Anda di halaman 1dari 38

PRODUKTIVITAS RESERVOIR

Dalam memproduksi minyak dan gas bumi kita harus memperkirakan


besarnya hidrokarbon yang dapat diproduksikan secara ekonomis. Perhitungan -
perhitungan untuk memperkirakan produktivitas formasi dapat dilakukan pada
saat sebelum berproduksi, sedang berproduksi dan setelah berproduksi.
Produktivitas formasi adalah kemampuan formasi untuk berproduksi atau
diproduksi sesuai dengan karakteristik reservoir dan fluidanya. Teknik produksi
sumur horizontal tidak terlalu jauh berbeda dengan teknik produksi pada sumur
konvensional. Apabila dua parameter utama dalam perencanaansumur produksi,
yaitu aliran fluida dari reservoir kedalam lubang sumur (produktivitas sumur) dan
aliran fluida dalam system pipa, maka letak perbedaan dalam perencanaan sumur
horizontal dan konvensional terletak pada penentuan produktivitas sumur. Dalam
bab ini akan dibahas mengenai produktivitas sumur horizontal dan hal-hal yang
berkaitan dengannya.

3.1. Aliran fluida Dalam Media Berpori


Fluida yang mengalir dari formasi ke lubang sumur, dipengaruhi oleh
beberapa factor, yaitu :
1. Sifat fisik dari formasi
2. Geometri sumur dan daerah pengurasan
3. Sifat fisik fluida yang mengalir
4. perbedaan tekanan antara formasi dengan lubang sumur saat terjadi aliran
Aliran fluida satu fasa dalam media berpori-pori seperti yang dapat dilihat pada
Gambar 3.1. oleh Darcy diterangkan sebagai berikut :
kA dP
q ………………………………………………………… (3-1)
 dx

dimana :
q = laju aliran
 = viskositas
k = permeabilitas
A = luas penampang
dP/dx = gradien tekanan

A re a
q (A )

Gambar 3.1.
Aliran satu fasa Dalam media Berpori 5)

Asumsi yang digunakan untuk persamaan diatas adalah:


1. Kondisi aliran steady state
2. Ruang pori batuan 100 % disaturasi oleh fluida yang mengalir
3. Viscositas dari fluida yang mengalir adalah tetap
4. Kondisi Isothermal
5. Alirannya horizontal dan linier
Gradien tekanan (dP/dx) menyebabkan aliran fluida dalam media berpori, yang
persamaannya dapat ditulis sebagai berikut :
dP q
 …………………………………………………………… (3-2)
dx kA
Aliran linier steady state menuju rekah batuan seperti yang terlihat pada Gambar
3.2, mengasumsikan bahwa setengan aliran fluida yang menuju rewkahan batuan
berasal dari salah satu sisi rekahan dan setengahnya berasal dari sisi lain yang
simetris.
Distribusi tekanan dapat dicari dengan mengintegrasikan Persamaan 3-2
untuk masing-masing sisi, sehinggga diperoleh persmaan :
q
P  Pw  x dua sisi…………………………………………… (3-3)
2k A

dimana :
q = laju aliran
k = permeabilitas
A = luas penampang

F ra c tu re
Area A

q/2 q/2

Gambar 3.2.
Aliran Steady State Menuju Rekah Batuan 5)

3.2. Laju Alir Pada Sumur Vertikal


Pada laju alir pada sumur vertical ini akan dibahas laju alir vertical pada
aliran steady state dan pseudo steady state. Kedua laju alir tersebut mempunyai
cara perhitungan yang berbeda.

3.2.1. Laju Alir Steady –State Pada Sumur Vertikal


Kondisi stedy state (kondisi mantap) terjadi jika tekanan disetiap titik di
reservoir tidak berubah terhadap waktu. Pada kenyataanya sangat sedikit reservoir
yang mempunyai kondisi ini. Banyak reservoir yang diproduksikan, tekanannya
berubah (menurun) terhadap waktu. Ketika fluida mengalir pada sumur vertical
dan diproduksikan, daerah aliran akan mengecil. Hal ini akan menyebabkan
peningkatan kecepatan aliran dan peningkatan gradien tekanan. Aliran Fluida
dalam radius R, dan daerah aliran A = 2 Rh dapat dilihat pada Gambar 3.3.
Distribusi tekanan dapat dicari dengan mensubstitusikan A pada Persamaan 3-2,
sehingga didapat:
dP q
 ………………………………………………… (3-4)
dR k (2 R h)

Dan mengintegrasikan dengan q konstan didapat :


q
P  Pw  [ln( R )  ln( Rw )] …………………………………….(3-5)
2 k h

Dari persamaan di atas didapat harga q untuk aliran steady state sebagai berikut :
2kh( Pe  Pw )
q  FD ……………………………………………... (3-6)
 ln( Re / Rw )
Jika pengaruh skin diperhitungkan maka persamaan di atas menjadi :
2kh( Pe  Pw )
q  FD ……………………………………….. (3-7)
l[ln( Re / Rw )  S ]
dimana :
FD = 0,001127
Aliran fluida akan berkurang jika S positif, misalnya ada kerusakan
reservoir di sekitar lubang sumur dan aliran fluida akan meningkat jika dilakukan
stimulasi misalnya acidizing.

3.2.2. Laju Aliran Pseudo Steady State pada Sumur Vertikal


Kondisi steady state dimulai ketika gangguan tekanan yang dihasilkan
oleh sumur yang berproduksi, sampai pada batas dari daerah pengurasan sumur.
Dengan kata lain, ketika massa fluida terletak pada batas reservoir mulai bergerak
menuju sumur produksi produksi kondisi steady state mulai terjadi. Pada aliran
pseudo steady state dengan fluida ideal pada drainase area yang tertutup, tekanan
reservoir dengan jari-jari r dari pusat sumur ditulis sebagai berikut :
 141,2 q o Bo 
p(r )  p wf  
kh
 
 ln(r / rw )  0,5 (r / re ) 2 ………………. (3-8)
 

dimana:
k = permeabilitas reservoir, md
h = ketebalan lapisan, ft
Substitusi p = pe, tekanan pada batas pengurasan dengan r = re dan persamaan
laju aliran untuk sumur vertical pada pusat bidang pengurasan didapat :
kh ( p e  p wf )
q ……………………………………. (3-9)
141,2 o Bo [ln(re / rw )  0,5]

Persamaan pseudo-steady state berdasarkan tekanan reservoir rata-rata untuk


sumur vertical yang ditemapatkan tidak dipusat pada daerah pengurasan ditulis
sebagai berikut :
kh ( p  p wf ) /(141,2  o Bo )
q
ln  
2,2458 A / (C A rw2 )  s  s m  Dq
…………………………… (3-10)

dimana :
sm = faktor skin mekanis
s = faktor skin
Dq = turbulensi di sekitar lubang sumur
CA = shape factor

