Anda di halaman 1dari 6

Tugas Ujian Tengah Semester (UTS)

Nama : Muhammad Adam


NIM : 140231100081
Kelas : B
Mata Kuliah : Seminar Perencanaan Pembangunan
Jurusan : Ekonomi Pembangunan

Perencanaan Pengembangan Kawasan Agrowisata Berdasarkan Potensi Lokal

LATAR BELAKANG

Pariwisata adalah salah satu sektor ekonomi yang penting dan strategis di masa
mendatang. Pengembangan pariwisata diharapkan mampu menunjang upaya pelestarian
alam dan kekayaan budaya. Salah satu alternatif untuk mendorong potensi ekonomi daerah
adalah pengembangan agrowisata (Artuger & Kendir, 2013).
Pengembangan kawasan agrowisata mampu berkontribusi pada PAD, membuka
kesempatan kerja dan melestarikan kekayaaan alam. Kebutuhan pasar wisata agro di
seluruh dunia saat ini cukup besar dan terus menunjukkan peningkatan (Rogerson &
Rogerson, 2014).
(Aridiansari, Elih, & Puji, 2015) Agrowisata seharusnya menjadi peranan penting di
masa mendatang, mengingat Indonesia sebagai negara yang memiliki kekayaan alam
berlimpah. Melalui perencanaan dan pengembangan yang tepat menjadikan agrowisata
sebagai salah satu sektor penting ekonomi daerah.

PEMBAHASAN

Agrowisata atau agrotourism merupakan pengembangan industri wisata alam yang


berpusat pada pembudidayaan kekayaan alam, baik pertanian, peternakan, perikanan atau
pun kehutanan. Agrowisata berorientasi terhadap pelestarian sumber daya alam,
masyarakat serta budaya lokal. Melalui pengembangan kawasan agrowisata diharapkan
mampu menunjang perkembangan pembangunan agribisnis secara umum. Menurut
(Sznajder et al., 2009) dalam (Rogerson & Rogerson, 2014) agrowisata merupakan segmen
yang meluas dari banyak tujuan ekonomi pariwisata.
Kawasan agrowisata sebagai sebuah sistem tidak dibatasi oleh batasan-batasan
yang bersifat administratif, tetapi lebih pada skala ekonomi dan ekologi yang melingkupi
kawasan agrowisata tersebut. Kawasan agrowisata dapat meliputi desa dan kota/ kabupaten
sekaligus, karena tidak dibatasi oleh batasan yang bersifat administratif, namun sesuai
dengan pola interaksi ekonomi dan ekologinya.
Beberapa kriteria kawasan agrowisata yang sudah berkembang, diantaranya adalah
memiliki potensi kawasan di sektor agro baik pertanian, hortikultura, perikanan ataupun
peternakan. Yang kedua adanya kegiatan masyarakat yang didominasi oleh kegiatan
pertanian dan wisata yang saling terkait. Ketiga, saling mendukung antara kegiatan agro
dengan kegiatan pariwisata (Rogerson & Rogerson, 2014).
Sedangkan pengembangan kawasan agrowisata harus memenuhi beberapa
prasyarat dasar. Prasyarat tersebut yakni mempunyai sumberdaya lahan untuk
pengembangan komoditi pertanian, infrastruktur yang memadai dalam mendukung

1
pengembangan agrowisata, sumberdaya manusia yang berkemauan mengembangkan
kawasan agrowisata, serta mampu mendukung upaya konservasi alam serta kelestarian
lingkungan hidup.
Beberapa tujuan pengembangan kawasan agrowisata diantaranya: mendorong
tumbuhnya visi jangka panjang pengembangan industri agrowisata, memberikan kerangka
dasar untuk perencanaan pengembangan agrowisata, dan mendorong upaya
pengembangan industri wisata yang terpadu. Perencanaan pengembangan kawasan
agrowisata ditujukan untuk meningkatkan kegiatan masyarakat, Pemerintah Daerah dan
dunia usaha.

Pengembangan Kawasan Agrowisata

Dalam pengembangan kawasan agrowisata, pengelolaan ruang yang lebih


menyeluruh menjadi tuntutan yang harus dipenuhi (Karampela, Kizos, & Spilanis, 2016).
Pengelolaan tata ruang tersebut meliputi pengaturan, evaluasi, dan peninjauan ulang
pemanfaatan ruang sebagai kawasan agrowisata. Dalam pengembangan kawasan
agrowisata, kepentingan jangka panjang sangat perlu dipertimbangkan dengan matang.
Karenanya, dalam pengembangan agrowisata diperlukan pendekatan yang tidak hanya dari
sisi ekologi saja, tetapi juga ekonomi dan sosial budaya. Sehingga kedepannya selain
pelestarian daya dukung lingkungan tercapai, pertumbuhan ekonomi yang stabil dan budaya
yang lestari juga dapat tercapai.
Berbagai sektor lain seperti ekonomi, sosial dan budaya akan tergerak dan menjadi
ikut maju ketika pengembangan agrowisata itu dilakukan. Dalam melakukan perencanaan
pengembangan kawasan agrowisata, hubungan faktor demand (situasi pasar wisata) dan
supply (produk wisata yang dikembangkan) juga harus menjadi perhatian serius.

