Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEBIDANAN

PADA NEONATUS ATERM HARI KE 1 DENGAN ASFIKSIA SEDANG

DISUSUN OLEH :
LIDIA HARIANI
LINDA LINATA
YENI TANAEM
YENIARI DWI MUJI LESTARI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) BHAKTI MULIA


PARE – KEDIRI
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
2009 / 2010
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmadnya


sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas membuat makalah dan Askeb “Askeb
Neonatus” dengan judul Laporan Pendahuluan dan asuhan kebidanaan pada neonatus
aterm hari kesatu dengan asfiksia sedang
Kami mendapat banyak bimbingan serta bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu di
kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
Nureva Aristina,SST selaku pembimbing dalam mata kuliah “ASKEB Neonatus”.
1. Orang tua yang telah memberi dukungan baik secara moril dan matariil.
2. Pihak-pihak yang telah membantu terselesainya makalah ini.
Semoga bimbingan dan bantuan yang telah diberikan pada Kami semoga
mendapatkan balasan dari Allah SWT sesuatu dengan amal kebajikan, saya menyadari
bahwa materi penyajian, susunan kata-kata, maupun penyusunan kalimat, tetapi saya
sudah berusaha semaksimal mungkin dan tak lupa kritik dan saran yang sifatnya
membangun untuk sempurnanya makalah ini.

Trenggalek, Maret 2010

Penyusun,
LAPORAN PENDAHULUAN
ASFIKSIA NEONATURUM

I. Pengertian
Asfiksia neonaturum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas
secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin
uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan factor-faktor yang timbul dalam
kehamilan, persalinan atau segera setelah bayi lahir.
Akibat-akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi
tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan ini akan dikerjakan pada bayi
bertujuan mempertahankan kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala
lanjut yang mungkin tumbul. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan,
beberapa factor perlu dipertimbangkan dan menghadapi bayi dengan asfiksia.
Factor-faktor tersebut ialah :
1. etiologi dan predisposisi
2. gangguan homeostasis
3. diagnosis asfiksia bayi
4. resusitasi

II. Etiologi dan factor Predisposisilam


Hipoksia janin yang menyebabkan asfiksia neonatorum terjadi karena gangguan
pertukaran gas serta transpor O2 dari ibu ke janin sehingga terdapat gangguan dalam
persediaan O2 dan dalam menghilangkan CO2. gangguan ini dapat berlangsung
secara mendadak karena hal-hal yang diderita ibu dalam persalinan.
Gangguan menahun dalam kehamilan dapat berupa gizi ibu yang buruk,
penyakit menahun seperti anemia, hipertensi, penyakit jantung dan lain-lain. Pada
keadaan terakhir ini pengaruh terhadap janin disebabkan oleh gangguan oksigenasi
serta kekurangan pemberian zat-zat makanan berhubungan dengan gangguan fungsi
plasenta. Hal ini dapat dicegah atau diurangi dengan melakukan pemeriksaan
antenatal yang sempurna, sehingga perbaikan sedini-dininya dapat diusahakan.
Factor-faktor yang timbul dalam persalinan bersifat lebih mendadak dan hamper
selalu mengakibatkan anoksia dan hipoksia janin dan berakhir dengan asfiksia bayi.
Keadaan ini perlu dikenal, agar dapat dilakukan persiapan yang sempurna pada saat
bayi lahir.
Faktor-faktor yang mendadak ini terdiri atas :
a. Factor-faktor dari pihak janin seperti :
1. gangguan aliran darah dalam tali pusat karena tekanan tali pusat
2. depresi pernapasan karen aobat-obat anestesia/ analgetika yang diberikan
kepada ibu perdarahan itrakranial dan kelainan bawaan (hernia
diafragmatika, atresia saluran pernapasan, hipoplasia paru-paru dan lain-
lain.
b. Faktor-faktor dari pihak ibu :
1. gangguan his misalnya hipertoni dan tetani
2. hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan misalnya pada plasenta
previa
3. hipertensi pada eklamsia
4. gangguan mendadak pada p;asenta seperti solusio plasenta.

III. Gangguan Hemeostasis


Perubahan pertukaran gas dan transport oksigen selama kehamilan dan
persalinan akan mempengaruhi oksigenasi sel-sel tubuh yang selanjutnya dapat
mengakibatkan gengguan fungsi sel. Gangguan fungsi ini dapat ringan serta
sementara atau menetap, tergantung dari perubahan homeostasis yang terdapat
pada janin. Perubahan homeostasis ini berhubungan erat dengan beratnya mdan
lamanya anoksia dan hipoksia yang di derita.
Pada tingkat permulaan gangguan pertukaran gas transpor o2 mungkin
hanya menimbulkan asidosis respiratorik. Bila gangguan berlanjut, dalam tubuh
terjadi metabolismus anerobik. Proses ini berupa glikolosis glikogen tubuh,
sehingga sumber-sumber glikogen tubuh terutama dalam jantung dan hati
berkurang. Asam-asam organik yang dihasilkan akibat metabolismus ini akan
meneyebabkan terjadinya asidasis metabolik. Pada tingkat lebih lanjut terjadi
gangguan kardiovaskuler yang disebabkan oleh :
1) Kerja jantung yang terganggu akibat dipakainya simpana glikogen
dalamjaringan jantung
2) Asidasis metabolik yang mengganggu fungsi sel-sel jantung
3) Gangguan peredaran darah paru-paru karena tetap tingginya pulmonary
vascular resistence. Asidasis dan gangguan kardiovaskular ini mempunyai
akibat buruk terhadap sel-sel otak yang dapat menyebabkan kematian anak
atau timnbulnya gejala-gejala lanjut pada anak yang hidup.
Dalam garis besar perubahan-perubahan yang terjadi pada asfiksia ialah :
1) Menurutnya tekanan O2 arterial
2) Meningkatnya tekanan CO2
3) Turunnya pH darah
4) Dipakainya simpanan tubuh untuk metabolismus anerobik
5) Terjadinya perubahan fungsi sistem kardiovaaskuler

IV. Diagnosis
Asfiksia yang terjadi pada bayi merupakan kelanjutan dari anoksia/
hipoksia janin. Diagnosis anoksia/ hipoksia janin dapat dibuat dalam persalinan
dengan di temukannya tanda-tanda gawat janin. Tiga hal perlu mendapat
perhatian :
a. Denyut jantung janin
Frekuensi normal ialah antara 120-160 denyutan permenit, selama his
frekuensi ini bisa turun, tetapi di luar his kembali lagi kepada keadaan
semula. Peningkatan kecepatan denyut jantung umumnya tidak banyak
artinya, akan tetapi apabila frekuansi turun sampai di bawah 100/menit di
luar his dan lebih-lebih jika tidak teratur, hal itu merupakan tanda bahaya. Di
beberapa klinik elektrokardiograf janin digunakan untuk terus-menerus
mengawasi keadaan denyut jantung dala, persalinan.
b. Mekonium dalam air ketuban
Mekinium pada presentasi muka tidak ada artinnya. Akan tetapi pada
presentasi kepala mungkin menunjukkan gangguan oksigenasi dan harus
menimbulkan kewaspadaan. Adanya mekonium dalam air ketuban pada
presentasi kepala dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan bila
itu dapat dilakukan dengan mudah.
c. Pemeriksaan pH darah janin
Dengan menggunakan amnioskop yang dimasukkan lewat serviks dibuat
sayatan kecil pada kulit kepala janin, dan diambil contoh darah janin. Darah
ini diperiksa pH-nya adanya asidasis menyebabkan turunnya pH. Apabila ph
itu turun sampai di bawah 7,2 hal itu dianggap sebagai tanda bahaya oleh
beberapa penulis
Diagnosis gawwat janin sangat penting untuk dapat menyelamatkan dan
dengan demikian membatasi morbiditas dan mortalitas perinatal. Selain itu
kelahiran bayi yang telah menunjukkan tanda-tanda gawat janin mungkin
disertai dengan asfiksia neonatorum, sehingga perlu diadakan persiapan
untuk menghadapi keadaan tersebut. Jika terdapat asfiksia,tingkatnya perlu
dikenal utnuk dapat melakukan resusitasi yang sempurna. Untuk hal ini
diperlukan cara penilaian menurut APGAR. Nilai APGAr mempunyai
hubungan erat dengan beratnya asfiksia dan biasanya dinilai satu menit dan
lima menit setelah bayi lahir. Angka ini penting artinya karena dapat
dipergunakan sebagai pedoman utnuk menetukan cara resusitasi yang akan
dikerjakan,

