Anda di halaman 1dari 44

1.

Para Ulama Yang Mengharamkan


Berikut ini adalah hujjah pihak yang mengharamkan alat-alat musik:

Dari Alquran

Dalam Alquran, kita tidak akan temui ayat yang secara jelas dan tegas membicarakan alat musik,
baik memainkan dan mendengarkannya. Namun yang akan kita temui adalah banyak ayat yang
mengecam segala bentuk permainan dan perkataan yang melalaikan, sehingga dengan
menggunakan pendekatan tafsir –baik salaf dan khalaf- mereka mengartikannya sebagai musik,
nyayian, dan lagu. Artinya, bukan dari ayat itu sendiri yang secara apa adanya, tersurat
(manthuuq), menunjukkan kata-kata musik atau istilah lainnya tentang musik seperti alatuth
tharbi, Al-malaahi, dan Al-ma’aazif, tetapi penyebutan musik itu berasal dari interpretasi (tafsir)
para mufassir dan ulama, yang memungkinkan terjadinya tafsir-tafsir yang lain selain musik,
seperti yang akan kita lihat nanti.

Sebagai contoh surat Al-Baqarah ayat 102:

‫ب الل ن لهه لولرالء هظههوهرههمم ك لأ لن ن لههمم للا‬ ‫ه‬


‫لول ل نلما لجالءههمم لرهسوقل هممن هعن مهد الل ن لهه هملصهندقق لهلما لملعههمم ن لبللذ لفهريقق هملن ال ن لهذيلن أوهتوا ال مهكلتا ل‬
‫ب هكلتا ل‬
‫ي لمعل لهمولن لواتن لبلهعوا لما تلتمهلوا ال ن لشلياهطيهن‬

Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan
apa (Kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi kitab
(Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak
mengetahui (bahwa itu adalah kitab Allah) dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh
syaitan-syaitan …. (Al-Baqarah: 101-102)

Firman-Nya yang berbunyi: … dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-
syaitan.

‫وهي المعازف واللعب وكل شيء يصد عن ذكر ا‬

Itu adalah alat-alat musik, permainan, dan semua hal yang menghalangi manusia dari
mengingat Allah. (Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari, Jami’ul Bayan, 2/316. Imam Ibnu Abi
Hatim, Tafsir Alquran Al-‘Azhim, 1/186. Imam Ibnu Katsir, Tafsir Alquran Al-‘Azhim, 1/346.
Imam As-Suyuthi, Ad-Durul Mantsur, 1/234. Imam Asy-Syaukani, Fathul Qadir, 4/270)

Ayat lainnya: Surat Luqman ayat 6:

‫ضال غعلن غسعبيعل ا‬


ْ‫اع عبغغليعر ععللم‬ ‫س غملن غيلشغتعريِ لغلهغو اللغحعدي ع‬
‫ث لعيِي ع‬ ‫غوعمغن الانا ع‬
Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan Perkataan yang tidak
berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan (Luqman: 6)

Apa yang dimaksud perkataan tidak berguna (lahwul hadits)? Di sebutkan dalam Al-
Akhbar Al-Musnadah, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Itu adalah
alat musik dan penyanyi.” (Tafsir As-Sam’ani, 4/226)
Sementara Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin ‘Abbas, Jabir bin Abdillah, ‘Ikrimah, Al-
Hasan, Mujahid, dan mayoritas ahli tafsir mengatakan ayat ini turun tentang nyanyian.
Bahkan Abdullah bin Mas’ud bersumpah atas hal itu. Al-Hasan mengatakan juga: Al-
ma’aazif (alat-alat musik). Sementara Adh Dhahak mengatakan itu adalah syirik kepada
Allah. Ibnu Juraij mengatakan itu adalah drum (bedug). Abdullah bin Sahl At-Tastari
mengatakan: itu adalah berdebat tentang agama dan kebatilan. Qatadah mengatakan
bahwa maksudnya adalah ucapan orang-orang Quraisy yang mempermainkan Islam,
dan kebiasaan mereka dengan hal-hal yang batil. (Ibid. Lihat juga Imam Ibnu ‘Athiyah,
Tafsir Alquran, 4/345, Imam Al-Qurthubi, Al-Jaami’ Liahkamil Quran, 14/52)

Ayat lainnya:

‫صعدغيةة غفيِذويِقولا اللغعغذا غ‬


‫ب عبغما يِكنيِتلمْ غتلكفيِيِروغن‬ ‫صلغيِتيِهلمْ ععنغد اللغبلي ع‬
‫ت إعلا يِمغكاء غوغت ل‬ ‫غوغما غكاغن غ‬

Shalat mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan.
Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu. (Al-Anfal : 35)

Ini merupakan kecaman atas kebiasaan Arab jahiliyah, yang melakukan ibadah dengan
cara “hiburan” yaitu bersiul dan tepuk tangan. Maka, melalui pendekatan qiyas aula, jika
bersiul dan tepuk tangan saja merupakan hal yang buruk dan dikecam, apalagi nyanyian
dan musik.

Demikianlah dalil-dalil Alquran yang dianggap mengharamkan musik. Masih ada


beberapa ayat lainnya, tetapi ayat-ayat tersebut lebih pas kita bahas ketika membahas
Nyanyian dan Lagu.

Dalil-Dalil dari As-Sunnah

Berikut ini adalah hadits-hadits yang menjadi hujjah haramnya musik.

Hadits pertama:

‫ُّ غحادغثغنا غععطاييِة لبيِن غقلي س‬،‫ُّ غحادغثغنا غعلبيِد الارلحغمعن لبيِن غيعزيغد لبعن غجاعبسر‬،‫صغدغقيِة لبيِن غخالعسد‬
ُّ،‫س العكلغعبيي‬ ‫ غحادغثغنا غ‬:‫غوغقاغل عهغشايِمْ لبيِن غعاماسر‬
‫ غسعمغع الانعباي غ‬:‫اع غما غكغذغبعني‬
َّ‫صالى‬ ‫ غحادغثعني أغيِبو غعاعمسر أغ لو أغيِبو غمالعسك اللغلشغععر ي‬:‫ُّ غقاغل‬،ِ‫ي‬
‫ُّ غو ا‬،ِ‫ي‬ ‫غحادغثغنا غعلبيِد الارلحغمعن لبيِن غغلنسمْ الغلشغععر ي‬
‫ُّ غوالغخلمغر غوالغمغعاعز غ‬،‫حغر غوالغحعريغر‬
‫ف‬ ‫حيلوغن ال ع‬ ‫ُّ غيلسغت ع‬،ْ‫ “غلغييِكوغنان عملن أ يِامعتي أغلقغوامم‬,‫ا يِ غعغلليعه غوغسلاغمْ غييِقويِل‬

Berkata Hisyam bin ‘Ammar, berkata kepada kami Shadaqah bin Khalid, berkata kepada
kami Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, berkata kepada kami ‘Athiyah bin Qais Al-Kilabi,
berkata kepada kami Abdurrahman bin Ghanam Al-Asy’ari, dia berkata: berkata
kepadaku ‘Amir atau Abu Malik Al-Asy’ari, Demi Allah tidaklah dia membohongi aku: dia
mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Di antara umatku akan ada suatu kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr
(minuman keras), dan alat-alat musik. (HR. Bukhari No. 5590)

Hadits ini, bagi kelompok ini adalah SHAHIH (valid) dan SHARIH (jelas), shahih karena
diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya, dan Ahlus Sunnah telah ijma’ bahwa
Shahih Bukhari adalah kitab paling Shahih setelah Alquran. Sharih (jelas) karena nabi
tegas mengatakannya bahwa jika “akan datang masa-masa umatnya menghalalkan”
berarti dahulu hal itu diharamkan.

Imam Ibnu Hazm Rahimahullah mendhaifkan hadits ini karena Imam Bukhari
menulisnya secara mu’allaq, yaitu terputus sanadnya. Menurutnya Imam Bukhari tidak
meriwayatkan hadits ini secara langsung dari Hisyam bin Ammar, terbukti dengan apa
yang ditulis oleh Imam Bukhari sendiri, “Berkata Hisyam bin Ammar …”, bukan “Dari
Hisyam bin Ammar …”, maka menurut Imam Ibnu Hazm kalimat Berkata Hisyam bin
Ammar menunjukkan Beliau tidak mendengarkan langsung dari Hisyam bin Ammar,
sehingga Imam Ibnu Hazm menolak keshahihan hadits ini.

Namun, para ulama telah mengkritik keras Imam Ibnu Hazm. Di antara yang paling
bersemangat dan tajam adalah Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan,
katanya:

‫ُّ وعلقه تعليقا ة مجزوما ة به‬،‫ُّ أخرجه البخارى فىَّ “صحيحه” محتجا ة به‬،‫هذا حديث صحيح‬

“Hadits ini shahih, dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya, beliau
menjadikannya sebagai hujjah, dan Beliau meriwayatkannya secara mu’allaq namun
bernilai jazm (pasti lagi tegas).”

Lalu Beliau melanjutkan:

‫ُّ وزعمْ أنه‬،َّ‫ُّ نصرة لمذهبه الباطل فىَّ إباحة الملهى‬،ْ‫ُّ كابن حزم‬،‫ولمْ يصنع من قدح فىَّ صحة هذا الحديث شيئةا‬
‫ وجواب هذا الوهمْ من وجوه‬.‫ُّ لن البخارى لمْ يصل سنده به‬،‫منقطع‬:

Sedikit pun pihak yang mencacat hadits ini tidaklah bisa berbuat apa-apa, seperti Ibnu
Hazm, dia dalam rangka membela pendapatnya yang batil dalam membolehkan alat
musik, telah mengira hadits ini terputus (munqathi’) karena Imam Bukhari tidak
menyambungkan sanadnya. Ada beberapa sisi untuk menjawab keraguan ini (lalu Ibnul
Qayyim menyebut lima alasan) …. (Lihat Ighatsatul Lahfan, 1/259)

Lima koreksi Imam Ibnul Qayyim atas Imam Ibnu Hazm tersebut adalah:

Bahwasanya Imam Bukhari telah berjumpa dengan Hisyam bin Ammar, dan
mendengarkan hadits ini darinya. Jika Imam Bukhari mengucapkan, “Berkata Hisyam
(Qaala Hisyam) ” itu sama halnya dengan ucapannya, “Dari Hisyam (‘An Hisyam).”

Kalaupun Imam Bukhari tidak mendengarkan langsung dari Hisyam maka memang tidak
boleh memastikan darinya, tetapi yang benar adalah bahwa Beliau mendengarkan
hadits ini darinya. Hal ini ditunjukkan begitu banyaknya riwayat yang berasal darinya
(Hisyam), dan dia adalah seorang Syeikh (guru) yang begitu tenar. Sedangkan Imam
Bukhari merupakan hamba Allah yang sangat jauh dari sikap tadlis (suka menggelapkan
sanad dan matan hadits).

Imam Bukhari memasukan hadits ini dalam kitab Shahih-nya, dan ini sebagai hujjah
bahwa seandainya tidak shahih maka Beliau tidak akan mencantumkan di dalamnya.

Hadits ini oleh Imam Bukhari diriwayatkan secara mu’allaq namun dengan bentuk kata
jazm (pasti dan tegas yaitu qaala –telah berkata, pen) bukan dengan bentuk kata
tamridh (adanya cacat). Biasanya Imam Bukhari jika belum memutuskan sebuah hadits
shahih atau tidak atau menurutnya hadits itu tidak sesuai standar yang dia tetapkan,
maka dia akan menggunakan kata: Yurwa ‘an Rasulillah (diriwayatkan dari Rasulullah),
yudzkaru ‘anhu (disebutkan darinya), dan semisalnya. Ada pun jika Beliau mengatakan,
“Qaala Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ..” maka Beliau telah memastikan bahwa
hadits tersebut benar dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Seandainya alasan-alasan yang kami (Ibnul Qayyim) sampaikan di atas sama sekali
tidak berpengaruh, maka cukuplah kami katakan bahawa hadits ini shahih dan
bersabung sanadnya karena dikuatkan oleh berbagai riwayat lainnya. (Ighatsatul
Lahfan, 1/260)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah mengomentari Imam Ibnu Hazm, katanya:

‫فزعمْ بن حزمْ أنه منقطع فيما بين البخاريِ وهشامْ وجعله جوابا عن الحتجاج به علىَّ تحريمْ المعازف وأخطأ في‬
‫ذلك من وجوه والحديث صحيح معروف التصال بشرط الصحيح‬

Ibnu Hazm menyangka bahwa hadits ini terputus sanadnya antara Al-Bukhari dan
Hisyam, lalu dia menjadikannya itu sebagai jawaban atas hujah pengharaman alat-alat
musik. Beliau keliru dalam hal ini di banyak sisi, hadits ini shahih, dikenal bersambung
sanadnya sesuai syarat hadits shahih. (Fathul Bari, 10/52)

Hadits kedua:

‫ُّ غوأغغمغرعني غربَبي‬،‫ا غبغعغثعني غرلحغمةة لعللغعالغعميغن غويِهةدى لعللغعالغعميغن‬


‫ “إعان غ‬,ْ‫صالىَّ ا يِ غعلغليعه غوغسلاغم‬ ‫ غقاغل غريِسويِل ع‬:‫غعلن أغعبي أ يِغماغمغة غقاغل‬
‫ا غ‬
‫ُّ غوأغلمعر اللغجاعهلعاية‬،‫ب‬ ‫ف غواللغمغزاعميعر غواللغ لوغثاعن غوال ي‬
‫صل يِ ع‬ ‫عبغملحعق اللغمغعاعز ع‬

Dari Abu Umamah, dia berkata: Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
Sesungguhnya Allah mengutusku sebagai rahmat dan petunjuk bagi semesta alam,
Rabbku telah memerintahkan aku untuk membinasakan alat-alat musik, seruling,
berhala, salib dan perkara jahiliyah … (HR. Ahmad No. 22307, Ath-Thayalisi No. 1230,
Ath-Thabarani dalam Al-Kabir No. 7803, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 6108)

Hadits yang mulia ini menunjukkan bahwa alat-alat musik hendak dihancurkan oleh Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, itu menunjukkan kebenciannya terhadapnya serta
keharaman hukum atasnya. Tetapi, hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah, sebab dhaif
jiddan (sangat lemah – invalid text), sebagaimana dikatakan Syeikh Syu’aib Al-Arnauth,
lantaran ada dua perawi yang dhaif yaitu Faraj bin Fadhalah dan ‘Ali bin Yazid. (Ta’liq
Musnad Ahmad, 36/646)

Hadits ketiga:
‫ف غوغملسمخ غوغقلذ م‬
‫ُّ غفغقاغل غريِجمل عمغن‬،‫ف‬ ‫ عفي غهعذعه ال يِامعة غخلس م‬:‫ا يِ غعغلليعه غوغسلاغمْ غقاغل‬
‫صالىَّ ا‬
‫ا غ‬‫ُّ أغان غريِسوغل ع‬،‫صليسن‬
‫غعلن ععلمغراغن لبعن يِح غ‬
‫ت اليِخيِمويِر‬ ِ‫ف غو ي‬
‫شعرغب ع‬ ‫ إعغذا غظغهغر ع‬:‫ُّ غوغمغتىَّ غذاغك؟َ غقاغل‬،‫ا‬
ِ‫ت الغقليغنا ي‬
ِ‫ت غوالغمغعاعز ي‬ ‫ غيا غريِسوغل ع‬:‫الليِملسلععميغن‬

Dari ‘Imran bin Hushain, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Akan datang pada
umat mereka ditenggelamkan, rupa mereka berubah, dan dilempari batu.” Mereka
bertanya, “Wahai Rasulullah, kapan hal itu terjadi?” Beliau bersabda, “Ketika nampak
penyanyi wanita, musik-musik, dan diminumnya khamr.” (HR. At-Tirmidzi No. 2212,
katanya: hadits ini gharib. Ar-Ruyani dalam Musnadnya No. 132, Ath-Thabarani dalam
Al-Kabir No. 5810. Lafazh ini milik At-Tirmidzi. Dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam
Shahihul Jami’ No. 5467)

Hadits ini menceritakan masa depan umat Islam yang kelam, yakni ketika musik,
biduanita, dan khamr meraja lela. Ini menunjukkan bahwa musik adalah hal diharamkan
bahkan disetarakan dengan khamr.

Hadits keempat:

‫ يِيغسيموغنغها عبغغليعر‬,‫س عملن أ يِامعتي اللغخلمغر‬


‫ غلغيلشغرغبان أ يِغنا م‬,‫صالىَّ ا يِ غعغلليعه غوغسلاغمْ أغانيِه غقاغل‬
‫ا غ‬ ‫ُّ غعلن غريِسوعل ع‬،ِ‫ي‬ َ‫غعلن أغعبي غمالعسك اللغلشغععر ب‬
‫ف ا يِ عبيِهيِمْ اللغلر غ‬
‫ غوغيلجغعيِل عملنيِهلمْ عقغرغدةة غوغخغناعزيغر‬,‫ض‬ ِ‫ غيلخعس ي‬,‫ف‬ ِ‫ب غعغلىَّ يِريِءوعسعهيِمْ اللغمغعاعز ي‬ ‫ غويِت ل‬,‫السعمغها‬
ِ‫ضغر ي‬

Dari Abi Malik Al-Asy’ari, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda:

“Manusia di antara umatku akan benar-benar minum khamr, mereka menamakannya


dengan bukan namanya, dipukulkan di hadapan mereka alat-alat musik, Allah
membenamkan mereka di bumi, dan menjadikan sebagian mereka sebagai kera dan
babi.” (HR. Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra No. 17383 dan 20989, dengan tambahan:
mughanniyat (biduanita), Ibnu Majah No. 4020, Ath-Thabarani, Al-Kabir No. 3419.
Dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Ghayatul Maram No. 402)

Hadits kelima:

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
bersabda:

‫ُّ غوالليِكوغبيِة‬،‫ُّ غواللغمليعسيِر‬،‫ُّ أغ لو يِحبَرغمْ اللغخلميِر‬،‫ا غحارغمْ غعغلاي‬


‫إعان ا غ‬
Sesungguhnya Allah haramkan atasku, atau diharamkan khamr, judi, dan Al-Kubah.
(HR. Abu Daud No. 3696.. Abu Ya’la No. 2729, Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra No.
20991. Dishahihkan oleh Imam Ibnu Hibban. (Tuhfatul Muhtaj Ila Adillatil Minhaj No.
1792), Syeikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah No. 2425. Syeikh Syu’aib Al-
Arnauth (Ta’liq Musnad Ahmad, 4/280). Syeikh Husein Salim Asad dalam Musnad Abu
Ya’la mengatakan: para perawinya tepercaya).

Imam Abu Daud berkata: Sufyan bertanya kepada Ali bin Badzimah tentang Al-Kubah,
dia menjawab: Ath-Thabl – drum/gendang. (Sunan Abi Daud No. 3639). Sementara
Imam Ibnu Abi Syaibah mengatakan Al-Kubah adalah Al-‘Uud– kecapi. (Al-Mushannaf
No. 24080). Imam Ibnul Atsir mengatakan: Al-Kubah adalah Ath-Thablush Shaghir –
gendang kecil. (Jami’ul Ushul, 5/97). Imam Ahmad bertanya kepada Yahya bin Ishaq,
apa itu Al-Kubah? Beliau menjawab: Thabl – drum. (Al-Badrul Munir, 9/649). Imam
Muhammad bin Katsir mengatakan, Al-Kubah adalah dadu menurut bahasa penduduk
Yaman. (Imam Abu ‘Ubaid, Gharibul Hadits, 4/278)

Hadits keenam:

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
bersabda:

‫ُّ غوالليِكوغبغة‬،‫ُّ غواللغمليعسغر‬،‫إعان اغ غحارغمْ غعلغلييِكعمْ اللغخلمغر‬

Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian khamr, judi, dan Al-Kubah. (HR. Ahmad
No. 2625, Syeikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan: isnadnya shahih. Lihat Ta’liq Musnad
Ahmad, 4/381. Al-Baihaqi dalam Al-Adab No. 628)

Hadits ketujuh:

Dari Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

‫ غنغهىَّ غععن اللغخلمعر غواللغمليعسعر غوالليِكوغبعة غوالليِغغبليغراعء‬:ْ‫صالىَّ ا يِ غعلغليعه غوغسلاغم‬ ‫أغان غنعباي ا‬
‫اع غ‬

Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang khamr, Al-Kubah, dan Al-Ghubaira.

(HR. Abu Daud No. 3685. Abu Daud mengatakan bahwa menurut Imam Abu ‘Ubaid, Al-
Ghubaira adalah minuman keras yang terbuat dari perasan Jagung. Di dalam sanadnya
terdapat Al-Walid bin ‘Abdah, Imam Al-Mundziri mengatakan: Walid bin ‘Abdah menurut
Imam Abu Hatim adalah: majhul (tidak dikenal). Ibnu Yunus mengatakan dalam Tarikh
Al-Mishriyin bahwa Walid bin ‘Abdah adalah pelayannya Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash,
Yazid bin Habib meriwaytkan hadits darinya, dan hadits ini ma’lul – memiliki cacat. Lihat
Mukhtashar, 5/268-269. Namun dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam As-Silsilah
Ash-Shahihah No. 1708)

Hadits kedelapan:

Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallambersabda:

‫صوتان ملعونان في الدنيا والخرة مزمار عند نعمة ورنة عند مصيبة‬

“Ada dua suara yang dilaknat di dunia dan akhirat; suara seruling ketika mendapatkan
kenikmatan dan raungan ketika musibah.” (HR. Al-Bazzar No. 7513, Alauddin Al-Muttaqi
Al-Hindi, Kanzul ‘Ummal No. 40661, 40673. Syeikh Al-Albani menghasankan. Lihat
Shahih At-Targhib wat Tarhib No. 3527. Imam Al-Haitsami mengatakan: para perawinya
terpercaya. Lihat Majma’uz Zawaid, 3/13. Dihasankan pula oleh Syeikh Abdul Malik bin
Abdullah Duhaisy dalam tahqiqnya terhadap kitab Al-Ahadits Al-Mukhtarah-nya Imam
Dhiya’uddin Al-Maqdisi No. 2200. Sementara Imam Al-Munawi mengatakan: isnadnya
shahih. Lihat At-Taisir bi Syarhil Jaami’ Ash-Shaghir, 2/95)

Kata laknat di sini, menunjukkan haramnya hal tersebut dilakukan. Bahkan Imam Al-
Qurthubi dan Imam Ibnu Taimiyah mengatakan –seperti yang dikutip Imam Al-Munawi:

‫بل فيه دللة علىَّ تحريمْ الغناء فإن المزمار هو نفس صوت النسان يسمىَّ مزمارا كما في قوله لقد أوتيت مزمارا‬
َّ‫من مزامير آل داود انتهى‬

Bahkan dalam hadits ini terdapat petunjuk haramnya nyanyian, sebab seruling itu
sejenis dengan suara manusia, dan suara tersebut dinamakan dengan seruling
sebagaimana dalam sabdanya (tentang suara Abu Musa Al-Asy’ari ketika membaca
Alquran, pen), “Engkau telah diberikan seruling di antara seruling-seruling keluarga
Daud.” Selesai. (Imam Al-Munawi, Faidhul Qadir, 4/210)

Hadits kesembilan:

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
bersabda:

ِ‫اللغجغر ي‬
‫س غمغزاعمييِر الاشليغطاعن‬

Lonceng adalah seruling-seruling syetan. (HR. Muslim No. 2114, Abu Daud No. 2556,
An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra No. 8761)

Celaan ini untuk lonceng, padahal suaranya masih sederhana, apalagi untuk alat musik
yang mendayu-dayu dan mempengaruhi hati dan jiwa?

