Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

HIPERTENSI

Oleh

NOVITRI MINANG ASTUTI, S.Kep


NPM. 13 10 038 105 102

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKES INDONESIA PADANG
2016
HIPERTENSI

A. Defenisi Hipertensi

Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah dimana tekanan


sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya 90 mmHg (Brunnern &
Suddarth, 2002). WHO dan kesepakatan dunia mengatakan bahwa batas tekanan darah
normal adalah tekanan systole 140 mmHg dan tekanan darah diastole 90 mmHg yang
biasanya dituliskan 140/90 mmHg. Apabila tekanan systole diatas 140 atau tekanan
diastole diatas 90, maka tekanan darah sudah dianggap sebagai tekanan darah tinggi
atau hipertensi. Sebaliknya apabila tekanan systole dibawah 80 mmHg dan tekanan
diastole dibawah 60 mmHg atau bahkan tidak dapat diukur disebut sebagai tekana
darah rendah atau hipotensi (Sayoga, 2013).
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu kondisi di mana terjadi
peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama). Pada
pemeriksaan tekanan darah akan diperoleh dua angka. Angka yang lebih tinggi
diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik). Bila tekanan darah 120/80 mmHg
maka dikatakan normal. Sedangkan pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi
kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi biasanya terjadi pada tekanan darah
140/90 mmHg atau ke atas.
Hipertensi atau yang lebih dikenal dengan sebutan penyakit darah tinggi adalah
suatu keadaan dimana tekanan darah seseorang berada diatas batas normal / optimal
yaitu 120 mmHg untuk sistolik dan 80 mmHg untuk diastolik (Purnomo, 2009).
Hipertensi adalah faktor penyebab timbulnya penyakit berat seperti serangan jantung,
gagal ginjal dan stroke (Susilo Y, 2011).

B. Klasifikasi
Ridjab.D dan Ridwan.C pada Medika NO. 5 Mei 2002 mengatakan klasifikasi
tekanan darah pada orang dewasa umur 18 tahun atau lebih sebagai berikut :
Tabel 2.1 klasifikasi tekanan darah pada orang dewasa umur 18 tahun atau lebih
Kategori Tekanan Sistolik Tekanan Diastolik
mmHg mmHg
Tekanan darah optimal Kurang dari 120 Kurang dari 80
Tekanan darah normal 120-129 80-84
Tekanan darah normal 130-139 85-89
kategori tinggi
Hipertensi tingkat 1 140-159 90-99
Hipertensi tingkat 2 160-179 100-
109
Hipertensi tingkat 3 180 ke atas 110
keatas
Sumber : Denio A. Ridjab dan Carmeolita Ridwan pada Medika NO. 5 Mei 2002

Apabila hipertensi dibiarkan saja maka akan menyebabkan halusinasi atau


pengenyalan buluh-buluh darah di dalam otak. Oleh karena itu hipertensi harus
dikendalikan sedini mungkin. Tergantung dari tingkat hipertensi, pengendalian dapat
dimulai dengan diet rendah garam dengan mengubah pola hidup dan pola makan,
dengan berolah raga sehat dan teratur atau dengan obat yang ringan sifatnya,
dikemukakan dalam artikel Tjipto Haryono dalam Medika no.5 mei 2002. Hipertensi
tidak hanya merusak otak saja, hipertensi juga dapat merusak jantung, ginjal, mata dan
pembuluh darah arteri. Apabila terjadi kerusakan pada organ tersebut maka akan
timbul gejala - gejala seperti pembengkakan jantung seperti pembengkakan jantung
disusul dengan gagal jantung (heart failure) ( Sayoga, 2013 )

