Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI

PENGUJIAN HISTOKIMIA DAN KROMATOGRAFI


LAPIS TIPIS TERHADAP SIMPLISIA
CINNAMOMI CORTEX

Disusun Oleh :

1. Nimas Ayu A.P 152210101002


2. Dwipa Noor M.U 152210101009
3. Dindha Pratiwi S. 152210101010
4. Zidni Hafizha 152210101019
5. Weka Agustin P. 152210101021
6. Rochman Dwi S. 152210101029
7. Vinach Anggriyani 152210101038
8. Meri Eka Feby 152210101039
9. Jumahwi 152210101041
10. Ita Husnul K. 152210101045

LABORATORIUM BIOLOGI FAKULTAS FARMASI


UNIVERSITAS JEMBER
2016
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI......................................................................................................................2

BAB I. PENDAHULUAN.............................................................................................4

1.1 Latar Belakang.....................................................................................................4

1.2 Rumusan Masalah...............................................................................................5

1.3 Tujuan Praktikum................................................................................................5

BAB II. METODOLOGI PENELITIAN.......................................................................6

2.1 Alat....................................................................................................................6

2.1.1 Uji Histokimia...............................................................................................6

2.1.2 Metode Kromatografi Lapis Tipis.................................................................6

2.2 Bahan.................................................................................................................7

2.2.1 Uji Histokimia...............................................................................................7

2.2.2 Metode Kromatografi Lapis Tipis.................................................................7

2.3 Cara Kerja..........................................................................................................7

2.3.1 Uji Histokimia...............................................................................................7

2.3.2 Metode Kromatografi Lapis Tipis.................................................................8

BAB III. PEMBAHASAN...........................................................................................10

3.1 Pengertian Simplisia........................................................................................10

3.2 Uji Tumbuhan Obat..........................................................................................11

3.3 Identifikasi Cinnamomum zeylanicum.............................................................12

3.4 Morfologi tanaman Kayu Manis......................................................................13

3.5 Kandungan Kimia pada Cinnamomum zeylanicum..........................................14

BAB IV. HASIL PENGAMATAN...............................................................................16

4.1 Hasil Pengamatan Uji Histokimia Dan Kromatografi Lapis Tipis....................16

4.1.1 Uji Histokimia...........................................................................................16

4.1.2 Uji Kromatografi Lapis Tipis.....................................................................18

4.1.3 Kelebihan dan Kekurangan KLT...............................................................20

BAB V. KESIMPULAN..............................................................................................21
DAFTAR TABEL

Tabel 1. hasil pengamatan histokimia....................................................................16


DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. hasil pengamatan histokimia................................................................17

Gambar 2. Hasil KLT Cinnamomi Cortex.............................................................18


BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia yang beriklim tropis menyebabkan tanahnya subur
sehingga berbagai jenis tumbuhan dapat tumbuh. Diantara berbagai jenis
tersebut ada yang memiliki khasiat obat. Pemanfaatan tanaman obat yang
digunakan secara tepat mempunyai efek samping yang ringan sekali
dibandingkan dengan obat-obatan yang berbahan sintetis. Pemanfaatan
tanaman obat untuk menjaga kesehatan atau mencegah penyakit tergolong
murah dan mudah dilaksanakan oleh setiap keluarga.Semakin meningkatnya
harga obat dan terbatasnya daya beli masyarakat menjadikan obat tradisional
sebagai suatu alternatif untuk menjaga kesehatan maupun pengobatan
sendiri. Pengembangan tanaman obat secara garis besar dikembangkan
ketiga arah, yaitu menjadi obat tradisional, fitofarmaka, dan obat modern.
Salah satu tumbuhan yang ada di Indonesia adalah Kayu Manis. Dalam
berbagai literatur disebutkan bahwa kayu manis mengandung senyawa kimia
aktif salah satunya minyak atsiri. Minyak atsiri yang terkandung dalam kayu
manis ini berkhasiat sebagai parfum, korigens, antiseptik, karminatif, sakit
gigi dan bahan awal suatu produk.
Dalam praktikum kali ini, kami ingin membuktikan kandungan-
kandungan yang terdapat dalam kalembak dengan menggunakan metode
histokimia dan kromatografil lapis tipis. Sehingga kami dapat mengetahui
kandungan zat kimia yang ada pada tumbuhan meniran yang bermanfaat
bagi tubuh manusia. Untuk itu kami membuat makalah ini sebagai salah satu
bukti praktikum yang telah kami lakukan sehingga dapat bermanfaat untuk
dibaca masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimana prinsip kerja KLT dan menentukan nilai Rf ?


