Anda di halaman 1dari 17

Break Event Point (Analisis Titik Impas)

by retna rindayani 00.23 4 komentar

Analisis BEP (Break Even Point)


Adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara biaya, volume penjualan dan profit.

Asumsi-asumsi:
1. Analisis titik impas digunakan untuk analisis jangka pendek
2. Biaya dikelompokkan menjadi 2:
a. Biaya tetap
b. Biaya variable : gambarannya apabila jumlah produksi berubah maka biaya juga berubah
Misal : Tukang gorengan
Biaya tetapnya : kuali, sendok, kompor, tabung gas
Biaya variabelnya : minyak goring, tepung, gas, dll.
3. Jumlah yang diproduksi = jumlah yang dijual
TC = AC x Q
TR = P x Q

TC : Total Cost
TR : Total Revenue
AC : Average Cost
ATC : Average Total Cost

4. Harga jual per unit tetap


5. Bauran penjualan tetap pada kasus multiproduk

BEP : 1. Berdasarkan jumlah barang yang diproduksi (unit)


2. Berdasarkan harga penjualannya (Rp)
1. BEP (Q) atau BEP berdasarkan jumlah barang yang diproduksi (unit)
= FC
P-V
Ket
FC :Fixed Cost/biaya tetap
P :Harga
VC :Variable Cost/biaya variable

Contoh :
Suatu perusahaan mengeluarkan biaya tetap sebesar 300.000. Biaya variabel per unit 40. Harga jual per
unit 100. Kapasitas produksi maksimal 10.000. Hitunglah BEP (Q)!

BEP (Q) = FC
P–V
= 300.000
100 - 40
= 5.000 unit
atau
P- V = contribution margin = 100 – 40 = 60
BEP (Q) = FC
Contribution margin
= 300.000
60
= 5.000 unit
2. BEP (P) atau berdasarkan harga penjualannya (Rp)
= FC
1 – TVC
S
Ket
Sales (S) atau volume penjualan = P x Q
Total Variable Cost (TVC) = VC x Q

Dari soal yang sama diatas:


Sales (S) atau volume penjualan = P x Q = 100 x 10.000 = 1.000.000
Total Variable Cost (TVC) = VC x Q = 40 x 10.000 = 400.000

BEP (Rp) = FC
1 – TVC
S
= 300.000
1 – 400.000
1.000.000
= 500.000

BEP (Q) = BEP (Rp)


P
= 500.000
100
= 5.000

Contribution margin ratio = 1– 400.000 = 0,6


Atau contribution to fixed cost 1.000.000

Setiap perubahan penjualan akan menyebabkan setiap perubahan terhadap fixed cost sebesar 0,6
atau 60%

*** Margin of Safety : angka yg menunjukkan jarak antara penjualan yang direncanakan atau budget sales
dengan penjualan break even.
= penj. yg direncanakan – penj. Pada BEP x 100%
Penj. yg direncanakan
= 1.000.000 – 500.000 x 100%
1.000.000
= 50%

Efek Penambahan Faktor Terhadap BEP


A. Harga jual
1. Suatu perusahaan mengeluarkan biaya tetap sebesar 300.000. Biaya variabel per unit 40. Harga jual per
unit naik dari 100 menjadi 160. Kapasitas produksi maksimal 10.000. Hitunglah BEP (Q)!
Jawab:
BEP (Q) = 300.000 = 300.000
160 – 40 120
= 2.500 unit
BEP (Rp) = 300.000
1 – 400.000
1.600.000
= 400.000
Bila harga jual dinaikkan maka BEP-nya akan turun

2. Suatu perusahaan mengeluarkan biaya tetap sebesar 300.000. Biaya variabel per unit 40. Harga jual per
unit turun dari 100 menjadi 80. Kapasitas produksi maksimal 10.000. Hitunglah BEP (Q)!

Jawab:
BEP (Q) = 300.000 = 300.000
80 – 40 40
= 7.500 unit

BEP (Rp) = 300.000


1 – 400.000
800.000
= 600.000
B. Biaya Tetap
1. Ada Ada tambahan biaya tetap Rp 100.000 (300.000 + 100.000)
Memperbesar kapasitas produksi dari 10.000 unit – 15.000 unit
Biaya variabel per unit 40.
Harga jual per unit 100 – 90. Berapa BEP nya?

