Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

HEMORAGIK STROKE

A. KONSEP MEDIS

1. Pengertian Hemoragik Stroke

a. Menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang

berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (global) dengan

gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang

menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain

vaskular (Muttaqin, 2008).

b. Stroke hemoragik adalah stroke yang terjadi karena pembuluh darah

di otak pecah sehingga timbul iskhemik dan hipoksia di hilir.

Penyebab stroke hemoragi antara lain: hipertensi, pecahnya

aneurisma, malformasi arteri venosa. Biasanya kejadiannya saat

melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat

istirahat. Kesadaran pasien umumnya menurun (Ria Artiani, 2009).

c. Stroke hemoragik adalah pembuluh darah otak yang pecah sehingga

menghambat aliran darah yang normal dan darah merembes ke

dalam suatu daerah di otak dan kemudian merusaknya (M. Adib,

2009).

d. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa stroke hemoragik adalah salah

satu jenis stroke yang disebabkan karena pecahnya pembuluh darah

di otak sehingga darah tidak dapat mengalir secara semestinya yang


menyebabkan otak mengalami hipoksia dan berakhir dengan

kelumpuhan.

2. Etiologi Hemoragik Stroke

Penyebab perdarahan otak yang paling lazim terjadi:

a. Aneurisma Berry, biasanya defek kongenital.

b. Aneurisma fusiformis dari atherosklerosis. Atherosklerosis adalah

mengerasnya pembuluh darah serta berkurangnya kelenturan atau

elastisitas dinding pembuluh darah. Dinding arteri menjadi lemah

dan terjadi aneurisma kemudian robek dan terjadi perdarahan.

c. Aneurisma myocotik dari vaskulitis nekrose dan emboli septis.

d. Malformasi arteriovenous, adalah pembuluh darah yang mempunyai

bentuk abnormal, terjadi hubungan persambungan pembuluh darah

arteri, sehingga darah arteri langsung masuk vena, menyebabkan

mudah pecah dan menimbulkan perdarahan otak.

e. Ruptur arteriol serebral, akibat hipertensi yang menimbulkan

penebalan dan degenerasi pembuluh darah.

Faktor resiko pada stroke adalah

a. Hipertensi

b. Penyakit kardiovaskuler: arteria koronaria, gagal jantung kongestif,

fibrilasi atrium, penyakit jantung kongestif).

c. Kolesterol tinggi, obesitas.

d. Peningkatan hematokrit (resiko infark serebral).


e. Diabetes Melitus (berkaitan dengan aterogenesis terakselerasi).

f. Kontrasepasi oral (khususnya dengan disertai hipertensi, merokok,

dan kadar estrogen tinggi).

g. Penyalahgunaan obat (kokain), rokok dan alkohol

3. Patofisiologi Hemoragik Stroke

Ada dua bentuk CVA bleeding:

a. Perdarahan intra cerebral

Pecahnya pembuluh darah otak terutama karena hipertensi

mengakibatkan darah masuk ke dalam jaringan otak, membentuk

massa atau hematom yang menekan jaringan otak dan menimbulkan

oedema di sekitar otak. Peningkatan TIK yang terjadi dengan cepat

dapat mengakibatkan kematian yang mendadak karena herniasi otak.

Perdarahan intra cerebral sering dijumpai di daerah putamen,

talamus, sub kortikal, nukleus kaudatus, pon, dan cerebellum.

Hipertensi kronis mengakibatkan perubahan struktur dinding

permbuluh darah berupa lipohyalinosis atau nekrosis fibrinoid.

b. Perdarahan sub arachnoid.

