Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH

PROTISTA MIRIP JAMUR


OOMYCOTA DAN MYOMYCOTA

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Protista


Yang dibina oleh Ibu Sitoresmi Prabaningtyas, S.Si, M.Si

Disusun oleh :
Kelompok 4 Offering A 2016

1. Amalia Nur latifah (160341606001)


2. Dliya Amaliya (160341606104)
3. Naelly Hesty Koesnaeny (160341606054)
4. Rosita Andria Dewi (160341606004)
5. Yanang Surya Putra Hardyanto (160341606061)

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
April 2017
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Protista selain terbagi menjadi protista mirip hewan dan protista mirip tumbuhan, juga
ada protista mirip jamur. Dikatakan protista mirip jamur, karena memiliki ciri-ciri yang mirip
dengan jamur (Fungi), contohnya adalah morfologi dan cara reproduksinya secara umum.
Protista mirip jamur dan fungi sama-sama hidup di tempat yang lembab, hasil
perkembangbiakan aseksualnya akan menghasilkan spora, dan keduanya juga sama-sama
tidak memiliki klorofil sehingga bersifat heterotrof.
Meskipun demikian, secara mendetail dan terperinci,struktur tubuh dan karakteristik
dari cara reproduksi antara protista mirip jamur dan Fungi sangatlah berbeda. Misalnya saja,
meskipuncara reproduksi nya hampir sama, protest mirip jamur tetap tidak dapat
dikelompokkan dalam kingdom fungi karena gerakan pada fase aseksualnya lebih mirip
dengan amoeba. Sementara itu pada beberapa jenis protista mirip jamur seperti jamur air,
strukturnya lebih mirip ganggang, hanya saja tidak mengandung klorofil.
Perbedaan mendasar antara protista mirip jamur dengan fungi yaitu:1) zigot protista
mirip jamur dapat bergerak dengan menggunakan flagella atau kontraksi sel (zigot bersifat
motil), sedangkan pada Fungi zigotnya cenderung tidak bergerak (motil); 2) dinding sel
protista mirip jamur ( Filum Oomycota) disusun oleh selulosa, sedangkan pada jamur sejati
disusun oleh zat kitin; 3) protista mirip jamur memiliki struktur membrane yang lebih mirip
dengan ganggang. Selain perbedaan tersebut, karakteristik dari protista mirip jamur yaitu: 1)
pada tahap reproduksinya, mereka membentuk spora diploid dan hasil meiosis berupa gamet,
pada jamur air menghasilkan zoozpora; 2) makanan dicerna secara fagosit.
Protista mirip jamur terbagi menjadi 3 filum yaitu filum myxomycota ( jamur lendir
plasmodial), filum acrasiomycota ( jamur lendir selular), filum oomycota ( jamur air). Ketiga
filum tersebut memiliki karakteristik dan keunikan masing-masing. Pada makalah ini, yang
dibahas adalah Oomycota dan Myxomycota.

RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu Oomycota dan bagaimana Oomycota ditinjau dari klasifikasi, ciri-ciri, habitat,
cara mendapatkan makanan, dan cara reproduksinya?
2. Apa itu Myxomycota dan bagaimana Myxomycota ditinjau dari klasifikasi, ciri-ciri,
habitat, cara mendapatkan makanan, dan cara reproduksinya?
TUJUAN
1. Mengetahui habitat, ciri-ciri, klasifikasi, cara mendapatkan makanan, serta siklus hidup
dari Filum Oomycota.
2. Mengetahui habitat, ciri-ciri, klasifikasi, cara mendapatkan makanan, serta siklus hidup
dari Filum Myxomycota.

PEMBAHASAN

1. OOMYCOTA
Kelompok ini mencakup jamur air (water mold), karat putih (white rust), dan
embun tepung ( downy mildew ). Berdasarkan morfologinya, organism – organisme
ini sebelumnya di klasifikasikan sebagai fungi. Karena banyak oomycota memiliki
filament multinukleat ( hifa ) yang menyerupai hifa fungi. Tetapi banyak perbedaan
antara oomycota dan fungi. Misalnya Oomycota mempunyai dinding sel yang terbuat
dari selulosa, sementara dinding fungi terutama terdiri dari polisakarida yang lain
yaitu kitin. Data dari sistematika molekuler menegaskan bahwa oomycota tidak
berkerabat dekat dengan fungi. Oomycota mendapatkan nutrient sebagai pengurai
atau parasit.
Semua anggota dari oomycota atau jamur air hidup sebagai parasit dan
saproba (suatu organisme yang hidup dengan memakan material organisme lain yang
telah mati), sehingga sebagian besar menjadi pathogen penyebab penyakit (Fry,
2010). Oomycota merupakan pengurai yang tumbuh sebagai massa yang menyerupai
kapas pada alga dan hewan yang telah mati, terutama di habitat air tawar. Karat putih
dan embun tepung umumnya hidup di darat sebagai parasit tumbuhan. Jamur tersebut
mengambil makanan dengan memasukkann hifa ke dalam jaringan inang,
mengeluarkan enzim pencerna dan kemudian menghisap larutan hasil pencernaan
(Sito, 2017).

A. Habitat
Kebanyakan jamur air merupakan pengurai yang tumbuh sebagai massa yang
menyerupai kapas pada alga dan hewan yang telah mati, terutama di habitat air
tawar. Karat putih dan embun tepung umumnya hidup di darat sebagai parasit
tumbuhan. Jamur tersebut mengambil makanan dengan memasukkan hifa ke
dalam jaringan inang, mengeluarkan enzim pencerna dan kemudian menghisap
larutan hasil pencernaan. Jika persediaan makanan banyak dan kondisi lingkungan
menguntungkan, jamur air akan melakukan reproduksi aseksual. Pada reproduksi
ini, ujung hifa membengkak, disebut zoosporangium. Di dalam zoosporangium
akan terbentuk zoospora berflagela dua. Jika keadaan lingkungan memburuk,
jamur air akan memulai reproduksi seksual

B. Ciri-Ciri
 Benang-benang hifa tidak bersekat melintang(senositik) sehingga didalamnya
di jumpai inti dalam jumlah banyak.
 Dinding selnya terdiri dari selulosa.
 Melakukan reproduksi aseksual dengan membentuk zoospore yang memiliki 2
flagela untuk berenang di dalam air.
 Melakukan reproduksi secara seksual dengan membentuk gamet (sel kelamin)
setelah fertilisasi akan terbentuk zigot yang tumbuh menjadi oospora. Nama
divisi Oomycota diambil dari cirri jamur ini yang dapat menghasilkan
oospora. Oospora adalah spora yang dibentuk oleh zigot yang berdinding
tebal, dan setelah itu terjadi fase istirahat. Dinding tebal itu digunakan sebagai
perlindungan. Jika kondisi memungkinkan, spora akan tumbuh menjadi hifa
baru. Contoh dari jamur ini adalah Saprolegnia, Phytophthora, Pythium.

