Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM BIOFISIKA

“KALOR JENIS BAHAN TUMBUHAN”

Disusun Oleh :

1. Niken Dwi Fitriyanti (15312241039)


2. Rika Silviana Anggraini (15312241051)
3. Eka Sri Rahayu (15312241050)

PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2018
A. Tujuan
Mengukur kalor jenis (kalor jenis + kalor pengubah wujud) macam-macam sayuran
atau buah-buahan.
B. Dasar Teori
1. Kalor
Energi yang berpindah disebut kalor. Dengan demikian dapat kita
mendefinisikan kalor sebagai energi yang berpindah dari benda yang suhunya lebih
tinggi ke benda yang suhunya lebih rendah ketika kedua benda bersentuhan
(Kanginan, 2002). Kalor adalah suatu bentuk energi yang diterima oleh suatu benda
yang menyebabkan benda tersebut berubah suhu atau wujud bentuknya. Kalor
berbeda dengan suhu, karena suhu adalah ukuran dalam satuan derajat panas. Kalor
merupakan suatu kuantitas atau jumlah panas baik yang diserap maupun dilepaskan
oleh suatu benda. Dari sisi sejarah kalor merupakan asal kata caloric ditemukan
oleh ahli kimia perancis yang bernama Antonnie laurent lavoiser (1743 – 1794).
Kalor memiliki satuan Kalori (kal) dan Kilokalori (Kkal). 1 Kal sama dengan
jumlah panas yang dibutuhkan untuk memanaskan 1 gram air naik 1 derajat celcius
(Cromer, 1994)
Kalor didefinisikan sebagai energi panas yang dimiliki oleh suatu zat.
Secara umum untuk mendeteksi adanya kalor yang dimiliki oleh suatu benda yaitu
dengan mengukur suhu benda tersebut. Jika suhunya tinggi maka kalor yang
dikandung oleh benda sangat besar, begitu juga sebaliknya jika suhunya rendah
maka kalor yang dikandung sedikit. Dari hasil percobaan yang sering dilakukan
besar kecilnya kalor yang dibutuhkan suatu benda(zat) bergantung pada 3 faktor
yaitu massa zat, jenis zat (kalor jenis) dan perubahan suhu (Kamajaya,2007).
Menurut Halliday (1985), perbandingan banyaknya tenaga kalor (∆Q) yang
dibekalkan kepada sebuah benda untuk menaikkan temperaturnya sebanyak ∆T
dinamakan kapasitas kalor (C) dari benda tersebut yakni C = Q : T
2. Kalor Jenis
Kapasitas kalor per satuan massa sebuah benda yang dinamakan kalor jenis
(c) adalah ciri (karakteristik) dari bahan yang membentuk benda tersebut. Kalor
jenis adalah jumlah energi yang dipindahkan dari suatu benda atau tubuh ke benda
lain akibat dari suatu perbedaan suhu diantara benda atau tubuh tersebut. Kalor
dinyatakan dalam satuan energi joule (J) menurut satuan SI. Kalor umunya
dinyatakan dalam satuan kalori (kkal), yaitu satu kalori adalah jumlah kalor yang
