Anda di halaman 1dari 15

TUGAS MATA KULIAH

ETIKA BISNIS
SEMESTER GASAL 2017/2018

ETIKA PROFESI PERBANKAN


PADA BANK BRI

Disusun Oleh :
Kelompok : V dan VI Kelas : E
Nama Kelompok :
Ferty Octari Hardiyanti (2015210085)
Rifka Amalia (2015210107)
Agnes Herlina Yulianti (2015210112)
Joko Wahyu (2015210570)
Yendrika Agustin (2015210671)
Risqi Dwi Septiana Putri (2015210782)
M. Ludfi Zulkarnain (2015210826)
Alib Rahman Oktaviansyah (2015210878)

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PERBANAS


SURABAYA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Etika atau etik berasal dari bahasa latin yaitu ethica. Ethos dalam bahasa
Yunani berarti norma, nilai, kaidah, ukuran bagi tingkah laku yang baik.
Secara umum dapat dikatakan bahwa, etika merupakan dasar moral, termasuk
ilmu mengenai kebaikan dan sifat-sifat tentang hak. Atau dengan kata lain,
etika berisi tuntunan tentang perilaku, sikap dan tindakan yang diakui,
sehubungan dengan suatu jenis kegiatan manusia. Etika menjadi penting
apabila terjadi perbedaan tata nilai tentang baik-buruk, boleh-tidak boleh dan
patut-tidak patut.
Tujuan pokok mengenal etika adalah mempengaruhi dan mendorong
kehendak kita supaya mengarah kepada yang bermanfaat dan berguna bagi
manusia. Dengan etika, orang akan mampu untuk bersikap kritis dan rasional
dalam membentuk pendapatnya sendiri dan bertindak sesuai dengan apa yang
dapat dipertanggungjawabkan sendiri. Etika juga dapat membantu manusia
membedakan antara tingkah laku atau tindakan yang baik dan yang buruk.
Dalam hal inilah terletak kebebasan manusia untuk hanya mengakui norma-
norma yang diyakini sendiri sebagai kewaibannya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana penerapan etika profesi pada Bank BRI?

2. Bagaimana Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance yang diterapkan


pada Bank BRI?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui penerapan etika profesi pada Bank BRI
2. Untuk mengetahui penerapan prinsip GCG Bank BRI
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Pelayanan Dan Etika Dalam Perbankan.


Bank yang terpercaya adalah bank yang mampu memberikan jasa-jasanya
dengan pelayanan yang baik dan memuaskan agar mendapatkan kepercayaan dari
kalangan masyarakat dan nasabah, maka bank harus dapat memberikan pelayanan
(service) yang murah, cepat,adil, dan ramah serta etika yang baik.
Pelayan atau service menurut Malayu S.P Sihabuan adalah kegiatan
pemberian jasa dari suatu pihak kepada pihak lainnya. Pelayanan yang baik adalah
pelayanan yang dilakukan dengan ramah, adil, cepat dan dengan etika yang baik
sehingga memenuhi kebutuhan dan kepuasan bagi penerimanya dalam hal ini
adalah nasabah.
Sedangkan etika berasal dari bahasa Yunani “ethos” yang berarti adat
istiadat atau kebiasaan yang baik. Etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan
yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral. Etika juga dapat diartikan sebagai
kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, nilai yang mengenai
yang benar dan salah yang dianut masyarakat.
Jadi,etika perbankan terkait dengan moralitas, perbuatan moral yang
diartikan sebagai perbuatan baik dan perbuatan buruk dalam kegiatan perbankan

