Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

FRAKTUR RADIUS DISTAL

1.1 DEFINISI
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis
dan luasnya. (Brunner & Suddarth) Fraktur adalah patah tulang biasanya
disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik). Fraktur radius adalah fraktur yang
terjadi pada tulang radius akibat jatuh dan tangan menyangga dengan siku
ekstensi. (Brunner & Suddarth, Buku Ajar Medikal Bedah, 2002).

1.2 ETIOLOGI
Fraktur radius distal adalah salah satu dari macam fraktur yang biasa
terjadi pada pergelangan tangan. Umumnya terjadi karena jatuh dalam keadaan
tangan menumpu dan biasanya terjadi pada anak-anak dan lanjut usia. Bila
seseorang jatuh dengan tangan yang menjulur, tangan akan tiba-tiba menjadi
kaku, dan kemudian menyebabkan tangan memutar dan menekan lengan bawah.
Jenis luka yang terjadi akibat keadaan ini tergantung usia penderita. Pada anak-
anak dan lanjut usia, akan menyebabkan fraktur tulang radius. Fraktur radius
distal merupakan 15 % dari seluruh kejadian fraktur pada dewasa. Abraham
Colles adalah orang yang pertama kali mendeskripsikan fraktur radius distalis
pada tahun 1814 dan sekarang dikenal dengan nama fraktur Colles. (Armis, 2000).
Ini adalah fraktur yang paling sering ditemukan pada manula, insidensinya yang
tinggi berhubungan dengan permulaan osteoporosis pasca menopause. Karena itu
pasien biasanya wanita yang memiliki riwayat jatuh pada tangan yang terentang.
(Apley & Solomon, 1995) Biasanya penderita jatuh terpeleset sedang tangan
berusaha menahan badan dalam posisi terbuka dan pronasi. Gaya akan diteruskan
ke daerah metafisis radius distal yang akan menyebabkan patah radius 1/3 distal di
mana garis patah berjarak 2 cm dari permukaan persendian pergelangan tangan.
Fragmen bagian distal radius terjadi dislokasi ke arah dorsal, radial dan supinasi.
Gerakan ke arah radial sering menyebabkan fraktur avulsi dari prosesus styloideus
ulna, sedangkan dislokasi bagian distal ke dorsal dan gerakan ke arah radial
menyebabkan subluksasi sendi radioulnar distal (Reksoprodjo, 1995) Momok

1
cedera tungkai atas adalah kekakuan, terutama bahu tetapi kadang-kadang siku
atau tangan. Dua hal yang harus terus menerus diingat :
1.2.1 Pada pasien manula, terbaik untuk tidak mempedulikan fraktur tetapi
berkonsentrasi pada pengembalian gerakan.
1.2.2 Apapun jenis cedera itu, dan bagaimanapun cara terapinya, jari harus
mendapatkan latihan sejak awal. (Apley & Solomon, 1995)
Penyebab paling umum fraktur adalah :
1.2.3 Benturan/trauma langsung pada tulang antara lain : kecelakaan lalu
lintas/jatuh.
1.2.4 Kelemahan/kerapuhan struktur tulang akibat gangguan penyakti seperti
osteoporosis, kanker tulang yang bermetastase.

1.3 PATOFISIOLOGI DAN PATWAY


Trauma yang menyebabkan fraktur di daerah pergelangan tangan biasanya
merupakan trauma langsung, yaitu jatuh pada permukaan tangan sebelah volar
atau dorsal. Jatuh pada permukaan tangan sebelah volar menyebabkan dislokasi
fragmen fraktur sebelah distal ke arah dorsal. Dislokasi ini menyebabkan bentuk
lengan bawah dan tangan bila dilihat dari samping menyerupai garpu.
(Sjamsuhidayat & de Jong, 1998) Benturan mengena di sepanjang lengan bawah
dengan posisi pergelangan tangan berekstensi. Tulang mengalami fraktur pada
sambungan kortikokanselosa dan fragmen distal remuk ke dalam ekstensi dan
pergeseran dorsal. (Apley & Solomon, 1995) Garis fraktur berada kira-kira 3 cm
proksimal prosesus styloideus radii. Posisi fragmen distal miring ke dorsal,
overlapping dan bergeser ke radial, sehingga secara klasik digambarkan seperti
garpu terbalik (dinner fork deformity). (Armis, 2000)

2
3
1.4 MANIFESTASI KLINIS
1.4.1 Nyeri hebat pada daerah fraktur dan nyeri bertambah bila ditekan/diraba.
1.4.2 Tidak mampu menggerakkan lengan/tangan.
1.4.3 Spasme otot.
1.4.4 Perubahan bentuk/posisi berlebihan bila dibandingkan pada keadaan normal.
1.4.5 Ada/tidak adanya luka pada daerah fraktur.
1.4.6 Kehilangan sensasi pada daerah distal karena terjadi jepitan syarat oleh
fragmen tulang.
1.4.7 Krepitasi jika digerakkan.
1.4.8 Perdarahan.
1.4.9 Hematoma.
1.4.10 Syok
1.4.11 Keterbatasan mobilisasi.

1.5 KOMPLIKASI
1.5.1 Komplikasi awal setelah fraktur adalah syok.
Bisa berakibat fatal dalam beberapa jam setelah cedera.
1.5.2 Sindroma kompartemen
Masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dalam otot kurang dari yang
dibutuhkan untuk kehidupan jaringan.
1.5.3 Tromboemboli
1.5.4 Infeksi.

1.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG


1.6.1 Foto rontgen pada daerah yang dicurigai fraktur.
1.6.2 Pemeriksaan lainnya yang juga merupakan persiapan operasi antara lain :
Darah lengkap, Golongan darah, Masa pembekuan dan perdarahan, EKG,
Kimia darah.

4
1.7 PENATALAKSANAAN
1.7.1 Medis
Ada beberapa prinsip dasar yang harus dipertimbangkan pada saat menangani
fraktur :
1.7.1.1 Rekognisi
Pengenalan riwayat kecelakaan, patah atau tidak, menentukan perkiraan yang
patah, kebutuhan pemeriksaan yang spesifik, kelainan bentuk tulang dan
ketidakstabilan, tindakan apa yang harus cepat dilakukan misalnya pemasangan
bidai.
1.7.1.2 Reduksi
Usaha dan tindakan untuk memanipulasi fragmen tulang yang patah sedapat
mungkin kembali seperti letak asalnya. Cara penanganan secara reduksi :
Pemasangan gips Untuk mempertahankan posisi fragmen tulang yang fraktur.
Reduksi tertutup (closed reduction external fixation) Menggunakan gips sebagai
fiksasi eksternal untuk memper-tahankan posisi tulang dengan alat-alat : skrup,
plate, pen, kawat, paku yang dipasang di sisi maupun di dalam tulang. Alat ini
diangkut kembali setelah 1-12 bulan dengan pembedahan.
1.7.1.3 Debridemen
Untuk mempertahankan/memperbaiki keadaan jaringan lunak sekitar fraktur pada
keadaan luka sangat parah dan tidak beraturan.
1.7.1.4 Rehabilitasi
Memulihkan kembali fragmen-fragmen tulang yang patah untuk mengembalikan
fungsi normal.
1.7.1.4 Perlu dilakukan mobilisasi Kemandirian bertahap.
1.7.2 Keperawatan
Tindakan yang harus diperhatikan agar ektremitas dapat berfungsi sebaik-baiknya
maka penanganan pada trauma ektremitas meliputi 4 hal (4 R) yaitu :
1.7.2.1 Recognition
Untuk dapat bertindak dengan baik, maka pada trauma ektremitas perlu diketahui
kelainan yang terjadi akibat cedernya. Baik jaringan lunak maupun tulangnya
dengan cara mengenali tanda-tanda dan gangguan fungsi jaringan yang
mengalami cedera. Fraktur merupakan akibat dari sebuah kekerasan yang dapat

5
menimbulkan kerusakan pada tulang ataupun jaringan lunak sekitarnya.
Dibedakan antara trauma tumpul dan tajam. Pada umumnya trauma tumpul akan
memberikan kememaran yang “diffuse” pada jaringan lunak termasuk gangguan
neurovaskuler yang akan menentukan ektremitas.
1.7.2.2 Reduction
Tindakan mengembalikan ke posisi semula, tindakan ini diperlukan agar sebaik
mungkin kembali ke bentuk semula agar dapat berfungsi kembali sebaik mungkin
. Penyembuhan memerlukan waktu dan untuk mempertahankan hasil reposisi
(retaining) penting dipikirkan tindakan berikutnya agar rehabilitasi dapat
memberikan hasil sebaik mungkin.
1.7.2.3 Retaining
Tindakan imobilisasi untuk memberi istirahat pada anggota gerak yang sehat
mendapatkan kesembuhan. Imobilisasi yang tidak adequat dapat memberikan
dampak pada penyembuhan dan rehabilitasi.
1.7.2.4 Rehabillitasi
Mengembalikan kemampuan dari anggota/alat yang sakit/cedera agar dapat
berfungsi kembali. Falsafah lama mengenai rehabilitasi ialah suatu tindakan
setelah kuratif dan hanya mengatasi kendala akibat sequaele atau kecacatan;
padahal untuk mengembalikan fungsi sebaiknya rehabilitasi, yang menekankan
pada fungsi, akan lebih berhasil bila dapat dilaksanakan secara dini, mencegah
timbulnya kecacatan.
Dislokasi sendi perlu dilakukan reposisi segera karena akibat dari penundaan akan
dapat menimbulkan keadaan avaskuler nekrosis dari bonggol tulang yang
menyebabkan nyeri pada persendian serta kekakuan sendi. Dalam fase shock lokal
(antara 5-20 menit) dimana terjadi relaksasi dari otot sekitar sendi dan rasa baal
(hypestesia) reposisi dapat dilakukan tanpa narkose, lewat dari fase shock lokal
diperlukan tindakan dengan pembiusan untuk mendapatkan relaksasi waktu
melakukan reposisi. Apabila tidak berhasil maka perlu dipikirkan terjadi “button
hole ruptur” dari kapsul (simpai) sendi yang dapat “’mencekik” sirkulasi
perdarahan daerah bonggol sendi, hal ini memerlukan tindakan reposisi terbuka.
Untuk mendapatkan lingkup gerak sendi yang baik, maka selama dilakukan

6
imobilisasi diberikan latihan isometrik kontraksi otot guna mencegah”disuse
Athrophy”.

1.8 DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL


1.8.1 Nyeri akut b/d spasme otot, gerakan fragmen tulang, edema, cedera
jaringan lunak, pemasangan traksi, stress/ansietas, luka operasi.
1.8.2 Gangguan pertukaran gas b/d perubahan aliran darah, emboli, perubahan
membran alveolar/kapiler (interstisial, edema paru, kongesti)
1.8.3 Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler, nyeri,
terapi restriktif (imobilisasi)
1.8.4 Gangguan integritas kulit b/d fraktur terbuka, pemasangan traksi (pen,
kawat, sekrup)
1.8.5 Risiko infeksi b/d ketidakadekuatan pertahanan primer (kerusakan kulit,
taruma jaringan lunak, prosedur invasif/traksi tulang)
1.8.6 Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
b/d kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap informasi, keterbatasan
kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi yang ada

7
RENCANA KEPERAWATAN

DIANGOSA
NO
KEPERAWATAN DAN TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC)
DX
KOLABORASI
1 Nyeri akut b/d spasme NOC
otot, gerakan fragmen  Pain Level, NIC
tulang, edema, cedera  Pain control,
jaringan lunak,  Comfort level Pain Management
pemasangan traksi, Kriteria Hasil :  Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk
stress/ansietas, luka  Mampu mengontrol nyeri (tahu lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor
operasi. penyebab nyeri, mampu menggunakan presipitasi
tehnik nonfarmakologi untuk  Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
mengurangi nyeri, mencari bantuan)  Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui
 Melaporkan bahwa nyeri berkurang pengalaman nyeri pasien
dengan menggunakan manajemen nyeri  Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
 Mampu mengenali nyeri (skala,  Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang
intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau
 Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri  Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan
berkurang dukungan
 Tanda vital dalam rentang normal  Kurangi faktor presipitasi nyeri
 Ajarkan tentang teknik non farmakologi
 Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
 Tingkatkan istirahat
 Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan
nyeri tidak berhasil

8
 Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri

2 Gangguan pertukaran gas NOC : NIC :


b/d perubahan aliran darah,  Respiratory Status : Gas exchange
emboli, perubahan  Respiratory Status : ventilation Airway Management
membran alveolar/kapiler  Vital Sign Status  Buka jalan nafas, guanakan teknik chin lift atau jaw thrust
(interstisial, edema paru, Kriteria Hasil : bila perlu
kongesti)  Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi  Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
dan oksigenasi yang adekuat  Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas
 Memelihara kebersihan paru paru dan buatan
bebas dari tanda tanda distress  Pasang mayo bila perlu
pernafasan  Lakukan fisioterapi dada jika perlu
 Mendemonstrasikan batuk efektif dan  Keluarkan sekret dengan batuk atau suction
suara nafas yang bersih, tidak ada  Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
sianosis dan dyspneu (mampu  Lakukan suction pada mayo
mengeluarkan sputum, mampu bernafas  Berika bronkodilator bial perlu
dengan mudah, tidak ada pursed lips)  Barikan pelembab udara
 Tanda tanda vital dalam rentang normal  Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
 Monitor respirasi dan status O2

Respiratory Monitoring
 Monitor rata – rata, kedalaman, irama dan usaha respirasi
 Catat pergerakan dada,amati kesimetrisan, penggunaan otot
tambahan, retraksi otot supraclavicular dan intercostal
 Monitor suara nafas, seperti dengkur
 Monitor pola nafas : bradipena, takipenia, kussmaul,
hiperventilasi, cheyne stokes, biot

9
 Monitor kelelahan otot diagfragma (gerakan paradoksis)
 Auskultasi suara nafas, catat area penurunan / tidak adanya
ventilasi dan suara tambahan
 Tentukan kebutuhan suction dengan mengauskultasi crakles
dan ronkhi pada jalan napas utama
 auskultasi suara paru setelah tindakan untuk mengetahui
hasilnya
3 Gangguan mobilitas fisik NOC : Latihan Kekuatan
b/d kerusakan rangka  Joint Movement : Active  Ajarkan dan berikan dorongan pada klien untuk melakukan
neuromuskuler, nyeri,  Mobility Level program latihan secara rutin
terapi restriktif  Self care : ADLs Latihan untuk ambulasi
(imobilisasi).  Transfer performance  Ajarkan teknik Ambulasi & perpindahan yang aman kepada
Kriteria Hasil : klien dan keluarga.
 Klien meningkat dalam aktivitas fisik  Sediakan alat bantu untuk klien seperti kruk, kursi roda, dan
 Mengerti tujuan dari peningkatan walker
mobilitas  Beri penguatan positif untuk berlatih mandiri dalam batasan
 Memverbalisasikan perasaan dalam yang aman.
meningkatkan kekuatan dan kemampuan Latihan mobilisasi dengan kursi roda
berpindah  Ajarkan pada klien & keluarga tentang cara pemakaian
 Memperagakan penggunaan alat Bantu kursi roda & cara berpindah dari kursi roda ke tempat tidur
untuk mobilisasi (walker) atau sebaliknya.
 Dorong klien melakukan latihan untuk memperkuat anggota
tubuh
 Ajarkan pada klien/ keluarga tentang cara penggunaan kursi
roda
Latihan Keseimbangan
 Ajarkan pada klien & keluarga untuk dapat mengatur posisi
secara mandiri dan menjaga keseimbangan selama latihan

10
ataupun dalam aktivitas sehari hari.
Perbaikan Posisi Tubuh yang Benar
 Ajarkan pada klien/ keluarga untuk mem perhatikan postur
tubuh yg benar untuk menghindari kelelahan, keram &
cedera.
 Kolaborasi ke ahli terapi fisik untuk program latihan.

4 Gangguan integritas kulit NOC : NIC : Pressure Management


b/d fraktur terbuka,  Tissue Integrity : Skin and Mucous  Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar
pemasangan traksi (pen, Membranes  Hindari kerutan padaa tempat tidur
kawat, sekrup) Kriteria Hasil :  Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
 Integritas kulit yang baik bisa  Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali
dipertahankan  Monitor kulit akan adanya kemerahan
 Melaporkan adanya gangguan sensasi  Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah yang
atau nyeri pada daerah kulit yang tertekan
mengalami gangguan  Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
 Menunjukkan pemahaman dalam  Monitor status nutrisi pasien
proses perbaikan kulit dan mencegah  Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat
terjadinya sedera berulang
 Mampumelindungi kulit dan
mempertahankan kelembaban kulit dan
perawatan alami

5 Risiko infeksi b/d NOC : NIC :


ketidakadekuatan  Immune Status Infection Control (Kontrol infeksi)
pertahanan primer  Risk control  Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
(kerusakan kulit, taruma  Pertahankan teknik isolasi
jaringan lunak, prosedur Kriteria Hasil :  Batasi pengunjung bila perlu

11
invasif/traksi tulang)  Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi  Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat
 Menunjukkan kemampuan untuk berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan pasien
mencegah timbulnya infeksi  Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan
 Jumlah leukosit dalam batas normal  Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan kperawtan
 Menunjukkan perilaku hidup sehat  Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
 Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat
 Ganti letak IV perifer dan line central dan dressing sesuai
dengan petunjuk umum
 Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi
kandung kencing
 Tingktkan intake nutrisi
 Berikan terapi antibiotik bila perlu
Infection Protection (proteksi terhadap infeksi)
 Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
 Monitor hitung granulosit, WBC
 Monitor kerentanan terhadap infeksi
 Batasi pengunjung
 Saring pengunjung terhadap penyakit menular
 Partahankan teknik aspesis pada pasien yang beresiko
 Pertahankan teknik isolasi k/p
 Berikan perawatan kuliat pada area epidema
 Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
 Ispeksi kondisi luka / insisi bedah
 Dorong masukkan nutrisi yang cukup
 Dorong masukan cairan
 Dorong istirahat
 Instruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep

12
 Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
 Ajarkan cara menghindari infeksi
 Laporkan kecurigaan infeksi
 Laporkan kultur positif

6 Kurang pengetahuan NOC : NIC :


tentang kondisi, prognosis  Kowlwdge : disease process Teaching : disease Process
dan kebutuhan pengobatan  Kowledge : health Behavior  Berikan penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien tentang
b/d kurang terpajan atau Kriteria Hasil : proses penyakit yang spesifik
salah interpretasi terhadap  Pasien dan keluarga menyatakan  Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini
informasi, keterbatasan pemahaman tentang penyakit, kondisi, berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang
kognitif, kurang prognosis dan program pengobatan tepat.
akurat/lengkapnya  Pasien dan keluarga mampu  Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit,
informasi yang ada melaksanakan prosedur yang dijelaskan dengan cara yang tepat
secara benar  Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
 Pasien dan keluarga mampu  Identifikasi kemungkinan penyebab, dengna cara yang tepat
menjelaskan kembali apa yang  Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara
dijelaskan perawat/tim kesehatan yang tepat
lainnya  Hindari harapan yang kosong
 Sediakan bagi keluarga atau SO informasi tentang kemajuan
pasien dengan cara yang tepat
 Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan
untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan
atau proses pengontrolan penyakit
 Diskusikan pilihan terapi atau penanganan
 Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan
second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan
 Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara

13
yang tepat
 Rujuk pasien pada grup atau agensi di komunitas lokal, dengan
cara yang tepat
 Instruksikan pasien mengenai tanda dan gejala untuk
melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan, dengan cara
yang tepat

14
DAFTAR PUSTAKA

Brunner, Suddarth. 2002. Buku Ajar keperawtan medikal bedah, edisi 8 vol.3.
EGC. Jakarta
Carpenito, LJ. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 . Jakarta: EGC
Doengoes, M.E., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.
Ircham Machfoedz, 2007. Pertolongan Pertama di Rumah, di Tempat Kerja, atau
di Perjalanan. Yogyakarta: Fitramaya
Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second
Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius
Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC) Second
Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006.
Jakarta: Prima Medika
Smeltzer, S.C., 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta.

15
H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Pre-Operasi
a) Nyeri b.d spasme otot, kerusakan akibat fraktur.
b) Ketidakmampuan beraktivitas b.d fraktur dan cidera jaringan sekitar.
c) Resiko tinggi terjadi infeksi b.d fraktur terbuka kerusakan jaringan lunak.
d) Gangguan pola tidur b.d nyeri.
b. Post Operasi
a) Nyeri b.d luka operasi.
b) Risiko tinggi terjadi komplikasi post operasi b.d immobilisasi.
c) Ketidakmampuan beraktivitas b.d pemasangan gips dan fiksasi.
d) Risiko tinggi terjadi infeksi b.d luka post operasi.
e) Kurang pengetahuan klien tentang perubahan tingkat aktivitas yang boleh
dilakukan dan perawatannya saat di rumah.
f) Gangguan harga diri b.d perubahan peran dan perubahan bentuk fisik atau tubuh.
I. TUJUAN DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
a. Pre-Operasi
a) Nyeri b.d spasme otot, kerusakan akibat fraktur.
1. Nyeri berkurang atau terkontrol
2. Klien mengatakan nyeri berkurang.
3. Ekspresi wajah tenang.
Rencana Tindakan :
1. Observasi tanda-tanda vital (TD, S, N, P)
2. Kaji keluhan nyeri klien : lokasi, intensitas, karakteristik.
3. Beri posisi yang nyaman sesuai anatomi tubuh manusia.
4. Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam.
5. Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips.
6. Beri therapi analgetik sesuai program medik.
b) Ketidakmampuan beraktivitas b.d fraktur dan cidera jaringan sekitar.
1. Kebutuhan hygiene, nutrisi dan eliminasi.
2. Klien dapat melakukan aktivitas secara bertahap sesuai kemampuan klien dan
sesuai program medik.
Rencana Tindakan :

16
1. Kaji tingkat kemampuan beraktivitas klien.
2. Observasi tanda-tanda vital (TD, S, N, P)
3. Bantu klien dalam pemenuhan kebutuhan yang tidak dapat dilakukan sendiri.
4. Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan.
5. Libatkan keluarga dalam membantu pemenuhan kebutuhan klien.
c) Resiko tinggi terjadi infeksi b.d fraktur terbuka kerusakan jaringan lunak.
1. Infeksi tidak terjadi
2. Tidak ada kemerahan, pus, peradangan
3. Leukosit dalam batas normal
4. Tanda-tanda vital stabil.
Rencana Tindakan :
1. Observasi tanda-tanda vital (S, TD, N, P)
2. Jaga daerah luka tetap bersih dan kering.
3. Tutup daerah luka dengan kasa steril.
4. Rawat luka fraktur dengan teknik aseptik.
5. Beri therapi antibiotik sesuai program medik.
b. Post-Operasi
a) Nyeri b.d luka operasi
1. Nyeri berkurang sampai dengan hilang.
2. Ekspresi wajah tenang.
Rencana Tindakan :
1. Observasi tanda-tanda vital (TD, S, N, P)
2. Kaji keluhan, lokasi, intensitas dan karakteristik nyeri.
3. Ajarkan tehnik relaksasi nafas dalam.
4. Beri posisi yang nyaman pada tulang yang fraktur sesuai anatomi.
5. Anjurkan klien untuk imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring.
6. Beri therapi analgetik sesuai program medik.
b) Ketidakmampuan beraktivitas b.d pemasangan gips atau fiksasi.
1. Kebutuhan hygiene, nutrisi, dan eliminasi terpenuhi.
2. Klien dapat melakukan aktivitas secara bertahap sesuai kemampuan klien dan
sesuai program medik.
Rencana Tindakan :

17
1. Observasi tanda-tanda vital (S, N, TD, P)
2. Kaji tingkat kemampuan klien dalam beraktivitas secara mandiri.
3. Bantu klien dalam pemenuhan kebutuhan hygiene nutrisi, eliminasi yang tidak
dapat dilakukan sendiri.
4. Dekatkan alat-alat dan bel yang dibutuhkan klien.
5. Libatkan keluarga dalam membantu pemenuhan kebutuhan klien.
6. Anjurkan dan bantu klien untuk mobilisasi fisik secara bertahap sesuai
kemampuan klien dan sesuai program medik.
c) Resiko tinggi terjadi komplikasi post operasi b.d immobilisasi.
Komplikasi setelah operasi tidak terjadi.
Rencana Tindakan :
1. Kaji keluhan klien
2. Observasi tanda-tanda vital (TD, N)
3. Anjurkan klien mobilisasi secara bertahap
4. Kolaborasi dengan dokter.

d) Resiko tinggi terjadi infeksi b.d luka post operasi.


· Infeksi post operasi tidak terjadi.
· Klien tidak mengalami infeksi tulang.
Rencana Tindakan :
1. Observasi tanda-tanda vital (TD, N, S, P)
2. Rawat luka operasi dengan tehnik aseptik.
3. Tutup daerah luka dengan kasa steril.
4. Jaga daerah luka tetap bersih dan kering.
5. Beri terapi antibiotik sesuai program medik.
e) Kurang pengetahuan tentang perubahan tingkat aktivitas yang boleh dilakukan
dan perawatan di rumah b.d kurang informasi.
Klien dapat mengetahui aktivitas yang boleh dilakukan dan perawatan saat di
rumah.
Rencana Tindakan :
1. Kaji tingkat pengetahuan klien tentang penatalaksanaan perawatan di rumah.
2. Ajarkan dan anjurkan klien untuk melakukan latihan pasif dan aktif secara teratur.

18
3. Berikan kesempatan pada klien untuk dapat bertanya.
4. Anjurkan klien untuk mentaati terapi dan kontrol tepat waktu.
5. anjurkan klien untuk tidak mengangkat beban berat pada tangan yang fraktur.

19
DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8 volume 3,
Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Black, Joyce M (1997). Medical Surgical Nursing, Clinical Management for Continuity
of Care. 5th edition, 3rd volume. Philadelphia. W.B Saunders Company.
Carpenito, Lynda Jual (1997). Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinis. Edisi
keenam, Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Doengoes, Marilynn. E (2000). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3, Jakarta. Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Evelyn. C. Pearce (1999). Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Cetakan ke-22,
Jakarta. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Umum.
Price, Sylvia. A (1995). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Edisi 4
buku 2. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

20