Anda di halaman 1dari 11

BAB III

TINJAUAN UMUM WELDING ( PENGELASAN )

3.1 PENGERTIAN UMUM WELDING ( PENGELASAN )

Pengelasan (welding) adalah salah salah satu teknik penyambungan logam


dengan cara mencairkan sebagian logam induk dan logam pengisi dengan atau
tanpa tekanan dan dengan atau tanpa logam penambah dan menghasilkan
sambungan yang kontinyu.

Lingkup penggunaan teknik pengelasan dalam kontruksi sangat luas,


meliputi perkapalan, jembatan, rangka baja, bejana tekan, pipa pesat, pipa saluran
dan sebagainya.

Disamping untuk pembuatan, proses las dapat juga dipergunakan untuk


reparasi misalnya untuk mengisi nlubang-lubang pada coran. Membuat lapisan las
pada perkakas mempertebal bagian-bagian yang sudah aus, dan macam –macam
reparasi lainnya.

Pengelasan bukan tujuan utama dari kontruksi, tetapi hanya merupakan


sarana untuk mencapai ekonomi pembuatan yang lebih baik. Karena itu rancangan
las dan cara pengelasan harus betul-betul memperhatikan dan memperlihatkan
kesesuaian antara sifat-sifat lasdengan kegunaan kontruksi serta kegunaan
disekitarnya.

Prosedur pengelasan kelihatannya sangat sederhana, tetapi sebenarnya


didalamnya banyak masalah-masalah yang harus diatasi dimana pemecahannya
memerlukan bermacam-macam penngetahuan.

Karena itu didalam pengelasan, penngetahuan harus turut serta


mendampingi praktik, secara lebih bterperinci dapat dikatakan bahwa
perancangan kontruksi bangunan dan mesin dengan sambungan las, harus
direncanakan pula tentang cara-cara pengelasan. Cara ini pemeriksaan, bahan las,
dan jenis las yang akan digunakan, berdasarkan fungsi dari bagian-bagian
bangunan atau mesin yang dirancang.
Berdasarkan definisi dari DIN (Deutch Industrie Normen) las adalah
ikatan metalurgi pada sambungan logam paduan yang dilaksanakan dalam
keadaan lumer atau cair. Dari definisi tersebut dapat dijabarkan lebih lanjut bahwa
las adalah sambungan setempat dari beberapa batang logam dengan menggunakan
energi panas. Pada waktu ini telah dipergunakan lebih dari 40 jenis pengelasan
termasuk pengelasan yang dilaksanakan dengan cara menekan dua logam yang
disambung sehingga terjadi ikatan antara atom-atom molekul dari logam yang
disambungkan.klasifikasi dari cara-cara pengelasan ini akan diterangkan lebih
lanjut.

Pada waktu ini pengelasan dan pemotongan merupakan pengelasan


pengerjaan yang amat penting dalam teknologi produksi dengan bahan baku
logam. Dari pertama perkembangannya sangat pesat telah banyak teknologi baru
yang ditemukan. Sehingga boleh dikatakan hamper tidak ada logam yang dapat
dipotong dan di las dengan cara-cara yang ada pada waktu ini.

