Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PELAKSANAAN MAGANG

DI DINAS KESEHATAN KOTA BANJARBARU


KALIMANTAN SELATAN
TANGGAL 19 FERBUARI – 16 MARET 2018

PEDOMAN SURVEI AKREDITASI FKTP


SESUAI DENGAN STANDAR DAN
PROSEDUR MUTU PENERAPAN
PUSKESMAS DI KOTA BANJARBARU

Oleh :

YUDI
NPM. 14.07.0035

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS ISLAM KALIMANTAN
MUHAMMAD ARSYAD AL BANJARI
BANJARMASIN
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dalam rangka peningkatan layanan kepada masyarakat oleh fasilitas


kesehatan tingkat pertama (FKTP) telah dilakukan berbagai upaya peningkatan
mutu dan kinerja antara lain dengan pembakuan dan pengembangan sistem
manajemen mutu dan upaya perbaikan kinerja yang berkesinambungan baik dalam
pelayanan klinis, manajemen, dan penyelenggaraan upaya-upaya kesehatan.

Akreditasi merupakan salah satu mekanisme regulasi yang bertujuan untuk


mendorong upaya peningkatan mutu dan kinerja pelayanan Fasilitas Kesehatan
Tingkat Pertama (FKTP). Pada sistem akreditasi FKTP, terdapat peran Dinas
Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota sebagai pendamping FKTP, peran Lembaga
independen penyelenggara akreditasi FKTP sebagai penyelenggara akreditasi dan
peran Pusat sebagai regulator. Penyelenggaraan akreditasi FKTP yang dilakukan
oleh lembaga independen tersebut meliputi tahapan survei dan tahapan penetapan
akreditasi. Di masa transisi, pelaksanaan akreditasi FKTP dilakukan oleh Komisi
Akreditasi FKTP yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan melalui Keputusan
Menteri Kesehatan No. HK. 02. 02/ Menkes/ 59/ 2105. Komisi ini selain bertugas
melaksanakan akreditasi FKTP.

Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dalam akreditasi ini adalah


Puskesmas, Klinik Pratama dan Tempat Praktik Mandiri Dokter/Dokter Gigi.
Unsur yang dinilai dalam pelaksanaan akreditasi Puskesmas meliputi :
1) administrasi dan manajemen,
2) penyelenggaraan upaya kesehatan masyarakat, dan
3) upaya kesehatan perorangan

sedangkan untuk pelaksanaan akreditasi klinik pratama dan tempat praktik


dokter/dokter gigi dilakukan penilaian terhadap kepemimpinan dan manajemen
klinik, dan upaya kesehatan perorangan.

Survei akreditasi dilakukan oleh surveior akreditasi yang kompeten untuk


melakukan survei akreditasi secara objektif yang didasarkan pada standar, kriteria,
dan elemen penilaian yang ada pada standar akreditasi yang diterbitkan oleh
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Agar surveior akreditasi dapat melakukan penilaian secara objektif dan
benar, maka perlu disusun pedoman survei akreditasi yang menjadi acuan bagi
surveior dalam melaksanakan survei akreditasi FKTP.

B. DASAR HUKUM

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang


Perlindungan Konsumen, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999
Nomor 42;
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2009 tetang Pelayanan
Publik, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112;
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144;
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116;
5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah
6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga
Kesehatan
7. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2014 tentang
Keperawatan;
8. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 tentang
Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2012 Nomor 24;
9. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem
Kesehatan Nasional, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012
Nomor 193;
10. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015 tentang RPJMN
Tahun 2015 – 2019;
11. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2052 Tahun 2011 tentang Izin Praktik
dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran;
12. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2013 tentang Pelayanan
Kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional;
13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2014 tentang Klinik;
14. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 Tahun 2014 tentang Puskesmas;
15. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2015 tentang Renstra
Kementerian Kesehatan Tahun 2015 – 2019
C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Tersedianya panduan bagi tenaga surveior akreditasi dalam melakukan survei
akreditasi sesuai dengan standar nasional akreditasi FKTP.

2. Tujuan Khusus
Menyediakan panduan bagi surveior akreditasi agar dapat :
A. Melakukan survei akreditasi bidang administrasi dan manajemen
B. Melakukan survei akreditasi bidang upaya kesehatan Puskesmas (untuk
Puskesmas)
C. Melakukan survei akreditasi bidang upaya kesehatan perorangan

D. SASARAN
Pedoman ini disusun sebagai acuan bagi surveior akreditasi Fasilitas Kesehatan
Tingkat Pertama yang ditetapkan oleh lembaga independen penyelenggara
akreditasi FKTP.