C. Etiologi
Hipertensi adalah asimtomatik. Gejala-gejala menandakan kerusakan pada
organ target seperti otak, ginjal, mata dan jantung. Bila tak teratasi, hipertensi dapat
menimbulkan stroke, gagal ginjal, kebutaan dan penyakit jantung koroner (PJK).
Menurut Mansjoer A, dkk, 2001 berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi
menjadi 2 bagian yaitu:
1) Esensial (primer / idiopatik) etiologi tak diketahui, dapat dipercepat atau maligna,
namun banyak faktor yang mempengaruhi seperti genetika, lingkungan,
hiperaktivitas, susunan saraf simpatik, system rennin angiotensin, efek dari eksresi
Na, obesitas, merokok dan stress.
2) Sekunder atau hipertensi renal disebabkan oleh proses penyakit dasar. Dapat
diakibatkan karena penyakit parenkim renal / vaskuler renal. Penggunaan
kontrasepsi oral yaitu pil, gangguan endokrin dan lain-lain.
Pada umunya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik. Hipertensi
terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan tekanan
perifer. Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi
yaitu:
a) Genetik
Respon nerologi terhadap stress atau kelainan eksresi atau transport Na.
b) Obesitas
Terkait dengan level insulin yang tinggi dapat mengakibatkan tekanan
darah meningkat.
c) Stress Lingkungan
d) Hilangnya Elastisitas jaringan dan arteri sklerosis pada orang tua serta
pelebaran pembuluh darah. Faktor - faktor yang mempertinggi resiko
terjadinya hipertensi antara lain:
(1) Keturunan
(2) Usia
(3) Berat badan
(4) Perokok
(5) Pola makan dan gaya hidup
(6) Aktivitaas olah raga

D. Patofisologi
Hipertensi sebagai suatu penyakit dimana terjadi peningkatan tekanan darah
sistolik dan atau diastolik yang tidak normal. Batas yang tepat dari kelainan ini tidak
pasti. Nilai yang dapat dan diterima berbeda sesuai usia dan jenis kelamin (sistolik
140-160mmHg diastolic 90-95mmHg). Tekanan darah dipengengaruhi oleh curah
jantung tekanan perifer dan tekanan atrium kanan.
Didalam tubuh terdapat sistem yang berfungsi mencegah perubahan tekanan
darah secara akut yang disebabkan oleh gangguan sirkulasi, yang berusaha untuk
mempertahankan kestabilan tekanan darah dalam jangka panjang reflek kardiovaskuler
melalui sistem saraf termasuk sistem control yang beraksi segera. Kestabilan tekanan
darah jangka panjang dipertahankan oleh sistem yang mengatur jumlah cairan tubuh
yang melibatkan berbagai organ terutama ginjal.
Berbagai faktor seperti faktor genetik yang menimbulkan perubahan pada ginjal
dan membran sel, aktivitas saraf simpatis dan sistem rennin-angiotensin yang
mempenggaruhi keadaan hemodinamik, asupan natrium dan metabolism kalium dalam
ginjal, serta obesitas dan faktor endotel mempunyai peran dalam peningkatan tekanan
darah. Stres dengan peninggian saraf simpatis menyebabkan kontruksi fungsional dan
hipertensi struktural.

E. Manifestasi Klinis
Pada pemeriksaan fisik mungkin tidak dijumpai kelainan apapun selain tekanan
darah yang tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina, seperti
perdarahan dan penyempitan pembuluh darah. Individu yang menderita hipertensi
kadang tidak menampakkan gejala sampai bertahun - tahun. Penyakit arteri koroner
dengan angina adalah gejala yang paling menyertai hipertensi. Apabila jantung tidak
mampu lagi menahan peningkatan beban kerja, maka dapat terjadi gagal jantung kiri.

F. Komplikasi
Jadi pada komplikasi hipertensi berat apabila tekanan darah diastolik sama atau
lebih besar dari 130 mmHg atau kenaikan tekanan darah yang terjadi secara mendadak
dan alat - alat tubuh yang sering terserang hipertensi antara lain:
1) Mata
Berupa perdarahan retina, gangguan penglihatan sampai dengan kebutaan.
2) Ginjal
Berupa gagal ginjal
3) Jantung
Berupa payah jantung, jantung koroner.
4) Otak
G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum memulai terapi
bertujuan menentukan adanya kerusakan organ dan faktor resiko lain atau mencari
penyebab hipertensi. Biasannya di periksa : urinaria, darah ferifer lengkap, kimia darah
(kalium, natrium, kreatinin, gula darah puasa, kolesterol total, kolesterol HDL dan
EKG).
Sebagai tambahan dapat dilakukan pemriksaan lain, seperti klirens kreatini,
protein, urine 24 jam, asam urat, kolesterol LDL, TSH dan echokardiografi (Mansjoer
A, dkk, 2001).