3.2.3. Faktor Shape Untuk Sumur Vertikal


Selama aliran pseudo-steady state untuk sumur vertical terletak pada
reservoir terbatas, tekanan sumur tidak berdimensi (pwD) adalah sebagai berikut :
pwD = 2tDA + ½ ln(A / rw2) = ½ ln(2,2458 / CA) ………………….. (3-11)
dimana :
CA = shape factor, tak berdimensi
tDA = waktu, tak berdimensi
Persamaan 3-11 adalah pengembangan perdsamaan alir transient pada
pseudo-steady state, dengan asumsi aliran single phase dan fluida compressible
yang diproduksikan pada laju produksi konstan. Pada persamaan diatas, CA adalah
factor geometric yang tergantung dari shape factor dan penempatan sumur. Harga
shape factor (CA) untuk berbagai penempatan sumur vertical ada pada Tabel III-1.
Tabel III-1
Shape Faktor Untuk Sumur Vertikal 16)
3.3. Laju Alir Pada Sumur Horisontal
Laju alir pada sumur horizontal berbeda dengan laju pada sumur vertical,
karena sumur horizontal mempunyai daerah kontak dengan reservoir yang lebih
besar dan mengurangi jarak alir minyak ke lubang sumur disamping itu juga
menghubungkan rekahan-rekahan vertical pada reservoir.
3.3.1. Laju alir Steady State Pada Sumur Horisontal
Para ahli perminyakan telah mengembangkan berbagai persamaan untuk
mencari laju alir steady state untuk sumur horizontal. Pada bagian ini akan
dibahas beberapa metode yang telah dikembangkan untuk mencari persamaan alir
steady state.

3.3.1.1. Persamaan laju Produksi Steady Stae Oleh Joshi


Aliran Fluida dari formasi produktif menuju lubang sumur horizontal
dinyatakan dalam bentuk persamaan tiga dimensi. Persamaan tiga dimensi ini
disederhanakan dengan cara mengubahnya menjadi persamaan differential dua
dimensi yaitu aliran fluida ke dalam sumur horisontal dalam bidang horisontal dan
vertikal seperti yang terlihat pada Gambar 3.3.
1. Persamaan aliran fluida pada bidang horizontal.
Persamaan ini adalah sebagai berikut :
2 k o P
qh 
a  (a 2  c)  ……………………………………………. (3-12)
ln  
 c 

dimana :
a = setengah sumbu terpanjang sumbu ellip
c = setengah panjang sumur, L/2
Persamaan tersebut merupakan aliran minyak ke dalam sumur horizontal
untuk setiap lapisan bidang horizontal. Perkalian aliran diatas dengan tebal
reservoir (h), akan memberikan persamaan aliran m,inyak total dalam bidang
horizontal, yaitu :
qh tot = qh x h ………………………………………………………. (3-13)
2. Persamaan aliran fluida pada bidang vertical
Persamaan aliran ini adalah sebagai berikut :
(2 k o P /  Bo )
qv  ……………………………………………… (3-14)
ln(h / 2rw )
Gambar 3.3.
Aliran Fluida Sumur Horisontal pada Bidang Horisontal dan Vertikal 16)

Persamaan ini dinyatakan aliran fluida dalam sumur pada bidang vertical
untuk setiap unit panjang sumur. Jika qvtot adalah persamaan aliran minyak
kedalam lubang sumur dengan panjang L, maka qv tot adalah :
qv tot = qv x L ……………………………………………………… (3-15)
Kemudian dengan menggunakan analogy konsep aliran listrik, tahanan
aliran dalam arah horizontal adalah sebagai berikut :
 P 
Rh   
 q v tot 
a 
……………………………….. (3-16)
Bo a 2  ( L / 2) 2 
 ln  
2K o h  L/2 

Sedangkan hambatan aliran untuk aliran minyak dalam bidang vertikal dinyatakan
sebagai berikut :
 P 
Rv   
 q v tot 
……………………………………….. (3-17)
  
  ln ( h /(2rw ))
 2K o L 

Tahanan aliran kedua persamaan dijumlah untuk menghitung laju aliran


total sumur horisontal. Persamaan laju aliran sumur horisontal adalah sebagai
berikut :
 1 1  P
R h  Rv  P    ………………………………….. (3-18)
 q h tot q v tot  qh

P Bo a  a 2  ( L / 2) 2  Bo
 ln   ln(h / rw ) ………………… (3-19)
qh 2k o h  L/2  2k o L

Dari persamaan diatas akhirnya didapat persamaan laju produksi sumur
horizontal, yaitu :
0,007078 ko hP / ( Bo )
qh 
 a  a 2  ( L / 2) 2  …………………. (3-20)
ln    (h / L) ln[h /( rw )]
 L/2 

persamaan ini berlaku untuk kondisi L > h dan (L/2) < reh
reh  axb ……………………………………………………. (3-21)
b  ( a 2  ( L / 2) 2 ) 0 , 5 ……………………………………………….. (3-22)
sehingga :


reh  a 1  ( L / 2a ) 2  0 , 25
…………………………………………… (3-23)

Apabila harga dari daerah suatu pengurasan telah diketahui, maka Persamaan (3-
23) dapat dimodifikasi untuk mendaptkan parameter a sebagai berikut:


a  ( L / 2) 0,5  0,25  (2reh / L) 4  0,5
…………………………….. (3-24)

dimana :
qh = laju produksi sumur horisontal, STB/hari
ko = permeabilitas minyak, md
h = ketebalan reservoir, ft
a = setengah sumbu terpanjang dari ellips, ft
b = setengah sumbu terpendek dari ellips, ft
rw = jari-jari sumur, ft
 = viskositas, cp
Bo = faktor volume formasi, RB/STB
reh = jari-jari pengurasan sumur horisontal (cari harga nya)

Hubungan secara geometri antara L/(2reh), L/(2a) dan a/reh ditunjukkan


pada Tabel III-2. Persamaan di atas menunjukkan bahwa jika panjang sumur
horisontal lebih tebal dari pada tebal reservoir, yaitu L >> h, maka suku kedua
pada penyebut di persamaan di atas yaitu hambatan aliran vertikal akan menjadi
sangat kecil, jika dibandingkan dengan hambatan aliran horisontal. Selain itu jika
L/2a << 1 seperti ditunjukkan pada Tabel III-2, dan a serta reh disubstitusikan ke
dalam persamaan aliran Darcy maka akan dihasilkan persamaan aliran untuk
rekahan vertikal, yaitu:
0,007078 k o hP /(Bo )
q  ……………………………………… (3-25)
ln reh /( L / 4)
Persamaan (3-25) diatas memberikan hasil yang hampir sama dengan Persamaan
(3-20) jika L/h  6. Oleh karena itu jika harga L/h  6 maka produksi sumur
horisontal bisa didekati dengan persamaan rekan vertikal.