Jawab:
BEP (Q) = 400.000 = 400.000
90 – 40 40
= 8.000 unit

BEP (Rp) = 400.000


1 – 600.000
1.350.000
= 727.000
C. Sales Mix
Contoh soal:
Perusahaan memproduksi lebih dari satu produk
Sales = TR = Total Revenue = P. Q

Produk
Keterangan Total
A B
Sales 200.000 200.000 400.000
Q/unit 20.000 8.000
VC 60% x 200.000 = 40% x 200.000 = 200.000
120.000 80.000
FC 40.000 80.000 120.000
TC = VC + FC 160.000 160.000 320.000
Laba = S – TC 40.000 40.000 80.000(untung)

Jawab:
Sales mix = A : B = 200.000 : 200.000 = 1 : 1
Produk mix = A : B = 20.000 : 80.000 = 2,5 : 1

BEPtotal (Rp) = FC
1 – TVC
S
= 120.000
1 – 200.000
400.000
= 120.000/0,5
= 240.000

Sales Produk A = ½ x 240.000


= 120.000
TR = P. Q
= P . 20.000
P = 120.000/20.000
=6

Sales Produk B = ½ x 240.000


= 120.000
TR = P. Q
= P . 8.000
P = 120.000/8.000
= 15

ANALISA BREAK EVENT POINT (BEP) / TITIK IMPAS

Analisa Break Event Point (BEP) adalah titik dimana perusahaan belum memperoleh keuntungan
tetapi juga tidak dalam kondisi rugi. Atau BEP merupakan suatu teknik analisa untuk mempelajari
hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume aktivitas. Masalah BEP baru
akan muncul dalam perusahaan apabila perusahaan tersebut mempunyai Biaya Variabel dan Biaya
Tetap. Suatu perusahaan dengan volume produksi tertentu dapat menderita kerugian dikarenakan
penghasilan penjualannya hanya mampu menutup biaya variabel dan hanya bisa menutup sebagian
kecil biaya tetap.

Contribution Margin adalah selisih antara penghasilan penjualan dan biaya variabel, yang merupakan
jumlah untuk menutup biaya tetap dan keuntungan. Perusahaan akan memperoleh keuntungan dari
hasil penjualannya apabila kontribusi marginnya lebih besar dari biaya tetap, yang berarti total
penghasilan penjualan lebih besar dari total biaya.

BEP ditinjau dari konsep kontribus margin menyatakan bahwa volume penjualan dimana kontribusi
margin sama besarnya dengan total biaya tetapnya.

Manfaat Analisis Break Even Point (Titik Impas)

- Jumlah penjualan minimal harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kerugian;

- Jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan tertentu;

- Seberapa jauhkah yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan tertentu;

- Seberapa jauhkah berkurangnya penjualan agar perusahaan tidak menderita rugi


- Untuk mengetahu bagaimana efek perubahan harga jual biaya dan volume penjualan terhadap
keuntungan yang diperoleh.

Asumsi dasar dalam analisa BEP antara lain :

a. Biaya dapat diklasifikasikan kedalam kompunen biaya variabel dan biaya tetap;

b. Total biaya variabel berubah secara proporsional dengan volume produksi atau penjualan,
sedangkan total biaya variabel per unit tetap konstan.

c. Total biaya tetap tidak mengalami perubahan, meskipun ada perubahan volume produksi atau
penjualan, sedangkan biaya tetap / unit akan berubah karena adanya perubahan volume kegiatan.

d. Harga jual per unit tidak akan berubah selama periode melakukan analisa

e. Perusahaan hanya membuat dan menjual satu jenis produk. Jika membuat dan menjual lebih dari
satu jenis produk, maka perbandingan penghasilan penjualan antara masing-masing produk (disebut
sebagai Sales Mix) akan tetap konstan.

f. Kapasitas produksi pabrik relatif konstan

g. Harga faktor produksi relatif konstan

h. Efisiensi produksi tidak berubah

i. Perubahan padapersediaan awal dan akhir jumlhanya tidak berarti

j. Volume merupakan faktor satu-satunya yang mempengaruhi biaya.