D. Komentar Para Ulama Yang Mengharamkan

Berikut ini adalah komentar para ulama yang mengharamkan musik.

Abdullah bin ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma

Beliau mengatakan:

ْ‫الدف حرامْ والمعازف حرامْ والكوبة حرامْ والمزمار حرام‬

“Rebana adalah haram, Al-ma’azif adalah haram, gendang adalah haram, dan seruling
adalah haram.” (HR. Al-Baihaqi, 10/222. Dari jalan Abdul Karim Al-Jazari dari Abu
Hasyim Al-Kufi. Syeikh Al-Albani mengatakan: isnadnya shahih. Lihat Tahrim Alat Ath-
Tharb, Hal. 92. Cet. 3, 1426H-2005M. Muasasah Ar-Rayyan)

Abdullah bin ‘Umar Radhiallahu ‘Anhuma

Imam Az-Zaila’i Rahimahullah menceritakan:

‫ف غفغكغسغرهيِ عفي غرلأعسعه‬


‫س غشليةئا عملن اللغمغعاعز ع‬ ‫اع لبعن يِعغمغر أغانيِه غرغأى عفي غيعد غبلع ع‬
‫ض الانا ع‬ ‫يِ غعلن غعلبعد ا‬
‫غويِرعو غ‬

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Beliau melihat di tangan sebagian orang
adanya alat-alat musik, lalu Beliau menghancurkan alat-alat itu di hadapannya. (Tabyinul
Haqa-iq, 5/238)

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah menyebutkan:

‫ُّ غهلل‬،‫ غيا غناعفيِع‬:‫ُّ غوغقاغل علي‬،‫ُّ غوغنغأى غعلن الاطعريعق‬،‫صغبغعليعه عفي أ يِيِذغنليعه‬ ‫ غفغو غ‬:‫ُّ غقاغل‬،‫ غسعمغع البيِن يِعغمغر عملزغماةرا‬:‫ُّ غقاغل‬،‫غوغرغوى غناعفمع‬
‫ضغع إ ل‬
‫ل‬ ‫ يِكلنت غمغع الانعببَي – غ‬:‫ُّ غوغقاغل‬،‫صغبغعليعه عملن أ يِيِذغنليعه‬
‫صالىَّ ا‬
‫ا يِ غعغلليعه غوغسلاغمْ – غفغسعمغع عمثغل‬ ‫ غفغرغفغع إ ل‬:‫ غقاغل‬.‫ غل‬:‫ غفقيِللت‬:‫غتلسغميِع غشليةئا؟َ غقاغل‬
‫ل‬
‫صغنغع عمثغل غهغذا‬ ‫ُّ غف غ‬،‫غهغذا‬

Nafi’ meriwayatkan, katanya: Ibnu Umar mendengar suara seruling, lalu dia menutup
kedua telinganya dengan jarinya, lalu dia menjauh dari jalan dan berkata kepadaku,
“Wahai Nafi’, apakah kamu masih mendengar suaranya?” Aku menjawab, “Tidak.” Lalu
Ibnu Umar melepaskan jarinya dari kedua telinganya. Lalu Ibnu Umar berkata: Dulu aku
bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dia mendengar suara ini, dan dia
melakukan seperti ini (maksudnya menutup telinga, pen).” (Al-Mughni, 10/154)

Namun hadits yang disebut Ibnu Umar tersebut adalah dhaif. Imam Ibnu Qudamah
mengatakan, “Diriwayatkan oleh Al-Khalal melalu dua jalur, juga diriwayatkan oleh Abu
Daud dalam Sunan-nya, katanya: hadits ini munkar.” (Ibid)

Umar bin Abdul ‘Aziz Radhiallahu ‘Anhu

Imam Al-Auza’i mengatakan bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengirim surat kepada
Umar bin Al-Walid, di antara bunyi suratnya:

ْ‫ف غواللغمغزاعميغر عبلدغعمة عفي اللعلسغلعم‬ ‫غوإعلظغهايِر غ‬


‫ك اللغمغعاعز غ‬

“ … penyebaranmu terhadap alat-alat musik dan seruling, itu adalah bid’ah dalam Islam
…” (Imam An-Nasa’i, As-Sunan Al-Kubra No. 4421)

Imam Al-Hasan Al-Bashri Radhiallahu ‘Anhu

Beliau mengatakan:

‫ليس الدفوف من أمر المسلمين في شيء وأصحاب عبد ا يعني ابن مسعود كانوا يشققونها‬

“Rebana sama sekali bukan berasal dari budaya kaum muslimin, dan para sahabat
Abdullah bin Mas’ud merobek-robeknya.” (Tahrim Alat Ath-Tharb, Hal. 103-104)

Imam Muhammad bin Al-Hasan Rahimahullah

Beliau adalah murid sekaligus kawan Imam Abu Hanifah, katanya:

‫ُّ غواللغفغساعد غفغل غتيِكويِن أغلمغواةل غفغل غييِجويِز غبلييِعغها‬،‫ضوغعمة لعللعفلسعق‬ ‫غل غيلنغععقيِد غبلييِع غهعذعه اللغلشغياعء؛ِ علغانغها آغل م‬
ِ‫ت يِمغعادةم عللاتغلبَهي عبغها غم لو ي‬

Tidak boleh berkumpul untuk membeli benda-benda ini (alat-alat musik), karena ini alat-
alat yang biasanya dipakai untuk melenakan dan merupakan zona kefasikan dan
kerusakan, maka janganlah menjadikannya sebagai harta kekayaan, dan tidak boleh
melakukan jual-beli barang tersebut. (Imam Al-Kisani, Bada’i Ash-Shana’i, 5/144)
Imam Asy-Syafi’i Radhiallahu ‘Anhu

Al-Qadhi Abu Thayyib menceritakan:

‫وحكي عن الشافعي أنه كان يكره الطقطقة بالقضيب ويقول وضعته الزنادقة ليشتغلوا به عن القرآن‬

Diceritakan dari Imam Asy-Syafi’i, bahwa Beliau membenci mengetuk-ketuk batang


pohon dan mengatakan itu adalah perbuatan orang zindiq yang dengannya orang
menjadi lalai dari Alquran. (Imam Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin, 2/269)

Imam Asy-Syafi’i berkata:

‫ص اللغكلسيِر غوإعلن لغلمْ غييِكلن‬


‫صل يِيِح لعغغليعر اللغمغلعهي غفغعلغليعه غما غنغق غ‬ ‫طلنيِبوةرا أغ لو عملزغماةرا أغ لو غكغبةرا غفإعلن غكاغن عفي غهغذا غشليمء غي ل‬
ِ‫غولغ لو غكغسغر غليِه ي‬
ْ‫يِ أغ لو يِملسغتألغممن أغ لو غكغسغرغها يِملسلعمم‬
‫صغراعنيي أغ لو غييِهوعد ي‬
‫صغراعنيي لعيِملسلعسمْ أغ لو غن ل‬
‫صل يِيِح إال لعللغمغلعهي غفغل غشليغء غعلغليعه غوغهغكغذا لغ لو غكغسغرغها غن ل‬
‫غي ل‬
‫حسد عملن غهيِؤغلعء أغلبغطللت غذلعغك يِكلايِه‬ ‫لعغوا ع‬

Seandainya seseorang menghancurkan tamburin, seruling, atau gendang, yang jika


benda-benda ini difungsikan selain alat musik maka dia mesti membayar ganti rugi,
tetapi jika benda-benda ini fungsinya hanyalah sebagai alat musik, maka dia tidak usah
mengganti rugi. Demikian pula jika yang menghancurkan adalah seorang Nasrani
terhadap milik seorang muslim, atau dilakukan oleh Yahudi, kafir musta’min, atau orang
Islam yang menghancurkan milik mereka, maka semua itu adalah batil (tidak usah
diganti rugi, pen). (Al-Umm, 4/225)

Imam Asy-Syafi’i menganggap bahwa alat-alat musik yang fungsinya memang hanya
untuk musik, maka ketika dihancurkan tidak ada kewajiban ganti rugi, siapa pun
pelakunya dan pemiliknya.

Imam Abul Hasan Al-Muhamili Rahimahullah mengatakan tentang sikap madzhab Syafi’i
tentang menjual alat musik:

‫ُّ والبيع صحيح؛ِ لمكان أن يستعمله في‬،‫ُّ والططبل وما شابه ذلك‬، ‫ اليطنبور‬:‫ُّ مثل‬،‫ويِيكره بيع الخشب ممن يتخذ الملهي‬
‫غيره‬

Hal yang dibenci menjual kayu untuk dijadikan alat musik seperti tamburin, gendang,
dan semisalnya. Menjualnya memang sah jika untuk difungsikan selain untuk itu
(musik). (Al-Lubab fil Fiqhisy Syafi’i, 1/245)

Imam Ibnu Nujaim Al-Hanafi Rahimahullah

Beliau berkata:

‫ب‬‫ص س‬ ‫ت الليِملطعرغبيِة عملن غغليعر اللعغغناعء غكاللعملزغماعر غسغوامء غكاغن عملن يِعوسد أغ لو غق غ‬ ِ‫غوعفي اللعملعغراعج اللغمغلعهي غن لوغعاعن يِمغحارممْ غويِهغو اللغل ي‬
‫اغ غبغعغثعني غرلحغمةة‬ ‫صغلةيِ غوالاسغليِمْ – غقاغل »إان ا‬ ‫غكالاشاباغبعة أغ لو غغليعرعه غكالليِعوعد غواليطلنيِبوعر لعغما غرغوى أغيِبو أ يِغماغمغة أغانيِه – غعغلليعه ال ا‬
‫ف‬ ‫اع غتغعاغلىَّ غوالان لويِع الاثاعني يِمغبامح غويِهغو اليد ي‬
‫صيد غعلن عذلكعر ا‬‫ب يِم ع‬ ‫ف غواللغمغزاعميعر«ِ غوعلغانيِه يِملطعر م‬ ‫لعللغعالغعميغن غوأغغمغرعني عبغملحعق اللغمغعاعز ع‬
‫ث يِسيِروسر غويِيلكغرهيِ عفي غغليعرعه‬‫عفي البَنغكاعح غوعفي غملعغناهيِ غما غكاغن عملن غحاعد ع‬

Tingkatan hukum alat-alat musik ada dua jenis, Pertama. Yang diharamkan yaitu alat-
alat musik untuk nyanyian yang dimainkan tanpa lagu seperti seruling, sama saja baik
yang terbuat dari kayu atau rotan, seperti klarinet atau alat lainnya seperti kecapi,
tamburin, berdasarkan riwayat dari Abu Umamah bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam bersabda, “Allah mengutusku sebagai rahmat bagi semesta alam dan
memerintahkan aku menghancurkan alat-alat musik dan seruling”, karena itu merupakan
nyanyian yang dapat menghalangi ingatakn kepada Allah Taala.

Kedua, yang dibolehkan yaitu rebana dalam pernikahan, semakna dengan ini adalah
kondisi apa saja berupa peristiwa yang menyenangkan, dan dimakruhkan rebana diluar
waktu ini. (Al-Bahru Ar-Ra-iq, 7/88)

Imam Abul Ma’ali Al-Bukhari Al-Hanafi Rahimahullah

Beliau mengatakan:

‫ُّ وقد قال عليه‬،ْ‫ُّ وغير ذلك من الملهي حرام‬،‫وفي فتاوى أهل سمرقند استماع صوت الملهي كالضرب بالقصب‬
‫ استماع الملهي معصية والجلوس عليها فسق والتلذذ بها من الكفر‬:ْ‫السلم‬

Dalam Fatawa Ahli Samarqandi disebutkan bahwa mendengarkan suara hiburan seperti
memukul rotan dan alat hiburan lainnya adalah haram. Sebagaimana sabda nabi:
mendengarkan alat hiburan adalah maksiat, duduk mendengarkannya adalah fasiq,
menikmatinya adalah kufur. (Al-Muhith Al-Burhani, 5/369)

Imam Ibnul Qayyim mengatakan hadits yang dimaksud ini tidaklah sampai Rasululah
Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam.

Imam Abu Abdillah Zainuddin Abdul Qadir Al-Hanafi Rahimahullah

Beliau menuliskan:

‫صوت الملهي كلغها حغرامْ غفعإن سمع غبلغغتة غفيِهغو غملعيِذور ثامْ يلجغتهد غأن غل يسمع مهما أمكنه‬
‫السعتغماع الملهي غوغسغماع غ‬

Mendengarkan secara sengaja alat-alat musik, semuanya adalah haram, sedangkan


mendengarkannya secara tidak diduga hal itu dimaafkan, kemudian hendaknya dia
bersungguh-sungguh untuk tidak mendengarkannya sebisa mungkin. (Tuhfatul Muluk,
Hal. 238)

10. Imam Ad-Dasuqi Al-Maliki Rahimahullah

Beliau mengatakan:

‫س غمغع غكغراغهعة‬ ‫جيِح أغان اليد ا‬


‫ف غواللغكغبغر غجاعئغزاعن لعيِعلر س‬ ‫ُّ غوغل غيللغزيِمْ عملن غجغواعزغها غجغوايِز عكغراعئغها غوالارا ع‬،‫غوعقيغل عهغي غجاعئغزةم عفي البَنغكاعح‬
‫ف غحغراممْ غكاللغجعميعع عفي غغليعر البَنغكاعح غفغيلحيِريِمْ عكغرايِؤغها‬‫ُّ غوأغان اللغمغعاعز غ‬،‫اللعكغراعء‬

Dikatakan: boleh dimainkan dalam pernikahan. Pembolehan itu tidaklah lantas boleh
juga disewakan. Pendapat yang lebih kuat adalah rebana dan gendang itu boleh
dimainkan ketika pesta, namun makruh menyewanya, sesungguhnya semua alat-alat
musik haram dimainkan di luar nikah, maka haram juga menyewa di luar nikah. (Hasyiah
Ad-Dasuqi ‘Ala Syarhil Kabir, 4/18)

11. Imam Abu Muhammad Al-Qairuwani Al-Maliki Rahimahullah

Beliau mengatakan:

‫ول يحل لك أن تتعمد سماع الباطل كله ول أن تتلذذ بسماع كلمْ امرأة ل تحل لك ول سماع شيء من الملهي‬
‫والغناء‬

Tidak dihalalkan bagimu menyengaja mendengarkan kebatilan (kesia-siaan) semuanya,


dan jangan pula menikmati suara ucapan perempuan, itu tidak halal bagimu, dan tidak
pula halal mendengarkan alat-alat musik dan nyanyian. (Imam Abu Muhammad Al-
Qairuwani, Ar-Risalah, Hal. 154)

12. Imam Ibnu Rusyd Al-Maliki Rahimahullah

Beliau mengatakan:

‫ُّ ول من الملهي المطربة كالطبل والزمر وما كان في معناه‬،‫ول يجوز تعمد حضور شيء من اللهو واللعب‬

Tidak boleh menyengaja hadir ke tempat hiburan, permainan, dan juga alat-alat musik
yang diiringi nyanyian, seperti seruling, dan apa-apa yang semakna. (Al-Muqaddimat,
3/462)

Tapi Beliau juga mengatakan:

‫ُّ وكراهتهما‬،‫ إباحتها جميعا‬:‫ُّ والكبر والمزهر علىَّ ثلثة أقوال‬،‫ورخص من ذلك في النكاح الدف وهو الغربال باتفاق‬
‫ واختلف هل هو من قبيل المباح‬.‫ للنساء والرجال‬:‫ُّ وقيل‬،‫ للنساء دون الرجال‬:‫ُّ قيل‬،‫ُّ وإباحة الكبر دون المزهر‬،‫جميعا‬
‫ُّ أو هو من قبيل المباح الذيِ تركه أحسن من فعله وبال التوفيق‬،‫الذيِ يستويِ فعله وتركه‬

Diringankan musik pada pernikahan seperti rebana, menurut kesepakatan ulama, ada
pun gendang dan kecapi ada tiga pendapat: 1. boleh semua, 2. makruh keduanya, 3.
membolehkan gendang, tapi tidak bagi kecapi. Ada yang mengatakan: boleh bagi
wanita, laki-laki tidak. Ada yang bilang: boleh bagi wanita dan laki-laki juga. Juga
terdapat perbedaan, apakah dari sisi kebolehannya itu sama saja antara memainkan
dan meninggalkannya, ataukah meninggalkannya lebih baik dibanding memainkannya.
(Ibid)

13. Imam Al-Haramain Asy-Syafi’i Rahimahullah

.‫ وفي اليراع وجهان‬.‫ُّ وهي ذرائع إلىَّ كبائر الذنوب‬،ْ‫ُّ وكلها حرام‬،‫والبداية في هذا الفن بتحريمْ المعازف والوتار‬
ْ‫ وكان شيخي يقطع بتحريم‬.‫ُّ فوجهان‬،‫ُّ فإن كان‬،‫ب الدف إذا لمْ تكن عليه جلجل‬ ِ‫ول غي لحرمْ ضر ي‬

Awal dari masalah ini adalah pengharaman atas alat-alat musik, senar, dan semua alat
musik, hal itu merupakan tindakan preventif dari dosa-dosa besar. Pada klarinet ada dua
pendapat. Tidak diharamkan memukul rebana jika tidak terdapat lonceng, jika ada
lonceng, maka ada dua pendapat, sedangkan guruku menilainya itu haram. (Nihayatul
Mathlab fi Dirayatil Madzhab, 19/22)
14. Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i Rahimahullah

Beliau mengatakan:

‫ُّ علغانغها يِمغحارغميِة‬،‫ب عفي إعلبغطالعغها غشليمء‬ ‫ُّ غل غي ع‬،‫ب‬


ِ‫ج ي‬ ‫ُّ غوغكغذا ال ا‬،‫ت اللغمغلعهي غكاللغبلرغبعط غواليطلنيِبوعر غوغغليعرعهغما‬
‫صغنيِمْ غوال ا‬
ِ‫صعلي ي‬ ِ‫آغل ي‬
‫صلنغععة‬‫ُّ غوغل يِحلرغمغة لععتللغك ال ا‬،‫اعللسعتلعغماعل‬

Alat-alat musik seperti tamburin dan lainnya, begitu pula berhala dan salib, tidaklah ada
kewajiban ganti rugi apa pun ketika membatalkannya (dalam jual beli, pen), sebab itu
adalah benda-benda yang diharamkan untuk dimanfaatkan dan itu bukanlah benda yang
terhormat. (Raudhatuth Thalibin, 5/17)

Tegas Imam An-Nawawi mengatakan alat-alat musik adalah benda Al-muharramah


(yang diharamkan). Beliau juga mengatakan:

‫ويكره الغناء بل آلة وسماعه ويحرمْ استعمال آلة من شعار الشربة كطنبور وعود وصنج ومزمار عراقي وإسماعها‬
ْ‫ الصح تحريمه وا أعلم‬:‫ قلت‬.‫ل يراع في الصح‬

Dimakruhkan mendengarkan nyanyian yang tanpa alat musik. Diharamkan memainkan


dan mendengarkan alat musik yang biasa dipakai sebagai simbol para peminum seperti
tamburin, kecapi, shanju, seruling Iraq dan mendengarkannya tanpa yara’. Aku berkata:
yang benar yara’ (semacam seruling) adalah haram. Wallahu A’lam . (Minhajuth Thalibin,
1/345)

15. Imam Al-Ghazali Asy-Syafi’i Rahimahullah

Beliau mengatakan:

‫شلرب غفحرمْ الاتغشيبه بهمْ غوأما اليدف عإن لمْ يكن عفيعه‬ ‫المعازف والوتار حغرامْ علغانغها تشوق إعغلىَّ ال ط‬
‫شلرب غويِهغو شعار ال ط‬
ْ‫جلجل غفيِهغو غحغلل ضرب عفي غبيت غريِسول ا صلىَّ ا غعغلليعه غوسلم‬

‫صح غأنه غل يحرمْ والمزمار اللععغراعقطي حغرامْ علغانيِه غعاغدة أهل‬


‫غوعإن غكاغن عفيعه جلجل غفغولجغهاعن غوعفي اليراع غولجغهان غوالغ غ‬
‫ال ط‬
‫شلرب‬

Alat-alat musik dan senar adalah haram, sebab hal tersebut dapat membangkitkan
seseorang untuk minum (khamr), dan itu merupakan syi’arnya para peminum, dan
diharamkan menyerupai mereka. Ada pun rebana jika tidak ada lonceng maka itu boleh,
itu pernah dimainkan di rumah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tapi jika ada
loncengnya maka ada dua pendapat, dan jika memiliki yara’ (semacam seruling) juga
ada dua pendapat, dan yang benar adalah tidak diharamkan, sedangkan seruling Iraq
adalah haram karena itu biasa dimainkan oleh para peminum khamr. (Al-Wasith fil
Madzhab, 7/350)

Kita lihat Imam Al-Ghazali mengharamkan semua alat musik dan yang memiliki senar
(gitar, biola, kecapi, ukolele, harpa, dan semisalnya), kecuali untuk rebana, beliau
membolehkannya, termasuk rebana yang memiliki lonceng dan yara’ Beliau memilih
tidak mengharamkannya, kecuali seruling Iraq. Imam Zakaria Al-Anshari menyebut yara’
‫‪adalah Asy-syababah – klarinet.‬‬