diperlukan untuk meningkatkan suhu 1 gram air sebanyak 1 derajat celcius pada
suhu kamar (293 K) (Suwadi, 2008).
Kalor jenis secara fisis berarti jumlah energi yang dibutuhkan tiap suatu
satuan massa zat agar temperaturnya berubah. Dengan kata lain jumlah kalor Q
yang dibutuhkan satu benda dengan benda lain berbeda satu sama lain. Jika zat A
kalor jenisnya lebih rendah dari zat B, maka artinya zat A cenderung mudah
berubah temperaturnya, lebih cepat panas dan juga lebih cepat dingin (Ishaq, 2007
: 238).
Kalor jenis adalah sifat khas suatu benda atau zat yang menunjukkan
kemampuannya untuk menyerap kalor. Zat yang kalor jen isnya tinggi mampu
menyerap lebih banyak kalor untuk kenaikan suhu yang rendah. Zat-zat seperti ini
dimanfaatkan sebagai tempat untuk menyimpan energi termal (Kanginan, 2002).
3. Kalorimeter
Pertukaran energi merupakan dasar teknik yang dikenal dengan nama
kalorimetri, yang merupakan pengukuran kuantitatif dari pertukaran kalor. Untuk
melakukan pengukuran semacam itu digunakan kalorimeter. Kalorimeter diisolasi
dengan baik sehingga hanya jumlah minimum kalor yang di pertukarkan dengan
luarnya (Giancoli, 1994 : 494-495). Kalor yang dipindahkan dari atau ke sistem
diukur di dalam alat yang dinamakan kalorimeter, yang terdiri dari sebuah wadah
cuplikan kecil yang dibenamkan dalam sebuah bejana air yang besar. Bejana luar
itu disekat dengan baik sekali di sebelah luar untuk menghalangi lubang kamar
mencapai air, sedangkan wadah di dalam dibuat dari tembaga atau suatu bahan
penghantar kalor yang lain untuk mengizinkan kalor acara mudah dipertukarkan
antara wadah itu dan air (Cromer, 1994).
Pengukuran jumlah kalor reaksi yang diserap atau dilepaskan pada suatu
reaksi kimia dengan eksperimen disebut kalorimetri. Dengan menggunakan
hukum Hess, kalor reaksi suatu reaksi kimia dapat ditentukan berdasarkan data
perubahan entalpi pembentukan standar, energi ikatan dan secara eksperimen.
Proses dalam kalorimeter berlangsung secara adiabatik, yaitu tidak ada energi yang
lepas atau masuk dari luar ke dalam kalorimeter (Petrucci,1987).
System kalorimeter bekerja berdasarkan azas black, yaitu “apabila pada
kondisi adiabatik dicampurkan dua zat yang temperaturnya mula-mula berbeda,
maka pada saat kesetimbangan banyak kaor yang dilepas oleh zat yang
temperaturnya mula-mula tinggi sama dengan banyak nya kalor yang diserap oleh
zat yang temperaturnya rendah.”
Qlepas = Qterima
m.c.T = m.c.T

