Anda di halaman 1dari 52

MAKALAH

“Penilaian Status Gizi Secara Langsung Berdasarkan Penilaian Biokimia”


Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Penentuan Status Gizi

Kelas C Rabu pk. 12.30 - 14.10


Disusun oleh:
Kelompok 2

1. Ana Darmawanti 152110101001


2. Indriyani Kusmita 152110101019
3. Viula Trisna Noverica. 152110101021
4. Farahdila Kurnia D 152110101024
5. Puput Nuriy Aini 152110101031
6. Erin Arifah W 152110101048
7. Erny Lestari 152110101052
8. Cicilia Kurumalinda 152110101090
9. Maya Indriyana Dewi 152110101098
10. Putri Arintiasari 152110101110
11. Dwi Anggarini 152110101221
12. Usmiatul Hasanah 152110101238

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS JEMBER
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah
berjudul “Penilaian Status Gizi Secara Langsung Berdasarkan Penilaian
Biokimia”.
Makalah ini tidak mungkin terwujud tanpa adanya komitmen dan
kerjasama yang baik diantara para pihak yang terlibat. Oleh karena itu, dalam
kesempatan ini, kami selaku penyusun menyampaikan penghargaan yang setinggi-
tingginya kepada pihak-pihak berikut:
1. Ruly Bayu A., S.KM.,M.Gizi selaku dosen Penentuan Status Gizi atas segala
arahan dan dukungan yang telah diberikan untuk kelancaran proses
penyempurnaan makalah ini.
2. Rekan-rekan anggota kelompok 2 yang telah bekerja sama dalam menyusun
makalah ini serta memberikan kritik, saran dan masukan untuk penyelesaian
makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik
dari bentuk penyusunan maupun materinya. Namun demikian, penulis telah
berupaya dengan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat
selesai dengan baik dan oleh karena itu, penulis dengan rendah hati menerima
masukan, saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini.
Sebagaimana mestinya terbesit harapan yang senantiasa diangankan yaitu
mudah-mudahan tulisan ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang ingin membaca
dan memahaminya.

Jember, 11 Maret 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................... i

BAB 1. PENDAHULUAN ........................................................................................... 4

1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 4

1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 5

1.3 Tujuan ................................................................................................................. 5

BAB 2. PEMBAHASAN .............................................................................................. 6

2.1 Vitamin A ............................................................................................................ 6

2.2 Vitamin D ......................................................................................................... 16

2.3 Vitamin E .......................................................................................................... 17

2.4 VITAMIN C ...................................................................................................... 18

2.5 Tiamin ( 𝑩𝟏 ) .................................................................................................... 20

2.6 Riboflavin (Vitamin B2) ................................................................................... 21

2.7 Niasin ................................................................................................................ 23

2.8 Vitamin 𝑩𝟔 ( piridoksin, pridoksal, piridoksamin) .......................................... 24

2.9 Vitamin 𝑩𝟏𝟐 (kobalamin) ................................................................................ 25

2.10 Iodium ............................................................................................................. 26

2.11 Zink ................................................................................................................. 29

2.12 Kalsium ........................................................................................................... 33

2.13 Fosfor .............................................................................................................. 35

2.14 Magnesium ...................................................................................................... 39

2.15 Krom ............................................................................................................... 39

2.16 Tembaga .......................................................................................................... 40

2.17 Selenium.......................................................................................................... 44

BAB 3. PENUTUP ..................................................................................................... 48

2
3.1 Kesimpulan ....................................................................................................... 48

3.2 Saran .................................................................................................................. 48

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 49

3
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Gizi merupakan suatu proses organisme menggunakan makanan yang
dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi,
penyimpanan, metabolisme, dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan
untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari
organ-organ serta menghasilkan energi. Gizi juga dapat menimbulkan masalah
kesehatan seperti KEP, EK, KVA dan masih banyak lagi permasalahan gizi
lainnya. Masalah gizi merupakan masalah kesehatan masyarakat tetapi
penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan
pelayanan kesehatan saja. Penyebab timbulnya masalah gizi adalah
multifaktor , karena itu perlunya penanggulangan salah satunya melalui
penilaian status gizi.

Penilaian status gizi dibagi menjadi dua yaitu penilaian status gizi secara
langsung dan tidak langsung. metode penilaian status gizi secara langsung
berdasarkan data obyektif adalah dengan penilaian biokimia. Penilaian ini
dilakukan untuk menentukan kekurangan gizi secara spesifik. Mendeteksi
lebih dini terhadap perubahan metabolisme gizi sebelum tampak perubahan
klinis. Dalam penilaian biokimia terdiri atas penilaian zat gizi makro dan
mikro.

Zat gizi (nutrient) merupakan bahan-bahan kimia yang diperlukan untuk


hidup, tumbuh, bergerak, dan menjaga kesehatannya, dan sumber bahan-bahan
kimia itu berasal dari makanan. Zat gizi merupakan unsur yang terdapat di
dalam makanan yang memberikan manfaat bagi kesehatan manusia. Zat gizi
yang terkandung dalam makanan berbeda-beda antara makanan satu dengan
yang lainnya. Perbedaan tersebut dapat berupa jenis zat gizi yan terkandung
dalam makanan.

Penilaian zat gizi mikro terdiri dari vitamin A, D, E, C, Tiamin, Riboflavin,


Niasin, Vitamin B6, Vitamin B12, Iodium, Zink, Kalsium, Fosfor,
Magnesium, Krom, Tembaga, dan Selenium. Zat gizi mikro tersebut dapat

4
menimbulkan suatu kejadian penyakit yang berada di masyarakat yang dapat
dinilai secara biokimia. Dengan pertimbangan masalah dan alasan itulah,
maka dalam makalah ni akan dibahas tentang penentuan status gizi zat mikro
secara biokimia.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja zat gizi mikro yang bisa dinilai secara biokimia ?
2. Bagaimana prosedur penilaian dari masing - masing zat gizi mikro yang
dapat dinilai secara biokimia ?
3. Berapa batasan penilaian zat gizi mikro secara biokimia ?
4. Apa saja penyakit yang berkatian dengan zat gizi mikro yang dapat dinilai
secara biokimia ?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui zat gizi mikro yang bisa dinilai secara biokimia.
2. Mengetahui prosedur penilaian dari masing – masing zat gizi mikro yang
dapat dinilai secara biokimia.
3. Mengetahui batasan penilaian zat gizi mikro secara biokimia.
4. Mengetahui penyakit yang berkatian dengan zat gizi mikro yang dapat
dinilai secara biokimia.

5
BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Vitamin A
Vitamin A adalah vitamin larut lemak yang pertama ditemukan. Secara
luas, viamin A merupakan nama generic yang menyatakan semua retinoid dan
precursor/provitamin A karotenoid yang mempunyai aktivitas bilogik sebagai
retinol. (Almatsier, 2010)
Deplasi vitamin A dalam tubuh merupakan proses yang berlangsung lama,
dimulai dengan habisnya persediaan vitamin A dalam hati, kemudian menurunya
kadar vitamin A plasma, dan baru kemudian timbul disfungsi retina, disusul
dengan perubahan jaringan epitel. Kadar vitamin A dalam plasma tidak
merupakan kekurangan vitamin A yang dini, sebab deplesi terjadi jauh
sebelumnya. Apabila sudah terdapat kelainan mata, maka kadar vitamin A serum
sudah sangat rendah (kurang dari 5 µg/100 ml), begitu juga kabar RBP-nya (<20
µg/100 ml ) konsentrasi vitamin A dalam hati merupakan indikasi yang baik untuk
menentukan status vitamin A. Akan tetapi, biopsi hati merupakan tindakan yang
mengandung resiko bahaya. Di samping itu, penentuan kadar vitamin A jaringan
tidak mudah dilakukan. Pada umumnya konsentrasi vitamin A penderita KEP
rendah yaitu <15 µg/gram jaringan hepar (Solihin Pujiadji, 1989).
Batasan dan interpretasi pemeriksaan kadar vitamin A dalam darah

Umur (th) Kurang Margin Cukup


Plasma vitamin Semua umur <10 10-19>20
A (mg)

 Metode Penentuan Serum Retinol


a. Cara HPLC (High Performance Liquid Choromatography)
1) Prinsip: Retinol dan standar retinil asetat yang ditambahkan dengan
pelarut organik setelah protein serum didenaturasi. Dengan sistem fase
berputar (revers phase) kedua protein tersebut dipisahkan dan diukur

6
serapannya pada panjang gelombang 328 nm dengan HPLC. Konsentrasi
retinol dalam serum dapat dihitung dari perbandingan puncak grafik
retinol-asetat
2) Prosedur :
a) Seratus mikroliter palsma dimasukan ke dalam tabung mikro
ditambah 100 mikroliter etanol yang berisi standar retinil acetat
(konsentrasi setara dengan 20 µg retinil/dl) dan 200 mikroliter
heksan.
b) Kemudian dikocok dengan vortex selama 1 menit.
c) Setelah disentifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 5 menit
lapisan heksan yang berisi ekstrak vitamin A dipipet sebanyak
150 µl.
d) Ekstrak ini kemudian diuapkan dengan pertolongan gas nitrogen
sampai kering.
e) Ekstrak yang sudah kering kemudian ditambah 100 mikroliter
isoprepanol, kemudian dikocok dan sebanyak 50 mikroliter
disuntikan ke HPLC, dengan spesifikasi sebagai berikut.
Kolom : bondapak C18
Buffer (solvent) : metanol/air, (95/5, perbandingan
volume)
Kecepatan aliran : 2,5 ml/menit
Tekanan : disesuaikan kecepatan aliran
tersebut
Panjang gelombang detektor : 328 nm
Sensitivitas detektor : 0,01 AUFS
Suhu : kamar
Kecepatan rekoder : 1 cm/menit
Munculnya grafik : retinol 2,2 menit
Retynil acetat 3,0 menit
Perhitungan : konsentrasi retinol dalam serum
𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑝𝑢𝑛𝑐𝑎𝑘 𝑔𝑟𝑎𝑓𝑖𝑘 𝑟𝑒𝑡𝑖𝑛𝑖𝑙
× 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑟𝑒𝑡𝑖𝑛𝑖𝑙 𝑎𝑠𝑒𝑡𝑎𝑡 (µg/dl)
𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑝𝑢𝑛𝑐𝑎𝑘 𝑔𝑎𝑓𝑖𝑘 𝑟𝑒𝑡𝑖𝑛𝑖𝑙 𝑎𝑠𝑒𝑡𝑎𝑡

7
Catatan :
1) Semua tabung reaksi yang digunakan harus benar-benar bersih.
Untuk mencapai ini semua tabung-tabung harus direndam
dalam nitrat atau pun kromat selama 3 hari.
2) Berdasarkan pengalaman, setiap 4-5 kali penyuntikan pada
HPLC kolom perlu dicuci dengan dialiri buffer tanpa sampel
selama sekitar 30 menit.
3) Bila ada dugaan kadar vitamin A dalam serum agak tinggi
(misalnya serum orang dewasa normal, anak yang baru saja
diberi vitamin A dosis tinggi) serum yang digunakan 50 µl saja.
Pengalaman di puslitbang gizi bogor selama ini semua kolom
yang sudah digunakan untuk penentuan sekitar 250 sampel sudah tidak
bisa digunakan lagi. Hal ini mungkin terkait dengan kualitas pereaksi
yang ada di Indonesia.
b. Penentuan kadar vitamin A cara kolorimeter dengan
pereaksi trifluoroasetat/TFA (neeld & pearson).
1) Prinsip : Setelah protein didenaturasi dengan alkohol, vitamin A
diextraksi dengan pelarut organik. Extrak dipisahkan dan vitamin A
ditentukan dengan direaksikan dengan TFA dan warna biru yang
terbentuk diukur serapanya pada panjang 620 nm. Karena karotin juga
memberikan reaksi dengan TFA, meskipun juga lebih lemah, perlu ada
faktor koreksi karena ada pengaruh dari karotin ini.
2) Cara kerja (semi mikro)
a. Lima ratus mikroliter serum dalam tabung reaksi ditambah dengan
500 mikroliter etanol (atau dapat pula 1N KOH dalam 90% etanol).
b. Dikocok dengan tangan sampai rata. Ditambahkan 1000 mikroliter (
= 1 ml) petroleum eter (40-60 ºC) lalu dikocok dengan voltrex
selama 1 menit.
c. Sentrifugasi pada kecepatan 3000 rpm selama 5-10 menit akan
memisahkan extarak vitamin A di bagian atas serta campuran serum
alkohol di bagian bawah.

