Anda di halaman 1dari 121

SKRIPSI

GEOLOGI DAN PERSEBARAN TEBAL BATUBARA DI


DAERAH GUNUNG PAYUNG DAN SEKITARNYA,
KECAMATAN KETAHUN, KABUPATEN BENGKULU
UTARA

Oleh:

Hazred Umar Fathan


NIM. 03071381320003

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2018

i
SKRIPSI

GEOLOGI DAN PERSEBARAN TEBAL BATUBARA DI


DAERAH GUNUNG PAYUNG DAN SEKITARNYA,
KECAMATAN KETAHUN, KABUPATEN BENGKULU
UTARA

Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana


Teknik Pada Program Studi Teknik Geologi
Universitas Sriwijaya

Oleh:

Hazred Umar Fathan


NIM. 03071381320003

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2018

i
HALAMAN PERNYATAAN INTEGRITAS

Yang bertanda tangan dibawah ini:


Nama : Hazred Umar Fathan
NIM : 03071381320003
Judul : Geologi dan Persebaran Tebal Batubara di Daerah Gunung Payung
dan Sekitarnya, Kecamatan Ketahun Kabupaten Bengkulu Utara

Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa sepanjang sepengetahuan saya di


dalam naskah skripsi ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan oleh pihak lain
untuk mendapatkan karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang
lain, kecuali yang secara tertulis diikuti dalam naskah ini dan disebut dalam sumber
kutipan dan daftar pustaka.
Apabila ternyata di dalam naskah skripsi ini dibuktikan terdapat unsur-unsur
jiplakan, saya bersedia skripsi ini digugurkan dan gelar akademik yang telah saya peroleh
(S1) dibatalkan, serta di proses sesuai dengan peraturan yang berlaku (UU No. 20 Tahun
2003 Pasal 25 Ayat 2 dan Pasal 70).

Palembang, 22 Januari 2018

Hazred Umar Fathan


NIM.03071381320003

iii
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

Yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama : Hazred Umar Fathan
NIM : 03071381320003
Judul : Geologi dan Persebaran Tebal Batubara di Daerah Gunung Payung
dan Sekitarnya, Kecamatan Ketahun Kabupaten Bengkulu Utara

Memberikan izin kepada Pembimbing dan Universitas Sriwijaya untuk


mempublikasikan hasil penelitian saya untuk kepentingan akademik apabila dalam waktu
1 (satu) tahun tidak mempublikasikan karya penelitian saya. Dalam kasus ini saya setuju
untuk menempatkan Pembimbing sebagai penulis korespondesi (corresponding author).

Palembang, 18 Januari 2018

Hazred Umar Fathan


NIM. 03071381320005

iv
UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang selalu memberikan
rahmat dan ampunan kepada setiap hambanya yang meminta. Shalawat serta salam
kepada tauladan umat Rasullah SAW atas bimbingan dan panutan hidup terbaik kepada
ummatnya. Saat ini, penulis telah berhasil menyelesaikan Laporan Tugas Akhir (TA)
yang merupakan syarat dalam kelulusan Strata Satu (S1) Program Studi Teknik Geologi
Universitas Sriwijaya.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada orang-orang disekitar penulis yang
telah membantu, membimbing, memberikan dukungan kepada penulis yaitu:

(1) Orang tua tercinta, Bapak Zulmedia dan Ibu Sri Mulyati yang selalu memberikan
nasihat, semangat, restu dan doa kepada anaknya.
(2) Dosen Pembimbing TA Prof. Dr. Ir. Edy Sutriyono, M.Sc dan Dosen
Pembimbing Akademik Dr. Ir. Endang Wiwik Dyah Hastuti, M.Sc yang selalu
memberikan ilmu yang luar biasa kepada penulis sedari awal masuk perkuliahan
hingga saat ini.
(3) Pembimbing non-akademik Pak Arthur Tarigan (PT. Firman Ketaun), Pak Aditia
(PT. Hillcon Jaya Sakti) dan Pak Ari (PT. Injatama Mining)
(4) Tim terbaik “Bengkulu Utara” Thea, Santa, Kiwi dan Hera yang menjadi partner
mapping selama di Bengkulu Utara
(5) Pak Asep (KTT), Pak Robi (HR), Pak Tintus (HSE), Pak Balia (Foreman) dan
seluruh karyawan di PT Firman Ketaun, Bengkulu - Utara
(6) Pak Agus (DPM), Pak Edi (Kepala Produksi), Pak Muslim (Kepala HRGA), Mba
Ita (HRGA) dan seluruh karyawan di PT Hillcon Jaya Sakti
(7) Pak Edi Priyo (KTT), Pak Erik (Engineer), Mas Mamat (Well Site) dan seluruh
karyawan di PT Injatama Mining.
(8) Pak Anton (Manager) dan seluruh karyawan di PT Agrosinal.
(9) Nabila Puti Bungsu sebagai orang terkasih penulis selama ini yang selalu
memberikan semangat dan dukungannya.
(10) Kepala Desa Bangun Karya dan keluarga, Mba Lastri, Kepala Desa Bukit
Harapan dan keluarga dan seluruh penduduk di Kecamatan Marga Sakti, Ulok
Kupai, Napal Putih, Ketaun dan sekitarnya.
(11) Pembina Himpunan PSTG Unsri Ibu Idarwati S.T., M.T. dan Bapak Stevanus
Nalendra Jati, S.T., M.T.
(12) Staf dosen PSTG Unsri.
(13) Keluarga Kontrakan Demang Hill Ray, Fadhli, Alan, WP, Wido dan Revi.
(14) Keluarga besar Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi (HMTG) “Sriwijaya”
(15) Rekan-rekan angkatan PSTG Unsri 2013 – 2016
(16) dan pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian TA.

Palembang, Januari 2018

Hazred Umar Fathan


NIM. 03071381320003

v
ABSTRAK

GEOLOGI DAN PERSEBARAN TEBAL BATUBARA DI DAERAH GUNUNG


PAYUNG DAN SEKITARNYA, KECAMATAN KETAHUN, KABUPATEN
BENGKULU UTARA

Secara geografis daerah penelitian berada di Gunung Payung dan sekitarnya, Kec.
Ketahun, Kab. Bengkulu Utara. Kemudian, secara tektonika berada pada Sub-Cekungan
Ipuh yang dibatasi oleh Tinggian Sebayur dan Tinggian Muko-muko. Kondisi
geomorfologi yang ditemukan yaitu berupa bentuk lahan datar, bergelombang, perbukitan
curam dan lereng sangat curam dengan pola aliran dendritik. Stratigrafi darat tersusun
oleh dua formasi dan endapan aluvial. Formasi Lemau merupakan formasi tertua yang
tersusun atas batubara dan batulempung pada bagian bawah, sedangkan pada bagian atas
tersusun dari batupasir karbonatan setempat moluska dan batulanau yang terendapkan
pada lingkungan transisi – laut dangkal dengan umur Miosen Tengah - Akhir. Formasi
Bintunan merupakan formasi termuda yang tersusun dari batulempung tufaan dan tuf
pada bagian bawah, batupasir dan konglomerat pada bagian atas yang terendapkan pada
lingkungan darat dengan umur Plio – Pleistosen. Struktur geologi yang teridentifikasi
yaitu Sesar Gunungpayung, Sesar Dusun Raja, Antiklin dan Sinklin Sumber Mulya, serta
Sinklin Airlelangi dengan tegasan utama relatif barat baratdaya – timur timurlaut.
Persebaran tebal batubara memiliki kemenerusan baratlaut – tenggara yang terdiri dari
tiga seams yaitu Seam A, B dan C. Seam B merupakan seam utama dari kegiatan
eksplorasi dan eksploitasi daerah penelitian yang memiliki tebal 2,06 – 6,5 m dengan
tebal rata-rata 4,65 m. Semakin dekat wilayah Tanjung dalam dan sekitarnya, batubara
yang ditemukan akan semakin dalam dan menebal, sedangkan batubara yang berada pada
daerah Gunungpayung dan Sebayur menuju tenggara, batubara akan semakin tipis dan
mendangkal. Kondisi tersebut menjelaskan, semakin menuju tenggara maka akan
mendekati dari batas cekungan berupa tinggian, sedangkan jika batubara yang berada
pada wilayah Tanjung Dalam, diindikasikan sebagai depocenter dari akumulasi sedimen
pembawa batubara pada daerah penelitian.
Kata kunci: batubara, tebal, lemau, bintunan, bengkulu

vi
ABSTRAC

GEOLOGY AND COAL THICKNESS DISTRIBUTION IN GUNUNG PAYUNG


AND SURROUNDING, KETAHUN, NORTH BENGKULU

The research area is located in Gunung Payung, Ketahun District, North


Bengkulu. In tectonically is located in Ipuh Sub-Basin with edge by Sebayur High and
Muko-muko High. The geomorphology units consist of flat origin, undulating origin,
steeply hills origin, and very steeply slope origin. After that, Genetic river of the research
is dendritic pattern. The stratigraphy in the research area consists of two formations and
alluvial deposit, from older to younger they were Lemau Formation, Bintunan Formation
and Quarter Alluvial. Lemau and Bintunan Formations have two parts, that are upper and
lower parts. Lower part lithology of Lemau Formation are coal and claystone with
sandstone intercalation, thus upper part is calcareous sandstone, mollusc siltstone and
sandstone contains nodule limestone and there were deposited in back-barrier system –
shallow marine. Lower part of Bintunan Formation is tuffaceous claystone, tuff and upper
part is sandstone and polymict conglomerate there were deposited in fluvial system with
influenced by volcanic activity. Sequence stratigraphy in the research have been
deposited during Middle Miocene – Recent. The geological structure consists of
Gunungpayung Normal Fault with NE – SW trend, Dusun Raja Dextral Fault with E – W
trend, Syncline and Anticline Sumber Mulya with NW – SE trend, and Syncline
Airlelangi with WNW – ESE trend. Structural geology has been formed during Late
Miocene – Recent with the maximum strain is relatively SW – NE trend. Coal thickness
distribution have NW – SE trend, consisting of three seams: Seam A, B and C. Seam B
is the main seam of exploration and exploitation that has a thickness of 2,06 – 6,5 m, with
an average 4,65 m. The closer to Tanjungdalam and surrounding areas, the coal found to
be deeper and thicker, while the coal is in the Gunungpayung and Sebayur towards the
southeast, the coal will be thinner and relatively shallow. That conditions are explained
towards to SE it will approach the basin boundary, whereas in Tanjung Dalam can be
indicated as depocenter of sediment accumulation of coal bearing in the research area.
Keywords: coal, thickness, lemau, bintunan, bengkulu

vii
DAFTAR ISI
Hal.
Halaman Judul i
Halaman Pengesahan ii
Halaman Pernyataan Integritas iii
Halaman Pernyataan Persetujuan Publikasi iv
Ucapan Terima Kasih v
Abstrak dan Abstract vi
Daftar Isi viii
Daftar Tabel x
Daftar Gambar xi
Daftar Foto xiii
Daftar Lampiran xv

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 1
1.3 Batasan Masalah 1
1.4 Maksud dan Tujuan Penelitian 2
1.5 Pelaksanaan Penelitian 2
1.6 Kesampaian Daerah Penelitian 2
1.7 Sistematika Laporan Hasil Penelitian 3
BAB II GEOLOGI REGIONAL
2.1 Tatanan Tektonika 4
2.2 Stratigrafi Cekungan Bengkulu 7
2.2.1 Batuan Dasar 7
2.2.2 Formasi Hulusimpang 7
2.2.3 Formasi Seblat 8
2.2.4 Formasi Lemau 8
2.2.5 Formasi Simpang Aur 8
2.2.6 Formasi Bintunan 8
2.3 Struktur Geologi Cekungan Bengkulu 10
2.3.1 Paleogen - Eosen Graben System 10
2.3.2 Oligosen Akhir - Miosen Graben System 11
2.3.3 Uplift Pliosen - Resen 11
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Tahap Persiapan 12
3.2 Tahap Observasi Lapangan 13
3.2.1 Alat dan Bahan 13
3.2 Tahap Pengolahan dan Analisis Data 14
3.3.1 Analisis Geomorfologi 14
3.3.2 Penampang Terukur 15
3.3.3 Pengukuran Struktur 17

viii
3.3.4 Analisis Fasies 18
3.3.5 Analisis Petrografi 18
3.3.6 Analisis Paleontologi 18
3.3.7 Analisis Studio 19
3.4 Tahap Penyelesaian 19
BAB IV GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
4.1 Geomorfologi 20
4.1.1 Pola Kelurusan 21
4.1.2 Kemiringan Lereng 22
4.1.3 Pola Aliran Sungai 22
4.1.4 Tahapan Proses Geomorfik 22
4.2. Stratigrafi Lokal 28
4.2.1 Formasi Lemau 28
4.2.1.1 Penyebaran 28
4.2.1.2 Umur dan Lingkungan Pengendapan 32
4.2.1.3 Hubungan dan Kesebandingan Stratigrafi 37
4.2.2 Formasi Bintunan 37
4.2.2.1 Penyebaran 37
4.2.2.2 Umur dan Lingkungan Pengendapan 39
4.2.2.3 Hubungan dan Kesebandingan Stratigrafi 41
4.3. Struktur Geologi 41
4.3.1 Sesar Turun Gunungpayung 42
4.3.2 Sesar Mendatar Dusun Raja 45
4.3.3 Antiklin Sumbermulya 46
4.3.4 Sinklin Sumbermulya 47
4.3.5 Sinklin Airlelangi 48
4.3.6 Mekanisme Pembentukan Struktur Geologi 49
BAB V PERSEBARAN TEBAL BATUBARA
5.1 Dasar Teori 51
5.1.1 Prinsip Korelasi Batuan 51
5.1.2 Klasifikasi Kompleksitas Batubara Berdasarkan Pengaruh Tektonik 50
5.2. Tahapan Identifikasi Proses Tebal Batubara 52
5.3. Analisis Perubahan Tebal Batubara 54
5.3.1. Geologi Permukaan 54
5.3.1.1. Karakteristik Batubara 56
5.3.2. Geologi Bawah Permukaan. 57
5.3.2.1. Data Bor dan Log Desa Tanjung Dalam. 58
5.3.2.2. Data Bor dan Log Desa Airlelangi dan Pondokbakil 62
5.3.2.3. Korelasi Batubara Bawah Permukaan 64
BAB VI SEJARAH GEOLOGI 67
BAB VII KESIMPULAN 70
DAFTAR PUSTAKA 71
LAMPIRAN

ix
DAFTAR TABEL
Hal.

Tabel 4.1. Tabel klasifikasi tahapan geomorfik (Brahmantyo dan Bandono, 24


2006)
Tabel 4.2. Karakteristik bentuk lahan daerah penelitian merujuk dari klasifikasi 25
Bermana (2006).
Tabel 5.1. Pengaruh dari tektonik dan sedimentasi sebagai aspek penilaian 52
dalam pengklasifikasian kompleksitas geologi batubara berdasarkan
(Anonim, 2011)
Tabel 5.2. Tabulasi data pegukuran batubara daerah penelitian 57

x
DAFTAR GAMBAR
Hal.
Gambar 1.1. Peta Indeks Daerah Penelitian 2
Gambar 2.1. Model Ellipsoid Pada Pulau Sumatera Dari Jura Akhir – 3
Resen (Pulunggono,1992) dengan modifikasi
Gambar 2.2. Peta Satuan Morfologi Pada Zona Bengkulu (Pardede dkk., 4
1993)
Gambar 2.3. Korelasi stratigrafi darat di Cekungan Bengkulu Yulihatanto 5
dkk., (1995) dan Kusnama dkk., (1992) dengan modifikasi.
Gambar 2.4. Kolom Stratigrafi Inti Bor Di Daerah Sebayur, Ketaun 7
(Heryanto dan Suyoko, 2007).
Gambar 2.5. Konfigurasi struktur Paleogen - Eosen Graben System yang 9
bekerja pada Cekungan Bengkulu (Yulihatanto dkk. 1995)
dengan modifikasi
Gambar 3.1. Diagram Alur Penelitian 11
Gambar 3.2. Metode dalam pengukuran penampang terukur dengan rentang 14
tali.
Gambar 3.3. Cara menentukan ketebalan lapisan dengan berbagai 15
kemiringan lereng.
Gambar 3.4. Hubungan struktur kekar, sesar dan lipatan yang merupakan 16
simple shear model (Harding dkk., 1974)

Gambar 4.1. Histogram Kelurusan 21

Gambar 4.2. Pola kelurusan daerah penelitian dari data SRTM (garis merah 21
dan biru merupakan interpretasi arah kelurusan)
Gambar 4.3. (a) Diagram roset pola umum kelurusan berdasarkan 21
penarikan dari data SRTM, (b) Diagram roset strike/dip
lapisan batuan berdasarkan pengukuran lapangan.
Gambar 4.4. Peta NDVI 24
Gambar 4.5. Stratigrafi tidak resmi daerah penelitian (hiatus merupakan 28
Formasi Simpang Aur yang merujuk dari stratigrafi regional
menurut Yulihanto dkk. (1995)
Gambar 4.6 Penampang stratigrafi terukur pada LP 83 yang merupakan 34
bagian bawah Formasi Lemau.
Gambar 4.7. Penampang stratigrafi terukur pada LP 01 yang merupakan 35
bagian atas Formasi Lemau dan kontak tidak selaras dengan
Formasi Bintunan.
Gambar 4.8. Penampang stratigrafi terukur pada LP 38 yang merupakan 36
bagian atas Formasi Lemau dan kontak tidak selaras dengan
Formasi Bintunan.
Gambar 4.9. Profil singkapan batupasir pada LP 14. 40
Gambar 4.10. Profil singkapan konglomerat pada LP 12. 41
Gambar 4.11. Sesar turun Gunungpayung di lapangan pada lokasi tambang. 42

xi
Gambar 4.12. Analisis stereografis menggunakan stereonet dalam penamaan 43
sesar di LP 01 yaitu Left Normal Slip Fault (Rickard, 1972)
Gambar 4.13. Analisis stereografis menggunakan stereonet dalam penamaan 44
sesar di LP 93 yaitu yaitu Normal Left Slip Fault (Rickard,
1972)
Gambar 4.14. Kenampakan Sesar mendatar dan lembah yang 46
memperlihatkan pembelokan pada Sungai Ketaun menjadi
bukti dari pergerakan sesar.
Gambar 4.15. Analisis stereografis dalam penamaan sesar di LP 84 yaitu 46
Reverse Left Slip Fault (Rickard, 1972).
Gambar 4.16. Analisis lipatan menggunakan stereonet pada Antiklin 47
Sumbermulya yaitu upright horizontal fold (Fleuty, 1964)
Gambar 4.17. Analisis lipatan menggunakan stereonet pada Sinklin 48
Sumbermulya yaitu upright horizontal fold (Fleuty, 1964)
Gambar 4.18. Analisis lipatan menggunakan stereonet pada Sinklin 49
Airlelangi yaitu upright horizontal fold (Fleuty, 1964)
Gambar 4.19. Simple Shear model daerah penelitian. 50
Gambar 5.1. Luas daerah penelitian dengan lokasi data bor dan logging 53
sumur.
Gambar 5.2. Peta geologi dari lima lokasi pemetaan. 55
Gambar 5.3. Blok Diagram persebaran formasi. 56
Gambar 5.4. Peta indeks menunjukkan garis korelasi sumur bor pada Desa 59
Tanjung Dalam.
Gambar 5.5. Profil bor vertikal pada Desa Tanjung Dalam. 59
Gambar 5.6. Fence diagram pada Desa Tanjungdalam. 60
Gambar 5.7. Korelasi lapisan batubara pada daerah Desa Tanjung Dalam 61
(Sumber data bor dari PT Firman Ketaun)
Gambar 5.8. Korelasi data logging sumur pada daerah Ailelangi (Sumber 63
data log dari PT Injatama Mining)
Gambar 5.9. Lokasi korelasi sumur bor daerah penelitian. 64
Gambar 5.10. Korelasi lapisan batubara di Desa Tanjung dalam, Airlelangi 65
dan Pondokbakil.
Gambar 5.11. Ilustrasi pola sebaran batubara pada Sub-Cekungan Ipuh di 66
daerah penelitian.
Gambar 6.1. Diagram blok Miosen Tengah. 67
Gambar 6.2. Diagram blok Miosen Tengah – Akhir 68
Gambar 6.3. Diagram blok Miosen Akhir saat pengangkatan. 68
Gambar 6.4. Diagram blok Miosen Akhir saat terbentuknya struktur 69
geologi (a) Kondisi terjadi sesar turun, (b) Sesar mendatar
memotong sesar turun
Gambar 6.5. Diagram blok Miosen Akhir-sekarang. 69
Gambar 6.6. Perkembangan tektonik pada daerah penelitian. 70

xii
DAFTAR FOTO
Hal.
Foto 4.1. Proses longsoran yang terjadi pada bekas lahan tambang Desa 23
Gunung Payung pada IUP PT Injatama Mining (a). PIT 1 (b). PIT
3.
Foto 4.2. Bentuk Lembah “U” dengan lebar simetri pada Sungai Ketaun 23
memiliki endapan aluvial yang menunjukkan sungai berstadia
tua.
Foto 4.3. Bentuk lahan Dataran pada bagian timur Sungai Ketaun yang 25
dimanfaatkan sebagai persawahan.
Foto 4.4. Bentuk lahan Bergelombang atau lereng landai 26
Foto 4.5. Satuan bentuk lahan perbukitan terdenudasi dengan vegetasi 26
berupa Pohon Karet dan Sawit.
Foto 4.6. Satuan bentuk lahan lereng sangat curam 27
Foto 4.7. Bentuk lahan dari daerah penelitian didominasi oleh proses 27
denudasional dengan vegetasi yang rimbun.
Foto 4.8. Batubara pada Sungai Simiak di Desa Airlelangi. 29
Foto 4.9. Batulempung pada kedalaman ± 75m bor pada LP 36 di Desa 29
Airlelangi.
Foto 4.10. (a) Singkapan batupasir karbonatan dengan struktur bioturbasi 30
(b) Singkapan batupasir karbonatan dengan jejak koral (d)
Singkapan batupasir karbonatan dengan sisipan batulempung
membentuk struktur flaser bedding, silang siur, dan laminasi.
Foto 4.11. Batupasir gampingan yang membentuk nodul. 30
Foto 4.12. Batupasir moluska dengan kehadiran cangkang fosil yang 31
melimpah.
Foto 4.13. (a) Sample core batulanau moluska di LP 36 pada kedalaman ± 31
23m.
Foto 4.14. Singkapan batulanau moluska dengan sisipan batupasir 31
gampingan berupa nodul.
Foto 4.15. Singkapan batupasir dengan struktur sedimen silang siur, 32
herringbones dan laminasi.
Foto 4.16. Singkapan batulempung tufaan dengan bentuk menyerpih. 37
Foto 4.17. Singkapan tuff ragmen batuapung 38
Foto 4.18. Singkapan tuf yang kontak dengan batulanau mengandung 38
moluska
Foto 4.19. Singkapan batupasir di jalan kebun sawit Desa Gunungpayung 39
Foto 4.20. Singkapan konglomerat aneka bahan di anak Sungai Ketaun 39
Foto 4.21. Sesar Turun Gunungpayung di anak Sungai Ketaun. 43
Foto 4.22. Gawir yang terdapat pada LP 94 mengindikasikan sebagai 44
terusan struktur sesar pada LP 93.
Foto 4.23. Gawir sesar, gores garis dan step sesar yang dijumpai pada anak 45
Sungai Ketaun. Komponen struktur tersebut mengindikasikan
adanya pensesaran mendatar

xiii
Foto 4.24. Pengukuran pada salah satu sayap antiklin di jalan perkebunan 47
Desa Sumbermulya pada LP 65. Koordinat lokasi S3° 16’ 45.4”
E101° 53 26.5”
Foto 5.1. Batubara di wilayah Tanjungdalam pada IUP PT. Firman Ketaun 56
(Dokumentasi Linggadipura, dkk., 2017)
Foto 5.2. Batubara pada Seam B yang mengalami kontak langsung dengan 57
endapan channel (Dokumentasi Linggadipura, dkk., 2017)

xiv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A1 Analisis Petrografi LP 01


Lampiran A2 Analisis Petrografi LP 36
Lampiran A3 Analisis Petrografi LP 38
Lampiran B1 Deskripsi Paleontologi LP 04
Lampiran B2 Deskripsi Paleontologi LP 36
Lampiran B3 Deskripsi Paleontologi LP 70
Lampiran C0 Tabulasi Data Lapangan
Lampiran C1 Peta Pengamatan dan Lintasan
Lampiran C2 Peta Kelerengan
Lampiran C3 Peta Geomorfologi
Lampiran C4 Peta Geologi
Lampiran D1 Penampang Stratigrafi Terukur LP 01
Lampiran D2 Data Bor LP 36
Lampiran D3 Penampang Stratigrafi Terukur LP 38
Lampiran D4 Penampang Stratigrafi Terukur LP 65
Lampiran D5 Penampang Stratigrafi Terukur LP 83

xv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Cekungan Bengkulu merupakan cekungan muka busur berumur Tersier dengan
intensitas tektonik relatif tinggi diantara cekungan yang ada di Sumatera. Tatanan
tektonika Cekungan Bengkulu berada dekat dengan jalur subduksi Lempeng Eurasia dan
Indo-Australia pada bagian barat dan zona Bukit Barisan pada bagian timur dengan
bentuk cekungan relatif oval yang memanjang berarah baratlaut – tenggara. Sesar-sesar
utama dengan sifat aktif di Sumatera seperti Sesar Semangko dan Sesar Mentawai
memiliki peranan penting dalam pembentukan Cekungan Bengkulu dengan pergerakan
sesar mendatar. Cekungan Bengkulu memiliki tiga sub-cekungan meliputi Sub-Cekungan
Ipuh dan Kedurang pada bagian utara dan Sub-Cekungan Pagarjati pada bagian selatan
yang dipisahkan oleh Tinggian Masmambang. Kehadiran sumber daya alam seperti
batubara dan mineral menjadikan Cekungan Bengkulu menjadi salah satu cekungan yang
memiliki komiditi tambang dengan nilai ekonomis, keterdapatan lima perusahaan
batubara pada Bengkulu Utara merupakan bukti atas potensi sumber daya alam yang
dimiliki. Kemudian dengan aktivitas pertambangan yang ada di daerah studi
memudahkan penelitian dalam proses pembelajaran geologi karena tersingkapnya litologi
yang mewakili dari stratigrafi darat. Berdasarkan dari aspek geologi yang ada, daerah
penelitian mendukung untuk mengaplikasikan geomorfologi, stratigrafi dan struktur
geologi,

1.2. Rumusan Masalah


Penentuan dari rumusan masalah didasari dari kecukupan data yang akan
diperoleh saat melakukan pemetaan geologi di lapangan, demikian juga dengan
melakukan analisis laboratorium dan analisis studio, sehingga bisa menunjukkan kondisi
geologi yang berlangsung pada daerah penelitian. Rumusan masalah yang diperlukan
meliputi:
(1) Bagaimana kondisi geomorfologi yang terdapat pada daerah penelitian?
(2) Bagaimana urut-urutan stratigrafi dari tua ke muda?
(3) Peristiwa geologi yang pernah terjadi dan bertanggung jawab pada perkembangan
struktur geologi?
(4) Kondisi lingkungan pengendapan yang pada Neogen yang berpengaruh terhadap
ketebalan batubara?
(5) Bagaimana sejarah geologi daerah studi?

