Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Uap (steam) dalam pembicaraan selanjutnya dimaksudkan uap air yaitu uap
yang timbul akibat perubahan fase air ( cair ) menjadi uap dengan cara pendidihan
( boiling ). Untuk melakukan proses pendidihan diperlukan energi
panas yang diperoleh dari sumber panas , misalnya dari pembakaran bahan bakar (
padat, cair, dan gas ) tenaga listrik dan gas panas sebagai sisa proses kimia serta
tenaga nuklir. Penguapan bisa saja terjadi disembarang tempat dan waktu pada
tekanan normal , bila diatas permukaan zat cair tekanan turun dibawah tekanan
mutlak. Uap yang dihasilkan dengan cara demikian tidak mempunyai energi
potensial, jadi tidak dapat digunakan sebagai sumber energi. Sudah beribu-ribu
tahuan manusia bersahabat dengan uap air, yaitu semenjak manusia melakukan
pekerjaan merebus ( boiling ), tetapi hanya baru dua abad ini mereka baru
menemui bagaimana untuk mempergunakan uap bagi kepentingan mereka.
Pada zaman sekarang , perkembangan sarana transportasi dan mesin-mesin
pembantu manusia begitu pesat , dari penggunaan sebuah mesin uap yang sangat
sederhana untuk menggerakkan sebuah sarana transportasi menjadi penggunaan
mesin yang sangat kompleks seperti turbin gas maupun turbis jet pada pesawat.
Dulunya , hampir semua mesin maupun sarana transportasi digerakkan oleh mesin
uap , dalam makalah ini akan dibahas penemuan mesin uap , cara kerja , dan
penerapannya dalam kehidupan sekarang.

1.2 Tujuan
Dalam praktikum ini diharapkan mahasiswa dapat :
a. Mengetahui persiapan pengoperasian steam engine
b. Mampu mengoperasikan steam engine
c. Mampu melaksanakan percobaan antara lain
- Perhitungan SHP
- Perhitungan BHP
- Perhitungan power efisiensi dan lain-lain
1.3 Manfaat
Adapun manfaat yang dapat didapat dari praktikum ini, yaitu:
 Mahasiswa memahami K3 dibidang Steam Engine
 Mahasiswa memahami tentang cara kerja dari Steam Engine
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Mesin Uap


Mesin uap(steam engines) masuk dalam kategori pesawat kalor, yaitu
peralatan yang digunakan untuk merubah tenaga termis dari bahan bakar menjadi
tenaga mekanis melalui proses pembakaran. Ada dua jenis pesawat kalor yaitu
Internal Combustion Engines/ICE(motor pembakaran dalam) dan External
Combustion Engines/ECE(motor pembakaran luar). Pada pesawat kalor jenis
ICE, proses pembakaran bahan bakar untuk

mengasilkan tenaga mekanis dilakukan didalam peralatan itu sendiri; sedangkan


pada ECE, peralatan ini hanya merubah tenaga termis menjadi tenaga mekanis
adapun proses pembakaran dilakukan diluar peralatan tersebut.

Contoh dari pesawat kalor jenis ICE adalah motor bensin dan motor disel
yang sangat populer sebagai prime mover baik untuk otomotif maupun untuk
industri. Pada motor bensin dan motor disel proses pembakaran bahan
bakar(bensin/solar) dilakukan didalam silinder motor itu sendiri dan perubahan
tenaga termis hasil pembakaran menjadi tenaga mekanis juga dilakukan didalam
pesawat itu sendiri melalui gerakan kian kemari dari piston menjadi gerakan
putaran dari crank shaft.