8
d. Extrak dipipet sebanyak 750 mikroliter lalu diukur serapannya pada
panjang gelombang 450 nm untuk penentuan karotin.
e. Extrak tersebut kemudian diuapkan samapai kering dengan gas
nitrogen. Ditambah dengan 1500 mikrolier pereaksi TFA (campuran
1 bagian TFA dan 2 bagian kloroform yang disiapkan segar).
f. Warna biru yang terbentuk harus sudah diukur serapannya dalam
waktu 30 detik pada panjang gelombang 620 nm.
Standar vitamin A yang dilarutkan dalam kloroform da berisi 2
mg/ml, 4 mg/ml, dan 8 mg/ml disiapkan. Dipipet 25 ml dari masing-
masing konsentrasi tersebut dan diukur serapanya setelah ditambah 1500
mikroliter pereaksi. Standar tersebut setara dengan konsentrasi vitamin A
dalam serum 10 µg/dl, 20 µg/dl, 30 µg/dl dan 40 µg/dl.
Faktor koreksi karena pengaruh reaksi antara pereaksi dengan
karotin dibuat sebagai berikut :
a. Disiapkan standar karotin yang berisi 10 µg/dl, 20 µg/dl, 40 µg/dl
dan 80 µg/dl.
b. Dipipet masing-masing sebanyak 750 mikroliter lalu diuapkan
sampai kering dengan nitrogen.
c. Kemudian direaksikan dengan 155 mikroliter pereaksi dan
serapannya diukur pada panjang gelombang 620 nm.
Dengan demikian dapat dihitung faktor koreksi karena pengaruh
karotin. Pengalaman di puslitbang gizi bogor faktor koreksi pengaruh
karotin ini sekitar 15% pembacaan karotin pada panjang gelombang 450
nm. Jika seandainya serapan karotin pada 459 nm adalah 0,100 maka
pembacaan vitamin A pada 620 nm perlu dikurangi 15 % dari 0,100 baru
kemudian dikurangi blangko.
Dengan demikian dalam buku catatan penentuan vitamin A ada 10
kolom seperti terlihat pada tabel 6-2. Dari standar vitamin A dapat
dihitung faktor perhitungan vitamin A dan dari standar karotin dapat
dihitung faktor perhitungan karotin dengan prinsip :

𝑠𝑒𝑟𝑎𝑝𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
× 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟
𝑠𝑒𝑟𝑎𝑝𝑎𝑛 𝑠𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟

9
Catatan:
1) Kecepatan pada pengukuran kecepatan pada panjang gelomabang
620 nm tergantung pada pengalaman petugas laboratorium. Kalau
sudah berpengalaman waktu yang diperlukan semenjak penambahan
pereaksi samapai pengukuran serapan sejumlah 22-23 detik.
2) Waktu melarutkan standar karotin mula-mula ditambah beberapa ml
kloroform, baru kemudian ditambah PE sesuai tujuan. Bila langsung
ditambah PE, sebagian karotin tidak larut.
3) Pada penentuan vitamin A dengan cara kolorometri ini adalah total
vitamin A (retinol dan retinil ester), sedangkan dengan HPLC hanya
ditambah PE sebagai karotin tidak larut.
4) Pada penentu vitamin A (retinol dan retinil ester), sedangkan dengan
HPLC hanya retinol saja (suharjo, 1990. Penilaian Keadaan Gizi
Masyarakat, hlm. 172-175).
 Kurang Vitamin A
Kurang vitamin A (KVA) adalah salah satu masalah gizi yang
mengganggu kondisi kesehatan akibat kurangnya konsumsi makanan, terutama
makanan sumber vitamin A. Kondisi ini menyebabkan peningkatan yang
bermakna terhadap morbiditas dan mortalitas pada anak-anak serta ibu hamil.
Penentuan status vitamin A penting untuk melihat kadar vitamin A di dalam tubuh
seseorang. Beberapa cara penentuan status vitamin A secara biokimia dengan
sampel darah disajikan berikut ini :

1. Analisis Darah
Analisis vitamin A dapat dilakukan pada sampel makanan, darah
dan juga Air Susu Ibu. Ada banyak cara analisis vitamin A yang
menggunakan sampel darah. Berikut disampaikan analisis vitamin A
dengan sampel darah. (Permaesih, 2008)
a. Serum Retinol
Kadar serum retinol menggambarkan status vitamin A hanya
ketika cadangan vitamin A dalam hati kekurangan dalam tingkat berat
(1,05 µmol/g hati). Bila konsentrasi cadangan vitamin A dalam hati

10
berada dalam batas ini, tidak menggambarkan total cadangan tubuh,
menggambarkan konsenstrasi status vitamin A perseorangan terutama
ketika cadangan vitamin A tubuh terbatas, karena konsentrasi serum
retinol terkontrol secara homeostasis dan tidak akan turun hingga
cadangan tubuh benar-benar menurun. Konsentrasi serum retinol juga
dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mempengaruhi pengeluaran holo-
RBP. (Permaesih, 2008)
Faktor yang berpengaruh pada kadar serum retinol antara lain
umur, jenis kelamin dan ras. Diperlukan kriteria khusus umur untuk
menginterpretasikan kadar serum retinol. Faktor lain adalah asupan
lemak yang rendah dalam makanan, misalnya asupan < 5-10 g/hari,
akan mengganggu absorpsi dari provitamin A karoten dan pada jangka
panjang menurunkan konsentrasi plasma retinol. Selain dari asupan
lemak faktor gizi lainnya adalah defisiensi zat gizi lain. Kurang energi
protein menurunkan apoRBP, kurang zinc menurunkan kadar retinol
karena perannya dalam sintesa hepatik atau sekresi RBP. Penyakit
mungkin berpengaruh pada kadar serum retinol, penyakit ginjal kronis
meningkatkan konsentrasi retinol, sedangkan penyakit hati
menurunkan kadar serum retinol. Penyakit infeksi termasuk HIV,
campak, infeksi parasit berhubungan dengan rendahnya kadar serum
retinol. Namun, serum retinol merupakan indikator yang sering
digunakan untuk penentuan tingkat KVA pada populasi karena banyak
laboratorium yang mampu menganalisisnya dan ini merupakan
indikator biokimia status vitamin A terbaik. (Permaesih, 2008)
Serum retinol biasanya ditentukan dengan High Performance
Liquid Chromatography (HPLC) atau dengan spektrofotometri.
Walaupun spektrofotometri lebih sederhana dan lebih murah,
akurasinya kurang. Karena itu HPLC lebih sering digunakan. Dari
beberapa metode yang tersedia untuk analisis total serum vitamin A
atau retinol, hanya HPLC yang dapat membedakan retinol dari retinyl
ester, sedangkan metode lain mengukur total serum vitamin A.
(Permaesih, 2008)

11
b. Metode Stable Isotope dan Cadangan Total Vitamin A
Prosedur isotop dilution hanyalah metode yang mengukur
secara kuantitatif cadangan vitamin A di dalam hati. Yang dilakukan
adalah memberi secara oral tetradeuterated vitamin A. Pemberian
isotop memungkinkan untuk seimbang dengan cadangan vitamin A di
dalam tubuh, kemudian dilakukan pengambilan darah dan rasio dari
komponen deurated dan nondeuterated diukur dengan
spektrofotometri. (Permaesih, 2008)
Konsentrasi vitamin A dalam hati dipertimbangkan sebagai
indikator yang terbaik untuk indikator status vitamin A tubuh,
bagaimanapun melakukan biopsi langsung pada hati untuk penentuan
status vitamin A adalah metode yang tidak mungkin dilakukan pada
orang yang sehat. Metode penentuan secara tidak langsung yang
seringkali dilakukan adalah konsentrasi serum retinol dan relative
dose response. Namun, bagaimanapun tehnik ini tidak mampu
menyediakan estimasi kuantitatif cadangan vitamin A. Teknik larutan
isotop untuk pendugaan estimasi kuantitatif cadangan vitamin A telah
divalidasi pada hewan percobaan dengan menggunakan radiolabeled
vitamin A yang disuntikan secara intravenous atau diminumkan. The
deuterated- retinol-dilution (DRD) tehnik yang telah diperkenalkan
adalah suatu metode secara tidak langsung untuk menduga secara
kuantitatif cadangan vitamin A dalam hati manusia. Secara singkat
Tehnik DRD melakukan pemberian dengan cara diminumkan stable
isotopelabeled vitamin A seperti [2H4]retinyl acetate) pada seseorang,
dan setelah masa equilibrasi dilakukan pengambilan sampel darah
untuk menentukan rasio isotop terhadap [2H4]retinol dalam plasma.
(Permaesih, 2008)
Cadangan vitamin A dalam hati dihitung berdasarkan prinsip
dari larutan isotop dan asumsi yang pada awal dijelaskan oleh Bausch
and Rietz dan kemudian dilanjutkan oleh Furr et al.. Lamanya DRD
test menurut Furr et al memerlukan masa equilibrasi pemberian secara
oral larutan vitamin A dengan cadangan vitamin A tubuh prosesnya

12
memerlukan waktu 20 hari.5,7 Waktu yang lebih pendek, tiga hari
juga dianjurkan pada pemeriksaan DRD ini. Tiga hari test DRD tidak
memerlukan equilibrasi vitamin A isotope dengan cadangan vitamin
A. Hasil penelitian pada orang dewasa, rasio dari deuterated terhadap
nondeuterated retinol serum pada hari ke tiga setelah pemberian
retinyl acetate deuterated berhubungan secara bermakna dengan nilai
perhitungan cadangan total vitamin A tubuh pada hari ke dua puluh.
(Permaesih, 2008)
c. Relative Dose Response (RDR)
Konsentrasi vitamin A dalam hati merupakan indikator
terbaik untuk status vitamin A tubuh. Namun, untuk menentukan
vitamin A dengan biopsi langsung pada orang sehat adalah hal yang
tidak mungkin dilakukan. Metode RDR dapat digunakan untuk
menduga cadangan vitamin A dalam hati karena itu dapat
mengidentifikasi seseorang dengan defisiensi vitamin A marginal. Tes
ini didasarkan pada observasi bahwa selama terjadi kekurangan
vitamin A, cadangan dalam hati menurun, RBP berakumulasi dalam
hati sebagai apo-RBP. Setelah pemberian vitamin A test dose,
sebagian vitamin A mengikat kelebihan apoRBP dalam hati.
Kemudian keluar sebagai holo-RBP (RBP berikatan dengan retinol)
ke dalam aliran darah.
Konsekuensinya pada orang yang mengalami KVA menjadi
lebih cepat terjadi peningkatan serum retinol setelah pemberian
vitamin A test dose dibandingkan dengan orang yang mempunyai
cadangan vitamin A normal di mana peningkatannya hanya sedikit
atau malah tidak ada. Relative Dose Response (RDR) test,
dikembangkan oleh Underwood et al., telah dibuktikan sebagai
indikator yang baik untuk menentukan status vitamin A. Setelah diberi
vitamin A yang dilarutkan dalam minyak, konsentrasi dari retinol
plasma (R) meningkat setelah lima jam pada tingkat yang paling
tinggi pada anak yang mempunyai status vitamin A kurang atau
marginal dibandingkan dengan mereka yang status vitamin A nya

13
cukup. Prosedur ini telah divalidasi dengan menghitung nilai
persentase RDR pada cadangan vitamin A dalam hati yang ditentukan
dengan biopsi. Kelemahan utama dari penggunaan prosedur ini dalam
penggunaan di lapangan adalah memerlukan pengambilan darah dua
kali, dengan interval waktu 5 jam. (Permaesih, 2008)
d. MRDR (Modified Relative Dose Response)
Penentuan MRDR didasarkan pada prinsip yang benar-benar
sama dengan RDR. Prinsip MRDR: selama terjadi penurunan vitamin
A apo-RBP berakumulasi dalam hati. Dengan pemberian test dose, 3,4
didehydroretinyl acetate (vitamin A2) akan muncul setelah 4-6 jam
dalam serum terikat pada RBP sebagai 3,4 didehydroretinol (DR).
Menurut Tanumihardjo 1999, MRDR test akan menghasilkan
perbedaan yang lebih jelas dibandingkan dengan konsentrasi serum
retinol saja dan hasil secara statistik lebih kuat dan lebih baik dalam
menjelaskan penjelasan status vitamin A pada populasi.
MRDR tes hanya memerlukan satu pengambilan darah
Sebagai ganti dari pemberian retinyl acetate, digunakan pemberian
sejumlah kecil 3,4- didehydroretinyl acetate. Setelah tiga hingga
delapan jam setelah pemberian 3,4- didehydroretinyl acetate sebagai
test dose, rasio dari didehydroretinol (DR) pada Retinol (R) dalam
plasma secara proporsional kebalikannya terhadap cadangan vitamin
A dalam hati yang berada pada batas kekurangan dan marginal
(kurang dari 0.07 micromol/g hati).
MRDR hanya memerlukan satu pengambilan darah namun
untuk analisis diperlukan alat High Performance Liquid
Chromatography (HPLC). Menurut Rice (2000), MRDR rasio
memberi gambaran status vitamin lebih baik dibandingkan dengan
serum retinol. Validasi yang dilakukan oleh Verhoef (2005)
menyimpulkan, hasil tes dari RDR dan MRDR menunjukkan indikasi
batas marginal atau penurunan cadangan vitamin A dalam hati sama
dengan yang ditunjukkan oleh konsentrasi serum retinol. (Permaesih,
2008)

