Anda di halaman 1dari 6

MAKNA BAHAGIA PADA LAJANG DEWASA MADYA

THE MEANING OF HAPPINESS IN THE MIDDLE ADULT SINGLES

Muhammad Syarif Hidayatullah1* dan Raina Meilia Larassaty2


Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat
Jl. Ahmad Yani Km. 36, Banjarbaru, 70174, Indonesia
*Email : mshidayatullah@unlam.ac.id
No Handphone : 081335638549

ABSTRAK

Masyarakat Indonesia umumnya memberikan pelabelan negatif bagi individu yang belum menikah ketika telah memasuki
dewasa madya. Label ini dianut oleh masyarakat Indonesia secara turun temurun sehingga orang tua juga mengajarkan
hal yang sama kepada anaknya terutama pada anak perempuan. Akan tetapi, pada kenyataannya masih ada individu
yang telah memasuki masa dewasa madya yang belum menikah dan membina keluarga. Individu yang belum menikah
dalam masyarakat biasa disebut sebagai lajang. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami tentang
kebahagiaan pada individu yang telah memasuki masa dewasa madya namun masih berstatus lajang. Metodologi
kualitatif dengan perspektif fenomenologi digunakan untuk menggali data dari partisipan penelitian, yaitu individu
dewasa madya yang berstatus lajang. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kedua subjek memiliki kesamaan dalam
memandang kebahagiaan, yakni kebahagiaan yang mereka dapat adalah bagian dari proses. Kebahagiaan mereka tidak
terbebani tujuan yang ingin dicapai. Kebahagiaan yang mereka rasakan berupa proses memiliki hubungan yang positif
dengan orang lain, realistis terhadap masa depan dan adanya makna dalam setiap kegiatan yang dilakukan.

Kata kunci: Kebahagiaan, Lajang, Dewasa madya

ABSTRACT

Indonesian society generally provides negative labeling for unmarried individuals when they have entered middle
adulthood. This label is embraced by the Indonesian people from generation to generation so that parents also teach the
same to their children, especially in girls. However, in reality there are still individuals who have entered an unmarried
mature age and fostered families. Individuals who are not married in the community are commonly referred to as single.
This study aims to explore and understand about the happiness of individuals who have entered middle adulthood but
still single status. Qualitative methodologies with phenomenological perspectives were used to extract data from research
participants, ie single adult individuals with single status. The research findings show that the two subjects have a
similarity in looking at happiness, that the happiness they get is part of the process. Their happiness is not burdened with
goals to be achieved. The happiness they feel is a process of having a positive relationship with others, realistic about
the future and the meaning in every activity undertaken.

Keywords : Happines, Single, Middle Adulthood

Setiap aktivitas kehidupan manusia, pada dasarnya Seligman (2005) menyatakan bahwa
adalah mencari kebahagiaan. Tidak berbeda pada pria kebahagiaan merupakan konsep yang partisipatif karena
ataupun wanita dewasa madya yang menyandang status setiap individu memiliki tolak ukur yang berbeda-beda.
lajang. Penyesuaian diri pada masa usia dewasa madya Setiap individu juga memiliki faktor yang berbeda
dengan berbagai keadaan yang dihadapi bertujuan untuk sehingga bisa mendatangkan kebahagiaan untuknya.
mencapai kebahagiaan hidup. Kebahagiaan pada usia Faktor-faktor itu antara lain uang, status pernikahan,
madya seperti halnya pada usia manapun, timbul dan kehidupan sosial, usia, kesehatan, emosi negatif,
dialami apabila kebutuhan dan keinginan seseorang pendidikan, iklim, ras, dan jenis kelamin, serta agama
pada waktu tertentu terpenuhi dan terpuasi (Hurlock, atau tingkat religiusitas seseorang.
2000). Seligman dalam bukunya yang berjudul
“Authentic Happiness” menjelaskan bahwa