C. Kasifikasi
Klasifikasi awal menempatkan Oomycetes (secara harafiah berarti "jamur
telur") sebagai kerabat jamur karena penampilannya yang mirip miselia. Namun
demikian, ada beberapa ciri yang unik yang berbeda dari fungi lainnya. Oomycetes
memiliki dinding sel yang tersusun dari selulosa, berbeda dari fungi, yang tersusun
dari kitin, sehingga ia lebih dekat pada alga dan tumbuhan. Dalam fase vegetatif dari
pergiliran keturunannya, sel-selnya memiliki inti diploid, padahal fungi memiliki inti
haploid. Berdasarkan kajian biologi molekuler, organisme ini ternyata berhubungan
lebih dekat dengan alga coklat dan diatom daripada dengan fungi, sehingga
digolongkan dalam filum Heterokontophyta. Nama ini berasal dari tahap sel motil
(bergerak) yang berciri memiliki dua flagella tidak sama panjang. Beberapa anggota
Oomycetes memproduksi spora aseksual yang disebut zoospora. Mereka juga
memproduksi spora seksual yang disebut oospora (Webster dan Weber,2007).
Oomycota dibagi menjadi beberapa ordo, antara lain :
1. Lagenidiales
Bersifat akuatik parasit pada alga dan hewan renik yang hidup di air.
Perkembangbiakan seksual berlangsung dengan gametangiogami. Talus terdiri
atas satu sel atau hifa tidak bercabang atau bercabang sedikit, diantara sel-sel hifa
ada yang berubah menjadi gametangium dan sporangium.
Contohnya Lagenidium giganteum pada nematoda, larva nyamuk dll.
2. Leptomitales
Leptomitales bisa dijumpai pada air tercemar.
Contohnya Leptomitus lacteus.
3. Rhipidiales
Eukarpik dengan rhizoid dan reproduksi menggunakan zoospora, dan oospora.
4. Saprolegniales

Gambar 1.C.4.1 Saprolegnia sp Gambar 1.C.4.2 Saprolegnia sp

Jamur ini terdapat di semua jenis perairan air tawar terutama yang
mengandung banyak bahan organik. Jamur hidup sebagai saprofit pada
jaringan tubuh, merupakan penyakit sejati, karena jamur tidak dapat
menyerang ikan-ikan yang betul-betul sehat, melainkan menyerang ikan-ikan
yang sudah luka atau lemah. Tanda adanya jamur ini terlihat sebagai serabut
putih seperti kapas yang tumbuh pada bagian tubuh ikan yang luka. Ikan yang
diperlakukan kurang cermat waktu penangkapan dan pengangkutan sering
menderita luka-luka yang kemudian tumbuh jamur. Jamur ini dapat tumbuh
pada selang suhu 0 – 35 °C, dengan selang pertumbuhan optimal 15 – 30
°C. Pada umumnya, Saprolegnia akan menyerang bagian tubuh ikan yang
terluka, dan selanjutnya dapat pula menyebar pada jaringan sehat
lainnya. Saprolegnia merupakan jamur yang berfilamen, organisme tidak
bersekat koenositik) yang hidup pada habitat air tawar dan untuk mendapatkan
makanan mereka hidup secara saprofit atau parasit. Ciri lain yang dimiliki oleh
Saprolegnia adalah memiliki sporangium yang berdiameter 100 mikron, lebih
lebar dari hifanya. Miseliumnya berkembang di dalam substrat, sedangkan
yang terlihat di luar substrat berfungsi untuk perkembangbiakan. Jika kita
amati jamur ini dengan mikroskop, dibagian ujung miseliumnya akan tampak
sporangium yang menghasilkan zoospora. Ordo saprolegniales dibagi menjadi
2 famili yaitu Saprolegniaceae (contoh : Achyla, Saprolegnia, Brevilegnia)
dan Leptolegniaceae (contoh : Plectospira, Leptolegnia). Saprolegniales
dikenal sebagai kelompok jamur akuatik dan mempunyai habitat di tanah
lembab, tepian danau, air tawar, dan bersifat saprofit pada sisa-sisa tanaman
dan hewan. Kelompok saprolegniales mempunyai morfologi yang kasar, hifa
keras dan bercabang menghasilkan tipe miselium tumbuh dengan cepat (fast-
growing). Hifa saprolegniales bersifat coenocytic, adanya lapisan di sekitar
sitoplasma mengelilingi vakuola sentral.
Contohnya Saproglenia, Brevilegnia, Achyla.
5. Pythiales
Ordo pythiales dibagi menjadi dua famili, yaitu pythiaceae dan
pythiogetonaceae. Pythiogetonaceae merupakan kelompok kecil dari saprofitik
aquatik, mempunyai habitat di sedimen dasar air tawar maupun danau dengan
ketiadaan oksigen, serta bersifat fakultatif anaerob. Contoh kelompok
pythiogetonaceae yaitu Pythiogeton zeae yang dapat menyebabkan busuk akar
dan batang pada jagung. Kelompok besar dari pythiales adalah famili
pythiaceae, sebagai contoh Pythium dan Phytophthora. Phytophthora
merupakan kelompok patogenik pada tanaman sedangkan Pythium, kelompok
saprofitik tanah yang dapat bersifat patogen pada tanaman muda (contoh :
Pythium sp.). Pythium mempunyai kemampuan parasit yang lebih luas
daripada Phytophthora, mencakup parasit pada mamalia, jamur dan alga.
6. Peronosporales
Merupakan water mold yang bersifat patogen biotrofik obligat dan tidak dapat
hidup terpisah tanpa inang, menginfeksi pada tumbuhan tingkat tinggi. Ordo
Peronosporales dapat dibagi menjadi dua famili yaitu Peronosporaceae (contoh
: Peronospora, Plasmopara, Bremia) and Albuginaceae (contoh : Albugo)
(Rogers dan Kara, 2011).
D. Cara Mendapat Makanan
Anggota dari oomycota atau jamur air hidup sebagai parasit dan saproba
(suatu organisme yang hidup dengan memakan material organisme lain yang telah
mati), sehingga sebagian besar menjadi pathogen penyebab penyakit (Fry, 2010).
Oomycota merupakan pengurai yang tumbuh sebagai massa yang menyerupai
kapas pada alga dan hewan yang telah mati, terutama di habitat air tawar. Karat
putih dan embun tepung umumnya hidup di darat sebagai parasit tumbuhan.
Jamur tersebut mengambil makanan dengan memasukkann hifa ke dalam jaringan
inang, mengeluarkan enzim pencerna dan kemudian menghisap larutan hasil
pencernaan (Sito, 2017).
E. Siklus Hidup

