Anda di halaman 1dari 69

Pengertian dari Prinsip

 Pengertian dari Belajar


 Pengertian dari Prinsip Belajar
 Prinsip-Prinsip Belajar yang terkait dengan proses belajar
 Implikasi Prinsip-Prinsip Belajar siswa dan guru dalam Belajar dan Pembelajaran

C. TUJUAN PENULISAN
 Untuk memenuhi tugas kelompok Belajar dan Pembelajaran
 Untuk dijadikan bahan dalam kegiatan Diskusi
 Untuk mengetahui Prinsip-Prinsip Belajar secara umum dan implikasinya dalam
Belajar dan pembelajaran
 Diharapkan dengan mengetahui secara mendalam Prinsip-Prinsip Belajar dan
implikasinya dalam belajar dan pembelajaran, maka setiap siswa dan guru dapat
meningkatkan metode dan minat dalam belajar dan pembelajaran sehingga mencapai
hasil yang diinginkan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN PRINSIP
Sesuatu yang dipegang sebagai panutan yang utama (Badudu&Zein, 2001:1089)
Sesuatu yang menjadi dasar dari pokok berpikir, berpijak dsb (Syah Djanilus, 1993)
Sesuatu kebenaran yang kebenarannya sudah terbukti dengan sendirinya (Dardiri,
1996)

B. PENGERTIAN BELAJAR
(Walra, rochmat, 1999:24) : Belajar ialah Suatu aktifitas atau pengalaman
yang menghasilkan perubahan pengetahuan, perilaku dan pribadi yang bersifat
permanen
Moh. Surya (1997) : “belajar diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan
oleh individu untuk memperoleh perubahan perilaku baru secara keseluruhan, sebagai
hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalamberinteraksi dengan lingkungannya”.
Witherington (1952) : “belajar merupakan perubahan dalam kepribadianyang
dimanifestasikan sebagai pola-pola respons yang baru berbentukketerampilan, sikap,
kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan”.
Gage & Berliner : “belajar adalah suatu proses perubahan perilaku yang
muncul karena pengalaman”.
Wingkel, 1987 : “belajar adalah suatu aktifitas mental & psikis dalam
berinteraksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan perilaku pada diri
sendiri.”Belajar adalah suatu proses/usaha sadar yang dilakukan olehindividu untuk
menghasilkan perubahan tingkah laku baik dalam aspek kognitif (pengetahuan),
afektif (sikap dan nilai) maupun psikomotor (keterampilan) sebagai hasil
interaksinyadengan lingkungan untuk mencapai tujuan tertentu.

C. PENGERTIAN PRINSIP BELAJAR


Prinsip Belajar Menurut Gestalt : Adalah suatu transfer belajar antara pendidik
dan peserta didik sehingga mengalami perkembangan dari proses interaksi
belajar mengajar yang dilakukan secara terus menerus dan diharapkan peserta
didik akan mampu menghadapi permasalahan dengan sendirinya melalui
teori-teori dan pengalaman-pengalaman yang sudah diterimanya.
Prinsip Belajar Menurut Robert H Davies : Suatu komunikasi terbuka antara
pendidik dengan peserta didik sehingga siswa termotivasi belajar yang
bermanfaat bagi dirinya melalui contoh-contoh dan kegiatan praktek yang
diberikan pendidik lewat metode yang menyenangkan siswa.
Berdasarkan Pendapat para Ahli, disimpulkan bahwa :
Prinsip Belajar adalah landasan berpikir, landasan berpijak, dan sumber
motivasi agar Proses Belajar dan Pembelajaran dapat berjalan dengan baik antara
pendidik dengan peserta didik
D. PRINSIP-PRINSIP BELAJAR YANG TERKAIT DENGAN PROSES
BELAJAR
Banyak teori dan prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh para ahli yang
satu dengan yang lain memiliki persamaan dan perbedaan. Dari berbagai prinsip belajar
tersebut terdapat beberapa prinsip yang relatif berlaku umum yang dapat kita pakai
sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa yang perlu meningkatkan
upaya belajarnya maupun bagi guru dalam apaya meningkatkan mengajarnya.
Berikut ini prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh Rothwal A.B. (1961)
adalah :
1. Prinsip Kesiapan (Readinees)
Proses belajar dipengaruhi kesiapan siswa. Yang dimaksud dengan kesiapan
siswa ialah kondisi yang memungkinkan ia dapat belajar.

2. Prinsip Motivasi (Motivation)


Tujuan dalam belajar diperlukan untuk suatu proses yang terarah.
Motivasi adalah suatu kondisi dari pelajar untuk memprakarsai kegiatan,
mengatur arah kegiatan itu dan memelihara kesungguhan.

3. Prinsip Persepsi
Seseorang cenderung untuk percaya sesuai dengan bagaiman ia
memahami situasi. Persepsi adalah interpertasi tentang situasi yang hidup.
Setiap individu melihat dunia dengan caranya sendiri yang berbeda dari yang
lain. Persepsi ini mempengaruhi perilaku individu.

4. Prinsip Tujuan
Tujuan harus tergambar jelas dalam pikiran dan diterima oleh para
pelajarpada saat proses terjadi. Tujuan ialah sasaran khusus yang hendak
dicapai olehseseorang.

5. Prinsip Perbedaan Individual


Proses pengajaran semestinya memperhatikan perbedaan individual
dalamkelas dapat memberi kemudahan pencapaian tujuan belajar
setinggi-tingginya. Pengajaran yang hanya memperhatikan satu tingkat sasaran
akan gagalmemenuhi kebutuhan seluruh siswa

6. Prinsip Transfer dan Retensi


Belajar dianggap bermanfaat bila seseorang dapat menyimpan dan
menerapkan hasil belajar dalam situasi baru. Apapun yang dipelajari dalam
suatu situasi pada akhirnya akan digunakan dalam situasi yang lain.Proses
tersebut dikenal sebagai proses transfer. Kemampuan sesesoranguntuk
menggunakan lagi hasil belajar disebut retensi.

7. Prinsip Belajar Kognitif


Belajar kognitif melibatkan proses pengenalan dan penemuan.
Belajarkognitif mencakup asosiasi antar unsur, pembentukan
konsep,penemuan masalah dan keterampilan memecahkan masalah
yangselanjutnya membentuk perilaku baru, berpikir, bernalar, menilai
danberimajinasi.

8. Prinsip Belajar Afektif


Proses belajar afektif seseorang menemukan bagaimana ia
menghubungkandirinya dengan pengalaman baru. Belajar afektif mencakup
nilai emosi,dorongan, minat dan sikap

9. Prinsip Belajar Evaluasi


Jenis cakupan validitas evaluasi dapat mempengaruhi proses belajar
saatini dan selanjutnya pelaksanaan latihan evaluasi memungkinkan
bagiindividu untuk menguji kemajuan dalam pencapaian tujuan.

10. Prinsip Belajar Psikomotor


Proses belajar psikomotor individu menentukan bagaimana ia
mampumengendalikan aktivitas ragawinya. Belajar psikomotor mengandung
aspekmental dan fisik.

Prinsip – Prinsip Belajar Menurut Rochman Nata Wijaya dkk


* Prinsip efek kepuasan ( law of effect )
Jika sebuah respon menghasilkan efek jembatan yang memuaskan, maka
hubungan Stimulus-Respon akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak
memuaskan efek yang dicapai respon, maka semakin lemah pula hubungan yang
terjadi antara Stimulus-Respon.

* Prinsip pengulangan ( law of exercise )


Bahwa hubungan antara stimulus dengan respons akan semakin bertambah
erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak
pernah dilatih.

* Prinsip kesiapan ( law of readiness )


Bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal
dari pendayagunaan suatu pengantar (conduction unit) dimana unit-unit ini
menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atu tidak
berbuat sesuatu.

* Prinsip kesan pertama ( law of primacy )


Prinsip yang harus dipunyai pendidik untuk menarik perhatian peserta didik.

* Prinsip makna yang dalam ( law of intensity )


Bahwa makna yang dalam akan menunjang dalam proses pembelajaran.
Makin jelas makna hubungan suatu pembelajaran maka akan semakin efektif
sesuatu yang dipelajari.

* Prinsip bahan baru ( law of recentcy )


Bahwa dalam suatu pembelajaran diperlukan bahan baru untuk menambah
wawasan atau pengalaman suatu peserta didik.

* Prinsip gabungan ( perluasan dari prinsip efek kepuasan dan prinsip


pengulangan )
Bahwa hubungan antara Stimulus-Respon akan semakin kuat dan bertambah
erat jika sering dilatih dan akan semakin lemah dan berkurang jika jarang atau
tidak pernah dilatih.

Secara Umum, Prinsip-prinsip belajar berkaitan dengan :


• Perhatian dan Motivasi
• Keaktifan
• Keterlibatan langsung atau pengalaman
• Pengulangan
• Tantangan
• Balikan dan penguatan (law of effect)
• Perbedaan individual

PERHATIAN DAN MOTIVASI


Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian
teori belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak
mungkin terjadi belajar (Gage n Berliner, 1984: 335 ). Perhatian terhadap belajar akan
timbul pada siswa apabila bahan pelajaran sesuai dengan kebutuhannya.
Apabila bahan pelajaran itu dirasakan sebagai sesuatu yang dibutuhkan,
diperlukan untuk belajar lebih Ianjut atau diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, akan
membangkitkan motivasi untuk mempelajarinya. Apabila perhatian alami ini tidak ada
maka siswa perlu dibangkitkan perhatiannya.
Di samping perhatian, motivasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam
kegiatan belajar. Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan
aktivitas seseorang. Motivasi dapat dibandingkan dengan mesin dan kemudi pada
mobil (gage dan Berliner, 1984 : 372).
“Motivation is the concept we use when we ddescribe the force action on or whitin an
organism yo initiate and direct behavior”
Demikian menurut H.L. Petri (Petri, Herbet L, 1986: 3). Motivasi dapat
merupakan tujuan dan alat dalam pembelajaran. Sebagai tujuan, motivasi merupakan
salah satu tujuan dalam mengajar. Guru berharap bahwa siswa tertarik dalam kegiatan
intelektual dan estetik sampai kegiatan belajar berakhir. Sebagai alat, motivasi
merupakan salah satu faktor seperti halnya intelegensi dan hasil belajar sebelumnya
yang dapat menentukan keberhasilan belajar siswa dalam bidang pengetahuan,
nilai-nilai, dan keterampilan.
Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan minat. Siswa yang memiliki
minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan
dengan demikian timbul motivasinya untuk mempelajari bidang studi tersebut.
Motivasi juga dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianggap penting dalan, kehidupannya.
Perubahan nilai-nilai yang dianut akan mengubah tingkah laku manusia dan
motivasinya. Karenanya, bahan-bahan pelajaran yang disajikan hendaknya disesuaikan
dengan minat siswa dan tridak bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku dalam
masyarakat.
Sikap siswa, seperti haInya motif menimbulkan dan mengarahkan aktivitasnya.
Siswa yang menyukai matematika akan merasa senang belajar matematika dan
terdorong untulk belajar lebih giat, demikian pula sebaliknya. Karenanya adalah
kewajiban bagi guru untuk bisa menanamkan sikap positif pada diri siswa terhadap
mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.
Insentif, suatu hadiah yang diharapkan diperoleh sudah melakukan kegiatan,
dapat menimbulkan motif. Hal ini merupakan dasar teori belajar B.F. Skinner dengan
operant conditioning-nya’ (Hal ini dibkarakan lebih lanjut dalam prinsip balikan dan
penguatan).
Motivasi dapat bersifat internal, artinya datang dari dirinya sendiri, dapat juga
bersifat eksternal yakni datang dari orang lain, dari guru, orang tua, teman dan
sebagainya.
Motivasi juga dibedakan atas motif intrinsik dan motif ekstrinsik. Motif intrinsik
adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. Sebagai
contoh, seorang siswa yang dengan sungguh-sungguh mempelajari mata pelajaran di
sekolah karena ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya. Sedangkan motif
ekstrinsik adalah tenaga pendorong yang ada di luar perbuatan yang dilakukannya
tetapi menjadi penyertaanya. Sebagai contoh, siswa belajar sungguh-sungguh bukan
disebabkan ingin memiliki pengetahuan yang dipelajarinya tetapi didorong oleh
keinginan naik kelas atau mendapat ijazah. Naik kelas dan mendapat ijazah adalah
penyerta dari keberhasilan belajar.
Perhatian erat sekali kaitannya dengan motivasi bahkan tidak dapat dipisahkan.
Perhatian ialah pemusatan energi psikis (fikiran dan perasaan) terhadap suatu objek.
Makin terpusat perhatian pada pelajaran, proses belajar makin baik dan hasilnya akan
makin haik pula. Oleh karena itu guru harus selalu berusaha supaya perhatian siswa
terpusat pada pelajaran. Memunculkan perhatian seseorang pada suatu objek dapat
diakibatkan oleh dua hal.
Pertama, orang itu merasa bahwa objek tersebut mempunyai kaitan dengan
dirinya umpamanya dengan kebutuhan, cita cita, pengalaman, bakat, minat.
Kedua, Objek itu sendiri dipandang memiliki sesuatu yang lain dari yang lain,
atau yang lain dari yang biasa, lain dari yang pada umumnya muncul.
Perhatikan contoh kasus dibawah ini :

1. Rukiah, salah seorang siswa disuatu sekolah dasar sangat tertarik dengan
penjelasan ibu gurunya tentang perpindahan penduduk. sehingga ia
sungguh-sungguh memperhatikan pelajaran tersebut, karena ia pernah dibawa
orang tuanya bertransmigrasi.
2. Sekelompok siswa disuatu sekolah dasar pada sutu waku mengikuti pelajaran
dengan penuh perhatian karena guru mengajarkan pelajaran tersebut dengan
menggunakan alat peraga yang sebelumnya guru tersebut belum pernah
melakukannya.
3. Sekelompok siswa sedang asyik mengerjakan tugas kelompok, dalam pelajaran
IPA. Kelihatannya mereka sangat sungguh-sungguh menerjakan tugas tersebut.
Biasanya mereka belajar cukup mendengarkan ceramah dari guru.
Ketiga contoh diatas menggambarkan siswa yang belajar dengan penuh perhatian
akan tetapi penyebabnya berbeda.
Contoh pertama, Rukiah belajar dengan penuh perhatian. Karena pelajaran tersebut
memiliki kaitan dengan pengalamannya. Pelajaran tersebut ada kaitan dengan diri
siswa.
Pada contoh kedua, siswa belajar dengan penuh perhatian, karena guru mengajar
dengan menggunakan alat peraga, (cara guru mengajar lain dan kebiasaannya),
Demikian pula contoh ketiga, siswa belajar dengan penuh perhatian Karena guru
menggunakan metode yang bervariasi tidak hanya ceramah).
Dari uraian dan contoh diatas dapat disimpulkan, bahwa :

1. Belajar dengan pernah perhatian pada pelajaran yang sedang dipelajari, proses
dan hasilnya akan lebih baik.
2. Upaya guru memumbuhkan dan meningkatkan perhatian siswa terhadap
pelajaran dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:

1. Mengaitkan pelajaran dengan pengalaman, kebutuhan, cita-cita, bakat


atau minat siswa.
2. Menciptakan situasi pembelajaran yang tidak monoton. Umpamanya
penggunaan metode mengajar yang bervariasi, penggunaan media,
tempat belajar tidak terpaku hanya didalam kelas saja.

KEAKTIFAN BELAJAR
Kecendrungan psikologi dewasa ini menganggap bahwa anak adalah makhluk
yang aktif. Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemampuan
dan aspirasi sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa
dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif
mengalami sendri.
Mon Dewey misalnya mengemukakan, bahwa belajar adalah menyangkut apa
yang harus dikerjakan siswa untuk dirmya sendiri. maka inisiatif harus datang dari
siswa sendiri. Guru sekedar pembimbing dan pengarah (John Dewy 1916. dalam Dak
ks, 1937:3 1).
Dalam setiap proses belajar, siswa selalu menampakkan keaktifan. Keaktifan
itu beraneka ragam bentuknya. Mulai dari kegiatan fisik yang mudah kita amati sampai
kegiatan psikis yang susah diamati. Kegiatan fisik bisa berupa membaca, mendengar,
menulis, berlatih keterampilan-keterampilan, dan sebagainya. Contoh kegiatan psikis
misaInya menggunakan khasanah pengetahuan yang dimiliki dalam memecahkan
masalah yang dihadapi, membandingkan satu konsep dengan yang lain, menyimpulkan
basil percobaan, dan kegiatan psikis yang lain.
Seperti yang telah dibahas di depan bahwa belajar iu sendiri adalah akivitas,
yaitu aktivitas mental dan emosional. Bila ada siswa ) yang duduk di kelas pada saat
pelajaran berlangsung, akan tetapi mental emosionainya tidak terlibat akif didalam
situasi pembelajaran itu, Pada hakikamya siswa tersebut tidak ikut belajar.
Oleh karena itu guru jangan sekali-kali membiarkan ada siswa yang tidak ikut
aktif belajar. Lebih jauh dari sekedar mengaktifkan siswa belajar, guru harus berusaha
meningkatkan kadar aktifitas belaiar tersebut.
Kegiatan mendengarkan penjelasan guru, sudah menunjukkan adanya aktivitas
belajar. Akan tetapi barangkali kadarnya perlu ditingkinkan dengan metode mengajar
lain.
Sekali untuk memantapkan pemahaman anda tentang upaya meningkatkan
kadar aktivitas belajar siswa, coba anda tetapkan salah satu pokok bahasan dari salah
satu mata pelajaran yang biasa diajarkan. Silahkan anda rancang kegiatan-kegiatan
belajar yang bagaimana yang harus siswa anda lakukan, supaya kadar aktivitas
belajair mereka relatif tinggi.
Bila sudah selesai anda kerjakan, silahkan diskusikan deingan guru lain
disekolah anda atau guru sesama peserta program
KETERLIBATAN LANGSUNG DALAM BELAJAR
Di muka telah dibkarakan bahwa belajar haruslah dilakukan sendiri oleh siswa
yang, belajar adalah mengalami, belajar tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain.
Edgar Dale dalam penggolongan pengalaman belajar yang dituangkan dalam kerueut
pengalamannya mengemukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar melalui
pengalaman langsung. Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak sekadar
mengamati secara langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam
perbuatan, dan bertanggung jawab tehadap hasilnya. Sebagai contoh seseorang yang
belajar membuat tempe, yang paling baik apabila ia terlihat secara langsng dalam
perbuatan (direct performance), bukan sekadar melihat bagaimana orang menikmati
tempe (demonstrating), apalagi sekadar mendengar orang bercerita bagaimana cara
pembuatan tempe (telling).
Pentingnya ketelibatan langsung dalam belajar dikemukakan oleh John Dewey
dengan “leaming by doing”-nya. Belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan langsung.
Belajar harus dilakukan oleh siswa secara aktif, baik individual maupun kelompok,
dengan cara memecahkan masalah (prolem solving). Guru bertindak sebagai
pembimbing dan fasilitator.
Keterlibatan siswa di dalam belajar jangan diartikan keterlibatan fisik semata,
namun lebih dari itu terutama adalah keterlibatan mental emosional, keterlibatan
dengan kegiatan kognitif dalam pencapaian dan perolehan pengetahuan, dalam
penghayatan dan intemalisasi nilai-nilai dalam pembentukan sikap dan nilat, dan juga
pada saat mengadakan latihan-latihan dalam pembentukan keterampilan.

