Anda di halaman 1dari 41

BAB I

STATUS PASIEN

I.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : An. MRJ
No. RM : 1814144
Tanggal lahir/ Umur : 17 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Tanggal Masuk : 20 Februari 2018
Ruang rawat : Bangsal Bougenvile Bawah

I.2 ANAMNESIS
Autoanamnesis dan aloanamnesis dengan ibu kandung pasien pada jam 23.00 WIB di
ruang Bougenville bawah
a. Keluhan Utama
Batuk darah sejak 1 hari SMRS
b. Keluhan Tambahan
Demam, sesak, keringat malam, mual, dan lemas
c. Riwayat Penyakit Sekarang:
 Pasien dibawa ke IGD RSUP Persahabatan pada tanggal 20 Februari 2018, pukul 8
malam.
 1 hari sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh batuk darah. Batuk darah muncul
satu kali dan dirasakan muncul tiba-tiba. Darah berwarna merah segar kurang lebih 1
gelas aqua. Batuk disertai sesak nafas, dimana menurut pasien sesak nafasnya. Sesak
muncul tiba-tiba dan semakin lama semakin memberat. Sesak napas dipengaruhi
posisi diakui oleh pasien, dimana pasien merasa lebih nyaman duduk dibandingkan
berbaring. Namun, sesak tidak dipengaruhi oleh aktivitas. Keluhan juga disertai
demam. Demam dirasakan tidak terlalu tinggi namun suhu tidak diukur oleh ibu
pasien namun menurut ibu pasien demam dirasakan belum terlalu tinggi. Demam
muncul naik turun atau hilang timbul dan dipengaruhi waktu. Demam dirasakan
lebih sering pada malam hari dibandingkan pagi atau siang hari. Demam juga diserai

1
keringat malam, sehingga pakaian pasien basah oleh keringat. Keluhan disertai mual,
namun tidak muntah. Pasien juga merasa lemas dan cepat lelah dibandingkan
biasanya. Keluhan pada buang air besar disangkal, tidak ada mencret maupun
sembelit. Tidak ada keluhan terkait buang air kecil, kencing berwarna kuning jernih.
Tidak ada nyeri saat berkemih. Penurunan berat badan dalam 6 bulan terakhir
disangkal.
 2 jam sebelum masuk rumah sakit, pasien demam tinggi disertai menggigil. Pasien
dibawa ke IGD RSUP Persahabatan. Di IGD pasien dilakukan pemeriksaan lab
darah.
 Pasien mengatakan 2 bulan yang lalu pernah mengalami keluhan batuk darah juga,
namun tidak sebanyak saat ini. Oleh keluhannya tersebut, pasien berobat di
Puskesmas dan hanya berobat 2 minggu kemudian membaik. Pasien seharusnya rajin
control ke Puskesmas namun tidak menjalankannya. Berdasarkan pengakuan ibunya,
pasien pernah dicek dahaknya untuk pemeriksaan TB namun dinyatakan negative.
Dalam selang 2 bulan yang lalu dan riwayat penyakit sekarang, dirasakan demam
yang hilang timbul dan batuk namun hanya terkadang.

d. Riwayat Penyakit Dahulu


Tiga tahun yang lalu, pasien pernah dirawat di rumah sakit selama kurang lebih 4 hri
dikarenakan menderita Demam Berdarah Dengue dan Thypoid. Riwayat alergi obat/
makanan disangkal. Riwayat hipertensi disangkal. Riwayat kencing manis disangkal, riwayat
penyakit jantung disangkal, riwayat asthma disangkal.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan serupa atau batuk lama dalam keluarga.
Riwayat
f. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien tinggal bersama orang tua dan kakak pasien yang berusia 20 tahun. Pasien
tinggal di kontrakan di daerah padat penduduk dengan ventilasi yang baik dan mendapat
cahaya matahari masuk ke dalam rumah. Pasien memiliki riwayat mengkonsumsi narkoba
berupa ganja, riwayat penggunaan narkoba melalui jarum suntik disangkal. Riwayat kontak
seksual disangkal. Pasien juga memiliki riwayat merokok dimana pasien merokok ± 6 batang
per hari.
g. Riwayat Kehamilan

2
 Pasien anak terakhir dari tiga bersaudara
 Ibu rutin memeriksakan kehamilan
 Ibu tidak pernah sakit ataupun mengkonsumsi obat selama hamil

h. Riwayat Persalinan
Persalinan Tempat kelahiran Klinik
Penolong persalinan Bidan
Cara persalinan Spontan
Masa gestasi 38 minggu
Keadaan bayi BBL: 3100 gram
PBL: 51 cm
Langsung menangis spontan, warna kulit
merah dan tidak ada kelainan saat lahir
Kesimpulan: Riwayat kehamilan dan persalinan baik

i. Riwayat Perkembangan
Ranah Perkembangan Usia
Seksual  Lonjakan tinggi badan 12 tahun
sekunder  Tumbuh rambut kemaluan 13 tahun
 Tumbuh jakun 14 tahun

 Tumbuh rambut kumis/jambang 14 tahun

 Suara membesar 14 tahun

Kesimpulan :riwayat perkembangan seksual sesuai dengan usianya.

j. Riwayat Makan
Umur ASI / PASI Buah / Bubur susu Nasi tim
Biskuit
0 – 6 bulan ASI - - -
6 – 12 bulan ASI, Buah pisang, ½ mangkuk Nasi lembek
Susu Milna campur bayi dengan lauk
Formula(SGM)sehari air. menu
1 botol ukuran kecil keluarga

3
>1 tahun ASI, Biskuit regal, Nasi lembek
Susu Formula(SGM) buah pisang, dengan lauk
sehari 3-4 botol pepaya, - menu
ukuran sedang alpukat, dll keluarga

Kesan : Kuantitas cukup dan kualitas cukup

k. Riwayat Imunisasi
Vaksin Dasar
BCG √ (2)
DPT √ (2) √ (4) √ (6)
Hepatitis B √ (0) √ (1) √ (6)
Polio √ (0) √ (2) √ (4) √ (6)
Campak √(9)
Kesan: imunisasi dasar lengkap sesuai PPI 2014.

I.3 PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis

Data Antropometri
Berat badan : 51 kg
Tinggi badan : 161 cm
Status gizi
 BB/U : 51/65 x 100% = 78,46%
Kesan : Gizi Kurang
 TB/U X 100% = 175/175 x 100% = 100%
Kesan : Gizi baik
 BB/TB X 100% = 78,46%
Kesan : Gizi kurang
Kesimpulan : Status gizi menurut CDC : gizi kurang

4
Tanda Vital
Suhu : 39,5 ºC
Tekanan darah : 100/70 mmHg
Nadi : 116 x/menit, reguler, kuat, isi cukup.
Pernapasan : 28 x/menit
Saturasi O2 : 95% dengan O2
Kepala : Normocephal, Lingkar kepala: 53 cm (Antara 0 dan -2 SD)
Rambut : Hitam, lurus, distribusi merata, tidak mudah dicabut
Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, palpebra cekung -/-, pupil
bulat isokor Ø 3 mm, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya
tidak langsung +/+
Telinga : Sekret -/-
Hidung : Nafas cuping hidung -/-, sekret -/-
Mulut : Mukosa bibir lembab, sianosis (-), lidah berselaput (-)
Tenggorokan : Faring hiperemis (-), Tonsil T1-T1, uvula ditengah.
Leher : KGB teraba membesar di region servikalis lateralis kiri dan kanan,
masing-masing ukuran ± 1x1 cm konsistensi kenyal, batas tegas,
mobile, tepi regular, warna sesuai warna kulit, suhu sesuai suhu tubuh.
Nyeri tekan (-). Tidak teraba pembesaran tiroid.
Thoraks
Cor :
Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak
Palpasi : Iktus cordis tidak teraba kuat angkat
Perkusi : Batas jantung normal
Auskultasi :Bunyi jantung I-II normal, murmur(-), gallop (-)
Pulmo :
Inspeksi :Bentuk dan pergerakan pernafasan kanan-kiri simetris
Palpasi :Vocal fremitus kanan dan kiri sama
Perkus : Sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+) wheezing (-/-), ronkhi halus (+/+)
Abdomen
Inspeksi : Datar
Auskultasi : Bising usus (+)
Perkusi : Timpani di semua kuadran abdomen
5
Palpasi : Supel, tidak ada pembesaran hepar dan lien,turgor baik, nyeri tekan
(+)
Genitalia eksterna : Laki-laki, OUE: letak di tengah, eritema (-)
Ekstremitas : Akral hangat, CRT <2 detik, edema (-), sianosis (-)

I.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Ro Thorax 20 februari 2018

Cor normal
Pulmo tampak infiltrate di paru kiri
Hilus normal
Sinus diafragma dan tulang-tulang normal
Kesan : TB paru
a. 20 Februari 2018
JENIS NILAI
NO. HASIL
PEMERIKSAAN RUJUKAN
1. HEMATOLOGI
Hematologi Rutin
Hemoglobin 11.2 12.0-16.0 g/dL
Hematokrit 33.4 37 - 49 %
Eritrosit 4.9 juta 4.5 – 5.3 juta/ L
Leukosit 13.850 4500 – 11.300/L
150000 – 450000/
Trombosit 340.000
L
MCV 69,7 78 – 102 fL
MCH 23.4 25 – 35 pg
MCHC 33,5 31 – 37 g/dL
HITUNG JENIS
Basofil 0,4 0–1%
Eosinofil 0,2 2–4%
Neutrofil Batang 0 3–5%
Neutrofil Segmen 75,5 50 – 70 %

6
Limfosit 17 25 – 40 %
Monosit 6,9 2–8%
RDW-CV 14.1 11.5 – 14.5 %
LED 65 0 – 15 mm/jam

b. 22 Februari 2017
JENIS NILAI
NO. HASIL
PEMERIKSAAN RUJUKAN
1. Serologi
HIV Non reaktif Non reaktif

c. 27 Februari 2018
JENIS NILAI
NO. HASIL
PEMERIKSAAN RUJUKAN
1. HEMATOLOGI
Hematologi Rutin
Hemoglobin 8.7 12.5-16.1 g/dL
Hematokrit 25.3 36 - 47 %
Eritrosit 3.76 juta 4 – 5.2 juta/ L
Leukosit 6670 4000 – 10.500/L
150.000 –
Trombosit 322.000
400.000/L
MCV 67.4 78 – 95 fL
MCH 24.1 26 – 32 pg
MCHC 35.8 32 – 36 g/dL
HITUNG JENIS
Basofil 0.3 0–1%
Eosinofil 0.3 1–3%
Neutrofil 60.5 52 – 76 %
Limfosit 31.0 20 40 %
Monosit 7.9 2–8%
RDW-CV 14.2 < 14.5

