Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

PROTISTA MIRIP TUMBUHAN


CHRYSOPHYTA

Oleh :
Kelompok 7 Offering A
Annas Agung Zyahroby (160341606062)
Dewi Safitri (160341606086)
Farida Sulfiana Dewi (1603416060
Lailatul Safitri (160341606065)

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

2017
Pengertian
Alga keemasan atau Chrysophyceae adalah salah satu kelas dari kelompok alga
Heterokontophyta.Nama "Chrysophyceae" diambil dari bahasa Yunani, yaitu chrysos yang
berarti emas. Chrysophyta (ganggang keemasan/alga keemasan) adalah ganggang yang memiliki
pigmen dominan derivat yang berupa xantofil (kuning), dan pigmen lainnya yaitu klorofil a, c,
dan fukosantin (cokelat). Warnanya yang kuning keemasan berasal dari
kandungan pigmen karotena dan xantofil yang banyak sehingga mendominasi warna
kloroplasnya dan membuat klorofil tidak terlalu tampak. Kloroplas alga ini
berbentuk cakram, pita, atau oval.
Sel-sel alga keemasan memiliki inti sejati, dinding sel umumnya
mengandung silika (SiO2) atau zat kersik. Alga ini ada yang hanya satu sel (uniseluler) dan ada
yang terdiri atas banyak sel (multiseluler). Ada Chrysophyta yang memiliki flagela, dan ada juga
tidak memiliki flagela, Chrysophyta dengan berdinding sel mengandung hemiselulosa, pektin,
atau silika. Chrysophyta menyimpan cadangan makanan dalam bentuk karbohidrat atau
lemakAlga uniseluler dapat hidup sebagai komponen fitoplankton yang dominan. Alga yang
multiseluler membentuk koloni atau berbentuk berkas pita (filamen). Habitat Chrysophyta
biasanya terdapat ditempat-tempat yang basah, air laut, air tawar dan di tanah yang lembab.
Untuk xantophyceae hidup di air tawar, air laut dan tanah dan chrysophyceae hidupnya di air laut
dan air tawar sedangkan bacillariopphyceae di air laut, di air tawar ataupun pada tanah- tanah
yang lembab.
Chrysophyta hidup sebagai organisme fotoautotrof. Namun sebagian spesies ada mampu
menyerap senyawa organik terlarut (miksotrofik) atau menelan partikel makanan dan bakteri
dengan menjulurkan pseudopodianya.