1.2.2 Apa saja kelemahan dan kelebihan KLT?
1.2.3 Mengapa menggunakan pembanding Sinamaldehida 1% ?
1.2.4 Apa saja kandungan dan khasiat Kayu Manis (Cinnamomum
zeylanicum)?

1.3 Tujuan Praktikum

Setelah melakukan praktikum ini, mahasiswa diharapkan mampu :


1.1.1. Menentukan prinsip kerja KLT dan menentukan nilai Rf
1.1.2. Mengidentifikasi kelemahan dan kelebihan KLT
1.1.3. Menganalisis manfaat Sinamaldehida 1% sebagai pembanding
1.1.4. Menganalisis kandungan dan khasiat Kayu Manis (Cinnamomum
zeylanicum)

BAB II. METODOLOGI PENELITIAN


2.1 Alat
2.1.1 Uji Histokimia
a) Plat tetes

b) Pipet tetes
c) Lemari asam

2.1.2 Metode Kromatografi Lapis Tipis


a) Pipet ukur 0,5 ml

b) Pipet ukur 1 ml

c) Pipet ukur 10 ml

d) Tabung reaksi

e) Rak tabung reaksi

f) Labu ukur

g) Batang pengaduk

h) Penggaris

i) Silika gel 60 F254

j) Lampu UV

k) Botol timbang

l) Pinset

m) Gelas ukur

n) Chamber

o) Corong gelas

p) Erlenmeyer

q) Kertas saring

r) Mikropipet

2.2 Bahan
2.2.1 Uji Histokimia
a) Serbuk Cinnamomum zeylanicum
b) Asam sulfat P
c) Asam sulfat 10 N
d) Asam klorida P
e) Asam asetat encer
f) Kalium hidroksida 5%
g) Ammonia 25%
h) Feri klorida 5%

2.2.2 Metode Kromatografi Lapis Tipis


a) Serbuk Cinnamomum zeylanicum
b) Etanol
c) Etil asetat
d) Toluen
e) Sinamaldehida 1% dalam metanol
f) Silica Gel 60 F254

2.3 Cara Kerja


2.3.1 Uji Histokimia

siapkan plat tetes

beri label pada tiap lubang sesuai dengan reagen kimia yang digunakan

Ambil ± 2 mg serbuk Cinnamomum zeylanicum, masukkan pada tiap lubang


plat tetes
Tambahkan 5 tetes reagen kimia yang berbeda ( asam sulfat pekat, asam sulfat
10 N, asam klorida pekat, asam asetat pekat, KOH 5%, amonia 25%, FeCl3 5%)
pada tiap lubang

