Anda di halaman 1dari 19

1.

Pendahuluan

Umumnya material angkutan sedimen berasal dari Daerah Aliran Sungai (DAS) dan dari palung sungai itu
sendiri.

Berdasarkan mekanisme pergerakannya angkutan sedimen dibedakan atas:

Angkutan sedimen melayang/sedimen suspensi, merupakan partikel sedimen yang bergerak melayang
didalam air dan terbawa oleh aliran sungai

Angkutan sedimen dasar/Bed load, merupakan pertikel sedimen yang bergerak tidak jauh dari dasar
sungai dan bergerak secara bergeser, merayap, menggelinding atau meloncat.

Pengukuran sedimen suspensi bertujuan agar supaya dapat menentukan konsentrasi sedimen dan
kuantitas angkutan sedimen persatuan waktu pada suatu lokasi dan waktu tertentu, dan dapat
menentukan besarnya endapan dalam hubungannya dengan angkutan sedimen tersebut. Pengukuran
sedimen suspensi dilakukan dengan cara mengambil sampel/contoh air dan membawa ke laboratoriun
untuk dapat diketahui konsentrasi sedimen dalam satuan mg/liter atau ppm (part per million), selain itu
dalam analisa laboratorium dapat diketahui Berat Jenis (BD) dan besaran ukuran butir. Untuk dapat
mengetahui kandungan sedimen (dalam satuan ton/hari) maka selain data hasil pemeriksaan
laboratorium pada saat yang bersamaan perlu dilakukan pengukuran debit/aliran sungai.

2. Pemilihan Lokasi Pengambilan Sample

Lokasi pengambilan sedimen sebaiknya sama dengan lokasi pengukuran debit pada pos duga air atau
mengikuti persyaratan sbb:

a) Pada lokasi disekitar pos duga air dimana tidak ada perubahan profil melintang yang menyolok,
penambahan atau pengurangan debit aliran sungai.

b) Profil sungai tidak menunjukan indikasi dalam waktu dekat akan pindah atau berubah

c) Distribusi garis aliran merata dan tidak ada aliran yang berputar, sebaiknya aliran tidak terbagi-bagi
karena ada batu-batu besar.

d) Aliran tidak terganggu akibat sampah atau tanaman air,


e) Tidak terletak pada lokasi dimana terjadi peninggian muka air akibat pengaruh arus pasang surut air
laut.

f) Tidak terletak pada atau dekat dengan lokasi pertemuan sungai atau disekitar lokasi bangunan
pengairan

g) Tidak terletak pada lokasi yang terpengaruh oleh adanya aliran lahar/air terjun.

h) Sebaiknya profil melintang sungai dapat menampung debit aliran sungai pada saat banjir (tidak
meluap keatas bantaran sungai).

3. Cara Pengambilan Sample Sedimen Suspensi

Jumlah sampel sedimen suspensi yang harus dikumpulkan pada waktu tertentu harus direncanakan
dengan baik terutama persiapan yang perlu dilakukan mengingat kondisi lapangan dan keselamatan
kerja.

Sebaiknya pengambilan sampel sedimen suspensi dilakukan pada saat banjir atau pada saat debit tinggi.

Gambar 1 – Pengambilan sampel sedimen suspended

Gambar 2 – Sedimen sampler

3.1 Point Integrated

Cara ini dimaksudkan untuk mendapatkan konsentrasi sedimen pada suatu titik dari suatu vertikal/raai.
Umumnya cara ini dilakukan pada sungai yang lebar dan dengan penyebaran konsentrasi sedimen yang
bervariasi.
Pelaksanaan kegiatan dilapangan

a) Rencanakan pada penampang melintang sungai berapa jumlah vertikal/raai pengukuran yang akan
dilakukan.

b) Sebaiknya jarak antara raai adalah sama, agar supaya konsentrasi sedimen dan kecepatan aliran
pada masing-masing raai yang berdekatan mempunyai perbedaan yang kecil.

c) Dalam satu raai, pengambilan sampel sedimen dilakukan pada beberapa titik kedalaman dengan
mengunakan alat integrated sampler.

d) Perlu pengukuran kecepatan aliran disetiap titik pengambilan sampel sedimen untuk mengetahui
waktu yang diperlukan untuk mengambil sampel sedimen.

3.2 Depth Intergreted

Pengambilan sampel sedimen dengan cara ini adalah untuk mengetahui kadar sedimen rata-rata untuk
satu vertikal/rai. Pelaksanaan pengambilan dengan cara ini adalah menggerakkan (menurunkan atau
menaikan) alat pengambil sedimen dari atas permukaan air sampai mancapai dasar sungai dan
menaikkan kembali hingga mencapai permukaan air kembali harus dengan kecepatan gerak alat yang
sama. Waktu yang diperlukan untuk menurunkan dan menaikkan alat pengambil sampel ditentukan
berdasarkan kecepatan aliran rata-rata pada lokasi pengambilan sampel sedimen dan “Nosel” yang
dipasang pada alat tersebut.

Gambar 3 – Hubungan antara lamanya waktu pengisian botol sampel dengan kecepatan alairan rata-
rata serta ukuran diameter

Dengan cara ini maka pada setiap vertikal/raai, sampel suspensi ditampung dalam satu (1) botol.

3.2.1 Metode Pengambilan Sampel

A) Equal Discharge Increment (EDI)


Dalam metode ini penampang sungai dibagi atas beberapa bagian (sub-penampang) dimana setiap
bagian ini harus mempunyai debit aliran yang sama.