E. MANFAAT AKREDITASI
Akreditasi akan memberikan manfaat sebagai berikut :
1. BAGI DINKES PROV & KAB/KOTA
Sebagai WAHANA PEMBINAAN peningkatan mutu kinerja melalui
perbaikan yang berkesinambungan terhadap sistem manajemen mutu, sistem
manajemen penyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat dan pelayanan
klinis, serta penerapan manajemen risiko.
2. BAGI BPJS KESEHATAN
sebagai salah satu syarat untuk melakukan recredensialing FKTP
3. BAGI FKTP
a. Memberikan keunggulan kompetitif
b. Menjamin pelayanan kesehatan primer yang berkualitas
c. Meningkatkan pendidikan pada staf
d. Meningkatkan pengelolaan risiko
e. Membangun dan meningkatkan kerja tim antar staf
f. Menghindari variasi dalam pelayanan, ketertiban pendokumentasian, dan
konsistensi dalam bekerja.
g. Meningkatkan keamanan dalam bekerja.

4. BAGI MASYARAKAT
a. Memperkuat kepercayaan masyarakat
b. Adanya Jaminan Kualitas
BAB II
GAMBARAN UMUM

A. Analisis Situasi Umum


1. Geografi
Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru terletak di Kota Banjarbaru
Provinsi Kalimantan Selatan. Kota Banjarbaru memiliki batas wilayah
dengan daerah lain sebagai berikut :
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Martapura, Kabupaten
Banjar
b. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Karang Intan,
Kabupaten Banjar
c. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Gambut dan Aluh-aluh,
Kabupaten Banjar
d. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamtan Bati-bati, Kabupaten
Tanah Laut
Secara administratif saat ini Kota Banjarbaru terdiri dari 5 (lima)
kecamatan, 20 (dua puluh) kelurahan yang masing-masing terdiri dari :
a. Kecamatan Banjarbaru Utara
1) Kelurahan Loktabat Utara
2) Kelurahan Mentaos
3) Kelurahan Komet
4) Kelurahan Sungai Ulin
b. Kecamatan Banjarbaru Selatan
1) Kelurahan Loktabat Selatan
2) Kelurahan Kemuning
3) Kelurahan Guntung Paikat
4) Kelurahan Sungai Besar
c. Kecamatan Lanadasan Ulin
1) Kelurahan Guntung Paying
2) Kelurahan Guntung Manggis
3) Kelurahan Landasan Ulin Timur
4) Kelurahan Syamsudin Noor
d. Kecamatan Liang Anggang
1) Kelurahan Landasan Ulin Tengah
2) Kelurahan Landasan Ulin Utara
3) Kelurahan Landasan Ulin Barat
4) Kelurahan Landasan Ulin Selatan
e. Kecamatan Cempaka
1) Kelurahan Palam
2) Kelurahan Bangkal
3) Kelurahan Sungai Tiung
4) Kelurahan Cempaka
Wilayah Kota Banjarbaru berada pada ketinggian 0 – 5000 meter
dari permukaan laut dengan ketinggian 0 – 7 meter (33,49%), 7 - 25
meter (48,46%), 25 – 100 meter (15,15%), 100 – 250 meter (0,35%).
Adapun kondisi fisik tanah yang dapat dipergunakan untuk
menggambarkan kondisi efektif pertumbuhan tanaman adalah kelerengan,
kedalaman efektif tanah, drainase, keadaan erosi tanah dapat dijelaskan
sebagai berikut :
a. Klasifikasi kelerangan kota Banjarbaru adalah kelerengan 0 – 2%
mencakup 59,35% luas wilayah, kelerengan 2 – 8% mencakup
25,78% luas wilayah, keterangan 8 – 15% mencakup 12,08% wilayah.
b. Klasifikasi kedalaman efektif tanah terbagi dalam 4 kelas, yaitu
kedalaman < 30 cm, 30 – 60 cm, 60 – 90 cm dan > 90 cm kota
Banjarbaru secara umum mempunyai kedalaman efektif > 90 cm
dengan jenis-jenis tanaman tahunan akan dapat tumbuh dan
berkembang dengan baik.
c. Drainase di Kota Banjarbaru tergolong baik, secara umum tidak terjadi
penggenangan. Namun, ada daerah yang tergenang periodik yaitu
tergenang kurang dari 6 bulan terdapat di Kecamatan Landasan Ulin
yang merupakan peralihan daerah rawa (persawahan) di Kecamatan
Gambut dan Aluh-aluh.
Berdasarkan peta skala 1 : 50.000 yang diterbitkan oleh Lembaga
penelitian tanah Bogor tahun 1974 di wilayah Kota Banjarbaru terdapat 3
kelompok tanah yaitu podsolik (63,822%), lanthosol (6,36%) dan
organosol (29,82%).

