Anda di halaman 1dari 60

METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN :

RENCANA PERSIAPAN PENANGANAN PEKERJAAN


Tahap penanganan pekerjaa meliputi sebagai berikut :

1. Tahap Kesatu :
Pada tahap ini adalah tahap persiapan yang meliputi pekerjaan penyiapan dokumen-
dokumen proyek, antara lain : Purchasing Order material yang akan digunakan di site
serta koordinasi dengan Direksi Pekerjaan dalam hal pelaksanaan pekerjaan,
persiapan personil-personil yang akan ditempatkan di proyek maupun persiapan
bahan-bahan / material kebutuhan proyek.

2. Tahap Kedua :
Pada tahap ini adalah tahap Inpeksi teknis seperti peninjauan lokasi, evaluasi tentang
teknik-teknik pekerjaan dan lainnya.

3. Tahap Ketiga :
Tahap ini adalah tahap Pabrikasi (Proses Produksi) untuk peralatan yang akan
disuplay,dimana terlebih dahulu telah mendapat persetujuan Approval Drawing dari
Pemberi Kerja.

4. Tahap Keempat :
Adalah tahap pengiriman material ke site, dimana sebelumnya diadakan
pemeriksaan terhadap material yang akan dikirim dengan Direksi Pekerjaan guna
menyaksikan apakah peralatan tersebut tidak dalam keadaan rusak atau cacat, dan
pada tahap ini pula, kontraktormengsuransikan seluruh material yang akan dikirim ke
site dengan kondisi All Risk.

5. Tahap Kelima :
Pada tahap ini adalah tahap inti dari pekerjaan, yaitu pekerjaan Pembangunan Gardu
Induk 150 kV yang secara garis besarnya meliputi :

1. Pengukuran / Survey dan Soil Investigasi.


2. Pembebasan tanah dan sertifikasi bila diperlukan
3. Pekerjaan Prasarana
4. Pekerjaan Elektrikal / Mekanikal
5. Penyediaan Tenaga Kerja / tenaga ahli
6. Penyediaan Peralatan Kerja
7. Penyediaan Gambar-gambar kerja
6. Tahap Keenam :
Setelah semua perlatan sudah terpasang pada tempat yang telah ditentukan sesuai
petunjuk Direksi Pekerjaan, maka pada tahap ini dilaksanakan Pengujian di
lapangan, yang meliputi Individual test, pengujian fungsi serta pengoperasian
komersial yang disaksikan oleh Pemberi Tugas dan PLN JTK.
7. Tahap Ketujuh :
Adalah tahap serah terima pekerjaan untuk yang pertama kalinya, apabila pekerjaan
telah mencapai 100 %.

8. Tahap Kedelapan :
Adalah tahap evaluasi pekerjaan yang meliputi evaluasi tahap akhir pekerjaan
dimaksud, baik teknik maupun administrasi.

RENCANA PENANGANAN PEKERJAAN UTAMA

A. PENGADAAN MATERIAL

1. LINGKUP PEKERJAAN

Lingkup pekerjaan ini adalah desain, pabrikasi, pengadaan, pengujian, penyelesaian


akhir, penggalvanisan, pengecatan sesuai yang ditentukan, pengepakan, asuransi,
sertificate pengujian dan pengiriman sampai ke tujuan termasuk bongkar muat.

2. TAHAPAN DAN CARA PELAKSANAAN

a. Mempelajari kembali atau mereview lebih detail semua material import berikut
dengan designnya yang sudah kita ajukan ke PLN pada waktu proses Bidding.

b. Menghubungi supplier material-material tersebut untuk menanyakan apakah material yang


mereka tawarkan sudah sesuai dengan spesifikasi teknis yang diinginkan PLN.

c. Siapkan semua dokumen pendukung untuk semua material import yang akan disuplai
sesuai dengan Kontrak seperti brosur/catalog, spesifikasi teknis, design drawing, routine test
dll.

d. Mengajukan dokumen-dokumen tersebut ke PLN untuk dimintakan approvalnya (Material


Approval Request). Karena biasanya material import delivery time nya relative lebih lama,
berikan batas waktu kepada PLN untuk mempelajari/mereview material yang kita ajukan untuk
proses approval.

e. Bila ada ketidak jelasan/discrepancy mengenai material yang kita ajukan, klarifikasi teknis
dengan PLN perlu dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Jika diperlukan pihak
supplier bisa diikut sertakan dalam proses klarifikasi teknis dengan PLN.

f. Setelah PLN mempelajari/merivew Material Approval Request yang kita ajukan, PLN akan
mengeluarkan surat resmi mengenai material tersebut apakah disetujui atau tidak. Jika tidak
disetujui maka KONTRAKTOR harus mengajukan lagi material yang lain yang sesuai dengan
spesifikasi teknis yang diinginkan oleh PLN sesuai dengan Kontrak. Jika disetujui, kita bisa
langsung men follow up ke supliernya untuk proses lebih jauh.

g. Melaksanakan meeting dengan supplier untuk membicarakan penawaran mereka baik


masalah teknis maupun non teknis, terutama masalah delivery time nya. Jika semuanya sudah
jelas, proses pembuatan Purchase Order (PO) bisa dilaksanakan.

h. Follow up order: order acknowledgement dari supplier harus sama dengan PO yang
dibuat KONTRAKTOR ke mereka, monitor delivery time.

i. Jika material sudah selesai di pabrikasi, pihak supplier harus memberitahukan kepada
KONTRAKTOR bahwa material sudah selesai di pabrikasi dan siap untuk witness test.
j. KONTRAKTOR menghubungi PLN untuk menginformasikan bahwa material sudah
selesai dipabrikasi dan siap untuk di witness test. Jika pihak PLN menginginkan hadir untuk
witness test, koordinasi harus dilakukan dengan pihak PLN, KONTRAKTOR dan supplier untuk
schedule witness test. Jika pihak PLN menyatakan tidak perlu hadir, maka witness test
dilaksanakan hanya dihadiri oleh KONTRAKTOR. Hasil witness test nya harus
disampaikan ke PLN untuk review. Jika disetujui maka PLN akan mengeluarkan Inspection
Quality Certificate (IQC).

k. Jika hasil witness test nya disetujui oleh PLN, proses selanjutnya adalah
menyiapkan material tersebut untuk proses pengepakan dan pengiriman ke PLN. Jika hasil
witness test nya tidak disetujui oleh PLN, pihak supplier harusmemperbaiki material
tersebut dan mengulang witness testnya sampai hasilnya disetujui oleh pihak PLN.

l. Proses selanjutnya setelah di witness test dan hasilnya disetujui oleh PLN adalah proses
pengiriman. Dalam proses ini yang dilakukan oleh pihak KONTRAKTOR adalah
membuat shipping instruction ke forwarding agent dan supplier. Karena materialnya adalah
import maka kita harus mengatur proses custom clearance. Dalam proses custom clearance
ini yang harus diperhatikan adalah masalah dokumen-dokumen pendukung dari material
tersebut apakah sudah sesuai dengan materialnya atau tidak seperti Invoice, Bill of Ladding
dan Packing List. Jika dokumen-dokumen pendukung tersebut ada yang tidak sesuai dengan
aktualnya, hal ini akan mempengaruhi proses custom clearance yang bisa berakibat
keterlambatan material.

m. Jika KONTRAKTOR sudah mengetahui detail schedule pengiriman dari supplier, pihak
KONTRAKTOR wajib memberitahukan kepada pihak PLN, sehingga bisa diperkiraan
kedatangan material tersebut.

n. Pengiriman material bisa dilaksanakan melalui angkutan darat, laut, udara atau kombinasi
diantaranya. Jika kelihatannya menggunakan angkutan laut akan terlambat, alternative
angkutan udara harus diambil agar material tiba di site sesuai dengan schedulenya.
Pengiriman material harus dilakukan sedemikian rupa sehingga cukup kuat dan
tahan lama, sehingga aman dan terhindar dari kemungkinan cacat atau rusak selama
dalam pengangkutan maupun selama penyimpanan.

o. KONTRAKTOR harus mengantisipasi segala kendala yang mungkin timbul pada


saat pelaksanaan pengiriman sehingga waktu yang diperlukan untuk pengiriman tidak menjadi
kendala untuk penyelesaian pekerjaan tepat waktu.

p. Material-material yang akan dikirim harus diasuransikan.

q. Setelah material tiba di site atau gudang PLN, sebelum material diserahkan ke pihak
PLN, pemeriksaan terhadap material tersebut harus dilakukan antara pihak PLN dan
KONTRAKTOR, untuk melihat jumlah material yang dikirim, apakah material yang dikirim
sudah sesuai dengan permintaannya PLN dan apakah ada kerusakan atau tidak selama
proses transportasinya. Jika ada kerusakan, pihak KONTRAKTOR harus memperbaikinya
dengan cara perbaikan yang disetujui oleh PLN. Jika material yang rusak tersebut sudah tidak
memenuhi persyaratan setelah diperbaiki maka harus diganti dengan yang baru.
KONTRAKTOR akan melakukan proses claim ke asuransi. Hasil pemeriksaan tersebut
harus dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan yang ditandatangani oleh PLN dan
KONTRAKTOR. Berita Acara Pemeriksaan bersama tersebut harus menyebutkan kondisi
dan kelengkapan material secara visual.

3. ANALISA PENGERAHAN PERALATAN DAN MATERIAL

a. Pengiriman material harus dikemas sedemikian rupa sehingga cukup kuat, aman dan
terhindar dari kemungkinan cacat atau rusak selama dalam pengangkutan maupun
selama penyimpanan dan tahan lama.

b. Pengepakan agar dibuat persatuan set (atau dengan cara lain yang disetujui PLN)

c. sehingga memudahkan administrasi penerimaan dan pemasangan di lapangan.


d. Pengepakan harus sedemikian rupa sehingga tidak terjadi kerusakan selama
perjalanan. KONTRAKTOR harus mengajukan metoda pengepakan kepada PLN
untuk mendapat persetujuan.

e. Peti untuk pengepakan harus kuat (min. tebal papan 25 mm). Kertas tahan air
dipergunakan untuk kertas pembungkus tambahan
f. Kotak pengepakan diberi tanda dari material yang tahan air atau dilindungi dengan
lem/perekat atau alat lain sehingga tidak mudah lepas selama pengiriman.

g. Pengiriman material dapat menggunakan angkutan darat, laut, udara atau


kombinasi antaranya.

h. Segala kendala yang mungkin timbul pada saat pelaksanaan pengiriman harus bisa
diantisipasi sehingga waktu yang diperlukan untuk pengiriman tidak menjadi
kendala untuk penyelesaian pekerjaan tepat waktu.

i. Schedule pengiriman material harus diberitahukan kepada PLN.

j. Pada saat bongkar muat material, perlu diperhatikan berat dan dimensi dari material
tersebut sehingga bisa ditentukan penggunaan alat berat apa yang sesuai dengan
kondisi material tersebut. Alat berat yang dipergunakan dalam proses bongkar muat
adalah crane, forklift, truck.

4. ANALISA PENGERAHAN PERSONIL DAN K3

a. Personil yang terlibat didalam proses pengadaan material ini adalah Project
Manager, Design Engineer, Supply Manager, Logistic, Project Administrator dan
Safety Officer.

b. Safety Officer terutama dilibatkan dalam proses pengujian, pengepakan, pengiriman dan
bongkar muat.

