Anda di halaman 1dari 23

VISI DAN MISI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA

VISI
Menjadikan Fakultas Ekonomi sebagai lembaga
pendidikan tinggi yang menghasilkan sumber daya manusia di
bidang ekonomi yang unggul, mandiri, dan berbudaya di Asia
Tenggara pada tahun 2020.

MISI
Untuk mewujudkan visi tersebut, selanjutnya dirumuskan misi Fakultas sebagai
berikut:
1) Menyelenggarakan pendidikan yang bermutu sesuai dengan tuntutan
masyarakat.

2) Mengembangkan dan meningkatkan penelitian, baik secara kuantitas maupun


kualitas yang disesuaikan dengan tuntutan masyarakat.

3) Mengembangkan dan meningkatkan pengabdian kepada masyarakat, baik


secara kuantitas maupun kualitas yang disesuaikan dengan tuntutan
masyarakat.

4) Mengembangkan Tridharma Perguruan Tinggi berlandasan iptek dan kearifan


lokal.

i
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan Puji dan Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa, karena atas rahmat dan karuni-Nya dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini.

Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang yang

sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam

menyelesaikan penyusunan paper ini. Dengan adanya makalah mengenai

Koperasi ini, dapat membantu Mahasiswa atau Mahasiswi dalam memahami materi

Ekonomi Koperasi.

Dalam pembuatan makalah ini, penulis masih sadar masih banyak


terdapat kekurangan, terutama sekali dalam hal penyajian materi. Untuk
itu kritik dan saran pembaca saat penting bagi penulis.

Demikianlah Makalah Ekonomi Koperasi ini semoga dapat berguna bagi diri
penulis pada khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.

Denpasar, 20 Februari 2018

(PENULIS)

ii
DAFTAR ISI
VISI DAN MISI FEB UNUD.........................................................................i
KATA PENGANTAR...................................................................................ii
DAFTAR ISI.............................................................................................iii
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang...............................................................................1
1.2 .Rumusan Masalah..........................................................................1
1.3. Tujuan.............................................................................................2
PEMBAHASAN
2.1. Dasar Hukum Pembentukan Koperasi............................................3
2.2. Syarat dan Tata Cara Koperasi.......................................................7
2.3. Tingkatan Koperasi dan Daerah Kerja Koperasi..............................9
2.4 .Struktur Internal dan Eksternal Organisasi Koperasi....................12
PENUTUP
3.1. Simpulan......................................................................................17
3.2. Saran............................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................18

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Koperasi merupakan bentuk usaha bersama dari sekelompok
orang yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan
anggotanya. Koperasi merupakan gerakan ekonomi rakyat yang
berdasarkan atas asas kekeluargaan. Koperasi saat ini telah
berkembang dengan pesat karena para anggota-anggotanya yang
terdiri dari masyarakat umum telah mengetahui manfaat dari
pendirian koperasi tersebut, yang dapat membantu perekonomian
dan mengembangkan kreatifitas masing-masing anggota.

Koperasi sebagai lembaga di mana orang-orang yang memiliki


kepentingan relatif homogen, berhimpun untuk meningkatkan
kesejahteraannya. Agar dapat berjalan dengan baik, dalam
pelaksanaannya, koperasi memerlukan dasar hukum untuk mengaturnya.
Pembentukan sebuah koperasi harus sesuai dengan syarat-syarat,
ketentuan dan tata cara yang berlaku dalam dasar hukumnya.

Pemerintah Indonesia sangat berkepentingan dengan Koperasi, karena


koperasi di dalam sistem perekonomian merupakan soko guru. Koperasi di
Indonesia belum memiliki kemampuan untuk menjalankan peranannya secara
efektif dan kuat. Hal ini disebabkan Koperasi masih menghadapai hambatan
struktural dalam penguasaan faktor produksi khususnya permodalan. Dengan
demikian masih perlu perhatian yang lebih luas lagi oleh pemerintah agar
keberadaan Koperasi yang ada di Indonesia bisa benar-benar sebagai soko guru
perekonomian Indonesia.