2.2 Indikator-Indikator Dan Pelayanan Kode Etik Bank.


a. Pimpinan dan Kepemimpinan Bank
Sebagai seorang pemimpin suatu bank, ia harus mampu memimpin lembaga
yang dipimpinnya,dapat mengarahkannya,membina dan mengatur semua
karyawan dan bawahan dengan baik. Kebijakan serta kerja karyawan yang
teratur, rapi mencerminkan seorang pimpinan yang baik dan teratur serta
mampu mengelola bank dengan baik.
b. Organisasi Bank
Setiap bank pasti mempunyai divisi atau departemen organisasi terstruktur,
yang mempunyai bidang sesuai job dengan tugas dan keahliannya yang
tercantum dalam GBHO (Garis-Garis Besar Haluan Organisasi) atau Job
Description. Hal ini bertujuan agar tidak ada tumpang tindih tugas antara
karyawan yang satu dengan karyawan yang lainnya, semua sesuai dengan Job
Description yang telah disepakati.
c. Karyawan Bank (SDM)
Karyawan bank harus mempunyai mental yang tinggi, kesabaran dan
profesionalitas dalam memberikan pelayanan kepada para nasabah dan para
calon nasabah dengan baik dan benar.
berikut ini kriteria dari profesionalisme seorang bankir:
1. Memiliki skill (keterampilan) dan knowledge (pengetahuan).
2. Mampu menerima tekanan dari pihak manapun tanpa mengurangi
kinerjanya
3. Memiliki inisiatif dan aktif dalam pencapaian tujuan serta tidak bersikap
menunggu
4. Memilik job motivation yang tinggi
5. Memiliki jiwa kepemimpinan (leadership ability)
6. Mempunyai sales ability
7. Memiliki kemampuan untuk : menyusun rencana, mengorganisasikan,
menetapkan prosedur kerja dan mengendalikan tugas pekerjaan agar
menuju kea rah pencapaian tujuan bank
d. Desentralisasi Authority
Desentralisasi Authority pada karyawan bank harus dikembangkan agar
pelayanan dapat ditingkatkan secara cepat dan lancar serta mengurangi
Birokratisme yang terlalu panjang dan rumit.
e. Peralatan Bank
Peralatan yang canggih dapat meningkatkan pelayanan bank kepada
masyarakat, misalnya dengan komputer yang On-Line dapat melayani
penarikan melalui ATM Card, Debit Card, Maupun Credit Card.
f. Kantor Cabang
Apabila kantor cabang diperbanyak, maka pelayanan kepada masyarakat
dapat ditingkatkan. Kantor cabangpun harus dapat dibangun ditempat yang
mungkin mudah dikunjungi oleh lapisan masyarakat, hal ini dilakukan agar
memudahkan pelaksanaan transfer dan inkaso dengan cepat.
g. Pengembangan Karyawan Bank
Bank harus memberikan pelatihan untuk seluruh karyawan bank agar
wawasan dan keterampilan karyawan bertambah dan pelayanan kepada
masyarakatpun dapat ditingkatkan lebih jauh lagi untuk meningkatkan citra
perusahaaan di mata masyarakat luas dan dapat meningkatkan laba.

2.3 Kode Etik Bankir Indonesia


Setiap bankir di Indonesia wajib mengelola bank secara sehat dan menghormati
norma-norma perbankan yang berlaku, menaati semua tata nilai sebagai pedoman
dasar dalam menentukan sikap dan tindakannya. Norma-norma perbankan yang
diakui, diterima dan ditaati tersebut tertuang dalam Kode Etik Bankir di Indonesia
yang isinya sebagai berikut:
1. Seorang bankir patuh dan taat pada ketentuan perundang-undangan dan
peraturan yang berlaku.
2. Melakukan pencatatan yang benar mengenai segala transaksi yang bertalian
dengan kegiatan banknya.
3. Menghindarkan diri dari persaingan yang tidak sehat.
4. Tidak menyalahgunakan wewenang untuk kepentingan pribadi.
5. Menghindarkan diri dari keterlibatan pengambilan keputusan dalam hal
terdapat pertentangan kepentingan.
6. Menjaga kerahasian nasabah dan banknya.
7. Dapat memperhitungkan dampak yang merugikandari setiap kebijakan yang
ditetapkan banknya terhadap ekonomi, social dan lingkungannya.
8. Tidak menerima hadiah atau imbalan yang memperkaya diri pribadi maupun
keluarga.
9. Tidak melakukan perbuatan tercela yang dapat merugikan citra profesinya.

