Anda di halaman 1dari 3

Kue Cucur

Kue cucur, sekilas namanya terdengar kampungan, bahkan tidak menarik selera
sama sekali tetapi bagi seseorang yang telah mencobanya pasti tahu, bahwa nama
bukanlah jaminan rasa ataupun kualitas dari suatu hal, makanan khususnya. Kue ini
merupakan kue yang berbahan dasar gula merah memiliki cita rasa manis legit khas
gula merah tentunya menjadi daya tarik kue ini.

Berasal dari daerah Banten, kue ini tersebar luas di pasar-pasar tradisional di
Banten dan terkadang bisa juga ditemui di penjual kue basah yang berjualan dari
pagi sampai sore di pinggir jalan. Maka dari itu, kue ini termasuk jajanan pasar yang
tentunya murah tetapi tidak murahan.

Kue ini terbuat dari gula merah yang di cairkan lalu dicampur dengan tepung terigu
untuk kemudian di goreng di minyak panas yang merendam seluruh permukaannya.
Setelah matang, aroma khasnya pun menguar hingga menggoda orang untuk
menyantapnya.

Kue ini berbentuk seperti “topi” sombrero, yang memiliki bagian tengah yang tebal
dan bagian pinggir yang renyah. Ada tiga tipe orang yang menyantap kue cucur,
pertama, orang yang memakan bagian pinggirnya terlebih dahulu lalu bagian
tengahnya terakhir karena menurutnya bagian tengah yang paling lezat. Kedua,
orang yang memakan bagian tengahnya terlebih dahulu lalu bagian pinggirnya
karena menurutnya bagian pinggir yang paling lezat. Terakhir, orang yang tidak
peduli, menurutnya semua bagian cucur sama saja, sama-sama enak, jadi ia
memakan semuanya secara adil, tidak ada yang didahulukan. Penulis sendiri
termasuk tipe nomor dua, karena pinggiran renyah dari kue cucur terasa manis dan
gurih yang pas yang dapat menyebarkan kenikmatan dari makanan ini sampai ke
seluruh tubuh.

Kebanyakan orang tidak menyukai makanan berminyak, sedangkan kue ini bisa
dibilang bermandikan minyak. Karena dalam proses penggorengannya benar-benar
terendam minyak. Namun, sesungguhnya minyak tersebut lah penanda bahwa kau
telah makan cucur dan merasakan kenikmatannya.

Berukuran cukup kecil, tidak cukup rasanya bila hanya memakan satu buah kue ini
sedang tangan sudah terlanjur terkena minyak. Maka dari itu, lazimnya orang
memakan 2-3 buah kue ini saat sedang memakannya. Sebagai sarapan, jumlah itu
sudah lebih dari cukup untuk menahan lapar sampai waktu makan siang datang.
Namun, jika dimakan sebagai camilan biasa, dapat mengakibatkan makan berat
yang berikutnya akan sedikit terlambat dikarenakan perut yang sudah terisi oleh
cucur.

Cucur paling enak dimakan selagi hangat, saat aromanya masih menguar dan
menggoda indera pembau pemakannya. Rasa yang di hasilkan cucur saat masih
hangat dan sudah dingin berbeda, jelas lebih enak saat hangat. Saat hangat, rasa
manis cucur terasa sangat pas, dengan pinggiran renyah dan kehangatan yang
dapat menjalar ke lambung pemakannya sedangkan saat sudah dingin, cucur
cenderung menjadi lebih dingin dan rasa manis yang dihasilkan pun berubah,
meskipun tetap enak, tetapi tetap saja memakan cucur saat hangat lebih nikmat
dibanding saat dingin.

Kue cucur merupakan primadona, apalagi saat hujan. Saat tetes-tetes hujan jatuh ke
bumi, rasanya sangat pas untuk mengonsumsi kue cucur hangat bersama dengan
teh tawar. Jangan lupakan selimut tebal yang membalut tubuh sembari
mengonsumsi dua hal itu, maka hidup akan terasa lengkap. Tak hanya saat hujan,
tetapi kue cucur memang pada dasarnya adalah primadona.

Primadona di pasar tradisional, maka dari itu ia selalu habis tak bersisa tepat selesai
di goreng. Rasa dan aroma khasnya tak akan bisa dilupakan atau digantikan. Bagi
pecintanya, tak mungkin bagi mereka untuk berhenti mencintainya sedang bagi
orang yang baru atau belum mengetahuinya, inilah saat yang tepat untuk
mencobanya.