Tabel III-2.
Hubungan Berbagai Faktor Geometris 16)

L L a
2reh 2a reh
0,1 0,0998 1,002
0,2 0,198 1,010
0,3 0,293 1,024
0,4 0,383 1,042
0,5 0,470 1,064
0,6 0,549 1,093
0,7 0,620 1,129
0,8 0,683 1,171
0,9 0,739 1,218

3.3.1.2. Persamaan laju Produksi Steady-State oleh Borisov


Borisov mengembangkan persamaan prokduktivitas steady-state sebagai
berikut :
2 k h hp /(  o Bo )
qh  …………………………….. (3-26)
ln 4reh / L   (h / L) ln[h /(2rw )]

3.3.1.3. Persamaan Laju Produksi Steady-State oleh Giger


Giger mengembangkan persamaan produktivitas steady state sumur
horizontal sebagai berikut :
2 k h Lp /(  o Bo )
qh 
1  1  [ L /( 2reh )]2  ………………. (3-27)
( L / h) ln    ln[h /( 2rw )]
 L /( 2reh ) 

3.3.1.4.Persamaan Laju Produksi Steady State oleh Giger, Reiss dan Jourdan
Persamaan produktivitas steady state sumur horizontal yang
dikembangkan oleh Giger, Reiss dan Jourdan ini dapat dengan membandingkan
indeks produktivitas sumur dengan indeks produktivitas sumur vertical,
persamaannya adalah sebagai berikut :

ln(rev / rw )
Jh / Jv 
1  1  [ L /(2reh )] 2  …………… (3-28)
ln    (h / L) ln[h /(2rw )]
 L /(2reh ) 

3.3.1.5. Persamaan Laju Produksi Steady State oleh Renard dan Dupuy
Pendekatan atau asumsi yang dipakai oleh Renard dan Dupuy adalah :
 Fluida satu fasa
 Alairan mantap atau laminer
 Penetrasi sumur sempurna
 Bentuk daerah pengurasan adalah persegi empat atau ellipsiodal
 Fluida incompressible atau tidak termapatkan
 Aliran fluida 3-dimensi
 Untuk kondisi isotropis dan anisotropis

Dengan persamaan sebagai berikut


2 k h Lp  1 
qh    …………………. (3-29)
 o Bo  cosh ( x)  (h / L) ln[h / 2rw )] 
1

dimana :
x = 2a/L untuk daerah pengurasan ellipsoidal
a = setengah sumbu terpanjang ellips (lihat Persamaan 3-24)
3.3.2. Laju alir Pseudo-Steady State Pada Sumur Horisontal
Untuk menghitung produktivitas pseudo-steady state sumur horizontal
aliran fasa tunggal ada tiga metode. Pada metode-metode ini diasumsikan sebagai
reservoir terbatas dan sumur horizontal terletak sembarang pada reservoir terbatas
berbentuk rectangular, seperti terlihat pada Gambar 3.4.

Gambar 3.4.
Skema Sumur Horisontal Yang Di Bor Pada Reservoir Tertutup 16)

Perbedaan ketiga metode tersebut adalah pada metode perhitungan


matematisnya dan kondisi-kondisi batas yang digunakan. Sebagai contoh, metode
I (Metode Mutalik) mengasumsikan sumur horisontal sebagai suatu sumur
infinite-conductivity (daya konduktivitas tidak terbatas). Metode II (Metode Babu
dan Odeh) mengasumsikan sebagai suatu kodisi batas batas uniform-flux (aliran
seragam), sedangkan metode III (Metode Kuchuk) mengasumsikan penyelesaian
dengan pendekatan infinite conductivity dimana tekanan lubang sumur yang
konstan diperkirakan dengan merata-ratakan harga tekanan dari solusi uniform-
flux disepanjang panjang lubang sumur. Karena asumsi dari kondisi batas
reservoir yang digunakan, metode III umumnya memberikan laju alir yang paling
besar dan metode II memberikan laju alir yang paling rendah dari ketiga metode
tersebut. Perbedaan dari ketiga metode tersebut dalam menghitung laju alir
memberikan perbedaan yang sangat kecil ( 5%).

3.3.2.1. Metode Mutalik


Untuk daerah pengurasan rectangular dengan 2xe/(2ye) = 1 sampai 20,
Mutalik telah membuat harga shape factor dan corresponding equivalent skin
factor (SCA,h) untuk sumur horisontal yang diletakkan pada berbagai posisi dalam
volume pengurasan. Faktor skin, SCA,h untuk sumur harisontal yang diletakkan di
pusat daerah pengurasan dengan perbandingan 2xe/(2ye) = 1,2 dan 5 dapat dilihat
pada Gambar 3.5. sampai 3.7. dan Tabel III-3.
Produktivitas aliran pseudo-steady state pada sumur horisontal dapat dicari
dengan persamaan sebagai berikut :
q 0,007078 khp /(  o Bo )
Jh  
p  p wf  r'  ……………. (3-30)
ln e   A' s f  s m  sCA, h  c' Dq
 rw 
dimana :
r 'e  A /  , ft

sm = faktor skin mekanis


sf = faktor skin dari suatu infinite-conductivity
= -ln(L/(4rw))
D = koefisien turbulen, 1/BOPDSCA,h
SCA,h = faktor skin yang berhubungan dengan shape (shape related skin
factor)
c’ = konfersi shape factor (konstan)
= 1,386

A = 0,75 untuk areal pengurasan berbentuk bundar
A’ = 0,738 untuk areal pengurasan berbentuk square dan rectangular.

Catatan:
1. sm dihitung dengan rumus sm = s (h/L) (kh/kv)0,5 dimana s adalah skin
faktor.
2. Tentukan harga SCA,h dari Gambar 3.5 sampai Gambar 3.7.
3. Dengan mengetahui sf dan SCA,h , pruduktivitas dapat dihitung dengan
menggunakan Persamaan (3-30).

Tabel III-3
Shape Related Skin Factor (SCA,h) untuk Sumur Horisontal pada Berbagai
Penembusan Sumur dan Bentuk Rectangular yang Berbeda 16)
L
 2.x e 
LD 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0
(1) xe/ye =1
1 3.772 4.557 4.819 4.819 5.250
2 2.321 2.927 3.141 3.141 3.354
3 1.983 2.437 2.626 2.626 2.832
5 1.724 1.948 2.125 2.125 2.356
10 1.536 1.703 1.851 1.851 2.061
20 1.452 1.598 1.733 1.733 1.930
50 1.420 1.546 1.672 1.672 1.863
100 1.412 1.533 1.656 1.656 1.845
(2) xe/ye =2
1 4.425 4.578 5.025 5.420 5.860
2 2.840 3.010 3.130 3.260 3.460
3 2.380 2.450 2.610 2.730 2.940
5 1.982 2.020 2.150 2.310 2.545
10 1.740 1.763 1.850 1.983 2.198
20 1.635 1.651 1.720 1.839 2.040
50 1.584 1.596 1.650 1.762 1.959
100 1.572 1.582 1.632 1.740 1.935
(3) xe/ye =5
1 5.500 5.270 5.110 5.140 5.440
2 3.960 3.720 3.540 3.650 3.780
3 3.440 3.190 3.020 3.020 3.250
5 2.942 2.667 2.554 2.493 2.758
10 2.629 2.343 2.189 2.155 2.399
20 2.491 2.196 2.022 2.044 2.236
50 2.420 2.120 1.934 1.925 2.150
100 2.408 2.100 1.909 1.903 2.126
Gambar 3.5.
Shape Related Skin Factor (SCA,h) untuk Sumur Horisontal 16)
pada Reservoir Bujur Sangkar (xe/ye = 1)

Gambar 3.6.
Shape Related Skin Factor (SCA,h) untuk Sumur Horisontal 16)
pada Reservoir Rectangular (xe/ye = 2)
Gambar 3.7.
Shape Related Skin Factor (SCA,h) untuk Sumur Horisontal 16)
pada Reservoir Rectangular (xe/ye = 5)