BEP dapat ditentukan dengan beberapa cara :

1. Pendekatan grafik

BEP terjadi pada titik persilangan antara garis penghasilan penjualan dan garis total biaya.

2. Metode Trial Error

3. Pendekatan Matematis
Rumusnya adalah :

a. BEP (unit) = Total Biaya Tetap / (Harga jual/unit – Biaya Variabel/unit).

b. BEP (Rp) = Total Biaya Tetap / (1- (Total biaya avriabel / total hasil penjualan)

Margin of safety adalah batas keamanan yang menyatakan sampai seberapa jauh volume penjualan
yang dianggarkan boleh turun agar perusahaan tidk menderita rugi atau dengan kata lain, batas
maksimum penurunan volume penjualan yang dianggarkan, yang tidak mengakibatkan kerugian.

MS = (Budget Sales – BEP) / Budget Sales

Budget Sales adalah jumlah penjualan yang telah ditargetkan

Contoh Soal :

1. Rencana penjualan tahun 2000 meliputi kedua jenis produk adalah sbb :

a. Penjualan

Nama Produk Jumlah Unit Harga /unit Total

Produk A 15.000 Rp 1.000,- Rp 15.000.000

Produk B 10.000 Rp 750,- Rp 7.500.000

Biaya Variabel Produk A 15.000 Rp 500 Rp 7.500.000

Biaya variabel Produk B 10.000 Rp 300 Rp 3.000.000

Biaya Tetap keseluruhan Rp 5.000.000 setahun.

Dengan data tersebut saudara diminta untuk :

1. Menentukan BEP perusahaan secara keseluruhan dalam Rupiah

2. Menentukan BEP produk A dalam unit

3. Menentukan BEP produk B dalam unit

Jawaban :

A. Menentukan BEP perusahaan secara keseluruhan dalam Rupiah

Rumus :

BEP (Rp) = Total Biaya Tetap / (1- (Total biaya variabel / total penjualan)

BEP = 5.000.000 / (1- (7.500.000+3.000.000) / (15.000.000+7.500.000)

BEP = 5.000.000 / (1 - 0.47)

BEP = 5.000.000 / 0.53

BEP = Rp 9.433.962,26 dibulatkan Rp 9.433.962,-

B. Menentukan BEP produk A dalam unit


Rumus :

BEP (unit) Produk A

= Total Biaya Tetap / (Harga jual/unit – Biaya Variabel/unit).

BEP = 5.000.000 / (1.000 – 500)

BEP = 10.000 unit

C. Menentukan BEP produk B dalam unit

Rumus :

BEP (unit) Produk B

= Total Biaya Tetap / (Harga jual/unit – Biaya Variabel/unit).

BEP = 5.000.000 / (750 – 300)

BEP = 11.111,11 unit dibulatkan 11.111 unit

2. Sebuah perusahaan menjual 100.000 buah hasil produksinya dengan harga Rp 20,-/buah. Biaya
variabel per buah barang adalah Rp 14,- (yang Rp 11,- adalah biaya produksinya dan sisanya adalah
biaya pemasaran). Biaya tetap, terjadinya secara merata jumlahnya Rp 792.000 (yang Rp 500.000,-
biaya produksi dan lainnya adalah biaya pemasaran.

Saya bantu buatkan tabel angka –nya untuk memudahkan mengerjakan :

Total Unit Harga Jual / unit Biaya Variabel/unit B.adm & pemsran

100.000 Rp 20 Rp 11 Rp 3/unit

Biaya Tetap Rp 500.000 Rp 292.000

Note :

Menurut Wikipedia biaya tetap adalah pengaluran yang tidak berubah sebagai fungsi dari aktivitas
suatu bisnis dalam periode yang sama. Dan biaya Variabel adalah biaya berkaitan dengan volume
(dan dibayar per barang/jasa yang diproduksi). Dalam contoh diatas B. Adsministrasi dan pemasaran
ada yang dimasukkan ke unsur variabel dan sebagian masuk ke biaya tetap. Penggolongan itu
berdasarkan timbul dan besarnya pada masing-masing unsur.