71
72 Jurnal Ecopsy, Volume 4 Nomor 2, Agustus 2017

kebahagiaan merupakan konsep yang mengacu pada rendah, voluntary stable singles yaitu seorang yang puas
emosi positif yang dirasakan individu serta aktivitas- dengan pilihan hidup lajang, involuntary temporary
aktivitas positif yang disukai oleh individu tersebut. singles yaitu lajang yang masih ingin menikah dan aktif
Kebahagiaan juga dipengaruhi oleh beberapa aspek mencari pasangan dan yang terakhir involuntary stable
antara lain terjalinnya hubungan yang positif dengan singles yaitu tipe lajang ingin menikah tetapi merasa
orang lain, keterlibatan penuh, penemuan makna dalam belum menemukan pasangan tepat.
keseharian, optimisme yang realistis, dan resiliensi Laswell dan Laswell (1987) menyebutkan pria
(Seligman, 2005). atau wanita lajang adalah individu yang berada dalam
Setiap aktivitas kehidupan manusia, pada suatu masa yang dapat bersifat sementara atau jangka
dasarnya adalah mencari kebahagiaan. Tidak berbeda pendek atau biasanya dilalui sebelum menikah atau
pada pria ataupun wanita dewasa madya yang dapat juga bersifat jangka panjang jika merupakan
menyandang status lajang. Penyesuaian diri pada masa pilihan hidup. Hal ini menandakan bahwa ada dua
usia dewasa madya dengan berbagai keadaan yang kriteria lajang, yakni karena pilihan hidup atau
dihadapi oleh masing-masing bertujuan untuk mencapai keterpaksaan akibat belum adanya pasangan yang sesuai
kebahagiaan hidup. Kebahagiaan pada usia madya padahal ada keinginan untuk segera menikah (Christie,
seperti halnya pada usia manapun, timbul dan dialami Hartanti, & Nanik, 2013).
apabila kebutuhan dan keinginan seseorang pada waktu Penelitian Noviana dan Suci (2011)
tertentu terpenuhi dan terpuasi (Hurlock, 2000). menemukan bahwa pada wanita lajang di Indonesia
Salah satu tugas perkembangan yang harus seperti halnya pada pria mendapatkan pelabelan negatif
dijalani oleh individu dewasa madya menurut seperti “Perawan tua”. Label ini dianut oleh masyarakat
Havighurst (1982; Hurlock, 2000) adalah tugas yang Indonesia secara turun temurun sehingga orang tua juga
berkaitan dengan perubahan fisik, perubahan minat, mengajarkan hal yang sama kepada anak wanitanya.
penyesuaian kejuruan dan tugas yang berkaitan dengan Orangtua menginginkan anak wanitanya untuk menikah
kehidupan keluarga. Kehidupan berkeluarga yang pada masa dewasa awal agar tidak mendapatkan
dimaksud adalah telah menjadi suami ataupun istri pelabelan negatif dari masyarakat dan melihat anak
hingga memiliki anak (Hurlock, 2000). Akan tetapi, wanitanya tumbuh bersama seseorang yang mampu
pada kenyataannya masih ada individu yang telah mendampinginya seumur hidup sehingga hidupnya
memasuki masa dewasa madya yang belum menikah lebih terjamin.
dan membina keluarga sendiri, baik itu pria maupun Pada wanita yang melajang karena belum