3.3.2.2. Metode Babu dan Odeh


Persamaan pada metode ini dikembangkan pada reservoir terbatas yang
melibatkan permeabilitas dalam arah X, Y, Z serta memperhitungkan posisi
sumur. Bentuk daerah pengurasan pada metode ini dapat dilihat pada Gambar 3.8
Dalam metode ini anggapan-anggapan yang digunakan adalah :
1. Harga porositas konstan.
2. Fluida slightly compressible
3. Batas-batas reservoir adalah kedap
4. Sebelum diproduksikan, tekanan di seluruh volume pengurasan sama.
Babu dan Odeh menurunkan persamaan laju aliran sumur horisontal pada
kondisi pseudo-steady state sebagai berikut :
0,007078 ( 2 xe ) k x k z ( Ps  Pwf )
q ………………………….. (3-31)
 o Bo [ln A / rw  ln C H  0,75  s R ]

z yW 2ye

xW
H

o 2xe
Gambar 3.8.
Skema Daerah Pengurasan pada Metode Babui dan Odeh 22)

dan produktivitas sumur dapat dihitung dengan persamaan berikut


0,007078 ( 2 x e ) k x k z
Jh  …………………………….. (3-32)
 o Bo [ln A / rw  ln C H  0,75  s R ]

dimana :
q = laju produksi, STB/hari
kxkz = permeabilitas dalam arah x dan z
Ps = tekanan dasar sumur, psi
Bo = faktor volume formasi, RB/STB
 = viskositas, cp
CH = faktor geometris tak berdimensi
A = volume pengurasan, ft3
rw = jari-jari sumur, ft
sr = skin yang diakibatkan penembusan sumur, untuk harga panjang
sumur L < 2xe , untuk L > 2xe maka sr =0.
Apabila formasi tidak mengalami kerusakan, maka harga sr hanya
dipengaruhi panjang sumur horisontal. Apabila terjadi kerusakan formasi, maka
sr akan menjadi (sr + sf), dimana sf adalah faktor skin yang disebabkan perubahan
permeabilitas formasi di sekeliling lubang bor, sedangkan harga ln CH dapat
dicari dengan persamaan sebagai berikut :

 2 y  k 1  y 
2
  yw 
ln C H  6,28 e  v    w     
 h  k y  3  2 y e   2 ye  
…………… (3-33)
  z   2 y  k 
 ln sin180 0 w   0,5 ln  e  v   1,088
  h   h  k y 
dimana :
zw = jarak vertikal antara sumur horisontal dan dasar sumur
yw = jarak dari sumur horisontal ke batas reservoir pada arah y
Harga sr = 0 jika L = 2xe sedangkan untuk harga L < 2xe, harga skin factor
yang diakibatkan penembusan sumur sr bergantung pada dua kondisi, yaitu :
1. 2 ye / k y  1,5 x e / k x  0,75h / kv ……………………….. (3-34)

2. 2 xe / k x  2,66 y e / k y  1,33h / kv ………………………... (3-35)


Pada kondisi pertama, harga sr adalah :
sr = PXYZ + PXY’’ ………………………………………………… (3-36)
dimana :

 2x e   h   ky   180 0 z w  
PXYZ    1 ln   0,25 ln   ln sin   1,84 … (3-37)
 L    rw   kv   h  

 2(2 xe ) 2 kv 
PXY '    f ( x)  0,5{ f ( y1 )  f ( y 2 )} …………….. (3-38)
 Lh kx 
 
dimana  merupakan fungsi dan x, y1, y2 adalah :
L 4 xw  L 4x  L
x , y1  , y2  w
4 xe 4 xe 4 xe

dimana xw adalah jarak titik tengah sumur horisontal ke batas reservoir dalam
arah x. Fungsi (x) diterangkan sebagai :
(x) = -x(0,145 + ln(x) – 0,137 (x)2 …………………………….. (3-39)
Perhitungan (y1) dan f(y2) tergantung dari ((4xw + L)/(4xe)) dan ((4xw – L)/(4xe)).
Jika (y1 atau y2) < 1, Persamaan (3-39) diatas digunakan dengan mengubah x
dengan y1 atau y2. Jika (y1 atau y2) > 1, dapat dicari dengan persamaan sebagai
berikut :
(y) = (2 - y) [0,145 = ln(2 - y) – 0,137 (2 – y)2] ………………… (3-40)
dimana y = y1 atau y2
Pada kondisi kedua, harga sr adalah :
sr = PXYZ + PY + PXY ……………………………………………. (3-41)
PXYZ dihitung dengan menggunakan Persamaan (3-37).
k y k v  1  x w  
2
(2 xe ) 2   xw  L  L
PY  6,28           3  … (3-42)
2 ye h k x  3  2 xe   2 xe   48 x e  2 xe 

sedangkan PXY dihitung dengan :

(2 xe ) k v  
2
 2x  1  y w   yw  
PXY   e  1 6,28        …………. (3-43)
 L  h k y  3  2 y e   2 ye  
 
Untuk persamaan PXY di atas, persamaan yang lebih teliti adalah sebagai berikut :

(2 xe ) k v  1  y w   y w  
2
 2 xe 
PXY    1 6,28     
 L  h k y  3  2 y e   2 y e  
 
…. (3-44)
 4(2 xe )(2 y e )  k v 3  1 2 ny w
 nL k v 

 Lh  k 
 y 1  n
 2
cos
2 ye
exp 
 4 y e k y 
 

3.3.2.3. Metode Kuchuk


Dalam metode ini Kuchuk menggunakan penyelesaian konduktivitas tak
terbatas, dimana tekanan sumur konstan diperoleh dari harga tekanan rata-rata
sepanjang sumur. Persamaan produktivitas pada metode ini adalah :
k h h / 70,6 o
Jh  ……………………………………… (3-45)
F  (h / 0,5 L) kh / kv s x

F adalah fingsi tak berdimensi, dapat dilihat pada Tabel III-4.


Harga sr dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :
 rw  k v   rw  k h  2h   1  z w   z w  
2

s x  ln  
1   sin           .. (3-46)
 h  k h   h  k v  L   3  h   h  

Tabel III-4.
Harga Fungsi Tak Berdimensi (F), untuk Perhitungan Produktivitas 16)
Sumur Horisontal (Metode Kuchuk)

yw/(2.ye) = 0.50 ; xw/(2.xe) = 0.50


ye kx
xe ky L/(4.xe)
0.1 0.2 0.3 0.4 0.5
0.25 3.80 2.11 1.09 0.48 0.26
0.50 3.25 1.87 1.12 0.69 0.52
1.00 3.62 2.30 1.60 1.21 1.05
2.00 4.66 3.34 2.65 2.25 2.09
4.00 6.75 5.44 4.74 4.35 4.19
yw/(2.ye) = 0.25 ; xw/(2.xe) = 0.50
0.1 0.2 0.3 0.4 0.5
0.25 4.33 2.48 1.36 0.70 0.46
0.50 3.89 2.42 1.58 1.10 0.92
1.00 4.47 3.13 2.41 2.00 1.83
2.00 6.23 4.91 4.22 3.83 3.67
4.00 9.90 8.58 7.88 7.49 7.33

yw/(2.ye) = 0.25 ; xw/(2.xe) = 0.25


0.05 0.1 0.15 0.2 0.25
0.25 9.08 7.48 6.43 5.65 5.05
0.50 6.97 5.56 4.71 4.12 3.71
1.00 6.91 5.54 4.76 4.24 3.90
2.00 8.38 7.02 6.26 5.76 5.44
4.00 11.97 10.61 9.85 9.36 9.04

yw/(2.ye) = 0.50 ; xw/(2.xe) = 0.25


0.05 0.1 0.15 0.2 0.25
0.25 8.44 6.94 5.98 5.26 4.70
0.50 6.21 4.83 4.02 3.47 3.08
1.00 5.86 4.50 3.73 3.23 2.90
2.00 6.73 5.38 4.62 4.12 3.81
4.00 8.82 7.46 6.71 6.21 5.89

Pada Persamaan (3-41), Bo (faktor folume formasi) tidak dimasukkan,


untuk menghitung produktivitas pada kondisi permukaan, Bo harus ditambahkan
pada persamaan tersebut.

