Anda di halaman 1dari 26

Makalah Akuntansi Pajak

Akuntansi Persediaan

Oleh :

Dwi Ferianto (201510170311256)

Leonita Dwi Priyanti .A. (201510170311284)

Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Muhammadiyah Malang

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-
NYA kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang Konsep Akuntansi
Persedian.
Tidak lupa kamu juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Dr. Eny Suprapti

MM Ak CA selaku dosen pengampu mata kuliah akuntansi perpajakan serta teman-teman yang
telah membantu baik bantuan moral maupun materil, sehingga makalah ini dapat diselesaikan
dengan baik dan tepat waktu.
Telepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurang baik dari
segi susunan kalimat maupun tata bahasa. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima
segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Malang, 13 Maret 2018


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Persediaan merupakan salah satu jenis aset yang cukup penting dalam perusahaan
manufaktur maupun perusahaan dagang. Hal ini karena persediaan menggambarkan sumber
utama pendapatan kedua jenis perusahaan tersebut. Akuntansi komersial mendefinisikan
persediaan sebagai barang-barang yang disimpan untuk dijual kembali dalam kegiatan
bisnisnya, barang-barang, atau bahan-bahan yang digunakan atau akan digunakan dalam
proses pembuatan produk yang akan dijual.
Dalam perusahaan dagang, jenis persediaannya adalah barang dagang (merchandise
inventory), sedangkan jenis persediaan dalam perusahaan manufaktur umumnya dibagi
menjadi tiga, yaitu bahan baku (raw material), barang setengah jadi (work in process), dan
barang jadi (finished goods). Perlengkapan, yaitu barang-barang yang digunakan untuk
mendukung kegiatan operasional dicatat dalam kelompok tersendiri dan tidak termasuk
dalam golongan persediaan.
Di Indonesia, pengertian persediaan dalam akuntansi komersial secara jelas ditunjukkan
dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 14 tentang persediaan.
Definisi persediaan dalam akuntansi pemerintahan cukup dipengaruhi oleh karakteristik
organisasi pemerintahan. Karakteristik pemerintahan yang hampir sama dengan organisasi
sektor publik lainnya dan berbeda dengan perusahaan adalah bahwa sumber daya
ekonominya dikelola untuk tujuan mencari laba (nirlaba). Secara spesifik, tujuan utama
entitas pemerintahan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui
pelayanan. Sumber pendanaan organisasi sektor publik tidak melalui laba operasi, tetapi
melalui cara khusus berupa sumbangan atau donasi yang bersifat sukarela. Di entitas
pemerintahan, cara seperti ini direalisasikan melalui penerimaan pajak atau retribusi.
Dengan latar belakang tersebut, maka persediaan dalam akuntansi pemerintahan
mempunyai definisi dan cakupan yang agak berbeda. Di Indonesia, definisi persediaan
meliputi juga perlengkapan yang digunakan dalam proses produksi. Hal ini dijelaskan dalam
PSAP 5 tentang akuntansi persediaan. Oleh karena itu untuk lebih memahami tentang
persediaan kami memilih judul “ Akuntansi Persediaan “.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud Akuntansi Persedian?
2. Bagaimana pencatatan persedian?
3. Bagaimana pengukuran dan penilain persediaan?
4. Bagaimana pengakuan dan penyajian persedian?
5. Bagaimana persediaan pada akuntansi pajak?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui akuntansi persedian.
2. Untuk mengetahui pencatatan persedian.
3. Untuk mengetahui pengukuran dan penilaian persedian.
4. Untuk mengetahui pengakuan dan penyajian persedian.
5. Untuk mengetahui akuntansi pajak persediaan.
BAB II

PEMBAHASAN

1. Definisi persediaan

Definisi Persediaan (Menurut Peraturan Pemerintah RI No 71 Th. 2010) : Persediaan adalah


aset lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan yang dimaksudkan untuk mendukung
kegiatan operasional pemerintah, dan barang-barang yang dimaksudkan untuk dijual dan/atau
diserahkan dalam rangka pelayanan kepada masyarakat.

Persediaan merupakan salah satu aktiva yang paling aktif dalam operasi kegiatanperusahaan
dagang. Persediaan juga merupakan aktiva lancar terbesar dari perusahaanmanufaktur maupun
dagang. Pengaruh persediaan terhadap laba lebih mudah terlihat ketikakegiatan bisnis sedang
berfluktuasi. Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenaipersediaan adalah seperti kutipan
berikut. Ikatan Akuntansi Indonesia mengemukakan bahwaPersediaan adalah aset:

a. Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal


b. Dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan; atau,
c. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (suplies) untuk digunakan dalam proses
produksi atau pemberian jasa.

Kieso, Weygandt, Warfield (2002:443) mengatakan bahwa ”persediaan (inventory) adalah pos-
pos aktiva yang dimiliki untuk dijual dalam operasi bisnis normal atau barang yang akan
digunakan atau dikonsumsi dalam memproduksi barang yang akan dijual”.