Ciri-ciri
 Berpigmen dominan derivat karoten berupa xantofil (kuning) dan pigmen dengan klorofil
a, c, dan fukosantin (cokelat).
 Bersifat uniseluler soliter, uniseluler koloni, dan multiseluler
 Berdinding sel dan mengandung hemiselulosa pektin, atau silika.
 Menyimpan cadangan makanan bentuk karbohidrat atau lemak
 Habitat di air tawar dan air laut.
 Hidup sebagai organisme fotoautotrof dan sebagian menyerap senyawa organik terlaruk
(miksotrofik)
 Kloroplas berukuran kecil dan berbentuk cakram atau lembaran
 Sel terdiri dari 2 bagian, tutup (epitheca) dan wadah (hypotheca), yang pinggir dari
tutupnya agak melebihi ukuran pinggiran wadahnya (overlapping).
 Pigmen-pigmen terdiri dari chlorophil a, c, b carotene, xanthofil (vialoxanthin,
diatixanthin, diadinoxanthin) yang warnanya agak kuning keemasan sehingga sering
disebut alga keemasan.
 Pada umumnya berflagel yang tidak sama panjang dan bentuk sehingga kadang-kadang
disebut Heterokontae (alga yang flagelnya tidak sama panjang).
 Membentuk spora khusus yang disebut statospora
Chrysophyta menyimpan cadangan makanan dalam bentuk karbohidrat atau lemak.
Habitatnya di air tawar dan air laut. Chrysophyta hidup sebagai organisme fotoautotrof. Namun,
beberapa spesies ada yang mampu menyerap senyawa organik terlarut (miksotrofik) atau
menelan partikel makanan dan bakteri dengan menjulurkan pseudopodianya.
Dalam banyak chrysophyta dinding sel terdiri dari selulosa dengan sejumlah
besarsilika. Beberapa memiliki satu atau dua flagela, yang dapat sama atau
berbeda. Beberapa spesies adalah bentuk ameboid tanpa dinding sel. Produk penyimpanan
makanan dari chrysophyta adalahminyak atau laminarin polisakarida. Sebelumnyadiklasifikasika
sebagai tanaman, chrysophyta mengandung pigmen fotosintesisklorofil a dan c; semua tapi gang
gang kuning-hijau juga mengandung pigmenkarotenoid fucoxanthin. Dalam beberapa
kondisi diatom akan bereproduksi secara generatif, tetapi bentuk
lain biasa reproduksi pembelahan sel. Diatom dan ganggang cokelat keemasan adalah sangat
penting sebagai komponen planktondan nanoplankton yang membentuk dasar dari rantai
makanan laut.
Secara umum perkembangbiakan pada Chrysophyta terjadi secara generatif dan vegetatif.
Dengan membelah secara longitudinal dan fragmentasi terjadi menjadi 2 macam yaitu:
1. Koloni memisah menjadi 2 atau lebih (sel tunggal melepaskan diri dari koloni kemudian
membentuk koloni yang baru).
2. Sporik dengan membentuk 2 oospora (untuk sel yang tidak berflagel) dan statospora (tipe
spora yang unik yang ditemukan pada Chrysophyta, dengan bentuk speris dan bulat,
dinding spora bersilla, tersusun atas 2 bagian yang saling tumpang tindih, mempunyai
lubang atau pore ditutupi oleh sumbat yang mengandung gelatin).
Reproduksi aseksual pada genera yang immobile mungkin menggunakan spora berflagel
atau spora tidak berflagel. Spora yang tidak berflagel dengan tipe unik disebut statospora.
Reproduksi seksual biasanya isogami melalui penyatuan gamet berflagel atau tidak berflagel
tetapi dapat juga anisogami atau oogami.

Klasifikasi Chrysophyta
1. Kelas Xanthopyceae
a. Ciri-ciri
Xanthophyceae berwarna hijau kekuningan karena memiliki pigmen klorofil dan
xantofil. Tubuhnya multiseluler, berbentuk filamen bercabang, dan senositik (sel memiliki
banyak inti). Xanthophyceae bereproduksi secara vegetatif maupun generatif. Reproduksi