7
d. 1 Maret 2018
JENIS NILAI
NO. HASIL
PEMERIKSAAN RUJUKAN
1. HEMATOLOGI
Hematologi Rutin
Hemoglobin 8,4 12.5-16.1 g/dL
Hematokrit 25.2 36 - 47 %
Eritrosit 3.73 juta 4 – 5.2 juta/ L
Leukosit 7.73 4000 – 10.500/L
150.000 –
Trombosit 465.000
400.000/L
MCV 67.6 78 – 95 fL
MCH 22.5 26 – 32 pg
MCHC 33.3 32 – 36 g/dL
HITUNG JENIS
Basofil 0.3 0–1%
Eosinofil 0.8 1–3%
Neutrofil 75 52 – 76 %
Limfosit 15.7 20 40 %
Monosit 8.2 2–8%
RDW-CV 14 < 14.5
IMUNOSEROLOGI
Prokalsitonin 0.18 ≥10 = Sepsis

I.5 DIAGNOSIS KERJA


TB paru dengan BTA positif
Pneumonia
Sepsis
I.6 TATALAKSANA
1. Kaen 1B 10 tpm makro
2. FDC anak 1 x 5 tablet
3. Paracetamol syrup 4 x 1 cth
4. transamin 3x 250 mg
5. ceftriaxone 2x 1gr

8
FOLLOW UP
Tanggal Follow up
22/02/18 S batuk A:
berdarah, Observasi hemoptoe susp TB
KU : Tampak sakit sedang
dan sesak
mual. Kes: Compos mentis P:
O: T: 38,2oC RR = 28x/m  Kaen 1B 10 tpm makro
 Inj. Cefotaxime 3 x 1 gr
N: 134x/m spO2=93%
 PO. Paracetamol 500mg
RR: 24x/m  Transamin 3x250mg
Kepala : Normocephal
SpO2: 97% tanpa O2
Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-,
mata cekung -/-

Hidung : PCH (-), Sekret (-)

Mulut : mukosa kering (-), sianosis (-), lidah


berselaput (+)

Leher : Pemb. KGB (-)

Thorax : Retraksi (-), Rh basah halus +/+

Cor : BJ I/II Reg, murmur (-), gallop (-)

Pulmo : vesikuler +/+ Rh-/- Wh -/-


23/2/18 S: batuk berdarah, sesak, demam A:
O:Abd : BU (+), NT (+) Observasi Hemoptoe
KU : Tampak sakit sedang
Ext : Akral hangat, edema (-), CRT < 2 detik
Kes: Compos mentis P:
o
T: 38,4 C RR 38x/menit  Kaen 1B 10 tpm makro
 Transamin 3x250mg
N: 100x/m spO2 94%  Inj. Cefotaxime 3 x 1 gr
Kepala RR: 20x/m
: Normocephal  PO. Paracetamol 500mg
 Sudah cek sputum 2x
Mata : Konjungtiva
SpO anemis
2: 98% tanpa O2 -/-, sklera ikterik -/-, mata
cekung -/-

Hidung : PCH (-), Sekret (-)

Mulut : mukosa kering (-), sianosis (-), lidah berselaput


(+)

Leher : Pemb. KGB (-)

Thorax : Retraksi (-)

Cor : BJ I/II Reg, murmur (-), gallop (-)

Pulmo : vesikuler +/+ Rh-/- Wh -/-


Abd : BU (+), NT (+)
24/2/18 S: pasien masih mengeluh batuk berdarah, namun tidak A:
Ext : Akral hangat, edema (-), CRT < 2 detik
9
sebanyak Observasi hemoptoe susp TB
awal. Masih paru
KU : Tampak sakit sedang
sesak dan
Kes: Compos mentis demam P:
T: 39,1oC RR 36x/n menggigil.  Kaen 1B 10 tpm makro
O:  PO. Paracetamol 500mg
N: 107x/m spO2 95%
 Transamin 3x250mg
RR: 25x/m
SpO2: 99% tanpa O2

Kepala : Normocephal

Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, mata


cekung -/-

Hidung : PCH (-), Sekret (-)

Mulut : mukosa kering (-), sianosis (-), lidah berselaput


(+)

Leher : Pemb. KGB (-)

Thorax : Ronkie basah halus +/+

Cor : BJ I/II Reg, murmur (-), gallop (-)


25/2/18 S:Pulmo : vesikuler +/+ Rh-/- Wh -/- Pasien A:
KU : Tampak sakit sedang
mengatakan Observasi hemoptoe susp TB
Abd Kes:
: BU (+), NT (+)
Compos mentis bahwa ia
masih batuk P:
Ext T:: 39,4
Akralo hangat, edema (-), CRT < 2 detik
C (malam: tidak diukur)
darah.  Kaen 1B 10 tpm makro
N: 110x/m Keluhan
 PO. Paracetamol 500mg
disertai
RR: 32x/m spO2 = 92% sesak dan  Transamin 3x250mg
mual SpO2: 98% tanpa O2

O: TD: 100/70 mmHg

Kepala : Normocephal

Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, mata


cekung -/-

Hidung : PCH (-), Sekret (-)

Mulut : mukosa kering (-), sianosis (-), lidah berselaput


(+)

Leher : Pemb. KGB (-)

Thorax : Retraksi (-)

Cor : BJ I/II Reg, murmur (-), gallop (-)

Pulmo : vesikuler +/+ Rh-/- Wh -/-


26/2/18 S:Abd
Ibu pasien mengatakan
: BU (+), NT (+) anaknya masih demam di A:
Ext : Akral hangat, edema (-), CRT < 2 detik 10
malam hari. Mual (-), sakit perut (-), pusing (-) TB paru dengan BTA positif
O: P:
KU : Tampak sakit sedang
 Kaen 1B 10 tpm makro
Kes: Compos mentis  PO. Paracetamol 500mg
T: 38,7oC RR :36x/menit

N: 118x/m spO2 : 91%

RR: 30x/m
Kepala : Normocephal
SpO2: 99% tanpa O2
Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-,
mata cekung -/-
Hidung : PCH (-), Sekret (-)
Mulut : mukosa kering (-), sianosis (-), lidah
berselaput (-)
Leher : Pemb. KGB (+)
Thorax : Retraksi (-)
Cor : BJ I/II Reg, murmur (-), gallop (-)
27/2/18 S: Ibu KU : Tampak sakit sedang pasien A = TB paru dengan BTA
Pulmo : vesikuler +/+ Rh-/- Wh -/- positif
Kes: Compos mentis
Abd : BU (+), NT (+) P=
o
T: 38,7 C RR :36x/menit Kaen IB 10 tpm
Ext : Akral hangat, edema (-), CRT < 2 detik Fdc anak 1x5tab
N: 118x/m spO2 : 91%
Etambutol
RR: 30x/m Transamin 3x250mg
mengatakan SpOanaknya masih demam di malam hari. Cek DPL
2: 99% tanpa O2
Mual (-), sakit perut (-), pusing (-)

O:
Kepala : Normocephal
Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-,
mata cekung -/-
Hidung : PCH (-), Sekret (-)
Mulut : mukosa kering (-), sianosis (-), lidah
berselaput (-)
Leher : Pemb. KGB (+)
Thorax : Retraksi (-) Ronkie basah halus +/+,
Wheezing -/-
Cor : BJ I/II Reg, murmur (-), gallop (-)

28/2/18 S = batuk berkurang, demam tidak ada A = TB paru dengan BTA


O = positif
berkuran KU : Tampak sakit sedang P=
g, demam Kes: Compos mentis Kaen IB 10 tpm
tidak ada Fdc anak 1x5tab
T: 36,6oC RR = 20x/menit Etambutol
O=
Kepala : N: 85x/m spO2 : 95% Inj transamin 3x250mg

RR: 30x/m
11
SpO2: 99% tanpa O2
Normocephal
Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, mata
cekung -/-
Hidung : PCH (-), Sekret (-)
Mulut : mukosa kering (-), sianosis (-), lidah berselaput (-)
Leher : Pemb. KGB (+)
Thorax : Retraksi (-) Ronkie basah halus +/+, Wheezing -/-
Cor : BJ I/II Reg, murmur (-), gallop (-)
1/3/18 S = batuk berkurang, demam tidak ada A=
O = TB paru dengan BTA positif
berkuran KU : Tampak sakit sedang Sepsis
g, demam P=
Kes: Compos mentis
tidak ada Kaen IB 10 tpm
O= T: 37,6oC RR = 34x/menit Fdc anak 1x5tab
Kepala : Etambutol
N: 118x/m spO2 : 97%
Normocep Ceftriaxon 2x1 gr
hal RR: 30x/m
Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, mata
cekungSpO-/- 2: 99% tanpa O2
Hidung : PCH (-), Sekret (-)
Mulut : mukosa kering (-), sianosis (-), lidah berselaput (-)
Leher : Pemb. KGB (+)
Thorax : Retraksi (-) Ronkie basah halus +/+, Wheezing -/-
Cor : BJ I/II Reg, murmur (-), gallop (-)
2/3/18 S = batuk berkurang, demam tidak ada A=
O = TB paru dengan BTA positif
berkuran KU : Tampak sakit sedang Sepsis
g, demam P=
Kes: Compos mentis
tidak ada Kaen IB 10 tpm
O= T: 36,6oC RR = 29x/menit Fdc anak 1x5tab
Kepala : Etambutol
N: 163x/m spO2 : 97%
Normocep Ceftriaxon 2x1 gr
hal RR: 30x/m
Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, mata
cekungSpO-/- 2: 99% tanpa O2
Hidung : PCH (-), Sekret (-)
Mulut : mukosa kering (-), sianosis (-), lidah berselaput (-)
Leher : Pemb. KGB (+)
Thorax : Retraksi (-) Ronkie basah halus +/+, Wheezing -/-
Cor : BJ I/II Reg, murmur (-), gallop (-)
3/3/18 S = batuk berkurang, demam tidak ada A=
O = TB paru dengan BTA positif
berkuran KU : Tampak sakit sedang Sepsis
g, demam P=
Kes: Compos mentis
tidak ada Kaen IB 10 tpm
O= T: 37,1oC RR = 51x/menit Fdc anak 1x5tab
Kepala : Etambutol
N: 118x/m spO2 : 91%
Normocep Ceftriaxon 2x1 gr
hal RR: 30x/m
Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, mata
cekungSpO
-/- 2: 99% tanpa O2
Hidung : PCH (-), Sekret (-)
Mulut : mukosa kering (-), sianosis (-), lidah berselaput (-)
Leher : Pemb. KGB (+)
Thorax : Retraksi (-) Ronkie basah halus +/+, Wheezing -/-