1.3. Batasan Masalah


Berdasarkan kajian dari geologi regional, secara tektonik daerah penelitian berada
pada Sub-Cekungan Ipuh dengan dibatasi oleh Sesar Lais dan Sesar Kayuaro yang
merupakan bagian utara dari Cekungan Bengkulu. Secara fisiografi, daerah penelitian
berada pada dataran Bengkulu yang tersusun dengan litologi berupa sedimen klastik yang
berumur Neogen. Kondisi struktur geologi dikontrol oleh pergerakan sesar utama pada
Cekungan Bengkulu yaitu Sesar Ketaun dengan arah baratlaut – tenggara. Kajian dari

1
penelitian secara umum dilakukan dengan pemetaan geologi menggunakan skala
1:25.000 dengan luasan 81 km2, sedangkan studi khusus membahas tentang perubahan
persebaran tebal batubara menggunakan data geologi permukaan dan bawah permukaan.

1.4. Maksud dan Tujuan Penelitian


Maksud penelitian adalah mengaplikasikan ilmu terapan dari pembelajaran
geologi berupa batasan studi umum dan studi khusus dengan melakukan pemetaan
geologi. Tujuan dari penelitian meliputi:
(1) Mengidentifikasi bentuk lahan yang terdapat pada daerah penelitian dari perspektif
morfologi dan morfogenesa.
(2) Menentukan urut-urutan stratigrafi dari setiap satuan batuan dan mengkategorikan
berdasarkan formasi yang ada pada geologi regional.
(3) Mengidentifikasi struktur geologi yang berkembang dan melakukan rekonstruksi
tegasan struktur yang bekerja.
(4) Mempelajari geologi bawah permukaan dan proses sedimentasi dan implikasinya
terhadap perubahan tebal batubara.
(5) Merekonstruksi dan mensintesa data geologi yang telah diinterpretasikan dan
menyusun sejarah geologi.

1.5. Pelaksanaan Penelitian


Pelaksanaan penelitian berlangsung selama 10 bulan yaitu dari bulan Oktober
2016 – Agustus 2017 meliputi penyusunan proposal, observasi lapangan, pengolahan
data, analisis laboratorium, dan penyusunan laporan akhir. Penyusunan proposal
berlangsung selama tiga bulan bersamaan dengan kegiatan perkuliahan Penulisan Kajian
Pustaka pada Oktober – Desember 2016. Tahapan observasi lapangan berlangsung pada
Januari – Maret 2017. Tahapan pengolahan data berupa analisis laboratorium dan studio
berlangsung pada April – Juni 2017 meliputi analisis petrografi dan paleontologi. Pada
analisis studio terdiri dari pembuatan peta, model geologi, korelasi data bor dan logging
sumur dengan pendukung aplikasi geologi. Tahapan akhir dari semua proses penelitian
berupa penulisan laporan yang terdiri dari tujuh bagian yaitu pendahuluan, tinjauan
pustaka, metode, hasil penelitian, studi khusus, sejarah geologi dan kesimpulan yang
berlangsung pada Juni – Agustus 2017.

1.6. Kesampaian Daerah Penelitian


Daerah penelitian berdasarkan administratif terletak pada Kecamatan Ketahun,
dan sekitarnya pada Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, dengan luas daerah
81 km2. Terdapat Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT. Injatama Mining dengan batas
koordinat LS 3° 13’ 25.0” - 3° 18’ 16.5” dan BT 101° 49’ 29.24” - 103° 54’ 21.1” (Gambar
1.1).
Akses menuju daerah penelitian bisa berasal dari Ibukota Bengkulu dengan
menempuh ± 4 jam perjalanan darat dengan jarak tempuh ±140 km kearah baratlaut.
Akses menuju daerah penelitian dapat terjangkau dengan baik karena hadirnya hauling
road dan jalan yang menghubungkan antar desa, sedangkan pada beberapa daerah
memiliki akses yang relatif sulit, sehingga berjalan kaki menjadi alternatif untuk

2
mencapai daerah penelitian. Vegetasi dan semak belukar yang tinggi mendominasi daerah
penelitian dan sebagian daerah terdiri dari perkebunan sawit dan karet.

Gambar 1.1 Peta indeks daerah penelitian

1.7. Sistematika Laporan Hasil Penelitian


Penulisan laporan hasil penelitian merupakan tahap akhir dari seluruh rangkaian
kegiatan yang mencakup observasi lapangan dan kerja laboratorium. Pembuatan
pelaporan pada prinsipnya untuk menjabarkan hasil penelitian secara sistematis dan rinci.
Sistematika laporan terdiri dari tujuh bagian yaitu:
(1) Pendahuluan menjelaskan latar belakang, maksud dan tujuan, batasan masalah,
pelaksanaan penelitian dan lokasi kesampaian daerah.
(2) Tinjauan pustaka menjelaskan kondisi geologi regional daerah penelitian,
meliputi tatanan tektonika, stratigrafi dan struktur geologi.
(3) Metode menjelaskan bagaimana tahapan dan cara yang dilakukan pada penelitian.
(4) Hasil penelitian ialah menjabarkan temuan pada saat melakukan observasi
lapangan dan analisis laboratorium.
(5) Studi khusus ialah kajian yang lebih spesifik terhadap perubahan persebaran tebal
batubara.
(6) Sejarah geologi merupakan skenario akhir dari hasil penelitian untuk
merekonstruksi proses geologi yang bekerja pada masa lampau hingga saat ini.
(7) Kesimpulan merupakan poin-poin penting dari hasil penelitian yang didapat

3
BAB II
GEOLOGI REGIONAL

2.1 Tatanan Tektonika


Sumatera terbentuk akibat adanya tumbukan antara Lempeng Indo – Australia
yang menunjam masuk ke dalam Lempeng Eurasia, dengan tiga kali perubahan sistem
subduksi yang menyebabkan terbentuknya tiga pola sesar dengan arah baratlaut –
tenggara pada Jura Akhir – Kapur Akhir dengan fase kompresi, arah utara – selatan pada
Kapur Akhir – Tersier Awal dengan fase tensional dan arah timurlaut – baratdaya pada
Miosen Tengah – Resen dengan fase kompresi (Pulunggono, 1992) (Gambar 2.1). Pada
Tersier – Resen terjadi pertemuan lempeng secara oblique dengan kecepatan 5 – 7
cm/tahun yang kemudian membentuk sudut N 025⁰E pada bagian selatan Sumatera dan
membentuk sudut N 031⁰E pada bagian utara Sumatera, sehingga terbentuk sesar utama
Sumatera dengan pergerakan strike-slip fault berupa Sesar Semangko yang membentuk
struktur penyerta sepanjang jalur sesar (Newcomb dan McCann, 1987). Selain itu, akibat
pertemuan lempeng tersebut menyebabkan terbentuknya ruang berupa half graben, horst
dan blok sesar yang kemudian membentuk cekungan-cekungan tersier yang terdiri dari
cekungan muka busur, belakang busur dan cekungan antar gunung.

Gambar 2.1. Model Ellipsoid Sumatera dari Jura Akhir – Resen (modifikasi dari
Pulunggono, 1992)

Cekungan Bengkulu merupakan cekungan muka busur dengan aktivitas tektonik


relatif tinggi yang berada di antara zona subduksi serta gugusan gunung api di sepanjang
Bukit Barisan. Menurut Yulihanto dkk. (1995) Cekungan Bengkulu merupakan cekungan
muka busur yang terdiri dari daerah darat dan lepas pantai yang terbentuk sejak Eosen -
Oligosen. Awalnya cekungan ini tersusun oleh material sedimen yang equivalent dengan
Formasi Lahat di Cekungan Sumatera Selatan. Area cekungan berbentuk relatif oval yang
memanjang baratlaut – tenggara pada bagian barat Sumatera, dibatasi oleh Tinggian
Mentawai – Enggano dibagian barat, Tinggian Bukit Barisan dibagian timur, Busur Kean
Pini dibagian baratlaut, dan ditenggara berbatasan langsung dengan Selat Sunda. Wilayah

4
cekungan melebar dari batasan Cekungan Sumatera Selatan sampai Mentawai yang
berada diantara dua sistem sesar utama Sumatera yaitu Sesar Mentawai dan Sesar
Semangko. Cekungan Bengkulu terbagi menjadi dua cekungan akibat adanya Tinggian
Masmambang yang memisahkan antar cekungan dengan arah utara – selatan yang
menjadi Sub – Cekungan Pagarjati dan Ipuh pada bagian utara dan Sub – Cekungan
Kedurang pada bagian selatan
Pada Oligosen Akhir – Miosen Awal sedimentasi di Cekungan Bengkulu
berlangsung pada kondisi perubahan lingkungan dari daratan berupa produk vulkanik
yang dominan menuju genang laut dengan kehadiran batuan-batuan sedimen penciri
lingkungan laut dangkal – dalam, yang berlangsung pada fase transgresi sepanjang
Daratan Padang – Bengkulu (Mukti dkk., 2011) (Gambar 2.2a). Pada Miosen Tengah –
Akhir sedimentasi terus berlangsung dengan penciri sedimen klastik laut dangkal dan
terdapat kehadiran batugamping yang berlangsung pada perubahan fase transgresi
menuju fase regresi, sehingga terjadi perubahan pengendapan dari sedimen laut dangkal
menuju transisi. Pada Miosen Akhir terjadi peningkatan tektonik yang menyebabkan
terjadinya pengangkatan blok-blok sesar, sehingga muncul zona accretionary complex di
atas jalur subduksi yang membentuk pulau-pulau kecil sepanjang sisi barat pantai
Sumatera (Mukti dkk., 2011) (Gambar 2.2b). Akibat letusan gunung api yang terjadi pada
Plio-Plistosen sepanjang jalur Bukit Barisan menyebabkan cekungan yang ada di
Sumatera termasuk cekungan muka busur mengandung produk vulkanik yang dominan
pada akhir pengendapan.

Gambar 2.2. Evolusi sedimentasi pada cekungan muka busur Sumatera (a) Oligosen
Akhir – Miosen Awal, (b) Miosen Tengah – Akhir (modifikasi dari Mukti
dkk., 2011)

Pardede dkk. (1993) membagi fisiografi Sumatera bagian barat menjadi tiga zona
yaitu Zona Bengkulu, Zona Barisan dan Zona Cekungan Antar Gunung. Zona Bengkulu
meliputi daerah pantai, dataran tinggi hingga perbukitan barisan (Gambar 2.3).
Zona Bengkulu berdasarkan morfologi memiliki lima satuan yaitu:

5
1. Zona Pegunungan Kasar, berada dekat dengan zona bukit barisan dengan elevasi
berkisar 431 - 1692 mdpl. Lembah-lembah sungai membentuk "V" diatas batuan
metasedimen Formasi Asai, Formasi Peneta, Granodiorit Nagan dan Granit
Tantan.
2. Zona Kerucut Gunung, merupakan bagian dari jalur gugusan gunung api yang
melintang dengan arah baratlaut - tenggara, satuan ini mempunyai bentuk kerucut
pada puncak tinggian seperti pada Gunung Pandan (2168 m), Gunung Mesurai
(2533 m), Gunung Hulunilo (2469 m), Gunung Sumbing (2168), Gunung Kunyit
(2151 m), Gunung Medan (1575 m), Gunung Raya (2545 m), dan Gunung
Kebongsong (2262 m).
3. Zona Kuesta, berada pada baratlaut Danau Kerinci dan tersusun dengan batuan
sedimen pada Formasi Kumum.
4. Zona Dataran Tinggi, terdapat di Lembah Kerinci dengan elevasi 835 mdpl yang
tersusun dari produk aluvial.
5. Zona Dataran Rendah, berada pada bagian timur dari garis pantai Bengkulu yang
membentang dari pantai barat Sungai Serengai di selatan hingga Indrapura di
utara, dengan ketinggian maksimum ±150 mdpl yang tersusun dari produk aluvial.

Gambar 2.3. Peta satuan morfologi pada Zona Bengkulu (modifikasi dari Pardede
dkk.,1993).

6
2.2 Stratigrafi Cekungan Bengkulu
Yulihanto dkk. (1996) menjelaskan material penyusun Cekungan Bengkulu
terbagi menjadi Kelompok Barisan dan Kelompok Bengkulu. Kelompok Barisan terdiri
dari Formasi Hulusimpang, batuan intrusi, Formasi Ranau dan batuan vulkanik,
sedangkan Kelompok Bengkulu terdiri dari Formasi Seblat, Lemau, Simpang Aur,
Bintunan dan batuan vulkanik Kuarter. Pada penelitian yang dilakukan oleh Kusnama
dkk. (1993) mengelompokkan stratigrafi Zona Bengkulu hanya pada wilayah darat.
Susunan batuan dari tua hingga muda tersusun atas batuan dasar, Nummulites Limestone,
Formasi Hulusimpang, Formasi Seblat, Formasi Lemau, Formasi Simpang Aur, Formasi
Bintunan dan aluvial (Gambar 2.4). Daerah penelitian berdasarkan ciri geologi yang ada
termasuk kedalam stratigrafi darat.

Gambar 2.4. Korelasi stratigrafi darat di Cekungan Bengkulu Yulihanto dkk. (1995) dan
Kusnama dkk. (1993) dengan modifikasi.

2.2.1 Batuan Dasar


Batuan dasar Cekungan Bengkulu memiliki kesetaraan dengan Formasi Lahat
pada Cekungan Sumatera Selatan. Penyusun litologi terbentuk bersamaan dengan fase
awal graben Paleogen - Eosen yang mengisi bagian dasar cekungan berupa endapan
sedimen vulkanik dan lempung abu-abu kehijauan dengan lingkungan pengendapan
lacustrine fluvial (Yulihanto dkk., 1996)

2.2.2 Formasi Hulusimpang


Formasi Hulusimpang merupakan proses dari awal pengendapan pada Cekungan
Bengkulu yang selaras dengan Formasi Talang Akar pada Cekungan Sumatera Selatan
dengan umur Oligosen Akhir – Miosen Awal. Proses terbentuknya berlangsung pada fase
transisi dari darat – laut yang memiliki ciri dengan kehadiran material karbonatanan pada

7
bagian atas formasi, sedangkan pada bagian bawah formasi terdapat kehadiran produk
gunung api. Sedimentasi yang berlangsung mengindikasikan adanya pengaruh perubahan
air laut sebagai fase awal transgresi dengan lingkungan pengendapan beralih dari darat -
transisi. Formasi Hulusimpang tersusun atas lava, breksi gunung api, tuf, andesit, basalt
dan basalt-andesitik. Formasi ini terbentuk tidak selaras dan beda fasies menjemari
dengan Formasi Seblat pada Miosen Awal (Yulihanto dkk., 1996).

2.2.3 Formasi Seblat


Formasi Seblat terendapkan menjemari pada bagian atas dengan Formasi
Hulusimpang yang tersusun dengan litologi batupasir yang sebagian karbonatan,
batupasir tufaan dan lensa-lensa konglomerat pada bagian bawah, sedangkan bagian atas
tersusun oleh perselingan batugamping dan batulempung, serpih dengan sisipan
batulempung tufaan, napal dan konglomerat (Yulihanto dkk., 1996). Lingkungan
pengendapan berlangsung pada sistem turbidit laut dangkal – laut dalam pada Oligosen
Akhir – Miosen Tengah. Sebagian daerah terdapat batuan terobosan dalam (granit dan
diorit) yang berumur Miosen Tengah menerobos Formasi Hulusimpang dan Formasi
Seblat (Amin dkk., 1994).

2.2.4 Formasi Lemau


Formasi Lemau merupakan fase transisi dari penurunan muka air dengan
lingkungan laut dalam menuju laut dangkal yang memiliki endapan lagoon pada Miosen
Tengah – Miosen Akhir. Litologi penyusun Formasi Lemau berupa batupasir, batulanau,
sisipan batubara dan batugamping (Yulihanto dkk., 1996). Heryanto dan Suyoko (2007)
membagi lapisan batubara pada daerah Ketaun dan sekitarnya menjadi Seam A, B dan C
(Gambar 2.5). Bagian atas terdapat beberapa seam batubara Formasi Lemau dengan tebal
berkisar 50 – 300 cm dengan sifat fisik yaitu warna hitam, kusam, gores coklat kehitaman
dengan komposisi maseral tersusun oleh kelompok maseral vitrinit yang dominan dengan
interval 72,2 – 89,6%, maseral eksinit berkisar 0,4 – 2%, dan maseral inertinite berkisar
4,6 – 19,2%. Kehadiran mineral pada batubara terdiri dari kelompok mineral lempung (0
- 2,4%), pirit framboid (0 - 1,8%), pirit normal (0,4 - 1,8%), dan mineral karbonatan (0 -
0,6%). Nilai reflektan vitrinit rata-rata (Rv) berkisar 0,35 - 0,54%.

2.2.5 Formasi Simpang Aur


Formasi Simpang Aur terendapkan secara selaras padanannya diatas Formasi
Lemau, kemudian pada akhir pengendapan memiliki kontak ketidakselarasan dengan
Formasi Bintunan pada Miosen Akhir – Pliosen dengan lingkungan transisi - darat.
Formasi ini terdiri atas batupasir konglomeratan, batupasir, serpih, cangkang moluska,
dan batupasir tufaan (Yulihanto dkk., 1996).

2.2.6 Formasi Bintunan


Formasi Bintunan terbentuk selama inversi pengangkatan Cekungan Bengkulu
pada Pliosen - Pleistosen. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan aktivitas vulkanik,
sehingga material endapan vulkanik lebih mendominasi. Penyusun litologi Formasi
Bintunan berupa konglomerat aneka bahan, batulempung dengan sisipan lignit, breksi

8
gunung api yang terendapkan di lingkungan air tawar sampai payau (Yulihanto dkk.,
1996). Endapan Kuater diatas Formasi Bintunan tersusun dari material aluvial berupa
bongkah batupasir, lanau, dan batulempung. Amin dkk. (1993) menjelaskan Formasi
Bintunan terendapkan selaras dengan Formasi Ranau yang tersingkap di Peta Geologi
Lembar Manna 1:250.000 dengan penyusun berupa breksi gunung api berbatuapung dan
tuf riolitik-andesitik. Breksi gunung api tampak berwarna kekuningan, lunak, tidak
berlapis, memiliki komponen kepingan batuapung dan lava andesit-basaltik di dalam
matriks tuf pasiran

Gambar 2.5. Kolom stratigrafi inti bor di daerah Sebayur, Ketaun (Heryanto dan Suyoko,
2007)

9
2.3 Struktur Geologi Cekungan Bengkulu
Cekungan Bengkulu terbentuk seiring dengan pembentukan Sundaland dan
Sumatra Fault System (Sesar Ketaun-Tanjung Sakti dan Sesar Manna) menghasilkan
transtentional duplex berarah baratlaut - tenggara dan tensional fault berarah utara -
selatan. Menurut Pulunggono (1984), cekungan ini berasal dari microcontinental plate
bagian barat Sumatera. Kemudian, Yulihanto dkk. (1995) menjelaskan akibat gaya
tensional yang bekerja terjadi penarikan cekungan yang melampaui batas elastisitasnya,
sehingga regangan tersebut membentuk blok-blok sesar berupa graben, dan half-graben
yang menyebabkan penurunan cekungan pada Miosen. Cekungan Bengkulu mengalami
dua fase pembentukan sistem graben, yaitu sistem graben Paleogen - Eosen yang
memiliki arah timurlaut – baratdaya berupa Sesar Napalan dan sistem graben Oligosen
Akhir - Miosen dengan arah utara – selatan (Yulihanto dkk., 1995) (Gambar 2.6).

Gambar 2.5. Konfigurasi struktur Paleogen – Eosen Graben System yang bekerja pada
Cekungan Bengkulu (modifikasi dari Yulihanto dkk., 1995)

2.3.1 Paleogen - Eosen Graben System


Berdasarkan penelitian Howles (1986), Cekungan Bengkulu merupakan
pemekaran dari sistem Cekungan Sumatera Selatan yang bergeser sejauh 100 km kearah
baratlaut sepanjang Sesar Semangko selama Miosen Awal – Tengah yang terbentuk
bersamaan dengan Cekungan Sumatera Selatan. Dengan demikian, material penyusun
dan fase pembentukan terjadi pada umur yang relatif sama. Pemekaran cekungan (rifting)
equivalent dengan blok sesar atau graben Jambi – Bengkalis Sumatera Selatan
(Yulihanto dkk., 1995). Hasil tensional rifting pada Paleogen - Eosen membentuk jalur-

10
jalur sistem graben yang membatasi cekungan dengan bentuk yang memanjang pada
Cekungan Bengkulu. Sistem graben tersebut merupakan faktor pengendali dari bentuk
cekungan dengan berarah baratlaut – tenggara yang merupakan hasil peristiwa gerak
tensional cekungan di Sumatera.

2.3.2 Oligosen Akhir - Miosen Graben System


Arah yang terbentuk pada fase ini yaitu relatif berarah utara – selatan dan
timurlaut – baratdaya akibat adanya kontrol Sesar Ketaun, Tanjung Sakti, dan Sesar
Manna. Konfigurasi struktur yang terbentuk melintasi Mentawai fore arc dan Sipora
Graben, sehingga memiliki peranan aktif dalam mengontrol pengisian material sedimen
selama Miosen Akhir - Pleistosen (Mukti dkk., 2011). Evolusi struktur yang berkembang
tidak terlalu signifikan dan relatif stabil, dengan kondisi tersebut proses sedimentasi dapat
berlangsung dengan baik sehingga memiliki lapisan relatif tebal yang berlangsung
bersamaan dengan kenaikan muka air laut.

2.3.3 Uplift Pliosen - Resen


Pengendapan material sedimen terus berlangsung bersamaan dengan peningkatan
aktivitas tektonik. Pada Miosen Akhir - Pliosen keadaan cekungan menjadi tidak stabil,
akibat adanya subsidence dan naiknya blok-blok sesar. Hal tersebut menyebabkan
terjadinya dua fase transisi pada Formasi Lemau dan Formasi Simpang Aur. Pada Plio -
Pleistosen terjadi pengangkatan jalur Bukit Barisan sepanjang Sumatera dengan inversi
struktur yang membentuk sesar-sesar berarah timurlaut – baratdaya. Jalur Bukit Barisan
yang terletak dibagian timur Bengkulu merupakan hasil uplift gaya kompresi pada awal
Pliosen sehingga memperlihatkan perkembangan struktur sesar dan lipatan yang
kompleks pada batuan sedimen dan vulkanik.

11
BAB III
METODE PENELITIAN

Penentuan metode penelitian mencakup beberapa tahapan meliputi persiapan,


pengambilan data, pengolahan dan analisis data, serta hasil. Semua tahapan tersusun
secara sistematis untuk memberikan hasil yang sesuai. Semua tahapan penelitian
terangkum dalam diagram alur (Gambar 3.1).

Gambar 3.1. Diagram alur penelitian.

3.1 Tahap Persiapan


Tahapan persiapan berkaitan dengan hal-hal sebelum melakukan pengambilan
data pada daerah penelitian dan merupakan tahapan paling awal yang terdiri dari
perumusan masalah, penentuan daerah, studi pustaka, perumusan hipotesis, serta
mempersiapkan alat dan bahan.
(1) Tahap Perumusan Masalah, tahapan ini bertujuan mencari permasalahan geologi yang
akan terjadi pada daerah penelitian. Tahapan mencakup tentang tujuan, batasan
masalah dan topik yang akan dibahas berkenaan dengan geomorfologi, struktur
geologi, dan sejarah geologi.
(2) Tahap Penentuan Daerah Penelitian, tahapan dari penentuan daerah berdasarkan
diskusi bersama dosen pembimbing, dengan melihat aspek dari kondisi geologi yang
baik untuk pertimbangan dalam proses pembelajaran geologi yang berkenaan dengan
pemetaan geologi ataupun potensi sumber daya alam yang dapat dikembangkan.

12
(3) Studi Pustaka, bertujuan untuk mempelajari kondisi geologi regional daerah
penelitian dengan mencari referensi pada buku-buku literatur, jurnal, paper, prosiding
dan laporan akhir kegiatan yang berkaitan dengan informasi geologi dari daerah
penelitian. Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi
sebelum pengambilan data di lapangan dengan membuat perencanaan lintasan
ataupun penentuan data kritis.
(4) Perumusan Hipotesis, merupakan dugaan sementara dengan permasalahan yang
terjadi. Tujuan hipotesis berfungsi untuk mendapatkan pandangan awal dari
permasalahan.
(5) Mempersiapkan Alat dan Bahan, pengambilan observasi lapangan memerlukan alat-
alat penunjang dan perkakas geologi seperti kompas geologi, palu geologi, GPS,
meteran, lup, komparator, clipboard, Buku Catatan Lapangan (BCL), referensi, surat
izin penelitiaan dan HCL yang berkaitan dengan hal teknis maupun non-teknis
sebelum keberangkatan dan saat di lapangan untuk efektifitas kerja.
(6) Penginderaan Jauh (Remote Sensing), pengamatan daerah penelitian berdasarkan
penginderaan jauh membantu untuk mengidentifikasi kondisi geologi daerah
penelitian meliputi kondisi geografis, relief, kelurusan struktur, persebaran litologi
berdasarkan kesamaan ciri dari geologi regional dengan menggunakan aplikasi
berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Adapun aplikasi SIG meliputi ArcGis
10.2, MapSource dan Global Mapper.