Gambar 1.E.1 Daur Hidup Oomycota

Dalam fase vegetatif dari pergiliran keturunannya, sel-selnya memiliki inti


diploid, padahal fungi memiliki inti haploid. Berdasarkan kajian biologi molekuler,
organisme ini ternyata berhubungan lebih dekat dengan alga coklat dan
diatom daripada dengan fungi, sehingga digolongkan dalam filum heterokontophyta.
Nama ini berasal dari tahap sel motil (bergerak) yang berciri memiliki dua
flagella tidak sama panjang. Beberapa anggota Oomycetes memproduksi spora
aseksual yang disebut zoospora. Mereka juga memproduksi spora seksual yang
disebut oospopra.
1. Reproduksi Aseksual
Bermula dengan adanya zoosporangium (2n) yang berada pada ujung hifa yang
terbentuk dari benang atau hifa yang membengkak. Di dalam sporangium
tersebut, dihasilkan spora yang berflagella yang disebut zoospora (2n). Ketika
zoospora matang dan jatuh di tempat yang sesuai, maka akan berkecambah dan
tumbuh menjadi mycelium baru. Namun jika lingkungan yang tidak
memungkinkan, maka Zoospora ini kemudian membentuk sista (2n) untuk
bertahan hidup.
2. Reproduksi Seksual
Reproduksi ini terjadi dengan cara oogami. Di dalam oogonium dibentuk sel
telur, sedangkan di dalam anteridium tidak terbentuk sel sperma, tetapi terdapat
banyak inti. Jika anteridium bersentuhan/menempel dengan oogonium akan
menghasilkan saluran fertilisasi yang akan menembus oogonium dan
menyediakan jalan bagi perpindahan inti. Pembuahan oosfer (sel telur)
menghasilkan zigot. Zigot mempunyai dinding tebal dan tahan terhadap kondisi
yang tidak menguntungkan, seperti udara dingin dan kekeringan. Zigot akan
berkembang menjadi oospora. Setelah mengalami fase istirahat, intinya
mengalami reduksi dan selanjutnya tumbuh menjadi individu baru. Dimana
individu baru ini mula-mula berinti empat, tetapi selanjutnya berinti banyak.
Selanjutnya zigot mengalami germinasi/ perkecambahan untuk terjadinya
pembebasan zigot yang dapat mengalami pembelahan meiosis untuk
menghasilkan individu-individu lainnya.
Ciri-ciri dari Oomycota adalah sebagai berikut :
a. Saprolegnia
Jamur ini hidup saprofit pada bangkai ikan dan bangkai serangga, baik di
darat maupun di air. Miselium vegetatifnya berkembang didalam
substrat dan bertugas sebagai miselium reproduktif.
Gambar 1.E.2. Siklus Hidup Saprolegnia
F. Peranan
 Saprolegnia sp., parasit pada ikan dan serangga, dapat hidup di air tawar
dengan suhu sekitar 3 0C – 33 0C. Terdapat beberapa spesies, antara lain
Saprolegnia australis dan Saprolegnia ferax.
 Phytophthora sp., di antaranya Phytophthora infestans (penyebab penyakit
late blight, menyerang tanaman budidaya, misalnya tomat dan kentang),
Phytophthora palmivora (parasit pada kelapa), Phytophthora sojae (parasit
pada tanaman kedelai), dan Phytophthora nicotianae (parasit pada tembakau).
 Plasmopara viticola, parasit pada tanaman anggur.
 Pythium sp., menyebabkan penyakit rebah semai pada tanaman karena
menyerang bagian pangkal batang bibit tanaman.
MYXOMYCOTA (JAMUR LENDIR)

Gambar 2.1Myxomycota
Myxomycota merupakan jamur lendir yang tidak bersekat. Jamur ini berinti
banyak, setiap intinya tidak dipisahkan oleh adanya sekat, bersifat uniseluler maupun
multiseluler,dan dapat bergerak bebas. Banyak yang berwarna cerah, seringkali kuning
atau jingga. Pada satu tahap dalam siklus hidupnya (Dwidjoseputro, D. 1978).
A. Habitat

Gambar 2.A.1 Jamur Lendir yang di biakkan di cawan.

Habitat myxomycota biasanya berada di hutan-hutan basah, tanah lembab,


batang kayu yang membusuk, kayu lapuk, dan sampah basah (Dwidjoseputro, D.
1978). Habitat myxomycota adalah di tempat yang lembab atau bahkan basah seperti,
kayu busuk, tanah lembab, sampah basah, hutan basah, daun mati, dapat juga di pada
benda-benda organik. Organisme yang termasuk Myxomycetes dapat ditumbuhkan
diatas media agar Tubuh jamur lender berupa plasmodium yang merayap secara
amoeboid pada substrat. Plasmodium adalah gumpalan plasma dengan banyak inti
yang di batasi oleh membrane. Pada jenis tertentu berwarna kuning , jingga merah,
warna tersebut umumnya disebabkan oleh pigmen yang dihasilkan oleh plasmodium.
Protoplasma pada plasmodium dapat dibedakan menjadi dua zona. Zona terluar lebih
kokoh dan mengandung sedikit cairan disebut ektoplasma. Protoplasma bagian dalam
mempunyai lebih banyak cairan di sebut endoplasma.

