Anda di halaman 1dari 15

1

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang
Morfologi tumbuhan adalah ilmu yang mempelajari struktur organ
tumbuhan baik akar, daun, batang, bunga, buah, maupun bijinya.Pada dasarnya,
tumbuhan terdiriatas 3 (tiga) organ pokok, yaitu akar (radiks), batang (caulis), dan
daun(folium).Tumbuhan yang mempunyai ketiga unsure pokok tersebut adalah
golongan kormofita (kormofita berasal dari BahasaYunani yaitu, cormus berarti
akar, batangdan daun, sedangkan phyta berarti tumbuhan).Dengan demikian,
dalam botani dipelajari semua disiplin ilmu biologi untuk mempelajari
pertumbuhan, reproduksi, metabolisme, perkembangan, interaksi dengan
komponen biotic dan komponen abiotik, serta evolusi tumbuhan.Khususnya
dalam mempelajari fisiologi tumbuhan, yang paling mendasar perlu dipelajari
adalah ilmu tentang sel. Tumbuhan termasuk organism multiseluler yang terdiri
dari berbagai jenis sel terspesialisasi yang bekerja sama melakukan fungsinya
(Tjitrosoepomo, 1999).
Selmerupakan unit paling kecil penyusun kehidupan.Sel berasal dari kata
latin “cella” yang berarti ruangan kecil. Semua fungsi kehidupan berlangsung
dan diatur dalam sel. Karena itulah sel dapat berfungsi secara autonom asalkan
seluruh kebutuhan hidupnya terpenuhi.Sel merupakan unit structural dan
fungsional terkecil mahluk hidup yang tersusun dari komponen yang sangat
kompleks.Adapun komponen penyusun sel antara lain dinding sel, inti sel,
sitoplasma dan organel yang larut didalamnya (Ahmad, 2001).
Pada komponen penyusun sel, terdapat bagian yang berperan dalam
perlindungan sel yang letaknya berada paling luar dan juga yang menjadi
perbedaan antara sel hewan dan sel tumbuhan. Bagian inilah yang disebut dengan
dinding sel.
Berdasarkan arah penebalannya, penebalan dinding sel dapat dibagi
menjadi dua yaitu penebalan dinding sel secara sentripetal (bagiandalam) dan
1
2

secara sentrifugal (bagianluar).Oleh karena itu pada praktikum kali ini, kami
melakukan percobaan tentang penebalan dinding sel dan modifikasi sel yang
terjadi pada beberapa tumbuhan seperti pada biji asam jawa(Tamarindusindica),
daun sukun (Arthocarpuscommunis)buahkelapa (CocusNucifera)
1.2 Maksud danTujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percobaan
Maksud dari percobaan yang dilakukan pada praktikum ini adalah agar
mahasiswa mampu mengetahui dan membedakan penebalan dinding sel pada
setiap tumbuhan seperti pada biji asam jawa Tamarindus indica, daun sukun
Arthocarpus communis, Kelapa Cocus Nucifera
1.2.2 TujuanPercobaan
Tujuan dari percobaan ini yaitu agar mahasiswa dapat mengamati
penebalan dinding sel pada setiap tumbuhan seperti pada biji asam jawa
Tamarindus indica, daun sukun Arthocarpus communis, dan kelapa Cocus
nucifera
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
Sel adalah bagian terkecil yang terdapat pada makhluk hidup. Setiap
makhluk hidup pasti memilki sel, karena dalam tubuh makhluk hidup ada
yang namanya organ, jaringan, dan sel. Kumpulan dari beberapa sel disebut
jaringan, dan kumpulan dari beberapa jaringan disebut organ. Jadi, sel
merupakan hal, mendasar dari segala aktifitas dalam tubuh kita (Poedjiadi,
2009).
Organisme yang hidup sekarang ini berasal dari satu sel induk yang
ada pada berjuta-juta tahun yang lalu, sel induk ini secara bertahap dan pelan-
pelan, berubah untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungaannya agar
dapat melangsungkan hidupnya.Sel-sel itu sendiri memiliki bagian-bagian
atau organel-organel yang memiliki fungsi tertentu, salah satunya dinding sel.
Dinding sel tumbuhan terdiri dari selulosa. Selulosa adalah
karbohidrat struktural dan dianggap sebagai gula kompleks karena digunakan
di kedua perlindungan dan struktur. Dinding sel tumbuhan terdiri dari tiga
lapisan. Setiap lapisan memiliki struktur yang unik dan fungsi. Lapisan dapat
bervariasi, tergantung pada jenis tumbuhan dan kebutuhannya.
Bagian tengah dinamai lamella. Lapisan luar ini juga dimiliki oleh sel-
sel tetangga, dan menghubungkan sel bersama-sama untuk membentuk
struktur yang kuat. Hal ini juga sangat fleksibel. Lamella di tengah kaya
pektin, yang membantu untuk memperkuat tumbuhan tersebut dan
memberikan kemampuan untuk menahan kompresi. Mereka juga mengandung
enzim yang membantu kerusakan dinding sel, yang memungkinkan tumbuhan
untuk mengubah strukturnya.
Proses ini penting ketika pematangan buah. Dinding primer adalah
lapisan berikutnya. Hal ini terdiri dari selulosa dalam bentuk mikrofibril.
Mikrofibril selulosa ini menganyam bersama-sama dengan glycan,