wanita mendapat pasangan yang sesuai dan telah berusia di atas
Pria ataupun wanita yang belum menikah 30 tahun, ditemukan kecenderungan emosi negatif
disebut sebagai pria atau wanita lajang. Sutanto dan dalam menghadapi suatu situasi. Wanita tersebut sulit
Haryoko (2010) mendefinisikan status lajang berupa menerima keadaan bahwa dirinya sendiri belum terlalu
status seseorang yang tidak menikah, tidak memiliki siap untuk menerima kondisi kelajangannya, sehingga
teman hidup dan melakukan hubungan secara fisik, secara emosi mudah terusik, mudah jengkel, dan lebih
sosial, maupun emosional. sensitif ketika orang-orang sudah mulai menyinggung
Survey di Amerika Serikat, pria atau wanita statusnya (Christie, Hartanti, Nanik, 2013).
lajang semakin meningkat, survei pada tahun 1970 Pekerjaan yang mapan yang biasanya dapat
diketahui pria yang belum menikah di antaranya 9-30% diraih oleh pria lajang usia dewasa madya tidak
pada rentang usia 30-34 tahun. Selanjutnya, setiap tahun menjamin kebahagiaan mereka. Ditandai dengan, pada
angka pria lajang semakin bertambah, hingga pada survei indeks kebahagiaan yang dilakukan oleh Badan
tahun 2000 bertambah hingga 40% pria yang Pusat Statistik (2013), pada bagian kebahagiaan rumah
memutuskan untuk tidak menikah. Keadaan yang sama tangga, individu berstatus lajang menduduki peringkat
pun terjadi di Jepang, pada tahun 2010 dari hasil Survei terendah dengan 62,32. Ini artinya, bahwa dalam hal
ditemukan 7000 pria dan wanita lajang yang berumah tangga individu berstatus lajang memiliki
memutuskan untuk tidak menikah. (Koh, 2013; dalam indeks kebahagiaan yang rendah. Sebagai bahan
Kurniati, Hartanti, & Nanik, 2013). Sebagai perbandingan dalam penelitiannya, Neberich (2011)
perbandingan fenomena pergeseran usia melajang juga memaparkan bahwa individu yang memiliki
terjadi di Indonesia. Hal tersebut juga dapat dilihat dari kesejahteraan secara finansial, tidak berarti individu
data statistik Indonesia (Badan Statistik Indonesia, tersebut akan memiliki kesejahteraan dalam kehidupan
2008) yang menunjukkan adanya pergeseran usia sehari-hari. Selain itu, dari penelitian lain yang
menikah baik di perkotaan maupun di pedesaan. Usia dilakukan Carl Weisman (dalam Kurniati, Hartanti, &
hal ini menunjukkan bahwa pernikahan bukan lagi Nanik, 2013) pada 1533 pria lajang yang mengikuti
menjadi prioritas (Susanti, 2012). penelitian tersebut secara online menyatakan bahwa
Stein (dalam Benokraitis 2011) membagi keadaanya melajang dikarenakan adanya ketakutan
lajang menjadi beberapa tipe, meliputi voluntary untuk gagal dan bercerai yang lebih besar dibandingkan
temporary singles yaitu lajang yang terbuka terhadap keadaanya yang masih melajang selain itu, keadaan
pernikahan namun menempatkannya pada prioritas finansial yang masih dirasa kekurangan juga
Hidayatullah, M. S. & Larassaty, R., Makna Bahagia Pada Lajang Dewasa Madya 73

