Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

TENTANG HUKUM KEPAILITAN


UNTUK MEMENUHI TUGAS HUKUM BISNIS

DISUSUN OLEH
FEBRI SUANDI SINAMBELA 7143342015
DIAMAS R PARHUSIP 7143342014

UNIVERSITAS NEGERI
MEDAN
DAFTAR ISI
BAB I ............................................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ........................................................................................................................................ 1
1.1 LATAR BELAKANG .................................................................................................................. 1
2.1 RUMUSAN MASALAH .............................................................................................................. 1
2.3 TUJUAN ....................................................................................................................................... 1
BAB II........................................................................................................................................................... 2
PEMBAHASAN ........................................................................................................................................... 2
2.1 Sejarah Hukum Kepailitan ............................................................................................................ 2
2.2 Pengertian Hukum Kepalitan ........................................................................................................ 3
2.3 Pengurusan Harta Pailit................................................................................................................. 4
2.3.1 Pengurusan Harta Pailit ......................................................................................................... 4
2.3.2 Pemberesan Harta Pailit ........................................................................................................ 6
2.4 Kepailitan dan Pengadilan Negeri................................................................................................. 8
BAB III ....................................................................................................................................................... 10
PENUTUP .................................................................................................................................................. 10
3.1 KESIMPULAN ........................................................................................................................... 10
3.2 SARAN ....................................................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 11

i
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG

Terintegrasinya perekonomian dunia telah membawa dampak pada meningkatnya


kegiatan perdagangan antar pelaku usaha, yang mana kegiatannya tidak hanya terbatas pada jual
beli barang atau jasa, melainkan lebih luas lagi dimana tercakup kegiatan penanaman modal yang
menghasilkan barang untuk diekspor dan lain sebagainya. Kegiatan perdagangan telah
menafikan batas-batas negara, bahkan satu pelaku usaha dari suatu negara kerap malakukan
investasi di beberapa negara. Perusahaan yang melakukan investasi di banyak Negara yang
disebut sebagi perusahaan multinasional (multinational companies) memiliki anak perusahaan di
beberapa Negara yang menghasilkan komponenkomponen untuk dirakit di Negara yang berbeda.
Demikian pula bisnis waralaba yang telah merambah ke berbagai pelosok Negara untuk
mengeksploitasi pasar dunia

Transaksi antar pelaku usaha yang bersifat lintas batas Negara dalam berbagai literature
hokum dikenal sebagai “ Transaksi Bisnis Internasional (International Business Transacions)”.
Materi yang diperbincangkan dalam Transaksi Bisnis Internasional esensinya adalah masalah
hokum perdata internasional yang terkait dengan kegiatan bisnis. Pelaku usaha yang melakukan
transaksi bisnis internasional akan terekspor oleh hokum nasional dari dua Negara atau lebi.
Salah satu bidang yang terkait dengan transaksi bisnis Internasional adalah kepailitan (Insolvency

2.1 RUMUSAN MASALAH

1. Bagimana Sejarah Hukum Kepailitan?


2. Apa pengertian Hukum Kepailitan?
3. Bagaimana pengurusan harta pailit?
4. Bagaimana pengadilan niaga sebagai penyelesai sengketa houkum kepailitan?

2.3 TUJUAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar pembaca dapat mengetahui
sejarah,pengertian hokum kepailitan dan mengetahu bagaimana pengurusan harta pailit serta
bagaiaman pengadilan niaga menyelesaikan sengketa hokum kepailitan tersebut.

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Hukum Kepailitan


Hukum kepailitan sudah ada sejak zaman Romawi. Kata “ bangkrut”, dalam bahasa
Inggris disebut “Bangkrupt” , berasal dari undang-undang Italia, yaitu banca nipta . Sementara
itu, di Eropa abad pertengahan ada praktik kebangkrutan di mana dilakukan penghancuran
bangku-bangku dari para bankir atau pedagang yang melarikan diri secara diam-diam dengan
membawa harta para kreditor

Bagi Negara-negara dengan tradisi hukum common law, di mana hukum berasal dari
Inggris Raya, tahun 1952 merupakan tonggak sejarah, karena pada tahun tersebu hukum pailit
dari tradisi hukum Romawi diadopsi ke negeri Inggris.