5. PENGENDALIAN MUTU

a. Dalam proses pengadaan material KONTRAKTOR berpedoman pada Standard


Operating Procedures yang sudah diterapkan dilingkungan KONTRAKTOR
berdasarkan ISO 9001.

b. Untuk material yang akan di suplai ke PLN, standard yang dipergunakan


diutamakan standard IEC (International Electrotechnical Commission), SPLN
(Standard Perusahaan Listrik Negara), IEEE (Institute of Electrical and Electronics
Engineers). Atau dapat menggunakan standard lain yang setara yaitu standard
Inggris, Jerman, Jepang, Prancis, USA atau standard lain yang dapat dipertanggung
jawabkan.
B. PEKERJAAN SIPIL

Yang termasuk dalam skop pekerjaan ini adalah meliputi Pekerjaan Persiapan,
Pematangan tanah, Pekerjaan dinding Penahan Tanah, Pekerjaan Saluran dan Gorong-
gorong, Jalan Kompleks, Pekerjaan Pagar dan Pintu Pagar, Pekerjaan water Suplay dan
Fire Hydrant, Pekerjaan Pos jaga, Pekerjaan Gudang dan Bengkel, Pekerjaan Rumah
Operator, Pekerjaan Gedung Kontrol, Pekerjaan Penerangan Komplek dan Pekerjaan
Pondasi Peralatan.

5.1.1. Pekerjaan Persiapan.

Pada tahap ini, pertama – tama kontraktorakan melaksanakan penentuan


lokasi dengan memperhitungkan tata ruang kotakedepan, biaya-biaya konstruksi,
transfortasi dan keandalansistim setelah itu diadakan pengukuran untuk pembebasan
lahan. Setelah tanah sudah dikuasai, maka diadakan pengeboran untuk soil investigasi,
pengerjaan geolistrik dan penggambaran, pekerjaan Mobilisasi dan demobilisasi untuk
selanjutnya pekerjaan Land Clearing, Pembongkaran dan pembersihan kembali serta
pekerjaan DireksiKeet.

5.1.2. Pekerjaan Pematangan Tanah.

Pekerjaan ini meliputi pengukuran dan pemasangan bowlank dan propil galian,
pengupasan permukaan tanah, penebangan pohon, gusuran dan pemadatan.

5.1.3. Pekerjaan Dinding Penahan Tanah.

Kontraktor melaksanakan pekerjaan pembuatan dinding penahan tanah yang terbuat dari
pasangan batu kali/belah, termasuk didalamnya pemasangan drainage dan filter.

5.1.4. Pekerjaan saluran dan gorong-gorong.

Kegiatan pekerjaan ini adalah pembuatan saluran terbuka ataupun saluran tertutup
berdasarkan gambar pelaksanaan dengan tetap memperhatikan posisi, bentuk dan elevasi
terhadap kondisi tanah dan bangunan lainnya.

5.1.5. Pekerjaan Pagar dan Pintu.


Sebelum pekerjaan pagar ini dilaksanakan, terlebih dahulu dibuatkan pondasi, sehingga
pada saat pemasangan pagar Galvanized dan pintu dorong sesuai dengan elevasi yang
telah ditetapkan.

5.1.6. Pekerjaan pagar Tembok.

Pekerjaan ini meliputi penyediaan material, transportasi dan tenaga kerja serta peralatan
yang terdiri dari pondasi,, pemasangan tembok batu bata, plesteran dan tiang-tiang besi.

5.1.7. Pekerjaan Jalan Komleks.

Pekerjaan jalan yang akan dilaksanakan adalah setelah pekerjaan pematangan tanah
selesai dikerjakan, pekerjaan ini meliputi leveling dan memadatkan lapisan pasir kemudian
menghampar / mengatur pavin blok, bahu jalan menggunakan lapisan rabat beton

5.1.8. Pekerjaan Pos Jaga.

Pada mulanya pekerjaan ini adalah penentuan titik peil, kemudian kontraktor memasang
bowplank, setelah itu pengupasan tanah dan pembersihan seluruh lapangan. Setelah itu
dilaksanakan Galian Tanah untuk pondasi, urugan tanah dan pasir, selanjutnya pekerjaan
pemasangan batu bata, plesteran, pekerjaan beton, pekerjaan lantai / dinding dan
pekerjaan kusen pintu dan jendela, pekerjaan penggantung dan pengunci, pekerjaan kaca,
pekerjaan atap, pekerjaan pengecatan, pekerjaan Sanitair, Instalasi listrik, pemipaan dan
pembersihan.

5.1.9. Pekerjaan Rumah Operator

Pelaksanaan pekerjaan untuk Rumah operator dapat diuraikan sebagai berikut :

- Penyediaan Gambar Kerja

- Pekerjaan bowplank

- Pekerjaan Galian Tanah, urugan tanah dan pasir untuk

pondasi

- Pekerjaan Pemasangan bata dan plesteran

- Pekerjaan Pembetonan

- Pekerjaan Lantai / dinding

- Pekerjaan Kusen, Pintu dan Jendela


- Pekerjaan pengantung dan Pengunci

- Pekerjaan Kaca

- Pekerjaan Atap dan Rangka Kuda-kuda

- Pekerjaan Pengecatan

- Pekerjaan Rabat beton

- Pekerjaan Sanitair

- Pekerjaan Plafon

- Pekerjaan Instalasi Listrik.

5.1.10. Pekerjaan Gedung Kontrol

Pelaksanaan pekerjaan untuk Gedung Kontrol dapat diuraikan sebagai berikut :

- Penyediaan Gambar Kerja

- Pekerjaan bowplank

- Pekerjaan Galian Tanah, urugan tanah dan pasir untuk

pondasi

- Pekerjaan Pemasangan bata dan plesteran

- Pekerjaan Pembetonan

- Pekerjaan Lantai / dinding

- Pekerjaan Kusen, Pintu dan Jendela

- Pekerjaan pengantung dan Pengunci

- Pekerjaan Kaca

- Pekerjaan Atap dan Rangka Kuda-kuda

- Pekerjaan Pengecatan

- Pekerjaan Rabat beton

- Pekerjaan Sanitair

- Pekerjaan Plafon

- Pekerjaan Instalasi Listrik.

- Pekerjaan Pemipaan

- Pekerjaan Fire Extinguisher


- Pekerjaan Air Conditioners

- Pekerjaan Papan Nama

- Pekerjaan Tiang Bendera

5.1.11. Pekerjaan Sumur Dalam (Bor)

Setelah gambar dan rencana kerja tersedia, sumur dalam dibuat dan
dilaksanakandengancara water jetting, pompa isap lumpur dan auger untuk memenuhi
base camp. Pekerjaan ini dapat dilaksanakan dengan metode :

- Pengeboran sumur dan pemasangan pipa screen dan pipa

dorong

- Pemasangan Pompa Celup

- Instalasi Pemipaan Sumur sampai ke permukaan

- Penyambungan pipa suplay ke ground reservoir

- Pembuatan Tutup sumur dan support

5.1.12. Pekerjaan water Suplay.

Pekerjaan ini dilaksanakan dengan cara membuat Ground Reservoir, rumah pompa,
pemasangan menara air danpondasinya, penyediaan tanki air dan unit pompa serta
pemasangan instalasi pipa. Pelaksanaan pekerjaan ini tetap memperhatikan gambar kerja
yang telah disetujui.

5.1.13. Pekerjaan Fire Hydrant.

Berdasarkan gambar kerja yang telah disetujui, maka kontraktor melaksanakan pembuatan
fasilitas Fire Hydrant yang meliputi Pemasangan Unit Pompa Portable Fire Hydrant,
pemasangan unit hydrant dan accessoriesnya serta penyediaan dan pemasangan instalasi
pipa dari ground reservoir ke pompa portable fire hydrant.

5.1.14. Pekerjaan Penerangan Komplek.

Pekerjaan ini dimulai dari pengadaan material, kemudian menyiapkan gambar kerjauntuk
pemasangan peralatan dan pengujian.
Semua pekerjaan sipil di atas dilaksanakan berdasarkan speksifikasi yang telah
ditetapkan dan sesuai petunjuk direksi pekerjaan.

5.2. Pondasi Peralatan, Cable Duct dan Grounding

5.2.1. Pekerjaan Galian Tanah.

Tanah asli / Rabat beton yang ada sebelumnya diambil dahulu atasnya, kemudian galian
tanah dapat dilaksanakan sesuai dengan ukuran dan tinggi permukaan sesuai gambar.

Pengkurukan kembali galian pondasi dilaksanakan setelah beton selesai dicor dengan
persetujuan pengawas / direksi pekerjaan.Tanah urukandiratakan sesuai tanah asli.

5.2.2. Spesifikasi Pondasi.

a. Berhubung dengan bermacam-macam peralatan yang akan dibuat pada


gardu induk Tello, maka gambar pondasi disini merupakan acuan dalam
pelaksanaan pekerjaan.

b. berkomunikasi dengan pengawas / Direksi Pekerjaan tentang peralatan


yang akan dipasang utamanya pada pemasangan angkur baut.

c. Kontraktor harus membuat gambar kerja bila ada sesuau perubahan


dilapangan yang tentu saja harus disetujui oleh pengawas / Direksi
Pekerjaan.

d. Pondasi yang digunakan terdiri dari konstruksi pondasisetapak dengan


beton bertulang K – 225.

e. Konstruksi plat pondasi merupakan satu kesatuan struktur, sehingga


pada saat pengecoran plat beton, semua penulangan sudah dipasang
secara kokoh, benar dan baik.
f. Mutu beton yang digunakan untuk pembuatan pondasi ini dengan
campuran 1 pc : 1,5 ps : 2,5 krl dan harus memenuhi kualitas mutu
beton K-225.

g. Pada prinsipnya pekerjaan beton untuk pondasi ini mengacu pada


ketentuan item pekerjaan beton pada

h. syarat teknis dari Dokumen Lelang kecuali disebutkan lain secara


khusus.

i. Kontraktor bertanggung jawab penuh atas mutu beton sesuai dengan


hasil testing.

j. Semua beton harus diaduk dengan beton molen atau

dengan menggunakan ready mix.

k. Cara pengecoran pondasi dilaksanakan sedemikian rupa sehingga


pondasi merupakan satu kesatuan.

i. Pemadatan beton dilakukan dengan menggunakan vibrator,


terkecuali jika pengecoran dilakukan dengan ready mix.

ii. Pengecoranpondasi dilaksanakan setelah mendapat persetujuan


dari pengawas / Direksi Pekerjaan.

iii. Penghentian pengecoran juga atas persetujuan Pengawas / Direksi


pekerjaan

iv. Cetakan / Bekisting tidak boleh beton dibongkar sebelum beton


mencapai kekuatan yang cukup. Dalam pembongkaran, kontraktor
harus memperhatikan peraturan di dalam PBI 1971. Tanggung
jawab atas

v. keamanan konstruksi bilamana terjadi pembongkaran cetakan


sebelum waktunya adalah menjadi tanggung jawab kontraktor.

vi. Selama pengecoran tidak diperkenankan air tanah bercampur


dengan adukan beton baru

vii. Pembersihan lokasi bekas pengecoran.