14
e. Analisis Air Susu Ibu
Air Susu Ibu dipilih karena antara lain tidak menyakitkan,
pengambilannya lebih mudah dibandingkan dengan pengambilan
darah, di lapangan tidak memerlukan proses lebih lanjut, waktu yang
diperlukan untuk penanganan sampel dilapangan sangat sedikit
dibandingkan dengan penanganan sampel darah. (Permaesih, 2008)
Konsentrasi retinol dalam air susu ibu dapat menjadi indikasi
saat status vitamin A ibu suboptimal, ibu menyusui memproduksi ASI
dengan kadar retinol yang menurun. Kondisi ini menggambarkan
ketidakcukupan pada asupan makanan saat kehamilan dan
ketidakcukupan cadangan vitamin A tubuh. Konsentrasi retinol ASI
juga dapat digunakan untuk indikator tidak langsung status vitamin A
bayi yang disusui. (Permaesih, 2008)

Penilaian status vitamin A pada perseorangan dan populasi memerlukan metode


penentuan yang canggih dan memerlukan sumber daya manusia maupun
peralatan. Konsentrasi serum retinol seringkali digunakan, tetapi tidak selalu
memberi respons pada suatu intervensi. Pengembangan metode yang kurang
menyakitkan namun lebih memberi respon pada status vitamin A ibu menyusui
akan membantu dalam penentuan risiko KVA pada kelompok. Penentuan vitamin
A pada air susu babi betina yang dibandingkan dengan darah dengan metode
MRDR menunjukkan bahwa nilai rasio dari DR: R air susu
(didehydroretinol:retinol) merupakan alternatif yang potensial untuk penentuan
status vitamin A pada ibu menyusui. Saat ini sedang dikembangkan penentuan
vitamin A pada ASI dengan metode MRDR. (Permaesih, 2008)

Pemeriksaan Laboratorium pada Vitamin A

Jenis Indikasi Persiapan Metode


Vitamin
A  Differensial  Pasien  High
diagnosis puasa o.n, performance
hipervitamino minimal 8 liquid

15
sis A jam chromatography
 Deteksi  Spesimen : (HPLC)
nutrisi serum,  Fuorescence/VIS
vitamin A harus spectroscopy
inadekuat terlindung  Nilai normal
dari cahaya dalam serum: 30-
95 µg/dL
Sumber : (Ratnaningsih & Windarwati, 2013)

2.2 Vitamin D
Vitamin D merupakan jenis sterol yang mengandung gugus alkohol dan
bersifat larut lemak. Sterol sangat stabil terhadap panas, oksidasi dan tahan
terhadap asam dan basa. Vitamin D sangat peka terhadap cahaya dengan
gelombang pendek seperti ultraviolet yang terdapat pada sinar matahari. Berbeda
dengan vitamin-vitamin lainnya, vitamin D pada dasarnya dapat disintesis dalam
tubuh dengan adanya sinar ultraviolet.

Fungsi vitamin D erat kaitannya dengan mineralisasi tulang. Vitamin D,


terutama bentuk aktif kalsitriol, akan meningkatkan penyerapan kalsium dan
fosfor yang merupakan zat utama pada proses pengerasan tulang. Mekanisme
peningkatan penyerapan yaitu dengan peran vitamin D dalam merangsang sintesis
protein pengikat kalsium dan protein pengikat fosfor pada mukosa usus halus.
Dengan demikian, jika kadar vitamin D dalam darah kurang, maka penyerapan
kalsium dan fosfor akan terhambat sehingga proses mineralisasi (pemadatan)
tulang menjadi terhambat.

Beberapa zat yang berhubungan dengan aktivitas vitamin D adalah:

1. Vitamin D2 (ersokarsiferol) yang dihasilkan oleh radiasi ersoterol (dalam


tumbuh-tumbuhan) secara artifisial dengan sinar ultra violet.
2. Vitamin D3 (kolekalsiferol) yang dihasilkan oleh radiasi pada kulit manusia
dengan komponen ultraviolet sinar matahari dan juga terdapat secara alamiah
pada sumber makanan hewani. Kolekalsiferol dikonversi di dalam hati dan
mungkin usus menjadi 25(OH) kolekalsiferol.

16
Kekurangan vitamin ini dapat mengakibatkan penyakit rakhitis dan
kadang-kadang tetanus. Apabila kekurangan terjadi pada masa pertumbuhan akan
timbul osteomalasia. Sangat jarang ditemukan rakitis bawaan, insidens tertinggi
terdapat pada umur 18 tahun.

Kekurangan vitamin D menimbulkan klasifikasi tulang yang tidak normal


akibat rendahnya saturasi kalsium dan fosfor dalam cairan tubuh. Keadaan
resorpsi tulang akan melebihi pembentukannya hingga menyebabkan
demineralisasi umum pada rangka yang berakibat menjadi lunaknya tulang-tulang
serta deformitas toraks, tulang punggung, pelvis, dan tulang-tulang panjang.

Pada pemeriksaan biokimia penderita rakhitis ditemukan hasil:

1. Kadar kalsium serum normal atau lebih


2. Kadar fosfor rendah
3. Kadar fosfatase meninggi
4. Kadar 25 (OH) vitamin D dibawah 4 mg/ml

2.3 Vitamin E
Vitamin E terdapat dalam 4 bentuk, yaitu bentuk -, -, -, dan - tokoferol.
Keaktifan keempat bentuk tokoferol tersebut berbeda-beda dimana bentuk alfa
memiliki tingkat keaktifan vitamin E paling tinggi. Satuan umum vitamin E
adalah Tokoferol Ekivalen (TE) yang setara dengan mg d--tokoferol. Selain itu
vitamin E dapat juga dinyatakan dalam Satuan Internasional (SI). 1 mg TE setara
dengan 1.49 SI. Karena vitamin E terdiri dari beberapa bentuk, perhitungan
bentuk vitamin E lain harus disetarakan dengan bentuk alfa, yaitu dengan cara
mengalikan kandungannya dengan nilai aktivitas biologis relatif di atas. Vitamin
E bersifat cukup tahan panas, tetapi tidak tahan terhadap alkali, sinar matahari,
dan oksigen. Karena sifatnya yang larut lemak, vitamin E dalam tubuh sebagian
besar disimpan dalam jaringan lemak dan selainnya disimpan dalam hati.

Fungsi utama vitamin E adalah sebagai antioksidan dengan memberikan


atom hidrogen kepada radikal bebas. Radikal bebas adalah molekul yang sangat
reaktif dan bersifat merusak serta memiliki atom tidak berpasangan. Dengan
menerima atom hidrogen dari vitamin E maka radikal bebas tersebut menjadi

17
tidak reaktif lagi. Dalam kondisi tidak ada antioksidan, radikal bebas dapat
menyerang molekul fungsional dalam tubuh sehingga menyebabkan gangguan
dalam menjalankan fungsinya. Vitamin E berada dalam lapisan fosfolipida
membran sel dan berperan dalam melindungi asam lemak tidak jenuh ganda
sebagai komponen utama membran sel dari serangan oksidasi radikal bebas. Jika
terjadi demikian, maka akan terjadi kerusakan pada struktur dan fungsi membran
sel. Di samping itu, vitamin E diduga memiliki fungsi lain tetapi masih perlu
pembuktian lebih lanjut, seperti: berperan dalam sintesis DNA, mencegah
keguguran dan sterilisasi, serta mencegah gangguan menstruasi.

Defisiensi vitamin E jarang sekali ditemukan karena makanan sehari-hari


cukup mengandung vitamin E. Namun demikian, kita harus tetap waspada adanya
kemungkinan keadaan subklinis, misalnya pada bayi berat lahir rendah dengan
transfer vitamin E melalui plasenta tidak efisien.

Gangguan yang dapat dilihat karena kekurangan vitamin E adalah hemolisis


dan berkurangnya umur hidup eritrosit. Penelitian pada binatang percobaan
didapatkan bahwa defisiensi vitamin E menyebabkan kemandulan baik pada
jantan dan betina. Gangguan lain adalah distrofi otot dan ketahanan saraf pusat
(ensefalomalasia). Pada pemeriksaan biokimia, seseorang akan dikatakan
memiliki nilai normal vitamin E jika di dalam serum ≥ 0,7 mg.

2.4 VITAMIN C

 Pengertian

Beberapa karakteristiknya antara lain sangat mudah


teroksidasi oleh panas, cahaya, dan logam. Meskipun jeruk dikenal sebagai buah
penghasil vitamin C terbanyak, sebenarnya salah besar, karena lemon memiliki
kandungan vitamin C lebih banyak 47&% daripada jeruk.

 Prosedur penilaiannya

Indikasi Persiapan Metode

Deteksi defisiensi  Pasien puasa  HPLC, kolorimeteri,

18
asam askorbat o.n fluorometri

 Spesimen: serum,  Nilai normal dalam serum: 0,6-


plasma, lekosit 2 mg/Dl

 Pengukuran dari urin 24 jam:


1) baseline, 2) 2 hari kemudian
diberi vit C 200 mg oral =>
defisiensi: bila kadar yang ke-2
< 50 mg

 Ambang batas

Vitamin C berdasarkan U.S. RDA antara lain untuk pria dan wanita sebanyak 60
mg/hari, bayi sebanyak 35 mg/hari, ibu hamil sebanyak 70 mg/hari, dan ibu
menyusui sebanyak 95 mg/hari. Kebutuhan vitamin C meningkat 300-500%
pada penyakit infeksi, TB, tukak peptik, penyakit neoplasma, pasca bedah atau
trauma, hipertiroid, kehamilan, dan laktasi (Kamiensky, Keogh 2006)

 Penyakit yang berkaitan dengan zat gizi mikro dinilai secara biokimia

Vitamin C diperlukan pada pembentukan zat kalogen oleh fibroblast dan


merupakan bagian dalam pembentukan zat intersel. Keadaan kekurangan
vitamin C akan mengganggu integrasi dinding kapiler. Vitamin C diperlukan
juga pada proses pematangan eritrosit dan pada pembentukan tulang dan dentin.
Selain itu, vitamin C berperan penting pada respirasi jaringan.

Pada scurvy (kekurangan vitamin C), pertumbuhan anak terganggu dan timbul
pendarahan kapiler dimana-mana, terutama di daerah periostium dekat ujung
tulang panjang. Kadang-kadang terdapat pendarahan gusi dan ekimosis di
tempat lain.

Pada waktu anak dilahirkan, persediaan vitamin C dalam tubuh cukup banyak
sehingga kejadian infantile scurvy sebagian besar terjadi pada umur 6-12 bulan.
Pada umur 1 tahun umumnya anak sudah mendapatkan makanan yang lebih
bervariasi hingga angka kejadian scurvy menurun.

19
2.5 Tiamin ( 𝑩𝟏 )

 Pengertian

Sebuah vitamin dengan struktur kimia C12H17ClN4OS, salah satu jenis


dari vitamin B kompleks, yang banyak ditemukan dalam daging, ragi, dan biji-
bijian. Vitamin ini berfungsi sebagai metabolisme karbohidrat dan juga
menormalkan aktivitas saraf. Vitamin ini larut dalam air, dan dalam
metabolisme karbohidrat menjadikan gula yang lebih sederhana dan setelah itu
dapat digunakan sebagai bahan bakar energi tubuh. Thiamin ini juga diperlukan
untuk membuat kerja jantung menjadi normal, membuat kerja otot baik, dan
juga seperti yang telah disebutkan, menormalkan fungsi saraf tubuh.