mempengaruhi pria lajang tersebut untuk tetap Partisipan adalah seorang pria lajang yang
melajang. telah memasuki masa dewasa madya. Keadaannya saat
ini adalah seorang pengangguran dan hidup menumpang
METODE PENELITIAN pada adik kandungnya. Partisipan merupakan seorang
pengidap skizofrenia dan telah didiagnosis skizofrenia
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan residual dan menjalani kehidupan sehari-hari seperti
kualitatif fenomenologi. Peneliti ingin memfokuskan orang pada umumnya, meskipun tetap teratur
penelitian pada pengalaman hidup individu sebagai mengkonsumsi obat. Hingga umurnya yang memasuki
partisipan penelitian, sehingga diperoleh pengalaman 41 tahun pada tahun ini, partisipan masih menyandang
menyeluruh dan utuh tentang fenomena yang diteliti status lajang. Pada studi pendahuluan yang telah peneliti
serta berguna untuk mengeksplorasi isu-isu tersembunyi lakukan pada kerabat dekat partisipan, partisipan
mengenai kekhasan dari pengalaman hidup partisipan. memiliki keinginan untuk menikah namun hingga
Partisipan terdiri dari 2 (dua) orang, yaitu IW sekarang pada kenyataanya partisipan tetap bertahan
berjenis kelamin laki-laki berusia 40 tahun dan SF sebagai lajang. Partisipan yang kedua adalah seorang
berjenis kelamin perempuan berusia 59 tahun.Partisipan wanita yang juga telah memasuki masa dewasa madya,
diperoleh melalui jaringan pertemanan yaitu dengan sedikit berbeda dengan partisipan pertama namun sama-
referensi dari seorang teman atau partisipan yang lain. sama merupakan keterbatasan yang dimiliki individu,
Partisipan yang dipilih adalah mereka yang mampu wanita ini adalah penyandang tuna netra atau
memberikan informasi sesuai dengan fokus dan tujuan mengalami kebutaan sejak lahir. Partisipan berumur 59
dari penelitian ini dan berkesesuaian dengan kriteria tahun. Partisipan saat ini sedang pada tahap pendidikan
(criterion sampling) yaitu mewakili orang yang dan pembimbingan di panti binanetra Fajar Harapan.
mengalami fenomena sesuai dengan fokus dan tujuan Kedua partisipan masuk tipe lajang
penelitian. Partisipan tidak diambil berdasarkan Involuntary stable singles. Tipe ini adalah tipe lajang
representasi populasi, melainkan berdasarkan asumsi yang tidak pernah menikah namun ingin menikah akan
untuk memperoleh kedalaman informasi tentangrealitas tetapi belum menemukan pasangan yang tepat. Tipe ini
yang terjadi. Partisipan penelitian ini adalah individu juga meliputi individu dengan keterbatasan fisik atau
yang berstatus lajang pada usia dewasa madya. psikologis yang membuat mereka terbatas dalam
Pengumpulan data menggunakan wawancara secara mencari pasangan hidup. Mereka dapat menerima
intensif dan mendalam (in-depth interview). Metode kemungkinan status lajang mereka sebagai status yang
analisis yang digunakan adalah analisa data permanen dalam hidupnya.
fenomenologi transendental dari Van Kaam (dalam Partisipan percaya bahwa dengan berserah diri
Moustakas, 1994). Penelitian dilakukan mulai dari studi kepada Tuhan maka akan mendapatkan kebahagiaan.
pendahuluan melalui wawancara dan pengamatan Partisipan juga menjelaskan bahwa dalam menghadapi
terhadap para calon subjek dan informan–informan yang masalah partisipan akan menyerahkan semuanya kepada
relevan dan terkait dengan kehidupan para calon subjek Tuhan. Hal itu dilakukan dengan melakukan kewajiban
dan pelaksanaan pengambilan data. Selanjutnya, sebagai umat beragama sesuai agamanya yakni shalat,
analisis data pada dasarnya tidak dapat dipisahkan satu rutin melakukan pengajian, dan berdzikir, serta hal lain
sama lain. Peneliti mengikuti pola “zig-zag”, yaitu yang dapat mendekatkan partisipan dengan Tuhan.
peneliti ke lapangan mencari informasi, kemudian Mereka merasa cukup dengan apa yang telah
menganalisis data yang diperoleh, kembali ke lapangan mereka dapatkan selama ini. Hal ini sesuai dengan
lagi untuk mendapatkan lebih banyak informasi, pengertian kebahagiaan itu sendiri bahwa kondisi
menganalisis data dan seterusnya. Peneliti melakukan psikologis yang dirasakan individu secara partisipantif,
analisis data fenomenologi transendental. Lebih lanjut yang ditandai dengan emosi positif. Seperti yang
dilakukan pengujian Kredibilitas Data dan verifikasi disebutkan dalam pengertian bahwa kebahagiaan
penelitian bersifat sangat partisipantif oleh karena itu ketika
seseorang mengatakan bahwa mereka bahagia, maka
itulah inti dari kebahagiaan. Sejalan dengan pemikiran
HASIL DAN PEMBAHASAN keduanya, bahwa dengan segala hal yang dimiliki saat
ini mereka telah merasa cukup dan bahagia.
Tabel 1. Profil Partisipan Penelitian Kedua partisipan memiliki tipe kebahagiaan
yang sama yakni proses atau aktivitas. Teori proses atau
Nama IW SF
aktivitas menurut Snyder dan Lopez (2007; dalam
Usia 40 59
Arriza, Dewi & Kaleoti, 2011), bahwa melibatkan diri
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan
Urutan Anak ke 1 dari Anak ke 3 dari
pada aktivitas hidup tertentu dapat membawa
Kelahiran 5 bersaudara 7 bersaudara kebahagiaan. Proses mencapai tujuanlah yang
Riwayat Diagnosis Tunanetra membawa individu pada kebahagiaan. Keduanya
Kesehatan Skizofrenia menemukan kebahagiaan dari kegiatan sehari-hari yang
Residual dilakukan, mereka tidak merasa terbebani dengan masa
74 Jurnal Ecopsy, Volume 4 Nomor 2, Agustus 2017