Prinsip-prinsip Pengembangan
(Widji Anarsis, 1999) Berikut ini adalah beberapa prinsip-prinsip yang harus
dipenuhi dalam melakukan perencanaan pengembangan kawasan agrowisata yaitu:
a. Mempertimbangkan penataan dan pengelolaan tata ruang yang berkelanjutan,
seperti Mempertimbangkan RTRWN, mendorong apresiasi bagi masyarakat
tentang pentingnya pelestarian sumber daya alam, dan melestarikan keunikan
budaya, bangunan bersejarah/ tradisional.
b. Mampu memberi kenyamanan kepada pengunjung dan benefit bagi masyarakat
sekitar atas pengembangan fasilitas dan layanan wisata.
c. Melindungi kekayaan sumber daya alam, budaya dan sejarah setempat. Dalam
melakukan pengembangan kawasan agrowisata, melindungi dan melestarikan
aset-aset yang menjadi komoditas utama sangatlah penting, jadi tidak hanya
memenuhi kebutuhan pasar saja.
d. Adanya kajian yang mendalam dan berulang dengan melibatkan pihak-pihak
terkait, baik dari masyarakat, swasta dan pemerintah.

Ruang Lingkup Kawasan


Ruang Lingkup kawasan agrowisata sangat luas, tidak hanya meliputi
pegunungan saja namun juga meliputi lereng, lembah, sungai serta danau. Dilihat
dari segi fungsi terdiri dari Sub Sistem Lahan Budidaya, Pengolahan dan
Pemasaran, serta Sub Sistem Prasarana dan Fasilitas Umum.
a. Sub Sistem Lahan Budidaya
Merupakan kawasan penghasil produk-produk agribisnis berupa
pertanian tanaman pangan, holtikultura, perkebunan dan perikanan. Beberapa
produk wisata yang dapat dikembangkan pada sub sistem ini contohnya wisata
kebun, wisata pemancingan, wisata pendidikan.
b. Sub Sistem Pengolahan dan Pemasaran
Pada sub sistem ini terdiri dari kawasan industri pengolahan baik bahan
pangan atau produk kerajinan, serta pemasaran juga dapat ditempatkan disini.

2
Contoh wisata yang dapat dikembangkan pada sub sistem ini adalah wisata
belanja, boga maupun wisata pendidikan.
c. Sub Sistem Prasarana dan Fasilitas Umum
Merupakan pendukung kawasan agrowisata yang terdiri pasar,
transportasi, rumah makan, fasilitas kesehatan dll (Gao, Barbieri, & Valdivia,
2014).

Interaksi antar Sub Sistem


Pengembangan kawasan agrowisata dilakukan sesuai dengan potensi yang
terdapat di daerah. Pengembangan ini harus direncanakan secara terpadu dengan
mempertimbangkan aksesibilitas, fasilitas dan layanan. Tipologi kawasan dalam
kawasan agrowisata memiliki klasifikasi usaha agribisnis masing-masing (Widji
Anarsis, 1999). Tipologi kawasan agrowisata tersebut adalah :

Tabel 1. Tipologi Kawasan Agrowisata (Widji Anarsis, 1999)

Sub-sektor Usaha Pertanian Tipologi Kawasan


Tanaman Pangan dan Hortikultura Dataran rendah dan dataran tinggi, memiliki
irigasi, tekstur lahan datar.
Perkebunan Dataran tinggi, tanaman tahunan, tekstur
lahan berbukit, memiliki keindahan alam.
Peternakan Dekat kawasan pertanian/ perkebunan,
sistem sanitasi memadai.
Perikanan Darat Kolam perikanan darat, danau, tambak,
keramba.
Perikanan Laut Daerah pesisir pantai hingga lautan
Kebun Raya Kawasan hutan lindung di tanah milik
Negara.