Gambar 2.A.2 Habitat Myxomycota

B. Ciri-Ciri
Myxomycota memiliki ciri-ciri dan karakteristik lain yang membedakan dengan
protista mirip jamur lainnya. Adapun ciri-ciri dan karakteristik dari myxomycota
antara lain:
 Tubuhnya berbentuk lendir, sehingga disebut jamur lendir
 Organisme yang termasuk Myxoycota dapat ditumbuhkan diatas media agar
 Makanannya berupa bakteri, miselium, potonga agar, atau miksoamoeba haploid.
Makanan dicerna dalam vakuola atau dengan menggunakan enzim yang
disekresikannya.
 Spora dapat berkecambah dalam air atau substrat basah menjadi sel kembar yng
disebut
 miksoflagellata
 Dalam keadaan vegetative tubuhnya berupa masa protoplasma telanjang yang
bergerak sebagai ameba disebut plasmodium. Plasmodium akan membentuk
sporangiumyang menghasilkan spora.
 Amebazigot degan sesamanya dapat bersatu menjadi plasmodium yangbesar
dengan banyak inti. Plasmodium tidak pernah embentuk sekat-sekat, jadi hanya
berupa kumpulan protoplas yang menjadi satu.
 Makanan cadangan berupa glikogen.
 Myxomycota hidup di tanah-tanah hutan, di atas daun-daun yang gugur, dalam
kayu yang sudah lapuk atau merayap kemana-mana.
 Mycomycota dapat bergerak secara kemotaksis, hidrotaksis, dan fototaksis
negative (Dwidjoseputro, D. 1978).
C. Klasifikasi
Sub Divisi Myxomycotina dibagi menjadi 3 Kelas yaitu : Pseudomyxomycetes,
Plasmodiophoromycetes, dan Myxomycetes
1. Kelas Pseudomyxomycetes
Oraganisme yang masuk dalam klas ini di alam bebas tidak mudah dikenal,
karena tubuh-tubuhnya hanya tampak sebentar saja, karena kecilnya talus pada tahap
vegetative, dan biasanya karena keseluruhannya kurang menarik perhatian.
Pada tahap vegetatif Pseudomyxomycetes terdiri atas satu sel yang tidak
berdinding, sedang intinya satu haploid. Sel ini berupa satu tetes protoplasma mirip
dengan suatu amoeba dan oleh karena itu disebut miksamuba. Makanannya pun mirip
dengan apa yang dimakan amoeba, yaitu bakteri dan zat-at organic lainnya.
Pseudomyxomycetes tidak menghasilkan sel yang berflagel, cara bergeraknya
miksamuba sama dengan bergeraknya amoeba.
Pada suatu waktu tertentu miksamuba-miksamuba berkumpul menjadi satu
kelompok lendir, namum tiap-tiap sel masih tetap tampak sendiri-sendiri. Oleh karena
itu, kelompok lendir ini tidak merupakan suatu plasmodium, melainkan
pseudoplasmodium. Klas Pseudomyxomycetes dibagi menjadi dua ordo yaitu Ordo
Acrasiales dan Ordo Labyrinthulales (Dwidjoseputro, D. 1978).
a. Ordo Acrasiales
Tubuh buah Acrasiales disebur sorokarp, yaitu suatu bentuk yang
terdiri atas suatu himpunan “buah-buah”. Pada Guttulinopsis tumbuhan itu
kecil, hanya tampak jelas jika dilihat dengan mikroskop. Pada
polysphondylium tubuh buah itu bercabang-cabang dan besarnya sampai lebih
dari 1 cm. Pada beberapa spesies tertentu sorokarp itu sederhana, terdiri atas
satu tangkai yang membawakan satu kelompok spora diujungnya. Pada
beberapa spesies yang lain sporokarp bercabang-cabang, dan pada tiap ujung
cabang terdapat satu kelompok spora (Dwidjoseputro, D. 1978).
Oskar Brefeld (1869), seorang ahli jamur bangsa Jerman, adalah
sarjana pertama yang membicarakan jamur lendir bersel. Organisme yang
disebut ialah Dictyostelium mucoroides. E.W. Olive (1902) menyusun
monografi tentang jamur lendir bersel ini. Perhatian tentang jamur ini
bertambah terus-menerus dan Bonner (1959) menghimpun hasil penelitian
para ahli selama setengah abad dalam bukunya “The Cellular Slime Molds”
(1959) (Dwidjoseputro, D. 1978).
Siklus hidup Acrasiales berawal dari spora yang terlepas dari sorokarp
dan berkecambah menjadi bentuk serupa amoeba (miksamuba). Miksamuba
ini berkembangbiak, dan keturunannya tetap berkelompok sehingga
terbentuklah suatu kelompok protoplasma dengan banyak inti. Masing-masing
inti adalah haploid. Berhubung batas antara amuba-amuba tetap ada, maka
kelompok protoplasma itu merupakan apa yang telah disebutkan di depan,
yaitu pseudoplasmodium. Pseudoplasmodium yang kecil-kecil berkerumun
dan bergabung menjadi pseudoplasmodium yang besar disuatu tempat tertentu
(Dwidjoseputro, D. 1978).
Bentuk sorokarp berbeda-beda menurut spesiesnya, dan berdasarkan
perbedaan itu ordo Acrasiales diklasifikasikan sebagai berikut. Ordo
Acrasiales dibagi atas 4 famili, yaitu :
 Famili Sappiniaceae dengan sorokarp yang sederhana. Kepala sorokarp
berupa gada. Antara tangkai dan kepala tidak tampak batas yang jelas.
Genus Sappinia mempunyai 1 spesies.
 Famili Guttulinaceae dengan sorokarp berupa bola atau serupa gelembung.
Antara tangkai dan kepala tampak batas yang jelas. Sebagai contoh ialah :
Guttulina dengan 4 spesies, Guttulinopsis dengan 3 spesies, Acrasis
dengan 2 spesies.
 Famili Acytosteliaceae dengan sorokarp yang tidak terdiri atas sel. Pada
pangkal tangkai terdapat semacam kepingan sebagai landasan. Contoh dari
famili ini ialah : Protostelium dengan 1 spesies, Acytostelium dengan 1
spesies.
 Famili Dictyosteliaceae dengan sorokarp yang langsing. Tangkai panjang,
tunggal atau majemuk, bercabang-cabang lateral atau diujung. Pangkal
tangkai serupa kepingan atau serupa bongkol. Kepala sorokarp kecil,
serupa bola. Contonya adalah : Dictyostelium dengan 6 spesies,
Polysphondylium dengan 2 spesies, dan Coenonia dengan 1 spesies
(Dwidjoseputro, D. 1978).
b. Ordo Labyrinthulales
Labyrinthulales adalah ordo kecil terdiri atas organisme-organisme
penghuni perairan (terutama laut) maupun darat. Organisme ini boleh
dianggap sebagai koloni dari sel-sel yang bentuknya serupa kumparan atau
serupa telur. Sel-sel itu tidak berinding, dan tiap sel berinti satu. Sel-sel
tersebut terhimpun menjadi satu kelompok oleh benang-benang dari lendir,
dan sel-sel dapat bergerak lewat benang-benang tersebut. Benang-benang
merupakan suatu jaring-jaring tempat koloni bersemayam (Dwidjoseputro, D.
1978).
Kebanyakan Labyrinthulales hidup dilaut sebagai parasit pada bangsa
ganggang, misalnya Ulva, atau pada tumbuhan tinggi seperti Zostera, suatu
rumput laut. Dari semua spesies yang sudah diketahui hanya Labyrinthula
minuta yang sel-selnya berbentuk seperti telur, lainnya mempunyai sel-sel
berbentuk kumparan. Dari Labyrinthula algeriensis diketahui, bahwa
organisme ini menghasilkan zoospora yang berflagel 2 tak sama panjang. Sel-
selnya berinti satu, dalam inti terdapat nukleolus. Sel membelah diri secara
mitosis, sedang arahnya transversal. Sejumlah sel berkelompok di suatu
tempat tertentu dalam jaring-jaring lendir. Tiap sel membesar dan berubah
menjadi sporosit yang mengandung enam, delapan, atau lebih spora. Spora-
spora ini berselaput lendir dan berflagel dua. Setelah terlepas dari sporosit,
spora tersebut berenang-renang sebentar, lalu menanggalkan flagel serta
membelah diri berkali-kali hingga terbentuk satu koloni baru. Selaput spora
berkembang menjadi benang-benang lendir (Dwidjoseputro, D. 1978).