‫‪16. Imam Abul Hasan Al-Mawardi Asy-Syafi’i Rahimahullah‬‬

‫‪Beliau mengatakan:‬‬

‫ت يِملطعر س‬
‫ب إعغذا النغفغرغد‬ ‫غفأ غاما اللغحغرايِمْ‪ :‬غفالليِعويِد غواليطلنيِبويِر غواللعملعغزغفيِة غوالاطلبيِل غواللعملزغمايِر غوغما أغللغهىَّ عب غ‬
‫ص لو س‬

‫‪Ada pun musik yang diharamkan adalah kecapi, tamburin, gendang, seruling, dan suara‬‬
‫)‪nyanyian apa saja yang melalaikan biar pun sendirian. (Al-Hawi Al-Kabir, 17/191‬‬

‫‪17. Imam Ibnu Taimiyah Al-Hambali Rahimahullah‬‬

‫‪Beliau mengatakan:‬‬

‫ب اللغعئامعة اللغلرغبغععة غتلحعرييِميِه‬


‫ف المصلصلة غفغملذغه يِ‬ ‫‪.‬غفأ غاما الليِملشغتعميِل غعغلىَّ الاشاباغبا ع‬
‫ت غواليديِفو ع‬

‫‪Ada pun musik yang mencakup klarinet dan rebana maka madzhab imam yang empat‬‬
‫)‪mengharamkannya. (Majmu’ Al-Fatawa, 11/535‬‬

‫‪18. Imam Ibnu Qudamah Al-Hambali Rahimahullah‬‬

‫‪Beliau menegaskan musik ada tiga hukum, haram, mubah, dan makruh, berikut ini‬‬
‫‪rinciannya:‬‬

‫ب اللغ لوغتاعر غوالاناغيا يِ‬


‫ت‪ ُّ،‬غواللغمغزاعمييِر يِكليغها‪ ُّ،‬غوالليِعويِد‪ ُّ،‬غواليطلنيِبويِر‪ُّ،‬‬ ‫ضلر يِ‬
‫ب؛ِ يِمغحارممْ‪ ُّ،‬غويِهغو غ‬
‫ضيِر س‬ ‫عفي اللغمغلعهي‪ :‬غوعهغي غعغلىَّ غثغلغثعة أغ ل‬
‫ا يِ غعلنيِه – غعلن الانعببَي‬ ‫ضغي ا‬ ‫غ‬
‫ت غشغهاغديِتيِه؛ِ علانيِه يِيلرغوى غعلن غعلعيي – غر ع‬ ‫غ‬ ‫غواللعملعغزغفيِة‪ ُّ،‬غوالارغبا يِ‬
‫ب‪ ُّ،‬غوغنلحيِوغها‪ ُّ،‬غفغملن أغداغمْ السعتغماغعغها‪ ُّ،‬يِراد ل‬
‫ل‬
‫صغلةة‪ ُّ،‬غحال عبعهلمْ اللغبغليِء«ِ ‪ .‬غفغذغكغر عملنغها إظغهاغر‬ ‫س غعلشغرغة غخ ل‬ ‫يِ‬
‫ت عفي أامعتي غخلم غ‬ ‫غ‬
‫ا يِ غعغلليعه غوغسلاغمْ – أانيِه غقاغل‪» :‬إغذا غظغهغر ل‬ ‫صالىَّ ا‬ ‫– غ‬
‫ف غواللغمغلعهي‬ ‫اللغمغعاعز ع‬

‫‪Tentang musik, ada tiga jenis: Diharamkan, yaitu memainkan musik yang bersenar,‬‬
‫‪semua jenis seruling, kecapi, tamburin, mi’zafah, rebab, dan semisalnya. Barang siapa‬‬
‫‪yang rutin mendengarkannya maka dia tertolak kesaksiannya. Sebab diriwayatkan dari‬‬
‫‪Ali bin Thalib Radhiallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “jika muncul‬‬
‫‪pada umatku 15 hal, maka bencana halal bagi mereka,” lalu nabi menyebutkan salah‬‬
‫)‪satunya adalah alat-alat musik dan hiburan. (Al-Mughni, 10/153‬‬

‫‪Ada pun jenis yang boleh adalah rebana pada saat pernikahan dan hari-hari yang‬‬
‫‪menyenangkan, diluar itu makruh. Katanya:‬‬

‫ف«ِ ‪.‬‬ ‫ضعريِبوا غعلغليعه عباليد بَ‬ ‫ا يِ غعلغليعه غوغسلاغمْ – غقاغل‪» :‬أغلعلعيِنوا البَنغكاغح‪ ُّ،‬غوا ل‬ ‫صالىَّ ا‬ ‫ف؛ِ غفإعان الانعباي – غ‬ ‫ب يِمغبامح؛ِ غويِهغو اليد ي‬ ‫ضلر م‬‫غو غ‬
‫ب الاشاعفععبَي‪ ُّ،‬أغانيِه غملكيِروهم عفي غغليعر البَنغكاح؛ِ علغانيِه يِيلرغوى غعلن يِعغمغر‪ ُّ،‬أغانيِه غكاغن إذاغ‬ ‫صغحا يِ‬ ‫غ‬ ‫غ‬
‫صغحايِبنا‪ ُّ،‬غوأ ل‬ ‫أغلخغرغجيِه يِملسلعممْ‪ .‬غوذكغر أ ل‬
‫غ‬ ‫غ‬ ‫غ‬
‫ع‬
‫يِ غعلن الانعببَي‬ ‫ت‪ ُّ،‬غوإعلن غكاغن عفي غغليعرغها‪ ُّ،‬غعغمغد عباليدارعة‪ .‬غولغغنا‪ ُّ،‬غما يِرعو غ‬ ‫ث غفغنغظغر‪ ُّ،‬غفإعلن غكاغن عفي غوعليغمسة غسغك غ‬ ‫ف‪ ُّ،‬غبغع غ‬‫ت اليد بَ‬ ‫ص لو غ‬
‫غسعمغع غ‬
‫ب غعغلىَّ غرلأعسك‬ ‫ع غ‬‫ر‬ ‫ل‬
‫ض‬ ‫غ‬ ‫أ‬ ‫ن‬‫ل‬ ‫غ‬ ‫أ‬ ‫ة‬
‫ما‪ُّ،‬‬ ‫ل‬ ‫سا‬ ‫رك‬
‫ع غ ع غ ع‬ ‫غ‬
‫ف‬ ‫س‬ ‫ن‬‫ل‬ ‫م‬ ‫عت‬ ‫ل‬ ‫ج‬ ‫ر‬
‫غ غ‬ ‫ن‬‫ل‬ ‫إ‬ ‫ل‬
‫رت‬ ‫غ‬
‫ذ‬ ‫غ‬
‫ن‬ ‫ني‬‫بَ‬ ‫إ‬ ‫ل‬
‫ت‪:‬‬ ‫غ‬ ‫ل‬ ‫غ‬
‫قا‬ ‫غ‬
‫ف‬ ‫ه‪ُّ،‬‬‫يِ‬ ‫ل‬
‫ت‬ ‫ء‬ ‫جا‬ ‫ة‬
‫ا غ غ غ‬‫ة‬ ‫غ‬ ‫أ‬ ‫ر‬‫م‬‫ل‬ ‫ا‬ ‫ن‬ ‫غ‬ ‫أ‬‫»‬ ‫–‬ ‫مْ‬‫ا‬ ‫ل‬ ‫س‬ ‫و‬ ‫ه‬
‫يِ غ ع غ غ غ‬ ‫ل‬
‫ي‬ ‫غ‬ ‫ل‬ ‫ع‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫صا‬
‫لىَّ‬ ‫– غ‬
‫ف عبغنلذعرك«ِ ‪ .‬غرغواهيِ أغيِبو غدايِود‬ ‫ا يِ غعغلليعه غوغسلاغمْ ‪ :-‬أغ لو ع‬ ‫صالىَّ ا‬ ‫ف‪ .‬غفغقاغل الانعبيي – غ‬ ‫عباليد بَ‬
‫صالىَّ ا‬
‫ا يِ‬ ‫ا– غ‬ ‫ت‪» :‬غدغخغل غعلغاي غريِسويِل ا ع‬ ‫غولغ لو غكاغن غملكيِروةها لغلمْ غيأليِملرغها عبعه غوإعلن غكاغن غملنيِذوةرا‪ .‬غوغرغو ل‬
‫ت اليرغببَييِع عبلن يِ‬
‫ت يِمغعبَوسذ‪ ُّ،‬غقالغ ل‬
‫ف غليِهان‪ ُّ،‬غوغيلنيِدلبغن غملن قيِعتغل غملن آغباعئي غي لوغمْ غبلدسر‪ ُّ،‬إغلىَّ أغلن غقالغ ل‬
‫ت‬ ‫ضعرلبغن عبيِد ي‬ ‫ت يِجغوليعرايا م‬
‫ت غي ل‬ ‫صعبيغحغة يِبعنغي عبي‪ ُّ،‬غفغجغعلغ ل‬ ‫غعلغليعه غوغسلاغمْ – غ‬
‫ُّ غويِقوعلي الاعذيِ يِكلنت غتيِقوعليغن«ِ يِماتغفمق غعغلليعه‬،‫ غدععي غهغذا‬:‫ غفغقاغل‬.‫ غوعفيغنا غنعبيي غيلعغليِمْ غما عفي غغسد‬:‫إلحغدايِهان‬

Jenis yang mubah adalah, memukul rebana, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
bersabda, “Beritakanlah pernikahan dan pukullah rebana.” (HR. Muslim). Sahabat-
sahabat kami (Hambaliyah), dan sahabat-sahabat Syafi’i (Syafi’iyah) menyebutkan
bahwa rebana makruh jika diselain pernikahan, sebab diriwayatkan dari Umar bahwa
jika dia mendengar suara rebana maka dia bangun dan memandanginya, tapi jika itu
terjadi dalam pesta maka Beliau diam. Bagi kami, apa-apa yang diriwayatkan oleh Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa ada seorang wanita datang kepadanya dan
berkata: Saya bernadzar jika engkau (nabi) pulang dari safar dalam keadaan selamat
saya akan memainkan rebana dihadapanmu. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
menjawab, “Penuhi nadzarmu.” (HR. Abu Daud)

Seandainya itu (memukul rebana, pen) makruh tentu nabi tidak akan memerintahkannya
untuk memukulnya, walaupun itu dalam bentuk nadzar. Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz
mengatakan, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk ke rumahku pada pagi
hari, maka ada dua budak wanita yang memukul-mukul rebana, lalu menyenandungkan
lagu tentang peristiwa ayah-ayah kami saat perang Badar, sampai salah satu di antara
mereka berkata: di tengah kita hadir seorang nabi yang mengetahui hari esok.
Rasulullah bersabda, “Tinggalkan kata-kata itu, katakanlah yang lainnya yang ingin kau
katakan.” (Ibid)

Imam Ibnu Qudamah menjelaskan musik yang makruh, yaitu jika dimainkan oleh kaum
laki-laki, sebab itu merupakan penyerupaan terhadap wanita dan banci. Menurutnya,
kaum wanitalah yang memainkan rebana sebagaimana riwayat-riwayat yang ada, bukan
kaum laki-laki.

Berikut ini penjelasannya:

‫ُّ غفعفي‬،‫ُّ غوالليِمغخانيِثوغن الليِمغتغشبَبيِهوغن عبعهان‬،‫ب عبعه البَنغسايِء‬ِ‫ضعر ي‬‫ب عبعه عللبَرغجاعل غفغملكيِروهم غعغلىَّ يِكبَل غحاسل؛ِ علغانيِه إانغما غكاغن غي ل‬ِ‫ضلر ي‬‫أغاما ال ا‬
‫ غفأ غاما‬.‫ا يِ غعغلليعه غوغسلاغمْ – الليِمغتغشبَبعهيغن عملن البَرغجاعل عبالبَنغساعء‬ ‫صالىَّ ا‬ ‫ُّ غوغقلد غلغعغن الانعبيي – غ‬،‫ب البَرغجاعل عبعه غتغشيبمه عبالبَنغساعء‬ ‫ضلر ع‬ ‫غ‬
ْ‫ُّ غوإعلن غخغل غعلن غذلعغك يِكلبَعه غللم‬،‫ص‬ ‫ل‬
‫صعفيعق غوالعغغناعء غوالارلق ع‬ ‫غ‬ ‫ُّ غفغملكيِروعه إغذا الن غ‬،‫ب‬
‫ُّ غكالات ل‬،‫ضامْ إغلليعه يِمغحارممْ أ لو غملكيِرومه‬ ‫ل‬
‫ب عبالغق ع‬
‫ضي ع‬ ِ‫ضلر ي‬
‫ال ا‬
‫ُّ غوغل يِيلسغميِع يِملنغفعرةدا‬،‫ب‬ ‫غ‬
‫س عبآِغلسة غوغل عبطعر س‬ ‫غ‬
‫يِيلكغرله؛ِ علانيِه غللي غ‬

Ada pun laki-laki memukul rebana, itu makruh dalam segala keadaan. Karena dahulu itu
dimainkan oleh kaum wanita. Itu merupakan kebancian dan peniruan terhadap kaum
wanita.Maka, laki-laki yang memainkan rebana itu adalah tasyabbuh terhadap wanita.
Dan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melaknat kaum laki-laki yang menyerupai
kaum wanita.

Sedangkan memukul batang pohon makruhnya jika dibarengi hal-hal yang haram
seperti tepul tangan, menyanyi, dan menari. Jika tidak dibarengi itu, tidak makruh sebab
itu bukan alat musik dan tidak bisa didengar secara sendiri. (Ibid, 10/155)

19. Syeikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syeikh Al-Hambali Rahimahullah

Beliau menyatakan keharaman berobat dengan mendengarkan alat-alat musik. Berikut


ini keterangannya:

(ْ‫ُّ )ويحرم‬،‫ُّ أو يأكل حراما ة تداويا ة به‬،‫ُّ وصوت ملهاة( يحرمْ أن يشرب حراما ة تداويا به‬،‫ُّ )بمحرمْ أكلة وشربةا‬،ِ‫التداوي‬
‫ُّ أو غير ذلك من الملهي الكثيرة؛ِ فهو منهي عنه‬،‫ُّ أو مزمار‬،‫ُّ أو دف‬،‫ مثل الطبل‬:‫أو يتداوى بصوت ملهاة‬

(Diharamkan) berobat (dengan yang haram baik makanan atau minuman dan suara
hiburan) diharamkan menggunakan minuman haram sebagai obat, atau memakan
makanan haram sebagai obat, atau berobat dengan suara hiburan seperti: gendang,
rebana, seruling, atau alat musik lainnya yang begitu banyak, maka hal itu terlarang.
(selesai kutipan dari Syeikh Ibrahim)

Kemudian Beliau mengutip surat Luqman ayat 6 (Dan di antara manusia (ada) orang
yang mempergunakan Perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari
jalan Allah tanpa pengetahuan), lalu memberikan penjelasan:

‫ُّ بل كثير من المحرمات‬،‫ُّ فيحرمْ حضورها فهي من جملة المحرمات التي ليس فيها شفاء‬،‫فدخل في ذلك الملهي كلها‬
‫تزيد الداء داء‬

Maka, yang termasuk lahwul hadits adalah semua alat-alat hiburan, diharamkan
menghadirkannya sebab secara global itu adalah termasuk keumuman hal-hal yang
diharamkan, itu bukan obat bahkan banyak melakukan perkara-perkara yang
diharamkan justru menambah penyakit. (Syarh Kitab Adab Al-Musyi, Hal. 169)

E. Kesimpulan Terhadap Pihak Yang Mengharamkan

Demikianlah deretan imam kaum muslimin yang nama-nama mereka telah menjadi
rujukan umat Islam di berbagai belahan dunia. Nama-nama ini sudah cukup mewakili
ulama lain yang sepaham dengan mereka, dan nama-nama ini masih sebagian kecil
saja, mungkin masih ada puluhan, ratusan bahkan ribuan ulama yang
mengharamkannya.

Dari berbagai komentar mereka, maka pada posisi yang mengharamkan bisa kita
simpulkan sebagai berikut:

Semua alat musik pada dasarnya haram baik alat musik tiup, pukul, gesek, dan
sebagainya. Semisal seruling dan beragam jenisnya, gendang, kecapi, gitar, dan
sebagainya.

Dikecualikan rebana dalam pesta pernikahan, hari raya, dan suasana gembira seperti
pulang dari peperangan dan bepergian, selain momen itu makruh, ada pula yang
mengharamkan. Ada pun Imam Al-Ghazali membolehkan rebana yang memiliki lonceng,
bahkan klarinet. Namun dalam hal ini Beliau dikoreksi oleh yang lainnya seperti Imam
An-Nawawi.

Pembolehan terhadap rebana hanya bagi wanita, ada pun bagi laki-laki makruh sebab
itu menyerupai wanita dan banci.

Musik-musik yang biasa dimainkan ahli maksiat juga haram, bahkan Imam Al-Ghazali
dan para ulama yang membolehkan musik juga mengharamkan ini.

Mendengarkan secara sengaja adalah maksiat bahkan fasik menurut sebagian mereka,
dan hanyut dalam musik adalah kufur.

Para penikmat musik tertolak kesaksiannya.

2. Para Ulama Yang Membolehkan

Berikut ini alasan-alasan pihak yang membolehkan:

Dari Alquran

Pertama. Al-Baqarah ayat 29:

‫يِهغو الاعذيِ غخلغغق لغيِكلمْ غما عفي اللغلر ع‬


‫ض غجعميةعا يِثامْ السغتغوى إعغلىَّ الاسغماعء غفغساوايِهان غسلبغع غسغماغوا س‬
ْ‫ت غويِهغو عبيِكبَل غشليسء غععليمم‬

Dialah Allah, yang menjadikan semua yang ada di bumi untuk kamu dan Dia
berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha
mengetahui segala sesuatu. (Al-Baqarah: 29)

Ayat ini menunjukkan bahwa seluruh yang ada di bumi ini Allah Taala ciptakan untuk
manusia, adalah hal yang tidak relevan dan kontradiksi, jika Allah Taala menciptakan
seluruh yang di muka bumi ini untuk manusia di satu sisi, tapi di sisi lain Dia haramkan
kebanyakannya bagi manusia pula. Maha suci Allah dari hal yang seperti itu. Sehingga
ayat ini menegaskan bahwa antara halal dan haram lebih banyak yang halal, antara suci
dan najis lebih banyak yang suci. Bagi mereka, keindahan yang bisa dirasakan, dilihat,
dan dinikmati, -musik termasuk di dalamnya- adalah hal-hal yang mubah yang
mencakup kalimat: … Dialah yang menjadikan semua yang ada di bumi untuk kamu …

Imam Asy-Syaukani Rahimahullah menjelaskan:

‫ُّ وفيه دليل علىَّ أن الصل في الشياء المخلوقة الباحة حتىَّ يقومْ دليل يدل‬،ْ‫ خلق لكمْ أيِ من أجلكم‬:‫قال ابن كيسان‬
‫ُّ ول فرق بين الحيوانات وغيرها مما ينتفع به من غير ضرر‬،‫علىَّ النقل عن هذا الصل‬

Berkata Ibnu Kaisan: menciptakan untuk kalian yaitu (Allah menciptakan, pen) karena
kalian, dalam ayat ini terdapat dalil bahwa hukum asal segala sesuatu yang berupa
makhluk ciptaan adalah boleh, sampai adanya dalil yang menunjukkan perubahan
hukum asal ini. Tidak ada bedanya antara hewan dan selainnya, yang termasuk apa-apa
yang bermanfaat dan tidak membawa kerusakan. (Fathul Qadir, 1/71-72)

Bagi mereka, tidak ada dalil yang secara tegas dan jelas mengharamkan musik,
khususnya Alquran, ada pun dalam As-Sunnah ada beberapa hadits yang shahih tapi
tidak sharih (jelas), ada yang sharih tapi tidak shahih. Sehingga Imam Ibnul ‘Arabi Al-
Maliki Rahimahullah mengatakan tak ada di dalam Alquran dan As-Sunnah tentang
pengharaman lagu dan musik. (Ahkamul Quran, 3/1053)

Tidak ada yang diharamkan kecuali oleh nash yang shahih dan sharih (jelas-tegas)
dalam kitab Allah Taala dan Sunah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Jika tidak
ada dalam keduanya, tidak ada dalam ijma’, atau yang ada hanya nash yang shahih tapi
tidak sharih, atau sharih tapi tidak shahih, maka ia tetap dalam batas kemaafan Allah
Taala yang luas dan lapang. Jika memang musik haram, tidak mungkin Allah Taala tidak
menjelaskannya secara terang dalam kitabNya, dan mustahil pula Allah Taala lupa
menerangkannya. Sebab Allah Taala sudah berfirman:

…ْ‫صغل غليِكلمْ غما غحارغمْ غعغللييِكلم‬


‫…غوغقلد غف ا‬

“ …Padahal Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang


diharamkan-Nya atasmu … ” (Al-An’am: 119)

Dan, kenyataannya menurut kelompok ini, kita tidak temukan satu pun ayat yang lugas
tentang pengharamannya, maka tetaplah musik termasuk dalam kategori yang
didiamkanNya dan dimaafkanNya. Jika begini keadaannya maka berlaku hukum asal
(bara’atul ashliyah) bahwa segala sesuatu pada dasarnya adalah mubah. Para ulama
menegaskan bahwa menetapkan keharaman membutuhkan kelugasan dan keshahihan
dari nash tanpa keraguan dan syubhat. Ada pun dalam menetapkan kebolehan, sudah
cukup dengan ketiadaan dalil pengharaman, dan bebas dari dharar (kerusakan), tanpa
harus adanya kata-kata ‘halal’ dan ‘mubah’. Ketiadaan dalil larangan atas sesuatu,
sudah cukup kebolehan sesuatu itu.

Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

‫الحلل ما أحل ا في كتابه والحرامْ ما حرمْ ا في كتابه وما سكت عنه فهو مما عفا عنه‬

“Yang halal adalah apa yang Allah halalkan dalam kitabNya, yang haram adalah yang
Allah haramkan dalam kitabNya, dan apa saja yang di diamkanNya, maka itu termasuk
yang dimaafkan.” (HR. At Tirmidzi No. 1726, katanya: hadits gharib. Ibnu Majah No.
3367, Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir No. 6124. Syaikh Al-Albani mengatakan:
hasan. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 1726. Juga dihasankan oleh Syaikh
Baari’ ‘Irfan Taufiq dalam Shahih Kunuz As-sunnah An Nabawiyah, Bab Al-Halal wal
Haram wal Manhi ‘Anhu, No. 1)

Oleh karena itu, Imam Al-Fakihani Rahimahullah mengatakan –sebagaimana dikutip


oleh Imam Asy-Syaukani:

‫صعريةحا عفي غتلحعريعمْ اللغمغلعهي‬


‫حيةحا غ‬ ‫اع غوغل عفي اليسانعة غحعديةثا غ‬
‫ص ع‬ ‫لغلمْ أغلعلغلمْ عفي عكغتا ع‬
‫ب ا‬

Tidak aku ketahui dalam Kitabullah dan Sunnah hadits yang shahih dan lugas tentang
pengharaman musik. (Nailul Authar, 8/117)

Kedua. Surat Al-A’raf ayat 147


‫صغريِهلمْ غواللغلغغلغل الاعتي غكاغن ل‬
ْ‫ت غعغلليعهلم‬ ‫ضيِع غعلنيِهلمْ إع ل‬
‫ث غوغي غ‬ ‫حيل غليِهيِمْ الاطبَيغبا ع‬
‫ت غويِيغحبَريِمْ غعغلليعهيِمْ اللغخغباعئ غ‬ ‫غويِي ع‬

Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka
segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu yang ada
pada mereka. (Al-A’raf: 157)

Ayat ini menunjukkan bahwa syariat menghalalkan segala hal yang baik. Ath-Thayyibat
(segala yang baik) adalah meliputi segala hal yang baik, tidak dibatasi, dan Ath-
Thayyibat menurut mayoritas biasanya identik dengan hal-hal yang bisa dinikmati, thahir
(suci) dan halal.

Imam Asy-Syaukani mengatakan, makna Ath-Thayyibat adalah ‫ – المستلذات‬Al-


Mustalladzdzaat (hal-hal yang bisa dinikmati). (Fathul Qadir, 2/287). Al-Qadhi Abu
Muhammad Rahimahullah juga mengatakan Ath-Thayyibat adalah hal-hal yang bisa
dinikmati. (Tafsir Ibnu ‘Athiyah, 2/228). Imam Abul Qasim Al-Kalbi mengatakan bahwa
dalam madzhab Imam Syafi’i, Ath-Thayyibat adalah Al-Mustalladzdzaat.(At Tas-hil Li
‘Ulumit Tanzil, 1/309)

Imam Ar Radzi Rahimahullah menjelaskan tentang ayat-ayat semisal ini:

‫ونص في هذه اليات الكثيرة علىَّ إباحة المستلذات والطيبات فصار هذا أصل كبيرا‬

Nash pada ayat-ayat yang banyak ini menunjukkan kebolehan hal-hal yang bisa
dinikmati dan baik-baik, dan ini menjadi hal pokok yang besar. (Mafatih Al-Ghaib,
11/290)

Nah, bagi mereka, musik termasuk hal-hal yang bisa dinikmati, sehingga dia termasuk
keumuman makna Ath-Thayyibat yang Allah Taala halalkan. Sebagaimana ayat:

‫حال غليِهلمْ قيِلل أ يِ ع‬


ِ‫حال غليِكيِمْ الاطبَيغبا ي‬
‫ت‬ ‫غيلسأ غيِلوغنغك غماغذا أ يِ ع‬

Mereka bertanya kepadamu: ‘Apa sajakah yang dihalalkan bagi mereka?’ Katakanlah,
“Dihalalkan bagimu yang baik-baik (Ath Thayyibat).” (Al-Maidah: 4)

Justru Allah Taala mengecam sikap melampaui batas, yaitu mengharamkan Ath-
Thayyibat, sebagaimana firmanNya:

‫ب الليِملعغتعديغن‬ ‫ا غل يِي ع‬
‫ح ي‬ ‫ت غما أغغحال ا‬
‫ا يِ غليِكلمْ غوغل غتلعغتيِدوا إعان ا غ‬ ‫غيا أغييغها الاعذيغن آغميِنوا غل يِتغحبَريِموا غطبَيغبا ع‬

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang
telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Maidah: 87)

Ketiga. Al-Jumu’ah Ayat 11

‫اع غخليمر عمغن اللالهعو غوعمغن البَتغجاغرعة غو ا‬


‫ا يِ غخلييِر الاراعزعقيغن‬ ‫ك غقاعئةما قيِلل غما ععلنغد ا‬ ‫غوإعغذا غرأغ لوا عتغجاغرةة أغ لو غللهةوا النغف ي‬
‫ضوا إعغلليغها غوغتغريِكو غ‬

Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan (lahwun), mereka bubar untuk
menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah).
Katakanlah, “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan
Allah Sebaik-baik pemberi rezki. (Al-Jumu’ah: 11)

Sebab turunnya ayat ini, adalah –sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari, Imam
Muslim, Imam At Tirmidzi, Imam Ahmad dan lainnya dengan riwayat yang saling
melengkapi- bahwa ketika datangnya kafilah dagang yang telah ditunggu-tunggu oleh
orang-orang Islam (saat itu sedang mendengarkan nabi khutbah), mereka tiba dengan
membawa barang-barang dagangan, maka serta merta kaum muslimin menyambutnya
dengan nyanyian dan tabuh-tabuhan, sebagai ungkapan rasa senang atas kedatangan
kafilah tersebut dengan selamat, juga sebagai ungkapan harapan mereka agar barang
dagangannya bisa menghasilkan dan keuntungan yang banyak.

Karena itu, mereka berebut mengambil dagangan, sehingga Rasulullah Shallallahu


‘Alaihi wa Sallam yang sedang khutbah mereka tinggalkan, dalam riwayat lain
disebutkan sampai-sampai yang tersisa dari jamah shalat jumat hanya dua belas orang
saja.

Lihatlah ayat tersebut, Allah Taala menyebut permainan dan perniagaan dalam satu
susunan kalimat, lalu kenapa hanya nyanyian saja yang diharamkan, sedang
perniagaan tidak? Padahal keduanya saat itu telah memalingkan mereka dari shalat
jumat. Jadi, sebenarnya yang diharamkan bukanlah permainan dan perniagaannya
secara zat atau perbuatan, melainkan jika sudah membawa efek ‘melalaikannya’ itu, dan
tentunya tidak semua orang seperti itu, dengan kata lain tergantung orangnya masing-
masing. Dalam kisah di atas pun tidak semua sahabat nabi berpaling, masih ada dua
belas orang yang mendengarkan khutbah nabi. Maka, kenyataan ini jelas bahwa
masing-masing orang berbeda keadaannya; ada yang bisa melalaikan ada pula yang
tidak.

Kemudian, bagian ayat pada surat Jumu’ah di atas, yang berbunyi: Katakanlah, “Apa
yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan” merupakan kalimat
yang berfungsi optional (pilihan) dan pembanding, tidak ada kaitannya dengan
pengharaman atas permainan (lahwun) dan perdagangan. Ayat itu menegaskan bahwa
pada sisi Allah Taala yakni menunaikan shalat jumat adalah lebih baik dari pada
permainan dan perdagangan.

Keempat. Surat Muhammad ayat 36

ْ‫ب غوغللهمو غوإعلن يِت لؤعميِنوا غوغتاتيِقوا يِي لؤعتيِكلمْ أ يِيِجوغريِكلمْ غوغل غيلسأ غلليِكلمْ أغلمغواغليِكلم‬
‫إعانغما اللغحغياةيِ اليدلنغيا غلعع م‬.

“Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. dan jika kamu
beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala keppadamu dan Dia tidak akan
meminta harta-hartamu.” (Muhammad: 36)

Juga ayat lainnya:

‫ب غوغللهمو غوعزيغنمة غوغتغفايِخمر غبليغنيِكلمْ غوغتغكايِثمر عفي اللغلمغواعل غواللغ لوغلعد‬


‫… العغليِموا أغانغما اللغحغياةيِ اليدلنغيا غلعع م‬.
Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu
yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-
banggaan tentang banyaknya harta dan anak, … (Al-Hadid: 20)

Bagi pihak yang membolehkan, ayat ini merupakan dalil kebolehan musik. Pihak yang
mengharamkan menganggap musik adalah sesuatu yang melalaikan, sebagaimana
permainan lainnya. Namun ayat ini menyanggah pemahaman tersebut, sesungguhnya
tidaklah suatu permainan dan senda gurau itu lantas secara otomatis menjadi sesuatu
yang haram. Sebab, jika memang musik haram karena dia permainan yang melalaikan,
maka bukan hanya musik, melainkan dunia seluruh dan isinya juga haram, sebab dunia
adalah permainan dan senda gurau yang melalaikan. Oleh karena itu, bagi kelompok
yang membolehkan, musik tidak bisa dipukul rata haram atau mubah, dia bisa haram
atau mubah tergantung keadaannya.

Kelima. Surat Luqman ayat 6

‫خغذغها يِهيِزةوا يِأوغلعئغك غليِهلمْ غعغذا م‬


‫ب يِمعهيمن‬ ‫ضال غعلن غسعبيعل ا‬
‫اع عبغغليعر ععللسمْ غوغيات ع‬ ‫س غملن غيلشغتعريِ غللهغو اللغحعدي ع‬
‫ث لعيِي ع‬ ‫غوعمغن الانا ع‬
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak
berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan
menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang
menghinakan.” (Luqman: 6)

Sebagaimana penjelasan yang telah lalu, ayat ini –khususnya kalimat lahwul hadits
(perkataan tak berguna)- ditafsirkan oleh para sahabat seperti Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas,
Jabir bin Abdillah, ‘Ikrimah, dan sebagainya adalah nyanyian. Sementara dalam Tafsir
As-Sam’ani –mengutip dari kitab Al-Akhbar Al-Musnadah– disebutkan bahwa Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri yang menjelaskan bahwa itu adalah alat musik dan
wanita penyanyi (Lihat Tafsir As-Sam’ani, 4/226), tetapi riwayat ini tidak memiliki sanad
sehingga tidak bisa dipertanggungjawabkan keautentikannya dari Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam, dan tidak bisa dijadikan hujjah.

Perlu diketahui, tafsiran bahwa lahwul hadits adalah lagu, musik, bukanlah satu-satunya
tafsiran yang bersifat final. Imam Asy-Syaukany, dalam Fathul Qadir-nya mengatakan
bahwa maksud lahwul hadits adalah apa-apa yang bisa melalaikan dari kebaikan, bisa
berupa nyanyian, pemainan, perkataan dusta, dan segala yang munkar. Ia
meriwayatkan bahwa Imam Hasan Al-Bashri menafsiri makna lahwul hadits adalah
ma’azif (alat-alat musik) dan ghina’ (nyanyian), tetapi juga diriwayatkan darinya, bahwa
maksud lahwul hadits adalah kufr (kekafiran) dan syirk (kesyirikan).

Kalimat, “Liyudhilla (untuk menyesatkan (manusia) …” menunjukkan bahwa huruf lam


pada kata li yudhilla berfungsi sebagai lam ta’lil (lam yang menunjukkan sebab –‘illat
hukum). Demikian dalam Fathul Qadir.

Jadi, sebenarnya, perilaku apa saja – bukan hanya nyanyian dan musik- jika bertujuan
untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah Taala, jelas perbuatan adalah haram.
Mafhum mukhalafah (pemahaman implisit)nya adalah jika tidak ada maksud
menyesatkan manusia, maka tidak mengapa.

Imam Ibnu Jarir at Thabari menegaskan dalam tafsirnya, dari Ibnu Wahhab, bahwa Ibnu
Zaid mengatakan ayat “Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan
perkatan yang tidak berguna ….” maksudnya adalah orang-orang kafir. Tidakkah
memperhatikan bunyi ayat selanjutnya:

“Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami Dia berpaling dengan


menyombongkan diri seolah-olah Dia belum mendengarnya, seakan- akan ada sumbat
di kedua telinganya; Maka beri kabar gembiralah Dia dengan azab yang pedih.”
(Luqman: 7)

Manusia yang diceritakan dalam ayat ini, jelas bukan berkepribadian muslim dan bukan
seorang muslim. Memang, sebagian ada yang membantah itu, menurut mereka ini juga
berlaku untuk orang Islam. Dan lahwul hadits merupakan perkataan batil (sia-sia) yang
mereka gunakan untuk kelalaian. (Imam Abu Ja’far Ibnu Jarir Ath-Thabari, Jami’ul
Bayan, 1/41, tafsir surat Luqman)

Imam Ibnul ‘Athiyah Rahimahullah menyebutkan:

‫ضال غعلن غسعبيعل ا ع‬


‫ا‬ ‫ لعيِي ع‬:‫والذيِ يترجح أن الية نزلت في لهو حديث منضاف إلىَّ كفر فلذلك اشتدت ألفاظ الية بقوله‬
‫ُّ والتوعد بالعذاب المهين‬،‫خغذها يِهيِزوةا‬‫عبغغليعر ععللسمْ غوغيات ع‬

Pendapat yang rajih (kuat) adalah bahwa ayat tersebut diturunkan tentang orang-orang
kafir, oleh karena itu ungkapan ayat tersebut sangat keras yaitu “untuk menyesatkan
(manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-
olokan.” Dan disertai ancaman siksaan yang amat hina. (Imam Ibnu ‘Athiyah, Al-
Muharrar Al-Wajiz, 4/346)

Pemahaman ini juga dikuatkan oleh Imam Fakhruddin Ar Razi Rahimahullah dalam tafsir
Mafatihul Ghaib:

‫غبايغن عملن غحاعل الليِكافاعر أغانيِهلمْ غيلتيِريِكوغن غذلعغك غوغيلشغتعغيِلوغن عبغغليعره‬

Bahwa Allah Taala sedang menceritakan keadaan orang-orang kafir, mereka


meninggalkan Alquran dan sibuk dengan selainnya. (Mafatihul Ghaib, 25/115)

Imam Ibnu Hazm telah menyanggah tafsiran bahwa lahwul hadits adalah lagu, dan
sanggahan ini sangat masyhur dan sering diulang-ulang oleh kelompok yang
membolehkan lagu dan musik. Bantahan ini sebenarnya telah diketahui dan sudah
dikoreksi pula oleh para ulama yang mengharamkannya, tetapi nampaknya pandangan
Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm Rahimahullah sangat kokoh sehingga bantahan-
bantahan untuknya masih bisa didiskusikan lagi.

Imam Ibnu Hazm Rahimahullah menolak tafsiran Lahwul Hadits adalah nyanyian dan
musik, dengan perkataannya –dan ini merupakan sanggahan yang sangat bagus
darinya:
‫صالىَّ ا‬
ْ‫ا يِ غعغلليعه غوغسلاغم‬ ‫ أغانيِه غل يِحاجغة علغغحسد يِدوغن غريِسوعل ا ع‬:‫ أغغحيِدغها‬:- ‫– غل يِحاجغة عفي غهغذا يِكلبَعه لعيِويِجوسه‬
‫ا– غ‬

‫صغحاغبعة غوالاتاعبععيغن‬ ‫ أغانيِه غقلد غخالغ غ‬:‫غوالاثاعني‬


‫ف غغليغريِهلمْ عملن ال ا‬
‫ضال غعلن غسعبيعل ا‬
‫اع عبغغليعر‬ ‫س غملن غيلشغتعريِ غللهغو اللغحعدي ع‬
‫ث لعيِي ع‬ ‫ص اللغيعة يِيلبعطيِل الحعتغجاغجيِهلمْ عبغها؛ِ علغان عفيغها }غوعمغن الانا ع‬
‫ أغان غن ا‬:‫ث‬ ِ‫غوالاثالع ي‬
‫اع‬‫ُّ إغذا ااتغخغذ غسعبيغل ا‬،‫ف‬
‫خغل س‬‫ُّ عبغل ع‬،‫صغفمة غملن غفغعغلغها غكاغن غكاعفةرا‬
‫[ غوغهعذعه ع‬6 :‫ب يِمعهيمن{ٌ ]لقمان‬ ‫ك غليِهلمْ غعغذا م‬ ِ‫ي‬ ‫ععللسمْ غوغيات ع‬
‫خغذغها يِهيِزةوا أوغلعئ غ‬
‫– غتغعاغلىَّ – يِهيِزةوا‬

‫ُّ غوغما‬،- َّ‫ا يِ – غتغعاغلى‬‫ُّ غفغهغذا يِهغو الاعذيِ غذامْ ا‬،‫خيِذغها يِهيِزةوا لغغكاغن غكاعفةرا‬ ‫ا غوغيات ع‬ ‫ضال عبعه غعلن غسعبيعل ا ع‬ ‫غولغ لو أغان المغرأة الشغتغرى يِم ل‬
‫صغحةفا لعيِي ع‬
‫ُّ غفغبغطغل‬،- َّ‫ا – غتغعاغلى‬ ‫ضال غعلن غسعبيعل ا ع‬ ‫ُّ غل لعيِي ع‬،‫ث لعغيللغتعهغي عبعه غويِيغربَوغح غنلفغسيِه‬‫غذامْ غقيط – غعاز غوغجال – غملن الشغتغرى لغلهغو اللغحعدي ع‬
‫غتغعليقيِيِهلمْ بعغق لوعل يِكبَل غملن غذغكلرغنا‬

‫ُّ أغ لو‬،‫ظيِر عفي غمالععه‬


ِ‫ُّ أغ لو غيلن ي‬،‫ث عبعه‬ ‫ُّ أغ لو عبغحعدي س‬،‫ُّ أغ لو عبعقغراغءعة اليسغنعن‬،‫صغلعة عبعقغراغءعة اللقيِلرآعن‬
ِ‫ث غيغتغحاد ي‬ ‫غوغكغذلعغك غملن الشغتغغغل غعاعمةدا غعلن ال ا‬
‫ض الشعتغغاةل عبغما غذغكلرغنا غفيِهغو يِملحعسمن‬ ‫ضبَيلع غشليةئا عملن اللغفغراعئ ع‬‫ُّ غوغملن غللمْ يِي غ‬،- َّ‫ص عالع – غتغعاغلى‬ ‫ُّ أغ لو عبغغليعر غذلع غ‬،‫عبعغغناسء‬
‫ُّ غعا س‬،‫ُّ غفيِهغو غفاعسمق‬،‫ك‬

Semua perkataan mereka tidak bisa dijadikan hujjah, karena beberapa alasan:

Pertama, Perkataan seseorang tidak bisa dijadikan hujjah kecuali perkataan Rasulullah.

Keduan, Para sahabat dan tabi’in sendiri berbeda pendapat tentang tafsir ayat tersebut.

Ketiga, nash ayat tersebut (Luqman ayat 6) justru membatalkan argumentasi mereka
sendiri, karena dalam ayat tersebut berbunyi, “Dan diantara manusia ada orang yang
menggunakan perkataan yang tidak berguna (lahwul hadits) untuk menyesatkan
manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan, “
ini menunjukkan bahwa yang melakukan perbuatan ini adalah kafir, jika menjadikan
jalan Allah sebagai olok-olokan, hal ini tanpa perselisihan lagi adalah kekafiran.
Seandainya ada seseorang membeli mushaf Alquran dengan tujuan menyesatkan
manusia dari jalan Allah dan mengolok-oloknya, maka orang tersebut kafir.“ Inilah yang
dicela Allah.

Allah Taala tidak pernah mencela sedikitpun terhadap orang yang menggunakan
perkataan sia-sia untuk tujuan sekedar hiburan atau menenangkan diri, bukan bertujuan
menyesatkan manusia dari jalan Allah. Maka terbantahlah argumen mereka dengan
ucapan mereka sendiri seperti yang telah kami sampaikan.

Demikian pula jika seseorang yang sengaja membaca Alquran atau hadits, atau obrolan,
atau lagu, atau lainnya, sehingga melalaikan shalat, itu termasuk kefasikan dan durhaka
kepada Allah. Tetapi siapa yang tidak melalaikan atau meninggalkan kewajiban
sebagaimana yang kami katakan, maka itu tetap kebaikan.” (Imam Ibnu Hazm, Al-
Muhalla, 7/567)

Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali Rahimahullah juga ikut memberikan sanggahan,


katanya:

‫ل به ليضل به عن سبيل ا فهو حرامْ مذمومْ وليس النزاع فيه وليس كل غناء‬‫وأما شراء لهو الحديث بالدين استبدا ة‬
‫ل عن سبيل ا تعالىَّ وهو المراد في الية ولو قرأ القرآن ليضل به عن سبيل ا‬ ‫بدلة عن الدين مشترى به ومض ة‬
‫لكان حراما ة‬

‫صالىَّ ا‬
ِ‫ا ي‬ ‫حكىَّ عن بعض المنافقين أنه كان يؤمْ الناس ول يقرأ إل سورة عبس لما فيها من العتاب غمغع غريِسوعل ا‬
‫اع غ‬
ْ‫غعلغليعه غوغسلاغمْ فهمْ عمر بقتله ورأى فعله حراما لما فيه من الضلل فالضلل بالشعر والغناء أولىَّ بالتحريم‬

“Adapun makna ‘menggunakan perkataan tak berguna‘ untuk agama, artinya merubah
hukum agama dan menyesatkan manusia dari jalan Allah, jelas hukumnya haram dan
tercela, tak ada perselisihan tentang itu. Tidak semua nyanyian mengganti agama dan
menyesatkan dari jalan Allah, inilah yang dimaksud ayat tersebut. Seandainya membaca
Alquran untuk menyesatkan dari jalan Allah, maka jelas haram.”

Hal ini diperkuat tentang perilaku sebagian orang munafik ketika menjadi Imam Shalat
secara sengaja selalu membaca surat ‘Abasa karena didalamnya terdapat celaan
terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka Umar Radhiallahu ‘Anhu
hendak membunuhnya (si munafik itu, pen), karena menilai perbuatan mereka itu haram
dan menyesatkan. Apalagi jika menyesatkannya dengan menggunakan syair dan lagu,
itu lebih utama diharamkan. (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, 2/284-285)

Kesimpulannya, menurut para ulama ini, ayat ini tidak bisa dijadikan hujjah
pengharaman musik dan lagu yang baik-baik, dan sekedar untuk mengistirahatkan jiwa,
sebab ayat ini menunjukkan tujuan yang tercela yaitu menyesatkan manusia dari jalan
Allah Taala, yang biasanya dilakukan oleh orang kafir, fasiq, dan musuh-musuh agama.
Sedangkan orang yang mendengarkan hiburan sekedarnya saja, tidaklah seperti itu
tujuannya. Sebagaimana dikatakan Imam Ibnu ‘Abidin Rahimahullah, bahwa halal dan
haramnya musik tergantung maksud dan tujuan orangnya.