aduk hingga tercampur dan amati perubahan warna yang terjadi


2.3.2 Metode Kromatografi Lapis Tipis

Memipet toluen 9,7 ml masukkan erlenmeyer

Memipet etil asetat 0,3 ml masukkan erlenmeyer

Kocok ad homogen dan masukkan ke dalam chamber

Pada chamber di tutup rapat dan di jenuhkan dengan kertas saring

Timbang serbuk Cinnamomum zeylanicum sebanyak 1 g masukkan labu ukur


Tambahkan 10 ml etanol ke dalam labu ukur yang berisi cinnamomi

Diendapkan labu ukur tersebut selama 15 menit

Saring hasil endapan dengan kertas saring dan masukkan ke tabung reaksi

Pindahkan filtrat ke dalam botol timbang dan tutup dengan aluminium foil

Totolkan sebanyak 5 µl ke Silika Gel dengan mikropipet

Masukkan silika Gel ke dalam Chamber . Semprot Silika Gel dengan Penampak Noda
Kalium Hidroksida Etanol kemudian hitung nilai Rf nya dengan sinar UV
BAB III. PEMBAHASAN
3.1 Pengertian Simplisia
Simplisia merupakan istilah yang dipakai untuk menyebut bahan-
bahan obat alam yang berada dalam wujud aslinya atau belum mengalami
perubahan bentuk. Pengertian simplisia menurut Departemen Kesehatan RI
adalah bahan alami yang digunakan untuk obat dan belum mengalami
perubahan proses apa pun, dan kecuali dinyatakan lain umumnya berupa
bahan yang telah dikeringkan. Simplisia terbagi atas simplisia nabati,
simplisia hewani dan simplisia mineral.
1. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian
tanaman atau eksudat tanaman. Eksudat tanaman adalah isi sel yang
secara spontan keluar dari tanaman atau isi sel dengan cara tertentu
dikeluarkan dari selnya atau zat-zat nabati lainnya yang dengan cara
tertentu dipisahkan dari tanamannya dan belum berupa zat kimia murni.
Simplisia nabati paling banyak digunakan seperti rimpang temulawak
yang dikeringkan bunga melati, daun seledri, biji kopi, buah adas.
2. Simplisia hewani, yaitu simplisia yang berupa hewan utuh, bagian
hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum
berupa zat kimia murni contohnya sirip ikan hiu dan madu
3. Simplisia pelikan (mineral), yaitu simplisia yang berupa bahan pelikan
atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana
dan belum berupa zat kimia murni. Contohnya Belerang dan kapur
sirih.
Dari ketiga golongan tersebut, simplisia nabati merupakan jumlah
terbanyak yang digunakan untuk bahan obat. Penyiapan simplisia nabati
merupakan suatu proses memperoleh simplisia dari tanaman sumbernya di
alam. Proses ini meliputi pengumpulan (collection), pemanenan
(harvesting), pengeringan (drying), pemilihan (garbling), serta pengepakan,
penyimpanan dan pengawetan (packaging, storage, and preservation).
Pemberian nama suatu simplisia umumnya ditetapkan dengan menyebutkan
nama marga (genus), atau nama spesies (species) atau petunjuk jenis
(specific epithet) dari tanaman asal, diikuti dengan nama bagian tanaman
yang dipergunakan.
Simplisia dapat diperoleh dari tanaman liar atau dari tanaman yang
sengaja dibudidayakan/dikultur. Tanaman liar disini diartikan sebagai
tanaman yang tumbuh dengan sendirinya di hutan-hutan atau di tempat lain
di luar hutan atau tanaman yang sengaja ditanam tetapi bukan untuk tujuan
memperoleh simplisia untuk obat (misalnya tanaman hias, tanaman pagar).
Sedangkan tanaman kultur diartikan sebagai tanaman budidaya, yang
ditanam secara sengaja untuk tujuan mendapatkan simplisia. Tanaman
budidaya dapat berupa perkebunan luas, usaha pertanian kecil-kecilan atau
berupa tanaman halaman dengan jenis tanaman yang sengaja ditanam untuk
tujuan memperoleh simplisia tetapi juga berfungsi sebagai tanaman hias.