Sel pada Labyrinthula minuta membelah dua kali berturut-turut, yang


pertama secara membujur. Dengan demikian terjadi satu kelompok yang
terdiri atas 4 sel. Keempat sel ini kemudian berceraian dan masing-masing
membelah diri lagi seperti diuraikan di atas.Ordo Labyrinthulales terdiri atas 4
genus dengan 11 spesies. Genus yang terkenal ialah Labyrinthula dengan
contoh-contohnya Labyrinthula minuta, L. algeriensis, L.vitellina, L.
macrocystis. Kebanyakan hidup di laut. Ordo yang terkenal kedua ialah
Labyrinthorhiza. Pada umumnya Labyrinthoriza adalah penghuni air tawar.
(Dwidjoseputro, D. 1978).
2. Kelas Plasmodiophoromycetes
Jamur-jamur yang dikelompokkan dalam kelas ini memiliki banyak persamaan
dengan jamur Myxomyetes, misalnya talus berupa plasmodium, dan adanya zoospora.
Kelas ini hanya terdiri dari satu ordo saja, yaitu ordo Plasmodiophorales, dan ordo ini
terdiri dari satu famili saja, yaitu famili Plasmodiophoraceae. Famili ini terdiri atas 9
genus, yang dibedakan dari yang lainnya berdasarkan sifat spora istirahat. Ke 9 genus
itu ialah Plasmodiophora, Spongospora, Sorodiscus, Sorophaera, Ligniera, Etramyxa,
Octomyxa, Polymyxa, dan Woromina (Dwidjoseputro, D. 1978).
Kebanyakan dari genus-genus ini hidup sebagai parasit pada ganggang
Vaucheria, atau pada jamur air Saprolignea, Achlia, dan Pythium. Beberapa spesies
hidup sebagai parasit pada tumbuhan berpembuluh yang hidup di air tawar atau
didarat seperti kol, kentang, dll. Dua spesies, yaitu Plasmodiophora brassiceae dan
Spongospora subterranea, dibicarakan disini karena peranannya bagi kesejahteraan
manusia. Yang pertama adalah parasit pada Cruciferaae, sedang yang kedua adalah
penyebab kudis kentang (Dwidjoseputro, D. 1978).
Talus berupa plasmodium yang hidup dalam sel inang. Plasmodium
menghasilkan zoosporangium yang mengandung zoospora, atau langsung membagi-
bagi diri menjadi spora istirahat berinti satu. Pada beberapa spesies, spora-spora
istirahat terhimpunmenjadi suatu bola atau cakram tanpa ada tubuh buah. Tiap spora
istirahat kemudian menghasilkan 1 sel kembara. Baik sel kembara maupun zoospora
mempunyai 2 flagel polos yang tidak sama panjangnya. Pembelahan inti dalam fase
plasmodium berlangsung menurut suatu cara yang hanya kedapatan pada protozoa.
Tiap-tiap inti membelah diri dengan membentuk gelendong, sedikit demi sedikit
bercerai kromosom-kromosom dari bidang equator menuju kutub yang berdekatan.
Sementara itu, nukleolus membagi diri atas 2 bagian dan bagian-bagian itu bergerak
mengikuti gerakan kelompok kromosom yang menuju ke kutub (Dwidjoseputro, D.
1978).
Seringkali dikatakan, bahwa pada suatu ketika datang fase tanpa inti
(akaryotik). Kemudian, spora istirahat tumbuh menghasilkan 1 sel kembara berinti 1,
berflagel 2 tak sama. Kemudian sel kembara masuk kedalam inang dan tumbuh
menjadi plasmodium. Pada suatu waktu, plasmodium membagi diri menjadi
zoosporangium yang biasanya berinti banyak. Zoosporangium menghasilkan
zoospora-zoospora yang haploid. Ada kalanya plasmodium membagi dirinya menjadi
spora istirahat. Bentuk spora istirahat tidak dapat dibedakan dengan zoosporangium
kecuali zoosporangium sedang menghasilkan spora (Dwidjoseputro, D. 1978).
3. Kelas Myxomycetes
Berdasarkan ciri-ciri yang khas, maka setengah ahli menyebutnya Mycetozoa
(kata Yunani Mykes = Jamur, Zoon = Hewan) dalam siklus hidup organisme-
organisme tersebut terdapat tahap atau fase yang serupa dengan kehidupan protozoa,
berseling dengan tahap atau fase yang mirip dengan kehidupan jamur biasa. Setengah
ahli yang lain menamakan kelompok organisme ini Myxomycetes (kata Yunani Myxa
= lendir, Mykes = jamur) atau jamur lendir, dan pada fase lain tampaknya seperti
jamur. Makanan jamur lendir yaitu bakteri, protozoa, dan mikroorganisme yang lain.
Dalam hal ini dapat dikatakan mereka membantu manusia dalam “pembersihan”
lingkungan. Di samping itu, jamur lendir berguna sebagai bahan studi protoplasma
dan morfogenesis dalam laboratorium (Dwidjoseputro, D. 1978).
Jamur lendir hidup bebas, dan dalam fase lendir dapat berpindah-pindah
dengan menjulur ke tempat-tempat lain yang mengandung banyak makanan. Dalam
siklus hidupnya terdapat fase vegetatif yang diseling dengan fase generatif. Dalam
fase vegetatif bentuknya serupa seonggok lendir (protoplasma) tak berdinding, dan
menjulur kemana-mana seperti amoeba. Dalam fase generatif bentuknya tetap dan
terpaku pada suatu tempat tertentu. Bentuk itu adalah tubuh buah dimana spora-spora
kembara dibentuk. Kebanyakan jamur lendir menghasilkan tubuh buah yang cerah
warnanya. Tubuh buah itu berdinding (peridium). Fase pembentukan tubuh buah
dengan spora itu disebut fase generatif atau fase pembiakan (Dwidjoseputro, D.
1978).
Kelas Myxomycetes dibagi menjadi 6 ordo berdasarkan cara pembentukan
spora, warna spora, bentuk tubuh buah, dan kadar kapur yang dikandung tubuh buah.
Keenam ordo itu ialah Ceratiomyxaes, Liceales, Trichiales, Echinosteliales,
Stemonitales, dan Physarales (Dwidjoseputro, D. 1978).
a. Subklas Ceratiomyxomycetidae (Exosporae)
Subklas ini terdiri dari satu ordo, yaitu Ceratiomyxales. Dengan satu
famili yaitu Ceratiomyxaceae, dan satu genus yaitu Ceratiomyxa. Dari genus
ini dikenal 3 spesies, dan Ceratiomyxa fruticulosa adalah yang paling terkenal.