 Prosedur penilaiannya

Indikasi Persiapan Metode

Deteksi defisiensi  Pasien puasa  Paling reliable: aktivitas


vitamin B₁ transketolase pada RBC/whole
o.n
blood: hasil > 15% pada
 Spesimen: serum
penambahan thiamin difosfat
invitro

 Kadar < 0.6 U/g Hb

 HPLC: tidak rutin dalam


pelayanan

 Ambang batas

Untuk kebutuhan laki-laki, vitamin 𝐵1 dengan dosis sesuai usia sebagai berikut:

a. 1 sampai 3 tahun : 0.5 miligram per hari

b. 4 sampai 8 tahun : 0.6 miligram per hari


c. 9 sampai 13 tahun : 0.9 miligram per hari
d. 14 tahun ke atas : 1.2 miligram per hari

20
Sedangkan untuk kebutuhan perempuan dengan dosis juga sesuai usia sebagai
berikut:

a. 1 sampai 3 tahun : 0.5 mcg per hari


b. 4 sampai 8 tahun : 0.6 mcg per hari
c. 9 sampai 13 tahun : 0.9 mcg per hari
d. 14 sampai 18 tahun : 1.0 mcg per hari
e. 19 tahun keatas : 1.1 mcg per hari

 Penyakit yang berkaitan dengan zat gizi mikro dinilai secara biokimia

Kekurangan tiamin merupakan penyebab penyakit beri-beri. Jika diet pada


wanita yang sedang hamil tidak cukup mengandung vitamin 𝐵1, anak yang
dilahirkan dapat menderita penyakit beri-beri bawaan atau gejala beri-beri dapat
timbul pada anak yang sedang disusui, penyakit tersebut dapat pula timbul pada
anak dengan gastroenteritis menahun.

2.6 Riboflavin (Vitamin B2)


Riboflavin (vitamin B2) merupakan vitamin yang berperan pada reaksi
teransfer elektron pada sistem reaksi biologis. Namun manusia tidak bisa
menyintesis vitamin ini secara in vivo, sehingga vitamin ini harus diperoleh dari
asupan makanan.

Riboflavin terdiri atas sebuah cincin isoaloksazin heterosiklik yang terikat


dengan gula alcohol, ribitol. Riboflavin dapat dilarutkan dalam air dan berwarna
kuning berfluoresensi, tahan panas dan asam, tetapi mudah dihancurkan oleh sinar
dan media lindi (cairan keras).

Vitamin B2 terdapat dimana-mana dalam alam. Daging, hati, ragi, keju,


telur, dan sayur-mayur berupa daun merupakan sumber vitamin B2 yang baik.
Susu sapi mengandung vitamin B2 sekitar 5 kali lebih banyak dibandingkan
dengan ASI. Bagi mereka yang sering mengonsumsi susu kebutuhan B2 dapat
dipenuhi dengan 1 L susu seharinya. Padi-padian umumnya tidak mengandung
banyak riboflavin. Riboflavin mudah diserap oleh saluran pencernaan dan
berfungsi sebagai koenzim daripada enzim pernapasan penting flavoprotein.

21
Prosedur Penilaian Riboflavin

Aktifitas eritrosit glutation reduktase digunakan untuk mengukur kejenuhan


jaringan dan status riboflavin jangka panjang.

Batasan Riboflavin

Pria

 1 sampai 3 tahun: 0,5 miligram per hari


 4-8 tahun: 0,6 miligram per hari
 9-13 tahun: 0,9 miligram per hari
 14+ tahun: 1,3 miligram per hari

Wanita

 1 sampai 3 tahun: 0,5 miligram per hari


 4-8 tahun: 0,6 miligram per hari
 9-13 tahun: 0,9 miligram per hari
 14 sampai 18 tahun: 1,0 miligram per hari
 18+ tahun: 1,1 miligram per hari
 Wanita sedang hamil: 1,4 miligram per hari
 Wanita menyusui: 1,6 miligram per hari

Urine dalam 24 jam yang mengandung riboflavin kurang dari 5 mg


merupakan indikasi adanya kekurangan vitamin B2 dan biasanya sudah disertai
gejala klinisnya.

Penyakit yang Berkaitan dengan Riboflavin

Umumnya kekurangan vitamin B2 atau ariboflavinosis merupakan


penyakit penyerta pada penyakit kekurangan lainnya. Pada penderita KEP berat
tidak ditemukan tanda-tanda kekurangan vitamin B2, seperti retak-retak pada
sudut mulut, lidah yang merah jambu dan licin.

22
Karena riboflavin memiliki sensitivitas terhadap cahaya, defisiensi
riboflavin dapat terjadi pada bayi yang baru lahir dengan hiperbilirubinemia yang
mendapat fototerapi.

2.7 Niasin
Niasin merupakan nama generik untuk asam nikotinat dan nikotinamida
yang berfungsi sebagai sumber vitamin tersebut dalam makanan. Asam nikotinat
merupakan derivat asam monokarboksilat dari piridin.

Bentuk aktif sari niasin adalah Nikotinamida Adenin Dinukleotida


(NAD+) dan Nikotinamida Adenin Dinukleotida Fosfat ( NADP+).

Nikotinat merupakan bentuk niasin yang diperlukan untuk sintesis NAD+


dan NADP+ oleh enzim-enzim yangterdapat pada sitosol sebagian besar sel.
Karena itu,setiap nikotinamida dalam makanan, mula-mula mengalami deamidasi
menjadi nikotinat. Dalam sitosol nikotinat diubah menjadidesamido NAD+
melalui reaksi yang mula-mula dengan 5- fosforibosil –1-pirofosfat ( PRPP ) dan
kemudian melalui adenilasi dengan ATP. Gugus amido pada glutamin akan turut
membentuk koenzim NAD +. Koenzim ini bisa mengalami fosforilasi lebih lanjut
sehingga terbentuk NADP+.

Batasan Niasin

Umur Kriteria
Senyawa dan satuan
(tahun) Kurang Margin Cukup
Nimetil nikotinamida Semua umur <0,2 0,2 – 5,59 0,6 +
urine
(mg/g keratin) Wanita Hamil <0,8 0,8 – 2,49 2,5 +

Penyakit yang Berkaitan dengan Niasin

Niasin juga dikenal sebagai pellagra preventive factor karena kekurangan


niasin dalam makanan dapat menyebabkan suatu penyakit pellagra (kulit kasar).
Gejala-gejala pellagra dikenal sebgaai 3D yaitu dermatitis (radang pada kulit),
diare, dimensia (kemunduran fungsi otak).

23
2.8 Vitamin 𝑩𝟔 ( piridoksin, pridoksal, piridoksamin)
Vitamin B_6 terdiri atas derivat piridin yang berhubungan erat adalah piridoksin,
piridoksal serta piridoksamin dan derivat fosfatnya yang bersesuaian. Vitamin
B_6 memiliki 2 bentuk aktif yaitu pyridoxal phosphat dan pyridoxamine
phosphat.

Fungsi dari vitamin 𝐵6 yaitu :𝐵6

1. Koenzim dari beberapa enzim

2. Mempengaruhi pemasukan asam amino ke dalam sel

3. Sangat penting untuk fungsi normal dari susunan saraf pusat dan susunan
saraf tepi.

Penilaian status gizi vitamin 𝐵6 dapat dilakukan dengan beberapa tes biokimia
seperti pengukuran plasma piridoksal phospat (nilai normal sekitar 10 µg/ml atau
50 nmol/l), peningkatan asam xanturenat dalam urin sebagai akibat dari konsumsi
asam amino triptofat, dan tes urin terhadap 4 asam piridoksat. Gejala-gejala
kekurangan vitamin 𝐵6 pada orang dewasa berupa dermatitis dan acrodynia
sedangkan kekurangan vitamin B6 pada bayi dapat menyebabkan kejang dan
anemia. Terdapat pula gejala defisiensi piridoksin ialah cengeng, mudah kaget,
kejang (tonik-klonik). Pemberian INH yang lama pada orang dewasa tanpa
tambahan vitamin B6 dapat menimbulkan polineuritis.

Tabel . Batasan dan Interprestasi Status Vitamin B6

24
2.9 Vitamin 𝑩𝟏𝟐 (kobalamin)
Vitamin B12 disebut juga sianocobalalamin atau cobalamin yang
merupakan vitamin bermanfaat untuk pengobatan penyakit anemia pernisiousa.
Fungsi dari vitamin B12 yaitu, Digunakan untuk metil group metabolisme perlu
digunakan untuk metabolisme protein

Vitamin B12 dianggap sebagai komponen antianemia dalam faktor


ekstrinsik. Getah lambung orang normal mengandung substansi yang disebut
faktor intrinsik yang bereaksi dengan faktor ekstrinsik. Pada anemia pernisiosa
biasanya faktor intrinsik tidak terdapat dalam getah lambung. Walaupun daging
mengandung vitamin B12 , namun tidak dapat digunakan oleh penderita anemia
pernisiosa, karena faktor intrinsik tidak ada. Vitamin B12 terikat pada protein dan
hanya dapat dilepaskan oleh faktor intrinsik untuk kemudian diserap.

Tabel. Batasan Kadar Vitamin B12

25
2.10 Iodium
Yodium adalah zat makanan yang tergolong kedalam mineral mikro,
bersifat mudah larut dalam air, dan diperlukan oleh hampir semua makhluk hidup
sebagai bahan dasar dalam pembentukan hormon tiroid. Yodium merupakan
bahan dasar untuk sintesis hormon tiroid yang berlangsung di dalam kelenjar
tiroid. Hormon tiroid memainkan peranan yang penting dalam pengaturan
metabolisme tubuh.

Yodium merupakan “trace elements” yang dibutuhkan tubuh sebagai


bahan dasar dalam pembentukan hormon tiroid. Bahan makanan yang banyak
mengandung yodium adalah “seafood”, selain itu juga terdapat dalam buah-
buahan dan sayuran seperti stroberi, apel. dan jeruk, tergantung pada kandungan
yodium dalam tanah dan air tempat tumbuhan tersebut ditanam. Yodium
merupakan zat yang mudah larut dalam air. Jika terjadi erosi, air dengan mudah
mengikis yodium dari permukaan tanah dan kemudian dibawa ke laut. Pengikisan
yodium mengakibatkan tanah pegunungan mengalami kekurangan yodium
sehingga penyakit gondok sering ditemukan di daerah pegunungan, seperti
pegunungan Alpen, Himalaya, Andes, Bukit Barisan, dan beberapa pegunungan
lain (Sudoyo, 2009).

 Penilaian

26
(Stanbury, 1996 dalam Rinaningsih, 2007), telah disepakati pengambilan
sampel urine untuk pemeriksaan Urinariy Excretion iodine (EUI) cukup
menggunakan urine sewaktu dan tidak perlu lagi menggunakan ratio dengan
kreatinin. Urine dapat ditampung dalam botol penampung tertutup rapat, tidak
perlu dimasukkan dalam lemari es selama masa transportasi dan tidak perlu
ditambah pengawet urine. Prosedur penentuan kadar yodium dalam urine dengan
metode Cerium adalah sebagai berikut :

1. 10 ml urin didestruksi (pengabuan basah) dengan penambahan 25 ml asam


klorat 28% dan 1 ml kalium kromat 0.5 %.
2. Panaskan diatas hotplate sehingga volume larutan menjadi kurang dari 0.5
ml. Larutan ini diencerkan dengan air suling sehingga volume larutan
menjadi 100 ml.
3. Dari larutan terakhir ini dipipet 3 ml, kemudian ditambahkan 2 ml asam
arsenit 0.2 N; lalu didiamkan selama 15 menit.
4. Ke dalam tiap larutan kemudian ditambahhkan 1 ml larutan cerium (4+)
ammonium sulfat 0.1 M; dikocok kembali didiamkan selama 30 menit.
Absorpsi dilakukan pada panjang gelombang 420 nm.

Kurva standar dibuat dengan cara yang sama seperti di atas pada kadar
yodium 0.01; 0.02; 0.03; 0.04; dan 0.05 ppm. Larutan standar induk yang
berkadar 100 ppm dibuat dengan melarutkan 0.0168 g KIO3 dalam 100 ml air
suling. Karena kadar yodium dalam urin dinyatakan dalam mg 1 per g kreatinin,
maka diukur pula kadar kreatinin urin dengan cara sebagai berikut :

a) 0,1 ml urin yang telah diencerkan 100 kali ditambahkan 4 ml H2SO4 1/12
N dan 0.5 ml natrium tungstat.
b) Setelah itu dikocok dan didiamkan selama 15 menit lalu dipusing selama
10 menit.
c) Supernatan dipisahkan lalu ditambahkan 0.5 ml larutan campuran 1 ml
asam pikrat 10% dan 0.2 ml NaOH 10%.
d) Setelah didiamkan selama 15 menit, absorpsi larutan dibaca pada panjang
gelombang 520 nm.

27
Standar kreatinin dengan konsentrasi 1 mg dikerjakan dengan cara yang
sama. Perhitungan kadar yodium per g kreatinin : jiak diketahui konsentrasi
yodium A µg/l urin dan kadar kreatinin B g/l. maka kadar yodium A/B µg/g
kreatinin. Defisiensi yodium merupakan penyebab dominan gondok endemik
yang diklasifikasikan menurut ekskresi yodium dalam urin (µg/gr kreatinin),
antara lain :

Tahap 1 : gondok endemik dengan rata-rata >50 µg/gram kreatinin dalam urin.
Pada keadaan ini suplai hormon tyroid cukup untuk perkembangan fisik dan
mental yang normal.