3.2 Tahap Observasi Lapangan


Observasi lapangan merupakan aktivitas untuk mendapatkan informasi-informasi
geologi di daerah penelitian dengan memfokuskan pada data kritis agar tercapainya tujuan
penelitian. Tahapan ini merupakan hal penting karena informasi yang terdapat merupakan
data primer dalam menentukan kebenaran dari penelitian. Metode pengambilan data
ataupun sampling harus memiliki kecermatan dan akurasi yang baik. Tahapan ini
memerlukan tahapan reconnaissance dan melakukan pengamatan secara merata pada
daerah penelitian.
(1) Reconnaissance, pada daerah penelitian tidak menggunakan tahapan ini, karena
penentuan dan kondisi geologi berdasarkan kecukupan informasi dari tim geologist
yang berada pada daerah penelitian kemudian diskusi secara simultan dengan dosen
pembimbing, untuk tercapainya kelayakan dalam proses pembelajaran dan penelitian
berbasis pemetaan geologi.
(2) Melakukan Pengamatan Secara Rinci pada daerah penelitian, kegiatan observasi
lapangan akan memiliki informasi geologi yang baik, dengan kecukupan stasiun
pengamatan yang tersebar secara merata pada daerah penelitian. Data yang perlu
direkam yaitu persebaran litologi, kedudukan dan struktur untuk menentukan batas
formasi. Pencatatan data dari observasi lapangan, pengambilan perconto batuan pada
beberapa lokasi yang representatif memberikan informasi geologi dan analisis
laboratorium untuk mengidentifikasi komposisi, lingkungan pengendapan dan umur
relatif dari suatu kejadian geologi.

13
3.2.1 Alat dan Bahan
Persiapan dalam pemetaan geologi memerlukan alat dan bahan saat kegiatan di
lapangan untuk membantu dalam kelancaran dan keakuratan informasi. Beberapa
peralatan dan bahan untuk penelitian meliputi:
(1) Peta topografi skala 1: 25.000 dengan format digital yang bersumber dari Badan
Indonesia Geospasial (BIG).
(2) Peta Geologi Lembar Sungai Penuh Skala 1:250.000 terbitan Badan Geologi pada
tahun 1992.
(3) Palu geologi, untuk pengambilan perconto batuan pada beberapa lokasi pengamatan.
(4) Lup, untuk mengamati litologi di lapangan serta mengamati komposisi mineral
penyusun batuan.
(5) Komparator litologi yang berfungsi untuk perbandingan ukuran butir, klasifikasi
penamaan batuan, perconto mineral dan paramater saat pengambilan gambar.
(6) Kantong sampel, berfungsi sebagai tempat penyimpanan perconto batuan untuk
keperluan analisis laboratorium.
(7) Kompas geologi, berfungsi untuk orientasi medan, pengukuran strike-dip, mengukur
kelerengan morfologi, dan mengukur data struktur.
(8) Buku Catatan Lapangan (BCL), berfungsi untuk mencatat data yang ada pada saat
melakukan observasi lapangan.
(9) Clipboard, berfungsi untuk tempat alas peta topografi dan sebagai alat bantu dalam
pengukuran data di lapangan.
(10) Alat tulis, berguna untuk alat tulis-menulis di lapangan.
(11) Kamera, berguna untuk mengambil data berupa foto di lapangan.
(12) HCL 0,1 M, berguna untuk mengidentifikasi sifat karbonatan pada suatu litologi.
(13) Busur derajat, berguna sebagai plotting titik pengamatan pada peta topografi dan
mengukur besar sudut data struktur yang ada di lapangan.
(14) Tas/ransel, berguna sebagai tempat untuk menyimpan semua peralatan.

3.3. Tahap Pengolahan dan Analisis Data


Tahapan yang telah dilakukan saat pengambilan observasi lapangan berupa
pembuatan penampang terukur, pengukuran struktur, deskripsi lapangan, kemudian
dilanjutkan dengan analisis laboratorium dan studio dengan pendukung aplikasi SIG.
Analisis yang dilakukan dibagi menjadi analisis lapangan, laboratorium dan studio.

3.3.1. Analisis Geomorfologi


Analisis geomorfologi dilakukan berdasarkan pengamatan langsung dari bentuk
lahan yang dijumpai di lapangan dan penggunaan citra udara resolusi tinggi. Digital
Elevation Model (DEM) merupakan suatu model digital yang bisa menggambarkan relief
daerah, serta bisa memberikan spesifik topografi dan geomorfometri bentang alam
(Florinsky, 1998). Data DEM dapat diperoleh dari berbagai sumber dengan jenis citra
yang berbeda-beda. Pada penelitian ini DEM yang digunakan bersumber dari SRTM dan
Citra Landsat 8 OLI/TIR.
Pengamatan 2D merupakan penafsiran awal yang dilakukan dalam pengolahan
data DEM. Selanjutnya, aplikasi SIG bisa dimanfaatkan untuk pengembangan data 2D

14
menjadi 3D yang memiliki hasil visual yang lebih tinggi dalam penentuan aspek
geomorfologi dengan kerapatan hingga 30 m dari udara terhadap kondisi sebenarnya.
Tahapan penentuan geomorfologi pada daerah penelitian meliputi:
1. Penentuan kelas lereng. Parameter yang digunakan dalam klasifikasi kelas lereng yaitu
kemiringan lereng, panjang lereng, dan bentuk lereng. Penelitian yang digunakan
dalam membagi kelas lereng mengacu dari US Soil Survey Manual seperti yang
digunakan oleh Bermana (2006) (Tabel 3.1).

Tabel 3.1 Klasifikasi lereng menurut US Survey Manual Soil


Persen Kelas Perbedaan Ketinggian
0–2% Datar atau sangat datar < 5m
2–6% Lereng sangat landai 5 – 50 m
6 – 13 % Lereng landai 25 – 75 m
13 – 25 % Lereng agak curam 50 – 200 m
25 – 55 % Lereng curam 200 – 500 m
> 55% Lereng sangat curam 500 – 1000 m

2. Penentuan kelurusan menggunakan data DEM. O’Leary dkk. (1976) menjelaskan


kelurusan bisa digunakan untuk mengidentifikasi adanya kejadian geologi berupa
pensesaran seperti sesar turun dan mendatar. Perbedaan dari panjang kelurusan bisa
terjadi karena gaya tektonik yang bekerja, sedangkan orientasi kelurusan disebabkan
dari arah gaya yang berlangsung.
3. Interpretasi pola aliran. Pengolahan data menggunakan aplikasi ArcGis, pada data
DEM bisa memperlihatkan pembentukan sungai dengan watershed. Aliran sungai juga
bisa mengidentifikasi dari deformasi tektonik atau evolusi erosi bentuk lahan dengan
melakukan analisis kuantitatif dan spasial (Segura dkk., 2007)

Penentuan bentuk lahan daerah studi menggunakan klasifikasi Bermana (2006)


yang telah disempurnakan dengan merujuk pada SNI geomorfologi dan beberapa
penelitian terdahulu. Pembagian bentuk lahan dengan menggunakan citra udara resolusi
tinggi dapat diukur langsung berdasarkan parameter relief, bentuk lereng, serta bentuk
alur dan lembah (Bermana, 2006). Proses dari erosi lahan merupakan aspek penting untuk
mengidentifikasi tingkatan dari proses geomorfik yang telah berlangsung. Erosi lahan
bisa didasari dari tingkat stadia sungai, biasanya semakin berkelok sungai hingga
membentuk meander maka tingkat stadia akan semakin tua. Pembagian stadia yang
digunakan merujuk dari klasifikasi menurut Brahmantyo dan Bandono (2006).

3.3.2. Penampang Terukur


Pengukuran penampang stratigrafi terukur (measured section) bertujuan untuk
mengidentifikasi urut-urutan batuan secara detail meliputi ketebalan masing-masing jenis
litologi, lokasi kontak antar litologi, penentuan proses sedimentasi (paleocurrent),
interpretasi sejarah geologi dan membantu dalam penentuan lingkungan pengendapan.
Metode yang digunakan yaitu menggunakan sistem rentang tali atau metode “Brunton

15
and Tape” dengan dasar perentangan tali atau meteran panjang. Semua jarak dan
ketebalan dapat terukur berdasarkan rentangan tersebut (Gambar 3.2)

Gambar 3.2. Metode dalam pengukuran penampang terukur dengan rentang tali.

Pengukuran dengan metode ini akan langsung menghasilkan ketebalan sesungguhnya jika
beberapa poin dapat terpenuhi yaitu:
(1) Arah rentangan tali tegak lurus pada jalur perlapisan.
(2) Arah kelerengan dari tebing atau rentangan tali tegak lurus pada arah kemiringan.
(3) Diantara dua ujung rentangan tali tidak ada perubahan jurus maupun kemiringan.
(4) Terdapat kemiringan lapisan yang sesuai dengan beberapa bentuk dari kemiringan
lapisan yang ada.

Syarat-syarat diatas harus terpenuhi dengan baik, jika ada syarat yang tidak
terpenuhi perlu adanya koreksi tebal dengan menggunakan rumus berdasarkan data
strike-dip dan kondisi singkapan saat melakukan pengukuran di lapangan (Gambar 3.3)

Gambar 3.3. Cara menentukan ketebalan lapisan dengan berbagai kemiringan lereng

16
3.3.3. Pengukuran Struktur
Analisis struktur geologi bertujuan untuk mengidentifikasi jenis struktur yang
bekerja pada daerah penelitian dengan mengobservasi zona deformasi batuan. Zona ini
merupakan suatu inisiasi, propagasi, interaksi dan penumpukan pergerakan yang
mengindikasikan adanya struktur geologi seperti lipatan, sesar, urat, breksiasi dan
stylolites dengan adanya peningkatan frekuensi rekahan dan keterkaitan terhadap batuan.
Kemudian, zona deformasi bisa memberikan informasi tentang kinematik, mekanika dan
sejarah terbentuknya struktur geologi (Peacok dkk., 2017). Metode dalam analisis struktur
meliputi dari analisis kinematik dan dinamik menggunakan stereonet dengan aplikasi
FaultKin dan WinTensor. Rekonstruksi pembentukan struktur mengacu pada teori
Harding dkk. (1974) (Gambar 3.4). Penamaan struktur perlipatan mengacu pada
klasifikasi Fleuty (1964), dengan menggunakan nilai hinge line dan hinge surface,
sedangkan penamaan struktur sesar mengacu pada klasifikasi Rickard (1972) (Gambar
3.5).
Pengambilan data struktur di lapangan meliputi gores garis, bidang sesar,
pergerakan sesar (offset) dan pengukuran kekar. Saat data struktur yang ditemukan di
lapangan memiliki bukti yang lemah, maka dilakukan interpretasi untuk mengidentifikasi
pergerakan sesar dengan melihat zona hancuran ataupun kelurusan dari citra satelit
resolusi tinggi.
Analisis kekar bertujuan untuk mengidentifikasi arah dan gaya tektonik yang
bekerja dan dapat membantu dalam interpretasi struktur sesar dan lipatan yang ada pada
suatu daerah penelitian. Hubungan antara kekar, sesar dan lipatan dikemukan oleh
Harding dkk. (1974).

Gambar 3.4. Hubungan struktur kekar, sesar dan lipatan yang merupakan simple shear
model (Harding dkk., 1974)

17
Gambar 3.5. Diagram klasifikasi sesar menurut Rickard (1972)

3.3.4. Analisis Fasies


Analisis Fasies bertujuan untuk mengidentifikasi ciri fisik batuan meliputi
struktur sedimen, butir, kemas, warna, derajat pemilahan dan komposisi mineral yang
kaitannya dengan sedimentasi yang berlangsung. Pembagian fasies pada daerah
penelitian merujuk dari Walker (1992) dan Boggs (2006) untuk menentukan lingkungan
pengendapan dan asosiasi fasiesnya.

3.3.5. Analisis Petrografi


Analisis petrografi bertujuan untuk mengidentifikasi komposisi mineral dan
penamaan batuan sedimen klastik dengan klasifikasi Pettijhon (1972). Proses analisis
meliputi dua tahapan yaitu pembuatan sayatan dan pengamatan petrografi.
Pembuatan sayatan petrografi, perconto batuan yang telah dipilih berdasarkan
representatif dan penentuan teknik sampling dari ciri batuan. Pengamatan petrografi
dilakukan dengan menggunakan mikroskop polarisasi merk Olimpus CX23 yang berada
pada Laboratorium Geologi Dinamik dan Petrologi di Program Studi Teknik Geologi
Universitas Sriwijaya.

3.3.6. Analisis Paleontologi


Analisi paleontologi bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan fosil pada
batuan. Fosil yang dianalisis terdiri dari makrofosil dan mikrofosil. Pada daerah penelitian
terdapat formasi yang proses pengendapannya berlangsung lingkungan laut, sehingga
analisis fosil dapat membantu untuk mengidentifikasi lingkungan batimetri dan umur
relatif berdasarkan klasifikasi Barker (1960) dan Blow (1969).

18
3.3.7. Analisis Studio
Analisis studio berkaitan dengan proses dalam pembuatan dan penyajian data
sehingga bisa memberikan informasi geologi dengan visual yang baik agar lebih mudah
untuk dipahami. Adapun analisis studio yang dilakukan meliputi:
(1) Melakukan plot data bor dengan aplikasi SedLog.
(2) Pembuatan Peta Geologi, Peta Geomorfologi (Peta pola aliran, peta kelurusan, dan
peta kelerengan) menggunakan aplikasi ArcGis 10.2.2.
(3) Analisis dan rekonstruksi struktur dengan aplikasi Dips, WinTensor, dan FaultKin
(4) Analisis data bawah permukaan (data log) menggunakan aplikasi LogPlot,
Rockworks 14 dan Interactive Petrophysics.
(5) Digitasi Model Geologi menggunakan aplikasi CorelDraw.

19
BAB IV
GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

Introductory Paragraph
Sejarah geologi adalah uraian suatu peristiwa dan kejadian yang pernah ada pada
masa lampau akibat hasil dari tatanan tektonik. Dalam mengidentifikasi kondisi geologi pada
masa lampau hingga sekarang, merekonstruksi proses geologi merupakan hal yang
diperlukan. Aspek geomorfologi, stratigrafi dan struktur geologi adalah bagian yang perlu
dipelajari untuk mendapatkan bagaimana perubahan rona geologi yang terjadi. Dengan
demikian, urut-urutan batuan, deformasi batuan, lingkungan pengendapan dan perubahan
bentuk lahan bisa teridentifikasi untuk meruntunkan sejarah geologi.

4.1. Geomorfologi
Geomorfologi merupakan salah satu ilmu geologi yang memiliki peranan penting
untuk mengidentifikasi perubahan bentuk muka bumi dengan mengaitkan proses-proses
geologi yang bekerja pada suatu daerah. Pemanfaatan citra udara resolusi tinggi saat ini bisa
digunakan sebagai metode penentuan bentuk lahan dalam proses geomorfologi. Digital
Elevation Model (DEM) merupakan salah satu produk dari citra satelit resolusi tinggi yang
menampilkan tampilan rona muka bumi seperti gradient (G), aspect (A), horizontal (Kh),
dan vertikal (Kv) (Shary, 1995). Pemanfaatan DEM juga bisa dikembangkan lebih lanjut
dengan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) dalam menganalisis
geomorfometri, struktur geologi, cekungan aliran, pengaliran cekungan dan relief dengan
mengevaluasi aktivitas tektonik regional (Argyriou dkk., 2016). Saat ini, aplikasi SIG
menyediakan tools untuk pengolahan data spasial dengan melakukan analisis kuantitatif dan
aritmatika sehingga bisa mendapatkan informasi yang lebih mendetail dari proses
geomorfologi.
Pemetaan dengan penginderaan jauh merupakan metode cepat dan efisien dengan
biaya yang relatif murah dibanding dengan melakukan pengamatan langsung, sehingga bisa
menjadi alternatif awal untuk melakukan suatu studi bentuk lahan yang berkaitan dengan
gejala geologi. Adapun tahapan yang dilakukan dalam penentuan geomorfologi pada daerah
penelitian terdiri dari beberapa parameter yaitu kelurusan, kemiringan lereng dan pola aliran.

4.1.1. Pola Kelurusan


Penentuan pola kelurusan daerah penelitian menggunakan data citra satelit Shuttle
Radar Topographic Map (SRTM) dengan melihat pola kelurusan bukit, sungai ataupun
depresi. Analisis histogram menunjukkan kelurusan dengan panjang berkisar antara 0,25 –
1,67 km dan panjang kelurusan rata-rata 0,68 km (Gambar 4.1). Pola-pola tersebut akan
memperlihatkan bentuk kelurusan yang mengindikasikan adanya kontrol litologi atau
struktur yang bekerja (Gambar 4.2). Berdasarkan pengukuran, pola kelurusan relatif berarah
baratlaut – tenggara (Gambar 4.3a), dan relatif sama dengan strike/dip lapisan batuan
lapangan (Gambar 4.3b). Konsistensi antara pola kelurusan dan strike/dip batuan
mengindikasikan bahwa kontrol litologi mendominasi dalam pembentukan kelurusan.

20
Histogram
Transformation: None
-1
Frequency 10 Count : 61 Skewness : 1.5215
1.8 Min : 253.62 Kurtosis : 5.9136
Max : 1676.1 1-st Quartile : 519.29
Mean : 689.35 Median : 642.14
1.44
Std. Dev. : 270.32 3-rd Quartile : 775.27

1.08

0.72

0.36

0
0.25 0.4 0.54 0.68 0.82 0.96 1.11 1.25 1.39 1.53 1.68
-3
Dataset 10
Dataset : Kelurusan_Gabungan Attribute: Shape
Gambar 4.1. Histogram Kelurusan

Gambar 4.2. Pola kelurusan daerah penelitian dari data SRTM (garis merah dan biru
merupakan interpretasi arah kelurusan)

(a) (b)
Gambar 4.3. (a) Diagram roset pola umum kelurusan berdasarkan penarikan data SRTM,
(b) Diagram roset strike/dip lapisan batuan berdasarkan hasil pengukuran
lapangan.
21
4.1.2 Kemiringan Lereng
Penentuan kemiringan lereng bertujuan untuk menentukan tingkat kecuraman daerah
penelitian sehingga bisa mengidentifikasi tingkat resistensi batuan, kontrol litologi ataupun
struktur geologi yang terjadi. Lereng landai – curam (13 – 55%) mendominasi dari luasan
daerah penelitian yang memperlihatkan relief perbukitan relatif bergelombang lemah – kuat
yang tersebar hampir di seluruh daerah penelitian. Lereng datar atau sangat datar – landai (0
- 13%) menempati pada daerah dekat dengan sungai utama yang memperlihatkan sebagai
daerah dataran banjir ataupun dataran rendah (Lampiran C2). Kemiringan lereng curam -
sangat curam memiliki pola umum yaitu utara – selatan dan timurlaut – baratdaya yang
membentuk lereng sangat curam dan mengindikasikan adanya kontrol struktur berupa sesar
ataupun zona dari lereng perbukitan.

4.1.3 Pola Aliran Sungai


Penggunaan data spasial sungai pada daerah penelitian bersumber dari database
Badan Indonesia Geospasial (BIG) dan modifikasi data DEM untuk membentuk watershed.
Aliran Sungai (DAS) pada daerah penelitian bermuara pada dua sungai utama yaitu Sungai
Ketaun pada sisi barat dan Sungai Urai pada sisi timur. Pembagian tingkatan stadia sungai
pada daerah penelitian merujuk pada klasifikasi menurut Brahmantyo dan Bandono (2006),
yang dibagi menjadi dua yaitu sungai stadia dewasa terdapat pada Sungai Simiak, Utang,
Urai, dan sungai stadia tua terdapat pada Sungai Ketaun yang memiliki bentuk lembah “U”
dengan kehadiran dataran banjir, gosong sungai, dan tekuk sungai sepanjang sisi sungai.
Daerah penelitian terdapat satu pola aliran yaitu dendritik (Lampiran C2).
(1) Pola Aliran Dendritik, pola aliran ini menempati suluruh daerah penelitian. Kelerengan
pada sungai yaitu agak miring – curam yang tersusun atas litologi yang homogen dan
memiliki dip litologi yang kecil, proses erosi yang terjadi akibat aktivitas galian.

4.1.4 Tahapan dan Proses Geomorfik.


Tahapan geomorfik pada daerah penelitian terjadi akibat adanya proses tatanan
tektonik yang bekerja. Litologi yang mendominasi daerah penelitian terdiri dari batupasir,
batulanau, batulempung, konglomerat dan endapan fluvial dengan kandungan material
vulkanik yang memiliki tingkat resistensi lemah - sedang, hal tersebut terjadi karena proses
erosi yang cukup kuat dengan bukti berupa adanya gerakan massa tanah (longsoran) secara
sheet erosion pada lahan tambang (Foto 4.1; Foto 4.2).
Pengamatan menggunakan Citra Landsat 8 OLI/TIR bertujuan untuk
mengidentifikasi tingkat kerimbunan vegetasi pada daerah penelitian, dengan menggunakan
metode Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Beberapa lokasi di daerah
penelitian telah mengalami perubahan bentuk lahan dari semak belukar menjadi perkebunan
sawit dan karet, sedangkan pada lokasi lainnya digunakan sebagai lahan pertambangan dan
jalan hauling road. Perubahan fungsi lahan yang terjadi pada daerah penelitian bisa
meningkatkan proses erosi yang berlangsung, sehingga tingkat pelapukan batuan akan
semakin tinggi, sedangkan penyerapan air akan rendah dan berpotensi untuk terjadi bencana
alam (Gambar 4.4)

22
Foto 4.1. Proses longsoran yang terjadi pada bekas lahan tambang Desa Gunungpayung
pada IUP PT Injatama Mining (a). PIT 1 (b). PIT 3.

Foto 4.2. Bentuk Lembah “U” dengan lebar simetri pada Sungai Ketaun memiliki endapan
aluvial yang menunjukkan sungai berstadia tua.

23
Gambar 4.4. Peta NDVI.

Proses erosi dan transportasi material mengontrol terbentuknya dataran banjir dengan
pergerakan secara sheet erosion dengan produk material aluvial. Endapan aluvial
mendominasi pada dasar sungai ataupun sisi sungai yang berada pada daerah penelitian
dengan bentuk lembah “U” simetri dan memiliki lereng datar pada sisi-sisi sungai.
Sedimentasi yang berlangsung membentuk gosong sungai, dataran banjir dan sungai yang
berkelok-kelok mengindikasikan proses geomorfik pada daerah penelitian termasuk
kedalam tingkat stadia tua (Tabel 4.1)

Tabel 4.1 Tabel klasifikasi tahapan geomorfik (Brahmantyo dan Bandono, 2006)
Karakteristik Muda Dewasa Tua
Saluran Lurus Berkelok Bermeander
Bentuk Lembah V U U Simetri
Dasar lembah Bedrock, berjeram, air Berjeram, sebagian Aluvial, tidak ada
terjun aluvial jeram
Sedimentasi Hampir tidak ada Point bar Point bar, floodplain
Erosi Domnan vertikal Vertikal - lateral Dominan lateral
Lebar Lembah Sama dengan lebar Lebih kecil sepuluh Lebih besar sepuluh
penampang basah kali lebar penampang kali lebar penampang
basah basah

Bentuk lahan yang ditemukan pada daerah penelitian terdiri dari empat jenis yang
merujuk dari klasifikasi Bermana (2006), diantaranya datar atau sangat datar, bergelombang
atau lereng landai, perbukitan curam, dan lereng sangat curam. Parameter yang digunakan
berupa kelerengan, relief dan pola aliran (Tabel 4.2). Kejadian geomorfik pada daerah
24
penelitian menunjukkan adanya perubahan rona bentuk lahan dari masa lalu akibat aktivitas
geologi yang terus berlangsung sampai sekarang.

Tabel 4.2. Karakteristik bentuk lahan daerah penelitian merujuk dari klasifikasi Bermana
(2006).
Bergelombang
Datar atau sangat Lereng Sangat
Karakteristik atau Lereng Perbukitan Curam
datar Curam
Landai
Luas (%) 19 21 56 4
Elevasi (mdpl) 7 – 52 55 - 72 65 - 118 56 – 81
Kelerengan (%) Datar – landai (0 – Landai – agak Agak curam – Sangat curam >55
13) curam (13 – 55) sangat curam
(>25)
Stadia Sungai Tua Dewasa Dewasa Muda
Bentuk Lembah U Simetri “U” “U – V” “V”
Litologi lempung, aluvial batulanau dan Batupasir, Batupasir,
batupasir Konglomerat, Konglomerat
batulanau
Fungsi Lahan Persawahan Perkebunan Karet Perkebunan -
dan Sawit Karet dan Sawit

(1) Datar atau sangat datar D1


Satuan bentuk lahan menempati 19% dari luas daerah penelitian yang berada sepanjang
Sungai Ketaun dengan ketinggian 7 – 52 mdpl. Bentang alam ini memiliki persebaran
dari utara hingga selatan, kemiringan lereng datar atau sangat datar hingga landai (0 –
13%). Satuan ini merupakan tempat terakumulasi sedimen akibat proses erosi dan
pelapukan yang bersumber dari hulu Sungai Ketaun dan daerah di sekitarnya. Satuan ini
merupakan jalur yang dekat dari transportasi material yang tersusun dari produk aluvial
seperti lempung, lumpur dan kerakal dengan tahapan geomorfik tua. Warga sekitar
memanfaatkan dataran yang relatif jauh dari Sungai Ketaun sebagai persawahan (Foto
4.3). Pada saat intensitas hujan tinggi terjadi daerah limpah banjir (flood plain) sepanjang
tepi Sungai Ketaun yang menyebabkan terjadi kondisi genang air pada dataran.