H. Penatalaksanaan Medis
Tujuan dari penatalaksaan hipertensi adalah menurunkan resiko penyakit
kardiovaskuler dan mortalitas serta morbiditas yang berkaitan. Sedangkan tujuan terapi
pada penderita hipertensi adalah mencapai dan mempertahankan tekanan sistolik di
bawah 140 mmHg dan tekanan diastolic di bawah 90 mmHg dan mengontrol adanya
resiko. Hal ini dapat dicapai melalui modifikasi gaya hidup saja atau dengan obat
antihipertensi (Mansjoer A, dkk, 2001).
Kelompok resiko di kategorikan menjadi :
1) Pasien dengan tekanan darah perbatasan atau tingkat 1, 2 atau 3 tanpa gejala
penyakit kardiovaskuler, kerusakan organ atau fakor resiko lainnya. Bila dengan
modifikasi gaya hidup tekanan darah belum dapat di turunkan maka harus di
turunkan obat anti hipertensi.
2) Pasien tanpa penyakit kardiovaskular atau kerusakan organ lainnya, tapi memiliki
satu atau lebih faktor resiko yang tertera di atas, namun bukan diabetes melitus.
Jika terdapat beberapa faktor maka harus langsung di berikan obat anti hipertensi.
3) Pasien dengan gejala klinis penyakit kardiovaskular atau kerusakan organ yang
jelas, faktor resiko : usia lebih dari 60 tahun, merokok, dislipidemia, diabetes
melitus, jenis kelamin (pria dan wanita menopause), riwayat penyakit
kardiovaskular dalam keluarga. Kerusakan organ atau penyakit kardiovaskuler :
penyakit jantung ( hipertrofi ventrikel kiri, infark miokard, angina pektoris, gagal
jantung, riwayat revaskularisasi korener, stroke, transient ischemic attack,
nefropati, penyakit arteri perifer dan retinopati) (Mansjoer A, dkk, 2001)
Tabel 2.2 Penatalaksanaan berdasarkan klasifikasi resiko :
Tekanan Kelompok Kelompok Kelompok
darah resiko A resiko B resiko C
130-139/85-89 Modifikasi Modifikasi gaya Dengan obat
gaya hidup hidup

140-159/90-99 Modifikasi Modifikasi gaya Dengan obat


gaya hidup hidup

>160 / > 100 Dengan obat Dengan obat Dengan obat

Sumber : Mansjoer A, dkk, 2001

Modifikasi gaya hidup cukup efektif, dapat menurunkan resiko kardiovaskuler


dengan biaya sedikit dan resiko minimal. Tata laksanan ini tetap di anjurkan meski
harus di sertai obat anti hipertensi karena dapat menurunkan jumlah dan dosis,
langkah-langkah yang dianjurkan :
a) Menurunkan BB bila terdapat kelebihan (indek masa tubuh > 27)
b) Membatasi alkohol
c) Meningkatkan aktifitas fisik aerobic, (30-45 menit per hari)
d) Mengurangi asupan natrium ( 100 mmol Na/gram NaCl perhari )
e) Mempertahankan asupan kalsium yang adekuat ( 90 mmol/hari).
f) Mempertahankan asupan kalsium dan mengurangi asupan lemak jenuh dan
kolesterol dalam makanan (Masjoer A, dkk, 2001).