5.3. Pekerjaan Finishing Pondasi.

5.3.1. Setelah selesai pengecoran, Selama 14 (empat belas) hari, beton senantiasa
dibasahi terus-menerus.
5.3.2. Diusahakan agar air hujan dikemudian hari tidak akan merusak pondasi, maka
itu akan dibuatkan saluran – saluran sedemikian rupa sehingga air hujan
dapat terkendalikan dan tidak akan merusak pondasi (tidak lonsor)

5.4. Cable Duct, Penutup dan Cable Hanger

5.4.1. Pekerjaan ini meliputi pembuatan pondasi cable duct (saluran cabel) dan
penutup, serta cable hanger (Penggantungkabel).

5.4.2. Jenis cable duct yang akan digunakan dalam proyek ini adalah :

- Cable duct type 54

- Cable duct type 34

5.4.3. Cable duct terbuat dari beton bertulang mutu K-225 dengan ukuran seperti
dalam gambar pelaksanaan yang ada.

5.4.4. Penutup cable duct terbuat dari plat baja dengan ketebalan 5 mm dan
dibingkai dengan baja siku yang disambung dengan
caramengelassekelilingnya.

5.4.5. Cable hanger terbuat dari baja siku yang digalvanized dan dibuat menempel
pada dinding cable duct dengan menggunakan fisher

5.4.6. Teknik pelaksanaan pengecoran cable duct seperti pada teknik


pengecoranpondasi, yang membedakan hanya bentuk dan volume betonnya
saja.

5.5. Grounding

1. Pekerjaan grounding adalah pekerjaan yang menggunakan material dari bahan


kawat BC 70 mm yang ditanam dengan membentuk jarring-jaring serandang.

2. Earthing Rod dipasang tertanam dalam tanah sisetiappondasi LA (Lighting


Arrester) dengan menggunakan material besi tembaga sepanjang 2 meter.

5.6. Hamparan Kerikil

1. Membuka Top Soil Yaitu membuka lapisan permukaan tanah yang akandihampar
kerikil, permukaan yang terdapat rumput dan humus serta kotoran lain harus
dihilangkan dari lokasi pekerjaan dan dibuang kesuatu tempat yang telah disetujui
oleh Direksi Pekerjaan.

2. Meratakan Permukaan Tanah Yaitu meratakan permukaan tanah yang menonjol


dan berlubang dan memadatkan hasil cut & Fill tersebut dengan menggunakan
stamper yang lebih dulu disiram permukaannya agar didapatkan pemadapan yang
maksimal.

3. Menghampar Pasir, yaitu Menghampar pasir dengan cara lapis demi lapis dan
dipadatkan setiap mencapai ketebalan tertentu sehingga nantinya pekerjaan
menghamparlerikil tidak tenggelam dalam pasir.

4. Menghampar Kerikil, terdiri dari diameter 2 S/D 2,5 Cm dan harus bersih dari
kotoran tanah maupun rumput yang menyebabkan tumbuhnya rumput pada
hamparan kerikil. Hamparan kerikil delakukan sesuai dengan ketebalan tertentu
sesuai dengan kontrak ataupun petunjuk DireksiPekerjaan .

5. Pekerjaan Kansteen yaitu Pembatas areal jalan atau areal yang terbuat dari beton
dengan campuran 2 pasir : 3 Krl yang dibuatkan cetakan yang mempunyai ukuran
tebal kurang lebih 20 CM. Pekerjaan ini terbuat dari beton expose dan dipasang
perpanel dengan luurus satu sama lain atau atas petunjuk Direksi Pekerjaan.

6. Perbaikan Hamparan Kerikil Yaitu : Mengembalikan hamparan kerikil yang terkena


pekerjaan pondasi, kerikil yang dihampar tidak bercampur dengan tanah serta
sesuai dengan hamparan kerikil semula rata dan rapi sesuai dengan hamparan
kerikil existing yang ada disekitarnya.

PEKERJAAN GROUNDING

1. LINGKUP PEKERJAAN

Lingkup pekerjaan ini adalah

a. Desain sistem pentanahan, termasuk menyesuaikan dengan desain keseluruhan


sistem pentanahan gardu Induk termasuk transformer, peralatan MV dan LV dan hubungan
dengan sistem pentanahan yang telah ada.

b. Gambar instalasi pentanahan c.


Buat schedule of material.

d. Buat perhitungan tegangan langkah dan sentuh serta mesh potential.

e. Pemasangan grounding/pentanahan.

2. TAHAPAN DAN CARA PELAKSANAAN

a. Lakukan pengetesan tahanan tanah dan laporkan hasilnya kepada PLN. Hasil
pengetesan tersebut digunakan sebagai referensi dalam mendesain sistem pentanahan.
b. Buat desain/perhitungan sistem pentanahan berikut gambar instalasi dan material
schedule sistem pentanahan dengan berpedoman pada spesifikasi PLN

c. Ajukan hasil desain tersebut ke PLN untuk memperoleh persetujuan.

d. Setelah desain disetujui, buat gambar untuk konstruksi. Gambar tersebut sebagai
pedoman untuk pelaksanaan pekerjaan di site.

e. Pemasangan grounding dilakukan sesuai dengan gambar yang sudah disetujui oleh

PLN.

f. Setelah pemasangan sistem pentanahan selesai, lakukan pengetesan tahanan pentanahan


disaksikan oleh PLN. Buat Berita Acara Pengetesan yang ditandatangani oleh PLN dan
KONTRAKTOR.

3. ANALISA PENGERAHAN PERALATAN DAN MATERIAL

a. Peralatan

ƒ Alat pengukur tahanan pentanahan.

ƒ Pacul

ƒ Stamper

ƒ Kunci-kunci

ƒ Palu

ƒ Gergaji besi

ƒ Cable rol

ƒ Drum jack
b. Material

ƒ Ground rod terbuat dari tembaga dengan diameter minimum 15 mm


dan panjang setiap batang minimum 2 m.

ƒ Clamp yang dipergunakan untuk sambungan elektroda dan kawat


pentanahan adalah tipe non ferrous clamp.

ƒ Konduktor pentanahan dari bahan annealed high conductivity copper


stranded sesuai dengan Tabel 4 di dalam BS 6346 dan dilindungi dengan PVC kelas tegangan
1000 Volt ( Bare Copper Conductor ).

ƒ Konduktor interkoneksi elektroda untuk sebuah test link dan antara test
link dengan grin pentanahan mempunyai luas penampang minimum 150 mm2.

ƒ Sambungan maupun crossing antara konduktor pentanahan


menggunakan cadweld atau connector.

4. ANALISA PENGERAHAN PERSONIL DAN K3

Personil yang terlibat adalah :

a. Project Manager b.
Design Engineer c. Site
Manager

d. Supervisor e.
Electrician f.
Pekerja

g. Safety Officer

5. PENGENDALIAN MUTU

a. Pentanahan semua peralatan termasuk sistem pentanahan, elektroda dan


sambungan harus sesuai dengan rekomendasi Guide for safety in Substation Grounding IEEE
No. 80-197 dan ketentuan di dalam Syarat Teknis PLN.

b. Semua pekerjaan harus dilaksanakan dalam kondisi yang aman, semua kebutuhan dari
Site safety Plan harus dipenuhi.
DESAIN DAN PENGUJIAN BETON

1. LINGKUP PEKERJAAN

Membuat rencana kerja yang berisi metode kerja, komposisi campuran, jadwal
pelaksanaan, lokasi sumber / merk material, peralatan yang digunakan, laboratorium dan hal-
hal lain yang diperlukan untuk kesempurnaan rencana kerja ini.

2. TAHAPAN DAN CARA PELAKSANAAN

a. Setelah didapatkan semua material, peralatan, maka diadakan pengujian dari masing-
masing jenis material di laboratorium untuk mendapatkan hasil / data yang akan digunakan
sebagai acuan percobaan perbandingan / komposisi campuran berat / volume.

b. Dibuat komposisi campuran dengan beton mixer / molen dan pengambilan sampel
langsung dari beton mixer dengan ember atau alat yang tidak menyerap air, kemudian
dituangkan ke dalam cetakan kubus / silinder yang sudah disediakan dalam 3 (tiga) lapis,
dimana masing-masing lapis ditusuk 10 (sepuluh) kali dengan tongkat baja diameter 16 mm
sampai permukaan beton nampak mengkilat.

c. Kubus-kubus / silinder benda uji tersebut yang baru dicetak / dibuat minimum
20 (dua puluh) buah dan harus disimpan ditempat yang bebas dari getaran dan ditutupi dengan
karung / kertas semen basah selama minimum 2 x 24 jam, kemudian diberi tanda dan disimpan
dengan hati-hati, setelah itu benda uji dibuka dari cetakan dan direndam dalam air agar dicapai
hasil yang maksimal.

d. Untuk masing- masing kubus / silinder terdiri dari 3 (tiga) kali test yaitu untuk umur beton
7, 14, dan 28 hari dan dilakukan pengetesan di laboratorium.

3. ANALISA PENGERAHAN PERALATAN DAN MATERIAL

a. Peralatan :

ƒ Beton mixer dengan kondisi yang siap pakai dan kapasitas


disesuaikan dengan volume yang akan dilaksanakan.

ƒ Slump test yang masih berbentuk kerucutnya baik dan lengkap dengan
alat bantunya.
ƒ Kubus/ Silinder dengan keadaan masih baik ukuran dan tidak rusak.

ƒ Dan peralatan pendukung lainnya.

b. Material :

ƒ Semen dengan sumber/ merk yang sama, menyediakan tempat/


gudang penyimpanan.

ƒ Agregat kasar yang digunakan harus keras tidak porous,


permukaannya kasar, bersih dari lumpur.

ƒ Agregat halus/ pasir dapat diambil dari sungai diperoleh gradasi yang
sesuai dengan keperluan.

ƒ Air yang digunakan harus air tawar dan tidak boleh mengandung
minyak, alkali, sulfat, garam bahan organis atau material lain yang dapat mempengaruhi
kualitas beton.
ƒ Bahan campuran tambahan (Admixtures) penggunaannya harus
mengikuti rekomendasi dari pabrik dan hanya bisa digunakan bila diperlukan dan
mendapat persetujuan dari PLN.

4. ANALISA PENGERAHAN PERSONIL DAN K3

Tenaga/ personil laboratorium sangat menentukan kualitas beton, terutama membuat mix
design.

Tenaga/ personil pengawas (quality control/QC) untuk mengawasi mulai dari kualitas
material dan setiap produksi beton.

Tenaga/ personil pengawas keselamatan kerja (safety officer) mengontrol/ mengawasi


setiap kegiatan yang nantinya akan membahayakan keselamatan pekerjaan.

5. PENGENDALIAN MUTU

Setelah dilaksanakan semua pekerjaan dan didapatkan hasil akhir dari percobaan
campuran komposisi sampai pengetesan kekuatan tekan benda uji terpenuhi sesuai dengan
peraturan-peraturan :

Peraturan Beton Indonesia 1971 (PBI 1971 NI 2), Standard Industri Indonesia (SII),
American Concrete Institute (ACI), maka hasil yang terbaik yang dipakai selama
pelaksanaan pekerjaan dan dilakukan pengawasan yang ketat terhadap semua produksi
beton.
METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN : PENGECORAN BETON

1. LINGKUP PEKERJAAN

Pekerjaan ini meliputi pengadaan material, transportasi, peralatan kerja dan tenaga kerja,
pembuatan cetakan/bekesting, pembesian, pemeliharaan dan pekerjaan pendukung
lainnya.