3.3.3. Shape Factor Sumur Horisontal


Untuk sumur horisontal, batas-batas sisi dari bidang pengurasan yaitu
batas bawah dan batas atas reservoir juga mempengaruhi produktivitas sumur.
Dengan demikian, shape factor sumur horisontal tergantung dari :
1. Bentuk daerah pengurasan, dengan rasio 2xe/(2ye)
2. Penembusan sumur, L/(2xe)
3. Panjang sumur tanpa dimensi, LD  ( L / 2h) k v / k h
Ketika sumur horisontal sudah cukup panjang (LD > 10), pengaruh batas
atas dan batas bawah lebih kecil dan kinerja sumur horisontal mendekati rekah
fully penetrating infinite-conductivity. Untuk sumur horisontal yang panjang,
shape factor juga mendekati shape factor rekah fully penetrating infinite-
conductivity, seperti yang terlihat pada Gambar 3.9.

Gambar 3.9.
Shape Factor Sumur Horisontal (CA,h) pada Reservoir Bujursangkar 16)
untuk Panjang Tak Berdimensi yang Berbeda.

Serupa dengan sumur vertikal yang direkahkan, pressure drop tak


berdimensi pada aliran pseudo-steady state sumur horisontal dalam reservoir
tertutup dapat dicari dengan persamaan sebagai berikut :
 A  1  2,2458  1
p D  2t DA  12 ln  2 
 2 ln    2 ln16 …………….. (3-47)
 4( L / 2)   C A.h 
dimana :
CA,h = shape factor sumur horisontal
L = panjang sumur horisontal
Faktor skin berdasarkan shape untuk sumur horisontal (SCA,h) dapat dilihat
pada Tabel III-3 dan dapat dilihat pada Gambar 3.5 sampai 3.7.

3.3.4. Jari-jari Lubang Sumur Efektif


Jari-jari sumur efektif digunakan untuk menggambarkan sumur yang
berproduksi pada laju produksi yang berbeda dari yang didapat dengan
perhitungan berdasarkan jari-jari lubang sumur yang dibor. Jari-jari lubang sumur
efektif adalah jari-jari sumur secara teoritis yang diperlukan untuk menghitung
laju produksi.
Produksi minyak akan meningkat akibat sumur distimulisasi yang di
reprentasikan sebagai penurunan harga faktor skin (menjadi negatif) akan
mempunyai jari-jari lubang sumur yang lebih besar dari pada jari-jari lubang
sumur yang mengalami kerusakan formasi.
Jari-jari efektif didefinisikan sebagai besarnya harga diameter sumur
vertikal yang mampu memberikan produksi dengan aliran laju yang sama dengan
sumur horisontal. Untuk menghitung jari-jari sumur efektif tersebut dibuat asumsi
sebagai berikut :
1. Volume pengurasan sama (reh = rew)
2. Indeks produktivitas sama (q/p) h = (q/p)v
Dari asumsi-asumsi di atas didapat persamaan :
 
 
 2k h h /( o Bo )   2k h h /( o Bo ) 
   
 a  2 
 …. (3-48)
 ln(re / rw eff ) 
 a  ( L / 2) 
2
v
 ln    ( h / L) ln[h /( 2rw )] 
L/2
 
  
 
h

dari persamaan di atas didapat harga rw eff , yaitu :


reh ( L / 2)
rw eff 
 
a 1  1  [ L /(2a )] 2 [h /(2rw )] h / L
………………………….. (3-49)

Jika reservoirnya anisotropik, jari-jari efektif sumur adalah :


reh ( L / 2)
rw eff 
 
a 1  1  [ L /( 2a )] 2 [ h /( 2rw )]( h / L )
……………………….. (3-50)
Van Der Vlis juga mengembangkan persamaan jari-jari lubang sumur
efektif sumur horisontal yang dibor pada reservoir isotropic, yaitu :
h/L
L   4r   
rw eff  sin w  90 0  cos  180 0  ………………………. (3-51)
4   h  h 

 = jarak vertikal antara pusat sumur dengan tinggi setengah (mid-height) dari
reservoir.
Jari-jari lubang sumur efektif dapat digunakan untuk menghitung
perbandingan produktivitas sumur horisontal dan sumur vertikal seperti
persamaan berikut :
Jh / Jv = [ ln(rev /rw)] / [ ln(reh / rweff)] ……………………………….. (3-52)
Untuk L > h dan (L/2) < 0,9reh
Persamaan perbandingan produktivitas indeks di atas dapat digunakan
pada sumur vertikal yang tidak distimulasi dan beroperasi di atas tekanan buble
point. Perlu dicatat bahwa perbandingan indeks produktivitas diatas
mengasumsikan suatu sumur vertikal yang tidak distimulasi.

3.4. Inflow Performance Relationship (IPR)


Kurva IPR dibuat dari hasil plot serangkaian data yang menghubungkan
tekanan alir di dasar lubang sumur (Pwf) dan laju alir minyak (qo) pada faktor
recovery (RF) atau rasio produksi komulatif terhadap cadangan minyak awal yang
konstan. Apabila recovery factor semakin besar sejalan dengan proses deplesi,
harga Pwf terhadap qo dicatat sebagai titik koordinat kurva IPR pada recovery
factor (RF) saat itu. Pengulangan prosedur tersebut untuk tiap-tiap recovery factor
akan mengahsilkan kurva-kurva IPR yang berbeda. Persamaan IPR tak berdimensi
dibuat dengan cara membagi ordinat tekanan (Pwf) di setiap titik kurva IPR dengan
tekanan rata-rata (Pr), dan absisi laju alir minyak (qo) dengan laju alir minyak
maksimum (qomax). Kurva IPR tak berdimensi tersebut dibuat dengan tujuan untuk
membandingkan kecenderungan bentuk kurva atau perubahan laju produksi untuk
tekanan alir di dasar sumur tertentu pada berbagai tingkat deplesi reservoir.