secara vegetatif terjadi dengan membentuk zoospora yang selanjutnya tumbuh menjadi
filamen baru. Sementara reproduksi secara generatif yaitu dengan membentuk anteridium
yang menghasilkan spermatozoid dan oogonium yang menghasilkan ovum. Bila terjadi
fertilisasi, akan dihasilkan zigospora yang selanjutkan tumbuh menjadi filamen baru.
Contohnya Vaucheria.
b. Habitat
Xanthophyceae uniseluler dan koloni sebagai Phytoplankton pada kolam atau danau
air tawar da sedikit di laut. Sebagian besar spesies yang habitatnya tanah, tumbuh pada tanah
yang lembab. Kebanyakan xanthophyceae sulit ditemukan sebab keberadaanya jarang
melimpah, kecuali spesies bentuk filamen dari genus Tribonema dan bentuk sifenus dari
Genus Voucheria. Spesies Tribonema tampak hijau cemerlang, tumbuh di air tawar terutama
pada awal tahun sedangkan spesies vaucheria tumbuh dalam tanah basah atau air tawar atau
habitat beragam seperti lumpur dan rawa – rawa. Xanthophyceae hidup secara fotoauototrof
yaitu dapat mensitesis makanannya sendiri dengan memiliki klorofil agar dapat melakukan
fotosintesis dengan bantuan sinar matahari
c. Susunan tubuh
 Sel tunggal berflagel
Hanya sekitar tujuh genera dari spesies Xantophyceae berbentuk flagellate uniseluler an
jarang ditemukan. Contoh: chloromeson
 Amoeboid
Sel alga Xantophyceae pada tipe ini adalah telanjang dan mempunyai pseudopodia, yang
digunakan untuk mengambil partikel padat. Contoh: Rhizochloris yang memangsa bakteri
atau alga kecil seperti Diatom melalui pseudopodia.
 Coccoid
Tipe ini selnya tidak motil dan tidak berflagella. Dalam beberapa kasus kelompok-
kelompok dari sel bergabung membentuk koloni sebagian besar. Contoh yang berbentuk
Coccoid adalah
Chloridella, uniseluler berbentuk bulat, berkembang biak dengan membentuk autospora.
Bortydiopsis, uniseluler, menghasilkan sel-sel yang besar dan bulat, dengan diameter 50
µm bila tumbuh dengan baik. Mengandung beberapa kloroplas, reproduksi dengan
aplanospora dan zoospore. Ditemukan diair tawar dan diatas tanah.
Ophicytium, selnya memanjang dan silinder.
 Palmelloid (tetraspora)
Sel tidak berflagel dan letaknya tertanam dalam pembungkus dari lender, kemudian
membentuk koloni. Contoh: gloeocholaris yang mana selnya menyatu dalam koloni
bergelatin. Koloni tersebut dapat berbentuk bola atau elip.
 Filamen
Pada tipe ini sel menyatu dalam filament bercabang atau tak ber bercabang. Contoh yang
berbentuk filament tak bercabang adalah genus Tribonema, susunan ini menjadi jelas
ketika filamen terpisah setelah mati atau patah.
 Sifoneus
Alga ini berbentuk tabung bercabang tidak mempunyai dinding melintang, protoplasnya
mengandung banyak inti. Contoh:
 Botrydium
Merupakan alga berbentuk sifoneus multinukleat. Selnya terdiri dari: 1) bagian
vesikel bundar berukuran sebesar kepala jarum, mengandung kromatofora dan berinti
banyak, 2) bagian yang masuk ke tanah yaitu rhizoid, bercabang, tanpa kromatofora.
Protoplas pada vesikel dapat membentuk zoospore yang dilepas ketika lingkungan
tergenang air. Bila lingkungan kering protoplas tertarik ke rizhoid kemudian
membentuk aplanospora.
 Vaucheria
Bentuknya seperti tabung, reproduksi aseksual dengan zoospore, filament bercabang
dengan lapisan pariental tipis pada sitoplasma, banyak kloroplas dan inti. Bagian
pusat tabung ditempati oleh vakuola.