PENGULANGAN BELAJAR
Prinsip belajar yang menekankan perlunya pengulangan yang dikemukakan
oleh teori Psikologi Dava. Menurut teori ini belajar adalah melatih daya-daya yang ada
pada manusia yang terdiri atas daya mengamat, menanggap, mengingat. mengkhayal,
merasakan. berpikir. dan sebagainya. Dengan mengadakan pengulangan maka
dasya-daya tersebut akan berkembang. Seperti hainya pisau yang selalu diasah akan
menjadi tajam, maka daya-daya yang dilatih dengan pengadaan
pengulangan-pengulangan akan menjadi sempuma.
Teori lain yang menekankan prinsip pengulangan adalah teori psikologi
Asosiasi atau Koneksionisme dengan tokoh yang terkenal Thorndike. Berangkat dari
salah satu hukum belajarnya “law of exercise“, ia mengemukakan bahwa belajar ialah
pembentukan hubungan antara stimulus dan respons. dan pengulangan terhadap
pengalaman-pengalaman itu memperbesar peluang timbulnya respons benar.
Seperti kata pepatah “latihan menjadikan sempurna” (Thomdike, 1931b:20.
dari Gredlei, Marget E Bell, terjemahan Munandir, 1991: 51).Psikologi Conditioning
yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari Koneksionisme juga menekankan
pentingnya pengulangan dalam belajar. Kalau pada Koneksionisme, belajar adalah
pembentukan hubungan stimulus dan respons maka pada psikologi conditioning
respons akan timbul bukan karena saja stimulus, tetapi juga oleh stimulus yang
dikondisikan.
Banyak tingkah laku manusia yang terjadi karena kondisi, misalnya siswa
berbaris masuk ke kelas karena mendengar bunyi lonceng, kendaman berhenti ketika
lampu Ialu lintas berwarna merah. Menurut teori ini perilaku individu dapat
dikondisikan, dan belajar merupakan upaya untuk mengkondisikan suatu perilaku atau
respons terhadap sesuatu. Mengajar adalah membentuk kebiasaan, mengulang-ulang
sesuatu perbuatan sehingga menjadi suatu kebiasaan dan pembiasaan tidak perlu selalu
oleh stimulus yang sesungguhnya, tetapi dapat juga oleh stimulus penyerta.
Ketiga teori tersebut menekankan pentingnya prinsip pengulangan dalam
belajar walaupun dengan tujuan yang berbeda. Yang pertama pengulangan untuk
melatih daya-daya jiwa sedangkan yang kedua dan ketiga pengulangan untuk respons
yang benar dan membentuk kebiasaan- kabiasaan. Walaupun kita tidak japat menerima
bahwa belajar adalah pengulangan seperti yang dikemukakan ketiga teori tersebut,
karena tidak dapat dipakai untuk menerangkan semua bentuk belajar, namun prinsip
pengulangan masih relevan sebagai dasar pembelajaran. Dalam belajar tetap diperlukan
latihan/pengulangan. Metode drill dan stereotyping adalah bentuk belajar yang
menerapkan prinsip pengulangan (Gage dan Berliner, 1984: 259).
SIFAT MERANGSANG DAN MENANTANG DARI MATERI YANG
DIPELAIARI
Teori Medan (Field Theory) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa dalam,
situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi
belajar siswa menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat
hambatan yang mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi
hambatan itu yaitu dengan mempelajari bahasa belajar tersebut. Apabila hambatan itu
telah diatasi, artinya tujuan belajar telah tercapai, maka ia akan masuk dalam medan
baru dan tujuan baru, demikian seterusnya. Agar pada anak timbul motif yang Kuat
untuk mengatasi hambatan dengan baik maka bahan belajar haruslah menantang.
Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar haruslah menantang.tantangan yang
dihadapi dalam bahan belajar membuat siswa bergairah untuk mengatasinya. Bahan
belajar yang baru, yang banyak mengandung masalah yang perlu dipecahkan membuat
siswa tertantang untuk mempelajarinya. Pelajaran yang memberi kesempatan pada
siswa untuk menermakan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi akan
menyebabkan siswa berusaha meneari dan menemukan konsp-konsep, prinsip-prinsip,
dan generalisasi tersebut. Bahan belajar yang telah mendan saja kurang menarik bagi
siswa.
Penggunaan metode eksperimen, inkuiri, diskoveri juga memberikan tantangan
bagi siswa untuk belajar secara lebili giat dan sungguh-sunggub. Penguatan positif
maupun negatif juga akan menantang siswa dan menimbulkan motif untuk memperoleh
gaujaran atau terhindar dari hukum yang tidak menyenangkan.

PEMBERIAN BALIKAN ATAU UMPAN BALIK DAN PENGUATAN


BELAJAR
Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama
ditekankan oleh teori belajar operant Conditioning dari B.F. Skinner. Kalau pada teori
conditioning yang diberi kondisin adalah stimulusnya, maka pada operant conditioning
yang diperkuat adalah responsnya. Kunci dari teori belajar im adalah law of effect – nya
Thomdike. Siswa akan belajar lebih bersemangat apabila mengetahui dan mendapatkan
hasil yang haik. Hasil, apalagi hasil yang baik, akan merupakan balikan yang
menyenangkan dan berpengarub baik bagi usaha belajar selanjutnya. Namum dorongan
belajar itu menurut B.E Skinner tidak saja oleh penguatan yang menyenangkan tetapi
juga ada yang tidak menyenangkan. Atau dengan kata lain penguatan positif maupun
negatif dapat memperkuat belajar (gage dan Berliner, 1984: 272).
Siswa belajar sunggub-sungguh dan mendapatkan nilai yang baik dalam
ulangan. Nilai yamg baik itu mendorong anak untuk belajar lebih giat lagi. Nilai yang
baik dapat merupakan operant conditioning atau penguatan positif. Sebaliknya anak
yang mendapatkan nilai yang jelek pada waktu ulangan akan merasa takut tidak naik
kelas, karena takut tidak naik kelas ia terdorong tuk belajar lebih giat. Di sini nilai
buruk dan dan rasa takut lidak naik kelas juga bisa mendorong anak untuk belajar lebih
giat. Inilah yang disebut penguatan negatif. Di sini siswa mencoba menghindar dari
peristiwa yang tidak menyenangkan, maka penguatanatan negatif juga disebut escape
conditioning, Format sajian berupa tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode
penemuan, dan sebagainya merupakan cara belajar-mengajar yang memungkinkan
terjadinya balikan dan penguatan. Balikan yang segera diperoleh siswa setelah belajar
melalui penggunaan metode-metode ini akan membuat siswa terdorong untuk belajar
lebih giat dan bersemangat.

E. IMPLIKASI PRINSIP-PRINSIP BELAJAR


Siswa sebagai “primus motor” (motor utama) dalam kegiatan pembelajaran,
dengan alasan apapun tidak dapat mengabaikan begitu saja adanya prinsip- prinsip
belajar. Justru pada siswa akan berhasil dalam pembelajaran, jika mereka menyadari
implikasi prinsip-prinsip belajar terhadap diri mereka.
Perhatian dan Motivasi
Siswa dituntut untuk memberikan perhatian terhadap semua ungsangan yang
mengarah ke arah pencapaian tujuan belajar. Adanya tuntutan untuk selalu memberikan
perhatian ini, menyebabkan siswa harus membangkitkan perhatiannya kepada segala
pesan yang dipelajarinya. Pesan-pesan yang menjadi isi pelajaran seringkali dalam
bentuk rangsangan suara, warna. bentuk, gerak, dan rangsangan lain yang dapat diindra.
Dengan demikian siswa diharapkan selalu melatih indranya untuk memperhatikan
rangsangan yang muncul dalam prosses pembelajaran. Peningkatan/pengembangan
minat ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi motivasi (Gage dan Berliner,
1984:373).
Contoh kegiatan atau perilaku siswa, baik fisik atau psikis, seperti
mendengarkan ceramah guru, membandingkan konsep sebelumnya dengan konsep
yang baru diterima, mengamati secara cermat gerakan psikomotorik yang dilakukan
guru, atau kegiatan sejenis lainnya. Senma kegiatan atau perilaku tersebut harus
dilakukan oleh siswa secara sadar sebagai upaya untuk meningkatkan motivasi
belajarnya.
Sedangkan implikasi prinsip motivasi bagi siswa adalah disadarinya oleh siswa
bahwa motivasi belajar yang ada pada diri mereka harus dibangkitkan dan
mengembangkan secara terus menerus. Untuk dapat membangkitkan dan
mengembangkan motivasi belajar mereka secara terus menerus, siswa dapat
melakukannya dengan menentukan atau mengetahui tujuan belajar yang hendak
dicapai. menanggapi secara positif pujian atau dorongan dari orang lain, menentukan
target atau sasaran penyelesaian tugas belajar, dan perilaku sejenis lainnya. Dari
contoh-contoh perilaku siswa untuk meningkatkan dan membangkitkan motivasi
belajar, dapat ditandai bahwa perilaku-perilaku tersebut bersifat psikis.

Keaktifan
Sebagai “primus motor” dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan belajar, siswa
dituntut untuk selalu aktif memproses dan mengolah perolehan belajarnya. Untuk dapat
memproses dan mengolah perolehan belajarnya secara efektif, perilaku-perilaku seperti
mencari sumber informasi yang dibutuhkan, menganalisis hasil percobaan, ingin tahu
hasil dan kimia, membuat karya tulis, membuat kliping, dan prilaku sejenis lainnya.
Implikasi prinsip keaktifan bagi siswa lebih lanjut menuntut keterlibatan
langsung siswa dalam proses pembelajaran.

Keterlibatan langsung/ berpengalaman


Hal apapun yang dipelajari siswa, maka ia harus mempelajarinya sendiri. Tidak
ada seorangpun dapat melakukan kegiatan belajar tersebut untuknya (Davies, 1987:32).
Pemyataan ini. secara mutlak menuntut adanyan keterlibatan langsung dari “tiap siswa
dalam kegiatan belajar pembelajaran.
Implikasi prinsip ini dituntut pada para siswa agar tidak segan-segan
mengerjakan segala tugas belajar yang dibeerikan kepada mereka. Dengan keterlibatan
langsung ini, secara logis akan menyebabkan mereka memperoleh pengalaman atau
berpengalaman. Bentuk-bentuk perilaku yang merupakan implikasi prinsip keterlibatan
langsung bagi siswa misalnya adalah siswa ikut dalam pembuatan lapangan bola voli,
siswa melakukan reaksi kimia, siswa berdiskusi untuk membuat laporan, siswa
membaca puisi di depan kelas, dan perilaku sejenis lainnya. Bentuk perilaku
keterlibatan langsung siswa tidak secara mutlak menjamin terwujudnya prinsip
keaktifan pada diri siswa. Namun demikian, perilaku keterlibatan siswa secara
langsung dalam kegiatan belajar pembelajaran dapat diharapkan mewujudkan
keaktifan siswa.
Pengulangan
Penguasaan secara penuh dari setiap langkah kemungkinkan belajar secara
keseluruhan lebih berarti (Davies, 1987:32 ). Dari pemyataan inilah pengulangan masih
diperlukan merasa bosan dalam melakukan pengulangan.
Bentuk-bentuk perilaku pembelajaran yang merupakan implikasi prinsip
pengulangan, diantaranya menghafal unsur-unsur kimia setidp valensi, mengerjakan
soal-soal lingkungan, Jachan, menghafal nama-nama latin tumbuhan, atau menghafal
tahun-tahun terjadinya peristiwa sejarah.

Tantangan
Prinsip belajar ini bersesuaian dengan pemyataan bahwa apabila siswa
diberikan tanggung jawab untuk mempelajari sendiri, maka ia lebih termotivasi untuk
belajar, ia akan belajar dan mengingat secara lebih baik (Davies, 1987: 32). Hal ini
berarti siswa selalu menghadapi tantangan untuk memperoleh. memproses, dan
mengolah setiap pesan yang ada dalam kegiatan pembelajaran.
Implikasi prinsip tantangan bagi siswa adalah tuntutan dimilikinya kesadaran
pada diri siswa akan adanya kebutuhan untuk selalu memperoleh, memproses. dan
mengolah pesan. Sclain itu, siswa juga harus memiliki keingintahuan yang besar
terhadap segala permasalahan yang dihadapinya. Bentuk-bentuk perilaku siswa yang
merupakan implikasi dari prinsip tantangan ini diantaranya adalah melakukan
eksperimen, melaksanakan tugas terbimbing maupun mandiri, atau mencari tahu
pemecahan suatu masalah.

Balikan dan Penguatan


Siswa selalu membutuhkan suatu kepastian dari kegiatan yang dilakukan,
apakah benar atau salah? Dengan demikian siswa akan selalu memiliki pengetahuan
tentang hasil (knowledge of result), yang sekaligus merupakan penguat (reinforce) bagi
penguatan bentuk-bentuk perilaku siswa yang memungkinkan diantaranya adalah
dengan segera mencocokkan jawaban dengan kunci jawaban, menerima kenyataan
terhadap skor atau nilai yang dicapai, atau menerima teguran dari gurulorang tua karena
hasil belajar yang jelek.

Perbedaan Individual
Setiap siswa memiliki karakteristik sendiri-sendiri yang berbeda satu dengan
yang lain. Karena hal inilah, setiap siswa belajar menurut tempo (kecepatan)nya sendiri
dan untuk setiap kelompok umur terdapat variasi kecepatan belajar (Davies, 1987: 32).
Kesadaran bahwa dirinya berbeda dengan siswa lain, akan membantu siswa
menentukan cara belaiar dan sasaran belajar bagi dirinya sendiri.
Siswa merupakan imdividual yang unik artinya tidak ada dua orang siswa yang
sama persis, tiap siswa memiliki perbedaim satu dengan lain. Perbedaan itu terdapat
pada karakteristik psikis, kepribadian dan sifat-sifatnya.
Perbedaan individual ini pada cara dan hasil belajar siswa. Karenanya
perbedaan individu perlu diperhaikan pleh guru dalam upaya pembelajaran. Sistem
pendidikan klasikal yang dilakukan disekolah kita kurang memperhatikan masalah
perbedaan individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran dikelas dengan melihat
siswa sebagai individu dengan kemampuan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih
sama, demikian pula dengan pengetahuannya.
Implikasi adanya prinsip perbedaan individual diantaranya adalah menentukan
tempat duduk di kelas, menyusun jadwal belajar, atau memilih bahwa implikasi adanya
prinsip perbedaan individu bagi siswa dapat berupa perilaku fisik maupun psikis.
Untuk memperjelas implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa, anda dapat
mengidentifikasi dari kegiatan siswa dalam kegiatan pembelajaran sebagai
indikatornya.
Implikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru, tampak dalam setiap kegiatan
perilaku mereka selama proses pembelajaran berlangsung. Namun demikian, perlu
disadari bahaya implementasi prinsip-prinsip belajar sebagai implikasi prinsip-prinsip
belajar bagi siswa dan guru tidak semuanya terwujud dalam setiap proses
pembelajaran.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
1) Prinsip belajar adalah landasan berpikir, landasan berpijak, dan sumber motivasi agar
proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik antara pendidik dengan peserta
didik. Prinsip ini dijadikan sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa
maupaun bagi guru dalam upaya mencapai hasil yang diinginkan.

2) Berikut ini prinsip-prinsip belajar yang dikemukakan oleh Rothwal A.B. (1961)
adalah :
- Prinsip Kesiapan (Readinees)
- Prinsip Motivasi (Motivation)
- Prinsip Persepsi
- Prinsip Tujuan
- Prinsip Perbedaan Individual
- Prinsip Transfer dan Retensi
- Prinsip Belajar Kognitif
- Prinsip Belajar Afektif
- Prinsip Belajar Evaluasi
- Prinsip Belajar Psikomotor

3) Prinsip – Prinsip Belajar Menurut Rochman Nata Wijaya dkk


* Prinsip efek kepuasan ( law of effect )
* Prinsip pengulangan ( law of exercise )
* Prinsip kesiapan ( law of readiness )
* Prinsip kesan pertama ( law of primacy )
* Prinsip makna yang dalam ( law of intensity )
* Prinsip bahan baru ( law of recentcy )
* Prinsip gabungan ( perluasan dari prinsip efek kepuasan dan prinsip
pengulangan )

4) Implikasi Prinsip – Prinsip Belajar :

Implikasi Prinsip
Belajar Bagi Siswa Bagi Guru
Perhatian dan Dituntut memberikan perhatian Mengunakan metode yang
Motivasi terhadap semua rangsangan yang bervariasi...
mengarah pada tercapainya
Memilih bahan ajar yang
tujuan belajar.
diminati siswa..
Keaktifan Dituntut dapat memproses dan Memberikan kesempatan pada
mengolah hasil belajarnya secara siswa untuk melakukan
efektif serta aktif baik secara eksperimen sendiri
fisik, intelektual dan emosional.
Keterlibatan langsung/ Dituntut agar siswa Melibatkan siswa dalam
Pengalaman me-ngerjakan sendiri tugas yang mencari informasi,
diberikan guru kepada mereka. merang-kum informasi dan
menyim-pulkan informasi.
Pengulangan Kesadaran siswa dalam Merancang hal-hal yang perlu
me-ngerjakan latihan-latihan di ulang.
yang berulang-ulang
Tantangan Diberikan suatu tanggungja-wab Memberikan tugas pada siswa
untuk mempelajari sendiri dalam memecahan
dengan melakukan ekspe-rimen, permasa-lahan.
belajar mandiri dan mencari
pemecahan sendiri dalam
menghadapi perma-salahan.
Balikan dan Mencocokan jawaban antara Memberikan jawaban yang
penguatan siswa dengan guru benar dan memberikan
kesimpulan dari materi yang
telah dijelaskan atau di bahas.
Perbedaan Individual Belajar menurut tempo Menentukan metode sehingga
kecepa-tan masing-masing dapat melayani seluruh siswa
siswa
DAFTAR PUSTAKA

Dikutip dari: http://aggilnet.blogspot.com/2011/03/makalah-hakikat-belajar-dan.html


(minggu 1 Juli 2012)
Dimyati 2006, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta : Rineka Cipta
Paulina, Panen, 2003, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta : UT

BAB I PSIKOLOGI DAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mengkaji perilaku individu dalam
berinteraksi dengan lingkungannya. Perilaku yang dimaksud adalah, perilaku motorik
yaitu perilaku dalam bentuk gerakan. Perilaku kognitif ialah perilaku dalam bentuk
bagaimana individu mengenal alam dis ekitarnya. Perilaku konatif ialah perilaku yang
berupa dorongan dari dalam individu. Perilaku afektif ialah perilaku dalam bentuk
perasaan atau emosi.

Pendekatan utama dalam psikologi yaitu:

Pendekatan behaviorisme, lebih mengutamakan hal-hal yang nampak dari individu.


Perilaku adalah segala sesuatu yang bisa di amati oleh alat indera sebagai hasil dari
interaksi dengan lingkungnnya. Pendekatan psikoanalisa, lebih mengutamakan hal-hal
yang ada di bawah kesadaran individu. Pendekatan kognitif, perilaku sebagai proses
internal, yang merupakan suatu proses input-output yaitu penerimaan dan pengolahan
hasil dari informasi, untuk kemudian menghasilkan keluaran. Pendekatan humanistik,
bahwa manusia sudah awalnya mempunyai dorongan untuk mewujudkan dirinya
sebagai manusia di lingkungannya. Pendekatan neurobiologi yang mengaitkan
perilaku individu dengan kejadian di dalam otak dan syarafnya.
Psikologi pendidikan yaitu cabang psikologi secara khusus mengkaji berbagai
perilaku inddividu dalam kaitannya dengan pendidikan, tujuannya untuk menemukan
fakta, generalisasi, dan teori psikologis yang berkaitan dengan pendidikan untuk
digunakan dalam upaya melaskanakan proses pendidikan yang efektif.

Peranan psikologi dalam pembelajaran dan pengajaran yaitu : memahami siswa


sebagai pelajar, memahami prinsip dan teori pembelajaran, memilih metode-metode
pengajaran, menetapkan tujuan pembelajaran, menciptakan situasi pembelajaran yang
kondusif, memilih dan menetapkan isi pengajaran, membantu siswa yang mendapat
kesultan dalam pembelajaran, memilih alat bantu pengajaran, menilai hasil
pembelajaran, memaham kepribadian dan profesi guru, membimgbing kepribadian
siswa.

Komentar /refleksi:
Psikologi merupakan suatu ilmu pengetahuan karena psikologi menggunakan
metode-metode ilmiah. Psikologi pendidikan sangat penting untuk dipelajari,
dipahami, dan ditelaah oleh mahasiswa keguruan. Karena pendidikan merupakan
kegiatan yang melibatkan individu yang berperilaku yang ikut terlibat dalam
pendidikan. Seyogyanya mereka yang terlibat dapat menunjukkan perilaku yang
seusai agar proses pendidikan dapat berlangsung secara efektif sesuai dengan
landasan dan tujuan yang akan dicapai.

BAB II PENGERTIAN PEMBELAJARAN

Pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh
suatu perubahanperilakuu yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari
pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Beberapa
prinsip yang menjadi landasan pengertian tersebut ialah :

1. Pembelajaran sebagai suatu usaha memperoleh perubahan perilaku. Prinsip ini bermakna
bahwa prosees pembelajaran itu ialah adanya perubahan perilaku dalam diri individu.
2. Hasil pembelajarn ditandai dengan perubahan perilaku secara keseluruhan.
3. Pembelajaran merupakan suatu proses. Prinsip ini mengandung makna bahwa pembelajaran
merupakan suatu aktifitas yang berkesinambungan.
4. Proses pembelajaran terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong dan ada sustu tujuan
yang ingin dicapai.
5. Pembelajaran merupakan suatu pengalaman.

Komentar /refleksi:
Pembelajaran merupakan aktivitas paling utama dalam proses pendidikan di sekolah.
Untuk itu pemahaman seorang guru terhadap pengertian pembelajaran akan
mempengaruhi cara guru itu mengajar. Dalam bab ini dibahas tentang pengertian
pembelajaran dan keterkaitan dengan pengertian lain. Untuk itu bisa dijadikan acuan
untuk mengetahhui arti pembelajaran agar keberhasilsan pencapaian tujuan
pendidikan bisa tercapai denggan efektif.