Foto 4.3. Bentuk lahan Dataran pada bagian timur Sungai Ketaun yang dimanfaatkan
sebagai persawahan.
25
(2) Bergelombang atau Lereng Landai
Satuan bentuk lahan menempati 21% dari luas daerah penelitian dengan kemiringan
lereng landai – agak curam (13 – 55%) dengan ketinggian berkisar 55 – 72 mdpl. Bentang
alam ini memiliki persebaran di timur hingga tenggara daerah penelitian. Litologi
tersusun atas batulanau dan batupasir dengan tingkat resistensi relatif lemah – sedang
(Foto 4.4)

Foto 4.4. Bentuk lahan bergelombang atau lereng landai

(3) Perbukitan Curam P1


Satuan bentuk lahan menempati 56% luas daerah penelitian dengan kemiringan lereng
agak curam hingga sangat curam (dengan ketinggian berkisar 65 – 118 mdpl. Bentang
alam ini memiliki persebaran pada timurlaut, baratlaut, dan selatan daerah penelitian.
Morfografi berupa perbukitan dan lembah. Awalnya satuan ini terbentuk akibat gaya
kompresi sehingga terbentuk zona perlipatan dan terjadi peningkatan aktivitas
destruksional sehingga kontrol erosi yang mendominasi pada waktu sekarang.
Berdasarkan litologi yang tersingkap, bentuk lahan terdiri dari batupasir, konglomerat,
dan batulempung tufaan (Foto 4.5)

Foto 4.5. Satuan bentuk lahan perbukitan terdenudasi dengan vegetasi berupa Pohon Karet
dan Sawit.

26
(4) Lereng Sangat Curam L1
Satuan bentuk lahan menempati 4% dari luas daerah penelitian dengan kemiringan
lereng sangat curam >55% dengan morfografi berupa lereng, memiliki ketinggian
berkisar 56 – 81 mdpl. Bentuk lahan membentuk seperti garis lurus yang memanjang
dari kenampakan citra udara resolusi tinggi. Aktivitas struktur berupa sesar
menyebabkan terjadinya bentuk lahan dengan jurang yang memanjang dan indikasi lain
berupa kehadiran air terjun akibat zona sesar yang melewati aliran sungai. Litologi yang
terpotong akibat sesar terdiri dari litologi yang berada pada Formasi Bintunan dan
Formasi Lemau dengan pergerakan sesar yang panjang dan termasuk kedalam sesar
mayor (Foto 4.6)

Foto 4.6. Satuan bentuk lahan lereng sangat curam.

Berdasarkan analisis pada pembahasan sebelumnya, proses destruksional lebih


berperan dalam membentuk jenis-jenis bentuk lahan yang ada. Aktivitas denudasional
memiliki intensitas yang tinggi terhadap aktivitas struktural pada akhir pengendapan.
Pengamatan yang terlihat dari ketinggian pada daerah penelitian memperlihatkan perbukitan
curam mendominasi terhadap dataran dengan vegetasi berupa tanaman dari perkebunan
masyarakat sekitar (Foto 4.7; Lampiran C3).

Foto 4.7. Bentuk lahan dari daerah penelitian didominasi oleh proses denudasional dengan
vegetasi yang rimbun.
27
4.2 Stratigrafi Lokal
Berdasarkan pengukuran dan rekonstruksi urut-urutan pengendapan, daerah
penelitian terdiri dari dua formasi dan endapan aluvial. Formasi tertua yaitu Formasi Lemau
tersusun atas litologi batulempung, batupasir, batulanau moluska, batubara dan batupasir
dengan nodul pasir gampingan, sedangkan formasi termuda yaitu Formasi Bintunan tersusun
atas litologi batulempung tufaan, tuf, batupasir dan konglomerat aneka bahan (Gambar 4.5)

Gambar 4.5. Stratigrafi tidak resmi daerah penelitian (hiatus merupakan Formasi Simpang
Aur yang merujuk dari stratigrafi regional menurut Yulihanto dkk. (1995)

4.2.1 Formasi Lemau


4.2.1.1 Penyebaran
Penyebaran Formasi Lemau menempati 48% dari luas daerah penelitian yang
menyebar dari baratlaut – timur laut daerah penelitian (Lampiran C0; Lampiran C1), pada
peta geologi warna hijau memperlihatkan Formasi Lemau (Lampiran C4). Singkapan pada
Formasi Lemau terdapat pada beberapa lokasi yaitu Desa Air Lelangi, Tanjungalay,
Talangberantai dan Bukit Harapan dengan ketinggiaan 23 – 98 mdpl. Formasi Lemau dibagi
menjadi dua bagian berdasarkan kesamaan lingkungan pengendapan dan jejak-jejak fosil
yaitu terdiri dari bagian bawah dan atas.

28
Bagian bawah Formasi Lemau dijumpai batubara memiliki ciri fisik hitam kusam –
mengkilap, kilap dull, gores coklat kehitaman, pecahan melembar – kubikal, agak berat,
struktur blocky dan terdapat amber, batubara memiliki tebal dengan interval 0.2 – 6.5 m,
setempat terdapat kehadiran shaly coal dan coaly shale dengan tebal 0.34 – 2.7 m, berwarna
coklat kehitaman, komposisi mineral lempung dan menyerpih (Foto 4.8).

Foto 4.8. Batubara pada Sungai Simiak di Desa Airlelangi.

Batulempung berwarna abu-abu kehitaman struktur masif, cenderung agak lapuk dan
dapat diremas, setempat teroksidasi, terdapat lensa-lensa yang terisi oleh material pasiran
(Foto 4.9).

Foto 4.9. Batulempung pada kedalaman ± 75m bor di LP 36 pada Desa Airlelangi.

Sedangkan pada bagian atas Formasi Lemau dijumpai batupasir karbonatan setempat
moluska, berwarna abu-abu kebiruan, terkompaksi baik dan dapat diremas, struktur sedimen,
laminasi, laminasi bergelombang, flaser bedding dan lenticular bedding, bioturbasi dan
silang siur, butir halus – kasar dan terdapat kehadiran perselingan pasir kasar, serat karbon
dengan tebal 0.3 – 3 cm (Foto 4.10). Kemas terbuka dengan komposisi mineral biotit, kuarsa
dan mika. Batupasir gampingan dengan tebal interval 30 – 60 cm pada bagian dalam batuan
mengalami kristalisasi dengan komposisi mineral berupa glaukonit, kuarsa, biotit dan
dengan semen berupa kalsit, batupasir gampingan merupakan nodul yang berada pada
sisipan batupasir dan batulanau di Formasi Lemau (Foto 4.11). Batupasir moluska memiliki
ciri berupa hadirnya fosil Gastropoda dan Pelecypoda sebagai fragmen dengan umur Pra-

29
Tersier (Foto 4.12). Analisis petrografi pada batupasir karbonatanan, batupasir gampingan
dan batupasir moluska (Pada sampel LP 01, LP 36, dan LP 38) berdasarkan penamaan
Pettijhon (1972) LP 01 yaitu Calcareous Glauconite Quartz Wacky (Lampiran A1), LP 36
yaitu Calcareous Glauconite Quartz Arenite (Lampiran A2) dan LP 38 yaitu Calcareous
Quartz Arenite (Lampiran A3).

Foto 4.10. (a) Singkapan batupasir karbonatan dengan struktur bioturbasi (b) Singkapan
batupasir karbonatan dengan jejak koral (d) Singkapan batupasir karbonatan
dengan sisipan batulempung membentuk struktur flaser bedding, silang siur, dan
laminasi.

Foto 4.11. Batupasir gampingan yang membentuk nodul.

30
Foto 4.12 Batupasir moluska dengan kehadiran pecahan fosil yang melimpah.

Batulanau berwarna abu-abu kebiruan yang mengandung karbonatan, struktur


sedimen laminasi, bioturbasi, setempat mengandung perselingan pasir halus – kasar, terdapat
kehadiran layer foram besar dengan jumlah yang melimpah. Komposisi mineral tersusun
dari kuarsa, glaukonit, kalsit, dan biotit, semakin kebawah dari lapisan kandungan
karbonatanan akan semakin melemah (Foto 4.13) dan (Foto 4.14).

Foto 4.13. (a) Sample core batulanau moluska di LP 36 pada kedalaman ± 23m.

Foto 4.14. Singkapan batulanau moluska dengan sisipan batupasir gampingan berupa nodul.

31
Batupasir, berwarna abu-abu kecoklatan, berbutir halus – sedang, sifat karbonatan
lemah, agak kompak, memiliki struktur sedimen dengan kemenerusan yang baik berupa
laminasi, silang siur, dengan derajat butir sub- rounded – sub angular, terdapat kehadiran
jejak tumbuhan seperti arang kayu dan fosil daun, komposisi mineral terdiri dari kuarsa,
biotit dan semen berupa silika (Foto 4.15)

Foto 4.15. Singkapan batupasir dengan struktur sedimen silang siur, herringbones dan
laminasi.

4.2.1.2.Umur dan Lingkungan pengendapan


Penentuan lingkungan pengendapan pada Formasi Lemau bagian bawah dilakukan
berdasarkan dari ciri-ciri struktur sedimen, kehadiran litologi, profil dan penampang terukur
saat pengukuran di lapangan. Pada bagian bawah Formasi lemau terdapat batubara yang
berasosiasi dengan batuan sedimen klastik karbonatan, pada bagian atas lapisan memiliki
kehadiran fosil laut dangkal berupa fosil foram besar atau kecil dengan jumlah yang
melimpah. Lapisan batubara juga memiliki sisipan berupa batulanau tebal 20 – 30 cm dan
memiliki kandungan vulkanik menandakan selama proses pengendapan yang berlangsung
terdapat pengaruh dari aktivitas vulkanik (Gambar 4.6; Lampiran D5). Berdasarkan
klasifikasi lingkungan pengendapan batubara menurut Horne dkk. (1978) batubara pada
daerah penelitian termasuk kedalam lingkungan delta plain yang berasosiasi dengan back-
barrier system. Struktur sedimen berupa laminasi bergelombang terdapat pada sisipan
batupasir halus pada litologi batulempung menandakan selama pengendapan berlangsung
terdapat pengaruh dari perubahan muka air laut. Berdasarkan analisis paleontologi tidak
terdapat fosil plankton sebagai penunjuk umur relatif. Menurut Heriyanto dan Suyoko (2007)
batubara pada daerah Ketaun berada pada umur Miosen Tengah.
Penentuan lingkungan pengendapan pada Formasi Lemau bagian atas dilakukan
berdasarkan dari ciri-ciri struktur sedimen, kehadiran litologi, profil, analisis paleontologi,
petrografi dan penampang terukur berdasarkan data pengukuran lapangan. Analisis foram
bentonik pada bagian atas Formasi Lemau termasuk kedalam lingkungan transisi – laut
dangkal (Neritik Tepi – Luar) (Lampiran B1, B2 dan B3), kehadiran mineral glaukonit
32
merupakan penciri dari lingkungan laut dangkal yang mengandung unsur gamping yang
dominan dengan kehadiran jejak fosil seperti bioturbasi dan bekas cangkang kerang.
Hadirnya struktur flasers bedding dan lenticular bedding mengindikasikan adanya pengaruh
pasang surut selama proses pengendapan berlangsung. Analisis penampang stratigrafi pada
Formasi Lemau bagian atas terdapat pada LP 01 (Gambar 4.7; Lampiran D1), LP 38
(Gambar 4.8; Lampiran D3), analisis data bor terdapat pada LP 36 (Lampiran D2). Analisis
foram plantonik menunjukkan umur pada kisaran Miosen Tengah – Akhir (N12 – N16)
dengan penunjuk umur fosil yaitu Globigerinoides primordius. Formasi Lemau pada daerah
penelitian terendapkan pada lingkungan back-barrier system – laut dangkal dengan pengaruh
energi pasang surut air laut dan angin yang kuat.

33
Gambar 4.6. Penampang stratigrafi terukur pada LP 83 yang merupakan bagian bawah Formasi Lemau, lihat deskripsi detail pada Lampiran D5
(P= batupasir, BB= batubara, LE = batulempung).

34
Gambar 4.7. Penampang stratigrafi terukur pada LP 01 yang merupakan bagian atas Formasi Lemau dan kontak tidak selaras dengan Formasi
Bintunan, lihat deskripsi detail pada Lampiran D1 (K=konglomerat, T=tuf, LT= batulempung tufaan, P=batupasir, LA= batulanau,
LAM= batulanau moluska, PG= batupasir gampingan, BB = batubara)

35
Gambar 4.8. Penampang stratigrafi terukur pada LP 38 yang merupakan bagian atas Formasi Lemau dan kontak tidak selaras dengan Formasi
Bintunan, lihat deskripsi detail pada Lampiran D3. (K=konglomerat, T=tuf, LT= batulempung tufaan, P=batupasir, LA= batulanau,
LAM= batulanau moluska, PG= batupasir gampingan, SR= BB = batubara)

36
4.2.1.3. Hubungan dan Kesebandingan Stratigrafi
Berdasarkan kesamaan ciri-ciri litologi, struktur sedimen dan analisis laboratorium,
formasi diatas memiliki kesamaan ciri dan setara dengan Formasi Lemau pada Peta Geologi
Lembar Sungai Penuh menurut Kurnama dkk. (1992), yang terendapkan pada lingkungan
transisi – laut dangkal dengan pengaruh dari pasang surut air laut.

4.2.2. Formasi Bintunan


4.2.2.1. Penyebaran
Penyebaran Formasi Bintunan menempati 52% dari luas daerah penelitian yang
menyebar dari tenggara – baratdaya (Lampiran C0; Lampiran C1), dengan ciri berupa warna
merah pada peta geologi (Lampiran C4). Singkapan pada Formasi Bintunan terdapat di
sepanjang jalan hauling batubara pada PT Injatama Mining dan beberapa desa yaitu Desa
Gunungpayung, Sumbermulya, Dusun Raja, Bumi Harjo dan Bukit Harapan dengan
ketinggian 6 – 112 mdpl. Secara umum Formasi Bintunan merupakan formasi termuda pada
daerah penelitian dan berdasarkan rekonstruksi penampang memiliki tebal berkisar ± 47 -
65 m. Formasi Bintunan dibagi menjadi dua bagian berdasarkan kesamaan ciri fisik litologi
dan lingkungan pengendapan yang terdiri dari bagian bawah dan atas.
Bagian bawah Formasi Bintunan dijumpai batulempung mengandung tufaan,
berwarna putih pucat hingga kekuningan, masif, dapat diremas, sebagian telah mengalami
pelapukan, non-karbonatan, mengalami oksidasi dan bentuk menyerpih, fragmen batuapung
hadir pada beberapa lokasi, batulempung tufaan memiki tebal berkisar 0.5 – 3.5 m (Foto
4.16).

Foto 4.16. Singkapan batulempung tufaan dengan dengan bentuk menyerpih.

Tuf berwarna putih pucat, dengan butir lempung – lanauan, sebagian tempat terdapat
fragmen batuapung dan mineral biotit, memiliki tebal 1 – 6.2 m (Foto 4.17). Pada daerah
penelitian tuf terendapkan tidak selaras dengan litologi batulanau mengandung moluska pada
Formasi Lemau (Foto 4.18). Terjadinya kontak tidak selaras pada kedua litologi tersebut
menandakan adanya pengaruh geologi yang terjadi yaitu proses erosi pada Formasi Lemau
selama kurun waktu Miosen Akhir – Pliosen dan tidak adanya kehadiran formasi antara
Formasi Lemau dan Bintunan yaitu Formasi Simpang Aur. Perbedaan umur yang relatif jauh
menandakan adanya hiatus selama proses pengendapan pada kurun waktu tersebut.

37
Foto 4.17. Singkapan tuf fragmen batuapung.

Foto 4.18. Singkapan tuf yang kontak dengan batulanau mengandung moluska

Pada bagian atas Formasi Bintunan dijumpai batupasir setempat mengandung tufaan
dan sisipan konglomerat aneka bahan. Batupasir memiliki ciri berwarna abu-abu terang
hingga gelap, ukuran butir halus – kasar, struktur sedimen berupa laminasi dan laminasi
bergelombang dengan derajat pemilahan buruk, sub-rounded – angular, kompak, memiliki
tebal hingga 4,2 m dengan komposisi mineral berupa biotit yang melimpah, kuarsa,
plagioklas dan membentuk penjajaran mineral (Foto 4.19), terjadi perubahan tekstur pasir
halus – kasar – halus, yang menandakan adanya pengaruh dari perubahan kecepatan
sedimentasi
Konglomerat aneka bahan terdiri dari fragmen berupa batuan beku (andesit, basalt,
dan basalt-andesitik) dengan ukuran cobbles – boulders, sub – rounded – rounded, matriks
berupa pasir halus – sedang mengandung tufaan, sebagian lokasi terdapat sisipan tufaan yang
mengindikasikan selama proses pengendapan memiliki pengaruh vulkanik yang dominan
(Foto 4.20).

38
Foto 4.19. Singkapan batupasir di jalan kebun sawit Desa Gunungpayung

Foto 4.20. Singkapan konglomerat aneka bahan di anak Sungai Ketaun

4.2.2.2. Umur dan Lingkungan Pengendapan


Analisis lingkungan pengendapan pada Fomasi Bintunan bagian bawah dilakukan
berdasarkan dari ciri-ciri litologi, struktur sedimen dan profil pada pengukuran di lapangan.
Pada bagian bawah Formasi Bintunan terdapat batuan dengan pengaruh aktivitas vulkanik
berupa material piroklastik jatuhan yaitu tuf dan batulempung tufaan yang bersumber dari
material yang berasal dari letusan gunung api yang berada sepanjang zona Bukit Barisan.
Ciri-ciri litologi menunjukkan pengendapan yang berlangsung pada lingkungan darat.
Berdasarkan analisis mikropaleontologi batuan tidak memiliki kehadiran fosil foraminifera
sehingga tidak adanya penunjuk umur relatif. Berdasarkan dari deskripsi sebelumnya,
analisis yang ada menunjukkan litologi yang ada pada Formasi Bintunan bagian bawah
setara dengan Formasi Bintunan dengan umur Plio - Plistosen (Kusnawa dkk., 1992)

39
Analisis lingkungan pengendapan pada Fomasi Bintunan bagian atas dilakukan
berdasarkan dari ciri-ciri litologi dan profil pada pengukuran di lapangan. Ciri batupasir yang
ditemukan yaitu terlihat adanya perubahan tekstur dari halus – kasar dan mengalami
perulangan secara signifikan dengan tebal beberapa centimeter menunjukkan adanya
perubahan energi selama pengendapan (Gambar 4.9). Kemudian batuan diatasnya terdapat
konglomerat aneka bahan dengan derajat pembundaran Sub-rounded – rounded dengan
matriks pasiran mengandung produk vulkanik yang terkompaksi. Fragmen yang terdapat
dalam konglomerat yaitu batuan beku andesit, basalt dan batuan sedimen batupasir
gampingan (Gambar 4.10).
Kondisi dari lingkungan pengendapan yang berlangsung menunjukkan adanya
pengaruh dari pasang surut dari kecepatan air sungai, hal tersebut merupakan bukti dari
pengendapan yang berlangsung berasosiasi dengan channel – fluvial pada lingkungan darat.
Hasil analisis mikropaleontologi tidak ditemukan adanya kehadiran fosil foraminifera
sehingga tidak ditemukan umur relatif dan zonasi lingkungan pengendapan, penampang
stratigrafi terdapat pada LP 65 (Lampiran D4). Berdasarkan ciri fisik, litologi yang ada pada
Formasi Bintunan bagian atas setara dengan Formasi Bintunan dengan umur Plio - Plistosen
(Kusnawa dkk., 1992)

Gambar 4.9. Profil singkapan batupasir pada LP 14.

40
Gambar 4.10. Profil singkapan konglomerat pada LP 12.

4.2.2.3. Hubungan dan Kesebandingan Stratigrafi


Berdasarkan kesamaan ciri-ciri litologi, struktur sedimen dan analisis laboratorium
yang dilakukan, formasi diatas memiliki kesamaan ciri yang setara dengan Formasi Bintunan
menurut Kurnama dkk. (1992) yang terendapkan pada lingkungan darat – fluvial.

4.3. Struktur Geologi


Struktur geologi yang berkembang pada daerah penelitian terdiri dari sesar turun
relatif berarah utara timurlaut – selatan barat daya, sesar mendatar dengan bidang sesarnya
relatif berarah barat – laut dan perlipatan sinklin dan antiklin dengan arah sumbu relatif
baratlaut – tenggara.
Tahapan awal identifikasi struktur pada daerah penelitian merujuk dari kondisi
tatanan geologi regional dan data struktur yang melewati ataupun dekat dengan daerah
penelitian. Pengolahan data DEM dalam penarikan kelurusan membantu dalam menentukan
pola pergerakan yang diindikasi sebagai zona sesar. Kelurusan bisa terbentuk akibat adanya
zona punggungan, bentuk depresi lembah yang membentuk seperti garis lurus, atau pola
yang memperlihatkan adanya garis semu jika dihubungkan antar relief yang ada.
Kemudian parameter lain yang digunakan dalam gejala sesar adalah pola sungai.
Pada kondisi normal, biasanya sungai akan berkembang dari stadia muda – tua dengan pola
relatif lurus hingga bermeander. Kondisi aliran sungai bisa berbelok akibat dikontrol oleh
batuan yang resisten atau struktur sesar, sehingga perlu pemahaman yang baik dalam untuk
bisa membedakan atas kontrol yang terjadi.
Analisis stereografis dan pengukuran data di lapangan membantu untuk menentukan
tegasan maksimum yang membentuk struktur pada daerah penelitian. Bukti struktur yang
terdapat pada daerah penelitian meliputi blok yang bergerak (offset), gawir, air terjun dan
perubahan kedudukan perlapisan. Penamaan unsur struktur pada daerah penelitian

41
berdasarkan dari lokasi terjadinya, karena pada sebelumnya belum ada penamaan dan unsur
struktur yang terpetakan dengan skala 1:25.000.

4.3.1. Sesar Turun Gunungpayung


Struktur sesar yang terlihat di lapangan terdapat adanya gawir, gores garis, air terjun
dan blok yang bergerak (offset). Sesar berada sepanjang sisi timur bagian tengah hingga
selatan dari Sungai Ketaun dengan sifat pergerakan dominan turun dan mengiri. Litologi
yang terpotong pada sesar meliputi Formasi Lemau dan Formasi Bintunan. Bukti sesar dapat
terlihat pada tiga lokasi pengukuran yaitu pada LP 01, LP 93 dan LP 94.
Pada LP 01 gejala sesar yang terlihat di lapangan berupa bidang yang bergerak
hingga ±14,2 m menunjukkan deformasi yang kuat sehingga blok sesar mengalami
pergerakan yang cukup jauh (Gambar 4.11). Berdasarkan analisis stereografis dan
pengukuran di lapangan bidang sesar yaitu N 205°E/ 68°, pitch 60°, dan net-slip 53°, N 238°E
(Gambar 4.12). Analisis dinamik menunjukkan arah maksimum (σ1) yaitu 18°, N 273°E
yang relatif berarah utara timurlaut – selatan baratdaya.

Gambar 4.11. Sesar turun Gunungpayung di lapangan pada lokasi tambang batubara.

42
Gambar 4.12. Analisis stereografis dalam penamaan sesar di LP 01 yaitu Left Normal Slip
Fault (Rickard, 1972)

Pada LP 93 sesar berada pada anak Sungai Ketaun yang terpotong sehingga
membentuk gawir yang memanjang dan terdapat air terjun dengan tinggi hingga ± 6,2 m.
Litologi berupa batupasir pada bagian atas dan konglomerat pada bagian bawah (Foto 4.21).

Foto 4.21. Sesar Turun Gunungpayung di anak Sungai Ketaun.

Berdasarkan analisis stereografis dan pengukuran di lapangan bidang sesar yaitu N


215°E/ 78°, pitch 15°, dan net-slip 15°, N 218°E (Gambar 4.13). Analisis dinamik
menunjukkan arah maksimum (σ1) yaitu 2°, N 261°E.

43
Gambar 4.13. Analisis stereografis dalam penamaan sesar di LP 93 yaitu Normal Left Slip
Fault (Rickard, 1972)

Pada LP 94 terdapat bukti berupa gawir yang memanjang dan air terjun, dengan
litologi yang sama dengan LP 93. Pada daerah tersebut mengindikasikan sebagai jalur
terusan struktur pada LP 01 dan LP 93 yang relatif berarah utara baratlaut – selatan baratdaya
(Foto 4.22)

Foto 4.22. Gawir yang terdapat pada LP 94 mengindikasikan sebagai terusan struktur sesar
pada LP 93.

44
Berdasarkan dari bukti lapangan pada ketiga lokasi memiliki ciri yang sama pada
litologi dan arah dari bidang sesar yang memotong litologi lainnya, sehingga bisa
diinterpretasikan sebagai satu jalur dari pergerakan struktur Sesar Turun Gunungpayung
dengan arah relatif utara baratlaut – selatan menenggara yang berada pada sisi timur dari
Sungai Ketaun.

4.3.2. Sesar Mendatar Dusun Raja


Gejala struktur sesar yang terlihat di lapangan berupa gawir, gores garis, air terjun,
pembelokan sungai secara tiba-tiba dengan lembah yang curam sepanjang zona sesar dan
memotong Sesar Turun Gunungpayung. Bukti adanya sesar yang memotong kehadiran pada
bidang yang menunjukkan gores garis dengan pitch yang relatif kecil dan bidang sesar yang
relatif tegak. Pengamatan dari citra udara resolusi tinggi juga menunjukkan adanya arah
kelurusan yang mengindikasi sesar.
Berdasarkan geografis, sesar ini berada pada sisi barat dari Sesar Turun
Gunungpayung dengan sifat pergerakan relatif menganan (Foto 4.23). Kenampakan 3D dan
topografi yang terlihat, sesar tersebut menunjukkan arah relatif barat – timur (Gambar 4. 14).
Berdasarkan analisis stereografis dan pengukuran di lapangan bidang sesar yaitu N 85°E/
81°, pitch 12°, dan net-slip 12°, N 87°E (Gambar 4.15). Analisis dinamik menunjukkan arah
maksimum (σ1) yaitu 15°, N 41°E.