Peristiwa ini ditandai dengan diundangkannya sebuah undang-undang yang disebut Act
Againts Such Person As Do Make Bangkrup oleh parlemen di masa kekaisaran raja Henry VIII.
Undang-undang ini menempatkan kebangkrutan sebagai hukuman bagi debitor nakal yang
ngemplang untuk membayar utang sembari menyembunyikan aset-asetnya. Undang-undang ini
memberikan hak-hak bagi kelompok kreditor secara individual (Munir Fuady, 1994: 4).

Sementara itu, sejarah hukum pailit di AS dimulai dengan perdebatan konstitusional yang
menginginkan kongres memiliki kekuasaan untuk membentuk suatu aturan uniform mengenai
kebangkrutan. Hal ini diperdebatkan sejarah diadakannya constitutional convention di
Philadelphia pada tahun 1787. Dalam the Federalis Papers, seorang founding father dari Negara
Amerika serikat, yaitu James Medison, mendiskusikan apa yang disebut Bankrupcy clause.
Kemudian, kongres pertama kali mengundangkan undang-undang tentang kebangkrutan pada
tahun 1800, yang isinya mirip dengan undang-undang kebangkrutan di Inggris pada saat itu.
Akan tetapi, selama abad ke-18, di beberapa Negara bagian USA telah ada undang-undang
negara bagian yang bertujuan untuk melindungi debitor yang disebut insolvency law.
Selanjutnya, undang-undang federasi AS tahun 1800 tersebut diubah atau diganti beberapa kali.
Kini di USA hukum kepailitan diatur dalam Bankruptcy ( Munir Fuady, 1999 : 4-5).

2
2.2 Pengertian Hukum Kepalitan
Kepailitan berasal dari kata Pailit. Pailit dapat diartikan sebagai pihak debitor dalam keadaan
berhenti membayar hutang karena tidak mampu membayar. Kepailitan berasal dari bahasa
Prancis “failite” artinya Kemacetan pembayaran. Dalam bahasa Iggris dengan kata To fail yang
memiliki arti sama. Sehubungan dengan pengucapan kata dalam bahasa Belanda adalah Faiyit
yang berarti palyit. Adapun Pengertian dari beberapa Ahli dan sumber lainnya:

1. Dalam Ensiklopedia Ekonomi Keuangan Perdagangan disebutkan bahwa Kata Pailit


diartikan sebagai Bankcrupt, kata ini memiliki makna Banca Ruta (memporak-
porandakan kursi).
2. Kemudian H. M. N Purwosutjipto menyebutkan bahwa Kepailitan adalah “segala sesuatu
yang berhubungan dengan peristiwa pailit, sedangkan pailit adalah keadaan berhenti
membayar utang-utangnya”
3. Black’s Law Dictionary memaparkan pengertian Pailit sebagai berikut:“ The state or
conditions of a person (individual, partnership, coorperation who is unable to pay it’s
debt as they are or become due. The term includes a person againts whom an involuntary
petition has been filled, or who has filled a voluntary petition, or who has been adjudged
a bankcrupt” – seseorang yang bersembunyi atau melakukan tindakan tertentu yang
cenderung mengelabui pihak kreditornya –
4. Menurut Prof. Mr. Dr Sudargo Gautama, “ Pailit adalah Suatu sitaan secara enyeluruh
atas segala harta benda daripada sipailit. Sebagai konsekuensi tertentu, si pailit dilarang
untuk melanjutkan usahanya dan mengambil tindakan-tindakan dalam huku, kecuali
dengan persetujuan dari pihak pengawas atau pelaksanaan. Dari berbagai pengertiam
diatas, dapat disimpulkan bahwa Kepailitan atau Pailit adalah Ketidakmampuan untuk
membayar dari seorang debitor atas hutang-hutangnya yang telah jatuh tempo.