Pertanyaan :

1. Tentukan BEP / rupiah dan unit

2. Menghitung berapa buah barang yang harus dijual agar perusahaan untung Rp 90.000,-

Jawaban :

A. Tentukan BEP dalam unit


Rumus :

BEP (unit) = Total Biaya Tetap / (Harga jual/unit – Biaya Variabel/unit).

BEP = 792.000 / (20 – 14)

BEP = 792.000 / 6

BEP = 132.000 unit

Tentukan BEP dalam rupiah

Rumus :

BEP (Rp) =

Total Biaya Tetap / (1- (Total biaya variabel / total hasil penjualan)

BEP = 792.000 / (1 – (1.400.000/2.000.000)

BEP = 792.000 / 0.3

BEP = Rp 2.640.000,-

B. Menghitung berapa buah barang yang harus dijual agar perusahaan untung Rp 90.000,-.

LABA = HARGA JUAL – TOTAL BIAYA

90.000 = X – (b. Variabel + biaya tetap)

90.000 = x – (1.400.000 + 792.000)

90.000 = x – 2.192.000

X = 2.192.000 + 90.000

X = Rp 2.282.000,-

Jadi harga jualnya Rp 2.282.000,-.

PENGEMBANGAN FORMULA BEP (BREAK EVEN POINT)

BEP >>>>> TR = TC

Dimana :

TR = Total Revenue

TC = Total Cost

Pengembangannya dengan membentuk persamaan linier sederhana dibawah ini :

TR = TC

TR – TC = 0

Langkahnya adalah sbb :


1. Menurunkan rumus TR

TR = Harga per unit x Qty

2. Menurunkan Rumus TC

TC = VC + FC

Dimana :

VC = Variabel Cost (Biaya Variabel)

FC = Fixed Cost (biaya Tetap)

TC = VC + TC

TC = (Qty + Unit Variabel cost) + Fix Cost

3. Membuat persamaan Linier

TR – TC = 0

(Harga per unit x Qty) – ((Qty + Unit Variabel cost) + Fix Cost) = 0, ATAU

(Harga per unit x Qty) – (Qty + Unit Variabel cost) - + Fix Cost = 0

Qty x (Harga per unit – Unit Variabel cost) = Fixed Cost

Keterangan :

Q (Quantity ) adalah jumlah barang yang akan dijual, yang dalam perusahaan manufaktur tentunya
diproduksi terlebih dahulu;

R (Revenue ) adalah pendapatan, yang dalam perusahaan manufaktur biasanya didominasi oleh Sales,
yang mana Sales (penjualan) adlah jumlah terjual (Qty x Unit produk yang terjual);

Unit Price (harga per unit) adalah harga per unit dari barang yang akan dijual;

VC (Variabel Cost) adalah cost yang timbul akibat diproduksinya suatu barang, artinya segala yang
cost yang terjadi untuk memproduksi suatu barang. Seperti sebelumnya “Variabel Cost” akan
berubah-ubah mengikuti jumlah produk yang akan diproduksi. Semakin banyak yang diproduksi
semakin besar juga biaya variabelnya, begitu juga sebaliknya.

Jika kita lihat pada Laporan Laba Rugi , Variabel Cost akan tergolong ke dalam kelompok “Cost of
Good Sales”, atau Harga pokok penjualan. Yang pada perusahaan manufaktur umumnya terdiri dari :

- Bahan Baku (Raw Material);

- Bahan penolong ;

- Biaya Tenaga Kerja Langsung (BTKL) atau Direct Labour Cost

- BOP (Overhead Pabrik) yang biasanya terdiri dari penyusutan Gedung Pabrik, Penyusutan Mesin yang
menggunakan unit production output, Maintenance, Listrik, pengiriman dll
- Unit Variabel Cost adlah besarnya variabel cost yang ditimbulkan untuk membuat satu unit produk
tertentu, yang besarnya diperoleh dengan cara membagi total variabel cost (Variabel Cost) dengan
jumlah product yang dibuat (Qty).

