Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

Nikmatnya Mencari Ilmu dan Indahnya Berbagi Pengetahuan

Disusun Oleh :
1. Alia Putri
2. Adinda Putri
3. Sassy Maharani
4. Kiki

SMAN I WARUNGGUNUNG
Tahun Pelajaran 2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan
Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.
Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk
maupun pedoman bagi pembaca.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun
isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang
saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca
untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan makalah ini.

Rangkasbitung, Maret 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................. i


DAFTAR ISI ................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1
A. Latar Belakang ....................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................. 1

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................. 2


A. Kewajiban Menuntut Ilmu ...................................................................... 2
B. Hukum Menuntut Ilmu ............................................................................ 11
C. Kedudukan Ulama dalam Islam .............................................................. 12

BAB III PENUTUP ..................................................................................... 15


A. Kesimpulan .............................................................................................. 15
B. Saran ........................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 16

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sesungguhnya Islam adalah syarat keselamatan di sisi Allah. Islam tidak
tegak dan tidak akan ada kecuali dengan ilmu. Tidak ada cara dan jalan untuk
mengenal Allah dan sampai kepada-Nya kecuali dengan ilmu. Allah lah yang
telah menunjukan jalan yang paling dekat dan mudah untuk sampai kepada-Nya.
Barangsiapa yang menempuh jalan tersebut, tidak akan menyimpang dari tujuan
yang dicita-citakannya. Mencari ilmu merupakan kewajiban setiap manusia.
Tanpa ilmu kita tidak bisa menjalani hidup ini dengan baik. Orang yang tidak
memiliki ilmu biasanya akan di manfaatkan oleh orang lain. Bahkan, orang yang
tak berilmu itu akan dibodohi oleh orang lain. Oleh karena itu, kita sebagai
manusia yang diberi akal dan pikiran carilah ilmu demi kelangsungan hidup yang
lebih baik. Menuntut ilmu dalam Islam hukumnya wajib (fardhu). Para ahli fiqih
mengelompokannya dua bagian,yaitu
1). Fardhu ‘ain; dan
2). Fardhu kifayah.
Orang yang berilmu sangat dimuliakan oleh Allah SWT dan akan diangkat
derajatnya oleh Allah SWT. Sehingga Dengan ilmunya para ulama menjadi tinggi
kedudukan dan martabatnya, menjadi agung dan mulia kehormatannya. Para
ulama bagaikan lentera penerang dalam kegelapan dan menara kebaikan, juga
pemimpin yang membawa petunjuk dengan ilmunya, mereka mencapai
kedudukan al-Akhyar (orang-orang yang penuh dengan kebaikan) serta derajat
orang-orang yang bertaqwa.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, adapun rumusan masalah dari makalah
ini adalah : 1. Bagaimana perintah menuntut ilmu dalam islam ?
2. Bagaimana keutamaan orang yang berilmu dalam islam ?
3. Bagaimana kedudukan Ulama dalam islam ?

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perintah Menuntut Ilmu
Sesungguhnya Islam adalah syarat keselamatan di sisi Allah. Islam tidak
tegak dan tidak akan ada kecuali dengan ilmu. Tidak ada cara dan jalan untuk
mengenal Allah dan sampai kepada-Nya kecuali dengan ilmu. Allah lah yang
telah menunjukan jalan yang paling dekat dan mudah untuk sampai kepada-Nya.
Barangsiapa yang menempuh jalan tersebut, tidak akan menyimpang dari tujuan
yang dicita-citakannya. Jumhur ulama sepakat, tidak ada dalil yang lebih tepat
selain wahyu pertama yang disampaikan Allah SWT kepada Rasul-Nya, Nabi
Muhammad saw sebagai landasan utama perintah untuk menuntut ilmu.
Dijelaskannya pula sarana untuk mendapatkannya, disertai bagaimana nikmatnya
memiliki ilmu, kemuliaannya, dan urgensinya dalam mengenal ke-Maha Agung-
an Sang Khalik dan mengetahui rahasia penciptaan serta menunjukkan tentang
hakikat ilmiah yang tetap. Sebagaimana firman-Nya :“Bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang
mengajar (manusia) dengan perantara kalam (baca tulis). Dia mengajarkan
kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (Q.S. Al ‘Alaq [96]: 1-5).
Dalam ayat yang lain, Allah SWT juga berfirman : “…Katakanlah : “
Adakah sama orang-orang yang mengetahui (ilmu agama Islam) dengan orang-
orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat
menerima pelajaran”. (Q.S. Az Zumar [39]: 9). 3 Keutamaan Menuntut Ilmu
Keutamaan menuntut ilmu dapat kita lihat pada kisah Imam Syafiiy Yang mulia
Imam Syafiiy dilahirkan pada bulan Rajab tahun 150 H (767 M) di Ghazab dalam
keadaan yatim. Pada usia 2 tahun Imam Syafiiy dibawa oleh ibunya ke Mekkah,
tempat kelahiran ayahnya. Beliau hidup di bawah asuhan ibunya dalam
penghidupan dan kehidupan yang sangat sederhana dan kadang-kadang menderita
kesulitan. Walaupun demikian ketika baru berusia sembilan tahun, beliau sudah
hafal Al-Qur‘an sebanyak 30 juzz di luar kepala dengan lancar. Pada usia ke
sepuluh tahun beliau sudah hafal dan mengerti Al Muwaththa‘ Imam Maliky.
Imam Syafiiy sangat rajin dan tekun menuntut ilmu, walaupun sering menderita

