Anda di halaman 1dari 26

ISSN: 2302-8556

E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana


Vol.22.3. Maret (2018): 1656-1681
DOI: https://doi.org/10.24843/EJA.2018.v22.i03.p01

Pengaruh Konservatisme Akuntansi, IOS, dan


Good Corporate Governance Pada Kualitas Laba Perusahaan di Bei

Ni Made Ayu Widiariani1


Gerianta Wirawan Yasa2
Ida Bagus Putra Astika3
1
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, Bali, Indonesia
email: ayuwidiariani@gmail.com /Telp: 081805455330
2
Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Udayana, Bali, Indonesia
3
Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Udayana, Bali, Indonesia

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh konservatisme
akuntansi, investment opportunity set, dan good coporate governance pada kualitas laba
perusahaan di Bursa Efek Indonesia. Ketiga faktor tersebut tentunya akan berpengaruh pada
bagaimana laba tersebut disajikan kepada pemakai laporan keuangan sebagai suatu
informasi dalam pengambilan keputusan.Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini
berupa data sekunder. Seluruh perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama
periode 2013-2015 merupakan populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan
yang. Penelitian ini memiliki jumlah sampel sebanyak 381 perusahaan yang dipilih dengan
menggunakan teknik purposive sampling.Analisis regresi linear berganda dipilih sebagai
teknik analisis dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan konservatisme akuntansi
berpengaruh positif pada kualitas laba. Selain itu hasil penelitian juga menunjukkan adanya
pengaruh positifinvestment opportunity setpada kualitas laba, sedangkan hasil penelitian
lainnya menunjukkan tidak terdapat pengaruh antara good corporate governance dan
kualitas laba.
Kata kunci: Kualitas laba, konservatisme akuntansi, investment opportunity set, good
coporate governance.

ABSTRACT
This study aims to obtain the empirical evidence about the influence of accounting
conservatism, investment opportunity set, and good corporate governance on earnings
quality of corporates in the Indonesia Stock Exchange. These three factors will certainly
affect how profits are presented to users of financial statements as information in decision
making.Secondary data are used ini this study. All companies listed in Indonesia Stock
Exchange for the period of 2013-2015arethe population in this study. The numbers of
samples in this study were 381 companies that were selected by using purposive sampling
technique. Multiple linear regression analysis is selected as a data analysis technique. The
results show that accounting conservatism has a positive effect on earnings quality.
Investment opportunity set has a positive effect on earnings quality. In addition, good
corporate governance has no effect on earnings quality.
Keywords: Earnings quality, accounting conservatism, investment opportunity set, good
corporate governance.

1656
Ni Md. Ayu W., Gerianta Wirawan Yasa dan I. B. Putra Astika. Pengaruh …

PENDAHULUAN

Kualitas laba sebuah perusahaan merupakan aspek penting yang digunakan sebagai

pertimbangan keputusan investasi oleh pemakai informasi keuangan. Investor

menggunakan angka laba dalam menganalisis saham yang diterbitkan oleh emiten.

Pengumuman laba perusahaan tidak jarang menimbulkan reaksi pasar. Respon pasar

pada laba membuahkan hasil yang bervariasi tengantung dari jenis perusahaan

maupun rentang waktu (Easton dan Zmijewski, 1989 dan Collins dan Kothari, 1989).

Perubahan pada harga sekuritas dan abnormal returnmerupakan reaksi yang

ditunjukkan dari respon pasar tersebut. Rendahnya kualitas laba akan berdampak

pada pembuatan keputusan pemakai laporan keuangan misalnya investor dan

kreditor, sehingga hal tersebut jugaberpengaruh pada berkurangnya nilai perusahaan.

Laba yang tidak disajikan berdasarkan fakta sebenarnya akan menyesatkan pihak

pengguna. Apabila investor menggunakan laba yang menyesatkan tersebut untuk

membentuk nilai pasar suatu perusahaan, maka akan menimbulkan dampak dimana

laba tersebut tidak mampu mencerminkan nilai pasar perusahaan yang sesungguhnya

(Boediono, 2005).

Kualitas laba dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah

penerapan standar akuntansi oleh sebuah perusahaan yang dalam hal ini erat

kaitannya dengan konservatisme akuntansi. Watts (2003) mendefinisikan

konservatisme akuntansi sebagai prinsip kehati-hatian dalam mengakui keuntungan

dan segera mengakui kerugian dan utang yang mempunyai kemungkinan akan

terjadi.Penerapan akuntansi yang konservatif akan menjadikan laba yang dihasilkan

1657
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.22.3. Maret (2018): 1656-1681

berkualitas karena laba tersebut dapat digunakan sebagai alat prediksi (Kazemi,

2011).Laba yang dihasilkan melalui prinsip yang konservatif merupakan laba dengan

kualitas tinggi karena prinsip tersebut melakukan verifikasi yang lebih tinggi untuk

mengakui laba (Basu, 1997). Menurut LaFond dan Watts (2008), konservatisme

akuntansi sebaiknya diterapkan perusahaan untuk mengurangi kesempatan manajer

dalam memanipulasi angka-angka yang tertera dalam laporan keuangan.

Investment Opportunity Set (IOS) merupakan faktor lainnya yang dapat

mempengaruhi kualitas laba.Sebuah perusahaan akan menghasilkan laba yang lebih

tinggi apabila perusahaan tersebut memiliki tingkat investment opportunity set tinggi.

Pasar dalam hal ini akan memberikan respon yang lebih besar. Besarnya respon pasar

terhadap perusahaan mengindikasikan tingginya kualitas laba yang dihasilkan

perusahaan (Mulyani et. al., 2007).Hasil penelitian berbeda ditemukan oleh Wah

(2002) yang menemukan adanya keterkaitan antara investment opportunity set dengan

kualitas laba perusahaan. Tingginya tingkat investment opportunity set suatu

perusahaan cenderung mengindikasikan tingginya nilai discretionary accrual yang

berdampak pada rendahnya kualitas laba perusahaan.Discretionary accrual yang

tinggi disebabkan oleh Standar Akuntansi Keuangan menyediakankelonggaran bagi

manajemen dalam menentukan kebijakan akuntansi. Hal ini menyediakan kesempatan

bagi manajemen untuk bertindak oportunis.