3.2 SEJARAH UMUM PENGELASAN

Para ahli sejarah memperkirakan bahwa orang Mesir kuno mulai


menggunakan pengelasan dengan tekanan pada tahun 5500 SM (untuk membuat
pipa tembaga dengan memalu lembaran yang tepinya saling menutup). Winterton
menyebutkan bahwa bendaseni orang Mesir yang dibuat pada tahun 3000 SM
terdiri dari bahan dasar tembaga dan emas hasil peleburan dan pemukulan. Jenis
pengelasan ini, yang disebut pengelasan tempa {forge welding), merupakan usaha
manusia yang pertama dalam menyambung dua potong logam. Contoh pengelasan
tempa kuno yang terkenal adalah pedang Damascus yang dibuat dengan menempa
lapisan besi. Pengelasan tempa telah berkembang dan penting bagi orang Romawi
kuno sehingga mereka menyebut salah satu dewanya sebagai Vulcan (dewa api
dan pengerjaan logam) untuk menyatakan seni tersebut. Sekarang kata Vulkanisir
dipakai untuk proses perlakuan karet dengan sulfur, tetapi dahulu kata ini berarti
“mengeraskan”. Dewasa ini pengelasan tempa secara praktis telah ditinggalkan
dan terakhir dilakukan oleh pandai besi. tahun 1901-1903 Fouche dan Picard
mengembangkan tangkai las yang dapat digunakan dengan asetilen (gas karbit),
sehingga sejak itu dimulailah zaman pengelasan dan pemotongan oksiasetilen (gas
karbit oksigen). Periode antara 1903 dan 1918 merupakan periode pemakaian las
yang terutama sebagai cara perbaikan, dan perkembangan yang paling pesat
terjadi selama Perang Dunia I (1914-1918). Teknik pengelasan terbukti dapat
diterapkan terutama untuk memperbaiki kapal yang rusak. Winterton melaporkan
bahwa pada tahun 1917 terdapat 103 kapal musuh di Amerika yang rusak dan
jumlah buruh dalam operasi pengelasan meningkat dari 8000 sampai 33000
selama periode 1914-1918. Setelah tahun 1919, pemakaian las sebagai teknik
konstruksi dan pabrikasi mulai berkembang dengan pertama menggunakan
elektroda paduan (alloy) tembaga-wolfram untuk pengelasan titik pada tahun
1920. Pada periode 1930-1950 terjadi banyak peningkatan dalam perkembangan
mesin las. Proses pengelasan busur nyala terbenam (sub merged) yang busur
nyalanya tertutup di bawah bubuk fluks pertama dipakai secara komersial pada
tahun 1934 dan dipatenkan pada tahun 1935. Sekarang terdapat lebih dari 50
macam proses pengelasan yang digunakan untuk menyambung berbagai logam.
Pengelasan yang kita lihat sekarang ini jauh lebih kompleks dan sudah sangat
berkembang. Kemajuan dalam teknologi pengelasan tidak begitu pesat sampai
tahun 1877. Sebelum tahun 1877, proses pengelasan tempa dan peyolderan telah
dipakai selama 3000 tahun. Asal mula pengelasan tahanan listrik (resistance
welding) dimulai sekitar tahun 1877 ketika Prof. Elihu Thompson memulai
percobaan pembalikan polaritas pada gulungan transformator, dia mendapat hak
paten pertamanya pada tahun 1885 dan mesin las tumpul tahanan listrik
(resistance butt welding) pertama diperagakan di American Institute Fair pada
tahun 1887. Pada tahun 1889, Coffin diberi hak paten untuk pengelasan tumpul
nyala partikel (flash-butt welding) yang menjadi satu proses las tumpul yang
penting. Zerner pada tahun 1885 memperkenalkan proses las busur nayala karbon
(carbon arc welding) dengan menggunakan dua elektroda karbon, dan N.G.
Slavinoff pada tahun 1888 di Rusia merupakan orang pertama yang menggunakan
proses busur nyala logam dengan memakai elektroda telanjang (tanpa lapisan).
Coffin yang bekerja secara terpisah juga menyelidiki proses busur nyala logam
dan mendapat hak paten Amerika dalam tahun 1892. Pada tahun 1889, A.P.
Strohmeyer memperkenalkan konsep elektroda logam yang dilapis untuk
menghilangkan banyak masalah yang timbul pada pemakaian elektroda telanjang.
Thomas Fletcher pada tahun 1887 memakai pipa tiup hidrogen dan oksigen yang
terbakar, serta menunjukkan bahwa ia dapat memotong atau mencairkan logam.

3.3 LAS GMAW (Gas Metal Arc Welding

3.3.1 Pengertian GMAW

 Pengertian Pengelasan GMAW (Gas Metal Arc Welding)


Adalah salah satu jenis proses Pengelasan atau penyambungan bahan
logam yang menggunakan sumber panas dari energi listrik yang dirubah
atau dikonversi menjadi energi panas, pada proses Las GMAW ini
menggunakan kawat las yang digulung dalam suatu roll dan menggunakan
gas sebagai pelindung logam las yang mencair saat proses pengelasan
berlangsung.

 Proses pengelasan GMAW ini terjadi karena adanya perpindahan ion


anoda dan katoda pada base metal dan logam pengisi sehingga
menyebabkan timbulnya energi panas yang menyebabkan logam induk
dan filler metal mencair.

 Pengelasan GMAW dapat menggunakan gas Argon (Ar) yang biasa


disebut MAG ataupun gas Karbondioksida (CO2) yang biasa disebut MIG

3.3.2 Kelebihan dan Kekurangan Las GMAW

A. Kelebihan Las GMAW

Pada umumnya proses pengelasan GMAW memiliki beberapa kelebihan,


yaitu:

 Efisiensi tinggi dan proses pengerjaannya cepat;


 Dapat digunakan untuk semua posisi pengelasan (welding position);
 Tidak menghasilkan slag atau terak, layaknya yang terjadi pada las
SMAW/MMAW;
 Memiliki jumlah deposit (deposition rates) yang lebih tinggi dibandingkan
SMAW;
 Proses pengelasan GMAW sangat cocok untuk pekerjaan konstruksi;
 Membutuhkan sedikit pembersihan setelah pengelasan.
B. Kekurangan Las GMAW

Pada proses pengelasan GMAW memiliki beberapa kelemahan , antara lain :

 Wire-feeder memerlukan pengontrolan yang kontinyu;


 Sewaktu waktu dapat terjadi Burnback;
 Cacat las porositi/lubang-lubang kecil sering terjadi akibat pengunaan gas
pelindung yang kualitasnya tidak baik;
 Busur yang tidak stabil, akibat ketrampilan operator yang kurang baik;
 Pada awalnya set-up pengelasan merupakan permulaan yang sulit.