Siklus hidupnya berbeda dengan siklus hidup Myxomycetes yang lainnya.
Tubuh buah berwarna putih, banyak bercabang. Spora istirahat terdapat pada
permukaan tubu buah yang bercabang-cabang tanpa tertutup oleh peridium,
itulah sebabnya ada penamaan Exosporae (Dwidjoseputro, D. 1978).
b. Subklas Myxogastromycetidae (Myxogastres)
Jika keadaan menguntungkan untuk Myxogastres, tiap spora
menghasilkan satu sampai empat spora kembara. Spora kembara dapat
berfungsi sebagai gamet dan segera mengadakan perkawinan, atau spora
kembara dapat kehilangan flagel dulu, lalu mengalami pembelahan diri
beberapa kali, dan akhirnya mengadakan perkawinan. Plasmogami segera
diikuti dengan karyogami. Zigot yang semula berflagel dan kemudian
kehilangan flagelnya, atau dari semula tidak berflagel sama sekalii, hal ini
bergantung kepada gamet yang mengadakan perkawinan. Zigot membesar
dibarengi dengan pembelahan inti secara mitotik, dan dengan demikian
terbentuklah plasmodium dengan banyak inti yang diploid. Plasmodium dapat
juga terbentuk karena persatuan beberapa zigot, dan dalam perkembangannya
terus dapat menampung zigot atau plasmodium lainnya (Dwidjoseputro, D.
1978).
Pada saat dewasa maka plasmodium mengental dan menjadi tubuh
buah. Inti-inti mengadakan meiosis sehingga terbentuklah inti-inti haploid dan
kemudian tiap inti haploid terkelilingi oleh sekelumit protoplasma dengan
dinding yang tebal. Demikianlah bentuk spora. Mengenai pembiakan seksual
terdapat beberapa cara yang kebenarannya masih memerlukan penelitian lebih
lanjut. Pada Didymium nigribes dan Physarum gyrosum pembiakan seksual
oleh sel-sel berflagel maupun oleh sel-sel tak berflagel. Pada Stemonitis fusca
pembiakan seksual dilakukan oleh sel berflagel dalam amorba lendir. Amoeba
lendir masuk kedalamsel berflagel dengan demikian terjadilah zigot berflagel.
Persatuan antara 2 sel kembala berlangsung dengan perpaduan ujung yang
tidak berflagel itu kemudian lenyap, dan akhirnya zigot menjadi amoeba
lendir. (Dwidjoseputro, D. 1978).
Segera setelah kapilitium terbentuk maka mulailah pembentukan spora.
Inti-inti yang diploid membelah diri secara meiosis, kemudian inti haploid
mengelilingi dir dengan sedikit protoplasma disertai dengan dinding. Spora-
spora tersebut berada di sela-sela kapilitium tetapi tak ada hubungan
dengannya. Jika peridium melenyap, barulah spora-spora dapat keluar, dibantu
dengan pengembangan kapilitium (Dwidjoseputro, D. 1978).
1. Ordo Liceales
Pada Liceales tidak ada kapilitium, tetapi mungkin ada atau tidak
ada benang-benang yang serupa itu. Martin (1949) membagi ordo ini atas
tiga famili dengan sepuluh genus yang mencakup 43 spesies. Yang
biasanya mudah diperoleh dimana-mana yaitu : Lycogala epidendrum,
Tubifera ferruginosa, dan Dictydium cancellatum (Dwidjoseputro, D.
1978).
2. Ordo Trichiales
Tubuh buah Trichiales mempunyai banyak kapilitium, jauh
berbeda dengan tubuh buah Liceales. Sporanya berwarna muda. Trichiales
terdapat dimana-mana, terutama pada kayu-kayuan yang sudah mati.
Hemitrichia, Trichia, dan Arcyria terdapat di daerah sub-tropik di musim
semi sampai musim gugur. Hemitrichia clavata terdapat pada kayu-kayuan
yang telah mati. Dari genus trichia banyak dikenal Trichia scabra,
Trichia persimilis, Trichia varia. Dari genus Arcyria banyak ditemukan
Arcyri incarnata, Arcyria nutans, dan Arcyria cinerea (Dwidjoseputro, D.
1978).
3. Ordo Echinosteliales
Spora ada yang tidak berwarna, ada juga yang berwarna agak
jingga atau kuning keemasan. Dinding spora tidak halus rata, melainkan
ada penebalan-penebalan yang tidak teratur. Peridium mengalami
disintegrasi pada waktu tubuh buah masih muda, sehingga sporangium-
sporangium yang dewasa tidak terkurung dalam peridium lagi. Dua spesies
tidak mempunyai kapilitium, satu spesies mempunyai kapilitium yang
kerdil, sedang satu spesies lagi kapilitiumnya merupakan jaring-jaring.
Tiga diantara keempat spesies dapat menghasilkan plasmodium jika
dipiara dalam medium buatan dan semuanya berbentuk protoplasma. Salah
satu contoh spesiesnya yaitu Achinostelium minutum (Dwidjoseputro, D.
1978).
4. Ordo Stemonitales
Di Amerik Utara terdapat 3 famili dengan 12 genus yang
mencakup 64 spesies. Peridium maupun kapilitium tidak berkapur, akan
tetapi tangkai tubuh buah mungkin dapat mengandung kapur. Biasanya
banak kapilitium serupa benang dan berwarna abu-abu tua.
Stemonitis fusca, Stemonitis splendens, dan Stemonitis axifera yang
biasanya sering ditemui. Dari genus Comatricha nigra, Comatricha
typhoides-lah yang paling dikenal. Comatricha laxa, Comatricha elegans,
dan Comatricha cornea adalah yang biasa terdapat pada kulit pohon yang
sudah mati. Lamproderma arcyriodes mempunyai peridium yang berwarna
biru keemasan (Dwidjoseputro, D. 1978).
5. Ordo Physarales
Ordo ini mencakup Myxogastres yang tubuh buahnya mengandung
banyak kapur. Ordo ini terdiri atas dua famili dengan 12 genus yang
mencakup banyak spesies. Dari genus Physarumi dikenal 68 spesies.
Physarum viride, Physarum leucophaeum, dan Physarum leucopodium
dikenal dimana-mana. Physarum nicaraguense adalah penghuni daerah
tropik. Tipe genus yang terkenal juga ialah Badhamia, Diderma, dan
Didymium (Dwidjoseputro, D. 1978).