Menurut Bresnick (2000), prinsip kerja calorimeter didasarkan azas Black :


 Jika suatu benda yang suhunya berbeda didekatkan satu sama lain maka
suhu akhir kedua benda akan sama.
 Jumlah kalor yang diterima sama dengan kalor yang diberikan. Kalorimeter
tersusun dari wadah yang terbuat dari logam kalor seperti sterofom.
Prinsip kerja Kalorimeter menurut Tipler (1998), Panas jenis air jauh lebih besar
dari pada panas jenis zat lain. Sebagai contoh, panas jenis air sepuluh kali lebih
besar dari pada panas jenis aluminium. Karena kapasitas panasnya yang sangat
besar, air adalah bahan yang baik sekali untuk menyimpan energi termis, seperti
misalnya dalam sistem pemanasan solar/matahari. Air juga merupakan pendingin
yang baik. Air dalam jumlah banyak, seperti danau atau lautan, cenderung
membuat variasi temperatur tidak berlebihan didekatnya karena air dapat menyerap
atau melepas energi termis dalam jumlah yang besar sementara mengalami
perubahan tenperatur sangat kecil. Karena panas jenis air praktis konstan meliputi
jangkauan temperatur yang lebar, panas jenis sebuah benda dengan mudah dapat
diukur dengan memanaskan benda sampai suatu temperatur tertentu yang mudah
diukur, dengan menempatkanya dalam bejana air yang massa dan temperaturnya
diketahui, dan dengan mengukur temperatur kesetimbangan akhir. Jika seluruh
sistem terisolasi dari sekitarnya maka panas yang keluar dari benda sama dengan
panas yang masuk ke ai dan wadahnya. Prosedur ini dinamakan kalorimetri, dan
wadah air yang terisolasi dinamakan kalorimeter
Kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur kalor. Kalorimeter
umumnya digunakan untuk menentukan kalor jenis suatu zat. Kalorimeter
menggunakan teknik pencampuran dua zat di dalam suatu wadah (Kanginan,
2002).
Kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu kalorimeter sebesar 10C pada air
dengan massa 1 gram disebut tetapan kalorimetri. Dalam roses ini berlaku asas
Black, yaitu:
Qlepas = Qterima
Qair panas = Qair dingin + Qkalorimeter
m1 C (Tp - Tc) = m2 c (Tc - Td) + (Tc - Td)
Keterangan:
m1 = massa air panas
m2 = massa air dingin
c = kalor jenis air
C = kapasitas kalorimeter
Tp = suhu air panas
Tc = suhu air campuran
Td = suhu air dingin
(Petrucci, 1987).
Karena kalor jenis bernilai konstan pada suhu yang lebar, kalor jenis benda
lain dapat ditentukan dengan memanfaatkan fakta tersebut. Hal ini dapat dilakukan
dengan cara memanaskan benda tersebut sampai dengan suhu tertentu kemudian
benda itu dicelupkan ke dalam wadah yang suhu dan massanya diketahui. Setelah
mencapai kesetimbangan termal, suhu akhir sistem diukur. Jika seluruh sistem
terisolasi dengan lingkungannya, panas yang dilepaskan benda sama dengan panas
yang diterima air dan wadahnya. Prosedur ini dinamakan kalorimetri dan wadah
yang terisolasi tersebut dinamakan kalorimeter. Kalorimeter bekerja berdasarkan
asas-asas Black (Kamajaya, 2007).
4. Termometer
Alat untuk mengukur suhu adalah termometer. Telah kita ketahui bahwa
termometer memanfaatkan sifat termometrik zat untuk mengukur suhu. Sifat
termometrik zat adalah sifat fisis zat yang berubah jika dipanaskan, misalnya
volume zat cair, panjang logam, hambatan listrik seutas kawat platina, tekanan gas
pada volume tetap, dan warna pijar kawat (filamen) lampu (Kanginan, 2002).
Suhu merupakan istilah yang dipakai untuk menyatakan panas dingin dari
suatu benda. Misalnya benda panas dikatakan memiliki suhu tinggi dan benda
dingin dikatakan memiliki suhu rendah. Alat yang digunakan untuk mengukur suhu
disebut termometer (Suwadi, 2008).
C. Metode
1. Waktu dan Tempat
a. Hari, tanggal : Rabu, 28 Februari 2018
b. Waktu : 07.30-09.10 WIB
c. Tempat : Laboratorium IPA 2, FMIPA UNY

2. Alat dan Bahan


a. Kalorimeter e. Air
b. Gelas beaker f. Tomat, wortel dan pepaya
c. Pemanas/heater g. Neraca lengan
d. Termometer h. Blender

3. Prosedur Kerja

Menyiapkan alat dan bahan

Memanaskan air secukupnya menggunakan pemanas

Menghaluskan sayur dan buah berupa tomat, wortel dan pepaya menggunakan
blender

Menimbang kalorimeter kosong (Mk)

Memasukan tomat yang sudah dihaluskan ke dalam kalorimeter

Menimbang massa (Ms) dan mengukur suhu (Ts)

Menuangkan air panas ke dalam kalorimeter yang berisi tomat

Mengaduk campuran air panas dan tomat yang sudah dihaluskan

Menimbang massa (Mc) dan mengukur suhu (Tc)

Mengulangi percobaan untuk bahan yang lain yaitu wortel dan pepaya
D. Hasil dan Analisis Data
1. Data Hasil
Ms (10-3 Ts Mc (10-3 Tc Ta Ms - Mk Ta – Tc Tc – Ts
Bahan
kg) (°C) kg) (°C) (°C) (10-3 kg) (°C) (°C)
Tomat 158,4 29 214,5 48 59 39 11 19
Wortel 153,3 29 200,8 35 41 33,9 6 6
Pepaya 164,7 30 208,7 35 44 45,3 9 5