2. TAHAPAN DAN CARA PELAKSANAAN

a. Persiapan pengecoran membuat metode, posisi, dimensi cetakan/bekesting, besi tulangan,


material/ peralatan yang harus ditanam dalam beton dan harus bersih dari kotoran sampah,
lumpur genangan air sehingga benar-benar bersih dan kering. Selain itu kesiapan
pengecoran termasuk juga kesiapan material, peralatan, tenaga kerja dan bila pelaksanaan
pengecoran harus dilaksanakan pada malam hari maka harus disediakan sistem penerangan
yang memadai dan pengecoran harus dihentikan pada saat hujan kecuali sebelumnya telah
disiapkan cover/ terpal tenda. Penempatan material dan peralatan diusahakan berdekatan
dengan lokasi pengecoran serta persiapan lain yang diperlukan untuk kelancaran pelaksanaan
pengecoran.

b. Pengadukan dengan beton mixer kapasitas minimum 0,35 m3 dan tenaga operator yang
handal untuk mengoperasikan peralatan beton mixer. Beton mixer harus disediakan dalam
jumlah yang cukup, peralatan bantu untuk mengangkut dan mengukur komponen material
campuran beton (air, pasir, kricak dengan perbandingan jumlah tiap komponen dapat
dibuat dalam perbandingan berat ataupun perbandingan volume/ isi yang mengacu pada
ukuran berat atau volume/ isi zak semen, lama pengadukan harus disesuaikan dengan
kapasitas beton mixer yang dipakai.

c. Transportasi pengadukan harus segera diangkut ke tempat pengecoran


dengan metode yang dipilih tidak boleh menyebabkan terjadinya pemisihan bahan-bahan
campuran beton (segregasi) dan dijaga jangan sampai terjadi perubahan/ naiknya temperatur
ataupun berubahnya kadar air dalam adukan. Adukan harus segera dituangkan ketempat
pengecoran/ cetakan secepatnya dan lebih dari 30 menit adukan tersebut harus dibuang/
disingkirkan tidak boleh dipakai lagi.

d. Pengecoran dilaksanakan dengan hati-hati agar tidak merusak cetakan/ bekesting dan
merubah posisi besi tulangan atau posisi peralatan yang ditanam dalam beton. Pengecoran
dilaksanakan lapis per lapis secara horizontal diatur sedemikian rupa tidak menimbulkan
bidang pelemahan, setiap lapisan harus dipadatkan dengan menggunakan mesin penggetar
(vibrator) sehingga adukan beton menjadi homogen dan tidak berongga dan mengisi celah-
celah diantara besi tulangan, lamanya divibrator tergantung dari ukuran dan type mesin
yang digunakan sampai permukaan beton nampak mengkilat.
3. ANALISA PENGERAHAN PERALATAN DAN MATERIAL

a. Beton mixer yang digunakan harus bisa memberikan hasil yang memuaskan dan
apabila terjadi kerusakan harus segera diperbaiki atau dikeluarkan dari lokasi pekerjaan
untuk diganti dengan yang lebih baik, proses perbaikan/ pergantian beton mixer tersebut tidak
boleh mempengaruhi kelancaran .

b. Vibrator mesin/ mesin penggetar digunakan pada saat pelaksanaan pekerjaan pengecoran
beton dan ini harus disediakan agar didapatkan hasil beton yang memenuhi persyaratan.
c. Konstruksi talang dipergunakan apabila diperlukan dengan lokasi yang agak
sulit posisi pelaksanaan pengecoran dan talang dibuat dari bahan kedap air, tinggi jatuh adukan
beton tidak boleh lebih dari 0,50 m. Kubus/ Silinder test dipersiapkan dalam jumlah yang sudah
disesuaikan dengan kapasitas/ volume pengecoran beton pada hari itu, Slump test dan
alat bantunya (plat, alat tusuk, meteran), dan alat compressor untuk membersihkan lokasi
pengecoran.

d. Pengadaan dan stock material semen, pasir, kricak, air harus dalam jumlah yang
memadai dan kualitas yang sama seperti didesign (mix design).

4. ANALISA PENGERAHAN PERSONIL DAN K3

Menempatkan tenaga supervisor yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pengecoran,


surveyor pengawasan terhadap vertikal dan horizontal cetakan , tukang batu untuk finishing,
tukang kayu apabila terjadi perubahan/ kerusakan pada cetakan pengecoran cepat dapat
diatasi, operator beton mixer yang mengoperasikan mesin beton mixer selama pelaksanaan
pengecoran berlangsung, laboratorium staf yang menyiapkan/ membuat kubus/ silinder test,
quality control staf yang mengawasi kualitas dari adukan/ campuran produksi pengecoran
beton dan safety officer yaitu yang mengawasi keselamatan kerja dan mengecek semua
fasilitas pendukung pengecoran apakah layak atau tidak dilihat dari keselamatan pekerjaan
(safety)/ K3.

5. PENGENDALIAN MUTU

Dalam pelaksanaan pengecoran beton harus dilihat, dijaga dan dipelihara dari
kemungkinan kerusakan yang diakibatkan oleh benturan cuaca, perubahan temperatur yang
tiba-tiba dengan melakukan pembasahan pada permukaan beton dengan menggunakan
karung atau kertas semen basah yang sejenis secara terus menerus, selama minimum 2 x
24 jam dan yang paling utama adalah diadakan pengawasan ketat terhadap perbandingan
komposisi campuran yang dipakai serta dalam pelaksanaan pengadukan campuran sampai
ketempat lokasi pengecoran
PEKERJAAN PEMASANGAN PERALATAN

PEMASANGAN STEEL STRUCTURE

1. LINGKUP PEKERJAAN

Lingkup pekerjaan ini adalah assembling, pemasangan, pengencangan baut-baut,


testing commissioning.

2. TAHAPAN DAN CARA PELAKSANAAN

Sebelum dilakukan pemasangan steel structure pekerjaan persiapan yang


harus dilakukan adalah :

a. Cek kelengkapan material dan transport material tersebut sedekat mungkin dengan
pondasi tower. Letakkan material tersebut di atas kayu agar tidak kontak langsung
dengan tanah.

b. Siapkan semua alat-alat kerja yang berhubungan dengan pekerjaan


pemasangan tersebut.

Pemasangan Steel Structure dibagi dua yaitu :

ƒ Pemasangan Tower.

- Check anchor bolt untuk kebenaran level dan posisinya.

- Preassembly bagian bawah, tengah dan atas dari tower sesuai


dengan gambar.

- Angkat bagian bawah tower dan letakkan diatas anchor bolt.

Sambungkan antara tiang utama dengan braching


nya.

- Angkat bagian tengah tower dan letaakkan diatas bagian bawah tower.

Sambungkan antara tiang dan braching


nya.
- Angkat bagian atas tower dan letakkan diatas bagian tengah tower.

Sambungkan antara tiang dan braching


nya.

- Kencangkan semua baut dengan kunci torsi sesuai dengan


standard dari baut yang dipergunakan (spesifikasi).

- Tower harus ditanahkan.

ƒ Pemasangan Gantry.

- Assembly gantry di atas tanah di antara tower tempat dimana


beam tersebut akan dipasangan sesuai dengan gambar.

- Buat kelentutan (lengkungan) pada saat assembly. Biasanya 0.3% s/d

0.4% dari panjang gantry. Hal ini untuk menghindari kalau gantry
kita pasang, dan karena berat sendiri maka gantry akan
melengkung ke bawah.

- Kencangkan semua baut dengan menggunakan kunci torsi


sesuai dengan spesifikasinya.

- Angkat gantry dengan menggunakan crane dan sambungkan


ke masing-masing tower. Kencangkan bautnya dengan
menggunakan kunci torsi.
3. ANALISA PENGERAHAN PERALATAN DAN MATERIAL

a. Transport material sedekat mungkin dengan pondasi tower.

b. Alat kerja yang dipergunakan adalah tambang, kunci torsi, patok-patok untuk
skor, bambu atau crane, BV, chain block, kunci-kunci yang diperlukan.

4. ANALISA PENGERAHAN PERSONIL DAN K3

Yang terlibat dalam pelaksanaan pemasangan steel structure ini adalah :

a.
SiteManager

b. Supervisor

c. Erector / Mechanic

d. Operator crane (jika menggunakan crane dalam proses


pemasangannya).

e. Safety Officer, bertugas mengawasi dari segi safety nya.

f. Pekerja

5. PENGENDALIAN MUTU

a. Metode kerja harus sudah disetujui oleh PLN.

b. Metode kerja harus mengacu kepada gambar pelaksanaan yang telah disetujui oleh

PLN.

c. Material harus ditempatkan di atas kayu sehingga tidak kontak langsung


dengan tanah dan disusun berdasarkan urutan pemasangan.

d. Alat-alat yang akan dipergunakan harus disetujui oleh PLN.


e. Semua peralatan harus dalam keadaan baik dan yang perlu kalibrasi harus
dapat ditunjuk proses kalibrasinya yang masih berlaku.

f. Kunci-kunci yang dipergunakan harus berkualitas baik agar tidak merusak


kepala baut dan mur.

g. Pengencangan baut harus menggunakan kunci torsi yang telah dikalibrasi

h. Setelah erection selesai semua tower ataupun gantry harus dibersihkan dari segala
kotoran.

i. Kerusakan yang timbul pada permukaan baja yang digalvanis harus disikat
bersih dan dicuci untuk kemudian dicat dengan cat galvanis yang mengandung
banyak zinc.

j. Semua pekerjaan harus dilaksanakan dengan kondisi yang aman, semua


kebutuhan dari Site Safety Plan harus dipenuhi.
.
PEMASANGAN PENGHANTAR

1. LINGKUP PEKERJAAN

Lingkup pekerjaan diantaranya pengecekan informasi terhadap jarak/span


tarikan, besar gaya tarik dan andongan yang terjadi pada saat penarikan (saging),
selanjutnya dilakukan pengukuran tarikan serta andongan, pemasangan penghantar
sesuai dengan cara pengepressan, pemasangan insulator pada gelagar dan penarikan
penghantar.

2. TAHAPAN DAN CARA PELAKSANAAN

O.H. Wire
Tensioning

Kita tinjau saja pada umumnya, cara-cara penarikan kawat udara, baik untuk Bay
system atau Busbar.

Biasanya sudah ada beberapa perhitungan dari fabric penghantar, dari kekuatan
tarik suatu penghantar. Juga dari jarak/span, sudah ada tabel tarikan, dimana sudah
tertera ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

ƒ Jarak/span
tarikan

ƒ Besar gaya tarik yang diizinkan untuk


penghantar

ƒ Andongan yang akan terjadi sewaktu penarikan


(saging)

Dengan adanya ketentuan diatas, maka mutlak kita perlukan alat-alat untuk pengukuran
tarikan serta andongan, misalnya Dinamo meter, water pas Saging, juga klem tarik
(Comelong).