Pecahnya pembuluh darah karena aneurisma atau AVM. Aneurisma

paling sering didapat pada percabangan pembuluh darah besar di

sirkulasi willisi. AVM dapat dijumpai pada jaringan otak

dipermukaan pia meter dan ventrikel otak, ataupun didalam ventrikel

otak dan ruang subarakhnoid. Pecahnya arteri dan keluarnya darah

keruang subarakhnoid mengakibatkan tarjadinya peningkatan TIK


yang mendadak, meregangnya struktur peka nyeri, sehinga timbul

nyeri kepala hebat. Sering pula dijumpai kaku kuduk dan tanda-

tanda rangsangan selaput otak lainnya. Peningkatam TIK yang

mendadak juga mengakibatkan perdarahan subhialoid pada retina

dan penurunan kesadaran. Perdarahan subarakhnoid dapat

mengakibatkan vasospasme pembuluh darah serebral. Vasospasme

ini seringkali terjadi 3-5 hari setelah timbulnya perdarahan,

mencapai puncaknya hari ke 5-9, dan dapat menghilang setelah

minggu ke 2-5. Timbulnya vasospasme diduga karena interaksi

antara bahan-bahan yang berasal dari darah dan dilepaskan kedalam

cairan serebrospinalis dengan pembuluh arteri di ruang

subarakhnoid. Vasospasme ini dapat mengakibatkan disfungsi otak

global (nyeri kepala, penurunan kesadaran) maupun fokal

(hemiparese, gangguan hemisensorik, afasia dan lain-lain). Otak

dapat berfungsi jika kebutuhan O2 dan glukosa otak dapat terpenuhi.

Energi yang dihasilkan didalam sel saraf hampir seluruhnya melalui

proses oksidasi. Otak tidak punya cadangan O2 jadi kerusakan,

kekurangan aliran darah otak walau sebentar akan menyebabkan

gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan glukosa sebagai

bahan bakar metabolisme otak, tidak boleh kurang dari 20 mg%

karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25 %

dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa

plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala disfungsi serebral.


Pada saat otak hipoksia, tubuh berusaha memenuhi O2 melalui

proses metabolik anaerob,yang dapat menyebabkan dilatasi

pembuluh darah otak.

4. Manifestasi Klinis Hemoragik Stroke

Kemungkinan kecacatan yang berkaitan dengan stroke.

a. Daerah serebri media

1) Hemiplegi kontralateral, sering disertai hemianestesi

2) Hemianopsi homonim kontralateral.

3) Afasi bila mengenai hemisfer dominan.

4) Apraksi bila mengenai hemisfer nondominan

b. Daerah Karotis interna

Serupa dengan bila mengenai Serebri media

c. Daerah Serebri anterior

1) Hemiplegi (dan hemianestesi) kontralateral terutama di tungkai

2) Incontinentia urinae.

3) Afasi atau apraksi tergantung hemisfer mana yang terkena

d. Daerah Posterior

1) Hemianopsi homonim kontralateral mungkin tanpa mengenai

2) Daerah makula karena daerah ini juga diperdarahi oleh Serebri

media

3) Nyeri talamik spontan.

4) Hemibalisme.
5) Aleksi bila mengenai hemisfer dominan

e. Daerah vertebrobasiler

1) Sering fatal karena mengenai juga pusat-pusat vital di batang

otak.

2) Hemiplegi alternans atau tetraplegi.

3) Kelumpuhan pseudobulbar (disartri, disfagi, emosi labil)

5. Komplikasi Hemoragik Stroke

Stroke hemoragik dapat menyebabkan

a. Infark Serebri

b. Hidrosephalus yang sebagian kecil menjadi hidrosephalus

normotensif

c. Fistula caroticocavernosum

d. Epistaksis

e. Peningkatan TIK, tonus otot abnormal

6. Penatalaksanaan Medis Hemoragik Stroke

Penatalaksanaan untuk stroke hemoragik, antara lain:

a. Menurunkan kerusakan iskemik cerebral

Infark cerebral terdapat kehilangan secara mantap inti central

jaringan otak, sekitar daerah itu mungkin ada jaringan yang masih

bisa diselematkan, tindakan awal difokuskan untuk menyelematkan

sebanyak mungkin area iskemik dengan memberikan O2, glukosa


dan aliran darah yang adekuat dengan mengontrol / memperbaiki

disritmia (irama dan frekuensi) serta tekanan darah.

b. Mengendalikan hipertensi dan menurunkan TIK.