Mk : 119,4 x 10-3 kg
Ma : 50 x 10-3 kg
Ca : 4200 J/kg°C
Keterangan :
 Mk : massa kalorimeter kosong (kg)
 Ms : massa sayuran + massa kalorimeter kosong (kg)
 Ts : suhu sayur awal (°C)
 Mc : massa sayur + massa kalorimeter kosong + massa air panas (kg)
 Ts : suhu sayur akhir (°C)
 Ta : suhu air panas (°C)

2. Analisis Data
a. Persamaan
Q lepas = Q terima
Q air = Q sayur
M air . C air . (Ta-Tc) = M sayur . Y . (Tc-Ts)
M air .Ca.(Ta−Tc)
Y =
Massa sayur (Tc−Ts)

b. Perhitungan
1) Kalor jenis tomat
M air .Ca.(Ta−Tc)
Y =
Massa tomat (Tc−Ts)
50 . 4200 11
Y =
39 . 19
2.310.000
Y =
741

Y = 3.117,41 J/kg°C
2) Kalor jenis wortel
M air .Ca.(Ta−Tc)
Y =
Massa wortel (Tc−Ts)
50 . 4200 . 6
Y =
33,9 . 6
1.260.000
Y =
203,4

Y = 6.194,69 J/kg°C
3) Kalor jenis pepaya
M air .Ca.(Ta−Tc)
Y =
Massa pepaya (Tc−Ts)
50 . 4200 . 9
Y =
45,3 . 5
1.890.000
Y =
226,5

Y = 8.344,37 J/kg°C

E. Pembahasan

Praktikum berjudul “Kalor Jenis Bahan Tumbuhan” bertujuan untuk mengukur


kalor jenis (kalor jenis + kalor pengubah wujud) macam-macam sayuran/buah-buahan.
Praktikum ini dilaksanakan pada Rabu, 28 Februari 2018 pukul 11.10-12.50 bertempat
di Laboratorium IPA-2 FMIPA UNY. Adapun alat dan bahan yang digunakan oleh
praktikan terdiri dari kalorimeter, beker glass, pemanas/heater, termometer, air,
sayur/buah-buahan yang terdiri dari wortel, pepaya, dan tomat, blender, neraca lengan,
lumpang dan alu, serta plastisin.
Langkah-langkah yang ditempuh praktikan adalah sebagai berikut. Mula-mula
praktikan memanaskan air dalam beker glass dengan menggunakan heater, kemudian
praktikan menghaluskan sayur/buah yang akan diukur kalor jenisnya. Dalam
praktikum ini, pepaya dihaluskan dengan dicacah, sedangkan wortel dihaluskan
dengan diblender, untuk tomat dihaluskan dengan ditumbuk menggunakan lumpang
alu. Langkah selanjutnya adalah menimbang kalorimeter kosong dan mencatatnya
sebagai mk, kemudian memasukkan sayuran halus ke dalam kalorimeter dan
mengukur suhunya lalu mencatatnya sebagai ts. Setelah itu praktikan kembali
menimbang kalorimeter yang telah berisi sayur/buah dan mencatat hasilnya sebagai
ms. Setelah air yang dipanaskan cukup panas, praktikan kemudian mengukur suhunya
dan mencatatnya sebagai ta lalu menuangkan air panas tersebut ke dalam kalorimeter
berisi buah/sayuran lalu menutup kalorimeter dengan plastisin agar suhu lingkungan
tidak mempengaruhi suhu campuran. Praktikan mengaduk isi dari kalorimeter dan
mencatat suhunya sebagai tc, serta menimbangnya kembali sebagai mc. Langkah
tersebut diulang untuk buah/sayuran yang lain.
Menurut Tipler (1991), kalor adalah energi yang ditransfer dari benda bersuhu
tinggi ke benda bersuhu rendah, merupakan ebergi yang ditransfer dari benda yang
panas ke benda yang dingin, maka dari itu, kalor merupakan energi yang ditransfer
dari suatu benda ke benda yang lain karena perbedaan suhu. Apabila energi panas
ditambahnkan pada suatu zat, maka temperatur zat itu biasanya naik. Jumlah energi
panas yang disimbolkan dengan Q yang dibutuhkan untuk menaikkan temperatur suatu
zat adalah sebanding dengan perubahan temperatur (t) dan massa zat itu (m).
Rumusan kalor yang digunakan untuk menaikkan atau menurunkan suhu adalah:
Q = m C t
C adalah kapasitas panas zat yang didefinisikan sebagai energi panas yang
digunakan untuk menaikkan temperatur suatu zat sebesar satu derajat. Panas jenis C
adalah kapasitas panas peratuan massa.
Buah/sayur memiliki karakteristik yang berbeda dari benda padat kebanyakan
lainnya, karena pada benda padat seperti logam atau batu apabila dipanaskan tidak
terjadi perubahan wujud. Namun, tumbuhan jika dicampur dengan air panas selain
diperlukan untuk menaikkan suhu juga diperlukan untuk mengubah bentuk dari
tumbuhan segar menjadi tumbuhan yang layu. Buah/sayur dan tumbuhan lainnya,
untuk memnaikkan suhu diperlukan kalor sebesar
Q = m y t
Dimana y adalah kalor jenis + kalor pengubah bentuk dengan satuan
kal/gC(Tim Penyusun Praktikum Biofisika, 2018: 4).
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukah praktikan, maka dapat diketahui
bahwa terdapat transfer energi karena adanya perbedaan temperatur, dalam hal ini
antara temperatur air panas dan juga sayur/buah terdapat perbedaan dimana temperatur
sayur/buah lebih rendah daripada temperatur air panas sehingga terdapat energi yang
mengalir dari air panas ke buah/sayur dalam bentuk kalor.
Menurut azas Black, jumlah kalor yang diterima sama dengan jumlah kalor
yang dilepaskan, dirumuskan sebagai:
Q terima = Q lepas
M buah/sayur Cbuah/sayur t = m air C air t