Dengan demikian intinya persediaan barang dagang adalah untuk dijual dalam operasi bisnis
perusahaan, dan sesuai dengan pendapat warren, reeve dan Fess maka perusahaanbisa saja
menyimpan persediaan sebelum dijual didalam sebuah gudang yang sering berlaku untuk
pedagang-pedagang besar seperti retail yang perputaran persediaannyacukup tinggi dan beragam
untuk mengantisipasi penjualan supaya tidak terjadi kekurangan persediaan Dalam upaya
memberikan pemahaman yang mendalam terhadap persediaan, makaperlu diberikan batasan
yang dapat dipedomani untuk dapat mengklasifikasikan suatu asetkedalam kelompok persediaan.
PSAP nomor 5 menyatakan bahwa suatu aset digolongkan kedalam persediaan apabila:
● Barang atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam rangka kegiatanoperasional
pemerintah
● Bahan atau perlengkapan (supplies) yang digunakan dalam proses produksi
● Barang dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijual atau diserahkankepada
masyarakat.
● Barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat dalam rangka
kegiatan pemerintahan
Batasan di maksut di terapkan untuk semua jenis persediaan tetati di kecualikan untuk :

● Persediaan dalam proses dalam kontrak kontruksi termasuk jasa yang terkait secara
langsung
● Efek tertentu

Persediaan dapat pula di kaitkan dengan hak pemilik barang sesuai syarat penyerahan pada
saat transaksi meliputi :

● Barang dalam berjalan ( in transit ) : pemilik barang ini sangat bergantung pada syarat
penyerahaannya . kemungkinan biaya pengangkutan di tanggung pembeli , maka barang
tersebut menjadi milik pembelian , demikian pula sebaliknya
● Barang titipan ( barang komisi ) : barang komisi yang belum terjual jelas milik pihak
yang menitipkan barang ditinjau dari pihak yang menitipkan , barang tersebut sering di
sebut barang konsinyasi

2. Pengukuran dan penilaian persediaan

Dalam Pengukuran persediaaan bahwa persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai
realisasi neto , mana yang lebih rendah . biaya persediaan di maksut dalam PSAK no . 14

Biaya Persediaan
Biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lain yang
timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini.

▪ Biaya Pembelian
Biaya pembelian persediaan meliputi harga beli, bea impor, pajak lainnya (kecuali yang
kemudian dapat ditagih kembali oleh entitas kepada otoritas pajak), biaya pengangkutan,
biaya penanganan, dan biaya lainnya yang secara langsung dapat didistribusikan pada
perolehan barang jadi, bahan dan jasa. Diskon dagang, rabat dan hal lain yang serupa
dikurangkan dalam menentukan biaya pembelian.

▪ Biaya Konversi
Biaya konversi persediaan meliputi biaya yang secara langsung terkait dengan unit yang
diproduksi, misalnya biaya tenaga kerja langsung. Termasuk juga alokasi sistematis
overhead produksi tetap dan variabel yang timbul dalam mengonversi bahan menjadi
barang jadi.
Overhead produksi tetap adalah biaya produksi tidak langsung yang relatif konstan, tanpa
memerhatikan volume produksi yang dihasilkan, seperti penyusutan dan pemeliharaan
bangunan dan peralatan pabrik, dan biaya manajemen dan administrasi pabrik. Overhead
produksi variabel adalah biaya produksi tidak langsung yang berubah secara langsung,
atau hampir secara langsung, mengikuti perubahan volume produksi, seperti bahan tidak
langsung dan biaya tenaga kerja tidak langsung.

▪ Biaya-biaya Lain
Biaya-biaya lain hanya dibebankan sebagai biaya persediaan sepanjang biaya tersebut
timbul agar persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini.
Misalnya, dalam keadaan tertentu diperkenankan untuk memasukkan overhead
nonproduksi atau biaya perancangan produk untuk pelanggan tertentu sebagai
biaya persediaan.
Contoh biaya-biaya yang dikeluarkan dari biaya persediaan dan diakui sebagai beban
dalam periode terjadinya adalah:
▪ Jumlah pemborosan bahan, tenaga kerja, atau biaya produksi lainnya yang tidak
normal;
▪ Biaya penyimpanan, kecuali biaya tersebut diperlukan dalam proses produksi
sebelum dilanjutkan pada tahap produksi berikutnya.
Penilaian Persediaan.

1. Metode Tanda Pengenal Khusus


dalam metode tanda pengenal khusus (specific identification) setiap barang yang dibeli atau
yang masukdiberi kode / tanda pengenal yang menunjukkan harga per satuan sesuaifaktur
yang diterima. Pada metode ini sudah jelas harga per satuannyaDengan demikian untuk
mengetahui jumlah atau nilai persediaan padaakhir periode tinggal mengalikan jumlah
barang yang masih ada denganharga yang tercantum dalam etiket barang tersebut.
2. Penilaian dengan pendekatan arus harga pokok (cost basic flowapproach)
Dalam pendekatan ini terdapat dua sistem pencatatanpersediaan yaitu sistem periodik dan
sistem perpetual yang masing-masing ada tiga cara penilaian
persediaan, yaitu:
a. FIFO (First in First Out ),masuk pertama keluar pertama
Metode ini menyatakan bahwa persediaan dengan nilai perolehanawal (pertama) masuk
akan dijual (digunakan) terlebih dahulu,sehingga persediaan akhir dinilai dengan nilai
perolehanpersediaan yang terakhir masuk (dibeli). Metode ini cenderungmenghasilkan
persediaan yang nilainya tinggi dan berdampakpada nilai aktiva perusahaan yang dibeli.
b. b.LIFO (Last In First Out ), masuk terakhir keluar pertama
Metode ini menyatakan bahwa persediaan dengan nilai perolehanterakhir masuk akan
dijual (digunakan) terlebih dahulu, sehinggapersediaan akhir dinilai dan dilaporkan
berdasarkan nilaiperolehan persediaan yang awal (pertama) masuk atau dibeli.Metode ini
cenderung menghasilkan nilai persediaan akhir yang rendah dan berdampak pada nilai
aktiva perusahaan yang rendah.
c. Metode Rata-rata (average method )
Dengan menggunakan metode ini nilai persediaan akhir akanmenghasilkan nilai antara
nilai persediaan metode FIFO dan nilaipersediaan LIFO. Metode ini juga akan
berdampak pada nilaiharga pokok penjualan dan laba kotor.

