Anda di halaman 1dari 19

Tutorial Winglink

1. Open program winglink di all program atau shortcut atau via local c.
2. Buat data base baru dengan memilih new databasenya seperti pada gambar dibawah ini.

Gambar 1. Buat data base baru di Winglink


3. Diatur informasi koordinat dan acuan koordinat pengukuran nya, biasanya pilih wgs 84,
dengan memilih acuan hemisphere e, seperti di bawah ini. Untuk data latihan ini pilih
hemisphere south.

Gambar 2. Pengisian Parameter Data Base Baru Secara Umum


Gambar 3. Edit Parameter Koordinat, dibuat WGS 1984
Gambar 4. Edit Parameter Geograpic Koordinat, Dibuat WGS 1984
4. Selanjutnya buat project baru dan diisi nama project sesuai dengan kehendak praktikan
misal isi dengan nama “Dudu Juga Bisa”.seperti pada gambar dibawah ini.
Gambar 5. Tampilan Winglink Saat Mau Memulai Lembar Kerja
Lalu klick menu project dan klick new single project, dan buat project baru.

Gambar 6. Paramater project Properties diisi pada summary saja


Klick menu fileimportdatapilih eksternal filespilih data magnetotelurikedi.filetaruh
di existingfilePilih semua data edifille
Gambar 7. Pilih external files dan pilih data MT.

Gambar 8. Taruh di project yang tadi


Gambar 9. Data MT dalam ekstensi Edifille
Pilih plot parameter nya, bila diketahui arah sudut struktur geologi utamanya atau arah sudut
geolectricalnya maka isikan di bagian rotasi impedance. Namun bila tidak ada informasi seperti
tersebut maka pilih no recalculation, dengan asumsi bahwa data tersebut memang data yang tak
memiliki arah struktur, seperti pada gambar dibawah ini.

Gambar 10. Parameter rotasi data MT.


5. Setelah itu akan muncul toolbar pengolahan meliputi profiling map pengukuran,
pemodelan 1D, pemodelan 1,5D, Pseudection, dan Pemodelan 2D, seperti pada gambar
dibawah ini.

Gambar 11. ToolBar Winglink


6. Langkah berikutnya, membuat profiling maps yang berisikan informasi data pengukuran
meliputi elevasi, koordinat, lat long, dan nama titik pengukuran.

Gambar 12. Menu Profilling Maps


Selanjutnya diopen maps nya dan grid secara default berdasarkan data yang diukur seperti pada
gambar dibawah ini.
Gambar 13. Gridding Profiling Maps Secara Default

Gambar 14. Parameter Gridding dalam Maps WinGlink, bikin default, kalau tidak ada
informasi lain.
Catatan : karena banyak toolbar, jadi males jelasin, langsung cara membuat nya.
Kemudian langsung membuat profiling mode, fungsinya untuk membuat line pengukuran MT,
bila tanpa adanya informasi line pengukuran maka tidak bisa diolah lebih lanjut pada pemodelan
1,5 D, pseuodection, dan 2D. Seperti pada gambar dibawah ini.
Gambar 15. Go to Profile Mode
Kemudian buat desain lintasan pengukuran MT di WinGlink menggunakan add profile
traceterus buat garis lurus yang melintasi titik ukur MTkemudian klick band selection pada
toolbar winGlinkdan drag sampe mengcover seluruh titik MT secara otomatis lintasan
pengukuran tersebut telah aktif dan dapat diolah lebih lanjut. Seperti pada gambar dibawah ini.

Gambar 16. Lintasan Pengukuran Yang Dapat Diolah lebih Lanjut


Namun bila ada data pengukuran elevasi dan lat long yang akurat maka data tersebut dapat

diganti dengan data yang lebih presisi. Itu menggunakan toolbar ke view data. , dan isinya
seperti pada gambar dibawah ini.

Gambar 17. Editing Parameter Elevasi dan LatLong


Bila sudah, langsung ke pengolahan soundingnya.
7. Kemudian membuat pengolahan data sounding MT di toolbar Sounding. Seperti pada
gambar dibawah ini.
Gambar 18. Tampilan Awal Pengolahan Sounding
Semua data MT dipilih semua untuk dilakukan proses pengolahan sounding. Pengolahan
sounding ini mirip pengolahan VES, tapi bedannya disini kita dapat melakukan koreksi
efek shifting, dan pembuatan garis forward modeling datanya. Selanjunya akan dipakai
untuk pembuatan profil1 D, pseuodection, dan 2D ataupun 1,5D.
8. Setelah itu baru ditampilkan profil data MTnya seperti pada gambar dibawah ini.

Gambar 19. Trend Kurva MT pada Toolbar Sounding


Pilihlah data yang mau diolah dahulu, saya sarankan yang paling mudah yang ada dipojok kiri
bawah, MTDR-03. Dalam pengolahan data Sounding harus menimbang, trend alami kurva rho
XY dan YX, dan Juga Fase Gelombang yang ditunjukkan pada gambar dibawah ini.

