengamatan

HASIL PENGAMATAN:
Tempat :
1. Pekerja Tanpa APD (kurangnya keselamatan kerja)
a. Tanpa sepatu
b. Tanpa masker (menyebabkan pekerja batuk-batuk)
c. Tanpa kacamata
2. Memberikan efek Bising pada warga (tapi 08.00-16.00)
3. Tempat penjemuran baju terletak didekat finishing (tahap akhir) ditakutkan
bahan kimia dan limbah kayu menempel pada baju.
4. Warga sekitar mengaku sering batuk-batuk dan sesak nafas, sampai ada
pegawai yang sakit antara paru-paru atau jantung.
5. Pada bagian pemotongan kayu ada pegawai yang menggunakan masker
namun tidak sesuai dengan prosedur penggunaan.
6. Serbuk kayu dari pabrik memberikan efek pada masyarakat.
7. Limbah digunakan menjadi kayu bakar oleh warga sekitar sehingga tidak
menimbulkan efek negatif pada lingkungan.

KESIMPULAN :

Simpul 1 :

a. Debu fisik (ampas serutan kayu)


b. Debu kimia (bau minyak dan cat kayu)
c. Proses pengolahan :
 Kebisingan dari spray cat
 Kebisingan dari alat pemotongan kayu
 Hammer (pemakuan kayu)

Simpul 2 : media udara

Simpul 3 :

a. Melalui pernafasan
b. Melalui pendengaran

Simpul 4 :

a. Gangguan saluran pernafasan


b. Batuk-batuk
c. Sesak nafas
d. Gangguan pendengaran
e. Gangguan penglihatan (karena debu yang masuk ke mata)

Dapat disimpulkan kegiatan tersebut belum masuk kategori Analisis Mengenai


Dampak Lingkungan (AMDAL) namun, masih dalam cakupan UPL dan UKL. Karena
dilihat dari dampak pada lingkungannya tidak begitu besar mempengaruhi derajat
kesehatan masyarakat sekitar.
LAPORAN PRAKTIKUM DASAR KESEHATAN
LINGKUNGAN

LAPORAN

TUGAS SEMINAR LAPORAN AKHIR DASAR KESEHATAN LINGKUNGAN

OLEH :

KELOMPOK 4

DIPLOMA IV

JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN

POLITEKNIK KESEHATAN

BANDUNG

2013
LAPORAN PRAKTIKUM DASAR KESEHATAN
LINGKUNGAN

LAPORAN

TUGAS SEMINAR LAPORAN AKHIR DASAR KESEHATAN LINGKUNGAN

OLEH :

KELOMPOK 4

 Fitriyani
 Ropa Robiyatul Adawiyah
 Suci Fibrianty Mardanus
 Syara Noor Ikhsani
 Shara Nur Annisa
 Triyanuari Puspa Dewi
 Vira Juliana
 Windi
 Yunanda Rezki Shola
 Yuda Brifan Juolian

DIPLOMA IV

JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN

POLITEKNIK KESEHATAN

BANDUNG

2013