Pengambilan sampel sedimen perlu dilaksanakan pada bagian tengah dari setiap sub-penampang
tersebut seperti terlihat dalam gambar 4 dibawah ini.

Gambar 4 – Pengambilan sampel sedimen dengan cara EDI

Misalnya pada setiap sub-penampang direncanakan menampung 25 % dari total debit (atau akan
dilakukan pengambilan sampel sedimen pada empat vertikal), maka pengambilan sedimen harus
dilaksanakan pada vertikal yang mempunyai besar aliran kumulatif sebesar 12 %, 38%, 62%, dan 88%

Bilamana akan dilakukan pengambilan tiga (3) sampel maka pengambilan sampel sedimen dilakukan
pada vertikal yang mempunyai besar aliran kumulatif sebesar 1/6, 3/6 dan 5/6 dari debit total pada
penampang tersebut.

Dalam gambar ini terlihat bahwa:

W1 ¹ W2 ¹ W3 …… ¹ Wn

Q1 = Q2 = Q3 ………= Qn

V1 » V2 » V3 ……..» Vn

Keterangan:

W : jarak antara vertikal

Q : debit per segmen


V : volume sampel sedimen ( misalnya berkisar antara 350-400 ml)

B) Equal Width Increment (EWI)

Dalam metode ini penampang sungai dibagi atas beberapa bagian dimana setiap bagian mempunyai
jarak yang sama satu sama lainnya seperti terlihat dalam gambar 11.5 dibawah ini.

Jumlah vertikal ditetapkan berdasarkan kondisi aliran dan sedimen serta tingkat ketelitian yang
diinginkan.

Lokasi pengambilan sampel sedimen ditentukan dengan cara rata-rata tengah.

Misalnya: Lebar sungai adalah 53 m, Jumlah vertikal ditetapkan 10 buah

Maka jarak vertikal diambil setiap 5 m

Dengan demikian maka lokasi pengukuran adalah pada raai yang terletak pada meteran: 2.5, 7.5, 12.5,
17.5, 22.5, 27.5, 32.5, 37.5, 42.5, 47.5

Dalam gambar ini terlihat bahwa:

W1 = W2 = W3 …… = Wn

Q1 ¹ Q2 ¹ Q3 ………¹ Qn

V1 » V2 » V3 ……..» Vn
Keterangan:

W : jarak antara vertikal

Q : debit per segmen

V : volume sampel sedimen ( misalnya berkisar antara 350-400 ml)

3.2.2 Pelaksanaan kegiatan dilapangan

a) Rencanakan pada penampang melintang sungai berapa jumlah vertikal/raai pengukuran yang akan
dilakukan.

b) Tetapkan metode mana yang akan dilakukan (EDI atau EWI)

c) Bilamana akan dilakukan dengan cara EDI maka, terlebih dahulu perlu di hitung debit kumulatif dari
masing-masing raai.

d) Sedangkan bilamana digunakan metode EWI, debit kumulatif tidak perlu dilakukan dilapangan pada
saat pelaksanaan pengambilan sampel sedimen.

e) Data kecepatan aliran rata-rata pada lokasi/raai pengambilan sample sedimen perlu diketahui.

f) Rencanakan “noise” sedimen agar dapat menentukan berapa lama alat pengambil sedimen
(sediment sampler) perlu diturunkan atau dinaikan.

g) Berdasarkan grafik pada gambar 11.3 maka dapat diketahui waktu yang diperlukan.

h) Cara pelaksanaan pengambilan sampel sedimen adalah sbb:

Turunkan alat sampai mencapai dasar sungai.


Pasang stopwatch dan alat dinaikkan.

Kecepatan menaikkan alat harus sama dari dasar sampai mencapai permukaan air.

Tepat pada waktu yang ditetapkan, alat harus sudah berada tepat diatas permukaan air.

Bilamana hal ini tidak tercapai, maka pengambilan sampel sedimen harus diulangi

4. Perhitungan Kandungan Sedimen

Pengambilan sampel sedimen sebaiknya dilakukan secara bersamaan dengan kegiatan pengukuran debit
dan setiap sampel sedimen harus dikirim ke laboratorium untuk di analisa.

Data lapangan yang diperoleh adalah data debit sebagai hasil pengukuran langsung dan data konsentrasi
sedimen diperoleh dari berdasarkan hasil analisa sedimen dilaboratorium.

Nilai kandungan sedimen diperoleh berdasarkan hasil perkalian konsentrasi sedimen dengan debit, dan
dapat dirumuskan sbb:

Qs = k Cs Qw

Keterangan:

Qs : Debit sedimen (ton/hari)

Cs : Konsentrasi sedimen (mg/l)

Qw : Debit (m3/dt)

k : faktor konversi yaitu 0.0864

Konsentrasi sedimen suspensi (Cs) umumnya ditulis dalam mg/l atau dalam satuan part per million
(ppm).
Untuk mendapatkan nilai konsentrasi dalam mg/l maka nilai konsentrasi dalam satuan ppm sebagai hasil
analisa dari laboratorium harus dikoreksi dengan nilai c

Tabel Faktor konversi c (mengkonversi satuan ppm menjadi mg/l)