Tindakan oportunis manajemen dapat dikontrol dengan penerapan good

corporate governanceyang juga dapat mempengaruhi kualitas laba suatu perusahaan.

Laba dengan kualitas tinggi cenderung dihasilkan oleh perusahaan dengan penerapan

1658
Ni Md. Ayu W., Gerianta Wirawan Yasa dan I. B. Putra Astika. Pengaruh …

good corporate governance yang tinggi. Jensen dan Meckling (1976)

mengungkapkan bahwa kepemilikan manajerial sebagai salah satu mekanisme

corporate governance dapat diandalkan untuk mengatasi adanya masalah keagenan.

Manajer akan meningkatkan kinerja dan melakukan berbagai keinginan prinsipal,

apabila manajer juga termasuk dalam kepemilikan saham perusahaan. Dalam hal

mengatasi manajemen laba yang tidak jarang dilakukan oleh manajer, dewan

komisaris berperan sebagai fungsi pengawasan atas pelaporan keuangan sehingga

perusahaan dapat menghasilkan kualitas laba yang baik (Siallagan dan Machfoedz,

2006). Selain itu, pihak lain yang juga turut bertanggung jawab atas laporan keuangan

adalah komite audit dengan melakukan pengawasan terhadap audit eksternal dan

sistem pengendalian internal. Tindakan manajemen juga mampu dikendalikan melalui

proses pengawasan yang dilakukan oleh kepemilikan institusional. Boediono (2005)

mengungkapkan bahwa tindakan oportunis manajemen dapat dikurangi dengan

adanya pengawasan yang intens oleh kepemilikan institusional. Pengawasan dari

berbagai pihak tersebut akan mampu menghasilkan laba dengan kualitas tinggi.

Seluruh jenis perusahaan di BEI selama periode 2013-2015 merupakan

sampel penelitian yang dipilihuntuk memperluas aspek generalisasi hasil penelitian.

Rentang waktu 2013-2015 dipilih karena adanya krisis mata uang rupiah pada tahun

2013, dimana nilai tukar rupiah yang melemah terhadap nilai dolar Amerika Serikat

(AS). Selain itu, pada tahun 2014 terjadi krisis ekonomi yang dialami oleh beberapa

Negara, seperti krisis di Yunani, Amerika Serikat, inflasi di Jepang, serta adanya

perlambatan ekonomi di Cina berpengaruh pada perekonomian di Indonesia. Menurut

1659
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.22.3. Maret (2018): 1656-1681

Lin dan Shih (2002), perusahaan akan cenderung untuk melakukan manajemen laba

dalam masa krisis agar dapat meningkatkan nilai dari kinerja perusahaan. Sehingga,

proses menilai kualitas laba perusahaan go public merupakan hal yang diperlukan

agar investor tidak salah dalam menentukan pilihan dalam berinvestasi. Dalam rangka

memperkuat hasil uji, variabel good corporate governance diukur dengan cara

peneliti melakukan pemeringkatan sendiri berdasarkan penilaian yang telah

ditentukan. Hal ini dilakukan mengingat pemeringkatan good corporate governance

masih bersifat voluntary, sehingga hanya sebagian kecil perusahaan yang

mendaftarkan dirinya pada lembaga pemeringkatan khusus. Rumusan masalah yang

diajukan berdasarkan uraian latar belakang di atas adalah apakah konservatisme

akuntansi, Investment Opportunity Set, dan Good Corporate Governanceberpengaruh

pada kualitas laba perusahaan di BEI?

Berkaitan dengan rumusan masalah tersebut diatas maka penelitian ini

bertujuanuntuk memperoleh bukti empiris mengenaipengaruh konservatisme

akuntansi, Investment Opportunity Set, dan Good Corporate Governancepada

kualitas laba perusahaan di BEI. Hasil penelitian diharapkan mampu menambah

informasi, wawasan, dan pengetahuan bagi pembaca maupun peneliti selanjutnya

tentang teori keagenan mengenai pengaruh konservatisme akuntansi, investment

opportunity set, dan good corporate governance pada kualitas laba. Selain itu,

penelitian ini diharapkan mampu menjadi suatu masukan dan pertimbangan

untukinvestor maupun kreditor dalam menganalisis kualitas laba berdasarkan

1660
Ni Md. Ayu W., Gerianta Wirawan Yasa dan I. B. Putra Astika. Pengaruh …

konservatisme akuntansi, investment opportunity set, dan good corporate governance

sehingga mampu menghasilkan pengambilan keputusan yang tepat.

Hubungan antara prinsipal dan agen digambarkan dalam teori keagenan,

dimana prinsipal akan mendelegasikan beberapa wewenangnya kepada

agen.Eisenhardt (1989) mengemukakan bahwa teori keagenan didasari atas beberapa

asumsi antara lain asumsi tentang sifat manusia, informasi, dan keorganisasian.

Asumsi sifat manusia menyatakan bahwa manusia cenderung mementingkan diri

sendiri, memiliki keterbatasan rasional, dan mengindari risiko. Informasi merupakan

suatu barang komoditi yang dapat diperjualbelikan seperti yang ditekankan pada

asumsi informasi. Sedangkan asumsi keorganisasian terkait dengan adanya konflik

yang terjadi antar anggota organisasi, adanya asimetri informasi, dan efisiensi sebagai

kriteria efektivitas.

Teori keagenan menggambarkan adanya berbagai hubungan kontrak antara

pemangku kepentingan perusahaan yang tidak jarang menyebabkan konflik di dalam

perusahaan. Investor kerap kali berupaya mengatur manajer dengan memanfaatkan

beberapa kebijakan untuk mentransfer kekayaan dari kreditor. Menurut Juanda

(2007), penerapan konservatisme akuntansi akan mempersulit upaya investor tersebut

karena prinsip ini menciptakan kontrak yang efisien bagi seluruh pihak yang

berkepentingan.Masalah keagenan yang ada dalam sebuah perusahaan sewaktu-waku

dapat menghambat pertumbuhan perusahaan, dimana pertumbuhan perusahaan ini

dapat dilihat melalui investment opportunity set.Opsi pertumbuhan suatu perusahaan

dapat dilihat dari nilai investment opportunity setyang tergantung pada discretionary

1661
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.22.3. Maret (2018): 1656-1681

expendituremanajer. Dalam hal ini manajemen tidak jarang akan membuat keputusan

pada kondisi yang tidak pasti dan sebagai akibatnya tindakan manajemen akan

menjadi unobservable. Hal tersebut menyebabkan principal tidak mengetahui apakah

manajemen telah bertindak sesuai keinginan principal atau tidak. Sesuai asumsi sifat

dasar manusia, maka manajemen.