3
4

meningkatkan kekuatan selulosa. Pektin juga dapat ditemukan pada dinding


sel primer. Dengan semua kekuatan ini, Anda akan berpikir tidak ada yang
bisa ratakan sebuah rumput dandelion.
Lapisan ketiga dan terakhir adalah dinding sekunder. Lapisan ini
sangat kaku dan memberikan kekuatan kompresi. Ini membantu
menghentikan tumbuhan dari mendapatkan keretakan. Dinding sekunder
memiliki komposisi yang sangat mirip sebagai dinding utama, hanya memiliki
lebih banyak barang di dalamnya – mengandung lignin, yang sangat keras dan
memiliki kekuatan yang cukup besar. Dinding sekunder juga melindungi
tumbuhan dari serangan bakteri atau jamur.
Terbentuknya lapisan penebalan dinding sel dapat dibedakan dengan 2
cara, yaitu (Yayan,1992):
a. Aposisi, yaitu cara terbentuknya lapisan penebalan yang baru yang seolah-
olah melekat pada dinding sel yang lama yang telah dibentuk pada lapisan
penebalan pertama. Dengan cara pelekatan tersebut maka dinding sel akan
tampak berlapis-lapis seperti lamela-lamela, penebalan dengan cara ini
menyebabkan ruang sel menjadi lebih sempit.
b. Intusussepsi, yaitu cara pembentukan lapisan penebalan yang tidak
dilekatkan pada dinding atau membran lama, melainkan dengan cara
disisipkan diantara penebalan-penebalan yang telah ada. Cara penebalan ini
tidak memperlihatkan susunan yang berlapis-lapis seperti pada cara aposisi.
Berdasarkan arah penebalannya dibedakan menjadi penebalan
sentripetal (penebalan kearah dalam) dan penebalan sentrifugal (penebalan
kearah luar) (Woelaningsih, 1984).
Secara ringkas fungsi dinding sel sebagai berikut (Woelaningsih, 1984):
1. Mempertahankan dan menentukan bentuk sel
2. Membedakan sel tumbuhan dan sel hewan
3. Dukungan kekuatan mekanik yang memungkinkan tanaman untuk tumbuh
tinggi
5

4. Dinding sel mengandung berbagai macam enzim yang berperan penting


dalam penyerapan, transportasi, dan sekresi zat dalam tumbuhan
5. Menyimpan karbohidrat yang dapat digunakan kembali dalam proses
metabolism
6. Dinding sel berperan dalam pertahanan terhadap bakteri dan jamur patogen
dengan menerima dan pengolahan informasi dari permukaan patogen dan
memberikan informasi tersebut untuk membrane plasma sel inang
7. Mengendalikan laju dan arah pertumbuhan sel
8. Mengendalikan marfogenesis tanaman sejak dinding tanaman berkembang
hingga penambahan sel
9. Penghalang fisik untuk patogen dan air dalam sel bergabus.
II.2 Uraian Tanaman
II.2.1 Asam jawa (Tamarindus indica)
1. Klasifikasi asam jawa (Anonim, 2012)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae
Genus : Tamarindus
Spesies : Tamarindus indica
2. Morfologi (Tjitrosoepomo, 2009)
Asam jawa tergolong kedalam jenis pohon dan berumur panjang
(menahun). Berperawakan besar, selalu hijau (tidak mengalami masa gugur
daun), tinggi sampai 30 m dan diameter batang di pangkal hingga 2 m. Kulit
batang berwarna coklat keabu-abuan, kasar dan memecah, beralur-alur
vertikal. Tajuknya rindang dan lebat berdaun, melebar dan membulat. Asalnya
tidak pasti, mungkin jenis asli savana kering Afrika tropis. Jenis ini dahulu di
introduksi ke Asia yang menjadi tempat tumbuh sekarang, dan belum lama di
6