2. Demografi
a. Pertumbuhan Pendudukan
Jumlah penduduk Kota Banjarbaru selalu mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010 jumlah penduduk
Kota Banjarbaru adalah sebesar 195.022 jiwa dan hingga tahun 2015
menjadi 234.371 jiwa. Laju pertumbuhan penduduk Kota Banjarbaru
sepanjang tahun 2010-2015 cukup tingi, hingga perhitungan laju
pertumbuhan penduduka sejak tahun 2011 Kota Banjarbaru mencapai
6%. Kota Banjarbaru. Dilihat dari kecamatan maka penduduk yang
paling banyak berada di Kecamatan Landasan Ulin yaitu sebanyak
62.771 jiwa atau 26,78% sedangkan yang paling sedikit adalah di
kecamatan liang anggang, yaitu sebanyak 36.848 jiwa atau 15,71%.
b. Komposisi Penduduk Menurut Usia dan Jenis Kelamin
Berdasarkan usia penduduk pada tahun 2015, penduduk Kota
Banjarbaru berusia produktif (15-64 tahun) mendominasi dengan
jumlah 161.019 jiwa, sedangkan penduduk usia tidak produktif >15
hanya berjumlah 61.806 jiwa dan usia >65 berjumlah 13.546 jiwa.
Sedangkan, dilihat dari jenis kelamin tahun 2015, penduduk kota
Banjarbaru memiliki penduduk dengan jenis kelamin laki-laki
121.510 jiwa lebih banyak dari yang berjenis kelamin perempuan
112.861 jiwa.
c. Angka Ketergantungan
Angka ketergantungan di Kota Banjarbaru adalah sebesar
44,54% yang berarti setiap 100 penduduk usia produktif menanggung
sebanyak 44% penduduk usia tidak produktif.
d. Sarana dan Prasarana Kesehatan
Jumlah sarana dan prasarana tahun 2015 di Kota Banjarbaru
disajikan pada tabel berikut :

Tabel 2.1
Jumlah Sarana Kesehatan di Kota Banjarbaru Tahun 2015
NO SARANA KESEHATAN JUMLAH
Rumah Sakit Umum (pemerintah dan swasta) 4