3.4.1. Indeks Produktivitas Sumur


Indeks Produktivitas merupakan indeks atau derajat ukuran kemampuan
suatu sumur untuk berproduksi. Secara matematis dapat dinyatakan sebagai
perbandingan antara laju produksi (qo), terhadap perbedaan tekanan antara tekanan
statik reservoir dengan tekanan alir dasar sumur (Ps – Pwf), seperti persamaan
berikut ini :
qo
PI  ………………………………………………………. (3-53)
Ps  Pwf

dimana :
PI = indeks produktivitas
qo = laju alir minyak
Ps = tekanan statik reservoir
Pwf = tekanan alir dasar sumur
Berdasarkan persamaan tersebut indeks produktivitas sumur horisontal
adalah :
qh
PI h  ……………………………………………………………. (3-54)
P
dimana :
PIh = indeks produktivitas sumur horisontal
P = tekanan drawdown
qh = laju produksi sumur horisontal

3.4.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Formasi


Jika dibandingkan dengan sumur konvensional, dimana produktivitas
sumur dipengaruhi oleh permeabilitas, viskositas fluida, faktor volume formasi,
dan jari-jari sumur maka besaran yang dipengaruhi produktivitas sumur horisontal
selain yang telah disebutkan di atas, juga dipengaruhi oleh panjang sumur
horisontal, permeabilitas vertikal, ketidakseragaman batuan (anisotropy) dan letak
sumur terhadap posisi lapisan reservoir (eccentricity).

3.4.2.1. Pengaruh Panjang dan Jari-jari Sumur


Kemampuan produksi suatu zona hidrokarbon sebanding dengan daya
transmisi dari formasi. Untuk sumur vertikal daya transmisi tersebut dinyatakan
dengan :
T = kh x h …………………………………………………………. (3-55)
Sedangkan untuk sumur horisontal adalah :
T = kv x L …………………………………………………………. (3-56)
dimana :
kv = permeabilitas vertikal
kh = Permeabilitas horisontal
h = tebal formasi
L = panjang sumur horisontal
Jadi semakin panjang sumur horisontal maka produktivitasnya semakin
besar, sedangkan jari-jari sumur tidak begitu berpengaruh terhadap perubahan
produktivitas sumur. Cara melihat pengaruh panjang sumur terhadap produktivitas
sumur horisontal dapat dilihat pada Gambar 3.10.

10
H = 25
H = 75
8
H = 150

6
P I

0
0 200 400 600 800 1000 1200 1400
P A N J A N G S U M U R H O R I Z O N TA L

Gambar 3.10.
Pengaruh Panjang Sumur terhadap Produktivitas Sumur Horisontal 22)
3.4.2.2. Pengaruh Tebal Reservoir
Pengaruh tebal reservoir pada sumur horisontal cukup berarti. Panjang
sumur horisontal memberikan kenaikan hasil yang lebih baik pada reservoir yang
tipis, dibandingkan dengan reservoir yang tebal. Sebagai contoh sumur horisontal
dengan panjang 1000 ft pada dua target daerah reservoir (satu pada reservoir
dengan ketebalan 50 ft dan reservoir yang lain dengan ketebalan 500 ft). Kenaikan
hasil yang didapat pada kontak area dengan ketebalan reservoir 50 ft dengan
panjang sumur horisontal 1000 ft kira-kira 20 kali lebih baik dibanding dengan
sumur vertikal. Sebaliknya, pada reservoir dengan ketebalan 500 ft, pertambahan
kenaikan daerah kontak dengan membor sumur horisontal sepanjang 1000 ft
hanya sebesar dua kali lebih besar daripada membor sumur vertikal. Jadi hasil
yang didapat akan lebih baik pada reservoir yang tipis dari pada reservoir yang
tebal. Pengaruh tebal reservoir pada produktivitas sumur horisontal (lihat Gambar
3.10.) dapat diperkirakan dengan menggunakan persamaan steady state.
Perubahan rasio produktivitas pada sumur horisontal dengan aliran steady state
dapat dilihat pada Gambar 3.11

Gambar 3.11
Produktivitas Ratio dari Sumur Horisontal dan Vertikal 16)
Terdahap Panjang Sumur pada Ketebalan Reservoir yang Berbeda

Pada Gambar tersebut luas drainase area-nya 160 acre dan reservoir
diasumsikan isotropik (kh = kv). Kurva paling atas adalah reservoir dengan
ketebalan 25 ft dan paling bawah 400 ft. Pada gambar tersebut hasil produktivitas
akan lebih besar pada reservoir yang tipis dibanding reservoir yang tebal.
Pengaruh tebal reservoir pada sumur horisontal terhadap faktor skin dapat juga
dilihat pada Gambar 3.12.

Gambar 3.12.
Faktor Skin versus Panjang Sumur pada Ketebalan Reservoir yang Berbeda 16)

Dari persamaan laju produksi sumur horisontal dapat dilihat adanya


hubungan langsung antara tebal reservoir terhadap produktivitas sumur. Gambar
3.10, juga memperlihatkan pengaruh tebal reservoir terhadap produktivitas sumur
horisontal, yaitu dengan bertambahnya tebal reservoir maka produktivitas sumur
horisontal akan bertambah.

3.4.2.3. Pengaruh Luas Daerah Pengurasan


Dari persamaan produktivitas sumur horisontal, harga laju aliran sumur
horisontal berbanding terbalik dengan parameter a, dimana a adalah sumbu
terpanjang dari daerah pengurasan sumur horisontal yang berbentuk ellips. Jadi
semakin luas daerah pengurasan maka parameter a juga akan semakin besar,
sehingga laju alirannya akan semakin kecil. Dari persamaan Babu dapat dilihat
hubungan langsung antara luas daerah pengurasan dengan besarnya laju aliran.
Secara grafis pengaruh luas daerah pengurasan terhadap produktivitas dapat
dilihat pada Gambar 3.13.

10
A = 8 0 A c re s
A = 6 0 A c re s
8
A = 4 0 A c re s

6
P I

0
0 200 400 600 800 1000 1200 1400
P A N J A N G S U M U R H O R IZ O N TA L

Gambar 3.13.
Pengaruh Luas Daerah Pengurasan terhadap 22)
Produktivitas Sumur Horisontal

3.4.2.4. Pengaruh Permeabilitas


Permeabilitas merupakan besaran yang sangat berpengaruh terhadap
produktivitas, karena permeabilitas merupakan kemampuan batuan untuk
mengalirkan fluida. Dari persamaan produktivitas terlihat bahwa produktivitas
berbanding lurus dengan permeabilitas. Bila yang ditinjau adalah permeabilitas
minyak maka permeabilitas yang penting adalah permeabilitas efektif minyak.
Permeabilitas efektif minyak dipengaruhi oleh permeabilitas absolut batuan.
Harga permeabilitas absolut batuan dianggap tetap bila tidak terjadi kerusakan
permeabilitas selama opersasi pemboran dan komplesi.
Kebanyakan fluida yang mengalir dalam batuan terdiri dari fluida
multifasa, dengan demikian timbul tahanan yang lebih besar dari fluida yang
mengalir hanya satu fasa. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan distribusi
saturasi dalam formasi , dimana terjadi kenaikan saturasi gas atau air, sehingga
permeabilitas relatifnya juga akan naik yang menyebabkan permeabilitas minyak
akan turun. Akibatnya kemampuan batuan untuk mengalirkan fluida minyak akan
semakin berkurang.