BAB III PROSES DAN HASIL PEMBELAJARAN


Proses pembelajaran ialah proses individu mengubah perilaku dalam upaya memenuhi
kebutuhannya. Halini berarti bahwa individu akan melakukan kegiatan belajar apabila
ia menghadapi situasi kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi oleh insting atau kebiasaan.

Proses pembelajaran merupakan suatu aktivitas sebagai berikut :

1. Individu merasakan adanya kebutuhan dan melihat tujuan yang ingin dicapai.
2. Kesiapan (readiness) individu untuk mengetahui kebutuhan dan mencapai tujuan.
3. Pemahaman situasi lingkungan.
4. Menafsirkan situasi yaitu bagaimana individu melihat kaitan berbagai aspek yang terdapat
dalam situasi.
5. Tindak balas (respons)
6. Akibat (hasil) pembelajaran.

Hasil dari proses pembelajaran ialah perubahan perilaku individu. Individu akan
memperoleh perilaku yang baru, menetap, fungsional, positif, disadari, dsb.
Perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran ialah perilaku keseluruhan yang
mencakup aspek kognitiif, konatif, afektif, dan motorik.
Jenis-jenis pembelajaran berdasarkan dari aspek pembelajaran yang akan dicapai
yaitu : pembelajaran keterampilan, pembelajaran sikap, dan pembelajaran
pengetahuan. Dari sifatnya dibedakan antara pembelajaran formal, informal, dan non
formal.

Komentar /refleksi:
Dalam bab III ini dibahas mengenai proses pembelajaran, yang bisa dipelajari
bagaimana proses pembelajaran dapat berlangsung dengan efektif sesuai dengan
kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai. Hasildari proses pembelajaran ada dua
kemungkinannya yaitu sukses atau gagal. Apabila hasilnya sukses maka tercapai
segala tujuannya dan akan memperoleh kepuasan dan apabila gagal akan mersa
kecewa. Disini guru diharapkan dapat membantu murid-murid yang gagal agar
mereka tidak berputus asa dan mampu belajar deengan baik.

BAB IV TEORI-TEORI PEMBELAJARAN (1)

Teori merupakan suatu perangkat prinssip-prinsip yang terorganisasi mengenai


peristiwa-peristiwa tertentu dalam lingkungan. Karakteristik suatu teori ialah
memberikan kerangka kerja konseptual untuk suatu iinformasi dan dapat prinsip yang
dapat diuji. Fungsi teori pembelajaran dalam pendidikan adalah:

1. Memberikan garis-garis rujukan untuk perancangan pengajaran.


2. Menilai hasil-hasil yang telah dicapai untuk digunakan dalam ruang kelas.
3. Mendiagnosis masalah-masalah dalam ruang kelas.
4. Menilai hasil penelitian yang dilaksanakan berdasarrkan teori-teori tertentu.

Teori pembelajaran behaviorisme yang berpendapat bahwa perilaku terbentuk melelui


perkaiatan antara rangsangan (stimulus) dengan tindak balas (respon). Perubahan
perilaku lebih banyak karena pengaruh lingkungan. Teori behaviorisme dibedakan
antara teori pelaziman klasik dan teori pelaziman operan. Teori pelaziman klasik
dipelopori oleh Ivan Pavlov, konsep atau prisip pembelajaran yaitu:

1. Excitation (pergetaran) yaitu suatu rangsangan tak terazim atau alami dapat
membangkitkanreaksi sel-sel tertentu, sehingga dapat menghasilkan tindak balas.
2. Irradiaton (penularan) yaitu terjadi reaksi dari sel-sel lain yang berbeda di sekitar kawasann
sl-sel yang bekenan debgan rangasangan tak terlazim.
3. Stimulus generalization (generalisasi rangsangan) yaitu keadaan dimana individu memberika
tindak balas yang sama terhadap ranggsangan tertentuu yang memiliki kesamaan walaupun
tidak serupa.
4. Extintion (penghapuan) yaitu suatu tidak balas akan hilang secarra perlahan-lahan apabila
makin berkurangnya keterkaitann dengan rangsangan tak terlazim.

Teori pelaziman operan yang tokohnya yaitu Throndike, pada dasarnya poses
pembelajaran merupakan pembinaan hubungan antara rangsangan tertentu dengan
perilaku tertentu. Semua pembelajaran dilakukan melalui suatu prroses coba-salah
(trial and error). Ada tiga hukum pembelajaran yaitu hukum hasil (law of effect)
menyatakan bahwa hubungan antara rangsangan dan perilaku akan makin kukuh
apabila ada kepuasan, dan akan makin diperlemah apabila terjadi ketidakpuasaan,
hukum latihan (law of exercise) menyatakan suatu rangsangan dan perilaku akan
makin kukuh apabila sering dilakukan latihan, dan hukum kesiapan (law of readiness)
menyatakan bahwa hubungan rangsangan dan perilaku akan semakin kukuh apabila
disertai dengan kesiapan individu.

Teori pembelajaran Gestalt, dalam pandangan ini pembelajaran merupakan suatu


fenomena kognitif yang melibatkan persepsi terhadap suatu benda, orang, atau
peristiwa dalam cara-cara yng berbeda. Beberapa aplikasi tori gestalt dalam proses
pembelajaran adalah pengalaman tilikan (insight), pembelajaran yang bermakna
(meaningful learning), perilaku bertujuan (purposive behavior), prinsip ruangg hidup
(life space), dan transfer dalam pembelajaran.

Komentar /refleksi:
Pada dasarnya teoori-teori pembelajaran menurut para ahli serprti teori behaviorisme
dengan rangssangan dan stimulusnya dan Gestalt,k eduannya memiliki fingsi yang
sama dalam proses pendididkan

BAB V TEORI-TEORI PEMBELAJARAN (2)

Teori perkembangan kognitif merupakan salah satu aspek perkembangan mental yang
bertujuan : (1) memissahkan kenyataannya dengan fantasi, (2) menjelajah kenyataan
dan menemukan hukum-hukumnya, (3) memilih kenyataan-kenyataan yang berguna
bagi kehidupan, (4) menentukan kenyataan yang sesungguhnya di balik sesuatu yang
nampak. Pekembangan kognitif merupakan suatu proses di mana tujuan individu
melalui suatu ranggkaian yang secara kualittatiif beerbeda dengan berfikir.
Perkembangan kgnitif merupakan pertumbuhan berfikir logis dari masa bayi hingga
dewasa, yang berrlangsung melali empat peringkat yaitu:
1. Peringkat sensori motor (0-1,5 tahun), aktivitas kognitip berpusat pada lat indera (sensori)
dan gerak (motor). Aktivitas ini terbentuk melalui proses penyesuaian fisik sebagai hasil dari
inteeraksi dengan liingkungan.
2. Peringkat pre-operational (1,5-6 tahun), aktivitas berfikirnya belum mempunyai sistem yang
terorganisir. Cara berfikir ini bersifat tidak sistematis, tidak konsisten dan tidak logis.
3. Peringkat concrete operational (6-12 tahun), perkembangan kognitif pada peringkat operasi
kongkrit, memberikan kecakapan anak berkenaan dengan konsep-konsep klasifikasi,
hubungan dan kuantitas.
4. Peringkat formal operational (12 tahun ke atas), perkembangan kognitif ditandai dengan
kemmpuan individu untuk berfikir secara hipotetis dan berbeda dengan fakta, memahami
konsep abstrak.

Impilkasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pengajaran antara lain :

1. Bahasa dan cara fikir anak berbeda dengan orang dewasa oleh karena itu dalam mengajar
guru hendaknya menggnakan bahasa yan sesuai dengan ara berfikir anak.
2. Anak-anak akan beajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dnan baik. Guru
harus membantu agar dapat berinteraksi dengan lingkungan denggan bak.
3. Bahan yang akan dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
4. Beri peluang agar anak mau belajar sesuai dengan peringkat perkembangannya.
5. Di dalam kelas hendaknya anak-anak diberi peluang untuk saling berbicara dan beriskusi
dengan teman-temannya.

Teori pemrosesan informasi (Robert Gagne), hasil pembelajaran manusia pada


dasarnya bersifat kumulatif, yang berarti bahwa hasil dari pembelajaran yang dicapai
individu adalah merupakan kumpulan keseluruhan hasil-hail pembelajaran sebelunya
yang saling terkait. Pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi untuk
kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil pembelajaran.
Peringkat dalam proses pembelajaran menurut teori Gagne melalui fase : (1) motivasi,
(2) pemahaman, (3) pemerolehan, (4) penahanan, (5) ingatan kembali, (6) generalisasi,
(7) perlakuan, (8) umpan balik. Dalam setiap fase terjadi pemrosesan tertentu.

Dalam kaitan dengan pengajaran ada sembilan langkah pengajaran yaitu:

1. Melakukan tindakan untuk menarik perhatian siswa.


2. Memberikan infomasi kepada siswa mengenai tujuan pengajaran.
3. Merangsang siswa untuk melakukan aktivitas pembelajaran.
4. Menyampaikan isi yang akan di bahas sesuai dengan topik.
5. Memberikan bimbingan bagi aktivitas siswa.
6. Memberikan peneguhan kepada perilaku pembelajaran siswa.
7. Memberikan umppan balik terhadap perilaku yang ditunjukkan siswa.
8. Melaksanakan penilaian proses dan hasil pembelajaran.
9. Memberkan kesempatan kepada siswa untuk mengingat dan menggunakan hasil
pembelajaran.

Teori pembelajaran sosial kognitif, disebut teori ini karena proses kognitif yang
terjadi dalam individu memegang peranan dalam pembelajaran, edangkan
pembelajaran terjadi karena adanya pengaruh lingkunggan sosial. Individu akan
mengamati perilaku I lingkungannya sebagai model, kemudian ditirunya sehingga
menjadi perilaku miliknya. Dengan demikian teori ini disebut teori pembelajaran
melalui peniruan. Perilaku individu terbentuk melalui peniruan terhadap perilaku di
lingkuna,p embelajaran merupakan suatu proess bagaimana membuat peniruan
sebaik—baiknya sehingga bersesuaian dengan keadaan dirinya dan tujuannya.

Komentar /refleksi:
Teori-teori pembelajaran yang haruus diketahui adalah beragam dan kesemuannya
berperan penting terhadap proses pembelajaran dan pengajaran. Seperti menurut
teoriperkembangan kognitif proses pembelajaran akan berhasil apabila disesuaikan
dengan peringkat perkembangan kognitif siswa. Siswa hendaknya diberi kesempatan
untuk melakukan eksperimen dengan objek fisik yang ditunjang oleh interaksi dengan
teman sebaya, dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru dan guru hendaknya
banyak memberikan rrangsanan kepada siswa agar mu berinteraksii dengan
lingkunganya dan secara aktif mencari dan menemukan berbagai hal dari
lingkungannya. Menurut teori pembelajaran sosial kognitif yang menekankan pada
peniruan bahwa dalam pengajaran di dalam kelas guru hendaknya merupakan tokoh
perilaku bagi siswa-siswanya. Proses kognitif siswa hendaknya mendapat perhatian
dari guru, kemudian hendaknya lingkungan memberikan dukungan bagi proses
pembelajaran, dan guru membantu siswa dalam mengembangkan perilaku
pembelajaran.

BAB VI ASPEK-ASPEK PSIKOLOGIS DALAM PROSES PEMBELAJARAN


DAN PENGAJARAN

Perilaku belajar siswa, dalam psikologi pendidikan, belajar diartikan sebagai suatu
proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku
yang baru secara keseeluruhan sebagi hasil penglaman individu itu sendiri dalam
interaksi dengan lingkungannya. Dalam hubungan dengan proses belajar ini, yang
harus dikenal betuloleh para pengajar adalah apa yang disebut dengan metakognisi
dan persepsi sosial-psikologis pelajar. Yang dimaksd dengan metakognisi adalah
pengetahuan seorang individu proses dan hasil belajar yang terjadi dalam dirinya serta
hal-hal yang terkait. Hal ini mengandung arti bahwa, agar proses belajar dapat
berlangsung secara efektif, maka pelajar seharusnya mampu mengenal proses dan
hasil yang terjadi dalam dirinya. Untuk itu para pengajar hendaknya mamppu
mengenal dan membantu siswa. Yang dimaksud dengan persepsi sosio-psikologis
adalah sampai seberapa jauh pelajar mempersepsi proses belajar yang berlangsung
beserta situasi-situasi yang berpengaruh.

Perilaku hasil belajar mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Para
pengajar sangat diharapkan mampu mengantisipasi aspek-aspek perubahan perilaku
ini yang dimulai dengan perencanaan kegiatan belajar-mengajar, dan
mengembangkannya setelah kegiatan belajar berakhir. Dengan perilaku belajar yang
efektif disertai proses mengajar yang tepat, maka proses belajar-mengajar diharapkan
mampu menghasilkan manusia-manusia yang mempunyai karakteristik sebagai: (1)
pribadi yang mandiri, (2) pelajar yang efektif, (3) pekerja yang produktif, (4) anggota
masyarakat yang baik. Untuk mewujudkan kualitas manusia seperti itu, maka ada
empat kualitas belajar yang harus dikembangkan dalam diri pada siswa, yiatu: (1)
belajar untuk menjadi (learning to do), (2) belajar untuk belajar (learning to learn), (3)
belajar untuk berbuat (learning to do), (4) belajar untuk hidup bersama (learning to
live together)

Perilaku mengajar guru, guru dituntut harus mampu mewujudkan perilaku mengajar
secara tepat agar menjadi perilku belajar yang efektif dalam diri siwa. Guru juga di
tuntut untuk menciptakan situasi balajar-menajar yang kondusif. Guru tidak terbatas
sebagai pengajar dalam arti penyampai pengetahuan, akan tetapi lebih meningkat
sebagai perancang pengajaran, manajer pengajaran, pengevaluasi hasil belajar dan
sebagai direktur belajar.
Dalam mewujudkan perilaku mengajar secara tept, karakteristik pengajar yang
diharapkan adalah:

1. Memiliki minat yang besar terhadap pelajaran dan mata pelaajaran yang diajarkannya.
2. Memiliki kecakapan untuk memperkirakan kepribadian ddan suasana hati secara tepat serta
membuat kontak dengan kelompok secara tepat.
3. Memiliki kesabaran, keakraban, dan sensivitas yang diperlukan untuk menumbuhkan
semangat belajar.
4. Memiliki pemikiran yang imajinatif (konseptual) dan praktis dalam usaha memberikan
penjelasan kepada pesrta didik.
5. Memiliki kualifikasi yang memadai dalam bidangnya, baik isi maupun metode.
6. Memiliki sikap terbuka, luwes, dan eksperimental dam metode dan teknik.

Pengajar akan mengajar dengan baik apabila memiliki sikap dasar yang benar, sasaran
yang benar, informasi faktual yang diperlukan, memahami macam-macam metoda
dan teknik dan mengetahui bagaimana memilihnya, membantu pelajar dalam
merencanakan tindak lanjut

Perwujudan perilaku guru sebagai pengajar dan siswa sebagai pelajar akan nampak
pada interaksi antar keduanya. Dalam interaksi ini terjadi proses saling mempengaruhi
sehingga terjadi perubahan perilaku pada diri pelajar dalam bentuk tercapainya hasil
belajar. Sekurang-kurangnya ada tiga hal dalam interaksi pelajar-pengajar yaitu proses
belaja, metode mengajar, dan pola-pola interaksi.

Model pembelajaran yang dipandang cukup komprehensif yang dikembangkan oleh


Ernest Chang dan Don Simpson, “The circle of learning: individual and Group
Process” menurut model ini, pembelajaran dapat berlangsung tidak hanya tanggung
jawab individual, akan tetapi dapat dalam bentuk kolaboratif melalui proses
kehidupan kelompok. Model ini mendasarkan atas paradigma hubungan antara
aktivitas dan orientasi. Dalam proses berlangsungnya pembelajaran ada dua dimensi
yaitu dimensi aktivitas pembelajaran dan dimensi orientasi proses. Hubungan dua
dimensi itu menghasilkan empat pola pembelajaran yaitu: (1) traditional lectures atau
ceramah tradisional, (2) self study atau belajar mandiri, (3) concurrent learning atau
pembelajaran bersama, (4) colaborative learning atau pembelajaran kolaboratif.
Komentar /refleksi:
Dalam bab ini kita dapat mengenal dan menerapkan bebgai aspek psikologis dalam
keseluruhan kegiatan pendidikan khususnya pada saat proses belajar-mengajar. Yang
ibicarakn aspek psikologis disini yaitu aspek perilaku individu yang terkit dengan
proses belajar-mengajar. Seperti kita ketahui dalam proses kegiatan ini melibatkan
intraksi individu antara pelajar dan pengajar aspek prilkunya berarti perilaku belajar
siswa dan perilaku mengajar guru.
Dalam mewujudkan proses mengajar yang efektif dan efisien maka perilaku belajar
siswa dan perilaku mengajar guru dapat di dinamiskan secara baik. Pengajar (guru)
hendaknya mampu mewujudkan perilaku mengajar secara tepat agar mampu
mewujudkan perilaku belajar siswa melalui interaksi belajar-mengajar yang efektif
dalam situasi belajar-mengajar yang kondusif.

BAB VII ASPEK-ASPEK PERILAKU PEMBELAJARAN

Motivasi dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan
dorongan untuk mewujudkan perilaku tertentu yang terarah kepada pencapaian suatu
tujuan tertentu. Perilaku belajar terjadi dalam situasi interaksi belajar-mengajar dalam
mencapai tujuan dan hasil belajar. Dalam berbagai teori penelitian, ternyata terdapat
kaitan yng erat antara kepuasan yang dicapai dalam elajar denga unjuk kerja dan
motivasi. Kepuasan yang diperoleh siswa dari prosse belajar dapat menunjukkan
unjuk kerja yang dan dapat meningkatkan motivasi belajar. Unjuk kerja yang dicapai
seseorang dapat mendapatkan kepuasan dan kemudian dapat meningkatkan motivasi,
dalam kaitan ini hendaknya dapat ditimbulkan suasana belajar yang sedemikian rupa
sehingga dapat memberikan kepuasan agar dapat menghasilkan unjuk kerja yang baik.
Faktor yang mempengaruhi kepuasan siswa dalam belajar yaitu imbalan hasil belajar,
rasa aman dalam belajar, kondisi belajar yang memadai, kesempatan untuk
memperluas diri, hubungan pribadi.
Ada beberapa prinsip motivasi yang dapat dijadikan acuan yaitu prinsip kompetisi,
prinsip pemacu, prinsipganjaran dan hukuman, kejelasan dan kedekatan tujuan,
pemahaman hasil, peengembangan minat, lingkungan yang kondusif, keteladanan.

Pengamatan dan perhatian merupakan aspek tingkah laku yang mempunyai peranan
penting dalam proese pembelajaran. Keefektipan suatu pross peembelajaran akan
banyak dipengaruhi oleh kulitas pengamatan dan perhatian yang diberikan.
Pengamatan atau perception, merupakan salah satu bentuk perilaku kognitif, yaitu
suatu proses mengenal lingkungan dengan menggunakan alat indera. Prosses
pengmatn tejadi karena adanya rangsangan dari lingkungan yang diterima oleh
individu denan enggunaan alat indera. Rangsangan itu kemudian diteruskan ke pusat
kesadaran yaitu otak untuk kemudian diberika makna dan tafsiran. Dilihat dari
proporsi penggunaan alat indera ada beberapa gaya pengamatan yaitu: gaya
pengamatan visual, gaya auditif, gaya taktil, gaya kinestetik.

Perhatian dapat diartikan sebagai peningkatan aktivitas mental terhadap suatu


rangsangan tertentu. Perhatian dapat lebih memusatkan pengamatan individu kepada
suatu rangsangan, sehinnga pengamatan menjadi lebih efektif. Guru dapat membantu
siswa dalam memusatkan memelihara perhatan dalam proses pembelajaran dengan
hal-hal sebagai berikut:

 Isyarat, memberikan isyarat-isyarat tertentu kepada siswa pada saat memulai pelajaran atau
pada saat pergantian aktivitas.
 Gerakan, senantiasa bergerak dan berkeliling ke seluruh kelas selama menyajikan pelajaran.
 Variasi,menggunakan gaya variasi dalam gaya mengajar.
 Minat, memberikan minat siswa sebelum dan selama proes pengajaran.
 Pertanyaan, mengajukan pertanyaan selama proses pengajaran berlangsung, mendorong
siswa untuk memberikan jawaban denga kata-kata sendiri.

Suatu proses pembelajaran akan berlangsung dengan efektif apabila informasi yang
dipelajari dapat diingat dengan baik dan terhindar dari lupa. Mengingat adalah
merupakan proses menerima, menyimpan, dan mengeluarkan kembali
inforrmasi-informasi yang telah diterima melalui pengamatan, kemudian disimpan
dalam pusat kesadaran (otak) setelah diberikan tafsiran.