Rumah Sakit Khusus 1

Puskesmas 9
Puskesmas Pembantu 12

Puskesmas Keliling 9

Posyandu 143

Polindes 5
Poskeskel 14

Rumah Bersalin 1

Balai Pengobatan / Klinik 5

Apotik 42
Toko Obat 45
Gedung Farmasi 1

Industri Kecil Obat Tradisional 3


Praktek Dokter Perorangan 101
Praktek Pengobatan Tradisional 34
Jumlah 429
Sumber: Seksi Yankes Dinkes Kota Banjarbaru, 2017
3. Visi, Misi dan Fungsi Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru
1) Visi
Visi dari Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru adalah “Masyarakat Sehat
Yang Mandiri dan Berkeadilan”.
2) Misi
a) Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan
masyarakat termasuk swasta dan masyarakat madani
b) Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata terjangkau,
bermutu dan berkeadilan serta berbasis bukti dengan pengutamaan
pada upaya promotif dan preventif
c) Meningkatkan pembiayaan pembangunan kesehatan terutama untuk
mewujudkan jaminan sosial kesehatan nasional
d) Meningkatkan pengembangan dan pendayagunaan SDM kesehatan
yang merata dan bermutu
e) Meningkatkan ketersediaan pemeretaan dan keterjangkauan obat
dan alat kesehatan serta menjamin keamanan, khasiat, kemanfaatan
dan mutu sediaan farmasi, alat kesehatan dan makanan.
f) Meningkatkan manajemen kesehatan yang akuntabel, transparan,
berdaya guna dan berhasil guna untuk memantapkan desentralisasi
kesehatan yang bertanggung jawab.
3) Fungsi Dinas kesehatan Kota Banjarbaru
a) Perumusan kebijakan teknis dalam bidang kesehatan sesuai dengan
kebijakan umum yang ditetapkan oleh Walikota.
b) Penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di
bidang kesehatan.
c) Perumusan dan penetepan kebijakan operasional pembinaan,
pengaturan, pelaksanaan dan pelayanan kesehatan.
d) Perumusan dan penetapan kebijakan operasional, pembinaan,
pengaturan, pelaksanaan dan pengendalian masalah kesehatan.
e) Perumusan dan penetapan kebijakan operasional, pembinaan,
pengaturan, pelaksanaan dan pengembangan sumber daya manusia
kesehatan.
f) Perumusan dan penetapan kebijakan operasional, pembinaan
pengaturan, pelaksanaan dan pengendalian jaminan dan sarana
kesehatan.
g) Pembinaan dan pengendalian unit pelaksana teknis dinas lingkup
dinas kesehatan.
h) Pengelolaan urusan kesekretariatan.

4. Profil Instansi Tempat Magang


Kegiatan magang dilaksanakan penulis pada Dinas Kesehatan
Kota Banjarbaru, Bidang Pelayanan dan Sumber Daya Kesehatan , Seksi
Pelayanan Kesehatan.
Dinas kesehatan Kota Banjarbaru yang beralamat jalan Jendral
Sudirman No. 3 Kota Banjarbaru merupakan unsur pelaksana Pemerintah
Daerah yang dipimpin oleh seorang Kepala Dinas Kesehatan yang
bertanggung jawab kepada Walikota melalui Sekertaris Daerah. Sejak
awal tahun 2017 kantor Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru pindah ke Jalan
Palang Merah No.2 bekas gedung Rumah Sakit Umum Daerah Kota
Banjarbaru yang lama.
Dinas Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan urusan
pemerintah daerah dalam bidang kesehatan berdasarkan asas otonomi dan
tugas pembantuan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
BAB II
SURVEI AKREDITASI FASILITAS KESEHATAN
TINGKAT PERTAMA

A. PENGERTIAN

Survei akreditasi FKTP adalah proses penilaian eksternal


dilakukan oleh peer (kelompok sebaya) yaitu tim surveior yang ditetapkan
oleh lembaga independen penyelenggara akreditasi FKTP yang diberi
kewenangan oleh Kementerian Kesehatan sebagai penyelenggara
akreditasi FKTP. Lembaga independen penyelenggara akreditasi FKTP
dalam melakukan survei menggunakan standar akreditasi FKTP yang
ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan. Sebelum lembaga independen
tersebut terbentuk, maka Kementerian Kesehatan membentuk Komisi
Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama yang bertugas untuk
menyiapkan pembentukan lembaga penyelenggara akreditasi FKTP,
melakukan survei dan penetapan status akreditasi sampai terbentuknya
lembaga independen tersebut.

B. MANFAAT AKREDITASI Akreditasi akan memberikan


manfaat sebagai berikut :
1. BAGI DINKES PROV & KAB/KOTA
Sebagai WAHANA PEMBINAAN peningkatan mutu kinerja
melalui perbaikan yang berkesinambungan terhadap sistem manajemen
mutu, sistem manajemen penyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat
dan pelayanan klinis, serta penerapan manajemen risiko.
2. BAGI BPJS KESEHATAN sebagai salah satu syarat untuk
melakukan recredensialing FKTP
3. BAGI FKTP
a. Memberikan keunggulan kompetitif b. Menjamin pelayanan
kesehatan primer yang berkualitas c. Meningkatkan pendidikan pada staf
d. Meningkatkan pengelolaan risiko e. Membangun dan meningkatkan
kerja tim antar staf

Pedoman Surveior Akreditasi FKTP

f. Menghindari variasi dalam pelayanan, ketertiban


pendokumentasian, dan konsistensi dalam bekerja. g. Meningkatkan
keamanan dalam bekerja.