3.4.2.5. Pengaruh Viskositas


Viskositas didefinisikan sebagai ukuran keengganan fluida untuk mengalir.
Harga viscositas fluida yang mengalir dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
1. Temperatur
Viscositas minyak akan turun jika temperatur naik, karena dengan naiknya
temperaur akan membuat minyak dan gas lebih mudah bergerak.
2. Kelarutan gas
Viscositas minyak akan turun dengan semakin banyaknya jumlah gas yang
larut.
3. API Grafity Minyak
Makin tinggi API grafity maka spesifik grafity akan makin rendah
sehingga viscositasnya akan semakin rendah.
4. Tekanan
Efek tekanan terhadap viscositas minyak dikontrol oleh titik gelembung.
Pada keadaan tekanan system berada diatas tekanan saturasi dengan
naiknya tekanan, maka viscositas akan meningkat. Pada keadaan tekanan
system dibawah tekanann titik gelembung maka kelarutan gas akan lebih
berpengaruh pada harga viscositas minyaknya. Turunnya tekanan akan
makin banyak gas lepas dari larutan dan membentuk gas bebas atau
jumlah gas terlarut dalam minyak semakin sedikit sehingga viscositas
naik.
Pengaruh permeabilitas dan viskositas terhadap produktivitas sumur
horisontal dapat dilihat pada Gambar 3.14.
10
Ko / Uo = 5
Ko / Uo = 10
8 Ko / Uo = 15

6
P I

0
0 200 400 600 800 1000 1200 1400
P A N J A N G S U M U R H O R IZ O N TA L

Gambar 3.14.
Pengaruh Permeabilitas dan Viskositas
terhadap Produktivitas Sumur Horisontal 22)

2.4.2.6. Pengaruh Ketidakseragaman Batuan (Anisotropy)


Pada beberapa reservoir sering ditemui bahwa permeabilitas dan arah
horisontal dan vertikal tidak sama, hal ini dikenal dengan sifat anisotropi.
Besarnya perbandingan permeabilitas horisontal dan vertikal memberikan
pengaruh yang sangat berarti terhadap produktivitas sumur horisontal. Dalam
sumur horisontal, penurunan harga permeabilitas vertikal dan menyebabkan
peningkatan dalam tahanan alir dalam bidang vertikal dan akibatnya akan
menurunkan laju produksi total. Dan sebaliknya jika permeabilitas vertikal lebih
besar dari permeabilitas horisontal akan mengakibatkan penurunan tekanan alir
dalam bidang vertikal dan akan meningkatkan laju produksi total. Pengaruh
ketidakseragaman batuan dalam reservoir pada produktivitas sumur horisontal
dibanding sumur vertikal dapat dilihat pada Tabel III-5.

Tabel III-5.
Pengaruh Anisotropy pada Produktivity Ratio 16)
Sumur Horisontal dan Sumur Vertikal

Jh/Jv
Horisontal Length, ft (kv/kh) = 0.1 (kv/kh) = 0.5 (kv/kh) = 1.0
Reservoir Height = 25-ft
100 1.07 1.53 1.67
200 1.59 2.04 2.17
500 2.58 3.02 3.13
1000 3.86 4.33 4.44
1500 5.11 5.65 5.77
2000 6.48 7.13 7.28
Reservoir Height = 50-ft
100 - 1.14 1.34
200 1.09 1.66 1.87
500 1.99 2.66 2.87
1000 3.16 3.94 4.16
1500 4.27 5.21 5.46
2000 5.46 6.60 6.91
Reservoir Height = 100-ft
200 - 1.17 1.42
500 1.32 2.10 2.40
1000 2.24 3.29 3.65
1500 3.12 4.43 4.86
2000 4.04 5.66 6.19
Reservoir Height = 200-ft
500 - 1.42 1.76
1000 1.37 2.40 2.86
1500 1.96 3.32 3.90
2000 2.57 4.28 5.01
Reservoir Height = 400-ft
500 - - 1.11
1000 - 1.50 1.93
1500 1.08 2.14 2.71
2000 1.43 2.79 3.52

Dari konsep transmisibilitas diterangkan bahwa produksi akan


sebandingkan dengan daya transmisibilitas lapisan. Untuk sumur horisontal daya
transmisi tersebut adalah hasil kali panjang sumur dengan permeabilitas vertikal.
Dari pernyataan di atas dapat dilihat bahwa daya transmisi akan berubah besar
dengan meningkatnya harga permeabilitas vertikal.
Dengan melakukan modifikasi pada persamaan produktivitas, maka
persamaan produktivitas terhadap pengaruh ketidakseragaman batuan (reservoir
anisotropy) adalah sebagai berikut :
0,007078   k o hP  /(  o Bo )
qh 
 a  a 2  ( L / 2) 2  h  h  ………………………… (3-57)
ln   ln 
 L/2  L  L 

dimana :
 = (kh / kv)0,5 ………………………………………………….. (3-58)

Renard dan Dupuy juga telah mengembangkan persamaan untuk reservoir


anisotropik seperti berikut :
0,0077078 k h h  1 
Jh   1  …………… (3-59)
 o Bo  cosh ( x)  (h / L) ln[h / 2r ' w )] 
dimana :
r’w = (1+ / 2) rw
x = 2a / L (daerah pengurasan ellipsoidal)
Pengaruh ketidakseragaman batuan terhadap produktivitas sumur
horisontal dapat dilihat pada Gambar 3.15. Sedangkan perbandingan pengaruh
ketidakseragaman batuan terhadap produktivitas sumur horisontal dan vertikal
dapat dilihat pada Gambar 3.11.

10
Ko = ½ Kh
Ko = Kh
8 Ko = 2 Kh

6
P I

0
0 200 400 600 800 1000 1200 1400
P A N J A N G S U M U R H O R IZ O N TA L

Gambar 3.15.
Pengaruh Anisotropy terhadap Produktivitas Sumur Horisontal 22)
3.4.2.7. Pengaruh Posisi Sumur (Eccentricity)
Pada pengeboran sumur horisontal perlu memperhitungkan batas-batas
toleransi elevasi sumur. Dengan kata lain kita harus menentukan berapa besar
deviasi dari elevasi sumur.
Tipe reservoir yang menentukan toleransi pada elevasi pengeboran adalah
sebagai berikut :
1. Reservoir dengan batas atas dan dasarnya tertutup
Pada reservoir ini, tidak ada air dibagian dasar reservoir dan gas dibagian
puncak reservoir. Untuk kondisi ini akan lebih baik untuk mengebor
sumur pada tengah elevasi dari reservoir tersebut. Jika sumur dibor tidak
pada tengah elevasi diperkirakan pengurasan minyak bumi tidak akan
maksimal.
2. Reservoir dengan water coning dan gas coning
Pada reservoir ini penempatan elevasi sumur sangat penting. Penempatan
elevasi sumur yang baik tidak akan menyebabkan perubahan produksi
yang berarti. Penempatan elevasi sumur di reservoir akan menentukan
breaktrough time dari gas dan air atau keduanya, dan perubahan
perbandingan gas dan minyak (GOR) dan perbandingan air-minyak
(WOR). Dengan demikian penempatan elevasi sumur mempengaruhi
minyak yang dapat diproduksi dari sebuah sumur.