Yang dimaksud dengan transfer dalam pembelajaran ialah pemindahan hasil


pembelajaran dari suatu situasi kee situai lain. Transfer akan terjadi apabla terdapat
kesamaan antara pembelajaran yang satu dengan situasi lainnya.
Dalam proses pembelajaran kebutuhan merupakan sumber timbulnya motivasi.
Kebutuhan (need) dapat diartikan sebagai suatu sitiasi kekurangan dalam diri inividu
dan menunutut pemuasan agar dapat berfungsi secara efektif. Kebutuhan merupakan
sumber timbulnya motivasi yang mendorong individu untuk berperilaku.

Komentar /refleksi:
Dalam bab ini dibahas mengenai beberapa aspek psikologi yang tekait dengan proses
pembelajaran dan pengajaran.dengan memperhatikan konsep psikologis diharapkan
guru mampu mengembangkan strategi pembelajaran yang seefektif mungkin . Aspek
yang dibahas yaitu:

1. Motivasi,dalam hubungannya para guru mempunyai tanggungjawab dan kewajiban untuk


memotivasi dalam belajar dan membantu agar mereka terhindar dari kemungkinan frustasi.
2. Pengamatan dan perhatian, dalam aktivitas di sekolah guru harus mengusahakan agar siswa
dapat melakukan pengamatan yang efektif agar memperoleh hasil pembelajaran yang
sebaik-baiknya. Dalam mengajar hendaknya memberikan kesempatann epada siswa
untmlakukan pengamtan yang baik.
3. Mengingat dan lupa, tugas guru adalah membantu siswwa dalam proses pembelajaran agar
bahan-bahan yang dipelajari siswa dapat diingat dnga baikdan terhindar dari lupa.
4. Transer dalam belajar.
5. Kebutuhan individu.

BAB VIII PSIKOLOGI MENGAJAR

Pendidikan diwujudkan melalui proses pengajaran. Proses pengajaran yang efektif


terbentuk melalui pengajaran yang meliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Berpusat pada siswa


2. Interaksi edukatif antara guru dengan siswa
3. Suasana demokratis
4. Variasi metode mengajar
5. Guru profesional
6. Bahan yang sesuai dan bermanfaat
7. Lingkungan yang kondusif
8. Sarana belajar yang menunjang

Model mengajar dikelompokkan dalam empat rumpun yaitu

1. Rumpun model pemrosesan informasi, model ini berorientasi pada kecakapan siswa dam
memproses informasi. terdiri atas: model berpikir induktif, model latihan inkuri, inkuri
ilmiah, penemuan konsep, pertumbuhan kognitif, model penata lanjutan dan memori.
2. Rumpun model-model personal, model ini berorientasi kepada individu dan perkembangan
keakuan (selfhood), terdiri atas; pengajaran non-direktif, latihan kesadaran, sinektik,
sistem-sistem konseptual dan pertemuan kelas.
3. Rumpun model interaksi sosial, model ini menekankan hubungan individu dengan orang lain
atau masyarakat, terdiri dari; penentuan kelompok, inkuiri (penemuan sosial), metode
laboratori, jurisprudensial, bermain peran, model penata lanjutan, dan simulasi sosial.
4. Rumpun model behavior (perilaku), model ini menekankan pada aspek perubahan perilaku
psikologis dan perilaku yang tidak dapat diamati, terdiri dari: manajemen kontingensi,
kontrol diri, relaksasi, pengurangan ketegangan, latihan asertif desensitasi, latihan langsung.

Komentar /refleksi:
Dalam bab ini meliputi psikologi belajar yang di dalamnya terdapat proses pengajaran
yang efektif. Agar dapat terjadi proses pengajaran seperti itu maka guru harus mampu
menciptakan proses pengajaran dalam suasana pembelajaran yang baik. Selanjutnya
yaitu mengenal model-model mengajar, seperti kita ketahui bahwa mengajar
merupakan tugas utama seorang guru, dengan bahasan yang ada pada bab ini, dapat
diharapkan ketika menjadi seorang guru dapat mengenal model-model mengajar dan
memilihnya secara tepat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki serta keadaan
lingkungannya.

BAB IX PSIKOLOGI GURU

Peranan (role) guru artinya keseluruhan perilaku yang harus dilakukan guru dalam
melaksanakan tugasnya sebagai guru. Di dalam keluarga guru perperan sebagai
pendidik dalam keluarga atau family educator, sedangkan di masyarakat, guru
berperan sebagai pembina masyarakat (sosial developer), pendorong (social
motivator), penemu (sosial inovator) dan sebagai agen masyarakat (social agent).

Beberapa faktor yang ikut mempengaruhi kinerja guru:

1. imbalan kerja
2. rasa aman dalam pekerjaan
3. kondisi kerja yang baik
4. kesempatan pengembangan diri
5. hubungan pribadi
Kompetensi guru adalah pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang harus ada pada
seseorang agar dapat menunjukan perilakunya sebagai guru. Kompetensi guru
meliputi kompetensi personal, kompetensi profesional, kompetensi sosial, kompetensi
intelektual dan kompetensi spiritual. Guru profesional adalah guru yang memiliki
keahlian, tanggung jawab dan rasa kesejawatan yang didukung oleh etika profesi yang
kuat.

Kepribadian merupakan keseluruhan perilaku dalam berbagai aspek yang secara


kualitatif akan membentuk keunikan atau kekhasan seseorang dalam interkasi dengan
lingkungan diberbagai situasi dan kondisi. Dalam lingkup pendidikan, penampilan
guru merupakan hal yang amat penting untuk mewujudkan kineja secara tapat dan
efektif. Dengan demikian sifat utama seorang guru adalah kemampuannya dalam
mewujudkan penampilan kualitas kepribadian dalam interaksi pendidikan yang
sebaik-baiknya agar kebutuhan dan tujuan tercapai secara efektif.

Komentar /refleksi:
Dalam keseluruhan proses pendidikan, khususnya di sekolah guru memegang peranan
yang paling utama, perilaku guru dalam proses pendidikan akan memberikan
pengaruh bagi pembinaan siswa. Dalam psikologi guru pada bab ini merupakan kajian
psikologis terhadap berbagai aspek perilaku guru khasnya dalam proses pendidikan di
sekolah.

===================

A. Judul : Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran


B. Pengarang : Prof. DR. Mohamad Surya
C. Penerbit : Pustaka Bani Quraisy, Bandung
D. Tahun Terbit : 2004
E. Jumlah Halaman : 112

===================

Ditulis oleh : Gesty Sugesty

Kelas : II A. Program Studi Pendidikan Ekonomi-FKIP UNIKU.

(Kajian Kritis Buku Psikologi: Diajukan Dalam rangka Memenuhi Salah Tugas Mata
Kuliah Psikologi Pendidikan. 2010)
PENGERTIAN BELAJAR, PEMBELAJARAN dan HASIL BELAJAR

1. Belajar
Belajar adalah proses perkembangan seseorang terhadap perubahan
tingkah laku. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku individu
melalui interaksi dengan lingkungan. Dalam interaksi inilah terjadi
serangkaian pengalamanpengalaman belajar.[1]Belajar proses yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku secara keseluruhan,
sebagai hasil pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungan.[2]Belajar
adalah rangkaian kegiatan jiwa raga, psiko-fisik untuk menuju perkembangan
pribadi manusia seutuhnya, tidak hanya berkaitan penambahan ilmu
pengetahuan tetapi menyangkut segala aspek dan tingkah laku pribadi
seseorang, baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik.[3]Berdasarkan
beberapa pendapat diatas, simpulan belajar adalah suatu
proses yang dilakukan individu secara terus-menerus untuk
memperoleh pengetahuan berupa perubahan tingkah laku, diperoleh dari
pengalaman dan interaksi dengan lingkungan, yang mencakup seluruh aspek
baik kognitif, afektif maupun psikomotorik. Belajar melibatkan berbagai
latihan untuk membentuk kepribadian yang diwujudkan dalam kegiatan
pembelajaran.
2. Pembelajaran
Kata pembelajaran berasal dari kata ajar, artinya petunjuk
yangdiberikan kepada orang agar diketahui atau diikuti.
Sedangkanpembelajaran berarti proses, cara, perbuatan menjadikan orang
belajar.
pembelajaran adalah proses belajarberulang-ulang yang menyebabkan
perubahan perilaku cenderung tetap. Pembelajaran merupakan upaya pendidik
untuk membantu peserta didik agar memperoleh kemudahan dalam
berinteraksi dengan lingkungan[4]. Kegiatan ini dilakukan guru agartingkah
laku siswa berubah ke arah lebih baik. pendidik menciptakan iklim, pelayanan
untuk mengembangkan kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan
peserta didik.[5]
Dari berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan pembelajaran adalah proses
interaksi antara peserta didik dengan pendidik pada suatu lingkungan belajar,
memanfaatkan berbagai sumber untuk mempelajari suatu materi. Pendidik
bertugas membantu peserta didik memperoleh kemudahan dalam membentuk
tingkah laku yang dinginkan sesuai lingkungan. Dalam pembelajaran guru
memiliki peran yang penting, sehingga harus memiliki keterampilan mengajar
untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
3. Hasil belajar
Hasil belajar adalah perubahan perilaku secara keseluruhan bukan
hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan. Hasil belajar tampak dari adanya
perubahan tingkah laku pada diri siswa, yang dapat diamati, diukur berupa
pengetahuan, sikap dan keterampilan. Perubahan diartikan dengan terjadinya
peningkatan dan pengembangan lebih baik dibandingkan sebelumnya,
misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti menjadi mengerti.[6]
Selanjutnya Bloom (dalam Sudjono, 2011:49) “Hasil belajar
dalam rangka studi dicapai melalui tiga kategori ranah yaitu: ranah
kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik”. Perinciannya
adalah sebagai berikut:
1. Ranah Kognitif berkenaan dengan hasil belajar
intelektual yang terdiri dari 6 aspek yaitu pengetahuan,
pemahamanan, penerapan, analisis, sintesis dan penilaian.
2. Ranah Afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah
afektif meliputi lima jenjang kemampuan yaitu menerima atau
memperhatikan, menanggapi, menilai atau menghargai, mengatur atau
mengorganisasikan dan karakterisasi dengan suatu nilai atau
kompleks nilai.
3. Ranah Psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar
keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah
psikomotorik, yaitu gerakan refleks, keterampilan gerakan dasar,
kemampuan konseptual, keharmonisan, atau ketetapan, gerakan
ekspresif dan interpretatif.
Ketiga ranah diatas menjadi objek penilaian hasil belajar. Diantara
ketiga ranah itu, ranah kognitif yang paling banyak dinilai oleh
guru di sekolah karena berkaitan dengan kemampuan siswa dalam
menguasai isi bahan pengajaran.

[1]Hamalik, Oemar. Proses Belajar Mengajar. (Jakarta: Bumi Aksara. 2012). Hal 28.

[2]Slameto. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. (Jakarta: Rineka


Cipta. 2010). Hal 2.
[3]Sardiman, A.M. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. (Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada. 2012). Hal 21.
[4]Thobroni, Muhammad, dan Arif Mustofa. Belajar dan Pembelajaran.
(Yogyakarta: Ar-ruzz Media, 2012). Hal,21.

[5]Hamdani, M.A. Strategi Belajar Mengajar.(Bandung: CV Pustaka Setia,2011).Hal


71.

[6]Hamalik, Oemar. Proses Belajar Mengajar. (Jakarta: Bumi Aksara.2012). Hal 30.
psikologi perkembangan mencakup seluruh periode perkembangan manusia,
mulai dari masa konsepsi sampai akhir hayat. Masa konsepsi adalah masa
mulai bertemunya sel telur dengan sperma. Masa konsepsi ini dipandang
sebagai awal perkembangan sebab pada masa ini sudah teramati adanya
perubahan sebagai pertanda mulai adanya perkembangan bagi kehidupan baru
terutama secara biologis (Papalia & Olds, 1995).

Jika perkembangan terjadi sejak masa konsepsi sampai akhir hayat, maka
perkembangan anak usia SD merupakan bagian dari perkembangan itu sendiri.
Oleh sebab itu, psikologi perkembangan dijadikan dasar untuk memahami
perkembangan anak usia SD, yakni anak yang usianya erkisar antara 5 atau
6 sampai 12 atau 13 tahun. Menurut Faw dan Belkin (1989 : 351) dan Papalia
dan Olds (1995 : 271) anak usia ini berada pada masa anak (childhoog),
sedangkan Erikson (Syamsudin, 2000 : 84) menyebut anak usia ini sebagai
usia sekolah, dalam hal ini sekolah dasar.

Secara psiko-fisik anak usia TK berbeda dari anak usia SD. Demikian pula
anak usia SD berbeda dari anak usia SLTP (masa remaja). Implikasinya
adalah bahwa pendidikan anak usia TK mesti memahami karakteristik
perkembangan psiko-fisik anak usia TK, dan begitu seterusnya. Karena
karakteristik perkembangan berbagai aspek psiko-fisik anak dipelajari
oleh psikologi perkembangan, maka psikologi perkembangan merupakan pisau
analisis untuk memahami perkembangan anak usia SD, maka dipandang perlu
membahas telebih dahulu pengertian psikologi, psikologi perkembangan,
faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan, aspek-aspek perkembangan
anak usia SD, dan manfaat psikologi perkembangan bagi pendidik, terutama
pendidik anak usia SD.
Empat istilah konsep perkembangan yakni, pertumbuhan (growth),kematangan
(maturtion), belajar (learning), dan Latihan (exercise). Secara
konseptual empat istialah ini mempunyai persamaan dan perbedaan,
persamaannya adalah : pada keempat istilah tersebut terjadi perubahan
(changes) sedangkan letak perbedaannya terdapat pada perubahan pada
pertumbuhan yang bersifat kuatitatif, sedangkan pada kematangan, belajar,
dan latihan lebih bersifat kualitatif. Perubahan pada pertumbuhan dan
kematangan lebih bersifat alamiah sedangkan perubahan pada belajar dan
latihan lebih bersifat disengaja dan bertujuan.
Perubahan-perubahan yang terjadi baik sebagai pertumbuhan, kematangan,
belajar, maupun latihan itulah yang disebut: perkembangan (development).
Perubahan ini dapat terjadi pada setiap periode perkembangan sepanjang
organisme hidup. Oleh karena itu perkembangan dapat didefinisikan sebagai
perubahan sepanjang waktu (vhange over time) baik sebagai pertumbuhan,
kematangan, belajar, maupun dbg hasil latihan. Dengan demikian psikologi
perkembangan dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari perubahan
perilaku organism sepanjang hayat.

FAKOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN


Ada tiga pandangan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan .
Pandangan pertama, yang muncul sejak lama, bahkan sejak Plato (427-347
SM), berkeyakinan bahwa faktor penentu perkembangan organism adalah
faktor nature (faktor yang bersifat alami). Pandangan kedua berkeyakinan
bahwa faktor penentu perkembangan organisme adalah faktor nurture (faktor
yang berasal dari lingkungan).
Aliran yang pandangannya didasarkan kpd prinsip-prinsip nurture
disebutaliran empirisme, aliran ketiga yang menganggap kedua faktor
tersebut penting adalah aliran konvergensi. Pembahasan ketiga aliran
tersebut sebagai berikut :
1. Aliran Nativisme
Tokoh lairan ini adalah Schoupenhower dari Jerman. Asal kata adalah
nativus yang berarti pembawaan. Jadi nativisme adalah paham tentang
pembawaan. Aliran ini berpendapat bahwa perkembangan organisme
semata-mata ditentukan oleh suatu yang bersifat innate, yakni sesuatu
yang telah ada sejak lahir bukan karena pengalaman (experiences).
Organisme sudah berbentuk sejak masa konsepsi (preformed) bukan karena
hasil bentukan lingkungan. Pendidikan sebagai upaya lingkungan hanya
menarik potensi keluar, tetapi tidak ada sesuatu yang baru ditambahkan
oleh pendidikan, perkembangan dianggap sebagai proses penambahan secara
kuatitatif (Marat dan Siregar, 1992).
2. Aliran Empirisme
Tokoh aliran ini adalah Jhon Locke dari Inggri. Ia terkenal dengan
teorinya yang disebut “teori tabula rasa”. Ia berpendapat bahwa anak
yang baru lahir bagaikan tabula rasa, yakni meja lilin yang putih dan
bersih serta belum tergoreskan apapun. Meja lilin ini dapat dibentuk apa
saja, tergantung pelukisnya. Sedangkan pelukis yang dimaksud adalah
lingkungan karena ada di luar diri anak. Artinya aliran ini menganggap
bahwa perkembangan anak ditentukan oleh lingkungan.
Aliran ini memandang penting pengalaman, lingkungan yang efektif,
pembelajaran, sosialisasi, pendidikan, dan akulturasi. Sedangkan faktor
genetik yang dibawa sejak masa konsepsi, instink, dan kematangan dianggap
tidak berfungsi dalam perkembangan organisme. Perkembangan organisme
semata-mata ditentukan oleh lingkungan.
3. Aliran Konvergensi
Tokoh aliran ini adalah William Stern dari Jerman. Aliran ini meyakini
bahwa faktor nature maupun faktor nurture sama pentingnya bagi
perkembangan organisme. Potensi sebagai salah satu bentuk nuture unggul
tanpa fasilitator lingkungan sulit diaktualisasikan atau bahkan tidak
akan teraktualsasikan.
4. Pandangan Para Ahli Kontemporer.
5. Sejak tahun 1980an sampai sekarang pandangan aliran konvergensi
umumnya banyak diterima oleh masyarakat. Ini bisa terjadi karena memang
pandangan aliran konvergensi dinilai cukup bijak dalam menanggapi
pertentangan paham aliran nativisme dan empirisme.

TUGAS PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK SD


A. Konsep dan Sumber Tugas Perkembangan
Tugas perkembangan adalah tugas yang muncul dan harus diselesaikan
individu pada periode perkembangan tertentu. Pada masa bayi ada tugas
perkembangan bayi, pada masa kanak-kanak ada tugas perkembangan
kanak-kanak, pada masa anak sekolah ada tugas perkembangan anak sekolah,
dan seterusnya. Keberhasilan menyelesaikan tugas perkembangan periode
tertentu akan menjadi dasar.
B. Tugas Perkembangan Peserta Didik SD
1) Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permaianan
2) Belajar membentksikap yang sehat terhadap dirinya sendiri
3) Belajar bergaul dengan teman sebaya
4) Belajar melakukan teman sosual sebagai laki-laki atau peempuan
5) Belajar menguasai keterampilan intelektual dasar seperti membaca,
menulis, dan berhitung
6) Mengembangkan konsep-konsep yang diperlukan dalam kehidupan
sehari-hari
7) Mengembangkan kata hati
8) Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi
9) Mengembangkan sikap yang positif terhadap kelompok sosial dan
lembaga-lembaga
C. Manfaat Psikologi Perkembangan bagi Pendidik
Bagi pendidik, mempelajari psikologi perkembangan bukan saja mengasikan
karena dapat memperoleh informasi baru tentang karakteristik
perkembangan anak, tetai yang paling penting adalah bagaimana pemahaman
psikologi perkembangan pendidik aemakin arif dalam menyelenggarakan
pembelajaran. Artinya, ketika guru mau membelajarkan peserta didik maka
ia senantiasa mempertimbangkan sisi perkembangan peserta didik. Ini perlu
diperhatikan karena pada prinsipnya, pendidikan yang baik adalah yang
sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Salah satu landasan untuk melihat
kebutuhan peserta didik adalah dengan cara memahami tingkat perkembangan
kognitif, motorik, kemandirian, dan aspek-aspek perkembangan lainnya.
Dengan mempelajari psikologi perkembangan, pendidik dapat memahami
proses dinamika perkembangan psiko-fisik peserta didik. Pemahaman atas
dinamika perkembangan ini dapat menjadi dasar untuk memfasilitasi
perkembangan anak secara tepat sehingga mereka berkembang optimal. Bahkan
melalui pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan peserta
didik, mereka dimungkinkan menjadi peserta didik yang overachiever, yakni
peserta didik yang prestasi belajar melebihi yang dipredisikan. Misalnya
anak yang IQ 100 menurut ukuran Advance Progresive memperoleh nilai
rata-rata 9 pada skala 1 - 10
BBM – 3

DEFINISI, TEORI, DAN CIRI BELAJAR PESERTA DIDIK SD

DEFINISI BELAJAR
1. Beberapa Pendapat Ahli tentang Definisi Belajar
Belajar merupakan kegiatan paling pokok dalam mencapai perkembangan
individu dan mempermudah pencapaian tujuan intitusional suatu lembaga
pendidikan. Hal ini berarti berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan
pendidikan itu sangat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa
termasuk di lingkungan formalterkecil seperti ruang kelas di sekolah.
Berkaitan dengan pendefinisian belajar, dikalangan ahl psikologi
terdapat keragaman baik dalam cara menjelaskan maupun mendefinisikannya.
Berikut beberapa pendapat para ahli tersebut.
Witherington (1950) mengemukakan belajar sebagai sebuah perubahan
kepribadian yang dimanifestasikan kepada suatu pola respon individu yang
mungkin beupa keterampilan sikap, atau peningkatan pemahaman atas sesuatu.
Cronbach (1954) mengatakan belajar merupakan perubahan tingkah laku
sebagai hasil dari pengalaman.
Crow dan Crow (1958) merumuskan pengertian belajar sebagai perolehan
kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, dan sikap.
Skinner (1968) mengatakan belajar ialah proses adaptasi tingkah laku
sedara progresif.
Hilgard dan Bower (1975) mengemukakan belajar berhubungan dengan
perubahan tingkah laku seseorang terhadap suatu situasi tertentu yang
disebabkan oleh pengalamannyayg berulang-ulang dalam situasi itu;
perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atas dasar
kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan sesaatseseorang
(misalnya kelelhan, pengaruh obat, dan sebagainya).
Gagne (1977) menyatakan bahwa belajar terjadi apabla suatu stimulus
bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga
perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalammi situasi itu ke waktu
sesudah iamengalami situasi tadi.
Dari penegertian diatas maka belajar mengandung makna sebagai hasil,
proses, atau fungsi. Dengan begitu belajar adalah: kegiatan seseorang
untuk mendapatkan penegetahuan baru atau keterampilan, dan belajar dapat
melibatkan kegiatan pengiasaan informasi baru atau keterampilan,
berbagai sikap baru, pengertian, atau nilai. Belajar biasanya disertai
perubahan perilaku yang terjadi dalam dan sepanjang kehidupan.
2. Belajar dan perubahan
Dalam kegiatan ini dikemukakan mengenai hubungan timbal balik antara
belajar dengan pertumbuhan, perkembangan, dan kematangan; antara belajar
dan menghafal; antara belajar dan latihan; antara belajar dan studi; serta
belajar dan berfikir.
a) Belajar, pertumbuhan, perkembangan, dan keamatangan
Pertumbuhan (growth), perkembangan (development) dan kematangan
(maturation) ketiganya menunjukan adanya perubahan yang progresif dalam
diri individu. Hal ini merupakan persamaan antara ketiga pengertian di
atas dengan pengertian belajar. Jadi baik belajar, pertumbuhan,
perkembangan maupun kematangan, semuanya ditandai dengan adanya
perubahan dalam diri yang bersifat progresif, sedangkan perbedaannya
terletak dalam sifat, bentuk, dan jenis perubahannya.
Pertumbuahn merupakan perubahan dalam bentuk terstruktur terutam
mencakup aspek jasmaniah dan bersifat pertambahan atau
perubahankuantitatif.
Perkembangan adalah perubahan atau pertambahan dalam fungsi dan
aspek-aspek psikis serta bersifat kuantitatif. Yang termasuk
perkembangan misalnya perubahan kemampuan berbicara, penggunaan bilangan,
kemampuan sosial, dan sebagainya.
Kematangan adalah suatu fase yang merupakan kulminasi pertumbuhan atau
perkembangan dimana aspek-aspek jasmani maupun mental sudah berfungsi
sebagaimana mestinya. Dari bebrapa penyelidikan yang telah dilakukan oleh
para ahli terbukti bahwa perbuatan belajar senantiasa bergantung pada
tingkat pertumbuhan, baik fisik maupun mental. Oleh karena itu, proses
belajar yang efesien hendaknya meperhatikan aspek-aspek pertumbuahan,
perkembangan, dan keamatangan belajar.
b) Belajar dan menghapal
Banyak yang beranggapan bahwa hasil perbuatan belajar siswa akan nampak
dalam kemampuan menghafal materi-materi yang dipelajarinya. Misalnya,
seorang guru yang beranggapan demikian akan merasa puas jika siswa di
kelasnya sudah mampu untuk menghafal fakta-fakta di luar kepala.
Menghapal merupakan sebagian dari kegiatan belajar secara keseluruhan.
Hapal di luar kepala belum berarti memahami dan juga belum tentu
menunjukan perubahan tingkah lakunya terbatas pada aspek-aspek tertentu
saja. Menghapal erat sekali hubungannya dengan proses mengingat yaitu
proses menerima, menyimpan, dan memproduksikan kembali
tanggapan-tanggapan yang telah diperolehnya melalui pengamatan antara
lain dengan perbuatan belajar. Dalam menghafal, aspek perubahannya
terbatas dalam kemampuan menyimpan dan memproduksikan
tanggapan-tanggapan, sedangkan dalam belajar perubahan itu tidak saja
kemampuan-kemampuan tersebut, akan tetapi meliputi perubahan aspek-aspek
tingkah laku lainnya secara keseluruhan. Siswa yang hafal di luar kepala
tentang sesuatu, belum tentu memiliki pengertian, pemahaman,
keterampilan sikap maupun kecakapan sikap ataupu kecakapan dari materi
yang dihafalkannya.
c) Belajar dan latihan
Baik belajar maupun latihan masing-masing menunjukan adanya perubahan
sebagai hasilnya, akan tetapi belajar meliputi seluruh perubahan tingkah
laku, maka latihan perubahannya adalah dalam aspek skill atau
keterampilan. Hasiil latihan akan tampak dalam keterampilan-keterampilan
psikomotor tertentu misalnya menari, olahraga, mengetik, main piano, dan
sebagainya.
Belajar akan berhasil dengan baik jika disertai dengan usaha latihan
secara aktif, dan sebaliknya kegiatan latihan hendaknya dilakukan dalam
rangka belajar. Atau dengan kata lain, latihan dilakukan dalam situasi
belajar akan lebih berhasil daripada latihan melulu.
d) Belajar dan studi
Studi tertuju untuk memperoleh perubahan dalam aspek pengetahuan
(knowledge) dan pemahaman (understanding). Jadi dengan kegiatan studi,
seseorang akan memperoleh perubahan dalam aspek pengetahuannya. Croww &
Crow (1985) mengarikan studi sebagai suatu program yang berencana untuk
dapat menguasai materi-materi pelajaran tertentu. Studi, sangat penting
dalam belajar dan terutama dalam kehidupan sekolah. Jelas sekali belajar
lebih luas daripada studi. Belajar mencakup perubahan keseluruhan tingkah
laku, sedangkan studi terbatas pada aspek perubahan pengetahuan dan
pemahaman.
e) Belajar dan berpikir
Berpikir dapat diartikan sebagai suatu proses memanipulasikan
tanggapan-tanggapan yang telah ada dalam diri individu untuk menghadapi
dan memecahkan masalah-masalah baru. Jika individu dihadapkan pada suatu
situasi pemecahan masalah, maka ia akan menggunakan tanggapan-tanggapan
yang telah ada dalam dirinya, baik yang berupa pengertian, hukum,
generalisasi, maupun fakta-fakta untuk menghadapi dan memecahkan masalah.
Berpikir dapat berlangsung dengan sengaja dan dapat pula berlangsung
dengan tidak sengaja.
Apa hubungan belajar dengan berpikir? Belajar dan berpikir senantiasa
saling melengkapi. Proses berpikir akan banyak bergantung pada hasil
belajar yang telah diperoleh sebelumnya.
3. Belajar dan keterampilan hidup
Melaui prefektif yang lebih luas tujuan pembelajaran (pendidikan) bukan
hanya sekedar mencari angka atas nilai tertinggi sebagai indikator
kualitas hasil belajar. Namun labih jauh pembelajaran atau belajar itu
sendiri harus menumbuhkembangkan aspek-aspek lainnya pada diri siswanya
termasuk para pendidiknya.
Ada lima hal utama dalam kegiatan belajar
a) Learning to know
Penguasaan materi dalam bentuk pengetahuna merupakan tahapan paling
penting, sebagaimana di kemukakan Benjamin Bloom dengan taksonomi
perilaku kognitifnya, yaitu : pengetahuan, pemahaman, aplikasi, sintesa,
analisa, dan evaluasi.
b) Learning to do
Konsep belajar ini bukan hanya siswa mengetahui, dan memahami tetapi siswa
sampai bisa melakukan sesuatu.
c) Learning to be
Kemampuan seseorang merupakan modal untuk menjadi dirinya sendiri, Maslow
sering mengistilahkan dengan sebuatan aktualisasikan diri. Untuk itu
proses pembelajaran hendaknya dilakukan agar membantu dan membentuk
seseorang menjadi dirinya sendiri.
d) Learning to life togethe
e) Keberhasilan pembelajaran pada dasarnya ditandai dengan kebermaknaan
kehidupan pada masa yang akan datang. Maka hidup tidak hanya bagi dirinya
sendiri, tetapi dari lingkungan.
f) Learning to learn
Proses belajar dimaknai sebagai sesuatu yang akan terhenti bila antara
jiwa dan raga terpisah.
A. TEORI-TEORI BELAJAR
1) Beberapa teori pokok belajar
a. Koneksionisme
Teori koneksionisme adalah teori yang ditemukan dan dikembangkan oleh
Edwar L. Thorndike (1874-1949), berdasarkan eksperimen yang ia lakukan
pada tahun 1890-an dengan kesimpulan bahwa belajar adalah antara stimulus
dan respon
b. Pembiasaan klasik
Teori pembiasaan klasik berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan oleh
Ivan Pavlop (1849-1936), menyebutkan sebuah prosedur penciptaan refleks
baru dengan caramendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks
tersebut.
c. Pembiasaan Perilaku respon
Teori pembiasaan perilaku respon ini merupakan teori belajar berusia
paling muda dan berpengaruh, penciptanya yang bernama Burrhuss Frederic
Skinner (lahir tahun 1904). Selanjutnya proses belajar dalam teori ini,
jika timbul tingkah laku operant diiringi dengan stimulus penguat, maka
kekuatan tingkah laku tersebut akan meningkat.
d. Teori pendekatan kognitif
Teori psikologi kognitif adalah bagian terpenting dari sains kognitif
yang telah memberi kontribusi yang sangat berarti dalam perkembangan
psikologi pendidikan.
2) Klasifikasi teori belajar
a. Teori-teori belajar mekanistik
Pandangan mekanistik didasarkan atas cara kerja “mesin” sebagai
perbandingan bagi kegiatan belajar. Berdasarkan presfektif ini,
peristiwa-peristiwa pembelajaran yang beragam dapat dirinci menjadi
interaksi antara komponen yang dapat diprediksi dan diukur.
b. Teori-teori belajar organik
Penggolongan teori belajar yang lain melibatkan metafora yang
menggambarkan bahwa dunai dipandang sebagai organisme yang berkembang
secara dinamis dan saling berhubungan.
3) Proses dan Fase belajar
a. Definisi proses belajar
Proses adalah kata ug berasal dari bahasa latin “processus” yang berarti
berjalan ke depan, atau proses adalah suatu perubahan yang menyangkut
tingkah laku atau kejiwaan.
b. Fase-fase dalam proses belajar
Menurut Jerome S. Burner (Barlow, 1985) menyebutkanproses belajar siswa
menempuh tiga episode atau fase diantaranya:
1) Fase informasi (tahap peerimaan materi)
2) Fase tranformasi (tahapan pengubahan materi)
3) Fase evaluasi (tahapan penilaian materi)
4) Teori belahan otak dan proses belajar.
Otak memiliki implikasi terhadap belajar. Otak adalah bagian dari tubuh
manusia, yang mempunyai hubungan dengan proses kimia lm badan dan emosi,
berpengaruh terhadap belajar. Otak dapat tumbuh terus menerus sepanjang
hidup dan merupak organ aktif dan kontrukstif, serta menyimpan fungsi dan
kekuatan untuk belajar, walaupun sifatnya unik seperti keunikan manusia
sendiri.
CIRI-CIRI BELAJAR
Setiap perilaku belajar selalu ditandai oleh ciri-ciri perubahan spesifik.
Berikut ini perubahan khas yang menjadi karakteristik perilaku belajar.
1. Perubahan intensional
Proese ini terjadi berkat adanya pengalaman atau praktek yang dilakukan
dengan sengaja atau disarai, atau dengan kata lain bukannya kebetulan.
2. Perubahan positif dan aktif
Positif artinya baik, bermanfaat, serta sesuai dengan harapan. Hal ini
jga bermakna bahwa perubahan tersebut senantiasa merupakan tambahan, yang
diperoleh sesuatu yang baru yang lebih baik dari pada sebelumnya.
3. Perubahan efektif dan fungsional
Yang mempunyai arti perubahan yang membawa pengaruh, terhadap makna,
manfaat tertenu bagi siswa. Selain itu perubahan dalam proses belajar
bersifat fungsional dalam arti bahwa ia relatif menetap dan setiap saat
apabila dibutuhkan, perubahan tersebut dapat dirreproduksi dan
dimanfaatka.
BBM 4
WUJUD, JENIS, DAN FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI BELAJAR

