Anda di halaman 1dari 4

1.

1 Latar Belakang Masalah


Salah satu aspek terpenting dalam membentuk pribadi manusia ialah pendidikan. Pendidikan
bertujuan untuk memperoleh ilmu yang akan digunakan ketika manusia terjun dalam kehidupan
sosial masyarakat. Selain itu pendidikan digunakan untuk menunjang kehidupan, bukan hanya
kehidupan pribadi, namun dapat juga menunjang kehidupan masyarakat. Pentingnya pendidikan
telah disadari oleh seluruh lapisan masyarakat. Di Indonesia, pemerintah mewajibkan masyarakat
untuk menempuh pendidikan Sembilan tahun. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup
masyarakat Indonesia agar lebih baik.
Sistem Pendidikan Nasional (Undang-Undang No. 20 Tahun 2013) mengartikan pendidikan
sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan sprititual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Belajar adalah suatu kata yang sudah akrab dengan semua lapisan masyarakat, bagi pelajar
atau siswa kata “belajar” merupakan kata yang tidak asing. Bahkan sudah merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari semua kegiatan mereka dalam menuntut ilmu di lembaga pendidikan formal.
Menurut Slameto, belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk
memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari
pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya. Sedangkan
Moeslichatoen mengemukakan bahwa belajar dapat diartikan sebagai proses yang memuat
terjadinya proses belajar dan perubahan itu sendidri dihasilakan dari usaha dalam proses belajar.
(Abdul Hadis, 2008:60).
Pembelajaran berbasis blended learning merupakan pilihan terbaik untuk meningkatkan
efektivitas, efisiensi, dan daya tarik yang lebih besar dalam berinteraksi antar manusia dalam
lingkungan belajar yang beragam. Belajar blended menawarkan kesempatan belajar untuk menjadi
baik secara bersama-sama dan terpisah, demikian pula pada waktu yang sama maupun berbeda.
Sebuah komunitas belajar dapat dilakukan oleh pelajar dan pengajar yang dapat berinteraksi setiap
saat dan di mana saja karena memanfaatkan yang diperoleh komputer maupun perangkat lain
(iPhone) sebagai fasilitasi belajar. Blended learning memberikan fasilitasi belajar yang sangat
sensitif terhadap segala perbedaan karakteristik pskiologis maupun lingkungan belajar.
Menurut Harding, Kaczynski dan Wood (2005), Blended learning merupakan pendekatan
pembelajaran yang mengintegrasikan pembelajaran tradisonal tatap muka dan pembelajaran jarak
jauh yang menggunakan sumber belajar online dan beragam pilihan komunikasi yang dapat
digunakan oleh guru dan siswa. Pelaksanaan pendekatan ini memungkinkan penggunaan sumber
belajar online, terutama yang berbasis web, tanpa meninggalkan kegiatan tatap muka. Dengan
pelaksanaan blended learning ini, pembelajaran berlangsung lebih bermakna karena keragaman
sumber belajar yang mungkin diperoleh.
Dengan demikian, Blended learning dapat diartikan sebagai proses pembelajaran yang
memanfaatkan berbagai macam pendekatan. Pendekatan yang dilakukan dapat memanfaatkan
berbagai macam media dan teknologi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa blended
learningadalah pembelajaran yang mengkombinasikan antara tatap muka (pembelajaran secara
konvensional, dimana antara pendidik dan peserta didik saling berinteraksi secara langsung,
masing-masing dapat bertukar informasi mengenai bahan-bahan pembelajaran), belajar mandiri
(belajar dengan berbagai modul yang telah disediakan) serta belajar mandiri secara online.
Setiap siswa memiliki gaya dan tipe belajar yang berbeda dengan teman-temannya, hal ini
disebabkan karena siswa memiliki potensi yang berbeda dengan orang lain. Menurut Hendra Surya
(2003:114), Belajar mandiri adalah proses menggerakan kekuatan atau dorongan dari dalam diri
individu yang belajar untuk menggerakan potensi dirinya mempelajari objek belajar tanpa ada
tekanan atau pengaruh asing di luar dirinya. Dengan demikian belajar mandiri lebih mengarah
pada pembentukan kemandirian dalam cara-cara belajar.
Dari pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa kemandirian belajar adalah aktivitas
belajar yang didorong oleh kemauan sendiri, pilihan sendiri dan tanggung jawab sendiri tanpa
bantuan orang lain serta mampu mempertanggung jawabkan tindakannya. Siswa dikatakan telah
mampu belajar secara mandiri apabila ia telah mampu melakukan tugas belajar tanpa
ketergantungan dengan orang lain.
Sekolah harus mengajarkan cara berpikir yang benar pada anak-anak. Berpikir dalam tingkatan
yang lebih tinggi membidik baik berpikir kritis maupun berpikir kreatif. Salah satu bentuk berpikir
adalah berpikir kritis (critical thinking). Dalam penelitian ini menekankan kemampuan dalam hal
berpikir kritis. Elaine Johnson (2002: 183) berpikir kritis merupakan sebuah proses yang terarah
dan jelas yang digunakan dalam kegiatan mental seperti memecahkan masalah, mengambil
keputusan, membujuk, menganalisis asumsi, dan melakukan penelitian ilmiah.
Menurut Paul (2005) berpikir kritis adalah suatu seni berpikir yang berdampak pada intelektualitas
seseorang, sehingga bagi orang yang mempunyai kemampuan berpikir kritis yang baik, akan
mempunyai kemampuan intelektualitas yang lebih dibandingkan dengan orang yang mempunyai
kemampuan berpikir yang rendah. Ia juga mengemukakan bahwa berpikir kritis merupakan dasar
untuk mempelajari setiap disiplin ilmu. Suatu disiplin ilmu merupakan suatu kesatuan sistem yang
tidak terpisah sehingga untuk mempelajarinya membutuhkan suatu ketrampilan berpikir tertentu.
Menurut para ahli (Pery dan Potter,2005), berpikir kritis adalah suatu proses dimana
seseorang atau individu dituntut untuk menginterfensikan atau mengefaluasi informasi untuk
membuat sebuah penilain atau keputusan berdasarkan kemampuan,menerapkan ilmu pengetahuan
dan pengalaman. Proses berpikir ini dilakukan sepanjang waktu sejalan dengan keterlibatan kita
dalam pengalaman baru dan menerapkan pengetahuan yang kita miliki, kita menjadi lebih mampu
untuk membentuk asumsi, ide-ide dan membuat kesimpulan yang valid, semua proses tersebut
tidak terlepas dari sebuah proses berpikir dan belajar.
Definisi para ahli tentang berpikir kritis sangat beragam namun secara umum berpikir kritis
merupakan suatu proses berpikir kognitif dengan menggabungkan kemampuan intelektual dan
kemampuan berpikir untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dalam kehidupan, sehingga bentuk
ketrampilan berpikir yang dibutuhkan pun akan berbeda untuk masing–masing disiplin ilmu.
Berpikir berpikir kritis merupakan konsep dasar yang terdiri dari konsep berpikir yang
berhubungan dengan proses belajar dan krisis itu sendiri sebagai sudut pandang selain itu juga
membahas tentang komponen berpikir kritis dalam keperawatan yang didalamnya dipelajari
krakteristik, sikap dan standar berpikir kritis, analisis, pertanyaan kritis, pengambilan keputusan
dan kreatifitas dalam berpikir kritis.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul “Strategi Blended Learning dalam Meningkatkan Kemandirian Belajar
dan Berpikir Kritis Siswa pada Pelajaran Akuntansi”.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah pada penelitian ini