1.2.Rumusan Masalah
1.2.1. Apa dasar hukum pembentukan koperasi ?
1.2.2. Apa saja syarat dan tata cara pembentukan koperasi ?
1.2.3. Bagaimana tingkatan koperasi dan daerah kerja koperasi ?
1.2.4. Bagaimana struktur intern dan struktur ekstern organisasi koperasi ?

1
1.3.Tujuan
1.3.1. Untuk mengetahui hukum pembentukan koperasi.
1.3.2. Untuk mengetahui syarat dan tata cara pembentukan koperasi.
1.3.3. Untuk mengetahui tingkatan koperasi dan daerah kerja koperasi.
1.3.4. Untuk mengetahui struktur intern dan struktur ekstern organisasi
koperasi.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Dasar Hukum


Pembentukan
Koperasi

Dalam pelaksanaan koperasi, perlu adanya dasar hukum


untuk mengaturnya. Dasar hukum Koperasi Indonesia adalah
UU Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian. Di dalamnya
mengatur tentang fungsi, peran, dan prinsip koperasi. Undang-
undang ini disahkan di Jakarta pada tanggal 21 Oktober 1992,
ditandatangani oleh Presiden RI Soeharto, Presiden RI pada
masa itu dan diumumkan pada Lembaran Negara RI Tahun
1992 Nomor 116. Dan demikian dengan terbitnya UU Nomor 25
Tahun 1992 maka UU Nomor 12 Tahun 1967 tentang Pokok-
pokok Perkoperasian, Lembaran Negara RI Tahun 1967 Nomor
23 dan Tambahan Lembaran Negara RI Tahun 1967 Nomor
2832, yang sebelumnya dipergunakan dinyatakan tidak berlaku
lagi.

Koperasi Indonesia berdasarkan UU No. 25 tahun 1992,


koperasi suatu badan usaha yang dipandang oleh undang-
undang sebagai suatu perusahaan. Dimana dibentuk oleh
anggota-anggotanya untuk melakukan kegiatan usaha dan
menunjang kepentingan ekonomi anggotanya.

2.1.1. Dasar-Dasar Hukum Koperasi Indonesia


1. Undang-undang No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian.

3
2. Peraturan Pemerintah No. 4 tahun 1994 tentang Persyaratan
dan Tata Cara Pengesahan Akta Pendirian dan Perubahan
Anggaran Dasar Koperasi.
3. Peraturan Pemerintah No. 17 tahun 1994 tentang
Pembubaran Koperasi oleh Pemerintah
4. Peraturan Pemerintah No. 9 tahun 1995 tentang Pelaksanaan
Kegiatan Simpan Pinjam oleh Koperasi. Kegiatan usaha
simpan pinjam : kegiatan yang dilakukan untuk menghimpun
dana dan menyalurkan melalui usaha simpan pinjam dari
dan untuk anggota koperasi ybs, calon anggota koperasi ybs,
koperasi lain dan atau anggotanya, (pasa 1, ayat [1] ). Calon
anggota koperasi sebagaimana dimaksud dalam waktu
paling lama 3 bulan setelah simpanan pokok harus menjadi
(pasal 18 ayat [2] ).
5. Peraturan Pemerintah No. 33 tahun 1998 tentang Modal
Penyertaan pada Koperasi.
6. Surat Keputusan Menteri Negara Koperasi dan PPK No.
36/Kep/MII/1998 tentang Pedoman Pelaksanaan
Penggabungan dan Peleburan Koperasi.
7. Surat Keputusan Menteri Negara Koperasi dan PKM No.
19/KEP/Meneg/III/2000 tentang Pedoman kelembagaan dan
Usaha Koperasi.
8. Peraturan Menteri No. 01 tahun 2006 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Pembentukan, Pengesahan Akta Pendirian dan
Perubahan Anggaran Dasar Koperasi.
2.1.2. Langkah-langkah Mendirikan Koperasi
1. Calon-calon Pendiri Harus Mempunyai Kepentingan
Ekonomi yang Sama