Berdasarkan asumsi sifat dasar manusia yang mementingkan diri sendiri,

maka manajemen berkesempatan untuk memperoleh berbagai informasi dan hanya

akan menyampaikan informasi yang dapat menambah kesejahteraan pribadinya. Hal

tersebut akan memicu adanya tindakan manajemen laba dalam perusahaan. Bistrova

dan Lace (2012) menemukan bahwa manipulasi laporan keuangan dapat

diminimalisasi dengan penerapangood corporate governance.

Beberapa peneliti telah melakukan uji mengenai pengaruh variabel yang

digunakan dalam penelitian. Pada tahun 2007, Rachmawati dan Triatmoko

memperoleh hasil penelitian yang menunjukkan adanya pengaruh negatif antara

investment opportunity set dan kualitas laba. Hasil penelitian serupa juga dijumpai

oleh Wahh pada tahun 2002. SebaliknyaMulyaniet al. (2007), mengemukakan

bahwaadanya hubungan yang positif antara investment opportunity set dankualitas

laba.

Penman dan Zhang melakukan penelitian pada tahun 2002 dengan hasil yang

menunjukkan bahwa tingginya tingkat penerapan konservatisme akuntansi sebuah

perusahaan menghasilkan laba yang berkualitas dikarenakan prinsip ini tidak

menyertakan laba yang belum terealisasi pada suatu periode dalam laporan keuangan.

1662
Ni Md. Ayu W., Gerianta Wirawan Yasa dan I. B. Putra Astika. Pengaruh …

Watts (2003) menyatakan prinsip ini juga bermanfaat untuk mencegah adanya

pembagian dividen yang berlebihan kepada investor sehingga mampu mengatasi

konflik kepentingan yang ada dalam perusahaan. Terlebih lagi dalam penelitiannya

yang dilakukan pada tahun 2007, Fala menjumpai penerapan konservatisme akuntansi

berpengaruh positif pada kualitas laba dan tingginya nilai perusahaan. Sependapat

dengan Fala (2007), Kazemi (2011) memperoleh hasil penelitian yang menunjukkan

adanya pengaruh positif antara konservatisme akuntansi dan kualitas laba. Penelitian

oleh Kazemi dilakukan terhadap perusahaan-perusahaan di Iran dengan menganalisis

persistensi laba, relevansi laba, prediktabilitas laba, dan ketepatan waktu

Kualitas laba dan konflik keagenan adalah dua hal yang saling mempengaruhi.

Demi pemenuhan kepentingn pribadi, manajemen tidak jarang melaporkan laba yang

telah dimanipulasi sehingga menghasilkan laba yang berkualitas rendah. Tindakan

tersebutlah yang tidak jarang akan memicu suatu konflik dalam perusahaan.

Rancangan mekanisme good corporate governance diyakini mampu meredam

konflik kepentingan tersebut. Suaryana (2005) membuktikan hal tersebut dari

penelitiannya yang memperoleh hasil bahwa pasar memberikan penilaian laba yang

lebih baik terhadap perusahaan perusahaan yang memiliki komite audit dibandingkan

yang tidak. Mekanisme corporate governancejuga mampu mempengaruhi kualitas

laba perusahaan (Siallagan dan Machfoedz, 2006). Selain itu, dalam penelitiannya,

Ismail et al. (2010) memperoleh hasil yang menunjuukan bahwa adanya hubungan

positif antara ukuran dewan direksi dan ukuran komite audit dengan tingkat kualitas

laba.

1663
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.22.3. Maret (2018): 1656-1681

Teori agensi menyatakan perusahaan sebagai tempat bertemunya berbagai

kontrak dari pihak-pihak yang berkepentingan. Masing-masing pihak mengupayakan

suatu kontrak yang mampu memberikan profitabilitas yang selalu meningkat

sehingga kesejahteraan pribadinya akan terpenuhi. Demi keberlangsungan sebuah

perusahaan, tentunya tindakan tersebut harus diminimalisir, misalnya dengan

penerapan konservatisme akuntansi. Financial Accounting Standars Board (FASB)

menyatakan bahwa proksi yang sesuai digunakan untuk mengukur ketidakpastian dan

risiko dalam bisnis adalah konservatisme akuntansi. Watts (2003) mengungkapkan

bahwa konservatisme akuntansi mampu menekan pengeluaran terkait biaya agensi

maupun biaya sosial lainnya. Watts (2003) juga menyatakan bahwa prinsip ini

mampu mencegah tindakan manajemen untuk membesar-besarkan laba serta tidak

menyajikan laba dan aktiva yang overstate.Pada umumnya, manajer ingin

mendapatan penilaian yang baik dari pemegang saham sehingga menarik minat

investor terhadap perusahaan tersebut. Penilaian yang baik tersebut terkadang datang

dari pelaporan laba yang dibesar-besarkan oleh pihak manajemen. Untuk mengatasi

permasalahan tersebut, diperlukan konsistensi dalam penerapan prinsip

konservatisme akuntansi.

Penman dan Zhang (2002) membuktikan konsistensi dalam penerapan prinsip

konservatisme akuntansi mampu memberikan laba yang berkualitas tinggi. Prinsip ini

juga mampu menghasilkan laba yang berkualitas dengan menekan tindakan

membesarkan laba sehingga mampu mencerminkan nilai perusahaan yang

sesungguhnya Fala (2007). Sadidi (2011) menyatakan bahwa laba yang berkualitas

1664
Ni Md. Ayu W., Gerianta Wirawan Yasa dan I. B. Putra Astika. Pengaruh …

dapat dicerminkan oleh perbedaan returnaset operasional dan return saham pada

tahun berikutnya yang mampu digambarkan oleh indeks penerapan konservatisme.

