Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM HIDROKARBON

( PENENTUAN DENSITAS BATUBARA)

DISUSUN OLEH :

Kelompok 2

Nama : Aditya Dwi Safitri (0615 3040 1018)

Debby Shabella Kencana Putri (0615 3040 1021)

Noni Noviyanti Hastini (0615 3040 1032)

Tania Dwi Putri (0615 3040 1038)

Tri Anugrah Kurniawan (0615 3040 1039)


PENENTUAN DENSITAS BATUBARA

I. Tujuan Percobaan
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan mampu :
1. Menjelaskan pengertian dan peranan sifat fisik batubara
2. Menentukan densitas batubara

II. Bahan dan Alat yang Digunakan


1. Bahan :
 Batubara 1 gram
 Typol 0,1 % 100 ml

2. Alat
 Desikator
 Spatula
 Piknometer
 Corong kecil
 Gelas ukur
 Kaca arloji

III. Dasar Teori

Batubara merupakan suatu campuran padatan heterogen yang terdapat di alam dengan
tingkat atau grade yang berbeda mulai dari gambut, lignit, subbituminus, bituminus dan antrasit
yang dibedakan berdasarkan kandungan zat terbang (volatile matter) dan besaran kalor.
Unsur-unsur yang ada dalam batubara terdiri dari Karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen
(O), Belerang (S) dan Nitrogen (N). Karbon, hidrogen dan oksigen adalah unsur utama
pembentuk batubara, sedangkan belerang dan nitrogen hanya sebagai bahan pengikut.

Proses Terbentuknya Batubara


Ada dua teori yang menerangkan terjadinya batubara.
 Teori In-situ :
Batubara terbentuk dari tumbuhan atau pohon yang berasal dari hutan tempat batubara tersebut
terbentuk. Batubara yang terbentuk sesuai dengan teori In-situ biasanya terjadi di hutan basah
dan berawa, sehingga pohon-pohon di hutan tersebut pada saat mati dan roboh langsung
tenggelam ke dalam rawa tersebut, dan sisa tumbuhan tidak mengalami pembusukan secara
sempurna, dan akhirnya menjadi fosil tumbuhan yang membentuk sedimen organik.
 Teori Drift
Batubara terbentuk dari tumbuhan atau pohon yang berasal dari hutan yang bukan ditempat
batubara tersebut terbentuk. Batubara yang terbentuk sesuai dengan teori drift biasanya terjadi
di delta-delta, dengan ciri-ciri batubara tipis, banyak lapisan (multiple seam) dan banyak
pengotor (kandungan abu cenderung tinggi).

Proses pembentukan batubara terdiri dari dua tahap yaitu tahap biokimia (penggambutan) dan
tahap geokimia (pembatubaraan).
1. Tahap Penggambutan (peatification) adalah tahap dimana sisa-sisa tumbuhan yang terakumulasi
tersimpan dalam kondisi reduksi di daerah rawa dengan sistem pengeringan yang buruk dan selalu
tergenang air pada kedalaman 0,5 – 10 meter. Material tumbuhan yang busuk ini melepaskan H,
N, O, dan C dalam bentuk senyawa CO2, H2O, dan NH3 untuk menjadi humus. Selanjutnya oleh
bakteri anaerobik dan fungi diubah menjadi gambut (Stach, 1982, op cit Susilawati 1992).
2. Tahap pembatubaraan (coalification) merupakan gabungan proses biologi, kimia, fisika yang
terjadi karena pengaruh pembebanan dari sedimen yang menutupinya, temperatur, tekanan, dan
waktu terhadap komponen organik dari gambut. Pada tahap ini presentase karbon akan meningkat,
sedangkan presentase hidrogen dan oksigen akan berkurang (Fischer, 1927, op cit Susilawati 1992)
sehingga akan menghasilkan batubara dalam berbagai tingkat maturitas material organiknya mulai
dari lignit, subbituminus, bituminus, semi antrasit, antrasit, hingga meta antrasit.