2
kesukaran dan kekurangan untuk membeli alat-alat perlengkapan belajar seperti
kertas, tinta, dan sebagainya. Namun karena semangatnya yang tinggi maka
beliau sering mencari tulang-tulang dan mengumpulkannya dari jalanan untuk
ditulis di atasnya pelajaran yang diperoleh atau mencari kertas bekas untuk
menulis. Catatan beliau sangat banyak sampai memenuhi gubuk sehingga beliau
tidak bisa tidur berbaring karena gubuknya sudah penuh sesak. Akhirnya beliaui
mencoba menghafalkan semua catatan yang telah ada sehingga semuanya
terekam dalam hati dan tercatat dalam otak. Syairnya yang terkenal berbunyi :
“Ilmuku selalu bersamaku ke mana aku pergi Kalbuku yang telah menjadi
gudangnya dan bukan lagi peti-peti Bila aku berada di rumah, ilmuku pun
bersamaku pula di rumah Dan bila aku di pasar, ilmuku pun berada di pasar”
Beliau belajar dari banyak guru, tidak pernah merasa cukup akan ilmu yang
dimilikinya, selalu haus akan ilmu, dan bila mendengar ada ilmu baru maka
beliau akan mengejarnya walaupun harus menempuh perjalanan yang jauh dan
melelahkan.
Beliau telah diberi izin untuk mengajar dan memberi fatwa kepada khalayak
ramai dan diberi jabatan sebagai guru besar di dalam Masjidil Haram karena
kepintarannya tersebut, walaupun usianya masih muda sekali yaitu 15 tahun.
Imam Syafiiy dihormati baik oleh pengusaha negeri maupun masyarakat awam
yang berada di tempat beliau tinggal karena keluhuran dan ketinggian ilmunya.
Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Mujaadilah ayat 11, maka telah
terbukti bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu
sebagai keutamaan mereka karena tidak jemu-jemunya menuntut ilmu baik itu
ilmu pengetahuan maupun ilmu agama.
Keutamaan orang menuntut ilmu 1. “Sebaik-baik umatku adalah ulama dan
sebaik-baik ulama adalah yang berkasih sayang. Ingatlah bahwa sesungguhnya
Allah akan mengampuni orang alim sebanyak 40 dosa dan setelah itu Allah
mengampuni 1 dosa orang bodoh.” 2. “Dan ingatlah orang alim yang rahim
(kasih sayang) akan datang pada hari kiamat dengan bercahaya dan akan
menerangi antara barat dan timur seperti terangnya bulan purnama.” 3. “Allah
akan tetap menolong hamba-Nya selama hamba-Nya mau menolong saudaranya.
Dan barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu pasti Allah

3
memudahkan baginya jalan untuk ke syurga. Dan apabila berkumpul suatu kaum
di suatu rumah dari rumah-rumah 4 Allah (mesjid) dengan membaca Al-Qur`an
dan mempelajarinya sesama mereka maka niscaya turun atas mereka ketentraman
dan mereka diliputi rahmat dan dikelilingi para malaikat dan Allah menyebutnya
dalam golongan yang adapada-Nya. Dan barangsiapa yang lambat amalnya maka
tidak akan dipercepat diangkat derajatnya.” 4. “Barangsiapa berjalan untuk
menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke syurga” (HR.
Muslim). 5. “Barangsiapa memberikan petunjuk kebaikan maka baginya akan
mendapatkan ganjaran seperti ganjaran yang diterima oleh orang yang
mengikutinya dan tidak berkurang sedikit pun hal itu dari ganjaran orang
tersebut.” (HR. Muslim). 6. “Jika anak Adam telah meninggal dunia maka
terputuslah amalnya kecuali 3 hal: a) Ilmu yang bermanfaat b) Sedekah jariyah c)
Anak Shaleh yang mendoakan kedua orang tuanya” (HR. Muslim). 7.
“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah untuk diberi kebaikan maka orang itu
lalu memperdalam agama Islam” (HR. Bukhari-Muslim). Manfaat menuntut ilmu
antara lain : 1. Sebagai petunjuk keimanan 2. Sebagai petunjuk beramal 3.
Sebagai alat untuk mendektkan diri kita kepada Allah Adab Menuntut Ilmu 1.
Niat 2. Bersungguh-sungguh 3. Terus-menerus 4. Sabar dalam menuntut Ilmu 5.
Menghormati dan memuliakan orang yang menyampaikan ilmu kepada
kita 6. Baik dalam bertanya Kondisi Keilmuan Keadaan saat ini sudah tidak
sesuai lagi dengan apa yang diharapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Di mana-
mana orang-orang sudah terlalu mengagung-agungkan dunia. Ilmu pengetahuan
dan teknologi dikembangkan untuk kepentingan dunia dan dirinya sendiri tanpa
memperhatikan keseimbangan dan keselarasan lingkungan di sekitarnya. Bahkan
penjelajahan ke planet mars saja selain untuk ilmu pengetahuan juga untuk
mencari kemungkinan apakah di sana dapat ditempati oleh manusia. Memang
sungguh serakah manusia-manusia ini. Kewajiban menuntut ilmu tidak hanya
mengenai ilmu pengetahuan umum saja tetapi juga 5 ilmu pengetahuan agama
yang hukumnya fardlu ‘ain, karena beramal tanpa berilmu sama saja dengan
bohong dan tidak ada artinya di mata Allah. Maka jika salah, kita dapat
terjerumus ke perbuatan dosa. Umat Islam juga tidak boleh ketinggalan dalam hal
ilmu pengetahuan dan tidak boleh pula menjadi orang yang bodoh karena orang