3.2 Uji Tumbuhan Obat


Untuk mengetahui kebenaran dan mutu obat tradisional termasuk
simplisia, maka dilakukan analisis yang meliputi analisis kuantitatif dan
kualitatif. Analisis kuantitatif terdiri atas pengujian organoleptik, pengujian
makroskopik dan mikroskopik, pengujian KLT dan pengujian histokimia.
1. Uji Organoleptik
Uji organoleptik dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui khususnya
bau dan rasa simplisia yang diuji
2. Uji Makroskopik
Uji makroskopik dilakukan dengan menggunakan kaca pembesar atau
tanpa menggunakan alat. Cara ini dilakukan untuk mencari khususnya
morfologi, ukuran, dan warna simplisia yang diuji.
3. Kromatografi Lapis Tipis
Kromatografi lapis tipis merupakan salah satu analisis kualitatif dari
suatu sampel yang ingin dideteksi dengan memisahkan komponen-
komponen sampel berdasarkan perbedaan kepolaran. Prinsip kerjanya
memisahkan sampel berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel
dengan pelarut yang digunakan. Teknik ini biasanya menggunakan fase
diam dari bentuk plat silika dan fase geraknya disesuaikan dengan jenis
sampel yang ingin dipisahkan. Larutan atau campuran larutan yang
digunakan dinamakan eluen. Semakin dekat kepolaran antara sampel
dengan eluen maka sampel akan semakin terbawa oleh fase gerak
tersebut. Pada uji kromatografi lapis tipis ini ditentukan nilai
perbandingan relatif antar sampel (Rf). Nilai Rf juga menyatakan
derajat retensi suatu komponen dalam fase diam sehingga nilai Rf
sering juga disebut faktor retensi. Nilai Rf dapat dihitung dengan rumus
berikut :
Rf = Jarak yang ditempuh substansi/Jarak yang ditempuh oleh pelarut
(eluen)
4. Uji Histokimia
Uji histokimia bertujuan untuk mengetahui berbagai macam zat
kandungan yang terdapat dalam jaringan tanaman. Dengan pereaksi
spesifik, zat – zat kandungan tersebut akan memberikan warna yang
spesifik pula sehingga mudah dideteksi.

3.3 Identifikasi Cinnamomum zeylanicum


Klasifikasi
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Sub Kingdom : Tracheobionta (berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua)
Sub Kelas : Magnoliidae
Ordo : Laurales
Famili : Lauraceae
Genus : Cinnamomum
Spesies : Cinnamomum zeylanicum

3.4 Morfologi tanaman Kayu Manis


a. Daun
Tanaman kayu manis memiliki daun tunggal yang memiliki sifat kaku
seperti kulitnya. Terletak secara berseling dengan panjang tangkainya
sekitar 0,5-1,5 cm dan memiliki 3 buah tulang daun yang tumbuhnya
melengkung.
Daun kayu manis berbentuk elips memanjang yang panjangnya sekitar
4 cm dan lebar sekitar 1,5-6 cm
Ujung daun tersebut runcing dengan tepi daun yang rata. Permukaan
daun bagian atas licin berwarna hijau, sedangkan bagian bawahnya
berwarna ke abu-abuan. Untuk warna daun yang masih muda berwarna
merah pucat.
b. Bunga
Bungan berukuran kecil dengan warna berwarna kuning yang tumbuh
pada malai.
Bunga ini termasuk bunga sempurna karena memiliki dua buah
kelamin. Kelopak bunga berjumlah 6 helai yang berada dalam dua
rangkaian. Memliki benang sari berjumlah 12 helai dan masing-masing
empat kelompok terangkai dan kotak sarinya.
c. Buah
Buah yang dimiliki tanaman kayu manis berjumlah satu dan memiliki
daging. Buah tersebut berbentuk bulat memanjang dan berwarna hijau
tau untuk yang masih muda, sedangkan yang sudah tua berwarna ungu
tua.
d. Batang
Batangnya tumbuh mejulang ke atas cukup tingi sekitar 5-15 meter
yang kulit pohonnya berwarna abu-abu tua dengan bau khas.
Sedangkan kayunya berwarna cokelat muda.
Cabang dan ranting tanman kayu manis mengandung minyak atsiri
yang menjadi komoditas ekspor.