Tahap 2 : gondok endemik dengan rata-rata 25-50 µg/gram kreatinin dalam urin.
Pada kondisi ini sekresi hormon tyroid boleh jadi tidak cukup, sehingga
menanggung resiko hypotyroidisme, tettapi tidak sampai ke kreatinisme.

Tahap 3 : gondok endemik dengan rata-rata ekskresi yodium dalam urin kurang
dari 25mg/gram kreatinin. Pada kondisi ini populasi memiliki resiko menderita
kreatinisme.

 Penyakit

- GAKY

GAKY adalah rangkaian kekurangan yodium pada tumbuh kembang


manusia. Spektrum seluruhnya terdiri dari gondok dalam berbagai stadium, kretin
endemik yang ditandai terutama oleh gangguan mental, gangguan pendengaran,
gangguan pertumbuhan pada anak dan orang dewasa, sering dengan kadar hormon
rendah, angka lahir dan kematian bayi meningkat. Disamping itu ada cara lain
yaitu dengan melakukan pemeriksaan kadar Tyroid Stimulating Hormone (TSH
dalam darah) dan mengukur ekskresi yodium dalam urine.

 Batasan

Batasan Dan Klasifikasi Pemeriksaan Kadar Yodium Dalam Urine :

Suatu daerah dianggap endemis berat bial rata-rata ekskresi yodium dalam
urine lebih rendah dari 25 µg yodium/gram kreatinin, endemik sedang bila

28
ekskresi yodium dalam urine 25-30 µg yodium/gram kreatinin. Anak sekolah
dapat digunakan sebagai target penelitian karena prevalensi GAKY pada anak
sekolah umumnya menggambarkan prevalensi yang ada dalam masyarakat
(Supariasa, 2002).

Dalam buku karangan Ningtiyas (2010) biomarker yang biasanya


digunakan untuk mengukur status yodium adalah ekskresi yodium urine, ini
mendekati gambaran asupan yodium. Pengukuran yodium urin 24 jam lebih
dipilih meskipun WHO menganjurkan urin casual (urin sesaat).

Konsentrasi TSH dalam serum, whole blood atau cord blood biasa
digunakan di negara barat. T3 dan T4 dalam serum mahal, menjadi biomarker
yang jarang digunakan. Dimasa yang akan datang sangat dimungkinkan
menggunakan tyroglobulin dan darah kering untuk biomarker yodium pada anak-
anak.

Ekskresi yodium urin merefleksikan konsumsi yodium harian karena


hanya sedikit yodium yag dikeluarkan melalui feses. Lebih dari 90% asupan
yodium dikeluarkan melalui urin (Nath et al, 1992 dalam Gibson, 2005). Dengan
asumsi nilai median dari urin 24 jam adalah 0,0009 L/h/kg dan rata-rata
biofaibilitas yodium dalam makanan adalah 92% maka intakae yodium harian
dalam µg bisa dihitung dengan Intake yodium harian

= (0,0009 x 24/0,92) x BB x IEU

= 0,0235 x BB x IEU

2.11 Zink
Zink merupakan mikronutrien yang dibutuhkan dalam tubuh dalam jumlah
kecil tapi mempunyai fungsi yang besar dalam tubuh dan apabila kekurangan zat
mikronutrien tersebut dapat menimbulkan berbagai gangguan. Menurut Wiringa
dalam jurnalnya menyatakan defisiensi mikronutrien adalah lazim dan di seluruh
dunia terutama mempengaruhi kelompok-kelompok rentan seperti bayi dan ibu
hamil. Defisiensi mikronutrien dapat berpengaruh pada pertumbuhan dan
perkembangan imunokompetensi.

29
Sumber zat gizi zink dalam makanan dapat kita peroleh dari pangan
hewani, terutama daging, telur, dan kerang. Selain berasal dari pangan hewani,
mineral seng juga dapat kita dapatkan dari makanan jenis serealia. Apabila
seseorang kekurangan zink, maka ia akan mengalami penurunan nafsu makan
(bahkan nafsu makan bisa hilang), penghambatan pertumbuhan, perubahan kulit,
serta penurunan kekebalan tubuh.

 Penilaian

Status zink pada tubuh dapat ditentukan dengan pengukuran konsentrasi


zink serum, konsentrasi zinc eritrosit, leukosit, netrofil, dan konsentrasi zinc
padarambut. Sementara itu, penentuan status zinc marjinal dapat diukur dengan
metallothionin sel darah merah. Konsentrasi metallothionin sel darah merah
memiliki respon yang baik terhadap perubahan asupan zinc, ketika zinc serum
tidak menunjukkan perubahan. Zinc serum adalah indikator yang secara luas
sering dipakai untuk menentukan status zinc saat ini, namun tidak selalu
menggambarkan secara tepat kadar zinc dalam tubuh karena zinc
berikatanterutama dengan albumin, sehingga akan berubah bila kadar albumin
berubah (Hambidge M, 2003).

Zinc rambut yang rendah merupakan indikator yang baik untuk


mengetahui adanya defisiensi zinc ringan maupun sedang. Hal ini disebabkan
karena bila dalam tubuh terjadi defisiensi zinc maka zinc rambut akan diambil
sebagai zinc endogen untuk mencukupi kebutuhan zinc, maka akan
mempengaruhi pertumbuhan rambut. Sehingga analisa terhadap zinc rambut lebih
tepat menggambarkan kecukupan zinc. Pada seseorang dengan defisiensi zinc
berat, konsentrasi zinc rambut akan rendah. Konsentrasi zinc akan kembali normal
dalam serum bila diberi suplementasi zinc (Hambidge M, 2000)

 Batasan

Batasan dan interpretasi pemeriksaan kadar zink dalam plasma adalah 12-17
mmol/liter dikatakan normal.

 Penyakit

30
Gambaran klinis defisiensi zinc pada manusia sangat bervariasi,
tergantung pada beberapa hal, antara lain usia mulai terjadi defisiensi, derajat dan
lamanya defisiensi, penyakit dan kelainan yang merupakan latar belakang
penyebab primer defisiensi, besarnya masukan zinc dan interaksi dengan nutrien
atau faktor-faktor lain dalam makanan. Misalnya, wanita hamil dan menyusui
rentan terhadap kekurangan zinc. Usia lanjut juga mudah menderita defisiensi,
terutama jika mengkonsumsi makanan rendah zinc dan jika terdapat gangguan
absorpsi (Reviana Ch, 2004).

Manifestasi klinis pada defisiensi zinc berbeda- beda pada setiap orang.
Gejala defisiensi ini bervariasi dan non-spesifik, sehingga sulit untuk menegakkan
diagnosis hanya dengan melakukan pemeriksaan fisik. Gejala defisiensi juga
cenderung memburuk dan mengurangi cadangan dalam tubuh setiap waktunya.
Tidak terdapat manifestasi yang spesifik pada defisiensi ini. Kebanyakan gejala
bersifat general dan berhubungan dengan masalah kesehatan lainnya.

 Defisiensi zinc berefek pada beberapa hal, diantaranya:

1. Reproduksi

Zink berperan penting dalam sintesis dan sekresi Luteininzing Hormones (LH)
danFollicle-stimulating Hormones (FSH), diferensiasi gonad, serta fertilisasi.
Defisiensi zinc menyebabkan masalah fertilitas (termasuk hipogonad, kegagalan
maturitas seksual, prognatitis jinak pada laki-laki, dan kram saat menstruasi
padawanita). Dapat pula menyebabkan kelenjar kelamin mengecil pada anak laki-
laki.

2. Kehamilan dan perkembangan prenatal

Defisiensi zinc maternal dapat mengganggu fungsi normal tropoblast, komponen


yang berasal dari embrionik pada plasenta yang berperan dalam implantasi,
produksi dan sekresi hormone. Disfungsi dari tropoblast dihubungkan dengan
perkembangan fetus yang terganggu, dan gangguan lain seperti aborsi spontan,
prolonged gestation, berat badan lahir rendah, dan komplikasi lainnya pada
kelahiran. Malformasi yang berkaitan dengan defisiensi zinc diantaranya

31
abnormalitas fungsi mata dan otak, bibir sumbing dan palatum, dan abnormalitas
pada jantung, paru, dan system urogenital.

Fetus pada ibu hamil yang mengalami defisiensi zinc dapat menunjukkan
retardasimental dan abnormalitas skeletal. Selain itu, dapat menyebabkan
perkembangan postnatal yang terganggu dan efek laten yang dapat bertahan
seumur hidup. Bayi dengan defisiensi zinc secara umum memiliki morbiditas
tinggi yang ditandai dengan rickets, anemia, dystrophy, dermatitis atopic dan
beberapa tipe alergi, dan gangguan pencernaan serta meningkatkan kerentanan
terhadap infeksi. Defisiensi zinc juga berpengaruh pada perkembangan central
nervous system(CNS). Disfungsi CNS merupakan manifestasi klinis pada
kebanyakan acrodermatitis enteropathica dan defek genetic yang berhubungan
dengan sindrom defisiensi zinc. Defisiensi zinc juga berpengaruh pada kognitif
anak, seperti gangguan motorik, perkembangan lokomotif, berbicara, dan
kemampuan orientasi.

3. Immunitas

Zink berperan dalam kebanyakan sel yang terlibat dalam imunitas dan
defisiensizinc dapat mengurangi imunokompeten dan resistensi terhadap infeksi.
Defisiensizinc menurunkan proliferasi dan sekresi sitokin pada mitogen-activated
leukocytes. Tanda defisiensi zinc adalah terjadinya atrofi thymic dan
lymphopenia. Defisiensizinc menyebabkan infeksi oportunistik yang frekuen.

4. Pertumbuhan

Zinc berperan dalam pertumbuhan tulang melalui sejumlah hormone yang terlibat
dalam metabolism tulang dan berhubungan dengan calcium metabolic pathway.
Diantaranya, berperan dalam crosslinking kolagen serta menstimulasi
pembentukan tulang, menurunkan resorpsi tulang dan mineralizatin. Manifestasi
defisiensi zinc adalah retardasi pertumbuhan (dwarfism) dan
hipogonadism.Defisiensi zinc juga dapat menyebabkan retardasi pertumbuhan
intrauterine.

5. Efek klinis lainnya

32
- Efek dermatologis disebabkan oleh defisiensi zinc berat dan pada pasien yang
menderita acrodermatitis enteropathica. Gangguan berupa erythematousscaling
eruptions pada lipatan nasolabial dan retro-auricular, dengan dermatitis yang
menyebar pada kepala dan ekstremitas dan dapat menjadi eksudat pada defisiensi
zinc yang berkelanjutan. Defisiensi dapat pula menyebabkan jerawat dan striae.

- Diare merupakan manifestasi klinis utama pada kebanyakan kasus acrodermatitis


enteropathica, syndrome defisiensi zinc.

- Metabolism zinc dan homeostatis berhubungan dengan proses penuaan dan


gangguan neurodegenerative. Beberapa studi menunjukkan defisiensi zinc
berhubungan dengan terjadinya Parkinson disease yang berkorelasi dengan
gangguan perlihatan, gangguan penciuman dan perasa.

- Defisiensi zinc berhubungan dengan terganggunya proses penyembuhan luka


(inflamasi, proliferasi selular dan remodeling) dan waktu yang lama untuk
perbaikan jaringan. Beberapa studi menunjukkan defisiensi zinc berhubungan
dengan peningkatan risiko luka kronis dan penyembuhan luka yang terlambat.