4
Koperasi sebaiknya dibentuk oleh sekelompok orang atau anggota
masyarakat yang mempunyai kegiatan dan kepentingan ekonomi yang sama.
Sebaiknya sebelum melanjutkan proses mendirikan koperasi, dahulukanlah
tindakan penyuluhan tentang perkoperasian agar kelompok masyarakat yang
ingin mendirikan koperasi tersebut memahami mengenai perkoperasian,
sehingga anggota koperasi nantinya benar-benar memahami nilai dan prinsip
koperasi dan paham akan hak dan kewajibannya sebagai anggota koperasi
(Pasal 3 dan Pasal 4 UU No.25 Tahun 1992).

5
2. Dilaksanakannya Rapat Pembentukan

Proses kedua dalam


pendirian koperasi adalah
dijalankannya Rapat Pembentukan
dimana untuk Koperasi Primer
sekurang-kurangnya dihadiri oleh
20 orang anggota pendiri,
sedangkan untuk Koperasi Sekunder sekurang-kurangnya dihadiri oleh 3
(tiga) koperasi melalui wakil-wakilnya (Pasal 5 Ayat 1). Rapat
pembentukan koperasi tersebut dihadiri oleh Pejabat
Dinas/Instansi/Badan yang membidangi Koperasi setempat sesuai
domisili anggota (Pasal 5 Ayat 3), dimana kehadiran pejabat tersebut
bertujuan antara lain untuk: memberi arahan berkenaan dengan
pembentukan koperasi, melihat proses pelaksanaan rapat pembentukan,
sebagai narasumber apabila ada pertanyaan berkaitan dengan
perkoperasian dan untuk meneliti isi konsep anggaran dasar yang
dibuat oleh para pendiri sebelum di”akta”kan oleh Notaris Pembuat
Akta Koperasi setempat. Selain itu apabila memungkinkan rapat
pembentukan tersebut juga dapat dihadiri oleh Notaris Pembuat Akta
Koperasi yaitu Notaris yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri
Negara Koperasi dan UKM untuk membantu membuat/menyusun akta
pendirian, perubahan anggaran dasar dan pembubaran koperasi. Dalam
Rapat Pembentukan akan dibahas mengenai Anggaran Dasar Koperasi yang
memuat antara lain (Pasal 5 Ayat 5) :

1. Nama dan tempat kedudukan


2. Maksud dan tujuan

3. Jenis koperasi dan Bidang usaha Keanggotaan

4. Rapat Anggota

5. Pengurus, Pengawas dan Pengelola

6
6. Permodalan, jangka waktu dan Sisa Hasil Usaha

3. Penyusunan Akta Pendirian Koperasi

Proses ketiga yang harus dilakukan untuk mengesahkan Badan


Hukum Koperasi adalah Pembuatan atau penyusunan akta pendirian
koperasi, yang dapat disusun oleh para pendiri (apabila di wilayah
setempat tidak terdapat NPAK) atau dibuat oleh Notaris Pembuat
Akta Koperasi (Pasal 6 Ayat 1). Selanjutnya Notaris atau kuasa
Pendiri mengajukan permohonan pengesahan secara tertulis kepada
pejabat yang berwenang dengan dilampirkan Pasal 7 ayat (1) :

 2 (Dua) rangkap salinan akta pendirian bermeterai cukup.


 Data akta pendirian koperasi yang dibuat dan
ditandatangani Notaris.

 Surat bukti tersedianya modal yang jumlahnya sekurang-


kurangnya sebesar simpanan pokok dan simpanan wajib
yang wajib dilunasi oleh para pendiri.

 Rencana kegiatan usaha minimal tiga tahun ke depan dan


RAPB.

 Dokumen lain yang diperlukan sesuai peraturan


perundang undangan.