Berdasarkan pemaparan mengenai beberapa penelitian yang telah dilakukan

sebelumnya, maka penulis berpendapat bahwa tingginya penerapan konservatisme

akuntansi akan menghasilkan kualitas laba yang tinggi pula. Hal ini dikarenakan

penerapan konservatisme akuntansi akan melindungi pihak investor dari kesalahan

dalam menganalisis laba suatu perusahaan. Konservatisme akuntansi juga

memberikan keuntungan bagi pengguna laporan keuangan karena mampu menekan

perilaku oportunistik manajemen untuk menaikkan laba. Sehingga, hipotesis pertama

yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut.

H1: Konservatisme akuntansi berpengaruh positifpada kualitas laba perusahaan di


BEI.

Berdasarkan asumsi sifat dasar manusia yang terdapat dalam teori keagenan,

maka semua individu akan bertindak sesuai dengan kepentingan dirinya masing-

masing. Prinsipal sebagai pemegang saham dipandang hanya tertarik pada

meningkatnya profitabilitas yang diperolehnya sedangkan para agen akan memenuhi

keinginannya terkait dengan keuntungan secara finansial dan berbagai syarat yang

terdapat dalam hubungan kontraknya dengan principal. Perubahan cara pandang

investor terhadap suatu perusahaan dipengaruhi oleh salah satu faktor yaitu peluang

investasi perusahaan Kallapur (1999). Tingginya nilai investment opportunity setakan

berdampal pada tingginya peluang investasi yang dimiliki oleh perusahaan. Peluang

1665
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.22.3. Maret (2018): 1656-1681

investasi tersebut dapat berupa investasi suatu aktiva perusahaan dalam jangka waktu

yang lama.

Penelitian yang dilakukan Wahh (2002) menyatakan nilai investement

opportunity set yang tinggi mengindikasikan tingginya discretionaryaccrual, namun

tingkat discretionaryaccrualakan menurun apabila perusahaan memiliki auditor dari

Big 5. Hasil ini sejalan dengan penelitian Rachmawati dan Triatmoko (2007) yang

menunjukkan adanya pengaruh positif antara investement opportunity setdan

discretionaryaccrual, sehingga akan berpengaruh pada rendahnya kualitas laba.

Investement opportunity set dapat mempengaruhi kualitas laba karena variabel

ini merupakan dasar penentu klasifikasi pertumbuhan sebuah perusahaan di masa

mendatang. Oleh karena itu penulis berpendapat bahwa semakin tinggi investment

opportunity set makaakan menghasilkan rendahnya kualitas laba perusahaan.Hal

tersebut dikarenakan untuk menarik minat investor, manajer akan lebih banyak

memanfaatkan discretionary accrual untuk menghasilkan laba yang tinggi. Tingkat

discretionary accrual yang tinggi tidak jarang menimbulkan kesalahan estimasi

mengenai laba masa mendatang. Dengan demikian dapat dikatakan laba sekarang

tidak mampu mencerminkan laba masa mendatang atau dengan kata lain perusahaan

akan menghasilkan laba yang berkualitas rendah. Dengan demikian, hipotesis kedua

dirumuskan sebagai berikut.

H2: Investment Opportunity Set berpengaruh negatif pada kualitas laba perusahaan di
BEI.

1666
Ni Md. Ayu W., Gerianta Wirawan Yasa dan I. B. Putra Astika. Pengaruh …

Suatu perusahaan pastinya memiliki berbagai kontrak, salah satunya adalah

kontrak yang disepakati oleh pemilik modal dan manajer perusahaan. Dalam hal ini,

baik principal maupun agen akan berupaya untuk mengoptimalkan kesejahteraan

pribadinya masing-masing dengan memanfaatkan informasi yang diperolehnya.

Sehingga hal tersebut memotivasi manajemen untuk memanipulasi laporan keuangan.

Perusahaan dengan good corporate governance akan meminimalisasi manipulasi

terhadap laporan keuangan (Bistrova dan Lace, 2012).

Good corporate governance mampu memberikan tambahan nilai ekonomi

suatu organisasi baik organisasi public, organisasi swasta, maupun organisasi nirlaba,

karena merupakan faktor krusial yang mampu menggambarkan secara keseluruhan

mengenai organisasi terkait (Meeampol et al., 2013). Manipulasi laba dapat dihindari

apabila perusahaan melaksanakan seluruh mekanisme corporate governance sehingga

perusahaan pun mampu menghasilkan laba yang berkualitas (Almilia, 2006). Jensen

dan Meckling (1976) menyatakan bahwa kepemilikan manajemen sebagai salah satu

mekanisme good corporate governance, dinilai mampu memperbaiki adanya potensi

perbedaan kepentingan dalam perusahaan. Kepemilikan manajerial dibentuk dengan

tujuan mampu menghindari konflik kepentingan yang mempengaruhi kualitas laba

perusahaan. Berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya, penulis berpendapat bahwa

semakin tingginya tingkat penerapangood corporate governance suatu perusahaan,

menyebabkan tingginya kualitas laba yang dihasilkan oleh perusahaan. Good

corporate governancemampu mengurangi konflik keagenan sehingga tindakan

oportunistik masing-masing pihak dapat ditekan. Akibatnya, perusahaan akan

1667
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.22.3. Maret (2018): 1656-1681

melaporkan laba dengan kualitas yang baik dan tentunya tidak akan menyesatkan

pemakai laporan keuangan. Dengan demikian, berikut inimerupakan hipotesis ketiga

yang dapat dirumuskan.

H3: Good Corporate Governance berpengaruh positif pada kualitas laba perusahaan
di BEI.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dengan mengakses situs BEI (www.idx.co.id). Data yang

digunakan bersumber dari situs resmi BEI. Laporan keuangan tahunan perusahaan

merupakan data kuantitatif yang digunakan. Sedangkan data kualitatif yang

digunakanseperti daftar nama-nama perusahaan yang diteliti laporan keuangannya

dan berbagai sumber yang terkait.Pengumpulan data menggunakanmetode observasi

non partisipan berupa dokumentasi dari laporan keuangan perusahaan yang telah

diaudit. Peneliti menggunakan seluruh perusahaandi BEI sebagai populasi penelitian.