Proses ini akan menghasilkan batubara dalam berbagai tingkat kematangan material
organiknya mulai dari lignit, sub bituminus, bituminus, semi antrasit, hingga meta antrasit.
Faktor tumbuhan purba yang jenisnya berbeda-beda sesuai dengan zaman geologi dan
lokasi tempat tumbuh dan berkembangnya, ditambah dengan lokasi pengendapan
(sedimentasi) tumbuhan, pengaruh tekanan batuan dan panas bumi serta perubahan
geologi yang berlangsung kemudian akan menyebabkan terbentuknya batubara yang
jenisnya bermacam-macam. Oleh karena itu karakteristik batubara berbeda-beda sesuai
dengan lapangan batubara (coal field) dan lapisan nya (coal seam).

Jenis-Jenis Batubara
Dari tinjauan beberapa senyawa dan unsur yang terbentuk pada saat proses coalification,
maka secara umum dikenal beberapa rank batubara yaitu:
1. Antrasit
Batubara yang terjadi pada umur geologi yang paling tua. Adapun sifat-sifatnya sebagai
berikut :

a. Kalau dibakar, hampir seluruhnya habis terbakar tanpa timbul nyala.


b. Warna hitam mengkilat dan kompak.
c. Nilai kalor > 32558,2 kJ/kg.
d. Kandungan karbon berkisar antara 86% - 98%.
e. Kandungan air < 8 %, sedangkan kandungan abu dan sulfur 0,5%.

2. Bituminus

Terbentuk pada periode geologi “carboniferous” dari tumbuh-tumbuhan yang mengalami


karbonisasi. Sifat-sifatnya sebagai berikut :

a. Warna hitam mengkilat dan kurang kompak.

b. Nilai kalor 26744.4 - 32558,2 kJ/kg.

c. Kandungan air berkisar antara 5 - 10%, sedangkan abu dan sulfur 0,5%.

d. Kandungan karbon berkisar antara 70% - 85%

3. Sub-bituminus

Batubara yang berumur 100 juta tahun, memiliki sifat :

a. Nilai kalor 19302,5 - 26744,4 kJ/kg.

b. Merupakan sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus.

c. Kandungan karbon berkisar antara 45% - 69%.

4. Lignit

Terbentuk dari tumbuh-tumbuhan yang mengalami karbonisasi di bawah lapisan tanah dalam
jangka waktu yang lama. Mempunyai sifat :

 Warna kecoklatan dan sangat rapuh.


 Nilai kalor sekitar 14651,3 - 19302,5 kJ/kg.
 Kandungan karbon berkisar antara 15% - 45%.
 Kandungan air berkisar antara 35% - 75% WT, sedangkan kandungan abu dan sulfurnya
berkisar antara ≥ 0,7%.
5. Peat (gambut), dengan ciri :

a. Warna coklat dan belum kompak.


b. Berpori dan memiliki kandungan air di atas 75 %.
c. Nilai kalor < 1465 1,3 kJ/kg.

Sifat – sifat Fisik dan Kimia Batubara


1. Sifat Fisik
Sifat fisik batubara tergantung kepada unsur kimia yang membentuk batubara tersebut,
semua fisik yang dikemukakan dibawah ini mempunyai hubungan yang erat satu sama
lain.
A. Berat jenis
Berat jenis (specific gravity) batubara berkisar dari 1,25g/cm3 sampai 1,70 g/cm3,
pertambahannya sesuai dengan peningkatan derajat batubaranya. Tetapi berat jenis
batubara turun sedikit dari lignit (1,5g/cm3) sampai batubara bituminous (1,25g/cm3),
kemudian naik lagi menjadi 1,5g/cm3 untuk antrasit sampai grafit (2,2g/cm3). Berat
jenis batubara juga sangat bergantung pada jumlah dan jenis mineral yang dikandung
abu dan juga kekompakan porositasnya. Kandungan karbon juga akan mempengaruhi
kualitas batubara dalam penggunaan. Batubara jenis yang rendah menyebabkan sifat
pembakaran yang baik.
B. Kekerasan
Kekerasan batubara berkaitan dengan struktur batubara yang ada. Keras atau
lemahnya batubara juga terkandung pada komposisi dan jenis batubaranya. Uji
kekerasan batubara dapat dilakukan dengan mesin Hardgrove Grindibility Index
(HGI). Nilai HGI menunjukan niali kekersan batubara. Nilai HGI berbanding
terbalik dengan kekerasan batubara. Semakin tinggi nilai HGI , maka batubara
tersebut semakin lunak. Dan sebaliknya, jika nilai HGI batubara tersebut semakin
rendah maka batubara tersebut semakin keras.
C. Warna
Warna batubara bervariasi mulai dari berwarna coklat pada lignit sampai warna
hitam legam pada antrasit. Warna variasi litotipe (batubara yang kaya akan vitrain)
umumnya berwarna cerah
D. Goresan
Goresan batubara warnanya berkisar antara terang sampai coklat tua. Pada lignit,
mempunyai goresan hitam keabu-abuan, batubara berbitumin mempunyai warna
goresan hitam, batubara cannel mempunyai warna goresan dari coklat sampai hitam
legam.
E. Pecahan
Pecahan dari batubara memperlihatkan bentuk dari potongan batubara dalam sifat
memecahnya. Ini dapat pula memeperlihatkan sifat dan mutu dari suatu batubara.
Antrasit dan batubara cannel mempunyai pecahan konkoidal. Batubara dengan zat
terbang tinggi, cenderung memecah dalam bentuk persegi, balok atau kubus.