Dengan meninggikan kepala 15-30 menghindari flexi dan rotasi

kepala yang berlebihan, pemberian dexamethason.

c. Pengobatan

1) Anti koagulan: Heparin untuk menurunkan kecederungan

perdarahan pada fase akut.

2) Obat anti trombotik: Pemberian ini diharapkan mencegah

peristiwa trombolitik / emobolik.

3) Diuretika : untuk menurunkan edema serebral

d. Penatalaksanaan Pembedahan

Endarterektomy karotis dilakukan untuk memeperbaiki peredaran

darahotak. Penderita yang menjalani tindakan ini seringkali juga

menderita beberapa penyulit seperti hipertensi, diabetes dan penyakit

kardiovaskular yang luas. Tindakan ini dilakukan dengan anestesi

umum sehingga saluran pernafasan dan kontrol ventilasi yang baik

dapat dipertahankan.

7. Pemeriksaan Penunjang Hemoragik Stroke

a. Angiografi cerebral
Membantu menentukan penyebab dari stroke secara spesifik seperti

perdarahan arteriovena atau adanya ruptur dan untuk mencari

sumber perdarahan seperti aneurism atau malformasi vaskular.

b. Lumbal pungsi

Tekanan yang meningkat dan disertai bercak darah pada cairan

lumbal menunjukkan adanya hemoragi pada subarakhnoid atau

perdarahan pada intrakranial.

c. CT scan

Penindaian ini memperlihatkan secara spesifik letak edema, posisi

hematoma, adanya jaringan otak yang infark atau iskemia dan

posisinya secara pasti.

d. MRI (Magnetic Imaging Resonance)

Menggunakan gelombang megnetik untuk menentukan posisi dan

bsar terjadinya perdarahan otak. Hasil yang didapatkan area yang

mengalami lesi dan infark akibat dari hemoragik.

e. EEG

Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat masalah yang timbul dan

dampak dari jaringan yang infrak sehingga menurunnya impuls

listrik dalam jaringan otak.

B. KONSEP KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Aktivitas dan istirahat


Data Subyektif:

 Kesulitan dalam beraktivitas ; kelemahan, kehilangan sensasi atau

paralisis.

 Mudah lelah, kesulitan istirahat ( nyeri atau kejang otot.

Data obyektif:

 Perubahan tingkat kesadaran.

 Perubahan tonus otot ( flaksid atau spastic), paraliysis (

hemiplegia ) , kelemahan umum.

 Gangguan penglihatan

Sirkulasi

Data Subyektif:

 Riwayat penyakit jantung ( penyakit katup jantung, disritmia,

gagal jantung , endokarditis bacterial ), polisitemia.

 Data obyektif:

 Hipertensi arterialDisritmia, perubahan EKG

 Pulsasi : kemungkinan bervariasi

 Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal

b. Integritas ego

Data Subyektif:

 Perasaan tidak berdaya, hilang harapan

Data obyektif:
Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat, kesedihan ,

kegembiraan, Kesulitan berekspresi diri

c. Eliminasi

Data Subyektif:

 Inkontinensia, anuria.

 Distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh ), tidak adanya

suara usus ( ileus paralitik )

d. Makan/ minum

Data Subyektif:

 Nafsu makan hilang

 Nausea / vomitus menandakan adanya PTIKKehilangan sensasi

lidah, pipi , tenggorokan, disfagia.

 Riwayat DM, peningkatan lemak dalam darah.

Data obyektif:

 Problem dalam mengunyah ( menurunnya reflek palatum dan

faring )

 Obesitas ( faktor resiko )

e. Sensori neural

Data Subyektif:

 Pusing / syncope ( sebelum CVA / sementara selama TIA )

 Nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub

arachnoid.
 Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti

lumpuh/mati.

 Penglihatan berkurang.

 Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas

dan pada muka ipsilateral ( sisi yang sama ).