Contoh Vaucheria
d. Susunan sel
 Dinding sel
Dinding sel pada dua genus Xanthophyceae yaitu Tribonema Aeguale dan
Vaucheria disusun oleh selulosa. Pada Vaucheria sp selulosa menyusun 90% dinding sel,
sisanya disusun oleh glukosa (uronic acids). Beberapa organism dari kelas ini mempunyai
dinding sel yang disusun oleh dua bagian yang overlap (tumpang tindih) seperti cawan
petri.
 Kloroplas dan cadangan makanan
Kloroplas dikelilingi oleh dua membran. Membrane tersebut berhubungan dengan
pembungkus inti. Klorofil A terdapat dalam kloroplas dengan sebagian besar karotinoid
seperti diadino xanthin, heteroxanthin dan vaucheriaxanthin. Klorofil C sering ditemukan
pada Vaucheria geminate. Mannitol dan glukosa tertimbun dalam plastid selama proses
fotosintesis.
Chlorella (Sumber: www.huffpost.com)
e. Reproduksi
 Secara aseksual
a) Vefetatif yaitu dengan fragmentasi. Alga yang koloninya berbentuk filament seringkali
mengadakan perkembangbiakan dengan fragmentasi yaitu koloni patah menjadi dua
bagian.
b) Zoospora, mempunyai dua flagel yang tidak sama panjang.bagian depan adalah flagellum
tinsel yang mempunyai panjang 4 sampai 6 kali. Flagelklum whiplash yang ada pada
bagian posteur. Zoozpora telanjang dan berbentuk seperti buah pir yang akan
menghasilkan 1-16 zoospora yang kemudian akan dilepaskan melalui pemutusan dinding
sporangial yang ovelap.
c) Aplanospora, dalam beberapa kasus kondisi lingkungan akan menentukan apakah alga
akan membentuk zoospore atau aplanospora. Bila tumbuh dibawah permukaan air akan
menghasilkan zoospore tetapi bila tumbuh pada tanah yang basah menghasilkan
aplanospora. Aplanospora melepaskan diri ari sel induk kemudian tumbuh menjadi
ganggang baru atau aplanospora dapat memunculkan zoospore yang selanjutnya akan
berkembang menjadi ganggang baru.
d) Statospora, adalah spora yang terbentuk secara endogen dalam protoplas.
e) Akinet, adalah spora fase istirahat yang berdinding tebal mengandung banyak cadangan
makanan. Akinet pada Xanthophyceae berbentuk filament.
 Secara seksual
a) Pada Tribonema terjadi penyatuan antara sel gamet yang immobile dan gamet yang
mobil.
b) Pada Botrydium penyatuan sel gamet secara isogami atau anisogami.
c) Pada Vaucheria terjadi secara oogami. Untuk waktu yang cukup lama posisi meosis
dalam siklus hidup Vaucheria tidak diketahui tetapi dianggap pembelahan terjadi selama
perkecambahan dari zigot.
f. Klasifikasi
 Ordo Heterochloridales : sel-sel vegetative mempunyai flagella atau amuboid
 Ordo Heterogloeales : susunan tubuh palmelloid (koloni dengan bentuk yang tidak pasti)
dengan sel-sel vegetative immobile yang dapat berubah menjadi sel-sel motil
 Ordo Mischococcales : susunan tubuh nonfilamentous dengan sel vegetative menjadi sel-
sel motil tetapi dapat menghasilkan zoospora melalui differensiasi sel.

Botrydiopsis sp
 Ordo Tribonematales : susunan tubuh filamentous, sel-selnya tidak coenocytic

 Ordo Vaucheriales : alga multinukleat coenocytic


 Ordo Chloramoebales
 Ordo Eustigmatophyceae
 Ordo Rhizochloridales

2. Kelas Chrysophyceae
a. Ciri-ciri
Chrysophyceae tampak berwarna cokelat keemasan karena mengandung pigmen
klorofil dan karoten. Cadangan makanan disimpan dalam bentuk karbohidrat dan minyak.
Tubuhnya terdiri atas satu sel dan hidup secara soliter atau berkoloni. Contohnya
ganggang Synura yang hidup berkoloni, sedangkan Mischococcus dan Ochromonas hidup
soliter. Sel tubuhnya berbentuk seperti bola dan memiliki flagela.
 Mempunyai kromatofora coklat keemasan
 Hasil fotosintesis disimpan dalam bentuk leukosin krisolaminarin dan minyak.
b. Habitat dan Distribusi
Sebagian besar hidup dia air tawar, hanya beberapa spesies ditemukan di air payau
atau air asin. Chrysophyceae air tawar cenderung dominan di danau oligoytophic (
produktivitas rendah ) dengan derajat keasaman (pH) 5-7,5 dan Chrysophyceae lebih suka air
dingin karena Chrysophyceae ditemukan di Arctic, di danau alphine oligotrophic, dan selama
musim dingin di danau oligotrophic. Ada berbagai cara Chrysophyceae memperoleh
makanan/nutrisi yaitu dengan fotoautotrof, saprotoof, dan fagotrof
c. Susunan tubuh
 Flagellate uniseluler (monadoid)
Contohnya Ochromonas

 Koloni berflagel
Sejumlah sel berflagel berdekatan bersama membentuk koloni. Contohnya: Synura,
koloninya berbentuk bola atau elip. Koloni terdiri atas banyak sel berbentuk buah pear,
berlekatan pada bagian posterior. Masing-masing sel memilik dua kloroplas dan dua
flagella yang tidak sama panjang (heterokon).
 Amoeboid
Sel telanjang memiliki pseudopodia yang besar. Struktur ini disebut rhizopodial.
Contohnya: Rhizochrysis

 Palmelloid (tetrasporal)
Pada tipe ini sel-sel tertanam dalam pembungkus dari lender, berbentuk koloni dan mirip
alga hijau tetraspora. Contoh: Chysocapsa, tidak berflagela, selnya tertanam dalam lendir
bentuk bola, yang diameternya 4mm.
 Coccoid
Alga ini nonmotil, tidak berflagel, masing-masing sel dikelilingi dinding sel. Kadang-
kadang sel menyatu dalam koloni. Contohnya: Chrysosphaera yang berbentuk bulat,
tunggal maupun berkelompok.

 Filamentus
Pada tipe ini sel menyatu dalam filament bercabang atau tak ber bercabang.
 Thallaoid
Sel-sel menyatu dalam jaringan parenchymatis. Contohnya: Thallochrysis masing-masing
mampu menghasilkan zoospore, dengan single flagellum yang besar.
d. Susunan Sel
 Flagella dan bintik mata
Diantara anggota Chrysophyceae banyak yang mempunyai dua tipe flagel yaitu
tipe wiphlas dan tinsel. Ochromonas mempunyai flagella yang tidak sama ukuran dan
susunannya, muncul dari bagian anterior sel. Flagellum yang lebih panjang menuju ke
depan selama berenang disebut pleuronematic atau tinsel. Flagellum ini dilengkapi
rambut sekitar 15 nm tebalnya disebut mastigonemes. Sebaliknya flagellum tipe wiphlas
yang mengarah ke belakang, pendek dan tumpul, tampak halus dan besar. Pada bagian
pangkal flagella tipe wiphlas mengandung electron yang berhubungan dengan foto
reseptor (bintik mata). Bintik mata terletak didalam salah satu kloroplas. Bintik mata
terdapat pada sebagian besar alga berflagel biasanya merupakan bagian kloroplas seperti
pada Ochromonas.

Flagella pada Ochromonas sp


Sumber: www.plingfactory.com
 Vakuola kontraktil
Terdapat satu atau dua vakuola kontraktil dalam sel yang terletak di dekat dasar
flagella. Masing-masing vakuola terdiri atas vesikel kecil yang berdenyut dengan
interval yang teratur, mengeluarkan isinya dari sel. Vakuola kontraktil memiliki fungsi
utama yaitu osmoregulator. Hal ini disebabkan konsentrasi sitoplasma lebih tinggi
disbanding air sekitarnya. Sel mengambil air melewati plasmalema yang semipermeable.
Air yang berlebih didalam sel dikeluarkan agar sel tidak pecah.
 Badan golgi
Badan golgi terletak antara inti dan kontraktil vakuola. Badan golgi adalah
organela yang terdapat pada sel eukariotik baik hewan maupun tumbuhan yang
strukturnya terdiri dari tumpukan vesikel bentuk cakram atau kantung. Vesikel berisi zat
yang disekresikan dari sel. Pada tumbuhan materi dinding sel atau unsure penyusun
membrane seringkali disekresikan oleh badan golgi.
 Nukelus
Nucleus dan kloroplas dihubungkan oleh membrane pada kloroplas yang mana
berhubungan dengan pembungkus inti.
 Kloroplas
Sel Ochromonas mempunyai satu atau dua kloroplas mengandung klorofil a, c1,
c2 dan karotenoid yaitu fukosantin. Kloroplas dikelilingi oleh empat membrane yaitu dua
membrane merupakan pembungkus kloroplas itu sendiri, dua membrane terluar
berhubungan dengan endoplasmic retikulum.
e. Reproduksi
 Reproduksi aseksual
Pada Chrysomonadalis yang soliter reproduksi aseksual melalui pembelahan sel
secara longitudinal yang menghasilkan 2 sel anakan. Pada Chrysomonadalis yang
berkoloni, pembentukan koloni baru melalui lepasnya satu protoplas yang kemudian
berkembang menjadi koloni baru. Pada Chrysococcales dan Chrysotrichales
reproduksinya melalui zoospore uniflagel atau zoospore biflagel yang tak sama panjang.
Ciri anggota Chrysophyceae adalah pembentukan statospora. Statospora
berbentuk elip atau oval, bola dan permukaan luar halus atau dengan berbagai ornament
seperti duri, kutil atau lengan. Statospora mempunayi lubang dengan kerah yang ditutup
sumbat. Sumbat tidak mengandung silica sel vegetative membentuk statosora secara
endogenous.
 Secara seksual
Pada Dinobryon terjadi reproduksi secara isogami. Selama reproduksi seksual dua
sel vegetative berfungsi sebagai gamet dan menyatu. Pada spesies tertentu flagella
anterior kedua sel saling melingkari satu dengan yang lainnya kemudian sel
meninggalkan mangkuknya dan menyatu (hologami). Zigot kemudian membentuk kista.
Pada Chrysophyceae berbentuk koloni Synura petersenii, gamet jantan ditarik oleh
hormone yang disekresikan oleh betina. Gamet jantan meninggalkan koloni induk,
berenang menuju gamet betina pada koloni betina kemudian menyatu. Kemudian
terbentuk kista zigot yang mempunyai dinding silica. Perkecambahan kista diikuti oleh
proses meiosis.
f. Klasifikasi
 Chrysophyceae dibedakan menjadi 4 ordo, yaitu :
1. Ochromonadales : mempunyai flagella yang tidak sama panjang yang terdapat pada
bagian anterior sel
2. Chromulinales : memiliki satu flagella. Flagella kedua mengalami reduksi menjadi
pendek
3. Pedinallales : memiliki satu flagella
4. Dictyochales : sel dilindungi dinding yang terbuat dari silika