4
pintar akan lebih disenangi. Dengan kepinteran yang kita miliki, kita tidak akan
mudah ditipu dan dibohongi orang lain. Imam Syafiiy sendiri selalu merasa
kurang akan ilmu yang dimilikinya dan selalu mencatat setiap ilmu yang
diperolehnya karena takut lupa. Beberapa ilmuwan Islam antara lain yaitu : a.
Jabir bin Hayyan (720-815 M) Beliau adalah seorang sarjana Fisika dan
Kedokteran. Karyanya mencapai 200 buah, di antaranya adalah tentang kimia
yang antaa lain “Al-Khawasul Kabir” dan “MA Ba`dal Thabi`ah”. Ilmu kimia
Jabir telah dianggap sejajar dengan Aristoteles dalam ilmu logika. b. Al
Khawarizmy, Muhammad bin Musa Al Khawarizmy (780-850 M) Beliau adalah
ahli aljabar dan ilmu bumi. Karyanya yang menjadi referensi berbagai tulisan
tentang ilmu bumi, yaitu “Suratul Ardli”. c. Al-Farghaniy, Abul Abbas Ahmad
Al-Farghaniy (hidup sekitar tahun 861 M) Beliau adalah seorang ahli
perbintangan/astronomi. Karyanya antara lain adalah “Al Madkhal Ila Ilmi
Haiatil Fabik” yang sudah diterjemahkan ke bahasa latin. d. Al-Bhairuniy,
Abduraihani Muhammad bin Ahmad (937-1048 M) Beliau adalah ahli
kedokteran, perbintangan, matematika, fisika, ilmu bumi dan sejarah. Karyanya
antara lain adalah “At-Tafhim Li Awaili Shima’atit Tanjim” yang berisi tentang
Tanya jawab ilmu hitung, ilmu ukur, ilmu perbintangan, dan ilmu falak.
KEWAJINAN MENUNTUT ILMU Menuntut ilmu itu wajib hukumnya,
sebagaimana Nabi bersabda. “Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim.”
(HR.Bukhari). Ditambah lagi dalam firman Allah “Ilmu membuat seseorang jadi
mulia, baik di hadapan manusia juga di hadapan-Nya”.Selain itu Allah juga
menegaskan bahwa akan mengangkat derajat orang yang mempunyai ilmu
pengetahuan. Seperti di bawah ini ” ….Allah akan meninggikan orang-orang
yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan
beberapa derajat. Dan, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al
Mujaadilah [58] : 11) Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui
dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang
berakallah yang dapat menerima pelajaran. Az-Zumar [39]: 9). Adakah sama
antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?
(Az-Zumar:9) “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu
dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-

5
Mujadilah:11). 6 1. Menuntut ilmu itu pahalanya begitu besar: “Barangsiapa
berjalan di satu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalan
menuju surga. Dan sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi
penunutu ilmu tanda ridha dengan yang dia perbuat. (Dari hadits yang panjang
riwayat Muslim) “Barangsiapa keluar dalam rangka thalabul ilmu (mencari ilmu),
maka dia berada dalam sabilillah hingga kembali.” (HR. Tirmidzi, hasan)
“Barangsiap menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan
baginya jalan menuju surga.” (HR.Muslim) “Barangsiapa yang Allah kehendaki
padanya kebaikan maka Allah akan pahamkan dia dalam (masalah) dien
(agama).” (HR.Bukhari) Dalam hadits lainnya dijelaskan bahwa ilmu yang wajib
dituntut adalah ilmu yang bermanfaat.
Yang bukan hanya benar, tapi juga dapat mendekatkan diri kita kepada
Allah SWT dan dapat memberi kebahagiaan bagi kita, keluarga, dan masyarakat
baik di dunia mau pun di akhirat. Rasulullah saw bersabda: “Apabila anak cucu
adam itu wafat, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah
jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih yang mendoakan orangtuanya.”
(HR.Muslim, dari Abu Hurairah ra) Allah berfirman, “Dan seandainya pohon-
pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya
tujuh laut (lagi) sesudah (kering) nya, niscaya tidak akan habis-habisnya
(dituliskan) kalimat (ilmu dan hikmah) Allah. Sesungguhnya Allah Maha perkasa
lagi Maha bijaksana.” (QS Lukman [31] : 27) 2. Bagaimana dengan orang yang
selalu mengamalkan ilmunya? “Sesungguhnya Allah SWT dan para malaikat-
Nya, serta penghuni langit dan bumi, hingga semut yang ada pada lubangnya, dan
ikan hiu yang ada di lautan akan membacakan shalawat atas orang yang
mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (Merupakan bagian dari hadits Abu
Umamah di atas.). Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mengajar orang lain
kepada suatu petunjuk, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang
yang melaksanakan petunjuk itu, tanpa mengurangi pahala mereka sama sekali.”
Nabi bersabda,
”Barangsiapa mengamalkan apa-apa yang ia ketahui, maka Allah akan
mewariskan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya, dan Allah akan menolong
dia dalam amalan nya sehingga ia mendapatkan surga. Dan barangsiapa yang