I. Jenis-Jenis Obat Hipertensi


Jenis-jenis obat hipertensi, antara lain:
Diuretik : HCT, Higroton, lasik
Betabloker : Propanolol (inderal)
Alfabloker : Phentolamin, prozazine (minipres)
Siphatolik : Catapres, reseptin
Fasodilator : Hidralazine, dizoxide, nitruprusdide, catopril
Ca antagonis : Nefidipine (adalat)
J. WOC
K. KEMUNGKINAN Dx Yang Muncul
L. Catatan Perkembangan
LAPORAN KASUS PADA Ny. N Dengan Hipertensi
Di Komplek Unand Blok D1 LUBUK KILANGAN

Oleh

NOVITRI MINANG ASTUTI, S.Kep


NPM. 13 10 038 105 102

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKES INDONESIA PADANG
2016
ASKEP KELUARGA DENGAN HIPERTENSI PADA LANSIA

A. Data Umum keluarga


1. Nama kepala keluarga : Tn. Masrianto Commented [DM1]: Inisial saja

2. Umur : 46 th
3. Agama : Islam
4. Pendidikan : SMP
5. Pekerjaan : Supir
6. Suku/bangsa : Caniago
7. Alamat : Komplek Unand D1
8. Komposisi Keluarga :

No Nama Umur Sex Pendidikan Pekerjaan Hub.dg.KK


1 Tn. M 46 L SMP Supir KK
2 Ny. N 43 P S1 IRT Istri
3 Ny. N 75 P SMP IRT Orang Tua
4. An R 7 L SD Pelajar Anak

9. Genogram : Commented [DM2]: Bikin narasi keterangan genogram


Ini…garis putus2 serumah mana?

Ket :

: Laki-laki

: Perempuan

: garis keturunan

: Garis Pernikahan

: Klien

: Meninggal
10. Tipe Keluarga
Keluarga Ibu. N termasuk tipe keluarga extendet family, hal ini di tunjukkan Commented [DM3]: Lihat lagi pengertian ini apa?

dengan anggota keluarga yang terdiri dari ibu dan anak.


11. Latar Belakang Budaya Commented [DM4]: Di format pengkajian ini ada?

Ibu. N berasal dari suku koto piliang. Ibu. N mengatakan tidak ada kebiasaan
suku/adat yang berlawanan dengan kesehatan.Namun jika ada anggota keluarga
yang sakit Ibu. N lebih suka menggunakan obat tradisional.
12. Agama
Semua anggota keluarga Ibu. N beragama Islam, Ibu. N melakukan sholat 5 waktu
kadang dimesjid, Ibu. N tidak aktif dalam mengikuti acara pengajian disekitar
rumahnya.
13. Status Sosial Ekonomi
Semenjak ditinggal suami, Ibu. N untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari dengan
pemberian dari anaknya, Ibu. N bekerja sebagai ibu rumah tangga, Terdapat sebuah
Tv dirumahnya. Ibu. N mengatakan tidak mempunyai tabungan.
14. Aktifitas rekreasi atau waktu luang keluarga
Di keluarga Ibu. N tidak pernah melakukan rekreasi, Ibu. N dan keluarga hanya
menonton Tv dan bercengkarama saat ada waktu berkumpul bersama anggota
keluarga lainnya dan ini biasanya dilakukan pada malam hari.

B. RIWAYAT DAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA


1. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Keluarga Ibu. N saat ini berada pada tahap perkembangan keluarga dengan usia
lanjut.
Tugas perkembangan keluarga dengan usia lanjut menurut Duval adalah:
 Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan
 Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik dan
pendapatan
 Mempertahankan keakraban suami istri dan saling merawat
 Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat
 Melakukan life review
2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi.
Tugas perkembangan keluarga Ibu N yang belum terpenuhi adalah:
Memperluas hubungan keluarga antara orang tua dengan menantu.
Menata kembali peran dan fungsi keluarga setelah ditinggalkan suami Ibu N
3. Riwayat kesehatan keluarga inti
Di keluarga Ibu N tidak ada penyakit keturunan dan menular. Ibu N pernah
didiagnosa sakit hipertensi ± 5th yang lalu. Untuk saat ini Ibu N jarang mengeluh
sakit kepala, Ibu N hanya mengeluh kalau tidur malam hari sering kebangun. Ibu N
mengatakan apabila tekanan darah naik Ibu N hanya berobat kepuskesmas. Ibu N
mengatakan anaknya tidak mempunyai penyakit yang serius.
4. Riwayat kesehatan sebelumnya
Ibu N mengatakan dalam keluarga dari pihak suami ada yang mempunyai riwayat
penyakit keturunan yaitu hipertensi, sedangkan dari pihak Ibu N tidak ada penyakit
keturunan.