Imam Ibnu ‘Abidin Rahimahullah menjelaskan:

‫ُّ أل ترى أن ضرب تلك اللة‬،‫ُّ إما من سامعها أو من المشتغل بها‬،‫آلة اللهو ليست محرمة لعينها بل لقصد اللهو منها‬
‫حل تارة وحرمْ أخرى باختلف النية؟َ والمور بمقاصدها‬

“Alat-alat permainan itu bukanlah haram semata-mata permainannya, tetapi jika


karenanya terjadi kelalaian baik bagi pendengar atau orang yang memainkannya,
bukankah anda sendiri menyaksikan bahwa memukul alat-alat tersebut kadang
dihalalkan dan kadang diharamkan pada keadaan lain karena perbedaan niatnya?
Sesungguhnya menilai perkara-perkara itu tergantung maksud-maksudnya.” (Al-
Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, 38/169)

Keenam. Ayat-ayat Alquran yang secara umum menceritakan tentang keindahan,


keserasian, dan keteraturan penciptaan-Nya.

Kelompok ini juga berhujjah dengan ayat-ayat Alquran yang menceritakan ciptaan Allah
Taala yang rapi, seimbang, dan penuh keindahan serta sedap dipandang mata. Serasi
bentuk, ukuran, dan warna. Semua ini menunjukkan bahwa keindahan, baik itu alamiah
atau buatan (seperti musik), adalah termasuk koridor ini, sebagai sesuatu yang memang
bisa dinikmati sebagai objek tafakur dan menghibur diri semata.
Di antaranya adalah ayat-ayat berikut:

ِ‫صغر غهلل غتغرى عملن فيِ ي‬


‫طوسر‬ ‫جعع اللغب غ‬ ‫ت عطغباةقا غما غتغرى عفي غخللعق الارلحغمعن عملن غتغفايِو س‬
‫ت غفالر ع‬ ‫الاعذيِ غخغلغق غسلبغع غسغماغوا س‬

”Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada
ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Lihatlah sekali lagi,
apakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (Al-Mulk: 3)

Ayat lain:

‫غوغخغلغق يِكال غشليسء غفغقادغرهيِ غتلقعديةرا‬

Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan menetapkan ukuran-ukurannya dengan


serapi-rapinya.” (Al-Furqan: 2)

Ayat lain:

‫ولغغقلد غجغعللنا عفي الاسماعء يِبيِروجا ة غو غزاياناها عللاناعظريغن‬

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang di langit dan Kami
telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya). (Al-Hijr: 16)

Ayat lain:

‫غو اللغلر غ‬
‫ض غمغدلدناها غو أغللغقلينا فيها غرواعسغي غو أغلنغبلتنا فيها عملن يِكبَل غشليسء غم لويِزوسن‬

“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung, serta
Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.” (Al-Hijr: 19)

Dan masih banyak ayat-ayat lain yang sejenis.

Bagi kelompok yang membolehkan, sesungguhnya keserasian, keseimbangan, dan


keindahan yang Allah Taala ciptakan pada alam ini, baik pada bentuk, ukuran, warna,
suara, yang Allah Taala ciptakan pada gunung, bukit, sawah, gurun, kebun, sungai,
lautan, hewan, gemericikan air, kicauan burung di pagi hari, adalah hal yang
diberikanNya untuk manusia. Tak beda antara yang alami atau buatan, sebab prinsipnya
sama, sama-sama keindahan. Ada pun jika sudah sampai melalaikan dari
mengingatNya, maka masing-masing pribadi berbeda keadaannya. Pada kenyataannya,
justru ada yang setelah tafakur semakin shalih dan bertobat dari kesalahan setelah
merenungi kebesaranNya melalui keindahan ciptaanNya.

Oleh karena itu Imam Ibnu Hazm Rahimahullah mengatakan:

ُّ،‫ا – غعاز غوغجال – غويِيغنبَشغط غنلفغسيِه عبغذلعغك غعغلىَّ اللعببَر غفيِهغو يِمعطيمع يِملحعسمن‬ ‫غوغملن غنغوى عبعه غتلرعويغح غنلفعسعه لعغيلقغوى عبغذلعغك غعغلىَّ غطاغععة ا ع‬
‫ُّ غوقيِيِعوعدعه‬،‫ُّ غفيِهغو لغلغمو غملعفيِيو غعلنيِه غكيِخيِروعج اللعلنغساعن إغلىَّ يِبلسغتاعنعه يِمغتغنبَزةها‬،‫صغيةة‬
‫ُّ غوغملن لغلمْ غيلنعو غطاغعةة غوغل غملع ع‬،‫غوعفلعل يِيِه غهغذا عملن اللغحبَق‬
‫ضغر أغ لو غغليغر غذلع غ‬
‫ك‬ ‫صغباعغعه غث لوغبيِه غلغزغولرعدةطيا أغ لو أغلخ غ‬
‫ب غداعرعه يِمغتغفبَرةجا غو ع‬ ‫غعغلىَّ غبا ع‬

Dan, barang siapa dengan hiburan bertujuan untuk mengistirahatkan jiwa dalam rangka
melahirkan kekuatan untuk ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yang dengan itu
dirinya bisa giat dalam kebaikan, maka dia termasuk orang taat dan baik. Perbuatan ini
termasuk kebenaran. Jika dia tidak memaksudkannya sebagai ketaatan, tidak pula
untuk maksiat, maka itu adalah kelalaian yang dimaafkan seperti seseorang yang keluar
rumahnya menuju kebunnya sekedar untuk piknik, duduknya seseorang di depan pintu
rumahnya untuk santai-santai, seseorang yang mencelup pakaiannya bukan dengan
lapisan besi atau dengan hijau atau selain itu. (Al-Muhalla, 7/567)

Demikianlah dalil-dalil global dari Alquran tentang kebolehan musik. Bagi mereka dalil-
dalil keharaman musik dari Alquran tidak satu pun yang jelas dan tegas, hanya
berdasarkan tafsir semata, itu pun masih dilemahkan lagi oleh fakta bahwa masing-
masing ahli tafsir juga berbeda pendapat yang cukup banyak. Sedangkan dalam
masalah “pengharaman” tidak boleh berdasarkan pijakan yang abu-abu dan tidak
konsisten, melainkan harus tegas dan jelas.

Dari As-Sunnah

Hadits pertama:

‫ُّ غحادغثغنا غععطاييِة لبيِن غقلي س‬،‫ُّ غحادغثغنا غعلبيِد الارلحغمعن لبيِن غيعزيغد لبعن غجاعبسر‬،‫صغدغقيِة لبيِن غخالعسد‬
ُّ،‫س العكلغعبيي‬ ‫ غحادغثغنا غ‬:‫غوغقاغل عهغشايِمْ لبيِن غعاماسر‬
‫ا‬
َّ‫صلى‬ ‫غ‬ ‫ا‬
‫ غسعمغع الانعباي غ‬:‫ُّ غواع غما غكذغبعني‬،ِ‫ي‬ ‫غ‬ ‫ل‬ ‫غ‬ ‫غ‬ ‫غ‬ ‫غ‬
‫ غحادثعني أيِبو غعاعمسر أ لو أيِبو غمالعسك اللشغععر ي‬:‫ُّ غقاغل‬،ِ‫ي‬ ‫غحادغثغنا غعلبيِد الارلحغمعن لبيِن غغلنسمْ الغلشغععر ي‬
‫ُّ غوالغخلمغر غوالغمغعاعز غ‬،‫حغر غوالغحعريغر‬
‫ف‬ ‫حيلوغن ال ع‬ ‫ُّ غيلسغت ع‬،ْ‫ “ غلغييِكوغنان عملن أ يِامعتي أغلقغوامم‬,‫ا يِ غعغلليعه غوغسلاغمْ غييِقويِل‬

Berkata Hisyam bin ‘Ammar, berkata kepada kami Shadaqah bin Khalid, berkata kepada
kami Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, berkata kepada kami ‘Athiyah bin Qais Al-Kilabi,
berkata kepada kami Abdurrahman bin Ghanam Al-Asy’ari, dia berkata: berkata
kepadaku ‘Amir atau Abu Malik Al-Asy’ari, Demi Allah tidaklah dia membohongi aku: dia
mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Di antara umatku akan ada suatu kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamr
(minuman keras), dan alat-alat musik. (HR. Bukhari No. 5590)

Menurut pihak yang membolehkan, hadits ini tidak bisa dijadikan dalil haramnya musik
di tiga sisi.

Pertama. Pada keshahihannya. Mereka mengira hadits ini munqathi’ (terputus)


sanadnya, sehingga dia dhaif. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Hazm, dan
orang-orang yang sepakat dengannya seperti Syaikh Al-Qaradhawi.

Imam Ibnu Hazm Rahimahullah mengatakan:

ُّ،‫ضومع‬ِ‫ُّ غويِكيل غما عفيعه غفغم لو ي‬،‫ب غشليمء أغغبةدا‬‫صيح عفي غهغذا اللغبا ع‬
‫صغدغقغة لبعن غخالعسد – غوغل غي ع‬ َ‫صلل غما غبليغن الليِبغخاعر ب‬
‫يِ غو غ‬ ‫غوغهغذا يِملنغقعطمع غللمْ غيات ع‬
‫ا‬
‫صالىَّ ا يِ غعغلليعه غوغسلاغمْ – غلغما غتغرادلدغنا عفي‬‫ا– غ‬ ‫ا‬ َ‫ب‬ ‫غ‬ ‫غ‬ ‫غ‬
‫حمد عملنيِه غفألكثغر عملن طعريعق الثغقا ع‬
‫ت إغلىَّ غريِسوعل ع‬ ‫ا غل لو أ يِلسعنغد غجعمييِعيِه أ لو غوا ع‬
‫غ‬ ‫غوغو ا ع‬
‫اللغلخعذ عبعه‬

Hadits ini munqathi’, tidak bersambung antara Al-Bukhari dan Shadaqah bin Khalid,
dalam masalah ini selamanya tidak ada satu pun yang shahih. Semua riwayat tentang
ini palsu. Demi Allah, seandainya semuanya atau satu saja riwayat ini disandarkan
kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari jalan orang-orang terpercaya maka
kami tidak akan menolaknya untuk mengambilnya sebagai dalil. (Al-Muhalla, 7/565)

Ditambah lagi, bagi mereka Hisyam bin ‘Ammar adalah perawi yang kontroversi. Imam
Abu Daud menyatakan bahwa Beliau meriwayatkan 400 hadits yang tidak ada dasarnya.
Imam Abu Hatim mengatakan: jujur tapi dia mengalami perubahan hapalan. Sementara
Imam Yahya bin Ma’in menyatakan tsiqah (terpercaya) dan cerdas, Imam An Nasa’i
mengatakan ‘tidak apa-apa’. Imam Adz Dzahabi mengatakan: jujur dan memiliki riwayat
yang diingkari. Ad-Daruquthni mengatakan: jujur dan besar kedudukannya. (Mizanul
I’tidal, 4/302)

Dan, pendhaifan Imam Ibnu Hazm terhadap hadits ini telah dikritik oleh ulama lainnya
seperti Imam Ibnul Qayyim, Imam Ibnu Hajar, dan sebagainya, yang telah menguatkan
kepastian hadits ini dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan berbagai hujjah,
sebagaimana sudah kami sampaikan dalam pembahasan terdahulu. Silahkan kembali
merujuk.

Kedua. Kalau pun hadits ini shahih, hadits ini tidak sharih (lugas) mengharamkan. Hadits
ini menyebut “segolongan kaum umatku akan menghalalkan Al-Hirru” yaitu kemaluan.
Padahal kemaluan ada yang dihalalkan yaitu pada jalur pernikahan, baik zaman dulu
dan sekarang. Tidak semua kemaluan diharamkan.

Hadits ini juga menyebut Al-Hariiru yaitu sutera. Padahal sutera bagi kaum wanita boleh,
dan bagi orang yang sedang dalam penyakit kulit juga diberikan keringanan, baik zaman
dulu dan sekarang. Tidak semua sutera terlarang.

Oleh karena itu, penyebutan pengharaman Al-Ma’azif (alat-alat musik), mesti dimaknai
seperti itu yaitu alat-alat musik dalam konteks maksiat, seperti yang terjadi pada
diskotik, atau dilakukan oleh para pemabuk secara berbarengan. Tidak semua alat-alat
musik.

Ketiga. Pihak yang mengharamkan memaknai bahwa keharaman Al-Ma’azif begitu


berat, sebab digandengkan dengan huruf wau athaf dengan perkara lain yang pasti
haramnya. Sehingga keharamannya setara dengan khamr, zina, dan sutera.

Hal ini dikoreksi pihak yang membolehkan, bahwa digandengkanya Al-Ma’azif dengan
zina, khamr, dan sutera, itu menunjukkan keharamannya jika dimainkan dicampur atau
dibarengi dengan perkara-perkara haram. Tetapi jika bersih dari itu semua tidak apa-
apa. Sebab, jika memang Al-Ma’azif itu haram, kenapa menjadi halal ketika pernikahan
dan hari raya? Apakah haram bisa menjadi halal dengan mudahnya hanya karena beda
momennya? Lalu, kenapa cuma Al-Ma’azif saja yang menjadi halal ketika pernikahan
dan hari raya, sedangkan zina, khamr, tetap haram walau di hari raya? Kalau memang
hal-hal itu setara, seharusnya bukan cuma Al-Ma’azif tapi yang lain juga berubah
menjadi boleh saat pernikahan dan hari raya karena kesetaraannya dalam penyebutan
di haditsnya.

Hadits kedua:
‫ُّ غوأغغمغرعني‬،‫ا غبغعغثعني غرلحغمةة لعللغعاغلعميغن غويِهةدى لعللغعاغلعميغن‬
‫ “ إعان غ‬,ْ‫صالىَّ ا يِ غعغلليعه غوغسلاغم‬ ‫ غقاغل غريِسويِل ع‬:‫غعلن أغعبي أ يِغماغمغة غقاغل‬
‫ا غ‬
‫ُّ غوأغلمعر اللغجاعهلعاية‬،‫ب‬ ‫ف غواللغمغزاعميعر غواللغ لوغثاعن غوال ي‬
‫صل يِ ع‬ ‫… غربَبي عبغملحعق اللغمغعاعز ع‬

Dari Abu Umamah, dia berkata: Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
Sesungguhnya Allah mengutusku sebagai rahmat dan petunjuk bagi semesta alam,
Rabbku telah memerintahkan aku untuk membinasakan alat-alat musik, seruling,
berhala, salib dan perkara jahiliyah … (HR. Ahmad No. 22307, Ath-Thayalisi No. 1230,
Ath-Thabarani dalam Al-Kabir No. 7803, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 6108)

Hadits yang mulia ini menunjukkan bahwa alat-alat musik hendak dihancurkan oleh Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, itu menunjukkan kebenciannya terhadapnya serta
keharaman hukum atasnya.

Namun, hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah, sebab dhaif jiddan (sangat lemah – invalid
text), sebagaimana dikatakan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth, lantaran ada dua perawi yang
dhaif yaitu Faraj bin Fadhalah dan ‘Ali bin Yazid. (Ta’liq Musnad Ahmad, 36/646).
Didhaifkan pula oleh Imam Abu Thayyib Syamsul Azhim. (‘Aunul Ma’bud, 13/185).
Didhaifkan pula oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. (Misykah Al-Mashabih,
No. 3654).

Hadits ketiga:

‫ف غوغملسمخ غوغقلذ م‬
‫ُّ غفغقاغل غريِجمل عمغن‬،‫ف‬ ‫ عفي غهعذعه ال يِامعة غخلس م‬:‫ا يِ غعغلليعه غوغسلاغمْ غقاغل‬
‫صالىَّ ا‬
‫ا غ‬‫ُّ أغان غريِسوغل ع‬،‫صليسن‬
‫غعلن ععلمغراغن لبعن يِح غ‬
‫ت اليِخيِمويِر‬ ِ‫ف غو ي‬
‫شعرغب ع‬ ‫ إعغذا غظغهغر ع‬:‫ُّ غوغمغتىَّ غذاغك؟َ غقاغل‬،‫ا‬
ِ‫ت الغقليغنا ي‬
ِ‫ت غوالغمغعاعز ي‬ ‫ل‬
‫ غيا غريِسوغل ع‬:‫اليِملسلععميغن‬

Dari ‘Imran bin Hushain, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Akan datang pada
umat mereka ditenggelamkan, rupa mereka berubah, dan dilempari batu.” Mereka
bertanya, “Wahai Rasulullah, kapan hal itu terjadi?” Beliau bersabda, “Ketika nampak
penyanyi wanita, musik-musik, dan diminumnya khamr.” (HR. At Tirmidzi No. 2212,
katanya: hadits ini gharib. Ar Ruyani dalam Musnadnya No. 132, Ath-Thabarani dalam
Al-Kabir No. 5810. Lafaz ini milik At Tirmidzi. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam
Shahihul Jami’ No. 5467. Dihasankan oleh Imam Al-Munawi dalam At Taisir, 2/179)

Bagi pihak yang membolehkan, kalaupun hadits ini shahih, hadits ini tidak sharih-tegas
dalam mengharamkan musik. Hadits ini hanyalah menceritakan fase buruk umat Islam
di akhir zaman, ketika mereka sudah tenggelam dalam dunia, yaitu hiburan, musik, dan
minuman keras. Tak berarti musik itu sendiri adalah haram. Ini menunjukkan sikap
melampaui batas umat Islam pada saat itu, mereka sibuk dengan perkara-perkara ini,
dan berpaling dari ajaran Rasulullah sehingga Allah Taala membuat mereka terbenam,
berubah, dan dilemparkan batu, sebagaimana kaum Tsamud dahulu yang terekam
dalam ayat: (Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui
batas. (Asy Syams: 11)

Hadits keempat:
‫ يِيغسيموغنغها‬, ‫س عملن أ يِامعتي اللغخلمغر‬ ‫ “ غلغيلشغرغبان أ يِغنا م‬,‫صالىَّ ا يِ غعغلليعه غوغسلاغمْ أغانيِه غقاغل‬‫ا غ‬ ‫ُّ غعلن غريِسوعل ع‬،ِ‫ي‬ َ‫غعلن أغعبي غمالعسك اللغلشغععر ب‬
‫ف ا يِ عبيِهيِمْ اللغلر غ‬
‫ غوغيلجغعيِل عملنيِهلمْ عقغرغدةة غوغخغناعزيغر‬, ‫ض‬ ِ‫ غيلخعس ي‬, ‫ف‬ ِ‫ب غعغلىَّ يِريِءوعسعهيِمْ اللغمغعاعز ي‬ ‫ غويِت ل‬, ‫عبغغليعر السعمغها‬
ِ‫ضغر ي‬

Dari Abi Malik Al-Asy’ari, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda:

“Manusia di antara umatku akan benar-benar minum khamr, mereka menamakannya


dengan bukan namanya, dipukulkan di hadapan mereka alat-alat musik, Allah
membenamkan mereka di bumi, dan menjadikan sebagian mereka sebagai kera dan
babi.” (HR. Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra No. 17383 dan 20989, dengan tambahan:
mughanniyat (biduanita), Ibnu Majah No. 4020, Ath-Thabarani, Al-Kabir No. 3419.
Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ghayatul Maram No. 402)

Hadits ini jika shahih, juga bukan hujjah untuk mengharamkan musik sekedar menghibur
diri saja, dan redaksi hadits ini menunjukkan hal itu. Musik yang tercela adalah jika
dibarengi dengan perkara yang diharamkan yaitu khamr (minuman keras), ini jelas
disebutkan dalam hadits ini masa di mana umat ini akan mabuk-mabukan sambil
memainkan musik. Jelas sekali berbeda dengan musik-musik, atau tetabuhan, yang
dipakai oleh para prajurit, pekerja, musafir, dalam menyemangati aktifitas mereka, sama
sekali tidak ada unsur maksiat di dalamnya.

Hadits kelima:

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
bersabda:

‫ُّ غوالليِكوغبيِة‬،‫ُّ غواللغمليعسيِر‬،‫ُّ أغ لو يِحبَرغمْ اللغخلميِر‬،‫اغ غحارغمْ غعلغاي‬


‫إعان ا‬

Sesungguhnya Allah haramkan atasku, atau diharamkan khamr, judi, dan Al-Kubah.
(HR. Abu Daud No. 3696.. Abu Ya’la No. 2729, Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra No.
20991. Dishahihkan oleh Imam Ibnu Hibban. (Tuhfatul Muhtaj Ila Adillatil Minhaj No.
1792), Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash Shahihah No. 2425. Syaikh Syu’aib Al-
Arnauth (Ta’liq Musnad Ahmad, 4/280). Syaikh Husein Salim Asad dalam Musnad Abu
Ya’la mengatakan: para perawinya terpercaya).

Imam Abu Daud berkata: Sufyan bertanya kepada Ali bin Badzimah tentang Al-Kubah,
dia menjawab: Ath-Thabl – drum/gendang. (Sunan Abi Daud No. 3639). Sementara
Imam Ibnu Abi Syaibah mengatakan Al-Kubah adalah Al-‘Uud– kecapi. (Al-Mushannaf
No. 24080). Imam Ibnul Atsir mengatakan: Al-Kubah adalah Ath-Thablush Shaghir –
gendang kecil. (Jami’ul Ushul, 5/97). Imam Ahmad bertanya kepada Yahya bin Ishaq,
apa itu Al-Kubah? Beliau menjawab: Thabl – drum. (Al-Badrul Munir, 9/649). Imam
Muhammad bin Katsir mengatakan, Al-Kubah adalah dadu menurut bahasa penduduk
Yaman. (Imam Abu ‘Ubaid, Gharibul Hadits, 4/278)

Hadits keenam:

Dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
bersabda:
‫ُّ غوالليِكوغبغة‬،‫ُّ غواللغمليعسغر‬،‫إعان اغ غحارغمْ غعغللييِكعمْ اللغخلمغر‬

Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian khamr, judi, dan Al-Kubah. (HR. Ahmad
No. 2625, Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan: isnadnya shahih. Lihat Ta’liq Musnad
Ahmad, 4/381. Al-Baihaqi dalam Al-Adab No. 628)

Hadits ketujuh:

Dari Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

‫ غنغهىَّ غععن اللغخلمعر غواللغمليعسعر غوالليِكوغبعة غوالليِغغبليغراعء‬:ْ‫صالىَّ ا يِ غعغلليعه غوغسلاغم‬ ‫أغان غنعباي ا ع‬
‫ا غ‬

Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang khamr, Al-Kubah, dan Al-Ghubaira.