(Mosbah & Salleh, 2014) Guna mendukung pengembangan agrowisata diperlukan


infrastruktur penunjang sebagai kesatuan kawasan yang meliputi:
a. Dukungan sarana dan prasarana berupa fasilitas jalan, transportasi dan
akomodasi, telekomunikasi, untuk menunjang kegiatan agrowisata.
b. Sarana dan prasarana penunjang keberlanjutan subsistem agribisnis primer
seperti: bibit/ benih, pupuk, pestisida, peralatan pertanian, dll.
c. Sarana dan prasarana untuk menunjang subsistem usaha tani untuk untuk
peningkatan produksi dan keberlanjutan usahanya: jalan pertanian, sarana
irigasi, dermaga, tambatan perahu serta sub terminal dan terminal agribisnis.
d. Infrastruktur yang tepat guna
e. Kerjasama dengan biro perjalanan wisata.
Stakeholders yang berkepentingan dengan pengembangan kawasan
agrowisata adalah kementerian pariwisata, dinas pariwisata, dinas pertanian, dinas
kelautan dan perikanan, dinas perdagangan dan perindustrian, dinas perhubungan,
dinas kehutanan dan perkebunan, TKPRD, pemerintah desa hingga kabupaten/kota,
masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, dll. Kerjasama antar berbagai
stakeholder dalam pengembangan agrowsisata sangat penting. Hal ini dapat
mempengaruhi keberhasilan perkembangan agrowisata itu sendiri. Lingkup
kerjasama ini meliputi seluruh proses, mulai dari penetapan lokasi, pelaksanaan
kegiatan, hingga evaluasi

3
Manajemen Pengembangan Kawasan Agrowisata

Pengembangan Agrowisata tumbuh dan berkembang dengan mengkombinasikan


kelebihan dan keuntungan agribisnis dengan kegiatan wisata secara berkelanjutan
(Karampela et al., 2016). Sehinga memerlukan rencana pengembangan mulai penataan
kawasan hingga pengelolaan sumber daya local. Pengembangan kawasan agrowisata
dapat dilakukan pada kawasan sentra produksi pertanian dengan kawasan sungai, atau
dalam hal ini disebut kawasan terpadu.
(Widji Anarsis, 1999) Dalam pengembangan kawasan agrowisata, strategi kebijakan
yang diterapkan sekurang-kurangnya mencakup beberapa tahapan seperti:
1. Adanya strategi pola pengembangan kawasan agrowisata yang tertuang dalam pedoman
pengelolaan ruang kawasan agrowisata.
2. Dalam penetapan kawasan agrowisata, harus dilakukan studi kelayakan yang mencakup
kelayakan ekologis, ekonomis, teknis serta sosial budaya.
3. Tahapan yang jelas dan terarah dalam pengembangan Kawasan Agrowisata, yaitu:
a. Persiapan Kawasan Agrowisata, yakni rencana pengembangan jangka pendek (0
-1 tahun). Kawasan ini adalah daerah potensi pengembangan yang diketahui
memiliki potensi alam dan tipologi yang layak dikembangkan.
b. Pra Kawasan Agrowisata, yakni rencana pengembangan jangka menengah
antara 1 – 5 tahun. Pada tahap ini kawasan mulai dikembangkan sesuai dengan
arah perencanaan dan pengembangan, serta kegiatan agrowisata sudah mulai
berjalan.
c. Tahap Kawasan Agrowisata, pada tahapan ini kawasan agrowisata sudah
berkembang dan sudah mapan, dengan bercirikan pemberdayaan masyarakat
local, adanya pusat-pusat kegiatan wisata terpadu, optimalisasi sumberdaya
alam, dll.
4. Dalam jangka panjang pengembangan kawasan agrowisata bertujuan pada pelestarian
sumber daya alam dan menuntut pola agribisnis yang memiliki dampak lingkungan
minimal serta pengembangan yang sesuai dengan karakter lahan.
5. Dalam jangka panjang, pengembangan kawasan agrowisata diharapkan mampu menjaga
kelestarian sumber daya alam secara berkelanjutan dan memelihara daya dukung
lingkungan.
6. Adanya manfaat dari pengembangan agrowisata seperti melestarikan sumberdaya alam,
membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan petani/masyarakat sekitar.

a. Arah Pengembangan
Arah pengembangan Kawasan Agrowisata harus bertumpu pada potensi
local (Marin, 2015). Untuk memasarkan produk unggulan agrowisata diperlukan
adanya inovasi dan kreativitas Hal itu dapat dilakukan dengan cara menjual
kekhasan kawasan agrowisata dan dikombinasikan dengan wisata petualangan,
hiking/tracking, perkemahan, pemancingan, dan lainnya yang sesuai potensi
lokal yang dimiliki.
Komponen kawasan yang mendasar harus tersentuh dalam arah
pengembangan kawasan agrowisata, kompenen tersebut meliputi pemberdayaan
masyarakat pelaku agrowisata, pengembangan pusat-pusat kegiatan wisata, dan
pengembangan sarana dan prasarana.