3. Kelas Bacillariophyceae
a. Ciri-ciri
Bacillariophyceae (Yunani, bacillus = batang kecil, phykos = alga) adalah ganggang
uniseluler, berwarna kuning kecokelatan, dan memiliki dinding sel yang unik seperti gelas
dan campuran bahan organik dan silika. Bacillariophyceae dikenal sebagai ganggang kersik.
Dinding sel diatom terdiri atas dua bagian yang saling tumpang tindih seperti kotak
(hipoteka) dengan tutupnya (epiteka). Pada hipoteka dan epiteka terdapat pori-pori sebagai
tempat pertukaran zat dan gas antara sel dengan lingkungannya. Bentuk dinding sel
(cangkang) dan pori-porinya merupakan ciri yang digunakan sebagai dasar klasifikasi
diatom. Diatom menyimpan cadangan makanan dalam bentuk polimer glukosa laminarin dan
minyak.
 Tumbuhan bersel satu walaupun beberapa ada yang berbentuk koloni.
 Hampir ditemukan disetiap lingkungan perairan, sebagai penyusun plankton atau
penyusun perifiton.
 Sebagai perifiton, diatom mempunyai kemampuan melekat pada permukaan substrat
 Hidup secara autotroph
 Diding sel terbuat dari silica dan mempunyai susunan khas
b. Habitat
Diatom dapat hidup soliter maupun berkoloni. Beberapa jenis diatom dapat bergerak
meluncur karena terdapat interaksi protein kontraktil aktin dengan filamen polisakarida di
dalam sitoplasma. Habitat diatom di air laut, dan ada pula yang hidup di air tawar, misalnya
di sawah dan parit. Beberapa spesies diatom dapat membentuk sista ketika kondisi
lingkungan memburuk. Diatom memiliki daya apung yang baik, yang disebabkan oleh
regulasi (pengaturan) seluler ion-ion untuk menahan bobot dinding sel yang relatif berat.
Bacillariophyceae dapat ditemukan hampir disetiap lingkungan perairan yang cukup
sinar matahari untuk mempertahankan aktivitasnya. Diatom selain bersifat kosmopolit juga
memiliki laju pertumbuhan yang tinggi. Sebagai misal pada perairan yang subur dan tidak
tercemar kepadatan poplasinya dapat mencapai 2000-10.000 sel per liter air. Diatom
mempunyai kelimpahan yang tinggi dan dapat ditemukan diberbagai habitat misalnya tanah
basah, dinding batu, karang terjal, gambut, dan kulit kayu. Beberapa diatom hidup sebagai
epifit pada alga lain atau tanaman lain
Kromatofora terdapat dalam sitoplasma dengan jumlah dan bentuk bervariasi
tergantung pada spesies. Kromatofora mengandung klorofil Alfa, Beta Karotin dan xantofil.
Beberapa spesies diatom kehilangan Kromatofora dan tumbuh sebagai saprofit. Cadangan
makanan sebagai hasil fotosintesis disimpan dalam bentuk lemak atau leukosin.
c. Susunan tubuh
Susunan tubuh diatom uniseluler dan mikroskopis, walaupun ada yang membentuk
koloni. Bentuk selnya bermacam-macam dengan bentuk dasar bilateral simitris (Pennales),
dan radial. Beberapa tampak seperti perahu, balok, segitiga.
d. Susunan sel
 Dinding sel
Keistimewaan diatom yaitu dinding sel (frustul) yang terbuat dari silica. Frustul
mempunyai susunan khusus yang terdiri dari dua kutub yang tumpah tindih menyerupai
wadah dan tutupnya. Kutub atas disebut dengan epiteka sedangkan bagian bawah disebut
hipoteka. Daerah kutub yang tumpang tindih tersebut dihubungkan oleh pita-pita yang
tersusun melingkar dengan pola khas pada setiap spesies diatom yang disebut dengan
gridle atau gridle band.