Jamur lendir hanya memiliki beberapa sifat yang mirip dengan jamur
sejati. Struktur vegetatif jamur lendir disebut plasmodium, yaitu massa sitoplasma
berinti banyak dan tidak dibatasi oleh dinding yang kuat. Jamur lender telah
berdivergensi menjadi dua cabang utama yaitu jamur lender plasmodial dan jamur
lendir seluler. Sebagian dibedakan oleh siklus hidupnya yang unik.
Gambar 2.C.B.1 Jamur lender yang tumbuh di kayu yang telah lapuk.

Gambar 2.C.B.2 Plasmodium , salah satu fase jamur lendir

Jamur Lendir Plasmodial


Banyak yang berwarna cerah, seringkali kuning atau jingga. Pada satu tahap
dalam siklus hidupnya , mereka membantuk massa yang disebut plasmodium yang
dapat tumbuh hingga berdiameter beberapa centimeter. Terlepas dari ukurannya,
plasmodium bukan multiseluler, ia adalah massa tunggal sitoplasma yang tidak terbagi
– bagi oleh membrane plasma dan yang mengandung banyak nucleus diploid.
“supersel” ini adalah produk pembelahan mitosis nucleus yang tidak diikuti oleh
sitokenesis.
Di dalam plasmodium, sitoplasma mengalir ke satu arah. Aliran sitoplasma ini
tampaknya membantu mengedarkan nutrient dan oksigen. Plasmodium menjulurkan
pseudopodia melalui tanah lembab, seresah dedaunan atau kayu busuk, menelan
partikel makanan mrlalui fagositosis ketika tumbuh. Jika habitat mulai mongering atau
tidak ada makanan tersisa, plasmodium tumbuh dan berdiferensiasi menjadi tubuh
buah, yang berfungsi dalam reproduksi seksual.
Gambar 2.C.B. 2 Jamur Lendir yang di biakkan di cawan.

Gambar 2.C.B.3. Siklus Hidup Jamur lender

Jamur Lendir Seluler


Siklus nhidupnya melalui fase menjadi organisme individu.Tahap mencari
makan organism ini terdiri dari sel-sel soliteryang berfungsi secara individual, namun
ketika makanan habis, sel-sel itu membentuk agregat yang berfungsi sebagai satu unit.
Walaupun masa sel-sel ini sepintas mirip jamur lender plasmodial, sel-sel tetap terpisah
oleh membrane plasma individualnya. Jamur lender seluler juga berbeda dari jamur
lender plasmodial karena merupakan merupakan organism haploid (hanya zigot yang
diploid) dan karena memiliki tubuh buah yang berfungsi dalam reproduksi aseksual
bukan seksual.
Gambar 2.C.B. 4. Siklus hidup jamur lender, dengan fase migrasi dan agregasi.

Gambar 2.C.B. 5. Fase plasmodium jamur lendir


Dictyostelium discoideum, jamur lendir seluler yang biasanya ditemukan di dasar
hutan. Dictyostelium discoideum adalah spesies mirip amoeba yang hidup di tanah.Biasa
di sebut jamur lendir . D. discoideum adalah eukaryote yang merupakan peralihan antara
amoeba yang uniseluer dan multiseluleris . D. discoideum mempunyai siklus hidup
aseksual yang unik yang terdiri dari 4 tahap.: vegetative, agregasi, migration, dan
culmination. Siklus hidup D. discoideum relatif singkat , sehingga mudah untuk
mempelajari semua tahap kehidupannya. Daur hidupnya yang sederhana menyebabkan
D. discoideum menjadi model untuk studi genetika, sel dan proses biokimia pada
makhluk hidup yang lain.