Gambar 3.16.
Sumur Horisontal yang Tidak Berada di Tengah Reservoir 16)
Faktor eccentricity berpengaruh terhadap laju alir minyak terhadap bidang
vertikal. Sumur horisontal yang tidak berada pada bagian tengah reservoir pada
bidang vertikal dapat dilihat pada pada Gambar 3.16.
Dengan menggunakan persamaan Muskat untuk sumur yang terletak di
tengah reservoir, produksi minyak pada bidang vertikal sepanjang sumur
horisontal yang terletak pada jarak sejauh  (faktor eccentricity) dari
tengah-tengah reservoir (  = h / 2 ) dapat dinyatakan sebagai berikut :
[2 P L / Bo h]
qv 
 (h / 2) 2   2  ……………………………………………… (3-60)
ln  
 h rw / 2 
Tahanan alirannya adalah :
Bo h  (h / 2) 2   2 
Rv  ln   ……………………………………….. (3-61)
2k o L  h rw / 2 

Dari bentuk persamaan diatas dapat dilihat bahwa eccentricity akan memperkecil
produktivitas. Hal ini disebabkan bertambah besarnya tahanan aliran pada bidang
vertical. Dengan asumsi bahwa permeabilitas batuan seragam untuk arah vertical
dan horizontal, dengan adanya factor eccentricity ini persamaan produktivitas
sumur horizontal akan menjadi sebagai berikut :
0,007078   k o hP  /( o Bo )
qh 
 a  a 2  ( L / 2) 2   h  (h / 2) 2   2  2  ……………… (3-62)
ln   ln 
 L/2  L  ( hrw / 2) 
dimana :
qh = laju produksi minyak, STB/hari
P = pressure drop, psi
o = viscositas minyaik, cp
kh = permeabilitas horisontal, md
h = tebal reservoir, ft
 = (kh/kv)0,5
 = eccentricity sumur horisontal, ft
L = panjang sumur horisontal, ft
Gambar 3.17.
Pengaruh Eccentricity Sumur Horisontal terhadap Produktivitas 16)

Gambar 3.18.
Pengaruh Eccentricity Sumur Horisontal terhadap Indeks Produktivitas 16)

Sumur yang berada tepat di tengah reservoir akan memberi produksi yang
maksimum. Rasio produktivitas sumur horisontal yang tidak berada di tengah
reservoir dengan berada tepat di reservoir untuk faktor eccentricity yang berbeda
dapat dilihat pada Gambar 3.17, Sedangkan pengaruh eccentricity pada reservoir
gas cap dan batas bawah impermeable dapat dilihat pada Gambar 3.18.

3.4.3. Kurva Inflow Performance Relationship (IPR)


Kurva IPR dibuat dari hasil plot serangkaian data yang menghubungkan
tekanan aliran dasar sumur (Pwf) dengan laju produksi minyak (qo) pada recovery
factor (RF) atau perbandingan produksi komulatif terhadap cadangan minyak
awal yang konstan. Apabila faktor recovery semakin besar sejalan dungan proses
deplesi, maka tekanan alir dasar sumur terhadap laju produksi (qo) dicatat sebagai
titik koordinat kurva pada RF saat itu. Pengulangan prosedur tersebut untuk tiap-
tiap recovery factor akan mengahasilkan kurva-kurva IPR yang berbeda.
Persamaan IPR tak dibuat dengan cara membagi ordinat tekanan dasar
sumur (Pwf) di setiap titik pada kurva IPR dengan tekanan rata-rata ( P) , dan
absis laju alir minyak (qo) dengan laju alir minyak maksimum (qomax). Kurva IPR
tak berdimensi tersebut dibuat dengan tujuan untuk membandingkan
kecenderungan bentuk kurva atau perubahan laju produksi untuk suatu tekanan
alir dasar lubang sumur tertentu pada berbagai tingkat deplesi reservoir.
3.4.3.1. Kurva IPR Berdasarkan Metode Vogel
Pada tahun 1968, Vogel melakukan studi numerik terhadap sumur
reservoir bertenaga pendorong gas terlarut dan mengemukakan persamaan hasil
regresi kurva yang kemudian diaplikasikan untuk kasus dengan kesalahan yang
sangat kecil. Persamaan tersebut adalah sebagai berikut :

qo   Pwf  P 
2

 1  0,2   0,8 wf   ……………………………….. (3-63)
q o max   P   P  

dimana :
qo = laju produksi minyak, STB/hari
Pwf = tekanan alir dasar sumur, psi
Po max = laju produksi maksimum, STB/hari
P = tekanan rata-rata reservoir (tekanan shut-in reservoir), psi

3.4.3.2. Kurva IPR Berdasarkan Metode Fetkovich


Fetkovich mengemukakan kurva IPR dengan mengembangkan bentuk
persamaan tak berdimensi sebagai berikut :
n
qo   Pwf 
2

 1     ………………………………………………. (3-64)
q o max   P  

dengan n berharga sekitar satu (1). Untuk n = 1,24, kedua persamaan di atas akan
menghasilkan kurva IPR yang hampir sama dengan kurva IPR Vogel.
Dari hasil plot, kurva IPR Fetkovich memberikan kurva yang kurang
selaras terhadap kurva IPR aktual pada saat awal deplesi reservoir berlangsung.
Namun pada tahap-tahap deplesi berikutnya kurva IPR Fetkovich dapat mendekati
kurva IPR aktual dimana efek parabola (dengan arah cekung ke atas) semakin
menghilang dengan bertambahnya recovery factor.

3.4.3.3. Kurva IPR Berdasarkan Metode H.Bendakhlia dan Khalid Aziz


H.Bendakhlia dan Khalid Aziz telah mengembangkan persamaan IPR
sumur horisontal untuk reservoir dengan tenaga pendorong gas terlarut. Ide
dasarnya adalah dengan mengamati kecenderungan yang sama dari bentuk kurva.
IPR tak berdimensi Vogel dan Fetkovich dimana kurva IPR yang dihasilkan
menunjukkan produktivitas minyak awal yang tinggi dan kemudian menurun
dengan cepat sejalan dengan bertambahnya produksi komulatif. Penurunan
produktivitas yang cepat tersebut disebabkan kecilnya transmibilitas dan volume
reservoir terbatas.
Kurva-kurva IPR tak berdimensi Vogel dan Fetkovich juga menunjukkan
perubahan kelengkungan dimana derajat kelengkungan tersebut menunjukkan
produktivitas sumur yang bervariasi terhadap penurunan tekanan reservoir. Pada
awal deplesi kurva IPR memiliki bentuk yang mendekati garis lurus, kemudian
dengan bertambahnya produksi maka kurva berbentuk semakin melengkung.
Dengan alasan tersebut dibuatlah persamaan IPR yang baru untuk
mengkombinasikan persamaan IPR Vogel dan Fetkovich dengan memberikan
parameter n dan V agar bentuk kurva IPR yang baru dapat mendekati bentuk
kurva IPR aktual. Persamaan yang dikembangkan H.Bendakhlia dan Aziz adalah :
qo   Pwf  P 
2

 1  V    (1  V ) wf   ……………………………… (3-65)
q o max   P   P  

Persamaan di atas adalah persamaan yang disesuaikan dengan kurva IPR


aktual, dengan tujuan memperoleh parameter n dan V sebagai fungsi dari recovery
factor yang dapat dilihat pada Gambar 3.19

Gambar 3.19.
Korelasi Paremeter V dan n sebagai Fungsi Recovery Factor 16)