3.5 Kandungan Kimia pada Cinnamomum zeylanicum


Cortex Cinnamomi (Cinnamomum zeylanicum) banyak mengandung
beberapa zat kimia yaitu: minyak atsiri, terpenoid, flavonoid, dan tanin.
1) Minyak atsiri merupakan bahan dasar dari wangi-wangian atau minyak gosok
(untuk pengobatan) alami. Minyak atsiri digunakan sebagai metabolit
sekunder yang berperan sebagai alat pertahanan diri agar tidak dimakan oleh
hewan atau sebagai agensia untuk bersaing dengan tumbuhan lain dalam
mempertahankan ruang hidup.
2) Terpenoid merupakan kerangka penyusun sejumlah senyawa penting bagi
makhluk hidup. Sebagai contoh senyawa steroid adalah turunan skualena,
sutau triterpena, karoten dan retinol. Terpena menyusun banyak minyak atsiri
yang dihasilkan oleh tumbuhan. Kandungan minyak atsiri mempengaruhi
penggunaan produk rempah-rempah baik sebagai bumbu, sebagai wewangian
serta sebagai pengobatan, kesehatan dan upacara-upacara ritual.
3) Flavonoid merupakan senyawa larut dalam air yang dapat diekstraksi dengan
etanol 70% dan tetap ada lapisan air setelah dikocok dengan eter minyak
bumi. Flavonoid berupa senyawa fenol, karena itu warnanya berubah bila
ditambah basa atau amoniak. Flavonoid umumnya terdapat dalam tumbuhan
terikat pada gula sebagai glikosida dan aglikon. Flavonoid yang merupakan
bentuk kombinasi glikosida, terdapat dalam semua tumbuhan berpembuluh
(Harborne, 1987).
4) Tanin tersebar dalam setiap tanaman yang berbatang. Tanin berada dalam
jumlah tertentu, biasanya berada pada bagian spesifik tanaman seperti : daun,
buah, akar, batang. Tanin merupakan senyawa kompleks, biasanya merupakan
campuran polifenol yang sukar untuk dipisahkan karena tidak dalam bentuk
kristal. Di dalam tumbuhan letak tanin terpisah dari protein dan enzim
sitoplasma, tetapi bila jaringan rusak maka reaksi penyamaan dapat terjadi.
Reaksi ini menyebabkan protein lebih sukar dicapai oleh cairan pencernaan.
Salah satu fungsi utama tanin yaitu sebagai penolak hewan pemakan
tumbuhan karena rasanya yang sepat (Harborne, 1987). Tanin dapat
meringankan diare dengan menciutkan selaput lendir usus (Tjay dan Raharja,
1991).
5) Alkaloid merupakan golongan zat tumbuhan sekunder yang terbesar. Alkaloid
termasuk senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau atom nitrogen dan
berbentuk kristal. Untuk alkaloid dalam daun atau buah segar adalah rasanya
pahit di lidah serta mempunyai efek fisiologis kuat atau keras terhadap
manusia. Sifat lain yaitu sukar larut dalam air dengan suatu asam akan
membentuk garam alkaloid yang lebih mudah larut (Harborne, 1987)

Khasiat Cinnamomum zeylanicum


1. Untuk mengobati diabetes
2. Untuk mengobati kolesterol
3. Untuk mengobati penyakit kulit
4. Untuk mengobati rematik
5. Mencegah penyakit kanker