(HR. Abu Daud No. 3685. Abu Daud mengatakan bahwa menurut Imam Abu ‘Ubaid, Al-
Ghubaira adalah minuman keras yang terbuat dari perasan Jagung. Didalam sanadnya
terdapat Al-Walid bin ‘Abdah, Imam Al-Mundziri mengatakan: Walid bin ‘Abdah menurut
Imam Abu Hatim adalah: majhul (tidak dikenal). Ibnu Yunus mengatakan dalam Tarikh
Al-Mishriyin bahwa Walid bin ‘Abdah adalah pelayannya Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash,
Yazid bin Habib meriwaytkan hadits darinya, dan hadits ini ma’lul – memiliki cacat. Lihat
Mukhtashar, 5/268-269. Namun dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash
Shahihah No. 1708)

Hadits kelima, keenam, dan ketujuh semuanya sama, bahwa Allah Taala
mengharamkan minuman keras, judi, air perasan jagung yang memabukkan (Al-
Ghubaira), dan gendang (Al-Kubah).

Bagi pihak yang membolehkan, keharaman yang disebutkan dalam hadits ini jika musik
dimainkan bersamaan dengan hal-hal yang diharamkan tersebut, seperti di tempat-
tempat berkumpulnya ahli maksiat; bar dan diskotik. Sebab, jika alat musik pukul seperti
gendang (ath thabl) diharamkan secara sendiri, maka kita akan bertemu fakta lain pada
hadits lainnya kebolehan memukul alat musik pukul lainnya seperti Ad-duf (rebana)
diwaktu pernikahan, hari raya, dan hari bahagia. Sedangkan khamr dan judi haram
dalam keadaan apa pun, berbeda dengan alat musik pukul. Maka, kita mesti
memahaminya bahwa itu diharamkan jika dimainkan bersamaan dengan hal-hal yang
diharamkan, bukan musik itu sendiri.

Hadits kedelapan:

Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallambersabda:

‫صوتان ملعونان في الدنيا والخرة مزمار عند نعمة ورنة عند مصيبة‬

“Ada dua suara yang dilaknat di dunia dan akhirat; suara seruling ketika mendapatkan
kenikmatan dan raungan ketika musibah.” (HR. Al-Bazzar No. 7513, Alauddin Al-Muttaqi
Al-Hindi, Kanzul ‘Ummal No. 40661, 40673. Syaikh Al-Albani menghasankan. Lihat
Shahih At Targhib wat Tarhib No. 3527. Imam Al-Haitsami mengatakan: para perawinya
terpercaya. Lihat Majma’uz Zawaid, 3/13. Dihasankan pula oleh Syaikh Abdul Malik bin
Abdullah Duhaisy dalam tahqiqnya terhadap kitab Al-Ahadits Al-Mukhtarah-nya Imam
Dhiya’uddin Al-Maqdisi No. 2200. Sementara Imam Al-Munawi mengatakan: isnadnya
shahih. Lihat At Taisir bi Syarhil Jami’ Ash Shaghir, 2/95)

Pihak yang membolehkan mengatakan, bahwa mafhum mukhalafah (makna implisit)


pada hadits ini adalah jika seruling itu terlaknat ketika dalam keadaan nikmat, maka
seruling boleh dimainkan diluar keadaan memperoleh nikmat. Jika meraung dilarang
dalam keadaan musibah, maka meraung (berteriak) dibolehkan selain dalam keadaan
musibah. Imam Al-Munawi mengatakan:

‫غقاغل القشيرى غملفيِهومه اللحل عفي غير غهاتين اللغحاغلغتليعن‬

Berkata Al-Qusyairi: makna implisitnya adalah bahwa hal ini halal diluar dua keadaan ini.
(At Taisir bi Syarhil Jami’ Ash Shaghir, 2/95)

Pemahaman Al-Qusyairi ini sudah dikoreksi oleh Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Al-
Qurthubi sebagaimana penjelasan terdahulu. (Lihat keterangan hadits kedelapan pada
pembahasan dalil As-Sunnah pihak yang mengharamkan)

Lalu, pihak yang membolehkan juga mengatakan bahwa hadits ini dhaif, sebagaimana
dikatakan oleh Imam Asy-Syaukani Rahimahullah ketika menjelaskan hadits ini. Berikut
ini keterangannya:

‫ُّ غوغقلد غتغقادغمْ غما غقاغليِه البيِن‬،‫ضاعغفغها غجغماغعمة عملن الاظاعهعرايعة غواللغمالععكايعة غواللغحغناعبلغعة غوالاشاعفععايعة‬ ‫ب الليِمغجبَويِزوغن غعلنغها عبأ غانيِه غقلد غ‬ ‫غوغقلد أغغجا غ‬
‫ُّ غوغكغذلعغك غقاغل اللغغغزالعيي‬،‫صاح عفي الاتلحعريعمْ غشليمء‬ ‫ لغلمْ غي ع‬:‫غحلزسمْ غوغواغفغقيِه غعغلىَّ غذلعغك أغيِبو غبلكعر لبيِن اللغعغرعببَي عفي عكغتاعبعه اللغلحغكايِمْ غوغقاغل‬
‫حد‬‫ف غوا ع‬ ‫صاح عملنغها غحلر م‬ ‫ إانيِه لغلمْ غي ع‬:‫ُّ غوغهغكغذا غقاغل البيِن غطاعهسر‬،‫يِ عفي الليِعلمغدعة‬ َ‫غوالبيِن الانلحعو ب‬

Pihak yang membolehkan telah memberikan jawaban terhadap berbagai riwayat ini,
bahwasanya itu telah didhaifkan oleh segolongan ulama dari kalangan Zhahiriyah,
Malikiyah, Hanabilah, dan Syafi’iyah, telah disampaikan sebelumnya komentar Imam
Ibnu Hazm dan yang menyepakatinya seperti Imam Abu Bakar bin Al-‘Arabi, di dalam
kitabnya Al-Ahkam, katanya, “Tidak ada yang shahih sedikitpun dalam
pengharamannya.” Demikian juga perkataan Al-Ghazali dan Ibnu Nahwi dalam
Al-‘Umdah. Demikian juga yang dikatakan Ibnu Thahir, “Tidak ada yang shahih satu
huruf pun tentang pengharaman (nyanyian dan musik).” (Nailul Authar, 8/117)

Hadits kesembilan:

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
bersabda:

ِ‫اللغجغر ي‬
‫س غمغزاعمييِر الاشليغطاعن‬

Lonceng adalah seruling-seruling syetan. (HR. Muslim No. 2114, Abu Daud No. 2556,
An Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra No. 8761)

Menurut pihak yang membolehkan, hadits ini juga tidak bisa dijadikan hujjah karena
beberapa hal:

Pertama. Lonceng bukanlah alat hiburan dan bukan alat musik, lebih tepat dia adalah
alat komunikasi yang biasa dipakai oleh kaum Nasrani pada gereja-gereja mereka. Oleh
karenanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang menggunakan lonceng
untuk memanggil orang shalat berjamaah, sebab itu menyerupai orang Nasrani.
Dilarang pula menggantungkan lonceng dalam perjalanan.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

‫صغحيِبغها اللغمغلعئغكيِة‬ ِ‫إعان اللععيغر الاعتي عفيغها اللغجغر ي‬


‫س غل غت ل‬

Malaikat tidaklah menyertai qafilah yang di dalamnya terdapat lonceng. (HR. Ahmad No.
26770. Ad-Darimi No. 2717. An Nasa’i, As-Sunan Al-Kubra No. 8760, dll. Syaikh Syu’aib
Al-Arnauth mengatakan: shahih lighairih. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 44/355)

Maka, kenyataan bahwa lonceng bukan alat musik, tidak pas menjadikan hadits ini
sebagai larangan musik.

Kedua. Sebutan bahwa itu adalah seruling syetan tidak selalu membawa konsekuensi
haram, sebab Ad-Duf (rebana) yang dimainkan oleh dua gadis di rumah nabi pada saat
hari raya, oleh Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu juga disebut seruling syetan, tetapi Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membolehkannya saat itu.

Sedangkan ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, memakruhkan suara lonceng. (Ibnu Abi Syaibah,
Al-Mushannaf, No. 32594).

Ketiga. Kalaulah lonceng ini haram, maka itu terbatas pada lonceng saja, sebab hadits-
haditsnya khusus dan terbatas. Para ulama pun tidak memasukkan bel sekolah, alarm
jam, dering telepon termasuk di dalam makna “lonceng”.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah mengatakan:

ُّ،ْ‫ُّ كجرس ساعة المنبه الذيِ يوقظ من النوم‬،‫وقد أحدثت في هذا العصر أجراس متنوعة لغراض مختلفة نافعة‬
‫ُّ فهل يدخل هذا في الحاديث المذكورة وما‬،‫ُّ ونحو ذلك‬،‫ُّ والدور‬،‫ُّ وجرس دوائر الحكومة‬،”‫وجرس الهاتف “التليفون‬
ْ‫ وا أعلم‬.‫ُّ وذلك لنه ل يشبه الناقوس ل في صوته ول في صورته‬،‫ ل‬:‫في معناها؟َ وجوابي‬.

Pada zaman ini telah ada berbagai suara buatan dengan beragam tujuan. Ada suara
alarm jam untuk membangunkan dari tidur, suara dering panggilan telepon, suara bel
yang ada di kantor-kantor pemerintah, asrama, atau lainnya. Apakah suara-suara
buatan tersebut termasuk dalam hadits-hadits larangan di atas dan hadits-hadits lain
yang semakna? Jawabanku, tidak termasuk, karena suara-suara buatan tersebut tidak
menyerupai suara lonceng baik dari sisi suara ataupun bentuk. Wallahu A’lam (Jilbab
Mar’ah Muslimah, Hal. 169)

Hadits kesepuluh:

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, katanya:


ْ‫صالىَّ ا يِ غعغلليعه غوغسلاغم‬ ‫ُّ غوالانعبيي غ‬،‫ضعرغباعن‬ ‫ُّ غوغت ل‬،‫ُّ غدغخغل غعغلليغها غوععلنغدغها غجاعرغيغتاعن عفي أغاياعمْ عمغنىَّ يِتغدبَفغفاعن‬،‫ا يِ غعلنيِه‬
‫ضغي ا‬ ‫أغان أغغبا غبلكسر غر ع‬
ْ‫ُّ غفإعانغها أغايايِم‬،‫ »غدلعيِهغما غيا أغغبا غبلكسر‬:‫ُّ غفغقاغل‬،‫صالىَّ ا يِ غعغلليعه غوغسلاغمْ غعلن غولجعهعه‬ ‫ف الانعبيي غ‬ ‫ُّ غفغكغش غ‬،‫ُّ غفالنغتغهغريِهغما أغيِبو غبلكسر‬،‫ش عبغث لوعبعه‬
‫يِمغتغغ ي‬
‫ُّ غوعتلل غ‬،‫ععيسد‬
‫ك‬

Bahwasanya Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu, masuk ke kamarnya dan saat itu ada dua
jariyah (anak gadis) yang sedang memainkan rebana di hari Mina. Saat itu Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang menyelimuti dirinya dengan pakaiannya, lalu Abu
Bakar mencelanya, lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membuka wajahnya dan
bersabda, “Biarkan mereka berdua wahai Abu Bakar, sesungguhnya ini adalah hari
raya.” (HR. Bukhari No. 987, Muslim No. 892, lafaz ini milik Al-Bukhari)

Hadits ini shahih, muttafaq ‘alaih, dan sharih (jelas) bahwa rebana itu boleh atas
rekomendasi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di hari raya, bahkan hari lainnya.

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

‫أن ضرب دف العرب مباح في يومْ السرور الظاهر وهو العيد والعرس والختان قوله في أيامْ منىَّ يعني الثلثة بعد‬
‫يومْ النحر وهي أيامْ التشريق ففيه أن هذه اليامْ داخلة في أيامْ العيد‬

Bahwa memainkan rebana Arab adalah dibolehkan pada hari yang menyenangkan,
zahirnya adalah pada hari raya, nikah, dan khitan. Ucapannya “di hari-hari Mina”
maksudnya di tiga hari setelah hari penyembelihan, yaitu hari-hari tasyriq. Maka, hari-
hari ini termasuk hari raya. (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/184)

Hadits kesebelas:

Dari Buraidah katanya:

‫ا إعبَني‬ ‫ غيا غريِسوغل ع‬:‫ت‬ ‫ُّ غفغقالغ ل‬،‫ت غجاعرغيمة غس لوغدايِء‬‫ف غجاغء ل‬ ‫صغر غ‬ ‫ُّ غفلغاما الن غ‬،‫ض غمغغاعزيعه‬ ‫ا يِ غعلغليعه غوغسلاغمْ عفي غبلع ع‬ ‫صالىَّ ا‬ ‫غخغرغج غريِسويِل اع غ‬
‫ت‬‫ إعلن يِكلن ع‬:ْ‫ا يِ غعغلليعه غوغسلاغم‬ ‫صالىَّ ا‬ ‫ا غ‬ ‫ُّ غفغقاغل غلغها غريِسويِل ع‬،َّ‫ف غوأغغتغغانى‬ َ‫ك عباليد ب‬‫ب غبليغن غيغدلي غ‬ ‫ضعر غ‬ ‫ا يِ غسالعةما أغلن أغ ل‬ ‫ت إعلن غرادغك ا‬ ِ‫ت غنغذلر ي‬
ِ‫يِكلن ي‬
‫ُّ يِثامْ غدغخغل يِعلثغمايِن‬،‫ب‬ِ‫ضعر ي‬ ‫ُّ يِثامْ غدغخغل غعلعيي غوعهغي غت ل‬،‫ب‬ ِ‫ضعر ي‬ ‫ُّ غفغدغخغل أغيِبو غبلكسر غوعهغي غت ل‬،‫ب‬ ِ‫ضعر ي‬ ‫ت غت ل‬ ‫ غفغجغعغل ل‬.‫ل‬‫ضعرعبي غوإعلا غف غ‬ ‫ت غفا ل‬ ‫غنغذلر ع‬
‫ إعان‬:ْ‫ا يِ غعغلليعه غوغسلاغم‬‫صالىَّ ا‬ ‫ا غ‬ ‫ُّ غفغقاغل غريِسويِل ع‬،‫ت غعغلليعه‬ ‫ُّ يِثامْ غقغعغد ل‬،‫ت السعتغها‬ ‫ف غتلح غ‬ ‫ت اليد ا‬ ‫ُّ يِثامْ غدغخغل يِعغميِر غفأ غللغق ع‬،‫ب‬ ‫غوعهغي غت ل‬
ِ‫ضعر ي‬
‫ُّ يِثامْ غدغخغل غعلعيي غوعهغي‬،‫ب‬ ِ‫ضعر ي‬ ‫ب غفغدغخغل أغيِبو غبلكسر غوعهغي غت ل‬ ِ‫ضعر ي‬‫ت غجالعةسا غوعهغي غت ل‬ ِ‫ُّ إعبَني يِكلن ي‬،‫ك غيا يِعغميِر‬ ‫ف عملن غ‬ِ‫الاشليغطاغن غلغيغخا ي‬
‫ت اليد ا‬
‫ف‬ ‫ت غيا يِعغميِر أغللغق ع‬‫ت أغلن غ‬ ‫ُّ غفغلاما غدغخلل غ‬،‫ب‬ِ‫ضعر ي‬‫ُّ يِثامْ غدغخغل يِعلثغمايِن غوعهغي غت ل‬،‫ب‬ ِ‫ضعر ي‬ ‫غت ل‬

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan peperangan, ketika sudah kembali


datanglah kepadanya seorang budak wanita berkulit hitam, lalu berkata, “Wahai
Rasulullah, aku bernadzar jika engkau kembali dalam keadaan selamat aku akan
memainkan rebana dan bernyanyi di hadapanmu.” Rasulullah bersabda, “Jika engkau
sudah bernadzar maka pukullah rebana itu, jika tidak bernadzar maka tidak usah dipukul
rebananya.” (HR. At Tirmdzi No. 3690, katanya: hasan shahih)

Bahkan dalam kisah hadits ini, gadis ini tetap memainkan rebananya ketika Abu Bakar,
Utsman, dan Ali Radhiallahu ‘Anhum datang. Namun ketika Umar Radhiallahu ‘Anhu
datang, maka gadis ini melempar rebananya karena ketakutan.

Jadi, dalam hadits ini banyak sekali pelajaran berharga. Di antaranya:


Pertama. Menjadi dalil yang kuat kebolehan Al-Ma’azif, yakni Ad-Duf (rebana). Sebab,
jika seandainya itu perbuatan terlarang dan maksiat tentu nabi akan melarang gadis itu
bernadzar dengan sesuatu yang terlarang dan maksiat. Justru nabi memerintahkannya
untuk memukul rebana itu. Imam Asy-Syaukani Rahimahullah menjelaskan:

‫ُّ غفاللعلذيِن‬،‫ا‬
‫صغيعة ا ع‬ ‫ت اللغعدلايِة غعغلىَّ أغانيِه غل غنلذغر عفي غملع ع‬
‫ غوغقلد غدلا ل‬.‫ف‬ ‫غوأغاما الليِمغجبَويِزوغن غفغيلسغتعديلوغن عبعه غعغلىَّ يِملطغلعق اللغجغواعز لعغما غسغل غ‬
‫صغية‬‫س عبغملع ع‬ ‫ب غييِديل غعغلىَّ أغان غما غفغعغللتيِه غللي غ‬ ‫ا يِ غعغلليعه غوغسلاغمْ – غلغهعذعه اللغملرأغعة عبال ا‬
‫ضلر ع‬ ‫صالىَّ ا‬
‫عملنيِه – غ‬

Ada pun pihak yang membolehkan berdalil dengan hadits ini, bahwa musik dibolehkan
secara mutlak sebagaimana pembahasan lalu. Bahwasanya berbagai dalil menyatakan
tidak boleh bernadzar dalam hal maksiat kepada Allah, maka izin Nabi Shallallahu ‘Alaihi
wa Sallam kepada wanita ini untuk memukul rebana menunjukkan bahwa apa yang
dilakukannya bukanlah maksiat. (Nailul Authar, 8/199)

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

‫غفإعانيِه غل غوغفاغء لعغنلذسر عفي غملع ع‬


‫صغيعة غ ا ع‬
‫ا‬

Sesungguhnya tidak boleh memenuhi nadzar dalam hal maksiat kepada Allah. (HR. Abu
Daud No. 3313. Dishahihkan oleh Imam Ibnu Hajar, Imam Ibnu Abdil Hadi, Imam Ibnul
Mulaqqin, dan lainnya)

Ada pun ucapan nabi, “jika tidak bernadzar maka tidak usah dipukul rebananya”, karena
memang tidak ada tuntutan untuk memukulnya jika tidak bernadzar, ucapan ini bukan
berarti rebana adalah haram.

Kedua. Bahkan rebana itu pun didengarkan pula oleh Abu Bakar, Utsman, dan Ali
Radhiallahu ‘Anhum.

Ketiga. Peristiwa ini pun bukan terjadi pada saat hari raya, bukan pernikahan, bukan
pula khitanan, … oleh karenanya golongan ini menjadikannya sebagai dalil bolehnya
musik pada waktu kapan pun secara mutlak sebagaimana dikatakan oleh Imam Asy-
Syaukani.

Keempat. Hadits ini menjadi dalil bolehnya laki-laki mendengarkan wanita bernyanyi jika
aman dari fitnah. Imam Ali Al-Qari Rahimahullah mengatakan:

‫ت اللغملرأغعة عباللعغغناعء يِمغبامح إعغذا غخغل غععن اللعفلتغنعة‬ ‫غدعليمل غعغلىَّ أغان غسغماغع غ‬
‫ص لو ع‬

Ini merupakan dalil bahwa mendengarkan suara wanita yang bernyanyi adalah mubah
jika tidak ada fitnah. (Mirqah Al-Mafatih, 9/3902)

Hadits kesepuluh dan kesebelas ini, dijadikan dalil oleh Syaikh Sayyid Sabiq
Rahimahullah kebolehan musik dan nyanyian yang baik-baik, hanya saja Beliau
menegaskan kehalalan musik bisa berubah jika diarahkan pada perkara-perkara yang
tidak halal pula. Beliau berkata:

‫فإذا عرض له ما يخرجه عن دائرة الحلل كأن يهيج الشهوة أو يدعو إلىَّ فسق أو ينبه إلىَّ الشر أو اتخذ ملهاة عن‬
‫ فهو حلل في ذاته وإنما عرض ما يخرجه عن دائرة الحلل وعلىَّ هذا تحمل أحاديث‬.‫ُّ كان غير حلل‬،‫الطاعات‬
‫النهي عنه‬

Jika dia diarahkan untuk keluar dari lingkup kehalalan, seperti membangkitkan syahwat,
atau ajakan kepada kefasikan, atau menumbuhkan kepada keburukan, atau
menjadikannya lalai dari ketaatan, maka itu tidak halal.

Maka, musik halal secara dzatnya, dia hanyalah telarang jika diarahkan untuk keluar
dari lingkup kehalalan. Untuk ini, banyak hadits-hadits bermakna demikian yang
melarangnya. (Fiqhus Sunnah, 3/57)

Hadits Kedua belas:

Ar Rubayyi binti Mu’awidz Radhiallahu ‘Anha bercerita:

‫ضعرغباعن‬ ‫ُّ غوععلنعديِ غجاعرغيغتاعن غت ل‬،‫ضعع عفغراعشي غهغذا‬ ‫ُّ غفغقغعغد عفي غم لو ع‬،‫صالىَّ ا يِ غعلغليعه غوغسلاغمْ غي لوغمْ يِعلرعسي‬ ‫ا غ‬ ‫غدغخغل غعلغاي غريِسويِل ع‬
‫ غفغقاغل غريِسويِل‬.‫ غوعفيغنا غنعبيي غيلعلغيِمْ غما غييِكويِن عفي اللغي لوعمْ غوعفي غغسد‬:‫ُّ غفغقالغغتا عفيغما غتيِقوغلعن‬،‫ُّ غوغتلنيِدغباعن آغباعئي الاعذيغن قيِعتيِلوا غي لوغمْ غبلدسر‬،‫ف‬
َ‫عباليد ب‬
‫غ‬ ِ‫ي‬ ‫غ‬ ‫غ‬ ‫غ‬ ‫غ‬ ‫غ‬ ‫ا‬ ‫غ‬
ِ‫ُّ فل تقولهي‬،‫صلىَّ ا يِ غعلليعه غوغسلغمْ أاما غهذا‬ ‫ا‬ ‫ا غ‬ ‫ع‬

Pada hari pernikahanku Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang, dia duduk di
permadaniku ini, aku memiliki dua jariyah (budak wanita remaja) yang sedang
memainkan rebana, mereka menyanyikan lagu tentang ayah-ayah kami ketika terbunuh
dalam perang Badar, maka mereka berkata, “Di tengah kita ada seorang nabi yang
mengetahui apa yang terjadi hari ini dan esok.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam bersabda, “Ucapan yang ini, janganlah kalian berdua ucapkan.” (HR. Ahmad No.
27021. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan: shahih sesuai syarat Imam Muslim. Lihat
Ta’liq Musnad Ahmad, 44/570)

Kisah dalam hadits ini menjadi salah satu dalil kebolehan rebana di saat pernikahan.
Bahkan hadits kesebelas dan keduabelas menjadi dasar sebagian mereka kebolehan
mendengarkan wanita bernyanyi jika tidak mengandung fitnah.

