Anda di halaman 1dari 16

TINJAUAN RUJUKAN

Artemia sp. merupakan udang renik yang tergolong udang primitif. Zooplankton ini hidup secara
planktonik di perairan yang berkadar garam tinggi yakni antara 15 – 300 permil. Sebagai plankton,
Artemia sp. tidak dapat mempertahankan diri terhadap pemangsanya sebab tidak mempunyai alat
ataupun cara untuk membela diri. Telur Artemia sp. (udang laut) kering yang direndam dalam air
laut, akan menetas dalam waktu 24-36 jam. Dalam cangkang keluar larva yang disebut dengan
istilah nauplii. Dalam perkembangan selanjutnya, nauplii akan mengalami 15 kali perubahan bentuk
(metamorfosis). Tahapan perkembangan pertama disebut instar I, bentuk lonjong dengan panjang
sekitar 0,4 mm dan beratnya 15 µg/ml. Warnanya kemerah-merahan karena masih banyak
mengandung cadangan makanan. Oleh karena itu masih belum perlu makan. Setelah 24 jam,
nauplii akan berubah menjadi instar II. Pada tingkat ini nauplii mulai mempunyai mulut, saluran
pencernaan, dan dubur. Oleh karena itu mereka mulai mencari makanan, dan bersamaan dengan
itu cadangan makanannya pun mulai habis. Artemia sp. mempunyai cara makan dengan jalan
menyaring makanannya atau filter feeder. Selama perubahan terjadi, nauplii akan mengalami
perubahan mata majemuk, antena dan kaki. Setelah menjadi instar XV, kakinya sudah lengkap 11
pasang maka nauplii telah berubah menjadi nauplii Artemia sp. dewasa. Proses ini berlangsung
antara 1-3 minggu. Artemiasp. dewasa mempunyai panjang sekitar 1 cm dan beratnya 10 mg
(Mudjiman, 1989). Artemia sp. dapat hidup sampai 6 bulan dan bertelur 4-5 kali. Setiap kali bertelur
dapat menghasilkan 50-300 butir telur (Khairuman dan Amri, 2005).
Untuk melakukan kegiatan penetasan diperlukan wadah dan perangkat suplai oksigen. Adapun
bentuk wadah untuk penetasan tersebut berupa kerucut dengan ukuran tergantung kebutuhan.
Suplai oksigen dijamin dengan dibuatnya sistem aerasi dalam wadah. Kepadatan maksimal kista
adalah 15 gr/ltr air. Tingkat kepadatan optimal adalah sekitas 2 – 5 gr/ltr air. Sebagai media tetas
digunakan air laut dengan salinitas antara 10 – 30 ppt. Dalam keadaan normal, kurang dari 48 jam
kemudian kista akan menetas menjadi bentuk nauplius (Harefa, 1996).
Menurut Isnansetyo dan Kurniastuty (1995), penetasan Artemia sp. dilakukan dengan menggunakan
wadah berbentuk corong (conical tank). Penetasan kista Artemia sp. dapat dilakukan dengan cara
langsung dan dengan cara dekapsulasi menggunakan Chlorin (NaOCl). Agar daya tetasnya baik,
kepadatan kista tidak lebih dari 2 g/l dengan salinitas air 15 – 35 ppt dan suhu air 250- 280C. Untuk
penetasan langsung lebih baik, apabila sebelum dimasukkan ke bak penetasan, kista tersebut
direndam dalam air tawar untuk mempercepat hidrasi.
HASIL PENGAMATAN
Terlampir
PEMBAHASAN
Menurut Bougis (1979) dalam Isnansetyo dan Kurniastuty (1995) sistematika Artemia sp. adalah
sebagai berikut :
Filum : Artohopda
Kelas : Crustacea
Subkelas : Branchiopoda
Ordo : Anostraca
Famili : Artemiidae
Genus : Artemia
Spesies : Artemia sp.
Artemia sp. dewasa berukuran panjang kira-kira 10mm pada jenis biseksual, dan berukuran sampai
20 mm pada jenis parthenogenesis polyploidy. Fase dewasa ditandai dengan tubuh yang tumbuh
memanjang dengan 2 pasang mata, saluran pencernaan linier, antenna sensor dan 11 pasang
thoracopod yang telah berfungsi. Individu jantan mempunyai sepasang supit besar (antenna ke-2)
pada daerah kepala, sementara bagian bawah (posterior) di daerah dada terdapat sepasang penis
yang bisa dilihat. Individu betina tidak terdapat kaki-kaki yang berbeda di daerah kepala tetapi
terletak tepat di belakang thoracopod yang ke-11 (Mudjiman, 1989).