Menurut Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004, maka syarat-syarat yuridis agar suatu
perusahaan dapat dinyatakan pailiy adalah sebagai berikut:

 Adanya hutang
 Minimal satu dari hutang sudah jatuh tempo;
 Minimal satu dari hutang dapat ditagih;
 Adanya debitor;
 Adanya kreditor;
 Kreditor lebih dari satu;
 Pernytaan pailit dilakukan oleh pengadilan khusus yang diebut dengan “Pengadilan
Niaga”,
 Permohonan pernyataan pailit diajukan oleh pihak yang berwenang;
 Syarat-syarat yuridis lainnya yang disebutkan dalam Undang-Undang Kepailitan;

3
 Apabila syarat-syarat terpenuhi, hakim harus “menyatakan pailit”, bukan “dapat
menyatakan pailit”, sehingga dalam hal ini kepda hakim tidak diberikan ruang untuk
memberikan “judgement” yang luas seperti pada perkara lainnya.

Orang sering menyamakan arti pailit dengan Bangkrut, Tetapi menurut saya Pailit tidak
sama dengan bangkrut. Karena bangkrut berarti ada unsur kesehatan keuangan suatu perusahaan
dalam keadaan buruk, Tetapi Pailit sudah pasti terjadi gangguan kesehatan keuangan yang
disebabkan oleh ketidakmampuan ebayar hutang yang telah jatuh tempo. Jadi, Bangkrut dan
Pailit itu berbeda makna.

2.3 Pengurusan Harta Pailit


Pada pengurusan harta pailit terhadap dua tahap yakni tahap pengurusan dan pemberesan:

2.3.1 Pengurusan Harta Pailit


Tahap pengurusan harta pailit adalah jangka waktu sejak Debitor dinyatakan pailit.
Kurator yang ditetapkan dalam putusan pailit segera bertugas untuk melakukan pengurusan dan
penguasaan boedel pailit, dibawah pengawasan hakim pengawas, meskipun terhadap putusan
tersebut diajukan upaya hukum baik berupa kasasi ataupun peninjauan kembali. Kurator dalam
kepailitan adalah pihak yang telah ditetapkan oleh undang-undang untuk melakukan penguasaan
dan pengurusan harta pailit.

Dalam tahapan kepailitan, ada satu lembaga yang sangat penting keberadaannya, yakni
kurator. Kurator merupakan lembaga yang diadakan oleh undang-undang untuk melakukan
pemberesan terhadap harta pailit. Vollmar dalam buku Hadi Subhan mengatakan bahwa “ De
kurator is belast, aldus de wet, met het beheer en de vereffening van de failliete boedel “ (kurator
adalah bertugas, menurut undang-undang, mengurus dan membereskan harta pailit).

UUK PKPU telah menunjuk kurator sebagai satu-satunya pihak yang akan menangani
seluruh kegiatan pemberesan termasuk pengurusan harta pailit. Secara umum hal tersebut
dinyatakan dalam ketentuan Pasal 24 ayat (1) UUK PKPU yang merumuskan “seluruh gugatan
hukum yang bersumber pada hak dan kewajiban harta kekayaan Debitor pailit, harus diajukan
terhadap atau oleh Kurator”.

Kurator diangkat oleh pengadilan bersamaan dengan putusan permohonan pernyataan


pailit. Jika Debitor atau Kreditor yang memohonkan kepailitan tidak mengajukan usul
pengangkatan kurator lain kepada pengadilan, maka Balai Harta Peninggalan (BHP) bertindak
selaku Kurator.

Menurut UUK PKPU, Kurator atas harta pailit milik Debitor pailit tidak dimonopoli oleh
BHP sebagai satu-satunya Kurator, melainkan juga dibuka kemungkinan bagi pihak lain untuk
turut menjadi Kurator bagi harta pailit, dengan ketentuan bahwa pihak tersebut haruslah :

4
 Perorangan atau persekutuan perdata yang berdomisili di Indonesia, yang memiliki
keahlian khusus yang dibutuhkan dalam rangka mengurus dan atau membereskan harta
pailit; dan
 Telah terdaftar pada Departemen Kehakiman.

