Anda di halaman 1dari 24

ALIRAN FLUIDA MELEWATI

HAMPARAN BENDA PADAT

Khusnia Normawati
(011200313)
Nimas Agustina Pratomo
( 0112003 16 )
Novita Wiwoho
(011200317)
Tujuan
• Menentukan bilangan Reynold aliran fluida yang
melewati media berpori
• Menentukan faktor friksi
• Menentukan energi yang hilang akibat gaya
friksi
Dasar Teori
Fluidisasi dipakai untuk menerangkan atau menggambarkan
salah satu cara mengontakkan butiran-butiran padat dengan fluida
(gas atau cair). Sebagai ilustrasi dengan apa yang dinamakan
fluidisasi ini, kita tinjau suatu bejana dalam air di dalam mana
ditempatkan sejumlah partikel padat berbentuk bola, melalui
unggun padatan ini kemudian dialirkan gas dengan arah aliran dari
bawah ke atas. Pada laju alir yang cukup rendah partikel padat akan
diam. Keadaan yang demikian disebut sebagai unggun diam atau
”fixedbed”. Kalau laju alir gas dinaikkan, maka akan sampai pada
suatu keadaan dimana unggun padatan tadi tersuspensi di dalam
aliran gas yang melaluinya. Pada kondisi partikel yang mobil
ini, sifat unggun akan menyerupai sifat-sifat suatu cairan dengan
viskositas tinggi, misalnya ada kecenderungan untuk
mengalir, mempunyai sifat hidrostatik. Keadaan demikian disebut
“fluidized bed”
Unggun jejalan yang terdapat di dalam kolom di samping tentunya
dinding kolom itu sendiri, merupakan tahanan terhadap aliran fluida.
Untuk mengalirkan fluida (baik cairan maupun gas) melalui unggun
jejalan diperlukan penurunan tekanan (pressure drop) sebagai gaya
pendorong.
Besaran ini memegang peranan penting, terutama dalam masalah
penentuan kebutuhan energi untuk memasok aliran gas ke kolom. Sebagai
gambaran, untuk kolom yang berisikan jejalan acak (packing yang
dituangkan secara acak ke dalam kolom), penurunan tekanan gas
sepanjang unggun dapat dapat mencapai harga 50-100 kali penurunan
tekanan pada kolom kosong [2]
Penurunan tekanan gas di sepanjang kolom/unggun diperanguhi
sejumlah faktor berikut : (1) fraksi lowong unggun jejalan, (2) laju massa
gas, (3) bentuk dan ukuran efektif jejalan, (4) densitas gas, dan (5) laju alir
cairan.
Kecepatan Minimum Fluidisasi
Yang dimaksud kecepatan minimum fluidisasi (Umf), adalah kecepatan
superficial fluida minimum dimana fluida mulai terjadi. Karakter unggun
terfluidakan biasanya dinyatakan dalam bentuk grafik antara penurunan
tekanan (ΔP) dan kecepatan superficial fluida (U). Untuk keadaan yang
ideal, kurva hubungan ini berbentuk seperti terlihat dalam gambar

Garis AB : menunjukkan kehilangan tekanan pada daerah unggun diam


Garis BC : menunjukkan keadaan dimana unggun telah terfluidakan
Garis DE : menunjukkan kehilangan tekanan pada daerah unggun diam pada
waktu kita menurunkan kecepatan air fluida. Harga penurunan tekanan untuk
kecepatan aliran fluida tertentu, sedikit lebih rendah daripada harga penurunan
tekanan pada saat awal operasi.
Alat dan Bahan
Alat :
Kolom
Manometer
Kondensor Spiral
Penyambung antara kolom dengan kondensor
Pompa Air
Piknometer
Viskometer
Jangka sorong
Stopwatch
Beaker glass
Gelas ukur

Bahan :
Aquadest
Bahan isian berupa Rasching Ring
Cara kerja
• Densitas dan viskositas fluida diukur.
• Diameter bahan isian, diameter kolom, dan panjang susunan bahan
isian dalam kolom diukur.
• Aquadest dimasukkan kedalam wadah penampung (labu distilasi).
• Bahan isian dimasukkan pada kolom, kemudian ketinggiannya
diatur.
• Posisi alat diatur sedemikian rupa dengan urutan dari bawah: heat
mantel, labu distilasi, kolom berisi bahan isian, penyambung yang
memiliki kran, dan yang paling atas kondensor spiral. Sedangkan
selang manometer ujung pertama disambungkan dengan kolom dan
ujung kedua dengan udara terbuka. Dan untuk kondensor spiral
kedua ujungnya dihubungkan dengan selang dari pompa.
• Kemudian heat mantel dinyalakan dengan menekan on pada bagian
belakang heat mantel, kemudian ditunggu hingga air mendidih.
• Waktu dicatat dari saat air dalam labu distilasi mendidih hingga
keluar tetesan pertama melalui kran pada penyambung.
• Langkah-langkah diatas diulangi dengan mengubah ketinggian
bahan isian.
Data Pengamatan

A. Rasching Ring (bahan isian)


Tinggi = 0,808 cm
Diameter luar = 0,896 cm
Diameter dalam = 0,428 cm
Panjang kolom = 2,73 cm
Panjang hamparan (L1) = 9 cm No Volume T (s) Q (ml/s)
Δh = 1,5 cm (ml)
T = 72oC
ρ = 976,619 kg/m3 1 1,2 120 0,01
2 1,25 120 0,0104