- Fixed Cost adalah cost yang akan terjadi akibat penggunaan sumber daya tertentu yang
penggunaannya tanpa dipengaruhi oleh banyak sedikitnya produk yang diproduksi.

Misalnya adalah Biaya operasional seperti payroll dan biaya perlengkapan kantor, biaya sewa, dan
biaya penyusutan dan amortisasi yang menggunakan metode garis lurus.

KETERBATASAN ANALISIS BREAL EVEN POINT

BEP dapat dirasakan manfaatnya apabila titik BEP dapat dipertahankan selama periode tertentu.
Keadaan ini dipertahankan apabila biaya-biaya dan harga jual adalah konstan, karena naik turunnya
harga jual dan biaya akan mempengaruhi titik break even.

Dalam kenyataannya analisis ini agak sukar untuk diterapkan. Oleh sebab itu bagi analis perlu
diketahui bahwa analisi BEP mempunyai limitasi-limitasi tertentu, yaitu :

a. Fixed Cost haruslah konstan selama periode atau range of out put tertentu;

b. Variabel Cost dalam hubungannya dengan sales haruslah konstan;

c. Sales Price per unit tidak berubah dalam periode tertentu;

d. Sales Mix adalah konstan.

Berdasarkan limitasi-limitasi tersebut, BEP akan bergeser atau berubah apabila :

1. Perubahan, terjadi sebagai akibat bertambahnya kapasitas produksi, dimana perubahan ini ditandai
dengan naik turunnya garis FC dan TC-nya, meskipun perubahannya tidak mempengaruhi kemiringan
garis TC. Bila FC naik BEP akan bergeser keats atau sebaliknya;

2. Perubahan pada variabel cost ratio atau VC per unit, dimana perubahan ini akan menentukan
bagaimana miringnya garis total cost. Naiknya biaya VC per unit akan menggeser BEP ke atas atau
sebaliknya;

3. Perubahan dalam Sales Price per unit

Perubahan ini akan mempengaruhi miringnya garis total revenue (TR). Naiknya harga jual per unit
pada level penjualan yang sama walaupun semua biaya adalah tetap, akan menggeser ke bawah atau
sebaliknya;

4. Terjadinya perubahan dalam sales mix

Apabila suatu perusahaan memproduksi lebih dari satu macam produk maka komposisi atau
perbandingan antara satu produk dengan produk lain (sales mix) haruslah tetap. Apabila
terjadiperubahan misalnya terjadi kenaikan 20% pada produk A sedangkan produk B tetap maka BEP
pun akan berubah.

Sumber : Laboratorium Pengembangan Akuntansi Gunadarma dan Pusat Pengembangan Bahan


Ajar UMB
Cara Menghitung BEP Break Event Point
Saturday, September 30th, 2017 - Akutansi

Selamat datang di situs tutorial dan panduan cara apapun. Akan dibahas dan diulas secara lengkap
dan jelas cara apapun dan pengertian termasuk rumus contoh dan penyelesaian soal serta studi
kasus Cara Menghitung BEP Break Event Point

Pengertian, Rumus, dan Cara Menghitung Break Even Point – Dalam sebuah usaha atau bisnis
dipakai suatu ukuran umum dalam menentukan dan menilai keberhasilan manajemen usaha dalam
mencapai target penjualan sehingga terjadi keuntungan atau laba maksimal. Untuk mendapat laba
maksimum tersebut dipengaruhi tiga faktor utama yaitu;
1. biaya produksi,
2. harga jual, dan
3. banyaknya penjualan.

Biaya akan menentukan berapa harga jual, harga jual ini akan mempengaruhi banyaknya yang akan
dijual, banyaknya penjualan akan mempengaruhi banyaknya produksi ,dan banyaknya yang akan
produksi akan mempengaruhi biaya.

Tujuan utama dari suatu perusahaan adalah untuk memperoleh laba sebesar-besarnya agar
perusahaan tersebut terus berjalan dengan baik. Dalam pencapaian untuk memperoleh laba,
manajemen perusahaan memerlukan pendekatan. Pendekatan dalam perencanaan laba ini adalah
Analisis Titik Impas atau Break Even Point.