Untuk persiapan-persiapan lain, perlu kita lihat cara pemasangan klem tarik (strain
clamp, atau Dead and Compression). Klem tersebut terpasang pada ujung-ujung
conductor/penghantar.

Anggap yang sekarang adalah Dead and Comppression (Clem mati yang dipress).
Kita kerjakan press ujung kabel/penghantar, sesuai dengan cara-cara pengepressan.
Pertama adalah press kawat bajanya (di dalam penghantar atau inti penghantar) setelah
itu baru aluminiumnya.

Siapkan rangkaian Insulator tarik (tension string insulator) komplete (Tension string
insulator and accessories). Pasangkan insulator beserta conductor digantung
pada Gelagar, dengan panjang penghantar yang kita perkirakan, kurang lebih sebagai
berikut:

A = (S - 2L).
1,2

Diman
a:

A = Panjang penghantar
S = Jarak Span, diukur dari As tengah Tower
L = Panjang String insulator beserta peralatannya

Atau bila kita sangsi, berilah kelebihan agar tidak susah dalam penarikan.Selenggarakan
penarikan sesuai dengan cara-cara pemasangan block tackle dan lain-lain
seperti gambar. Mulailah kita menarik penghantar tersebut, bila gaya tarik yang sudah
diizinkan dalam tabel tercapai, maka perlu ldta lihat andongan. Kita perkirakan saja
dahulu, apakah sudah cukup? Tetapi dapat juga kita ukur dengan Water Pas saging.
Tetapi bilamana terjadi andongan sudah cukup (perkirakan) atau sudah terlalu renggang,
sedangkan gaya tarik belum tercapai, kita hentikan penarikan tersebut. Hal ini bisa
terjadi beberapa penyebab raisainya perhitungan yang salah, atau hanya karena
salah cetak dalam tabel. Atau kadang kala material kurang sesuai dengan tabel
Saging.Bila hal-hal tersebut sudah kita musyawarahkan, ketentuan mana yang dipakai,
maka kita bisa meneruskan pekerjaan penarikan tersebut (biasanya andongan/saging
yang dipakai).

Setelah saging tercapai, maka berilah tanda pada conductor, letak yang mau
dipasang klem, termasuk pengurangan string insulator berapa panjangnya kita bisa
ukur dibawah.

Turunkan lagi conductor tersebut. Perlu kita ingat, bahwa sewaktu pengepresan
akan terjadi suatu penambahan panjang. Jadi bilamana tidak memakai Turn buckle
(alat atau peralatan untuk mengatur tarikan) kita harus lebih berhati-hati.

Setelah conductor di press, kita bisa segera menarik lagi. Ada dua cara penarikan, yaitu
dengan insulator string kita tarik lagi, atau conductor saja. Untuk 150 kV bisa
langsung dengan string insulator. Untuk 225 kV sampai dengan 500 kV cara lain lagi,
karena panjangnya kita perlukan string insulator secara lain. Kita tidak akan
membahasnya.

3. ANALISA PENGARAHAN PERALATAN DAN MATERIAL

Dilakukan pengecekan terhadap jarak tarikan,besar gaya tarik dan andongan


yang terjadi pada saat dilakukan penarikan. Pengukuran tarikan dengan
menggunakan dinamo meter,water pass saging dan juga klem tarik (comelog).
Selain itu diperlukan blok tackle untuk pekerjaan tarikan ACRS.

4. ANALISA PEKERJAAN PERSONIL DAN K3

Supervisor harus mengetahui prosedur-prosedur pemasangan dan ketentuan


perhitungan pemasangan dengan baik. Pekerjaan dilakukan dengan
menggunakan peralatan K3 seperti menggunakan safety belt, helm, safety shoes.
Supervisor harus mengawasi langsung pada saat pemasangan dilakukan.

5. PENGENDALIAN MUTU

Dalam pelaksanaan hasil pekerjaan yang dilakukan harus mendapatkan hasil yang
baik dengan kesesuian jarak tarikan, besarnya gaya tarik, andongan yang terjadi
pada saat tarikan dan pemasangan insulator. Pelaksanaan pekerjaan
pemasangan dilakukan dengan pengawasan/ quality control (QC) yang ketat pada
setiap tahapan pelaksanaan pekerjaan.
PEMASANGAN PEMUTUS TEGANGAN (CIRCUIT BREAKER)

1. LINGKUP PEKERJAAN

Lingkup pekerjaan diantaranya handling CB ke steel structure, pengukuran


jarak ketinggian, perakitan bagian-bagian CB, pemasangan dan penyetalan posisi.

2. TAHAPAN DAN CARA PELAKSANAAN

Telah diuraikan pemasangan untuk Dudukan Pemutus Tenaga, termasuk ketelitian


jarak serta ketinggiannya. Bilamana perlu kita check ulang.

Kembali pada masalah pemasangan Pemutus Tenaga,. Seperti kita uraikan


terdahulu, ada beberapa type dalam cara pembuatannya, yang tidak akan
menimbulkan terlalu banyak perbedaan dalam pemasangan. Dalam hal ini kita bagi
saja menjadi 2 (dua) type:

ƒ Pemutus tenaga 3 phase (CB 3


phase)

CB untuk 3 (tiga) phase, yang digerakkan oleh satu mekanik saja, dan
batang- batang penggerak.

ƒ Pemutus tenaga 1 phase (CB 1


phase)

CB untuk 3 phase, yang setiap phase di gerakkan oleh satu


mekanik.

a. Kita lihat lagi Type


”a”

Untuk pemasangannya, biasanya sudah ada dalam buku peturjuk dari


pabrikan. Tetapi untuk lebih memantapkan lagi, maka akan kita uraikan saja cara-
cara pemasanganya:

Pertama-tama akan kita lihat dulu cara-cara transport peralatan tersebut.


Biasanya ditransport secara terpisah, mekanik, Base Frame Support,
isolator. Apabila transport Isolator (Arching Chamber & Earth Isolator)
dalam posisi tegak pemasangan relatif lebih mudah, lain bilamana kondisi
Transport dalam posisi tidur, pemasangan isolator agak sedikit berbeda. Ada juga
transportnya dibuat semua jadi satu, hanya bisa dipisah-pisah antara Isolator dan
Base Frame.

Hal ini perlu, karena kita harus memasang secara terpisah, juga transport
dari gudang ke lapangan harus diperhatikan.

ƒ Karena barang kita sudah jelas dari AEG, jadi transportasi kami
perkirakan tegak, dan jadi satu dengan Base Frame. Jadi bisa diangkat
bersama-sama dan dipasang pada dudukan. Bilamana sling kita pasang
pada mata baut (lifting eye) yang tersedia pada Base Frame, maka pada
atas isolator harus diikat tambang keliling dengan ikatan ke sling pengangkat
agar tidakjatuh, dan ada juga yang diangkat dari ujung kepala isolator
(Siemens, KONTRAKTOR).

ƒ Setelah terpasang, baru mekanik serta batang-batang penyambung untuk


ke mekanik beserta pipa-pipa pelindung kita pasang.

Bilamana jarak-jarak support/dudukan sesuai dengan ukuran di gambar.


maka pemasangan selanjutnya tidak akan sulit.

ƒ Sebaiknya pengangkatan diselenggarakan dengan Truck Crane,


Telescopic Crane, dan harus di lihat pula posisi/letak mekanik,
sesuai gambar pemasangan.
b. Untuk Type
"b"

Pemasangan sama saja dengan type "A" keserempakkan/kebersamaan


gerak adalah dari system pemberian komando elektrik.

c. Untuk check sewaktu penerimaan material di Site disamping visual mungkin


isulator ada yang rusak (semplak) atau cacat, mekanik lengkap dan lain-lain,
jumlah material dicocokkan dengan packing list.

Selain itu dijelaskan pula bahwa isolator pemutus telah di isi gas SF6 atau belum.
Dalam Transport biasanya sudah terisi. Kita harus check, apakah tidak
ada kebocoran bila sudah diisi? Hal ini dapat kita lakukan dengan memijat
kran yang akan disambung untuk pengisian.

Bila masih terisi gas maka akan terdengar suatu bunyi, lebih bagus bilamana
baca buku instruksi untuk CB.

d. Bilamana kita dapati isolator di transport dalam kondisi tidur, maka


untuk mengangkat harus dari dua ujung, jangan sampai posisi bawah menjadi
tumpuan berat seluruhnya, hingga ada kemungkinan Isolator patah.

Bilamana kita hanya ada satu buah Crane, maka pengait Crane kita pasang pada
-
ujung atas. Ujung bawah kita berikan suatu takel rante (capasitas /+ 500 kg) yang
kita pasang pada tiang. Atau bisa juga dengan takel black tambang ganda.

Angkat ujung atasnya kurang lebih dengan tinggi 50 cm, baru bagian bawah kita angkat
Selanjutnya sedikit demi sedikit diangkat bersamaan. Setelah kira-kira, tinggi 60 cm
pada bagian bawah, maka pada bagian atas kita angkat untuk di tegakkan ke arah bagian
atas. Setelah agak tegak, bagian bawah kita kendorkan dan bagian atas diangkat naik
hingga isolator kontak tergantung pada Crane.

3. ANALISA PENGERAHAN PERALATAN DAN MATERIAL

Pemasangan dilakukan dengan mengikuti preosedur pemasangan masing-masing


HV eqiuipment Peratalan yang digunakan berupa tool kit, water pas, katrol atau
crain kecil (bila memungkinkan),tambang dan beberapa alat bantu lainnya

4. ANALISA PENGARAHAN PERSONIL DAN K3

Dalam pemasangan supervisor harus melakukan pengontrolan dan arahan


terhadap setiap pekerjaan. Pemasangan harus sesuai dengan ketentuan yang
terdapat pada prosedur pemasangan . Tenaga operator harus memiliki keahlian
dan pengalaman dalam pekerjaan pemasangan ini. Supervisor juga berkewajiban
untuk mengawasi pekerjaan sesuai dengan ketentuan keselamatan kerja.

5. PENGENDALIAN MUTU

Dilakukan pengawasan secara ketat pada setiap proses dan tahapan perakitan
dan pemasangan. Pekerjaan dilakukan dengan mengacu terhadap kesesuian
spesifikasi teknik dan prosedur yang telah di tentutkan.
PEMASANGAN PEMISAH TENAGA (DISCONNECTING SWITCH/DS)

1. LINGKUP PEKERJAAN

Lingkup pekerjaan perakitan bagian-bagian DS, pemasangan dudukan insulator


frame sesuai urutannya, pengukuran jarak dan level-nya frame, pemasangan
insulator, pemasangan pisau pemisah, penyetalan posisi mekanik, percobaan
dengan pemasukan tegangan.

2. TAHAPAN DAN CARA PELAKSANAAN

Setelah penyetelan dudukan DS selesai terpasang, untuk DS ini kita sudah bisa
memulai assembling. Sebelumnya, perlu kita lihat dulu dalam pengepakan sewaktu
transportasi, biasanya pengiriman dibuat dengan peti-peti terpisah antara insulator
dan frame/rangka serta dudukan. Juga mekanik dibuat terpisah lain-lain peti. Hal ini
untuk menjaga insulator pecah. Ada kalanya DS sudah terangkai setiap phase
lengkap pada dudukannya. Selanjutnya kita persiapkan dudukan insulator frame
supaya bisa kita pasang sesuai urutan yang telah ditentukan dari pabrik. Misalnya
dengan tanda-tanda urutan ABC atau

1, 2,
3.