Foto 4.23. Gawir sesar, gores garis dan step sesar yang dijumpai pada anak Sungai Ketaun.
Komponen struktur tersebut mengindikasikan adanya pensesaran mendatar.

45
Gambar 4.14. Kenampakan lembah yang memperlihatkan pembelokan pada Sungai Ketaun
menjadi bukti dari pergerakan sesar mendatar.

Gambar 4.15. Analisis stereografis dalam penamaan sesar di LP 84 yaitu Reverse Left Slip
Fault (Rickard, 1972).

4.3.3. Antiklin Sumbermulya


Antiklin yang terdapat pada daerah penelitian terlihat dari perubahan jurus dan
perlapisan yang terdapat pada jalan perkebunan di Desa Sumbermulya. Kedudukan lapisan
pada bagian barat yaitu N 320° E/8° dan bagian timur N 143° E/4° pada LP 65 dengan arah
sumbu relatif baratlaut – tenggara (Foto 4.24).

46
Berdasarkan pengolahan data menggunakan stereonet lipatan memiliki sayap barat
dengan arah N 320° E/8° dan timur N 143° E/4°, hinge line 0°, N 321 °E, hinge surface N
141° E/87°, gaya tegasan (σ1) 3°, N 51 °E, (σ2) 1°, N 321 °E, dan (σ3) 87°, N 223 °E (Gambar
4.16).

Foto 4.24. Pengukuran pada salah satu sayap antiklin di jalan perkebunan Desa
Sumbermulya pada LP 65. Koordinat lokasi S3° 16’ 45.4” E101° 53 26.5”

Gambar 4.16. Analisis lipatan menggunakan stereonet pada Antiklin Sumbermulya yaitu
upright horizontal fold (Fleuty, 1964)

4.3.4. Sinklin Sumbermulya


Sinklin yang terdapat pada daerah penelitian terlihat dari perubahan jurus dan
perlapisan. Sinklin Sumbermulya berada pada bagian barat dari Antiklin Sumbermulya
dengan kedudukan lapisan bagian barat yaitu N 5° E/7° yang terdapat pada bekas tambang
di Desa Gunungpayung di LP 38, kemudian pada bagian timur terdapat pada jalan

47
perkebunan Desa Sumbermulya dengan kedudukan lapisan yaitu N 320° E/8° dengan arah
sumbu relatif utara baratlaut – selatan menenggara.
Berdasarkan pengolahan data menggunakan stereonet lipatan memiliki sayap bagian
barat yaitu N 5° E/7° dan timur N 320° E/8°, hinge line 1°, N 171 °E, hinge surface N 290°
E/86° dengan gaya tegasan (σ1) 3°, N 81 °E, (σ2) 1°, N 171 °E dan (σ3) 86°, N 290 °E
(Gambar 4.17).

Gambar 4.17. Analisis lipatan menggunakan stereonet pada Sinklin Sumbermulya yaitu
upright horizontal fold (Fleuty, 1964)

4.3.5. Sinklin Airlelangi


Sinklin yang terdapat pada daerah penelitian diindikasi dari perubahan jurus dan
perlapisan. Lokasi tersebut terdapat pada tiga desa yaitu Desa Airlelangi, Desa Tanjungalay
dan Desa Pondokbakil. Kedudukan perlapisan berada pada baratdaya hingga timur
menenggara di Sungai Simiak dengan kedudukan N 287°E/13° (LP 26) dan pada lahan
tambang PT Injatama Mining yang berada pada Desa Pondokbakil dengan kedudukan N
271° E/13° (LP 83). Sisi yang berlainan dari sumbu terdapat pada baratlaut dan timurlaut
yaitu Sungai Simiak dengan kedudukan N 107° E/5° (LP 37) dan Desa Tanjungalay dengan
kedudukan N 112° E/11° (LP 19), N 135° E/12° (LP 18) dan N 153° E/4° (LP 5). Arah
sumbu relatif barat baratlaut – timur menenggara.
Berdasarkan pengolahan data menggunakan stereonet lipatan memiliki sayap barat
yaitu N 291° E/10° dan timur N 126° E/6° dengan hinge line 1°, N 297 °E, hinge surface N
117° E/88° dengan gaya tegasan (σ1) 2°, N 27 °E, (σ2) 2°, N 297 °E dan (σ3) 88°, N 167 °E
(Gambar 4.18).

48
Gambar 4.18. Analisis lipatan menggunakan stereonet pada Sinklin Airlelangi yaitu upright
horizontal fold (Fleuty, 1964)

4.3.6. Mekanisme Pembentuk Struktur Geologi


Sub – Cekungan Ipuh merupakan bagian dari Cekungan Bengkulu yang memiliki
batas pada bagian utara yaitu Sesar Kayuaro dengan arah relatif baralaut – tenggara,
kemudian pada bagian selatan yaitu Sesar Lais dengan arah relatif utara-selatan dengan jarak
±53 km dan ±125 km dari daerah penelitian.
Komponen struktur geologi yang telah terekam saat observasi lapangan kemudian
diolah dengan aplikasi struktur geologi. Penggunaan aplikasi struktur geologi dan kelurusan
dapat memudahkan untuk mendapatkan tegasan dan tahapan struktur yang bekerja.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, rezim tektonik berlangsung pada fase kompresi
dengan arah tegasan maksimum (σ1) berarah relatif barat baratdaya – timur timurlaut.
Struktur yang terbentuk meliputi sesar turun dengan arah relatif utara timurlaut – selatan
baratdaya, sesar mendatar dengan arah relatif barat – timur, dan perlipatan dengan arah relatif
baratlaut – tenggara dan barat baratdaya – timur timurlaut. Arah dari struktur yang terbentuk
pada daerah penelitian memiliki kesesuaian dengan simple shear model menurut Harding
dkk. (1974), sehingga gaya tegasan yang bekerja terbukti mempengaruhi terbentuknya
struktur geologi pensesaran dan perlipatan (Gambar 4.19). Menurut Pulunggono (1992),
tegasan maksimum pada fase ketiga tektonik Sumatera berasal dari arah utara baratlaut –
selatan baratdaya yang terjadi pada pada Miosen Tengah – Sekarang. Gaya kompresi yang
berlangsung pada Miosen Tengah – Resen menyebabkan terbentuknya struktur dengan arah
relatif baratlaut – tenggara, hal tersebut juga memiliki pengaruh dan kesesuaian dalam
membentuk struktur pada daerah penelitian.

49
Gambar 4.19. Simple Shear model daerah penelitian.

50
BAB V
PERSEBARAN TEBAL BATUBARA

Introductory Paragraph
Batubara pada suatu daerah akan mempunyai persebaran tebal yang berbeda-beda
akibat pengaruh dari proses pengendapan dan kontrol struktur. Identifikasi awal sebelum
melakukan kegiatan eksplorasi atau eksploitasi, dapat dilakukan dengan melakukan studi
geologi permukaan dan bawah permukaan. Dalam penentuan daerah penambangan
batubara yang potensial, tahapan korelasi lapisan batubara perlu dilakukan untuk
mengidentifikasi pola persebaran dan perubahan dari tebal batubara. Dengan demikian,
daerah yang memiliki tebal dengan perbandingan stripping ratio (SR) yang rendah,
kegiatan eksplorasi yang dilakukan akan menghasilkan nilai ekonomis untuk aktivitas
penambangan.

5.1. Dasar Teori


Batubara merupakan batuan sedimen organik yang terbentuk karena adanya
akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang mengalami proses biokimia/diagenesa pada
lingkungan yang minim oksigen dengan pengaruh perubahan tekanan dan temperatur,
sehingga terjadi peningkatan kandungan karbon serta penurunan hidrogen, oksigen,
nitrogen, dan sulfur (proses geokimia/metaformosa) (Taylor dkk., 1998). Besaran nilai
dari geometri batubara berkaitan dengan beberapa unsur meliputi lingkungan
pengendapan, proses akumulasi sedimen dan kendali struktur geologi.

5.1.1. Prinsip Korelasi Batuan


Penentuan kemenerusan lapisan batuan sedimen dapat dilakukan dengan
mengidentifikasi dari beberapa kemiripan yang ada yaitu dengan menghubungkan titik-
titik waktu pengendapan yang sama atau menghubungkan suatu stratigrafi (Sandi
Stratigrafi Indonesia, 1996). Prinsip korelasi menurut Sandi Stratigrafi Indonesia (1996)
dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
(1) Litokorelasi, yaitu menghubungkan unit litologi yang sama dengan posisi
stratigrafinya.
(2) Biokorelasi, yaitu menghubungkan unit litologi berdasarkan kesamaan fosil dan
biostratigrafi.
(3) Kronokorelasi, yaitu menghubungkan unit litologi dengan kesamaan umur dan posisi
kronostratigrafi.

Korelasi pada geologi permukaan dapat menggunakan data profil atau penampang
stratigrafi yang terukur langsung pada singkapan dengan minimal dua lokasi yang
berbeda, sehingga bisa dihubungkan berdasarkan prinsip korelasi. Sedangkan, pada
korelasi bawah permukaan menggunakan data instrumen log atau menggunakan data bor.
Log yang digunakan pada korelasi lapisan batubara umumnya menggunakan dua jenis log
yaitu Gamma Ray dan Density. Sedangkan pada data bor biasanya menggunakan konsep
data cutting atau full coring.

51
Metode korelasi menurut Koesoemadinata (1974) terdiri dari:
(1) Metode organik, yaitu korelasi dengan menghubungkan satuan stratigrafi dengan
kehadiran kandungan fosil foram besar dan kecil. Biasanya, fosil foram yang
digunakan sebagai marker dalam korelasi adalah pada saat awal muncul suatu spesies
dan pada waktu yang bersamaan terjadi kepunahan pada spesies yang lain.
(2) Metode anorganik, yaitu korelasi yang menghubungkan satuan stratigrafi tidak
didasari dari kehadiran organisme. Adapun metode yang digunakan diantaranya:
• Lapisan penunjuk (key bed), yaitu lapisan yang memiliki persebaran lateral yang
luas, dapat ditemukan hampir pada semua unit stratigrafi, memiliki ciri khusus.
Lapisan yang biasanya digunakan sebagai lapisan penunjuk yaitu abu vulkanik,
lapisan tipis serpih, lapisan tipis batugamping, sisipan lignit/ brown coal.
• Horison yang memiliki perubahan sifat kimiawi akibat pengaruh dari massa air
dalam batuan, jenis mineral, dan sifat radioaktif.
• Korelasi dengan menggunakan refleksi yang terekam pada data seismik.
• Korelasi litostratigrafi yaitu berdasarkan kesamaan ciri litologi
• Korelasi dengan menggunakan dasar maximum flooding surface (MFS), flooding
surface (FS) yang terekam pada data log. MFS dan FS bisa digunakan sebagai
penanda sebagai satu proses kejadian pengendapan.

5.1.2. Klasifikasi Kompleksitas Batubara


Proses pengendapan batubara sangat berpengaruh dengan kondisi tektonik yang
berlangsung pada suatu cekungan batubara. Secara umum semakin tinggi kompleksitas
tektonik yang bekerja pada suatu cekungan batubara, akan mempengaruhi dari
kemenerusan dan geometri lapisan batubara. Aktivitas tektonik sangat berpengaruh dalam
keterdapatan batubara pada suatu cekungan, pada tahun 2011 Pemerintah Indonesia
memperbarui aspek penilaian kompleksitas yang dimuat dalam pedoman pelaporan,
sumberdaya, dan cadangan batubara menjadi tiga tingkatan meliputi aspek sedimentasi
dan tektonik (Tabel 5.1)

Tabel 5.1. Pengaruh dari tektonik dan sedimentasi sebagai aspek penilaian dalam
klasifikasi kompleksitas geologi batubara (Anonim, 2011)
Kondisi Geologi
Sederhana Moderat Kompleks
Parameter
I.A. Aspek Sedimentasi
1. Variasi Keketebalanan Sedikit bervariasi Bervariasi Sangat bervariasi
2. Kesinambungan Ribuan meter Ratusan meter Puluhan meter
3. Percabangan Hampir tidak ada Beberapa Banyak

I.B. Aspek Tektonik


1. Sesar Hampir tidak ada Jarang Rapat
2. Lipatan Hampir tidak terlihat Terlipat sedang Terlipat kuat
3. Intrusi Tidak berpengaruh Berpengaruh Sangat berpengaruh
4. Kemiringan Landai Sedang Terjal
II. Variasi Kualitas Sedikit bervariasi Bervariasi Sangat bervariasi

52
5.2 Tahapan Identifikasi Proses Tebal Batubara
Menurut L.E Schlatter’s (1973) kondisi tektonik dengan intensitas tinggi akan
mempengaruhi dari proses penurunan cekungan, geometri lapisan dan komposisi mineral
dalam proses pembatubaraan. Parameter dalam penentuan geometri lapisan batubara
memiliki beberapa komponen meliputi ketebalan, kemiringan, kemenerusan, pola
sebaran, keteraturan, bentuk, roof dan floor, serta proses pelapukan (Kuncoro, 1996).
Penelitian yang ada memfokuskan pada aspek geometri lapisan batubara pada tebal
batubara berdasarkan data geologi permukaan dan bawah permukaan. Luasan daerah dan
perconto data geologi bawah permukaan dapat terlihat pada gambar 5.1.

Gambar 5.1. Luas daerah penelitian dengan lokasi data bor dan logging sumur.

53
Adapun tahapan analisis dalam mengidentifikasi ketebalan batubara yaitu:
(1) Geologi permukaan yaitu melakukan pemetaan geologi dengan luas 405 km2
berdasarkan gabungan dari lima daerah pemetaan geologi pada daerah Bengkulu Utara
dengan skala 1:25.000 untuk mengetahui persebaran formasi, khususnya pada Formasi
Lemau yang merupakan formasi pembawa batubara di Cekungan Bengkulu.
(2) Geologi bawah permukaan yaitu dengan menggunakan data bor batubara dengan
kedalaman pada interval 56 – 88,5 m dan geofisika batubara dengan menggunakan
Log Gamma Ray dan Log Density untuk mengidentifikasi kondisi geologi bawah
permukaan yang berkaitan dengan ketebalan batubara.

5.3 Analisis Perubahan Tebal Batubara


Aktivitas tektonik dan sedimentasi yang berlangsung mengakibatkan ketebalan
batubara yang bervariasi. Horne dkk. (1978) menjelaskan lapisan batubara yang berada
pada bagian upper dan lower delta plain memiliki ketebalan lapisan dan kemenerusan
batubara yang baik daripada delta front ataupun pro-delta. Kegiatan penambangan
batubara erat kaitannya dengan tebal dan stripping ratio batubara, sehingga penentuan
daerah eksplorasi menjadi penting untuk mempertimbangkan nilai ekonomis yang
dihasilkan dari suatu penambangan. Sebelum melakukan perekaman data bawah
permukaan, studi geologi permukaan akan dilakukan terlebih dahulu untuk
mengidentifikasi kondisi bayangan bawah permukaan dan mempertimbangkan
penggunaan alat-alat eksplorasi lebih lanjut. Sehingga dalam menentukan daerah prospek
yang memiliki tebal batubara ekonomis, kegiatan geologi permukaan dan bawah
permukaan akan saling terkait dan berkesinambungan.

5.3.1. Geologi Permukaan


Batubara di daerah penelitian terdapat pada Formasi Bintunan dan Formasi
Lemau. Formasi Bintunan merupakan formasi termuda pada umur Plio – Plistosen dengan
persebaran relatif baratlaut – tenggara dan berada pada bagian barat hingga selatan
menenggara, terendapkan pada lingkungan fluvial dengan pengaruh aktivitas vulkanik
yang tinggi. Kemudian, pada Formasi Lemau memiliki pelamparan di barat hingga timur
menenggara yang berada pada sisi timur Formasi Bintunan dengan umur Miosen Tengah
– Akhir, dengan ketebalan batubara yang bervariasi dengan lingkungan pengendapan
delta plain yang berasosiasi dengan back barrier system. Semakin kearah timurlaut maka
formasi yang ditemukan akan semakin tua, yaitu Formasi Seblat yang terendapkan pada
lingkungan laut dangkal menuju laut dalam, kemudian formasi tertua yaitu Formasi
Hulusimpang yang terendapkan pada lingkungan darat (Gambar 5.2), dengan demikian
target eksplorasi batubara hanya difokuskan pada bagian baratdaya hingga barat laut yang
tersebar pada Formasi Bintunan dan Formasi Lemau.
Struktur geologi pada daerah penelitian menunjukkan adanya perlipatan dengan
arah relatif barat baratlaut – timur menenggara dan baratlaut – tenggara. Sinklin terdapat
pada Desa Sumber Mulya, Tanjung Dalam, Napal Putih dan daerah perkebunan sawit
Sumindo Estate, sedangkan antiklin terdapat pada Desa Sumber Mulya, Tanjung Dalam,
Sumber Mulya dengan dip berkisar 4 - 30°. Struktur yang ditemukan terdiri dari sesar
turun dan mendatar. Sesar turun terdapat pada Desa Gunungpayung, Tanjung Dalam dan

54
daerah Sumindo Estate dengah arah relatif utara – selatan dan timurlaut – baratdaya dan
dengan dip berkisar 45 - 84°. Sesar Mendatar dengan pergerakan mengiri berada pada
bagian utara Sungai Ketaun di daerah Sumindo Estate dan sepanjang Sungai Seblat pada
daerah penelitian yang menyebabkan munculnya batuan tertua di Cekungan Bengkulu.
Sesar Mendatar dengan pegerakan menganan terdapat pada bagian selatan daerah
penelitian pada Sungai Ketaun dengan pergerakan relatif barat – timur yang memotong
batuan pada Formasi Lemau dan Bintunan. Struktur yang terdapat pada daerah penelitian
menunjukkan adanya gaya kompresi regional pada Miosen Akhir – Plistosen
menyebabkan batuan-batuan yang ada pada daerah Bengkulu Utara terlipat dan
tersesarkan (Gambar 5.3)

Gambar 5.2. Peta geologi dari lima lokasi pemetaan.

55
Gambar 5.3. Blok Diagram persebaran formasi.

5.3.1.1. Karakteristik Batubara


Batubara yang berada pada daerah penelitian mempunyai ciri kehadiran silicified
coal yang mengandung material vulkanik, detritus halus dan permineralisasi yang menjadi
material kompak dengan persebaran yang luas (Foto 5.1). Karakteristik silicified coal
yang terdapat pada daerah penelitian merupakan lapisan penunjuk (key bed) untuk
melakukan korelasi pada seam utama. Ciri yang terdapat di permukaan bisa digunakan
sebagai korelasi pada geologi bawah permukaan. Perekaman data log pada silificied coal
akan memperlihatkan kurva yang berbeda diantara lapisan batubara, sehingga bisa
menjadi parameter dalam melakukan korelasi. Kemudian metode lain yang digunakan
untuk korelasi yaitu menggunakan roof dan floor batubara. Seam B merupakan seam
utama sebagai target eksplorasi di Cekungan Bengkulu, biasanya roof batubara yang
ditemukan berupa sedimen klastik mengandung karbonatan dengan kehadiran
foraminifera besar yang melimpah. Pada beberapa lokasi akan ditemukan kontak antara
Seam B dengan endapan channel yang menggerus lapisan batubara (Foto 5.2)

Foto 5.1. Batubara di wilayah Tanjungdalam pada IUP PT. Firman Ketaun (Dokumentasi
Linggadipura, dkk., 2017)

56
Foto 5.2. Batubara pada Seam B yang mengalami kontak langsung dengan endapan
channel (Dokumentasi Linggadipura, dkk., 2017)

5.3.2. Geologi Bawah Permukaan.


Analisis geologi bawah permukaan berdasarkan dari data Logging Sumur dan data
bor berada pada tiga lokasi, yaitu pada Desa Pondokbakil yang berada pada sisi tenggara,
kemudian pada Desa Airlelangi yang berada tenggara yang lebih dekat terhadap
hypocenter, dan pada Desa Tanjung Dalam yang berada pada hypocenter daerah
penelitian. Penentuan ketiga lokasi tersebut didasari dari izin dan akses pengolahan data
geologi bawah permukaan yang diberikan oleh PT. Injatama Mining dan PT. Firman
Ketaun, sedangkan pada bagian baratlaut tidak terdapat data geologi bawah permukaan
karena tidak mendapatkan izin untuk mengakses dan mengolahnya.
Identifikasi dari perubahan ciri tebal batubara pada masing-masing lokasi diawali
dengan pemilihan perconto. Pada Desa Pondokbakil menggunakan satu data bor dan log,
Desa Airlelangi menggunakan tiga data bor dan log, serta Desa Tanjung dalam
menggunakan delapan data bor dan log. Kedalaman batubara yang memiliki nilai
ekonomis berdasarkan tebal batubara yang ditemukan berada pada interval kedalaman
56,85 – 88,50 m (Tabel 5.2).

Tabel 5.2. Tabulasi data pegukuran batubara daerah penelitian


North- Eleva- Total Overbur Inter- Seam Interbur Seam
Bore ID Location Easting Seam A
ing tion Depth -den burden B den C

CBP23 Tanjung- 807736. 964800 89.00 83.05 17.46 0.36 53.48 ? ? 1.93
dalam 102 4.825 8
CBP39 807495. 964776 80.58 83.85 21.95 0.43 38.74 4.98 5.65 1.71
034 3.755 3
SMGC0 807906. 964793 91.99 71.8 8.35 0.4 42.9 6.34 1.49 1.06
14R2 148 1.332
SMGC0 807891. 964791 90.8 60.6 4.2 0.45 41 6.5 1.74 2.1
14R 375 8.402
GT004 807902. 964792 81.44 80.1 9.15 0.21 41.46 4.94 2.17 0.89
794 9.796 7

57
CBP22 807995. 964799 93.62 82.9 59.95 - - 4.51 2.05 2.03
64 5.685 8
CBP45 807995. 964816 74.55 56.85 36.89 - - 5.21 0.61 1.33
739 1.376 9
SMGC0 808383. 964840 99.94 67 49.98 - - 5.15 2.15 0.98
03R 57 8.459
DH-JO- Airlelangi 814124. 964264 58.79 88.50 11.85 - - 2.06 - -
01 844 5.107 5
DH-JO- 813664. 964173 79.28 67.40 50.2 - - 4.04 - -
05 152 3.488 1
DH-JO- 814491 964032 67.2 80.2 9.65 0.43 58.7 3.76 - -
11 0
DH-JO- Pondok- 815647. 963972 68.66 72.00 60.4 - - 3.83 - -
13 bakil 556 6.928 8

5.3.2.1. Data Bor dan Log Desa Tanjung Dalam.


Pada lokasi pertama analisis data bor dan logging sumur pada daerah penelitian
bersumber dari data sekunder PT Firman Ketaun dengan IUP yan berada pada Desa
Tanjung Dalam. Berdasarkan interpretasi, terdapat tiga seams batubara yaitu Seam A, B
dan C.
Korelasi sumur bertujuan untuk mengidentifikasi distribusi dan perubahan
ketebalan batubara dengan arah penampang relatif baratdaya – timur laut (Gambar 5.4).
Bagian tengah kedalaman log memiliki material batupasir halus - kasar dengan ketebalan
yang lebih baik dan berada dibagian atas daerah penelitian dengan sisipan batulanau dan
batulempung (Gambar 5.5). Bagian bawah terdapat batuan sedimen berbutir halus seperti
batulempung, batulanau, batuserpih dan batubara dengan interburden sedimen halus
dengan keterdapatan litologi dengan pengaruh lingkungan laut yaitu batugamping.
Analisis Fence Diagram menunjukkan distribusi dari persebaran litologi pada
Desa Tanjung Dalam (Gambar 5.6). Berdasarkan korelasi data bor pada Seam A terdapat
pada kedalaman 4.21 – 21.95 m dari datum permukaan dengan ketebalan 0.21 – 0.45 m
yang merupakan bagian atas dari Formasi Lemau, antara Seam A dan Seam B terdapat
interburden dengan interval 41.46 – 53.48 m dengan ketebalan 4.94 – 6.34 m. Interburden
Seam B dan Seam C memiliki ketebalan 0.61 – 5.65 m dengan ketebalan Seam C dengan
interval 1.33 – 2.1 m. Seam B dan Seam C memiliki ketebalan interburden yang relatif
rendah dan mengindikasikan dari bagian bawah Formasi Lemau
Analisis logging sumur pada penampang memperlihatkan Seam A memiliki
interburden yang relatif jauh terhadap jarak antara Seam B dan Seam C. Berdasarkan
pembagian klasifikasi batubara pada PT. Firman Ketaun, Seam A hanya terdiri dari satu
seam, Seam B terdiri dari empat seam yaitu BUU, BUL, BLU dan BLL, sedangkan pada
Seam C terdiri dari tiga seam yaitu C1, C2 dan C3 (Gambar 5.7). Semakin kearah
baratdaya keterdapatan batubara akan semakin dalam yang menunjukkan adanya
pengaruh sedimentasi dan lingkungan pengendapan yang relatif kearah laut sehingga
perbedaan elevasi batubara menunjukkan adanya perbedaan morfologi selama proses
pembatubaraan.
Seam B merupakan target utama dari kegiatan eksplorasi dan ekploitasi karena
memiliki nilai efisiensi dan ekonomis yang baik dari kegiatan penambangan. Terbukti
terdapat lima perusahaan tambang yang beroperasi dengan satu kemenerusan batubara
yang sama dari tenggara hingga baratlaut pada daerah Bengkulu Utara.

58
Gambar 5.4. Peta indeks menunjukkan garis korelasi sumur bor pada Desa Tanjung
Dalam.

Gambar 5.5. Profil bor vertikal pada Desa Tanjung Dalam.