2.12 Kalsium
Kalsium adalah mineral yang berada dalam tubuh ±2% dan lebih dari 99%
terdapat di dalam tulang. Kadar kalsium darah dipertahankan agak konstan antara
10-15 mg/100ml oleh berbagai faktor. Penurunan kadar kalsium akan
mengundang darah hormon paratiroid untuk bereaksi pada tulang dan melepaskan
sebagian kalsiumnya agar dapat dalam darah di pertahankan atau sebaliknya.
Kalsium darah mempunyai 2 fungsi esensial yaitu untuk proses pembekuan dan
efek terhadap jaringan saraf. Konsumsi yang dianjurkan untuk bayi sampai umur
1 tahun cukup dengan 600 mg, bagi anak umur 1-10 tahun 8000 mg, sedangkan
anak yang rendah menimbulkan perbaikan resorpsi dan menurunkan ekskresi
kadar kalsium dalam darah adalah 2,1-2,6 mmo/liter dikatakan normal.
Prosedur
Instrumen yang digunakan harus dikalibrasikan dan diatur untuk determinasi
serum kalsium sebelum di gunakan;

33
1. Harus ujung probe pelan-pelan sebelum menempatkan kedalam larutan
standar kalsium (10µg/dL)
2. Tekan tombol sample. Lalu sampel akan menyaka dan lampu ‘probe’ akan
mati.
3. Pindahkn larutan standar hapuslah ujung probe pelan-pelan.
4. Tekan tombol titrate. Probe akan bergerak kedalam instrument , lampu
sample akan mati dan lampu tirtrate akan menyala. Angka-angka akan
Nampak. Ketika point akhir dicapai, lampu baca akan menyala dan probe
akan kemuka instrumen.
5. Catat pembacaan
6. Ulangi langkah 1-5. Pembaca harus ada antara 9.80 dan 10.20 untuk
standar kalsium.
7. Campurlah serum tes dengan teliti. Ulangilah langkah 1-5 dengan sample
serum uji, dan catat hasilnya.
8. Ulangi 1-5 dengan serum referensi terjamin dengan kalsium yang
diketahui.
Penyakit
1. Rakhitis
Rakhitis adalah salah satu penyakit yang disebabkan karena
kekurangan kalsium dan terjadi pada anak-anak. Penyakit ini akan
menyebabkan kerusakan bentuk dasar tulang yang bisa mengganggu
pertumbuhan. Penyakit ini akan menyebabkan tulang menjadi sangat
lemah dan bisa memberikan masalah kesehatan hingga lanjut usia jika
tidak mendapatkan perawatan yang tepat.
2. Osteomalacia
Osteomalacia adalah sebuah kondisi penyakit yang bisa
menyebabkan struktur tulang menjadi sangat lunak. Kondisi ini dapat
menyebabkan penderita menjadi lebih mudah untuk bungkuk dan sulit
untuk mendapatkan tulang yang sehat dan kuat. Penyakit ini bisa
menyebabkan kelainan dalam proses pembentukan tulang.
3. Tekanan darah tinggi

34
Tekanan darah tinggi adalah suatu kondisi yang bisa terjadi akibat
kekurangan kalsium. Tekanan darah tinggi bisa dilihat dari hasil
pengukuran aliran darah di arteri. Penyakit ini bisa menyebabkan masalah
kesehatan serius yang sangat kompleks termasuk serangan jantung, stroke,
diabetes, dan beberapa jenis penyakit lainnya.

2.13 Fosfor
Fosfor adalah suatu unsur yang penting bagi seluruh sel-sel hidup, sayur-
sayuran hewan, dalam bentuk ester-ester fosfor organik, termasuk ATP yang
melaluinya energy metabolk dibentuk. Di samping itu mineral tulanh rangka
sebagian besar fosfat anorganik didalam cairan ekstra seluler merupakan faktor
pengawas yang penting untuk mineralisasi tulang rangka, untuk pertubuhan sel
seperti 2,3-difosfogliserat didalam sel darah merah dan ATP di dalam sel-sel
lainnya.
Absorpsi fosfat hanya berlangsung di daerah usus kecil, terutama di bagian
tengah usus halus, dan berlangsung dengan pengangkutan aktif yang
membutuhkan natrium maupun secara difusi. Efisiensi pengangkutan fosfat lebih
besar selama pertumbuhan aktif bila dibandingkan dengan orang dewasa. Tingkat
absorpsi fosfat dari makanan juga dipengaruhi oleh masukan kation-kation yang
dapat membentuk senyawa fosfat tidak larut didalam usus yaitu kalsium,
aluminium dan stronsium.
Tingginya kadar fosfat selama masa pertumbuhan penting untuk menjamin
kelangsungan proses mineralisasi pada tulang-tulang dan tulang raan yang sedang
tumbuh. Sedangkan kebutuhan normal dalam darah 2,5-4,5 µg/100 µl .
Prosedur
1. Metabolisme Fosfat bebas diabsorpsi dalam jejunum bagian tengah dan
masuk aliran darah melalui sirkulasi portal.
2. Pengaturan absorpsi fosfat diatur oleh 1 , 25–dihidroksikolekalsiferol
(1,25-dihidroksivitamin D ). Fosfat ikut dalam pengaturan derivat aktif
vitamin D . Bila kadar fosfat serum rendah, pembentukan 1,25-
dihidroksivitamin D dalam tubu-lus renalis dirangsang, sehingga terjadi
penambahan absorpsi fosfat dari usus.

35
3. Deposisi fosfat sebagai hidroksiapatit dalam tulang diatur oleh kadar
hormon para-tiroid.1,25-dihidroksivitamin D ,memegang peranan yang
memungkinkan hormon para- tiroid melakukan mobilisasi kalsium dan
fosfat dari tulang.
4. Ekskresi fosfat terjadi terutama dalam ginjal. 80-90% fosfat plasma
difiltrasi pada glomerulus ginjal. Jumlah fosfat yang diekskresi dalam urin
menunjukkan perbedaan antara jumlah yang difiltrasi dan yang
direabsorpsi oleh tubulus proximal dan tubulus distal ginjal. 1,25-
Dihidroksivitamin D merangsang reabsorpsi fosfat bersama kalsium dalam
tu-bulus proksimal.
5. Hormon paratiroid mengurangi reabsorpsi fosfat oleh tubulus renalis
sehingga mengurangi efek 1,25-Dihidroksivitamin D pada ekskresi fosfat.
6. Bila tidak ada efek kuat hormon paratiroid, ginjal mampu memberi respon
terhadap 1,25-dihdrok-sivitamin D dengan pengambilan semua fosfat yang
difiltrasi.
Efek Kekurangan Fosfor
Ketika tubuh kekurangan fosfor, ada banyak hal yang bisa terjadi pada tubuh
dan berikut di bawah ini merupakan sejumlah efek dari kurangnya fosfor di dalam
tubuh. Waspadai efek-efek ini dan sebisa mungkin kita harus mencegahnya
dengan menambah asupan fosfor dari makanan-makanan maupun suplemen atas
pengawasan dan izin dokter.
1. Hipofosfatemia
Hipofosfatemia adalah efek pertama dan utama yang akan terjadi
ketika tubuh kita mengalami kekurangan fosfor. Hipofosfatemia adalah
sebuah kondisi di mana kadar fosfat pada darah kita termasuk sangat
rendah. Apabila kadar fosfat pada tubuh tidak lebih atau bahkan kurang
dari 2,5 mgr/dL, maka akan mulai timbul gejala-gejala yang tak enak dan
tak nyaman, seperti misalnya lemah otot dan nyeri tulang. Ketika otot
terasa lemah, maka otomatis tubuh akan melemah yang akhirnya membuat
kita lebih cepat lelah dan malas dalam menjalankan setiap kegiatan sehari-
hari.
2. Penurunan Kondisi Tulang

36
Ketika fosfor dalam tubuh terbilang rendah, tulang pun akan
mengalami kerusakan dan penurunan kondisi. Ingat bahwa fosfor di
bagian gigi dan tulang manusia tersedia 85 persen sendiri, jadi kalau
sampai asupan fosfor berada di bawah normal maka tulang akan terkena
gangguan dan masalah. Jangan membiarkan hal ini terlalu lama terjadi
karena kerusakan tulang dapat menjadi lebih serius jika tubuh tak segera
mungkin mendapatkan tambahan fosfor.
3. Anoreksia
Anoreksia bukanlah kondisi kesehatan baru karena pada dasarnya
ini adalah suatu gangguan makan yang juga dikaitkan dengan seseorang
yang kehilangan nafsu makan. Mengalami anoreksia bukanlah kabar baik
karena hal ini bisa berakibat fatal di mana kinerja organ-organ tubuh kita
akan terhambat dan kemudian berhenti yang sama saja dengan
mengakibatkan kematian pada penderitanya. Apabila mulai merasakan
tidak adanya nafsu makan, kemudian disusul dengan kondisi tubuh yang
melemah, menjadi pemilih dalam hal makanan, serta suka tidak mau
makan, itu tandanya bisa jadi tubuh tengah kekurangan fosfor.
Efek Kelebihan Fosfor
Ketika tubuh tak mendapat asupan fosfor yang cukup, ada efek yang harus
diderita, begitupun saat tubuh memiliki fosfor terlalu banyak. Kandungan fosfor
bila terlalu banyak di dalam tubuh juga tak akan baik dan menimbulkan efek-efek
seperti berikut ini:
1. Kerusakan Ginjal
Sekitar 700 mg fosfor perlu dipenuhi oleh orang-orang yang usianya antara 19-80
tahun per harinya, tapi tidaklah harus memperoleh 4000 mg fosfor yang asalnya
dari suplemen dan sumber makanan yang dikombinasikan atau dikonsumsi secara
berbarengan. Terkadang mengonsumsi suplemen justru akan memicu jumlah
konsumsi yang lebih banyak sehingga pada akhirnya akan terjadi
pengakumulasian kalsium yang mengendap di bagian jaringan lunak, dan ini
biasanya dialami oleh organ ginjal. Ginjal yang mengalami hal ini secara
berkelanjutan tanpa adanya penanganan bakal rusak secara permanen.
2. Hiperkalemia

37
Efek yang wajib diwaspadai selanjutnya adalah hiperkalemia;
meski kondisi ini biasanya muncul ketika tubuh memiliki kalium yang
tinggi pada darah, ini juga bisa menjadi efek dari kelebihan fosfor.
Keadaan seperti ini biasanya diawali dengan gejala denyut jantung
melambat dan terasa mual yang bila tak ditangani secepatnya bisa
mengakibatkan kematian, atau paling tidak kehilangan kesadaran. Ketika
kita memakai obat diuretik untuk keadaan tinggi kalium yang juga
dikonsumsi bersamaan dengan suplemen fosfor, interaksi keduanya tak
akan baik.
3. Interferensi Mineral
Banyaknya fosfor di dalam tubuh dengan kadar berlebihan dan tak
terkontrol mampu menyebabkan efek buruk, yaitu membatasi tubuh untuk
melakukan penyerapan mineral. Jadi, apabila fosfor sampai terlalu
mendominasi, segala jenis mineral lainnya seperti zinc, magnesium, zat
besi dan kalsium tak akan terserap sempurna seperti yang seharusnya.
Kalsium dapat menghilang dari tulang karena kelebihan fosfor ini.
4. Gangguan Pencernaan
Takaran konsumsi fosfor yang berlebihan juga memberikan
dampak buruk bagi pencernaan kita, apalagi bagi yang pencernaannya
cukup sensitif. Ketahui sumber makanan apa saja yang mengandung fosfor
dan ikuti takaran kebutuhan fosfor harian agar tak menjadi terlalu banyak
atau bahkan terlalu sedikit dalam konsumsinya.
5. Penyakit Tulang
Fosfor yang dikonsumsi dengan takaran yang lebih banyak dari normalnya akan
menyebabkan kelebihan fosfor di dalam tubuh dan ini bisa sangat berbahaya bagi
tulang. Fosfor yang berlebihan, khususnya pada anak remaja yang masih
bertumbuh, akibatnya bisa fatal karena mengganggu pertumbuhan organ tubuh
lainnya. Inilah yang menjadi alasan mengapa para remaja sangat perlu membatasi
konsumsi minuman dan makanan kaya akan fosfor. Bahkan minuman soda yang
enak dan diminati banyak remaja pun sebaiknya dihindari apabila menginginkan
pertumbuhan tubuh yang sempurna.

38
2.14 Magnesium
Magnesium adalah ion intrasel dan bekerja sebagai kofaktor pada
fosforilasi oksidatif dan juga didepositokan pada tulang. Konsentrasi
magnesium dalam serum mempengaruhi transmisi syaraf dan kontraksi
otot. Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi kalsium seperti asam
fitat, asam lemak, dan fosfor juga mempengaruhi absorpsi magnesium.
Kekurangan mineral ini jarang terjadi kecuali pada KEP berat. ASI
maupun susu sapi mengandung cukup magnesium untuk memenuhi
kebutuhan bayi. Faktor-faktor yang mempengaruhi metabolisme Mg
seperti hormon paratiroid, mempengaruhi pula magnesium. Batasan dan
interpretasi pemeriksaan kadar magnesium dalam darah adalah 1.8-2.4 µg/
100 ml.
Prosedur Penilaiannya
S Magnesium = 1,7 – 2,3 mg/dl
Magnesium dalam Urine = 28 – 180 mg/24 jam
Tes ini bertujuan mengetahui kadar magnesium dalam urin, untuk
mendiagnosis suatu penyakit yang berhubungan dengan metabolic tubuh
yang di gambarkan oleh ekskresi magnesium. Dengan asupan makanan
normal 200-500 mg magnesium per hari, ekskresi urin biasanya 75-150
mg/ 24 jam.
Penyakit yang berkaitan adalah KEP berat.