Setelah frame terpasang, kita adakan pengukuran jarak, serta leveling. Usahakan
setepat mungkin, meskipun selisih jarak 1 cm antar phase tidak menjadi suatu
masalah besar. Baru kita akan memasang insulator, bilamana pipa-pipa tidak penggerak
telah terpasang, meskipun belum tepat dan masih dirubah-rubah ini termasuk juga untuk
pemasangan mekanik. Ada dua jenis, yaitu dengan motor penggerak atau
manual, untuk menggerakkan pisau-pisau pemisah. Begitu pula untuk penggerak
pisau-pisau pentanahan untuk DS line.

Setelah kondisi siap, kita baru akan memasang insulator. Coba check
pemasangan insulator ini, hingga benar-benar tegak lurus. Karena bilamana tidak
tegak lurus, akan mempengaruhi berputarnya insulator serta posisi pisau-pisau
pemisah.

Setelah insulator terpasang, kita dapat memasang pisau-pisau pemisah. lihat/kondisi


kedudukannya dari letak/posisi insulator. Usahakan pemasangan sesuai dengan
posisi insulator. Ukur jarak-jarak pada contact setiap pemisah sesuai ketentuan pabrik.
Cobalah perputarannya, apakah sudah benar semua phase (R, S, T) dalam keadaan
sama. Bila semua sudah sama, maka kita bisa setting pipa-pipa penggerak, yang
terhubung antara phase, juga pipa-pipa penghubung untuk. pemisah, baik manual atau
electrical. Bila telah terpasang penghantar kita harus setting ulang.
a.
Penyetelan:

Kita lihat keadaan mekanik dalam posisinya misalnya dalam posisi DS masuk atau
keluar. Kita sesuaikan keadaan pisau-pisau DS, baru kita pasang stang untuk
ke mekanik DS. Coba keraskan sedikit baut-baut, pemegang batang pipa
penggerak.

Setelah itu, coba putar handle dengan manual, pelan-pelan dan jangan
sampai posisi berat pada putaran. Bila terjadi harus kita selidiki, penyebab daripada
putaran tersebut menjadi berat. Lanjutkan percobaan-percobaan tersebut hingga
kelihatan insulator berputar, untuk penutup pisau-pisau pemisah ataupun
membuka pisau- pisau pemisah.

Membuka/menutup harus serempak, atau kondisi sama antara ketiga


phase tersebut. Bila belum sama kita bisa menggeser batang pemisah (pipa) dari
klemnya. Berulang kali kita coba, untuk dapat menemukan kondisi yang kita
inginkan. Jika hal ini sudah tercapai, maka jangan dulu kita memasang pim untuk
stang/kopel DS.
Untuk DS dengan earthing, kita lakukan sebagai
berikut:

Pertama kita lakukan setting/penyetelan seperti yang kita lakukan pada DS


Busbar. Setelah hal tersebut selesai, kita pasang peralatan lain serta pisau-pisau
pemisah hubung tanah, dalam posisi masuk. Jadi DS posisi membuka. Perlu
diingat ada perbedaan sedikit unuik DS + E, karena titik penyambung kontak
harus kita pasang dulu (ada pula yang sudah terpasang).

Setelah itu selesai, kita lihat suatu system interlock mekanikal atau artinya sebagai
berikut:

Pisau-pisau pernisah dapat masuk bilamana pentanahan dalam kondisi


terbuka. Atau sebaliknya setting bisa dilakukan setelah kedua penyetelan
pisau-pisau selesai. Baru kita ulang lagi setting untuk pisau-pisau pentanahan
serta pemutus tenaga. Ada juga interlock yang bersifat electrikal.

b. Percobaan Elektrikal:

Kadang kala pada motor penggerak dengan suatu supply AC (Arus Tukar).
Ada juga dengan DC (Arus Rata dari Battery). Hal ini hanya persoalan sumber
daya saja pada prinsipnya adalah sama.

Kita mulai percobaan dengan elektrika. Buka tutup mekanik DS nya kita
lakukan sebagai berikut:

ƒ Test tegangan masuk bila sudah ada, kita berlaku hati-hati untuk
tidak sembarang tekan tombol IN/OUT.

ƒ Letakkan posisi pisau-pisau pemisah tenaga pada setengah masuk,


atau tengah-tengah antara masuk/keluar.

ƒ Awasi/check barang-barang yang sekitamya mengganggu misalnya


kunci- kunci dan lain-lain.

ƒ Sebelumnya berilah tanda-tanda tangan spidol batas-batas klem


pemegang untuk pipa-pipa penghubung.

Setelah persiapan diatas selesai, kita akan segera meneliti arah putaran,
dengan sebentar memutar tombol pada mekanik DS. Tekan misalnya tombol
untuk IN.

Maka pisau-pisau akan berputar kearah menutup. Bila pertama penyetelan


kita sudah benar, maka putaran pada DS pun akan benar. Mungkin juga, atau
terjadi kesalahan berputar, maka langkah-langkah harus kita ambil sebagai
berikut:

ƒ Kendorkan sambungan kopel/stang penggerak yang dari DS ke


mekanik.

ƒ Usahakan motor penggerak bebas dari pada


beban.

ƒ Putarlah kembali dengan jalan memutar tombol, maka motor akan


bebas berputar.

ƒ Lihat, apakah arah putaran


benar?

ƒ Bila putaran benar, maka biasanya ada kesalahan


wiring.

Untuk IN menjadi OUT, dan kita bisa rubah (2 kawat), disesuaikan dengan gambar
pengawatan (wiring diagram). Bila telah dirubah, maka kita bisa lanjutkan
test elektrikal. Bila terjadi DS kurang membukanya, maka bisa kita set lagi antara
batang penggerak dari DS ke mekanik, dan DS di putar dengan tangan.

Check sekali lagi, apakah tanda-tanda yang kita buat pada batang
penggerak berubah? Kadang kala berubah juga, karena kita belum pasang pin.
Pin boleh dipasang bilamana pekerjaan untuk DS ini telah selesai semua,
juga termasuk setelah sambungan conductor antar peralatan ke DS selesai.
Maka dengan itu selesailah untuk pemasangan DS serta penyetelannya.

3. ANALISA PENGARAHAN PERALATAN DAN MATERIAL

Pemasangan dilakukan dengan mengikuti preosedur perakitan dan pemasangan


CB serta mengikuti ketentuan –ketentuan prosedur pemasangan. Peratalan
yang digunakan berupa tool kit, water pas dan beberapa alat bantu lainnya.

4. ANALISA PENGARAHAN PERSONIL DAN K3

Dalam pemasangan supervisor harus melakukan pengontrolan dan arahan


terhadap setiap pekerjaan. Pemasangan harus sesuai dengan ketentuan yang
terdapat pada prosedur pemasangan . Tenaga operator harus memiliki keahlian
dan pengalaman dalam pekerjaan pemasangan ini. Supervisor juga berkewajiban
untuk mengawasi pekerjaan sesuai dengan ketentuan keselamatan kerja.

5. PENGENDALIAN MUTU

Dilakukan pengawasan secara ketat pada setiap proses dan tahapan perakitan
dan pemasangan. Pekerjaan dilakukan dengan mengacu terhadap kesesuian
spesifikasi teknik dan prosedur yang telah di tentutkan.
PEMASANGAN PERALATAN HV. LAINNYA

1. LINGKUP PEKERJAAN

Lingkup pekerjaan diantaranya handling HV equipment ke steel structure,


pemasangan

HV equipment terhadap steel structure, penyetalan


posisi.

2. TAHAPAN DAN CARA PELAKSANAAN

A. Untuk pemasangan PT, CT dan LA kita dapat kerjakan dengan cara-cara


atau ketentuan-ketentuan sesuai dengan cara yang tertera dalam buku
petunjuk. Disamping itu masih ada hal-hal yang perlu di perhatikan adalah sebagai
berikut:

ƒ Dapatkan crane kccil masuk ke dekat lokasi?

Bila mungkin, masalah pengangkatan tidak ada lagi. Tetapi bila tidak
mernungkinkan ada beberapa cara pemasangan yang akan kita bahas
berikutnya.

ƒ Untuk CT, kita sesuaikan dengan letak/penentuan polarity. Dalam single


line diagram dapat dilihat untuk P1 dan P2 pada arah tertentu jadi CT
kita sesuaikan dengan single line diagram untuk LA perlu kita lihat
sambungan nantinya untuk Discharge Counter. Dan untuk PT, hanya pada
cable saja letaknya/posisinya.

B. Cara untuk mengangkat atau memasang peralatan tersebut bisa dengan crane
kecil (Truck Crane 3 ton, jarak jangkau 7.5 m) saja atau kita dapat angkat
dengan beberapa cara convensional bila crane tidak masuk. Kita dapat
menggunakan beberapa cara sebagai berikut:

ƒ Dengan menggunakan satu tihang yang dipasang pada Lier. Dan PT/CT
bisa digeser ke dekat support, dan diangkat dengan Lier dengan
penolong pipa pembantu dengan skor.

ƒ Bisa diangkat dengan mengaitk-an takel pada 2 lower. Karena beban


-
tidak begitu besar ( / + 450 sampai dengan 750 kg) maka Tower tersebut tidak
akan mendapat beban terlalu berat. lebih baik kita tidak melakukan cara
ini bila tidak terpaksa sekali.
3. ANALISA PENGERAHAN PERALATAN DAN MATERIAL

Pemasangan dilakukan dengan mengikuti preosedur pemasangan masing-masing


HV eqiuipment Peratalan yang digunakan berupa tool kit, water pas, katrol atau
crain kecil (bila memungkinkan), tambang dan alat bantu lainnya

4. ANALISA PENGARAHAN PERSONIL DAN K3

Dalam pemasangan supervisor harus melakukan pengontrolan dan arahan


terhadap setiap pekerjaan. Pemasangan harus sesuai dengan ketentuan yang
terdapat pada prosedur pemasangan . Tenaga operator harus memiliki keahlian
dan pengalaman dalam pekerjaan pemasangan ini. Supervisor juga berkewajiban
untuk mengawasi pekerjaan sesuai dengan ketentuan keselamatan kerja.
5. PENGENDALIAN MUTU

Dilakukan pengawasan secara ketat pada setiap proses dan tahapan perakitan
dan pemasangan. Pekerjaan dilakukan dengan mengacu terhadap kesesuian
spesifikasi teknik dan prosedur yang telah di tentutkan.
PEMASANGAN TRAFO TENAGA/POWER TRAFO

1. LINGKUP PEKERJAAN

Lingkup pekerjaan adalah perakitan power trafo dan pemasangan. Rincian


proses pekerjaan secara detail diterangkan pada bagian tahapan dan cara
pelaksanaan

2. TAHAPAN DAN CARA PELAKSANAAN

Dalam hal menangani pekerjaan Trafo, maka perlukan beberapa ketelitian, disamping
bendanya bera, terdiri dari beberapa jenis peralatan, dan berisi minyak trafo. Maka
harus kita kedakan secara hati-hati.