Gambar 20. Kurva rho XY(warna Merah) dan YX(warna Biru)


Terlihat bahwa kurva YX atau data kurva polarisasi TM berada diatas kurva XY atau kurva TE,
itu menunjukkan bahwa daerah tersebut terdapat efek shifting yang disebabkan akumulasi
muatan elektromagnetik dibawah permukaan yang bisa jadi diakibatkan kontak antar struktur
yang begitu kompleks sehingga terdapat perbedaan yang mencolok nilai resistivitas alami batuan
dibawah situ. Perlu diketahui data kurva TM merupakan data yang mudah mengalami efek
shifting karena polarisasi TM secara vertical dan lateral terjadi perputaran arus listrik alami
dibawah permukaan bumi yang menimbulkan efek medan magnetic sekunder yang merambat
searah sumbu geoelectrical arus telurik bumi. Memang medan magnetic sekunder tersebut tidak
terpengaruh adanya kontrak resistivitas pada kontak vertical struktur batuan, namun arus eddy
sangat mudah mengalami akumulasi muatan didaerah yang berdekatan kontak struktur vertical.
Sehingga bila terjadi polarisasi atau putaran arus eddy didaerah yang dekat situ akan mengalami
distorsi sehingga menimbulkan nilai konduktivitas yang kontras dari kondisi sebelumnya. Lebih
jelasnya lagi lihat buku praktikal magnetotelurik karangan simphson Fiona halaman 28 – 34.
Catatan : saya malas menjelaskan detilnya karena begitu kompleks persamaan nya, mulai
persamaan difusi gelombang, polarisasi arus, bilangan kompleks, dan teorema dirvegensi dan
stokes, sekaligus balik lagi dengan bantuan persamaan Maxwell, aka mas wella.
Selanjutnya gambar dibawah ini tentang kurva fase impedance dan induksi impedance tensor.
Secara konsep masih belum paham bener, maka tidak saya jelaskan hanya sebatas gambar saja
agar kalian tahu maksudnya. Seandainya tidak tahu, ya gak pa pa, penting mau baca dan lihat.
Gambar 21. Kurva Fase, Impedance, Tripper, dan Skew(Baca saja chave dan Fiona)
Lalu ini toolbar pada pengolahan sounding sebagai berikut.
Gambar 22 ToolBar Sounding WinGlink
Menu Edit dan 1D model merupakan menu pengolahan yang selalu digunakan untuk melakukan
perbaikan kurva rho apparent XY dan YX yang mengalami shifting, tapi INGAT !!! JANGAN
RUBAH TREND ALAMI KURVA TERSEBUT. Itu sama saja memanipulasi data. Untuk
gambarnya seperti pada gambar dibawah ini.

Gambar 23 Pengolahan Editing Kurva XY dan YX (Sebelum)


Marupakan toolbar pada menu editing SOUNDING WINGLINK.
Fungsinya meliputi :
a. Mask XY, YX, XY- YX merupakan alat buat menghapus data titik frekuensi pada kurva
XY atau YX ataupun Keduannya.
b. Swap merupakan alat buat merubah nilai fase sudut data di kurva XY dan YX, biasa
digunakan bila ada derajat fase yang nyeleneh dari biasanya( nanti kamu paham sendiri).
c. Strip merupakan media buat menggeser dan membalikan posisi kurva XY dan YX yang
awalnya diatas menjadi dibawah ataupun sebaliknya.(Coba en dewe).
d. SS Reset fungsinya buat mereset kurva yang telah dilakukan efek static, dijadikan kondisi
awal.
e. Smooth berfungsi buat membuat trend line bantuan data yang memudahkan dalam
melakukan editing static shift. Bila datanya tidak membentuk trend, saya sarankan
menggunakan smoothing numeric yang bersifat polynomial, kalau datanya bagus ya
makai smoothing D+, bila pengin smoothing berdasarkan parameter fase dan impedance
maka makai o Sutarno.
f. + 360 ataupun -360 adalah skor ceki seng mari mementung dan yang terkena pentungan.
Tapi sebenarnya itu adalah alat buat merubah arah sudut fase secara individu bisa
maupun satu kurva sekaligus.
g. Cancel adalah cancel
h. HF adalah HF
i. Close adalah Close.
Berikut ini hasil jadinya

Gambar 24. Kurva XY dan YX yang telah diKetok Magic, MTDR-03


Adapun hasil 1 D nya seperti gambar dibawah ini.
Gambar 25. Hasil Inversi 1D Occam dan Bostik
Teori Inversi, cari sendiri.
9. Selanjutnya Pseuodection merupakan penampang secara interpolasi resistivitas semu
secara lateral dan vertical. Dari pseudection bisa mendeteksi penyebab static shift apakah
dari distorsi pada kurva YX atau XY, tapi biasanya adalah YX, sebab mudah sekali
mengalami akumulasi muatan pad batas kontak vertical struktur. Seperti gambar dibawah
ini. (Coba Sendiri yo)
Gambar 26. Hasil Pseuodection
10. Profiling 1.5D merupakan penampang data sounding yang 1D tapi diinterpolasi, namun hasil ini
secara kualitatif belum layak untuk dijadikan interpretasi sebab ke kompleksitas problem MT
terhadap struktur daerah penelitian. Untuk carannya belajar sendiri. Ini hasilnya.

Gambar 27. Hasil 1.5D


11. Sekarang masuk pemodelan 2D.
Modeling 2D di WinGlink harus mengerti algoritma apa yang digunakan dalam inversi
ini. Algoritma yang digunakan adalah NLCG(Cari sendiri ya). Berikut ini hasilnya
Untuk tutorial cari sendiri ya, nanti ada kok manual book winglink.

Gambar 28 Pemodelan 2D