2.15 Krom
Krom berperan penting pada metabolisme karbohidrat dan glukosa.
Mineral tersebut menstimulir sintesis asam lemak dan kolesterol dalam
hepar. Kekurangan krom mengakibatkan pertumbuhan yang berkurang dan
sindroma yang menyerupai diabetes mellitus. Hanya beberapa persen
masukan krom dapat diserap oleh saluran pencernaan. Percobaan pada
tikus dengan diet rendah krom dan protein menimbulkan kekeruhan
kornea. Krom terdapat pada minyak jagung, serelia dan daging. Kadar
krom dalam darah normal berkisar 0.14-0.15 µg/ml untuk serum atau 0.26-
0.28 µg/ml untuk plasma.

39
2.16 Tembaga
Tembaga dianggap sebagai zat gizi essensial pada tahun 1928, ketika
ditemukan bahwa anemia hanya dapat dicegah bila tembaga dan besi keduanya
ada di dalam tubuh dalam jumlah cukup. Dalam melakukan fungsinya dalam
tubuh, tembaga banyak berinteraksi dengan seng, molibden, belerang dan vitamin
C.
Tembaga ada di dalam tubuh sebanyak 50-120 mg, sekitar 40% ada di
dalam otot, 15% di dalam hati, 10% di dalam otak, 6% didalam darah dan
selebihnya di dalam tulang, ginjal, dan jaringan tubuh lainnya. Di dalam plasma,
60% dari tembaga terikat pada seruloplasmin, 30 % pada transkuprein dan
selebihnya pada albumin dan asam amino.
Fungsi utama tembaga di dalam tubuh adalah sebagai bagian dari enzim.
Enzim-enzim mengandung tembaga mempunyai berbagai macam peranan
berkaitan dengan reaksi yang menggunakan oksigen atau radikal oksigen.
Tembaga merupakan bagian dari enzim metaloprotein yang terlibat dalam fungsi
rantai sitokrom dalam rantai oksidasi di dalam mitokondria, sintesis protein-
protein kompleks jaingan kolagen di dalam kerangkia tubuh dan pembuluh darah
serta dalam sintesis pembawa rangsang saraf (neurotransmitter) seperti neurolgia
dan neuropeptide, seperti ensafalin. Sebagian besar tembaga di dalam sel darah
merah terdapat sebagai metaloenzim superoksida dismutase yang gterlibat di
dalam pemusnahan radikal bebas (sebagai antioksidan).
Tembaga memegang peranan dalam mencegah anemia dengan cara (a)
Membantu absorpsi zat besi; (b) Merangsang sintesis hemoglobin; (c) Melepas
simpanan besi dari ferritin dalam hati. Sebagai bagian dari enzim seruloplasmin,
tembaga berperan dalam oksidasi besi bentuk fero, menjadi feri. Sebagai bagian
enzim tirosin tembaga berperan dalam perubahan asam amino tirosin menjadi
melanin, yaitu pigmen kulit dan rambut. Kekurangan tembaga dikaitkan dengan
albinisme yaitu kekurangan warna kulit dan rambut.
Kadar serum tembaga diukur dengan metoda Atomic Absorption
Spectrophotometry (AAS) atau Spektroskopi Serapan Atom. Prinsip analisis
dengan SSA adalah interaksi antara energi radiasi dengan atom unsur yang
dianalisis. AAS banyak digunakan untuk analisis unsur. Atom suatu unsur akan

40
menyerap energi dan terjadi eksitasi atom ke tingkat energi yang lebih tinggi.
Keadaan ini tidak stabil dan akan kembali ke tingkat dasar dengan melepaskan
sebagian atau seluruh tenaga eksitasinya dalam bentuk radiasi. Frekuansi radiasi
yang dipancarkan karakteristik untuk setiap unsur dan intensitasnya sebanding
dengan jumlah atom yang tereksitasi yang kemudian mengalami deeksitasi.
Teknik ini dikenal dengan SEA (spektrofotometer emisi atom). Untuk SSA
keadaan berlawanan dengan cara emisi yaitu, populasi atom pada tingkat dasar
dikenakan seberkas radiasi, maka akan terjadi penyerapan energi radiasi oleh
atom-atom yang berada pada tingkat dasar tersebut. Penyerapan ini menyebabkan
terjadinya pengurangan intensitas radiasi yang diberikan. Pengurangan
intensitasnya sebanding dengan jumlah atom yang berada pada tingkat dasar
tersebut.
Larutan sampel diaspirasikan ke suatu nyala dan unsur-unsur di dalam
sampel diubah menjadi uap atom sehingga nyala rnengandung atom unsur-unsur
yang dianalisis. Beberapa diantara atom akan tereksitasi secara termal oleh ayala,
tetapi kebanyakan atom tetap tinggal sebagai atom netral dalam keadaan dasar
(ground state). Atom-atom ground state ini kemudian menyerap radiasi yang
diberikan oleh sumber radiasi yang terbuat dari unsur-unsur yang bersangkutan.
Panjang gelombang yang dihasilkan oleh sumber radiasi adalah sama dengan
panjang gelombang yang diabsorpsi oleh atom dalam nyala. Absorpsi ini
mengikuti hukum Lambert-Beer. yakni absorbansi berbanding lurus dengan
panjang uyala yang dilalui sinar dan konsentrasi uap atom dalam nyala. Kedua
variabel ini sulit untuk ditentukan tetapi panjang nyala dapat dibuat konstan
sehingga absorbansi hanya berbanding langsung dengan konsentrasi analit dalam
larutan sampel. Teknik-teknik analisisnya sama seperti pada spektrofotometri UV-
Vis yaitu standar tunggal, kurva kalibrasi dan kurva adisi standar.
Metode SSA sangat tepat untuk analisa zat pada konsentrasi rendah.
Logam-logam yang membentuk campuran kompleks dapat dianalisa dan selain itu
tidak selalu diperlukan sumber energi yang besar. Sensitivitas dan batas deteksi
merupakan parameter yang sering digunakan dalam SSA. Keduanya dapat
bervariasi dengan perubahan temperatur nyala, dan lebar pita spektra.

41
Ada tiga teknik yang biasa dipakai dalam analisis secara spektrometri.
Ketiga teknik tersebut adalah :
a. Metoda StandarTunggal
Metoda sangat praktis karena hanya menggunakan satu larutan standar
yang telah diketahui konsentrasinya (Cstd). Selanjutnya absorbsi larutan
standar (Asta) dan absorbsi larutan sampel (Asmp) diukur dengan
Spektrofotometri. Dari hk. Beer diperoleh :
Astd =ε.b.Cstd Asmp =ε.b.Csmp
ε.b = Astd/ Cstd ε.b = Asmp/Csmp
sehingga,
Astd/Cstd = Csmp /Csmp→Csmp = (Asmp/Astd) X Cstd
Dengan mengukur Absorbansi larutan sampel dan standar, konsentrasi,
larutan sampel dapat dihitung.
b. Metode Kurva Kalibrasi
Dalam metode ini dibuat suatu seri larutan standar dengan berbagai
konsentrasi dan absorbansi dari larutan tersebut diukur dengan AAS.
Langkah selanjutnya adalah membuat grafik antara konsentrasi (C) dengan
Absorbansi (A) yang akan merupakan garis lurus melewati titik nol
dengan slope = ε.b atau slope = a.b. Konsentrasi larutan sampel dapat
dicari setelah absorbansi larutan sampel diukur dan diintrapolasi ke dalam
kurva kalibrasi atau dimasukkan ke dalam persamaan garis lurus yang
diperoleh dengan menggunakan program regresi linear pada kurva
kalibrasi.
c. Metoda Adisi Standar
Metoda ini dipakai secara luas karena mampu meminimalkan
kesalahan yang disebabkan oleh perbedaan kondisi lingkungan (matriks)
sampel dan standar. Dalam metoda ini dua atau lebih sejumlah volume
tertentu dari sampel dipindahkan ke dalam labu takar. Satu larutan
diencerkan sampat volume tertentu kemudian diukur absorbansinya tanpa
ditambah dengan zat standar, sedangkan larutan yang lain sebelum diukur
absorbansinya ditambah terlebih dulu dengan sejumlah tertentu tarutan

42
standar dan diencerkan seperti pada larutan yang pertama. Menurut hukum
Beer akan berlaku hal-hal berikut :
Ax = k.Cx AT = k(Cs + Cx)
Dimana.,
Cx = konsentrasi zat sampel
Cs = konsentrasi zat standar yang ditambahkan ke larutan sampel
Ax = Absorbansi zat sampel (tanpa penambahan zat standar)
Ar = Absorbansi zat sampel + zat standar
Jika kedua persamaan diatas digabung akan diperoleh:
Cx = Cs x {Ax/(AT -Ax)}
Konsentrasi zat dalam sampel (Cx) dapat dihitung dengan mengukur
Ax dan AT dengan spektrofotometer. Jika dibuat suatu seri penambahan
zat standar dapat pula dibuat suatu grafik antara AT lawan Cs, garis lurus
yang diperoleh diekstrapolasi ke AT = 0, sehingga diperoleh:
Cx = Cs x {Ax/(O - Ax)}; Cx = Cs x (Ax/-Ax)
Cx = Cs x (-1) atau Cx = -Cs

Batasan dan klasifikasi pemeriksaan kadar tembaga dalam darah dalam


keadaan normal adalah 80 – 150 µg/100 ml.
Beberapa penyakit dapat terjadi akibat kurang atau lebih nya kadar
tembaga dalam tubuh. Kekurangan tembaga jarang terjadi. Kekurangan ini pernah
dilihat pada anak-anak kekurangan protein dan penderita anemia kurang besi serta
pada anak-anak yang mengalami diare. Nutrisi parental yang kurang dalam
tembaga juga daapt menyebabkan kekurangan tembaga. Kekurangan tembaga
juga dapat terjadi pada bayi lahir premature atau bayi yang mendapat susu sapi
yang komposisi gizinya tidak disesuaikan. Kekurangan tembaga dapat menggangu
pertumbuhan dan metabolisme, di samping itu terjadi demineralisasi tulang.
Kelebihan tembaga secara kronis menyebabkan penumpukan tembaga di
dalam hati yang dapat menyebabkan nekrosis hati atau serosis hati. Kelebihan
tembaga dapat terjadi karena memakan suplemen tembaga, atau menggunakan
alat memasak terbuat dari tembaga, terutama bila digunakan untuk memasak
cairan yang bersifat asam. Konsumsi sebanyak 10-15 mg tembaga sehari dapat
menimbulkan muntah-muntah dan diare. Berbagai tahap perdarahan intravascular

43
dapat terjadi, begitupun nekrosis sel-sel hati dan gagal ginjal. Konsumsi dosis
tinggi dapat menyebabkan kematian.

2.17 Selenium
Selenium adalah mineral penting yang sangat dibutuhkan oleh tubuh
sebagai antioksidan untuk meredam aktivitas radikal bebas, tidak diproduksi oleh
tubuh, tetapi diperoleh dari konsumsi makanan sehari-hari. Sumber utama
selenium adalah tumbuh-tumbuhan dan makanan laut. Selenium membantu tubuh
dalam memecah bahan kimia beracun, menstimulasi sistem kekebalan tubuh
untuk melawan kanker, meningkatkan kepekaan terhadap kerusakan gigi
(Vitahealth 2006). Manfaat Selenium bagi tubuh yaitu (1) menangkal radikal
bebas. Selenium bekerja sama dengan vitamin E sebagai zat antioksidan untuk
memperlambat oksidasi asam lemak tak jenuh; (2) meningkatkan kekebalan
tubuh. Selenium diketahui memperbaiki sistem imunitas (kekebalan tubuh) dan
fungsi kelenjar tiroid. Hasil penelitian belakangan ini yang memastikan bahwa
selenium dapat mencegah kanker (termasuk kanker kulit akibat paparan matahari)
sebagai mineral yang bermanfaat besar untuk meningkatkan fungsi kekebalan
tubuh manusia; (3) Mempertahankan elastisitas. Selenium bersama vitamin E
berfungsi mempertahankan elastisitas jaringan dan bila kadar selenium berkurang
maka tubuh akan mengalami penuaan dini, yaitu kondisi sel yang rusak sebelum
waktunya.
Kadar selenium diukur dengan metoda Atomic Absorption
Spectrophotometry (AAS) atau Spektroskopi Serapan Atom. Prinsip analisis
dengan SSA adalah interaksi antara energi radiasi dengan atom unsur yang
dianalisis. AAS banyak digunakan untuk analisis unsur. Atom suatu unsur akan
menyerap energi dan terjadi eksitasi atom ke tingkat energi yang lebih tinggi.
Keadaan ini tidak stabil dan akan kembali ke tingkat dasar dengan melepaskan
sebagian atau seluruh tenaga eksitasinya dalam bentuk radiasi. Frekuansi radiasi
yang dipancarkan karakteristik untuk setiap unsur dan intensitasnya sebanding
dengan jumlah atom yang tereksitasi yang kemudian mengalami deeksitasi.
Teknik ini dikenal dengan SEA (spektrofotometer emisi atom). Untuk SSA
keadaan berlawanan dengan cara emisi yaitu, populasi atom pada tingkat dasar
dikenakan seberkas radiasi, maka akan terjadi penyerapan energi radiasi oleh