Hadits ketiga belas:

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

‫ضعريِبوا غعغلليعه عباليديِفو ع‬


‫ف‬ ‫أغلعلعيِنوا غهغذا البَنغكاغح غوالجغعيِلوهيِ عفي اللغمغسا ع‬
‫جعد غوا ل‬

“Umumkanlah pernikahan ini dan lakukanlah di dalam masjid, dan pukul-lah rebana. “
(HR. At Tirmidzi No. 1089, katanya: hasan gharib. Ad-Dailami No. 335)

Hadits ini menjadi salah satu dalil juga kebolehan rebana di pernikahan. Tapi telah
terjadi perbedaan pendapat ulama tentang status hadits ini. Sebagian ulama
mendhaifkannya, sebagian lain menshahihkannya.

Sebagian ulama mendhaifkan, lantaran kedhaifan yang parah dari salah satu perawinya
yaitu ‘Isa bin Maimun, mereka seperti Imam Ibnul Jauzi yang berkata: dhaif Jiddan –
sangat lemah. (Al-‘Ilal Mutanahiyah, 2/627, No. 1034), Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:
sanaduhu dhaif – sanadnya lemah. (Fathul Bari, 9/226). Syaikh Al-Albani juga
mendhaifkannya. (Dhaiful Jami’ No. 966)

Ulama lain mengatakan hadits ini hasan, bahkan shahih karena memiliki penguat dari
riwayat lainnya. Imam At Tirmidzi menyebutnya hasan gharib. (Sunan At Tirmidzi No.
1089), Imam As-Sakhawi mengatakan, “Hadits ini hasan, maka riwayat dari At Tirmidzi
kalau pun dhaif, dia memiliki penguat seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan
lainnya.” (Al-Maqashid Al-Hasanah, Hal. 125)

Imam Al-‘Ajluni menjelaskan dengan panjang, “ … tetapi hadits ini memiliki berbagai
syawahid (penguat), yang membuatnya menjadi hasan lighairih, bahkan shahih,
sebagaimana penjelasan berikut. Di antara berbagai riwayat yang menguatkannya
adalah apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, dan Ibnu Mani’ dari hadits Anas dan
‘Aisyah sebagaimana tertera dalam kitab Al-La-aaliy, Al-Maqashid, dan lainnya. Juga
yang tertera dalam Musnad Ahmad, dari Ibnuz Zubeir bahwa Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Umumkanlah pernikahan”, As-Sakhawi menyebutkan
dengan lafaz, “Sembunyikanlah khitbah/lamaran” , ini menjadi dasar pihak yang
mengatakan batalnya nikah secara sembunyi-sembunyi. Dan, di antara penguatnya juga
apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim, keduanya menshahihkannya,
juga Ath-Thabarani dan Abu Nu’aim dari Ibnuz Zubeir, juga riwayat Ath-Thabarani dari
Hibar bin Al-Aswad, “Siarkanlah nikah dan umumkanlah”, juga riwayat Ad-Dailami dari
Ummu Salamah dengan lafaz, “Tampakkanlah nikah dan sembunyikanlah khitbah.”
Berkata An Najm, bahwa termasuk penguatnya adalah apa yang diriwayatkan oleh At
Tirmidzi –dan dia menghasankannya, An Nasa’i, Ibnu Majah, dan Al-Hakim –dan dia
menshahihkannya, yaitu riwayat dari Muhammad bin Hathib dengan lafaz, “Pemisah
antara halal dan haram dalam pernikahan adalah memukul rebana dan suara.” (Kasyful
Khafa, 1/145)

Hadits keempat belas:

Dari Nafi’, katanya:

:‫ غيا غناعفيِع غهلل غتلسغميِع غشليةئا؟َ غقاغل‬:‫ُّ غوغقاغل علي‬،‫ُّ غوغنغأى غععن الاطعريعق‬،‫صغبغعليعه غعغلىَّ أ يِيِذغنليعه‬
‫ضغع إع ل‬ ‫ غفغو غ‬:‫ُّ عملزغماةرا غقاغل‬،‫غسعمغع البيِن يِعغمغر‬
‫صغنغع عملثغل غهغذا‬ ‫صالىَّ ا يِ غعلغليعه غوغسلاغمْ غفغسعمغع عملثغل غهغذا غف غ‬ ِ‫ »يِكلن ي‬:‫ُّ غوغقاغل‬،‫صغبغعليعه عملن أ يِيِذغنليعه‬
‫ت غمغع الانعببَي غ‬ ِ‫»غفقيِلل ي‬
‫ غفغرغفغع إع ل‬:‫ُّ غقاغل‬،‫ غل‬:‫ت‬

Ibnu Umar mendengar suara seruling, lalu dia menutup kedua telinganya dengan
jarinya, lalu dia menjauh dari jalan dan berkata kepadaku, “Wahai Nafi’, apakah kamu
masih mendengar suaranya?” Aku menjawab, “Tidak.” Lalu Ibnu Umar melepaskan
jarinya dari kedua telinganya. Lalu Ibnu Umar berkata: Dulu aku bersama Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dia mendengar suara ini, dan dia melakukan seperti ini
(maksudnya menutup telinga, pen).” (HR. Abu Daud No. 4924)

Hadits ini, dijadikan alasan oleh pihak yang mengharamkan, namun disanggah oleh
pihak yang membolehkan pada dua sisi:
Pertama. Hadits ini dhaif, sebagaimana kata Imam Abu Daud sendiri bahwa hadits ini
munkar.

Sementara Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini. (Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud
No. 4924). Begitu pula Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr, menurutnya semua
perawi hadits ini (Ahmad bin ‘Ubaidillah, Al-Walid bin Muslim, Sa’id bin Abdul ‘Aziz,
Sulaiman bin Musa, dan Nafi’) antara tsiqah (terpercaya) dan shaduq (jujur). Dia tidak
menemukan di sisi mana munkar-nya sanad hadits ini. (Syarh Sunan Abi Daud, 560/15)

Kedua. Justru hadits ini –jikalau shahih- menjadi dalil bagi pihak yang membolehkan.
Imam Ibnu Qudamah mengatakan:

‫صالىَّ ا‬
‫ا يِ غعلغليعه غوغسلاغمْ – البغن يِعغمغر‬ ‫ لغ لو غكاغن غحغراةما لغغمغنغع الانعبيي – غ‬:‫ُّ غوغقايِلوا‬،‫غوغقلد الحغتاج غق لوممْ عبغهغذا اللغخغبعر غعغلىَّ إغباغحعة اللعملزغماعر‬
‫ُّ غوغمغنغع البيِن يِعغمغر غناعفةعا عملن السعتغماعععه‬،‫عملن غسغماعععه‬

Segolongan kaum berdalil dengan kisah ini tentang kebolehan seruling. Menurut
mereka, seandainya haram niscaya Nabi juga akan melarang Ibnu Umar
mendengarkannya, dan Ibnu Umar juga akan melarang Nafi’ mendengarkannya. (Al-
Mughni, 10/154)

Sedangkan Imam Ibnu Qudamah sendiri mengoreksi alasan pihak yang membolehkan,
menurutnya yang dilakukan oleh Nafi’ saat itu adalah mendengar tidak sengaja (As
Samaa’) sebagaimana bunyi teksnya, bukan sengaja mendengarkan (Al-Istimaa’), dan
kedua hukum ini berbeda, As-Samaa’ (mendengar tidak sengaja) dimaafkan dan yang
Al-istimaa’ (sengaja mendengar) tidak boleh. (Ibid)

Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali Rahimahullah[1] menceritakan:

‫ونقل أبو طالب المكي إباحة السماع من جماعة فقال سمع من الصحابة عبد ا بن جعفر وعبد ا بن الزبير‬
‫والمغيرة بن شعبة ومعاوية وغيرهمْ وقال قد فعل ذلك كثير من السلف الصالح صحابي وتابعي بإحسان وقال لمْ يزل‬
‫الحجازيون عندنا بمكة يسمعون السماع في أفضل أيامْ السنة وهىَّ اليامْ المعدودات التي أمر ا عباده فيها بذكره‬
‫كأيامْ التشريق ولمْ يزل أهل المدينة مواظبين كأهل مكة علىَّ السماع إلىَّ زماننا هذا فأدركنا أبا مروان القاضي وله‬
‫جوار يسمعن الناس التلحين قد أعدهن للصوفية قال وكان لعطاء جاريتان يلحنان فكان إخوانه يستمعون إليهما قال‬
‫وقيل لبي الحسن بن سالمْ كيف تنكر السماع وقد كان الجنيد وسرى السقطىَّ وذو النون يستمعون فقال وكيف أنكر‬
‫السماع وقد أجازه وسمعه من هو خير مني فقد كان عبد ا بن جعفر الطيار يسمع وإنما أنكر اللهو واللعب في‬
‫السماع‬

Abu Thalib Al-Makki menukil tentang kebolehan mendengarkan (nyanyian dan musik)
dari segolongan manusia. Dia mengatakan, dari golongan sahabat adalah Abdullah bin
Ja’far, Abdullah bin Az-Zubeir, Al-Mughirah bin Syu’bah, Mu’awiyah, dan lainnya. Dia
juga mengatakan bahwa hal ini juga dilakukan oleh banyak salafush shalih, baik
sahabat, dan yang mengikuti mereka dengan baik. Katanya: Orang-orang Hijaz –
menurut kami Mekkah- senantiasa mendengarkannya di hari-hari yang memiliki
keutamaan, yaitu hari-hari tertentu yang Allah Ta’ala perintahkan untuk ibadah dan
berdzikir kepada-Nya, seperti hari-hari tasyriq, penduduk Madinah –sebagaimana
penduduk Mekkah- juga begitu semangat melakukannya hingga zaman kita sekarang.
Saya jumpai Abu Marwan Al-Qadhi memiliki tetangga yang suka mendengarkan
manusia yang menggubah nyanyian dan menyiapkannya untuk para sufi. Dia juga
berkata, dahulu ‘Atha memiliki dua jariyah yang suka menggubah nyanyian dan
saudara-saudaranya mendengarkan mereka berdua. Dia juga berkata, bahwa
ditanyakan kepada Abul Hasan bin Salim, bagaimana engkau mengingkari As-Samaa’
padahal dulu Al-Junaid, Sari As-Suqthi, dan Dzun Nuun juga mendengarkannya? Maka
dia berkata, “Bagaimana aku mengingkarinya padahal orang yang lebih baik dariku telah
membolehkan dan mendengarkannya? Sesungguhnya Abdullah bin Ja’far Ath-Thayyar
Radhiallahu ‘Anhuma telah mendengarkannya, yang aku ingkari adalah jika
mendengarkannya untuk tujuan melalaikan dan permainan saja. (Ihya ‘Ulumddin, 2/269)

Khadimus Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah[2] menceritakan bahwa banyak


para sahabat nabi dan tabiin pernah mendengarkan nyanyian dan memainkan musik.
Berikut ini keterangannya:

‫ فمن الصحابة‬.‫ما صح عن جماعة كثيرين من الصحابة والتابعين أنهمْ كانوا يسمعون الغناء والضرب علىَّ المعازف‬
‫ُّ وعبد العزيز‬،‫ُّ وشريح القاضي‬،‫ عمر بن عبد العزيز‬:‫ ومن التابعين‬.‫ُّ وعبد ا بن جعفر وغيرهما‬،‫عبد ا بن الزبير‬
ْ‫ُّ مفتي المدينة وغيرهم‬،‫بن مسلمة‬

Telah shahih dari segolongan banyak dari sahabat nabi dan tabi’in, bahwa mereka
mendengarkan nyanyian dan memainkan musik. Di antara sahabat contohnya Abdulah
bin Az-Zubeir, Abdullah bin Ja’far, dan selain mereka berdua. Dari generasi tabi’in
contohnya: Umar bin Abdul ‘Aziz, Syuraih Al-Qadhi, Abdul ‘Aziz bin Maslamah mufti
Madinah, dan selain mereka. (Fiqhus Sunnah, 3/57-58)

Mirip dengan yang disampaikan Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah, berikut ini
penjelasan Syaikh Wahbah Az-Zuhaili Hafizhahullah:[3]

‫ وهو رأيِ جماعة من الصحابة )ابن‬.‫وأباح مالك والظاهرية وجماعة من الصوفية السماع ولو مع العود واليراع‬
‫ُّ وعمرو بن العاص وغيرهمْ( وجماعة من التابعين كسعيد‬،‫ُّ ومعاوية‬،‫ُّ وعبد ا بن الزبير‬،‫ُّ وعبد ا بن جعفر‬،‫عمر‬
‫بن المسيب‬

Imam Malik, golongan zhahiriyah, dan segolongan sufi, membolehkan mendengarkan


nyanyian walau pun dengan kecapi dan klarinet. Itu adalah pendapat segolongan
sahabat nabi seperti Ibnu Umar, Abdullah bin Ja’far, Abdullah bin Az-Zubeir, Mu’awiyah,
Amr bin Al-‘Ash, dan selain mereka, dan segolongan tabiin seperti Sa’id bin Al-Musayyib.
(Syaikh Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 4/2665)
Pada pembahasan terdahulu kita mendapatkan riwayat bahwa Ibnu Umar Radhiallahu
‘Anhuma menutup kedua telinganya ketika terdengar suara seruling, yang kemudian itu
dianggap sebagai dalil bahwa Beliau mengharamkan. Tetapi dalam kisah yang lain
bahwa Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhu justru membolehkan kecapi. Berikut ini kisahnya:

‫ أغان غعلبغد ا‬:‫ب أغيِبو يِعغمغر اللغلنغدل يِعسيي‬


‫اع لبغن يِعغمغر غدغخغل غعغلىَّ البعن غجلعغفسر غفغوغجغد ععلنغدهيِ غجاعرغيةة‬ ِ‫ب اللععلقعد اللغعالغميِة اللغعدي ي‬
ِ‫ح ي‬
‫صا ع‬
‫غوغرغوى غ‬
‫س عبغهغذا‬ ‫ل‬ ‫ل‬
‫ غل غبأ غ‬:‫ غهلل غتغرى عبغذلعغك غبأةسا؟َ غقاغل‬:‫حلجعرغها يِعومد يِثامْ غقاغل عللبعن يِعغمغر‬ ‫عفي ع‬

Pengarang kitab Al-‘Iqdu, Al-‘Allamah Abu Umar Al-Andalusi, meriwayatkan, “Bahwa


Abdullah bin Umar masuk ke rumah Abdullah bin Ja’far. Dia dapati di rumahnya itu ada
seorang jariyah yang dikamarnya terdapat ‘Uud (kecapi). Lalu Beliau bertanya kepada
Ibnu Umar, “Apakah pendapatmu ini boleh-boleh saja?” Beliau menjawab, “Tidak apa-
apa.” (Nailul Authar, 8/113)

Sementara Imam Abu Hanifah Radhiallahu ‘Anhu, dari pendapatnya mengisyaratkan


bahwa Beliau tidak menganggap alat-alat musik adalah haram, hal itu bisa terlihat
keterangan Imam Al-Kisani berikut ini:

‫ُّ غوغنلحعو غذلعغك ععلنغد أغعبي غحعنيغفغة‬،‫ف‬


َ‫ُّ غواليد ب‬،‫ُّ غواللعملزغماعر‬،‫ُّ غوالاطلبعل‬،‫ت اللغمغلعهي عملن اللغبلرغبعط‬
‫غوغييِجويِز غبلييِع آغل ع‬

Dibolehkan menjual alat-alat musik seperti Al-Barbath, gendang, seruling, rebana, dan
lainnya, menurut Imam Abu Hanifah. (Bada’i Ash Shana’i, 5/144)

Para ahli bahasa menjelaskan Al-Barbath adalah alat musik orang ‘ajam (non Arab),
yang ter-Arabkan. (Abu Manshur Al-Harawi Al-Azhari, Tahdzibul Lughah, 14/42). Ada
juga yang menyebut ‘Uud (kecapi), dan itu adalah bahasa Persia. (Abu Abdillah Al-
Balkhi Al-Khawarizmi, Mafatih Al-‘Ulum, 1/260). Ada juga yang menyebut alat musik
menyerupai kecapi, berasal dari Persia yang ter-Arabkan. (Ibnul Atsir, Nihayah fi Gharibil
Hadits, 1/112)

Tentunya hanya benda-benda halal yang boleh diperjual belikan, maka ketika alat-alat
musik dibolehkan diperjualbelikan oleh Imam Abu Hanifah, itu mengisyaratkan begitulah
pendapat Imam Abu Hanifah. Wallahu A’lam

Hal ini dipertegas lagi dalam keterangan dalam Al-Mausu’ah berikut ini:

‫ والتفصيل في مصطلح‬. ‫ُّ فيكون بيعها عند هؤلء مباحا‬،ْ‫وذهب بعض الفقهاء إلىَّ إباحتها إذا لمْ يلبسها محرم‬
‫ومذهب أبي حنيفة – خلفا لصاحبيه – أنه يصح بيع آلت اللهو كله‬. (‫)معازف‬

Sebagian ahli fiqih berpendapat, bolehnya menjual alat-alat musik bila tidak dicampuri
dengan hal-hal yang haram, maka menjual hal tersebut bagi mereka mubah. Rinciannya
terdapat dalam pembahasan Al-Ma’azif. Imam Abu Hanifah berpendapat –berbeda
dengan dua sahabatnya- bahwa sah memperjualbelikan alat-alat musik seluruhnya. (Al
Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, 9/157)

Imam Abu Muhammad bin Hazm Rahimahullah juga menegaskan kebolehan jual beli
alat-alat musik, katanya:
‫وبيع الشطرنج‪ ُّ،‬والمزامير‪ ُّ،‬والعيدان‪ ُّ،‬والمعازف‪ ُّ،‬والطنابير‪ :‬حلل كله‪ ُّ،‬ومن كسر شيئا من ذلك ضمنه‬

‫‪Menjual catur, seruling, alat pesta, alat musik, tamburin, semuanya halal, dan barang‬‬
‫)‪siapa yang menghancurkannya maka dia wajib mengganti rugi. (Al Muhalla, 7/599‬‬

‫‪Lalu Imam Ibnu Hazm menjelaskan alasannya:‬‬

‫قال – تعالىَّ ‪} :-‬خلق لكمْ ما في الرض جميعا{ٌ ]البقرة‪ ُّ، [29 :‬وقال – تعالىَّ ‪} :-‬وأحل ا البيع{ٌ ]البقرة‪ُّ، [275 :‬‬
‫وقال – تعالىَّ ‪} :-‬وقد فصل لكمْ ما حرمْ عليكمْ{ٌ ]النعامْ‪ ُّ، [119 :‬ولمْ يأت نص بتحريمْ بيع شيء من ذلك‪ ُّ،‬ورأى‬
‫أبو حنيفة الضمان علىَّ من كسر شيئا من ذلك‪ .‬واحتج المانعون بآِثار ل تصح‪ ُّ،‬أو يصح بعضها‪ ُّ،‬ول حجة لهمْ فيها‬

‫‪Allah Ta’ala berfirman, “Dia telah menciptakan apa-apa yang ada di bumi semuanya‬‬
‫‪buat kalian” (Al-Baqarah: 29), firman-Nya, “Allah telah halalkan jual beli” (QS. Al-‬‬
‫‪Baqarah: 275), firman-Nya, “Dia telah menjelaskan untuk kalian apa-apa yang‬‬
‫‪diharamkan atas kalian” (Al-An’am: 119), dan tidak ada satu pun nash yang‬‬
‫‪mengharamkannya. Pendapat Abu Hanifah adalah wajib ganti rugi bagi yang‬‬
‫‪menghancurkan alat-alat itu. Orang-orang yang melarang alat musik telah berhujjah‬‬
‫‪dengan berbagai atsar yang tidak shahih, atau sebagiannya shahih, tetapi tidak bisa‬‬
‫)‪dijadikan hujjah (alasan). (Ibid‬‬

‫‪Imam Asy Syaukani Rahimahullah [4] juga menceritakan dengan panjang lebar tentang‬‬
‫‪siapa-siapa saja para imam kaum muslimin yang pernah mendengarkan dan‬‬
‫‪membolehkannya, berikut penjelasannya:‬‬

‫ب أغلهيِل‬ ‫ف‪ .‬غوغذغه غ‬ ‫ب الليِجلميِهويِر إغلىَّ الاتلحعريعمْ يِملسغتعدبَليغن عبغما غسغل غ‬‫ت اللغمغلعهي غوعبيِدوعنغها‪ .‬غفغذغه غ‬ ‫ف عفي اللعغغناعء غمغع آغلسة عملن آغل ع‬ ‫غوغقلد ا يِلخيِتلع غ‬
‫ص عفي الاسغماعع غولغ لو غمغع الليِعوعد غواللغيغراعع‪ .‬غوغقلد‬ ‫خي ع‬ ‫صوعفايعة إغلىَّ الاتلر ع‬ ‫اللغمعديغنعة غوغملن غواغفغقيِهلمْ عملن يِعلغغماعء الاظاعهعر غوغجغماغعسة عملن ال ي‬
‫اع لبغن غجلعغفسر غكاغن غل غيغرى عباللعغغناعء غبألةسا‬ ‫يِ الاشاعفععيي عفي يِمغؤلاعفعه عفي الاسغماع أغان غعلبغد ا‬
‫ع‬ ‫غحغكىَّ الل يِلسغتايِذ أغيِبو غملن يِ‬
‫صوسر اللغبلغغداعد ي‬
‫ك عفي غزغمعن أغعميعر الليِم لؤعمعنيغن غعلعيي غوغحغكىَّ الل يِلسغتايِذ‬ ‫صويِغ اللغللغحاغن لعغجغواعريعه غوغيلسغميِعغها عملنيِهان غعغلىَّ أغ لوغتاعرعه‪ ُّ،‬غوغكاغن غذلع غ‬ ‫غوغي يِ‬
‫يِ غوالشلععببَي غوغقاغل إغمايِمْ‬‫ا‬ ‫ي‬ ‫غ‬
‫ب غوغعطاعء لبعن أعبي غرغباسح غوالزلهعر بَ‬‫غ‬ ‫ل‬
‫ضي شغرليسح غوغسععيعد لبعن اليِمغسبَي ع‬‫يِ‬ ‫ل‬
‫ضا غعلن الغقا ع‬ ‫غ‬
‫ك ألي ة‬ ‫اللغملذيِكويِر عمثغل ذلع غ‬
‫غ‬ ‫ل‬
‫ت‪ ُّ،‬غوأغان البغن‬ ‫جغواسر غعاواغدا س‬ ‫اع لبغن اليزغبليعر غكاغن غليِه ع‬ ‫خيغن أغان غعلبغد ا‬ ‫ت عملن الليِمغؤبَر ع‬‫اللغحغرغمليعن عفي البَنغهاغيعة غوالبيِن أغعبي الادعمْ‪ :‬غنغقغل اللعلثغبا غ‬
‫ا يِ غعلغليعه غوغسلاغمْ – غفغناغوغليِه إايايِه‪ ُّ،‬غفغتأ غامغليِه البيِن‬
‫صالىَّ ا‬
‫ا– غ‬ ‫ب غريِسوعل ا ع‬ ‫ح غ‬ ‫صا ع‬ ‫يِعغمغر غدغخغل غعلغليعه غوإعغلىَّ غجلنعبعه يِعومد غفغقاغل‪ :‬غما غهغذا غيا غ‬
‫يِعغمغر غفغقاغل‪ :‬غهغذا عميغزامن غشاعميي‪ ُّ،‬غقاغل البيِن اليزغبليعر‪ :‬يِيوغزيِن بععه الليِعيِقويِل‬