2.4 Prinsip Dasar Etika Perbankan


Dalam kaitannya dengan prinsip pengelolaan bank, pihak bankir harus
mengupayakan terselenggaranya iklim usaha perbankan yang sehat yaitu dengan
menjaga:
a. Likuiditas Bank atau kelancaran operasional bank.
b. Solvabilitas Bank atau terpeliharanya kekayaan bank agar kokoh dan
mampu memenuhi seluruh kewajiban financial.
c. Rentabilitas atau tingkat keuntungan yang dapat dicapai bank .
d. Tingakt kepercayaan masyarakat terhadap bank (bonafiditas).
2.5 Prinsip Etika Perbankan
Prinsip etika perbankan itu sendiri adalah merupakan norma, kaidah dan
kebiasaan yang berlaku dan harus dipatuhi, dihormati dan dijunjung tinggi oleh
para petugas bank/bankir. Prinsip etika perbankan tersebut adalah:
1. Prinsip Kepatuhan, pada prinsip ini bankir diharuskan mematuhi semua
peraturan perbankan, undang-undang, kebijakan pemerintah, peraturan
ketenagakerjaan yang terkait dengan masyarakat, nasabah, pemerintah,
pemilik dan karyawan (Stakeholders).
2. Prinsip Kerahasiaan, para bankir dituntut untuk tetap menjaga
kerahasiaan pekerjaan terutama yang berhubungan dengan keadaan keuangan
nasbah serta kerahasiaan jabatannya.
3. Prinsip Kebenaran Pencatatan, peugas bank wajib memelihara arsip atau
dokumen dan mencatat semua transaksi dengan benar serta menjaga
kerahasiaannya.
4. Prinsip Kesehatan Bersaing, persaingan disini bias bersifat intern, antar
bagian dalam bank itu sendiri dan bersifat eksten, yaitu bpesaingan antar
bank.
5. Prinsip Kejujuran Wewenang, kepercayaan dan wewenang yang telah
diberikan oleh pihak-pihak pemerintah, nasabah, pemilik ataupun karyawan
kepada bank hendaknya tetap diamankan dan tidak dislahgunakan untuk
kepentingan diluar etika yang telah disepakati bersama atau mengorbankan
kepentingan salah satu pihak demi kepentingan pihak lain.
6. Prinsip Keselarasan Kepentingan, dalam hal ini bankir harus mampu
menyeleraskan antara kepentingan berbagai pihak, yaitu kepentingan:
nasabah dan masyarakat, pemerintah, pemilik dana serta karyawan bank.
7. Prsinsip Keterbatasan Keterangan, meskipun petugas bank dan bankir
diminta untuk bersikap informatif terhadap pihak luar, namun sifatnya
terbatas.
8. Prinsip Kehormatan Profesi, petugas bank dan bankir harus taat menjaga
kehormatan profesi dengan menghindarkan dan segala bentuk kolusi,
pemberian upeti, hadiah dan fasilitas dari pihak-pihak yang menginginkan
kemudahan-kemudahan peraturan dan prosedur perbankan.
9. Prinsip Pertanggung Jawaban Sosial, dalam pelaksanaan operasional
perbankan, bankir diharuskan tetap memiliki rasa pertanggung jawaban social
baik terhadap nasabah, pemilik, masyarakat ataupun pemerintah.
10. Prinsip Persamaan Perlakuan, pada prinsip ini bankir dituntut untuk tidak
melakukan perlakuan yang dislkriminatif baik kepada para nasabah,
masyarakat maupun kepada karyawan.
11. Prinsip Kebersihan Pribadi, disini sikap bankir adalah harus dapat
menjaga kehormatan dirinya.

2.6 Fungsi Kode Etik Bank


Fungsi kode etik perbankan antara lain :
a. Menjaga keselarasan dan konsistensi antara gaya manajemen, strategi dan
kebijakan dalam mengembangkan usaha perbankan.
b. Menciptakan iklim usaha yang sehat.
c. Mewujudkan intregitas bank terhadap lingkungan dan masyarakat luas dan
pemerintah
d. menciptakan ketenangan, keamanan dan kenyamanan para pemilik dana,
pemegang saham dan karyawan dalam mendapatkan hak-haknya.
mengangkat harkat perbankan nasional di mata internasional.
2.7 Tujuan Pelayanan Dan Etika Bank
Pelayanan dan etika bank mengharuskan para manager bank berkewajiban dan
bertanggung jawab untuk
1. Mengembalikan dana pihak ketiga beserta bunganya tepat pada waktunya
sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati.
2. Menjaga kerahasiaan keuangan nasabah bank menurut undang-undang
perbankan yang berlaku.
3. Memberikan informasi yang akurat dan objektif apabila diminta oleh
nasabah yang bersangkutan.
4. Ikut memperlancar LLP Modern dari transaksi komersial dan
finansial.
5. Ikut menjaga dan memelihara koresponden bank di antara sesama bank.
6. Menyalurkan kredit sesuai dengan undang-undang perbankan
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 PENERAPAN KODE ETIK PERBANKAN BANK BRI