Penjelasan UUK PKPU ada menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan keahlian khusus
adalah mereka yang mengikuti dan lulus pendidikan kurator dan pengurus, jadi tidak semua
orang bisa menjadi kurator, sehinga jika seseorang untuk menjadi kurator, maka orang tersebut
harus memenuhi syarat ketentuan sebagaimana yang diatur oleh Peraturan Menteri Hukum dan
Hak Azasi Manusi (HAM) RI.No.M.01.HT.05.10 tahun 2005 tentang Pendaftaran Kurator, yaitu

 Warga Negara Indonesia dan berdomisili di Indonesia.


 Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
 Setia kepada Pancasila dan Undang-undang Dssar Negara Republik Indonesia.
 Sarjana Hukum atau Sarjana Ekonomi jurusan Akuntansi.
 Telah mengikuti pelatihan calon Kurator dan pengurus yang diselenggarakan oleh
organisasi profesi kurator dan pengurus bekerja sama dengan Departemen Hukum dan
HAM RI.
 Tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan hukuman
pidana lima (5) tahun atau lebih berdasarkan putusan Pengadilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap.
 Tidak pernah dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga.
 Membayar biaya pendaftaran, dan
 Memiliki keahlian khusus.

Pada setiap akhir bulan, Departemen Kehakiman menyampaikan daftar nama Kurator dan
pengurus kepada Pengadilan Niaga. Kurator yang diangkat oleh pengadilan harus independen
dan tidak mempunyai benturan kepentingan baik dengan Debitor maupun dengan pihak Kreditor.
Surat Tanda Terdaftar sebagai Kurator dan pengurus berlaku sepanjang Kurator dan pengurus
masih terdaftar sebagai anggota aktif sebagaimana ditentukan dalam Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga Asosiasi Kurator dan Pengurus Indonesia.

Kode etik profesi Asosiasi Kurator dan pengurus menyebutkan bahwa benturan
kepentingan adalah keterkaitan antara Kurator atau pengurus dengan Debitor, Kreditor atau
pihak lain yang dapat menghalangi pelaksanaan tugasnya dengan penuh tanggungjawab sesuai
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Benturan kepentingan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan tugas Kurator dan pengurus
harus dihindarkan. Oleh karena itu, sebelum penunjukan, kurator harus menolak penunjukan jika
ternyata bahwa pada saat penunjukan terdapat benturan kepentingan atau berdasarkan informasi
yang diperoleh, Kurator berpendapat bahwa benturan kepentingan mungkin akan muncul.

5
Demikian halnya setelah penunjukan Kurator harus segera mengungkapkan kepada Hakim
Pengawas Kreditor dan Debitor jika ternyata setelah penunjukan, muncul benturan kepentingan.

Dalam menjalankan tugas dan kewenangan Kurator yang begitu besar, maka seorang kurator
akan mendapatkan imbalan jasa yaitu upah yang harus dibayar dengan nilai yang tidak sedikit.
Pasal 76 UUK PKPU menetapkan besarnya imbalan jasa yang harus dibayarkan kepada
kurator sebagaimana dimaksud Pasal 75 UUK PKPU ditetapkan berdasarkan pedoman yang
ditetapkan dengan Keputusan Menteri yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang
hukum dan perundang-undangan.

Meskipun tugas dan kewenangan Kurator tersebut merupakan hak yang dapat dilaksanakan
oleh Kurator itu sendiri, namun bukan berarti Kurator tidak memiliki kewajiban untuk mengurus
harta Debitor pailit, kewajiban tersebut dapat dilihat dari Pasal 74 ayat (1) UUK PKPU yang
menyebutkan bahwa Kurator berkewajiban menyampaikan laporan setiap tiga (3) bulanan
kepada hakim pengawas mengenai keadaan harta pailit dan pelaksanaan tugas-tugasnya,
kemudian Kurator juga harus bertanggungjawab terhadap kesalahan atau kelalaiannya dalam
melaksanakan tugas-tugas pengurusan dan atau pemberesan yang menyebabkan kerugian
terhadap harta pailit (Pasal 75 Jo Pasal 76 UUK PKPU).