introduksi ke tropis di belahan barat. Tumbuh baik di daerah semi kering dan
iklim muson basah, dapat tumbuh di kisaran tipe tanah yang luas. Dapat hidup
di tempat bersuhu sampai 47°C, tapi sangat sensitif terhadap es. Umumnya
tumbuh di daerah bercurah hujan 500 – 1.500 mm/tahun, bahkan tetap hidup
pada curah hujan 350 mm jika diberi irigasi saat penanaman. Di daerah
tropika basah bercurah hujan lebih dari 4.000 mm, pembungaan dan
pembuahan menurun dengan jelas. Jenis ini menghasilkan benih lebih banyak
jika hidup di tempat dengan periode kering yang panjang, berapa pun curah
hujan tahunannya.
3. Khasiat (Rukmana, 2005).
Hampir semua bagian tanaman asam jawa dapat digunakan untu
berbagai keperluan sehingga tanaman ini disebut tanaman multiguna. Daun
asam digunakan sebagai bumbu masakan, bahan obat, dan kosmetika. Bunga
tanaman asam jawa merupakan sumber madu yang penting bagi
pengembangan budi daya lebah madu. Daging buah asam dimanfaatkan
sebagai bumbu masakan dan campuran obat tradisional. Buah asam banyak
digunakan dalam industri minuman, es krim, selai, manisan atau gula-gula,
sirup dan obat tradisional (jamu).
II.2.2 Sukun (Arthocarpus communis )
1. Klasifikasi sukun (Anonim, 2012)
Regnum : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Rosales
Famili : Moraceae
Genus : Arthocarpus
Spesies : Arthocarpus communis
2. Morfologi
7

Arthocapus communis (sukun) adalah tumbuhan yang banyak terdapat


di kawasan troika seperti indonesia. ketinggian tanaman ini mencapai 20m.
Sukun bukan buah bermusim meskipun biasanya berbunga dan berbuah dua
kali setahun. Kulit buahnya berwarna hijau kekuningan dan terdapat segmen-
segmen petak berbentik poligonal. Segmen poligonal ini dapat menentukan
kematangan buah sukun (Mustafa, A.M.,1998).
3. Khasiat
Buah sukun mengandung niasin, vitamin C, riboflavin, karbohidrat,
kalium, thiamin, natrium, kalsium, dan besi. Kayu yang dihasilkan dari
tanaman sukun bersih dan berwarna kuning, baik untuk digergaji menjadi
papan kotak, dapat digunakan sebagai bahan bangunan meskipun tidak begitu
baik (Heyne K,1987).
II.2.3 Kelapa (Cocos nucifera)
1. Klasifikasi
Regnum : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Palmales (Arecales)
Family : Palmae (Arecaceae)
Genus : Cocos
Spesies : Cocos nucifera L.
2. Morfologi
Kelapa adalah salah satu jenis tanaman yang termasuk ke dalam suku
pinang-pinangan (Arecaceae). Semua bagian pohon kelapa dapat
dimanfaatkan, mulai dari bunga, batang, pelepah, daun, buah, bahkan akarnya
pun dapat dimanfaatkan (Mahmud dan Ferry, 2005).
8