Rumus Cara Hitung BEP Break Even Point


Pengertian – Apa itu Break Event Point (BEP)
Break Even Point atau nama lain dari analisis titik impas diartikan sebagai suatu keadaan atau titik
dimana perusahaan dalam kegiatan operasinya tidak memperoleh keuntungan dan tidak mengalami
kerugian juga.

Singkatnya, pengertian Break Event Point (BEP) adalah suatu titik impas antara besar umlah laba
dan biaya suatu perusahaan dalam posisi yang sama atau seimbang, sehingga dalam prosesnya
tidak mendapatkan keuntungan dan kerugian.
Manfaat Break Even Point

Penggunaan Break Even Poin, digunakan untuk menganalisis produksi berapa banyak jumlah barang
yang diproduksi atau berapa banyak uang atau laba yang harus diterima untuk mencapai titik impas
atau kembalinya modal.

Dalam suatu perusahaan sebelum memproduksi suatu produk, pertama perusahaan merencanakan
seberapa besar laba yang ingin didapatkan. Ketika menjalankan usaha maka akan mengeluarkan
biaya produksi, maka dengan menggunakan BEP untuk mengetahui waktu dan tingkat harga
penjualan yang dilakukan tidak menempatkan usaha tersebut merugi dan mampu menetapkan
penjualan dengan harga pasar tanpa melupakan laba yang ditetapkan.

Rumus Cara Lain: Cara Menghitung Rumus IRR (Internal Rate of Return)

Hal ini terjadi karena, biaya produksi merupakan hal yang paling berpengaruh terhadap penentuan
harga jual dan sebaliknya, sehingga dengan penentuan BEP ini dapat diketahui berapa jumlah
barang dan harga pada penjualan. Analisis BEP digunakan untuk hal yang lain contohnya seperti
analisis laporan keuangan.

Dalam penentuan BEP atau titik impas ini perlu diketahui terlebih dulu hal-hal dibawah ini agar dapat
ditentukan dengan tepat, yaitu:
 Tingkat laba yang menjadi target dalam suatu periode
 Kapasitas produksi yang tersedia
 Besarnya biaya yang harus dikeluarkan, seperti biaya tetap dan biaya variable.
Komponen Break Even Point

Dalam menghitung berapa besar BEP atau titik impas tentu saja memerlukan komponen-komponen.
Berikut ini merupakan komponen dari BEP, yaitu:

1. Fixed Cost

Komponen ini termasuk dalam biaya tetap atau konstan, jika adanya kegiatan produksi ataupun tidak
sedang berproduksi.

2. Variabel Cost

Komponen ini bersifat dinamis. Variabel cost disebut biaya per unit, yang bergantung pada tingkat
volume produksinya. Jika produksi meningkat, maka variabel cost juga akan meningkat. Contohnya
yaitu biaya bahan baku, biaya listrik, dan sebagainya.

3. Selling Price
Pengertian selling price adalah harga jual per unit barang atau jasa yang telah diproduksi.
Rumus Break Even Point

Rumus yang digunakan untuk analisis Break Even Point ini terbagi menjadi dua macam pendekatan
yaitu rumus Dasar Unit dan rumus Dasar Penjualan.

1. Rumus BEP Dasar Unit

Cara menghitung berapa unit jumlah barang atau jasa yang harus diproduksi untuk mendapatkan titik
impas:

BEP = FC /(P-VC)

2. Rumus BEP Dasar Penjualan

Cara menghitung berapa rupiah nilai penjualan yang harus diterima untuk mendapat titik impas:

Rumus Cara Lain: Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP)

FC/ (1 – (VC/P))*

Penghitungan (1 – (VC/P)) biasa juga disebut dengan istilah Margin Kontribusi Per Unit.