Penilaian Persediaan Selain Arus Harga Pokok

Dalam pendekatan ini ada tiga metode yang digunakan, yaitu:


a. Lower Cost of Market
Yaitu metode harga terendah antara harga pokok dan harga pasar.Metode ini dapat
diterapkan dalam kondisi persediaan tidaknormal, misalnya cacat, rusak dan kadaluarsa.
Pokok dari metodeini adalah membandingkan nilai yang lebih rendah antara nilaipasar
(replacement value) dan nilai perolehan (cost ). Nilai pasar yang akan dipilih harus
dibatasi, yaitu tidak boleh lebih rendah dari batas bawah (floor limit ) dan tidak boleh
lebih tinggi daribatas atas (ceiling limit ).

b. Gross Profit Method


Metode laba kotor ini bersifat estimasi dalam penilaianpersediaannya. Biasanya
diterapkan karena keterbatasan dokumenyang terkait dengan persediaan, misalnya karena
terjadi bencanakebakaran dan banjir. Dasar penilaian persediaannya adalah padapersentase
laba kotor perusahaan tahun berjalan atau rata-rataselama beberapa tahun.

Langkah-langkah yang dilakukan adalah:

1)mengestimasi nilai penjualan tahun berjalan,

2)menghitung nilai harga pokok penjualan berdasarkan padapersentase laba kotor yang
telah diketahui dan

3)menghitung estimasi nilai persediaan akhir dengan mengurangkan harga pokok


penjualan terhadap penjualan

c. Retail Method

Metode eceran ini menilai persediaan akhir dengan cara menghitung terlebih dahulu nilai
persediaan akhir berdasarkaneceran. Nilaii persediaan akhir dengan harga pokok akandiketahui
dengan cara menghitung rasio antara nilai persediaanyang tersedia untuk dijual dengan
pendekatan harga pokokdibandingkan dengan pendekatan ritel. Kemudian rasio yang di peroleh
dikalikan dengan persediaan akhir yang dinilai dengan pendekatan eceran.
3. Pengakuan dan penyajian persediaan
Pengakuan Persediaan

Pengakuan merupakan pencatatan suatu item dalam akuntansi yang selanjutnya akan
disajikan dalam laporan keuangan. Pengakuan membutuhkan konsep untuk menentukan kapan
dan bagaimana transaksi keuangan dapat diakui sebagai unsur dalam laporan keuangan.
Bagaimana persediaan diakui sebagai unsur yang akan disajikan dalam laporan keuangan
pemerintah berbasis akrual, yaitu pada saat terpenuhinya hal-hal berikut ini:

1. pada saat potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh dan mempunyai nilai atau biaya
yang dapat diukur dengan andal. Biaya tersebut didukung oleh bukti/dokumen yang dapat
diverifikasi dan di dalamnya terdapat elemen harga barang persediaan sehingga biaya
tersebut dapat diukur secara andal, jujur, dapat diverifikasi, dan bersifat netral, dan/atau
2. pada saat diterima atau hak kepemilikannya dan/atau penguasaannya berpindah. Dokumen
sumber yang digunakan sebagai pengakuan perolehan persediaan adalah faktur, kuitansi, atau
Berita Acara Serah Terima (BAST).

Metode pencatatan yang digunakan untuk persediaan dalam basis akrual ini adalah metode
perpetual, yaitu pencatatan persediaan dilakukan setiap terjadi transaksi yang mempengaruhi
persediaan (perolehan dan pemakaian). Pencatatan persediaan dilakukan berdasarkan satuan
barang yang lazim digunakan untuk masing-masing jenis barang atau satuan barang lain yang
dianggap paling memadai dalam pertimbangan materialitas dan pengendalian pencatatan. Misal,
kertas HVS menggunakan satuan rim, pensil bisa menggunakan satuan buah atau box mana yang
paling memadai dalam materialitas pengendalian pencatatan menurut entitas akuntansi yang
bersangkutan. Pada kahir periode pelaporan, catatan persediaan disesuaikan dengan hasil
inventarisasi fisik. Inventarisasi fisik tersebut dilakukan atas barang yang belum dipakai, baik
yang berada di gudang maupun yang sudah ada pada unit pemakai. Persediaan yang dilaporkan
di neraca adalah persediaan dalam kondisi baik, sedangkan untuk persediaan dalam kondisi rusak
atau usang tidak dilaporkan di neraca, tetapi diungkapkan dalam Catatan atas laporan Keuangan
(CaLK). Untuk itu, laporan keuangan melampirkan daftar persediaan rusak atau usang.