BAB IV. HASIL PENGAMATAN


4.1 Hasil Pengamatan Uji Histokimia Dan Kromatografi Lapis Tipis
4.1.1 Uji Histokimia
Pada analisis histokimia, kami mengamati perubahan warna pada serbuk
kulit kayu manis dengan ditambah beberapa tetes reagen tertentu,
dimana jumlah serbuk yang digunakan sejumlah kurang lebih 2 mg, dan
reagen yang digunakan adalah Asam sulfat P, Asam sulfat 10 N, Asam
klorida P, Asam asetat P, Kalium hidroksida 5%, Amonia 25%, dan Feri
klorida 5%.
Jumlah
+ Reagen (5 tetes) Percobaan Literatur Hasil
serbuk daun
Asam sulfat P Coklat merah Cokelat merah Positif
Asam sulfat 10 N Coklat merah Coklat merah Positif
Asam klorida P Merah kuning Merah kuning Positif
Serbuk kulit Asam asetat encer Cokelat merah Cokelat merah Positif
kayu manis KOH 5% Merah Merah Positif
Amonia 25% Merah cokelat Merah cokelat Positif
2 mg. Feri klorida 5% Hijau kuning Hijau kuning positif
Tabel 1. hasil pengamatan histokimia
Gambar 1. hasil pengamatan histokimia

Pada uji histokimia kali ini kelompok kami mendapatkan hasil yang sesuai
dengan literatur. Dari hasil percobaan ini, kami dapat menentukan bahwa Kayu
manis (Cinnamomum zeylanicum) memiliki kandungan sebagai berikut.
1. Asam sulfat Pa dan H2SO4 10 N
Kami mendapatkan hasil yang positif atau sesuai dengan literatur karena
asam klorida digunakan untuk mengidentifikasi adanya senyawa
terpenoid, steroid dan minyak atsiri sehingga Cinnamomi Cortex ini
benar mengandung terpenoid, steroid dan minyak atsiri.
2. FeCl3 5 %
Reagen kimia ini digunakan untuk mengidentifikasi adanya senyawa
Tanin. Cinnamomi Cortex ini dinyatakan dalam literatur bahwa
mengandung Tanin dan Flavonoid sehingga uji histokimia dengan
menggunakan reagen ini menunjukkan hasil yang positif.
3. Ammonia 25 %
Pada praktikum ini amonia memberikan hasil positif karena ammonia
merupakan reagen untuk mengidentifikasi adanya senyawa flavonoid.
4. CH3COOH encer dan HCL Pa
5. KOH 5%
Pada praktikum ini amonia memberikan hasil positif karena KOH
merupakan reagen untuk mengidentifikasi adanya senyawa alkaloid.
4.1.2 Uji Kromatografi Lapis Tipis