No Volume T (s) Q (ml/s) Panjang hamparan (L2) = 23 cm


(ml) Δh = 0,8 cm
1 1,4 120 0,0117 T = 75oC
ρ = 976,619 kg/m3
2 1,3 120 0,0108

Panjang hamparan (L3) = 38 cm


Δh = 0,6 cm
No Volume T (s) Q (ml/s)
T = 83oC
(ml)
ρ = 969,909 kg/m3
1 3,65 120 0,0304
2 3,5 120 0,0292
Perhitungan

• Panjang hamparan (L1) = 9 cm = 0,295 ft


• P = 1 atm = 2116,224 lbf/ft2
• Diameter luar = 0,896 cm = 0,029 ft
• Diameter dalam = 0,428 cm = 0,014 ft
• Diameter kolom = 2,73 cm = 0,0896 ft
• Diameter partikel
Porositas X

• Porositas X = 0,62
Sphericity = 0,45
FRe = 44 dan Ff = 900
Menentukan nilai Re
Menentukan nilai faktor friksi (f)
Menentukan energy yang hilang
akibat friksi (wf)
Dengan cara sama untuk panjang
hamparan yang berbeda:
Panjang wf
No. Hamparan NRe f (lbf.ft/lb
(L) m)

1 9 cm 19.000,97 0,0335 0,0490

2 23 cm 22.231,42 0,00551 0,0260

3 38 cm 65.249,73 0,00035 0,0196


PEMBAHASAN

Prinsip dasar dari percobaan ini adalah dengan mengalirkan fluida yang
berupa gas dalam media berpori berupa rasching ring untuk dapat ditentukan
bilangan Reynold (NRe)
Faktor friksi dan energi yang hilang akibat gaya gesekan.
Air yang dipanaskan akan berubah wujud menjadi uap . Uap tersebut akan
melewati kolom destilasi yang didalamnya terdapat partikrl padat (rasching ring).
Diatas kolom destilasi juga dipasang rangkaian reflux dengan tujuan untuk
mengembalikan bentuk uap menjadi air kembali, sehingga dapat dihitung debit
fluidanya.
Uap yang berubah menjadi air akan keluar melalui kran akibat adanya perbedaan
tekanan.
Enegi yang masuk tidaksama dengan energi yang keluar, ini disebabkan
karena ada energi yang hilang akibat adanya gesekan antara fluida dengan
rasching ring.
Faktor-faktor yang mempengaruhi percobaan ini adalah :
1.Porositas Media
Porositas merupakan perbandingan antara luasan kosong dengan luas
penampang kolom
2. Diameter Partikel
Semakin besar diameter partikel, maka friksi akan semakin kecil.
3. Derajat Kebundaran
Apabila bentuk semakin mendekati bentuk bola maka friksi dan energi yang
hilang juga akan semakin besar
4. Kekasaran
Semakin kasar permukaan partikel maka friksi dan tenaga yang hilang akan
semakin besar.
• Percobaan dilakukan dengan tiga variasi
panjang hamparan. Dari ketiga hasil
perhitungan dapat diketahui nilai bilangan
reynoldnya :
untuk L1, NRe = 19.000,97
• Untuk L2, Nre = 22.231,42
• Untuk L3, Nre = 65.249,73
Nilai bilangan reynold yang diperoleh >
4000, sehingga alirannya turbulen. Pressure
drop dapat diketahui dengan adanya perbedaan
tinggi manometer. Pressure drop berpengaruh
pada penentuan faktor friksi yang kemudian
berpengaruh pada besatnya energi yang hilang.
Dari hasil percobaan diperoleh hasil bahwa
semakin panjang hamparan maka faktor friksi
dan energi yang hilang akan semakin kecil.
Hal ini tidak sesuai dengan teori yang menyatakan
bahwa semakin panjang hamparan maka faktor
friksinya akan semakin besar dan energi yang
hilang juga semakin besar :
Penyimpangan yang ada dalam percobaan ini
disebabkan :
1. Adanya perbedaan suhu antara fluida pada
saat percobaan. Seharusnya fluida memiliki
suhu yang sama untuk setiap percobaan.
2. Ketidaktelitian pada saat pembacaan ∆h
manometer
3. Ketidaktelitian sat mengukur air yang keluar
dari kran
KESIMPULAN

1. Hasil dari percobaan diperoleh :


Panjang wf
No. Hamparan NRe f (lbf.ft/lb
(L) m)

1 9 cm 19.000,97 0,0335 0,0490

2 23 cm 22.231,42 0,00551 0,0260

3 38 cm 65.249,73 0,00035 0,0196


2. Semakin besar porositas dan diameter
partikel, friksi akan semakin kecil dan energi
yang hilang akibat friksi juga akan semakin kecil
dan bilangan Reynoldnya semakin besar.
3. Semakin panjang hamparan benda padat, maka
friksi dan tenaga yang hilang akibat friksi akan
semakin besar.
DAFTAR PUSTAKA

• Putra, Sugili dkk. 2006. Petunjuk Paktikum


OTK1. Yogyakarta : STTN-BATAN
• Warren L.McCabe,Julian C.Smith, dan Peter
Harriot. Erlangga.1986