a. Pengakuan sebagai beban


Nilai tercatat persediaan harus diakui sebagai beban pada saat persediaan dijual dan pada
periode diakuinya pendapatan atas penjualan tersebut demikian bila terjadinya penurunan nilai
di bawah biaya menjadi nilai realisasi bersih , seluruh kerugian tersebut diakui sebagai beban
pada periode terjadinya penurunan atau kerugian tersebut . demikian pada SAK ETAP
menyatakan bila persediaan dijual Maka jumlah tercatatnya diakui sebagai beban periode saat
pendapatan yang terkait diakui . untuk beberapa persediaan dapat dialokasikan ke asset lain .
sebagai contoh persediaan yang digunakan sebagai komponen asset tetap yang di bangun
sendiri , sedangkan untuk alokasi persediaan ke asset lain diakuinhya sebagai beban selama
umur manfaat asset tersebut .
b. pencatatan persediaan
Pencatatan persediaan merupakan kegiatan yang membedakan antara perusahaan barang
dagang dengan perusahaan jasa sehingga pencatatan persediaan merupakan hal yang penting
dalam perusahaan dagang. Pencatatan barang dagang baik yang masuk ataupun keluar
dilakukan untuk memininimalisir kerugian yang diakibatkan oleh hilangnya barang-barang
dagang setelah dibeli terlebih untuk barang-barang yang dibeli secara kredit.

Ada dua metode pencatatan barang dagang yang digunakan oleh perusahaan barang dagang yaitu
Metode Periodik (periodic inventory system) atau Metode Fisik (physical system) dan Metode
Permanen (perpectual system) atau Metode Terus Menerus (Continue).

1. Metode Periodik (periodic inventory sytem)

Metode Periodik (periodic inventory sytem) atau Metode Fisik (physical system). Dalam
metode pencatatan barang dagang dengan menggunakan metode periodik (periodic inventory
system) atau metode fisik (physical system), mutasi atau perpindahan barang yang keluar
maupun masuk tidak akan dicatat. Pencatatan barang dilakukan oleh perusahaan barang
dagang melalui akun penjualan untuk transaksi penjualan barang dan akun pembelian untuk
transaksi pembelian barang.

Metode pencatatan barang dengan metode periodik (periodic inventory system) atau metode
fisik (physical system) ini menyebabkan persediaan barang tidak dapat diketahui setiap saat.
Pencatatan persediaan barang dagang dengan metode ini dilakukan secara berkala (periodik)
pada akhir periode dengan sistem penghitungan secara fisik barang dagang dan barang
persediaan (stock opname) yang ada di tempat penyimpanan atau gudang. Umumnya, metode
periodik atau fisik ini digunakan pada perusahaan yang menjual barang-barang dagang yang
memiliki harga relatif murah, tetapi sering terjadi.

Cara untuk menentukan harga pokok dalam metode ini:

● Catat pembelian barang dagang


● Catat harga pokok barang yang dibeli
● Tentukan harga pokok persediaan barang di awal dan akhir periode.

Kelemahan: Sebab pencatatan hanya dilakukan pada akhir periode, tidak pada saat setiap
terjadinya transaksi maka kehilangan barang persediaan yang akan sulit untuk diketahui oleh
perusahaan secara tepat. Disamping kelemahan dalam menyajikan jumlah atau saldo yang pasti
terhadap persediaan barang yang seharusnya ada, metode ini juga menyulitkan penentuan dalam
penetapan harga yang benar untuk harga pokok barang yang telah terjual.

Jurnal penyesuaian (adjustment journal) sering dibuat untuk mengatasi kelemahan dari
penerapan metode periodik (periodic inventory system) atau metode fisik (physical system) ini.
Dengan jurnal penyesuaian, data pencatatan barang dagang disusun berdasarkan jumlah atau
saldo persediaan akhir barang dan data penyesuaian akhir periode.

Kelebihan:
Karena pencatatan dalam metode ini hanya dilakukan secara periodik, tidak setiap saat terjadinya
transaksi, hanya dilakukan di akhir periode, metode ini lebih menghemat waktu dan tenaga.

2. Metode Permanen (perpectual system)

Metode Permanen (perpectual system) atau Metode Terus Menerus (Continue). Pencatatan
barang dagang dilakukan secara permanen atau terus menerus, detail atau terperinci pada
setiap transaksi yang terjadi dalam perusahaan barang dagang. Dengan metode ini,
persediaan barang dagang dapat diketahui setiap saat karena tercatat secara terus-menerus.

Untuk lebih jelas, berikut pencatatan yang harus dilakukan jika menggunakan metode
permanen (perpectual system) ini, yaitu:

● Dalam rekening persediaan barang dagang


Pembelian barang dagang, biaya angkut pembelian barang dagang, retur, dan pengurangan harga
pembelian yang dibeli oleh perusahaan barang dagang akan dicatat dalam rekening ini.

● Harga pokok penjualan

Harga pokok penjualan ditentukan dengan cara mendebit rekening harga pokok penjualan dan
mengkredit rekening persediaan barang dagang.