Rf = Jarak
sampel/jarak eleun

Jarak Eluen

Jarak Sampel

Gambar 2. Hasil KLT Cinnamomi Cortex

 Pembanding : sinamaldehida 1% dalam metanol


 Volume Penotolan : 1 µl pembanding dan 10 µl larutan uji
 Fase gerak : toluen: etil asetat = 9,7 : 0,3
 Fase diam : Silika Gel 60 F254
 Penampak noda : UV 254 nm
 Warna noda : Ungu tua
 Rf standar (literatur) : 0,8
 Rf Pembanding : 3,5/8 = 0,4375
 Rf sampel : 2,7/8 = 0,3373
Kromatografi adalah bentuk kromatografi planar, selain kromatografi
kertas dan elektroforesis. Meskipun demikian, kromatografi planar ini dapat
dikatakan sebagai bentuk terbuka dari kromatografi kolom. Fase gerak yang
dikenal sebagai pelarut pengembang akan bergerak sepanjang fase diam
karena pengaruh kapiler pada pengembangan secara menaik (ascending)
atau karena pengaruh gravitasi pada pengembanngan secara menurun
(descending) (Rohman, 2007).
Fase diam yang digunakan dalam percobaan ini adalah gel silika yang
memiliki mekanisme sifat adsorbsi. Gel silika dapat digunakan pada
senyawa-senyawa yang mengandung asam amino, hidrokarbon, vitamin,
dan alkaloid. Kebanyakan fase diam dikontrol berdasarkan ukuran partikel
dan luas permukaannya.
Sedangkan eluen adalah fase gerak yang berperan penting pada proses
eluasi bagi larutan umpan (feed) untuk melewati fase diam (adsorbent).
Interaksi antara adsorbent dengan eluen sangat menentukan terjadinya
pemisahan komponen. Eluen dapat digolongkan menurut ukuran kekuatan
teradsorbsinya pelarut atau campuran pelarut tersebut pada adsorben dan
dalam hal ini yang banyak digunakan adalah jenis adsorben alumina atau
sebuah lapis tipis silika. Suatu pelarut yang bersifat larutan relatif polar,
dapat mengusir pelarut yang relatif non polar dari ikatannya dengan
alumina. Fase gerak yang digunakan pada pratikum kali ini adalah toluen :
etil asetat (9,7 : 0,3).
Dalam uji KLT kali ini digunakan pembanding sinamaldehida 1%
dalam metanol yang memiliki aktivitas antibakteri. Pewarna noda yang
digunakan adalah UV 254 nm dan warna noda berwarna ungu .
Dari hasil yang kami dapat nilai Rf sampel 0,3375 dan Rf
pembanding sebesar 0,4375. Data tersebut menunjukkan bahwa hasil
tersebut tidak sesuai dengan Rf literatur ±0,80. Hal ini disebabkan oleh
beberapa hal diantaranya :
1. Eleun yang terlalu lama yang mungkin tidak jenuh lagi karena
memakai eluen dari praktikan sebelumnya
2. Kelembapan udara.
3. Penotolan yang kurang tepat
4. Suhu ruangan
5. Proses homogenisasi yang kurang
6. Kejenuhan saat eluasi

4.1.3 Kelebihan dan Kekurangan KLT


Adapun kelebihan dan kekurangan dari Kromatografi Lapis Tipis :
Keuntungan KLT :
1. Waktu relatif singkat
2. Menggunakan inestasi yang kecil.
3. Paling cocok untuk analisis bahan alam dan obat.
4. Jumlah cuplikan yang dengan sedikit.
5. Kebutuhaan ruang minimum.
6. Penanganan sederhana.
7. Zat yang bersifat asam/basa kuat dapat dipisahkan dengan KLT.

Kelemahan KLT :
1. Hanya merupakan langkah awal untuk menentukan pelarut yang cocok
dengan pada kromatografi kolom.
2. Noda yang terbetuk belum tentu senyawa murni.

BAB V. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan yang dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1. Kandungan kimia yang terdapat dalam kayu manis adalah minyak
atsiri ,flavonoid, alkaloid, terpenoid, dan tanin.
2. Nilai Rf yang didapat yaitu nilai Rf analit atau sampel 0,3375 dan
Sinamaldehid atau pembanding 0,4375
3. Hasil menunjukkan perbedaan yang tidak sesuai dengan literatur karena
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu suhu ruangan, kejenuhan saat eluasi,
eleun yang terlalu lama yang mungkin tidak jenuh lagi karena memakai eluen
dari praktikan sebelumnya, kelembapan udara, penotolan yang kurang tepat,
dan proses homogenitas yang kurang tepat.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1979. Materia Medika Indonesia, Jilid II. Jakarta : Departemen
Kesehatan RI
Anonim. 2008. “Buku Ajar Mata Kuliah Farmakognosi”. Jimbaran : Universitas
Udayana.
Egon Sthal. 1985. Analisis Obat Kromatografi dan Miroskopi. Bandung : ITB.
Jim Clark. 2007. Kromatografi Lapis Tipis.
http://www.chem_is_try.org//kromatografi/html.
Voight Rudolf. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi.Yogyakarta : Gajahmada
University Press
Anonim. 1985. Tanaman Obat Indonesia. jilid 1. Direktorat Jenderal Pengawasan
Obat Dan Makanan. Jakarta. hal 56.
Sastroamidjojo, Seno. 2001. Obat Asli Indonesia. Dian Rakyat. Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai