Anda di halaman 1dari 5

Kisah Penyair Sekaligus Pahlawan Amir

Hamzah yang Gugur Setelah Disiksa


dan Dipancung
Penulis
Niken Olivia
-
13 Agustus 2017 10:33 am

SURATKABAR.ID – Nama Amir Hamzah tentulah bukan lagi hal yang asing,
khususnya untuk masyarakat Melayu. Pasalnya sosok beliau telah membuahkan
banyak karya sastra. Hal tersebutlah yang lantas mengangkat bahasa Melayu hingga
menjadi sesuatu yang sangat diagung-agungkan. Bahkan hingga saat ini.

Amir Hamzah mendapatkan gelar sebagai seorang pahlawan nasional. Pasalnya salah
satu dari begitu banyak pujangga berkelas yang ada di Indonesia, sosoknya harus
mengalami kematian yang teramat tragis ketika meletusnya revolusi sosial di
Sumatera Timur (sekarang Sumatera Utara), pada Maret 1946.
Melansir laman sindonews.com, Minggu (13/8/2017), pemilik nama lengkap Tengku
Amir Hamzah Pangeran Indera Putera yang dilahirkan pada tanggal 28 Februari 1911
di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara tersebut mewarisi darah bangsawan
Melayu yaitu Kesultanan Langkat. Ia dikenal sebagai pribadi yang taat dalam
menjalankan agama.

–– ADVERTISEMENT ––

Yang unik dari tokoh pahlawan nasional satu ini adalah, Amir Hamzah justru lebih
dikenal sebagai penyair modern Indonesia daripada pangeran di Kesultanan Langkat.
Bahkan beliau mendapatkan gelar sebagai Raja Penyair Pujangga Baru.

Baca Juga: Kisah Panglima Aman Dimot, Pejuang Asal Aceh yang Kebal
Senjata

Ayahandanya, Tengku Muhammad Adil yang merupakan saudara Sultan Machmud,


Sultan Langkat di Tanjung Pura yang memerintah tahun 1927 – 1941, menjadi wakil
sultan untuk Luhak Langkat Bengkulu dan berkedudukan di binjai.

Ketika menginjak usia yang ke-16 tahun, Amir Hamzah turut serta bersama-sama
dalam merumuskan konsep Sumpah Pemuda 1928. Bahkan beliau juga memiliki andil
dalam proses kelahiran Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ia mendapatkan pendidikan di Langkatsche School di Tanjung Pura pada tahun 1916.


Dan pada tahun 1924, Amir Hamzah masuk sekolah MULO (sekolah menengah
pertama) di Medan. Setahun kemudian ia berpindah ke Jakarta dan menyelesaikan
pendidikan di bangku menengah pertama.

Selesai menempuh pendidikan di sekolah menengah pertama pada tahun 1927, Amir
Hamzah melanjutkan sekolah di AMS (sekolah menengah atas) Solo, Jawa Tengah
dengan mengambil Jurusan Sastra Timur. Setelah lulus, beliau kembali ke Jakarta dan
masuk Sekolah Hakim Tinggi dan meraih Sarjana Muda Hukum.

Baca Juga: Presiden Jokowi Dituduh Pemimpin Diktator, Megawati: Berhadap-


hadapan, Itu Baru Jantan!

Selama masa perantauannya di Pulau Jawa, Amir Hamzah menghujani diri dengan
kebudayaan modern, kebudayaan Jawa dan kebudayaan Asia lain. Dan bersama Sutan
Takdir Alisyahbana serta Armijn Pane, beliau mendirikan majalah Pujangga
Baru yang akhirnya menjadi tonggak berdirinya angkatan sastrawan.

Berita kematian Amir Hamzah yang begitu tragis menjadi catatan akhir yang dirasa
begitu perih bagi sejarah perjuangan dan kesusastraan Indonesia. Bagaimana tidak,
pahlawan dengan kegigihan jiwa demi mempersatukan bangsa justru kehilangan
nyawa karena disiksa dan dipancung.

Santer berhembus kabar dari berbagai sumber yang mengungkapkan dalang di balik
kematian Amir Hamzah adalah barisan Partai Komunis Indonesia (PKI) ketika
revolusi sosial pecah pada 1946 silam. Diketahui sebuah mobilisasi rakyat di
Sumatera mengatasnamakan gerakan sosial rakyat dengan perintah tertinggi dari PKI.

Tanggal 29 Oktober 1945, sebagai pemuda dengan darah bangsawan murni, Amir
Hamzah diangkat menjadi Wakil Pemerintah RI untuk Langkat di Binjai. Gerakan
tersebutlah yang ingin menghilangkan sistem kerajaan dengan merencanakan
pembunuhan Amir Hamzah beserta keluarga kesultanan Melayu karena disebut pro-
Belanda.
Baca Juga: Inilah 8 Fakta Proklamasi Kemerdekaan RI yang Jarang Terungkap
dan Wajib Anda Ketahui

Republik Indonesia yang memang baru seumur jagung masih berada dalam kondisi
yang tak stabil. Terutama ketika revolusi sosial pada awal 1946 membara. Menurut
rumor yang berhembus, Amir Hamzah tengah berkumpul dengan para perwakilan
Belanda yang kembali ke Sumatera saat itu.

Revolusi sosial yang pecah pada 3 Maret 1946 semakin membuat rakyat tak
menyisakan hati kepada keluarga bangsawan karena tak berpihak pada rakyat. Amir
Hamzah menjadi salah satu sasaran amukan rakyat yang diketuai faksi-faksi PKI yang
memang anti-bangsawan.

Kekuasaan Amir Hamzah pun diambil paksa. Bersama keluarganya, beliau ditangkap
pada 7 Maret 1946. Mereka dibawa ke sebuah tempat yang merupakan daerah
kekuasaan faksi sosialis di Kwala Begumit, 10 kilometer dari Kota Binjai.

Menurut kesaksian, para tahanan saat itu, tak terkecuali Amir Hamzah dipaksa
menggali lubang dan disiksa. Dini hari, 20 Maret 1946, Amir Hamzah dihukum
pancung dan beliau pun menghembuskan nafas terakhirnya bersama puluhan tahanan
lain.

Baca Juga: Kisah Bung Karno Menyoal Harga Garam

Jasad sang pujangga kenamaan Indonesia dikebumikan dalam kuburan massal yang
digali sendiri oleh para korban. Baru di tahun 1948 makam yang terletak di Kwala
Begumit tersebut digali dan jenazah diidentifikasi oleh anggota keluarga.

Gigi palsu yang hilang menjadi bukti utama keluarga berhasil mengidentifikasi tulang
belulang Amir Hamzah. Baru pada November 1949, jenazah Amir Hamzah
dimakamkan di Kompleks Masjid Azizi di Tanjung Pura, Langkat, 38 kilometer dari
Kota Binjai.
Untuk menghormati jasa-jasanya, penyair dari era pujangga baru, Amir Hamzah pun
dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, sesuai dengan SK Presiden
RI Nomor 106 / Tahun 1975, tanggal 3 November 1975.

http://www.suratkabar.id/48154/peristiwa/kisah-penyair-sekaligus-pahlawan-amir-hamzah-yang-gugur-
setelah-disiksa-dan-dipancung