59
Gambar 5.6. Fence diagram pada Desa Tanjung dalam.

60
Gambar 5.7. Korelasi lapisan batubara pada Desa Tanjung Dalam (Sumber data log dari PT Firman Ketaun)

61
5.3.2.2. Data Bor dan Log Desa Airlelangi dan Pondokbakil
Analisis data logging sumur pada Desa Airlelangi dan Pondokbakil bersumber dari
data sekunder PT Injatama Mining dengan empat data logging sumur. Berdasarkan
analisis, terdapat kehadiran batubara Seam A dan Seam B dengan kedalaman yang
bervariasi dan tidak ditemukan kehadiran Seam C. Pada Seam A hanya terdapat pada DH-
JO-11 dengan ketebalan 0.43 m dengan overburden 9.65 m dari datum permukaan. Seam
B terdapat pada kedalaman 11 – 60.4 m dari datum permukaan dengan ketebalan yang
bervariasi yaitu 2.06 – 4.04 m (Gamar 5.8).
Material sedimen berbutir pasiran mendominasi pada bagian bawah data log,
sedangkan pada bagian atas sedimen halus terdiri atas batulempung dan batulanau dengan
sisipan batupasir yang tidak menurus mengindikasikan sebagai nodul dari batupasir
gampingan (berdasarkan pengamatan langsung yang pernah dilakukan di lapangan).
Korelasi sumur memiliki arah relatif utara baratlaut – selatan menenggara, semakin kearah
baratlaut batubara akan semakin dangkal, hal tersebut karena pada DH-JO-01 merupakan
bagian dari jalur perlipatan yang ada di daerah penelitian. Pengamatan langsung di
lapangan pada LP 83 batubara memiliki ketebalan hingga 6.2 m dengan overburden
sekitar sekitar 5.4 m dari permukaan, sehingga batubara yang berada pada DH-JO-01 dan
sekitarnya berada pada kedalaman yang relatif dangkal.
Tidak ditemukannya kehadiran Seam C pada daerah Desa Airlelangi dan Desa
Pondokbakil, diinterpretasikan karena kondisi yang relatif mendekati dari tepi cekungan.
Hal tersebut bisa dikenali pada sisi tenggara dari daerah penelitian dibatasi oleh Tinggian
Sebayur. Pada daerah Desa Air Lelangi dan Desa Pondokbakil, kehadiran dari material
vulkanik produk dari Formasi Bintunan relatif mendominasi dibanding pada Desa
Tanjung Dalam, tuf yang ditemukan pada pengamatan langsung lapangan hingga 5 m.

62
Gambar 5.8. Korelasi data logging sumur pada daerah Desa Airlelangi (Sumber log dari PT Injatama Mining)

63
5.3.2.3. Korelasi Batubara Bawah Permukaan
Dalam mengidentifikasi pola persebaran dari perubahan tebal batubara yang
berada pada ketiga lokasi, dilakukan korelasi dengan menggunakan data bor dengan arah
relatif baratlaut – tenggara di Desa Tanjung Dalam pada IUP PT. Firman Ketaun, Desa
Airlelangi dan Desa Pondokbakil pada IUP PT Injatama Mining (Gambar 5.9). Pada Desa
Tanjung Dalam, kehadiran Seam B dan Seam C memiliki geometri yang lebih baik pada
tebal dan kemenerusan lapisan batubara, sedangkan pada Desa Airlelangi dan
Pondokbakil batubara cenderung tipis, dimana Seam C hanya terdapat pada sebagian
tempat dan relatif tidak menerus (Gambar 5.10)

Gambar 5.9. Lokasi korelasi sumur bor daerah penelitian.

64
Gambar 5.10. Korelasi lapisan batubara di Desa Tanjung dalam, Airlelangi dan
Pondokbakil.

Batubara pada daerah PT Injatama Mining diindikasikan berada pada tepi-tepi


cekungan di daerah Bengkulu Utara dan relatif dekat dengan Tinggian Sebayur, sehingga
lapisan batubara memiliki kedalaman yang relatif dangkal dan tidak terlalu tebal (Gambar
5.11). Seam A pada IUP PT Injatama Mining memiliki persebaran tebal batubara dengan
kemenerusan setempat, menunjukkan adanya kondisi sedimentasi yang tidak stabil.
Kemudian, pada Desa Tanjung dalam dan sekitarnya diindikasikan sebagai depocenter
dari pengendapan batubara karena batubara yang ditemukan akan semakin dalam, dimana
Seam A memiliki memiliki persebaran yang luas dan relatif menerus. Perbedaan
kedalaman terjadi karena pembebanan yang dialami pada daerah Tanjung Dalam dan
sekitarnya lebih tinggi, hal tersebut menyebabkan peningkatan kualitas batubara bisa
terjadi karena perubahan gradien termal. Heryanto dan Suyoko (2007) melakukan
pengamatan batubara berdasarkan data bor pada Daerah Sebayur yang merupakan daerah
yang dekat dengan daerah penelitian berkisar ± 4 km pada bagian tenggara. Data bor
menunjukkan batubara terdapat pada kedalaman 17 – 45 m yang semakin dangkal
dibanding daerah penelitian. Berdasarkan data bor yang terdapat pada daerah penelitian
dengan penelitian yang dilakukan oleh Heryanto dan Suyoko (2007), memiliki kesamaan

65
yaitu terjadi pendangkalan dalam kehadiran lapisan batubara, hal tersebut terjadi karena
semakin bergerak kearah tenggara, maka lapisan batubara akan mendekati tepi cekungan.

Gambar 5.11. Ilustrasi pola sebaran batubara pada Sub-Cekungan Ipuh di daerah
penelitian.

66
BAB VI
SEJARAH GEOLOGI

Pengendapan yang terjadi pada daerah penelitian berada di Sub – Cekungan Ipuh,
Cekungan Bengkulu. Sub – Cekungan Ipuh dikontrol oleh pergerakan Sesar Kayuaro dan
Sesar Lais dan dibatasi oleh Tinggian Sebayur dan Tinggian Muko-Muko (Yulihanto dkk.,
1995). Cekungan Bengkulu memiliki sub – cekungan yang dibatasi oleh tinggian-
tinggian, sehingga pola pengendapan dan kontrul struktur yang berada pada sub –
cekungan mempunyai ciri yang berbeda.
Awal pengendapan terjadi pada Miosen Tengah dengan lingkungan pengendapan
berupa delta plain yang berasosiasi dengan back-barrier system. Penciri lingkungan
pengendapan ini berupa kehadiran batubara dan sedimen berbutir halus dengan energi
pengendapan yang dipengaruhi pasang-surut air laut yang kemudian terjadi peningkatan
energi pengendapan, sehingga terdapat material dengan sedimen detritus sedang – kasar
yang mengandung sifat karbonatan (Gambar 6.1). Sedimen klastik laut dangkal kemudian
menindih endapan delta plain dengan proses energi yang kuat dan berlangsung cepat,
sehingga ditemukan material dengan lapisan yang tebal. Kejadian tersebut
mengindikasikan berlangsungnya aggradational yang memperlihatkan pola tekstur
batuan relatif mengkasar. Kondisi geologi regional pada kurun Miosen Tengah di
Cekungan Bengkulu menurut Yulihanto dkk. (1995) berlangsung pada fase transgresi
yang menyebabkan ruang akomodasi sedimen bertambah bersamaan dengan naiknya
muka air laut yang mengalami pasang surut pada lingkungan laut dangkal.

Gambar 6.1. Diagram blok Miosen Tengah.

Kondisi tersebut memiliki kesesuaian dengan sedimentasi yang berlangsung pada


daerah penelitian. Ciri yang ditemukan pada daerah penelitian berupa kehadiran batuan
dengan sifat karbonatan sedang – kuat, terdapat kehadiran foram besar dan kecil dengan
litologi berupa batupasir halus – kasar dan batulanau yang mengandung gampingan
sebagai nodul (Gambar 6.2).

67
Gambar 6.2. Diagram blok Miosen Tengah – Akhir

Pada akhir pengendapan Miosen Akhir menurut Yulihanto dkk. (1995) terjadi
perubahan dari fase transgresi menuju fase regresi akibat adanya peningkatan aktivitas
tektonik sehingga terbentuk blok-blok patahan dan terjadi pengangkatan pada daerah
penelitian akibat adanya gaya kompresi. Dengan demikian terjadi perubahan lingkungan
dari laut dangkal menuju lingkungan darat. Berdasarkan interpretasi pada daerah
penelitian, tidak berlangsung sedimentasi pada kurun waktu Miosen Akhir karena adanya
pengangkatan, sehingga terjadi hiatus pada kurun waktu yang cukup lama (Gambar 6.3).

Gambar 6.3. Diagram blok Miosen Akhir saat pengangkatan.

Pada Miosen Akhir – Plistosen aktivitas tektonik terus meningkat dengan arah
gaya kompresi yang berasal relatif timurlaut –baratdaya yang membentuk struktur geologi
yang diawali dengan terbentuknya sesar turun (Gambar 6.4a) dan dilanjutkan dengan sesar
mendatar (Gambar 6.4b) yang memotong sesar turun pada bagian baratdaya. Endapan

68
fluvial banyak ditemukan setelah terjadi pengangkatan, hal tersebut karena proses
endapan yang berasosiasi dengan sungai sangat dominan.

Gambar 6.4. Diagram blok Miosen Akhir saat terbentuknya struktur geologi (a) Kondisi
terjadi sesar turun, (b) Sesar mendatar yang memotong sesar turun

Tahapan dari perkembangan tektonik pada daerah penelitian pada kurun waktu
Neogen, berlangsung dengan kondisi kenaikan muka air laut pada kala Miosen Tengah.
Pada Miosen Akhir terjadi perubahan fase transgresi menuju regresi yang dicirikan
dengan terendapkannya Formasi Bintunan dan endapan aluvial. Akhir sedimentasi pada
daerah penelitian didominasi dengan kehadiran material vulkanik dengan letusan yang
cukup kuat pada kurun waktu Plio-Pliosen (Gambar 6.5).

Gambar 6.5. Diagram blok Miosen Akhir-sekarang.

69
BAB VII
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa:

1. Satuan geomorfologi daerah penelitian dibagi menjadi empat satuan bentuk lahan
yaitu datar atau sangat datar, bergelombang atau lereng landai, perbukitan curam
dan lereng sangat curam.
2. Daerah penelitian memiliki dua formasi dari tua ke muda, yaitu Formasi Lemau
dan Bintunan serta endapan alluvial. Formasi Bintunan terendapkan secara tidak
selaras di atas Formasi Lemau. Formasi Lemau berumur Miosen Tengah-Akhir
dan Formasi Bintunan berumur Plio-Plistosen. Formasi Lemau bagian bawah
terdiri dari batubara, balempung dan sisipan batupasir, sedangkan bagian atas
disusun oleh batupasir karbonatan sebagian mengandung moluska, batulanau
karbonatan sebagian mengandung moluska dan batupasir gampingan dengan
lingkungan pengendapan transisi – laut dangkal. Formasi Bintunan bagian bawah
terdiri dari batulempung tufaan, tuf, sedangkan pada bagian atas terdiri dari
batupasir dan konglomerat aneka bahan dengan pengendapan pada lingkungan
darat yang berasosiasi dengan fluvial system.
3. Struktur geologi yang berkembang berupa sesar turun dengan arah timurlaut –
baratdaya, sesar mendatar dengan arah timur – barat, perlipatan sinklin dan
antiklin dengan arah relatif baratlaut- tenggara dengan tegasan utama berarah
relatif utara timurlaut – barat baratdaya yang berlangsung pada Miosen Akhir –
Sekarang.
4. Tebal batubara yang dijumpai bervariasi dan dibagi menjadi tiga seams yaitu
Seam A, B dan C. Seam A memiliki tebal berkisar 0,21 – 0,45 m dengan
pelamparan setempat, Seam B memiliki tebal berkisar 2.06 – 6.5 m dengan
pelamparan yang cukup luas hingga kilometer, dan Seam C memiliki tebal
berkisar 1,3 – 2,1 m dengan pelamparan setempat. Semakin kearah baratlaut
menuju Desa Tanjung Dalam maka lapisan batubara akan semakin tebal yang
diindikasikan sebagai depocenter, sedangkan pada Desa Airlelangi dan
Pondokbakil batubara cenderung tipis dan berada relatif ke tepi cekungan. Seam
B merupakan target utama dari kegiatan ekplorasi dan eksplorasi dengan nilai
efisiensi dan ekonomis yang baik
5. Proses geologi pada daerah penelitian pada Miosen Tengah diawali pada kondisi
delta plain yang dipengaruhi oleh pasang surut, kemudian terjadi kenaikan muka
air laut akibat fase transgresi sehingga endapan darat ditindih oleh endapan laut
dangkal. Kemudian pada Miosen Akhir terjadi peningkatan aktivitas tektonik
kompresi yang menyebabkan pengangkatan pada daerah penelitian akibatnya
terjadi hiatus pada kurun waktu Miosen Akhir – Pliosen. Lingkungan
pengendapan juga berubah dari laut dangkal menuju daratan. Setelah itu, aktivitas
vulkanisme mendominasi pada Plio-Plistosen dan menutupi hampir sebagian
daerah penelitian

70
DAFTAR PUSTAKA
Amin, T,C., Kusnama, E., Rustandi, and Gafoer, S., 1993, “Geological Map of Manna
Quadrangle” Geological Research and Development Centre, Bandung.
Anonim. 2011, “Pedoman Pelaporan, Sumberdaya dan Cadangan Batubara”; Badan
Standarisasi Nasional (BSNi) SNI 5015, pp. 1-13
Argyriou, A.V., Sarris, A., Teeuw, R.M., 2016, “Using Geoinformatics and
Geomorphometrics To Quantify The Geodiversity Of Crete, Greece”.
International 562 Journal of Applied Earth Observation and Geoinformation, 51,
pp. 47-59.
Barber, A.J., M.J.Crow., J.S.Milsom., 2005, “Sumatra : Geology, Resources and Tectonic
Evolution”: London, Geological Society, pp. 1-289
Barker, R.W., 1960, “Taxonomi Notes, Shell Development Company”, Houston, Texas.
Blow, H., 1969, “The Late Middle Eocene to Recent Planktonic Foraminifera
Biostratigraphy”, International Conf. Planktonic Microfossil, 1967, Proc., Bull.,
Vol. 1.
Boggs, S., 2006, “Principle of Sedimentology and Stratigraphy 4th edition”, Prentice hall,
New Jersey, pp. 1-662
Bermana, I. 2006. “Klasifikasi Geomorfologi Untuk Pemetaan Geologi yang Telah
Dibakukan”. Bulletin of Scientific Contribution, Volume 4, Nomor 2, Agustus
2006, hal. 161-173
Brahmantyo, B. dan Bandono, 2006, “Klasifikasi Bentuk Muka Bumi (Landform) untuk
Pemetaan Geomorfologi pada Skala 1:25.000 dan Aplikasinya untuk Penataan
Ruang, Jurnal Geoaplika, Vol. 1, No. 2, hal. 71 - 78.
Florinsky, I. V., 1998, “Accuracy of local topographic variables derived from digital
elevation models”, International Journal of Geographical Information Science, 12,
pp. 47–61.
Harding, T.P., Wilcox, R.E., Seely, D.R., 1974, “Basic Wrench Tectonics”, American
Association of Petroleum Geologist Bulletin, v.57, pp. 97-116
Heryanto, S., dan Suyoko. 2007, “Karakteristik Batubara di Cekungan Bengkulu”. Jurnal
Geologi Indonesia, Vol. 2 No. 4 Desember 2007 hal. 247-259
Howles, A.C., 1986, “Structural and Stratigraphic Evolution of The Southwest Sumatra
Bengkulu Shelf”, Proceeding Indonesian Petroleum Association., I5th , pp. 215 -
243.
Horne, J.C., Farm, J.C., Carrucio, F.T. and Baganz, B.P., 1978, “Depositional Models In
Coal Exploration and Mine Planning In Appalachilan Region”, The American
Association Of Petroleum Geologists Bulletin: Vol. 62 No.12 pp. 2379-2411.
Koesoemadinata, 1974, “Teknik Penyelidikan Geologi Bawah Permukaan, Pedoman
Pratikum Geologi Minyak dan Gas Bumi”, Institut Teknologi Bandung, Bandung
Kuncoro, 1996, “Perencanaan Eksplorasi Batubara”, Progam Studi Khusus Eksplorasi
Sumberdaya Bumi Progam Pasca Sarjana, Institut Teknologi Bandung
Kusnama R., Pardede, S., Mangga A and Sidarto. 1992, “Geological Map of Sungai
Penuh Quadrangle, Sumatra. Map Scale 1:250.000”, Geological Research and
Development Centre, Bandung.

71
Kusnama, R., Andi M.S., and Sukarna, D. 1993, “Tertiary Stratigraphy and Tectonic
Evolution of Southern Sumatra”, Geological Society of Malaysia Bulletin, 33, pp.
143 – 152.
Karig, D.E., Suparka, S., Moore, G.F., and Hehanusa, P.E., 1979. “Structure and
Cenozoic Evolution of the Sunda Arc in the central Sumatra region, in Watkins,
J.S., Montadert, L., and Dickinson (eds)”: Geological and geophysical
investigation of continental margin, AAPG Memoir 29, pp. 223-237.
L.E. Schlatter’s, 1973, “Introduction to coal and coal Geology”, New York.
Linggadipura, R.D., Dimas, E., dan Prasetyo, M.H., 2016, “Karakteristik Kuantitatif
Cleat Sebagai Indikator Gas Metana Batubara Di Kabupaten Bengkulu Utara,
Bengkulu”, Prosiding Seminar Nasional Kebumian Geoweek Ke-8, UGM, hal.
199 - 210
Mukti, M. A., Singh, S. C., Hananto, N. D., Ghosal, D., Deighton, I., 2011, “Structural
Style and Evolution of The Sumatran Forearc Basin”, Indonesian Petroleum
Association: Proceeding Indonesian Petroleum Association, 35th. Jakarta, pp. 82.
Newcomb, K.R. & Mccann, W.R., 1987, “Seismic History and Seismotectonics of the
Sunda Arc”, Journal of Geophysical Research, 92, pp. 421-439.
O’Leary, D.W. and Friedman, T.D.H.A., 1976, “Lineament, Linear, Lineation, Some
Proposed New Standards for Old Terms”, Bulletin of Geological Society of
America, 87, pp. 1463-1469.
Pardede, K.R., Mangga S.A., dan Sidarto, 1993, Geologi Lembar Sungaipenuh dan
Ketaun, Sumatera (0812-0813), Skala 1: 250.000, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Geologi, Bandung.
Peacock, D.C.P., Dimmen V., A. Rotevatn, Sanderson D.J., 2017, “A Broader
Classification of Damage Zones”. Journal of Structural Geology, [in press]
Pettijohn, F J, Potter, P E and Siever, R, 1972, “Sand and Sandstones” Springer-Verlag:
New York, pp. 158.
Pulunggono, A., Agus H.S., Kosuma, C.G., 1992. “Pre-Tertiary and Tertiary Fault
Systems as a framework of the South Sumatra Basin”; A Study Of Sar-Maps.
Proceedings Indonesian Petroleum Association, 21, pp. 340 - 360.
Reinson, G. E., 1992, “Transgressive barrier island and estuarine systems, in Walker, R.
G., and N. P. James (eds.), Facies models”, Geol. Assoc. Canada, pp. 179-194.
Rickard, M.J., 1972, “Fault Classification – Discussion”, Geological Society of America
Bulletin, v.83, pp.2545-2546.
Sandi Stratigrafi Indonesia. 1996, “Komisi Sandi Stratigrafi Indonesia”, Ikatan Ahli
Geologi Indonesia.
Segura, F.S., Pardo-Pascual, J.E., Rosselló, V.M., Fornós, J.J. and Gelabert, B., 2007,
“Morphometric Indices as Indicators of tectonic, fluvial and Karst Processes in
705 calcareous drainage basins”, South Menorca Island, Spain. Earth Surf.
Process. 706 Landforms 32, pp. 1928–1946
Schlatter,L.E. 1973, “Oil Shale Deposits of Western Europe, U.N. Symposium on
Development and Utilization of Oil Shale Reserves”, section 1 Tallinn pp.16
Schlische, R. W., 1995, “Geometry and Origin of Fault-Related Folds in Extensional
Settings”. AAPG Bulletin, v. 79, No. 11, pp. 1661–1678.

72
Shary, P. A.,1995, “Land Surface in Gravity Points Classification by Complete System
of Curvatures”. Mathematical Geology , 27, pp. 373 ± 390.
Taylor, G.H., Teichmu¨ller, M., Davis, A., Diessel, C.F.K., Littke, R., Robert, P., 1998,
“Organic Petrology”. Gebru¨der Borntraeger, Berlin
Walker, R. G. dan James, N.P., 1992, “Facies Model Response to Sea Level Change,
Geologic Association Of Canada Publication”, Departement Of Earth Sciences
Memorial University of Newfoundland St. John’s, Newfoundland Canada
Williams, H., Turner, F. J. dan Gilbert, C. M., 1982, “Petrography; An Introduction to the
Study of Rocks in Thin Sections”, 2nd edition. New York: W. H. Freeman and
Company.
Yulihanto, B., Situmorang, B., Nurdjajadi, A., dan Sain, B., 1995, “Structural Analysis
of the onshore Bengkulu Forearc Basin and Its Implication for Future
Hydrocarbon Exploration Activity”. Proceedings Indonesian Petroleum
Association 24th, October 1995.
Yulihanto, B., Sofyan, S., Widjaja, S., Nurdjajadi, A., Hastuti, S., 1996, “Indonesian
Petroleum Association Post Convention Field Trip 1996 Bengkulu Forearc
Basin”, pp. 1 - 55

73
LAMPIRAN
Lampiran A1

ANALISIS PETROGRAFI

No Conto : LP 01 Nama Satuan : Calcareous Glauconite Quartz


Wacky (Pettijhon, 1972)
Lokasi : Desa Gunungpayung Nama Batuan : Batupasir

Deskripsi Megaskopik :
Batupasir karbonatan, kuning keabu-abuan, masif, 3 - 12 µm, sub-rounded, terbuka, poorly sorted, kompak F=
Fosil, M= Kuarsa, Glaukonit, Feldspar, Mineral Opak, S= Karbonatan.

Deskripsi Mikroskopik :
Sayatan tipis batuan sedimen ; warna cream – abu-abu kecoklatan; bertekstur klastik; semen karbonat ; ukuran
butir 4 – 10 µm ; bentuk butiran menyudut tanggung – membulat ; kemas tertutup ; disusun oleh mineral kuarsa,
feldspar, glaukonit, fosil, dan mineral opak, pembesaran 40x.
Mineral Primer (100%) :

Matrix (60%) : Kuarsa (G,7) (30%). Tidak berwarna, indeks bias n>nkb, relief rendah, ukuran butir 4 – 10
µm, sudut pemadaman bergelombang, hadir merata dalam sayatan, terubah menjadi mineral
lempung
Feldspar (B-C, 2-3) (15%). berwarna putih, relief rendah, bentuk menyudut tanggung,
ukuran butir 6 – 8 µm, berupa plagioklas dan ortoklas
Glaukonit (10%) (B3). berwarna hijau, bias rangkap kuat, ukuran butir 6 – 8 µm, hadir
mengisi rongga kamar fosil.
Fosil (F7) (3%), warna abu-abu kehijauan, relief sedang, berukuran 7 – 9 µm , bentuk dalam
kondisi utuh, Gastropoda (?)
Mineral Opak (2%) (F-G, 10). berwarnahitam,ukuran butir 4,5 – 6.5 µm, hadir sebagian
dalam sayatan.

Semen (40%) : Calcite (G-H,5) (40%), tidak berwarna, relief sedang, hadir mengisi rongga antar butir
merata dalam sayatan.

Kesimpulan : Ciri dari kehadiran mineral glaukonit dan fosil dengan tekstur wacky menunjukkan
pengendapan berlangsung pada lingkungan laut dangkal denga kondisi energi yang tenang
dan bagian dari Formasi Lemau yang berumur Miosen Tengah – Miosen Akhir.
Lampiran A2

ANALISIS PETROGRAFI

No Conto : LP 36 Nama Satuan : Calcareous Glauconite Quartz


Arenite (Pettijhon, 1972)
Lokasi : Desa Airlelangi Nama Batuan : Batupasir

Deskripsi Megaskopik :
Batupasir sedimen karbonatan, abu-abu kebiruan, pasir halus – sedang, masif, sub-angular – sub-rounded,
terbuka, medium sorted, kompak, sebagian mengandung pecahan fosil foram besar.

Deskripsi Mikroskopik :
Sayatan tipis batuan sedimen (fresh), kuning keabuan, bertekstur klasik, semen karbonat, ukuran butir 0,01- 0,25
mm, matrix grain supported, disusun oleh mineral kuarsa, plagioklas, glaukonit, mineral opak, foram besar, dan
semen karbonatan, perbesaran 40x

Mineral Primer (100%):


Matrix (80%) : Kuarsa (H-I,8-9) (40%). Tidak berwarna, hadir sebagai fenokiris, berbentuk membulat
tanggung, pliokrisme lemah, Nm < Nkb, berukuran 0,05 – 0,1 mm, sudut pemadaman
bergelombang, hadir merata dalam sayatan, sebagian terubah menjadi mineral lempung
Feldspar (I2,I5) (20%), tidak berwarna, hadir menginklusi batuan, berbentuk prismatik,
relief rendah, pliokrisme lemah, Nm < Nkb, hadir merata dalam sayatan dan sebagian
mengalami hancuran, sebagian terubah menjadi mineral lempung
Glaukonit (G5) (J,5-6) (12%). Kuning kehijaun, bias rangkap kuat, ukuran butir 0,05 -0,1
mm, hadir merata dalam batuan
Fosil (H7) (5%) , warna abu-abu kehijauan, relief sedang, berukuran 0,1 – 0,15 mm, bentuk
dalam kondisi utuh, fosil berupa bentos.
Mineral Opak (B3) (3%). hitam,ukuran 0,1 – 0,15mm, hadir sebagian dalam sayatan.