2.3.2 Pemberesan Harta Pailit


Kurator memulai pemberesan harta pailit setelah harta pailit dalam keadaan tidak mampu
membayar dan usaha Debitor dihentikan. Kurator memutuskan cara pemberesan harta pailit
dengan selalu memperhatikan nilai terbaik pada waktu pemberesan.Proses kepailitan yang
disebabkan karena Debitor pailit tidak menawarkan perdamaian atau Debitor pailit menawarkan
perdamaian tetapi ditolak oleh para Kreditor atau jika Debitor pailit menawarkan perdamaian
kemudian disetujui oleh para Kreditor akan tetapi ditolak oleh Hakim Pengadilan
Niaga, maka proses selanjutnya adalah tahap insolven. Insolven secara umum merupakan
keadaan suatu perusahaan yang kondisi aktivanya lebih kecil dari pasivanya (utang perusahaan
lebih besar daripada harta perusahaan) hal ini biasa disebut technical insolvency.

Konsekuensi yuridis dari insolven Debitor pailit adalah harta pailit akan segera dilakukan
pemberesan. Kurator akan mengadakan pemberesan dan menjual harta pailit dimuka umum atau
di bawah tangan serta menyusun daftar pembagian dengan ijin Hakim Pengawas, Hakim
Pengawas juga dapat mengadakan rapat Kreditor untuk menentukan cara pemberesan.

Dalam melaksanakan penjualan harta Debitor pailit, Kurator harus memperhatikan:

1) Harus menjual untuk harga yang paling tinggi.

6
2) Harus memutuskan apakah harta tertentu harus dijual segera dan harta yang lain harus
disimpan terlebih dahulu, karena nilainya akan meningkat di kemudian hari ;
3) Harus kreatif dalam mendapatkan nilai tertinggi atas harta debitor pailit.

Hasil penjualan harta pailit ditambah hasil penagihan piutang dikurangi biaya pailit dan utang
harta pailit merupakan harta yang dapat dibagikan kepada para Kreditur dengan urutan sebagai
berikut :

o Kreditor dengan hak istimewa (preferen).


o Sisa tagihan Kreditor dengan hak gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, atau hipotek
yang belum dilunasi dan untuk sisa tersebut para Kreditor tersebut didaftar sebagai
Kreditor konkuren.
o Kreditor konkuren.

Kreditor istimewa dalam UUK disebut sebagai Kreditor preferen adalah Kreditor yang
mempunyai preferensi karena undang-undang memberikan preferensi kepada tagihan mereka di
luar pemegang jaminan (Kreditor separatis). Kreditor preferen ini tidak mempunyai hak untuk
memulai prosedur hukum untuk melaksanakan hak mereka, mereka hanya diwajibkan untuk
mengajukan tagihan.

Kreditor dalam melaksanakan pemberesan harta pailit memiliki tugas dan kewenangan di
antaranya :

 Setelah kepailitan dinyatakan dibuka kembali, Kurator harus seketika memulai


pemberesan harta pailit. (Pasal 175 UUK PKPU)
 Memulai pemberesan dan menjual harta pailit, tanpa perlu memperoleh persetujuan atau
bantuan Debitor. (Pasal 184 UUK PKPU)
 Memutuskan tindakan apa yang akan dilakukan terhadap benda yang tidak lekas atau
sama sekali tidak dapat dibereskan. (Pasal 185 UUK PKPU)
 Menggunakan jasa bantuan Debitor pailit guna keperluan pemberesan harta pailit, dengan
memberikan upah. (Pasal 186 UUK PKPU)

Setelah dilakukan pemberesan terhadap harta pailit, maka kemungkinan akan terjadi suatu
kondisi bahwa harta pailit tersebut mencukupi untuk membayar utang-utang Debitor kepada para
Kreditornya atau sebaliknya harta pailit tidak dapat mencukupi pelunasan terhadap utang-utang
Debitor kepada para Kreditor.