4. Penelitian oleh Pejabat yang memiliki Kewenangan

Langkah akhir yang


harus dilalui untuk
mengesahkan koperasi
tersebut sebagai Badan
Hukum adalah Penelitian

7
oleh pejabat yang berwenang. Pejabat yang berwenang akan
melakukan :

 Penelitian terhadap materi Anggaran Dasar yang


diajukan (Pasal 8 Ayat 2),
 Pengecekan terhadap keberadaan koperasi tersebut
(Pasal 8 Ayat 2).

8
Kemungkinan-kemungkinan dalam keputusan pejabat:
 Apabila permohonan diterima maka pengesahan selambat
lambatnya 3 (tiga) bulan sejak berkas diterima lengkap
(Pasal 9 Ayat 2).
 Jika permohonan ditolak maka Keputusan penolakan dan
alasannya disampaikan kembali kepada kuasa pendiri
paling lama 3 (tiga) bulan sejak permohonan diajukan
(Pasal 12 Ayat 1).
 Mengenai penolakan, para pendiri dapat mengajukan
permintaan ulang pengesahan akta pendirian koperasi
dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan. Keputusan
terhadap permintaan ulang tersebut diberikan paling
lambat 1 (satu) bulan (Pasal 12 Ayat 2).

2.2. Syarat Dan Tata Cara


Pembentukan Koperasi
2.2.1. Syarat Pembentukan Koperasi
Menurut UU. No 25 Tahun 1992 Tentang Pengkoperasian Bab IV, pasal 6
sampai dengan 8, rincian syarat-syarat pembentukan koperasi adalah
sebagai berikut.
1. Persyaratan pembentukan kopersi didasarkan atas bentuk koperasi
yang akan dibentuk (koperasi primer atau koperasi sekunder).
2. Pembentukan koperasi primer memerlukan minimal 20 orang anggota.
Sedangkan keanggotaan koperasi sekunder adalah badan hukum
koperasi, minimal 3 koperasi.
3. Koperasi yang akan dibentuk harus berkedudukan di wilayah negara
Republik Indonesia.
4. Anggaran Dasar minimal harus memuat beberapa hal sebagai berikut
ini.
a. Daftar nama pendiri
b. Nama dan tempat kedudukan
c. Maksud dan tujuan serta bidang usaha yang akan dilakukan
d. Ketentuan mengenai keanggotaan

9
e. Ketentuan mengenai rapat anggota
f. Ketentuan mengenai pengelolaan
g. Ketentuan mengenai permodalan
h. Ketentuan mengenai jangka waktu berdirinya
i. Ketentuan mengenai pembagian sisa hasil usaha
j. Ketentuan mengenai sanksi

2.2.2. Tata Cara Pendirian Koperasi


Tata cara yang harus ditempuh untuk mendirikan sebuah koperasi adalah:

a. Mengadakan pertemuan pendahuluan diantara


orang-orang yang ingin mendirikan koperasi.
b. Mengadakan penelitian
mengenai lingkungan daerah kerja koperasi.

c. Menghubungi kantor departemen


koperasi setempat.
d. Membentuk
panitia pendirian koperasi yang bertugas
mempersiapkan anggaran dasar dan
anggaran rumah tangga.

e. Mengadakan rapat pembentukan


koperasi. Hal-hal yang perlu dilakukan
pada rapat anggota yaitu:
1)Memilih pengurus;
2)Memilih pengawas;
3)Menetapan anggaran dasar dan
anggaran rumah tangga.

f. Mengajukan permohonan status badan hukum koperasi


dengan melampirkan petikan berita acara pembentukan
koperasi serta daftar nama anggota pengurus dan
pengawas.
2.3. Tingkatan Koperasi Dan

Daerah Kerja Koperasi


2.3.1. Tingkatan Koperasi

10
Menurut keanggotaannya inilah dapat ditentukan tingkatan-tingkatan
koperasi, yaitu:

a. Koperasi Primer
Primary Society (Koperasi Primer) sekurang-kurangnya dapat
dibentuk oleh 20 orang perorangan (individual) yang masing-masing
memenuhi syarat sebagai berikut:
1. Mampu untuk melakukan tindakan hukum,
2. Menerima landasan idiil, azas dan sendi dasar koperasi,

3. Sanggup dan bersedia melakukan kewajiban-kewajiban dan hak


sebagai anggota, sebagaimana tercantum dalam UU no. 12 Tahun
1967, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta peraturan

koperasi lainnya.