 Gangguan rasa pengecapan dan penciuman

Data obyektif:

 Status mental ; koma biasanya menandai stadium perdarahan ,

gangguan tingkah laku (seperti: letargi, apatis, menyerang) dan

gangguan fungsi kognitif.

 Ekstremitas : kelemahan / paraliysis ( kontralateral pada semua

jenis stroke, genggaman tangan tidak seimbang, berkurangnya

reflek tendon dalam ( kontralateral ).

 Wajah: paralisis / parese ( ipsilateral ).

 Afasia (kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa), kemungkinan

ekspresif/ kesulitan berkata-kata, reseptif / kesulitan berkata-kata

komprehensif, global / kombinasi dari keduanya.

 Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, pendengaran,

stimuli taktil.

 Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik.

 Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi

pada sisi ipsi lateral


f. Nyeri / kenyamanan

Data Subyektif:

Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya

Data Obyektif:

Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan otot / fasial

g. Respirasi

Data Subyektif:

Perokok ( faktor resiko ), Tanda:

 Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas

 Timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur

 Suara nafas terdengar ronchi /aspirasi

h. Keamanan

Data Obyektif:

 Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan.

 Perubahan persepsi terhadap tubuh, kesulitan untuk melihat

objek, hilang kewaspadaan terhadap bagian tubuh yang sakit.

 Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, dan wajah yang

pernah dikenali.

 Gangguan berespon terhadap panas, dan dingin/gangguan

regulasi suhu tubuh.

 Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap

keamanan, berkurang kesadaran diri.


i. Interaksi sosial

Data Obyektif:

Problem berbicara, ketidakmampuan berkomunikasi

j. Pengajaran / pembelajaran

Data Subjektif :

 Riwayat hipertensi keluarga, stroke.

 Penggunaan kontrasepsi oral

k. Pertimbangan rencana pulang

 Menentukan regimen medikasi / penanganan terapi.

 Bantuan untuk transportasi, shoping , menyiapkan makanan ,

perawatan diri dan pekerjaan rumah.

2. Diagnosa Keperawatan

a. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kesadaran.

b. Ketidakefektifan Perfusi jaringan serebral berhubungan dengan

aliran darah ke otak terhambat.

c. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan

sirkulasi ke otak.

d. Defisit perawatan diri: makan, mandi, berpakaian, toileting

berhubungan kerusakan neurovaskuler.

e. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan

neurovaskuler.
f. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan immobilisasi

fisik .

g. Resiko Aspirasi berhubungan dengan penurunan kesadaran.

h. Resiko injuri berhubungan dengan penurunan kesadaran.

3. Rencana Keperawatan

Diagnosa
No Tujuan Intervensi
Keperawatan

1. Ketidakefektifan Setelah dilakukan Monitorang neurologis

Perfusi jaringan tindakan keperawatan


1. Monitor ukuran, kesimetrisan, reaksi dan
serebral b.d aliran selama 3 x 24 jam,
bentuk pupil
darah ke otak diharapkan suplai aliran
2. Monitor tingkat kesadaran klien
terhambat. darah keotak lancar
3. Monitir tanda-tanda vital.
dengan kriteria hasil:
4. Monitor keluhan nyeri kepala, mual,

 Nyeri kepala / vertigo muntah.

berkurang sampai de- 5. Monitor respon klien terhadap

ngan hilang pengobatan.

 Berfungsinya saraf 6. Hindari aktivitas jika TIK meningkat

dengan baik. 7. Observasi kondisi fisik klien

 Tanda-tanda vital

stabil.
Terapi oksigen

1. Bersihkan jalan nafas dari sekret

2. Pertahankan jalan nafas tetap efektif

3. Berikan oksigen sesuai intruksi.

4. Monitor aliran oksigen, kanul oksigen

dan sistem humidifier.

5. Beri penjelasan kepada klien tentang

pentingnya pemberian oksigen.

6. Observasi tanda-tanda hipo-ventilasi.

7. Monitor respon klien terhadap

pemberian oksigen.