2. Sifat Kimia
Sifat kimia dari batubara sangat berhubungan langsung dengan senyawa penyusun dari
batubara tersebut, baik senyawa organik ataupun senyawa anorganik. Sifat kimia dari
batubara dapat digambarkan sebagai berikut :
a. Karbon
Jumlah karbon yang terdapat dalam batubara bertambah sesuai dengan peningkatan
derajat batubaranya. Kenaikan derajatnya dari 60% sampai 100%. Persentase akan
lebih kecil daripada lignit dan menjadi besar pada antrasit dan hamper 100% dalam
grafit. Unsur karbon dalam batubara sangat penting peranannya sebagai penyebab
panas. Karbon dalam batubara tidak berada dalam unsurnya tetapi dalam bentuk
senyawa. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah karbon yang besar yang dipisahkan
dalam bentuk zat terbang
b. Hidrogen
Hidrogen yang terdapat dalam batubara berangsur-angsur habis akibat evolusi
metan. Kandungan hidrogen dalam lignit berkisar antara 5 %, 6 %, dan 4,5 % dlaa
batubara berbituminus serta 3 % sampai 3,5 % dalam antrasit.
C. Oksigen
Oksigen yang terdapat dalam batubara merupakan oksigen yang tidak reaktif.
Sebagaimana dengan hidrogen kandungan oksigen akan berkurang selam evolusi
atau pembentukan air dan karbondioksida. Kandungan oksigen dalam lignit sekitar
20% atau lebih, dalam batubara berbitumin sekitar 4% sampai 10% dan sekitar 1,5%
sampai 2% dalam batubara antrasit.
d. Nitrogen
Nitrogen yang terdapat dalam batubara berupa senyawa organik yang terbentuk
sepenuhnya dari protein bahan tanaman asalnya jumlahnya sekitar 0,55% sampai
3%. Batubara berbitumin biasanya mengandung lebih banyak nitrogen daripada
lignit dan antrasit.
e. Sulfur
Sulfur dalam batubara biasanya dalam jumlah yang sangat kecil dan kemungkinan
berasal dari pembentuk dan diperkaya oleh bakteri sulfur. Sulfur dalam batubara
biasanya kurang dari 4%, tetapi dalam beberapa hal sulfurnya bisa mempunyai
konsentrasi yang tinggi. Sulfur terdapat dalam tiga bentuk, yaitu :

 Sulfur Piritik (piritic Sulfur)


Sulfur Piritik biasanya berjumlah sekitar 20% - 80% dari total sulfur yang terdapat dalam
makrodeposit (lensa, urat, kekar, dan bola) dan mikrodeposit (partikel halus yang menyebar).
 Sulfur Organik
Sulfur Organik biasanya berjumlah sekitar 20% - 80% dari total sulfur, biasanya berasosiasi
dengan konsentrasi sulfat selama pertumbuhan endapan.
 Sulfat Sulfur
Sulfat terutama berupa kalsium dan besi, jumlahnya relatif kecil dari seluruh jumlah sulfurnya.