depan, meskipun mereka masing-masing memiliki hubungan yang positif dengan orang lain dalam hal ini
impian dan harapan untuk masa depan. Salah satu keluarga, teman, dan orang sekitar, bahkan orang yang
impian mereka adalah untuk menikah dan memiliki tidak di kenal secara baik. Pada partisipan pertama
pekerjaan yang mampu menghidupi diri mereka secara pendapat subjektifnya senada dengan apa yang
mandiri. Harapan-harapan itu lantas tidak menghambat dirasakan oleh orang sekitarnya, sedang pada partisipan
mereka untuk merasakan kebahagiaan saat ini. kedua ada perbedaan dengan partisipan pertama, dalam
Keduanya tidak memaksakan diri untuk mencapai hal ini pada partisipan kedua menurut penuturan orang
impian tersebut, ditandai dengan kesadaran diri mereka lain yang berhubungan langsung dengannya partisipan
bahwa mereka tidak dapat dengan cepat mencapai dipandang sebagai pribadi yang tertutup, keras, dan
impian itu, dan menghargai apa yang telah dia dapat cerewet sehingga sering kali memunculkan perkelahian
hingga sekarang. Meskipun begitu keduanya sama-sama kecil antara partisipan dengan orang lain.
melakukan persiapannya sendiri untuk mencapai impian Kedua, keterlibatan penuh pada setiap aktivitas
itu. Pada partisipan pertama (IW) dengan melakukan yang dilakukan dan penemuan makna atas aktivitas
pengobatan teratur tanpa mengeluh dengan optimisme yang dijalani memiliki hubungan erat satu sama lain.
sembuh dari keterbatasannya saat ini, dan partisipan Bahkan, aktivitas-aktivitas ringan yang dijalani namun
kedua (SF) dengan menjalani pembimbingan di panti bermakna dapat menjadi kebahagiaan bagi subjek.
sosial. Aktivitas yang dilakukan seperti mengobrol dengan
Kebahagiaan adalah hal subjektif, oleh karena itu teman, membersihkan kamar tidur, berjalan-jalan santai.
sifatnya sangat abstrak, Carr (2004; dalam Arriza, Dewi Bagi partisipan kedua ditambah dengan aktivitas
& Kaleoti, 2011) memaparkan aspek kebahagiaan, sebagai peserta kursus meminjat di Fajar Harapan.
bahwa kebahagiaan memiliki dua aspek, yakni afektif Keduanya memiliki keterlibatan penuh pada aktivitas-
dan kognitif. Aspek afektif yakni pengalaman aktivitas tersebut, karena mereka mengetahui makna
emosional berupa emosi positif, dapat berupa senang, dari aktivitas-aktivitas tersebut dan sehubungan dengan
gembira, atau riang. Keduanya telah mengatakan bahwa hal itu, munculah perasaan-perasaan yang berkaitan
mereka menikmati kehidupannya dan bahagia dengan dengan aktivitas tersebut dalam hal ini mereka
segala yang telah mereka dapat hingga saat ini. Hal menyukai kegiatan-kegiatan itu.
tersebut juga telah menjelaskan aspek kognitif berupa Ketiga, optimisme realistis, Orang yang optimis
evaluasi kognitif dalam kepuasan terhadap berbagai ditemukan lebih berbahagia. Mereka tidak mudah cemas
domain dalam kehidupan individu. karena menjalani hidup dengan penuh harapan
Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat (Seligman, 2005). Kedua partisipan memiliki harapan
kebahagiaan seseorang diantaranya adalah kemampuan maupun impian dan hal itu disertai dengan optimisme
bersyukur, optimisme, kemampuan mencintai, dan keyakinan akan harapan tersebut akan tercapai suatu
keharmonisan keluarga, kepuasan hidup, dan lain saat nanti, namun disaat yang sama keduanya
sebagainya (Seligman, 2002; dalam Aziz, 2011). Hal- mengetahui secara pasti bahwa hal itu tidak dapat
hal yang mempengaruhi kebahagiaan kedua partisipan dicapai dalam waktu singkat dan keduanya memilih
berbeda satu sama lain. Pada partisipan pertama untuk menikmati kehidupan sekarang dan tidak
pengaruh obat-obatan yang diminum partisipan secara memikirkan harapan itu terlalu muluk dengan tetap
rutin memberikan pengaruh yang signifikan pada melakukan yang terbaik untuk mencapai hal itu.
emosional partisipan. Obat-obat jenis antidepressan Keempat, resiliensi yakni kemampuan untuk
memberikan efek menenangkan aktivitas otak partisipan bangkit dari peristiwa yang tidak menyenangkan
yang berhubungan dengan emosional. sekalipun. Pada kenyataannya, orang yang berbahagia
Pada partisipan kedua, religiusitas atau bukan berarti tidak pernah mengalami penderitaan.
keagamaan memiliki pengaruh yang besar pada Namun orang yang yang terus terkekang pada
pandangan partisipan mengenai kehidupan secara penderitaan atau peristiwa tidak menyenangkan yang
keseluruhan. Partisipan mengikuti banyak kegiatan dialamilah yang menjadi alasan seseorang menjadi tidak
keagamaan. Agama menjadi pandangan hidup berbahagia. Pada partisipan pertama, ketika akhirnya
partisipan. Partisipan merasakan bahwa dengan berserah partisipan menderita skizofrenia hal ini
diri kepada Tuhan maka akan mendapatkan ketenangan mengindikasikan kala itu partisipan tidak memiliki
dan kebahagiaan. Selain itu, partisipan memiliki resiliensi yang baik. Individu dengan resiliensi yang
optimisme melalui kepercayaannya pula bahwa segala rendah memiliki risiko mengalami stres, depresi,
sesuatu mengandung hikmah. kecemasan dan interpersonal difficulties
Dimensi atau aspek yang terlihat dari sikap dan (Meichenbaum, 2006). Pada saat ini kemungkinan besar
perilaku yang ditunjukkan oleh seseorang dapat karena obat yang dikonsumsi secara rutin keadaan
menjelaskan kebahagiaan seseorang dari kaca mata partisipan menjadi sangat stabil sehingga partisipan
orang lain. Seligman (2005) menyebutkan aspek dapat memandang kehidupannya menjadi lebih baik dan
pertama yang menjadi sumber kebahagiaan sejati adalah partisipan sendiri mengerti bahwa dia memiliki
hubungan positif dengan orang lain. Kedua partisipan kelemahan dalam mengendalikan pikiran negatifnya
secara subjektif mengatakan bahwa mereka memiliki dan dengan secara sukarela menjalani pengobatan tanpa
Hidayatullah, M. S. & Larassaty, R., Makna Bahagia Pada Lajang Dewasa Madya 75