Keterangan:

BEP : Break Even Point

FC : Fixed Cost

VC : Variabel Cost

P : Price per unit

S : Sales Volume
Cara Menghitung Break Even Point
Contoh soal cara menghitung BEP

Diketahui:

Total Biaya Tetap (FC) bernilai Rp 100 juta

Total Biaya Variabel (VC) per unit bernilai Rp 60 ribu

Harga jual barang per unit bernilai Rp 80 ribu

Penghitungan BEP Unit


BEP = FC/ (P – VC)
BEP = 100.000.000/ (80.000 – 60.000)
BEP = 5000
Penghitungan BEP Penjualan
BEP = FC/ (1 – (VC/P))
BEP = 100.000.000/ (1 – (60.000/80.000))
BEP = Rp 400.000.000

Dari analisis perhitungan diatas, perusahaan dapat mengetahui laba yang akan diperoleh
berdasarkan besarnya penjualan minimum. Berikut merupakan rumus untuk menghitung target laba
sebagai berikut:

BEP – Laba = (FC + Target Laba) / (P – VC)

FC, VC, dan P mengikuti contoh sebelumnya, dengan tambahan perusahaan ini memiliki target laba
sebesar Rp 80 juta per bulan.

BEP – Laba = (FC + Target Laba) / (P – VC)


BEP – Laba = (100.000.000 + 80.000.000) / (80.000 – 60.000)
BEP – Laba = 180.000.000 / 20.000
BEP – Laba = 9.000 unit atau
BEP – Laba = Rp 720 juta (didapat dari: 9000 unit x Rp 80.000)
Contoh Soal 1
 Rencana penjualan tahun 2000 meliputi kedua jenis produk adalah sbb :
1. Penjualan
Nama Produk Jumlah Unit Harga /unit Total

Produk A 15.000 Rp 1.000,- Rp 15.000.000

Produk B 10.000 Rp 750,- Rp 7.500.000

Biaya Variabel Produk A 15.000 Rp 500 Rp 7.500.000

Biaya variabel Produk B 10.000 Rp 300 Rp 3.000.000

Biaya Tetap keseluruhan Rp 5.000.000 setahun.

Dengan data tersebut saudara diminta untuk :


1. Menentukan BEP perusahaan secara keseluruhan dalam Rupiah
2. Menentukan BEP produk A dalam unit
3. Menentukan BEP produk B dalam unit

Rumus Cara Lain: Cara Menghitung Rumus IRR (Internal Rate of Return)

Jawaban :
1. Menentukan BEP perusahaan secara keseluruhan dalam Rupiah
Rumus :

BEP (Rp) = Total Biaya Tetap / (1- (Total biaya variabel / total penjualan)

BEP = 5.000.000 / (1- (7.500.000+3.000.000) / (15.000.000+7.500.000)

BEP = 5.000.000 / (1 – 0.47)

BEP = 5.000.000 / 0.53


BEP = Rp 9.433.962,26 dibulatkan Rp 9.433.962,-
1. Menentukan BEP produk A dalam unit
Rumus :

BEP (unit) Produk A

= Total Biaya Tetap / (Harga jual/unit – Biaya Variabel/unit).

BEP = 5.000.000 / (1.000 – 500)

BEP = 10.000 unit


1. Menentukan BEP produk B dalam unit
Rumus :

BEP (unit) Produk B

= Total Biaya Tetap / (Harga jual/unit – Biaya Variabel/unit).

BEP = 5.000.000 / (750 – 300)

BEP = 11.111,11 unit dibulatkan 11.111 unit

cara menghitung bep,contoh soal BEP,menghitung bep,perhitungan BEP,cara menghitung break


even point,rumus bep,Soal BEP,contoh soal menghitung bep dalam unit dan rupiah,cara hitung
BEP,bep rumus

Cara Menghitung BEP (Break Even Point) Yang Benar


Tuesday, April 18th, 2017 - Wirausaha

Selamat datang di situs kami yang mengulas berbagai macam informasi terkait dengan cara
menghitung dari berbagai disiplin ilmu yang mungkin Anda butuhkan, Cara Menghitung BEP (Break
Even Point) Yang Benar.

Menghitung BEP – Bagi yang biasa dengan akuntansi pasti tahu dengan yang namanya Break event
Point (BEP). Ini merupakan titip dimana pendapatan dari usaha dengan model yang akan kita
keluarga atau bisa dikatakan tidak mengalami kerugian maupun keuntungan.