Densitas (spesific gravity)


densitas atau massa jenis pengukuran massa setiap tahun volume benda. Semakin tinggi
massa jenis suatu benda maka semakin tinggi pula messa setiap volumenya. Satuan SI massa
jenis adalah kilogram per meter kubik (Kgm3). Massa jenis berfungsi untuk menentukan zat
setiap zat memiliki massa jenis yang berbeda.dan suatu jenis berapun massanya berapapun
volumenya akan memiliki massa yang sama.
Densitas batubara dapat bervariasi yang emnunjukkan hunbungan kandungan karbon.
Batubara dengan kandungan karbon 85 % biasanya menunjukkan suatu derajat hidropobik yang
lebih besar dari batubara paling rendah. Bagaimana hasil temuan terbaru pada prediksi siaft
hidropobik batubara mendedikasi bahwa kolerasi karakterikstik kandungan air lebih baik dari
pada kandungan karbon dan begitu rasio kandungan air / karbon lebih baik dari pada rasio
atomik oksigen / karbon,begitu pula terdapat suatu hubungan antara sifat hidropobik batubara
dan kandungan air. Kecendrungan bahwa density batubara bernilai minimum pada kandungan
karbon 85 %. Sebagai contoh ; karbon batubara 50 – 55 % akan memiliki densitas sekitar 1,5
g/cm3 dan kecendrungan berkurang hingga 1,3 g/cm3 untuk batubara mengandung 85 % kabron
diikuti dengan peningkatan 1,8 g/cm3 untuk batubara dengan kandungan 87 %.

Padatan yang porous seperti batubara, memiliki tiga perbedaan dalam pengukuran densitasnya;
true density, particle density, dan apparent density.
1. Apparent density batubara dapat dilakukan dengan cara membenamkan sampel batubara di
dalam cairan dan kemudian mengukur cairan yang terpindahkan. Untuk prosedur ini, cairan
harus: (1) membasahi permukaan batubara, (2) tidak ada absorbsi yang kuat pada permukaan,
(3) tidak menyebabkan pengembangan, dan (4) menetrasi pori batubara.

2. True density batubara ditentukan dengan menggunakan prisip pemindahan helium. Helium baik
digunakan sebab dapat menetrasi pori-pori sampel batubara tanpa menyebabkan interaksi
secara kimiawi.

3. Particle density adalah berat suatu unit volume padatan termasuk pori dan rekahan (Mahajan
dan Walker, 1978). Densitas partikel dapat ditentukan dengan cara satu dari tiga metode; (1)
mercury displacement (Gan et al, 1982), (2) aliran gas (Ergun, 1951), atau (3) Silanization
(Ettinger dan Zhupakhina, 1960).

IV. Langkah Kerja


Prosedur percobaan dilaksanakan sebagai berikut ( ASTM 167-73) :
a. Membuat larutan typol 0,1 % dalam beaker glass
b. Kemudian larutan tersebut disimpan ke dalam desikator, lalu divakum sampai tidak ada
gelembung udara didalam dan diatas larutan typol
c. Piknometer diisi denga larutan typol sampai lubang kapilernya terisi penuh, kemudian
ditimbang (P)
d. Sebagian larutan typol di dalam piknometer dipindahkan memakai pipet sampai 1/2
bagian volumenya
e. Satu gram sampel batubara di timbang (60 mesh), lalu dimasukkan ke dalam piknometer
yang berisi typol 1/2 volume tadi dengan menggunakan corong kecil
f. Piknometer di vakumkan ke dalam desikator. Setelah batubara sudah turun semua ke
dasar piknometer, lalu piknometer diisi kembali dengan typol sampai penuh dan
menimbangnya kembali (W1)
V. Data Pengamatan

No Penimbangan Berat (gr)

1 Sampel Batubara 1

2 Piknometer Kosong 141,0186

3 Piknometer + Typol 167,0270

4 Piknometer + Typol + Batubara 167,4631

5 Piknometer + Typol 160,7270

VI. Perhitungan
(𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜+𝑡𝑦𝑝𝑜𝑙)−(𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜 𝑘𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔)
 Berat jenis typol =
𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑝𝑖𝑘𝑛𝑜