Pada kondisi alamiah, Artemia sp. hidup di danau–danau dan perairan bersalinitas tinggi. Oleh
karena itu, Artemia sp. disebut juga udang renik asin (brine shrimp). Secara fisik, Artemia sp. tidak
mempunyai pertahanan tubuh. Oleh karena itu kemampuan hidup di danau dengan salinitas tinggi
merupakan sistem pertahanan alamiah Artemia sp. terhadap musuh-musuh
pemangsanya. Artemia sp. dapat hidup pada temperatur 25-300C (Mudjiman, 1989).
Menurut Mudjiman (1989) Artemia sp. mudah sekali dicerna karena kulitnya sangat tipis (kurang
dari 1 mikron). Artemia sp. (nauplius) mengandung protein 42 % dan Artemia sp. dewasa
(biomassa) kandungan proteinnya dapat mencapai 60 % berat kering. Protein Artemia sp. kaya
akan asam amino esensial. Menurut Harefa (1996), kandungan protein Artemia sp. mencapai 40 %
– 60 %. Kandungan protein yang tinggi inilah yang menyebabkan Artemia sp. digunakan sebagai
pakan alami yang sulit digantikan dengan pakan yang lain. Lebih lanjut ditambahkan bahwa
komposisi kandungan nutrisi Artemia sp. bervariasi, faktor yang mempengaruhi komposisi tersebut
diantaranya ialah strain, kualitas dan ketersediaan makanan serta kondisi tempat Artemia sp. hidup.
Nauplius mempunyai lemak yang sangat tinggi (20 %) dibandingkan dengan Artemia sp. dewasa (10
%). Lemak Artemia sp. kaya akan asam-asam lemak tak jenuh yang merupakan asam lemak
esensial. Asam lemak tak jenuh bukan merupakan sumber kolestrol, sehingga tidak membahayakn
bagi mahluk hidup (Mudjiman, 1989). Sama halnya dengan protein, kandungan lemak Artemia sp.
juga dapat di tentukan oleh beberapa faktor yang dapat meningkatkan kandungan lemak seperti
strain, media, intensitas cahaya, kualitas air suhu, pH dan salinitas ( Harefa, 1996).
Prinsip kerja dari praktikum budi daya Artemia sp. adalah memelihara Artemia sp. dalam waktu
tertentu sehingga diketahui pertumbuhan biomassanya. Penetasan kista Artemia sp. dilakukan
dengan dua cara yaitu dengan cara dekapsulasi dan non dekapsulasi. Dekapsulasi menggunakan
larutan klorin yang bertujuan untuk mengikis lapisan kista Artemia sp. sehingga lebih mudah
menetas. Pemberian pakan menggunakan 4 jenis pakan yang berbeda yaitu maizena, ragi, dedak
dan tepung ikan yang bertujuan untuk mengetahui perbedaan pertumbuhan biomassa berdasarkan
jenis pakan. Pengamatan dilakukan dengan metode sampling dengan mengamati
biomassa Artemia sp. dalam 50 ml air.
Hasil pengamatan biomassa kelompok 1 sejak awal pemeliharaan mengalami fluktuasi
pertumbuhan. Pertumbuhan Artemia sp. naik turun berkisar dari 40 sampai 240 individu. Hasil
kelompok 1 mirip dengan kelompok dua yang mengalami naik turun dalam pertumbuhan. Hal ini
dapat disebabkan karena pengamatan dilakukan secara sampling dan penghitungan yang dilakukan
secara manual sehingga simpangan data menjadi jauh dan mengalami naik turun. Hasil kelompok 3
dalam pemeliharaan awal mengalami kematian total dan tidak ada datanya tetapi pengamatan hari
ke 3 biomassa teramati lagi, hal ini kemungkinan terjadi karena jumlah sampel terlalu sedikit
sehingga tidak dapat dihitung dengan metode sampling. Kelompok 4 pertumbuhan Artemia sp.
mengalami penurunan dari awal tebar sampai panen. Penurunan jumlah populasi ini dapat
disebabkan karena kematian akibat kurangnya nutrisi atau kelebihan dalam pemberian pakan dan
menurunkan kualitas air. Hasil biomassa tertinggi didapatkan pada kelompok 2 dengan perlakuan
pakan berupa ragi. Suhu udara dan suhu air saat pengamatan andalan antara 20 sampai 30 0C,
hasil cenderung normal untuk untuk mendukung pertumbuhan Artemia sp. yaitu 25-30 0C (Mudjiman,
1989). pH yang teramati masih disekitar 7 sampai 8, air cenderung basa karena salinitas air yang
tinggi.
KESIMPULAN