6
tidak mengamalkan ilmunya maka ia tersesat oleh ilmunya itu. Dan Allah tidak
menolong dia dalam amalannya sehingga ia akan mendapatkan neraka“. Banyak
to keutamaan mencari ilmu dengan manfaat mengamalkan ilmu. Terus bagaimana
selengekan pada awal notes ini? Bagaimana seharusnya niat yang ada didalam
hati dalam mencari ilmu? Dalam Kitab Bidayatul Hidayah, Imam Al Ghazali
menulis sebagai berikut : “Wahai, hamba Allah yang rajin menuntut ilmu.Jika
kalian menuntut ilmu, hendaknya dengan niat yang ikhlas karena Allah semata-
mata.
Di samping itu, juga dengan niat karena melaksanakan kewajiban karena
menuntut ilmu wajib hukumnya, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda,
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap orang Islam laki-laki maupun perempuan”
[HR Ibnu Abdul barr] Janganlah sekali-kali engkau menuntut ilmu dengan
maksud untuk bermegah-megahan, 7 sombong, berbantah-bantahan, menandingi
dan mengalahkan orang lain (lawan bicara), atau supaya orang mengagumimu.
Jangan pula engkau menuntut ilmu untuk dijadikan sarana mengumpulkan harta
benda kekayaan duniawi.
Yang demikian itu berarti merusak agama dan mudah membinasakan dirimu
sendiri. Nabi SAW mencegah hal seperti itu dengan sabdanya. “Barangsiapa
menuntut ilmu yang biasanya ditujukan untuk mencari keridhaan Allah, tiba-tiba
ia tidak mempelajarinya, kecuali hanya untuk Mendapatkan harta benda
keduniaan, maka ia tidak akan memperoleh bau harumnya surga pada hari
kiamat. ” [HR Abu Dawud] Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian
menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk
diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan
pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan
untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu.
Barangsiapa seperti itu, maka baginya neraka…neraka.” [HR Tirmidzi &
Ibnu Majah] 3. Terkait dengan harta bagaimana? Jawaban-jawaban dari Imam Ali
bin Abi Thalib ketika ditanya tentang mana yang lebih utama antara Ilmu dengan
harta : ” Ilmu lebih utama daripada harta, Ilmu adalah pusaka para Nabi, sedang
harta adalah pusaka Karun, Sadad, Fir’aun, dan lain-lain.” ” Ilmu lebih utama
daripada harta, karena ilmu itu menjagamu sedangkan harta malah engkau yang

7
harus menjaganya.” ” Harta itu bila engkau tasarrufkan (berikan) menjadi
berkurang, sebaliknya ilmu jika engkau tasarrufkan malahan bertambah.” ”
Pemilik harta disebut dengan nama bakhil (kikir) dan buruk, tetapi pemilik ilmu
disebut dengan nama keagungan dan kemuliaan. ” Pemilik harta itu musuhnya
banyak, sedangkan pemilik ilmu temannya banyak.” ” Ilmu lebih utama daripada
harta, karena diakhirat nanti pemilik harta akan dihisab, sedangkan orang berilmu
akan memperoleh safa’at.”
” Harta akan hancur berantakan karena lama ditimbun zaman, tetapi ilmu
tidak akan rusak dan musnah walau ditimbun zaman.” ” Harta membuat hati
seseorang menjadi keras, sedang ilmu malah membuat hati menjadi bercahaya.” ”
Ilmu lebih utama daripada harta, karena pemilik harta bisa mengaku menjadi
Tuhan akibat harta yang dimilikinya, sedang orang yang berilmu justru mengaku
sebagai hamba karena ilmunya.” Lalu, apakah semua ilmu akan mendapatkan
balasan luar biasa seperti diatas? Tidak.
Hanyalah ilmu yang bermanfaatlah yang mendapatkan ini semua. Apa sih
ilmu yang bermanfaat? 9. “Ya, Rabbi. apakah ilmu yang bermanfaat itu ? ” tanya
Nabi Daud. “Ialah ilmu yang bertujuan untuk mengetahui keluhuran, keagungan,
kebesaran, dan kesempurnaan kekuasaan-Ku atas segala sesuatu.Inilah yang
mendekatkan engkau kepada-Ku.” Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh
Ar Rabi-i’, Rasulullah SAW bersabda, “Tuntutlah ilmu. Sesungguhnya, menuntut
ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wa Jalla, sedangkan
Mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah shadaqah.
Sesungguhnya ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya didunia dan
akhirat.”
Oleh karena itu, Rasulullah SAW pernah memohon dalam doanya,
“Allaahumma inni a’uudzubika min ‘ilmin laa yanfa’u”.‘Ya, Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.’ Dalam sebuah riwayat
disebutkan bahwa Allah SWT Memberi wahyu kepada Nabi Dawud a.s. Firman-
Nya, “Wahai, Dawud. Pelajarilah olehmu ilmu yang bermanfaat.” 10. HUKUM
MENUNTUT ILMU 1. Hukum Menuntut Ilmu Apabila kita menelaah isi Al-
Qur'an dan Al-Hadis, niscaya kita akan menemukan beberapa nas yang
menjelaskan kewajiban menuntut ilmu, baik bagi laki-laki ataupun perempuan.