sebagai berikut.
1. Bagaimana Implementasi Strategi Blended Learning dalam Meningkatkan Kemandirian

Belajar dan Berpikir Kritis Siswa pada Pelajaran Akuntasi?

2. Bagaimana variasi penerapan Strategi Blended Learning dalam Meningkatkan

Kemandirian Belajar dan Berpikir Kritis Siswa pada Pelajaran Akuntansi?

3. Apa saja problematika implementasi penerapan Strategi Blended Learning dalam

Meningkatkan Kemandirian Belajar dan Berpikir Kritis Siswa pada Pelajaran Akuntasi?

1.3 Tujuan

Berdasarkan latar belakang masalah dan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini sebagai

berikut.

1. Untuk mengetahui Implementasi Strategi Blended Learning dalam Meningkatkan


Kemandirian Belajar dan Berpikir Kritis Siswa pada Pelajaran Akuntasi.
2. Untuk mengetahui variasi penerapan Strategi Blended Learning dalam Meningkatkan
Kemandirian Belajar dan Berpikir Kritis Siswa pada Pelajaran Akuntansi.
3. Untuk mengetahui problematika implementasi penerapan Strategi Blended Learning dalam
Meningkatkan Kemandirian Belajar dan Berpikir Kritis Siswa pada Pelajaran Akuntansi.