1. Artemia dapat dibudidayakan dengan menggunakan botol atau akuarium yang diisi dengan
air laut kemudian ditebar kista sampai menetas dan dipelihara sampai dewasa.
2. Peningkatan biomassa Artemia dapat dilakukan dengan pemberian berbagai jenis pakan,
pakan yang menghasilkan biomassa tertingi adalah ragi.
3. Artemia dewasa memiliki 2 pasang mata, saluran pencernaan linier, antenna sensor dan 11
pasang thoracopod yang telah berfungsi. Individu jantan mempunyai sepasang supit besar
(antenna ke-2) pada daerah kepala, Individu betina terletak tepat di belakang thoracopod.

SARAN
Untuk praktikum selanjutnya dipastikan lagi kesiapan semua peralatan terutama untuk tempat
pemeliharaan yang sesuai. Penggunaan akuarium kotak dan aerasi yang berlebih menyebabkan
kista dan nauplii menempel pada dinding dan menyebabkan kematian.
DAFTAR RUJUKAN
Harefa, F. 1996. Permbudidayaan Artemia Untuk Pakan Udang Dan Ikan. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Isnansetyo dan Kurniastuty. 1995. Teknik Kultur Phytoplankton dan Zooplankton. Pakan Alami
Untuk Pembenihan Organisme Laut. Kanasius. Yogyakarta.
Khairuman dan Amri. 2005. Membuat Pakan Ikan Konsumsi. Agromedia Pustaka. Jakarta
Mudjiman, A. 1989. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta.
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Derajat Penetasan

Non Dekapsulasi

Sampel I : 318

II : 294

III : 349

320 x 100 = 320.000 ekor

HR=(∑Cyste yang menetas)/(∑▒ Cyste yang ditetaskan) x100%

320.000/545.100 X 100 %

= 58,72 %

Dekapsulasi

Hasil sampling : 125 Larva dalam 1 ml air = 125.000 ekor

HR=(∑Cyste yang menetas)/(∑▒ Cyste yang ditetaskan) x100%

=(125.000 ekor)/545.100 X100 %

= 22,93 %

B. Pembahasan

Adapun parameter yang akan dibahas oleh penulis dalam kegiatan praktikum
penetasan cyste artemia dengan metode dekapsulasi dan tanpa dekapsulasi ini antara
lain adalah : Persiapan wadah dan media penetasan, persiapan cyste artemia,
penetasan cyste artemia, pemanenan nauplius/larva artemia dan Menghitung derajat
penetasan (HR). Karena ini adalah bagian dari faktor-faktor berhasil atau tidaknya
penetasan cyste artemia.
Persiapan Wadah dan Media Penetasan

Wadah yang digunakan dalam praktikum penetasan artemia ini berupa botol aqua
dengan kapasitas 1,5 liter, sebelum digunakan wadah ini dicuci, dan kemudian
digantung pada dinding serta diberi selang aerasi pada bagian permukaan wadah
dengan tekanan tinggi. Sebelum digunakan botol ini dicoba terlebih dahulu agar tidak
terjadi kebocoran pada saat penetasan (lihat gambar ). Botol aqua yang digunakan
sebanyak 2 buah yaitu untuk metode dekapsulasi dan tanpa dekapsulasi.