PT BRI (Persero), Tbk. sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang
bergerak disektor perbankan dan telah go public, dengan berpedoman pada
ketentuan yang berlaku, telah mengimplementasikan prinsip-prinsip Good
Corporate Governance (GCG) dalam setiap aspek pengelolaan perusahaan. BRI
menyadari bahwa keberlangsungan eksistensi perusahaan tidak hanya diukur dari
performa keuangan, dan peningkatan keuntungan, melainkan juga melalui
performa internal perusahaan yaitu etika dan Good Corporate Governance.
Guna mendukung tercapainya tujuan perusahaan, BRI menetapkan
komitmen untuk menjalankan sistem perbankan yang sehat di Indonesia dengan
berlandaskan pada pengimplementasian prinsip-prinsip Good Corporate
Governance (GCG).
Melalui implementasi prinsip-prinsip GCG secara konsisten dan
berkesinambungan diharapkan dapat memaksimalkan corporate value dan
kepercayaan pasar. Hal ini dilakukan agar Bank memiliki daya saing yang kuat,
baik secara nasional maupun internasional serta mampu menjaga kelangsungan
usaha dalam jangka panjang sehingga tujuan Perseroan dapat tercapai.

Kode Etik (Code of Conduct) Bank BRI


Pedoman yang menjelaskan etika usaha dan tata perilaku insan Bank untuk
melaksanakan praktek-praktek pengelolaan perusahaan yang baik.
· Pekerja
Tenaga kerja yang mempunyai hubungan kerja dengan Bank dan terikat oleh
suatu perjanjian kerja serta menerima upah di dalam hubungan kerja dengan Bank
selain anggota Dewan Komisaris dan Direksi Bank.
· Pelanggaran
Sikap, tindakan atau perbuatan yang menyimpang dari kode etik Bank.
· Pemangku Kepentingan (Stakeholders)
Pihak yang harus diperhatikan kepentingannya termasuk antara lain Pemegang
Saham, Pemerintah atau Regulator, Nasabah, Pekerja, dan Masyarakat.
· Pemegang Saham (Stakeholders)
Pihak yang memiliki saham Bank baik dari pihak dalam negeri maupun pihak
asing.
· Rekanan, Relasi, atau Mitra Kerja
Setiap pihak ketiga yang mmjadi rekan kerja Bank.
· Unit Kerja
Kumpulan fungsi dalam Organisasi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk
yang saling bersinergi berdasarkan kriteria tertentu untuk mencapai tujuan yang
ditetapkan, yang dapat berupa Divisi, Audit Intem, Kantor Wilayah, Kantor
Inspeksi, tBiro, Desk, Grup, Bagian, Kantor Cabang Khusus, Kantor Cabang
Kantor Cabang Pembantu, Kantor Kas, BRI Unit, Teras BRl, Kantor Perwakilan
(Representative Office), Kantor Agency, maupun Sentra Pendidikan atau bentuk
lainnya yang sesuai dengan budaya Bank dalam mencapai visi dan misinya.
· Whistle blowing System
Sistem yang mengelola pengaduan penyingkapan mengenai perilaku melawan
hukum, perbuatan tidak etis/tidak semestinya secara rahasia, anonim dan mandiri
(independent) yang digunakan untuk mengoptimalkan peran serta insan BRI dan
pihak lainya dalam mengungkapkan pelanggaran yang terjadi di lingkungan

TUJUAN KODE ETIK BANK BRI


Tujuan dari diterapkannya Kode Etik ini, dalam jangka panjang adalah untuk :
1. Menciptakan lingkungan kerja yang baik dan kondusif sehingga dapat
mendorong peningkatan kinerja Bank.
2. Membina hubungan baik dengan komunitas setempat dimana Bank
menjadi bagian di dalamnya sehingga dapat menunjang kesuksesan Bank
dalam jangka panjang.
3. Menjaga reputasi Bank.
4. Memberikan pedoman etika bagi insan Bank dalam melaksanakan
tugas, kewenangan, kewajiban dan tanggung jawabnya.
5. Meningkatkan budaya sadar risiko dan budaya kepatuhan bagi semua
insan Bank.
KOMITMEN KODE ETIK
Kode Etik Bank berlaku bagi seluruh insan Bank di seluruh jenjang
organisasi Bank. Penerapan Kode Etik Bank secara terus menerus dan
berkesinambungan dalam bentuk sikap, perbuatan, komitmen dan ketentuan
mendukung terciptanya budaya perusahaan.
Seluruh insan Bank diwajibkan secara tertulis untuk menyatakan
kepatuhannya atas kode etik ini. Pernyataan Kepatuhan yang ditandatangani
merupakan salah satu syarat kelanjutan hubungan kerja dengan Bank.
LANDASAN KODE ETIK
Kode etik BRI mempertimbangkan Visi, Misi dan Core Values Bank karena Visi,
Misi dan Core Values tersebut merupakan intisari kode etik ini.
Kode Etik merupakan bagian penting dari kerangka kerja corporate
governance Bank dan memberikan dasar bagi Bank untuk merumuskan kebijakan,
sistem dan prosedur.
Upaya Penegakan Dan Sanksi Pelanggaran Kode Etik
Ketentuan dan kode etik bersifat mengikat dan harus dipahami serta dilaksanakan
secara sungguh-sungguh oleh seluruh jajaran BRI dalam rangka mendukung
pelaksanaan prinsip-prinsip GCG. Apabila terjadi pelanggaran atau
ketidakpatuhan terhadap kebijakan ketentuan dan kode etik , maka pelanggarnya
dapat dikenai sanksi sesuai dengan tingkat pelanggarannya. Keputusan yang akan
diambil oleh BRI sehubungan dengan hal ini, akan disesuaikan dengan jenis dan
keseriusan pelanggaran yang terjadi serta evaluasi menyeluruh atas individu yang
melakukan pelanggaran.