Akan kami uraikan secara garis besarnya saja, maka trafo ini terdiri dari
beberapa peralatan pada umumnya sebagai berikut:

ƒ Tangki Utama (Main


Tank)

ƒ Sirip-sirip Pendingin
(Radiator)

ƒ Motor-motor Kipas
(Fan)

ƒ
Conserrator

ƒ Mekanik tiap tegangan (On Load Tap


Changer)

ƒ Panel Hubung (Local Marshalling


Kiosk)

ƒ Peralatan-peralatan Bantu (Buholz, Jansen, Oil Temperature, Oil Level,


Indicator, Breather, Pressure Relief dan lain-lain)

ƒ Isolator penghubung (Bushing, LV &


HV/HV.N.)

ƒ
Pemipaan

ƒ Besi-besi dudukan
peralatan

ƒ Lain-
lain

Dalam pekerjaan kita, ada bongkar serta pasang trafo tenaga, Alangkah
baiknya bilamana kita bahas pula untuk cara-cara pembongkarannya. Juga
peralatan-peralatan yang harus kita sediakan memenuhi persyaratan nantinya agar
trafo bisa kita rangkai (assembling) kembali dan berfungsi seperti sebelumnya.

a.
Pembongkaran

Bilamana kita akan membongkar Trafo tenaga yang masih baik dan
akan dipergunakan lagi di lain tempat maka harus kita ingat pula transportasinya.

Dari hal-hal tersebut diatas maka kita perlukan peralatan sebagai berikut:

ƒ Penampung minyak Trafo (drum/Tanki minyak)

ƒ Oil Treatment, pompa vacuum

ƒ Nytrogen kering beserta meter-meter serta perlengkapannya

ƒ Penutup/Flange untuk Radiator, main Tank dan lain-lain

ƒ Sling Nylon & Sling baja berbagai ukuran

ƒ Kunci-kunci pas/Ring, Obeng, Drip secukupnya

ƒ Packing, mur baut untuk flange


ƒ Kotak-kotak/peti pengaman material

ƒ Kain untuk Lap/Pembersih

ƒ Tambang Nylon Dia. 5/8"

ƒ Dongkrak hydraulic 25 ton, 4 buah

ƒ Balok-balok kayu (20x15x200 cm) serta kayu-kayu secukupnya.

ƒ Minyak pembebas karat untuk baut-baut

ƒ Peralatan kecil lainnya

Dalam tahap awal pembongkaran atau penggeseran Trafo ini adalah:

ƒ Bebaskan/lepaskan sambungan-sambungan Trafo dari penghantar


tegangan tinggi atau tegangan menengah (150kV/20kV).

ƒ Lepaskan Cable-cable maupun cable-cable bertegangan AC 300V atau DC

110
V.

ƒ Bilamana perlu, beri tanda-tanda pada kabel yang dilepas, selanjutnya


diberi selubung pengaman.

ƒ Hindarkan dari barang-barang yang sekiranya membahayakan


pekerjaan, misalnya masih terlalu dekat dengan pemisah Arus Netral,
Tahanan Pentanahan Netral (Neutral Earthing Resistor) atau lainnya.

I. Untuk keamanan penggeseran serta Transport Trafo, maka kita


perlu membuka beberapa peralatan terpasang, misalnya Radiator,
Concervator, Bushing dan lain-lain. Disamping itu, kita dapat mengurangi
berat beban dari Transfonnator.

Karena hal-hal tersebut diatas, kita perlu mengosongkan minyak Trafo


dengan jalan sebagai berikut:

Kosongkan minyak dalam Trafo dengan memakai Oil Treatment, dipindahkan


kedalam Tanki minyak dan drum minyak. Dapat juga mengosongkan
dengan langsung menyambung pipa minyak ke katub pembuang (Drain
Valve), dan diatur dalam katub ini kita dapat memasukkan dalam drum.
Cara ini akan memakan waktu agak lama, dan mungkin banyak minyak
tercecer, hingga tidak baik perlu diingat pula bahwa selama pengosongan
dan sesudahnya:
a. Trafo memerlukan suatu pernafasan sendiri, untuk penyesuian
tekanan dalam Trafo.

b. Minyak dalam Tanki OLTC, dan Concervator OLTC masih ada. Bila
kita mau membongkar Concervator, maka perlu kita kosongkan juga.

c. Isilah dengan Nitrogen, bila pengosongan minyak tidak selesai


serta kondisi minyak kosong.

d. Jangan bongkar peralatan dalam cuaca tidak


baik.

Untuk pengosongan minyak paling baik adalah dengan Oil Treatment


dan Tangki minyak. Slang di sambung pada katub/valve bagian bawah
untuk filtering.
II. Pembongkaran Peralatan Trafo

Sebelum kita akan mengadakan pembongkaran peralatan, maka kita


harus sudah sedia packing serta plenes (Flange) untuk menutup bekas
sambungan ke Body Trafo, serta alat-alatnya sendiri, serta Body Trafo (bekas
Bushing dan lain-lain):

a. Pembongkaran Isolator
Bushing

Bila kita akan membongkar bushing, maka harus kita ingat cara
penyambungm kontak Bushing tersebut dengan lilitan/Winding dalam
Transformatomya.

Kadang kala Trafo Arus dekat Isolator atau terpasang pada Turret (Box
untuk CT yang terpasang di luar pada Body Trafo), juga untuk dudukan
Bushing.

Lebih bagus bila kita ada buku petunjuk untuk Trafo tersebut
untuk langkah lebih lanjut. dan untuk pembongkaran bisa kita lakukan
sebagai berikut:

ƒ Isolator Bushing pakai Conductor/Cord


langsung

ƒ Buka tutup atas


bushing

ƒ Ikat ujung Cord dengan tali Nylon lemas, selanjutnva buka


pin serta murnya sehingga sudah tidak ada ikatan dengan
isolator Bushing.

ƒ Persiapkan untuk mengangkat isolator Bushing dengan


Crane, buka baut-baut Bushing pada Body Trafo atau turret.

ƒ Angkat pelan-pclan untuk check Bushing sudah tidak


terkait dengan lainnya.

ƒ Bila tidak ada, angkat lagi hingga tali penahan cord bisa
di kendorkan dan masuk dalam Bushing

ƒ Gulung kawat/cord dan diikat kedalam Trafo yang


terjangkau, Biasanya diikat di Flange penutup bekas lubang
Bushing.

ƒ Untuk isolator Bushing yang di sanibung dengan batang


tembaga, caranya hampir sama, hanya kita harus membuk-a
baut-baut penyambung batang tembaga tersebut.

ƒ Tutup bekas lubang Bushing dengan


Flange.
ƒ Tempatkan Bushing pada peti-peti
tertutup.

b. Pembongkaran
Radiator

ƒ Tutup semua katup/valve yang menghubungkan antara


radiator dengan Main Body Trafo.

ƒ Biasanya masih ada minyak tertinggal di dalam Radiator,


maka bila kita membukanya akan mengalir sedikit minyak
yang harus kita tampung (baik dengan ember atau lainnya)
sisa-sisa minyak ini harus dijadikan satu dalam sebuah drum,
dan beri tanda.

ƒ Sebelum membongkar berilah tanda-tanda pada


Radiator.

ƒ Tutup lubang-lubang Radiator serta Valve pada Body


Trafo dengan Flange.
III. Conservator, Piping, Bulhoz dan lain-
lain

Untuk pembongkaran ini hampir sama dengan cara-cara pembongkaran


pada Radiator. Kita berlakukan pula dengan menutup kembali dengan Flange,
baik untuk pipa-pipa, Bulhoz, serta lainnya. Harus diingat pula, bahwa
Consevator terdiri dari dua bagian:

IV. Untuk Kipas pendingin/Flange, serta Panel Trafo Box OLTC tidak
akan mendapat suatu kesulitan bila kita tahu urutannya.

Bilamana semua telah selesai, maka untuk Transportasi kita ada dua
cara:

a. Mengisi Nytrogen Body Trafo, serta


OLTC

b. Diisi dengan minyak sebatas/setinggi Kern atau memndam


lilitan.

Untuk mengisi Nytrogen, sebaiknya Trafo (Main Tank/Main Body) di


Vacum dulu, sesuai dengan ketentuan dalam buku (10 mm Hg) baru setelah
itu di isi dengan Nytrogen kering secara pelan-pelan hingga mencapai
tekanan tertentu (1.20 bar- absolute).

Guna transport harus diberikan Tanki Nytrogen persediaan, dengan


Regulator serta meter-meternya, guna menambah Nytrogen bilamana
tekanan dalam Body Trafo turun.

Untuk mengisi minyak, kita gunakan Oil Treatment, sebelum diisi harus
di vacum dahulu seperti dalam pengisian Nytrogen dan selama
pengisian minyak masih dalam kondisi di vacum/evaquate.

V. Setelah pekerjaan-pekerjaan tersebut diatas selesai, maka Trafo siap


untuk digeser atau ditransport.

b.
Penggeseran

Body Trafo di dudukkan di atas pondasi pada dasamya ada 2 (dua)


cara:
ƒ Dipasang Roda dan duduk diatas ril
KA

ƒ Langsung Body diletakkan pada pondasi di beri alas Bitumen (Skid


Mounted). Penggeseran Trafo yang di pasang di atas Roda dapat kita
laksanakan sebagai

berik
ut:

ƒ Lepaskan ganjal Trafo terpasang pada


roda

ƒ Pasang besi plat tebal 2 cm untuk meletakkan sambungan ril yang sudah
ada.

ƒ Tarik Trafo keluar dari lokasi dengan Lier/Tirfor atau dengan Takel
rantai.

Bilamana kita sulit meletakkan plat besi, maka kita harus mempergunakan
beberapa balok- kayu, serta Transfonnator harus kita angkat (di dongkrak
dengan hydraulic jack). Hal ini untuk menjaga jangan sampai waktu kita
menggeser keluar terjadi perbedaan tinggi waktu kita akan menyambung dengan
ril tambahan. Bila kita akan membelokkan arah penarikan Trafo, maka kita harus
memutar roda (90 berputar) dengan dudukannya dan Trafo harus tetap diganjal
dengan balok.

Untuk penggeseran Trafo type 2, dapat kita lakukan sebagai


berikut:

ƒ Naikkan Trafo dari pondasi untuk memasang plat serta skid roller
pada posisinya. Sebaiknya sebelum dipasang plat, kita alasi dengan
balok-balok kayu. Bila kesulitan memasang plat, maka alas skid roller bisa
memakai besi C, NP. 14.
ƒ Bilamana pekerjaan di atas sudah selesai, maka kita dapat menggeser
Trafo keluar dari pondasi.

Perhatika
n:

ƒ Untuk menaikkan Trafo dengan Dongkrak hydraulic, posisi dongkrak


harus berada tepat dimana Trafo di pasang tempat khusus untuk dongkrak
(Hydraulic jack).

ƒ Bilamana kita tidak mempunyai skid roller maka bisa kita kerjakan
dengan memasang besi-besi rol pendek-pendek, diletakkan dibawah Body
Trafo yang telah ada penguatnya.