Konsentrasi (ppm) c Konsentrasi (ppm) c

0 – 15900 1.00 322000 – 341000 1.26

16000 – 46800 1.02 342000 – 361000 1.28

46900 – 76500 1.04 362000 – 380000 1.30

76600 – 1050001.06 381000 – 399000 1.32

106000 – 133000 1.08 400000 – 416000 1.34

134000 – 159000 1.10 417000 – 434000 1.36

160000 – 185000 1.12 435000 – 451000 1.38

186000 – 210000 1.14 452000 – 467000 1.40

211000 – 233000 1.16 468000 – 483000 1.42

234000 – 256000 1.18 484000 – 498000 1.44

257000 – 279000 1.20 499000 – 514000 1.46

280000 – 300000 1.22 515000 – 528000 1.48

301000 – 321000 1.24 529000 – 542000 1.50

4.1 Perhitungan kandungan sedimen yang diambil dengan cara point integrated

Pada setiap raai/vertikal dibuat grafik kecepatan aliran, konsentrasi sedimen dan perhitungan unit
kandungan sedimen seperti digambarkan pada gambar berikut.

Gambar Diagram kecepatan dan kandungan sedimen dalam satu vertikal

Besarnya kandungan sedimen (Us) dari masing-masing raai/vertikal dihitung dengan rumus:
Us = k x V x Cs (mg/dt/ m2)

Keterangan:

V : Kecepatan aliran (m/dt)

Cs : Konsentrasi sedimen (mg/l)

k :1

Besarnya kandungan sedimen (As) dihitung dengan rumus:

As = Rs x d x b x 0.000864 (ton/hari)

Keterangan:

Rs : nilai kandungan sedimen rata-rata (mg/dt/m2)

d : kedalaman aliran (m)

b : lebar atau jarak antar raai (m)

Kandungan sedimen total dari suatu penampang adalah penjumlahan dari nilai As tersebut diatas.

4.2 Perhitungan kandungan sedimen yang diambil dengan cara depth integrated

Prinsip perhitungan sama diatas.

5. Pembuatan Garis Lengkung Sedimen


Berdasarkan data lapangan hasil pengukuran sedimen yaitu data debit dan kandungan sedimen suspensi
total maka dibuat garis hubungan antara debit dan kandungan sedimen total.

Pembuatan garis hubungan antara debit dan kandungan sedimen dapat dilakukan dengan cara yang
sama seperti membuat garis lengung debit/aliran.

Contoh hasil pembuatan garis lengkung sedimen dapat dilihat dalam gambar
PENGUKURAN SEDIMENTASI

Laporan ke-11 Hari/tanggal : Selasa, 29 November 2011


Mata Kuliah : Hidrologi Hutan Kelompok : 3

PENGUKURAN SEDIMENTASI

Oleh:
Jajang Roni Aunul Kholik (E14090090)

Dosen:
Ir. Nana Mulyana Arifjaya, M.Sc.
Asisten:
Soni S. Budiawan (E14070040)
Andrie Ridzki P (E14070097)

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN


FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bagian hulu daerah aliran sungai (DAS) merupakan daerah tangkapan air (catchment
area) yang berperan menyimpan air untuk kelangsungan hidup makhluk hidup di dunia. Apabila
lahan tempat air tersimpan tersebut sudah terganggu atau mengalami degradasi, maka simpanan
air akan berkurang dan mempengaruhi debit sungai di sekitar lahan tersebut berada serta pengaruh
selanjutnya akan mengganggu keseimbangan dalam keberlangsungan hidup makhluk hidup yang
tinggal di kawasan DAS tersebut. Biasanya akibat yang sering timbul dari hal tersebut adalah
terjadinya banjir di bagian hilir DAS. Sekarang ini, sebagian hulu DAS yang ada sudah mulai
mengalami degradasi. Hal ini ditandai dengan menurunnya kandungan bahan organik pada
beberapa penggunaan lahan baik pada lahan peruntukan hutan alam dan hutan tanaman, kelapa
sawit, kebun campuran, maupun semak-semak. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu dilakukan
suatu kajian tentang pengukuran muatan sedimen, debit sungai, dan arahan tentang cara
penanggulangan hal tersebut.
Peningkatan muatan sedimen di permukaan sungai mempengaruhi debit suatu sungai.
Penumpukan sedimen di dasar sungai menyebabkan debit sungai akan menurun. Penumpukan
sedimen yang semakin tinggi berpotensi mengurangi kapasitas tampung sungai terhadap air hujan
yang berintensitas besar terutama saat musim hujan. Hal ini dapat memicu terjadinya banjir pada
waktu musim hujan di bagian hilir DAS. Keadaan ini sudah terjadi di beberapa kawasan hilir DAS
ketika musim hujan meskipun dengan intensitas hujan tidak terlalu besar, namun sering
menyebabkan banjir di beberapa wilayah kota besar di dunia.
Pada kegiatan praktikum ini, praktikan menghitung besarnya sedimentasi yang ada pada
suatu sungai dengan debit yang sudah diketahui dan menjelaskan beberapa dampak serta cara
penanggulangan masalah sedimentasi tersebut. Setelah mengikuti praktikum ini diharapkan
praktikan dapat memahami cara menentukan pengukuran sedimentasi dan langkah untuk
mengurangi dampak sedimentasi tersebut.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui cara pengukuran sedimentasi.
2. Mengetahui proses pembentukan sedimentasi, faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan dampak
yang ditimbulkan dari sedimentasi.
3. Mengetahui cara mengurangi masalah sedimentasi pada suatu lokasi sungai.
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1 Hasil
Debit air (Q) = 5.81 m3/detik
Konsentrasi Sedimen (CS)
(CS) = 3977.17 mg/L= 3977.17 mg/dm3 = 3.97717 mg/m3