ada protes atau penolakan. Sedangkan pada partisipan kesempatan mereka untuk menikah semakin kecil.
kedua, SF memiliki resiliensi yang lebih baik karena Karena kesadaran tentang kecilnya kemungkinan
partisipan tidak memiliki gangguan psikologis kecuali menikah, maka wanita yang belum menikah pada usia
kepribadiannya yang cenderung tertutup ditandai madya berusaha menyesuaikan pola hidupnya setepat
dengan partisipan yang bersifat keras dan cerewet serta mungkin dan sering memusatkan perhatian pada
menolak untuk bercerita masalah pribadi dengan orang pekerjaannya. Penjelasan tersebut sesuai dengan apa
lain, namun melakukan hal lain yakni menyerahkan yang ditemukan oleh pada partisipan kedua, partisipan
segalanya kepada Allah SWT. Keagamaan sangat telah memandang keadaan lajang sebagai sesuatu yang
berpengaruh pada kebahagiaan yang dirasakan oleh bagian pada dirinya yang telah ia terima, partisipan tidak
partisipan kedua. berharap banyak mengenai pernikahan dan tidak
Kebahagiaan telah disebutkan sebelumnya terbebani akan hal itu, partisipan mengindikasikan hal
adalah manifestasi dari emosi positif yang dirasakan ini dengan menyebutkan bahwa meskipun partisipan
oleh seseorang. Pada orientasi waktunya, emosi positif memiliki pemikiran untuk menikah, partisipan tidak
dapat dibagi menjadi Emosi positif yang ditujukan pada akan secara sengaja untuk mencari pria ataupun
masa lalu, seperti rasa puas, damai dan bangga. Peneliti berusaha untuk mencari jodoh, namun apabila memang
menemukan bahwa pada partisipan pertama terdapat ada jodoh yang diberikan kepadanya, partisipan tidak
kebanggaan tersendiri terhadap apa yang ada dimasa akan keberatan. Selain itu, partisipan juga lebih
lalunya. Sebagaiman significant other dari partisipan memfokuskan impiannya pada pekerjaan dan kehidupan
pertama menyatakan bahwa pada umumnya partisipan mandiri. Dilain pihak, orang yang berada di dekat
selalu membahas mengenai masa lalunya di kampung partisipan merasa bahwa partisipan sering kali merasa
halaman ketika berbincang dengannya. Sedangkan terganggu mengenai status orang lain (temannya) yang
partisipan kedua menolak untuk menerangkan mengenai memiliki pacar ataupun hubungan spesial dengan orang
kehidupan masa lalunya namun partisipan menerangkan lain. Hal ini yang biasanya memicu perkelahian kecil
bahwa apa yang dirasakan pada masa lalu dan masa antara para penghuni asrama dengannya.
sekarang sama, kemungkinan besar karena resiliensi Hurlock juga menjelaskan bahwa Pria yang
yang dilakukan oleh partisipan, yakni menemukan lajang pada usia madya pada umumnya mereka merasa
kedamaian dalam kedekatannya dengan Allah SWT. bahwa atas dasar pertimbangan sosial, mereka dapat
Emosi positif yang ditujukan pada masa menikah kapan saja mereka mau. Mereka mempunyai
sekarang, seperti kenikmatan lahiriah (misalnya aspirasi yang lebih tinggi untuk berhasil dalam karir,
kelezatan makanan, kehangatan, dan orgasme) dan mereka akan lebih senang menggunakan waktu dan
kenikmatan yang lebih tinggi seperti senang, gembira, tenag#nya untuk terus bekerja demi kemajuannya. Hal
dan nyaman. Partisipan menikmati semua kegiatan yang ini sejalan dengan pemikiran partisipan pertama bahwa
dilakukannya pada saat ini (rutinitas dan kegiatan partisipan masih berusaha untuk memperbaiki diri
selingannya) dan menemukan kebahagiaan dari hal dengan menyembuhkan dirinya dari permasalahan
tersebut. (Layous K. Joseph C., Sonja. L., Lihong W., P. mental dan menemukan pekerjaan yang cocok. Menurut
Murali D., 2011). keterangan baik dari partisipan sendiri dan significant
Emosi positif yang ditujukan pada masa depan, othernya partisipan secara aktif mengagumi beberapa
seperti optimisme, harapan, kepastian (confidence), wanita dan berniat menikahinya. Namun, partisipan
kepercayaan (trust),dan keyakinan (faith). Kedua tetap mendahulukan apa yang harus dilakukannya saat
partisipan melalui optimisme yang realistis terhadap ini dan tidak terbebani oleh permasalahan lajang dan
masa depan telah menjelaskan bahwa keduanya pernikahan.
memiliki optimisme, harapan, dan keyakinan terhadap
hal tersebut oleh karenanya keduanya dapat menikmati SIMPULAN
apa yang mereka lakukan saat ini dan tidak ada
ketakutan mengenai masa depan mereka. Kebahagiaan adalah sebuah konsep subjektif
Selanjutnya, peneliti dapat menarik kesimpulan individu yang ditandai dengan emosi-emosi positif.
bahwa keadaan lajang seseorang tidak berpengaruh Hasil penelitian yang dilakukan pada kedua partisipan
terhadap kebahagiaan. Keduanya memiliki kesamaan menunjukkan bahwa keduanya memiliki kesamaan
jawaban bahwa keduanya mengatakan persoalan lajang dalam memandang kebahagiaanya, yakni keduanya
ataupun keinginan untuk menikah itu akan mereka bahagia dengan segala hal yang didapat hingga saat ini
pikirkan nanti, setelah mereka berdua dapat secara dan menikmati hidup apa adanya. Mereka berdua
mandiri dalam kehidupan dalam hal ini keduanya akan memandang kebahagiaan yang mereka dapat adalah
memikirkan ketika mereka memiliki pekerjaan. Terlihat bagian dari proses. Kebahagiaan mereka tidak terbebani
dari hal ini bahwa keadaan lajang mereka tidak secara tujuan yang ingin dicapai.
langsung mempengaruhi keadaan mereka. Kebahagiaan yang mereka rasakan ini terlihat
Pada teori yang ada, menurut Hurlock (2000) dari beberapa aspek kebahagiaan yakni pertama
pada umumnya wanita cukup realistis untuk mengetahui keduanya memiliki hubungan yang positif dengan orang
bahwa setelah usia mereka lewat empat puluh, lain. Selanjutnya memiliki optimisme yang realistis
76 Jurnal Ecopsy, Volume 4 Nomor 2, Agustus 2017