8. Anjurkan klien untuk tetap memakai

oksigen selama aktifitas dan tidur

2 Kerusakan Setelah dilakukan 1. Libatkan keluarga untuk membantu

komunikasi verbal tindakan keperawatan memahami / memahamkan informasi dari

b.d penurunan selama 3 x 24 jam, / ke klien.

sirkulasi ke otak diharapkan klien mampu 2. Dengarkan setiap ucapan klien dengan

untuk berkomunikasi lagi penuh perhatian.

dengan kriteria hasil: 3. Gunakan kata-kata sederhana dan pendek

dalam komunikasi dengan klien


 Dapat menjawab
4. Dorong klien untuk mengulang kata-kata
pertanyaan yang
5. Berikan arahan / perintah yang sederhana
diajukan perawat.
 Dapat mengerti dan setiap interaksi dengan klien

memahami pesan- 6. Programkan speech-language teraphy

pesan melalui 7. Lakukan speech-language teraphy setiap

gambar. interaksi dengan klien

 Dapat

mengekspresikan

perasaannya secara

verbal maupun

nonverbal

3 Defisit perawatan Setelah dilakukan


1 Kaji kamampuan klien untuk perawatan diri

diri; tindakan keperawatan


2 Pantau kebutuhan klien untuk alat-alat bantu
mandi,berpakaian, selama 3x 24 jam,
dalam makan, mandi, berpakaian dan toileting
makan, diharapkan kebutuhan
3 Berikan bantuan pada klien hingga klien
mandiri klien terpenuhi,
sepenuhnya bisa mandiri
dengan kriteria hasil:

4 Berikan dukungan pada klien untuk


- Klien dapat makan
menunjukkan aktivitas normal sesuai
dengan bantuan orang
kemampuannya
lain / mandiri

5 Libatkan keluarga dalam pemenuhan


- Klien dapat mandi de-
kebutuhan perawatan diri klien
ngan bantuan orang lain

- Klien dapat memakai

pakaian dengan bantuan


orang lain / mandiri

- Klien dapat toileting

dengan bantuan alat

4 Kerusakan mobilitas Setelah dilakukan


1 Ajarkan klien untuk latihan rentang gerak

fisik b.d kerusakan tindakan keperawatan aktif pada sisi ekstrimitas yang sehat

neurovas-kuler selama 3x24 jam,


2 Ajarkan rentang gerak pasif pada sisi
diharapkan klien dapat
ekstrimitas yang parese / plegi dalam toleransi
melakukan pergerakan
nyeri
fisik dengan kriteria hasil
3 Topang ekstrimitas dengan bantal untuk
:
mencegah atau mangurangi bengkak
- Tidak terjadi
4 Ajarkan ambulasi sesuai dengan tahapan dan
kontraktur otot dan
kemampuan klien
footdrop

5 Motivasi klien untuk melakukan latihan sendi


- Pasien berpartisipasi
seperti yang disarankan
dalam program latihan

6 Libatkan keluarga untuk membantu klien


- Pasien mencapai
latihan sendi
keseimbangan saat duduk

- Pasien mampu

menggunakan sisi tubuh

yang tidak sakit untuk

kompensasi hilangnya
fungsi pada sisi yang

parese/plegi

5 Resiko kerusakan Setelah dilakukan


1 Beri penjelasan pada klien tentang: resiko

integritas kulit b.d tindakan perawatan adanya luka tekan, tanda dan gejala luka

immobilisasi fisik selama 3 x 24 jam, tekan, tindakan pencegahan agar tidak terjadi

diharapkan pasien luka tekan)

mampu mengetahui dan


2 Berikan masase sederhana
mengontrol resiko
- Ciptakan lingkungan yang nyaman
dengan kriteria hasil :

- Gunakan lotion, minyak atau bedak untuk


- Klien mampu menge-
pelicin
nali tanda dan gejala

adanya resiko luka tekan- Lakukan masase secara teratur

- Klien mampu
- Anjurkan klien untuk rileks selama masase

berpartisi-pasi dalam
- Jangan masase pada area kemerahan utk
pencegahan resiko luka
menghindari kerusakan kapiler
tekan (masase sederhana,
-
alih ba-ring, manajemen Evaluasi respon klien terhadap masase

nutrisi, manajemen
3 Lakukan alih baring
tekanan).
- Ubah posisi klien setiap 30 menit- 2 jam