C. LINGKUNGAN
1. Karakteristik rumah Commented [DM5]: Mulai dr pagar sampai belakang
rumah..jelaskan
Rumah keluarga Ibu N adalah milik pribadi sepeninggal suami Ibu N, tipe semi
permanen dengan ukuran 6x10 M persegi, mempunyai satu ruang tamu, 3 kamar
tidur satu kamar mandi yang dipakai secara bersama dan satu dapur. Ibu N
mengatakan jendela di ruang tamu dan kamar jarang dibuka, penenrangann di
kamar mandi cukup, namun sinar matahari tidak masuk ke rumah sehingga rumah
tanpak gelap pada siang hari, ventilasi ada, malam hari penenerangan
menggunakan listrik.
Sumber air keluarga Ibu N berasal dari pegunungan yang digunakan untuk air
minum, mandi dan mencuci. Keluarga Ibu N lebih memilih untuk membuang
sampah ke suangai
Hasil pembuangan limbah cuci pakaian maupun cuci piring adalah selokan,
keluarga Ibu N sudah mempunnyai jamban sendiri dan jarak septitank cukup jauh ±
10m dari sumber air bersih.
2. Denah Rumah

2
4
3

1 1 1

1: Kamar Tidur
2: Dapur
3: Kamar mandi
4: Ruang tamu

D. SOSIAL
1. Karakteristik tetangga dan komunitas
Ibu N mengatakan sebagian besar tetangga nya asli warga minang dan pendatang.
Mayoritas tetangga berasal dari suku caniago, mayoritas mata pencahariaan
tetangga adalah swasta.
2. Mobilitas geografis keluarga
Ibu N mengatakan sudah tinggal dirumahnya yang sekarang sejak bersama
suaminya. Ibu N mengatakan sejauh ini tidak ada niat untuk pindah ke tempat lain.
3. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Ibu N mengatakan tidak terlalu sering berkumpul dengan anak-anak nya
dikarenakan anak nya sudah bekerja dan mempunyai keluarga, hanya disaat libur
anggota keluarga nya dapat berkumpul pada malam hari sedangkan untuk
perkumpulan keluarga besar Ibu N mengatakan tidak ada perkumpulan keluarga
besar. Ibu N akif dalam kegiatan di masyarakat. Apabila ada kematian dan acara
perkawinan tetangga Ibu N berusaha datang.
4. Sistem pendukung sosial keluarga
Ibu N mengatakan bahwa keluarganya mempunnyai kartu sehat. Ibu N
mengatakan apabila anggota keluarganya sakit ia membawanya kebalai
pengobatan seperti puskesmas atau rumah sakit. Hubungan Ibu N dengan tetangga
baik-baik saja.

E. STRUKTUR KELUARGA
1. Pola komunikasi keluarga
Ibu N mengatakan keluarga biasa berkomunikasi menggunakan bahasa minang,
semenjak ditinggal suami jika ada masalah keluaraga maka Ibu N mengambil
keputusan.
2. Struktur kekuatan keluarga
Ibu N mengatakan jika mengambil keputusan selalu di musyawarah terlebih
dahulu dengan anak-anaknya.
3. Struktur peran ( formal dan informal) : Commented [DM6]: Lihat lagi formal dan informal itu

Ibu N adalah seorang Ibu, Ibu N telah seoptimal mungkin menjalankan perannya
yaitu sebagai pengurus rumah tangga dan sebagai ibu untuk anak-anaknya.
Tn. M sebagai anak terakhir yang tinggal bersama Ibu N berperan sebagai
pelindung dan menjaga Ibu N.
4. Nilai dan norma keluarga :
Nilai yang dianut oleh keluarga Ibu N adalah kehidupan ini kita harus terus
berusaha mencapai kesuksesan dan jangan pantang menyerah seta menjaga nilai
kesopanan yang diwarisi secara turun temurun dimanapun berada.
Beberapa norma yang diterapkan dalam keluarga Ibu N adalah harus menghormati
orang yang lebih tua, harus minta izin apabila akan pergi.