Dalam hal harta pailit mampu mencukupi pembayaran utang-utang Debitor pailit kepada para
Kreditornya, maka langkah selanjutnya adalah rehabilitasi atau pemulihan status Debitor pailit
menjadi subjek hukum penuh atas harta kekayaannya, hal ini sesuai dengan isi Pasal 215 UUK
PKPU. Syarat utama adanya rehabilitasi adalah bahwa si pailit telah membayar semua utangnya
pada Kreditor dengan dibuktikan surat tanda bukti pelunasan dari para Kreditor bahwa uang

7
Debitor pailit telah dibayar semuanya. Putusan pengadilan mengenai diterima atau ditolaknya
permohonan rehabilitasi adalah putusan final dari upaya hukum terhadap putusan tersebut.

2.4 Kepailitan dan Pengadilan Negeri


Salah satu soal penting setelah penyempurnaan aturan kepailitan adalah pembentukan
Pengadilan Niaga sebagai pengadilan khusus dalam lingkungan Peradilan Umum. Dalam hal ini
seseorang yang merasa sudah tidak mampu lagi membayar hutang yang telah ia pinjam dan
untuk menyelesaikannya adalah dengan mengajukannya pengadilan niaga yang nantinya akan
menyatakan seseorang itu pailit jika tak mampu lagi membayar dan akan mencari jalan keluar
dari masalah kepailitan tersebut. Pengadilan Niaga yang pertama dibentuk adalah Pengadilan
Niaga Jakarta Pusat. Selanjutnya berdasarkan Keppres Nomor 97 tahun 1999, 18 Agustus 1998,
didirikan Pengadilan Niaga di Makassar, Surabaya, Medan, dan Semarang. Pengadilan Niaga
sangat diperlukan untuk menyelesaikan sengketa-sengketa niaga secara cepat; juga
menyelesaikan aneka masalah kepailitan, seperti masalah pembuktian, verifikasi utang, actio
pauliana, dan lain sebagainya. Di sinilah kadang terjadi persimpangan dengan kompetensi
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam hal pemeriksaan perkara, teruama perkara-perkara yang
bersifat perdata. Melalui UUK, kewenangan mutlak (kompetensi absolut) Pengadilan Umum
untuk memeriksa permohonan pailit dialihkan ke Pengadilan Niaga.

Dasar pertimbangan dibentuknya Pengadilan Niaga adalah karena pengaruh gejolak


moneter yang terjadi di beberapa negara di Asia dan Indonesia sendiri sejak bulan Juli 1997 yang
mengakibatkan masyarakat banyak yang kesulitan dalam hal ekonomi, termasuk mengenai
penyelesaian masalah utang yang hams dilakukan secara cepat dan efektif Selain itu, hal yang
menjadi alasan mengapa Pengadilan Niaga perlu dibentuk adalah keadaan ekonomi Indonesia
saat itu yang diperkirakan mengalami lonjakan besar yang memunculkan banyaknya kasus
kepailitan. Pengadilan niaga ini mewujudkan aturan main yang menjaga kepentingan pihak-
pihak yang berpiutang dan yang memiliki utang secara seimbang dan adil, adanya mekanisme
penyelesaian yang cepat dan transparan serta implementasi yang efektif. Dalam dunia usaha
sangat mengharap Pengadilan Niaga mampu menyelesaikan perkara yang masuk secara cepat,
transparan, dan adil.

Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 menambah satu bab baru yaitu Bab Ketiga
mengenai Pengadilan Niaga. Pembentukan peradilan khusus ini diharapkan dapat menyelesaikan
masalah kepailitan secara cepat dan efektif. Pengadilan Niaga merupakan diferensiasi atas
peradilan umum yang dimungkinkan pembentukanya berdasarkan Undang-Undang Nomor 14
Tahun 1970 tentang pokok-pokok kekuasaan kekuasaan kehakiman.

Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 yang merupakan pembaharuan dari Undang-


Undang Nomor 4 Tahun 1998, tidak mengatur Pengadilan Niaga pada bab tersendiri, akan tetapi
masuk pada Bab V tentang Ketentuan Lain-lain mulai dari Pasal 299 sampai dengan Pasal 303.
Demikian juga dalam penyebutannya pada setiap pasal cukup dengan menyebutkan kata

8
“Pengadilan” tanpa ada kata “Niaga” karena merujuk pada Bab I tentang Ketentuan Umum,
Pasal 1 angka 7 bahwa Pengadilan adalah Pengadilan Niaga dalam Lingkungan peradilan umum.