8
Tujuan diwajibkannya mencari ilmu tiada lain yaitu agar kita menjadi umat yang
cerdas, jauh dari kabut kejahilan atau kebodohan. Menuntut ilmu artinya berusaha
menghasilkan segala ilmu, baik dengan jalan bertanya, melihat, ataupun
mendengar. Perintah kewajiban menuntut ilmu terdapat dalam hadis Nabi
Muhammad saw.: (‫ )رواه ابن عبد البر‬. ‫ضةٌ َع ٰلى ُك ِل ُم ْس ِل ٍم َو ُم ْس ِل َم ٍة‬
َ ‫طلَبُ ْال ِع ْل ِم فَ ِر ْي‬
َ "Menuntut
ilmu adalah fardhu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan."
(HR. Ibn Abdul Barr) Dari hadis di atas dapat kita ambil pengertian, bahwa Islam
mewajibkan pemeluknya untuk menuntut ilmu, baik bagi laki-laki ataupun
perempuan. Dengan ilmu yang dimilikinya, seseorang dapat mengetahui segala
bentuk kemaslahatan dan jalan kemanfaatan. Dengan ilmu pula, ia dapat
menyelami hakikat alam, mengambil pelajaran dari pengalaman yang didapati
oleh umat terdahulu, baik yang berhubungan dengan masalah-masalah akidah,
ibadah, ataupun yang berhubungan dengan persoalan keduniaan. Nabi
ٰ ْ َ‫ َو َم ْن ا َ َراد‬،‫َم ْن ا َ َرادَ الدُّ ْنيَا فَعَلَ ْي ِه بِ ْال ِع ْل ِم‬
Muhammad saw. bersabda: ‫ َو َم ْن‬،‫اْل ِخ َرة َ فَعَلَ ْي ِه بِ ْال ِع ْل ِم‬
(‫ )متفق عليه‬.‫" ا َ َرادَ ُه َما فَعَلَ ْي ِه بِ ْال ِع ْل ِم‬Barang siapa menginginkan soal-soal yang
berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya; dan barang siapa yang
ingin (selamat dan berbahagia) di akhirat, wajiblah ia memiliki ilmunya pula; dan
barang siapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu
kedua-keduanya pula." (HR.Bukhari dan Muslim) Islam mewajibkan kita untuk
menuntut berbagai macam ilmu dunia yang memberi manfaat dan dapat
menuntun kita mengenai hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan dunia. Hal
tersebut dimaksudkan agar tiap-tiap muslim tidak picik, dan agar setiap muslim
dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat membawa
kemajuan bagi segenap manusia yang ada di dunia ini dalam batasan yang
diridhai oleh Allah swt.
Demikian pula Islam mewajibkan kita menuntut ilmu akhirat, karena dengan
mengetahuinya kita dapat mengambil dan menghasilkan suatu natijah, yakni ilmu
yang dapat diamalkan sesuai dengan perintah syara'. 11. Seorang mukallaf wajib
menuntut ilmu yang bersifat ‘ain, yaitu pada masalah yang berkenaan dengan
akidah. Hal ini dikarenakan dengan mengetahui ilmunya, maka akidah yang
melenceng dapat diluruskan. Selain itu, seorang mukallaf juga wajib menuntut
ilmu yang berkaitan dengan kewajiban-kewajiban lain seperti salat, puasa, zakat

9
dan haji. Di samping itu, wajib pula bagi seorang mukallaf mempelajari ilmu
akhlak, yang mana dengannya ia dapat mengetahui adab dan sopan santun yang
harus dilaksanakan, dan tingkah laku buruk yang harus ditinggalkan. Adapun
ilmu lain yang tidak kalah pentingnya dimiliki oleh seorang mukallaf yaitu ilmu
keterampilan, yang dapat menjadi tonggak hidupnya. Adapun ilmu yang tidak
berkaitan dengan aktifitas keseharian, maka yang wajib dipelajari hanya pada
batas yang dibutuhkan saja. Sebagai contoh, seseorang yang hendak memasuki
gapura pernikahan, maka ia wajib mengetahui syarat-syarat dan rukun-rukunnya
serta segala sesuatu yang diharamkan dan dihalalkan dalam menggauli istrinya.
Sedang ilmu yang wajib kifayah, maka hukum mempelajarinya tidaklah
diwajibkan bagi setiap mukallaf.
Kewajiban mempelajarinya gugur apabila salah satu dari mereka sudah ada
yang mempelajarinya. Hal tersebut dikarenakan ilmu-ilmu yang wajib kifayah
hanya bersifat sebagai pelengkap, seperti ilmu tafsir, ilmu hadis dan sebagainya.
2. Hukum Mengajarkan Ilmu Seseorang yang telah mempelajari dan memiliki
ilmu, maka yang menjadi kewajibannya adalah mengamalkan segala ilmu yang
dimilikinya, sehingga ilmunya menjadi ilmu yang manfaat; baik manfaat bagi
dirinya sendiri ataupun manfaat bagi orang lain. Agar ilmu yang kita miliki
bermanfaat bagi orang lain, maka hendaklah kita mengajarkannya kepada
mereka. Mengajarkan ilmu-ilmu kepada orang lain berarti memberi penerangan
kepada mereka, baik dengan uraian lisan, atau dengan melaksanakan sesuatu
amal dan memberi contoh langsung di hadapan mereka atau dengan jalan
menyusun dan mengarang buku-buku untuk dapat diambil manfaatnya.
Mengajarkan ilmu memang diperintah oleh agama, karena tidak bisa
disangkal lagi, bahwa mengajarkan ilmu adalah suatu pekerjaan yang ssangat
mulia. Nabi diutus ke dunia ini pun dengan tugas mengajar, sebagaimana
sabdanya: (‫ )رواه البيهقى‬.‫ " بُ ِعثْتُ ِْلَ ُك ْونَ ُمعَ ِل ًما‬Aku diutus ini, untuk menjadi
pengajar." (HR. Baihaqi) Sekiranya Allah tidak mengutus rasul untuk menjadi
guru bagi manusia, guru dunia, tentulah manusia tinggal dalam kebodohan
sepanjang masa. Walaupun akal dan otak manusia mungkin dapat menghasilkan
berbagai ilmu pengetahuan, namun disisi lain masih ada juga hal-hal yang tidak
dapat dijangkaunya, yaitu hal-hal yang berada di luar akal manusia. Untuk itulah

10
Rasulullah diutus di dunia ini. 12. Mengingat pentingnya penyebaran ilmu
pengetahuan kepada manusia secara luas, agar mereka tidak berada dalam
kebodohan dan kegelapan, maka diperlukan kesadaran bagi para mu‘allim (guru),
dan ulama untuk beringan tangan menuntun mereka menuju kebahagiaan dunia
dan akhirat. Hal tersebut dikarenakan para guru dan ulama yang suka
menyembunyikan ilmunya, maka mereka akan mendapatkan ancaman,
ِ َّ‫سئِ َل َع ْن ِع ْل ٍم فَ َكت َ َمهُ ا َ ْل َج َمهُ هللاُ يَ ْو َم ْال ِقيَا َم ِة بِ ِل َج ٍام ِمنَ الن‬
sebagaimana sabda Nabi saw.: ‫ )رواه‬.‫ار‬ ُ ‫َم ْن‬
‫ " )احمد‬Barang siapa ditanya tentang sesuatu ilmu, kemudian menyembunyikan
(tidak mau memberikan jawabannya), maka Allah akan mengekangnya
(mulutnya), kelak di hari kiamat dengan kekangan (kendali) dari api neraka."
(HR. Ahmad) Oleh karena itu, marilah kita menuntut ilmu pengetahuan, sesempat
dan sedapat mungkin dengan tidak ada hentinya, tanpa absen sampai ke liang
kubur, dengan ikhlas dan tekad akan mengamalkan dan menyumbangkannya
kepada masyarakat, agar kita semua dapat mengenyam hasil dan buahnya.
B. KEDUDUKAN ORANG YANG BERILMU
Jika ditinjau dari segi orang yang memiliki ilmu dengan orang yang tidak
memiliki ilmu, maka sungguh jauh sekali perbedaannya. Baik dari segi nilainya
maupun derajatnya, sebagaimana firman Allah swt.: َ‫قُ ْل ه َْل َي ْست َ ِوى الَّ ِذيْنَ يَ ْعلَ ُم ْون‬
ِ ‫ " َوالَّ ِذيْنَ َْل يَ ْعلَ ُم ْونَ اِنَّ َما َيتَذَ َّك ُر اُولُوا ْاْلَ ْلبَا‬Katakanlah, 'Apakah sama orang-
(۹:‫ )الزمر‬.‫ب‬
orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?' Sebenarnya
hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-
Zumar/39: 9) Dalam ayat yang lain Allah swt. berfirman: ‫يَ ْرفَعِ هللاُ الَّ ِذيْنَ ٰا َم ُن ْوا ِم ْن ُك ْم‬
(۱۱ :‫ )المجادلة‬.ٍ‫ " َوا َّل ِذيْنَ ا ُ ْوتُوا ْال ِع ْل َم دَ َرجٰ ت‬Niscaya Allah akan mengangkat (derajat)
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
beberapa derajat." (QS. Al-Mujãdalah/58: 11) Ayat-ayat tersebut
menggambarkan, betapa tingginya nilai dan derajat orang yang berilmu. Dengan
ilmu manusia akan memperoleh segala kebaikan, dan dengan ilmu pula manusia
akan memperoleh kedudukan yang mulia. Walaupun dimungkinkan pada suatu
ketika pandangan manusia terhadap ilmu atau pemilik ilmu menjadi kabur,
karena kerasnya pengaruh benda-benda dan pergeseran nilai kehidupan yang
lain, tetapi kita yakin pada suatu ketika manakala bahaya yang ditimbulkan oleh