F. FUNGSI KELUARGA
1. Fungsi Afektif
Ibu N mengatakan keluarganya saling menyayangi satu sama lain, saling
menghargai antar anggota keuarga dan saling perhatian satu dengan yang lainnya.
2. Fungsi sosialisasi
Keluarga Ibu N berinteraksi baik dengan tetangganya, ini di buktikan saat
mahasiswa akan berkunjung ke rumahnya, semua tetangga mengetahui rumah Ibu
N.
3. Fungsi perawatan kesehatan
a. Penapisan masalah berdasarkan 5 tugas perawatan kesehatan
1) Mengenal masalah kesehatan
Ibu N mengatakan yang sering sakit di keluarganya adalah Ibu N sendiri, Ibu
N tidak terlalu memahami tentang peyakitnya, Ibu N dan keluarga hanya
mengetahui hipertensi itu penyakit karena sudah berumur dengan gejala sakit
seperti kepala pusing, begitupun keluarga tidak terlalu memahami apa itu
hipertensi.
2) Memutuskan untuk merawat
Ibu N mengatakan bila ada anggota keluarga yang sakit Ibu N dan anggota
keluarga lainnya akan berupaya mengobati dengan membeli obat warung
atau obat tradisional. Ibu N dan keluarga tidak terlalu sering ke puskesmas.
3) Mampu merawat
keluarga mengatakan tidak terlalu paham merawat Ibu N dengan hipertensi
keluarga hanya memberikan perhatian dan dukungan kepada keluarga, Ibu N
sendiri tidak mampu merawat diri sendiri terbukti saat Ibu N mengatakan
tidak mempunyai pantangan makanan untuk kesembuhan penyakitnya.
4) Modifikasi lingkungan
Lingkungan tanpak tenang dan rapi sehingga menjauhi cidera terhadap Ibu
N.
5) Memamfaatkan pelayanan kesehatan
Ibu N tidak memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada dengan alasan Ibu
N takut di diagnosa penyakit lainnya dan Ibu N jarang mengkonsumsi obat
yang diberikan tenaga kesehatan.

G. STRESS DAN KOPING KELUARGA


1. Stressor jangka panjang
Ibu N mengatakan yang menjadi pikiran Ibu N saat ini adalah Ibu N berharap anak
dan meanantunya hidup rukun dan damai, jika ada masalah dibicarakan baik-baik.
2. Stressor jangka pendek
Menurut Ibu N yang menjadi stressor jangka pendek adalah keluhan terhadap
kesehatan terutama Ibu N yang memiliki penyakit hipertensi.
3. Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi atau stressor
Ketika menghadapi masalah yang dilakukan keluarga Ibu N yaitu membicarakan
masalahnya dengan musyawarah dengan anggota keluarga.
4. Koping yang digunakan
Untuk stressor jangka panjang, koping yang dilakukan keluarga Ibu N adalah Ibu
N selalu mengajarkan anak nya untuk hidup jujur, adil dan damai pada istri anak
dan orang tua.
Untuk stressor jangka pendek, koping yang digunakan keluarga adalah Ibu N
hanya bisa berpasrah kepada tuhan YME.
5. Adaptasi disfungsional
Selama dilakukan pengkajian pada keluarga Ibu N, tidak dijumpai dan ditemukan
adaptasi disfungsional yang dilakukan oleh anggota keluarga.