12
Cor : BJ I/II Reg, murmur (-), gallop (-)

4/3/18 S = batuk berkurang, demam tidak ada A = TB paru BTA positif


O=
Kepala KU : Tampak sakit sedang P=
Rencana pulang
Kes: Compos mentis

T: 36oC RR = 24x/menit

N: 97x/m spO2 : 95%

RR: 30x/m
: Normocephal
Mata : Konjungtiva
SpO2: 99%anemis
tanpa-/-,
O2sklera ikterik -/-, mata
cekung -/-
Hidung : PCH (-), Sekret (-)
Mulut : mukosa kering (-), sianosis (-), lidah berselaput (-)
Leher : Pemb. KGB (+)
Thorax : Retraksi (-) Ronkie basah halus +/+, Wheezing -/-
Cor : BJ I/II Reg, murmur (-), gallop (-)

13
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Definisi
TB adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis
yang biasanya menyerang paru-paru (TB paru) dan juga menyerang organ lain (Di luar TB
paru). Selain mempengaruhi paru-paru, TB juga dapat mempengaruhi bagian lain dari tubuh,
seperti otak, ginjal, atau tulang belakang. Seseorang dengan TB dapat mati jika mereka tidak
mendapatkan perawatan. Penyakit ini ditularkan melalui udara, misalnya dengan batuk.
Sekitar 5-15% diperkirakan 2-3 milyar orang yang terinfeksi M. tuberculosis akan
mengembangkan penyakit TB selama hidup mereka. Namun, kemungkinan penyakit TB
berkembang jauh lebih tinggi pada orang yang terinfeksi HIV.1,2

II.2 Epidemiologi
TB Anak adalah penyakit TB yang terjadi pada anak usia 0-14 tahun. Tuberkulosis
anak merupakan factor penting di negara-negara berkembang karena jumlah anak berusia
kurang dari 15 tahun adalah 40-50% dari jumlah seluruh populasi. Sekurang-kurangnya
500.000 anak menderita TB setiap tahun.3
Pada 2015, diperkirakan ada 10,4 juta kasus TB baru di seluruh dunia. 5,9 juta (56%)
adalah laki-laki, 3,5 juta (34%) di antaranya adalah perempuan dan 1,0 juta (10%) di
antaranya adalah anak-anak. Orang yang hidup dengan HIV menyumbang 1,2 juta (11%) dari
semua kasus TB baru. Enam negara menyumbang 60% dari kasus baru yaitu India, Indonesia,
Cina, Nigeria, Pakistan dan Selatan Afrika. Epidemiologi TB tergantung pada kemajuan
dalam pencegahan TB dan perawatan di negara-negara tersebut. Di seluruh dunia, tingkat
penurunan
Insiden TB terjadi hanya 1,5% yaitu pada tahun 2014-2015. Pada 2015, diperkirakan ada
480000 kasus baru multidrug-resistant TB (MDR-TB) dan tambahan 100000 orang dengan
TB resistan terhadap rifampisin (RR-TB). Diperkirakan ada 1,4 juta kematian akibat TB pada
tahun 2015, dan tambahan 0,4 juta kematian akibat penyakit TB di antara orang yang hidup
dengan HIV. Meskipun jumlah kematian TB turun 22% antara tahun 2000 dan 2015, TB
tetap salah satu dari 10 penyebab kematian di seluruh dunia pada tahun 2015.1,5

14
Proporsi kasus TB anak di antara semua kasus TB di Indonesia pada tahun 2010
adalah 9,4%, kemudian menjadi 8,5% pada tahun 2011, 8,2% pada tahun 2012, 7,9 pada
tahun 2013, 7,16% pada tahun 2014 dan 9% pada tahun 2015. Proporsi tiap provinsi berbeda
tergantung endemisitas dan kualitas diagnosis TB anak.4

II.3 Faktor Resiko


Faktor risiko penularan TB pada anak tergantung dari tingkat penularan, lama
pajanan, daya tahan pada anak. Pasien TB dengan BTA positif memberikan kemungkinan
risiko penularan lebih besar daripada pasien TB dengan BTA negatif. Pasien TB dengan
BTA negatif masih memiliki kemungkinan menularkan penyakit TB. Tingkat penularan
pasien TB BTA positif adalah 65%, pasien TB BTA negatif dengan hasil kultur positif adalah
26% sedangkan pasien TB dengan hasil kultur negatif dan foto Toraks positif adalah 17%.4
Berikut adalah fator penularan dari TB:7
Faktor Deskripsi
Kerentanan Kerentanan (status kekebalan) dari individu
terpapar
Penularan Penularan dari orang dengan penyakit TB
secara langsung berhubungan dengan
jumlah basil tuberkulosis bahwa ia mengusir
ke udara. Orang yang mengusir banyak basil
tuberkulum lebih menular dibandingkan
pasien yang mengusir sedikit atau tidak ada
basil
Lingkungan
Konsentrasi droplet nuclei yang ditularkan Semakin banyak droplet nuclei di udara,
semakin mungkin bahwa
M. tuberculosis akan ditransmisikan
Ruang Paparan dalam ruang kecil dan tertutup
Ventilasi Ventilasi yang tidak memadai

15
Sirkulasi Udara Resirkulasi udara yang mengandung droplet
nuklei menular
Penanganan spesimen yang tidak tepat menangani
prosedur yang menghasilkan droplet nuklei
menular
Tekanan Udara tekanan udara positif di kamar menular
pasien yang menyebabkan
M. tuberculosis organisme mengalir ke
daerah lain
Pemaparan
Durasi Semakin lama durasi paparan, semakin
tinggi risiko penularan
Frekuensi Semakin sering terpapar, semakin tinggi
risiko untuk transmisi
Kedekatan Semakin dekat dekat, semakin tinggi risiko
penularan

II.4 Klasifikasi10,12
a. Klasifikasi berdasarkan anatomi:
1. Tuberkulosis Paru, merupakan TB yang terjadi pada parenkim paru.
2. Tuberkulosis ekstra paru, adalah TB yang terjadi pada organ selain paru, misalnya
kelenjar limfe, abdomen, kulit, sendi, selapit otak dan tulang.

b. Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya:


1. Pasien TB baru, adalah pasien yang belu pernah mendapatkan pengobatan TB
sebelumnya atau sudah pernah menggunakan OAT namun kurang dari 1 bulan (<
dari 28 dosis).
2. Pasien yang pernah diobati TB, adalah pasien yang sebelumnya pernah menelan
OAT selama 1 bulan atau lebih (>28 dosis). Selanjutnya kelompok ini
diklasifikasikan berdasarkan hasil pengobatan TB terakhir:
a) Pasien kambuh, adalah pasien TB yang pernah dinyatakan sembuh atau
pengobtan lengkap dan saat ini didiagnosis TB berdasarkan hasil pemeriksaan
bakteriologis atau klinis.
b) Pasien yang diobati kembali setelah gagal
c) Pasien yang diobati kembali setelah putus obat (lost to follow-up)

16
c. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan uji kepekaan obat:
1. Mono resistan (TB MR), resisten terhadap salah satu jenis OAT lini pertama saja.
2. Poli resistan (TB PR), resisten terhadap lebih dari satu jenis OAT lini pertama
selain Isoniazid (H) dan Rifampisin (R) secara bersamaan.
3. Multi drug resistant (TB MDR), resisten terhadap Isoniazid (H) dan Rifampisin
(R) secara bersamaan.
4. Extensive drug resistant (TB XDR), TB MDr yang sekaligus juga resisten
terhadap salah satu OAT golongan fluorokuinolon dan minimal salah satu dari
OAT lini kedua jenis suntikan (Kanamasin, Kapreomisin dan Amikasin).
5. Resistan Rifampicin (TB RR), resisten terhadap Rifampisin dengan atau tanpa
resisten terhadap OAT lain.

d. Klasifikasi berdasarkan berat dan ringannya penyakit


1. TB ringan, tidak berisiko menimbulkan kecacatan berat atau kematian, misalnya
TB primer tanpa komplikasi, TB kulit, TB kelenjar, dan lain-lain
2. TB berat, TB pada anak yang berisiko menimbulkan kecacatan berat atau
kematian, misalnya TB meningitis, TB milier, TB tulang dan sendi, TB abdomen,
termasuk TB hepar, TB usus, TB paru BTA positif, TB resisten obat, TB HIV.

e. Klasifikasi berdasarkan status HIV


Pemeriksaan HIV direkomendasikan pada semua anak suspek TB pada daerah
endemis HIV atau risiko tinggi terinfeksi HIV. Berdasarkan pemeriksaan HIV, TB
pada anak diklasifikasikan sebagai:
1. HIV positif
2. HIV negatif
3. HIV tidak diketahui
4. HIV expose atau curiga HIV. Anak dengan orang tua penderita HIV
diklasifikasikan sebagai HIV expose, sampai terbukti HIV negatif. Apabila hasil
pemeriksaan HIV menunjukkan hasil negatif pada anak usia < 18 bulan, maka
status HIV perlu diperiksa ulang setelah usia > 18 bulan.

f. Tuberkulosis Meningitis
Tuberkulosis meningitis, merupakan salah satu bentuk TB pada Sistem Saraf Pusat
yang sering ditemukan pada anak, dan merupakan TB dengan gejala klinis berat yang dapat

17
mengancam nyawa, atau meninggalkan gejala sisa pada anak. Anak biasanya datang dengan
keluhan awal demam lama, sakit kepala, diikuti kejang berulang dan kesadaran menurun
khususnya jika terdapat bukti bahwa anak telah kontak dengan pasien TB dewasa BTA
positif. Pada keadaan ini, diagnosis dengan sistem skoring tidak direkomendasikan.
Apabila didapatkan tanda peningkatan tekanan intrakranial seperti muntah-muntah
dan edema papil, perlu dilakukan pemeriksaan CT Scan kepala atau MRI, untuk mencari
kemungkinan komplikasi seperti hidrosefalus.