Gambar 2.1. Steam Engine


Contoh dari pesawat kalor jenis ECE adalah mesin uap dan turbin uap. Pada
peralatan ini, mesin uap hanya merubah tenaga potensial dari uap menjadi tenaga
mekanis berupa gerakan kian kemari dari piston dan selanjutnya diubah menjadi
gerakan putaran dari crank shaft; sedangkan turbine uap merubah tenaga potensial
dari uap menjadi tenaga mekanis yang langsung merupakan gerakan putaran dari
as turbin. Adapun proses pembakaran bahan bakar dilakukan diluar mesin uap dan
turbin uap, yaitu didalam ketel uap(boiler). Didalam ketel uap(boiler) tenaga
termis hasil pembakaran bahan bakar digunakan untuk memanaskan air sehingga
berubah menjadi uap dengan temperatur dan tekanan tinggi, untuk selanjutnya uap
dengan temperatur dan tekanan tinggi tersebut dialirkan ke-mesin uap atau turbin
uap untuk diubah menjadi tenaga mekanis.

2.2 Pengoperasian Steam Engine


Prinsip kerja dari Steam Engine bisa dilihat pada gambar 1.1 diatas,
Didalam cylinder mesin uap terdapat piston yang mempunyai piston rod yang
dihubungkan dengan cross head yang berada diluar cylinder. Cross head
dihubungkan oleh connecting rod dengan crank shaft(tidak tampak pada gambar),
sehingga apabila piston bergerak kian kemari maka crank shaft dapat berputar.
Slide valve yang mempunyai valve rod digerakkan oleh crank shaft melalui
eksentrik, sehingga slide valve dapat bergerak kian kemari sambil membuka dan
menutup dua buah lubang uap yang berhubungan dengan cylinder. Valve box
dimana slide valve berada mempunyai dua saluran, saluran pemasukan yang
dihubungkan dengan boiler untuk menyalurkan uap dengan tekanan tinggi(warna
merah), dan saluran pembuangan yang dihubungkan dengan cerobong untuk
membuang uap bekas(warna biru).
Pada waktu piston mencapai posisi paling kiri, maka slide valve akan
membuka lubang uap cylinder bagian kiri sehingga uap dari boiler dapat masuk
kedalam cylinder pada bagian kiri dari piston dan mendorong piston kekanan,
sementara itu lubang uap sebelah kanan dihubungkan dengan saluran pembuangan
sehingga uap bekas dapat terbuang keluar melalui cerobong. Sebelum akhir
langkah piston, lubang uap tersebut sudah ditutup oleh slide valve sehingga
pasokan uap terhenti namun piston tetap bergerak kekanan karena ekpansi dari
uap.
Pada waktu piston mencapai posisi paling kanan, maka slide valve akan
membuka lubang uap cylinder bagian kanan sehingga uap dari boiler dapat masuk
kedalam cylinder pada bagian kanan piston dan mendorong piston kekiri,
sementara itu lubang uap sebelah kiri dihubungkan dengan saluran pembuangan
sehingga uap bekas dapat terbuang melalui cerobong. Sebelum akhir langkah
piston, lubang uap tersebut sudah ditutup oleh slide valve sehingga pasokan uap
terhenti namun piston tetap bergerak kekanan karena ekpansi dari uap. Karena
cross head dengan crank shaft dihubungkan oleh connecting rod, maka gerakan
kian kemari dari piston tersebut akan diubah menjadi gerakan putaran dari crank
shaft. Demikian selama ada pasokan uap dari boiler maka mesin uap akan
merubah menjadi tenaga mekanis dengan gerakan putaran dari crank shaft.

Gambar 2.2. Steam Engine merk Stuard

Mesin uap yang menjadi alat praktikum di Laboratorium Motor Bakar –


Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri
Surabaya memiliki spesifikasi berikut:

Height : 0.3810 meter


Bore : 0.0572 meter
Stroke : 0.0508 meter
Volume : 2 x 0.1301
Connecting rod diameter : 0.01032 meter
Max steam pressure : 6.9 bar
Steam consumpion : 68 kg at 800 rpm
Fixed out off ratio : 1/5
Power output at output shaft : 1800 watt at 800 rpm
Condenser: Coiled heat exchanger : Surface area 0.74 m2
Manufactured by : Stuard

2.3 Bagian – Bagian Steam Engine System.

Gambar 2.2 Steam Engine System

Adapun alat – alat kelengkapan tersebut meliputi:


1. Pressure Gauge.
Fungsi: untuk mengukur tekanan uap masuk ke Steam Engine System.
2. Steam Flow Control Valve.
Fungsi: katup pengendali aliran uap.
3. Pressure Regulating Valve.
Fungsi: katup untuk mengatur tekanan uap
4. Steam Selonoid Valve.
Fungsi: katup yang digerakan oleh energi listrik melalui solenoid.
5. Pressure Relief Valve.
Fungsi: katup pengaman dari tekanan yang berleih.
6. Gelas Ukur/measuring baker
Fungsi: untuk menampung air hasil pengembunan.
7. Condenser
Fungsi: untuk mendinginkan uap dari steam engine.
8. Alternator
Fungsi: untuk pembangkit listrik atau untuk pengereman dari steam
engine.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Peralatan Dan Bahan Habis.


3.1.1 Peralatan.
3.2 Suplai energi listrik.
3.3 Air utilitas Laboratorium.
3.4 Gelas ukur.
3.5 Cussons : P7600 : Oil Fired Boiler.
3.1.2 Bahan Habis
1. Lap/Kain pembersih : 10 kg
2. Pelumas SAE 30 : 10 Liter
3. Pelumas SAE 40 : 10 Liter
4. Gloves : 10 set
5. Gelas ukur : 2 set
6. Air utilitas Laboratorium : 500 Liter
7. Bahan Bakar(Solar) : 100 Liter
8. Larutan Softener(NaCl) : 20 kg
9. Larutan Dosage(Housemen) : 25 Liter

3.2 Prosedur Pengoperasian Steam Engine System.


3.2.1 Persiapan sebelum start.
1. Buka katup pelumas dan lumasi ini dengan SAE 40.
2. Buka penutup/pelindung steam engine.
3. Lumasi seluruh bagian mesin yang berputar/bergerak dengan pelumas
SAE 30.
4. Putar roda gila(fly wheel) agar kedudukan cylinder bergantian diberi
pelumas secukupnya pada dinding silinder.
5. Tutup kembali steam engine.
3.2.2 Langkah pemanasan(warming up the engine).
a. Buka penutup air pendingin condenser dan periksa keadaan di flow
indicator.
b. Putar electrical power switch pada posisi “ON’.
c. Tekan tombol “Warm Up”.
d. Buka perlahan – lahan “steam engine control valve”.
3.2.3 Starting and Running the engine.
a. Setelah pemanasan dirasa cukup, tekan tombol start.
b. Control engine dapat dilakukan dengan pembebanan/loading.
c. Catat semua data loading, rpm dan lain - lain.
3.2.4 Shutting down the engine.
a. Putar alternator pada posisi pembebanan minimum.
b. Tutup katup uap yang masuk ke engine.
c. Tekan tombol “Stop” dan putar “Power Isolator” pada posisi
“OFF”.
d. Tutup katup air pendingin yang menuju condenser.
e. Beri pelumas kembali pada cylinder pada bagian – bagian yang
bergerak dengan pelumas SAE 30.
f. Bersihkan dan keringkan bagian – bagian yang kotor.
BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Dari data hasil perhitungan di atas semakin besar persen beban P load
maka efisiensi steam engine juga semakin besar karena tegangan dan
arus yang di hasilkan oleh alternator semakin besar, sehingga daya
listrik yang dihasilkan semakin besar.
2. Arus listrik yang dihasilkan tidak terpengaruh oleh besarnya beban.
3. Temperatur (T1) tidak terpengaruh oleh besarnya beban
DAFTAR PUSTAKA

1. G.Cusson Ltd. “Steam Engine, Instructioanal Manual Hand Book”


England 1 December 1986, 2 march 1987.
2. Munson and Young., Fundamentals of fluid Mechanics, eds.4.Jakarta,
Erlangga, 2004.
3. MsCave, W.L.,Smith. J.C., dan Harriott. P., Unit Operationsin Chemical
Engineering,ed. 4.McGraw-Hill. New York, 1985.
4. Gean Koplis, C.J., Transport Processes and Unit
Operations,eds.2, Allyn
and Bacon,inc., 1987.
5. BR Standard Class 7 70000 Britannia, owned by the Royal Scot
Locomotive and General Trust.

Anda mungkin juga menyukai