WUJUD BELAJAR
1. Perwujudan perilaku belajar
a. Kebiasaan
Setiap siswa yang telah mengalami proses belajar, kebisaan-kebiasaannya
akan tampak, berubah. Menurut Bughard (1973), kebiasaan itu timbul karena
proses penyusutan kecenderungan respons dengan menhhunakn stimulis yang
berulang-ulang. Dalam proses belajar, pembiasaan, juga meliputi
pengurangan perilaku yang tidak diperlukan. Karena proses
penyusutan/pengurangan inilah, muncul suatu pola tingkah lakuyg relatif
menetap dan otomatis.
b. Keterampilan
Keterampilan ialah kegiatan yang berhubungan dengan urat-urat syarf dan
oto-otot, yang lazim tampak dalam kegiatan jasmaniah seperti menulis,
mengetik, olahraga, dan sebagainya. Meskipun sifatnya motorik, namun
keterampilan memmerlukan koordinasi yang teliti dan kesadaran yang lebih
tinggi.
c. Pengamatan
Pengamatan artinya proses menerima, manafsirkan, dan memberi arti
rangsangan yang melalui indera seperti mata, telinga. Berkat pengalaman
belajar siswa akan mencapai pengamatan yang benar-benar objektif sebelum
mencapai pengertian. Pengamatan salah kaan mengakibatkan timbulnya salah
pula.
d. Berpikir asosiatif dan daya ingat
Secara sederhana, berpikir asosiatif adalah berpikir dengan cara
mengasosiasikan sesuatu yang lainnya. Berpikir asosiatif merupakn proses
pembentukanhub antara rangsangan dan respon. Dalam hal ini perlu dicatat
bahwa kemampuan siswa untuk melakukan hubungan asosiatif yang benar amat
dipengaruhi oleh tingkat pengertian atau pengetahuan yang diperoleh hasil
belajar.
e. Berpikir rasional dan kritis
Berpikir rasional dan kritis adalah perwujudan perilaku belajar terutama
yang bertalian dengan pemecahan masalah. Pada umumnya siswa yang berpikir
rasional akan menggunakan prinsip dan dasar-dasar pengertian dalam
menjawab pertanyaan “bagaimana”, mengapa, akibat, menganalisis,
menarik kesimpulan-kesimpulan, dan bahkan juga menciptakan hukum dan
ramalan-ramalan.
f. Sikap
Dalam arti yang sempit sikap adalah pandangan atau kecenderungan mental.
Menurut Bruno (1987), adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk
bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu.
g. Inhibisi
Secara ringkas, inhibisi adalah pengurangan atau pencegahan timbulnya
suatu respon tertentu karena adanya proses respon lain yang sedang
berlangsung.
h. Apresiasi
Berarti suatu pertimbangan mengenai arti penting atau nilai sesuatu
(Chaplin, 1982), dalam penerapanya spresiasi sering diartikan sebagai
penghargaanatau penilaian.
i. Tingkah laku afektif
Adalah tingkah laku yang menyangkut keanekaragaman perasaan seperti taku,
marah, sedih, kecewa, senang, benci, was-was, dan sebagainya. Tungkah
laku seperti ini tidak terlepas dari pengaruh pengalaman belajar.
2. Makna dan manifestasi perbuatan belajar
a. Belajar merupakan perubahan fungsional, paham ini berpendirian jiwa
manusia terdiri dari atas sejumlah fungsi yang memilki daya atau kemampuan
tertentu misalnya: daya ingat, daya berpikir, dan sebagainya.
b. Belajar merupakan kekaayaan materi pengetahuan, pada saat kelahirannya
jiwa manusia laksana tabula rasa (bersih tanpa noda), oleh karena proses
belajar dapat diartikan sebagai suatu proses pengisian jiwa dengan
pengetahuan dan pengalaman sebanyak mungkin.
c. Belajar merupakan perubahan tingkah laku secara keseluruhan, artinya
belajar bukan hanya bersifat mekanis dalam kaitan stimulus, melainkan
perilaku organisme sebagai totalitas yang bertujuan.
3. Unsur-unsur dinamis dalam prose belajar, ada lima hal:
a. Motivasi siswa
Motivasi adalah dorongan yang menyebabkan terjadinya suatu perbuatan atau
tindakan tertentu. Perbuatan belajar terjadi adanya motivasi yang
mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan belajar.
b. Bahan belajar
Merupakan suatu unsur belajar yang penting, dengan adanya bahan belajar,
siswa dapat mempelajari hal-hal yang diperlukan dalam uipaya mencapai
tujuan yang hendak dicapaiu, dalam hal ini adalah hasil-hasil yang
diharapkan, misalnya berupa pengetahua, keterampilan, sikap dan
pengalaman lainnya.
c. Alat bantu belajar
Merupakan alat yang dapat digunakan untuk membantu siswa melakukan
perbuatan belajar, sehingga kegiatan belajar menjadi lebih efesien dan
efektif. Dengan bantuan berbagai, alat pelajaran akan lebih menarik,
menjadi konkrit, mudah dipahami, hemat waktu, dan tenaga, dan hasil
belajarnya lebih bermakna.
d. Suasana belajar
Artinya bagi kegiatan belajar, suasana yang menyenangkan dapat menumbuh
kegairahan belajar, sedangkan suasana yang kacau, ramai, tidak tenang,
dan banyak gangguan, sudah tentu tidak menunjang kegiatan belajar yang
efektif.
e. Kondisi subjek belajar
Belajar turut menentukan kegiatan dan keberhasilan belajar. Siswa dapat
belajar secara efesien dan efektif apabila berbadan sehat, memiliki
intergritas yang memadai, siap untuk melakukan kegiatan belajar, memiliki
bakat khusus, dengan pengalaman yang bertalian dengan pelajaran serta
memiliki minat untuk belajar.
JENIS-JENIS BELAJAR
1. Ragam Pendekatan Belajar
a. Pendekatan hukum Jost
Menuut Reber (1988), yang mendasari hukumnya adalah siswa lebih sering
mempraktekan materi pelajaran akan lebih mudah memanggil kembali memori
lama yang berhubungan dengan materi yang sedang ditekuni.
b. Pendekatan Ballard dan Clanchy
Menurutnya, pendekatan belajar siswa pada umumnya dipengaruhi oleh sikap
terhadap ilmu pengetahuan. Ada dua macam siswa dalam menyikapi ilmu
penegetahuan yaitu: 1). Sikap melestarikan apa yang sudah ada, dan 2).
Sikap memperluas.
c. Pendekatan Biggs
Menurut hasil penelitian Biggs (1990), pembelajaran siswa dapat
dikelompokan ke dalam tipe-tipe (bentuk dasar)
1) Pendekatan surface (permukaan/bersifat lahiriah)
2) Pendekatan deef (mendalam)
3) Pendekatan achieving (pencapaian prestasi)
2. Ragam Pendekatan Belajar
Klasifikasi kegiatan belajar menurut Gagne (1970) mebagi menjadi delapan
tipe diantaranya:
a. Kegiatan belajar mengenal tanda-anda (signal learning)
Didasarkan atas situasi bersyarat yang dikemukakan oleh Ivan Pavlov bahwa
belajar dilakukan dengan merespn tanda-tanda atau simbolsimbol yang
dimanipulasi dalam situasi pembelajaran.
b. Kegiatan belajar stimulus respon
Krg belajar ini berhubungan dengan erilaku peserta didik yang secara sadar
melakukan respon yang tepat terhadap stimulus yang dimanipulasi.
c. Kegiatan belajar malalui rangkaian
Tipe dilakukan peserta didik dengan menyusus hubungan antara dua stimulus
atau lebih dengan berbagai respon yang berkaitan dengan stimulus tersebut.
d. Kegiatan belajar asosiasi lisan
Tipe kegiatan belajar ini berkaitan dengan upaya peserta didik dalam
menghubungkan respon lisan terhadap stimulus yang disampaikan secara
lisan.
e. Kegiatan belajar dengan perbedaan berganda
Kegiatan belajar ini berhubungan dengan kegiatan peserta didik dalam
membuat berbagai respon yang digunakan terhadap stimulus yang beragam.
f. Kegiatan belajar konsep
Tipe kegiatan belajar berkaitan dengan berbagai respon dalam waktu yang
bersamaan terhadap sejumlah stimulus yang berupa konsep-konsep yang
berbeda.
g. Kegiatan belajar prinsip-prinsip
Tipe kegiatan belajar digunakan peserta didik untuk menghubungkan
beberapa prinsip yang digunakan untuk merespon stimulus.
h. Kegiatan belajar belajar pemecahan masalah
Tipe kegiatan belajar ini berkaitan dengan kegiatan peserta didik dalam
menghadapi dan memecahkan masalah sehingga pada akhirnya peserta didik
memiliki kecakapan dan keterampilan baru dalam pemecahan masalah.
3. Ragam Jenis Belajar
Keanekaragamana jenis belajar muncul dalam dunia pendidikan sejalan
dengan kebutuhan manusia yang bermacam-macam juga.
a. Belajar abstrak
Ialah belajar memggunakan cara berpikir abstrak dengan tujuan memperoleh
pemahaman dan pemecahan masalah-masalah yang tidak nyata.
b. Belajar keterampilan
Adalah belajar dengan menggunakan gerakan-gerakan motorik yakni yang
berhubungan dengan urat-urat syaraf dan otot-otot.
c. Belajar sosial
Adalah belajar memahami masalah-masalah dan teknik-teknik untuk
memecahkan masalah tersebut. Tujuan untuk menguasai pemahaman dan
kecakapan dalam memecahkan masalah-masalah sosial seperti masalah
keluarga, masalah persahabatan, masalah kelompok dan masalah-masalah
lainnya.
d. Belajar pemecahan masalah
Pada dasarnya adalah menggunakan metoda-metoda ilmiah atau berpikir
secara sistematis.
e. Belajar rasional
Adalah dengan menggunakan keterampilan berpikir secara logis dan rasional
(sesuai dengan akal sehat). Tujuananya adalah untuk memperoleh aneka
ragam kecakapan menggunakan prinsip-prnsip dan konsep-konsep.
f. Belajar kebiasaan
Proses pembentukan kebiasaan-kebiasaan atau perbaikan
kebiasaan-kebiasaan yang telah ada.
g. Belajar apresiasi
Adalah mempertimbangkan arti penting atau nilai suatu objek. Tujuannya
adalah agar siswa memperoleh dan mengembangkan kecakapan ranah rasa.
h. Belajar pengetahuan
Adalah belajar dengan melakukan penyelidikan mendalam terhadap objek
pengetahuan tertentu. Tujuanannya adalah agar siswa memperoleh atau
menambah informasi dan pemahaman terhadap pengetahuan tertentu.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BELAJAR.
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
a. Faktor internal
Faktor yang berasal dari dalam siswa sendiri meliputi dua aspek yakni:
1). Aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah), dan 2). Aspek psikologis
(yang bersifat rohaniah).
1) Aspek Fisiologis
Kondisi umum jasmani dan tonus yang menandai tingkat kebugaran
organ-organ tubuh dapat mempengaruhi semangat dan intesitas siswa dalam
mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah dapat menurunkan
kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinya kurang,
sehingga dibutuhkan tonus agar tetap bugar, oleh karena itu siswa
dianjurkan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi serta
berolahraga ringan yang terjadwal secara tetap dan berkesinambungan.
2) Aspek Psikologis
Banyak faktor yang termasuk psikologis yang dapat mempengaruhi kualitas
dan kuantitas perolehan pembelajaran siswa. Namun faktor rohaniah siswa
yang pada umumnya dipandang penting itu adalah sebagai berikut: 1).
Tingkat kecerdasan, 2). Sikap siswa, 3). Bakat siswa dan 4). Minat siswa
serta 5). Motivasi siswa.
Intelegensi siswa
Dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan
atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat, ini
berarti semakin tinggi kemampuan intelegensi siswa maka semakin besar
peluangnya untuk meraih sukses.
Sikap siswa
Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif. Sikap siswa yang
positif, terutama untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya sikap
negatif siswa, untuk itu guru dituntut untuk lebih dahulu menampilkan
sikap positif dihadapan siswa-siswanya.
Bakat siswa
Bakat secara langsung atau tidak memiliki pengaruh yang cukup besar
terhadap proses belajar. Oleh karenanya hal yang tidak bijaksana apabila
orang tua memaksakan kehendaknya untuk menyekolahkan anaknya pada jurusan
keahlian tertentu tanpa mengetahui dengan persis bakat yang dimilki
anaknya.
b. Faktor eksternal
1) Lingkungan sosial
Lingkungan sosial yang paling berpengaruh terhadap kegiatan belajar siswa
adalah orang tua siswa.
2) Lingkungan non-sosial
Faktor yang termasuk non-sosial adalah gedung sekolah dan letaknya, rumah
tinggal siswa, alat-alat belajar, keadaan waktu dan cuaca belajar.
c. Faktor pendekatan belajar
Suatu cara atau strategi yang digunakan siswa dalam menunjang afektivitas
dan afesiensi proses pembelajaran materi tertentu.
2. Mencegah kesulitan Belajar Siswa
Dalam menanggulangi hal seperti ini dibutuhkan beberapa langkah yang
hendaknya dilakukan oleh pendidik/guru diantaranya sebagai berikut :
a. Pemahaman karakteristik siswa
Pemahaman yang mendalam mengenai pribadi siswa baik berkenaan dengan
kapasiatas belajarnya, serta aspek pribadi lainnya seperti kecerdasan,
sikap, kebiasaan belajar, motivasi belajar, pencapaian tugas-tugas
perkembangan, dan prestasi serta kegagalan yang pernah diraihnya.
b. Pemahaman karakteristik
Memahami diri sendiri diakui sebagai aktivitas yang menyulitkan.
c. Pemahaman karakteristik
Memeahami serta menyelaraskan antara materi dan strategi yang kita
kembangkan dengan harapan orang tua dan pendidikan itu sendiri.
d. Komunikasi orang tua
Komunikasi dengan orang tua bisa dijadikan alat yang tepat untuk
menyampaikan informasi tentang potensi dan karakteristik siswa.
3. Masalah lupa belajar
Dulu banyak orang berpendapat bahwa lupa itu terutama disebabkan oleh
lamanya waktu antara terjadinya pengalaman dengan terjadinya proses
ingatan.
4. Cara-cara belajar yang baik
Dr. Rudolf Pintner mengemukakan seppuluh macam model dalam belajar
diantaranya sebagai berikut :
a. Metode keseluruhan kepada bagian
b. Metode keseluruhan lawan bagian
c. Metode campuran antara keseluruhan dan bagian
d. Metode resitasi
e. Jangka waktu belajar
f. Pembagian waktu belajar
g. Membatasi kelupaan
h. Menghafal
i. Kecepatan belajar dalam hubungannya dengan ingatan
j. Retrosctive inhibition
Sedangkan menurut Crow and Crow persiapan belajar yang baik itu sebagai
berikut :
a. Adanya tugas-tugas yang jelas dan tegas
b. Belajar membaca dengan baik
c. Gerakan metodwe keseluruhan dan metode bagian di mana diperlukan
d. Pelajari dan kuasailah bagian-bagian yang sukar dari bahan yang
dipelajari
e. Buatlah outline dengan catatan-catatan belajar pada tepat waktu
f. Kerjakan atau jawablah pertanyaan-pertanyaan
g. Hubungkan bahan-bahan baru dengan bahan lama
h. Gunakan bermacam-macam sumber dalam belajar
i. Pelajari baik-baik tabel, grafik, gambar, dan sebagainya.
j. Buatlah rangkuman
5. Kiat belajar dengan metode SQ3R
ADALAH SUATU METODE YANG DIKEMBANGKAN OLEH Francis P. Robinsson di
Universitas Negeri Ohio amerika Serikat. Metode ini bersifat praktek dan
dapat diaplikasikan dalam berbagai bentuk belajar, terutama untuk
mempelajari tek, artikel, buku dan sebagainya.
a. Survey, memeriksa atau meneliti atau juga mengidentifikasi seluruh
teks.
b. Question, menyususn daftar pertanyaan yang relevan dengan teks
c. Read, membaca teks secara aktif untuk mencari jawaban atas pertanyaan-
pertanyaan y telah disusun
d. Recite, menghafal setiap jawaban yang telah ditemukan
e. Review, meninjau ulang seluruh jawaban atas pertanyaan yang tersusun
pada langkah kedua dan ketiga.
BBM 5
MEMAHAMI KONFLIK, STRESS DAN TRAUMA
SERTA UPAYA PENANGANANNYA
DI SEKOLAH DASAR

MEMAHAMI KONFLIK PADA PESERTA DIDIK SD DAN UPAYA PENAGANANNYA


Konflik stress dan trauma
Konflik, stress yang tidak seimbang, dan trauma merupakan peristiwa
psikologis yang mungkin dialami oleh peserta didik di Sekolah Dasar. Jika
peserta didik mengalami konflik, mereka akan terjebak dalam suasana
bingung berkepanjangandan pada gilirannya mereka akan terjebak dalam
posisi salah suai. Padahal dari waktu ke waktu manusia dituntut untuk
mampu menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri dan lingkungan dimana ia
berada.
Pengertian konflik
Peristia pengambilan keputusan atau memilih dsalah satu dari dua atau
lebih pilihan sama kuat disebut konflik. Jadi konflik merupakan keadaan
yang dihadapi individu dalam bentuk memilih salah satu dari bagian pilihan
yang sama kuat. Artinya, kekuatan kepentingan bagi individu seimbang baik
posisi sama kuat dalam keuntungannya, kerugiannya, maupun dalam kerugian
dan keuntungan.
Jenis-jenis konflik
(1) Konflik mendekat-mendekat
Konflik ini terjadi ketika individu menghadapi dua pilihan atau lebih sama
kuatnya yang sama disukai dan bersifat positif.
(2) Konflik menjauh-jauh
Terjadi ketika seseorang dihadapkan pada keadaan atau lebih yang semuanya
tidak disukai atau memiliki konsekuensi negatif bagi dirinya.
(3) Konflik mendekat-menjauh
Merupakan jeis konflik yang sukar dipecahkan, karena terjadi ketika
seorang dihadapkan pada keadaan yang mengandung baik maupun negatif
sekaligus.
Bimbingan Penanganan konflik
Bimbingan guru hendaknya diarahkan agar peserta didik memiliki kemampuan
dan kemauan malakukan hal-hal berikut ini.
(a) Berpikir untuk mengenali latar belakang penyebabnya masalah atau
konflik
(b) Meminta saran atau bertukar pikiran
(c) Berkonsultasi dengan para ahli
(d) Berserah diri sambil beribadah sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pengertian Stress
Suatu tekanan atau wilayah ketagngan,baik pada aspek jasmani maupun
rohani. Stress sama dengan keadaan tegangan yang menekan jasmani dan
rohani seseorang.
Dinamika Terjadinya Stress
Jika diruntut ke belakang dinamika stress yang dialami individu dapat
dijelaskan sebagai berikut : lingkungan eksternal dan internal individu
sebagai sumber stress memunculkan berbagai tuntutan, tuntutan-tuntutan
itulah sebagai stress yang diterima oleh individu.
Bimbingan Manajemen Stress
Caranya sebagai berikut : langkah pertama disebut langkah pengertian yang
meliputi kegiatan peran serta penderita stress secara aktif. Langkah
latihan dan penanggulangan selanjutnya, penderita diajari sebuah variasi
keterampilan- keterampilan penanggulangan stress. Serta langkah terakhir
adalah langkah penerapan dan pengulangan, dalam hal ini penderita
menerapkan keterampilan- keterampilan penanggulangan yang telah
diperoleh dari langkah yang kedua.
Pengertian Trauma
Adalah luka atau perasaan sakit yang dialami seseorang baik berkenaan
dengan aspek jasmani maupun rohani akibat peristiwa traumatis.
Ciri Tanggapan terhadap Peristiwa Traumatik
Ciri-cirinya antara lain:
(1) Perasaan menjadi lebih mendalam atau terhanyut dan terkadang sulit
dipekirakan
(2) Pola-pola perilaku dan pikiran dipengaruhi oleh trauma. Pemikiran
selalu diayangi oleh pengalaman yang menimbulkan trauma.
(3) Hubungan antar pribadi menjadi tegang, seseorang yang menderita
trauma dapat menjadi mudah konflik atau bertentangan dengan orang lain.
(4) Gejala-gejala jasmaniah berkaitan dengan stress yang tidak seimbang,
sebagai contoh; sakit kepala, anggota- anggota badan lain terasa nyeri
atau linu, sehingga memerlukan perhatian dokter atau kesehatan.
Bimbingan Konseling untuk Membantu Anak yang Mengalami Trauma
Beberapa upayanya:
1) Biarkan anak mengekspresikan perasaannya dan jangan menghukum tapi
membantu mereka mengungkapkan persaanya.
2) Pastikan anak merasa bahwa mereka dalam keadaan yang aman dan dicintai
atau di[perhatikan.
3) Bersikaplah jujur kepada anak dengan cara memberikan pemahamanterhadap
apa yang sebenarnya terjadi.
4) Buatlah atau ciptakan suasana kembali senormal mungkin karena akan
melahirkan rasa aman dan tenang
5) Luangkan waktu untuk melakukan hiburan bersama anak.
6) Berikanlah pelukan, sentuhan atau tepukan dibahu mereka sebagai bukti
bahwa anak dicintai
7) Berikan langkah- langkah simulatif yang berkaitan dengan prosedur
keamanan.
8) Doronglah anak untuk mengekspresikan perasaan melalui gambar, lukisan
dan mewarnai.
BBM 6
FAKTOR-FAKTOR INTELEKTUAL
INTELEGENSI BAKAT DAN MINAT
INTELEGENSI
1. Pengertian dan Peristilahan
Intelegensi sering disebut dengan istilah kognitif, sedangkan kognitif
adalah kemampuan untuk berpikir secara abstrak, sedangkan intelek adalah
berpikir jadi maksud dengan intelegensi adalah kemampuan kecerdasan.
Menurut Wechsler, intelegensi adalah kemampuan bertindak dengan
menetapkan suatu tujuan, untuk berpikir secara rasional dan untuk
berhubungan dengan lingkungan di sekitarnya secara memuaskan.
Sedangkan menurut W. Stern mengatakan bahwa intelegensi adalah merupakan
kamampuan untuk mengetahui problem serta kondisi baru, kemampuan berpikir
abstrak, kemampuan bekerja, kemampuan menguasai tingkah laku instinkif,
serta kemampuan menerima hubungan yang kompleks termasuk apa yang disebut
dengan intelegensi.
2. Teori-teori tentang Intelegensi
Intelegensi sebagai kemampuan dasar yang bersifat umum diantaranya:
a) Teori Data (teori yang tertua)
Teori ini mengungkapkan bahwa manusia terdiri dari berbagai daya misalnya
seperti ingatan, penalaran, deskriminasi dan sebagainya.
b) Teori Dwi Faktor
Yang dikembangkan oleh Charles Spearman seorang ahli psikologi dari
Inggri, yang mengungkapkan bahwa kecakapan intelektual terdiri dari dua
macam mental yaitu intelegensi umum dan intelegensi khusus.
c) Teori Multi Faktor
Yang dikembangkan oleh E.L. Thirndike, yang menurutnya pernyataan
pertalian aktual maupun potensi yang khusus antara stimulus respon.
d) Teori Primary Mental Abilities
Yang dikembangkan oleh Turstone yang bependapat bahwa kognitif merupakan
penjelmaan dari kemampuan primer yaitu kemampuan: berbahsa, mengingat,
berpikir logis, pemahaman ruang, bilangan, mengunakan kata-kata, dan
mengamati dengan cepat dan cermat
e) Teori Triachic Of Intelligence
Yang dikemukakan oleh Robert Stan Berg. Yang penjelasaanya meliputi tiga
kemampuan mental diantaranya:
1. Proses mental yang terdiri dari tiga bagian yaitu: meta component,
performance component, serta knowledge-Acquisition component.
2. Coping with New Experience yaitu: tingkah laku kognitif yang dibentuk
melalui dua karakteristik y insight atau kemampuan untuk menghadapi
situasi baru secara efektif.
3. Adapting To Environment yaitu: kemampuan untuk memilih dan beradaptasi
dengan tuntutan atau norma lingkungan.
3. Klasifikasi Intelegnsi (IQ)
Wechsler adalah seorang ahli yang memperkenalkan klasifikasi intelegensi
(IQ) manusia dalam rentangan skala yang dimulai dari nol sampai dengan
200, dimana bilangan 100 merupakan titik tenagh dinyatakan untuk
sekelompok average (rata-rata). Menurutnya kalau senua orang di dunia
diukur intelegensinya, maka akan terdapat orang-orang YANG sangat pandai
sama banyaknya dengan orang-orang yang sangat bodoh.
BAKAT
Bakat adalah memperkenalkan suatu kondisi dimana menunjukan potensi
seseorang untuk mengembangkan kecakapannya dalam suatu bidang tertentu,
pewujudan dari potensi ini biasanya bergantung bukan saja kemampuan
belajar individu dalam bidang itu, tetapi juga pada motivasi dan
keempatan- keempatan untuk memanfaatkan kemampuan.
1. Konsep anak berbakat
Semua anak berbakat mempunayai potensi yang unggul, tetapi tidak semuanya
telah berhasil mewujudkan potensi tersebut secara optimal. Diperlukan
pelayanan yang optimal bagi anak berakat, adalah justru untuk membantu
mereka mencapai prestasi sesuai dengan bakat- bakat mereka yang unggul.
2. Ciri-ciri anak berbakat
Martison (1974) ciri-ciri sebagai berikut :
Membaca pada usia muda, membaca lebih cepat dan banyak, memiliki
perbendaharaan kata yang luas, memliki rasa ingin tahu yang kuat,
mempunyai minat yang luas, mempunyai inisiatif, dapat bekerja sendiri dan
lain-lain.
3. Memahami anak berbakat
Secara fisik seorang berbakat memiliki penampilan yang sama dengan
anak-anak lain sebayanya. Menurut Cony Semiawan yang menjadi pembeda
adalah spesialisasi kerja belahan otak kiri kanan, respon tugas dan fungsi
belahan otak kiri kanan berbeda dalam menghayati berbagai pengalaman
belajar.
4. Masalah-masalah anak berbakat
Kemampuan berpikir kritis dapat mengarah pada sikap skeptis
Kraetifitas dan minat terhadap hal baru bisa menimbulkan sikap mudah bosan.
Keuletan dan perilaku yang selalu terarah menjurus pada keinginan untuk
memaksakan kehendaknya.
5. Menentukan anak berbakat
Seseorang dapat diketahui dan ditentukan bakatnya dengan malalui tes,
yang disebut tes bakat. Tes bakat dibagi dua golongan yang luas, dikenal
dengan tes bakat umum dan tes bakat khusus. Tes bakat umum dirancang untuk
mengungkapkan dalam jangkauan yang lebih luas, terutama sekali ini
penting dalam kaitan tugas-tugas atau pekerjaan sekolah .
KREATIVITAS
Banyak arti kreativitas yang populer diantaranya yang sering digunakan!
Pertama, kreativitas yang menekankan pembuatan sesuatu yang baru dan
berbeda. Kebanyakan orang menganggap bahwa kreativitas dapat dinilai
malaui hasil atau apa saja yang diciptakan seseorang.
Kedua, kreativitas sebagai kreasi sesuatu yang baru dan orsinil. Dengan
demikian kreativitas dapat diartikan kemampuan untuk kombinasi baru
berdasarkan data, informasi atau unsur yang ada.
1. Ciri-ciri Afektif dari Kreativitas
Motivasi atau dorongan dari dalam untuk berbuat sesuatu, pengabdian untuk
pengikatan diri terhadap suatu tugas termasuk ciri-ciri afektif
kreativitas.
2. Pengembangan Kreativitas dalam Pembelajaran
a. Menciptakan lingkungan kelas yang merangsang belajar kreatif, menurut
Fieldhusen dan Treffinger (1980), suatu lingkungan kraetif dapat tercipta
dengan
1) Memberikan pemanasan
2) Pengaturan fisik
3) Kesibukan di dalam kelas
4) Guru sebagai fasilitator
b. Mengajukan dan mengundang pertanyaan
1) Teknik bertanya
2) Metode diskusi
3) Metode inquiry-discovery
4) Mengajukan pertanyaan yang menentang
3. Kreativitas perlu dikembangkan
Kreativitas dapat terwujud dimana saja atau siapa saja, tidak tergantung
pada usia, jenis kelamin, keadaan sosial ekonomi atau tingkat pendidikan
tertentu. Sesungguhnya bakat kreatif dimiliki oleh seseorang tanpa
pandang bulu dan yang lebih penting lagi ditinjau dari segi pendidikan
bahwa bakat kreatif itu dapat ditingkatkan karena itu perlu dipupuk sejak
dini.
4. Peran Guru dalam Mengembangkan Kreativitas Anak
a. Guru sebaiknya berfungsi sebagai fasilitator belajar.
b. Guru diharapkan lebih banyak memberikan tantangan daripada tekanan.
c. Guru sebaiknya tidak hanya memperhatikan hasil belajar tapi proses
belajar
d. Guru lebih baik memberikan umpan balik daripada penilaian
e. Guru harus mampu menyajikan beberapa metode belajar, supaya
kreativitas anak akan berkembang
f. Guru hendaknya dapat menciptakan suasana di dalam kls yang menunjanh
rasa harga diri anak.
5. Mengenal Anak yang kreatif
Anak yang kreatif dapat dilihat melalui aktivitas dan prilakunya, seperti
di bawah ini.
a. Bersifat ingin tahu.
b. Sering mengajukan pertanyaan yang bermutu
c. Memberikan banyak gagasan dan ususl terhadap masalah
d. Bebas dalam menyatakan pendapat
e. Mempunyai rasa keindahan
f. Menonjol dalam salah satu bidang seni
g. Mempunyai pendapat sendiri
h. Mempunyai rasa humor
i. Mempunyai daya imajinasi
Organisasi atau menggunakan cara-carayg asli dalam pemecahan masalah
BBM 7
FAKTOR-FAKTOR NON INTELEKTUAL
YANG MEMPENGARUHI PEMBELAJARAN 1