3.3.3 Proses Pengelasan GMAW

 Proses pengelasan GMAW, panas dari proses pengelasan ini dihasilkan


oleh busur las yang terbentuk diantara elektroda kawat (wire electrode)
dengan benda kerja. Selama proses pengelasan, elektroda akan meleleh
kemudian menjadi deposit logam las dan membentuk butiran las (weld
beads). Gas pelindung digunakan untuk mencegah terjadinya oksidasi dan
melindungi hasil las selama masa pembekuan (solidification).
 Proses pengelasan GMAW beroperasi menggunakan arus searah (DC),
biasanya menggunakan elektroda kawat positif. Ini dikenal sebagai
polaritas “terbalik” (reverse polarity). Polaritas searah sangat jarang
digunakan karena transfer logam yang kurang baik dari elektroda kawat ke
benda kerja. Hal ini karena pada polaritas searah, panas terletak pada
elektroda. Proses pengelasan GMAW menggunakan arus sekitar 50 A
hingga mencapai 600 A, dan menggunakan tegangan 15 volt hingga 32
volt.
+
E LE K T R O D A

+ -
+ -
+ -
BASE METAL
-

 Prosedur Pengelasan GMAW Secara Umum :


1. Bersihkan jalur logam yang akan dilas
2. Pilih elektroda yang akan digunakan, untuk logam yang tipis gunakan
diameter yang kecil, sedangkan untuk logam yang tebal gunakan
elektroda dan mesin yang lebih besar
3. Gunakan jenis elektroda yang tepat, sesuai dengan logam dasarnya
(base metal) dan posisi pengelasannya
4. Gunakan jenis gas pelindung yang tepat (lihat bab mengenai gas
pelindung), sesui dengan jenis logamnya (ferro atau non ferro)
5. Setting semua parameter pengelasan pada mesin las
6. Nyalakan mesin las
7. Jaga jarak stickout tetap antara ¼ hingga 3/8 inchi (lihat bab mengenai
ekstensi elektroda)
8. Jaga posisi torch sesuai arah pengelasan
9. Setelah selesai, matikan mesin las
10. Bersihkan jika ada slag
3.3.4 Komponen Las GMAW

1. Mesin Las GMAW

Proses pengelasan GMAW pada umumnya menggunakan arus bolak balik


(DC/Direct Current) dan menggunakan polaritas terbalik dimana kutub positif
pada elektroda dan kutub negatif pada benda kerja. Mesin las GMAW
menggunakan jenis mesin yang memiliki karakteristik tegangan konstan.
Tegangan konstan ini akan menentukan panjang busur las. Ketika terjadi
perubahan mendadak kecepatan wirefeed, atau terjadi perubahan sementara dari
panjang busur las; maka mesin las secara tiba-tiba akan merubah arus listrik.
Sehingga perubahan panjang busur dapat diatur dengan mengatur perubahan
tegangan pada mesin las.
2. Wirefeeder

Pada dasarnya terdapat tiga jenis wirefeeder; yaitu jenis dorong, jenis tarik,
jenis dorong-tarik. Perbedaannya adalah dari cara menggerakan elektroda dari
spool ke tourch. Kecepatan dari wirefeeder dapat diatur mulai dari 1 hingga 22
m/menit (pada mesin las GMAW performa tinggi, kecepatannya dapat mencapai
30 m/menit).

3. Torch

Torch berfungsi untuk menyatukan sistem las yang berupa penyalaan


busur dan perlindungan gas lindung selama dilakukan proses pengelasan.
a) Sesuai deangan bentuknya torch dibagi atas :
 Torch general
 Torch pistol (gun torch)
b) Menurut jenis pendinginnya, torch dibagi atas dua jenis, yaitu :
 Torch dengan pendingin udara
 Torch dengan pendingin air
c) Bagian-Bagian Torch

4. Pipa Kontak
Pipa pengarah elektroda biasa juga disebut pipa kontak. Pipa kontak
terbuat dari tembaga, dan berfungsi untuk membawa arus listrik ke elektroda yang
bergerak dan mengarahkan elektroda tersebut ke daerah kerja pengelasan.

Torch dihubungkan dengan sumber listrik pada mesin las dengan


menggunakan kabel. Karena elektroda harus dapat bergerak dengan bebas dan
melakukan kontak listrik dengan baik, maka besarnya diameter lubang dari pipa
kontak sangat berpengaruh.