Anda di halaman 1dari 6

Soal:

1. Manusia sebagai mahluk pengemban nilai-nilai moral.


2. Manusia sebagai mahluk termulia.

Jawaban:
1. Manusia sebagai mahluk pengemban nilai-nilai moral.
Dua kekayaan manusia yang paling utama adalah akal dan budi atau yang lazim
disebut sebagai pikiran dan perasaan. Di satu sisi akal dan budi atau pikiran dan perasaan
tersebut telah memungkinkan munculnya tuntutan-tuntutan hidup manusia yang lebih dari
pada tuntutan hidup makhluk lain. Dari sifat tuntutan itu ada yang berupa tuntutan jasmani
dan ada pula tuntutan rohani. Bila diteliti jenis maupun ragamnya sangat banyak, namun yang
pasti semua itu hanya untuk mencapai kebahagiaan. Di sisi lain akal dan budi memungkinkan
karya-karya manusia yang sampai kapan pun tidak pernah akan dapat dihasilkan oleh
makhluk lain. Cipta,karsa dan rasa pada manusia sebagai buah akal budinya terus melaju
tanpa hentinya usaha menciptakan benda-benda baru untuk memenuhi hajat hidupnya baik
yang bersifat jasmani maupun rohani.Dari proses ini,maka lahirlah apa yang disebut
kebudayaan. Jadi kebudayaan hakikatnya tidak lain adalah segala sesuatu yang dihasilkan
oleh akal budi manusia.
Yang dimaksud manusia sebagai manusia sebagai makhluk berbudaya tidak lain
adalah makhluk yang senantiasa mendayagunakan akal budinya. Untuk menciptakan
kebahagiaan. Kebahagiaan memang hak semua orang, untuk memperolehnya setiap orang
dapat menggunakan cara, gaya, akal dan melalui berbagai upaya sesuai dengan kemampuan
dan kesempatan yang dimilikinya. Bukan hanya dalam memperoleh kebahagiaan, manusia
yang mengaku dirinya sebagai makhluk berbudaya dalam menikmati kebahagiaan yang telah
dimiliki harus memenuhi ketentuan-ketentuan di atas. Jelasnya untuk mendapatkan maupun
menikmati kebahagiaan, manusia yang selalu berusaha tidak mengurangi, apalagi
meniadakan sama sekali kebahagiaan pihak lain. Bahkan pihak lain kalau mungkin dapat ikut
serta merasakan kebahagiaan itu. Langkah pertama bagi yang berniat menjadi manusia susila
atau berbudaya, manusia yang sadar sebagai pengemban nilai-nilai moral ialah manusia yang
selalu berusaha memperhatikan dengan sungguh-sungguh penerangan akal dan budi dan
berusaha menaatinya. Harus melatih diri mengekang atau mengendalikan hawa nafsu dan
berusaha membatasi keinginan dalam segala segi. Hal itu berarti bahwa seseorang belum
dikatakan bermoral apabila dia melihat perbuatan jahat tidak berusaha memberantasnya,
hanya dengan alasan kejahatan itu tidak merugikan dirinya. Sebagai pengemban nilai-nilai
moral, setiap orang harus merasa terpanggil untuk mengadakan reaksi. Kapan dan dimana
saja melihat perbuatan yang menginjak-injak nilai moral tersebut.
Manusia yang memiliki akal dan budi menimbulkan kehidupan cara dan pola hidup
yang berdimensi ganda. Keduanya yaitu kehidupan bersifat material dan kehiduan yang
bersifat spiritual. Manusia di manapun berada akan berusaha menggapai kenikmatan kedua
jenis kehidupan tersebut. Akal dan budi sangat berperan dalam usaha menciptakan kedua
jenis kehidupan tersebut. Untuk menciptakan kehidupan yang berbahagia baik jasmani dan
rohani manusia akan menciptakan benda-benda baru. Hal ini akan mengembangkan dan
memajukan kebudayaan. Jika kemajuan dan perkembangan terbatas pada kemajuan material
saja akan menimbulkan kepincangan pada kehidupan manusia. Hidup mereka kurang
sempurna yang disebabkan kosongnya kehidupan batin. Akibat dari kosongnya kehidupan
spiritual menyebabkan mereka tidak memperoleh ketentraman dan ketertiban hidup.
Hilangnya ketentraman dan ketertiban hidup akan hilang pula rasa kebersamaan dan
tenggang rasa. Yang muncul adalah sifat egosentris dan sifat menghalalkan segala cara
bahkan akan muncul kembali semboyan “Homo Homini Lupus” atau yang lemah dimakan
oleh yang kuat. Akal dan budi manusia berbudaya pasti akan menolak bila menyaksikan
kehidupan seperti itu karena menyalahi kodrat dan bertentangan dengan kita sebagai manusia.
Sebab pada hakikatnya manusia hidup selalu memerlukan pertolongan orang lain, dan
sebagai manusia yang normal akan berusaha bertindak baik, jujur, dan adil. Sifat-sifat yang
diperoleh dari hasil akal dan budi manusia ini tidak tumbuh seperti tubuh yang otomatis.
Namun sifat-sifat tersebut akan timbul dari proses belajar, yaitu bagaimana manusia harus
memperhatikan penerangan akal dan budi pekerti. Jika manusia telah berhasil menguasai
hawa nafsu serta keinginannya maka dia telah berhasil sebagai manusia sebagai pengemban
norma-norma kesusilaan atau normal. Jika semua manusia telah berhasil mengemban norma-
norma moral maka akan tercapai adil dan damai di kehidupan bermasyarakat. Sebaliknya
selama masih ada di antara orang yang melakukan sesuatu hanya demi kepentingan pribadi
maka kedamaian dan keadilan hanyalah merupakan impian belaka.