11
benda-benda atau lainnya telah menghebat, niscaya orang akan kembali lagi
mencari ilmu untuk mengatasi masalah yang ada sebagai pengobatnya. 13.
C. MENUNTUT ILMU SEBAGAI IBADAH
Dilihat dari derajat dan kedudukan ilmu, sungguh menuntut ilmu itu
memiliki nilai dan pahala yang sangat mulia disisi Allah swt. Selain itu, menuntut
ilmu juga bernilai ibadah sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.: ‫ِْلَ ْن ت َ ْغد َُو فَتَ َع َّل َم‬
ِ ‫ايَةً ِم ْن ِكتَا‬.ٰ " Sungguh sekiranya engkau melangkahkan kaki di
َ ِ‫ب هللاِ خَ ي ٌْر ِم ْن ِعبَادَة‬
‫سنَ ٍة‬
waktu pagi (maupun petang), kemudian mempelajari satu ayat dari Kitab Allah
(Al-Qur'an), maka pahalanya lebih baik daripada ibadah satu tahun. " Dalam
hadis lain dinyatakan: (‫ )رواه الترمذى‬.‫س ِب ْي ِل هللاِ َحتّٰى يَ ْر ِج َع‬ ْ ِ‫ب ْال ِع ْل ِم فَ ُه َو ف‬
َ ‫ي‬ ِ َ‫طل‬
َ ‫" َم ْن خ ََر َج فِ ْي‬
Barang siapa yang pergi untuk menuntut ilmu, maka dia telah termasuk golongan
sabilillah (orang yang menegakkan agama Allah) hingga ia pulang kembali. "
(HR. Tirmidzi) Mengapa menuntut ilmu itu sangat tinggi nilainya dilihat dari segi
ibadah? Karena amal ibadah yang tidak dilandasi dengan ilmu yang berhubungan
dengan itu, akan sia-sialah amalnya. Syaikh Ibnu Ruslan dalam hal ini
menyatakan: ‫و ُك ُّل َم ْن ِبغَي ِْر ِع ْل ٍم يَ ْع َم ُل ا َ ْع َمالُهُ َم ْرد ُْودَة ٌ َْل ت ُ ْقبَ ُل‬.
َ " Siapa saja yang beramal
(melaksanakan amal ibadah) tanpa dilandasi ilmu, maka segala amalnya akan
ditolak, yakni tidak diterima. " 14. AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG
KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU ‫س ُحوا‬ َ ‫س ُحوا فِي ْال َم َجا ِل ِس فَا ْف‬َّ َ‫يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا إِذَا قِي َل لَ ُك ْم تَف‬
ٍ ‫ش ُزوا يَ ْرفَعِ هللا ال ِذيْنَ ا َمنُوا ِمنـْ ُك ْم َوال ِذيْنَ اُوتُو ْال ِع ْل َم دَ َر َجـ‬
‫ت َوهللاُ ِب َما‬ ُ ‫ش ُزوافَا ْن‬ ُ ‫َّللاُ لَ ُك ْم َۖوإِذَاقِي َل ا ْن‬
َّ ِ‫سح‬ َ ‫يَ ْف‬
‫ تَ ْعـ َملُ ْـونَ خَـبِيْـر‬Artinya : "Wahai orang-orang yang beriman!Apabila dikatakan
kepadamu,"Berilah kelapangan didalam majelis, maka lapangkanlah, niscaya
Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan berdirilah
kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang
beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat". Q.S Al-
Mujadalah ayat 11. ‫طائِفَةً ِليَتَفَق ُهوأ فِى‬ َ ‫َو َما َكـانَ ِمنَ ْال ُمؤْ ِمنُ ْونَ ِليَ ْن ِف ُر كَافةً فَلَ ْوْلَنَفَ َر ِم ْن ُك ِل فَ ِرقَ ٍة ِم ْن ُه ْم‬
َ‫ الدي ِْن َو ِليُ ْنذ ُِر ْوا قَ ْو ُم ُه ْم اِذأ َر َجعُ ْو اِ َل ْي ِه ْم َلعَل ُه ْم يَحْ ذَ ُر ْون‬Artinya ; "Dan tidak sepatutnya orang-
orang mukmin itu semuanya pergi kemedan perang, mengapa sebagian diantara
mereka tidak pergi untuk memperdalam ilmu pengetahuan agama mereka dan
untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar
ِ ‫[ َوقُ ْل َر‬114:‫]طه‬
mereka dapat menjaga dirinya " QS. At-Taubah ayat :122 ‫ب ِزدْنِي‬
‫ ِع ْل ًما‬Artinya: “Dan katakanlah (wahai Nabi Muhammad) tambahkanlah ilmu