4. BAGI MASYARAKAT
a. Memperkuat kepercayaan masyarakat b. Adanya Jaminan
Kualitas

C. MEKANISME AKREDITASI Dinas Kesehatan


Kabupaten/Kota melakukan kajian pra survei terhadap Puskesmas yang
telah membangun sistem mutu dan sistem pelayanan serta siap untuk
dilakukan survei oleh Komisi Akreditasi FKTP atau lembaga independen
akreditasi FKTP. Berdasarkan hasil kajian tersebut, Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota melalui Dinas Kesehatan Provinsi mengajukan
permohonan survei kepada Komisi Akreditasi FKTP atau lembaga
independen akreditasi FKTP dengan melampirkan kelengkapan dokumen
yang dipersyaratkan.
Untuk Klinik pratama dan tempat Praktik mandiri Dokter/Dokter
Gigi permohonan akreditasi diajukan melalui Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melalui Dinas
Kesehatan Provinsi mengajukan permohonan survei kepada Komisi
Akreditasi FKTP atau lembaga independen akreditasi FKTP, dengan
melampirkan antara lain profil FKTP, pencapaian kinerja tahun terakhir,
kegiatan perbaikan mutu yang sudah dilakukan sesuai dengan formulir
aplikasi pada lampiran 2, dan hasil self assessment terakhir, dengan
menggunakan formulir pada lampiran 14.2.a untuk Puskesmas, 14.2.b
untuk Klinik Pratama, dan 14.2.c. untuk Tempat Praktik Dokter/Dokter
Gigi.

Komisi Akreditasi FKTP atau lembaga independen penyelenggara


akreditasi FKTP akan menugaskan Koordinator Surveior untuk
merencanakan survei akreditasi, menetapkan jadual survei, dan
menugaskan tim surveior untuk melakukan survei akreditasi.

Berdasarkan hasil survei, tim surveior akan memberikan


rekomendasi kepada Komisi Akreditasi FKTP atau lembaga independen
penyelenggara akreditasi FKTP tentang status akreditasi dari fasilitas
kesehatan tingkat pertama yang dinilai, dengan tembusan kepada
koordinator surveior di Provinsi. Hasil survei tersebut selanjutnya dibahas
oleh Tim Penilai yang ada di Komisi

Akreditasi FKTP atau lembaga independen penyelenggara


akreditasi FKTP untuk menetapkan status akreditasi. Berdasar hasil
penilaian, Komisi Akreditasi FKTP menerbitkan sertifikat akreditasi bagi
FKTP yang dinyatakan lulus akreditasi. Komisi Akreditasi FKTP
mengirimkan sertifikat akreditasi dan/atau memberikan umpan balik hasil
survei kepada Dinas Kesehatan Provinsi. Sertifikat akreditasi Puskesmas
dan Klinik Pratama berlaku selama 3 (tiga) tahun, dan sertifikat Tempat
Praktik Dokter/Dokter Gigi berlaku selama 5 (lima) tahun dengan
pembinaan oleh Tim Pendamping Akreditasi Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota setiap 12 bulan.
BAB III

HASIL KEGIATAN

A. Uraian Kegiatan Magang


Kegiatan magang dilaksanakan di Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar
pada Bidang SDK (Sumber Daya Kesehatan) dari Tanggal 28 Febuari s/d 1
April 2017.Adapun uraian kegiatan magang tersebut meliputi sebagai berikut :

Tabel 3.1 Uraian Kegiatan Magang Mahasiswa Fakultas Kesehatan


Masyarakat UNISKA 2017.

Hari/Tanggal Kegiatan Foto Kegiatan


Senin,19 1.
Febuari
2018

Selasa,20 1.
Februari
2018
Rabu,21 1.
Februari
2018
Kamis, 22 1.
Februari
2018

1.

1.

1.

1.
1.
1.

1.
BAB II SURVEI AKREDITASI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT
PERTAMA

A. PENGERTIAN

Survei akreditasi FKTP adalah proses penilaian eksternal dilakukan oleh peer
(kelompok sebaya) yaitu tim surveior yang ditetapkan oleh lembaga independen
penyelenggara akreditasi FKTP yang diberi kewenangan oleh Kementerian
Kesehatan sebagai penyelenggara akreditasi FKTP. Lembaga independen
penyelenggara akreditasi FKTP dalam melakukan survei menggunakan standar
akreditasi FKTP yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan. Sebelum
lembaga independen tersebut terbentuk, maka Kementerian Kesehatan
membentuk Komisi Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama yang
bertugas untuk menyiapkan pembentukan lembaga penyelenggara akreditasi
FKTP, melakukan survei dan penetapan status akreditasi sampai terbentuknya
lembaga independen tersebut.