b. Kordinasi Kelembagaan
Koordinasi antara lembaga sangat diperlukan dalam perencanaan,
pengembangan dan pelaksanaan kawasan agrowisata. Koordinasi tersebut
diwujudkan dengan membentuk tim teknis kelompok kerja tata ruang kawasan
agrowisata. Pelaksanaan tugas koordinasi biasanya berbentuk pembagian tugas,
fungsi pengawasan, dan penertiban

4
c. Peran Serta Masyarakat
Perguruan Tinggi, menjadi mitra pemerintah dalam pengembangan
agrowisata yang biasanya membantu dalam bentuk riset, studi, maupun
konsultasi. Masyarakat dan dunia usaha, menjadi obyek dan pelaku langsung
dari program pengembangan kawasan agrowisata serta ikut merencanakan,
melaksanakan dan mengontrol program agrowisata.

d. Indikator Keberhasilan
Tolak ukur keberhasilannya apabila dalam implementasi di lapangan terjadi:
1) Masyarakat terlibat aktif dalam pengembangan agrowisata
2) Memberikan multi-effect dari adanya agrowisata
3) Adanya investasi dari pihak swasta.
4) Tidak terjadi konversi lahan pertanian/ alam yang merusak ekologi dan
lingkungan
5) Meningkatnya kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan agrowisata
6) Berkembangnya usaha berbasis agribisnis dan agroindustri

KESIMPULAN

Kekayaan alam serta potensi lokal sangat beragam di Indonesia. Di masa


mendatang Agrowisata menjadi peranan penting, mengingat Indonesia sebagai negara yang
memiliki kekayaan alam berlimpah. Melalui perencanaan dan pengembangan yang tepat
menjadikan agrowisata sebagai salah satu sektor penting ekonomi daerah.
Dalam pengembangan kawasan agrowisata, kepentingan jangka panjang sangat
perlu dipertimbangkan dengan matang. Karenanya, dalam pengembangan agrowisata
diperlukan pendekatan yang tidak hanya dari sisi ekologi saja, tetapi juga ekonomi dan
sosial budaya. Sehingga kedepannya selain pelestarian daya dukung lingkungan tercapai,
pertumbuhan ekonomi yang stabil dan budaya yang lestari juga dapat tercapai. Dalam
pengembangan kawasan agrowisata, strategi kebijakan yang diterapkan sekurang-
kurangnya mencakup beberapa tahapan seperti:
1. Adanya strategi pola pengembangan kawasan agrowisata yang tertuang dalam
pedoman pengelolaan ruang kawasan agrowisata.
2. Dilakukan studi kelayakan yang mencakup kelayakan ekologis, ekonomis, teknis serta
sosial budaya.
3. Adanya tahapan yang jelas dan terarah dalam pengembangan Kawasan Agrowisata.
4. Dalam jangka panjang, pengembangan diharapkan mampu menjaga kelestarian sumber
daya alam secara berkelanjutan dan memelihara daya dukung lingkungan.
5. Adanya pelestarikan sumberdaya alam, membuka lapangan pekerjaan dan
meningkatkan pendapatan petani/masyarakat sekitar.

DAFTAR PUSTAKA

Aridiansari, R., Elih, E., & Puji, K. (2015). Pengembangan Agrowisata Di Desa Wisata
Tulungrejo Kota Batu , Jawa Timur. Jurnal Produksi Tanaman, 3(5), 383–390.
Artuger, S., & Kendir, H. (2013). Agritourist Motivations: The Case of Turkey. International
Journal of Business and Management, 8(21), 63–69.
https://doi.org/10.5539/ijbm.v8n21p63
Gao, J., Barbieri, C., & Valdivia, C. (2014). Agricultural Landscape Preferences. Journal of
Travel Research, 53(3), 366–379. https://doi.org/10.1177/0047287513496471
Karampela, S., Kizos, T., & Spilanis, I. (2016). Evaluating the impact of agritourism on local
development in small islands. Island Studies Journal, 11(1), 161–176.
Marin, D. (2015). Study on the Economic Impact of Tourism and of Agrotourism on Local

5
Communities. Research Journal of Agricultural Science, 47(4), 160–164.
Mosbah, A., & Salleh, M. (2014). A review of tourism development in malaysia. European
Journal of Business and Management, 6(5), 1–9.
Rogerson, C. M., & Rogerson, J. M. (2014). Agritourism and local economic development in
South Africa. Bulletin of Geography. Socio-Economic Series, 26(26), 93–106.
https://doi.org/10.2478/bog-2014-0047
Widji Anarsis. (1999). Agribisnis Komoditas Salak. Bumi Aksara, 95–98.