Dari perumusan di atas, maka diketahui bahwa terdapat kalor yang digunakan
untuk mentransfer energi karena adanya perbedaan suhu, serta terdapat zat yang
melepaskan kalor dan ada pula yang menerima kalor. Dalam percobaan, zat yang
melepas kalor adalah air panas, hal ini dikarenakan, air panas memiliki suhu yang lebih
tinggi, sedangkan zat yang menerima kalor adalah sayur/buah karena dari hasil
praktikum yang dilakukan, temperatur sayur/buah memang rendah. Besarnya kalor
suatu benda dipengaruhi oleh tiga hal, yakni massa, kalor jenis, dan juga perubahan
suhu. Untuk inilah praktikan melakukan pengukuran massa dan suhu pada setiap
langkah percobaan.
Berdasarkan tujuan percobaan praktikum yang akan dicapai yaitu untuk
mengukur kalor jenis, maka dari persamaan azas Black tersebut dibutuhkan massa
sayur/buah yang dapat diperoleh dari pengukuran kenaikan massa yakni adalah
kenaikan massa dari sebelum sayur/kalor dimasukkan dalam kalorimeter hingga
setelah sayur/buah dicampurkan. Begitu pula dengan suhu.

Secara singkat adalah sebagai berikut. Kalor yang dilepas air panas memenuhi
rumus persamaan, massa air dikali dengan kalor jenis air, dikali dengan perubahan
suhu air, dalam hal ini perubahan suhu air dapat diperoleh dengan mengurangi suhu
air dengan suhu campuran (suhu akhir ketika air dan sayur telah dicampurkan).
Besarnya kalor yang dilepas oleh air tersebut kemudian diterima oleh sayur/buah
dengan nilai sang sama dengan kalor yang dilepas air panas. Karenanya berdasarkan
persamaan tersebu, kalor jenis setiap sayur/buah dapat diketahui.
Kalor jenis sayur/buah dari rumus yang didapatkan merupakan hasil
pembagian antara kalor yang dilepas oleh air panas dengan hasil kali antara massa
sayur dengan perubahan suhu sayur/buah. Perubahan suhu sayur/buah dapat diperoleh
dengan mengurangkan suhu campuran antara air panas dengan sayur/buah
dikurangkan dengan suhu sayur awal / mula-mula. Massa sayur/buah didapatkan dari
pengurangan massa sayuran + massa kalorimeter kosong dengan massa kalorimeter
ketika kosong.
Praktikan selanjutnya melakukan analisis data dan perhitungan kalor jenis
bahan sayur / buah dan didapatkan hasil bahwa tomat mempunyai kalor jenis + kalor
pengubah wujud sebesar 3.117,40 J/kg°C. Wortel mempunyai kalor jenis + kalor
pengubah wujud sebesar 6.194,69 J/kg°C sedangkan pepaya mempunyai kalor jenis +
kalor pengubah wujud sebesar 8.344,37 J/kg°C.
Massa kalorimeter kosong adalah sebesar 119,4 x 10-3 kg dengan massa air
yang digunakan adalah sama pada ketiga sayur/buah yaitu 50 x 10-3 kg sedangkan
kalor jenis air diketahui sebesar 4200 J/kg°C
1. Tomat
Hasil yang diperoleh dari perhitungan kalor jenis + kalor pengubah wujud tomat