Semen (20%) : Calcite (H-I,4) (15%), tidak berwarna, relief sedang, berukuran 0,02 – 0,3 mm, hadir
mengisi rongga antar butir, merata dalam sayatan.
Mineral lempung (5%) (C-D,2), sebagai agregat halus, hadir sebagai mineral ubahan dari
kuarsa, plagioklas dan glaukonit,

Kesimpulan : Ciri dari kehadiran mineral glaukonit dan fosil bentos menunjukkan pengendapan
berlangsung pada lingkungan laut dangkal dan bagian dari Formasi Lemau yang berumur
Miosen Tengah – Miosen Akhir.
Lampiran A3

ANALISIS PETROGRAFI

No Conto : LP 38 Nama Satuan : Calcareous Quartz Arenite


(Pettijhon, 1972)
Lokasi : Desa Gunung Payung Nama Batuan : Batupasir

Deskripsi Megaskopik :
Batupasir sedimen karbonatan, abu-abu kebiruan, pasir halus – sedang, masif, sub-angular – sub-rounded,
terbuka, medium sorted, kompak, sebagian mengandung pecahan fosil foram besar.

Deskripsi Mikroskopik :
Sayatan tipis batuan sedimen (fresh), kuning keabuan, bertekstur klasik, semen karbonat, ukuran butir 0,01- 0,25
mm, matrix grain supported, disusun oleh mineral kuarsa, plagioklas, glaukonit, mineral opak, foram besar, dan
semen karbonatan, perbesaran 40x

Mineral Primer (100%):

Matrix (70%) : Kuarsa (E-F,2-3) (G6) (30%), tidak berwa, relief tinggi, hadir sebagai fenokris,
embayment, berbentuk menyudut tanggung, pliokrisme lemah, indeks bias Nm < Nkb,
ukuran butir 10 – 15 µm, sudut pemadaman bergelombang, sebagian terubah menjadi
mineral lempung
Feldspar (G-H, 8-9) (25%), tidak berwarna, relief rendah, hadir menginklusi batuan,
berbentuk menyudut tanggung, pliokrisme lemah, indeks bias Nm < Nkb, ukuran butir 15 –
70 µm, hadir merata dalam sayatan dan sebagian mengalami hancuran, terubah menjadi
mineral lempung
Biotit (F5) (10%), kecoklatan, hadir sebagian dalam sayatan, subhedral, relief tinggi,
pliokrisme kuat, indeks bias Nm < Nkb, berukuran
Glaukonit (H-I,2) (F5) (7%), berwarna hijau, relief rendah, bias rangkap kuat, ukuran butir
15 – 20 µm, hadir mengisi rongga kamar fosil.
Mineral opak (A6) (3%). hitam, ukuran butir 5 – 8 µm, hadir sebagian dalam sayatan.

Semen (30%) : Calcite (G-H,5) (25%), tidak berwarna, relief sedang, hadir mengisi rongga antar butir
merata dalam sayatan.
Mineral lempung (J,5-6) (5%), sebagai agregat halus, hadir sebagai mineral ubahan dari
kuarsa, plagioklas dan glaukonit,

Kesimpulan : Ciri dari kehadiran mineral glaukonit menunjukkan pengendapan berlangsung pada
lingkungan laut dangkal dan bagian dari Formasi Lemau yang berumur Miosen Tengah –
Miosen Akhir.
Lampiran B1

2018
No. Contoh Batuan : LP 04 Jenis Batuan : Balanau
Lokasi : Pondokbakil Kisaran Umur : Miosen akhir - Pleistosen
Batuan : Sedimen Klastik Dianalisa Oleh : Hazred Umar Fathan
EOCENE OLIGOSEN MIOSEN PLEISTOCENE
PLIOCENE
UMUR middle late early middle late early middle late Holocene
a b c d e.1-4 e.5 f.1 f.2 f.3 g h

N1 P20
N2 P21
N3 P22
P13
P14
P15
P16
P17

P18

P19

N4
N5
N6
N7
N8
N9
N10
N11
N12
N13
N14
N15
N16
N17

N18

N19

N20

N21

N22

N23
Foraminifera Planktonik
Orbulina biloberta
Globigerina praebulloides
Spaerodinella Seibdehiscens

Blow, 1969

Kesimpulan : Kisaran Umur Relatif : N13 – N14 (Miosen Tengah)

No. Contoh Batuan : LP 04 Satuan Batuan : Batupasir


Lokasi : Pondokbakil Lingkungan Batimetri: Neritik Luar - Batial Atas
Batuan : Sedimen Klastik Dianalisa Oleh : Hazred Umar Fathan

Lingkungan Batimetri Neritik Batial Abisal Hadal


Tepi Tengah Luar Atas Tengah Bawah
Foraminifera Bentonik 0 20 100 200 500 2000 4000 5000
Nonionella brodii
Chalengger sta
Strebulus batavius

Barker, 1960

Lingkungan Bathymetri : Neritik Luar - Batial Atas

Paraf/ACC
Lampiran B2

2018
No. Contoh Batuan : LP 36 Jenis Batuan : Batulanau
Lokasi : Airlelangi Kisaran Umur : Miosen akhir - Pleistosen
Batuan : Sedimen Klastik Dianalisa Oleh : Hazred Umar Fathan
EOCENE OLIGOSEN MIOSEN PLEISTOCENE
PLIOCENE
UMUR middle late early middle late early middle late Holocene
a b c d e.1-4 e.5 f.1 f.2 f.3 g h

N1 P20
N2 P21
N3 P22
P13
P14
P15
P16
P17

P18

P19

N4
N5
N6
N7
N8
N9
N10
N11
N12
N13
N14
N15
N16
N17

N18

N19

N20

N21

N22

N23
Foraminifera Planktonik
Orbulina biloberta

Blow, 1969

Kesimpulan : Kisaran Umur Relatif : N9 – N23 (Miosen Tengah - Pleistosen)

No. Contoh Batuan : LP 36 Satuan Batuan : Batupasir


Lokasi : Airlelangi Lingkungan Batimetri: Neritik Tepi - Tengah
Batuan : Sedimen Klastik Dianalisa Oleh : Hazred Umar Fathan

Lingkungan Batimetri Neritik Batial Abisal Hadal


Tepi Tengah Luar Atas Tengah Bawah
Foraminifera Bentonik 0 20 100 200 500 2000 4000 5000
Elphidium craticulatum
Nonion depressulum
Nonion of asterizons

Barker, 1960

Lingkungan Bathymetri : Neritik Tepi - Tengah

Paraf/ACC
Lampiran B3

2018
No. Contoh Batuan : LP 70 Jenis Batuan : Batupasir
Lokasi : Bukit Harapan Kisaran Umur : Miosen akhir - Pleistosen
Batuan : Sedimen Klastik Dianalisa Oleh : Hazred Umar Fathan
EOCENE OLIGOSEN MIOSEN PLEISTOCENE
PLIOCENE
UMUR middle late early middle late early middle late Holocene
a b c d e.1-4 e.5 f.1 f.2 f.3 g h

N1 P20
N2 P21
N3 P22
P13
P14
P15
P16
P17

P18

P19

N4
N5
N6
N7
N8
N9
N10
N11
N12
N13
N14
N15
N16
N17

N18

N19

N20

N21

N22

N23
Foraminifera Planktonik
Globigerinoides immaturus
Globigerina praebulloides
Amnicola could

Blow, 1969

Kesimpulan : Kisaran Umur Relatif : N4 – N16 (Miosen Awal - Tengah)

No. Contoh Batuan : LP 70 (M12-4) Satuan Batuan : Batupasir


Lokasi : Bukit Harapan Lingkungan Batimetri: Neritik Tengah Luar
Batuan : Sedimen Klastik Dianalisa Oleh : Hazred Umar Fathan

Lingkungan Batimetri Neritik Batial Abisal Hadal


Tepi Tengah Luar Atas Tengah Bawah
Foraminifera Bentonik 0 20 100 200 500 2000 4000 5000
Astrononion stelligerum
Strebulus beccarii
Strebulus batavius

Barker, 1960

Lingkungan Bathymetri : Neritik Tengah - Neritik Luar

Paraf/ACC
Lampiran C0

Tabulasi data pengukuran lapangan di Gunungpayung dan sekitarnyan, Kec. Ketahun, Kab. Bengkulu Utara
Ele- Keterangan
Kontak Kontak
Lokasi Y X vasi Strike Dip Litologi Foto
Top Bottom

batupasir Batupasir batubara


karbonatan
LP 01 -3.27207 101.86051 23 1 5 sedang non sisipan
sisipan pasir
karbonan batupasir
gampingan

Batupasir berbutir
halus - sedang, abu-abu
konglomerat kebiruan,
batupasir M= kuarsa dominan,
LP 02 -3.22848 101.82768 48 polimik
sangat halus (70%?), mika, S= silika
holosen

Batubara, kusam, gores


coklat, pecahan
conchoidal
batualanau
LP 03 -3.22509 101.82802 52 170 18 (sisipan
batubara)

Batulanau, abu-abu
kebiruan, karbonatan,
fosil kerang melimpah,
batulanau resin dibagian top
LP 04 -3.2514 101.84418 52 batulempung
karbonatan

Batulanau, abu-abu
gelap, masif, M=
batulanau kuarsa, plagioklas
LP 05 -3.24063 101.86427 43 153 4 non- batulempung
karbonatan
Lampiran C0
Batupasir berbutir
halus, putih
batupasir kekuningan, masif, M=
LP 06 -3.27462 101.82845 7 sedang frag. soil konglomerat kuarsa dominan,
Tuffaan feldspar, biotit, mika,
F= tuff

Batulempung, abu-abu,
lapuk masif, tidak
karbonat
LP 07 -3.29024 101.83253 45 329 5 batulempung konglomerat ?

Konglomerat aneka
bahan, teroksidasi, M=
pasir tuffaan F= gravel
konglomerat - boulder
LP 08 -3.27637 101.85831 57 soil ?
polimik

Batupasir berbutir
halus – kasar putih
kekuningan, masif, M=
LP 09 -3.27939 101.85735 56 Batupasir biotit, kuarsa F= tuff,
siderite band

Batuapung, coklat tua,


M= kuarsa, feldspar,
batuapung/ biotit
batupasir F= tuff
LP 10 -3.28573 101.85642 53 sedang ?
berfragmen
(?)
Lampiran C0
Sisipan pasir sedang -
pasir sedang- kasar, krem, M=kuarsa,
kasar dan biotit, feldspar
LP 11 -3.29268 101.84555 51 sisipan soil ?
batulanau
tuffaan

Konglomerat aneka
bahan, F=gravel -
boulder M= pasir
konglomerat tuffaan
LP 12 -3.29559 101.84467 52 batupasir
polimik

Konglomerat aneka
bahan, F=gravel -
boulder M= pasir
konglomerat
LP 13 -3.2997 101.84685 45 tuffaan
polimik

Batupasir berbutir
kasar - sangat kasar,
M= biotit dominan,
batupasir
kuarsa, feldspar,
LP 14 -3.30258 101.83625 48 sedang - soil ?
mengalami
sangat kasar
penjajaran mineral

Putih terang, lengket,


lempung – lanauan,
terdapat mineral biotit
tuff/ silt
LP 15 -3.27178 101.8459 54 soil ?
tuffaan (?)

Batulempung, putih
keabuan, agak lapuk,
masif,
LP 16 -3.23784 101.8642 41 batulempung
Lampiran C0
Batupasir berbutir
halus, abu- abu, M=
batupasir kuarsa, pirit, mika
LP 17 -3.23251 101.85723 12 berbutir
halus

Pasir berbutir halus –


sangat halus, abu-abu
batupasir kebiruan, laminasi, M=
LP 18 -3.23534 101.85509 23 135 12 berbutir kuarsa dominan
halus S= silika

Batupasir halus, abu-


abu kebiruan, M=
kuarsa dominan, S=
LP 19 -3.23525 101.85402 34 112 11 batupasir soil batulempung silika, terkekarkan

Batupasir berbutir
halus - sedang, abu-abu
batupasir kebiruan, M= kuarsa
LP 20 -3.23588 101.85206 43 berbutir soil dominan, (70%?),
sedang mika, S= silika

Konglomerat aneka
bahan, F=gravel -
boulder
konglomerat
LP 21 -3.25637 101.83201 36
holosen (?)

Batupasir berbutir
sedang - kasar, CU,
batupasir abu-abu kehitaman,
LP 22 -3.25201 101.82684 37 315 4 berbutir soil lempung M= kuarsa, biotit,
sedang-kasar feldspar
Lampiran C0
Batulempung, abu-abu
terang cenderung
lapuk, masif
LP 23 -3.2499 101.82629 36 batulempung soil

Batulempung, abu-abu
kebiruan, masif, kekar
berkembang, S=silika
konglomerat
LP 24 -3.24928 101.82427 31 batulempung
holosen

Batulempung, abu-abu
kebiruan, masif, kekar
berkembang, S=silika,
LP 25 -3.24558 101.82412 34 batulempung batulanau terkesikkan (?)

Batupasir berbutir
halus - sedang, fresh
batupasir abu-abu
berbutir lapuk kecoklatan, M=
LP 26 -3.24056 101.82809 47 287 13 soil
halus - kuarsa dan feldspar
sedang dominan, biotit, derajat
butir S.angular -
S. Rounded
Batulempung, putih
keabuan, teroksidasi,
M= tuff >30%, mika
batulempung
LP 27 -3.27792 101.87794 95 soil
tuffaan

Batupasir berbutir
sangat halus, putih
batupasir keabuan M=kuarsa,
LP 28 -3.27562 101.88482 71 berbutir soil feldspar, tuff, mika,
sangat halus pirit
Lampiran C0
Batulanau, putih
keabuan teroksidasi,
M=kuarsa, tuffaan
LP 29 -3.27167 101.89162 48 batulanau soil

Batulempung, putih
keabuan, masif,
terkesikkan (?), layer
oksidasi ±2cm,
LP 30 -3.25952 101.90097 61 batulempung soil

Batulempung, putih
keabuan, masif,
terkesikkan (?),
LP 31 -3.26173 101.90172 83 batulempung soil

Batulempung, abu-abu
kebiruan, masif,
batulempung S=karbonat
LP 32 -3.26852 101.905 40 252 19 batulempung soil karbonatan
(?)

Batulempung, putih
keabuan, masif,
teroksidasi
LP 33 -3.27352 101.8988 45 batulempung soil

Batulanau, putih
keabuan teroksidasi,
M=kuarsa, tuffaan
LP 34 -3.26722 101.90038 58 batulanau soil
Lampiran C0
Batulempung, putih
keabuan, agak lapuk,
masif, mengandung
batulempung tufaan
LP 35 -3.26835 101.89539 77 soil
tuffaan

Batupasir, berbutir
halus – kasar,
batupasir karbonatan kuat, jejak
karbonatan foram besar
LP 36 -3.23267 101.82751 64 soil
sisipan pasir
gampingan

Batubara, hitam kusam,


gores coklat, kubikal,
soft, pengotor lempung
LP 37 -3.22752 101.82733 82 107 5 batubara batulempung

Batupasir, berbutir
halus – kasar,
batupasir karbonatan kuat, jejak
karbonatan foram besar
LP 38 -3.27168 101.8741 48 5 7 batulanau
sisipan pasir
gampingan

Batulempung, putih
krem, teroksidasi,
masif
LP 39 -3.27426 101.86673 85 batulempung soil M=hematit, limonit (?)

Batulempung, putih
krem, teroksidasi,
masif
LP 40 -3.27635 101.87365 84 batulempung soil M=hematit, limonit,
tuffaan,
mika
Lampiran C0
Batupasir berbutir
halus-sangat halus, abu
kecoklatan, M= tuff,
batulempung kuarsa, biotit, hematit
LP 41 -3.29593 101.86692 79 soil
tufaan dan limonit non
karbonatan

Batulempung, putih
keabuan, masif,
M=tuff, mika, non
batulempung
LP 42 -3.29579 101.86945 83 soil karbonatan
tufaan

Batulempung, putih
keabuan, cenderung
lapuk, masif fragmen
Batulempung
LP 43 -3.27394 101.87135 75 tuffaan, mika, biotit
tufaan (?)
non karbonatan

Batupasir berbutir
batupasir kasar, krem M=kuarsa,
berbutir biotit, fragmen tuff,
LP 44 -3.26118 101.87473 71 326 5 kasar soil batulempung pumice, non
mengandung karbonatan
tuffaan

Batulanau, putih krem,


layer oksidasi, M=
kuarsa, biotit, feldspar,
LP 45 -3.23971 101.87765 81 110 7 batulanau soil non karbonatan

Batulempung, putih
krem, masif, serat
arbon, teroksidasi,
LP 46 -3.23221 101.88007 86 batulempung soil mika, non karbonatan
Lampiran C0
Batulanau, putih krem,
masif, non karbonatan,
M=kuarsa
LP 47 -3.22761 101.87487 84 batulanau soil

Batupasir berbutir
sangat halus, putih
batupasir krem, masif,
konglomerat
LP 48 -3.23363 101.88746 91 100 19 berbutir M=kuarsa,
holosen (?) biotit, non karbonatan
halus

Batulanau, putih
keabuan teroksidasi,
M=kuarsa, biotit non
LP 49 -3.23252 101.89452 95 batulanau soil karbonatan

Batulanau, putih krem,


masif, M=kuarsa,
biotit, non karbonatan
LP 50 -3.22922 101.9012 100 batulanau soil

Batulempung, putih
keabuan, masif,
terkesikkan (?),
LP 51 -3.23046 101.90485 57 batulempung

Batulanau, putih krem,


masif, non karbonatan,
M=kuarsa, biotit
LP 52 -3.2287 101.90443 102 batulanau soil
Lampiran C0
Batulempung, putih
keabuan, masif,
teroksidasi non
LP 53 -3.2272 101.90445 103 21 12 batulempung soil karbonatan

Batulanau, abu-abu
kebiruan,sortasi baik,
batupasir masif, jejak foram,
LP 54 -3.25343 101.88948 41 68 3 berbutir batulempung M=biotit, mika
sangat halus

Batupasir berbutir
halus, abu- abu, M=
kuarsa, pirit, mika
LP 55 -3.25239 101.88971 41 batupasir (?)

Batupasir berbutir
halus, abu- abu, M=
kuarsa, pirit, mika
LP 56 -3.25109 101.89064 36 80 10 batupasir

Batupasir berbutir
halus, abu- abu, M=
batupasir kuarsa, pirit, mika
LP 57 -3.2475 101.89373 33 berbutir
sangat halus

Batulempung, putih
keabuan, masif, M=
limonit, kuarsa, biotit
non karbonatan
LP 58 -3.3016 101.82992 9 batulempung
Lampiran C0
Konglomerat aneka
bahan, F= pebbles -
cobbles, mengandung
konglomerat tuffaan, karbon,
LP 59 -3.29936 101.83197 19
polimik M= pasir halus - kasar

Batulempung, putih
krem, teroksidasi,
masif M= tuffaan, mika
LP 60 -3.2806 101.82351 91 batulempung non karbonatan

Konglomerat aneka
bahan, F= pebbles -
cobbles, M= Pasir
konglomerat halus mengandung
LP 61 -3.30073 101.88088 63 soil
polimik tuffaan

Batulempung, putih
keabuan, masif,
teroksidasi, M= mika
batulempung non karbonatan
LP 62 -3.30109 101.88537 62
tufaan

Batulempung, putih
keabuan, cenderung
lapuk, masif
batulempung
LP 63 -3.29158 101.87687 98 teroksidasi, M=biotit
tufaan

Batulempung, putih
krem, masif, M=biotit,
batulempung S=silika, non
LP 64 -3.27947 101.88941 68 karbonatan/ karbonatan
batupasir???
Lampiran C0
batupasir berbutir halus
batupasir hingga sedang, abu-abu
berbutir kebiruan, sebagian
LP 65 -3.27929 101.89069 69 320 57 sangat halus tuff karbonatan, masif,
hingga
sedang

Batulempung, putih
keabuan masif,
Batulempung, abu-abu
batulempung
LP 66 -3.27858 101.89101 69 211 25 gelap, masif, melembar
tufaan
(?), karbonatan

Batulempung, abu-abu
kebiruan, masif,
kompak,
batulempung
LP 67 -3.26121 101.88927 30
tufaan

Batulempung, putih
krem, agak lunak,
masif, M= kaolinit (?)
batulempung
LP 68 -3.25762 101.89391 58
tufaan

Batulempung, abu-abu
gelap, masif, sisipan
batulempung pasir halus >0.5cm
batulempung cerat karbon,
LP 69 -3.25954 101.89411 37 124 3 abu-abu
putih tuffaan
kebiruan

Batupasir berbutir
batulanau halus – se dang, abu-
abu kebiruan, moluska
batupasir hingga
LP 70 -3.25996 101.9039 47 50 4 melimpah, M= kalsit,
moluska batupasir
glaukonit, kuarsa, biotit
sangat halus
Lampiran C0
Batulempung, putih
krem, masif, agak
lunak M= kaolinit (?)
LP 71 -3.26158 101.90626 60 49 3 batulempung

Tuff berbatu apung,


kuning kecoklatan,
M=tuff, kuarsa, biotit,
batulempung mika, pirit, hornblende
LP 72 -3.28614 101.90665 80
tufaan

Tuff, putih krem,


masif, M= kuarsa,
mika,
LP 73 -3.29275 101.90439 63 tuf

Batulempung, putih
krem, agak lapuk,
masif, terkesikkan (?)
batulempung
LP 74 -3.29474 101.90286 57 mengandung tuffaan
tufaan

Batulempung, putih
krem, agak lapuk,
masif, terkesikkan (?)
batulempung mengandung tuffaan,
LP 75 -3.29945 101.89863 39
tufaan teroksidasi

Batulempung, putih
krem, lapuk, masif,
teroksidasi
batulempung
LP 76 -3.30205 101.90317 53 ,mengandung tuffaan,
tuffaan
Lampiran C0
Batupasir berbutir
batupasir sangat halus,
berbutir mengandung tuffaan,
LP 77 -3.25323 101.86818 36 sangat halus putih krem, masif, agak
mengandung lapuk, M=kuarsa,
tuffaan biotit, mika, hematit (?)
teroksidasi,
Batulempung, putih
krem, masif, sisipan
batulempung
batupasir 15 - 37 cm,
tuffaan
LP 78 -3.24552 101.86916 61 149 5 teroksidasi M=tuff,
bersisipan
mika, kaolinit
batupasir

Tuff, putih , F=pumice,


M=biotit,

konglomerat batulanau
LP 79 -3.26755 101.87578 56 67 7 tuff
polimik karbonatan

Batulanau, abu-abu
terang, masif,
batupasir karbonatan, cetakan
batulanau fosil cangkang,
LP 80 -3.26436 101.84801 57 dan
bermoluska M=kuarsa,
konglomerat
biotit, mika

Konglomerat aneka
bahan, F= pebbles -
cobbles, sortasi buruk
konglomerat
LP 81 -3.27985 101.83787 50 soil
polimik

Batupasir berbutir
kasar - halus, putih
batupasir keabuan, kompak, M=
berbutir kuarsa, biotit,
LP 82 -3.28388 101.82925 59 352 7
halus hingga hornblende
sedang
Lampiran C0
Batubara, hitam kusam,
gores coklat, kubikal,
soft, pengotor
batubara dan lempung, terdapat
LP 83 -3.24206 101.84819 53 271 2 batubara soil
batulempung sisipan silicified coal,
pengaruh vulkanik
dominan
Batupasir berbutir
kasar - halus, abu-abu
batupasir kebiruan, kompak, M=
konglomerat kuarsa, biotit,
LP 84 -3.28303 101.8565 54 berbutir
aneka bahan hornblende
sedang

Batupasir berbutir
halus, abu- abu, M=
batupasir
kuarsa, pirit, mika
sangat halus
LP 85 -3.22471 101.8721 60 140 8 soil
sisipan
batulempung

Batulanau, putih krem,


masif, non karbonatan,
M=kuarsa, biotit
LP 86 -3.22347 101.87914 89 138 7 Batulanau

Batulempung, putih
krem, agak lapuk,
masif, mengandung
LP 87 -3.22564 101.83647 95 Batulempung tuffaan, teroksidasi

Batulempung, putih
krem, agak lapuk,
masif, mengandung
LP 88 -3.22892 101.83556 87 batulempung tuffaan, teroksidasi
Lampiran C0
Batulanau, putih krem,
masif, non karbonatan,
M=kuarsa, biotit
LP 89 -3.22856 101.84341 63 batulanau

Batulempung, putih
krem, agak lapuk,
masif, mengandung
LP 90 -3.24039 101.83875 92 batulempung tuffaan, teroksidasi

Batulempung, putih
krem, agak lapuk,
masif, mengandung
LP 91 -3.24373 101.84048 87 batulempung tuffaan, teroksidasi

Batulempung tufaan,
putih keabu-abuan,
masif
Batulempung
LP 92 -3.25786 101.84494 21
tufaan

Batulempung tufaan,
putih krem, masif,
f=tuf,
Batulempung
LP 93 -3.29974 101.84046 52 138 4
tufaan

Batulempung, putih
batulempung krem, agak lapuk,
sisipan masif, mengandung
LP 94 -3.27865 101.85804 38 batupasir tuffaan, teroksidasi
berbutir
sedang
LAMPIRAN C1

8o
7o PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
53
3 87 89
85
86
FAKULTAS TEKNIK
88 52 12o

37
5o 50 UNIVERSITAS SRIWIJAYA
47 2018
2 36 17 46 49
48
19
PETA PENGAMATAN DAN LINTASAN
51
19o DAERAH GUNUNG PAYUNG DAN SEKITARNYA
11o
12o
16 KECAMATAN KETAHUN, KABUPATEN BENGKULU UTARA
18
20
26 90 45
13o
5
83
4o 7o
91
13o