Besarnya beban endapan (QS)


(QS) = 0.0864 x CS x Q = 0.0864 x 3.97717 mg/m3 x 5.81 m3/detik
= 1.9965 mg/detik = 1.9965 mg/s
= 1.9965 mg/s x 1 ton/109 mg x 86400 s /1 hari
= 1.725 x 10-4 ton/hari

2.2 Pembahasan
2.2.1 Pengertian Sedimentasi
Pada kehidupan sehari-hari banyak sekali ditemui istilah sedimen dan sedimentasi. Dalam
kaitannya dengan sedimen dan sedimentasi ini, Menurut Rahayu dkk (2009) terdapat beberapa ahli
yang mendefinisikan sedimen dalam beberapa pengertian, salah satunya adalah Pipkin (1977)
menyatakan bahwa sedimen adalah pecahan, mineral, atau material organik yang
ditransformasikan dari berbagai sumber dan diendapkan oleh media udara, angin, es, atau air dan
juga termasuk di dalamnya material yang diendapkan dari material yang melayang dalam air atau
dalam bentuk larutan kimia. Petti John (1975) mendefinisikan sedimentasi sebagai proses
pembentukan sedimen atau batuan sedimen yang diakibatkan oleh pengendapan material
pembentuk atau asalnya pada suatu tempat yang disebut dengan lingkungan pengendapan berupa
sungai, muara, danau, delta, estuaria, laut dangkal sampai laut dalam. Sedangkan Gross (1990)
mendefinisikan sedimen laut sebagai akumulasi dari mineral-mineral dan pecahan-pecahan batuan
yang bercampur dengan hancuran cangkang dan tulang dari organisme laut serta beberapa partikel
lain yang terbentuk lewat proses kimia yang terjadi di laut. Walaupun pengertiannya agak berbeda
satu dengan lainnya, dapat ditarik satu hal penting bahwa dari pengertian yang telah dijabarkan,
sama-sama memerlukan proses dan proses itu adalah proses pengendapan untuk membentuk
sedimen/ endapan itu sendiri.
Selain pengertian sedimen di atas, terdapat pengertian lain tentang sedimen yaitu batuan
sedimen adalah batuan yang terbentuk oleh proses sedimentasi. Sedangkan sedimentasi adalah
proses pengendapan sedimen oleh media air, angin, atau es pada suatu cekungan pengendapan
pada kondisi P dan T tertentu. Dalam batuan sedimen dikenal dengan istilah tekstur dan struktur.
Tekstur adalah suatu kenampakan yang berhubungan erat dengan ukuran, bentuk butir, dan
susunan komponen mineral-mineral penyusunnya. Studi tekstur paling bagus dilakukan pada
contoh batuan yang kecil atau asahan tipis. Sedangkan struktur merupakan suatu kenampakan yang
diakibatkan oleh proses pengendapan dan keadaan energi pembentuknya. Pembentukannya dapat
terjadi pada waktu yang relative singkat atau sesaat setelah pengendapan. Struktur berhubungan
dengan kenampakan batuan yang lebih besar, paling bagus diamati di lapangan misal pada
perlapisan batuan (Sugeng Widada, 2002)