Metode pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan

kriteria sebagai berikut. Perusahaan sampel merupakan perusahaan yang terdaftar di

BEI selama periode 2013-2015. Perusahaan menerbitkan laporan keuangan untuk

periode 2013-2015 yang telah diaudit. Perusahaan menggunakan rupiah sebagai mata

uang pelaporan untuk menghindari bias karena selisih perhitungan kurs.

Kualitas laba merupakan dependent variable dalam penelitian ini yang

diproksikan dengan cumulative abnormal return(CAR). CAR menunjukkan seberapa

besar respon pasar atas informasi akuntansi yang diberikan oleh perusahaan. Respon

1668
Ni Md. Ayu W., Gerianta Wirawan Yasa dan I. B. Putra Astika. Pengaruh …

pasar tersebut dihitung denganmarketadjusted model.Return indeks pasar merupakan

penduga terbaik untuk mengestimasi return sekuritas dalam model ini.

1) Menghitung Cummulative Abnormal Return (CAR)

Model ini tidak memerlukan periode estimasi untuk membentuk model estimasi,

sehingga penghitungan return abnormal adalah:

ARi.t= Ri.t – Rm.t................................................................................................ (1)

Keterangan
ARi.t = Abnormal return perusahaan i pada hari t
Ri.t = Return tahunan perusahaan i periode t
Rm.t = Return indeks pasar pada hari t

Pi.t − Pi.t−1
R i.t = … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … … . (2)
Pi.t−1
Keterangan
Pit = Harga penutupan saham perusahaan i pada periode t
Pit-1 = Harga penutupan saham perusahaan i pada periode t-1.
IHSGt − IHSGt−1
R m.t = … … … … … … … … … … … … … … … … … … . … … . . (3)
IHSGt−1
Keterangan
IHSGt = Indeks Harga Saham Gabungan pada waktu t
IHSGt-1 = Indeks Harga Saham Gabungan pada waktu t-1.

Selanjutnya, event window pendek digunakan dalam penghitungan CARterdiri


dari 1 hari peristiwa,3 hari sebelum peristiwa, dan 3 hari sesudah peristiwa.
Jangka waktu tersebut digunakan karena cukup mampumendeteksi abnormal
returndan untuk mencegah adanyaconfounding effectyang turut berpengaruh

1669
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.22.3. Maret (2018): 1656-1681

pada abnormal return tersebut. Akumulasi dari abnormal return dirumuskan


sebagai berikut:
+3

CAR it = CAR (−3,+3) = AR it … … … … … … … … … … … … … … … … … … … (4)


−3

Keterangan
CARit = Cummulative Abnormal Return perusahaan i pada tahun t.
ARit = Return abnormal perusahaan i pada hari t.

Penelitian ini memiliki tiga variabel bebas yang terdiri darikonservatisme

akuntansi (KA), Investment Opportunity Set (IOS), sertaGood Corporate Governance

(GCG)yang dijelaskan sebagai berikut.

Konservatisme akuntansi merupakan kehati-hatian dalam melaporkan aset

tidak overvalue dan tidak melaporkan kewajiban secara undervalue(Watts,

2003).Konservatisme akuntansi diukur melaluinet asset measureyang digunakan oleh

Beaver dan Ryan (2000) yang mencerminkan nilai pasar relatif terhadap nilai buku

perusahaan. Book value dihitung menggunakan nilai ekuitas pada tanggal 31

Desember dan harga penutupan saham pada tanggal publikasi digunakan untuk

mengukurmarket value.

𝑀𝑎𝑟𝑘𝑒𝑡𝑃𝑟𝑖𝑐𝑒 𝑖𝑡
𝑀𝑇𝐵𝑖𝑡 = .............................................................. ……… (5)
𝐵𝑜𝑜𝑘𝑉𝑎𝑙𝑢𝑒𝑃𝑒𝑟𝑆 ℎ𝑎𝑟𝑒 𝑖𝑡

Keterangan:
MTB = Market to Book Value
Market Price it = harga penutupan per saham biasa perusahaan i pada
tanggal publikasi laporan keuangan

1670
Ni Md. Ayu W., Gerianta Wirawan Yasa dan I. B. Putra Astika. Pengaruh …

Book Value Per Shareit = nilai ekuitas per saham biasa pada tanggal 31
Desember perusahaan i pada tahun t
Investment Opportunity Set Oleh karena variabel ini tidak dapat diobservasi,

maka dibutuhkan proksi dalam pengukurannya. Proksi yang dipilih untuk

menggambarkan nilai investment opportunity set adalah market value to book value of

assets ratio yang dirumuskan sebagai berikut:

Total Aset − Total Ekuitas + (Jumlah Saham Beredar x 𝐶𝑙𝑜𝑠𝑒 𝑃𝑟𝑖𝑐𝑒)


MVBVA = … (6)
Total Aset

Good corporate governance diukur menggunakan skor pemeringkatan yang

diadaptasi dari kerangka penilaian Forum for Corporate Governance in Indonesia

(FCGI). Secara singkat, ada lima aspek yang dinilai dalam kerangka penilaian Good

Corporate Governance versi FCGI ini, yaitu hak pemegang saham, kebijakan good

corporate governance, praktik good corporate governance, pengungkapan, dan

audit.Setiap aspek terdiri dari beberapa indikator penilaian. Adapun lebih jelasnya

rumus yang digunakan untuk menghitung nilai good corporate governance adalah

sebagai berikut:

Skor yang diberikan peneliti


GCG = x Bobot x 100 … … … … … … … (7)
Skor tertinggi

Sebagai contoh, untuk perusahaan A peneliti memberikan nilai 5 untuk aspek

hak pemegang saham, nilai 6 untuk aspek kebijakan good corporate governance,

nilai 19 untuk aspek praktik good corporate governance, nilai 6 untuk aspek

1671
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.22.3. Maret (2018): 1656-1681

pengungkapan, dan nilai 5 untuk aspek audit. Maka perhitungan untuk skor good

corporate governance adalah sebagai berikut:

5 6 19
𝐺𝐶𝐺 = 𝑥 20% 𝑥 100 + 𝑥 15% 𝑥 100 + 𝑥 30% 𝑥 100
6 7 19

6 5
+ 𝑥 20% 𝑥 100 + 𝑥 20% 𝑥 100
6 6

= 16,6667 + 12,8571 + 30 + 20 + 16,6667

= 96,1911

Berdasarkan perhitungan diatas, maka diperoleh skor GCG untuk perusahaan

A adalah sebesar 96,1911. Analisis regresi linear berganda dipilih untuk memecahkan

masalah penelitian dengan menggunakan programStatistical Package for the Social

Sciences (SPSS) (SPSS). Terdapat beberapa tahap analisis yang dilakukan antara lain

perumusan model analisis regresi linear berganda, uji validitas model (Uji F) dan uji

parsial (Uji t).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh masing-masing variabel dapat diketahui melalui hasil analisis regresi linear

berganda. Adapun hasil analisis dapat ditunjukkan pada Tabel 1.