FAKTOR SIKAP YANG DAPAT MEMPENGARUHI PEMBELAJARAN


1. Makna sikap
Sikap berasal dari istilah asing attitude, merupakan pandangan,
perasaanyg disertai oleh kecenderunganutama bertindak sesuai dengan
objek. Dengan semikian sikap itu senantiasa terarahkan terhadap suatu hal,
suatu objek, tidak ada sikap tanpa ada objeknya.
2. Sikap sosial dan individual
a. Sikap sosial adalah: sikap yang dinyatakan oleh cara-cara kegiatan yang
sama dan berulang-ulang terhadap objek sosial.
b. Sikap individual adalah sikap yang dimiliki oleh seseorang demi seorang
saja, misalnya kesukaan terhadap binatang-binatang tertentu.
3. Ciri-ciri sikap
a. Sikap bukan dibawa sejak lahir
b. Sikap dapat berubah-rubah
c. Sikap dapat berdiri sendiri
d. Sikap tidak merupakan suatu hal tertentu
e. Sikap mempunyai segi-segi motivasi
4. Memahami sikap
Metode dapat digolongkan ke dalam metode langsung dan tidak langsung
Metode langsung adalah metode ini dimana orang secara langsung diminta
pendapat
Metode tidak langsung ialah orang itu diminta upaya menyatakan dirinya
mengenai objek dengan melalui tes psikologi seperti yang dikembangkan
oleh Thurton, Likert, dan Guttman.
5. Faktor yang mempengaruhi sikap
a. Intern adalah pandangan baru dipengaruhi melalui alat komunikasi dan
ditampung diantara pandangan dan persaan yang sudah terdapat pada diri
seseorang.
b. Ekstern adalah sikap yang dibentuk dan diubah dalam situasi atau
interaksi kelompok.
6. Perubahan sikap
a. Perubahan sikap dalam situasi kontak antar kelompok
b. Perubahan sikap karena komunikasi sepihak
KEPRIBADIAN
1. Makna kepribadian
Beberapa definisi kepribadian
Kepribadian adalah: suatu totalitas terorganisir dan disposisi-disposisi
psikis manusia yang individual, yang memberi kemungkinan untuk membedakan
ciri-cirinya yang umum dengan pribadi lainnya.
Gordon W Allport
Kepribadian adalah: kesatuan organisasi yang dinamis sifatnya dari sistem
psikolofisis individu yang menentkan kemampuan penyesuaian diri.
May; kepribadian itu merupakan peransang atas stimulus sosial bagi orang
lain
Morton Prince; kepribadian adalah jumlah total dari semua disposisi
pembawaan, impuls-impuls, kecenderungan-kecenderungan, selera-selera,
nafsu-nafsu, insting-insting individual, diposisi-disposisi, dan
tendensi-tendesi yang diperoleh melalui pengalaman.
2. Perubahan kepribadian
faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahankepribadian
diantaranya adalah sebagai berikut :
a. faktor fisik seperti gangguan otak, kurang gizi, minuman keras, dan
gangguan organik
b. faktor lingkungan sosial budaya, seperti krisis ekonomi, dan keamanan
yang menyebabkan terjadinya masalah pribadi.
c. Faktor itu sendiri, seperti: tekanan emosional, dan identifikasi atau
imitasi terhadap orang lain.
3. Karakteristik kepribadian
EB. Hurlock (1986), mengemukakan bahwa penyesuain yang sehat ditandai
dengan karakteristik sebagai berikut :
a. Mampu menilai diri sendiri
b. Mampu menilai situasi secara realistik
c. Mampu meilai prestasi
d. Menerima tanggung jawab
e. Kemandirian, memiliki sifat kemandirian
f. Dapat mengontrol emosi
g. Berorientasi tujuan
h. Berorientasi keluar
i. Penerimaan sosial
Adapun kepribadian tidak sehatditandai dengan karakteristik sebagai
berikut :
a. Mudah marah
b. Menunjukan kekhawatiran dan kecemasan
c. Sering merasa tertekan
d. Bersikap kejam
e. Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang, meskipun
sudah diperingati
f. Mempunayai kebiasaan berbohong
g. Bersikap memusuhi
h. Senang mencomoh orang lain
i. Sulit tidur
j. Kurang memiliki rasa tanggungjawab
k. Sering mengalami pusing kepala
l. Bersikap pesimis dalam menghadapi kehidupan
m. Kurang bergairah
4. Faktor yang mempengaruhi kepribadian
a. Faktor genetik
b. Faktor lingkungan
1) Kelaurga, perlakuan orang tua yang penuh kasih sayang, dan pendidikan
yang diberikan kepada anak tentang nilai-nilai kehidupan.
2) Kebudayaa, pengaruh kebudayaan terhadap kepribadian dapat dilihat dari
perbedaan antara masyarakat modern, yang budayanya relatif maju dengan
primitif
3) Sekolah
- Ilkim emosional kelas yang sehat memberikan dampak yang positif bagi
perkembangan psikis
- Sikap dan prilaku guru, tercermin dari hubungan dengan siswa
- Disiplin atau tata tertib
5. Penampilan kepribadian seorang guru
a. Komponen penampilan yaitu unsur kemampuan mewujudkan perilaku kinerja
yang nampak sesuai dengan bidang jabatan dan tugasnya.
b. Komponen subjek, yaitu unsur kemampuan penguasaan bahan pengetahuan
yang relefan
c. Komponen profesional yaitu unsur kemampuan penguasaan subtansi
pengetahuan dan keterampilan
d. Komponen proses yaitu unsur kemampuan penguasaan proses mental
intelektual
e. Komponen penyesuaian diri
f. Komponen kepribadian

KEMATANGAN BELAJAR

1. Konsep Dasar Kematangan Belajar


Kematangan (maturity) adalah suatu keadaan atau kondisi bentuk struktur dan
fungsi yang lengkap atau dewasa pada suatu organisasi..1[1] Kematangan membentuk
sifat dan kekuatan dalam diri untuk bereaksi dengan cara tertentu yang disebut

1[1] http://moeslemmuda.blogspot.com/2010/04/perkembangan-peserta-didik.html
“Readiness” yang berupa tingkah laku, baik tingkah laku yang instingtif maupun
tingkah laku yang dipelajari. Tingkah laku instingtif adalah suatu pola tingkah laku
yang diwariskan melalui proses hereditas. Sedangkan maksud dari tingkah laku yang
dipelajari yaitu orang tak akan berbuat secara intelijen apabila kapasitas
intelektualnya belum memungkinkan.

Dari pemaparan diatas, dapat ditarik kesimpulan berdasakan karakteristiknya.


meliputi:

1) Kematangan adalah merupakan suatu keadaan atau tahap pencapaian proses


pertumbuhan atau perkembangan.

2) Kematangan dapat berarti matangnya suatu sifat atau potensi fisik yang menjadi secara
kodrat akibat proses pertumbuhan dan hanya tergantung pada waktu belaka.

3) Kematangan juga dapat berarti matangnya suatu fungsi atau potensi mental psikologis
akibat proses perkembangan karena pengalaman dan latihan

4) Kematangan potensi fisik dan mental psikologis itu merupakan suatu keadaan yang
akan berfungsi sebagai prerequisite dalam proses perkembangan kearah pematangan
fungsi atau potensi.
Dengan demikian, kematangan yang dimaksud adalah kematangan potensi fisik
dan potensi mental psikologis yang telah dicapai dalam sutau tahap pertumbuhan atau
perkembangan.
Sedangkan, belajar adalah kegiatan berproses dan merupakan unsur yang sangat
fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Oleh
karenanya, pemahaman yang mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk, dan
manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik. Kekeliruan dan
ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal-hal yang berkaitan
dengannya mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran yang
dicapai peserta didik.
Sebagaian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata
mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk
informasi/materi pelajaran. Disamping itu, ada pula yang memandang bahwa belajar
adalah sebagai latihan belaka seperti tampak pada latihan membaca dan menulis. Untuk
menghindari ketidaklengkapan persepsi tersebut , berikut ini akan disajikan beberapa
definisi dari para ahli.
Skinner, seperi yang dikutip Barlow (1985) dalam bukunya Educational
Psychology: The Teaching-learning Process, berpendapat bahwa belajar adalah suatu
proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif.2[2]
Chaplin(1972) dalam dictionary of Psychologymembatasi belajar dengan dua
rumusan yaitu; Pertama, belajar adalah perolehan perubahan-perubahan tingkah laku
yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Kedua, belajar adalah
proses memperoleh respons-respons sebagai akibat adanya latihan khusus.3[3]
Menurut Wittig (1981) dalam bukunya Psychology of Learning mendefinisikan
belajar sebagai perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam
/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman. 4[4]
Dari Pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan, bahwa belajar adalah suatu
proses adaptasi untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang relatif menetap
sebagai hasil pengalaman dan latihan.
Dari definisi kematangan dan belajar diatas, dapat dideskripsikan bahwa
kematangan belajar adalah suatu kondisi fisik dan mental yang matang pada seorang
anak dalam penerimaan pengetahuan, pengalaman dan latihan. Kondisi fisik antara
lain, kondisi mottorik dan sensorik siswa, seperti menulis dan mendengarkan
pengarahan guru. Kondisi mental yaitu berkaitan dengan proses berfikir dan sikap
siswa dalam merespons pelajaran. Jadi, salah satu tugas guru atau tenaga kerja
pendidikan adalah mengidentifikasi kemampuan siswa pada tahap atau jenjang
perkembangannya (kematangan) demi menunjuang keberhasilan siswa dalam belajar
dan untuk menetapkan indikator yang harus dicapai oleh siswa.
Untuk mengetahui kondisi kematangan siswa dalam belajar pada tahap atau
jenjang tertentu adalah mengidentifikasi perkembangan psiko-fisik siswa itu sendiri.
Antara lain:
a. Perkembangan motorik
b. Perkembangan kognitif, dan
c. Perkembangan sosial dan moral (sikap)
2. Perkembangan Psiko-Fisik Anak atau Siswa

2[2] Syah, Muhibbin.1999. Psikologi Belajar. Jakarta:Wacana Ilmu,... hal


60

3[3] Ibid

4[4] Ibid,..61
Sebelum mempelajarari perkembangan, yang perlu diingat adalah bahwa
perkembangan dan pertumbuhan itu berbeda. Perkembangan ialah merupakan
serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan
dan pengalaman dan terdiri atas serangkaian perubahan yang bersifat kualitatif (E.B.
Harlock).5[5]
Sedangkan pertumbuhan ialah merupakan perubahan secara fiologis sebagai
hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik, yang berlangsung secara normal
pada diri anak yang sehat, peredaran waktu tertentu ( kartono ).6[6]
Selanjutnya, pembahasan mengenai perkembangan ranah psikologi fisik pada
bagian ini akan menyusun fokuskan pada proses perkembangan yang dipandang
memiliki keterkaitan langsung dengan kegiatan belajar siswa. Proses-proses
perkembangan tersebut meliputi:7[7]
a. Perkembangan motorik (motor development)
b. Perkembangan Kognitif
c. Perkembangan Sosial dan moral (Psiko-sosial).

2.1. Perkembangan Motorik/Fisik Siswa


Dalam psikologi, kata motor diartikan sebagai istilah yang menunjuk pada hal,
keadaan, dan kegiatan yang melibatkan otot-otot dan gerakan-gerakannya. Jadi,
perkembangan motorik yaitu proses perkembangan yang progresif dan berhubungan
dengan perolehan aneka ragam keterampilan anak.8[8]
Menurut Gleitman, ada 2 bekal yang dibawa anak sejak lahir yaitu bekal
kapasitas motor (jasmani) dan bekal kapasitas panca indra (sensorik).9[9]
Bekal pertama yang dibawa anak adalah kapasitas motorik. Kapasitas motorik
dapat mendorong anak untuk beraktivitas sebagaimana tugasnya dalam
perkembangannya. Mula-mula seorang anak yang baru lahir hanya memiliki sedikit
kendali terhadap aktivitas alat-alat jasmaniahnya. Setelah berusia empat bulan, bayi

5[5] http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/25/definisi-perkembangan/

6[6] Ibid

7[7] Syah, Muhibbin.1999. Psikologi Belajar. Jakarta:Wacana Ilmu...hal.12

8[8] Ibid

9[9] Ibid,,. Hal 13


itu sudah mulai mampu duduk dengan bantuan sanggaan dan dapat meraih atau
menggenggam benda-benda didekatnya.
Bekal kedua yang dibawa anak dari rahim ibunya ialah kapasitas sensorik.
Kapasitas sensorik seorang bayi lazimnya mulai berlaku bersama-sama dengan
berlakunya reflek-reflek motorik. Berkat adanya bekal sensorik ini, anak dapat
memahami pembicaraan orang lain, mengutarakan keinginannya, mengingat kembali
simbol-simbol atau benda yang telah diketahuinya, dan merasakan kesakitan dan
kenikmatan dengan baik. Untuk itu pendidik harus membimbingnya dalam melakukan
tugas perkembangannya tersebut.
Semua kapasitas yang dibawa anak dari rahim ibunya seperti pemaparan diatas
adalah modal dasar yang tampak bermanfaat bagi kelanjutan perkembangannya. Dalam
hal ini proses belajar keterampilan tertentu (khususnya di sekolah) merupakan
pedukung yang sangat berarti bagi perkembangan fisik anak,terutama dalam perolehan
kecakapan-kecakapan psikomotor atau ranah karsa anak tersebut.
Ketika seorang anak memasuki sekolah dasar pada umur 6-12 tahun,
perkembangan fisiknya mulai tampak benar-benar proposional (berkeseimbangan).
Artinya, organ-organ jasmani yang tumbuh serasi. Gerak-gerakan tubuh anak juga
menjadi lincah dan terarah seiring dengan munculnya keberanian mentalnya. Contoh
jika dalam usia belita atau usia anak TK tidak berani naik sepeda atau memanjat pohon
dan melompati pagar, pada usia sekolah ia akan menunjukan keberanian melakukan itu.
Gerakan tubuh anak ini disamping karena kemantangan fisiknya, juga disebabkan oleh
adanya perkembangan mentalnya. Namun patut dicatat perkembangan seperti itu.
Jikalau tidak ditunjang oleh dukungan proses belajar, Kematangan fisik tersebut akan
kurang berarti dan tidak akan menjadikan keterampilan-keterampilan psikomotorik.
Belajar keterampilan fisik (motor learning) dianggap telah terjadi dalam diri seseorang
apabila ia telah memperoleh kemampuan atau kematangan fisik dan keterampilan
yang melibatkan penggunaan tangan (seperti menggambar) dan tungkai(seperti berlari)
secara baik dan benar.
Sehubungan dengan hal diatas, motor skill (kecakapan-kecakapan jasmani)
perlu dipelajari melalui aktivitas latihan langsung yang disertai dengan pengajaran
teori-teori pengetahuan yang bertalian dengan motor skill itu sendiri. Semantara itu,
aktivitas latihan perlu dilaksanakan dalam bentuk praktek yang berulang-ulang oleh
siswa, termasuk praktek contoh gerakan-gerakan yang salah dan dibutuhkan, sehingga
siswa dapat memahami bagian mana yang keliru, kemudian upaya perbaikan
seyogyanya segera dilakukan. Akan tetapi, dalam praktek itu hendaknya dilibatkan
pengetahuan ranah akal siswa. Praktek tanpa melibatkan ranah akal umpamanya insight
(tilikan akal) siswa yang memadai terhadap teknik dan patokan kinerja yang
diperlukan, maka praktek tersebut tak dapat dipandang bernilai dan hanya ibarat orang
yang sedang senam beramai-ramai belaka.
2.2. Perkembangan Kognitif Siswa
Istilah kognitif berasal dari kata cognition yang padanannya knowing, berarti
mengetahui. Dalam arti luas, cognition (kognisi) ialah perolehan, penataan, dan
penggunaan pengetahuan. Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kognitif menjadi
populer sebagai salah satu domain atau wilayah/ranah psikologis manusia yang
meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan,
pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesenjangan, dan keyakinan. Ranah
kejiawaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi(kehendak) dan
afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah rasa.10[10]
Seorang pakar terkemuka dalam displin psikolgi kognitif dan psikologi anak,
jean piaget mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi empat tahapan
sebagai berikut.11[11]
2.2.1. Sensori-Motorik (0-18 atau 24 bulan)

Piaget berpendapat bahwa dalam perkembangan kognitif selama stadium


sensori motorik ini, inteligensi anak baru nampak dalam bentuk aktivitas motorik
sebagai reaksi stimulasi sensorik. Dalam stadium ini yang penting adalah tindakan
konkrit dan bukan tindakan imaginer atau hanya dibayangkan saja.

2.2.2. Pra-Operasional (± 18 bulan-7 tahun)


Stadium pra-operasional dimulai dengan penguasaan bahasa yang sistematis,
permainan simbolis, imitasi (tidak langsung) serta bayangan dalam mental. Semua
proses ini menunjukkan bahwa anak sudah mampu untuk melakukan tingkah laku
simbolis. Anak sekarang tidak lagi mereaksi begitu saja terhadap stimulus-stimulus
melainkan nampak ada suatu aktivitas internal.

10[10] Ibid....hal 21
11[11] http://arbahmeiss.blogspot.com/
Anak mampu untuk berbuat pura-pura, artinya dapat menimbulkan
situasi-situasi yang tidak langsung ada. Ia mampu untuk menirukan tingkah laku yang
dilihatnya (imitasi) dan apa yang dilihatnya sehari sebelumnya (imitasi tertunda).

Anak dapat mengadakan antisipasi, misalnya sekarang dapat mengatakan


bahwa menaranya belum selesai, karena ia tahu menara yang bagaimana yang akan
dibuatnya. Ia sekarang mampu untuk mengadakan representasi dunia pada tingkatan
yang konkrit.

Berpikir pra-operasional masih sangat egosentris. Anak belum mampu (secara


persepsual, emosional-motivational, dan konseptual) untuk mengambil perspektif
orang lain. Contoh: anak diajak kelapangan balap mobil. Dilapangan tadi ada 3 buah
mobil merah, putih dan biru berjajaran. Bila anak diminta untuk menyebutkan urutan
mobil tadi dari sudut pandangan orang lain yang berdiri di seberang sebaliknya, maka
ia akan menjawab dari sudut perspektifnya sendiri.

Cara berpikir pra-operasional sangat memusat (centralized). Bila anak


dikonfrontasi dengan situasi yang multi-dimensional, maka ia akan memusatkan
perhatiannya hanya pada satu dimensi saja dan mengabaikan dimesi-dimensi yang
lain dan akhirnya juga mengabaikan hubungannya antara dimensi-dimensi ini. Contoh:
sebuah gelas tinggi ramping dan sebuah gelas pendek dan lebar diisi dengan air yang
sama banyaknya. Anak ditanya apakah air dalam dua buah gelas tadi sama banyaknya.
Anak kebanyakan akan menjawab bahwa ada lebih banyak air dalam gelas yang
tinggi ramping tadi karena gelas ini lebih tinggi daripada yang satunya. Anak belum
melihat dimensi-dimensi yang lain.

Berpikir pra-operasional adalah tidak dapat dibalik (irreversable). Anak belum


mampu untuk meniadakan suatu tindakan dengan memikirkan tindakan tersebut
dalam arah yang sebaliknya. Sangat khas bagi anak dalam periode ini adalah
percakapan antara orang dewasa dan anak sebagai berikut:

Totok, kau punya saudara Ya!