2.2.2 Jenis-jenis Sedimentasi


Adapun jenis-jenis sedimentasi menurut Suryati (2010) adalah:
1. Jenis Sedimen Laut
a. Sedimen Terigen Pelagis
Hampir semua sedimen Terigen di lingkungan pelagis terdiri atas materi-materi yang berukuran sangat
kecil. Ada dua cara materi tersebut sampai ke lingkungan pelagis. Pertama dengan bantuan arus turbiditas
dan aliran grafitasi. Kedua melalui gerakan es yaitu materi glasial yang dibawa oleh bongkahan es ke laut
lepas dan mencair.
b. Sedimen Biogenik Pelagis
Dengan menggunakan mikroskop terlihat bahwa sedimen biogenik terdiri atas berbagai struktur halus dan
kompleks. Kebanyakan sedimen itu berupa sisa-sisa fitoplankton dan zooplankton laut.
2. Jenis-jenis Sedimentasi
a. Lithougenus Sedimen
Sedimen yang berasal dari erosi pantai dan material hasil erosi daerah up land. Material ini dapat sampai
ke dasar laut melalui proses mekanik, yaitu ter-transport oleh arus sungai dan/atau arus laut yang akan
terendapkan jika energi ter-transport-kan telah melemah.
b. Biogeneuos Sedimen
Sedimen yang bersumber dari sisa-sisa organisme yang hidup seperti cangkang dan rangka biota laut
serta bahan-bahan organik yang mengalami dekomposisi.
c. Hidreogenous Sedimen
Sedimen yang terbentuk karena adanya reaksi kimia di dalam air laut dan membentuk partikel yang tidak
larut dalam air laut sehingga akan tenggelam ke dasar laut, sebagai contoh dari sedimen jenis ini adalah
magnetit, phosphorit, dan glaukonit.
d. Cosmogerous Sedimen
Sedimen yang berasal dari berbagai sumber dan masuk ke laut melalui jalur media udara atau angin.
Sedimen jenis ini dapat bersumber dari luar angkasa, aktifitas gunung berapi, atau berbagai partikel darat
yang terbawa angin.
Sedangkan tempat terjadinya sedimentasi (Suryati, 2010) adalah:
1. Sedimentasi sungai
Pengendapan yang terjadi di sungai disebut sedimen fluvial. Hasil pengendapan ini biasanya berupa batu
giling, batu geser, pasir, kerikil, dan lumpur yang menutupi dasar sungai. Bahkan endapan sungai ini sangat
baik dimanfaatkan untuk bahan bangunan atau pengaspalan jalan. Oleh karena itu tidak sedikit orang yang
bermata pencaharian mencari pasir, kerikil, atau batu hasil endapan itu untuk dijual.
2. Sedimentasi Danau
Di danau juga bisa terjadi endapan batuan. Hasil endapan ini biasanya dalam bentuk delta, lapisan batu
kerikil, pasir, dan lumpur. Proses pengendapan di danau ini disebut sedimen limnis.
3. Sedimentasi Darat
Guguk pasir di pantai berasal dari pasir yang terangkat ke udara pada waktu ombak memecah di pantai
landai, lalu ditiup angin laut ke arah darat, sehingga membentuk timbunan pasir yang tinggi. Contohnya,
guguk pasir sepanjang pantai barat Belanda yang menjadi tanggul laut negara. Di Indonesia guguk pasir
yang menyerupai di Belanda bisa ditemukan di pantai Parang Tritis Yogyakarta.
4. Sedimentasi Laut
Sungai yang mengalir dengan membawa berbagai jenis batuan akhirnya bermuara di laut, sehingga di laut
terjadi proses pengendapan batuan yang paling besar.
Sedimen merupakan material hasil erosi yang dibawa oleh aliran air sungai dari daerah hulu dan
kemudian mengendap di daerah hilir. Proses erosi di hulu meninggalkan dampak hilangnya kesuburan
tanah sedangkan pengendapan sedimen di hilir sering kali menimbulkan persoalan seperti pendangkalan
sungai dan waduk di daerah hilir. Oleh karena itu, besarnya aliran sedimen atau hasil sedimen digunakan
sebagai indikator kondisi DAS. Sedimen di sungai dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu sedimen
melayang ('suspended load') dan sedimen merayap ('bed load'). Pengukuran sedimen melayang dapat
dilakukan dengan mengambil contoh air sungai melalui metode pengambilan langsung di permukaan ('grab
samples'; untuk sungai yang homogen) atau metode integrasi kedalaman ('depth integrated'; untuk sungai
dalam dan tidak homogen). Sedangkan sedimen merayap diambil dengan metode perangkap. Sedimen
melayang akan dialirkan lebih jauh dibandingkan dengan sedimen merayap. Disamping itu sedimen
melayang biasanya juga mengadung partikel-partikel lain seperti zat hara atau bahan lain yang dapat
mencemari air. Oleh karena itu penetapan hasil sedimen melayang lebih sering dilakukan dibandingkan
sedimen merayap (Rahayu dkk, 2009).
Untuk mengetahui berapa jumlah sedimen melayang di sungai dapat dilakukan dengan cara
mengambil contoh air sungai dengan volume tertentu kemudian diendapkan dan dikeringkan dalam oven
pada suhu 105°C selama 2 x 24 jam sampai keadaan kering oven dan kandungan air di dalamnya tetap
dengan
menimbang berat kering sedimennya. Dari berat kering tersebut bisa diukur konsentrasi sedimen dalam
contoh air. Selanjutnya, dengan data debit dapat diketahui hasil sedimen. Keberadaan sedimen di dalam
air dapat diketahui dari kekeruhannya. Semakin keruh air berarti semakin tinggi konsentrasi sedimennya.
Oleh karena itu, konsentrasi sedimen dapat didekati dari hasil pengukuran tingkat kekeruhan air (Rahayu
dkk, 2009).