● Rekening pengendali

Buku pembantu yang juga merupakan rekening pengendali menyajikan data tentang kualitas dan
harga dari tiap-tiap persediaan barang

Kelemahan: Metode pencatatan persediaan barang dagang dengan metode periodik yang
dilakukan setiap adanya kegiatan ataupun transaksi walaupun lebih akurat namun metode ini
lebih memakan banyak waktu dan tenaga.

Kelebihan: Kegiatan dan transaksi yang selalu tercatat secara detai atau terperinci membuat
pencatatan persediaan barang dagang menjadi lebih akurat sehingga terjadinya kehilangan
barang persediaan dapat dengan mudah terlacak oleh perusahaan.

Sebagai contoh :
a. pada tanggal 2 januari 2016 tuan yahya membeli 4.000 karung semen @ Rp. 40.000 per
karung dari PT. semen cibinong.
b. pada tanggal 5 januari 2016 tuan yahya menjual 3.000 karung semen @Rp. 45.000 kepada PT.
Maju
ayat jurnal yang di buat adalah sebagi berikut :

metode perpectual
a. pada saat pembelian

persediaan 160.000.000

utang dagang 160.000.000


b. pada saat penjualan

piutang dagang 135.000.000

penjualan 135.000.000

harga pokok penjualan 120.000.000

persediaan 120.000.000

metode periodic

a. pada saaat pembelian

pembelian 160.000.000

utang dagang 160.000.000

b. pada saat penjualan

piutang dagang 135.000.000

penjualan 135.000.000

4. Penyajian dan Pengungkapan Persediaan

Persediaan disajikan di neraca pada bagian aset lancar. Persediaan yang disajikan adalah
jumlah persediaan hasil opname fisik dikalikan dengan nilai per unit sesuai dengan metode
penilaian yang digunakan. Termasuk dalam persediaan tersebut adalah barang yang dibeli
dengan belanja hibah dan/atau belanja bantuan sosial yang belum didistribusikan sampai dengan
akhir periode pelaporan. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) untuk persediaan,
mengungkapkan, antara lain kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan,
penjelasan lebih lanjut atas persediaan, seperti barang atau perlengkapan yang digunakan untuk
pelayanan masyarakat, barang atau perlengkapan yang digunakan dalam proses produksi,
barang yang disimpan untuk dijual atau diserahkan kepada masyarakat, dan barang yang masih
dalam proses produksi yang dimaksudkan untuk dijuak atau diserahkan kepada masyarakat.
Penjelasan atas selisih antara pencatatan dengan hasil inventarisasi fisik dan jenis, jumlah, dan
nilai persediaan dalam kondisi rusak dan usang juga dituangkan dalam CaLK. Persediaan di
neraca/ laporan posisi keuangan menggambarkan nilai nilai persediaan nilai persediaan pada
tanggal penyusunan neraca/ laporan posisi keuangan , sedangkan doi laporan laba rugi
persediaan akan muncul dalam perhitungan harga pokok penjualan . namun pada umumnya ,
nilai persediaan dinyatakan dalam neraca sebesar harga pokok atau harga perolehannya . harga
perolehan meliputi seluruh biaya yang secara langsung atau tidak langsung terjadi . sebagai
contoh biaya pengangkutan dan premi asuransi . nilai persediaan di neraca dan di laporan laba
rugi terebut saling berhubugan . hal ini dapat ditunjukan yaitu apabila persediaan di nilai terlalu
rendah pada akhir periode , maka laba pada akhir periode juga akan menjadi lebih rendah ,
demikian pula sebaliknya.

5. Akuntansi Pajak Persediaan

Akuntansi Perpajakan Persediaan Dari sisi praktik akuntansi komersial dan akuntansi
pajak, tidak ada perbedaan prinsipdalam metode pencatatannya, sehingga metode pencatatan
yang dapat digunakan adalah sistem perpetual, baik rata-rata maupun fifo, atau metode
pencatatan fisikal yang ada pada penjelasan pada pasal 10 ayat (6) Undang Undang Pajak
Penghasilan. Namun demikian mengacu pada pasal10 ayat (6) Undang Undang
Pajak penghasilan tersebut bahwa persediaandan pemakaian persediaan untuk menghitung harga
pokok dinilai berdasarkan harga perolehan :

1. Average

2. Fifo

Untuk kepentingan perhitungan pajak penghasilan, Pasal 10 ayat (6) Undang Undang Pajak
Penghasilan menyatakan bahwa persediaan harus dinilai berdasarkan harga perolehan.Oleh
karena itu bila wajib pajak melakukan penilaian berdasarkan metode selain harga perolehan
maka diperlukan penyesuaian. Penetapan besarnya nilai persediaan atau nilai pemakaian menjadi
sangat penting karena berpengaruh ke harga pokok produksi. Cara penilaian persediaan yang
berbeda pada akhirnya akan memengaruhi besarnya penghasilan kena pajak . beberapa kebiasaan
bisnis yang dapat terjadi bahwa wajib pajak membuat perjanjian pembeian dengan harga tetap ,
walaupun kenyataannya muncul perubahan harga . perubahan yang dapat terjadi berupa
penurunan harga pasar , sehingga kerugian diakui pada saat terjadinya penurunan harga,
walaupun barang tersebut belum di serahkan