B. MANFAAT AKREDITASI Akreditasi akan memberikan manfaat sebagai


berikut :
1. BAGI DINKES PROV & KAB/KOTA
Sebagai WAHANA PEMBINAAN peningkatan mutu kinerja melalui perbaikan
yang berkesinambungan terhadap sistem manajemen mutu, sistem manajemen
penyelenggaraan Upaya Kesehatan Masyarakat dan pelayanan klinis, serta
penerapan manajemen risiko.
2. BAGI BPJS KESEHATAN sebagai salah satu syarat untuk melakukan
recredensialing FKTP
3. BAGI FKTP
a. Memberikan keunggulan kompetitif b. Menjamin pelayanan kesehatan
primer yang berkualitas c. Meningkatkan pendidikan pada staf d.
Meningkatkan pengelolaan risiko e. Membangun dan meningkatkan kerja tim
antar staf

Pedoman Surveior Akreditasi FKTP

f. Menghindari variasi dalam pelayanan, ketertiban pendokumentasian, dan


konsistensi dalam bekerja. g. Meningkatkan keamanan dalam bekerja.

4. BAGI MASYARAKAT
a. Memperkuat kepercayaan masyarakat b. Adanya Jaminan Kualitas

C. MEKANISME AKREDITASI Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melakukan


kajian pra survei terhadap Puskesmas yang telah membangun sistem mutu dan
sistem pelayanan serta siap untuk dilakukan survei oleh Komisi Akreditasi
FKTP atau lembaga independen akreditasi FKTP. Berdasarkan hasil kajian
tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melalui Dinas Kesehatan Provinsi
mengajukan permohonan survei kepada Komisi Akreditasi FKTP atau lembaga
independen akreditasi FKTP dengan melampirkan kelengkapan dokumen yang
dipersyaratkan.

Untuk Klinik pratama dan tempat Praktik mandiri Dokter/Dokter Gigi


permohonan akreditasi diajukan melalui Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melalui Dinas Kesehatan Provinsi
mengajukan permohonan survei kepada Komisi Akreditasi FKTP atau lembaga
independen akreditasi FKTP, dengan melampirkan antara lain profil FKTP,
pencapaian kinerja tahun terakhir, kegiatan perbaikan mutu yang sudah
dilakukan sesuai dengan formulir aplikasi pada lampiran 2, dan hasil self
assessment terakhir, dengan menggunakan formulir pada lampiran 14.2.a untuk
Puskesmas, 14.2.b untuk Klinik Pratama, dan 14.2.c. untuk Tempat Praktik
Dokter/Dokter Gigi.

Komisi Akreditasi FKTP atau lembaga independen penyelenggara akreditasi


FKTP akan menugaskan Koordinator Surveior untuk merencanakan survei
akreditasi, menetapkan jadual survei, dan menugaskan tim surveior untuk
melakukan survei akreditasi.

Berdasarkan hasil survei, tim surveior akan memberikan rekomendasi kepada


Komisi Akreditasi FKTP atau lembaga independen penyelenggara akreditasi
FKTP tentang status akreditasi dari fasilitas kesehatan tingkat pertama yang
dinilai, dengan tembusan kepada koordinator surveior di Provinsi. Hasil survei
tersebut selanjutnya dibahas oleh Tim Penilai yang ada di Komisi

Akreditasi FKTP atau lembaga independen penyelenggara akreditasi FKTP


untuk menetapkan status akreditasi. Berdasar hasil penilaian, Komisi
Akreditasi FKTP menerbitkan sertifikat akreditasi bagi FKTP yang dinyatakan
lulus akreditasi. Komisi Akreditasi FKTP mengirimkan sertifikat akreditasi
dan/atau memberikan umpan balik hasil survei kepada Dinas Kesehatan
Provinsi. Sertifikat akreditasi Puskesmas dan Klinik Pratama berlaku selama 3
(tiga) tahun, dan sertifikat Tempat Praktik Dokter/Dokter Gigi berlaku selama
5 (lima) tahun dengan pembinaan oleh Tim Pendamping Akreditasi Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota setiap 12 bulan.