g. TB Milier
Tuberkulosis milier termasuk salah satu bentuk TB dengan gejala klinis berat dan
merupakan 3—7% dari seluruh kasus TB, dengan angka kematian yang tinggi (dapat
mencapai 25% pada bayi). TB milier terjadi oleh karena adanya penyebaran secara
hematogen dan diseminata, bisa ke seluruh organ, tetapi gambaran milier hanya dapat dilihat
secara kasat mata pada foto toraks. Terjadinya TB milier dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu
1. Kuman M. tuberculosis (jumlah dan virulensi),
2. Status imunologis pasien (nonspesifik dan spesifik), seperti infeksi HIV, malnutrisi,
infeksi campak, pertusis, diabetes melitus, gagal ginjal, keganasan, dan penggunaan
kortikosteroid jangka lama
3. Faktor lingkungan (kurangnya paparan sinar matahari, perumahan yang padat, polusi
udara, merokok, penggunaan alkohol, obat bius, serta sosioekonomi).
Gejala dan tanda awal TB milier sama dengan TB lainnya, dapat disertai sesak nafas,
ronki dan mengi. Dalam keadaan lanjut bisa juga terjadi hipoksia, pneumotoraks, dan atau
pneumomediastinum, sampai gangguan fungsi organ, serta syok.
Lesi milier dapat terlihat pada foto toraks dalam waktu 2—3 minggu setelah
penyebaran kuman secara hematogen. Gambarannya sangat khas, yaitu berupa tuberkel halus
(millii) yang tersebar merata di seluruh lapangan paru, dengan bentuk yang khas dan ukuran
yang hampir seragam (1—3 mm).
Diagnosis ditegakkan melalui rewayat kontak dengan pasien TB BTA positif, gejala
klinis dan radiologis yang khas. Selain itu perlu dilakukan pemeriksaan pungsi lumbal
walaupun belum timbul kejang atau penurunan kesadaran.

h. Tuberkulosis Tulang/ Sendi


Tuberkulosis tulang atau sendi merupakan suatu bentuk infeksi TB ekstrapulmonal
yang mengenai tulang atau sendi. Insidens TB sendi berkisar 1—7% dari seluruh TB. Tulang

18
yang sering terkena adalah: tulang belakang (spondilitis TB), sendi panggul (koksitis), dan
sendi lutut (gonitis).
Gejala dan tanda spesifik spesifik berupa bengkak, kaku, kemerahan, dan nyeri pada
pergerakan dan sering ditemukan setelah trauma. Bisa ditemukan gibbus yaitu benjolan pada
tulang belakang yang umumnya seperti abses tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda
peradangan. Warna benjolan sama dengan sekitarnya, tidak nyeri tekan, dan menimbulkan
abses dingin. Kelainan neurologis terjadi pada keadaan spondilitis yang lanjut, membutuhkan
operasi bedah sebagai tatalaksananya.
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan adalah foto radiologi, CT scan dan MRI.
Prognosis TB tulang atau sendi sangat bergantung pada derajat kerusakan sendi atau
tulangnya. Pada kelainan minimal umumnya dapat kembali normal, tetapi pada kelainan yang
sudah lanjut dapat menimbulkan sekuele (cacat) sehingga mengganggu mobilitas pasien.

i. Tuberkulosis Kelenjar
Infeksi TB pada kelenjar limfe superfisial, yang disebut dengan skrofula, merupakan
bentuk TB ekstrapulmonal pada anak yang paling sering terjadi, dan terbanyak pada kelenjar
limfe leher. Kebanyakan kasus timbul 6—9 bulan setelah infeksi awal M. tuberculosis, tetapi
beberapa kasus dapat timbul bertahun-tahun kemudian. Lokasi pembesaran kelenjar limfe
yang sering adalah di servikal anterior, submandibula, supraklavikula, kelenjar limfe
inguinal, epitroklear, atau daerah aksila.
Kelenjar limfe biasanya membesar perlahan-lahan pada stadium awal penyakit.
Pembesaran kelenjar limfe bersifat kenyal, tidak keras, discrete, dan tidak nyeri. Pada
perabaan, kelenjar sering terfiksasi pada jaringan di bawah atau di atasnya. Limfadenitis ini
paling sering terjadi unilateral, tetapi infeksi bilateral dapat terjadi karena pembuluh limfatik
di daerah dada dan leher-bawah saling bersilangan. Uji tuberkulin biasanya menunjukkan
hasil positif, Gambaran foto toraks terlihat normal.

j. Tuberkulosis Kulit
Skrofuloderma merupakan manifestasi TB kulit yang paling khas dan paling sering
dijumpai pada anak. Skrofuloderma terjadi akibat penjalaran perkontinuitatum dari kelenjar
limfe yang terkena TB. Manifestasi klinis skrofuloderma sama dengan gejala umum TB anak.
Skrofuloderma biasanya ditemukan di leher dan wajah, dan di tempat yang mempunyai
kelompok kelenjar limfe, misalnya di daerah parotis, submandibula, supraklavikula, dan

19
daerah lateral leher. Selain itu, skrofuloderma dapat timbul di ekstremitas atau trunkus tubuh,
yang disebabkan oleh TB tulang dan sendi.
Lesi awal skrofuloderma berupa nodul subkutan atau infiltrat subkutan dalam yang
keras (firm), berwarna merah kebiruan, dan tidak menimbulkan keluhan (asimtomatik).
Infiltrat kemudian meluas/ membesar dan menjadi padat kenyal (matted and doughy).
Selanjutnya mengalami pencairan, fluktuatif, lalu pecah (terbuka ke permukaan kulit),
membentuk ulkus berbentuk linear atau serpiginosa, dasar yang bergranulasi dan tidak
beraturan, dengan tepi bergaung (inverted), berwarna kebiruan, disertai fistula dan nodul
granulomatosa yang sedikit lebih keras. Kemudian terbentuk jaringan parut/sikatriks berupa
pita/benang fibrosa padat, yang membentuk jembatan di antara ulkus-ulkus atau daerah kulit
yang normal. Pada pemeriksaan, didapatkan berbagai bentuk lesi, yaitu plak dengan fibrosis
padat, sinus yang mengeluarkan cairan, serta massa yang fluktuatif.

k. Tuberkulosis Abdomen
TB abdomen mencakup lesi granulomatosa yang bisa ditemukan di peritoneum (TB
peritonitis), usus, omentum, mesenterium, dan hepar. M tuberculosis sampai ke organ
tersebut secara hematogen ataupun penjalaran langsung. Peritonitis TB merupakan bentuk TB
anak yang jarang dijumpai, yaitu sekitar 1—5% dari kasus TB anak. Umumnya terjadi pada
dewasa dengan perbandingan perempuan lebih sering dari laki-laki (2:1).
Pada peritonium terbentuk tuberkel dengan massa perkijuan yang dapat membentuk
satu kesatuan (konfluen). Pada perkembangan selanjutnya, omentum dapat menggumpal di
daerah epigastrium dan melekat pada organ-organ abdomen, sehingga pada akhirnya dapat
menyebabkan obstruksi usus. Selain itu, kelenjar limfe yang terinfeksi dapat membesar,
menyebabkan penekanan pada vena porta dengan akibat pelebaran vena dinding abdomen
dan asites.
Umumnya, selain gejala khusus peritonitis TB, dapat timbul gejala klinis umum TB
anak. Tanda yang dapat terlihat adalah ditemukannya massa intraabdomen dan adanya asites.
Kadang-kadang ditemukan fenomena papan catur, yaitu pada perabaan abdomen didapatkan
adanya massa yang diselingi perabaan lunak, kadang-kadang didapat pada obstruksi usus dan
asites.

l. Tuberkulosis Mata
Tuberkulosis pada mata umumnya mengenai konjungtiva dan kornea, sehingga sering
disebut sebagai keratokonjungtivitis fliktenularis (KF). Keratokonjungtivitis fliktenularis

20
adalah penyakit pada konjungtiva dan kornea yang ditandai oleh terbentuknya satu atau lebih
nodul inflamasi yang disebut flikten pada daerah limbus, disertai hiperemis di sekitarnya.
Umumnya ditemukan pada anak usia 3—15 tahun dengan faktor risiko berupa kemiskinan,
kepadatan penduduk, sanitasi buruk, dan malnutrisi.
Manifestasi klinis KF dapat berupa iritasi, nyeri, lakrimasi, fotofobia, dan dapat
mengeluarkan sekret mata, disertai gejala umum TB. Untuk menyingkirkan penyebab
stafilokokus, perlu dilakukan usap konjungtiva.

m. Tuberkulosis Ginjal
Tuberkulosis ginjal pada anak jarang karena masa inkubasinya bertahun-tahun. TB
ginjal merupakan hasil penyebaran hematogen. Fokus perkijuan kecil berkembang di
parenkim ginjal dan melepaskan kuman TB ke dalam tubulus. Massa yang besar akan
terbentuk dekat dengan korteks ginjal, yang mengeluarkan kuman melalui fistula ke dalam
pelvis ginjal. Infeksi kemudian menyebar secara lokal ke ureter, prostat, atau epididimis.
Tuberkulosis ginjal seringkali secara klinis tenang pada fase awal, hanya ditandai
piuria yang steril dan hematuria mikroskopis. Disuria, nyeri pinggang atau nyeri abdomen
dan hematuria makroskopis dapat terjadi sesuai dengan berkembangnya penyakit.
Pengobatan TB ginjal bersifat holistik, yaitu selain pemberian OAT juga dilakukan
penanganan terhadap kelainan ginjal yang terjadi. Apabila diperlukan tindakan bedah, dapat
dilakukan setelah pemberian OAT selama 4—6 minggu.

n. Tuberkulosis Jantung
Tuberkulosis yang lebih umum terjadi pada jantung adalah perikarditis TB, tetapi
hanya 0,5—4% dari TB anak. Perikarditis TB biasanya terjadi akibat invasi kuman secara
langsung atau drainase limfatik dari kelenjar limfe subkarinal.
Gejalanya tidak khas, yaitu demam subfebris, lesu, dan BB turun. Nyeri dada jarang
timbul pada anak. Dapat ditemukan friction rub dan suara jantung melemah dengan pulsus
paradoksus. Terdapat cairan perikardium yang khas, yaitu serofibrinosa atau hemoragik.
Basil Tahan Asam jarang ditemukan pada cairan perikardium, tetapi kultur dapat positif pada
30—70% kasus. Hasil kultur positif dari biopsi perikardium yang tinggi dan adanya
granuloma sering menyokong diagnosis TB jantung. Selain OAT diberikan juga
kortikosteroid. Perikardiotomi parsial atau komplit dapat diperlukan jika terjadi penyempitan
perikard.