160,7270 𝑔𝑟 − 60,0544 𝑔𝑟
=
100,819 𝑚𝑙

𝑔𝑟
= 0,9985 ⁄𝑚𝑙

𝑤 × 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑗𝑒𝑛𝑖𝑠 𝑡𝑦𝑝𝑜𝑙


 Berat jenis =
𝑤 − (𝑤1−𝜌)

𝑔𝑟
1 𝑔𝑟 ×(0,9985
⁄𝑚𝑙 )
=
1 𝑔𝑟−(167,4631 𝑔𝑟 − 167,0270 𝑔𝑟)

𝑔𝑟 × 𝑔𝑟⁄
0,9985 𝑚𝑙
=
1 𝑔𝑟 –(0,4361 𝑔𝑟)

𝑔𝑟
0,9985 ⁄𝑚𝑙
=
0,5639

𝑔𝑟
= 1,7707 ⁄𝑚𝑙
VII. ANALISA PERCOBAAN

Pada percobaan kali ini yaitu menentukan densitas batubara yang belum diketahui nilai
densitasnya. Dimana batubara ini merupakan mineral bahan bakar yang terbentuk sebagai bahan bakar
yang berasal dari peimbunan dan pengendapan hancuran bahan selulosa yang berasal dari tumbuh-
tumbuhan.

Percobaan penetuan densitas batubara termasuk salah satu pengujian fisik batubara yang
berukuran 60 mesh. Penentuan densitas batubara dapat dilakukan dengan menggunakan larutan typol
sebagai media. Larutan typol ini merupakan larutan kental yang disebut dengan larutan sabun.

Pada penentuan densitas batubara ini digunakan batubara yang berukuran 60 mesh ini
dikarenakan ukuran 60 mesh ini masih berat sehingga mudah tenggelam dan larutan typol mudah
untuk masuk ke dalam pori-pori batubara. Pada percobaan ini kami menggunakan 2 piknometer yaitu
piknomater khusus sampel batubara dan piknometer biasa. Batubara yang dimasukkan ke dalam
piknometer khusus harus berupa batubara yang sebelumnya telah diisi dengan larutan typol sebagian .

Hal ini dikarenakan larutan typol ini berfungsi untuk mengeluarkan gelembung udara yang
terdapat di dalam batubara. Lalu masukkan larutan typol sampai tanda batas yang terdapat dalam
piknometer khusus. Batubara akan mengapung sebagian saat pertama kali dimasukkan. Karena
didalam pori-pori batubara tersebut masih banyak mengandung udara. Namun lama-kelamaan,
batubara akan mengendap didalam piknometer tersebut. Ini diakibatkan karena batubara memiliki
pori-pori yang banyak.

Pada awalnya, pori-pori batubara terisi oleh udara. Namun, ketikan dimasukkan kedalam
piknometer yang telah berisi larutan typol, pori-pori tersebut aka terisi oleh larutan typol. Inilah yang
mengakibatkan batubara akan tenggelam. Larutan typol yang ada dibagian atas batubara akan
berwarna bening.

Dari percobaan yang lakukan di dapatkan nilai densitas batubara sebesar 1,7707 gr/ml. Pada
percobaan ini menggunakan prinsip apparent density karena sampel dicelupkan kedalam larutan yang
memenuhi syarat-syarat apparent density, yaitu membasahi permukaan, tidak menyebabkan
pengembangan dan mentrasi pori batubara. Dari hasil yang didapatkan sampel batubara ini dapat
dikategorikan sebagai jenis batubara bituminus.
VIII. KESIMPULAN

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat di simpulkan bahwa :

1. Pada percobaan kali ini dilakukan penelitian densitas true density yaitu densitas zat padat
(batubara) yang sesungguhnya dengan menggunakan metode apparent density.
2. Didapatkan hasil densitas batubara sebesar 1,7707 gr/ml
3. Berat jenis typol sebesar 0,9985 gr/ml.
4. Jika di tinjau dari densitas yang didapatkan jenis batubara yang digunakan yaitu jenis
bituminus.

IX. DAFTAR PUSTAKA

http://enprints.undip.ac.id/36574/4/bab2_bambang.s

https://enpints.polsriac.id/100/3/bab%2011.pdf

https://www.academia.edu/5313957/batubara
Gambar Alat