Gambar 5. Wadah penetasan dari botol aqua volume 1,5 liter

Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan (gusrina 2008), wadah yang dapat
digunakan dalam mengkultur pakan alami artemia ada beberapa macam. Antara lain
adalah kantong plastic berbentuk kerucut, botol aqua, gallon air minum bekas, ember
plastic dan bentuk wadah lainnya yang didesain berbentuk kerucut pada bagian
bawahnya agar memudahkan pada saat pemanenan.

Setelah dipastikan kondisi wadah penetasan telah berfungsi dengan baik, langkah
selanjutnya adalah pembuatan media penetasan. Salinitas pada media penetasan
artemia ini adalah salinitas 35 ppt dengan cara membuat air laut tiruan, air laut ini
dibuat dengan jalan menambahkan garam yang tidak beryodium ke dalam air tawar
sampai memiliki salinitas 35 ppt dengan pengecekan menggunakan salinomoter.
Setelah media penetasan dibuat, kemudian dimasukkan kedalam botol aqua yang telah
disiapkan sebanyak 1 liter/botol aqua dan diaerasi secara kuat agar garam tercampur
merata. Sedangkan munurut (gusrina 2008), kista artemia dapat ditetaskan pada media
yang mempunyai salinitas 5-35 ppt, walaupun pada habitat aslinya dapat hidup pada
salinitas yang sangat tinggi.

Gambar 6. Pengecekan salinitas menggunakan salinomoter

Persiapan Kista Artemia

Kista artemia yang akan ditetaskan sebelumnya ditimbang sesuai dengan dosis yang
akan digunakan dengan timbangan digital. Dalam praktikum ini menggunakan 3 gram
cyste per liter air media penetasan. Kemudian dilakukan perhitungan jumlah cyste
dengan metode sampling. Pada penetasan ini menggunakan 6 gram cyste untuk
masing-masing metode penetasan 3 gram cyste. sedangkan hasil penghitungan
sampling untuk 3 gram cyste didapat 545.100 butir cyste artemia.

Gambar 7. Penimbangan dan penghitungan cyste artemia

Penetasan Cyste Artemia


Cyste artemia sebelum dimasukkan kedalam wadah penetasan dengan metode
dekapsulasi dan tanpa dekapsulasi, terlebih dahulu dihidrasi/direndam cyste artemia
dengan air tawar ± 20 ml dalam beaker glass selama 2 jam serta diberi aerasi kuat
untuk melunakkan cyste artemia, hal ini tidak lain dengan tujuan untuk mempercepat
proses penetasan.

Gambar 8. Proses hidrasi/rendam cyste artemia dengan air tawar

Munurut (Gusrina 2008), dalam penetasan cyste artemia ada 2 metode yang dapat
digunakan yaitu metode dekapsulasi dan metode tanpa dekapsulasi. Metode
dekapsulasi adalah suatu cara penetasan cyste artemia dengan melakukan proses
penghilangan lapisan luar cyste dengan menggunakan larutan hipokhlorit tanpa
mempengaruhi kelangsungan hidup embrio. Sedangkan metode penetasan tanpa
dekapsulasi adalah suatu cara penetasan artemia tanpa melakukan proses
penghilangan lapisan luar cyste tetapi secara langsung ditetaskan dalam wadah
penetasan.

Gambar 9. Penyaringan cyste artemia dengan plankton net

Setelah dihidrasi selama 2 jam, cyste artemia ini kemudian disaring dengan plankton
net/seser halus. Untuk metode tanpa dekapsulasi cyste artemia ini langsung
dimasukkan kedalam wadah dan media yang telah disiapkan untuk proses penetasan.
Sedangkan penetasan dengan metode dekapsulasi setelah disaring, langkah
selanjutnya adalah cyste dimasukkan kedalam beaker glass yang telah berisi larutan
bayclin (khlorin) ukuran 20 ml, kemudian diaduk selama 5 – 15 menit hingga perubahan
warna dari coklat tua > abu-abu > menjadi oarange. Selanjutnya cyste segera disaring
kembali menggunakan plankton net 120 mikron dan dibilas menggunakan air tawar
sampai bau bayclin (khlorin) hilang, barulah siap dimasukkan kedalam wadah dan
media yang diberi aerasi kuat untuk ditetaskan. Wadah penetasan ini dibungkus
dengan menggunakan plastic hitam, dengan tujuan agar memudahkan saat
pengamatan dan pemanenan nauplius artemia.