3.2. Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance yang diterapkan pada Bank


BRI
Sebagai lembaga intermediasi dan lembaga kepercayaan, dalam melaksanakan
kegiatan usahanya Bank BRI wajib senantiasa menganut prinsip-prinsip GCG
sebagai berikut:
a. Transparansi (Transparency)
Merupakan keterbukaan dalam mengemukakan informasi yang material dan
relevan serta keterbukaan dalam proses pengambilan keputusan.
Pedoman Pokok Pelaksanaan
1. Mempunyai kebijakan untuk mengungkapkan berbagai informasi penting
yang diperlukan oleh pemangku kepentingan.
2. Mengungkapkan informasi sesuai dengan ketentuan perundang‐undangan
yang berlaku, antara lain meliputi tetapi tidak terbatas pada hal‐hal yang
bertalian dengan visi, misi, nilai‐nilai serta sasaran usaha dan strategi,
kondisi keuangan, susunan dan remunerasi Komisaris dan Direksi,
pemegang saham pengendali, struktur organisasi beserta pejabat eksekutif,
manajemen risiko, rofes pengawasan dan pengendalian internal, rofes dan
pelaksanaan GCG serta tingkat kepatuhannya dan kejadian penting yang
dapat mempengaruhi kondisi Bank.
3. Mengambil inisiatif untuk mengungkapkan hal-hal yang tidak hanya
disyaratkan oleh peraturan perundang‐undangan, tetapi juga hal‐hal lain
yang diperlukan untuk pengambilan keputusan oleh pemegang saham,
nasabah serta pemangku kepentingan lainnya.
4. Tidak mengurangi kewajiban melindungi informasi rahasia mengenai
Bank dan nasabah sesuai dengan peraturan perundang‐undangan serta
informasi yang dapat mempengaruhi daya saing Bank.
5. Informasi tersebut secara tertulis dan dikomunikasikan kepada pemangku
kepentingan.
b. Akuntanbilitas (Accountability)
Merupakan kejelasan fungsi dan pelaksanaan pertanggungjawaban organ
Bank sehingga pengelolaannya berjalan secara efektif.
Pedoman Pokok Pelaksanaan
1. Menetapkan sasaran usaha jangka panjang dan target usaha jangka pendek
untuk dapat dipertanggungjawabkan kepada pemegang saham dan
pemangku kepentingan lainnya.
2. Dewan Komisaris dan Direksi menyampaikan laporan tahunan dan
pertanggungjawaban keuangan dalam Rapat Umum Pemegang Saham
(RUPS) serta menjelaskan pokok‐pokok isinya kepada pemangku
kepentingan dan masyarakat pada umumnya.
3. Menyampaikan laporan sesuai dengan ketentuan yang berlaku kepada
otoritas pengawas Bank dan kepada pemangku kepentingan lainnya sesuai
ketentuan yang berlaku.
4. Menetapkan tugas dan tanggung jawab yang jelas bagi masing‐masing
organ, anggota Dewan Komisaris dan Direksi serta seluruh jajaran
dibawahnya yang selaras dengan visi, misi, nilai‐nilai perusahaan, sasaran
usaha dan strategi Bank.
5. Memastikan bahwa masing‐masing anggota Dewan Komisaris dan
Direksi serta seluruh jajaran pimpinan Bank harus membuat
pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugasnya, secara rofessi sesuai
dengan ketentuan internal Bank.
6. Meyakini bahwa masing‐masing Dewan Komisaris dan Direksi maupun
seluruh jajaran dibawahnya mempunyai kompetensi sesuai dengan
tanggung jawabnya dan memahami perannya dalam pelaksanaan GCG.
7. Memastikan adanya struktur, rofes dan standard operating
procedure (SOP) yang dapat menjamin bekerjanya mekanisme check and
balance dalam pencapaian visi, misi, dan tujuan Bank.
8. Memiliki ukuran kinerja dan rofes remunerasi bagi masing‐masing
anggota Dewan Komisaris dan Direksi maupun seluruh jajaran
dibawahnya berdasarkan ukuran‐ukuran yang disepakati dan konsisten
dengan visi, misi, nilai‐nilai perusahaan, sasaran usaha dan strategi Bank
serta memiliki rofes penghargaan dan sanksi (reward and punishment
system).
9. Memiliki rofes pengendalian internal yang efektif dalam pengelolaan
Bank.
10. Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, masing‐masing insan
Bank harus berpegang pada etika bisnis dan pedoman perilaku yang telah
disepakati.