2.2.3 Pembentukan Sedimentasi dan Faktor yang mempengaruhinya


Dalam suatu proses sedimentasi, zat-zat yang masuk ke laut berakhir menjadi sedimen. Dalam hal
ini zat yang ada terlibat proses biologi dan kimia yang terjadi sepanjang kedalaman laut. Sebelum mencapai
dasar laut dan menjadi sedimen, zat tersebut melayang-layang di dalam laut. Setelah mencapai dasar laut
pun, sedimen tidak diam tetapi sedimen akan terganggu ketika hewan laut mencari makan. Sebagian
sedimen mengalami erosi dan tersuspensi kembali oleh arus bawah sebelum kemudian jatuh kembali dan
tertimbun. Terjadi reaksi kimia antara butir-butir mineral dan air laut sepanjang perjalannya ke dasar laut
dan reaksi tetap berlangsung penimbunan, yaitu ketika air laut terperangkap di antara butiran mineral (Umi
M dan Agus S, 2002).
Menurut Umi M dan Agus S (2002) bagian sungai yang paling efektif untuk proses pengendapan
(sedimentasi) ini adalah bagian hilir atau pada bagian slip of slope pada kelokan sungai, karena biasanya
pada kelokan sungai terjadi pengurangan energi yang cukup besar. Ukuran material yang diendapkan
berbanding lurus dengan besarnya energi pengangkut, sehingga semakin ke hilir, energi semakin kecil,
material yang diendapkan pun semakin halus. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi proses
sedimentasi adalah:
a. Kecepatan Aliran Sungai
Kecepatan aliran maksimal pada tengah alur sungai, bila sungai membelok maka kecepatan maksimal ada
pada daerah cut of slope (terjadi erosi). Pengendapan terjadi bila kecepatan sungai menurun atau bahkan
hilang.
b. Gradien / kemiringan lereng sungai
Bila air mengalir dari sungai yang kemiringan lerengnya curam kedataran yang lebih rendah maka
keceapatan air berkurang dan tiba-tiba hilang sehingga menyebabkan pengendapan pada dasar sungai.
c. Bentuk alur sungai
Aliran air akan mengerus bagian tepi dan dasar sungai. Semakin besar gesekan yang terjadi maka air akan
mengalir lebih lambat. Sungai yang dalam, sempit, dan permukaan dasar tidak kasar, aliran airnya deras.
Sungai yang lebar, dangkal, dan permukaan dasarnya tidak kasar, atau sempit dalam tetapi permukaan
dasarnya kasar, aliran airnya lambat.
Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya sedimentasi di muara sungai antara lain: aktivitas
gelombang dan pola arus. Aliran sepanjang aliran sungai sebagai dampaknya jumlah sungai ini membawa
material sedimen dan limbah yang berasal dari hulu dan sepanjang daerah aliran sungai yang akan
diendapkan di muara sungai. Menurut Djojodihardjo (1982) proses pengendapan di muara sungai
dipengaruhi oleh pasang arus dan gelombang. Energi gelombang selain berfungsi sebagai
komponen pembangkit arus sejajar pantai (longshore current), juga
menimbulkan abrasi. Proses sedimentasi dan erosi merupakan dua proses yang terjadi silih
berganti dalam jarak yang relatif dekat untuk mencapai keseimbangan dan merupakan bagian dari
dinamika alur sungai. Selain itu, Topografi daerah aliran sungai, iklim, jenis dan tekstur tanah, morfometrik
sungai, sistem hidrologi serta energi pasang surut di muara sungai juga sangat mempengaruhi
sedimentasi.

2.2.4 Pembahasan hasil pengolahan data


Berdasarkan hasil perhitungan sebagaimana yang terlampir pada bagian hasil, pada sungai
tempat lokasi praktikum dalam hal ini sungai Ciapus menghasilkan debit air (Q) sebesar 5.81
m3/detik berdasarkan rata-rata kecepatan pada total luas penampang sungai yang ada yaitu sebesar
11.045 m2. Debit air (Q) tersebut dapat digunakan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi
besarnya beban endapan (QS) selain faktor dari konsentrasi sedimen (CS). Besarnya konsentrasi
sedimen (CS) yang digunakan pada praktikum ini tidak secara langsung mengambil data dari
sungai Ciapus, tetapi data yang digunakan adalah berdasarkan data literatur yang diberikan asisten
praktikum yaitu sebesar 3977.17 mg/L atau setelah dikonversi menjadi 3.97717
mg/m3. Berdasarkan dua data yang telah di dapat yaitu besarnya debit air (Q) dan konsentrasi
sedimen (CS), maka dapat dilakukan pengukuran besarnya beban endapan (QS) dengan
menggunakan rumus yang ada. Hasil yang didapat berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan,
menghasilkan besarnya beban endapan (QS) yang ada adalah sebesar 1.9965 mg/detik atau setelah
dikonversi menghasilkan data sebesar 1.725 x 10-4ton/hari. Dengan melihat hasil yang didapat,
hanya sebesar 172.5 gram per hari beban sedimen yang ditampung dari sungai tersebut. Dengan
demikian berdasarkan hasil analisis data tersebut, besarnya beban sedimen yang ditampung oleh
sungai masih relatif kecil atau relatif sedikit apabila dilihat dari total luas penampang sungai yang
ada yaitu sebesar 11.045 m2.