21
II.5 Cara Penularan
M. tuberculosis dilakukan di partikel udara, disebut droplet nuclei, dari 1- 5 mikron
diameter. droplet nuklei menular yang dihasilkan ketika orang yang memiliki paru atau laring
TB penyakit batuk, bersin, berteriak, atau bernyanyi. Tergantung pada lingkungan, partikel
kecil dapat tetap di udara selama beberapa jam. M. tuberculosis ditularkan melalui udara,
bukan oleh kontak permukaan. Penularan terjadi ketika seseorang menghirup droplet nuklei
yang mengandung M. tuberculosis, dan droplet nuklei melintasi mulut atau hidung, saluran
pernapasan bagian atas, dan bronkus untuk mencapai alveoli paru.7

II.6 Patogenesis11,12,13
Paru merupakan port d’entree lebih dari 98% kasus infeksi TB. Kuman TB dalam
percik renik (droplet nuclei) yang ukurannya sangat kecil (<5 μm), akan terhirup dan dapat
mencapai alveolus.. Pada sebagian kasus, kuman TB dapat dihancurkan seluruhnya oleh
mekanisme imunologis nonspesifik, sehingga tidak terjadi respons imunologis spesifik. Akan
tetapi, pada sebagian kasus lainnya, tidak seluruhnya dapat dihancurkan. Pada individu yang
tidak dapat menghancurkan seluruh kuman, makrofag alveolus akan memfagosit kuman TB
yang sebagian besar dihancurkan. Akan tetapi, sebagian kecil kuman TB yang tidak dapat
dihancurkan akan terus berkembang biak di dalam makrofag, dan akhirnya menyebabkan lisis
makrofag. Selanjutnya, kuman TB membentuk lesi di tempat tersebut, yang dinamakanfokus
primer Ghon.
Dari fokus primer Ghon, kuman TB menyebar melalui saluran limfe menuju kelenjar
limfe regional, yaitu kelenjar limfe yang mempunyai saluran limfe ke lokasi fokus primer.
Penyebaran ini menyebabkan terjadinya inflamasi di saluran limfe (limfangitis) dan di
kelenjar limfe (limfadenitis) yang terkena. Jika fokus primer terletak di lobus bawah atau

22
tengah, kelenjar limfe yang akan terlibat adalah kelenjar limfe parahilus (perihiler),
sedangkan jika fokus primer terletak di apeks paru, yang akan terlibat adalah kelenjar
paratrakeal. Gabungan antara fokus primer, limfangitis, dan limfadenitis dinamakan
kompleks primer (primary complex).
Waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman TB hingga terbentuknya kompleks
primer secara lengkap disebut sebagai masa inkubasi. Hal ini berbeda dengan pengertian
masa inkubasi pada proses infeksi lain, yaitu waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman
hingga timbulnya gejala penyakit. Masa inkubasi TB bervariasi selama 2−12 minggu,
biasanya berlangsung selama 4−8 minggu. Selama masa inkubasi tersebut, kuman
berkembang biak hingga mencapai jumlah 103–104, yaitu jumlah yang cukup untuk
merangsang respons imunitas selular
Pada saat terbentuknya kompleks primer, TB primer dinyatakan telah terjadi. Setelah
terjadi kompleks primer, imunitas selular tubuh terhadap TB terbentuk, yang dapat diketahui
dengan adanya hipersensitivitas terhadap tuberkuloprotein, yaitu uji tuberkulin positif.
Selama masa inkubasi, uji tuberkulin masih negatif. Pada sebagian besar individu dengan
sistem imun yang berfungsi baik, pada saat sistem imun selular berkembang, proliferasi
kuman TB terhenti. Akan tetapi, sejumlah kecil kuman TB dapat tetap hidup dalam
granuloma. Bila imunitas selular telah terbentuk, kuman TB baru yang masuk ke dalam
alveoli akan segera dimusnahkan oleh imunitas selular spesifik (cellular mediated immunity,
CMI).
Setelah imunitas selular terbentuk, fokus primer di jaringan paru biasanya akan
mengalami resolusi secara sempurna membentuk fibrosis atau kalsifikasi setelah terjadi
nekrosis perkijuan dan enkapsulasi. Kelenjar limfe regional juga akan mengalami fibrosis dan
enkapsulasi, tetapi penyembuhannya biasanya tidak sesempurna fokus primer di jaringan
paru. Kuman TB dapat tetap hidup dan menetap selama bertahun-tahun dalam kelenjar ini,
tetapi tidak menimbulkan gejala sakit TB.
Kompleks primer dapat juga mengalami komplikasi akibat fokus di paru atau di
kelenjar limfe regional. Fokus primer di paru dapat membesar dan menyebabkan pneumonitis
atau pleuritis fokal. Jika terjadi nekrosis perkijuan yang berat, bagian tengah lesi akan
mencair dan keluar melalui bronkus sehingga meninggalkan rongga di jaringan paru
(kavitas).
Kelenjar limfe hilus atau paratrakeal yang mulanya berukuran normal pada awal
infeksi, akan membesar karena reaksi inflamasi yang berlanjut, sehingga bronkus dapat
terganggu. Obstruksi parsial pada bronkus akibat tekanan eksternal menimbulkan hiperinflasi
23
di segmen distal paru melalui mekanisme ventil (ball-valve mechanism). Obstruksi total dapat
menyebabkan atelektasis. Kelenjar yang mengalami inflamasi dan nekrosis perkijuan dapat
merusak dan menimbulkan erosi dinding bronkus, sehingga menyebabkan TB endobronkial
atau membentuk fistula. Massa kiju dapat menimbulkan obstruksi komplit pada bronkus
sehingga menyebabkan gabungan pneumonitis dan atelektasis, yang sering disebut sebagai
lesi segmental kolaps-konsolidasi.
Selama masa inkubasi, sebelum terbentuknya imunitas selular, dapat terjadi
penyebaran limfogen dan hematogen. Pada penyebaran limfogen, kuman menyebar ke
kelenjar limfe regional membentuk kompleks primer, atau berlanjut menyebar secara
limfohematogen. Dapat juga terjadi penyebaran hematogen langsung, yaitu kuman masuk ke
dalam sirkulasi darah dan menyebar ke seluruh tubuh. Adanya penyebaran hematogen inilah
yang menyebabkan TB disebut sebagai penyakit sistemik.
Penyebaran hematogen yang paling sering terjadi adalah dalam bentuk penyebaran
hematogenik tersamar (occult hematogenic spread). Melalui cara ini, kuman TB menyebar
secara sporadik dan sedikit demi sedikit sehingga tidak menimbulkan gejala klinis. Kuman
TB kemudian akan mencapai berbagai organ di seluruh tubuh, bersarang di organ yang
mempunyai vaskularisasi baik, paling sering di apeks paru, limpa, dan kelenjar limfe
superfisialis. Selain itu, dapat juga bersarang di organ lain seperti otak, hati, tulang, ginjal,
dan lain-lain. Pada umumnya, kuman di sarang tersebut tetap hidup, tetapi tidak aktif
(tenang), demikian pula dengan proses patologiknya. Sarang di apeks paru disebut dengan
fokus Simon, yang di kemudian hari dapat mengalami reaktivasi dan terjadi TB apeks paru
saat dewasa.
Bentuk penyebaran hematogen yang lain adalah penyebaran hematogenik generalisata
akut (acute generalized hematogenic spread). Pada bentuk ini, sejumlah besar kuman TB
masuk dan beredar di dalam darah menuju ke seluruh tubuh. Hal ini dapat menyebabkan
timbulnya manifestasi klinis penyakit TB secara akut, yang disebut TB diseminata.
Tuberkulosis diseminata ini timbul dalam waktu 2−6 bulan setelah terjadi infeksi. Timbulnya
penyakit bergantung pada jumlah dan virulensi kuman TB yang beredar serta frekuensi
berulangnya penyebaran. Tuberkulosis diseminata terjadi karena tidak adekuatnya sistem
imun pejamu (host) dalam mengatasi infeksi TB, misalnya pada anak bawah lima tahun
(balita) terutama di bawah dua tahun.
Bentuk penyebaran yang jarang terjadi adalah protracted hematogenic spread. Bentuk
penyebaran ini terjadi bila suatu fokus perkijuan di dinding vaskuler pecah dan menyebar ke
seluruh tubuh, sehingga sejumlah besar kuman TB akan masuk dan beredar di dalam darah.
24
Secara klinis, sakit TB akibat penyebaran tipe ini tidak dapat dibedakan dengan acute
generalized hematogenic spread.

II.7 Gejala Klinis7,10


Gejala Sistemik / Umum Gejala Spesifik
1. Berat badan turun tanpa sebab yang jelas 1. Tuberkulosis kelenjar (terbanyak di
atau berat badan tidak naik dengan daerah leher atau regio colli):
adekuat atau tidak naik dalam 1 bulan Pembesaran KGB multipel (>1 KGB),
setelah diberikan upaya perbaikan gizi diameter ≥1 cm, konsistensi kenyal,
yang baik. tidak nyeri, dan kadang saling melekat
2. Demam lama (≥2 minggu) dan/atau atau konfluens.
berulang tanpa sebab yang jelas (bukan 2. Tuberkulosis otak dan selaput otak:
demam tifoid, infeksi saluran kemih,  Meningitis TB: Gejala-gejala
malaria, dan lain-lain). Demam umumnya meningitis dengan seringkali disertai
tidak tinggi. Keringat malam saja bukan gejala akibat keterlibatan saraf-saraf
merupakan gejala spesifik TB pada anak otak yang terkena.
apabila tidak disertai dengan gejala-gejala  Tuberkuloma otak: Gejala-gejala
sistemik/umum lain. adanya lesi desak ruang.