12
kepadaku.” [Thaaha : 114] . 15. HADIST TENTANG KEWAJIBAN
MENUNTUT ILMU ‫ َو َم ْن أ َ َرادَ ُه َما فَعَلَ ْي ِه‬,‫ َو َم ْن أَ َراد َ ال َ ِخ َرة َ فَعَلَ ْي ِه بِ ْال ِع ْل ِم‬,‫َم ْن أَ َرادَ الدُّ ْنيَا فَعَلَ ْي ِه بِ ْال ِع ْل ِم‬
‫ بِ ْال ِع ْل ِم‬Artinya: "Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan
dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya ; dan barang siapa yang ingin (selamat dan
berbahagia) di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula; dan barangsiapa
yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya
َ ‫طلَبُ ْال ِع ْل ِم فَ ُه َو فِى‬
pula". (HR. Bukhari dan Muslim) ‫س ِب ْي ِل هللاِ َحتَّى يَ ْر ِج َع‬ َ ‫َم ْن خ ََر َج فِى‬
Artinya : ”Barang siapa yang keluar untuk mencari ilmu maka ia berada di jalan
Allah hingga ia pulang”. (HR. Turmudzi) : ‫ط َع َع ْنهُ َع َملُهُ إِ َّْل ِم ْن ث َ ََلثَ ٍة إِ َّْل‬ َ َ‫سانُ ا ْنق‬ ِ ْ َ‫إِذَا َمات‬
َ ‫اْل ْن‬
َ ‫ أ َ ْو َولَ ٍد‬،‫ أ َ ْو ِع ْل ٍم يُ ْنتَفَ ُع ِب ِه‬،ٍ‫اريَة‬
ُ‫صا ِلحٍ يَدْعُو لَه‬ ِ ‫صدَقَ ٍة َج‬
َ ‫ ِم ْن‬Artinya: “Apabila manusia telah
meninggal dunia maka terputuslah semua amalannya kecuali tiga amalan :
shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakan dia.”
[HR. Muslim] 16.

13
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sesungguhnya Islam adalah syarat keselamatan di sisi Allah. Islam tidak
tegak dan tidak akan ada kecuali dengan ilmu. . Tidak ada cara dan jalan untuk
mengenal Allah dan sampai kepada-Nya kecuali dengan ilmu. Allah lah yang
telah menunjukan jalan yang paling dekat dan mudah untuk sampai kepada-Nya.
Barangsiapa yang menempuh jalan tersebut, tidak akan menyimpang dari tujuan
yang dicita-citakannya. Menuntut ilmu dalam Islam hukumnya wajib (fardhu).
Para ahli fiqih mengelompokannya dua bagian, yaitu 1). Fardhu ‘ain; dan 2).
Fardhu kifayah. Ilmu memiliki banyak keutamaan, diantaranya: 1. Ilmu adalah
amalan yang tidak terputus pahalanya. 2. Menjadi saksi terhadap kebenaran. 3.
Allah memerintahkan kepada nabinya Muhammad SAW untuk meminta
ditambahkan ilmu. 4. Allah mengangkat derajat orang yang berilmu. 5. Orang
berilmu adalah orang yang takut Allah SWT. 6. Ilmu adalah anugerah Allah yang
sangat besar. 7. Ilmu merupakan tanda kebaikan Allah kepada seseorang. 8.
Menuntut ilmu merupakan jalan menuju surge. 9. Diperbolehkannya ”hasad”
kepada ahli ilmu. 10. Malaikat akan membentangkan sayap terhadap penuntut
ilmu 17. Tidak samar bagi setiap muslim akan kedudukan ulama dan tokoh
agama, serta tingginya kedudukan, martabat dan kehormatan mereka dalam hal
kebaikan mereka sebagai teladan dan pemimpin yang diikuti jalannya serta
dicontoh perbuatan dan pemikiran mereka. Para ulama bagaikan lentera penerang
dalam kegelapan dan menara kebaikan, juga pemimpin yang membawa petunjuk
dengan ilmunya, mereka mencapai kedudukan al-Akhyar (orang-orang yang
penuh dengan kebaikan) serta derajat orang-orang yang bertaqwa. Dengan
ilmunya para ulama menjadi tinggi kedudukan dan martabatnya, menjadi agung
dan mulia kehormatannya.

B. Saran
Sebagai seorang muslim kita sudah semestinya bersungguh-sungguh dalam
menuntut ilmu, karena dalam islam orang yang berilmu itu sangat di muliakan
dan akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT. Selain dari itu, ilmu juga memiliki

14
banyak keutamaan. Maka dari itu, setelah kta memahami tentang perintah
menuntut ilmu dalam islam, keutamaan ilmu dan kedudukan orang yang berilmu,
kita sebagai ummat muslim diharapkan dapat mengamalkannya dalam kehidupan
kita sehari-hari. 18.

15
DAFTAR PUSTAKA
https://www.google.com/search?q=Makalah+nikmatnya+mencari+ilmu+dan+berbagi+p
engetahuan&ie=utf-8&oe=utf-8&client=firefox-b-ab

16