terhadap masa depan. Kedua partisipan juga melibatkan Kurniati, Gracilia, Hartanti, & Nanik. (2013). Psychological
diri secara penuh kepada kegiatan sehari-hari maupun well being pada pria lajang dewasa madya. Jurnal
selingan yang mereka lakukan. Mereka memberikan Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya. Vol. 2, No.
2.
pemaknaan terhadap kegiatan-kegiatan tersebut.
Terakhir, resiliensi yakni kemampuan untuk bangkit Layous, Kristin, Joseph C., Sonja. L., Lihong W., P. Murali
dari permasalahan. Pada titik inilah ada perbedaan Doraiswamy. (2011). Delivering happiness:
antara kedua partisipan. Partisipan pertama memerlukan Translating positive psychology intervention research
obat untuk menjaga kestabilan emosi dan pikirannya, for treating major and minor depressive disorders. The
sedangkan partisipan kedua menerjunkan diri pada Journal of Alternative and Complementary Medicine.
kegiatan keagamaan yang partisipan anggap membawa Vol. 17, No. 8.
kebahagiaan untuknya sekaligus menjadi fasilitas untuk
terlepas dari masalah. Hal ini berhubungan erat dengan Meichenbaum, D. (2006). Resilience and posttraumatic
hal yang mempengaruhi kebahagiaan mereka. growth: A constructive narrative perspective. In L.G.
Calhoun & R. G. Tedeschi (Eds.), Handbook of
posttraumatic growth. (pp. 355-368), Mahwah, NJ:
DAFTAR PUSTAKA Erlbaum Associates.