Bunga deposito yang terus menurun tentunya tidak memberikan efek yang baik bagi kita untuk bisa
meningkatkan daya beli karena disebabkan oleh inflasi lebih besar daripada bunga deposito.
Apabila anda memulai usaha baru untuk meningkatkan return tentu membutuhkan beberapa hal
seperti misalnya :

1. Menghitung-hitung berapa dana yang diperlukan untuk menyewa tempat usaha, membeli
peralatan, mempekerjakan karyawan dan hal-hal lain
2. Membuat proyeksi :
 Berapa volume penjualan yang perlu diperoleh agar dapat minimal menutup seluruh
biaya-biaya timbul. Ini dikenal dengan istilah Break Even Point (Biasa disingkat BEP)
dimana seluruh biaya yang timbul sama dengan total penjualan yang diperoleh, sehingga
perusahaan tidak memperoleh keuntungan maupun kerugian.
 Berapa volume penjualan yang diperlukan agar kita dapat memperoleh laba yang kita
targetkan
Jenis Break Event Point (BEP)
1. BEP Unit : BEP yang dinyatakan dalam jumlah penjualan produk di nilai tertentu.
2. BEP Rupiah : BEP yang dinyatakan dalam jumlah penjualan atau harga penjualan tertentu.
Nah untuk lebih lengkapnya anda bisa mengetahui semua itu dari cara menghitung BEPtersebut.
Rumus / Cara Menghitung BEP
BEP Unit = (Biaya Tetap) / (Harga per unit – Biaya Variable per Unit)
BEP Rupiah = (Biaya Tetap) / (Kontribusi Margin per unit / Harga per Unit)
Keterangan :
• BEP Unit / Rupiah = BEP dalam unit (Q) dan BEP dalam Rupiah (P)
• Biaya Tetap = biaya yang jumlahnya tetap walaupun usaha anda tidak sedang berproduksi.
• Biaya Variable = biaya yang jumlahnya meningkat sejalan peningkatan jumlah produksi seperti
bahan baku, bahan baku pembantu, listrik, bahan bakar, dan lain-lain
• Harga per unit = harga jual barang atau jasa perunit yang dihasilkan.
• Biaya Variable per unit = total biaya variable perunit (TVC/Q)
• Margin Kontribusi per unit = harga jual per unit -biaya variable per unit (selisih)
Contoh BEP perhitungan

Ada 3 elemen dari rumus BEP yang menyusun perhitungan BEP tersebut diantaranya :
1. Fixed Cost (Biaya tetap) yaitu biaya yang dikeluarkan untuk menyewa tempat usaha, peralatan,
komputer dll. Biaya ini adalah biaya yang tetap kita harus keluarkan walaupun kita hanya menjual 1
unit atau 2 unit, 5 unit, 100 unit atau tidak menjual sama sekali.

2. Variable cost (biaya variable) yaitu biaya yang timbul dari setiap unit penjualan contohnya setiap 1
unit terjual, kita perlu membayar komisi salesman, biaya antar, biaya kantong plastik, biaya nota
penjualan, dll.

3. Harga penjualan yaitu harga yang kita tentukan dijual kepada pembeli

Baca juga : Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan


Contoh penggunaan rumus untuk menghitung Break Even Point :

1. Rumus BEP untuk menghitung berapa unit yang harus dijual agar terjadi Break Even Point :

Total Fixed Cost


__________________________________
Harga jual per unit dikurangi variable cost

Contoh :
Fixed Cost suatu toko lampu : Rp.200,000,-
Variable cost Rp.5,000 / unit
Harga jual Rp. 10,000 / unit

Maka BEP per unitnya adalah


Rp 200.000
__________ = 40 unit
10.000 – 5.000

Artinya perusahaan perlu menjual 40 unit lampu agar terjadi Break Even Point. Pada pejualan unit ke
41, baru mulai memperoleh keuntungan

2. Rumus BEP untuk menghitung berapa uang penjualan yang perlu diterima agar terjadi BEP :

Total Fixed Cost


__________________________________ x Harga jual / unit
Harga jual per unit dikurangi variable cost

Dengan menggunakan contoh soal sama seperti diatas maka uang penjualan yang harus diterima
agar terjadi BEP adalah

Rp.200,000
_________ x Rp.10,000 = Rp.400,000,-
10,000 – 5,000