- Pertahankan tempat tidur sedatar mungkin


untuk mengurangi kekuatan geseran

- Batasi posisi semi fowler hanya 30 menit

- Observasi area yang tertekan (telinga,

mata kaki, sakrum, skrotum, siku, ischium,

skapula)

4 Berikan manajemen nutrisi

- Kolaborasi dengan ahli gizi

- Monitor intake nutrisi

- Tingkatkan masukan protein dan

karbohidrat untuk memelihara ke-seimbangan

nitrogen positif

5 Berikan manajemen tekanan

- Monitor kulit adanya kemerahan dan

pecah-pecah

- Beri pelembab pada kulit yang kering dan

pecah-pecah

- Jaga sprei dalam keadaan bersih dan

kering
- Monitor aktivitas dan mobilitas klien

- Beri bedak atau kamper spritus pada area

yang tertekan

6 Resiko Aspirasi Setelah dilakukan Aspiration Control Management :

berhubungan dengan tindakan perawatan


- Monitor tingkat kesadaran, reflek batuk
penurunan tingkat selama 3 x 24 jam,
dankemampuan menelan
kesadaran diharapkan tidak terjadi
- Pelihara jalan nafas
aspirasi pada pasien

dengan kriteria hasil : - Lakukan saction bila diperlukan

- Dapat bernafas
- Haluskan makanan yang akan diberikan

dengan mudah,frekuensi
- Haluskan obat sebelum pemberian
pernafasan normal

- Mampu

menelan,mengunyah

tanpa terjadi aspirasi

7 Resiko Injuri Setelah dilakukan Risk Control Injury

berhubungan dengan tindakan perawatan


- menyediakan lingkungan yang aman bagi
penurunan tingkat selama 3 x 24 jam,
kesadaran diharapkan tidak terjadi pasien

trauma pada pasien


- memberikan informasi mengenai cara
dengan kriteria hasil:
mencegah cedera

- bebas dari cedera


- memberikan penerangan yang cukup

- mampu menjelaskan
- menganjurkan keluarga untuk selalu
factor resiko dari
menemani pasien
lingkungan dan cara

untuk mencegah cedera

- menggunakan fasilitas

kesehatan yang ada

8 Pola nafas tidak Setelah dilakukan Respiratori Status Management

efektif berhubungan tindakan perawatan


- Pertahankan jalan nafas yang paten
dengan penurunan selama 3 x 24 jam,
- Observasi tanda-tanda hipoventilasi
kesadaran diharapkan pola nafas

pasien efektif dengan


- Berikan terapi O2

kriteria hasil :
- Dengarkan adanya kelainan suara

- Menujukkan jalan nafas tambahan

paten ( tidak merasa


- Monitor vital sign
tercekik, irama nafas

normal, frekuensi nafas

normal,tidak ada suara


nafas tambahan

- Tanda-tanda vital dalam

batas normal

Discharge planning bagi pasien stroke

a. Memastikan keamanan bagi pasien setelah pemulangan .

b. Memilih perawatan, bantuan, atau peralatan khusus yang dibutuhkan

c. Merancang untuk pelayanan rehabilitasi lanjut atau tindakan lainnya

di rumah (misal kunjungan rumah oleh tim kesehatan).

d. Penunjukkan health care provider yang akan memonitor status

kesehatan pasien.

e. Menentukan pemberi bantuan yang akan bekerja sebagai partner

dengan pasien untuk memberikan perawatan dan bantuan harian di

rumah, dan mengajarkan tindakan yang dibutuhkan.

Anda mungkin juga menyukai