3. Khasiat
Kelapa (Cocos nucifera) adalah satu jenis tumbuhan dari suku aren-
arenan\ atau Arecaceae dan adalah anggota tunggal dalam marga Cocos.
Tumbuhan ini dimanfaatkan hampir semua bagiannya oleh manusia sehingga
dianggap sebagai tumbuhan serba guna. Batangnya digunakan sebagai kayu
dengan mutu menengah dan dapat digunakan sebagai papan untuk rumah.
Daunnya digunakan sebagai atap rumah setelah dikeringkan. Tangkai anak
daun yang sudah dikeringkan, disebut lidi, dihimpun satu menjadi sapu.
Tandan bunganya digunakan untuk hiasan dalam upacara perkawinan dengan
simbol tertentu. Bunga betinanya dapat dimakan. Cairan manis yang keluar
dari tangkai bunga, disebut (air) nira dapat diminum sebagai penyegar atau
difermentasi menjadi tuak. Buah kelapa adalah bagian paling bernilai
ekonomi. Sabut yang berupa serat-serat kasar, diperdagangkan sebagai bahan
bakar, pengisi jok kursi, anyaman tali, keset, serta media tanam bagi anggrek.
Tempurung atau batok digunakan sebagai bahan bakar, pengganti gayung,
wadah minuman, dan bahan baku berbagai bentuk kerajinan tangan.
Endosperma buah kelapa yang berupa cairan serta endapannya yang melekat
di dinding dalam batok (daging buah kelapa) adalah sumber penyegar populer.
Daging buah muda berwarna putih dan lunak biasa disajikan sebagai es kelapa
muda. Cairan ini mengandung beraneka enzim dan memiliki khasiat penetral
racun dan efek penyegar/penenang. Daging buah kelapa tua berwarna putih
dan mengeras. Sarinya diperas dan cairannya dinamakan santan. Daging buah
tua ini juga dapat diambil dan dikeringkan serta menjadi komoditi
perdagangan bernilai, disebut kopra.
9

BAB III
METODE KERJA
III.1 Waktu dan Tempat
Praktikum morfologi tumbuhan ini di laksanakan pada tanggal 16
November 2016 pada pukul 14.00 WITA, bertempat di Laboratoriun
Farmakognosi dan Fitokimia jurusan Farmasi, Fakultas Olahraga dan
Kesehatan, Universitas Negeri Gorontalo
III.2 Alat dan Bahan
III.2.1 Alat

Mikroskop Pipet Tetes Kaca Objek

Silet

III.2.2 Bahan

Cocus Nucifera Tamarindus Arthocarpus


indica communis

9
10

Air Tisu

III.3 Cara Kerja


III.3.1 Kelapa (Cocus nucifera)
1. Siapkan mikroskop sesuai dengan prosedur pengamatannya
2. Ambil endocarpium (batok) kelapa dan iris setipis mungkin lalu
pindahkan ke atas dan beri air lalu tiup
3. Amati dibawah mikroskop dengan pembesaran lemah dan kuat
4. Gambarlah bagian dinding sel dan penebalan yang terjadi serta tunjukkan
bagian yang disebut noktan
III.3.2 Asam Jawa (Tamarindus Indica)
1. Siapkan mikroskop sesuai dengan prosedur pengamatannya
2. Ambil endocarpium (batok) kepala dan iris setipis mungkin lalu
pindahkan ke atas dan beri air lalu tiup
3. Amati dibawah mikroskop dengan pembesaran lemah dan kuat
4. Gambarlah bagian dinding sel dan penebalan yang terjadi serta tunjukkan
bagian yang disebut noktan
5. Apa kesimpulan dari hasil pengamatn anda pada preparat tersebut
III.3.3 Daun Sukun (Arthocarpus communis)
1. Siapkan mikroskop sesuai dengan prosedur penggunaannya
2. Buatlah preparat penampang permukaan daun sukun dengan cara mengiris
setipis mungkin searah dengan permukaan daun
3. Latakkan di atas permukaan objek gelas yang berisi air lalu tutup dengan
deck gelas
4. Amati dibawah mikroskop dengan pembesaran lemah dan kuat
5. Gambar preparat dan tunjukkan bagian yang mengalami penebalan kearah
luar tersebut
11

BAB IV
PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Pengamatan

Kelapa (Cocos Nucifera) Daun Sukun (Arthocarpus


Comunis

Asam Jawa (Tamarindus


Indica)

