Anda di halaman 1dari 5

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH 1

TUGAS TERAPI OKSIGEN

Fasilitator :

Nuh Huda, S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.KMB

Disusun oleh :

Puput Kurniawati 1610082

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES HANG TUAH SURABAYA
TAHUN AJARAN 2017-2018
Terapi Oksigen

Terapi oksigen adalah pemberian oksigen dengan konsentrasi yang lebih


tinggi dari yang ditemukan dalam atmosfir lingkungan. Pada ketinggian air laut
konsentrasi oksigen dalam ruangan adalah 21 %, (Brunner & Suddarth,2001)
Sejalan dengan hal tersebut diatas menurut Titin, 2007, Terapi oksigen adalah
suatu tindakan untuk meningkatkan tekanan parsial oksigen pada inspirasi, yang
dapat dilakukan dengan cara:
a. Meningkatkan kadar oksigen inspirasi / FiO2 (Orthobarik )
b. Meningkatkan tekanan oksigen (Hiperbarik)

Alat – alat yang digunakan untuk terapi oksigen yaitu

1. Nasal kanul
Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen
kontinyu dengan aliran 1 – 6 liter/mnt dengan konsentrasi oksigen 24 % -
44 %. Persentase O2 pasti tergantung ventilasi per menit pasien.
Pada pemberian oksigen dengan nasal kanula jalan nafas harus paten,
dapat digunakan pada pasien dengan pernafasan mulut.
FiO2 estimation :
Flows FiO2
 1 Liter /min : 24 %
 2 Liter /min : 28 %
 3 Liter /min : 32 %
 4 Liter /min : 36 %
 5 Liter /min : 40 %
 6 Liter /min : 44 %
Formula : ( Flows x 4 ) + 20 % / 21

a. Keuntungan
Pemberian oksigen stabil dengan volume tidal dan laju pernafasan
teratur, pemasangannya mudah, murah, disposibel, klien bebas makan,
minum,bergerak, berbicara, lebih mudah ditolerir klien dan terasa nyaman.
Dapat digunakan pada pasien dengan pernafasan mulut, bila pasien
bernafas melalui mulut, menyebabkan udara masuk pada waktu
inhalasi dan akan mempunyai efek venturi pada bagian belakang faring
sehingga menyebabkan oksigen yang diberikan melalui kanula hidung
terhirup melalui hidung.
b. Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen lebih dari 44%, suplai
oksigen berkurang bila klien bernafas melalui mulut, mudah lepas karena
kedalaman kanul hanya 1/1.5 cm, tidak dapat diberikan pada pasien
denganobstruksi nasal.Kecepatan aliran lebih dari 4 liter/menit jarang
digunakan, sebab pemberian flowrate yang lebih dari 4 liter tidak akan
menambah FiO2, bahkan hanya pemborosanoksigen dan menyebabkan
mukosa kering dan mengiritasi selaput lendir. Dapat menyebabkan
kerusakan kulit diatas telinga dan di hidung akibat pemasanganyang
terlalu ketat

2. Simple Mask
Digunakan untuk konsentrasi oksigen rendah sampai sedang.
Merupakan alat pemberian oksigen jangka pendek, kontinyu atau
selang seling. Aliran 5 – 8liter/mnt dengan konsentrasi oksigen 40 – 60%.
Masker ini kontraindikasi pada pasien dengan retensi karbondioksida
karena akan memperburuk retensi. AliranO2 tidak boleh kurang dari 5
liter/menit untuk mendorong CO2 keluar dari masker.
FiO2 estimation :
Flows FiO2
 5-6 Liter/min : 40 %
 6-7 Liter/min : 50 %
 7-8 Liter/min : 60 %
a. Keuntungan
Konsentrasi oksigen yang diberikan lebih tinggi dari kateter atau
kanula nasal, sistem humidifikasi dapat ditingkatkan melalui pemilihan
sungkup berlubang besar, dapat digunakan dalam pemberian terapi
aerosol.
b. Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen kurang dari 40%, dap
atmenyebabkan penumpukan CO2 jika aliran rendah. Menyekap, tidak me
mungkinkan untuk makan dan batuk. Bisa terjadi aspirasi bila pasien
muntah. Perlu pengikat wajah, dan apabila terlalu ketat menekan kulit
dapat menyebabkanrasa pobia ruang tertutup, pita elastik yang dapat
disesuaikan tersedia untuk menjamin keamanan dan kenyamanan.

3. Rebreathing mask
Suatu teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi tinggi yaitu 35
– 60% dengan aliran 6 – 15 liter/mnt , serta dapat meningkatkan nilai
PaCO2. Udara ekspirasi sebagian tercampur dengan udara inspirasi, sesuai
dengan aliran O2, kantong akan terisi saat ekspirasi dan hampir
menguncup waktu inspirasi. Sebelum dipasang ke pasien isi O2 ke
dalam kantong dengan cara menutuplubang antara kantong dengan
sungkup minimal 2/3 bagian kantong reservoir. Memasang kapas kering
pada daerah yang tertekan sungkup dan tali pengikat untuk mencegah
iritasi kulit.
FiO2 estimation :
Flows ( lt/mt ) FiO2 ( % )
 6 : 35 %
 8 : 40 – 50 %
 10 – 15 : 60 %
a. Keuntungan
Konsentrasi oksigen lebih tinggi dari sungkup muka sederhana,
tidak mengeringkan selaput lendir
b. Kerugian
Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah, kantong
oksigen bisa terlipat atau terputar atau mengempes, apabila ini terjadi dan
aliran yang rendah dapat menyebabkan pasien akan menghirup
sejumlah besar karbondioksida.Pasien tidak memungkinkan makan minum
atau batuk dan menyekap, bisa terjadiaspirasi bila pasien muntah, serta
perlu segel pengikat.

4. Non rebreathing mask


Teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi oksigen yang tinggi
mencapai 90% dengan aliran 6 – 15 liter/mnt. Pada prinsipnya udara
inspirasi tidak bercampur dengan udara ekspirasi, udara ekspirasi
dikeluarkan langsung ke atmosfer melalui satu atau lebih katup, sehingga
dalam kantong konsentrasi oksigen menjadi tinggi. Sebelum dipasang
ke pasien isi O2 ke dalam kantong dengan cara menutup lubang antara
kantong dengan sungkup minimal 2/3 bagian kantong reservoir.
Memasang kapas kering pada daerah yang tertekan sungkup dan tali
pengikat untuk mencegah iritasi kulit. Kantong tidak akan pernah kempes
dengan total.
Perawat harus menjaga agar semua diafragma karet harus pada
tempatnya dantanpa tongkat.
FiO2 estimation :
Flows ( lt/mt ) FiO2 ( % )
 6 : 55 – 60
 8 : 60 – 80
 10 : 80 – 90
 12 – 15 : 90
a. Keuntungan :
Konsentrasi oksigen yang diperoleh dapat mencapi 90%, tidak
mengeringkan selaput lendir.
b. Kerugian :
Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah. Kantong
oksigen bisater lipat atau terputar, menyekap, perlu segel pengikat,
dan tidak memungkinkan makan, minum atau batuk, bisa terjadi aspirasi
bila pasien muntah terutama pada pasien tidak sadar dan anak-anak.
DAFTAR PUSTAKA

Astowo. Pudjo. Terapi oksigen: Ilmu Penyakit Paru. Bagian Pulmonologi dan
Kedokteran Respirasi. FKUI. Jakarta. 2005

Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Medikal Bedah. Edisi bahasa
Indonesia,vol. 8. EGC. Jakarta