Pengadilan Niaga Mengenai tugas dan wewenang Pengadilan Niaga ini pada Undang-
Undang Nomor 4 Tahun 1998 diatur dalam Pasal 280, sedangkan dalam Undang-Undang Nomor
37 Tahun 2004 diatur pada Pasal 300. Pengadilan Niaga merupakan lembaga peradilan yang
berada di bawah lingkungan Peradilan Umum yang mempunyai tugas sebagai berikut:

1) Memeriksa dan memutuskan permohonan pernyataan pailit;


2) Memeriksa dan memutus permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang;
3) Memeriksa perkara lain di bidang perniagaan yang penetapannya ditetapkan dengan
undang-undang, misalnya sengketa di bidang HaKI.

Dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 juga mengatur tentang kewenangan


Pengadilan Niaga dalam hubungannya dengan perjanjian yang mengadung klausula arbitrase.
Dalam Pasal 303 ditentukan bahwa Pengadilan tetap berwenang memeriksa dan menyelesaikan
permohonan pernyataan pailit dari pihak yang terikat perjanjian yang memuat klausula arbitrase,
sepanjang utang yang menjadi dasar permohonan pernyataan pailit telah memenuhi ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) tentang syarat-syarat kepailitan. Ketentuan pasal
tersebut dimaksudkan untuk memberi penegasan bahwa Pengadilan tetap berwenang memeriksa
dan menyelesaikan permohonan pernyataan pailit dari para pihak, sekalipun perjanjian utang
piutang yang mereka buat memuat klausula arbitrase. Jadi disini jelas bahwa fungsi dan peran
pengadilan Niaga adalah adalah memutus persengketaan tentang masalah Kepailitan dan HaKI
yang diajukan masyarakat kepada Pengadilan Niaga

http://civicsedu.blogspot.co.id/2012/06/fungsi-dan-peran-pengadilan-niagadalam.html

9
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Krisis moneter membuat hutang menjadi membengkak luar biasa sehingga
mengakibatkan banyak sekali Debitor tidak mampu membayar utang-utangnya. Di samping itu,
kredit macet di perbankan dalam negeri juga makin membubung tinggi secara luar biasa
(sebelum krisis moneter perbankan Indonesia memang juga telah menghadapi masalah kredit
bermasalah yaitu sebagai akibat terpuruknya sektor riil karena krisis moneter.

Dirasakan bahwa peraturan kepailitan yang ada, sangat tidak dapat diandalkan. Banyak
Debitor yang dihubungi oleh para Kreditornya karena berusaha mengelak untuk tanggung jawab
atas penyelesaian utang-utangnya. Sedangkan restrukturisasi utang hanyalah mungkin ditempuh
apabila Debitor bertemu dan duduk berunding dengan para Kreditornya atau sebaliknya.
Di samping adanya kesediaan untuk berunding itu, bisnis Debitor harus masih memiliki
prospek yang baik untuk mendatangkan revenue, sebagai sumber pelunasan utang yang
direstrukturisasi itu. Dengan demikian diharapkan adanya feedback antara kreditor dan debitor
dengan baik. Sehingga dirasakan dapat menguntungkan kedua belah pihak.

3.2 SARAN
Seyogyanya Majelis Hakim pengadilan niaga dalam memeriksa perkara kepailitan harus
tetap memperhatikan kaidah-kaidah hukum yang berlaku seperti memperhatikan subyek yang
menjadi persengketa

10
DAFTAR PUSTAKA
http://amroe-muamalah.blogspot.co.id/

http://frwarandy.blogspot.co.id/2012/05/kepailitan.html

https://junetbungsu.wordpress.com/2012/11/21/pemberesan-dalam-kepailitan/

http://civicsedu.blogspot.co.id/2012/06/fungsi-dan-peran-pengadilan-niagadalam.html

11