Tabel 1.
Rangkuman Hasil Analisis Regresi Linear Berganda
Nama Variabel Koefisien Regresi t-test Sig. t
KA 0,085 4,737 0,000
IOS 0,145 5,287 0,000
GCG -0,002 -0,015 0,988
Konstanta 0,092
Fhitung 9,928
Fsig 0,000
Sumber: Data diolah, 2017

1672
Ni Md. Ayu W., Gerianta Wirawan Yasa dan I. B. Putra Astika. Pengaruh …

Tabel 1 telah menyajikan nilai koefisien regresi untuk variabel konservatisme

akuntansi (KA), investment opportunity set (IOS), dan good corporate governance

(GCG), maka dibentuk persamaan sebagai berikut.

KL = 0,092+ 0,085 (KA) + 0,145 (IOS) – 0,002(GCG) + e

Pengujian terhadap fit atau tidaknya suatu model regresi dilakukan dengan

menggunakan uji F. Fit atau tidaknya model regresi dapat dilihat nilai signifikansi

yang lebih besar dari α, yang menunjukkan bahwa model regresi yang digunakan

tidak fit. Tabel 1 menunjukkan nilai Sig. F sebesar 0,001< 0,05 yang berarti model

regresi layak digunakan dalam penelitian ini.

Untuk melihat pengaruh secara parsial dari variabel konservatisme akuntansi,

investment opportunity set, sertagood corporate governancepada variabel dependen,

maka dilakukan uji hipotesis yaitu uji t.Uji t dilakukan dengan membandingkan nilai

signifikansi masing-masing variabel dengan taraf signifikansi 0,05 (α=5%).

Konservatisme akuntansi memiliki pengaruh positif pada kualitas laba dinyatakan

dalam hipotesis pertama.Nilai koefisien beta (β1)sebesar0,085 dengan nilai

signifikansi 0,000 yang lebih kecil dari α = 0,05menunjukkan bahwa H1 diterima. Ini

konservatisme akuntansi memiliki pengaruh positif pada kualitas laba. Hasil

penelitian ini serupa sebelumnya telah ditemukan oleh Penman dan Zhang (2002) dan

Fala (2007) yang mengungkapkan bahwa penerapan konservatisme akuntansi

berpengaruh pada peningkatan kualitas laba perusahaan.Penerapan konservatisme

membantu perusahaan dalam penyempurnaan laporan keuangan agar. Dalam

1673
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.22.3. Maret (2018): 1656-1681

menghadapi kondisi ekonomi yang tidak pasti dimasa mendatang, perusahaan perlu

lebih hati-hati melakukan pengukuran dan pengakuan dalam laporan keuangan. Hal

tersebut dilakukan untuk mencerminkan bahwa perusahaan telah mempertimbangkan

berbagai risiko yang melekat pada situasi bisnis.

Konservatisme mampu mengurangi pandangan optimis manajemen dan

menghindari sikap oportunistik manajemen dalam penyusunan laporan keuangan.

Penyajian laba dan aktiva yang didasarkan pada konservatisme akuntansi mampu

meningkatkan kualitas laba perusahaan dan laba tersebut dapat digunakan untuk

menghitung nilai perusahaan (Feltham dan Ohlson, 1995). Laba yang disajikan

berdasarkan prinsip yang konservatif merupakan laba yang berkualitas karena laba

yang disajikan tersebut adalah laba yang sesungguhnya.

Hipotesis kedua menyatakan bahwa adanya hubungan negatif antara

investment opportunity setdan kualitas laba.Tabel 1 menunjukkan bahwa nilai

koefisien beta (β2)adalah 0,145 dengan tingkat signifikansi 0,000 yang lebih kecil

dari α = 0,05 yang berarti bahwa H2 ditolak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa

investment opportunity setmemiliki pengaruh positif pada kualitas laba.Kegiatan riset

dan pengembangan mendukung proyek-proyek untuk investasi dimasa mendatang.

Nilai investment opportunity set digunakan sebagai penentu klasifikasi pertumbuhan

perusahaan di masa mendatang melalui proyek-proyek yang mampu meningkatkan

pertumbuhan perusahaan. Selain itu, cara pandang kreditor, investor, maupun pemilik

juga dipengaruhi oleh investment opportunity set yang beranggapan bahwa

1674
Ni Md. Ayu W., Gerianta Wirawan Yasa dan I. B. Putra Astika. Pengaruh …

perusahaan dengan nilai investment opportunity setyang tinggi mampu menghasilkan

return yang tinggi pula.

Perusahaan yang memiliki nilai investment opportunity set tinggi akan

memiliki pertumbuhan yang tinggi di masa mendatang dan menyebabkan laba

perusahaan akan meningkat.Sehingga respon yang besar akan diberikan oleh pasar

pada perusahaan yang memiliki prospek pertumbuhan tersebut. Besarnya respon

pasar tersebut akan mengakibatkan reaksi yang semakin besar untuk harga sekuritas.

Mulyani etal.(2007) menyatakan bahwa investment opportunity set berpengaruh

positif pada kualitas laba. Perusahaan yang memiliki nilai investment opportunity set

yang tinggi akan memiliki earnings response coefficients yang tinggi (Mulyani et al.,

2007). Tingginya earnings response coefficientsberarti bahwa laba perusahaan

berkualitas tinggi.