2. Manusia sebagai mahluk termulia.


Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Bukti paling kongkrit
yaitu manusia memiliki kemampuan intelegesi dan daya nalar sehingga manusia mampu
berifikir, berbuat, dan bertindak untuk membuat perubahan dengan maksud pengembangan
sebagai manusia yang utuh. Kemampuan seperti itulah yang tidak dimiliki oleh makhluk
Tuhan lainnya. Dalam kaitannya dengan perkembangan individu, manusia dapat tumbuh dan
berkembang melalui suatu proses alami menuju kedewasaan baik itu bersifat jasmani maupun
bersifat rohani. Pada dasarnya ada dua pokok persoalan tentang hakikat manusia. Pertama,
telaah tentang manusia atau hakikat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan di muka bumi
ini. Kedua, telaah tentang sifat manusia dan karakteristik yang menjadi ciri khususnya serta
hubungannya dengan fitrah manusia. Berikut beberapa ragam pemahaman tentang hakikat
manusia
a. Homo Religius
Pandangan tentang sosok manusia dan hakikat manusia sebagai makhluk yang
beragam. Manusia diciptakan Tuhan Yang Maha Esa di muka bumi ini sebagai
makhluk yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lain ciptaan-Nya.
Melalui kesempurnaannya itulah manusia bisa berfikit, bertindak, berusaha dan bisa
manentukan mana yang baik dan benar. Disisi lain manusia meyakini bahwa ia
memiliki keterbatasan dan kekurangan. Mereka yakin ada kekuatan lain, yaitu Tuhan
sang pencipta alam semesta. Oleh sebab itu, sudah menjadi fitrah manusia, pada
hakikatnya manusia adalah makhluk religius yang mempercayai adanya sang maha
pencipta yang mengatur seluruh sistem kehidupan dimuka bumi ini.
b. Homo Sapiens
Pemahaman hakikat manusia sebagai makhluk yang bijaksana dan dapat berfikir atau
sebagai animal rationale. Hakikat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang
paling tinggi dan paling mulia. Hal ini disebabkan oleh manusia karena memiliki akal,
pikiran, rasio, daya nalar, cipta dan karsa, sehingga manusia mampu mengembangkan
dirinya sebagai manusia seutuhnya. Manusia sebagai suatu organisme kehidupan
dapat tumbuh dan berkembang, namun yang membedakan manusia dengan makhluk
lainnya adalah manusia memiliki daya pikir sehingga ia bisa berbicara, berfikir,
berbuat, belajar, dan memiliki cita-cita sebagai dambaan dalam menjalankan
kehidupannya yang lebih baik.

c. Homo Faber
Pemahaman hakikat manusia sebagai makhluk yang berpiranti (perkakas). Manusia
dengan akal dan ketrampilan tangannya dapat menciptakan atau menghasilkan sesuatu
(sebagai produsen) dan pada pihak lain ia juga menggunakan karya lain (sebagai
konsumen) untuk kesejahteraan dan kemakmuran hidupnya. Melalui kemampual dan
daya pikir yang dimilikinya, serta ditunjang oleh daya cipta dan karsa, manusia dapat
berkiprah lebih luas dalam tatanan organisasi kemasyarakata menuju kehidupan yang
lebih baik.
d. Homo Homini Socius
Kendati manusia sebagai makhluk individu, makhluk yang memiliki jati diri, yang
memiliki ciri pembeda antara yang satu dengan yang lainnya, namun pada saat yang
bersamaan manusia juga sebagai kawan sosial bagi manusia lainnya. Ia senantisa
berinteraksi dengan lingkungannya. Ia berhubungan satu sama lain dan membentuk
suatu masyarakat tertentu. Walaupun terdapat pendapat yang berlawanan, ada yang
menyebut manusia adalah serigala bagi manusia lain (homo homini lupus).
Pemahaman yang terakhir inilah yang harus dihindarkan agar tidak terjadi malapetaka
dimuka bumi ini. Sejarah telah membuktikan adanya perang saudara ataupun
pertikaian antarbangsa, pada akhirnya hanya membuahkan derajat peradapan manusia
semakin tercabik-cabik dan terhempaskan.
e. Manusia sebagai makhluk etis dan estetis
Hakikat manusia pada dasarnya adalah sebagai makhluk yang memiliki kesadaran
susila (etika) dalam arti ia dapar memahami norma-norma sosial dan mampu berbuat
sesuai dengan norma dan kaidah etika yang diyakininya. Sedangkan makna estetis
yaitu pemahaman tentang hakikat manusia sebagai makhluk yang memiliki rasa
keindahan (sense of beauty) dan rasa estetika (sense of estetics). Sosok manusia yang
memiliki cita, rasa, dan dimensi keindahan atau estetika lainnya.