Bacillariophyceae yang hidup berkoloni


Sumber: www.ucmp.berkeley.edu
Dinding sel Bacillariophyceae
Sumber: www.slideshare.net
 Protoplas
Pada bagian dalam protoplas terdapat vakula. Diatom pennate nukleusnya berada
di central bridge dari sitoplasma. Sedangkan pada diatom sentrik nucleus berada di
bagian tepi sitoplasma. Nucleus memiliki membarn inti, satu atau lebih nucleoli dan
benang kromatin. Kromatofor terdapat dalam sitoplasma. Jumlah dan bentuknya
bervariasi bergantung pada spesies. Diatom pennate biasannya mempunyai satu atau dua
kromatofora. Bila terdapat dua kromatofora biasanya berlapis dan meluas secara
longitudinal sepanjang sel. Terdapat satu atau beberapa perenoid tetapi tanpa lempengan
tepung. Kemungkinan berfungsi sebagai elaioplast dan pembentukan minyak.
Kromatofora mengandung klorofil a dan c, β karoten dan xantofil. Xantoful khususnya
fukosantin bergabung dengan diatomatin menyebabkan warna coklat keemasan pada
sebagian besar spesies.
e. Gerak
Diatom pennate bergerak secara spontan. Diatom centric tidak mempunyai
kemampuan gerak sendiri. Gerak diatom biasanya melalui serangkaian hentakan.
Beberapa teori yang terkait dengan gerakan diatom telah diajukan. Menurut Muller
(1889) gerakan diatom berdaarkan aliran sitoplasma. Gerakan diatom yaitu meluncur
pada substrat meninggalkan lender. Pendapat lain mengemukakan tipe gerakan diatom
bergantung pada bentuk rafe. Nultech membedakannya menjadi 3 tipe, yaitu
 Tipe Navicula, dengan gerakan lurus
 Tipe Amphora, jalannya selalu berbentuk kurva
 Tipe Nitzchia, membentuk kurva dengan dua lingkaran yang berbeda
f. Reproduksi
 Pembelahan sel
Peristiwa ini diawali dengan pertambahan volume frustules yang mengakibatkan
katup terpisah, diikuti pembelahan inti secara mitosis dengan benang spindle paralel axis
yang memastikan protoplas membelah secara longitudinal. Pembelahan katup pada sel
induk akan menajadi epiteka pada sel anak, dimana masing-masing sel anak membentuk
hipoteka baru.
 Pembentukan auxospora tunggal melalui konjugasi dua sel
Dua sel melakukan konjugasi yang tertutup oleh pembungkus gelatin. Inti diploid
membelah menjadi empat inti haploid melalui proses meiosis. Dari keempat inti hanya
satu yang berfungsi sedang yang tiga mengalami degenerasi. Protoplas yang mempunyai
satu inti aktif sebagai gamet. Dua gamet yang berasal sari dua sel menyatu kemudian
membentuk zigot. Zigot mengalami periode istirahat kemudian memanjang membentuk
auxospora
 Pembentukan auxospora melalui parthenogenesis
Dua diatom dikelilingi oleh lender. Inti masing-masing sel mengalami
pembelahan mitosis. Semua inti kecuali satu melebur sehingga protoplas mempunyai satu
inti diploid yang fungsional. Protoplas ini lepas dan akti sebagai auxospora.
 Pembentukan auxospora melalui autogami
Inti diploid diatom membelah secara meiosis menjadi empat inti. Nucleus
mengalami degenarasi sehingga hanya tersisa dua sel inti yang fungsional. Penyatuan dua
gamet (autogami) menghasilkan zigot. Setelah beberapa periode istirahat zigot membesar
dan aktif sebagai auxospora yang kemudian membentuk katup yang overlapping.
 Pembentukan spora melalui oogami
Pembelahan pertama terjadi secara meiosis. Dengan satu atau dua flagel yang
muncul dari protoplas anak. Struktur ini disebut gamet jantan. Sel yang menghasilkan
gamet jantan adalah anteredium. Sel diatom yang menghasilkan telur adalah oogonium.
Sel gamet jantan masuk kedalam oogonium dan menyatu dengan telur membentuk zigot,
kemudian zigot membesar dan tumbuh menjadi auxospora.
 Statospora
g. Klasifikasi
Permukaan atas dari bagian cawan algae diatomeae memiliki alur yang teratur,
tampak sebagai garis-garis. Berdasarkan corak alurnya, maka algae ini dapat dibagi menjadi
dua bangsa/ordo yaitu : Bangsa Pennales dan bangsa Centrales.
 Ordo Centrales
Hidup dalam laut, merupakan salah satu penyusun plankton. diatom yang
mempunyai bentuk radial simetri. Centrales terlihat dari atas (Valve view) dapat
berbentuk lingkaran kadang segitiga. Sedang kenampakan samping (girdle view) bagian
overlap terlihat. Memiliki alur yang memusat (central) pada permukaan cawannya. Hal
ini berkaitan dengan cara hidupnya yakni supaya memudahkan untuk melayang di dalam
air, terdapat alat-alat melayang yang berupa duri atau sayap, atau dengan perantaraan
lender. Perkembangbiakannya dapat membelah diri, oogami, serta pembentukan
auksospora. Contoh : Melosira dan Cyclotella.
 Ordo Pennales
Alga kersik yang memiliki alur ke arah yang menyirip (pinnae), berbentuk
batang, seperti perahu atau pahat. Diatom yang mempunyai bentuk bilateral
simetri. Terlihat dari atas dapat berbentuk garis, lancet, elip atau ovoid. Organisme ini
bergerak merayap maju mundur, yang mungkin karena pergeseran anatra alas dan arus
plasma ekstraseluler pada rafe. Organisme ini pula biasanya melekat pada tumbuh-
tumbuhan air. Perkembangbiakan seksual berlangsung dengan cara isogami. Contoh :
Pinnularia dan Navicula.
Berdasarkan cara hidupnya diatom dikelompokkan menjadi dua kelompok besar,
yaitu :
 Diatom Bentos
Diatom bentos pada umumnya hidup bercampur dengan lumpur atau menempel
pada substrat di dasar perairan, misalnya Cymbella, Gomphonema,
Cocconeis, dan Eunotia.
 Diatom Plankton
Diatom plankton biasanya hidup melayang-layang bebas di perairan, baik air
tawar maupun air laut. Di air tawar diatom dapat ditemukan di sungai, danau, kolam,
rawa-rawa, dan ada juga yang bisa ditemukan di perairan yang suhunya mencapai 45 0C.
Beberapa diatom hidup sebagai epifit pada alga lain atau tanaman air
 Ordo Achnanthales
 Ordo Bacillariales
 Ordo Cymbellales
 Ordo Eunotiales
 Ordo Fragilariales

Synedra filiformis Diatoma vulgare


 Ordo Mastogloiales
 Ordo Naviculales
Navicula gysingensis
 Ordo Rhopalodiales
 Ordo Surirellales
 Ordo Thalassiosiraales

Daftar Rujukan
Irnaningtyas. 2013. Biologi untuk SMA/MA Kelas X. Kelompok Peminatan Matematika dan
Ilmu Alam. Jakarta: Erlangga. Hal: 187-201
Nuraeni, Eni. Panduan Praktikum Chrysophyta Mata Kuliah Botany Cryptogamae. Jurusan
Biologi Universitas Pendidikan Indonesia.
Saptasari, Murni dkk. 2007. Buku Ajar Botani Tumbuhan Bertalus Alga. Jurusan Biologi
Universitas Negeri Malang
Widayati, S., S. N. Rochmah dan Zubedi. 2009. Biologi : SMA dan MA Kelas X. Pusat
Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 290.