2.2.5 Dampak Sedimentasi


Kegiatan pembukaan lahan di bagian hulu dan DTA untuk pertanian, pertambangan dan
pengembangan permukiman merupakan sumber sedimen dan pencemaran perairan danau.
Masuknya padatan tersuspensi ke dalam perairan danau dapat meningkatkan kekeruhan air. Hal
ini menyebabkan menurunnya laju fotosintesis fitoplankton, sehingga produktivitas primer
perairan menjadi turun, yang pada gilirannya menyebabkan terganggunya keseluruhan rantai
makan (Reinnamah, 2009).
Sedimen yang dihasilkan oleh proses erosi akan terbawa oleh aliran dan diendapkan pada
suatu tempat yang kecepatannya melambat atau terhenti. Proses ini dikenal dengan sedimentasi
atau pengendapan. Asdak (2002) dalam Reinnamah (2009) menyatakan bahwa sedimen hasil erosi
terjadi sebagai akibat proses pengolahan tanah yang tidak memenuhi kaidah-kaidah konservasi
pada daerah tangkapan air di bagian hulu. Kandungan sedimen pada hampir semua sungai
meningkat terus karena erosi dari tanah pertanian, kehutanan, konstruksi dan pertambangan. Hasil
sedimen (sediment yield) adalah besarnya sedimen yang berasal dari erosi yang terjadi di daerah
tangkapan air yang dapat diukur pada periode waktu dan tempat tertentu. Hal ini biasanya
diperoleh dari pengukuran padatan tersuspensi di dalam perairan danau.
Berdasarkan pada jenis dan ukuran partikel-partikel tanah serta komposisi bahan, sedimen
dapat dibagi atas beberapa klasifikasi
yaitu gravels (kerikil), medium sand (pasir), silt (lumpur), clay (liat) dan dissolved
material (bahan terlarut). Ukuran partikel memiliki hubungan dengan kandungan bahan organik
sedimen. Sedimen dengan ukuran partikel halus memiliki kandungan bahan organik yang lebih
tinggi dibandingkan dengan sedimen dengan ukuran partikel yang lebih kasar. Hal ini
berhubungan dengan kondisi lingkungan yang tenang, sehingga memungkinkan pengendapan
sedimen lumpur yang diikuti oleh akumulasi bahan organik ke dasar perairan. Pada sedimen kasar,
kandungan bahan organik biasanya rendah karena partikel yang halus tidak mengendap. Selain
itu,tingginya kadar bahan organik pada sedimen dengan ukuran butir lebih halus disebabkan oleh
adanya gaya kohesi (tarik menarik) antara partikel sedimen dengan partikel mineral, pengikatan
oleh partikel organik dan pengikatan oleh sekresi lendir
organisme (Wood, 1997dalam Reinnamah, 2009).
Partikel sedimen mempunyai ukuran yang bervariasi, mulai dari yang kasar sampai halus.
Menurut Buchanan (1984) dalamReinnamah (2009) berdasarkan skala Sedimen terdiri dari
beberapa komponen bahkan tidak sedikit sediment yang merupakanpencampuran dari komponen-
komponen tersebut. Adapun komponen itu bervariasi, tergantung dari lokasi, kedalaman dan
geologi dasar (Forstner dan Wittman, 1983). Pada saat buangan limbah industri masuk ke dalam
suatu perairan maka akan terjadi proses pengendapan dalam sedimen. Hal ini menyebabkan
konsentrasi bahan pencemar dalam sedimen meningkat.
Beberapa material yang terkonsentrasi di udara dan permukaan air mengalami oksidasi,
radiasi ultraviolet, evaporasi dan polymerisasi. Jika tidak mengalami proses pelarutan, material ini
akan saling berikatan dan bertambah berat sehingga tenggelam dan menyatu dalam sedimen.
Logam berat yang diadsorpsi oleh partikel tersuspensi akan menuju dasar perairan,
menyebabkan kandungan logam di air menjadi lebih rendah. Hal ini tidak menguntungkan
bagi organisme yang hidup di dasar sepertioys ter dan kepiting sebagaifilter feeder, partikel
sedimen ini akan masuk ke dalam sistem pencernaannya
(Williams, 1979 dalam Reinnamah, 2009). Logam berat yang masuk ke sistem perairan, baik di
sungai maupun lautan akan dipindahkan dari badan airnya melalui tiga proses yaitu
pengendapan,adsorbsi, dan absorbsi oleh organisme-organisme perairan.
Selain dari dampak yang telas dijelaskan di atas, sedimentasi yang terjadi di suatu perairan
dapat berpengaruh antara lain pada pendangkalan dan perubahan bentang alam dasar laut,
kesuburan perairan, dan keanekaragaman hayati di salah satu teluk di Indonesia. Sebagai
contohnya laporan pengukuran Batimetri di Teluk Buyat tahun 1997 tercatat kedalaman sungai ±
80 meter dan pada pengukuran Batimetri tahun 1999 telah terjadi perubahan kedalaman menjadi
±70 meter. Hal ini menunjukan telah terjadi pendangkalan setebal 10 meter. Hasil pengukuran ini
telah mengakibatkan perubahan kontur laut (batimetri) dari tahun 1997 ke tahun 1999. Kondisi ini
dipertegas lagi dengan hasil pengukuran pada tahun 2000. Dengan demikian telah terjadi
sedimentasi pada area yang cukup luas di perairan atau sungai (Suryatmadjo, 2007)
Soekarno dan Rohmat (2006) menyatakan bahwa dampak dari adanya sedimentasi di
Teluk Buyat di mana terjadinya penyebaran lumpur pekat dengan ketebalan antara 5 dan 10 meter
menyebabkan kerusakan karang. Luasnya bidang yang tertutup sedimen akibat tailing telah
menutupi area produktif perairan Teluk Buyat, dimana area ini adalah area pemijahan bagi biota
laut, area estuaria yang memiliki keanekaragaman hayati (biodiversity) yang kaya. Dampak
penimbunan oleh sedimen (sedimentasi) yang terjadi di perairan baik secara langsung maupun
tidak berhubungan dengan keberadaaan keanekaragaman hayati. Penimbunan dasar perairan oleh
sedimen tailing dapat merusak dan memusnahkan komunitas bentik sehingga dapat menurunkan
tingkat keanekaragaman hayati.