Siapa nama saudaramu Mita
Apa Mita punya saudara Tidak
Hubungan “Totok punya saudara Mita” bagi anak tidak dapat dibalik.

Berpikir pra-operasional adalah terarah statis. Bila situasi A beralih ke situasi


B, maka anak hanya memperhatikan situasi A, kemudian B. Ia tidak memperhatikan
transformasi perpindahannya A ke B. Contoh: bila anak diminta untuk
menggambarkan suatu tongkat yang sedang jatuh, maka anak mula-mula menggambar
tongkat yang berdiri tegak dan kemudian tongkat yang berbaring. Aspek dinamiknya
tongkat yang sedang jatuh diabaikan oleh anak.

2.2.3. Operasional Konkrit (7-11 tahun)


Bila anak yang berpikir operasional konkrit harus menyelesaikan suatu
masalah maka ia langsung memasuki masalahnya. Ia mencoba beberapa penyelesaian
secara konkrit dan hanya melihat akibat langsung usaha-usahanya untuk
menyelesaikan masalah itu.

Contoh: pencoba memberikan lima buah gelas berisi cairan tertentu kepada
anak. Suatu kombinasi cairan ini membuat cairan tadi berubah warna. Anak diminta
untuk mencari kombinasi ini. Anak yang berpikir operasional konkrit mencoba untuk
mencari kemungkinan-kemungkinan kombinasi tadi secara tidak sistematis, secara
trial and error sampai secara kebetulan ia menemukan kombinasi tsb.

2.2.4. Operasional Formal (mulai 11 tahun)


Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan
kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia
sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa.
Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir
secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari
informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami
hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala
sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada “gradasi abu-abu”
di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat
pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai
masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral,
perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak
sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak
mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap
menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.

Berpikir operasional formal mempunyai dua sifat yang penting:

1. Sifat deduktif-hipotetis: Anak yang berpikir operasional formal, akan bekerja cara
lain. Ia akan memikirkan dulu secara teoritis. Ia menganalisis masalahnya dengan
penyelesaian berbagai hipotesis yang mungkin ada. Atas dasar analisisnya ini, ia
lalu membuat suatu strategi penyelesaian. Analisis teoritis ini dapat dilakukan
secara verbal. Anak lalu mengadakan pendapat-pendapat tertentu, juga disebut
proposisi-proposisi, kemudian mencari hubungan antara proposisi yang
berbeda-beda tadi. berhubung dengan itu maka berpikir operasional formal juga
disebut berpikir proporsional.

2. Berpikir operasional formal juga berpikir kombinatoris. Sifat ini merupakan


kelengkapan sifat yang pertama dan berhubungan dengan cara bagaimana
dilakukan analisisnya. Hal ini dapat digambarkan dengan contoh berikut: pencoba
memberikan lima buah gelas berisi cairan tertentu kepada anak. Suatu kombinasi
cairan ini membuat cairan tadi berubah warna. Anak diminta untuk mencari
kombinasi ini. Anak yang berpikir operasional formal lebih dahulu secara teoritis
membuat matriks mengenai segala macam kombinasi yang mungkin; kemudian
secara sistematis mencoba setiap sel matriks tsb secara empiris. Bila ia
menemukan penyelesaiannya yang betul, maka ia juga akan segera dapat
memproduksinya lagi.

Dari contoh ini nampak bahwa berpikir operasional formal memungkinkan


orang untuk mempunyai tingkah laku “problem solving” yang betul-betul ilmiah, serta
memungkinkan untuk mengadakan pengujian hipotesis dengan variabel-variabel
tergantung.

2.3. Perkembangan Sosial dan Moral siswa (psikososial)


Pendidikan, ditinjau dari sudut psikososial (kejiwaan kemasyarakatan), adalah
upaya penumbuhkembangan sumberdaya manusia melalui proses hubungan
interpersonal (hubungan antar pribadi) yang berlangsung dalam lingkungan
masyarakat yang terorganisasi, dalam hal ini masyarakat pendidikan dan keluarga.
Berdasarkan hal ini, tentu tak mengherankan apabila seseorang siswa sering
menggantungkan responsnya terhadap guru pengajar dan teman-teman sekelasnya.
Positif atau negatifnya persepsi siswa terhadap guru dan teman-temannya itu sangat
mempengaruhi kualitas hubungan sosial para siswa dengan lingkungan sosial
kelasnya dan bahkan mungkin dengan lingkungan sekolahnya.

Seperti dalam proses-proses perkembangan lainnya, proses perkembangan


sosial dan moral siswa juga selalu berkaitan dengan proses belajar. Konsekuensinya,
kualitas hasil perkembangan sosial siswa sangat bergantung pada kualitas proses
belajar (khususnya belajar sosial) siswa tersebut baik dilingkungan sekolah maupun
dlingkungan lebih luas. Ini bermakna bahwa proses belajar itu amat menentukan
kemampuan siswa dalam bersikap dan berperilaku sosial yang selaras dengan norma
moral, agama, moral tradisi, moral hukum, dan norma moral lainnya yang berlaku
dalam masyarakat siswa yang bersangkutan.

3. Pengembangan Belajar Siswa


Dari pemaparan diatas tentang kematangan siswa dilihat dari psiko-fisiknya.
Kematangan dalam diri siswa adalah suatu wadah yang siap untuk diisi, diolah atau di
kembangkan, yang bertujuan menjadikannya produk yang bermutu tinggi.

Pengembangan belajar siswa itu sangat penting dalam menunjang pencapaian


tujuan pendidikan yaitu menjadikan anak bangsa cerdas dan berpancasila.
Pengembangan belajar siswa itu meliputi pengembangan Aspek kognitif, Afektif dan
Psikomotor. Dengan maksud demi menjadikan sumberdaya manusia yang berkualitas
dan lebih aplikatif. Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan di paparkan tentang
pengembangan 3 ranah tadi, Sebagai berikut:12[12]

3.1. Aspek Kognitif


Aspek kognitif dalam pendidikan merupakan aspek yang berkaitan dengan
pengetahuan. Artinya kegiatn belajar mengajar beretujuan menambah tingkat
pengetahuan dan wawasan siswa terhadap materi pelajaran yang disampaikan. Aspek

12[12] http://em-ge.blogspot.com/2009/11/konsep-pembelajaran-kognitif-afektif.html
kognitif dapat ditelusuri dari suatu keadaan dimana siswa mendapatkan penambahan
pengetahuan dari yang semula tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti
menjadi mengerti.

Pada dasarnya konsep pembelajaran kognitif disini menuntut adanya


prinsip-prinsip utama sebagai berikut.

a. Pembelajaran yang aktif, maksudnya adalah siswa sebagai subyek belajar menjadi
factor yang paling utama. Siswa dituntut untuk belajar dengan mandiri secara aktif.

b. Prinsip pembelajaran dengan interaksi social untuk menambah khasanah


perkembangan kognitif siswa dan menghindari kognitif yang bersifat egosentris.

c. Belajar dengan menerapkan apa yang dipelajari agar siswa mempunyai pengalaman
dalam mengeksplorasi kognitifnya lebih dalam. Tidak melulu menggunakan bahasa
verbal dalam berkomunikasi.

d. Adanya guru yang memberikan arahan agar siswa tidak melakukan banyak kesalahan
dalam menggunakan kesempatannya untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman
yang positif.

e. Dalam memberikan materi kepada siswa diperlukan penstrukturan baik dalam materi
yang disampaikan maupun metode yang digunakan. Karena pengaturan juga sangat
berpengaruh pada tingkat kemampuan pemahaman pada siswa.

f. Pemberian reinforcement yang berupa hadiah dan hukuman pada siswa. Saat
melakukan hal yang tepat harus diberikan hadiah untuk menguatkan dia untuk terus
berbuat dengan tepat, hadiah tersebut bias berupa pujian, dan sebagainya. Dan
sebaliknya memberikan hukuman atas kesalahan yang telah dilakukan agar dia
menyadari dan tidak mengulangi lagi, hukuman tersebut bias berupa: teguran, nasehat
dan sebagainya tetapi bukan dalam hukuman yang berarti kekerasan.

g. Materi yang diberikan akan sangat bermakna jika saling berkaitan karena dengan
begitu seseorang akan lebih terlatih untuk mengeksplorasi kemampuan kognitifnya.

h. Pembelajaran dilakukan dari pengenalan umum ke khusus (Ausable) dan sebaliknya


dari khusus ke umum atau dari konkrit ke abstrak (Piaget).

i. Pembelajaran tidak akan berhenti sampai ditemukan unsure-unsur baru lagi untuk
dipelajari, yang diartikan pembelajaran dengan orientasi ketuntasan.
j. Adanya kesamaan konsep atau istilah dalam suatu konsep bias sangat mengganggu
dalam pembelajaran karena itulah penyesuaian integrative dibutuhkan. Penyesuaian
ini diterapkan dengan menyusun materi sedemikian rupa, sehingga guru dapat
menggunakan hierarki-hierarki konseptual ke atas dan ke bawah selama informasi
disajikan.

3.2. Aspek Afektif


Aspek afektif dalam pendidikan merupakan aspek yang berkaitan dengan
perasaan, ini berarti terhadap matiri pelajaran yang disampaikan siswa meresponnya
dengan berbagai ekspresi yang mewakili perasaan mereka. Suatu pelajaran tertentu
misalnya akan memancing terbentuknya rasa senang, sedih atau berbagai ekspresi
perasaan yang lainnya.

Secara konseptual maupun emprik, diyakini bahwa aspek afektif memegang


peranan yang sangat penting terhadap tingkat kesuksesan seseorang dalam bekerja
maupun kehidupan secara keseluruhan. Keberhasilan pembelajaran pada ranah
kognitif dan psikomotorik dipengaruhi oleh kondisi afektif siswa. Siswa yang
memiliki minat belajar dan sikap positif terhadap pelajaran akan merasa senang
mempelajari mata pelajaran tertentu sehingga dapat mencapai hasil pembelajaran
yang optimal. Walaupun para guru sadar akan hal ini,namun belum banyak tindakan
yang dilakukan guru secara sistematik untuk meningkatkan minat siswa.

Pembelajaran afektif berbeda dengan pembelajaran intelektual dan


keterampilan, karena segi afektif sangat bersifat subjektif, lebih mudah berubah, dan
tidak ada materi khusus yang harus dipelajari. Hal-hal diatas menuntut penggunaan
metode mengajar dan evaluasi hasil belajar yang berbeda dari mengajar segi kognitif
dan keterampilan.

Ada beberapa model pembelajaran afektif yang populer dan banyak digunakan.

1. Model Konsiderasi
Manusia seringkali bersifat egoistis, lebih memperhatikan, mementingkan, dan
sibuk dan sibuk mengurusi dirinya sendiri. Melalui penggunaan model konsiderasi
(consideration model) siswa didorong untuk lebih peduli, lebih memperhatikan orang
lain, sehingga mereka dapat bergaul, bekerja sama, dan hidup secara harmonis dengan
orang lain.
Langkah-langkah pembelajaran konsiderasi: (1) menghadapkan siswa pada situasi
yang mengandung konsiderasi, (2) meminta siswa menganalisis situasi untuk
menemukan isyarat-isyarat yang tersembunyi berkenaan dengan perasaan, kebutuhan
dan kepentingan orang lain, (3) siswa menuliskan responsnya masing-masing, (4)
siswa menganalisis respons siswa lain, (5) mengajak siswa melihat konsekuesi dari
tiap tindakannya, (6) meminta siswa untuk menentukan pilihannya sendiri.

2. Model pembentukan rasional


Dalam kehidupannya, orang berpegang pada nilai-nilai sebagai standar bagi
segala aktivitasnya. Nilai-nilai ini ada yang tersembunyi, dan ada pula yang dapat
dinyatakan secara eksplisit. Nilai juga bersifat multidimensional, ada yang relatif dan
ada yang absolut. Model pembentukan rasional (rational building model) bertujuan
mengembangkan kematangan pemikiran tentang nilai-nilai. Langkah-langkah
pembelajaran rasional: (1) menigidentifikasi situasi dimana ada ketidakserasian atu
penyimpangan tindakan, (2) menghimpun informasi tambahan, (3) menganalisis
situasi dengan berpegang pada norma, prinsip atu ketentuan-ketentuan yang berlaku
dalam masyarakat, (4) mencari alternatif tindakan dengan memikirkan
akibat-akibatnya, (5) mengambil keputusan dengan berpegang pada prinsip atau
ketentuen-ketentuan legal dalam masyarakat.

3. Klarifikasi nilai
Setiap orang memiliki sejumlah nilai, baik yang jelas atau terselubung,
disadari atau tidak. Klarifikasi nilai (value clarification model) merupakan pendekatan
mengajar dengan menggunakan pertanyaan atau proses menilai (valuing process) dan
membantu siswa menguasai keterampilan menilai dalam bidang kehidupan yang kaya
nilai. Penggunaan model ini bertujuan, agar para siwa menyadari nilai-nilai yang
mereka miliki, memunculkan dan merefleksikannya, sehingga para siswa memiliki
keterampilan proses menilai.

Langkah-langkah pembelajaran klasifikasi nilai: (1) pemilihan: para siswa


mengadakan pemilihan tindakan secara bebas, dari sejumlah alternatif tindakan
mempertimbangkan kebaikan dan akibat-akibatnya, (2) mengharagai pemilihan: siswa
menghargai pilihannya serta memperkuat-mempertegas pilihannya, (3) berbuat: siswa
melakukan perbuatan yang berkaitan dengan pilihannya, mengulanginya pada hal
lainnya.

4. Pengembangan moral kognitif


Perkembangan moral manusia berlangsung melalui restrukturalisasi atau
reorganisasi kognitif, yang yang berlangsung secara berangsur melalui tahap
pra-konvensi, konvensi dan pasca konvensi. Model ini bertujuan membantu siswa
mengembangkan kemampauan mempertimbangkan nilai moral secara kognitif.

Langkah-langkah pembelajaran moral kognitif: (1) menghadapkan siswa pada


suatu situasi yang mengandung dilema moral atau pertentangan nilai, (2) siswa
diminta memilih salah satu tindakan yang mengandung nilai moral tertentu, (3) siswa
diminta mendiskusikan/ menganalisis kebaikan dan kejelekannya, (4) siswa didorong
untuk mencari tindakan-tindakan yang lebih baik, (5) siswa menerapkan tindakan
dalam segi lain.

5. Model nondirektif
Para siswa memiliki potensi dan kemampuan untuk berkembang sendiri.
Perkembangan pribadi yang utuh berlangsung dalam suasana permisif dan kondusif.
Guru hendaknya menghargai potensi dan kemampuan siswa dan berperan sebagai
fasilitator/konselor dalam pengembangan kepribadian siswa. Penggunaan model ini
bertujuan membantu siswa mengaktualisasikan dirinya.

Langkah-langkah pembelajaran nondirekif: (1) menciptakan sesuatu yang


permisif melalui ekspresi bebas, (2) pengungkapan siswa mengemukakan perasaan,
pemikiran dan masalah-masalah yang dihadapinya,guru menerima dan memberikan
klarifikasi, (3) pengembangan pemahaman (insight), siswa mendiskusikan masalah,
guru memberrikan dorongan, (4) perencanaan dan penentuan keputusan, siswa
merencanakan dan menentukan keputusan, guru memberikan klarifikasi, (5) integrasi,
siswa memperoleh pemahaman lebih luas dan mengembangkan kegiatan-kegiatan
positif.

3.3. Aspek Psikomotor


Aspek psikomotorik dalam pendidikan merupakan aspek yang berhubungan
dengan tindakan atau perilaku yang ditampilkan anak didik setelah menerima suatu
materi tertentu, artinya mereka bertindak atau berprilaku berdasarkan pengetahuan
dan perasaan sesuai atauberdasarkan pengembangan sendiri dari yang disampaikan
pendidik.
BAB III

KESIMPULAN

1. Konsep Kematanagan Belajar


(maturity) adalah suatu keadaan atau kondisi bentuk struktur dan fungsi yang
lengkap atau dewasa pada suatu organisasi. Sedangkan, belajar adalah suatu proses
adaptasi untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil
pengalaman dan latihan. Jadi kematangan belajar adalah suatu kondisi fisik dan mental
yang matang pada seorang anak dalam penerimaan pengetahuan, pengalaman dan
latihan. Kondisi fisik antara lain, kondisi mottorik dan sensorik siswa, seperti menulis
dan mendengarkan pengarahan guru. Kondisi mental yaitu berkaitan dengan proses
berfikir dan sikap siswa dalam merespons pelajaran.
2. Kematangan siswa sebagai penunjang keberhasilan belajar
Untuk mengetahui kondisi kematangan siswa dalam belajar pada tahap atau
jenjang tertentu adalah mengidentifikasi perkembangan psiko-fisik siswa itu sendiri.
Antara lain:
a. Perkembangan motorik
Dalam psikologi, kata motor diartikan sebagai istilah yang menunjuk pada hal,
keadaan, dan kegiatan yang melibatkan otot-otot dan gerakan-gerakannya. Jadi,
perkembangan motorik yaitu proses perkembangan yang progresif dan berhubungan
dengan perolehan aneka ragam keterampilan anak.1 Menurut Gleitman, ada 2 bekal
yang dibawa anak sejak lahir yaitu bekal kapasitas motor (jasmani) dan bekal
kapasitas panca indra (sensorik).
b. Perkembangan kognitif
Istilah kognitif berasal dari kata cognition yang padanannya knowing, berarti
mengetahui. Dalam arti luas, cognition (kognisi) sebagai salah satu domain atau
wilayah/ranah psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang
berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan

1 Syah, Muhibbin.1999. Psikologi Belajar. Jakarta:Wacana Ilmu...hal.12


masalah, kesenjangan, dan keyakinan.2 Seorang pakar terkemuka dalam displin
psikolgi kognitif dan psikologi anak, jean piaget mengklasifikasikan perkembangan
kognitif anak menjadi empat tahapan yaitu tahapan sonsorik-motorik, pra-operasional,
operasional konkrit, dan operasional formal operasional.

c. Perkembangan sosial dan moral (sikap)

Pendidikan, ditinjau dari sudut psikososial (kejiwaan kemasyarakatan), adalah


upaya penumbuhkembangan sumberdaya manusia melalui proses hubungan
interpersonal (hubungan antar pribadi) yang berlangsung dalam lingkungan
masyarakat yang terorganisasi, dalam hal ini masyarakat pendidikan dan keluarga.
Berdasarkan hal ini, tentu tak mengherankan apabila seseorang siswa sering
menggantungkan responsnya terhadap guru pengajar dan teman-teman sekelasnya.
Positif atau negatifnya persepsi siswa terhadap guru dan teman-temannya itu sangat
mempengaruhi kualitas hubungan sosial para siswa dengan lingkungan sosial
kelasnya dan bahkan mungkin dengan lingkungan sekolahnya.

3. Pengembangan Belajar Siswa


Ada tiga aspek belajar siswa yang harus dikembangkan yaitu:

a. Aspek Kognitif
Aspek kognitif dalam pendidikan merupakan aspek yang berkaitan dengan
pengetahuan. Artinya kegiatn belajar mengajar beretujuan menambah tingkat
pengetahuan dan wawasan siswa terhadap materi pelajaran yang disampaikan. Aspek

2 Ibid....hal 21

DAFTAR PUSTAKA

http://arbahmeiss.blogspot.com/

http://edukasi.kompasiana.com/2010/10/25/definisi-perkembangan/

http://em-ge.blogspot.com/2009/11/konsep-pembelajaran-kognitif-afektif.html

http://moeslemmuda.blogspot.com/2010/04/perkembangan-peserta-didik.html

Syah, Muhibbin.1999. Psikologi Belajar. Jakarta:Wacana Ilmu


kognitif dapat ditelusuri dari suatu keadaan dimana siswa mendapatkan penambahan
pengetahuan dari yang semula tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti
menjadi mengerti.
b. Aspek Afektif
Aspek afektif dalam pendidikan merupakan aspek yang berkaitan dengan
perasaan, ini berarti terhadap matiri pelajaran yang disampaikan siswa meresponnya
dengan berbagai ekspresi yang mewakili perasaan mereka. Suatu pelajaran tertentu
misalnya akan memancing terbentuknya rasa senang, sedih atau berbagai ekspresi
perasaan yang lainnya.

Ada beberapa model pembelajaran afektif yang populer dan banyak digunakan,
yaitu Model Konsiderasi, Model pembentukan rasional, Klarifikasi nilai,
Pengembangan moral kognitif, dan Model nondirektif.

c. Aspek Psikomotor
Aspek psikomotorik dalam pendidikan merupakan aspek yang berhubungan
dengan tindakan atau perilaku yang ditampilkan anak didik setelah menerima suatu
materi tertentu, artinya mereka bertindak atau berprilaku berdasarkan pengetahuan
dan perasaan sesuai atau berdasarkan pengembangan sendiri dari yang disampaikan
pendidik.