25
3. Batuk lama ≥3 minggu, batuk bersifat 3. Tuberkulosis sistem skeletal:
non-remitting (tidak pernah reda atau  Tulang belakang (spondilitis):
intensitas semakin lama semakin parah) Penonjolan tulang belakang
dan sebab lain batuk telah dapat (gibbus).
disingkirkan.  Tulang panggul (koksitis): Pincang,
4. Nafsu makan tidak ada (anoreksia) atau gangguan berjalan, atau tanda
berkurang, disertai gagal tumbuh (failure peradangan di daerah panggul.
to thrive).  Tulang lutut (gonitis): Pincang
5. Lesu atau malaise, anak kurang aktif dan/atau bengkak pada lutut tanpa
bermain. sebab yang jelas.
6. Diare persisten/menetap (>2 minggu)  Tulang kaki dan tangan (spina
yang tidak sembuh dengan pengobatan ventosa/daktilitis).
baku diare. 4. Skrofuloderma:
Ditandai adanya ulkus disertai dengan
jembatan kulit antar tepi ulkus (skin
bridge).
5. Tuberkulosis mata:
 Konjungtivitis fliktenularis
(conjunctivitis phlyctenularis).
 Tuberkel koroid (hanya terlihat
dengan funduskopi).
6. Tuberkulosis organ-organ lainnya,
misalnya peritonitis TB, TB ginjal
dicurigai bila ditemukan gejala
gangguan pada organ-organ tersebut
tanpa sebab yang jelas dan disertai
kecurigaan adanya infeksi TB.

II.8 Pemeriksaan Penunjang11


a. Uji Tuberkulin
Perkembangan hipersensitivitas tipe lambat pada kebanyakan individu yang terinfeksi
dengan basil tuberculosis membuat uji tuberculin sangat dibutuhkan.Pemeriksaan ini
merupakan alat diagnosis yang penting dalam menegakkan diagnosis tuberkulosis. Ada
beberapa cara melakukan uji tuberkulin yaitu dengan cara mono dengan salep, dengan
goresan disebut patch test cara von pirquet, cara mantoux dengan menyuntikan intrakutan dan
multiple puncture metode dengan 4 – 6 jarum berdasarkan cara Heat and Tine.
Uji kulit Mantoux adalah injeksi intradermal 0.1 mL yang mengandung 5 unit
tuberculin (UT) derivate protein yang dimurnikan (PPD) yang distabilkan dengan Tween 80.
Sampai sekarang cara Mantoux masih dianggap sebagai cara yang paling dapat
dipertanggung jawabkan karena jumlah tuberkulin yang dimasukkan dapat diketahui
banyaknya. Reaksi lokal yang terdapat pada uji Mantoux terdiri atas:
a. Eritema karena vasodilatasi perifer
26
b. Edema karena reaksi antara antigen yang dimasukkan dengan antibody
c. Indurasi yang dibentuk oleh sel mononukleus.

Pembacaan uji tuberculin dilakukan 48 – 72 jam. Setelah penyuntikan diukur diameter


melintang dari indurasi yang terjadi. Kadang – kadang penderita akan mulai berindurasi lebih
dari 72 jam sesudah perlakuan uji, ini adalah hasil positif. Faktor – faktor yang terkait hospes,
termasuk umur yang amat muda, malnutrisi, immunosupresi karena penyakit atau obat – obat,
infeksi virus, vaksin virus hidup, dan tuberculosis yang berat, dapat menekan reaksi uji kulit
pada anak yang terinfeksi dengan M.tuberculosis.
Interpretasi hasil test Mantoux:
a. Indurasi 10 mm atau lebih → reaksi positif
Arti klinis adalah sedang atau pernah terinfeksi dengan kumanMycobacterium
tuberculosis.
b. Indurasi 5 – 9 mm → reaksi meragukan
Arti klinis adalah kesalahan teknik atau memang ada infeksi dengan Mycobacterium
atypis atau setelah BCG. Perlu diulang dengan konsentrasi yang sama. Kalau reaksi
kedua menjadi 10 mm atau lebih berarti infeksi dengan Mycobacterium tuberculosis.
Kalau tetap 6 – 9 mm berarti crossreaction atau BCG, kalau tetap 6 – 9 mm tetapi ada
tanda – tanda lain daritubeculosis yang jelas maka harus dianggap sebagai mungkin
sering kaliinfeksi dengan Mycobacterium tuberculosis.
c. Indurasi 0 – 4 mm → reaksi negative
Arti klinis adalah tidak ada infeksi dengan Mycobacterium tuberculosis.Reaksi positif
palsu terhadap tuberculin dapat disebabkan oleh sensitisi silang terhadapantigen
mikobakteria non tuberculosis. Reaksi silang ini biasanya sementaraselamabeberapa
bulan sampai beberapa tahundan menghasilkan indurasi kurang dari 10 – 12 mm.
Vaksinasi sebelumnya ( BCG ) juga dapat menimbulkan reaksi terhadap uji
kulittuberculin. Sekitar setengah dari bayi yang mendapat vaksin BCG tidak
pernahmenimbulkan uji kulit tuberculin reaktif, dan reaktivitas akan berkurang 2 – 3
tahunkemudian pada penderitayang pada mulanya memiliki uji kulit positif.

b. Pemeriksaan Radiologis
Pada saat ini pemeriksaan radiologis dada merupakan cara yang praktis untuk
menemukan lesi tuberkulosis. Pemeriksaan ini memang membutuhkan biaya lebih dibanding
pemeriksaan sputum, tapi dalam beberapa hal pemeriksaan radiologis memberikan beberapa
27
keuntungan seperti tuberkulosis pada anak – anak dan tuberculosis millier. Pada kedua hal
tersebut diagnosa dapat diperoleh melalui pemeriksaan radiologi dada, sedangkan
pemeriksaan sputum hampir selalu negatif.
Pada anak dengan uji tuberkulin positif dilakukan pemeriksaan radiologis. Gambaran
radiologis paru yang biasanya dijumpai pada tuberkulosis paru:
a. Kompleks primer dengan atau tanpa pengapuran.
b. Pembesaran kelenjar paratrakeal.
c. Penyebaran milier.
d. Penyebaran bronkogen
e. Atelektasis
f. Pleuritis dengan efusi.

c. Pemeriksaan Laboratorium
1. Darah
Pada saat tuberkulosis baru dimulai (aktif) akandidapatkan sedikit leukosit yang
sedikit meningkat. Jumlah limfosit masihnormal. Laju Endap Darah mulai meningkat.
Bila penyakit mulai sembuh,jumlah leukosit kembali normal dan laju endap darah
mulai turun kearahnormal lagi.
a. Sputum
Pemeriksaan sputum adalah penting karena dengan ditemukannyakuman BTA,
diagnosis tuberkulosis sudah dapat dipastikan. Disamping itupemeriksaan sputum
juga dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatanyang sudah diberikan, tetapi
kadang-kadang tidak mudah untuk menemukansputum terutama penderita yang tidak
batuk atau pada anak-anak. Padapemeriksaan sputum kurang begitu berhasil karena
pada umumnya sputumlangsung ditelan.
Kriteria sputum BTA positif adalah bila sekurang – kurang nya ditemukan tiga
batangkuman BTA pada suatu sediaan. Dengan kata lain diperlukan 5.000 kuman
dalam 1 mlsputum.

II.9 Diagnosis10
Dalam menegakkan diagnosis TB anak dapat menggunakan suatu pendekatan lain
yang dikenal sebagai sistem skoring. Anak didiagnosis TB jika jumlah skor ≥ 6 (skor
maksimal 13).

28
Catatan:
Parameter Sistem Skoring:
1. Kontak dengan pasien pasien TB BTA positif diberi skor 3 bila ada bukti tertulis hasil
laboratorium BTA dari sumber penularan yang bisa diperoleh dari TB 01 atau dari
hasil laboratorium.
2. Penentuan status gizi:
a. Berat badan dan panjang/ tinggi badan dinilai saat pasien datang (moment
opname).
b. Dilakukan dengan parameter BB/TB atau BB/U. Penentuan status gizi untuk anak
usia <5 tahun merujuk pada buku KIA Kemenkes, sedangkan untuk anak usia >5
tahun merujuk pada kurva CDC 2000 (lihat lampiran).
c. Bila BB kurang, diberikan upaya perbaikan gizi dan dievaluasi selama 1 bulan.
d. Demam (≥2 minggu) dan batuk (≥3 minggu) yang tidak membaik setelah
diberikan pengobatan sesuai baku terapi di puskesmas
e. Gambaran foto toraks menunjukkan gambaran mendukung TB berupa:
pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal dengan/tanpa infiltrat, atelektasis,
konsolidasi segmental/lobar, milier, kalsifikasi dengan infiltrat, tuberkuloma.

29
II.10 Tatalaksana8,9,12,13
Tatalaksana medikamentosa TB Anak terdiri dari terapi (pengobatan) dan profilaksis
(pencegahan). Terapi TB diberikan pada anak yang sakit TB, sedangkan profilaksis TB
diberikan pada anak yang kontak TB (profilaksis primer) atau anak yang terinfeksi TB tanpa
sakit TB (profilaksis sekunder).
Prinsip pengobatan TB anak:
a. OAT diberikan dalam bentuk kombinasi minimal 3 macam obat untuk mencegah
terjadinya resistensi obat dan untuk membunuh kuman intraseluler dan ekstraseluler
b. Waktu pengobatan TB pada anak 6-12 bulan. pemberian obat jangka panjang selain
untuk membunuh kuman juga untuk mengurangi kemungkinan terjadinya
kekambuhan
c. Pengobatan TB pada anak dibagi dalam 2 tahap:
o Tahap intensif, selama 2 bulan pertama. Pada tahap intensif, diberikan minimal 3
macam obat, tergantung hasil pemeriksaan bakteriologis dan berat ringannya
penyakit.
o Tahap Lanjutan, selama 4-10 bulan selanjutnya, tergantung hasil pemeriksaan
bakteriologis dan berat ringannya penyakit.
Selama tahap intensif dan lanjutan, OAT pada anak diberikan setiap hari untuk
mengurangi ketidakteraturan minum obat yang lebih sering terjadi jika obat tidak
diminum setiap hari.
Pada kasus TB tertentu yaitu TB milier, efusi pleura TB, perikarditis TB, TB
endobronkial, meningitis TB, dan peritonitis TB, diberikankortikosteroid (prednison) dengan
dosis 1-2 mg/kg BB/hari, dibagi dalam 3 dosis. Dosis maksimal prednisone adalah
60mg/hari. Lama pemberian kortikosteroid adalah 2-4 minggu dengan dosis penuh
dilanjutkan tappering off dalam jangka waktu yang sama. Tujuan pemberian steroid ini untuk
mengurangi proses inflamasi dan mencegah terjadi perlekatan jaringan.
Paduan OAT untuk anak yang digunakan oleh Program Nasional Pengendalian
Tuberkulosis di Indonesia adalah:
o Kategori Anak dengan 3 macam obat: 2HRZ/4HR
o Kategori Anak dengan 4 macam obat: 2HRZE(S)/4-10HR

30
II.10.1 Skema Panduan OAT Anak

31
II.10.2 Kombinasi dosis tetap OAT KDT (FDC=Fixed Dose Combination)
Untuk mempermudah pemberian OAT sehingga meningkatkan keteraturan minum obat,
paduan OAT disediakan dalam bentuk paket KDT/ FDC. Satu paket dibuat untuk satu pasien
untuk satu masa pengobatan. Paket KDT untuk anak berisi obat fase intensif, yaitu rifampisin
(R) 75mg, INH (H) 50 mg, dan pirazinamid (Z) 150 mg, serta obat fase lanjutan, yaitu R 75
mg dan H 50 mg dalam satu paket. Dosis yang dianjurkan dapat dilihat pada tabel berikut.