adalah sebesar 3.117,40 J/kg°C. Nilai tersebut didapatkan mula-mula, massa
kalorimeter kosong dan tomat diketahui sebesar 158,4 x 10-3 kg, untuk mencari
massa tomat saja maka massa tomat dan kalorimeter kosong dikurangkan dengan
massa kalorimeter kosong sebesar 119,4 x 10-3 kg sehingga diperoleh massa tomat
39 x 10-3 kg. Suhu tomat awal sebesar 29 °C suhu campuran 48 °C dan suhu air
panas terukur 59 °C. Maka untuk perubahan suhu air sebesar 11 °C. Perubahan
suhu tomat adalah 19 °C. Massa campuran 214,5. Nilai kalor jenis + kalor
pengubah wujud tomat diperoleh dari massa air 50 x 10-3 kg dikali kalor jenis air
4200 J/kg°C dikali perubahan suhu air 11 °C kemudian hasilnya dibagi dengan
hasil perkalian dari massa tomat 39 10-3 kg dengan perubahan suhu tomat 19 °C,
sehingga didapatkan hasil sebesar 3.117,40 J/kg°C.

2. Wortel
Hasil yang diperoleh dari perhitungan kalor jenis + kalor pengubah wujud wortel
adalah sebesar 6.194,69 J/kg°C. Nilai tersebut didapatkan mula-mula, massa
kalorimeter kosong dan tomat diketahui sebesar 153,3 x 10-3 kg, untuk mencari
massa tomat saja maka massa wortel dan kalorimeter kosong dikurangkan dengan
massa kalorimeter kosong sebesar 119,4 x 10-3 kg sehingga diperoleh massa
wortel
33,9 x 10-3 kg. Suhu wortel awal sebesar 29 °C suhu campuran 35 °C dan suhu air
panas terukur 41 °C. Maka untuk perubahan suhu air sebesar 6 °C. Perubahan
suhu wortel adalah 6 °C. Massa campuran 200,8. Nilai kalor jenis + kalor
pengubah wujud wortel diperoleh dari massa air 50 x 10-3 kg dikali kalor jenis air
4200 J/kg°C dikali perubahan suhu air 6 °C kemudian hasilnya dibagi dengan
hasil perkalian dari massa wortel 33,9 x 10-3 kg dengan perubahan suhu wortel 6
°C, sehingga didapatkan hasil sebesar 6.194,69 J/kg°C.
3. Pepaya
Hasil yang diperoleh dari perhitungan kalor jenis + kalor pengubah wujud pepaya
adalah sebesar 8.344,37 J/kg°C. Nilai tersebut didapatkan mula-mula, massa
kalorimeter kosong dan tomat diketahui sebesar 164,7 x 10-3 kg, untuk mencari
massa pepaya saja maka massa pepaya dan kalorimeter kosong dikurangkan
dengan massa kalorimeter kosong sebesar 119,4 x 10-3 kg sehingga diperoleh
massa pepaya
45,3 x 10-3 kg. Suhu pepaya awal sebesar 30 °C suhu campuran 35 °C dan suhu
air panas terukur 44 °C. Maka untuk perubahan suhu air sebesar 9 °C. Perubahan
suhu pepaya adalah 5 °C. Massa campuran 208,7. Nilai kalor jenis + kalor
pengubah wujud tomat diperoleh dari massa air 50 x 10-3 kg dikali kalor jenis air
4200 J/kg°C dikali perubahan suhu air 9 °C kemudian hasilnya dibagi dengan
hasil perkalian dari massa pepaya 45,3 x 10-3 kg dengan perubahan suhu pepaya 5
°C, sehingga didapatkan hasil sebesar 8.344,37 J/kg°C.

F. Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa tomat
mempunyai kalor jenis + kalor pengubah wujud sebesar 3.117,41 J/kg°C. Wortel
mempunyai kalor jenis + kalor pengubah wujud sebesar 6.194,69J/kg°C sedangkan
pepaya mempunyai kalor jenis + kalor pengubah wujud sebesar 8.344,37 J/kg°C.

G. Tugas
1. Hitung besar (kalor jenis + kalor pengubah wujud) dari tomat, wortel dan pepaya.
a. Kalor jenis tomat
M air .Ca.(Ta−Tc)
Y =
Massa tomat (Tc−Ts)
50 . 4200 11
Y =
39 . 19
2.310.000
Y =
741

Y = 3.117,41 J/kg°C

b. Kalor jenis wortel


M air .Ca.(Ta−Tc)
Y =
Massa wortel (Tc−Ts)
50 . 4200 . 6
Y =
33,9 . 6
1.260.000
Y =
203,4

Y = 6.194,69 J/kg°C
c. Kalor jenis pepaya
M air .Ca.(Ta−Tc)
Y =
Massa pepaya (Tc−Ts)
50 . 4200 . 9
Y =
45,3 . 5
1.890.000
Y =
226,5

Y = 8.344,37 J/kg°C

2. Buatlah kesimpulan dari hasil percobaan


Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa tomat
mempunyai kalor jenis + kalor pengubah wujud sebesar 3.117,41 J/kg°C. Wortel
mempunyai kalor jenis + kalor pengubah wujud sebesar 6.194,69J/kg°C
sedangkan pepaya mempunyai kalor jenis + kalor pengubah wujud sebesar
8.344,37 J/kg°C.

Daftar Pustaka

Bresnick, Stephen. 2000. Kimia Umum. Jakarta: Hipokrates.


Cromer, Alan H. 1994. Fisika Untuk Ilmu-ilmu Hayati. Yogyakarta: UGM Press
Giancoli.C, Douglas. 1994. Fisika Jilid 1 edisi empat. Erlangga: Jakarta
Halliday, David dan Robert Resnick. 1985. Fisika edisi ketiga Jilid 1. Jakarta:Erlangga
Ishaq, Mohammad. 2007. Fisika Dasar Edisi 2. Yogyakarta : Graha Ilmu
Kamajaya. 2007. Cerdas Belajar Fisika. Bandung: Grafindo
Kanginan, Marthen. 2002. Fisika. Jakarta: Erlangga
Petrucci, Ralph A. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern. Jakarta: Erlangga
Suwadi. 2008. Fisika. Surabaya: Cipta Sikan Kentjana
Tim penyusun. 2018. Petunjuk Praktikum Biofisika. Yogyakarta : FMIPA UNY
Tipler, Paul A. 1998. Fisika Edisi Ketiga Jilid 1. Jakarta:Erlangga
Tipler, Paul A. 1991. Fisika untuk Sains dan Teknik Edisi Ketiga Jilid 1. Jakarta:Erlangga