V. Resusitasi Bayi
Untuk dapat hasil yang sempurna dalam resusitasi, prinsip dasar yang perlu
diingat ialah :
1) Menciptakan lingkungan yang baik bagi bayi dan mengusahakan
tetap bebasnya jalan napas
2) Memberikan bantuan pernapasan secara aktif kepada bayi dengan
usaha pernapasan buatan
3) Memperbaiki asidasis yang terjadi
4) Menjaga agar peredaran darah tetap baik
Tindakan-tindakan yang dilakukan pada bayi dapat dibagi dalam 2 golongan :
a) Tindakan umum
Tindakan ini dikerjakan pada setiap bayi tanpa menilai APGAR score.
Segera setelah bayi lahir, diusahakan agar bayi mendapat pemanasan yang
baik. Harus dicegah atau dikurangi kehilangan panas dari tubuhnya.
Penggunaan sinar lampu untuk pemanasan luar dan untuk mengeringkan
bayi, mengurangi evaporasi.
Bayi diletakkan dengan kepala lebih rendah dan penghisapan saluran
pernapasan bagian atas segera dilakukan. Hal ini harus dikerjakan hati-hati
untuk menghindarkan timbulnya kerusakan-kerusakan mukosa jalan napas,
spasmus laring, atau prolaps paru-paru. Bila bayi belum memperlihatkan
usaha pesrnapasan, rangsangan terhadapnya harus segera dikerjakan. Hal ini
dapat berupa rangsangan nyeri dengan cara memukul kedua telapak kaki,
menekan tendon archilles, atau pada bayi-bayi tertentu diberi suntikan
vitamin K.
b) Tindakan Khusus
Tindakan dikerjakan setelah tindakan umum diselenggarakan tanpa hasil.
Prosedur yang dilakukan disesuaikan dengan beratnya asfiksia yang timbul
pada bayi yang dinyatakan oleh tinggi rendahnya nilai APGAR SCORE.
1) Asfiksia berat (nilai apgar 0-3)
Resusitasi aktif dalam keadaan ini harus segera dilakukan. Langkah
utama ialah memperbaiki fentilasi paru-paru dengan memberikan O2
secara tekanan langsung dan berulang-ulang. Cara yang terbaik ialah
melakukan intubasi indotrakeal dan setelah kateter di masukkan ke
dalam trakea, O2 diberikan dengan tekanan tidak lebih dari 30ml air.
Tekana positif dikerjakan dengan meniupkan udara yang telah diperkaya
dengan O2 melalui kateter tadi. Untuk mencapai tekanan 30 ml air
peniupan dapat dilakukan dengan kekuatan kurang lebih 1/3-1/2 dari
tiupan maksimal dari tiupan yang dikerjakan.
2) Asfiksia Sedang (nilai apgar 4-6)
Di sini dapat di coba melakuka rangsangan utnuk menimbulkan reflek
pernapasan. Hal ini dapat dikerjakan selama 30-60 detik setelah
penilaian menurut apgar 1 menit. Bila dalam waktu tersebut pernapasan
tidak tumbul, pernapasan buatan harus segera dimulai.
c) Tindakan lain-lain dalam resusitasi
Penghisapan cairan lambung hanya dilakukan pada bayi-bayi tertentu untuk
menghindarkan kemungkinan timbulnya regurgitasi dan aspirasi, terutama
pada bayi yang sebelumnya menderita gawat janin, yang dilakukan dari ibu
yang mendapat obat-obata analgesik/anestesia dalam persalinannya, pada
bayi prematur dan sebagainya.
Tentang penggunaan obat-obatananaleptik seperti lobelin, koramin, fandit
dan lain-lain dewasa ini tidak diberikan lagi dan asfiksia berat bahkan
merupakan kontra indikasi untuk penggunaannya. Nalorphin merukan obat
satu-satunya yang dapat diberikan pada bayi apabila asfiksia yang terjadi
disebabkan oleh penekanan pernapasan akibat morfin atau pethidinn dan
obat-obatan yang berasal dari golongan itu yang diberikan kepada ibu
selama persalinan.