Daerah kerja Koperasi Primer terbatas pada satu lingkungan tempat


tinggal (pedesaan) atau lingkungan tempat bekerja (perkantoran, pabrik,

kampus, sekolah, dan lain sebagainya).

Terdapatnya lebih Koperasi Primer yang sejenis dalam satu daerah kerja
(desa, perkantoran dapat menimbulkan beberapa kesulitan antara lain:
1. Dapat menimbulkan persaingan yang akan menjadikan usaha koperasi itu
tidak sehat;
2. Dapat menimbulkan terpecah-pecahnya potensi ekonomi dan produksi yang
terdapat dalam satu daerah kerja, sehingga efektivitas dan efisiensi sulit atau
bahkan tidak akan mungkin tercapai.

b. Pusat Koperasi

Sebuah koperasi dapat dikatakan sebagai pusat koperasi jika koperasi itu
sekurang-kurangnya beranggotakan 5 koperasi primer yang berbadan
hukum dan wilayah kerjanya satu kota atau kabupaten.

c. Gabungan Koperasi

11
Sebuah koperasi dapat dikatakan sebagai gabungan koperasi jika koperasi itu
terdiri atas paling sedikit 3 pusat koperasi yang berbadan hukum dan wilayah
kerjanya satu tingkat provinsi.

d. Induk Koperasi

Sebuah koperasi dikatakan sebagai induk koperasi itu terdiri atas paling
sedikit 3 gabungan koperasi berbadan hukum dan wilayah kerjanya

seluruh Indonesia.

2.3.2. Daerah Kerja Koperasi


Mengenai daerah kerja suatu badan hukum koperasi pada
dasarnya harus cukup memiliki potensi ekonomi bagi
perkembangan koperasi yang bersangkutan, ini berarti agar
tercegah tugas-tugas operasional yang saling bertabrakan
dikarenakan terjadinya kompetisi antara koperasi yang sejenis.
Jelasnya untuk Koperasi Primer pada umumnya harus berada di
wilayah adminstrasi pemerintahan yang terendah, yaitu desa,
Koperasi Pusat daerah kerjanya meliputi
Kabupaten/Kotamadya, Koperasi Gabungan meliputi satu
provinsi dan Koperasi Induk mempunyai daerah kerja meliputi
seluruh Indonesia. Kesemuanya ini hanya berlaku pada tiap-
tiap jenis koperasi, jadi pada suatu desa kemungkinan untuk
berdirinya 2 atau 3 Koperasi Primer yang berlainan jenis tetap
saja terbuka, karena tugas-tugasnya berlainan dan tidak akan
bertabrakan. Jelasnya sebagai berikut:
1. Di Pedesaan ada : Koperasi Primer Kopra, dan Koperasi
Primer Batik.
2. Di Kabupaten ada : Koperasi Pusat Perkantoran dan
Koperasi Pusat Pembatikan.

12
3. Di Provinsi ada : Koperasi Gabungan Perkopraan dan
Koperasi Gabungan Pembatikan.
4. Di Indonesia ada : Koperasi Induk Perkopraan dan Koperasi

Induk Pembatikan.