D. Cara Mendapatkan Makanan


Seluruh jamur lendir menghasilkan sel-sel yang hidup bebas pada sebagian siklus
hidupnya. Sel-sel yang hidup bebas ini disebut amoeboid karena memiliki bentuk
Amoeba. Seperti Amoeba yang sesungguhnya, jamur lendir merupakan predator fagosit.
Disebut demikian karena jamur lendir dapat menelan bakteri, miselium, potongan agar
atau miksoameba haploid. hama, spora, dan berbagai komponen organic. Makanan
dicerna dalam vakuola, atau dengan menggunakan enzim yang disekresikannya.
Makanan cadangan berupa glikogen.

E. Siklus Hidup

Jamur Lendir Plasmodial (Plasmodial Slime Mold) disebut juga Myxomycota


(jamur lendir tidak bersekat). Siklus hidup jamur lendir plasmodial adalah sebagai
berikut.

Jamur Lendir Plasmodial (Plasmodial Slime Mold) disebut juga Myxomycota


(jamur lendir tidak bersekat). Jamur lendir ini bersifat heterotrof fagosit dan memiliki
tahapan (fase) makan berbentuk massa ameboid (seperti Amoeba) dalam siklus hidupnya.

Massa ameboid tersebut dinamakan plasmodium. Namun, perlu diingat bahwa


plasmodium yang dimaksud di sini bukanlah plasmodium yang menyebabkan penyakit
malaria. Plasmodium Myxomycota merupakan massa tunggal sitoplasma yang tidak
terbagi bagi oleh membran (tidak bersekat) sehingga mengandung banyak nukleus dan
dapat tumbuh hingga diameter beberapa sentimeter.

Nukleus pada plasmodium umumnya bersifat diploid (2n) dan dapat membelah
secara mitosis secara bersamaan. Pada umumnya plasmodium berwarna cerah, kuning
atau oranye. Terkadang plasmodium berbentuk seperti jaringan untuk memperluas
permukaan tubuh sehingga dapat memperoleh makanan dan oksigen lebih banyak.

Pada fase plasmodium, jamur lendir ini memperoleh makanannya dengan cara
menjulurkan pseudopodianya ke arah makanan, kemudian makanan tersebut ditelan
(fagositosis). Makanan berupa sisa-sisa daun atau kayu yang membusuk, bakteri, atau
jamur uniseluler yang terdapat di tanah lembap dan di hutan basah. Bila habitat mulai
mengering dan makanan tidak ada, plasmodium Myxomycota berhenti tumbuh dan
mengalami diferensiasi untuk memasuki tahap reproduksi generatif. Jamur lendir
plasmodial bereproduksi secara vegetatif dengan membentuk sporangium dan
bereproduksi secara generatif dengan singami antara sesama sel ameboid atau antara
sesama sel berflagela. Terdapat sekitar 500 spesies jamur lendir plasmodial, antara lain
Physarum sp., Didymium sp., dan Fuligo septica.

Gambar 2.C.B.6. Siklus hidup Jamur Lendir Myxomycota

Siklus hidup jamur lendir plasmodial adalah sebagai berikut.

1) Plasmodium tumbuh dewasa dan membentuk jaringan agar mendapatkan makanan


dan oksigen lebih banyak.
2) Pada saat kondisi lingkungan kurang menguntungkan (misalnya saat kekeringan),
plasmodium dewasa membentuk sporangium bertangkai (stalk). Plasmodium
dewasa memiliki kromosom diploid (2n).
3) Di dalam sporangium terjadi pembelahan secara meiosis dan menghasilkan spora
yang haploid (n). Spora ini tahan terhadap kekeringan.
4) Bila kondisi lingkungan membaik, maka spora akan berkecambah membentuk sel
aktif yang haploid (n).
5) Sel-sel aktif tersebut memiliki bentuk yang berbeda dan dapat berubah menjadi sel
ameboid atau sel berflagela.
6) Terjadi singami antara sel-sel yang memiliki bentuk yang sama. Singami
menghasilkan zigot yang berkromosom diploid (2n).
7) Nukieus (inti) zigot yang diploid (2n) membelah secara mitosis tanpa disertai
pembelahan sitoplasma membentuk plasmodium pemakan yang diploid (2n).
Gambar 2.C.B.7.Siklus hidup jamur lender, dengan fase migrasi dan agregasi.

F. Peranan
Keuntungan:
- Sebagai pengurai bahan organik
- Sebagai penyubur tanah
Kerugian:
- Dapat membunuh tanaman yang belum dipanen dengan cara menghisap nutrisi
- Bisa membuat tanaman lapuk
PENUTUP
KESIMPULAN

Oomycota ( jamur air) umumnya hidup di air, bersifat saprob, dan sebagai
decomposer. Beberapa ada yang hidup sebagai parasit pada serangga atau tumbuhan. Tubuh
jamur ini berbentuk filament dan dilapisi oleh dinding sel dari selulosa. Jamur air
bereproduksi secara aseksual dengan menghasilkan zoospore (2n). zoospore bersifat motil
karena dilengkapi oleh flagella. Zoopora akan berkembang menjadi jamur air dewasa. Jika
siap bereproduksi , maka jamur air akan bermeiosis menghasilkan gamet (n).
Berbeda halnya dengan myxomycota ( jamur lendir plasmodial), memiliki struktur
vegetative berupa plasmodium. Plasmodium merupakan fase makan yang akan memakan
bakteri, jamur, dan material tumbuhan. Pada kondisi lingkungan yang tidak sesuai,
plasmodium membentuk banyak sporangium ( tubuh buah penghasil spora). Spora akan
tumbuh menjadi gamet berflagela saat kelembapan lingkungan telah sesuai. Gamet tersebut
akan bergabung dengan gamet yang lain untuk membentuk zigot kemudian tumbuh menjadi
plasmodium baru.
DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro, D. 1978. Pengantar Mikologi. Bandung : Penerbit Alumni


Fry, Wiliam E. and Niklaus J. Grunwald. 2010. Introduction to Oomycotes. Cornell
University.
Rogers, Kara. 2011. Fungi, Algae and Protista 1st ed. Britannica Educational Publishing.
New York.
Webster, J. and Weber R. 2007. Introduction to Fungi. Cambridge University Press. New
York
Prawirohartono, Slamet dan Sri Hidayati. 2007. Sains Biologi 1 untuk SMA/MA. Bumi Aksara
: Jakarta.