Sebagai contoh, pada bulan Desember 2007 PT A telah melakukan pembelian barang
denganperjanjian dengan harga Rp.300.000.000. barang tersebut diterima pada bulan maret
tahun2008 dan pada Desember 2007 harga turun menjadi Rp. 100.000.000 . sesuai
praktikakuntansi komersial kerugian sebesar Rp.100.000.000 dibebankan sebagai kerugian
tahun2007 dengan ayat jurnal :

Kerugian Perubahan Harga 200.000.000

Persediaan 200.000.000

Praktik akuntansi pajak tidak mengakui kerugian sebesar 200.000.000 karena pajakmelihat fakta
riil dan tidak menerima antisipasi kerugian. Pajak akan mengakui sebagaikerugian apabila
barang yang dijual tersebut benar-benar mengalami kerugian

Kerugian Perubahan Harga 200.000.000 Persediaan 200.000.000 Praktik akuntansi pajak tidak
mengakui kerugian sebesar 200.000.000 karena pajakmelihat fakta riil dan tidak menerima
antisipasi kerugian. Pajak akan mengakui sebagaikerugian apabila barang yang dijual tersebut
benar-benar mengalami kerugian.

Metode Perhitungan Persediaan

Tn. Hendy memiliki transaksi persediaan pada tahun 2014 sebagai berikut :
Tn. Hendy menggunakan metode pencatatan sistem periodical. Pada 31 Desember2014 Tn.
Hendy memiliki 50 unit persediaan akhir di gudang. Sehingga persediaan yangterjual sebanyak
850 unit. Berdasarkan contoh di atas, berikut penjelasan dari masing-masingmetode perhitungan
persediaan

Metode rata-rata (Average)

a. Total Pembelian :

Perhitungan:1.

Harga rata-rata perunit = Rp 785.000/ 900 unit = Rp 872,222.

Harga Pokok Penjualan = 850 unit x Rp 872,22 = Rp 741.3883.

Persediaan Akhir = 50 unit x Rp 872,22 = Rp 43.612

Berdasarkan metode Average, nilai persediaan yang diperoleh adalah nilai rata-ratapersediaan
yang diperoleh. Jadi harga pokok penjualan dan persediaan akhir per 31 Desember2014 dengan
sistem periodik adalah sebesar Rp 741.388 dan Rp 43.612

Metode masuk pertama keluar pertama ( First In First Out – FIFO)

a. Total Pembelian :
b. Perhitungan Harga Pokok Penjualan :

c. Persediaan Akhir = 50 unit x Rp 950 = Rp 47.500.

Berdasarkan metode FIFO, persediaan yang terjual adalah persediaan yang diperoleh lebih awal,
mulai dari bulan Februari sampaidengan Agustus secara berturut-turut, namun pada bulan
Agustus yang baru terjual 250 unitmaka masih tersisa 50 unit. Jadi harga pokok penjualan dan
persediaan akhir per 31Desember 2014 dengan sistem periodik adalah sebesar Rp 737.500 dan
Rp 47.500.

3. Metode masuk terakhir keluar terakhir

(Last In First Out – LIFO)

a.Total Pembelian :

b. Perhitungan Harga Pokok Penjualan :


c. Persediaan Akhir = 50 unit x Rp 800 = Rp 40.000. Berdasarkan metode LIFO, persediaanyang
terjual adalah persediaan yang diperoleh paling akhir, mulai dari bulan Agustus sampai

dengan Februari secara berturut-turut mundur ke belakang, namun pada bulan Februari yangbaru
terjual 150 unit maka masih tersisa 50 unit. Jadi harga pokok penjualan dan persediaanakhir per
31 Desember 2014 dengan sistem periodik adalah sebesar Rp 745.000 dan Rp40.000.

Perbandingan Ketiga Metode Perhitungan Persediaan Berdasarkan perhitungan diatas, berikut


adalah hasil perbandingan perhitungan metode Average, FIFO, dan LIFO.Pendapatan dan Tarif
Pajak Penghasilan diasumsikan sebesar Rp 1.000.000,00 dan 25%.

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa jika perusahaan menggunakan metode
perhitunganpersediaan LIFO, maka perusahaan dapat memperkecil laba sebelum pajak atau laba
kotor,sehingga pembayaran pajak penghasilan menjadi lebih sedikit

Dari uraian diatas sudah dapat terjawab mengapa pajak tidak mengakui metodeLIFO? Karena
dengan menggunakan metode LIFO perusahaan dapat meminimalkan labasehingga memperkecil
biaya pajak penghasilan. Seiring dengan berjalannya waktu hargapembelian persediaan terus
mengalami peningkatan yang dapat disebabkan oleh inflasi,
maka jika perusahaan menggunakan metode LIFO akan mengakibatkan kerugian bagi negarakar
ena setoran ke kas negara semakin sedikit. Oleh karena itu, metode yang boleh
digunakanberdasarkan ketentuan perpajakan di Indonesia hanya metode Average atau FIFO

Ketentuan yang menyangkut akuntansi persediaan untuk kepentingan akuntansi komersial


berlaku untuk kepentingan fiscal . undang-undang pajakl penghasilan tidak mewajibkan
menggunakan metode fisik sebagai dasar perhitungan , tetapi menyarankan untuk menggunakan
metode perpectual .