Menurut Pasal 16 UU No. 12 Tahun 1967, daerah kerja


koperasi Indonesia pada dasarnya didasarkan pada ketentuan
wilayah administrasi pemerintahan dengan memperhatikan
kepentingan ekonomi, di dalam hal dimana ketentuan tersebut
tidak dapat dipenuhi, menteri menentukan lain. Dalam hal ini
kita perhatikan misalnya KUD yang merupakan koperasi serba
usaha yang mempunyai sub unit peternakan, sub unit sayur
mayur (palawija), sub unit susu (sapi), yang kemungkinan
masing-masing sub unit berada pada desa-desa tertentu, maka
daerah kerjanya tentu akan lebih luas, lazimnya meliputi
daerah kecamatan.
Menyinggung tentang hak suara bagi anggota-anggota
koperasi, dalam Koperasi Primer seorang anggota mempunyai
satu suara. Dalam hubungannya dengan terwujudnya
pemusatan-pemusatan Koperasi Primer ke tingkat lebih atas,
karena dalam hal ini anggota-anggota koperasi adalah badan
hukum, untuk mendekati dasar demokrasi dilakukan menurut
suara yang berimbang (Pasal 20 Ayat (4) UU No. 12 Tahun
1967). Artinya anggota-anggota badan hukum masing-masing
mempunyai hak suara yang proporsional (sebanding) dengan
jumlah anggota perorangannya, tetapi dengan ketentuan
bahwa untuk menghindarkan terjadinya "pemborongan suara"
oleh anggota badan hukum yang jumlah anggotanya terlalu
banyak, selanjutnya diadakan pembatasan maksimum suara
bagi anggota badan hukum semacam itu.

13
2.4. STRUKTUR INTERNAL DAN
EKSTERNAL ORGANISASI
KOPERASI
A. Struktur Internal

Struktur internal organisasi koperasi melibatkan


perangkat organisasi itu sendiri. Perangkat
organisasi koperasi adalah rapat anggota, pengurus,
pengawas, dan pengelola. Di antara rapat anggota,
pengurus, dan pengelola terjalin hubungan perintah
dan tanggung jawab. Sedangkan pengawas hanya
memiliki hubungan satu arah, yaitu bertanggung
jawab terhadap rapat anggota, tanpa memberikan
perintah pada perangkat organisasi lainnya.

Anggota

Rapat Anggota

Pengurus Pengawas

Pengelola

Keterangan:

Garis perintah (Komando)

Garis pertanggungjawaban

14
Anggota : Oleh setiap orang yang
terdaftar sebagai peserta pemilik
koperasi sesuai dengan persyaratan
dalam anggaran dasar. Secara hukum
anggota koperasi adalah pemilik dari
koperasi dan usahanya, karena
anggotalah yang mempunyai
wewenang mengendalikan koperasi
bukan pengurus dan bukan pula
manajer. Oleh karena itu, tidak salah
kalau dikatakan bahwa kunci
keberhasilan koperasi terletak pada
anggota.

Rapat Anggota : Rapat Anggota


ini merupakan kekuasaan tertinggi
dalam tata kehidupan koperasi, yang
dalam pengejawatannya merupakan
rapat anggota dari para pemilik
koperasi tersebut yang masing–
masing anggota mempunyai hak atas
satu suara. Yang di maksud dengan
anggota yang sah yang berhak atas
satu suara tersebut, adalah para
anggota yang namanya telah

15
tercantum dalam Buku Khusus atau
Daftar Anggota, yang artinya pula
telah memenuhi segala persyaratan
bagi keanggotaan koperasi. Sesuai
dengan dasar Pancasila yang dianut
oleh bangsa Indonesia dan
ketentuan-ketentuan yang murni
dari UUD 1945 yang harus
dijalankan oleh segenap rakyat
Indonesia, maka dalam rapat anggota
koperasi tersebut "musyawarah dan
mufakatlah" yang harus diutamakan.

Pengurus : Pengurus ialah anggota koperasi yang memperoleh


kepercayaan dan rapat anggota untuk memimpin jalannya
organisasi dan usaha koperasi. Pengurus menentukan apakah
program-program kerja yang telah disepakati dalam rapat anggota
benar-benar dapat dijalankan. Pengurus juga menentukan apakah
koperasi itu dapat diterima sebagai rekan usaha yang terpercaya di
dalam lingkungan dunia usaha.