‫ظ أغيِبو يِمغحامعد لبيِن غحلزسمْ عفي عرغساغلعتعه عفي الاسغماعع عبغسغنعدعه إغلىَّ البعن عسيعريغن غقاغل‪ :‬إان غريِجةل غقعدغمْ اللغمعديغنغة عبغجغواسر غفغنغزغل‬ ‫غوغرغوى اللغحاعف يِ‬
‫ب‪ ُّ،‬غفغجاغء غريِجمل غفغساغوغميِه غفغللمْ غيلهغو عملنيِهان غشليةئا‪ ُّ،‬غقاغل‪ :‬النغطلعلق إغلىَّ غريِجسل يِهغو أغلمغثيِل‬ ‫ضعر يِ‬ ‫اع لبعن يِعغمغر غوعفيعهان غجاعرغيمة غت ل‬ ‫غعغلىَّ غعلبعد ا‬
‫ضيِهان غعغلليعه‪ُّ،‬غفأ غغمغر غجاعرغيةة عملنيِهان غفغقاغل غلغها‪ :‬يِخعذيِ الليِعوغد‪ ُّ،‬غفأ غغخغذلتيِه‬ ‫اع لبيِن غجلعغفسر‪ ُّ،‬غفغعغر غ‬‫ك غبليةعا عملن غهغذا؟َ غقاغل غملن يِهغو؟َ غقاغل غعلبيِد ا‬ ‫غل غ‬
‫غ‬ ‫يِ‬ ‫غ‬ ‫ل‬
‫ب أيِبو يِعغمغر اللنغدلعسيي‪ :‬أان غعلبغد‬ ‫غ‬ ‫غ‬ ‫ل‬ ‫يِ‬ ‫ا‬ ‫ل‬
‫ب الععلقعد الغعلغمة العدي يِ‬‫ل‬ ‫ح يِ‬‫صا ع‬‫صعة غوغرغوى غ‬ ‫ل‬
‫خعر العق ا‬ ‫يِ‬
‫ت غفغباغيغعيِه‪ ُّ،‬ثامْ غجاغء إغلىَّ البعن يِعغمغر إغلىَّ آ ع‬‫غفغغان ل‬
‫ك غبأةسا؟َ غقاغل‪ :‬غل‬ ‫ل‬ ‫غ‬ ‫يِ‬
‫حلجعرغها يِعومد ثامْ غقاغل عللبعن يِعغمغر‪ :‬غهلل غتغرى عبذلع غ‬ ‫ة‬
‫اع لبغن يِعغمغر غدغخغل غعغلىَّ البعن غجلعغفسر غفغوغجغد ععلنغدهيِ غجاعرغية عفي ع‬ ‫ا‬
‫ص أغانيِهلمْ غسعمغعا الليِعوغد ععلنغد البعن غجلعغفسر غوغرغوى أغيِبو اللغفغرعج‬ ‫يِ غعلن يِمغعاعوغيغة غوغعلمعرو لبعن اللغعا ع‬ ‫س عبغهغذا غوغحغكىَّ اللغماغولرعد ي‬ ‫غبأل غ‬
‫س الليِمغببَريِد غنلحغو‬ ‫ت غسعمغع عملن غعازغة اللغمليغلعء اللعغغناغء عباللعملزغهعر عبعشلعسر عملن عشلععرعه‪ .‬غوغذغكغر أغيِبو اللغعابا ع‬ ‫صغبغهاعنيي أغان غحاساغن لبغن غثاعب س‬ ‫اللغ ل‬
‫خغلغفعة‬ ‫يِ أغان يِعغمغر لبغن غعلبغد اللغععزيعز غكاغن غيلسغميِع عملن غجغواعريعه غقلبغل الل ع‬ ‫غذلعغك‪ ُّ،‬غواللعملزغهيِر ععلنغد أغلهعل الليغغعة‪ :‬الليِعويِد غوغذغكغر اللعلدغفعو ي‬

‫ضي اللغمعديغنعة غسلععد لبعن إلبغراعهيغمْ لبعن‬ ‫ب اللعلمغتاعع غعلن غقا ع‬ ‫ح يِ‬
‫صا ع‬ ‫ص غعلن غطايِو س‬
‫س غوغنغقغليِه البيِن قيِغتليغبغة غو غ‬ ‫غوغنغقغل البيِن الاسلمغعاعنبَي الاتلر ع‬
‫خي غ‬
‫شوعن يِملفعتي‬ ‫يِ عملن الاتاعبععيغن‪ .‬غوغنغقغليِه أغيِبو غيلعغلىَّ اللغخعليلعيي عفي اللعلرغشاعد غعلن غعلبعد اللغععزيعز لبعن أغعبي غسغلغمغة اللغما ع‬
‫ج يِ‬ ‫غعلبعد الارلحغمعن اليزلهعر بَ‬
‫يِ‬
‫ف‪ .‬غوغحغكىَّ الللسغتايِذ أغيِبو غملن يِ‬
‫صوسر‬ ‫س إغباغحيِة اللعغغناعء عباللغمغعاعز ع‬‫ب غمالععك لبعن أغغن س‬ ‫اللغمعديغنعة غوغحغكىَّ اليروغياعنيي غعلن اللغقافاعل أغان غملذغه غ‬
‫ت اللعملنغهاعل‬
‫طلنيِبوةرا عفي غبلي ع‬ِ‫شلعغبغة أغانيِه غسعمغع ي‬ ‫ت اللقيِيِلو ع‬
ِ‫ب غعلن ي‬ ‫ غوغذغكغر أغيِبو غطالع س‬.‫غوالليِفوغراعنيي غعلن غمالعسك غجغواغز الليِعوعد‬
‫ب اللغمبَكيي عفي يِقو ع‬
‫ف غبليغن أغلهعل اللغمعديغنعة عفي‬
‫خغل غ‬ ‫ضعل لبيِن غطاعهسر عفي يِمغؤلاعفعه عفي الاسغماعع أغانيِه غل ع‬ ‫ غوغحغكىَّ أغيِبو اللغف ل‬.‫ث اللغملشيِهوعر‬‫لبعن غعلمسرو الليِمغحبَد ع‬
‫إغباغحعة الليِعوعد‬

‫ غقاغل‬.‫ت الاظاعهعراييِة غقاعطغبةة‬ ‫ غوإعلغليعه غذغهغب ل‬:‫ يِهغو إلجغمايِع أغلهعل اللغمعديغنعة غقاغل البيِن غطاعهسر‬:‫ غقاغل البيِن غطاعهسر‬:‫يِ عفي الليِعلمغدعة‬ َ‫غقاغل البيِن الانلحعو ب‬
.ْ‫ُّ غويِهغو عماملن أغلخغرغج غليِه اللغجغماغعيِة يِكلييِهلم‬،‫ب إغلىَّ إلبغراعهيغمْ لبعن غسلعسد الليِمغتغقبَدعمْ البَذلكعر‬ ‫ضلر ع‬‫ف الانغقلغيِة عفي عنلسغبعة ال ا‬ ‫الل يِلدفيِعو ي‬
‫ لغلمْ غيلخغتلع ل‬:ِ‫ي‬
ِ‫يِ غوغحغكاهي‬ َ‫ضعل لبيِن غطاعهسر غعلن أغعبي إعلسغحاغق البَشيغراعز ب‬ ‫ غوغحغكاهيِ أغيِبو اللغف ل‬.‫ض الاشاعفععايعة‬ ‫يِ إغباغحغة الليِعوعد غعلن غبلع ع‬ ‫غوغحغكىَّ اللغماغولرعد ي‬
‫صوسر غوغحغكاهيِ البيِن الليِملغبَقعن عفي‬ ِ‫يِ غعلن الل يِلسغتاعذ أغعبي غملن ي‬ َ‫يِ غوغرغواهيِ البيِن الانلحعو ب‬ َ‫ت غعلن اليروغياعنبَي غواللغماغولرعد ب‬ ‫يِ عفي الليِمعهاما ع‬ ‫اللعلسغنعو ي‬
‫ب اللعلمغتاعع غعلن أغعبي غبلكعر لبعن‬ ِ‫ح ي‬ ‫يِ غعلن الاشليعخ ععبَز البَديعن لبعن غعلبعد الاسغلعمْ غوغحغكاهيِ غ‬
‫صا ع‬ ‫الليِعلمغدعة غعلن البعن غطاعهسر غوغحغكاهيِ الل يِلدفيِعو ي‬
‫ت اللغملعيِروغفعة‬ ‫يِ غهيِؤغلعء غجعميةعا غقايِلوا بعغتلحعليعل الاسغماعع غمغع آغلسة عملن اللغل ع‬ ‫ُّ غوغجغزغمْ عباللعغباغحعة الل يِلدفيِعو ي‬،‫اللغعغرعببَي‬

Telah diperselisihkan tentang nyanyian dengan alat musik dan tanpa alat musik.
Mayoritas ulama mengharamkannya berdasarkan dalil yang telah lalu. Sedangkan
penduduk Madinah, dan golongan yang sepakat dengan mereka dari kalangan ulama
zhahiriyah, dan segolongan sufi, memberikan keringanan mendengarkannya walau
memakai kecapi dan klarinet.

Al-Ustadz Abu Manshur Al-Baghdadi Asy Syafi’i menceritakan dalam karyanya, As-
Samaa’, bahwasanya Abdullah bin Ja’far memandang nyanyian tidak apa-apa, Beliau
pernah menciptakan bait nyanyian untuk para tetangganya lalu diperdengarkan dari
mereka dengan diiringi dawainya (semacam gitar). Hal itu terjadi pada masa Amirul
Mu’minin Ali Radhiallahu ‘Anhu. Al-Ustadz (Abu Manshur) juga menceritakan yang
seperti ini juga berasal dari Al-Qadhi Syuraih, Sa’id bin Al-Musayyib, ‘Atha bin Abi
Rabah, Az-Zuhri, Asy Sya’bi.

Imam Al-Haramain berkata dalam An-Nihayah, juga Ibnu Abi Ad Dam: bahwa telah
dinukil kepastian dari para sejarawan, bahwa Abdullah bin Az-Zubeir Radhiallahu ‘Anhu
dahulu memiliki tetangga para pemain kecapi. Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhuma
pernah masuk ke rumahnya dan di sisi Abdullah bin Az-Zubeir terdapat ‘Uud (kecapi),
lalu Ibnu Umar bertanya, “Apa ini wahai sahabat Nabi?” Ibnu Umar menghampirinya dan
terus memperhatikan benda itu, dan bertanya, “Apakah ini timbangan negeri Syam?”
Ibnu Az-Zubeir menjawab, “Ini untuk menimbang akal.”

Al-Hafizh[5] Abu Muhammad bin Hazm meriwayatkan dalam risalahnya tentang As-
Samaa’ dengan sanadnya, dari Ibnu Sirin, katanya: Ada seorang laki-laki datang ke
Madinah bersama tetangganya, mereka berhenti di tempatnya Abdullah bin Umar, pada
mereka terdapat jariyah yang sedang main rebana, lalu datang laki-laki yang
menawarkannya dan dia sedikitpun tidak tertarik kepadanya. Beliau (Ibnu Umar)
berkata, “Pergilah ke laki-laki yang bisa membeli dengan harga lebih dibanding seperti
kepunyaanmu dan jual-lah.” Laki-laki itu bertanya, “Siapa dia?” Beliau menjawab,
“Abdullah bin Ja’far. Lalu mereka membawanya kepadanya (Abdullah bin Ja’far), lalu
salah satu jariyah itu diperintahkan, “Ambil-lah ‘Uud (kecapi).” Lalu dia mengambilnya
lalu bernyanyi. Maka laki-laki itu menjualnya. Kemudian dia datang lagi ke Ibnu Umar
sampai akhir kisah ini.
Pengarang kitab Al-‘Iqdu, Al-‘Allamah Abu Umar Al-Andalusi, meriwayatkan, “Bahwa
Abdullah bin Umar masuk ke rumah Abdullah bin Ja’far Radhiallahu ‘Anhuma. Dia dapati
di rumahnya itu ada seorang jariyah yang dikamarnya terdapat ‘Uud (kecapi). Lalu
Beliau bertanya kepada Ibnu Umar, “Apakah pendapatmu ini boleh-boleh saja?” Beliau
menjawab, “Tidak apa-apa.”

Imam Al-Mawardi menceritakan bahwa dahulu Mu’awiyah dan Amr bin Al-‘Ash
Radhiallahu ‘Anhuma mendengarkan kecapi dari Ibnu Ja’far.

Abul Faraj Al-Ashbahani meriwayatkan bahwa dahulu Hassan bin Tsabit Rahiallahu
‘Anhu mendengarkan dari ‘Azzah Al-Maila nyanyian dengan menggunakan Al-Miz-har
(kecapi), dengan menggunakan syair yang dibuatnya. Abul ‘Abbas Al-Mubarrad juga
meriwayatkan yang seperti itu. Al-Miz-har menurut ahli bahasa adalah Al-‘Uud (kecapi).

Al-Udfuwi meriwayatkan bahwa dahulu Umar bin Abdul Aziz Radhiallahu ‘Anhu
mendengarkan jariyahnya bermain kecapi, sebelum beliau menjadi khalifah.

Ibnu As-Sam’ani menukil dari Thawus tentang adanya rukhshah (keringanan)


mendengarkan musik (kecapi). Ibnu Qutaibah dan pengarang kitab Al-Imta’ menukil hal
itu juga dari seorang Qadhi kota Madinah, Sa’d bin Ibrahim bin Abdurrahman, seorang
generasi dari tabi’in. Abu Ya’la Al-Khalili dalam Al-Irsyad juga menukil hal itu dari Abdul
Aziz bin Abu Salamah Al-Majisyun, mufti kota Madinah.

Ar-Ruyani meriwayatkan dari Al-Qaffal, bahwa madzhab-nya Imam Malik bin Anas
membolehkan bernyanyi dengan menggunakan alat musik (Al Ma’azif).

Al-Ustadz Abu Manshur Al-Furani menceritakan bahwa Imam Malik membolehkan


kecapi (Al ‘Uud).

Abu Thalib Al-Makki menceritakan dalam Qutul Qulub dari Syu’bah, bahwa dia (Syu’bah)
mendengarkan tamburin di rumah Al-Minhal bin Al-Amr seorang ahli hadits terkenal.

Abu Al-Fadhl Ibnu Thahir menceritakan dalam karyanya, As-Samaa’, bahwa tidak ada
perbedaan pendapat bagi penduduk kota Madinah tentang kebolehan alat musik kecapi.
[6]

Ibnu An-Nahwi mengatakan dalam Al-‘Umdah: berkata Ibnu Thahir: itu adalah ijma’
penduduk kota Madinah (kebolehan alat musik kecapi, pen). Ibnu Thahir berkata: ini
adalah madzhab golongan zhahiriyah seluruhnya.

Al-Udfuwi meriwayatkan: bahwa tidak ada perbedaan pendapat tentang nukilan


penisbatan kepada Ibrahim bin Sa’ad bahwa Beliau memukul rebana sebelum berdzikir.

Imam Al-Mawardi menceritakan tentang kebolehan kecapi menurut sebagian Syafi’iyah.


Abul Fadhl bin Thahir menceritakan dari Abu Ishaq Asy Syirazi, dan Al-Isnawi
menceritakan dalam Al-Muhimmat dari Ar Ruyani dan Al-Mawardi, dan Ibnu An-Nahwi
meriwayatkan dari Al-Ustadz Abu Manshur, dan Ibnul Mulaqqin menceritakan dalam
Al-‘Umdah dari Ibnu Thahir, dan Al-Udfuwi menceritakan dari Imam ‘Izzuddin bin
Abdissalam, dan pengarang kitab Al-Imta’ meriwayatkan dari Abu Bakar bin Al-‘Arabi,
dan Al-Udfuwi memastikan kebolehan (Al ‘Uud) dari mereka semua. Mereka
mengatakan, “Halalnya mendengarkan permainan musik dengan alat-alat musik yang
telah dikenal.” (Nailul Authar, 8/113-114)

3. Kesimpulan
Dari uraian Imam Al-Ghazali, Imam Asy Syaukani, Syaikh Sayyid Sabiq, dan Syaikh
Wahbah Az-Zuhaili di atas, kita bisa mengambil kesimpulan:

Perselisihan pendapat tentang musik di antara ulama besar kaum muslimin memang
benar-benar terjadi. Bahkan sudah terjadi sejak masa-masa sebelum lahirnya imam
empat madzhab, walaupun imam empat madzhab disebut telah sepakat atas
keharamannya.

Menurut keterangan di atas, sebagaian sahabat nabi ada yang membolehkan bahkan
pernah mendengarkan seperti Abdullah bin Umar dalam salah satu riwayatnya, Abdullah
bin Az-Zubeir, Abdullah bin Ja’far, Al-Mughirah bin Syu’bah, Hassan bin Tsabit, Amr bin
Al-‘Ash, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan selainnya.

Menurut keterangan di atas pula, sebagaian kibarut tabi’in (tabi’in senior) juga ada yang
membolehkan seperti Umar bin Abdul Aziz dalam salah satu riwayat tentang dirinya
sebelum menjadi khalifah, Syuraih Al-Qadhi, Abdul Aziz bin Al-Maslamah, Sa’id bin Al-
Musayyib, Syu’bah, Ibrahim bin Sa’ad, Thawus, dan selainnya.

Pembolehan ini juga menjadi pendapat golongan zhahiriyah (tekstualist) seluruhnya,


sufiyah seperti Al-Junaid, Dzun Nuun Al-Mishri, As-Sari As-Suqthi, dan sebagian
Malikiyah seperti Imam Abu Bakar bin Al-‘Arabi, Syafi’iyah seperti Imam Al-Ghazali,
Imam Al-Mawardi, dan Hanafiyah seperti Imam Ibnu ‘Abidin. Ada riwayat dari Imam
Malik bahwa Beliau membolehkan kecapi sebagaimana disebutkan oleh Al-Qaffal.

Pembolehan ini juga menjadi pendapat penduduk Madinah, bahkan diklaim oleh Ibnu
Thahir bahwa penduduk Madinah telah Ijma’ atas kebolehannya. Namun, klaim ini
dikritik keras Al-Adzra’i dan nilainya sebagai kedustaan dari Ibnu Thahir, sebagaimana
dikutip Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Az-Zawajir.

Data-data di atas bukan berarti tanpa sorotan, pihak yang mengharamkan meragukan
keshahihan sebagian riwayat tentang para sahabat, tabi’in, dan imam kaum muslimin
yang membolehkan. Di antara yang meragukan adalah Imam Ibnul Qayyim, Imam Al-
Azdra’i, dan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Sebagian ulama yang membolehkan keukeuh mengatakan kebalikannya, bahwa tidak


ada ayat dan hadits shahih dan sharih sedikitpun tentang pengharaman musik, seperti
yang dinyatakan oleh Imam Ibnu Hazm, Imam Ibnul ‘Arabi, dan Imam Al-Fakihani.

4. Rambu-Rambu dan Adab

Para ulama yang membolehkan tetap memberikan rambu-rambu, yang jika dilanggar
maka musik tetaplah terlarang dan mesti ditinggalkan.

Tinjaulah musiknya, apakah terasosiakan sebagai musik ahli maksiat dan fasiq? Jika ya,
maka hendaknya ditinggalkan karena itu merupakan tasyabbuh (penyerupaan). Nabi
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum
(barangsiapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia termasuk kaum tersebut). Hr.
Abu Daud, Ahmad, dan lainnya.

Tinjaulah pemain dan pendengar, yakni penampilannya; apakah meniru orang kafir?
Apakah pakaiannya pamer aurat. Adakah tarian dan jogetnya? Jika ya tinggalkan,
karena ini maksiat dan kedurhakaan.

Tinjaulah waktu, jika musik dapat memalingkan manusia dari kewajiban agama dan
dunia maka wajib ditinggalkan. Termasuk musik yang akhirnya menyita waktu, atau
berlebihan, maka wajib ditinggalkan. Setiap manusia, dia yang paling tahu tentang
keadaan dirinya, saat bagimanakah sudah layak disebut melampaui batas, dan mesti
jujur atas keadaan itu.

Tinjaulah tempat, jika di dalamnya terdapat kemunkaran seperti khamr, wanita, judi,
seperti di bar dan diskotik, atau ikhtilath laki-laki dan perempuan.

Dari dampaknya, ini tolok ukurnya masing-masing individu. Jika ternyata mendengar
nyanyian dan musik membuatnya lahir rasa takut dan cemas tak berdasar, atau lahir
syahwat, atau lahir keinginan untuk melakukan perbuatan maksiat dan haram, maka
haramlah itu, dan langsunglah ia menjauhi lagu dan nyanyian.

Berlebih-lebihan dalam hal mubah tetaplah terlarang dan itu merupakan talbis iblis untuk
memalingkan manusia dari hal-hal yang lebih penting dan utama.

Anda mungkin juga menyukai