IV.2 Pembahasan
Kesatuan struktur dan fungsional fisiologis dari organisme hidup \
ialah sel. Semua fungsi kehidupan diatur dan berlangsung dalam sel. Jadi sel
merupakan penyusun dasar kehidupan. Sel pada tumbuhan memiliki
perbedaan yang sangat nampak dengan sel hewan yaitu adanya dinding sel
pada sel tumbuhan. Fungsi utama dinding sel yaitu berperan untuk melindungi
sel (Suwarno, 2009).
Proses penebalan dinding sel, berdasarkan arah penebalannya terbagi atas dua,
yaitu penebalan dinding kebagian dalam dan penebalan kebagian luar.
Sehubungan dengan penebalan dinding sel, pada sel juga terdapat alat-alat
tambahan dan dapat terjadi modifikasi pada suatu sel (Ari Sulistyorini, 2009)

11
12

Hal pertama yang kita lakukan yaitu sebelum melakukan pengamatan


terlebih dahulu kita menyiapkan alat dan bahan, seperti mikroskop binokuler
yang berfungsi untuk mengamati objek secara detail, kaca objek yang
berfungsi untuk meletakan objek yang akan diamati, kaca penutup (Deck
Glass) yang berfungsi menutup atau menahan objek agar mudah diamati
melalui mikroskop, alkohol 70% yang berfungsi untuk mensterilkan kaca
objek dan kaca penutup, air mineral yang berfungsi membersihkan alat dan
juga untuk pengamatan objek dengan cara meneteskan air tersebut
menggunakan pipet pada objek yang akan diamati. Dilakukan penetesan air
karena untuk membuat kondisi sel dalam keadaan normal dan dapat
mempermudah proses pengamatan. Karena menurut Alert, G (1987) air yang
diteteskan akan membentuk lingkungan isotonik baik didalam maupun diluar
sel, sehingga bentuk sel normal.
Pada proses awal perkembangannya dinding sel akan mengalami
penebalan. Penebalan dinding sel umumnya terdapat pada sel-sel penyusun
jaringan meristem. Dari dinding sel primer menebal membentuk dinding sel
sekunder (Subardi, dkk, 2009)
Pada praktikum mengenai penebalan pada dinding sel bahan spesimen
yang diamati menggunakan kelapa disayat setipis mungkin agar bentuk selnya
terlihat dengan jelas ketika diamati di bawah mikroskop. Perbesaran
mikroskop yang digunakan dengan perbesaran 40 x 10, sehingga dapa Fahn
(1991), sklerenkim pada tempurung kelapa ini merupakan bentuk sklereid.
Sklereidnya berbentuk seperti bulat tidak beraturan dan di dalamnya terdapat
garis-garis. Garis-garis ini disebut noktah. Sklereid juga dapat disebut sel
batu. Sklereid pada endokarpium Cocos nucifera (tempurung kelapa)
termasuk kedalam tipe Brakisklereid. Brakisklereid ini dimana bentuknya
membulat biasanya terdapat di floem, korteks dan kulit batang serta daging
buah beberapa jenis tumbuhan. Sel ini dikatakan sel-sel batu karena karena
sel-sel sklereid tidak bercabang, tidak mempunyai bentuk yang ekstrim
13

bersifat soliter atau berkumpul. Mempunyai lumen sel yang sangat sempit
sehubungan dengan terbentuknya penebalan-penebalan dinding yang bersifat
sentrifugal. Sedangkan noktah buta tidak terlihat begitu jelas di perbesaran 40
x 10, noktah buta yaitu noktah yang bermuara pada ruang antar sel.
Selanjutnya sampel kedua yaitu biji asam jawa Tamarindus indica,
disayat melintang dan tipis pada biji asam jawa. Disayat melintang untuk
mendapatkan hasil yang sesuai dengan literatur yang nantinya akan
dibandingkan, disayat tipis karena menurut Muyani (2006), jika tebal yang
akan tampak bukan sel melainkan jaringan. Setelah disayat, diletakan sampel
diatas kaca preparat dan ditetesi air, kemudian ditutup dengan deck gelas
fungsi utama deck gelas ini menurut Suhana (1989) untuk melindungi sampel
dari debu dan kontak yang tidak disengaja kemudian dilakukan pengamatan
pada mikroskop dengan perbesaran lensa objektif (10 x 0,25). Berdasarkan
hasil pengamatan, dijumpai adanya trikoma. Hal ini sesuai dengan A. Fahn
(1995) yang menyatakan bahwa pada daun sukun terdapat trikoma. Trikoma
adalah semua tambahan uniseluler maupun multiseluler pada epidermis.
Sukun termasuk dalam genus Artocarpus famili (moraceae) yang
terdiri atas 50 spesies tanaman berkayu, yang hanya tumbuh di daerah panas
dan lembab di kawasan Asia Tenggara dan Kepulauan Pasifik. Tanaman
sukun merupakan tanaman hutan yang tingginya mencapai 20 m. Kayunya
lunak dan kulit kayu berserat kasar. Semua bagian tanaman bergetah encer.
Daunnya lebar, bercanggap menjari, dan berbulu kasar. Buahnya berbentuk
bulat berkulit tebal dan kasar, dengan warna hijau muda dan kuning dengan
berat sekitar 1,5 – 3 kg (Mustafa, 1998).
14

BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Sel adalah bagian terkecil yang terdapat pada makhluk hidup. Pada sel
terdapat dinding sel, dinding sel adalah bagian dari sel tersusun atas
polisakarida. Pada dinding sel akan terjadi penebalan dinding sel. Penebalan
dinding sel terbagi atas 2, yaitu penebalan dinding sel keluar dan penebalan
dinding sel ke dalam. Pada percobaan ini kami melakukan penebalan dinding
sel dan modifikasi sel yang terjadi pada biji asam jawa (tamarindus indicia),
daun sukun (arthicarpus communis) buah kelapa (cocus nucifera).
V.2 Saran
V.2.1 Saran untuk praktikan
Diharapkan kepada praktikan bahwa saat melakukan praktikum untuk
lebih konsentrasi, teliti agar hasil yang didapatkan dalam praktikum lebih
akurat.
V.2.2 Saran untuk asisten
Diharapkan kepada asisten agar lebih mengawasi dan membimbing
praktikan saat melakukan praktikan agar tidak banyak terjadi kesalahan dan
kekeliruan pada saat melakukan percobaan.
V.2.3 Saran buat jurusan
Saran kami kepada pihak jurusan agar memperhatikan keadaan
laborotorium dan melengkapi alat-alat praktikum yang masih kurang untuk
kepentingan bersama.

14
15

Daftar Pustaka
Ahmad, Hiskia. 2001. Kimia Larutan. Bandung: Citra Aditia Bakti.
Alaerts, G dan Santika. 1987. Media Penelitian Air. Surabaya : Usaha
Nasional
Ari Sulistyorini. 2009. Biologi. Jakarta : Pusat Perbukuan Departmen
Pendidikan Nasional.
Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan Edisi 3. Yogyakarta : Universitas
Gadjah Mada
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid II. Jakarta : Yayasan
Sarana Wana Jaya, Departemen Kehutanan Republik Indonesia
Mahmud,Z dan Ferry, Y. 2005.Prospek Pengolahan Hasil Samping Buah
Kelapa. Bogor : Pusat Penelitian Dan Perkembangan Perkebunan
Mustafa, A.M. 1998. Isi Kandungan Artocarpus communis. Food Science

Mulyani, Sri. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta : Kanisius

Poedjiadi, A. dkk. 2009. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta : Penerbit


Universitas Indonesia (UI-Press)
Rukmana, R. 2005. Bawang Merah : Budidaya dan Pengelolaan
Pascapanen. Kanisius. Yogyakarta.
Subardi, Nuryani, Pramono, S., 2009. Biologi BSE 1 untuk SMA/ MA kelas
X. Jakarta. Pusat Perbukuan DEPDIKNAS
Sutrian, Yayan. 1992. Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan. Tentang
Sel & Jaringan. : Jakarta Rineka Cipta
Suwarno, Wiji. 2009. Psikologi Perpustakaan. Jakarta: Sagung Seto

Tjitrosoepomo, G. 1999. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada


University Press.
Tjitrosoepomo, Gembong.1984. MorfologiTumbuhan. Yogyakarta: UGM
Press.
Woelaningsih, Sri. Anatomi Tumbuhan. Jakarta: UT. 1984.