16
Pengawas : bertugas melaksanakan
pengawasan atas pekerjaan pengawasannya.
Melakukan pengawasan terhadap
pelaksanaan kebijakkan dan pengelolaan
koperasi dan membuat laporan tertulis
tentang hasil pengawasannya. Kewenangan
pengawas koperasi pada dasarnya adalah
melakukan penelitian terhadap catatan-
catatan yang ada di dalam koperasi,
termasuk akuntansi koperasi.
Pengelola : pelaksana harian
kegiatan koperasi yang diangkat oleh
pengurus koperasi atas persetujuan
rapat organisasi. Tugas pengelola
ialah melaksanakan usaha koperasi,
mengajukan rancangan rencana
anggaran pendapatan & belanja
koperasi kepada pengurus,
memberikan pelayanan usaha kepada
anggota, Membuat studi kelayakan
usaha koperasi, dan membuat laporan
perkembangan usaha koperasi.

Wewenang pengelola ialah


mengangkat dan memberhentikan

17
karyawan atas persetujuan pengurus dan meningkatkan prestasi
kerja karyawan.

B. Struktur Eksternal Organisasi Koperasi

Struktur eksternal organisasi koperasi berhubungan


dengan adanya penggabungan koperasi sejenis pada
suatu wilayah tertentu. Penggabungan itu dibutuhkan
untuk pembinaan, pelatihan, kemudian mendapat
modal, dan kebutuhan kemudahan lainnya. Berkaitan
dengan itu, adanya koperasi induk, koperasi gabungan,
koperasi pusat, dan koperasi primer. Bagan struktur
eksternal organisasi koperasi dapat dilihat pada
berikut :

Koperasi induk : gabungan dari paling sedikit 3 koperasi


gabungan yang berkedudukan di ibukota Negara.
Koperasi gabungan : gabungan dari paling sedikit 3 koperasi
pusat dan berkedudukan di ibukota provinsi.
Koperasi pusat : gabungan dari paling sedikit 4 koperasi primer
dan berkedudukan di ibokota kabupaten.
Koperasi primer : koperasi yang merupakan perkumpulan dari paling
sedikit 20 orang yang bergabung dengan tujuan yang sama.

18
BAB III
PENUTUP
3.1. Simpulan
Dasar hukum Koperasi Indonesia adalah UU Nomor 25 Tahun
1992 tentang Perkoperasian, yang mengatur tentang fungsi, peran,
dan prinsip koperasi. Dalam mendirikan sebuah koperasi harus
sesuai dengan aturan yang tercantum pada UU. No 25 Tahun 1992
Tentang Pengkoperasian Bab IV, pasal 6 sampai dengan 8. Tingkatan
Koperasi, menurut keanggotaannya dapat ditentukan tingkatan-
tingkatan koperasi, yaitu : koperasi primer dan koperasi pusat,
gabungan dan induk. Untuk menjalankan peranannya secara efektif
dan kuat, diperlukan perhatian khusus terhadap struktur intern dan
ekstern organisasi koperasi.

3.2. Saran

Dalam suasana persaingan yang semakin kompetitif, keberadaan usaha

koperasi dituntut untuk dapat bersaing dengan pelaku usaha lainnya, karena

lembaga ini cukup representative dalam memberdayakan ekonomi masyarakat.

Langkah kerjasama dalam bentuk kemitraan usaha merupakan suatu strategi

untuk dapat mengembangkan usaha koperasi dan secara moril kerjasama ini

sangat diperlukan adanya dukungan yang maksimal dari pihak pengusaha besar

melalui paket pembinaan.

19
DAFTAR PUSTAKA

Sitio, Arifin dan Halomoan Tamba. 2001. Koperasi: Teori dan Praktik.

Yogyakarta: PT. Gelora Aksara Pratama.

Subandi. 2015. Ekonomi Koperasi(Teori dan Praktik). Bandung: Alfa Beta.

https://id.scribd.com/document/337304054/Makalah-Dasar-Hukum-
Pembentukan-Koperasi

https://dokumen.tips/documents/dasar-hukum-pembentukan-
koperasi.html

20

Anda mungkin juga menyukai