Sebagian telah di jelaskan ebelumnya bahwa standart akuntansi keuangan (SAK)


memberlakukan alternative dasar penilaian persedian yaitu metode, harga perolehan dan metode
harga yang terendah antara harga perolehan dan harga pasar . undang-undang pajak penghasilan
memberlakukan satu metode yaitu nilai perolehan . dasar ini menimbulkan perbedaan waktu
yang memunculkan pajak tangguhan pada neraca / laporan posisi keuangan komersial.

Dalam perusahaan industry alokasi biaya dapat digunakan metode harga pokok penuh ( full
coating) atau menggunakan variable coasting . penggunaan metode harga pokok penuh dapat di
gunakan biaya standart setiap terjadinya penyimpangan akan teralokasi ke harga pokok
penjualan . namun undang-undang pajak penghasilan tidak memperkenankan biaya produksi
tidak langsung sebagai beban periode. Demikian halya menghapuskan nilii persediaan tidak
diperkenankan , kecuali apabila nilai persediaan tersebut nyata-nyata secara fisik tidak dapat
dijual atau digunkan dalam kegiatan perusahaan yang biasa di kategorikan rusak, cacat atau
usang .
Studi kasus 1

Tgl 3 Maret 2012 PT. B membeli 100 unit brg dagangan dng harga Rp 5.000.000 (harga belum
termasuk PPN ) secara tunai. PT. B telah dikukuhkan sebagai PKP sejak
31Januari 2005. Pembukuan atas persedian dilakukan secara perpetual.

Jurnal untk transaksi tsb

03/03/12 Persedian barang dagangan 5.000.000

Pajak Masukan 500.000

Kas/Bank 5. 500.000

Catatan: Pajak Masukan : 10% X Rp 5.000.000 = Rp 500.000

Harga 1 unit barang dagangan adalah Rp 5.000.000 : 100 unit = Rp500.000

Pd tgl 31 Maret 2012, PT. B menjual 30 unit brg dagangansecara tunai dng harga jual per
masing-masing unitsebesar Rp 70.000 (belum termasuk PPN) .

Jurnal transaksi tsb:

31/03/12 Kas/bank 2.310.000

Pajak Keluaran 210.000

Penjualan 2.100.000

Harga Pokok Penjualan 1.500.000

Persedian Barangdagangan 1.500.000

(30 unit X Rp 50.000)

Catatan:

Pajak Keluaran : 10 % X Rp 2.100.000 = Rp 210.000Persedian brg dagangan yg tersisa dan


tercatat dlm pembukuan PT. Bper tanggal 31 Maret 2012 adalah : 70 unit X Rp 50.000 = Rp
3.500.000
Jika PT. B belum dikukuhkan sebagai PKP maka jurnal pada saat pembelian brg dagangan sbb:

03/03/12 Persedian barangdagangan 5.500.000

Kas/ Bank 5.500.000

PT. B tdk dpt mengkreditkan Pajak Masukannyasehingga Pajak Masukan dimasukkan


sebagaiharga perolehan brg dagangan. Jadi I unit barangdagangan adalah Rp 5.500.000 : 100 unit
= Rp55.000.

Jurnal transaksi penjualan:

31/03/12 Kas/Bank 2.100.000

Penjualan 2.100.000

Harga Pokok Penjulan 1.650.000

Persedian brg dagangan 1.650.000

(30 unit X Rp 55.000)

Karena bukan PKP maka PT. B tidak memungut Pajak keluaran

Studi kasus 2

Analisis Kasus Akuntansi Perpajakan Persediaan pada PT.Gudang GaramPersediaan PT.