H. HARAPAN KELUARGA TERHADAP PERAWAT


Keluarga berharap dengan adanya mahasiswa, dapat membantu menyelesaikan
masalah kesehatan yang dialami anggota keluarga serta berharap status kesehatan
keluarga dapat terus dipantau sehingga seluruh anggota keluarga selalu dalam
keadaan yang sehat.
Pemeriksaan fisik keluarga

No. Sistem Ny. N


1 TTV, TB, BB Td : 160/80 mmhg
N : 88x/i
P : 22x/i
S : 36oc
Bb : 55kg
Tb : 150cm
Kepala/rambut Bersih, penyebaran rambut merata, warna rambut putih,
2 tekstur rambut halus.
3 Mata Konjungtiva an anemis, sklera an ikterik, pupil isokor,
fungsi penglihatan baik
4 Telinga Simetris kiri dan kanan, serumen tidak tampak, tidak ada
peradangan, fungsi pendengaran baik
5 Hidung Secret tidak terlihat, tidak ada polip, fungsi penghidu baik
6 Mulut Warna bibir agak pucat, mukosa mulut lembab, warna
gusi merah, gigi tidak lengkap, lidah bersih
6 Leher Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid dan jvp
7 Dada/thorax I : Simetris kiri dan kanan, rr : 22x/i , gerakan dada
teratur, ictus cordis tidak tampak
P : Tidak ada pembengkakan, fremitus kiri dan kanan,
ictus cordis teraba
P : Sonor
A : Irama pernafasan vesikuler,
8 Abdomen I : Tidak terdapat jarinngan parut, tidak ada lesi, tidak
ada acites
P : Tidak ada nyeri tekan
A : Frekunsi bising usus 28x/i
P : Timpani
9 Ekstremitas I : Tidak ada oedema ekstremitas atas dan bawah, tidak
ada tremor, tidak ada kekakuan sendi pada saat
dilakukannya pergerakan
P : Tidak ada oedema
P : Refleks patela esktensi
10 Kulit I : Warna kulit kuning langsat, tidak ada sianosis dan
kemerahan, turgor kulit jelek
P : crt : < 3 detik
ANALISA DATA

No. DATA MASALAH


1. Subjektif : Nyeri Kronis pada Ibu N
- Ibu N mengatakan kepalanya sering sakit dibagian belang dengan Hipertensi Commented [DM8]: Gk ada redaksi di nanda seperti
ini…halaman berapa saya bisa lihat?
- Ibu N mengatakan jika tekanan darahnya naik ibu N (NANDA 2015-2017)
merasa tidak enak badan dan pusing
- Ibu N mengatakan nyeri sering terasa di pundak belakang
kepala.
- Ibu N mengatakan ketika nyeri kambuh, kepala terasa
berat
- Ibu N mengatakan kadang-kadang ia makan, makanan
yang mengandung lemak

Objektif : Commented [DM7]: Skala nya mana?


Cara ukur nya mana?
- TD : 160/80 mmhg
- Nadi: 88x/menit
- RR : 22 x/menit
- Ibu N terlihat meringis
- Ibu N terlihat lemah
2. Subjektif : Ketidak efektifan
- Ibu N mengatakan kurang istirahat Pemeliharaan Kesehatan pada
- Ibu N jarang memeriksakan kesehatanya ke Pelayanan Ibu. N dengan Hipertensi Commented [DM9]: Sama saja
Kesehatan
- Ibu N mengatakan tidak membedakan makanan yang
disajikan dirumah
- Ibu N mengatakan jarang minum obat herbal
- Ibu N mengatakan tidak begitu tahu pengobatan
tradisional dan herbal.

Objektif :
- Ibu N tampak tidak bersemangat
- Ibu N tampak letih
3. Data Subyektif: Resiko cidera pada Ibu N Commented [DM10]: Coba pastikan risiko cidera kah atau
jatuh?
- Ibu N mengatakan tidak kuat berdiri apabila terasa pusing dengan hipertensi (NANDA Lihat pengertian masing2 diagnosa ini
sekali dan nyeri pada kepala. 2015-2017)
- Ibu N mengatakan badannya sering terasa lemah dan
letih.
- Ibu N mengatakan sering terasa kaku kuduk dan pusing
apabila kurang istirahat.

Data Obyektif :
- Apabila tekanan darah Ibu N naik ibu N tampak istirahat
- Ibu N tampak hati-hati dalam bekerja apabila tekanan
darahnya naik