Selain itu kalau dilihat dari fisik maupun yang ada sebaliknya, tidak dipungkiri lagi
kalau manusia menyatakan dirinya sebagai makhluk termulia diantara makhluk ciptaan
Tuhan atas kemahamurahan dan kemahaasihan-Nya, manusia dibekali dengan peralatan
hidup sehingga dikatakan “Sempurna” kehidupannya dengan corak yang beragam
dibandingkan dengan yang lain. Dan ada bukti yang dapat dikatakan sebagai “Tanda
Kemuliaan / Keistimewaan” manusia diantara makhluk lain ciptaan-Nya. Misalnya :

1. Semua unsur alam, termasuk makhluk-makhluk lain, dapat dikuasai manusia dan
dimanfaatkan untuk keperluan hidupnya.
2. Manusia mampu mengatur perkembangan hidup makhluk lain dan menghindarkannya
dari kepunahan.
3. Manusia mampu mengusahakan agar apa yang ada di alam ini tidak saling
meniadakan.
4. Manusia mampu mengubah apa yang ada di alam ini yang secara alamiah tidak
bermanfaat menjadi bermanfaat, baik bagi keperluan hidup manusia sendiri, maupun
keperluan umum.
5. Manusia memiliki kreativitas, sehingga mampu menciptakan benda-benda yang
diperlukan dengan bentuk dan model yang sesuai dengan keinginannya mereka.
6. Manusia memiliki rasa indah, sehingga mampu menciptakan benda-benda seni yang
dapat menambah kenikmatan kehidupan rohaninya.
7. Manusia memiliki alat untuk berkomunikasi dengan sesamanya yang disebut dengan
Bahasa, yang memungkinkan mereka dapat saling bertukar informasi satu sama lain
demi kesempurnaan hidup bersama.
8. Manusia memiliki sarana pengatur kehidupan bersama yang disebut sopan santun /
tata susila, agar terciptanya suasana kehidupan bersama yang tertib dan saling
menghargai.
9. Manusia memiliki ilmu pengetahuan, sehingga kehidupan mereka semakin
berkembang dan makin sempurna.
10. Manusia memiliki pegangan hidup antar sesama demi kesejahteraan hidupnya di
dunia selain itu juga mengatur “pergaulannya” dengan Sang Pencipta demi
kebahagiaan di kehidupan akheratnya kelak.

Berdasarkan uraian di atas, Manusia dianggap makhluk yang paling sempurna karena
manusia memiliki kemampuan intelegesi dan daya nalar sehingga manusia mampu berifikir,
berbuat, dan bertindak untuk membuat perubahan dengan maksud pengembangan sebagai
manusia yang utuh. Kemampuan seperti itulah yang tidak dimiliki oleh makhluk Tuhan
lainnya. ada dua pokok persoalan tentang hakikat manusia. Pertama, telaah tentang manusia
atau hakikat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan di muka bumi ini. Kedua, telaah
tentang sifat manusia dan karakteristik yang menjadi ciri khususnya serta hubungannya
dengan fitrah manusia.

Referensi:
Widagdho, D., et al. (1991). Ilmu Budaya Dasar. Semarang: Bumi Aksara
Azis, K. (Juni 2013). asal Asli Blog. Pendidikan Budaya dan Humaniora.
http://ruddi221.blogspot.co.id/2013/06/pendidikan-budaya-dan-humaniora.html, diakses 6
Juni 2017
Tisya Blog. (Desember 2011). Makalah ISBD "Manusia sebagai Makhluk yang Paling
Mulia". http://patriciaselanno.blogspot.co.id/2011/12/makalah-isbd-manusia-sebagai-
makhluk.html, diakses 6 Juni 2017.