c. Pertanggungjawaban (Responsibility)
Merupakan kesesuaian pengelolaan Bank dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip pengelolaan Bank yang sehat.
Pedoman Pokok Pelaksanaan
1. Insan Bank berpegang pada prinsip kehati‐hatian dan menjamin
dilaksanakannya peraturan perundang‐undangan, anggaran dasar serta
peraturan internal Bank.
2. Menafsirkan secara baik ketentuan perundang‐undangan, anggaran dasar
dan peraturan internal Bank, tidak hanya dari perumusan kata‐kata yang
tercantum didalamnya, tetapi juga dari latar belakang yang mendasari
dikeluarkannya peraturan dan ketentuan tersebut.
3. Menghindari segala biaya transaksi yang berpotensi merugikan pihak
ketiga maupun pihak lain di luar ketentuan yang telah disepakati, seperti
tersirat pada undang-undang, regulasi, kontrak maupun pedoman
operasional bank.
4. Memelihara kelestarian alam melalui kebijakan perkreditan dan kebijakan
lain yang mendukung terpeliharanya sumber daya alam.
5. Bertindak sebagai warga korporasi yang baik melalui tanggung jawab
rofes dan lingkungan.
d. Independensi (Independence)
Merupakan pengelolaan Bank secara rofessional tanpa pengaruh/tekanan dari
pihak manapun.
Pedoman Pokok Pelaksanaan
1. Menghindari dominasi dari pihak manapun, tidak terpengaruh oleh
kepentingan tertentu, bebas dari benturan kepentingan dan segala
pengaruh atau tekanan sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan
secara obyektif.
2. Melaksanakan fungsi dan tugasnya sesuai dengan anggaran dasar,
peraturan internal Bank dan peraturan perundang‐undangan, tidak saling
mendominasi dan atau melempar tanggung jawab antara satu dengan yang
lain.
3. Melaksanakan fungsi dan tugasnya sesuai dengan uraian tugas serta
standar operasi yang berlaku untuk jenis pekerjaan yang bersangkutan.
e. Kewajaran dan Kesetaraan (Fairness)
Merupakan keadilan dan kesetaraan dalam memenuhi hak-hak stakeholders
yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Pedoman Pokok Pelaksanaan
1. Memberikan perlakuan yang wajar dan setara kepada pemangku
kepentingan sesuai dengan manfaat dan kontribusi yang diberikan kepada
Bank.
2. Memberikan kesempatan kepada seluruh pemangku kepentingan untuk
memberikan masukan dan menyampaikan pendapat bagi kepentingan
Bank serta membuka akses terhadap informasi sesuai prinsip keterbukaan.
3. Dalam penerimaan pegawai dan pengembangan karir pekerja serta
pelaksanaan tugas secara rofessional, Bank tidak membedakan suku,
agama, ras, golongan, jenis kelamin (gender) dan kondisi fisik.
BAB IV
PENUTUP

4.1. KESIMPULAN
Dalam materi kode etik perbankan telah dijelaskan bahwa kode etik
perbankan adalah suatu aturan atau kesepakatan yang mengatur seluruh bankir
yang ada di Indonesia agar menjalankan pekerjaannya sesuai dengan norma-
norma yang berlaku. Setelah mengetahui dan memahami kode etik perbankan
contoh yang diambil adalah dari Bank BCA dan Bank BRI. Setiap bank pasti
memiliki perbedaan kode etik atau aturan masing-masing namun jika dipahami
kembali makna dari aturan tersebut sama