Arriza, B. K., Endah K. D., Dian V.S. Kaloeti. (2011). Moustakas, C. (1994). Phenomenological research methods.
Memahami rekontruksi kebahagiaan pada orang Thousand Oaks: Sage Publications.
dengan HIV/AIDS (ODHA). Jurnal Psikologi Undip.
Vol.10, No.2. Noviana, Catarina L. D. & Eunike S. T. Suci. (2011). Konflik
Interpersonal Wanita Lajang terhadap Tuntutan
Aziz, R. (2011). Pengalaman spiritual dan kebahagiaan pada Orangtua untuk Menikah. Jurnal Psikologi Indonesia.
guru agama sekolah dasar. Proyeksi. Vol. 6, No. 2. Vol. VII, No.1.

Benokraitis, N. V. (2011). Marriages and families: Changes, Seligman,M.E.P., (2005). Authentic happiness: Menciptakan
choices, and constraints. New Yorl: Pearson. kebahagiaan dengan psikologi positif (Eva Yulia
Nukman, Trans.). Bandung: Mizan.
Carr, A. (2004). Positive psychology the science of happiness
and human strengths. Canada. Brunner-Rotledge. Susanti. (2012). Hubungan Harga Diri dan Psychological pada
Wanita Lajang Ditinjau dari Bidang Pekerjaan. Jurnal
Christie, Yohana, Hartanti, & Nanik. (2013). Perbedaan Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya. 1(1). 1-8.
kesejahteraan psikologis pada wanita lajang ditinjau
dari tipe wanita lajang. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Sutanto, Pauline & Farida H.. (2010). Gambaran Konsep Diri
Universitas Surabaya. Vol. 2, No. 1. pada Wanta Berkarier Sukses yang Belum Menikah.
INSAN. Vol. 12, No. 1
Hurlock, E. B. (2000). Psikologi perkembangan, suatu
pendekatan sepanjang rentang kehidupan. (edisi
kelima). Jakarta: Erlangga.