Anda di halaman 1dari 4

JADI PENGUSAHA TAK

HARUS PINTAR
Cara Gila Jadi Pengusaha

Disusun oleh :
1. Agung Rizky Ramdhani
2. Fauzan Aryadillah
3. Imas Siti Soleha
4. M Sandhi Dwi
5. M Zidan Ramadhan
6. Rangga Naufal S

19 JANUARI 2018
KELOMPOK 1
[Company address]
JADI PENGUSAHA TAK HARUS PINTAR

Berikut ini dipaparkan beberapa kutipan Purdi E Chandra, pendiri


Primagama dan Entrepreneur University yang menjadi pembicara utama
dalam seminar yang mengangkat tema "gila", maka setiap ungkapan
yang dikemukakan Purdi terasa "gila" dan membuat peserta tertawa.

Saya masuk kuliah di empat universitas tapi tidak selesaikan kuliah. Tapi
saya juga heran kenapa bisa dirikan Primagama, sebuah lembaga
bimbingan belajar terbesar di Indonesia yang cabangnya sampai ratusan.

Padahal saya tidak terlalu pintar-pintar amat. Makanya saya berpikir


kalau kita terlalu pintar menyebabkan terlalu banyak pertimbangan, yang
akhirnya tak ada sama sekali yang bisa dikerjakan. Makanya mungkin
alangkah baiknya anak kita jangan terlalu pintar (hadirin tertawa). Anak
saya yang di SMP ranking 11 langsung minta mobil. Ini sudah luar biasa
dibandingkan sebelumnya yang ranking 20-an. Dia juga mau jadi
pengusaha. Lihat saja banyak orang pintar tapi tidak mau kerja.

Untuk mau menjadi pengusaha jangan terlalu banyak pertimbangan.


Laksanakan saja niat itu dan tunggu hasilnya. Coba lihat pakar akuntansi
tidak mau berusaha karena apa. Yah itu tadi karena mereka belum
berusaha sudah takut jadi pengusaha, karena mereka sudah mempelajari
dulu hitung-hitungan menjadi pengusaha yang mengerikan makanya
mereka takut sebelum berusaha.

Lalu kenapa orang mau jadi pengusaha. Saya kira Jaya Setiabudi sudah
memaparkan banyak tadi. Yah jadi pengusaha itu misalnya gini, saya
merasa tiap hari kerjanya apa. Paling kalau ada yang mau ditandatangani
baru muncul. Makanya yang perlu diketahui calon pengusaha tidak usah
muluk-muluk kalu sudah bisa tanda tangan yah bagus-lah (hadirin
tertawa).

Pengusaha itu tidak perlu tinggi-tinggi sekolah, karena yang mereka


perlukan hanya tahu tanda tangan dan mengingat bentuk tanda tangannya
jangan sampai salah tanda tangan satu dengan lainnya.

Selain itu, pengusaha kebanyakan dari orang malas. Sebab orang yang
sudah pintar itu diperebutkan sama perusahaan untuk menjadi karyawan.
Makanya yang jadi pengusaha itu dulunya orang malas. Orang malas
sebenarnya bukan hal yang negatif karena melihat pengalaman selama
ini, kebanyakan mereka yang jadi pengusaha.

Nah, orang pintar akan dibutuhkan pengusaha sebagai tulang punggung


perusahaan. Misalnya, saya sebagi Direktur, banyak pegawai saya adalah
para doktor, sementara saya tamat kuliah juga tidak. Paling saya
membuat akademi perguruan tinggi dan memanggil para doktor
mengajar di tempat saya dan gelar saya dapat dari akademi saya sendiri.

Setelah berbicara bahwa seorang pengusaha tak harus pintar, pendiri


lembaga pendidikan Primagama dan Entrepreneur University, Purdie E
Chandra, mengupas pembicaraan mengenai fungsi otak kanan sebagai
salah satu tips menjadi pengusaha, berikut beberapa petikannya.