Gambar 10. Metode dekapsulasi dengan larutan bayclin (khlorin)

Gambar 11. Wadah penetasan dengan dibungkus plastic hitam

Pada praktikum ini, cyste artemia dimasukkan kedalam wadah penetasan pada pukul
10.00 WIB dan penetasan cyste terjadi pada pagi harinya antara pukul 02.00-06.00
WIB. Penetasan kista Artemia adalah suatu proses inkubasi Cyste artemia di media
penetasan (air laut ataupun air laut buatan) sampai menetas. Proses penetasan terdiri
dari beberapa tahapan yang membutuhkan waktu sekitar 18-24 jam.

 Proses penyerapan air


 Pemecahan dinding cyste oleh embrio
 Embrio terlihat jelas masih diselimuti membran
 Menetas dimana nauplius berenang bebas
 Pemanenan
Pada praktikum ini pemanenan segera dilakukan pada esok hari setelah diyakini cyste
artemia telah menetas, hal ini dapat diketahui dengan cara selang aerasi dilepaskan
dari wadah penetasan, pembungkus plastic hitam di buka, kemudian menggunakan
senter. Nauplius artemia akan berenang menuju ke arah cahaya. Karena bagian wadah
(botol aqua) tranparan dan ditembus cahaya maka nauplius Artemia akan berenang
bebas dalam wadah penetasan. Oleh karena itu pada saat pemanenan nauplius,
sebaiknya bagian dasar wadah disinari lampu dari arah samping agar nauplius
berkumpul pada dasar wadah. Selain nauplius, di dasar wadah juga akan terkumpul
kista yang tidak menetas. Sedangkan cangkang (kulit) cyste akan mengembang berada
diatas permuakaan air wadah penetasan.

Menghitung derajat penetasan (HR)

Penghitungan derajat penetasan dilakukan bersamaan pada saat pemanenan


berlangsung, penghitungan ini menggunakan metode pengambilan sempel, mula-mula
mengambil nauplius artemia dalam wadah dengan menggunakan pipet/spuit ukuran 1
ml, kemudian disimpan dalam piring untuk dilakukan penghitungan secara manual
(kasat mata). Untuk masing-masing wadah penetasan diambil tiga kali sempel,
selanjutnya dihitung rara-rata hasil sempel. Dari hasil penghitungan sempel ini, maka di
dapat hasil HR sebagai berikut :

1. Non Dekapsulasi = total nauplius 320.000 ekor

HR=(∑Cyste yang menetas)/(∑▒ Cyste yang ditetaskan) x100%

HR= 320.000/545.100 X 100 %

HR = 58,72 %

2. Dekapsulasi = total nauplius 125.000 ekor

HR=(∑Cyste yang menetas)/(∑▒ Cyste yang ditetaskan) x100%

=(125.000 ekor)/545.100 X100 %

= 22,93 %

Dari data tersebut dapat dilihat jumlah cyste artemia yang menetas (Hatching rate) lebih
besar pada perlakuan non-dekapsulasi dibandingkan perlakuan dekapsulasi. Tujuan
awal dilakukan metode dekapsulasi adalah meningkatkatkan daya tetas cyste artemia
atau biasa disebut dengan peningkatan heacthing rate (hareta, 1997). Akan tetapi dari
hasil praktikum ini bertolak belakang dengan pernyataan tersebut, HR cyste artemia
yang mendapat perlakuan dekapsulasi jauh lebih rendah dibandingkan dengan cyste
non-dekapsulasi. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranta : suhu,
aerasi, kepadan cyste, salinitas air, intensitas cahaya, kualitas cyste artemia serta
ketebalan lapisan klorin cyste. Sedangkan dalam praktikum ini banyaknya cyste yang
tidak menetas adalah akibat dari penanganan pada saat cyste diberi chlorine, dimana
yang seharusnya dimasukkan kedalam beaker glas dan diaresai kuat hingga 5-15
menit, namun dalam praktikum ini dengan cara pengadukan secara manual (diputar).