44
atom-atom yang berada pada tingkat dasar tersebut. Penyerapan ini menyebabkan
terjadinya pengurangan intensitas radiasi yang diberikan. Pengurangan
intensitasnya sebanding dengan jumlah atom yang berada pada tingkat dasar
tersebut.
Larutan sampel diaspirasikan ke suatu nyala dan unsur-unsur di dalam
sampel diubah menjadi uap atom sehingga nyala rnengandung atom unsur-unsur
yang dianalisis. Beberapa diantara atom akan tereksitasi secara termal oleh ayala,
tetapi kebanyakan atom tetap tinggal sebagai atom netral dalam keadaan dasar
(ground state). Atom-atom ground state ini kemudian menyerap radiasi yang
diberikan oleh sumber radiasi yang terbuat dari unsur-unsur yang bersangkutan.
Panjang gelombang yang dihasilkan oleh sumber radiasi adalah sama dengan
panjang gelombang yang diabsorpsi oleh atom dalam nyala. Absorpsi ini
mengikuti hukum Lambert-Beer. yakni absorbansi berbanding lurus dengan
panjang uyala yang dilalui sinar dan konsentrasi uap atom dalam nyala. Kedua
variabel ini sulit untuk ditentukan tetapi panjang nyala dapat dibuat konstan
sehingga absorbansi hanya berbanding langsung dengan konsentrasi analit dalam
larutan sampel. Teknik-teknik analisisnya sama seperti pada spektrofotometri UV-
Vis yaitu standar tunggal, kurva kalibrasi dan kurva adisi standar.
Metode SSA sangat tepat untuk analisa zat pada konsentrasi rendah.
Logam-logam yang membentuk campuran kompleks dapat dianalisa dan selain itu
tidak selalu diperlukan sumber energi yang besar. Sensitivitas dan batas deteksi
merupakan parameter yang sering digunakan dalam SSA. Keduanya dapat
bervariasi dengan perubahan temperatur nyala, dan lebar pita spektra.
Ada tiga teknik yang biasa dipakai dalam analisis secara spektrometri.
Ketiga teknik tersebut adalah :
d. Metoda StandarTunggal
Metoda sangat praktis karena hanya menggunakan satu larutan standar
yang telah diketahui konsentrasinya (Cstd). Selanjutnya absorbsi larutan
standar (Asta) dan absorbsi larutan sampel (Asmp) diukur dengan
Spektrofotometri. Dari hk. Beer diperoleh :
Astd =ε.b.Cstd Asmp =ε.b.Csmp
ε.b = Astd/ Cstd ε.b = Asmp/Csmp

45
sehingga,
Astd/Cstd = Csmp /Csmp→Csmp = (Asmp/Astd) X Cstd
Dengan mengukur Absorbansi larutan sampel dan standar, konsentrasi,
larutan sampel dapat dihitung.
e. Metode Kurva Kalibrasi
Dalam metode ini dibuat suatu seri larutan standar dengan berbagai
konsentrasi dan absorbansi dari larutan tersebut diukur dengan AAS.
Langkah selanjutnya adalah membuat grafik antara konsentrasi (C) dengan
Absorbansi (A) yang akan merupakan garis lurus melewati titik nol
dengan slope = ε.b atau slope = a.b. Konsentrasi larutan sampel dapat
dicari setelah absorbansi larutan sampel diukur dan diintrapolasi ke dalam
kurva kalibrasi atau dimasukkan ke dalam persamaan garis lurus yang
diperoleh dengan menggunakan program regresi linear pada kurva
kalibrasi.
f. Metoda Adisi Standar
Metoda ini dipakai secara luas karena mampu meminimalkan
kesalahan yang disebabkan oleh perbedaan kondisi lingkungan (matriks)
sampel dan standar. Dalam metoda ini dua atau lebih sejumlah volume
tertentu dari sampel dipindahkan ke dalam labu takar. Satu larutan
diencerkan sampat volume tertentu kemudian diukur absorbansinya tanpa
ditambah dengan zat standar, sedangkan larutan yang lain sebelum diukur
absorbansinya ditambah terlebih dulu dengan sejumlah tertentu tarutan
standar dan diencerkan seperti pada larutan yang pertama. Menurut hukum
Beer akan berlaku hal-hal berikut :
Ax = k.Cx AT = k(Cs + Cx)
Dimana.,
Cx = konsentrasi zat sampel
Cs = konsentrasi zat standar yang ditambahkan ke larutan sampel
Ax = Absorbansi zat sampel (tanpa penambahan zat standar)
Ar = Absorbansi zat sampel + zat standar
Jika kedua persamaan diatas digabung akan diperoleh:
Cx = Cs x {Ax/(AT -Ax)}

46
Konsentrasi zat dalam sampel (Cx) dapat dihitung dengan mengukur
Ax dan AT dengan spektrofotometer. Jika dibuat suatu seri penambahan
zat standar dapat pula dibuat suatu grafik antara AT lawan Cs, garis lurus
yang diperoleh diekstrapolasi ke AT = 0, sehingga diperoleh:
Cx = Cs x {Ax/(O - Ax)}; Cx = Cs x (Ax/-Ax)

Cx = Cs x (-1) atau Cx = -Cs


Jumlah selenium dalam tubuh sebanyak 3-30 mg, bergantung pada
kandungan selenium dalam tanah dan konsumsi makanan. Konsumsi orang
dewasa berkisar antara 20-30 µg, bergantung pada kandungan tanah. Kebutuhan
selenium sehari untuk orang Indonesia diperkirakan sebanyak 70µg sehari untuk
laki-laki dewasa dan 55 µg untuk perempuan dewasa.
Beberapa penyakit dapat terjadi akibat kurang atau lebih nya kadar
selenium dalam tubuh. Kekurangan selenium pada manusia karena makanan yang
dikonsumsi belum banyak diketahui. Pada tahun 1979 para ahli dari Cina
melaporkan hubungan antara status selenium tubuh dengan penyakit Keshan,
dimana terjadi kardiomiopati atau degenerasi otot jantung yang terutama terlihat
pada anak-anak dan perempuan dewasa (Keshan adalaah sebuah propinsi di Cina.
Penyakit Keshan-Beck pada anak remaja menyebabkan rasa kaku, pembengkakan
dan rasa sakit pada sendi jari-jari yang diikuti oleh osteoarthritis sevara umum,
yang terutama dirasakan pada siku, lutut dan pergelangan kaki. Pasien yang
mendapat makanan parenteral total yang pda umumnya tidak mengandung
selenium menunjukkan aktivitas glutation peroksidase rendah dan kadar selenium
dalam plasma dan sel darah merah yang rendah. Beberapa pasien menjadi lemah,
sakit pada otot otot dan terjadi kardiomiopati. Pasien kanker mempunyai taraf
selenium plasma yang rendah. Kekurangan selenium dan vitamin E juga
dihubungkan dengan penyakit jantung.
Dosis tinggi selenium ( = 1mg sehari) menyebabkan muntah-munta, diare, rambut
dan kuku rontok, serta luka pada kulit dan system saraf. Kecenderungan
menggunakan suplemen selenium untuk mencegah kanker harus dilakukan secara
hati-hati, jangan sampai terjadi dosis berlebihan.

47
BAB 3. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Penilaian status gizi dibagi menjadi dua yaitu penilaian status gizi secara
langsung dan tidak langsung. metode penilaian status gizi secara langsung
berdasarkan data obyektif adalah dengan penilaian biokimia. Penilaian ini
dilakukan untuk menentukan kekurangan gizi secara spesifik. Mendeteksi lebih
dini terhadap perubahan metabolisme gizi sebelum tampak perubahan klinis.
Dalam penilaian biokimia terdiri atas penilaian zat gizi makro dan mikro.
Penilaian zat gizi mikro terdiri dari vitamin A, D, E, C, Tiamin, Riboflavin,
Niasin, Vitamin B6, Vitamin B12, Iodium, Zink, Kalsium, Fosfor, Magnesium,
Krom, Tembaga, dan Selenium. Zat gizi mikro tersebut dapat menimbulkan suatu
kejadian penyakit yang berada di masyarakat yang dapat dinilai secara biokimia.

3.2 Saran
Penting untuk mengetahui tentang penilaian status gizi melalui penilaian
biokimia, tujuannya agar dapat mendeteksi secara dini mengenai perubahan
metabolisme gizi, maka dari itu peran tenaga kesehatan dan pemerintah sangat
dibutuhkn dalam pemberian edukasi serta informasi mengenai penilaian status gizi
secara biokimia, selain untuk mengetahui perubahan metabolisme, masyarakat
juga akan lebih waspada terhadap penyakit yang ditimbulkan akibat perubahan
metabolisme gizi tersebut.

48
DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Almatsier, S. (2010). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.

Aru W, Sudoyo. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid II, edisi V. Jakarta:
Interna Publishing

Gibson. R.S. 2005. Principles of Nutritional Assessment, London: Oxford


University Press

Hambidge M. 2000. Human Zinc Deficiency. J. Nutr. 130: 1344-1349S.

I Dewa Nyoman Supariasa, Bachyar Bakri, Ibnu Fajar. 2016. Penilaian


Status Gizi. Jakarta : EGC.
Kusumawati, D.R. 2010. Spektrometri Serapan Atom (SAA). Yogyakarta.
Kamiensky M, Keogh J 2006. Vitamins and Minerals.In: Pharmacology
Demystified.Mc.GrawHill Companies
Inc.,USA.p.137-54

Ningtyas , Farida Wahyu . 2010 . Penentuan Status Gizi Secara Langsung. Jember
: Jember University Press

Permaesih, D. ( 2008). PENILAIAN STATUS VITAMIN A SECARA BIOKIMIA.


Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan, Depkes RI .

Ratnaningsih, T., & Windarwati. (2013). PENILAIAN STATUS GIZI. Yogyakarta:


UNIVERSITAS GADJAH MADA FAKULTAS KEDOKTERAN / PRODI GIZI
KESEHATAN.

Raufah, Nur Rachmatur. 2013. Makalah Penilaian Status Gizi Metode Biokimia.
STIKES Jendral Ahmad Yani : Cimahi

Reviana, Ch. 2004. Peranan mineral seng (zink) bagi kesehatan tubuh. Cermin
Dunia kedok 2004; 143. 53-54

49
Rina Ningsih. 2007. Hubungan Kadar Retinol Serum dengan Thyroid Stimulating
Hormone (TSH) Pada Anak Balita di Daerah Kekurangan Yodium. Tesis Program
Pasca Sarjana Universitas Diponegoro : Semarang

Supriasa, I Dewa Nyoman,.2012.Penilaian Status Gizi.Jakarta:ECG

Supariasa, I D N dkk. 2016. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC.

Supariasa, dkk. 2002. “Penilaian Status Gizi”. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC.

http://ejournal.persagi.org/index.php/Gizi_Indon/article/view/55 [08 Maret 2018,


20:29]

http://elisa.ugm.ac.id/user/archive/download/64212/ac2ab305b54eeb4f16364ff370
9fa78a [08 Maret 2018, 20:29]

http://elisa.ugm.ac.id/user/archive/download/64210/7db9e3838b90d58b86b5b4b9
fadf2ca7 (diakses 10 Maret 2018 Pukul 12.41)

https://www.infiline.com/115/dosis-vitamin-b-2-untuk-semua-usia-makanan-
sumbernya/

http://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/56240/3/BAB%20II%20Tinj
auan%20Pustaka.pdf. [Diakses 10 Maret 2018]
https://id.wikipedia.org/wiki/Vitamin_C [diakses pada tanggal 08 Maret 2018]

http://wikivitamin.com/definisi-dan-pengertian-vitamin-b1-thiamin/ [diakes pada


tanggal 08 Maret 2018]

www.elisa.ugm.ac.id [diakses pada tanggal 10 Maret 2018]

https://lifestyle.kompas.com/read/2014/09/09/140050323/De
teksi.Kekurangan.Vitamin.D

Rusdiana. 2004. Vitamin. http://library.usu.ac.id/download/fk/biokimia-


rusdiana2.pdf, (diakses tanggal 10 Maret 2018.)

50
Anna, L K. 2014. Deteksi Kekurangan Vitamin D. Kompas.com, 09 September
2014. Tersedia [online]

Furkon, L A. 2014. Modul 1 “Mengenal Zat Gizi”. Tersedia [online]


http://repository.ut.ac.id/4335/2/PEBI4424-M1.pdf

51

Anda mungkin juga menyukai