Untuk menjadi pengusaha memang harus sedikit "gila". Lebih gila lagi
kalau teman-teman tidak mau jadi pengusaha (hadirin tertawa). Untuk
menjadi seorang pengusaha pakailah otak kanan Anda. Kalau perlu
jangan gunakan sama sekali otak kiri. Kenapa harus otak kanan?

Ini yang lucu karena otak kanan mengajarkan kita hal yang tidak
rasional. Berbeda dengan otak kiri, ia memberitahukan sesuatu yang
rasional, teratur, dan berurut-urut. Misalnya begini, murid SD disuruh
kreatif sama gurunya. Ia disuruh membuat gambar pemandngan. Karena
dari dulu gambar pemandangan yang ia tahu hanya yang ada gunung lalu
dibawahnya jalan raya dan sungai, maka sampai dia SMU pun hanya
gambar itu yang ia tahu. Ketika diperintahkan menggambar
pemandangan. Ini keteraturan tapi tidak ada kreativitas. Kalau ada otak
kanan maka ia akan memberitahukan sesuatu yang lebih kreatif. Lalu,
apakah Anda mau dari dulu jadi karyawan terus menerus, tidak kreatif
ingin menjadi pengusaha dan punya karyawan.

Atau begini, anda bangun setiap pagi, mandi, naik angkot ke kantor,
bekerja lalu menjelang sore pulang ke rumah setelah itu tidur dan
besoknya lagi ke kantor. Itu dijalani selama belasan tahun bahkan sampai
kakek-nenek. Dan sama sekali terbatas waktu yang sebanyak-banyaknya
dengan orang luar yang lain dari yang dibayangkan.

Itulah keteraturan dan yang mengatur semua itu adalah otak kiri. Apakah
Anda mau seprti itu seterusnya? Makanya gunakanlah otak kanan. Mau
jadi pengusaha biasakanlah otak kanan Anda yang bekerja. Dan Anda
tak perlu setiap hari ke kantor dan pulang sore.

Kenapa tangan kanan kita selalu bergerak? Karena yang menggerakan


adalah otak kiri makanya teratur hasilnya. Lalu, apakah kita harus seperti
anak SD terus yang hanya pintar menggambar pemandangan satu model
yang diajarkan gurunya?

Otak kanan tidak banyak hitungan atau pertimbangan macam-macam. Ia


lebih banyak mengerjakan apa yang dipikirkannya. Kalau mau usaha
jangan terlalu banyak hitung-hitungan. Waktu bikin banyak usaha saya
tidak banyak hitung-hitungan dan Alhamdulillah sukses. Saya kira
banyak pengusaha lain yang seperti itu. Lihat saja beberapa orang
terkaya di dunia tidak sampai selesai kuliahnya, Bill Gates misalnya
bahkan dia menjadi penyokong dana utama Harvard University
(Universitas ternama dunia di Amerika).
Ibaratkan kita mau jadi pengusaha itu sama seperti ketika hendak masuk
kamar mandi. Kenapa? Karena masuk kamar mandi kita tidak berpikir-
pikir....kalau kebelet....yah langsung masuk saja. Terserah di dalam
kamar mandi "sukses" atau tidak itu urusan belakang. Kalau di dalam
kamar mandi tidak ada sabun kan kita akhirnya keluar juga dan ada
upaya untuk mencari. Orang terkadang akan mencari sesuatu apapun
yang menurutnya mendesak dengan berbagai cara. Kalau pun pada saat
itu tidak ada sabun di rumah ia akan berusaha untuk mencari sabun
sampai dapat. Untuk latih otak kanan tidak perlu sekolah-sekolah tinggi.
Anak saya yang SMP sekarang kalau bukan karena takut ditanya calon
mertua kelak, mungkin dia sudah berhenti sampai SMP saja. Jangan
sampai calon mertua nanti tanya, anaknya lulusan apa? (peserta seminar
tertawa).