BB > 30 kg diberikan 6 tablet atau menggunakan KDT dewasa. Bayi di bawah 5 kg


pemberian OAT secara terpisah, tidak dalam bentuk kombinasi dosis tetap. Apabila ada
kenaikan BB maka dosis/jumlah tablet yang diberikan, menyesuaikan berat badan saat itu.
Untuk anak obesitas, dosis KDT menggunakan Berat Badan ideal (sesuai umur)

II.10.3 Pemantauan pengobatan pasien TB Anak


Pada fase intensif pasien TB anak kontrol tiap minggu, pada fase lanjutan pasien
kontrol tiap bulan. Setelah diberi OAT selama 2 bulan, respon pengobatan pasien harus

32
dievaluasi. Respon pengobatan dikatakan baik apabila gejala klinis berkurang, nafsu makan
meningkat, berat badan meningkat, demam menghilang, dan batuk berkurang. Apabila respon
pengobatan baik maka pemberian OAT dilanjutkan sampai dengan 6 bulan. Sedangkan
apabila respon pengobatan kurang atau tidak baik maka pengobatan TB tetap dilanjutkan.
Setelah pemberian obat selama 6 bulan, OAT dapat dihentikan dengan melakukan
evaluasi baik klinis maupun pemeriksaan penunjang lain seperti foto toraks. Pemeriksaan
tuberkulin tidak dapat digunakan sebagai pemeriksaan untuk pemantauan pengobatan, karena
uji tuberkulin yang positif masih akan memberikan hasil yang positif. Meskipun gambaran
radiologis tidak menunjukkan perubahan yang berarti, tetapi apabila dijumpai perbaikan
klinis yang nyata, maka pengobatan dapat dihentikan dan pasien dinyatakan selesai. Pada
pasien TB anak yang pada awal pengobatan hasil pemeriksaan dahaknya BTA positif,
pemantauan pengobatan dilakukan dengan melakukan pemeriksaan dahak ulang.

II.10.4 Efek Samping pengobatan TB Anak


Pasien dengan keluhan neuritis perifer (misalnya: kesemutan) dan asupan piridoksin
(vitamin B6) dari bahan makanan tidak tercukupi, maka dapat diberikan vitamin B6 10
mg tiap 100 mg INH.
Untuk pencegahan neuritis perifer, apabila tersedia piridoksin 10 mg/ hari
direkomendasikan diberikan pada bayi yang mendapat ASI eksklusif, pasien gizi buruk
dan anak dengan HIV positif.

II.10.5 Pengobatan TB HIV pada Anak


Saat ini, paduan obat TB pada anak yang terinfeksi HIV yang telah disepakati WHO
(2011) adalah INH, Rifampisin, PZA dan Etambutol selama fase intensif 2 bulan pertama
dilanjutkan dengan minimal 4 bulan pemberian INH dan Rifampisin selama fase lanjutan.
Pada TB milier dan meningitis TB diberikan INH, Rifampisin, PZA, Etambutol dan
Streptomisin selama fase intensif selanjutnya INH dan Rifampisin selama 10 bulan fase
lanjutan.
Tambahan terapi yang direkomendasikan untuk pasien anak HIV dan TB termasuk
cotrimoxazole preventive therapy (CPT), antiretroviral therapy (ART) dan suplementasi
piridoksin dengan dosis 10 mg/hari serta pemberian nutrisi.

33
Pasien TB anak yang terinfeksi HIV mempunyai kecenderungan relaps yang lebih besar
dibanding anak yang tidak terinfeksi. Untuk mengatasi hal ini maka pengobatan TB anak
terinfeksi HIV diberikan lebih lama yaitu 9 bulan sedangkan pada TB milier, meningitis TB
dan TB tulang selama 12 bulan. Mortalitas TB pada anak terinfeksi HIV lebih besar
dibanding anak yang tidak terinfeksi karena tingginya ko-infeksi oleh patogen lain, absorpsi
dan penetrasi OAT terhadap organ yang terkena pada anak terinfeksi HIV jelek,
misdiagnosis, kepatuhan kurang, malnutrisi berat dan imunosupresi berat.
Tatalaksana TB pada anak dengan HIV yang sedang atau akan mendapatkan pengobatan
antiretroviral harus dilakukan lebih hati-hati dan memperhatikan interaksi antara obat.
Interaksi antara obat TB dan antiretroviral dapat menyebabkan pengobatan HIV ataupun TB
menjadi tidak efektif, serta bertambahnya risiko toksisitas.

II.11 MDR TB
Kejadian TB resisten obat pada anak secara global masih belum pasti karena kesulitan
mendapatkan konfirmasi bakteriologis pada anak. Kejadian TB kebal obat di Indonesia belum
pasti, tetapi kewaspadaan terhadap kasus ini perlu ditingkatkan mengingat penatalaksanaan
kasus TB pada anak masih belum optimal dan angka kejadian TB kebal obat pada dewasa
yang terus meningkat.
II.11.1 Definisi
Resistensi obat pada pasien TB ada 3 yaitu monoresisten, MDR, dan XDR. Dikatakan
monoresisten bila hasil uji kepekaan mendapatkan resisten terhadap isoniazid atau
rifampisin.Seorang pasien TB anak dikatakan mengalami MDR bila hasil uji kepekaan
mendapatkan hasil basil M. tuberkulosis yang resisten terhadap isoniazid dan rifampisin,
sedangkan extensively drug-resistant (XDR)-TB bila hasil uji kepekaan mendapatkan hasil
MDR ditambah resisten terhadap fluoroquinolon dan salah satu obat injeksi lini kedua
(second-line injectable agents

34
II.11.2 Diagnosis TB MDR pada anak
Faktor-faktor risiko termasuk riwayat pengobatan sebelumnya, tidak ada perbaikan
dengan pengobatan TB lini pertama, adanya kontak MDR TB yang telah diketahui, kontak
dengan pasien yang meninggal saat pengobatan TB atau pengobatan TB yang gagal. Anak
tersangka TB MDR akan dilakukan pemeriksaan sesuai dengan alur pemeriksaan dewasa
tersangka TB MDR. Algoritme berikut menunjukkan strategi diagnostik untuk menentukan
faktor risiko TB MDR pada anak yang terdiagnosis maupun tersangka TB.

Prinsip dasar paduan terapi pengobatan untuk anak sama dengan paduan terapi
dewasa pasien TB MDR. Obat-obatan yang dipakai untuk anak MDR TB juga sama dengan
dosis disesuaikan dengan berat badan pada anak.
Anak-anak dengan MDR TB harus ditata laksana sesuai dengan prinsip pengobatan
pada dewasa. Yang meliputi:
a. Gunakan sedikitnya 4 obat lini kedua yang kemungkinan strain itu masih sensitif; satu
darinya harus injectable, satu fluorokuinolon (lebih baik kalau generasi kuinolon yang
lebih akhir bila ada), dan PZA harus dilanjutkan
b. Gunakan high-end dosing bila memungkinkan
c. Semua dosis harus diberikan dengan menggunakan DOT.
d. Durasi pengobatan harus 18-24 bulan
e. Semua obat diminum setiap hari dan dengan pengawasan langsung.
f. Pemantauan pengobatan TB MDR pada anak sesuai dengan alur pada dewasa dengan
TB MDR.

35
II.12 Pencegahan
II.12.1 Vaksinasi BCG pada Anak
Vaksin BCG adalah vaksin hidup yang dilemahkan yang berasal dari Mycobacterium
bovis. Pemberian vaksinasi BCG berdasarkan Program Pengembangan Imunisasi diberikan
pada bayi 0-2 bulan. Pemberian vaksin BCG pada bayi > 2 bulan harus didahului dengan uji
tuberkulin. Petunjuk pemberian vaksinasi BCG mengacu pada Pedoman Program Pemberian
Imunisasi Kemenkes. Secara umum perlindungan vaksin BCG efektif untuk mencegah
terjadinya TB berat seperti TB milier dan TB meningitis yang sering didapatkan pada usia
muda. Saat ini vaksinasi BCG ulang tidak direkomendasikan karena tidak terbukti memberi
perlindungan tambahan.
Sejumlah kecil anak-anak (1-2%) mengalami komplikasi setelah vaksinasi BCG.
Komplikasi paling sering termasuk abses lokal, infeksi bakteri sekunder, adenitis supuratif
dan pembentukan keloid lokal. Kebanyakan reaksi akan sembuh selama beberapa bulan.