Hal ini yang mengakibatkan cyste artemia pecah/mati karena dapat terjadi penggilasan
cyste oleh alat pengaduk. Selain itu karena terjadinya pemadaman listrik pada malam
hari kurang lebih 3-4 jam sehingga mengakibatkan aerasi tidak berfungsi, hal ini dapat
menyebabkan kurangnya oksigen terlarut dan tidak terjadinya pengadukan media
dalam wadah penetasan. Sehingga mengakibatkan banyak cyste artemia tidak
menetas.

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Penetasan cyste artemia dengan metode dekapsulasi lebih baik dibandingkan dengan
non-dekapsulasi, namun dalam praktikum ini mendapatkan hasil yang sebaliknya. Hal
ini karena diakibatkan oleh tidak ada kecermatan dalam prosedur proses perlakuan
dekapsulasi terutama tahap pemberian khlorin serta fasilatas penunjang listrik yang
terganggu. Dari hasil ini maka dapat disimpulkan bahwa dengan metode dekapsulasi
dinyatakan tidak berhasil karena dibawah nilai 50 % dengan hasil presentase Hacthing
Rate (HR) hanya 22,93 %. Sedangan dengan metode non-dekapsulasi Hacthing Rate
(HR) hasilnya adalah 58,72 %. Maka presentasi ini dapat dinyatakan berhasil
melakukan penetasan cyste artemia.

B. Saran

Saran yang dapat praktikan berikan adalah harus adanya konsolidasi dari para
praktikum dan dosen pembimbing praktikum untuk mengikuti dan kecermatan dalam
prosedur kerja agar mendapatkan hasil yang maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Gusrina, (2008). Budidaya Ikan Jilid 1, 2 dan 3 untuk SMK. Jakarta : Direktorat
Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan
Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.
Anonim, (2008). Artemia Pakan Alami Berkualitas untuk Ikan dan Udang. Diakses pada
tanggal 03 Juli 2011 pada pukul 19.00 WIB. Situs :

http://mantauresearcher.blogspot.com/2008_01_01_archive.html.
Anonim, (2009). Pengaruh Perlakuan Dekapsulasi Dan Non-Dekapsulasi Terhadap
Hatching Rate Artemia. Diakses tanggal 02 juni 2011 pada pukul 19.00 WIB. Situs :

http://ismail-jeunib.blogspot.com/2009/11/pakan-alami-artemia.html
http://defishes.xanga.com/715768618/kultur-pakan-alami-kpa/
http://my.opera.com/sampahbermanfaat/blog/show.dml/4450747
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Berdasarkan hasil pengamatan praktikum, maka didapatkan hasil sebagai berikut :

Gambar 3. Wadah penetasan Artemia


Kelompok 1.
Hari/Tanggal/Waktu Non Dekapsulasi dekapsulasi
Kamis 19 April 2012
Pukul: 17:00 Wita 1. 1.

2. 2.

3. 3.
Kamis 19 April 2012
Pukul: 23:00 Wita 1. 1.

2. 2.

3. 3.
Jumat 20 April 2012
Pukul: 05:00 Wita 1. 1.

2. 2.

3. 3.
Kamis 20 April 2012
Pukul: 11: 00 Wita 1. 1.

2. 2.

3. 3.

Menentukan persen telur yang Menentukan persen telur yang menetas


menetas metode non dekapsulasi: metode dekapsulasi:
Telur yg menetas dlm 10 ml adl 59 ekor Telur yg menetas dlm 10 ml adl 12 ekor:

N= N=
N = 5900 N = 1200
Dik N = 5900 Dik N = 1200
C = 878400 C = 878400
Dit HR= ? Dit HR= ?

HR= HR=

HR= HR=
HR= 0,67 % HR= 0,14 %

Kelompok 2.
Hari/Tanggal/Waktu Non Dekapsulasi Dekapsulasi
Kamis 19 April 2012
Pukul: 17:00 Wita 1. 1.

2. 2.

3. 3.
Kamis 19 April 2012
Pukul: 23:00 Wita 1. 1.

2. 2.

3. 3.
Jumat 20 April 2012
Pukul: 05:00 Wita 1. 1.

2. 2.

3. 3.
Kamis 20 April 2012
Pukul: 11: 00 Wita 1. 1.

2. 2.

3. 3.