Hipotesis ketiga menunjukkan pengaruh good corporate governance pada

kualitas laba, dimana hipotesis ini menyatakan bahwa good corporate

governanceberpengaruh positif pada kualitas laba.Tabel 1menunjukkan nilai

koefisien beta (β3)sebesar -0,002 dan nilai signifikansi variabel good corporate

governance sebesar 0,988 yang lebih besar dari α = 0,05 yang berarti bahwa H 3

ditolak. Ini berarti bahwa good corporate governance tidak berpengaruh pada

kualitas laba. Hasil ini tidak sejalan dengan penelitian Almilia (2006) dan Meeampol

et al. (2013) yang menyatakan bahwa good corporate governance memiliki pengaruh

pada kualitas laba. Good corporate governance merupakan suatu mekanisme

pengawasan baik dari manajemen perusahaan maupun shareholder. Fungsi

1675
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.22.3. Maret (2018): 1656-1681

pengawasan ini merupakan hal yang harus diterapkan oleh seluruh perusahaan di

BEI. Meskipun telah terdapat lembaga khusus yang melakukan pemeringkatan good

corporate governance, namun hanya terdapat sebagian kecil perusahaan yang

mendaftarkan dirinya dalam lembaga tersebut.

Struktur good corporate governance di Indonesia masih terdapat hubungan

antara dewan komisaris perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya,

sehingga dapat memperlemah fungsi pengawasan (Fala, 2007). Selain itu Fala (2007)

juga menyatakan bahwa struktur kepemilikan manajerial di Indonesia lebih

didominasi oleh keluarga juga berdampak pada lemahnya fungsi pengawasan. Di sisi

lain, kepemilikan institusional sebagai bagian dari good corporate governance

merupakan pemilik sementara dan lebih fokus pada labajangka pendek,

sehinggafungsi pengawasan yang dilakukan pun bersifat jangka pendek (Porter,

1992).

Komite audit juga dinilai belum mampumengurangi tindakan oportunis

manajemen. Puspitowati dan Mulya (2014) menyatakan sebagian besar perusahaan di

Indonesia melakukan pengambilan keputusan berdasarkan atas pengaruh dari

pemegang saham pengendali, seperti misalnya pengambilan keputusan mengenai

anggota komite audit. Pengaruh tersebut mengakibatkan pemilihan anggota komite

audit bukan berdasarkan kompetensi yang dimiliki melainkan pemilihan dilakukan

berdasarkan rekomendasi yang diberikan oleh pemegang saham pegendali. Hal ini

tentunya akan berdampak pada rendahnya efektifitas kinerja audit dalam fungsi

pengawasan atas laporan keuangan. Tentunya hal tersebut akan berdampak pada

1676
Ni Md. Ayu W., Gerianta Wirawan Yasa dan I. B. Putra Astika. Pengaruh …

lemahnya pengawasan komite audit terhadap laporan keuangan perusahaan, sehingga

pemakai laporan keuangan tidak dapat meyakini kualitas labayang dilaporkan dalam

laporan keuangan.

SIMPULAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konservatisme akuntansi berpengaruh positif

pada kualitas laba. Penerapan konservatisme akuntansi akan menghasilkan laporan

keuangan dengan laba yang berkualitas dikarenakan prinsip ini mampu menekan

tindakan oportunistik pihak manajemen. Selain itu hasil penelitian juga menunjukkan

bahwa investment opportunity set berpengaruhpositif pada kualitas laba. Tingginya

nilai investment opportunity setakan berpengaruh pada tingginya kualitas laba yang

dihasilkan perusahaan. Hal ini dikarenakan perusahaan dengan nilai investment

opportunity set yang tinggi akan mendapatkan respon pasar yang lebih besar. Respon

tersebut mengindikasikan bahwa laba yang disajikan perusahaan merupakan laba

yang berkualitas. Di sisi lain,good corporate governance tidak berpengaruh pada

kualitas laba.Good corporate governance merupakan alat yang dapat menyelaraskan

kepentingan yang berbeda antara prinsipal dan agen sehingga dapat memberi nilai

tambah bagi para stakeholder dan shareholders. Namun, belum ada penilaian yang

bersifat mandatory terhadap pelaksanaan good corporate governance sehingga masih

banyak perusahaan yang belum melaksanakan sepenuhnya mekanisme good

corporate governance.

Para pelaku pasar modal diharapkan lebih cermat dalam menilai kualitas laba

perusahaan. Hal ini dikarenakan kualitas laba dipengaruhi oleh beberapa faktor.

1677
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.22.3. Maret (2018): 1656-1681

Kesalahan dalam menilai kualitas laba perusahaan akan berdampak pada salahnya

pengambilan keputusan investasi.Berdasarkan hasil penelitian, manajemen

perusahaan diharapkan mampu meningkatkan aspek praktik good corporate

governance, khususnya mengenai pelaksanaan rapat Dewan Direksi maupun Dewan

Komisaris sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan. Selain itu, manajemen juga

perlu menaruh perhatian terkait dengan penerapan whistleblowing. Hal ini bermanfaat

sebagai media untuk penyampaian berbagai penyimpangan yang terjadi di

perusahaan. Implementasi good corporate governance yang baik akan meningkatkan

kualitas laba yang disajikan dikarenakan adanya pengawasan berbagai pihak yang

terlibat dalam aktivitas bisnis perusahaan.

Penelitian selanjutnya perlu mempertimbangkan jumlah sampel penelitian

untuk menghindari data yang tidak berdistribusi normal. Peneliti selanjutnya juga

dapat menggunakan metode lainnya dalam pengukuran good corporate governance

atau dapat menggunakan variabel moderasi. Saran ini diajukan dengan alasan hasil uji

pengaruh variabel good corporate governance pada kualitas laba dalam penelitian ini

berbeda dengan hasil uji dalam penelitian sebelumnya.

REFERENSI

Almilia, Luciana Spica, Lailul L Sifa. 2006. Reaksi Pasar terhadap Publikasi
Corporate Governance Perception Index pada Perusahaan yang Terdaftar di
Bursa Efek Jakarta.Simposium Nasional Akuntansi, 9: 23-26.