II.12.2 Tatalaksana Pencegahan dengan Isoniazid


Sekitar 50-60% anak yang tinggal dengan pasien TB paru dewasa dengan BTA
sputum positif, akan terinfeksi TB juga. Kira-kira 10% dari jumlah tersebut akan
mengalami sakit TB. Infeksi TB pada anak kecil berisiko tinggi menjadi TB berat
(misalnya TB meningitis atau TB milier) sehingga diperlukan pemberian kemoprofilaksis
untuk mencegah terjadinya sakit TB.
Cara pemberian Isoniazid untuk Pencegahan sesuai dengan tabel berikut:

Obat yang diberikan adalah INH (Isoniazid) dengan dosis 10 mg/ kgBB (7-15 mg/kg)
setiap hari selama 6 bulan. Setiap bulan (saat pengambilan obat Isoniazid) dilakukan
pemantauan terhadap adanya gejala TB. Jika terdapat gejala TB pada bulan ke 2, ke 3, ke 4,
ke 5 atau ke 6, maka harus segera dievaluasi terhadap sakit TB dan jika terbukti sakit TB,
pengobatan harus segera ditukar ke regimen terapi TB anak dimulai dari awal.

36
Jika rejimen Isoniazid profilaksis selesai diberikan (tidak ada gejala TB selama 6
bulan pemberian), maka rejimen isoniazid profilaksis dapat dihentikan. Bila anak tersebut
belum pernah mendapat imunisasi BCG, perlu diberikan BCG setelah pengobatan profilaksis
dengan INH selesai.

II.13 Hasil Pengobatan

37
BAB III
PEMBAHASAN

An. MRJ, 17 tahun dengan diagnosis TB paru BTA positif dan sepsis. Diagnosis ini
berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. .
Dari hasil anamnesis, didapatkan informasi bahwa pasien adalah seorang anak laki-
laki berusia 17 tahun.
Satu hari sebelum masuk rumah sakit (20 Februari 2018), pasien datang ke IGD
RSUP Persahabatan dengan keluhan batuk darah. Batuk muncul tiba-tiba, berwarna merah
segar, kental dan ± sebanyak 1 gelas aqua. Batuk darah atau disebut hemoptisis. Batuk darah
atau hemoptisis adalah ekspektorasi darah akibat perdarahan pada saluran napas di bawah
laring, atau perdarahan yang keluar melalui saluran napas bawah laring. Batuk darah lebih
sering merupakan tanda atau gejala dari penyakit dasar sehingga etiologi harus dicari melalui
pemeriksaan yang lebih teliti. Dimana penyebab tersering hemoptisis adalah TB paru (64,43
%, bronkiektasis 16,71 % , karsinoma paru 3,4 %14

Keluhan batuk juga disertai demam. Pasien mengelukan demam namun tidak sempat
diukur berapa suhunya. Demam timbul mendadak, naik turun dan dipengaruhi waktu, dimana
dirasakan lebih meningkat pada sore dan malam hari. Demam pada malam hari merupakan
suatu tanda khas pada penyakit TB, dimana pada saat malam hari suhunya lebih meningkat.
demam juga disertai keringat pada malam hari. Keluhan lain yang dirasakan adalah sesak
nafas dimana sesak muncul tiba-tiba bersamaan dengan batuk. Sesak dirasakan dipengaruhi
posisi dimana pasien merasa lebih nyaman duduk dibandingkan berbaring. Namun sesak
tidak dipengaruhi oleh aktivitas. Sesak dipengaruhi oleh aktivitas merupakan sesak khas pada
penyakit jantung, sehingga penyebab lain selain paru dapat disingkirkan.

Keluhan juga disertai mual namun tidak muntah. Pasien juga merasa lemas dan cepat
lelah dibandingkan biasanya. Keluhan pada buang air besar disangkal, tidak ada mencret
maupun sembelit. Tidak ada keluhan terkait buang air kecil, kencing berwarna kuning jernih.
Tidak ada nyeri saat berkemih. Penurunan berat badan dalam 6 bulan terakhir disangkal.
Riwayat penurunan berat badan disangkal, menyingkirkan dugaan keganasan yaitu kanker
paru, dimana biasanya terjadi penurunan berat badan.

Pasien mengatakan 2 bulan yang lalu pernah mengalami keluhan batuk darah juga,
namun tidak sebanyak saat ini. Oleh keluhannya tersebut, pasien berobat di Puskesmas dan

38
hanya berobat 2 minggu kemudian membaik. Pasien seharusnya rajin control ke Puskesmas
namun tidak menjalankannya. Berdasarkan pengakuan ibunya, pasien pernah dicek dahaknya
untuk pemeriksaan TB namun dinyatakan negative. Dalam selang 2 bulan yang lalu dan
riwayat penyakit sekarang, dirasakan demam yang hilang timbul dan batuk namun hanya
terkadang. Hal ini mengindikasikan bahwa proses peradangan pada paru tetap berlangsung,
meskipun sudah diberikan pengobatan adekuat, sehingga kecurigaan pasien suspek TB perlu
ditelusuri meskipun test dahak sebelumnya negative. Riwayat penyakit keluarga tidak ada
batuk lama/TBC disangkal.

Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik, ditemukan status gizi kurang (78,46%), teraba
pembesaran KGB pada region cervical lateralis dextra dan sinistra ukuran ± 1 x 1 x 1 cm
mobile, batas tegas, tidak ditemukan discharge/rongga. Selain itu terdengar ronkie basah
halus pada kedua lapang paru, yang menandakan terjadinya proses peradangan pada paru. Hal
itu didukung dengan pemeriksaan Ro thorax dimana terjadi pembentukan infiltrate pada paru
kiri, dengan kesan TB paru Berdasarkan hasil scoring, didapatkan skor 5 dengan interpretasi
perlu observasi lebih lanjut.

Berdasarkan Alur diagnosis TB menurut Juknis 2016, apabila terdapat gejala seperti
batuk lama, demam lama, adanya penurunan BB atau BB stagnan dalam gizi adekuat, perlu
dicurigai sebagai TBC dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan sputum BTA. Dimana, pada
pasien tersebut dilakukan uji sputum BTA pada awal masuk (21 februari sampai tanggal 24
februari 2018) dengan hasilnya positif, 9 batang kuman dalam 1 sediaan.

Pasien diperiksa HIV pada tanggal 22 februari 2018, untuk menyingkirkan kecurigaan
akan HIV pada pasien dikarenakan sumber infeksi yang tidak diketahui secara jelas.

Setelah terdiagnosis TB paru, pasien diberikan asam tranexamat, FDC anak 1x5
tablet, etambutol 1x 1½ tab, paracetamol 500mg k/p. Penggunaan asam tranexamat bertujuan
untuk mengurangi terjadinya batuk darah lebih lanjut. Untuk infeksi Tbnya, Pasien diberikan
FDC anak 1x5 tablet dan etambutol 1x 1 ½ tablet. Penggunaan FDC atau Fixed dosed
combination bertujuan untuk mempermudah dan meingkatkan kepatuhan minum obat. FDC
sendiri berisi rifampisin (R) 75mg, INH (H) 50 mg, dan pirazinamid (Z) 150 mg (R 75x5=
375mg, H 50x5=250mg ], (, Z = 150x5=750mg. Secara teori, pasien seharusnya diberikan 3
tablet FDC dewasa (FDC dewasa berisi 75mg Isoniazid (H),400 Pirazinamid (Z), 150
Rifampisin ® dan 275 etambutol (E) dikarenakan berat badan pasien lebih dari 30 kg.
Paracetamol extra 500mg untuk mengurangi demam.

39
Berdasarkan hasil follow up dari tanggal 22 februari sampai tanggal 1 maret 2018,
pasien mengalami sedikit fase perlonjakan suhu (38-39,4). Hal ini dapat dicurigai sebagai
sepsis, dimana Hasil pemeriksaan darah sebelumnya, pada tanggal 20 Februari 2018,
didapatkan leukositosis yaitu 13.000 (berdasarkan cut off leukosit pada sepsis > 11.000 mm3)
ditemukan peningkatan prokalsitonin tanggal 1 maret 2018 yaitu sebesar 0,18. Berdasarkan
IDAI ; Konsensus Diagnosis dan tatalaksana Sepsis pada Anak, prokalsitonin merupakan
pengukur atau penanda biologis infeksi, dapat juga sebagai alat diagnosis dini dimana apabila
lebih dari cut off nya, mengindikasikan bahwa anak tersebut menderita sepsis sehingga perlu
diberi antibiotic yang efektif dan cepat. Sepsis pada pasien ini dicurigai disebabkan oleh
pneumonia, dikarenakan berdasarkan hasil biakan sputum pada tanggal 20 februari 2018
positif terdapat Klebsiella pneumonia dan setelah diberikan ceftriaxone 2x1 gr, pasien
mengalami perbaikan dimana terlihat pada keadaam umum dan demam teratasi.

40
DAFTAR PUSTAKA

1. WHO (2016), Global Tuberculosis Report


2. CDC (2011), TB Elimination, Tuberculosis: General Information
3. Indonesia, Kementerian Kesehatan RI (2013), Petunjuk Teknis Manajemen TB Anak
4. Indonesia, Kementerian Kesehatan RI (2016), Petunjuk Teknis Manajemen TB Anak
5. DOTS (2017), Revised National Tuberculosis Control Programme, National Strategic
Plan For Tuberculosis Control 2012-2017, Central TB Division, Directorate General
of Health Services, Ministry of Health & Family Welfare, Nirman Bhavan, New
Delhi
6. Indonesia, Kementerian Kesehatan RI (2016), Tuberculosis, Infodatin, Pusat Data dan
Informasi Kementerian Kesehatan RI.
7. CDC (2012), Screening for tuberculosis and tuberculosis infection in high-risk
populations: Recommendations of the Advisory Council for the Elimination of
Tuberculosis. MMWR 1995; 44 (No. RR-11): 18– 34
8. WHO (2010), Treatment of tuberculosis Guidelines
9. WHO (2016), New Fixed-dose combinations for the treatment of TB in children
10. Werdhani, R.A., (2010), Patofisiologi, Diagnosis dan Klasifikasi Tuberkulosis,
Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, Okupasi dan Keluarga, Universitas
Indonesia, Jakarta
11. Ink (2006), Tuberculosa pada Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma
Surabaya
12. Swaminathan, S. & Sachdeva, K.S., (2015), Treatment of Chidhood Tuberculosis in
India, Department of Health Research and Central TB Division, New Delhi, India
13. Graham, S.M., (2011), Treatment of Pediatric TB: revised WHO guidelines,
University of Melbourne Department of Pediatrics and Murdoch Children’s Research
Institute, Pediatric Respiratory Reviews 12, 22-26.

41