Menentukan persen telur yang Menentukan persen telur yang menetas


menetas metode non dekapsulasi: metode dekapsulasi:
Telur yg menetas dlm 10 ml adl 59 ekor Telur yg menetas dlm 10 ml adl 12 ekor:

N= N=
N = 92800 N = 1700

Dik N = 928 Dik N = 1700


C = 878400 C = 878400
Dit HR= ? Dit HR= ?
HR= HR=

HR= HR=
HR= 10,56 % HR= 0,19 %

Kelompok 3.
Hari/Tanggal/Waktu Non Dekapsulasi Dekapsulasi
Kamis 19 April 2012
Pukul: 17:00 Wita 1. 1.

2. 2.

3. 3.
Kamis 19 April 2012
Pukul: 23:00 Wita 1. 1.

2. 2.

3. 3.
Jumat 20 April 2012
Pukul: 05:00 Wita 1. 1.

2. 2.

3. 3.
Kamis 20 April 2012
Pukul: 11: 00 Wita 1. 1.

2. 2.

3. 3.

Menentukan persen telur yang Menentukan persen telur yang menetas


menetas metode non dekapsulasi: metode dekapsulasi:
Telur yg menetas dlm 10 ml adl 59 ekor Telur yg menetas dlm 10 ml adl 12 ekor:

N= N=
N = 57500 N = 100

Dik N = 57500 Dik N = 100


C = 878400 C = 878400
Dit HR= ? Dit HR= ?

HR= HR=

HR= HR=
HR= 6,55 % HR= 0,01 %
Kelompok 4.
Hari/Tanggal/Waktu Non Dekapsulasi Dekapsulasi
Kamis 19 April 2012
Pukul: 17:00 Wita 1. 1.

2. 2.

3. 3.
Kamis 19 April 2012
Pukul: 23:00 Wita 1. 1.

2. 2.

3. 3.
Jumat 20 April 2012
Pukul: 05:00 Wita 1. 1.

2. 2.

3. 3.
Kamis 20 April 2012
Pukul: 11: 00 Wita 1. 1.

2. 2.

3. 3.

Menentukan persen telur yang Menentukan persen telur yang menetas


menetas metode non dekapsulasi: metode dekapsulasi:
Telur yg menetas dlm 10 ml adl 59 ekor Telur yg menetas dlm 10 ml adl 12 ekor:

N= N=
N = 22800 N = 2300

Dik N = 22800 Dik N = 2300


C = 878400 C = 878400
Dit HR= ? Dit HR= ?

HR= HR=

HR= HR=
HR= 2.60 % HR= 0.26 %
4.2 Pembahasan
4.2.1 Metode Dekapsulasi
Berdasarkan hasil pengamatan praktikum mengenai penetasan cyst Artemia dengan
menggunakan metode dekapsulasi, dimana pada metode ini dilakukan penambahan larutan
byclin sebanyak 25 ml, didapatkan hasil bahwa pada pukul 23.00 WITA yaitu pada pengamatan
kedua berdasarkan hasil pengamatan, cyst sebagian sudah mengalami penetasan telur. Kemudian
setelah 24 jam berlangsung, maka dilakukan penghitungan sampel cyst yang menetas,
dimana jumlah cyst yang menetas sebanyak 12 ekor atau hanya 0,14%, dengan salinitas 30 ppm
dan suhu 280 C, dimana hasil tersebut merupakan gabungan pengambilan sampel sebanyak 10
kali.
Selanjutnya, jika dilakukan perbandingan hasil jumlah penetasan cyst artemia terhadap
kelompok lain didapatkan hasil pada kelompok 2 jumlah cyst yang menetas yaitu 17 ekor =
0,19%, kelompok 3 yaitu 1 ekor = 0,01%, dan kelompok 4 dengan jumlah 23 ekor = 0,26%. Jika
dilihat dari hasil setiap kelompok tersebut, jumlah cyst yang paling banyak menetas yaitu pada
kelompok 4, sedangkan untuk jumlah penetasan yang sedikit yaitu pada kelompok 3.
Berdasarkan hasil praktikum, setelah dilakukan pengamatan ternyata salah satu yang
menjadi faktor tinggi dan rendahnya jumlah cyst yang dihasilkan yaitu dipengaruhi oleh cahaya
yang merupakan salah satu faktor pemicu penetasan artemia. Dimana untuk jumlah penetasan
yang sedikit setelah dilakukan pengamatan pada saat perlakuan, cahaya atau lampu berada pada
posisi paling bawah, sehingga artemia mengikuti arah cahaya tersebut berada pada posisi paling
bawah, sedangkan dalam pengambilan sampel dengan menggunakan pipet tetes mengambil pada
bagian tengah dari wadah penetasan artemia tersebut yang agak jauh dari cahaya, sehingga
secara otomatis kuantitas atau jumlah hasil yang diperoleh sangat sedikit disbanding kelompok
yang memiliki jumlah artemia yang banyak.