Basu, Sudipta. 1997. The Conservatism Principle and Asymmetric Timeliness of


Earnings. Journal of Accounting and Economics, 24: 3-37.

1678
Ni Md. Ayu W., Gerianta Wirawan Yasa dan I. B. Putra Astika. Pengaruh …

Beaver and Ryan. 2000. Biases and Lags in Book Value and Their Effects on The
Ability of The Book to Market Ratio to Predict Book Return on Equity. Journal
of Accounting Research, 38: 127-148.

Bistrova, Julia and Natalja Lace. 2012. Quality of Corporate Governance System and
Quality of Reported Earnings: Evidence From CEE Companies. Journal of
Economics and Managements, Vol. 17 (1): 55-61.

Boediono, Gideon SB. 2005. Kualitas Laba: Studi Pengaruh Mekanisme Corporate
Governance dan Dampak Manajemen Laba dengan Menggunakan Analisis
Jalur. Makalah Simposium Nasional Akuntansi VIII. Solo, 15-16 September
2005.

Cheng, Fan Fah and Lee Hui Sin. 2014. Relationship between Earnings Response
Coefficient of Insurance and ExGrowth Opportunities, Earned Premium
Incomes and Commissions in Malaysia. International Bussiness Research,7 (6):
164-173.

Collins, D.W. and S.P. Kothari. 1989. An Analysis of Intertemporal and Cross-
Sectional Determinants of Earnings Response Coefficients. Available from:
http://papers.ssrn.com.

Easton, Peter D. and Mark E. Zmijewski. 1989. Cross Sectional Variation In The
Stock Market Response to Accounting Earnings Announcements.Journal of
Accounting and Economics,11: 117-141.

Eisenhardt, Kathleem M. 1989. Agency Theory: An Assesment and Review.Academy


of Management Review, 14: 57-74.

Fala, Dwiyana A. S. 2007. Pengaruh Konservatisme Akuntansi terhadap Penilaian


Ekuitas Perusahaan Dimoderasi Oleh Good Corporate Governance.Simposium
Nasional Akuntansi X. Makassar.

Feltham, J. and J. Ohlson. 1995. Valuation and Clean Surplus Accounting for
Operating and Financial Analysis. Contemporary Accounting Research, 11:
687-731.

Ismail, W.A., Dunstan, and Zijl T.V. 2010. Earnings Quality and Corporate
Governance Surrounding Implementation the Code of Corporate Governance
Malaysia. Available from: http://papers.ssrn.com.

1679
ISSN: 2302-8556
E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana
Vol.22.3. Maret (2018): 1656-1681

Jensen, Michael C. dan W.H. Meckling. 1976. Theory of The Firm: Managerial
Behavior, Agency Cost and Ownership Structure. Journal of Financial
Economics, 3: 305-360.

Juanda, Ahmad. 2007. Perilaku Konservatif Pelaporan Keuangan dan Risiko Litigasi
pada Perusahaan Go Publik. Naskah Publikasi Penelitian Dasar Keilmuan.

Kallapur, Sanjay and Mark A. Trombley. 1999. The Association Between Investment
Opportunity Set Proxies and Realized Growth.Journal of Business &
Accounting, 26 (3): 133-150.

Kazemi, H. 2011. Investigating The Relationship Between Accounting Conservatism


and Earnings Attributes. World Applied Sciences Journal, 12: 1385-1396.

LaFond, R., and R. L. Watts. 2008. The information Role of Conservatism.The


Accounting Review, 83: 447–478.

Meeampol, Sasivimol. 2013. The Relationship Between Corporate Governance and


Earnings Quality: A Case Study of Listed Companies in the Stock Exchange of
Thailand (Set). Available from: http://papers.ssrn.com.

Muid, Dul. 2009. Pengaruh Mekanisme Corporate Governance terhadap Kualitas


Laba. Jurnal Bisnis dan Akuntansi, 4 (2): 94-108.

Mulyani, S., N.F. Asyik, dan Andayani. 2007. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Earnings Response Coefficient Pada Perusahaan yang Terdaftar Di Bursa Efek
Jakarta. JAAI, 11 (1): 35-45.

Novianti, Rizky. 2012. Kajian Kualitas Laba pada Perusahaan Manufaktur yang
Terdaftar di BEI. Accounting Analysis Journal, 1 (2): 1-6.
Pagalung, G. 2003. Pengaruh Kombinasi Keunggulan dan Keterbatasan Perusahaan
Terhadap Set Kesempatan Investasi (IOS). Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, 6:
249-263.

Penman, S.H., & Zhang, X-J. 2002. Accounting Conservatism, The Quality of
Earnings and Stock Returns. The Accounting Review, 237-264.

Puspitowati, Nela Indah dan Anissa Amalia Mulya. 2014. Pengaruh Ukuran Komite
Audit, Ukuran Dewan Komisaris, Kepemilikan Manajerial, dan Kepemilikan
Institusional terhadap Kualitas Laba. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, 3 (1):
219-239.

1680
Ni Md. Ayu W., Gerianta Wirawan Yasa dan I. B. Putra Astika. Pengaruh …

Rachmawati, Andri dan Hanung Triatmoko. (2007). Analisis Faktor-Faktor yang


mempengaruhi kualitas labadan nilai perusahaan. Seminar Nasional Akuntansi
X,1-26.

Sadidi, Mehdi; AliSaghafi; and Ahmadi Shahin. 2011.Accounting Conservatism and


the Effect of Earning Quality on the Return of Assets and Stock Return.Journal
of Accounting Knowledge, 2 (6): 11-24.

Siallagan, Hamonangan dan Mas‟ud Machfoedz. 2006. Mekanisme Corporate


governance, Kualitas Laba, dan, Nilai Perusahaan. Simposium Nasional
Akuntansi XI,1-24.

Suaryana, Agung. 2005. Pengaruh Komite Audit Terhadap Kualitas Laba. Makalah
Simposium Nasional Akuntansi VIII. Solo, 15-16 September 2005.

Wahh, L.K. 2002. Investment Opportunity and Audit Quality. Available from:
http://papers.ssrn.com.

Watts, R.L. 2003. Conservatism in Accounting Part II: Evidence and research
opportunities. Accounting Horizons,17(4): 287-301.

1681