2.2.6 Cara Mengurangi Masalah Sedimentasi pada Sungai


Pada umumnya, persoalan sumberdaya air berkaitan dengan waktu dan penyebaran aliran
air. Sehingga, pengelolaan vegetasi di daerah hulu adalah hal yang paling efektif untuk
menurunkan aliran sedimen yang masuk ke dalam perairan. Dengan demikian, harus ada kegiatan
yang mendukung kelangsungan pemanfaatan perairan yang berkelanjutan. Pengelolaan vegetasi,
telah lama dipercaya dapat mempengaruhi waktu dan penyebaran aliran air. Beberapa pengelola
DAS bahkan beranggapan bahwa hutan dapat dipandang sebagai pengatur aliran air (streamflow
regulator), artinya bahwa hutan dapat menyimpan air selama musim hujan dan melepaskannya
pada musim kemarau. Konsekuensi logis dari anggapan seperti itu adalah bahwa keberadaan hutan
dapat menghidupkan mata-mata air yang telah lama tidak mengalirkan air, keberadaan hutan juga
dapat mencegah terjadinya banjir dan kemudian menjadi kelihatan logis bahwa hilangnya areal
hutan akan mengakibatkan terjadinya kekeringan dan bahkan akan dapat mengubah daerah yang
sebelumnya tampak hijau dan subur menjadi daerah seperti padang
pasir (desertification) (Suryati, 2010).
Asdak (1995) dalam Suryati (2010) menyebutkan bahwa setiap perlakuan yang diberikan
pada sebidang tanah akan mempengaruhi tata air, dan usaha untuk mengkonservasi tanah juga
merupakan konservasi air dengan tujuannya adalah meminimumkan erosi pada suatu lahan yang
dapat menyebapkan sedimentasi. Anggapan-anggapan seperti ini oleh banyak pakar hidrologi
hutan dianggap lebih didasarkan pada mitos dari pada kenyataan, bahkan di negara yang sudah
maju sekalipun. Namun demikian, harus diakui bahwa adanya anggapan tersebut telah mngilhami
meluasnya gerakan konservasi air dan tanah di beberapa negara maju seperti Amerika dan Eropa.
Suryati (2010) menambahkan bahwa beberapa program seperti rehabilitasi yang ditempuh
pemerintah untuk mengatasi degradasi lingkungan daerah aliran sungai (DAS) seperti
pendangkalan karena peningkatan sedimentasi pada sungai-sungai yang bermuara ke danau atau
laut (perairan menggenang) masih kurang berjalan sesuai dengan yang di harapkan karena masih
kurangnya pengawasan, pengendalian dan penegakan hukum yang dinilai masih rendah. Oleh
karena itu, sebagai salah satu upaya yang dapat mengurangi sedimentasi sungai yaitu dengan
adanya program rehabilitasi dan pembersihan kawasan sungai dari sampah haruslah
dikembangkan dan dijalankan sesuai aturan yang berlaku.

BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan yang telah dijelaskan dan dengan menjawab tujuan yang ada,
maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Hasil perhitungan besarnya beban endapan (QS) adalah sebesar 1.9965 mg/detik atau
sebesar 1.725 x 10-4 ton/hari. Data tersebutdi dapat dari besarnya debit air (Q) sebesar 5.81
m3/detik dan konsentrasi sedimen (CS) sebesar 3.97717 mg/m3 yang dimasukan ke dalam
perhitungan menggunakan rumus yang ada.
2. Proses sedimentasi di muara sungai disebabkan oleh pertemuan air laut dan air sungai, sehingga
kecepatan air di muara mendekati nol. Proses sedimentasi terjadi diakibatkan karena adanya
pengrusakan ekosistem di bagian hulu dari DAS yang berdampak terhadap pengikisan lapisan
permukaan tanah (erosi), dan adanya pengikisan tepian sungai karena kecepatan arus dan
gelombang sungai yang ada.
3. Proses terjadinya sedimentasi dimuara sungai sangat dipengaruhi oleh adanya perbedaan
kecepatan vertikal dan kecepatan horizontal, sehingga partikel tersuspensi lebih cepat mengendap
secara gravitasi. Proses sedimentasi di muara sungai sangat tergantung dari bahan tersuspensi yang
dibawa air sungai, materi tersuspensi air laut, aktivitas gelombang, pola arus, adanya gaya berat
(gravitasi) dan juga percepatan arus pertemuan air tawar dan air laut.
4. Cara mengurangi sedimentasi sungai adalah dengan cara melakukan rehabilitasi lahan yang ada
di sekitar hulu sungai dan pembersihan sampah yang ada di sepanjang sungai tersebut agar
sedimentasi pada sungai tersebut berkurang secara cepat atau perlahan-lahan.

DAFTAR PUSTAKA

Djojodihardjo, Harijono. 1982. Diktat Bahan Kuliah Mekanika Fluida. Bandung: Institut Teknologi
Bandung.
Rahayu dkk. 2009. Monitoring Air di Daerah Aliran Sungai. Bogor: World Agroforestry Centre -
Southeast Asia Regional Office. 104 P, Bogor.
Reinnamah, Yohanes. 2009. Pengaruh sedimentasi terhadap tingkat kelulushidupan vegetasi yang
terdapat di sekitar daerah aliran sungai(DAS) Oesapa Kecil. Kupang: Fakultas Perikanan
UKAW.
Soekarno dan Rohmat. 2006. Kajian Koefisien Limpasan Hujan Cekungan Kecil Berdasarkan Model
Infiltrasi Empirik DAS. [terhubung
berkala] http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1302/1/sg.pdf. [Diakses pada tanggal 30
November 2011]
Suryati, Vivin. 2010. Laporan Hidrologi Teknik. Makassar: Faperta UNHAS.
Suryatmadjo, Hatma. 2007. Metode Pengukuran Debit Aliran. [terhubung berkala]
http://mayong.staff.ugm.ac.id/site/?page_id=110. [Diakses pada tanggal 30 November 2011]
Umi M dan Agus S. 2002. Pengantar Kimia dan Sedimen Dasar Laut. Jakarta: Badan Riset Kelautan Dan
Perikanan.