4.2.2 Metode Non Dekapsulasi


Berdasarkan hasil pengamatan praktikum mengenai penetasan cyst Artemia dengan
menggunakan metode non dekapsulasi, dimana pada metode ini tidak dilakukannya penambahan
larutan byclin, didapatkan hasil bahwa pada pukul 17.00 WITA yaitu pada pengamatan pertama
berdasarkan hasil pengamatan, cyst sebagian sudah mau mengalami penetasan telur, dimana
terlihat sudah terjadi pembelahan cyst. Kemudian setelah 24 jam berlangsung, maka dilakukan
penghitungan sampel cyst yang menetas, dimana jumlah cyst yang menetas sebanyak 59 ekor
atau hanya 0,67%, dengan salinitas 31 ppm dan suhu 290 C, dimana hasil tersebut merupakan
gabungan pengambilan sampel sebanyak 10 kali.
Jumlah hasil penetasan yang didapatkan tersebut, merupakan jumlah hasil yang paling
sedikit jika dilakukan perbandingan hasil jumlah penetasan cyst artemia terhadap kelompok lain
didapatkan hasil pada kelompok 2 jumlah cyst yang menetas yaitu 928 ekor = 10,56%, kelompok
3 yaitu 575 ekor = 6,55%, dan kelompok 4 dengan jumlah 228 ekor = 2,60%.
Perbedaan jumlah penetasan tersebut, disebabkan karena terjadi kekeliruan dalam
perlakuan mekanismenya dalam hal ini terhadap peletakan cahaya lampu pada wadah penetasan.
Dimana cahaya tersebut berada pada posisi paling bawah dari wadah penetasan sehingga
kelompok artemia akan mengikuti arah cahaya tersebut untuk berada pada lokasi bagian wadah,
sedangkan dalam pengambilan sampel untuk dilakukannya perhitungan jumlah artemia
dilakukan pengambilan pada bagian yang agak jauh dari kondisi cahaya atau lampu yang
memungkinkan artemia akan jarang berada pada lingkungan tersebut karena tidak adanya
ketertarikan cahaya.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan praktikum, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Untuk tingkat penetasan Artemia dalam hal ini terhadap banyaknya jumlah yang dihasilkan
yaitu pada metode non dekapsulasi.
2. Perbedaan jumlah pentasan yang dihasilkan tersebut antara metode dekapsulasi dan non
dekapsulasi disebabkan karena penggunaan larutan yang kurang baik untuk memicu proses
penetasan cyst tersebut dalam hal ini pada metode dekapsulasi.
3. Cahaya serta aerator merupaka salah satu komponen terpenting untuk memicu penetasan
kultur artemia.

5.2 Saran
Sarannya dalam pelaksanaan praktikum penetasan Artemia, perlu ditambahnya pengamatan
tanpa menggunakan cahaya, agar dapat membandingkan tingkat penetasanya terhadap 2 metode
tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Bougias, 2008. Pakan Ikan Alami. Kanisius. Yogyakarta.
Daulay, T., 1998. Artemia Salina (Kegunaan, Biologi dan Kulturnya). INFIS Manual Seri No.12.
Direktorat Jendral Perikanan dan International Development Research, Jakarta.

Harefa, 1996. Laporan Kegiatan Kultur Kopepoda dan Artemia dengan Pakan Fermentasi,
Dirjen perikanan BBL Lampung

Mudjamin, A. 2007. Laporan Hasil Latihan Budidaya Artemia. Dinas Perikanan Daerah Propinsi Jatim
Purwakusuma, W. 2008. Artemia Salina. (fish.com/pakanIkan/Artemia.php). Diakses Pada Tanggal 28 April
2012.