78
25

5o 57
24
23 56
4 Oleh:
10o
55 Hazred Umar Fathan
77 NIM. 03071381320003
4o
54

22 3o
21 Formasi Bintunan Formasi Lemau
92 68
Konglomerat Batulanau
70
69 30
Batupasir Batupasir
44 67 4o

5o Tuf Batulanau
o
3
80 Batulempung tufaan Batubara
71
31

79 34
1 1
35 32 Lokasi Telitian Sungai Lokasi Telitian
12 12
Measured Section Gerakan tanah Measured Section
15 38
1 29 25 25
Sampel Paleontologi Garis kontur Sampel Paleontologi
5o 43
7 o
33 10
Sampel Petrografi Danau bekas 10
Sampel Petrografi
6 39
tambang Pengukuran Struktur
28 Pengukuran Struktur
8 40 Pertambangan
66 3o Strike/Dip A B C

94 27 Garis Penampang
65 Lintasan
81 9 Jalan
64 8o

4o

84 72
82

7o 10 UG
US

UM Diagram Deklinasi
UM = Utara Magnetik
US = Utara Sebenarnya
UG = Utara Grid
0O01
7 0O26’ Deklinasi rata-rata
o
pada tahun 1960
5 63
11 73

74
12 41 42

59 93 13 75
61 2. Badan Indonesia Geospasial (BIG)
58 62
Perekaman Citra Tahun 2004
14 76
LAMPIRAN C2

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2018
PETA KELERENGAN
DAERAH GUNUNG PAYUNG DAN SEKITARNYA
KECAMATAN KETAHUN, KABUPATEN BENGKULU UTARA

Oleh:
Hazred Umar Fathan
NIM. 03071381320003

KETERANGAN
0-2% Datar atau sangat datar

2-6% Lereng sangat landai

6 - 13 % Lereng landai

13 - 25 % Lereng agak curam

25 - 55 % Lereng curam

>55 % Lereng sangat curam


Klasifikasi US Soil Survey Manual

Pola Aliran Dendritik

UG
US

UM Diagram Deklinasi
UM = Utara Magnetik
US = Utara Sebenarnya
O
UG = Utara Grid
0 01
0O26’ Deklinasi rata-rata
pada tahun 1960

2. Badan Indonesia Geospasial (BIG)


Perekaman Citra Tahun 2004

B’
LAMPIRAN C3

P1 Perbukitan Curam PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
C
2017
PETA GEOMORFOLOGI
DAERAH GUNUNG PAYUNG DAN SEKITARNYA
KECAMATAN KETAHUN, KABUPATEN BENGKULU UTARA
P1
P1

Oleh:
Hazred Umar Fathan
NIM. 03071381320003

PEMERIAN
Datar atau Bergelombang Perbukitan Lereng Sangat
Karakteristik sangat datar atau Lereng Curam Curam
D1 Landai B1 P1 L1
Luas (%) 19 21 56 4
D1 Datar atau Sangat Datar
Elevasi (mdpl) 7 – 52 55 - 72 65 - 118 56 – 81
Kelerengan (%) Datar – landai (0 Landai – agak Agak curam – Sangat curam
– 13) curam (13 – 55) sangat curam >55
(>25)
D1 Stadia Sungai Tua Dewasa Dewasa Muda
Bentuk Lembah U Simetri “U” “U – V” “V”
Litologi lempung, aluvial batulanau dan Batupasir, Batupasir,
batupasir Konglomerat, Konglomerat
batulanau
B1 Fungsi Lahan Persawahan Perkebunan Perkebunan -
Karet dan Sawit Karet dan Sawit
Elevasi (m) Klasifikasi menurut Bermana (2006) dengan modifikasi
Peta Geomorfologi dari data Digital Elevation Model (DEM)
101 - 120 21 - 40

81 - 100 6 - 20

61 - 80 Sungai

41 - 60 Danau bekas
tambang
Batas bentuk
lahan
L1
D

L1 Lereng Sangat Curam U

UG
US

UM Diagram Deklinasi
UM = Utara Magnetik
US = Utara Sebenarnya
UG = Utara Grid
0O01
0O26’ Deklinasi rata-rata
pada tahun 1960

2. Badan Indonesia Geospasial (BIG)


Perekaman Citra Tahun 2004
B’

Kenampakan morfologi dilihat dari bird eye (A) Kenampakan morfologi dilihat dari bird eye (B)

U
L1
LAMPIRAN C4

8o
7o PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNIK
12o
5o
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
C
2018

QTb PETA GEOLOGI


Sinkli
n Airle 19o DAERAH GUNUNG PAYUNG DAN SEKITARNYA
langi B 11o
12o KECAMATAN KETAHUN, KABUPATEN BENGKULU UTARA
Tml
13o

4o 7o
o
13

5o

Oleh:
10o Hazred Umar Fathan
4o
NIM. 03071381320003
A LEGENDA
3o
F HOLOSEN Qa Alluvial : Bongkah, kerikil, pasir, lumpur dan
lempung

PLIO - PLISTOSEN QTb Formasi Bintunan : Batulempung tufaan, konglomerat


Qa aneka bahan, batupasir, tuf
o
4
5o
MIOSEN TENGAH
- AKHIR
Tml Formasi Lemau : Batupasir moluska, batulanau
3 o moluska, batupasir gampingan,
batupasir, batulempung karbonat
dan sisipan batubara.

a. b. a. Antiklin Sungai
b. Antiklin diperkirakan
E Gerakan tanah
a. b. a. Sinklin
b. Sinklin diperkirakan Garis kontur
7 o
a. b.
a. Sesar geser
5o
b. Sesar geser diperkirakan Danau bekas tambang

An
a. Sesar turun

tik
a. b. Pertambangan

lin
b. Sesar turun diperkirakan

Su
B C
Garis Penampang

m
g

be
un

3o Strike/Dip

rm
QTb
ay

Jalan

uly
gP

a
Si
nk
un

8o

lin
un

Su
rG

4o

m
sa

be
Se

rm
uly
a
7o
UG
US
Diagram Deklinasi
us unraja UM
UM = Utara Magnetik
Se sar D US = Utara Sebenarnya
UG = Utara Grid
D 0O01
0O26’ Deklinasi rata-rata
o
pada tahun 1960
5

2. Badan Indonesia Geospasial (BIG)


Perekaman Citra Tahun 2004

B’

PENAMPANG GEOLOGI
H:V = 1:1
Sinklin Airlelangi
250 S. Lingau 250
S. Simiak S. Ketuan S. Ketuan
125 125
0 0
-125 C-125
A N 40o E BN 84o E N 264o E

Sinklin Sumbermulya
250 Antiklin Sumbermulya S. Lingau 250
Sesar Dusunraja S. Simiak S. Ketaun Sesar Gunungpayung
125 125
0 0
-125 -125
DN 36o E EN 61o E N 219o E F
LAMPIRAN D1

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG
2018

PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR


LINTASAN : LP 01
LOKASI : Desa Gunung Payung
DAERAH : Desa Gunung Payung
SKALA : 1 : 150

TANGGAL DIUKUR DAN DIGAMBAR OLEH DIPERIKSA OLEH


10 Januari 2018 Hazred Umar Fathan Prof. Ir. Edy Sutriyono, M.Sc., P.hD.

STRUKTUR SEDIMEN LITOLOGI SINGKATAN


f: fragmen
: Masif Batupasir m: matriks
s: semen
psr: pasir
: Laminasi Batulanau sgt: sangat
hls: halus
: Laminasi sdg: sedang
Bergelombang Batulempung
FU: Fining Upwards
: Perlapisan Batulempung tufaan CU: Coarsening Upwards
Silang Siur
Batubara JENIS ALAS LAPISAN
: Bioturbasi
Konglomerat : Kontak tegas
: Herringbone
Tuff : Kontak erosional

Batupasir Gampingan KETERANGAN


: Foram besar

: Siderites Band

: Batupasir melensa

UNIT STRUKTUR
UMUR LITOSTRA- SEDIMEN
TEBAL (M)

TIGRAFI ASOSIASI LINGKUNGAN


UKURAN BUTIR
FASIES PENGENDAPAN
SIMBOL DESKRIPSI
FORMASI

BAGIAN
KALA

LITOLOGI
VC. Sand
VF. Sand

M. Sand
C. Sand
F. Sand

Cobble
Pebble

Gravel

Klasifikasi
Clay

(Sam Boggs Jr, 2006)


Silt

Konglomerat, kecoklatan, agak lapuk, f= gravel -


boulder (aneka bahan), m=pasiran mengandung tuf

32,5
FORMASI BINTUNAN
PLIO - PLEISTOSEN

Tuf, masif, putih terang, f=pumice


30 CHANNEL
BAWAH

27,5 Batupasir sdg, putih keabuan, masif, mengandung


CU tufaan, bagian bottom dijumpai batulanau dan top
FLUVIAL
batulempung mengandung tufaan SYSTEMS

25 Batulanau, abu-abu, masif, agak lapuk, mengandung


tufaan, m=kuarsa, biotit, mika
Batulempung, abu-abu, masif, agak lunak

Batulanau, abu-abu, masif, agak lapuk, m=kuarsa,


biotit, mika, mengandung tufaan lemah
22,5 FU FLOOD PLAIN

20

Batupasir sdg, abu kecoklatan, struktur bottom ke top


herringbone, silang siur, laminasi, non-karbonat,
sisipan batupasir ksr 0.5-3cm, f=kuarsa, m=biotit,
17,5 mika (Foto 4.16)

FORESHORE
15
ATAS

Batupasir hls, abu kecoklatan, setempat melensa


MIOSEN TENGAH - AKHIR

12,5 batupasir ksr, silang siur, non-karbonat, m=kuarsa,


biotit
FORMASI LEMAU

Batupasir gampingan, pasir halus, kompak, abu-abu BACK BARRIER -


terang, karbonat kuat, m=glaukonit, kuarsa, kalsit
CU SHALLOW MARINE
Batulanau, abu kebiruan, karbonat sedang, bagian
bawah wavy lamination makin ke atas laminasi, sisipan
10
siderite bands, foram melimpah, f=kalsit, m=kuarsa,
biotit.
Batupasir gampingan, pasir halus, kompak, abu-abu SHOREFACE
terang, karbonat kuat, m=glaukonit, kuarsa, kalsit
Batulanau, abu-abu kebiruan, karbonat sedang,
7,5 bioturbasi vertikal bagian atas (2 - 4cm), sisipan
siderite bands 3 - 4cm, serat karbon pecahan
cangkang kerang bagian atas (Foto 4.15)

5 Batupasir hls, abu-abu kecoklatan, masif, karbonat


sisipan batubara 2 - 3 cm

FORESHORE (?)
BAWAH

2,5
Batubara, kehitaman, gores hitam, pecahan kubikal,
ringan, sisipan pasir hls 2-3cm, sebagian teroksidasi MARSH-
SWAMP DELTA PLAIN

0
LAMPIRAN D2

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG
2018

DATA BOR
LINTASAN : LP 36 (data bor)
LOKASI : Desa Airlelangi
DAERAH : Desa Airlelangi
SKALA : 1 : 150

TANGGAL DIUKUR DAN DIGAMBAR OLEH DIPERIKSA OLEH


10 Januari 2018 Hazred Umar Fathan Prof. Ir. Edy Sutriyono, M.Sc., P.hD.

STRUKTUR SEDIMEN LITOLOGI SINGKATAN


f: fragmen
: Masif Batupasir m: matriks
s: semen
psr: pasir
Batulanau sgt: sangat
hls: halus
Batulempung sdg: sedang
FU: Fining Upwards
Batubara CU: Coarsening Upwards

Shally Coal JENIS ALAS LAPISAN


: Kontak tegas
Coally Shale
: Kontak erosional
Pasir Gampingan
KETERANGAN
: Foram besar

: Serat karbon

UNIT STRUKTUR
AGE LITOSTRA- SEDIMEN
TEBAL (M)

TIGRAFI ASOSIASI LINGKUNGAN


UKURAN BUTIR
FASIES PENGENDAPAN
SIMBOL DESKRIPSI
FORMASI

BAGIAN
KALA

LITOLOGI
VC. Sand
VF. Sand

M. Sand
C. Sand
F. Sand

Cobble
Pebble

Gravel

Klasifikasi
Clay

(Sam Boggs Jr, 2006)


Silt

Batupasir sangat halus, abu-abu, masif, agak


keras, m=kuarsa, biotit, mika, bagian top
pumice 14 cm.
72,5

Batulempung pasiran, abu-abu gelap, agak


lunak, m=mika, biotit,
70 Batupasir sangat halus, abu-abu, masif, agak
keras, m=kuarsa, biotit, mika
CU

Batulempung, abu-abu, masif, perselingan batulanau,


67,5 dapat diremas, non-karbonat

Shaly coal, hitam kusam, agak lapuk, gores coklat,


rapuh, agak berat,
Batupasir gampingan, abu-abu terang, psr hls - sdg,
65 masif, karbonat kuat, m= kuarsa, plagioklas, kalsit,
sebagian terdapat foram kecil
ATAS

62,5 Batulempung, abu-abu gelap, masif, karbonat, terdapat


pecahan fosil foram, dapat diremas, agak lunak

60 FU Batulanau, abu-abu gelap, masif, karbonat, pecahan


fosil foram menyebar merata dan melimpah pada bagian
tengah, agak keras (Foto 4.14)

Batupasir hls, abu-abu gelap, masif, karbonat, pecahan


57,5 fosil foram menyebar merata, m= kalsit, kuarsa, biotit,
mika, plagioklas.

Batupasir sgt hls, abu-abu gelap, perselingan


batulempung, masif, karbonat, pecahan fosil foram
menyebar merata, bagian bawah foram melimpah pada
55 psr sdg, m= kalsit, kuarsa, biotit, plagioklas.

Batulempung, abu-abu, non-karbonat, agak lunak,


dapat diremas, terdapat sisipan karbon 2-4 cm

52,5 BACK BARRIER -


SHALLOW
SHOREFACE MARINE

Batupasir sdg - hls, masif, non-karbonat, dijumpai


50 sisipan serat karbon bagian atas, f= kuarsa, m= tuf,
FU kalsit, biotit, mika, plagioklas
MIOSEN TENGAH - AKHIR

47,5
FORMASI LEMAU

Batupasir hls - ksr, abu-abu gelap, masif, karbonat


kuat, dijumpai sisipan batulanau pada bagian atas, f=
BAWAH

kuarsa, m= kalsit, glaukonit, biotit, plagioklas (Foto


45 4.12a)

42,5

40 Batupasir sdg, abu-abu gelap, masif, karbonat kuat,


terdapat pecahan foram besar, m= kalsit, glaukonit,
kuarsa, biotit, plagioklas

37,5 CU

35 Batulanau, abu-abu terang, non-karbonat, , setempat


mengandung pasiran, m=kalsit, kuarsa, plagioklas,
biotit, mika

32,5
Batulempung, abu-abu gelap, karbonat sedang,
dijumpai pecahan foram besar, setempat mengandung
pasiran, m=kalsit, kuarsa, plagioklas, biotit, mika

30 FU
Batupasir sdg - ksr- sdg, abu-abu gelap, laminasi,
karbonat lemah bagian bottom, dijumpai sisipan
lempung 2-4cm, pecahan cangkang, serat karbon,
f=kalsit, m=plagioklas, kuarsa, mika

27,5

CU
Batupasir hls, abu-abu, kompak, non-karbonat, SHOREFACE (?)
perselingan batupasir ksr , f=kuarsa, m=biotit, mika
25

Shaly coal, hitam kusam, agak lapuk, gores coklat,


22,5 rapuh, agak berat,

Coaly shale, hitam kusam, agak lapuk, komposisi


20 mineral lempung, menyerpih MARSH-
Batubara, hitam kusam, pecahan choncoidal, gores
coklat, agak ringan, pengotor mineral lempung, resin SWAMP

17,5

Batupasir hls, abu-abu agak putih, mengandung


lempungan (abu-abu gelap), serat karbon, masif, M=
15 kuarsa, biotit, tufaan,

DELTA PLAIN
Batupasir hls, abu-abu, masif, non-karbonat, agak
keras, m= kuarsa, biotit, mika
12,5

10
CREVASSE
SPLAY

7,5

Batupasir sdg, abu-abu terang, masif, non-karbonat,


bagian bottom dijumpai setempat zeolit (?) & sisipan
batubara f=kuarsa, m=plagikolas, biotit, tufaan, mika

Batupasir hls-sdg, abu-abu kehijauan, masif, serat


karbon, f=kuarsa, m=biotit, mika

2,5
CU Batulempung, abu-abu kehitaman, kompak, serat
karbon, masif, bagian top dijumpai sisipan batupasir FLOOD
hls kehijauan (Foto 4.10)
PLAIN

0
LAMPIRAN D3

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG
2018

PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR


LINTASAN : LP 38
LOKASI : Desa Gunung Payung
DAERAH : Desa Gunung Payung
SKALA : 1 : 150

TANGGAL DIUKUR DAN DIGAMBAR OLEH DIPERIKSA OLEH


10 Januari 2018 Hazred Umar Fathan Prof. Ir. Edy Sutriyono, M.Sc., P.hD.

STRUKTUR SEDIMEN LITOLOGI SINGKATAN


f: fragmen
: Masif Batupasir m: matriks
s: semen
psr: pasir
: Laminasi Batulanau sgt: sangat
hls: halus
: Laminasi sdg: sedang
Bergelombang Batulempung
FU: Fining Upwards
: Perlapisan CU: Coarsening Upwards
Silang Siur Konglomerat

Tuf JENIS ALAS LAPISAN


: Bioturbasi
: Kontak tegas
: Herringbone Carbonaceous Shale
rippless
: Kontak erosional
: Flasers Pasir Gampingan
KETERANGAN
: Foram besar

UNIT STRUKTUR
UMUR LITOSTRA- SEDIMEN
TEBAL (M)

TIGRAFI ASOSIASI LINGKUNGAN


UKURAN BUTIR
FASIES PENGENDAPAN
SIMBOL DESKRIPSI
FORMASI

BAGIAN
KALA

LITOLOGI
VC. Sand
VF. Sand

M. Sand
C. Sand
F. Sand

Cobble
Pebble

Gravel

Klasifikasi
Clay

(Sam Boggs Jr, 2006)


Silt
FORMASI BINTUNAN
PLIO - PLEISTOSEN

Konglomerat, kecoklatan, agak lapuk, f= gravel -


boulder (aneka bahan), m=pasiran mengandung tuf, CHANNEL
BAWAH

30 Tuf, putih cerah, masif, m=kuarsa, sebagian terisi


fragmen pumice (Foto 4.19) FLUVIAL
SYSTEMS

27,5 FLOODPLAIN

25 Batulanau, abu-abu, laminasi, kompak, layer karbon


2-4cm, non karbonat, f=tuf, m=kuarsa,biotit, mika

Batupasir gampingan, abu-abu terang, psr hls - sdg,


masif, karbonat kuat, m= kuarsa, plagioklas, calcite,
sebagian terdapat foram kecil
22,5 Batulanau, abu-abu kebiruan, masif, karbonat sedang,
dijumpai layer foram besar (melimpah), mengandung
pasiran, m=kalsit, mika, biotit, bagian bottom dijumpai
pecahan cangkang makin berkurang & karbonat
ATAS

melemah SHOREFACE
20
MIOSEN TENGAH - AKHIR

FORMASI LEMAU

17,5 Batulempung, abu-abu, non-karbonat, masif


Carbonaceous shale, coklat kehitaman, menyerpih SWAMP
Batupasir ksr-sdg, abu-abu gelap, agak lapuk, laminasi
bergelombang, karbonat lemah, setempat teroksidasi,
FU m=kuarsa, m=biotit, mika
15

FORESHORE
Batupasir ksr-sdg, abu-abu gelap, masif, non-
karbonat, silang siur, m=kuarsa, m=biotit, mika
12,5

Batupasir sdg-ksr, abu-abu kecoklatan, karbonat,


silang siur, flaser bedding (Foto 4.11), m=kuarsa,
kalsit, biotit TIDAL FLAT
10
CU BACK BARRIER -
Batupasir gampingan, pasir halus, kompak, abu-abu SHALLOW MARINE
terang, karbonat kuat, m=glaukonit, kuarsa, kalsit
BAWAH

7,5

Batupasir gampingan, pasir halus, kompak, abu-abu


terang, karbonat kuat, m=glaukonit, kuarsa, kalsit
SHOREFACE
5
Batupasir hls, abu-abu kecoklatan, bagian bottom
laminasi bergelombang, berkembang foram besar,
bioturbasi dengan arah vertikal dan horizontal, karbonat
sedang (Foto 4.12)
2,5

Batupasir gampingan, pasir halus, kompak, abu-abu


0 terang, karbonat kuat, m=glaukonit, kuarsa, kalsit
LAMPIRAN D4

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG
2018

PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR


LINTASAN : LP 65
LOKASI : Desa Sumber Mulya
DAERAH : Desa Sumber Mulya
SKALA : 1 : 150

TANGGAL DIUKUR DAN DIGAMBAR OLEH DIPERIKSA OLEH


10 Januari 2018 Hazred Umar Fathan Prof. Ir. Edy Sutriyono, M.Sc., P.hD.

STRUKTUR SEDIMEN LITOLOGI SINGKATAN


f: fragmen
: Masif Batupasir m: matriks
s: semen
psr: pasir
Batulanau sgt: sangat
hls: halus
Batulempung sdg: sedang
FU: Fining Upwards
Batulempung tufaan CU: Coarsening Upwards

Tuff JENIS ALAS LAPISAN


: Kontak tegas

: Kontak erosional

UNIT STRUKTUR
UMUR LITOSTRA- SEDIMEN
TEBAL (M)

TIGRAFI ASOSIASI LINGKUNGAN


UKURAN BUTIR
FASIES PENGENDAPAN
SIMBOL DESKRIPSI
FORMASI

BAGIAN
KALA

LITOLOGI
VC. Sand
VF. Sand

M. Sand
C. Sand
F. Sand

Cobble
Pebble

Gravel

Klasifikasi
Clay

(Sam Boggs Jr, 2006)


Silt

22,5
Tuf, putih cerah, masif, m= kuarsa, sebagian terisi
fragmen pumice

20
FORMASI BINTUNAN
PLIO - PLISTOSEN

FLUVIAL
17,5 SYSTEMS
BAWAH

FLOOD PLAIN

Batulempung, abu-abu terang, masif, mengandung


15 tufaan, dapat diremas

12,5

Tuf, putih cerah, masif, m= kuarsa, sebagian terisi


fragmen pumice (Foto 4.25)

10
Batupasir sdg, abu-abu, masif, karbonat lemah,
terdapat cerat karbon 2-4 cm, m=kuarsa, biotit, mika,
Batulempung, abu-abu gelap, masif, karbonat lemah,
MIOSEN TENGAH - AKHIR

7,5 sebagian dijumpai perselingan cerat karbon,


FORMASI LEMAU

Batupasir hls abu-abu, masif, non-karbonat, dapat


FU diremas, m=kuarsa, biotit, mika,

5
ATAS

BACK BARRIER -
FORESHORE (?) SHALLOW
Batupasir sgt hls - sdg, krem, masif, non-karbonat,
dapat diremas m=kuarsa, biotit, mika,
MARINE
2,5 CU

0
LAMPIRAN D5

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG
2018

PENAMPANG STRATIGRAFI TERUKUR


LINTASAN : LP 83
LOKASI : Desa Pondokbakil
DAERAH : Desa Pondokbakil
SKALA : 1 : 150

TANGGAL DIUKUR DAN DIGAMBAR OLEH DIPERIKSA OLEH


10 Januari 2018 Hazred Umar Fathan Prof. Ir. Edy Sutriyono, M.Sc., P.hD.

STRUKTUR SEDIMEN LITOLOGI SINGKATAN


f: fragmen
: Masif Batupasir m: matriks
s: semen
: Laminasi psr: pasir
Bergelombang Batulempung sgt: sangat
hls: halus
: Laminasi Batubara sdg: sedang
FU: Fining Upwards
: Perlapisan CU: Coarsening Upwards
Silang Siur
JENIS ALAS LAPISAN
: Kontak tegas

: Kontak erosional
KETERANGAN

: Lensa Batupasir

UNIT STRUKTUR
UMUR LITOSTRA- SEDIMEN
TEBAL (M)

TIGRAFI ASOSIASI LINGKUNGAN


UKURAN BUTIR
FASIES PENGENDAPAN
SIMBOL DESKRIPSI
FORMASI

BAGIAN
KALA

LITOLOGI
VC. Sand
VF. Sand

M. Sand
C. Sand
F. Sand

Cobble
Pebble

Gravel

Klasifikasi
Clay

(Sam Boggs Jr, 2006)


Silt

Batupasir halus, abu-abu, laminasi (top), silang siur


(bottom), agak lapuk, oksidasi f=kuarsa, m=biotit,
mika, bagian bottom dijumpai sisipan batulanau
25
BACK BARRIER -
FORESHORE SHALLOW MARINE

22,5

20

Batubara, hitam kusam, agak lapuk, pecahan


17,5 melembar, gores coklat, ringan, agak rapuh, pengotor
MIOSEN TENGAH - AKHIR

mineral lempung, resin, bagian bottom dijumpai sisipan


batulempung mengandung tufaan keabuan 24 - 40 cm
FORMASI LEMAU

(Gambar 4.6)

15
BAWAH

12,5
DELTA PLAIN

MARH -
10 SWAMP
Batupasir sgt hls, abu kehijauan, non-karbonat, m=
kuarsa, biotit, mika

7,5 Batupasir sgt hls, abu kehijauan, non-karbonat,


laminasi bergelombang, m= kuarsa, biotit, mika

Batupasir sgt hls, abu kehijauan, m= kuarsa, biotit, mika


Batulempung, abu kehitaman, masif, agak lapuk,
CU okdsi,non-karbonat, sisipan batulanau, setempat lensa
5 pasiran, menyerpih,
Batubara, hitam kusam, agak lapuk, pecahan
melembar, gores coklat, ringan, agak rapuh, pengotor
mineral lempung, resin

2,5 Batulempung, abu - abu, masif, agak lapuk, okdsi,


non-karbonat, menyerpih, sisipan batubara 12 - 20cm,