Disini kita dituntut untuk ketelitian serta kesabaran. Untuk kelengkapannya,


bila Trafo tersebut akan disimpan agak lama maka masih harus dipasang lagi
beberapa peralatan, terutama yang berisi minyak. Misalnya Silicagel Breather,
Explosif Valve dan lain-lain.

c. Merakit / Assembling

Sebenarnya bilamana kita akan merakit Power Trafo, kita tentu


menerima Instruction manual. Jadi kita bisa mengikuti cara-cara yang
sesuai dengan ketentuan pabrikan.

Cara-cara pemasangan/Assembling ini harus kita usahakan agar didalam


pemasangan ini diusahakan agar tidak membuka flange-flange pada Body
Trafo, atau pasang dulu peralatan yang tanpa membuka Body Trafo atau
menghindari udara luar masuk ke dalam Body Trafo.

Untuk itu semua maka dapat kita urutkan sebagai


berikut:

ƒ Pasang support-support/dudukan untuk Tap Changer Panel,


dudukan

Conservator, serta dudukan local Control


Panel.

ƒ Pasang Tap Changer Panel, Local Control


Panel,

ƒ Pasang Conservator tanpa piping. Bilamana conservator harus


dipasang dengan Rubber Breather, maka sebelurn conservator
terpasang Rubber Breather harus dipasang terlebih dahulu. Selanjutnya
baru Conservator (oil level indicator telah terpasang). Dan pemasangan
Conservator jangan sampai terbalik.

ƒ Pemasangan
Radiator

Bila pemasangan memakai pipa-pipa minyak yang tersambung langsung


pada Trafo, maka pipa-pipa tersebut harus dipasang terlebih dahulu
tanpa membuka katub/valve pada Body Trafo bila tanpa pipa, maka bisa
juga kita pasang radiator tanpa membuka valve. Perlu diingat bahwa
packing harus diganti dengan packing baru maka agar tidak kena
minyak Trafo, sewaktu mau pasang, Radiator kita miringkan dahulu, hingga
sisa-sisa minyak keluar. Bersihkan permukaan-permukaan yang akan
dipasang packing. Pemasangan ini bisa diikuti dengan memasang Fan.

ƒ Isolator Bushing (LY, HV,


HVN)

Seperti kita jelaskan dalam pembongkaran Bushing maka untuk


pemasangannya tidak sesulit seperti yang kita duga. Hanya untuk
Bushing yang di pasang miring, harus kita angkat miring, dengan
mengatur sling
tambang, Bila perlu dipasang tokal rante.Untuk ini, kita harus membuka
tutup dari Body Trafo . Maka bilamana telah selesai pemasangan
Bushing kita harus isi lagi Nytrogen.

ƒ Untuk selanjutnya kita bisa pasang pipa-pipa Buholz, Relay OLTC, pipa-
pipa ke Trafo dan Bushing, Silicagel dan sebagainya.

ƒ Untuk pemasangan thermometer pada thermometer pocket, maka kita


harus mengisi sedikit minyak ke dalam pocket tersebut.

Perlu diperhatikan pula, sebelum kita mengisi Nytrogen, kita check lagi pengerasan
baut- baut sesuai dengan ketentuan. Dan bilamana kita akan filter minyak, untuk
-
Trafo yang berisi Nytrogen semua ini harus kita biarkan dahulu /+ 24 jam. Hal ini untuk
sekalian test kebocoran yang dapat kita lihat dari tekanan Nytrogen. Sebaiknya kita
catat setiap jamnya, untuk melihat apakah Trafo sudah baik, dan tidak ada kebocoran.

Untuk Trafo yang di transport sudah berisi minyak pada Tangki utamanya, kita
perlu check pengerasan baut lebih teliti. Bila kita akan mengisi minyak dengan Oil
Treatment maka kita selenggarakan bersamaan dengan Vacum. Dan untuk mengisi
radiator kita buka valve antara radiator dan Tangki utamanya. Bila mengisi radiator
sebelum vacum, maka kita harus membuka sedikit baut vent diatas radiator, hingga
kelihatan minyak keluar sedikit dan tidak bercampur udara (gelembung).

3. ANALISA PENGERAHAN PERALATAN DAN MATERIAL

Pemasangan dilakukan dengan mengikuti preosedur pemasangan Peratalan


yang digunakan diantaranya :

a) Penampung minyak Trafo (drum/Tanki


minyak)

b) Oil Treatment, pompa


vacuum

c) Nytrogen kering beserta meter-meter serta


perlengkapannya d) Penutup/Flange untuk Radiator, main
Tank dan lain-lain

e) Sling Nylon & Sling baja berbagai


ukuran

f) Kunci-kunci pas/Ring, Obeng, Drip


secukupnya g) Packing, mur baut untuk flange

h) Kotak-kotak/peti pengaman
material i) Kain untuk
Lap/Pembersih

j) Tambang Nylon Dia.


5/8”

k) Dongkrak hydraulic 25 ton, 4


buah

l) Balok-balok kayu (20x15x200 cm) serta kayu-kayu


secukupnya. m) Minyak pembebas karat untuk baut-baut

n) Peralatan kecil
lainnya

4. ANALISA PENGARAHAN PERSONIL DAN K3

Dalam pemasangan supervisor harus melakukan pengontrolan dan arahan


terhadap setiap pekerjaan. Pemasangan harus sesuai dengan ketentuan yang
terdapat pada prosedur pemasangan . Tenaga operator harus memiliki keahlian
dan pengalaman dalam pekerjaan pemasangan ini. Supervisor juga berkewajiban
untuk mengawasi pekerjaan sesuai dengan ketentuan keselamatan kerja.
5. PENGENDALIAN MUTU

Dilakukan pengawasan secara ketat pada setiap proses dan tahapan perakitan
dan pemasangan. Pekerjaan dilakukan dengan mengacu terhadap kesesuian
spesifikasi teknik dan prosedur yang telah di tentutkan.
PEKERJAAN : SUBSTATION AUTOMATION

1. LINGKUP PEKERJAAN

Lingkup pekerjaan mencakup pembongkaran panel eksisting, pemasangan panel


IED (baru), dan wiring.

2. TAHAPAN DAN CARA PELAKSANAAN

Pekerjaan ini berhubungan dengan peralatan eksisting yang sedang beroperasi,


karena itu diperlukan persiapan dan data eksisting yang lengkap dan benar, serta
kecermatan yang tinggi. Adapun beberapa tahapan yang harus dilakukan adalah
sebagai berikut :

a. Pengecekan gambar eksisting. Cari gambar schematic diagram eksisting (as-


built) yang terakhir. Dari gambar eksisting yang diperoleh maka selanjutnya
harus dilakukan cross-check dengan wiring didalam panel. Lakukan pengecekan
wiring ini bay per bay secara teliti, karena sangat mungkin bahwa wiring setiap
panel sudah mengalami perubahan/ modifikasi.

b. Dengan asumsi bahwa semua wiring eksisting tidak ada yang diganti, maka perlu
dilakukan pengecekan cabling/wiring yang terkait dengan bay tersebut.

c. Atau untuk beberapa lokasi perlu diasumsikan juga bahwa wiring antara
Marshallink Kiosk (MK) dan HV Equipment tetap menggunakan kabel eksisting,
maka lakukan pengecekan wiring internal MK dan semua kabel yang keluar dari
MK menuju HV.Equipment.

d. Dari item a. diatas, maka selanjutnya dibuat modifikasi schematic diagram


dengan acuan gambar schematic diagram eksisting. Mengingat begitu
kompleksnya modifikasi yang dilakukan, maka pekerjaan engineering ini hanya
bisa dilakukan oleh Tim Engineering.

e. Setelah semua gambar schematic diagram dan wiring table lengkap,


maka selanjutnya harus disusun langkah-langkah yang akan diambil. Langkah-
langkah ini akan sangat tergantung dari kondisi dan konfigurasi GI masing-
masing.

f. Secara umum langkah-langkah yang harus dilakukan pada ”BAY LEVEL”


adalah sbb:

ƒ Perkirakan lama waktu kerja yang dibutuhkan.


ƒ Ajukan jadwal pemadaman sesuai dengan waktu yang diperlukan 4 (empat)

minggu sebelumnya.

ƒ Pemutusan supplai AC/DC untuk Control Panel dan Relay Panel.

ƒ Pembongkaran Contol Panel dan Relay Panel eksisting, dan simpan


didalam lokasi GI.

ƒ Keluarkan kabel kontrol / kabel power eksisting dari cable duck.

ƒ Pasang Panel IED yang baru.

ƒ Gelar kabel kontrol / kabel power yang baru sesuai dengan cable list
yang baru.

ƒ Lakukan terminasi kabel kontrol pada kedua ujung kabel.

ƒ Lakukan individual function test untuk bay tersebut.

ƒ Lanjutkan dengan bay-bay yang lain.


g. Setelah semua bay diganti dengan panel IED, selanjutnya dapat dilakukan
langkah- langkah pada ”STASION LEVEL” sebagai berikut :

ƒ Pasang semua meja/kursi untuk Substation Automation System (SAS)


sesuai lay out yang sudah disetujui.

ƒ Pasang semua perangkat keras SAS sesuai dengan layout.

ƒ Sambungkan semua kabel antara panel IED dengan SAS.

ƒ Pasang semua perangkat lunak SAS pada masing-masing komputer.

ƒ Lakukan running test terhadap semua perangkat keras yang dipasang.

h. Selanjutnya lakukan pengujian pada fungsi IED naupun SAS dengan


langkah- langkah sebagai berikut :

ƒ Re-checking bahwa semua interlocking yang diperlukan sudah terpenuhi.

ƒ Lakukan pengujian pada masing-masing IED (individual function).

ƒ Lakukan pengujian pada ”bay level” pada masing-masing IED


termasuk interlocking di setiap bay.

ƒ Lakukan pengujian pada seluruh fungsi IED melalui Human Machine Interface

(HMI).

ƒ Lakukan pengujian fungsi ”Gateway” sesuai dengan protokol yang dibutuhkan.

ƒ Lakukan pengujian fungsi melalui Remote Control Center.

ƒ Lakukan pengujian fungsi secara random terhadap semua fungsi


SAS. i. Selanjutnya SAS siap untuk dioperasikan.

3. ANALISA PENGERAHAN PERALATAN DAN MATERIAL

Pemasangan dilakukan dengan mengikuti preosedur pemasangan masing-


masing material Peratalan yang digunakan seperti yang telah dirinci sebelumnya.

4. ANALISA PENGARAHAN PERSONIL DAN K3

Dalam pemasangan supervisor harus melakukan pengontrolan dan arahan


terhadap setiap pekerjaan. Pemasangan harus sesuai dengan ketentuan yang
terdapat pada prosedur pemasangan . Tenaga operator harus memiliki keahlian
dan pengalaman dalam pekerjaan pemasangan ini. Supervisor juga berkewajiban
untuk mengawasi pekerjaan sesuai dengan ketentuan keselamatan kerja.
5. PENGENDALIAN MUTU

Dilakukan pengawasan secara ketat pada setiap proses dan tahapan perakitan
dan pemasangan. Pekerjaan dilakukan dengan mengacu terhadap kesesuian
spesifikasi teknik dan prosedur yang telah di tentutkan.

lah ditentukan.