Gudang Garam dinilai menurut harga yang lebih rendah antara biayaperolehan atau nilai bersih
yang dapat direalisasi (net realizable value). Biaya perolehanbarang jadi rokok dihitung
berdasarkan biaya produksi rata-rata sebenarnya, ditambah biayapembungkusan dan pita cukai (
termasuk PPN dan pajak rokok) untuk rokok yang telah dibungkus dan di beri pita cukai. Biaya
perolehan barang dagang dihitung dengan metode FIFO( First in First out), sedangkan biaya
perolehan bahan baku/ pembantu, suku cadang dankeperluan pabrik dihitung dengan metode
rata-rata.Jika disesuiakan dengan peraturan perpajakan, metode yang telah di terapkan
PT.Gudang Garam dalam penilaian persediaan sudah sesuai dengan UU PPh Nomor 36
Tahun2008 Pasal 10 ayat 6, yaitu metode rata-rata (average) atau metode mendahulukan
persediaanyang didapat pertama (FIFO). Selain itu penilaian yang diterapkan oleh PT. Gudang
Garamdinilai menurut harga yang lebih rendah antara biaya perolehan atau nilai bersih yang
dapatdirealisasi (net realizable value). Sesuia dengan prisip perpajakan, dimana persediaan
dinilaitidak berdasarkan penaksiran atau perkiraan.Akuntansi Perpajakan persediaan PT.Gudang
Garam telah melekatkan PPN terkaittransaksi jual beli persediaan. Seperti perolehan pita cukai
(termasuk PPN dan Pajak Rokok)di perhitungkan berdasarkan indentifikasi khusus terhadap
harga beli aktualnya ( SistemPerpetual ).
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Persediaan (inventory), adalah meliputi semua barang yang dimiliki perusahaan pada saat
tertentu, dengan tujuan untuk dijual atau dikonsumsi dalam siklus operasi normal perusahaan.
Aktiva lain yang dimiliki perusahaan, tetapi tidak untuk dijual atau dikonsumsi tidak termasuk
dalam klasifikasi persediaan. Persediaan merupakan aktiva perusahaan yang menempati posisi
yang cukup penting dalam suatu perusahaan. Dengan gambaran tersebut maka persediaan untuk
perusahaan-perusahaan manufaktur pada umumnya mempunyai tiga jenis persediaan yaitu: 1.
Bahan baku (direct material) 2. Barang dalam proses (work in proses) 3. Barang jadi (finished
goods). Metode yang dapat digunakan dalam hubungannya dengan pencatatan persediaan ada
dua, yaitu: 1. Metode Stock Opname atau Metode Periodik (Fisik) 2. Metode Perpetual. Masalah
kepemilikan barang dalam perjalanan (Goods in transit) sangat tergantung dari perjanjian yang
disepakati oleh penjual dan pembeli. 2 syarat tersebut adalah (1) Fob Shipping Point dan (2) Fob
Destination. Tidak semua barang yang berada di gudang/toko bisa diakui menjadi milik
perusahaan, misalnya barang titipan (barang konsinyasi) dari pihak lain dengan tujuan akan
dijual untuk dan atas nama pihak lain tersebut dengan mendapatkan sejumlah komisi
(consignment in) tidak dapat diakui sebagai milik perusahaan. Sebaliknya untuk barang yang
sifatnya consigment out, yang sampai dengan tanggal neraca belum terjual harus dicantumkan di
Neraca.
Sistem pencatatan (administrasi) persediaan ada dua, yang pertama sistem fisik/periodik
(periodic inventory system), berdasarkan sistem ini persediaan ditentukan dengan melakukan
menghitung fisik terhadap persediaan. Penghitungan fisik persediaan dilakukan secara periodik.
Dalam sistem ini pencatatan terhadap mutasi persediaan tidak selalu diikuti. Oleh karena itu
prosedur penghitungan fisik persediaan pada akhir periode harus dilakukan (mandatory
procedure) untuk dapat menentukan fisik persediaan yang akan dilaporkan dalam laporan
keuangan. Hasil perhitungan fisik ini dipakai sebagai dasar penentuan nilai persediaan. Yang
kedua, sistem perpetual (perpetual inventory system), Pencatatan terhadap mutasi persediaan
selalu diikuti secara konsisten, dengan mencatat semua transaksi yang menyebabkan berkurang
atau bertambahnya persediaan.
Penilaian dengan pendekatan arus harga pokok (cost basic flow approach) terdapat dua
sistem pencatatan persediaan yaitu sistem periodik dan sistem perpetual yang masing-masing ada
tiga cara penilaian persediaan, yaitu: 1. FIFO (First in First Out), masuk pertama keluar pertama
(MPKP), metode ini menyatakan bahwa persediaan dengan nilai perolehan awal (pertama)
masuk akan dijual (digunakan) terlebih dahulu, sehingga persediaan akhir dinilai dengan nilai
perolehan persediaan yang terakhir masuk (dibeli). 2. LIFO (Last In First Out), masuk terakhir
keluar pertama (MTKP), metode ini menyatakan bahwa persediaan dengan nilai perolehan
terakhir masuk akan dijual (digunakan) terlebih dahulu, sehingga persediaan akhir dinilai dan
dilaporkan berdasarkan nilai perolehan persediaan yang awal (pertama) masuk atau dibeli.
Metode ini cenderung menghasilkan nilai persediaan akhir yang rendah dan berdampak pada
nilai aktiva perusahaan yang rendah. 3. Metode Rata-rata (average method), dengan
menggunakan metode ini nilai persediaan akhir akan menghasilkan nilai antara nilai persediaan
metode FIFO dan nilai persediaan LIFO. Metode ini juga akan berdampak pada nilai harga
pokok penjualan dan laba kotor. Dalam penilaian persediaan selain arus harga pokok ada tiga
metode yang digunakan, yaitu: 1. Lower Cost of Market, yaitu metode harga terendah antara
harga pokok dan harga pasar. Metode ini dapat diterapkan dalam kondisi persediaan tidak
normal, misalnya cacat, rusak dan kadaluarsa. 2. Gross Profit Method, metode laba kotor ini
bersifat estimasi dalam penilaian persediaannya. Biasanya diterapkan karena keterbatasan
dokumen yang terkait dengan persediaan, misalnya karena terjadi bencana kebakaran dan banjir.
3. Retail Method, metode eceran ini menilai persediaan akhir dengan cara menghitung terlebih
dahulu nilai persediaan akhir berdasarkan eceran.
DAFTAR PUSTAKA

Waluyo.2017.Akuntansi Pajak Edisi 6.Jakarta: Penerbit Salemba Empat


https://www.academia.edu/24720519/Akuntansi_Perpajakan_Persediaan